NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Make Heroine ga Oosugiru Volume 9 Chapter 4

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


~Kekalahan Keempat~ 

Gema yang Tersisa

Pada sore hari keesokan harinya.


Beberapa menit berjalan kaki dari Stasiun Toyohashi, aku berada di sudut kafe Bon Chiga.


Tempat ini sebenarnya adalah toko roti, tetapi sudut kafenya yang bergaya retro cukup terkenal, dan aku sendiri sudah beberapa kali datang ke sini.


Saat aku masuk, Hokobaru-senpai yang sudah lebih dulu datang mengangkat tangannya.


"Maaf sudah menyuruhmu datang jauh-jauh."


"Tidak kok. Justru pas sekali, karena aku juga sedang tidak betah berada di rumah."


"Tanpa sadar aku malah menyeretmu ke dalam semua ini."


Aku duduk di hadapannya, sementara ia tersenyum pahit sambil memegang segelas lemon squash.


Hari ini adalah hari kelima Mizushima Koharu menginap di rumah keluarga Nukumizu.


Kaju sudah mencapai batas kesabarannya.


Bahkan tadi malam, entah sejak kapan ia sudah berdiri di samping bantal tempatku tidur hanya untuk mengajukan keluhan kepadaku.


Melihatku yang sedang pusing memikirkan semuanya, Hokobaru-senpai mendorong sebuah koper besar ke arahku.


"Ini titipan dari ibunya Koharu. Isinya pakaian ganti, perlengkapan belajar, dan uang untuk biaya makan. Tolong sampaikan kepada orang tuamu."


"Banyak sekali barangnya."


Apa jangan-jangan orang itu berniat tinggal sampai liburan musim panas selesai?


Saat aku mulai merasa sedikit putus asa, Hokobaru-senpai melanjutkan penjelasannya.


"Yukatanya juga ada di dalam. Lengkap, mulai dari obi sampai sandal geta."


"Ah iya, besok ya."


Baru kuingat, besok memang akan diadakan Festival Kembang Api Kota Toyohashi.


Karena daerah sekitar lokasi pasti dipenuhi lautan manusia, aku sudah memutuskan untuk tidak mendekatinya.


"Katanya dia sangat menantikan pergi ke sana bersama Hiroto. Mungkin ibunya sengaja mempersiapkannya."


"Oh..."


...Dengan keadaan seperti sekarang, jelas mustahil mereka masih bisa berkencan menikmati festival kembang api.


Melihat reaksiku, Hokobaru-senpai memasang wajah khawatir.


"Mereka berdua masih belum berdamai?"


"Iya... malah rasanya setelah kemarin hubungan mereka semakin retak."


Sambil memilih kata-kata, aku menceritakan kejadian selama beberapa hari terakhir.


Tentu saja aku tidak menceritakan insiden hotel semalam maupun syarat perdamaian yang diajukan Koharu-san.


Mulai sekarang, Sakurai-kun tidak boleh lagi menemui Hokobaru Hibari.


Permintaan Koharu-san memang berlebihan, tetapi di sisi lain masuk akal. Penyebab terbesar keretakan hubungan mereka memang adalah orang yang kini duduk tepat di hadapanku.


Setelah aku selesai bercerita, Hokobaru-senpai menatapku lekat-lekat.


"...Apa semua ini ada hubungannya denganku?"


"Eh... itu..."


Melihatku ragu menjawab, tampaknya ia langsung menyadari sesuatu.


Sambil berpikir, ia menyeruput minumannya melalui sedotan.


"Kakek dan nenekku tinggal di apartemen dekat stasiun. Dari balkon mereka, kembang api terlihat sangat jelas."


"Oh, enak sekali."


Karena topiknya berubah begitu tiba-tiba, aku hanya bisa menjawab seadanya.


"Besok keluargaku dan keluarga Hiroto memang punya tradisi makan bersama di sana. Kalau rencana sebelumnya batal, Hiroto pasti tidak punya pilihan selain ikut ke sana."


"Oh begitu ya."


Aku kembali menjawab singkat sambil menyeruput cream soda yang baru datang.


"Dengan kata lain, jadwal Hiroto kosong. Kalau kamu yang mengajaknya, kemungkinan besar dia akan datang."


"Lalu setelah itu mempertemukannya dengan Koharu-san? Padahal kemarin justru gara-gara itu semuanya memburuk."


"Kalau ingin memperbaiki hubungan, lebih baik secepat mungkin. Kalau terlalu lama dibiarkan, mereka bisa benar-benar menjauh."


...Mungkin benar.


Saat aku terdiam, Hokobaru-senpai melanjutkan.


"Awalnya Koharu menipu Hiroto agar ikut pergi berlibur. Kemarin Hiroto yang menipu Koharu agar datang ke tempat pembicaraan. Berarti sekarang giliranku. Aku sudah siap menjadi orang jahat."


Setelah mengatakan semuanya sekaligus, ia menyibakkan rambutnya.


"Ngomong-ngomong, memang Koharu-san sudah berjanji pergi ke festival bersama Sakurai-kun?"


"Mereka belum menentukan tempat maupun waktunya secara rinci. Pasti mereka juga tidak pernah menyangka sampai tidak bisa saling menghubungi seperti sekarang."


Hokobaru-senpai menopang dagunya dengan satu tangan sambil menyilangkan kaki.


"Aku yang akan mengajak Koharu. Dia pasti akan menerima."


Hokobaru Hibari. Justru karena orang yang menipunya adalah dirinya sendiri, rencana ini memiliki arti. Namun masih ada satu hal yang mengganjal.


"Tapi... apa dia benar-benar akan datang? Soalnya Koharu-san..."


Aku buru-buru menghentikan ucapanku karena merasa hampir keceplosan.


Hokobaru-senpai hanya tersenyum tipis.


"Koharu pasti akan berpikir begini. Kalau dia menolak ajakanku, berarti aku dan Hiroto akan menonton kembang api bersama di rumah kakekku."


Melihat ekspresi dan wibawanya, aku hanya bisa mengangguk tanpa berkata apa-apa.


Orang ini sudah lama mengetahui bahwa Koharu-san tidak senang dengan kedekatannya bersama Sakurai-kun. Namun ia tidak pernah sekalipun mencoba menjaga jarak dengan Sakurai-kun.


Artinya...


"Mungkin ini akan menjadi terakhir kalinya kami bertiga melakukan sesuatu bersama. Pada hari itu aku tidak akan muncul. Setelah itu, biarkan mereka sendiri yang menyelesaikannya."


Hokobaru-senpai meletakkan gelas kosongnya lalu berdiri sambil mengambil bon pembayaran.


"Ah, bagianku aku bayar sendiri."


"Anggap saja sebagai ganti rugi karena sudah merepotkanmu. Maaf hanya bisa mentraktirmu sesederhana ini."


Ia kembali menyibakkan rambutnya sebagai salam perpisahan, lalu keluar dari toko.


Aku menyendok es krim yang mulai mencair sambil mengulang kembali percakapan kami dalam hati.


...Selama ini aku selalu berpikir sedang membantu memperbaiki hubungan Sakurai-kun dan Koharu-san.


Namun akhirnya sekarang aku mulai melihat bentuk sebenarnya dari hubungan tiga orang itu.


Yang kulihat sekarang adalah sebuah hubungan yang memang sedang menuju akhir. Apa pun hasil akhirnya, pasti akan ada seseorang yang menangis.


Dan peran yang diberikan kepadaku adalah...


...menjadi perantara.



Tak lama kemudian, sambil membawa koper besar itu, aku berpindah ke sebuah kafe lain.


Kafe itu berada tepat setelah keluar dari arcade Jalan Tokiwa menuju utara. Bangunannya menghadap jalan dengan dinding ubin yang memberikan suasana klasik namun tenang.


"Wah... ternyata sampai seperti itu ya."


Orang yang mengangguk kagum dari seberang meja bundar adalah Tiara-san.


Karena saat "kencan" karaoke tempo hari aku sudah mendapatkan informasi darinya, kupikir sudah sewajarnya aku melaporkan perkembangan terbaru. Saat kuhubungi, entah kenapa ia malah mengatur sesi belajar bersama.


"Jadi besok, saat festival kembang api, kalian akan memanggil mereka berdua supaya bisa berdamai."


"Kurang lebih begitu."


Berdamai sehari setelah pertengkaran kemarin...


Apa semudah itu? Sambil memikirkan hal tersebut, aku memainkan pensil mekanisku.


Tiara-san bertanya dengan heran.


"Kalau rencana berhasil dan Sakurai-kun serta Mizushima-san benar-benar datang, apakah kalian bertiga akan menonton kembang api bersama? Bukankah itu akan canggung?"


Seperti biasa, pertanyaannya selalu langsung ke inti.


Memang benar. Kalau semuanya berjalan lancar, justru aku yang akan menjadi pengganggu. 


Dan kalau mereka malah canggung, aku sendirian di sana pasti juga akan merasa seperti duduk di atas duri.


"Itulah kenapa akan lebih baik kalau ada satu orang lagi."


"Eh?"


Gelas es kopi di tangan Tiara-san sedikit bergoyang.


"Besok ya? Mulai jam berapa?"


"Kalau tidak salah kumpul jam enam sore di depan Kuil Yoshida. Memangnya kenapa?"


"T-tidak... cuma mendadak sekali."


Memang benar.


Untung yang diajak adalah aku. Kalau orang lain yang punya jadwal padat, pasti akan kesulitan kalau baru diajak sehari sebelumnya.


"Yah... sebenarnya aku tidak terlalu mendukung keluar malam. Tapi karena daerah festival ramai orang, justru mungkin lebih aman."


"Mungkin juga."


Bahkan dalam situasi seperti ini ia masih memikirkan ketertiban sekolah. Menjadi ketua OSIS memang berat.


Saat hendak kembali belajar, Tiara-san kembali bertanya.


"Dari tadi aku penasaran. Barang bawaan sebesar itu apa?"


"Titipan dari Hokobaru-senpai. Isinya pakaian Koharu-san, termasuk yukata."


"Oh, jadi senior tadi datang juga ya. Katanya beliau sedang mengikuti kursus musim panas di bimbel dekat stasiun."


Meski termasuk murid terbaik di angkatan, ternyata ia juga tetap rajin mengikuti bimbingan belajar.


Saat aku diam-diam mengaguminya, Tiara-san berbicara dengan sedikit ragu.


"...Nukumizu-san... apakah kamu menyukai yukata?"


"Yukata?"


Kalau ditanya suka atau tidak, kurasa hampir semua laki-laki pasti menyukainya. Bagian tengkuk dan pergelangan kaki yang biasanya tertutup jadi terlihat, itu juga nilai tambah.


"Ya... menurutku bagus. Terasa sekali suasana musim panasnya."


Aku menjawab dengan kalimat yang aman. Entah kenapa Tiara-san mengangguk dengan wajah sangat serius.


"Ada apa?"


"T-tidak... jadi begitu ya."


Dengan wajah sedikit malu, ia kembali menyeruput minumannya.


Saat aku masih bertanya-tanya dengan reaksinya, layar ponselku yang berada di atas meja tiba-tiba menyala.


Melihat nama Yanami muncul di sudut layar, aku segera mengambil ponsel. Sepertinya besok dia bisa datang ke festival tanpa masalah.


Balasannya juga cepat sekali.


Apa jangan-jangan Yanami memang sedang sangat senggang?


Aku segera menghentikan pikiran yang bisa merusak harga dirinya, lalu memandangi lukisan-lukisan yang tergantung di dinding kafe tanpa benar-benar memperhatikannya.



Di ruang keluarga rumah kami, Koharu-san membentangkan yukata itu sambil berseru,


"Wah..."


Yukata berwarna ungu muda dengan motif bunga wisteria.


Kesan yang diberikannya cukup anggun dan tenang. Aku sendiri cukup menyukainya.


Koharu-san menempelkan yukata itu ke tubuhnya sambil mengangguk-angguk.


Sepertinya akan sangat cocok dikenakannya.


Saat aku tanpa sadar membayangkan penampilannya nanti, Koharu-san berbalik menghadapku.


"Nukumizu-kun, bagaimana menurutmu?"


"Iya, menurutku bag—"


Belum sempat menyelesaikan kalimatku, ingatanku kembali pada kejadian semalam.


Di depan hotel khusus pasangan...jari-jari Koharu-san yang gemetar saat menggenggam lenganku...


"Ada apa?"


"Ah... cuma jadi teringat kejadian kemarin."


Tanpa sengaja aku mengatakannya.


Koharu-san langsung menutupi wajahnya dengan yukata sambil tersipu.


"...Kalau dalam situasi begini, aku harus bilang, anggap saja seperti digigit anjing lalu lupakan?"


"Memangnya aku digigit?"


Saat merasakan ada tatapan, aku menoleh.


Dari balik tanaman hias di ruang tamu, Kaju sedang menatap kami dengan aura hitam pekat yang menyelimuti seluruh tubuhnya.


...Menakutkan. 


Sangat menakutkan.


Karena terlalu menyeramkan, aku segera mengalihkan pandanganku kembali.


Koharu-san mulai mengeluarkan obi, sandal geta, dan berbagai aksesori lain yang bahkan aku tidak tahu namanya, lalu menatanya berjajar.


"Selain yukata, ternyata banyak juga yang dikirim."


"Bukan. Memang sebanyak ini yang dibutuhkan untuk memakai yukata. Nih, yang ini misalnya dipakai di bawah obi."


"Oh begitu. Ternyata beda ya dengan yukata di penginapan."


Saat aku teringat penampilan Yanami mengenakan yukata, Koharu-san bergumam pelan.


"...Ibu masih mengira kalau aku akan pergi ke festival kembang api bersama Hiro-kun."


"Begitu ya. Sakurai-kun sudah menghubungimu?"


"Entahlah. Aku memblokirnya, jadi aku nggak tahu."


Ia tertawa hambar sambil merapikan kembali semua aksesori itu dengan hati-hati.


"Karena Hibari mengajakku, mungkin aku akan pergi bersamanya saja."


"Ya... kurasa itu tidak masalah. Mungkin bisa jadi penyegaran."


"Kalau aku menolak, Ibu pasti khawatir. Lagi pula, hubunganku dengan Hibari memang baik, kok."


Aku tidak tahu harus menjawab apa.


Koharu-san menutup koper itu dengan bunyi plak.


"Baiklah, sekarang saatnya menyiapkan makan malam. Kaju-chan, mau ikut belanja denganku?"


"............"


Kaju hanya memandang ke arah kami tanpa sepatah kata pun dari balik dedaunan tanaman hias.


Sambil melihat Koharu-san menghampirinya dengan senyum lebar, aku mengecek pesan di ponselku.


Setelah balasan dari Yanami si penganggur, kini balasan "oke" juga datang dari Sakurai-kun.


Baiklah, kalau sudah sejauh ini, aku harus memantapkan tekad.


Meninggalkan Kaju yang masih saling berhadapan dengan Koharu-san di balik tanaman hias, aku keluar dari ruang tamu.



Setiap tahunnya, festival kembang api diadakan pada hari kedua Festival Gion Toyohashi.


Bersama Festival Toyohashi yang diadakan pada musim gugur, acara ini merupakan salah satu perayaan terbesar yang telah lama dicintai warga kota.


Tahun ini, karena alasan persiapan, pelaksanaannya mundur satu minggu dari biasanya. Namun jumlah pengunjung justru lebih banyak daripada tahun-tahun sebelumnya.


Pukul enam sore.


Area dalam Kuil Yoshida, tempat kami berjanji bertemu, sudah dipenuhi orang-orang yang sejak awal datang untuk mencari tempat terbaik.


Sementara memandang keramaian itu...


Aku berdiri di depan gerbang torii...sambil mengutuk para dewa.


"...Nukumizu-kun, ini sebenarnya bagaimana sih?"


"...Nukumizu-san ternyata orang yang jahat ya."


Yanami menendang sepatuku dengan geta yang dipakainya, sementara Tiara-san memukulkan kantong kain kecilnya ke punggungku.


Kenapa?


Kenapa bisa jadi begini?


Memang benar, aku memanggil Yanami sebagai kambing hitam kalau sewaktu-waktu terjadi sesuatu.


Itu memang benar.


Tapi kenapa Tiara-san juga ada di sini...?


Dalam kebingungan, aku mengingat kembali percakapan kami di kafe kemarin.


......


..........


..............Ya.


Mungkin memang aku yang salah. Tapi semua ini hanyalah kesalahpahaman yang tidak disengaja.


Kalau bicara soal tanggung jawab moral, menurutku porsinya tidak terlalu besar.


Aku melirik Tiara-san, pemilik tatapan tajam yang menusuk pipi kiriku.


Hari ini Tiara-san mengenakan yukata berwarna biru muda bermotif kembang api, dan rambutnya dibiarkan terurai, berbeda dari biasanya.


Orang ini ternyata lumayan tinggi dan wajahnya juga kecil.


Kalau memakai yukata seperti ini, kesannya jadi jauh lebih dewasa...


Saat aku terus memperhatikannya, Tiara-san mulai gelisah dan mengalihkan pandangan.


"A-ada apa? Apa ada yang aneh?"


"Ah... bukan. Cuma... cocok sekali."


"S-sungguh? T-terima kasih..."


Kami berdua sama-sama menjadi canggung.


Tiba-tiba tendangan rendah Yanami mendarat di betisku.


"Apa lagi?! Kenapa aku ditendang lagi?"


"Nggak kenapa-kenapa."


Yanami memalingkan wajah dengan kesal.


...Jangan-jangan...


Apa aku juga harus memuji Yanami?


Aku memperhatikannya. Di tangan kanan ada kentang goreng dan ayam goreng.bDi tangan kiri ada ikan ayu bakar tusuk.


Karbohidrat, lemak, protein...belum lagi garam yang penting saat musim panas. Benar-benar gizi seimbang.


Oh ya, dia juga mengenakan yukata berwarna putih dengan motif ikan mas.


"Ehm... hebat ya, hari ini juga makan banyak seka—Aduh?! Kenapa ditendang lagi?!"


"Nggak kenapa-kenapa kok."


Kresak. Yanami menggigit kepala ikan itu sampai hancur.


Semoga saja kalsiumnya terserap dengan baik.


Kalau sudah diperlakukan seburuk ini, bukankah dosaku seharusnya sudah terhapus?


Saat aku mulai merasa lega, Sakurai-kun muncul dari tengah kerumunan. Dengan kaus sederhana yang dikenakannya, ia tampak terkejut melihat dua siswi Tsuwabuki itu.


"Maaf membuat kalian menunggu. Basori-chan juga datang?"


"Iya. Nukumizu-san yang mengajakku. Karena Nukumizu-kun memohon-mohon supaya aku datang."


Entahlah. Tolong jangan memunculkan misi sampingan saat alur utama sedang berlangsung.


Bagaimanapun juga, festival kembang api kali ini adalah momen penentuan bagi Sakurai-kun dan Koharu-san.


Satu kalimat saja bisa mengubah nasib mereka.


Tolong sadari itu.


"...Hiro-kun?"


Suara klak dari geta bergema di tengah hiruk-pikuk keramaian. Di arah suara itu berdiri Koharu-san dengan yukata, mematung dengan wajah bingung.


"...Koharu, kamu juga datang."


Sakurai-kun juga tampak sama bingungnya.


"Aku diajak Hibari."


"Begitu ya. Aku datang karena sudah berjanji dengan Nukumizu-kun. Kalau begitu..."


"Iya... kalau begitu."


Mereka berdua sama-sama mengalihkan pandangan dengan canggung. Sakurai-kun berbalik ke arah kami lalu memberi isyarat.


"Kalau semua sudah berkumpul, ayo kita jalan. Mau menonton dari mana?"


...Eh? Kalau begini mereka malah akan berjalan terpisah.


Gawat. Aku sama sekali tidak memikirkan kemungkinan ini. Dengan panik aku memanggil punggung Koharu-san.


"Ehm... Hokobaru-senpai hari ini tidak akan datang!"


"...? Nukumizu-kun, kok kamu tahu?"


Koharu-san menoleh dengan wajah heran.


Kenapa tahu? 


Ya karena aku bersekongkol dengan Hokobaru-senpai untuk memancing kalian berdua datang. Tapi tentu saja aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.


"Itu... tadi senpai menghubungiku."


"Kenapa menghubungimu? Aku malah tidak dihubungi."


Ya... sebenarnya aku juga tidak dihubungi.


Koharu-san mulai menelepon.


Saat aku benar-benar kebingungan, kali ini Sakurai-kun berbicara.


"Nukumizu-kun. Jangan-jangan Hibari-nee memintamu mengajakku datang?"


"Itu..."


Baik. Kabur saja.


Tepat ketika aku memutuskan demikian, Sakurai-kun berjalan menghampiri Koharu-san.


"...Koharu, sepertinya Hibari-nee memang tidak datang. Mau berkeliling bersama kami?"


Akhirnya Koharu-san memahami apa yang sebenarnya terjadi.


Ia menurunkan ponsel dari telinganya lalu mengangguk pelan.


Syukurlah...tidak, belum bisa tenang.


Kelima orang kami mulai berjalan bersama, tetapi suasananya tetap dipenuhi ketegangan.


...Dan Yanami, tolong berhenti menendangku.



Semakin lama berjalan, formasi kami pun perlahan terbentuk.


Di paling depan berjalan Sakurai-kun dan Koharu-san.


Mereka hampir tidak berbicara. Hanya suasana berat yang menyelimuti keduanya. Di belakang mereka berjalan dua siswi Tsuwabuki yang mengenakan yukata.


Seolah ketegangan saat pertama bertemu tadi tidak pernah ada, kini mereka malah asyik mengobrol.


"Yukatamu cantik sekali. Jadi ingat, nenekku dulu juga punya yang seperti itu."


"Terima kasih. Cara Yanami-san mengikat obi juga unik sekali, cantik. Kalau saya sih rasanya tidak akan bisa."


Mereka tiba-tiba berhenti lalu saling memandang sambil tersenyum.


"Hehe, makasih. Basori-san enak ya, bisa memakai yukata dengan rapi. Aku sih bagian dadanya jadi sempit."


"Oh? Tidak perlu memaksakan diri supaya terlihat langsing, kok. Sedikit lebih berisi juga tetap cocok."


Keduanya tertawa kecil bersama.


Lalu kembali melanjutkan perjalanan.


Ya, suasananya benar-benar hangat dan damai seperti anime bertema kehidupan sehari-hari. Aku ingin pulang.


Lagi pula, tugasku sebenarnya sudah selesai setelah mempertemukan Sakurai dengan mereka, bukan? Soal Yanami dan Basori-san, biarlah mereka menyelesaikannya ala manga shonen dengan adu tinju di tepi sungai.


Sambil memikirkan hal itu, kami tiba di lapangan rumput yang paling jauh di dalam Taman Toyohashi.


Di sekitar sini tidak ada bangunan tinggi ataupun pepohonan besar, jadi tempat ini sangat cocok untuk menonton kembang api.


Setelah mengambil tempat di sudut yang agak kosong, aku mengamati Sakurai dan yang lainnya dari kejauhan.


Keduanya tidak benar-benar mengobrol. Mereka hanya berdiri dengan jarak yang canggung sambil menatap langit.


...Yah, untuk saat ini memang tak ada pilihan selain membiarkan mereka.


Saat mengalihkan perhatian ke sekeliling, kulihat deretan kios festival mengelilingi lapangan.


Yanami, yang sudah menghabiskan makanan putaran pertamanya, kini menatap ke kejauhan dengan sorot mata tajam seperti elang yang sedang mengincar mangsa.


"Yanami-san, kalau masih ingin makan, kenapa tidak pergi lagi?"


"Iya juga..."


Yanami dan Basori-san saling bertukar pandang sekilas.


"Aku mau pergi memperbaiki riasan dulu. Yanami-san, bagaimana kalau kita pergi bersama sampai di tengah jalan?"


"Kalau begitu ayo. Nukumizu-kun, tolong jaga tempatnya ya."


"Oke, aku tetap di sekitar sini."


Aku melambaikan tangan mengantar mereka berdua.


Pemandangan ini membuatku terlihat seperti musuh kaum perempuan, seolah-olah aku sedang dikelilingi dua gadis ber-yukata....


Saat sedang memikirkan hal yang tidak penting itu, terdengar beberapa letusan percobaan di langit yang masih terang, disusul kepulan asap abu-abu.


Sepertinya pertunjukan kembang api akan segera dimulai.


Kalau sudah waktunya begini, jadi ikut bersemangat juga. Pengaturan kameranya bisa langsung dipakai, kan...?


Saat sedang berkutat dengan kamera ponsel, sekelompok orang yang mencolok muncul di layar.


Sekelompok gadis muda mengenakan yukata dan jinbei berwarna-warni.


Tanpa sadar aku mencari wajah yang kukenal, ketika tiba-tiba angin dingin menyapu tengkukku.


"...Ketemu... di sini..."


"Hya?!"


Orang yang diam-diam muncul dari belakang adalah Shikiya Yumeko, siswi kelas tiga SMA Tsuwabuki sekaligus mantan anggota OSIS.


Aku buru-buru menoleh. Shikiya-senpai yang mengenakan jinbei ungu tampak bergoyang pelan.


"Senpai? Kenapa bisa ada di sini?"


"...Datang... sama teman..."


Seolah merasa penjelasan itu sudah cukup, ia hanya menatapku dengan mata putih pucatnya.


"...Kamu?"


"Ehm... bisa dibilang aku menemani Sakurai dan yang lainnya..."


Mengikuti arah pandangku, Shikiya-senpai menemukan Sakurai dan yang lain, lalu memiringkan kepalanya.


"...Pacaran...? Mesra...?"


"Entahlah. Mungkin karena musim panas."


Jawabanku sendiri terdengar tidak jelas, tapi kumohon dimaafkan. Soalnya Shikiya-senpai yang mengenakan jinbei tiba-tiba menyandarkan tubuhnya lemas ke bahuku.


Harumnya wangi tubuhnya membuat seorang siswa SMA biasa seperti aku sangat sulit menjaga ketenangan.


Saat aku membeku karena sentuhan jari dan rambutnya yang menggelitik tengkukku, Shikiya-senpai berbisik di dekat telingaku.


"...Datang... sama siapa...?"


"Hah?"


Aku refleks melihat ke sekeliling. Yanami dan Basori-san masih belum kembali.


"Eee... yah... sebagai asisten pengawas. Bersama dua orang yang tidak membawa manfaat ataupun keuntungan..."


Aku spontan mengarang alasan, lalu Shikiya-senpai mencondongkan wajahnya menatapku.


"...Aku... tidak diajak..."


Dengan nada suara seperti sedang ngambek, ia menarik-narik rambut belakangku.


"Tapi Senpai kan sedang sibuk belajar untuk ujian masuk. Mana mungkin aku mengajak dengan santai."


"...Aku tahu... tapi... tetap... kecewa..."


Berat tubuhnya masih bertumpu di bahuku.


Hembusan napasnya yang dingin dan ujung jarinya menggelitik tengkukku seperti angin sepoi-sepoi.


Saat aku hanya pasrah, sebuah lingkaran kecil cahaya mekar di langit yang masih kebiruan. Butiran cahaya putih perlahan menghilang, seolah larut ke dalam cahaya senja.


Di balik asap, beberapa kembang api kecil kembali bermekaran.


—Perasaan berdebar sebelum festival benar-benar dimulai.


Entah kenapa aku ingin membagikan perasaan itu. Saat kuturunkan pandangan, mata putih Shikiya-senpai sedang menatapku.


"Indah... ya."


"A-ah, iya. Indah... sekali."


Dentuman lain mengguncang tubuhku.


Saat kami terus saling menatap tanpa bisa mengalihkan pandangan, Shikiya-senpai perlahan menjauhkan tubuhnya.


"...Aku... kembali... ke teman-temanku..."


"A-ah, baik."


—Tunggu sebentar lagi.


Sebelum sempat mengucapkan kata-kata itu, sosok Shikiya-senpai sudah menghilang di tengah kerumunan.


Hanya aroma yang masih tertinggal di tengkukku yang memberitahuku bahwa momen tadi bukanlah mimpi.


"Nukumizu-san, maaf sudah membuatmu menunggu."


Suara Basori-san mengembalikanku ke dunia nyata. Di tangannya ada semangkuk es serut dengan sirup biru.


"Hm? Oh, sepertinya pertunjukan akan segera dimulai. Jadi beli es serut ya?"


"Iya. Badanku jadi agak kepanasan."


Sambil berkata begitu, ia menyuap sesendok es serut.


Tatapanku tanpa sadar tertuju pada butiran keringat tipis dan tahi lalat di lehernya yang ramping.


"Ada apa? Kenapa menatapku begitu?"


"Aku cuma jadi nostalgia melihat rasa Blue Hawaii."


Aku buru-buru mengalihkan pembicaraan, dan Basori-san terkekeh.


"Di rumahku kami jarang sekali makan makanan instan. Jadi kalau sesekali datang ke festival, aku selalu senang makan makanan yang kelihatannya tidak sehat seperti ini. Rasanya seperti sedang berbuat nakal."


Sambil berkata begitu, ia menjulurkan lidahnya dengan jahil.


"Lihat, sudah jadi biru belum?"


"Wah, benar. Jadi biru."


Kami saling berpandangan lalu tertawa.


Basori-san menyendok sedikit es biru, lalu menyodorkannya ke arahku.


"Nih. Ayo kita berbuat nakal bersama."


Eh? Disuapi di depan umum itu bukannya terlalu memalukan? Tapi kalau tidak cepat dimakan nanti esnya mencair.


Karena tak punya pilihan, aku pun membuka mulut—


"Hap!"


Yanami tiba-tiba muncul dari samping dan langsung melahap isi sendok itu.


"Ah, Yanami-san. Selamat datang kembali."


"Aku kembali. Ah, rasanya memang benar-benar... rasa warna biru."


"Itu rasa Blue Hawaii. Yanami-san, banyak sekali yang kamu beli."


Melihat makanan yang dipeluk Yanami sampai memenuhi kedua lengannya, Basori-san tampak sedikit mundur. Tentu saja aku juga ikut tercengang.


"Lihat deh, ada naméshi dengaku! Terus stik keju chikuwa, chikuwa goreng isi telur puyuh itu wajib. Habis itu ada Mikawa Frank dan Yakumo dango juga..."


Entah kenapa Yanami mulai menumpuk semua makanan itu ke lenganku.


"Nih, makan dango saus mitarashi."


Karena kedua tanganku sudah penuh, Yanami menyodorkan dango itu langsung ke mulutku.


Hei, tunggu. Aku sebenarnya tidak terlalu ingin—


"Ham!"


Seolah membalas kejadian tadi, Basori-san justru menggigit dango milik Yanami.


Yanami membelalak karena perkembangan yang tak terduga itu.


"Basori-san, jangan-jangan..."


"A-apa maksudmu?!"


Basori-san tampak gelisah, sementara Yanami mendekatinya.


"Kamu lapar, ya! Nih, jangan sungkan-sungkan makan. Ayam goreng Suzuhiro paling enak kalau langsung dimakan sekali lahap, soalnya kuah dagingnya langsung memenuhi mulut."


"T-tidak, itu terlalu besar untuk masuk ke mulutku—mmgh!"


Sambil melirik Yanami yang (mungkin) dengan niat baik memaksa memasukkan ayam goreng ke mulut Basori-san, aku kembali memperhatikan Sakurai dan yang lainnya.


Jarak di antara mereka kini sedikit lebih dekat dibanding sebelumnya. Mereka juga tampaknya mulai berbincang, meski hanya sedikit.


Apa mungkin mereka akan benar-benar berdamai seperti ini?


Kalau memang begitu, berarti Sakurai dan Hokobaru-senpai—


Saat itulah, di langit yang semakin gelap, sekuntum bunga api besar mekar dengan dentuman yang menggema.



Saat memandangi seluruh tubuhnya di cermin besar di kamar, Hokobaru Hibari memeriksa kembali obi yang telah diikatnya.


"Hm, hasilnya cukup bagus."


Setelah memuji dirinya sendiri, ia duduk di depan meja rias dan mulai merapikan rambutnya.


Kedua orang tuanya sedang menghadiri jamuan makan di rumah kakek-neneknya, sehingga malam ini hanya Hibari seorang diri di rumah yang luas itu.


Suara serangga yang bernyanyi di taman terdengar hingga ke dalam kamar.


Ia menggunakan alasan belajar untuk ujian masuk agar bisa absen dari jamuan makan itu. Padahal dulu, menghabiskan waktu bersama sanak saudara adalah sesuatu yang menyenangkan, tetapi belakangan ini justru terasa membebani.


Bagi Hibari, ladang dan rumah itu adalah tempat yang penuh kenangan. Namun ketika disebut sebagai "tanah dan bangunan", maknanya berubah menjadi sesuatu yang lain.


Ia tidak berniat menyalahkan ayah maupun pamannya karena tanpa disadari mereka mulai memandangnya dengan makna yang terakhir itu.


Adik laki-laki bungsu dari tiga bersaudara memang selalu bersikap seolah tidak peduli, tetapi jika keadaan memaksa, tak ada yang tahu bagaimana tindakannya nanti.


"...Memiliki sesuatu yang harus dilindungi memang merepotkan."


Bagaimanapun juga, itu bukanlah hal yang seharusnya dipikirkan oleh seorang siswi SMA.


Setelah menyanggul rambutnya dengan jepit rambut pemberian neneknya, ia meraih perlengkapan rias untuk sentuhan terakhir.


Saat itu juga kaca jendela bergetar pelan.


Ketika memasang telinga, ia mendengar samar-samar suara kembang api dari kejauhan.


Apakah sekarang mereka berdua sedang bersama?


Saat masih SD, mereka bertiga selalu menonton kembang api bersama ditemani orang dewasa.


Namun setelah Sakurai dan Koharu mulai berpacaran, Hibari tak lagi ikut. Meski begitu, mereka berdua pasti tetap pergi setiap tahun.


Musim panas kelas dua SMA.


Seperti apa kembang api tahun ini terlihat di mata mereka?


Tak ada sesuatu pun yang tetap sama.


Kakeknya yang dulu tertawa sambil mengangkat keranjang berisi kubis di belakang Hibari kecil dan kakaknya yang riang kini telah berhenti bertani dan menjalani masa pensiun di sebuah apartemen dekat stasiun.


Beberapa ladang dan tanah milik sang kakek kini menjadi sumber perselisihan antara ayah dan pamannya.


Pamannya memang suami dari adik perempuan ayahnya sehingga tidak memiliki hubungan darah, tetapi demi menggantikan bibinya yang berhati lembut, ia bertindak layaknya anak kandung keluarga itu.


Mungkin dulu semuanya jauh lebih sederhana.


Menutupi ketidakpuasan dan air mata seseorang, lalu semuanya kembali ke tempat yang semestinya.


Setelah selesai berdandan tipis, Hibari membawa kipas uchiwa lalu duduk di beranda.


Ia mengibaskan asap obat nyamuk bakar dengan kipasnya sambil mendengarkan suara kembang api yang turun dari langit.


Suara ini...


Pasti juga didengar Hiroto.


Beberapa puluh detik yang lalu, ia mendengarnya sambil berdiri di sisi Koharu.


Dan ini adalah kembang api terakhir yang mereka dengarkan di kampung halaman.



Hujan turun.


Hujan yang turun sejak pagi itu, saat matahari mulai tenggelam, seolah menyapu bersih sisa-sisa musim panas dan dengan tergesa-gesa memanggil datangnya musim gugur yang selama ini hanya mengintip malu-malu.


Sakurai Hiroto menggigil karena udara yang tak disangka begitu dingin, sambil berjalan di jalan setapak berlumpur di samping ladang.


Ia terus melangkah tanpa mempedulikan sepatu barunya yang kini dipenuhi lumpur.


Namun bagi Hiroto yang masih duduk di bangku SD, mungkin sepatu kotor bukanlah masalah besar.


Sepatu berlumpur itu akhirnya berhenti di depan sebuah gubuk. Itu adalah gubuk kerja milik kakeknya dahulu.


Kini tempat itu menjadi markas rahasia Hokobaru Hibari.


Setelah menutup payung, ia perlahan menyentuh pintu.


Pintu terbuka pelan. Tidak dikunci. Bagian dalam gubuk yang semua jendelanya tertutup tenggelam dalam kegelapan.


"...Hibari-nee?"


Dengan ragu ia memanggil.


Saat matanya mulai terbiasa dengan gelap, ia melihat ada seseorang di dalam.


Begitu menemukan sosok yang sedang memeluk lututnya sambil duduk, Hiroto segera melepas sepatunya dan berlari menghampiri.


"Hibari-nee, ternyata di sini."


"...Hiroto."


Tanpa mengangkat wajahnya, Hibari menjawab dengan suara lirih yang belum pernah ia dengar sebelumnya.


Setelah sempat ragu, Hiroto duduk di sampingnya.


"Bibi bilang Hibari-nee kabur dari rumah dan belum pulang."


Tak ada jawaban. Di dalam gubuk yang gelap, suara hujan yang menghantam atap terdengar semakin keras.


Telapak tangannya merasakan kasar tikar tatami tua, sementara punggungnya merasakan hawa lembap dari dinding yang diterpa hujan.


"Ada apa?"


"...Iya."


Percakapan singkat itu saja sudah cukup membuat Hiroto merasakan betapa sakit hati Hibari saat ini.


Terdengar suara Hibari mengusap hidungnya.


Hiroto pun memberanikan diri membuka mulut.


"Aku dengar Kak Hayato pulang."


Kakak Hibari telah lulus SMA musim semi tahun lalu dan meninggalkan Toyohashi. Meski tampaknya ada banyak masalah saat ia pergi, mendengar bahwa ia akhirnya pulang membuat Hiroto sempat merasa lega.


Namun begitu mendengar nama kakaknya, bahu Hibari bergetar.


"Hibari-nee?"


"...Ayah bilang... Kakak jangan pernah pulang lagi."


Suara Hibari bergetar.


"Katanya dia sudah bukan anaknya lagi! Katanya jangan pernah menginjakkan kaki ke rumah itu lagi!"


Hibari berteriak ke dalam kegelapan, lalu menangis.


Air matanya mengalir tanpa mampu dibendung. Hiroto hanya bisa terpaku memandangi Hibari yang menangis.


Baginya, anak SMP… dan Hokobaru Hibari...selalu terlihat jauh lebih dewasa darinya.


Selalu tegar. Selalu memandang dunia yang belum bisa ia lihat. Selama ini ia percaya begitu.


Namun ternyata tidak. Yang ada di depannya hanyalah seorang anak yang lahir beberapa bulan lebih dulu darinya.


Meski tampak seperti orang dewasa, di dalam dirinya ia tetaplah anak-anak, sama seperti Hiroto.


"Hibari-nee..."


Saat Hiroto hendak mendekat, telapak tangannya menyentuh air yang telah meresap ke tatami.


Karena gelap ia baru menyadarinya. Seluruh tubuh Hibari basah kuyup oleh hujan. Tetesan air dari rambutnya jatuh ke tatami.


Ketika tangis Hibari mulai mereda menjadi isakan pelan, Hiroto berkata,


"Nanti masuk angin. Aku bawa payung, ayo pulang bersama."


"...Aku tidak mau pulang."


Jawabnya lirih, lalu ia bersin kecil seperti anak kecil.


Entah kenapa sudut bibir Hiroto sedikit terangkat. Padahal situasinya sama sekali tidak lucu.


"Kalau begitu aku ambil handuk dan baju ganti."


"...Jangan. Tetap di sini."


Saat Hiroto hendak berdiri, Hibari menarik ujung celananya. Setelah terdengar satu bersin lagi, Hiroto menghela napas pasrah.


Memastikan Hibari tidak melihat, ia mulai membuka satu demi satu kancing bajunya.


"...Pakai ini saja."


Ia meletakkan kemejanya, lalu membelakangi Hibari.


Tak lama kemudian terdengar Hibari berdiri.


Di telinga Hiroto yang tegang terdengar suara pakaian basah dilepaskan. Suara langkah kaki yang bergeser di atas tatami.


Di sudut gubuk, dekat lantai tanah, tampaknya Hibari sedang memeras bajunya.


Agar tidak terlalu memikirkannya, Hiroto menunduk. Yang terlihat justru tubuhnya sendiri yang masih kurus dan lemah.


Ia kembali menyadari bahwa dirinya masih anak-anak.


"...Sudah ganti."


"...Iya."


Saat menoleh, Hiroto melihat pakaian Hibari yang tergeletak di lantai, lalu buru-buru mengalihkan pandangan.


Di antara pakaian itu tampak pakaian dalam perempuan.


"Kurasa tetap harus kuambilkan pakaian yang—"


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, sepasang lengan Hibari melingkari tubuhnya dari belakang.


Di telinganya yang membeku terdengar suara Hibari yang seakan memohon.


"...Kalau sendirian... dingin."


Tangan Hibari gemetar. Bukan karena dingin. Bukan pula karena sedih. Melainkan karena rasa takut menghadapi masa depan yang tak dikenalnya.


Hujan masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.


Hiroto pun menyerahkan dirinya pada kata hati, lalu perlahan menumpangkan tangannya di atas tangan Hibari.



Di langit malam, sekuntum bunga api yang jauh lebih besar dari sebelumnya mekar.


Sesaat kemudian, suara dentuman berat mengguncang tubuh.


"Memang luar biasa ya, kembang api satu shaku..."


Aku bergumam tanpa sadar.


Yanami yang sedang asyik mengunyah gulali memiringkan kepalanya.


"Shaku-dama? Itu dijual di kios?"


"Itu ukuran bola kembang api. Karena diameternya satu shaku, makanya disebut isshakudama."


Melihat Yanami benar-benar tidak mengerti, Basori-san menjelaskan.


"Ooh... aku sih tetap nggak paham, tapi kedengarannya hebat."


Yanami berkata begitu sambil terus mengunyah gulali.


Harusnya setelah dijelaskan barusan kamu paham, dong.


Di tengah lapangan rumput, kami bertiga terpukau oleh kemegahan kembang api yang meledak begitu dekat.


Ketika bunga api raksasa kembali mekar di langit malam, rentetan kembang api kecil menghiasinya satu demi satu.


Bahkan Yanami dan Basori-san yang biasanya selalu saling menyindir kini melupakan pertengkaran kecil mereka dan sepenuhnya tenggelam menikmati kembang api.


Di balik kerumunan, Sakurai dan Koharu bahkan sesekali terlihat tertawa bersama. Rencana Hokobaru-senpai tampaknya berhasil sejauh ini.


Kalau mereka benar-benar berdamai, berarti kaburnya Koharu dari rumah akan berakhir bahkan sebelum bulan Agustus tiba.


Kalau sudah terbiasa...


Ternyata tinggal serumah dengan gadis imut juga tidak buruk.


Rumah jadi harum dan terasa lebih hidup. Rasanya seperti hidup di novel ringan, membuatku bersemangat.


Lagi pula statusnya hanya pacar teman, jadi dalam arti tertentu rasanya santai tanpa tanggung jawab. Meski begitu, semua keuntungan itu tetap tidak sebanding dengan ketentraman rumah.


Tingkah Kaju akhir-akhir ini mulai aneh, jadi aku sendiri mulai merasa nyawaku juga terancam.


"Nih, Nukumizu-kun. Makan ini."


Lamunanku buyar ketika Yanami menempelkan gulali ke wajahku. Lengket, hentikan.


"Aku makan kok, jangan ditempelin."


"Sudah lama kan nggak makan gulali? Waktu kecil aku punya mainan pembuat gulali."


Yanami memasukkan sisa gulalinya ke mulut sambil terlihat sedikit sedih.


"Dulu aku bikin gulali seharian terus, sampai motornya keluar asap dan akhirnya mainannya dilarang dipakai."


Pantas saja.


Ternyata dari kecil Yanami memang sudah seperti ini.


Saat membayangkan Yanami kecil yang rakus melahap gulali, Basori-san sengaja berdeham.


"Kalau di tengah keramaian begini, tenggorokanku jadi agak gatal."


"Eh? Iya juga."


Basori-san mengeluarkan permen pelega tenggorokan dari kantong kainnya, lalu entah kenapa menyodorkannya ke depan mulutku.


"Nih, Nukumizu-san juga."


Kenapa? Yang ingin mengisap permen kan Basori-san, kenapa malah aku?


Aku sebenarnya ingin menolak. Namun tatapan Basori-san yang begitu serius membuatku menurut saja.


"Oh... rasa blueberry."


"Iya. Katanya blueberry bagus untuk mata."


Masih bingung karena kembali disuapi tanpa alasan yang jelas, aku memandangi Basori-san yang tampak sangat puas.


...Basori-san memang menyukaiku.


Saat menyadari itu lagi, sebuah pikiran menyambar kepalaku seperti kilat.


—Jangan-jangan... dia cemburu pada Yanami?


Kalau Yanami selalu menyuruhku menghabiskan makanannya, itu memang sudah seperti naluri alami saja.


Namun jika dilihat dari sudut pandang Basori-san, mungkin kami terlihat sedang bermesraan. Kalau begitu, bagaimana caranya meluruskan kesalahpahaman ini?


Tidak...kalaupun kuluruskan, untuk apa juga?


Saat aku masih tenggelam dalam pikiran, Basori-san menyadari tatapanku lalu tersenyum manis.


"Ada apa, Nukumizu-san?"


"A-ah, tidak..."


Karena sedikit malu, aku mendongakkan kepala ke langit.


Butiran cahaya keemasan berkilauan sambil perlahan turun dari langit.


Di sampingku ada Yanami yang iseng menendang sepatuku. Di sisi lain ada Basori-san, dengan butiran keringat yang menghiasi tengkuknya.


...Hari ini aku datang hanya untuk menemani Sakurai dan yang lainnya. 


Jadi, untuk saat ini, lebih baik menikmati momen ini saja.


Diapit oleh mereka berdua, aku terus memandangi kembang api yang bermekaran lalu lenyap dalam sekejap, tanpa pernah merasa bosan.



Sambil memandangi percikan api kembang yang perlahan berjatuhan, Koharu bergumam pelan.


"...Jadi nostalgia, ya."


Sakurai mengangguk tanpa berkata apa pun.


Sejak mulai bisa mengingat sesuatu, ia selalu bersama Koharu.


Mereka bermain bersama, berlarian ke sana kemari. 


Dan tentu saja, Hibari juga selalu bersama mereka.


Semuanya kini menjadi kenangan yang terasa begitu jauh, seolah tak lagi bisa diraih.


Kenangan pertama mereka bertiga menonton kembang api terjadi bahkan sebelum mereka masuk sekolah dasar.


Hibari, yang seharusnya paling bersemangat menunggu kembang api, malah ketakutan oleh suara ledakannya dan bersembunyi di belakang ayahnya.


Katanya, pada akhirnya mereka bertiga menonton sambil bergandengan tangan, tetapi ingatan detailnya kini hanya tersisa di foto-foto yang diambil orang tua mereka.


Selama enam belas tahun hidupnya, semuanya seharusnya menjadi kenangan. Namun ternyata masih banyak bagian yang telah hilang.


Sambil larut dalam nostalgia, Sakurai menatap wajah samping Koharu yang diterangi cahaya kembang api.


Koharu mendongak ke langit sambil mengetuk-ngetukkan geta-nya ke tanah.


"Waktu kecil dulu, di sekitar sini banyak kios festival, ya. Sekarang sudah nggak ada lagi."


"Iya... jadi ingat. Kita selalu datang bersama setiap tahun."


Kita bertiga—


Sakurai hampir mengucapkannya, tetapi segera menelan kembali kata-katanya.


"Ingat waktu Hibari tersesat di festival?"


"Iya. Setelah itu dia terus menggenggam tangan kita berdua dan nggak mau melepaskannya."


Keduanya tersenyum tanpa mengalihkan pandangan dari langit.


...Benar juga.


Hibari kecil dulu memang masih seperti anak seusianya. 


Mudah tersesat, sering memecahkan gelas. Diam-diam juga cengeng, dan Koharu sering mengusap kepalanya.


Sejak kapan ia berubah menjadi Hokobaru Hibari yang sekarang?


Sejak kapan ia mulai dituntut untuk menjadi "Hokobaru Hibari"?


"...Sejak kita mulai pacaran, kita bertiga sudah nggak pernah pergi bersama lagi, ya."


Seolah membaca isi pikirannya, Koharu berkata pelan.


"Aku memang pernah bilang begitu waktu itu... tapi sampai sekarang aku masih sayang sama Hibari. Hanya saja... aku tahu suatu hari nanti kita bertiga pasti nggak akan bisa terus bersama. Karena itu..."


Untuk pertama kalinya hari ini, Koharu menatap Sakurai tepat di matanya.


"—Apa pun caranya, aku ingin mendapatkan Hiro-kun."


Tatapan mereka bertemu beberapa saat. Namun Koharu sendiri yang mengakhirinya.


"Tapi... ternyata aku nggak berhasil."


Sambil terus menatap ke kejauhan, ia bergumam seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.


Melihat wajah Koharu yang diterangi cahaya kembang api, Sakurai melangkah maju.


"—Aku terus memilih tetap bersama Koharu atas kemauanku sendiri."


Koharu tidak menjawab. Namun Sakurai tetap melanjutkan.


"Hari itu... kaulah yang menerobos ke tengah-tengah orang dewasa."


Bahkan sekarang pun...


Setiap kali mengingat hari itu, kakinya masih gemetar. Hari ketika seluruh dunianya runtuh dan hampir menghilang.


"Berbeda denganku yang tak bisa melakukan apa pun... Koharu benar-benar hebat. Kaulah yang menyelamatkan hatiku."


Ia tidak tahu apakah suaranya masih bisa mencapai hati Koharu. Tetapi kali ini, giliran dirinya yang harus memberanikan diri.


Sakurai meletakkan kedua tangannya di bahu Koharu lalu memaksanya menghadap dirinya.


"Maaf sudah membuatmu terus merasa gelisah. Mungkin tekadku masih kalah dibanding tekadmu waktu itu... tapi maukah kau memberiku satu kesempatan lagi?"


"Hiroto...!"


Di mata Koharu terpantul air mata dan wajah Sakurai yang sungguh-sungguh.


Sambil menggigit bibir yang gemetar, Koharu perlahan mengulurkan kedua tangannya ke arah Sakurai—



Aku melirik jam digital di pergelangan tanganku, lalu mendongak ke langit malam.


Nah, sebentar lagi puncak acaranya.


Pertunjukan starmine, bagian paling spektakuler dari festival kembang api, akan dimulai.


Festival kembang api Toyohashi memiliki area peluncuran yang sangat luas, sehingga rentetan kembang api yang ditembakkan berturut-turut benar-benar luar biasa.


"Hei, Nukumizu-kun!"


Saat sedang bersemangat, Yanami menarik lenganku.


"Apa? Ini bagian yang paling seru."


"Di sana juga lagi bagian yang paling seru!"


Yanami memegang wajahku lalu memaksanya menghadap ke arah Sakurai dan Koharu.


Dan benar saja. Di sana memang sedang memasuki bagian yang tak kalah menarik.


Entah kapan mereka berdamai, sekarang mereka sudah saling merangkul, bahkan tampak seperti akan berciuman.


"Hei, jangan mengintip begitu. Basori-san, bilang sesuatu dong."


Aku berharap masih ada suara hati nurani. Namun Basori-san hanya mengangguk pelan.


"...Bagaimana kalau kita melihat dari jarak yang lebih dekat?"


"Aku setuju."


Mereka berdua membungkuk lalu mulai mendekati Sakurai dan Koharu.


Tunggu dulu. Kalau mereka pergi, aku juga ikut!


Saat hatiku bimbang memilih antara menonton kembang api atau mengintip, tiba-tiba suara kembang api berhenti sesaat.


...Puncak pertunjukan akan dimulai.


Aku segera memanggil kedua gadis yang berjalan lebih dulu.


"Kalian berdua, ke sini."


Benar. Kalau mencari posisi yang bisa melihat Sakurai dan kembang api sekaligus, aku bisa menikmati keduanya.


Tentu saja aku tidak benar-benar ingin mengintip.


Tapi setelah ikut terseret dalam semua keributan mereka sampai sejauh ini, bukankah sebagai teman sudah menjadi tugasku melihat bagaimana semuanya berakhir?


"Nukumizu-kun, kalau berdiri di situ kami nggak bisa lihat."


"Maaf, boleh agak menundukkan kepala sedikit?"


"Hei, jangan ribut-ribut, nanti ketahuan!"


Sementara kami bertiga berebut posisi, jarak Sakurai dan Koharu semakin dekat.


...Glek.


Tepat saat kami bertiga menelan ludah bersamaan—Buk!


Koharu menghantam kepala Sakurai dengan sebuah headbutt sekuat tenaga.



Hari itu, cahaya matahari senja yang menembus sela-sela pagar tanaman masuk ke kamar Hibari melalui jendela.


Namun yang berada di kamar itu bukan Hokobaru Hibari.


Melainkan Sakurai Hiroto.


Hiroto duduk memeluk lutut di sudut ruangan, air mata menggenang di matanya.


Bagi anak SD sepertinya, keadaan saat ini sudah berada di luar batas pemahamannya.


Ayahnya yang tadi menyeret tangannya sambil mendatangi rumah keluarga Hokobaru dengan penuh amarah sama sekali tidak lagi memiliki wajah lembut seperti biasanya.


Entah untuk yang keberapa kalinya, suara bentakan terdengar dari ruangan lain.


Saat Hiroto menyembunyikan wajah di balik lututnya, terdengar suara yang sudah sangat dikenalnya.


"Hiro-kun, ada apa?"


"...Koharu?"


Ketika perlahan mengangkat kepala, ia melihat Koharu berdiri dengan wajah penuh kekhawatiran.


Melihat sosok yang tak disangka-sangka itu, Hiroto menyadari bahwa dirinya merasa sangat lega.


"Waktu malam itu... aku dimarahi Ayah karena pulang larut bersama Hibari-nee..."


Ia menghentikan ucapannya dan menundukkan kepala dengan canggung.


Melihat reaksinya, Koharu langsung teringat sesuatu.


Beberapa malam yang lalu, ibu Hibari menelepon rumahnya. Katanya Hibari bertengkar dengan ayahnya lalu kabur dari rumah.


Karena keesokan paginya ia melihat Hibari pergi ke sekolah seperti biasa, kejadian itu hampir terlupakan.


Artinya...


Malam itu Hiroto bersama Hibari.


Rasa dingin menjalar di hati Koharu.


"...Apa yang terjadi antara kamu dan Hibari?"


Itu bukan pertanyaan. Melainkan sebuah penegasan.


"Sisi perempuan" dalam diri Koharu menangkap kebenaran hanya dari perubahan kecil di ekspresi Hiroto.


"Kalau susah diceritakan, nggak apa-apa. Maaf."


Koharu duduk di samping Hiroto. Dari balik fusuma kembali terdengar bentakan seorang pria dewasa.


"Kenapa ayahmu datang ke sini?"


Sambil mengusap hidungnya, Hiroto menjawab,


"...Ayah marah karena katanya Hibari-nee membawaku keluar sampai malam. Terus..."


"Terus?"


Koharu langsung menyela.


"Katanya... aku akan dipindahkan sekolah."


"Apa?!"


Hanya karena Hibari mengajak Hiroto keluar sampai malam...


Mustahil seseorang sampai dipindahkan sekolah hanya karena itu. Walaupun Koharu tidak mengetahui seluruh persoalan kedua keluarga itu, ada satu hal yang kini ia yakini.


—Pasti telah terjadi sesuatu antara Hibari dan Hiroto.


Sambil menekan gejolak di dalam hatinya, Koharu menggenggam tangan Hiroto.


"Tenang saja. Serahkan padaku."


Lalu ia berdiri, seolah telah mengambil keputusan.


Menatap Hiroto yang memandangnya dengan cemas, Koharu berkata tegas,


"Aku tidak akan membiarkan Hiro-kun dipindahkan sekolah."



Tepat saat Sakurai terdorong ke belakang akibat benturan kepala itu, rentetan kembang api memenuhi langit malam dengan cahaya putih menyilaukan.


Di depan Nukumizu dan yang lainnya yang hanya bisa terdiam, Koharu mencengkeram kerah baju Sakurai yang sempoyongan.


Dengan latar belakang langit yang dipenuhi kembang api, ia kembali menghantamkan kepalanya untuk kedua kalinya.


Sakurai hampir roboh, tetapi Koharu langsung menariknya berdiri lagi.


"Aku benar-benar senang, tahu?! Padahal aku juga sayang sama Hibari, tapi kamu memilih pacaran denganku. Tapi..."


Dengan suara lantang yang bahkan tak kalah keras dari dentuman kembang api, Koharu terus berbicara.


"Mana mungkin aku nggak berharap! Berharap kalau suatu hari nanti kamu akan mencintaiku seorang saja!"


"Koharu, aku..."


Koharu memotong ucapan Sakurai.


"Aku benar-benar mencintaimu, Hiro-kun! Aku serius mencintaimu! Tapi..."


Lalu ia mendorong Sakurai sekuat tenaga. Dengan seolah meluapkan seluruh perasaannya selama enam belas tahun, ia berteriak,


"Kita putus!"


Ucapan Koharu terdengar begitu lapang dan tanpa penyesalan.


Seperti percikan kembang api yang perlahan larut di langit malam. Air mata yang tak mampu lagi dibendung berkilauan diterpa cahaya kembang api.


"...Maaf ya, Hiroto."


Kata-kata terakhir Koharu diucapkan sambil mati-matian memaksakan senyum.


Sakurai memahami itu.


Karena itulah...ia hanya mampu mengangguk.



...Aku benar-benar berada di tempat yang luar biasa canggung.


Sambil memandangi punggung Koharu yang berlari menjauh, aku hanya bisa terpaku di tempat.


Di puncak acara festival kembang api, sebuah adegan putus cinta yang terjadi di depan begitu banyak orang membuat semua penonton di sekitar hanya bisa terdiam.


Saat aku masih bingung harus bagaimana menghadapi Sakurai yang berdiri membeku, Yanami menepuk pelan bahuku.


"Yah... aku sama Basori-san akan mengejar dia."


"Boleh kami serahkan Sakurai-kun padamu?"


Setelah berkata begitu, Yanami dan Basori-san menghilang di tengah kerumunan.


Aku juga tidak mungkin membiarkan Sakurai terus menjadi pusat perhatian orang-orang di sini...


"Ehm... bagaimana kalau kita pindah ke tempat lain?"


Saat aku mengajaknya bicara, Sakurai mengangguk pelan dengan wajah kosong seolah jiwanya telah melayang.


Sebelum pergi, ia bahkan sempat menunduk kepada orang-orang di sekitar sambil berkata, "Maaf sudah membuat keributan."


Benar-benar khas Sakurai.


Tanpa kusadari, pertunjukan kembang api utama telah usai. Kini hanya beberapa tembakan tunggal yang diluncurkan, seolah enggan mengakhiri malam.


Aku menarik tangan Sakurai menuju jalan setapak di sisi barat taman yang dikelilingi pepohonan.


"Kamu nggak apa-apa? Aku cuma bawa gula batu sih."


Saat sedang mencari gula batu yang biasa kusiapkan untuk Yanami, Sakurai tersenyum lemah.


"Aku tidak apa-apa. Sudah agak tenang."


Sambil berkata begitu, ia melihat sekeliling.


"...Nukumizu-kun yang membawaku sampai ke sini ya. Maaf, tadi aku benar-benar linglung."


"Ah, jangan dipikirkan. Koharu-san dikejar oleh para gadis."


"Maaf ya. Padahal ini harusnya festival kembang api yang menyenangkan."


Aku menggeleng. Lagi pula, kami memang mengajak mereka ke festival ini dengan maksud menjebak mereka.


...Eh? Kalau begitu...


Bukankah justru kami yang memberikan pukulan terakhir hingga hubungan mereka berakhir?


Saat tubuhku merinding menyadari fakta yang mengerikan itu, Sakurai duduk di atas rumput di tepi jalan setapak.


"Kamu tidak mengejar Koharu-san? Walaupun mau putus, bukankah sebaiknya kalian bicara baik-baik?"


"...Aku tidak akan mengejarnya."


Nada suaranya lemah, tetapi sama sekali tidak ragu.


"Setelah dia mengatakannya sejelas itu... aku bahkan tidak bisa membalas apa pun. Itu sudah menjelaskan segalanya."


"Begitu ya."


Aku duduk di sampingnya sambil memandang sisa-sisa cahaya kembang api yang muncul di balik gedung balai kota.


...Tahun lalu aku datang ke restoran di lantai paling atas bersama Yanami. Kalau melihat waktunya, pertunjukan kembang api benar-benar akan segera berakhir.


Di depan kami, jalan setapak mulai dipenuhi orang-orang yang pulang. Lalu, seolah sebagai encore, beberapa kembang api kembali mekar bersamaan di langit malam.


Cahaya keemasan berkilau perlahan larut bersama asap.


Dan setelah itu...Langit kembali sunyi.


"...Aku mencintai Koharu. Dari lubuk hatiku."


Tiba-tiba Sakurai berkata pelan. Sambil memandang asap yang perlahan diterbangkan angin, ia melanjutkan kata-katanya seolah sedang merasakannya kembali.


"Apakah perasaanku sama dengan perasaan Koharu kepadaku atau tidak... aku tidak tahu. Dan selama aku tidak tahu jawabannya, berarti tidak ada lagi masa depan untuk kami."


Aku tidak menemukan kata-kata yang pantas untuk diucapkan.


Aku hanya menatap langit malam yang telah kembali sunyi.


Lebih dari sepuluh tahun bersama.


Berpacaran. Namun begitu putus...


Hubungan mereka seakan berubah menjadi orang asing.


...Kalau saja mereka tidak pernah berpacaran.


Kalau saja mereka tidak pernah saling jatuh cinta...


Apa mereka bisa tetap menjadi sahabat masa kecil selamanya?


Sakurai mengusap dahinya yang memerah akibat headbutt tadi sambil tersenyum pahit.


"...Kamu jadi melihat sisi memalukanku ya."


"Iya. Memang cukup memalukan."


Aku menjawab dengan nada seringan mungkin.


Aku tahu. Aku tahu seharusnya tidak mengatakan lebih dari itu. Tapi sayangnya...


Aku bukan tipe orang yang bisa berhenti sampai di situ.


"...Justru karena sudah memalukan, kenapa tidak sekalian saja sampai akhir?"


Sakurai menatapku dengan ekspresi terkejut.


Yah, karena sudah telanjur mengatakannya, aku lanjut saja.


"Awalnya kan ini cerita tentang kalian bertiga. Jadi menurutku... tidak pantas kalau hanya kamu dan Koharu-san yang merasa semuanya sudah selesai. Masih ada Hokobaru-senpai, kan?"


Aku mendongak ke langit untuk menyembunyikan rasa malu.


Asap kembang api telah menghilang. Bulan yang sedikit membulat kini tampak jelas.


"Pokoknya... sekalian saja sampai akhir. Bereskan semuanya."


Keheningan panjang.


Arus orang-orang terus berlalu di depan kami.


...Apa aku tadi salah bicara?


Saat mulai merasa gelisah dan menoleh ke arahnya, Sakurai justru tersenyum lembut seperti biasanya.


"Serius deh... kalau aku perempuan, pasti aku tidak akan membiarkanmu begitu saja."


"Itu suatu kehormatan."


Kami tertawa kecil.


Lalu Sakurai perlahan berdiri.


Saat itu sesuatu jatuh dari saku celananya.


"Kamu menjatuhkan sesuatu."


Yang kupungut adalah gantungan karet yang sudah cukup usang. Karakter chibi Karasuya-kun dari Atenaru Mono.


Sakurai menatap benda itu beberapa saat. Seolah telah mengambil keputusan, ia memasukkannya kembali ke dalam sakunya. Lalu ia hanya berkata,


"Aku pergi dulu."


Dan menghilang di tengah kerumunan.



Ruang tamu rumah keluarga Hokobaru dipenuhi asap rokok.


Di dalam ruangan itu ada ayah Hokobaru Hibari dan ayah Sakurai Hiroto.


Di ruang beralaskan tatami itu, Hibari yang masih mengenakan seragam SMP Sasayuri duduk bersimpuh di tengah, sementara kedua pria dari dua keluarga saling beradu mulut di hadapannya.


"Bagaimanapun juga, Hiroto kami masih anak SD. Mana mungkin Hibari-chan melakukan hal seperti itu."


Ayah Sakurai berkata dengan nada mencela sambil melirik Hibari yang wajahnya pucat.


"Aku..."


Hibari mencoba berbicara dengan lemah. Namun ayahnya langsung memotong.


"Sudahlah. Justru putriku yang dirugikan. Kupikir kau datang untuk meminta maaf, ternyata malah datang mencari gara-gara."


Sambil menahan amarah, ayah Hibari menekan puntung rokoknya ke dalam asbak.


"Lagi pula, memalukan sekali orang tua ikut campur urusan anak-anak."


"Kalau begitu... jangan-jangan Kakak Ipar memang menyuruh Hibari-chan menggoda Hiroto?"


Ucapan itu membuat Hibari mengangkat wajahnya.


"Bukan—"


"Jangan asal menuduh!"


Ayah Hibari menghantam tatami dengan kepalannya.


"Siapa tahu. Kalian mungkin berniat memanfaatkan Hiroto agar seluruh harta Ayah Mertua jatuh ke keluarga Hokobaru."


"Jangan bercanda. Aku sudah berniat mencarikan Hibari seorang menantu laki-laki."


"Hah...?"


Tatapan Hibari yang kebingungan sama sekali diabaikan.


Ayahnya menyalakan batang rokok berikutnya.


"Memang sudah sewajarnya anak sulung sepertiku yang menjaga rumah dan ladang. Lagi pula..."


Ia mengembuskan asap sambil tersenyum meremehkan.


"Keluarga Sakurai sendiri memang punya apa yang perlu dijaga? Kalau kalian ingin menjadikan Hiroto menantu kami, mungkin masih bisa kupikirkan."


"Kakak Ipar, Anda..."


Wajah ayah Hiroto memerah.


Ia meraih korek api, mencoba menenangkan diri. Setelah beberapa kali memantik, akhirnya rokoknya menyala.


Ia mengembuskan asap panjang.


"...Yang jelas, anak SMP yang mendekati anak SD itu sudah keterlaluan. Hiroto akan kupindahkan sekolah."


"Oh? Jadi kau datang untuk memberi tahu akan pindah?"


"Aku akan meminta Ayah Mertua menyiapkan kamar untuk Hiroto di apartemennya dekat stasiun."


Begitu mendengarnya, wajah ayah Hibari langsung berubah.


"Jadi kau berniat memanfaatkan orang tua itu untuk merebut hartanya!"


Sambil menjatuhkan abu rokok, ia menunjuk ayah Hiroto dengan rokoknya.


"Lagi pula kau cuma menantu! Kau tidak punya hak ikut campur!"


"Aku bukan menantu!"


Di tengah pertengkaran kedua pria dewasa itu, Hibari mati-matian menahan air matanya.


...Karena diriku...


Semuanya menjadi hancur.


Malam itu...karena kesepian, ia mencari Hiroto. Dan memanfaatkan perasaan baik anak itu.


Ini adalah balasan yang pantas. Balasan karena mengkhianati kepercayaan Hiroto dan juga Koharu.


Saat itulah terdengar suara langkah kaki berlari di lorong.


Disusul suara ibunya yang berusaha menghentikan seseorang.


Detik berikutnya, pintu geser dibuka dengan keras.


"Permisi! Saya Mizushima Koharu!"


Kemunculan tamu yang sama sekali tidak diduga itu membuat seluruh ruangan membeku.


"K-Koharu-chan! Sekarang semua orang sedang bicara..."


Ibu Hibari mencoba meraih tangannya. Namun Koharu menepisnya lalu berdiri tepat di depan ayah Hiroto.


"Koharu-chan, kenapa kamu ada di sini...?"


Menghadapi ayah Hiroto yang kebingungan, Koharu berseru keras,


"Paman! Hiro-kun dan aku sedang berpacaran!"


Pengakuan mendadak itu membuat semua orang kehilangan kata-kata.


"Malam itu aku juga bersama mereka. Tapi aku diam karena takut dimarahi ibuku kalau ketahuan."


Koharu menarik napas panjang lalu melanjutkan,


"Jadi, Hiro-kun dan Hibari tidak terjadi apa-apa! Tolong hentikan semua ini!"


Setelah mengatakannya sampai selesai, Koharu membungkuk dalam-dalam kepada kedua pria itu.


Di tengah suasana yang dipenuhi kebingungan seperti asap rokok, ibu Hibari menyentuh bahu Koharu.


"Koharu-chan, bagaimana kalau ikut Bibi ke ruangan sebelah dulu?"


Ayah Hibari menepuk-nepuk bungkus rokoknya lalu mengambil sebatang lagi.


"Natsumi. Keluar dulu."


Dengan nada tenang itu, ibu Hibari akhirnya meninggalkan ruangan. Begitu pintu fusuma tertutup, ayah Hibari kembali berbicara.


"Koharu-chan, Hibari tidak pernah menceritakan hal seperti itu."


"Aku sendiri yang memohon kepada Hibari supaya merahasiakannya. Takut dimarahi."


Hibari yang masih kebingungan hanya memandangi Koharu dengan mata terbelalak. 


Sementara ayah Hiroto mengetuk-ngetukkan jarinya ke tatami dengan kesal.


"Itu bohong belaka—"


"Dengar, Pak Sakurai. Kalau Koharu-chan bilang begitu, ya anggap saja memang begitu."


Sambil mengembuskan asap rokok, ayah Hibari melanjutkan,


"Sudah sampai anak orang lain harus berkata sejauh ini. Kali ini anggap saja kita semua salah paham."


"Tapi, Kakak Ipar..."


Ayah Hibari mematikan rokok yang bahkan belum sempat diisap banyak, lalu berdiri.


"Natsumi! Antar Pak Sakurai pulang!"


Ibu Hibari segera membuka pintu fusuma.


Ayah Hibari mengabaikan adik iparnya yang masih duduk, lalu menepuk pelan kepala Koharu.


"Anak yang baik. Cocok sekali untuk Hiroto."


Ayah Hiroto mencoba menyalakan rokoknya lagi. Namun koreknya hanya berbunyi klik-klik tanpa mengeluarkan api.


Akhirnya ia menyerah sambil mengumpat, lalu berdiri.


"Hiroto! Di mana kamu! Kita pulang!"


Tanpa melihat ke belakang, ia berjalan cepat meninggalkan ruangan.


Tak lama kemudian...yang tersisa di ruangan itu hanyalah Koharu dan Hibari. Masih duduk bersimpuh, Hibari terus menatap tatami.


"...Koharu..."


Hanya itu yang sanggup ia ucapkan.


Setetes air mata jatuh ke pangkuannya.


Lalu satu lagi.


Dan satu lagi.


Noda air mata terus membasahi rok seragamnya.


"Tidak apa-apa. Om-om tadi sudah mengerti."


Koharu berlutut di hadapannya lalu mengusap kepala Hibari dengan lembut.


"...Tidak apa-apa."


Saat Koharu mengulanginya sekali lagi, air mata Hibari akhirnya tumpah tanpa bisa dibendung.


Batas kesabarannya sudah lama terlewati. Ia menangis sekeras-kerasnya.


Koharu memeluknya erat.


"Tidak apa-apa... tidak apa-apa."


Sambil terus memeluk Hibari, Koharu berulang kali mengucapkan kata-kata itu agar ia merasa tenang.


"Tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja..."


Berulang kali. Terus berulang kali.


Tanpa disadarinya, air mata juga mulai mengalir dari mata Koharu. Bahkan Koharu sendiri tidak tahu mengapa ia ikut menangis.


Seolah hanya mereka berdua yang tersisa di dunia ini...


Mereka terus menangis dalam pelukan satu sama lain untuk waktu yang sangat lama.



Suara kembang api yang bergema dari kejauhan sudah lama tak terdengar lagi.


Sambil mengipasi diri dengan kipas di beranda, Hokobaru Hibari kini hanya mendengarkan suara serangga malam.


Meski tanpa hiruk-pikuk manusia, malam ternyata tetap ramai.


Jika didengarkan baik-baik, terdengar suara katak dan burung dari kejauhan. Suara berderak dari semak-semak itu mungkin seekor tikus liar yang sedang melintas.


Sambil memperhatikan ujung yukatanya agar tidak berantakan ketika menyilangkan kaki, ia mendengar suara mesin mobil yang asing mendekat.


Lampu depan mobil berhenti di depan rumah, menurunkan seseorang, lalu langsung menjauh.


Mungkinkah kedua orang tuanya yang seharusnya menginap di rumah kakeknya pulang naik taksi? Semoga saja mereka tidak bertengkar dengan pamannya....


Saat ia menunggu untuk mendengar apa yang terjadi, orang yang muncul justru seseorang yang sama sekali tak diduganya.


Sakurai Hiroto.


Menyembunyikan keterkejutannya, Hibari mengangkat sebelah tangan.


"Selamat datang. Cepat juga kau pulangnya."


—Koharu tidak ikut?


Ia mengarahkan pandangannya ke belakang Hiroto, tetapi tampaknya hanya Hiroto yang turun dari mobil.


Tak ada yang berbeda dari senyum Hiroto seperti biasanya.


Kalau begitu, pasti semuanya berjalan lancar. Kalau ia sengaja datang ke sini, pasti untuk mengeluh atau memarahinya.


"Yah, sepertinya aku harus minta maaf lebih dulu."


Mendengar candaan Hibari, Hiroto tidak berkata apa-apa. Ia hanya duduk di sampingnya. Lalu, dengan nada bicara yang sama seperti biasanya, ia menatap langit.


"Meski sudah malam begini, masih panas ya."


"Iya. Benar-benar sudah masuk musim panas."


Sikap Hiroto yang terlalu biasa membuat Hibari merasakan sesuatu yang janggal. Namun ia segera menyadari bahwa Hiroto memang sengaja bersikap seperti itu.


"Dulu kita sering main kembang api di halaman ini, ya."


"Iya. Dulu Hiroto takut sekali sama kembang api yang besar, kan?"


Saat ia menjawab santai, Hiroto tertawa geli.


"Justru Hibari-nee yang lebih penakut."


"Begitukah? Kejadian itu waktu musim panas kelas tiga SD, ya?"


"Itu salah Kak Hayato."


Keduanya tertawa polos. 


Seperti anak-anak dulu. Setelah itu mereka terus mengobrol. Seolah sedang mengenang masa kecil ketika mereka belum mengetahui apa pun. Seolah sedang menyimpan seluruh masa lalu ke dalam kenangan.


Dan sedikit demi sedikit, Hibari mulai memahami sumber perasaan janggal itu.


—Hiroto datang untuk mengucapkan selamat tinggal padanya.


Mereka hanyalah sepupu sekaligus teman masa kecil. Lambat laun menjadi renggang adalah hal yang wajar. 


Suatu saat nanti mereka hanya akan bertemu sesekali dan saling berkata, "Sudah lama ya."


Hibari sudah tahu sejak lama bahwa hari itu pasti akan datang.


Hanya saja, ternyata hari itu adalah hari ini. Sambil menahan air mata yang mulai menggenang, Hibari terus berbincang dengan senyum di wajahnya.


...Akhirnya, cerita kenangan mereka pun sampai pada masa kini.


Keheningan membentang di antara mereka. Bahkan suara serangga pun menghilang, membuat suasana di sekitar menjadi sunyi.


Saat Hibari menguatkan tekad untuk membuka mulut, Hiroto justru berbicara lebih dulu, seolah sudah menunggunya.


"—Terima kasih. Aku sudah bisa bicara baik-baik dengan Koharu."


"Begitu ya."


Dengan sekuat tenaga Hibari memaksakan sebuah senyuman.


Sebagai "Hibari-nee", ia telah memutuskan untuk tidak menangis sampai akhir. Namun, kata-kata Hiroto berikutnya jauh melampaui dugaannya.


"Aku ditolak mentah-mentah oleh Koharu."


"...Apa?"


Begitu akhirnya ia memahami arti kalimat itu, wajah Hibari langsung pucat.


"Tunggu. Kalau dia salah paham gara-gara aku, aku akan segera menjelaskan kepada Koharu—"


Saat Hibari hendak berdiri, Hiroto meraih tangannya.


"Bukan begitu. Kami sudah membicarakannya dan mengambil keputusan bersama. Hibari-nee tidak ada hubungannya."


"Tapi kalau saja aku tidak melakukan semua ini...."


"Memang tidak ada hubungannya. Aku dan Koharu sama-sama tahu. Ini memang satu-satunya akhir yang mungkin terjadi. Jadi...."


Masih menggenggam tangan Hibari, ia tersenyum seperti biasa.


"Jadi... terima kasih."


Kepada Hibari yang masih terpaku tanpa bisa berkata apa-apa, Hiroto berbicara dengan lembut.


"Aku pikir aku sudah siap menerima kenyataan kalau kita bertiga tidak mungkin selamanya bersama. Tapi ternyata butuh waktu selama ini."


Karena Hibari tak mampu berkata apa-apa, Hiroto melanjutkan sendiri.


"Hibari-nee, dulu kau pernah bercerita tentang impianmu, kan? Kau ingin bekerja menghubungkan dunia."


Hibari mengangguk pelan.


"Kau ingin kuliah di universitas di Tokyo dan masuk perusahaan dagang. Bahkan kau mulai atletik juga sebagai latihan fisik untuk itu, kan?"


Berbagai kenangan melintas di benaknya. Waktu yang mereka habiskan bersama di gubuk tua yang kini sudah tidak ada lagi. 


Meski tidak sampai setengah tahun, bagi Hibari dan Hiroto, masa itu adalah kenangan yang tak tergantikan.


"Aku juga punya impian."


Tiba-tiba Hiroto berkata begitu sambil menatap langit.


"Belum pernah kuceritakan kepada siapa pun. Hibari adalah orang pertama."


Tak ada jawaban. Namun ia tetap melanjutkan.


"Aku membenci kota ini... dan semua hal yang mengelilinginya."


"...!"


Ucapan itu membuat Hibari membelalakkan mata.


"—Tapi pada saat yang sama, aku juga sangat mencintai tempat ini."


Angin selatan yang tadi belum berembus kini mengibaskan rambut depannya.


Aroma laut yang terbawa angin, juga bau tanah...


Semuanya adalah kenangan yang sangat berharga baginya.


"Karena itu, setelah lulus kuliah nanti aku ingin kembali ke Toyohashi dan menjalani hidup di sini."


"...Hidup... di sini?"


Akhirnya Hibari berhasil mengucapkan kata-kata itu.


Hiroto mengangguk mantap tanpa sedikit pun keraguan.


"Aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan sendirian. Tapi aku ingin menjaga tempat yang sangat kucintai ini."


"Tapi aku...."


Lanjutan kata-kata Hibari larut bersama angin, tak pernah menjadi kalimat yang utuh.


Hiroto mengusap air mata yang entah sejak kapan mulai mengalir di pipi Hibari dengan jarinya.


"Karena itu, Hibari-nee, serahkan saja kepada kami, kota ini, semuanya kepadaku. Aku ingin kau mengejar impianmu."


Sakurai Hiroto menatap Hokobaru Hibari dengan senyum yang paling cerah.


Senyum yang selama ini ia asah, demi hari ini.


"Tinggalkan saja semuanya, Hibari-nee. Penyesalanmu, rasa bersalahmu, bahkan kenanganmu. Aku akan memikul semuanya."


Melihat senyum itu, air mata Hibari tak lagi bisa dibendung.


Bukan lagi sebagai "Hibari-nee", melainkan sebagai Hokobaru Hibari, ia membuka bibirnya yang gemetar.


"...Hari itu... aku tidak punya keberanian."


Sambil berusaha menahan tangis hingga suaranya tersendat, ia berkata,


"Aku tidak bisa mengatakan kalau aku mencintaimu, Hiroto. Baik kepada Ayah... maupun kepada Koharu."


Hibari menggenggam kedua pipi Hiroto dengan kedua tangannya, lalu tersenyum di tengah derasnya air mata.


"...Akhirnya aku bisa mengatakannya."


Begitu kata-kata itu terucap, benteng yang selama ini menahan perasaannya runtuh seketika.


Hibari membenamkan wajahnya ke dada Hiroto dan menangis sejadi-jadinya.


Tanpa lagi memedulikan harga diri ataupun apa pun.


Ia menangis dari lubuk hatinya yang paling dalam.


...Entah sudah berapa lama berlalu. Di tengah suara serangga yang kembali bernyanyi, Hibari mulai berbicara.


"Aku juga... sama seperti Hiroto, menyukai Koharu."


Koharu selalu berkemauan keras, tak pernah ragu, dan selalu jujur pada dirinya sendiri dalam keadaan apa pun.


Hibari begitu iri padanya. Begitu mengaguminya hingga terasa menyilaukan.


"Aku pikir kalau orangnya Koharu, aku pasti bisa menerimanya. Tapi ternyata... perasaan tidak bisa dikendalikan sesuka hati."


"...Iya."


Dengan lengan yang masih memeluk tubuh Hibari, Hiroto mengusap punggungnya dengan lembut.


"...Aku ingin kita bertiga terus bermain bersama selamanya."


"...Aku juga."


Mereka ingin terus merasakan kehangatan satu sama lain seperti itu. Namun, keduanya sama-sama tahu bahwa mereka telah memilih jalan yang berbeda.


"Kalau aku masih di sini selarut ini, Paman pasti tidak akan senang."


Dengan enggan Hiroto meletakkan kedua tangannya di bahu Hibari, hendak melepaskan pelukannya. Namun Hibari tidak mau menjauh darinya.


"Hibari-nee?"


"—Malam ini... jangan pulang."


Hiroto bukanlah pria yang tidak mengerti arti kata-kata itu.


Merasakan hangat tubuh Hibari di dadanya, ia menggeleng pelan dengan ragu.


"Tapi aku...."


"Aku tahu. Musim semi nanti aku akan meninggalkan tempat ini. Aku tidak tahu kapan bisa bertemu denganmu lagi... atau bahkan mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi."


Sambil menggenggam bagian dada baju Hiroto dengan kedua tangannya, Hibari melanjutkan,


"Tapi mungkin suatu hari nanti akan datang saatnya aku bisa kembali sambil tersenyum. Karena itu...."


Mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa, ia mengucapkan permohonannya.


"Sampai hari itu tiba... maukah kau menjaga perasaanku untukku?"


Hiroto bisa merasakan keberanian dan perasaan Hibari begitu dalam hingga terasa menyakitkan. Namun ia tetap ragu saat membuka mulut.


"Hibari-nee...."


"Tolong... sampai besok pagi... jangan panggil aku 'Hibari-nee'."


Perlahan tenaga di tangan Hiroto yang berada di bahu Hibari mengendur.


Ada kata-kata yang selama ini ingin ia simpan jauh di dasar hatinya. 


Kata-kata yang ingin ia bawa sendiri hingga ke liang kubur.


Namun pada detik berikutnya, kata-kata itu menjadi rahasia yang hanya dimiliki oleh mereka berdua.


—Aku sudah lama mencintaimu, Hibari.



Sambil membuka gerbang rumah, aku menatap langit malam yang kini benar-benar sunyi.


Kesepian setelah festival usai.


Sejak dulu aku memang agak tidak menyukai suasana seperti itu, tetapi entah kenapa malam ini justru membuatku merasa lega.


...Belum ada kabar dari Sakurai, tapi sebaiknya kubiarkan saja dulu. Setidaknya hari ini, pasti dia ingin menyendiri dan meratapi semuanya.


Saat membuka pintu depan, Kaju berlari menghampiriku dengan langkah kecil.


"Selamat datang, Onii-sama."


Entah kenapa suasana hatinya terlihat sangat baik.


Aku melepas sepatu sambil merasa heran.


"Aku pulang. Koharu-san sudah kembali?"


"Kalau Mizushima-san, tadi beliau sudah membawa barang-barangnya dan pulang ke rumah."


"...Hah?"


Tanganku yang sedang merapikan sepatu langsung berhenti.


Begitu ya. Dia datang ke rumahku hanya untuk membuat Sakurai cemburu. Sekarang mereka sudah putus, tentu tidak ada alasan lagi baginya untuk tetap tinggal di sini.


Dengan sedikit rasa sepi, aku mengacak-acak kepala Kaju yang tampak sedang menunggu dielus, lalu masuk ke dalam rumah.


"Selain itu, Koharu-san menitipkan pesan."


"Katanya untuk Onii-sama... ‘Maaf ya.’"


"Maaf," ya....


Entah maksudnya meminta maaf karena sudah banyak merepotkanku, atau karena hubungannya dengan Sakurai tidak berhasil diperbaiki....


Sambil memikirkan itu, aku hendak menuju kamarku ketika Kaju terus menatap leherku.


"Kaju, ada apa?"


"...Onii-sama, ada sesuatu menempel di lehermu."


"Apa ya?"


Saat kuusap dengan jari, serbuk berwarna merah muda bercampur glitter menempel di ujung jariku.


Warna ini... rasanya aku pernah melihatnya.


Saat itu tiba-tiba aroma parfum kembali tercium di hidungku.


Jangan-jangan ini... waktu Shikiya-senpai menyandarkanku tadi....


"Lipstik...?"


"Hah?! O-Onii-sama, apa maksudnya ini?!"


Sambil menghindari Kaju yang langsung menerjangku, aku menggeleng sekuat-kuatnya.


"Bukan, bukan begitu! Kakak cuma berkeringat, jadi mau mandi dulu."


"Kalau begitu Kaju ikut mandi juga!"


"Tidak boleh. Hei, jangan mulai melepas baju di sini."


"Tapi... tapi! Kaju harus memastikan tidak terjadi apa-apa pada tubuh Onii-sama...."


Gawat. Mode "Onii-sama" milik Kaju sudah aktif.


Aku segera mengangkat Kaju dan menyerahkannya kepada Ibu, lalu buru-buru masuk ke kamar mandi.


"Huuuh... nyaris saja."


Sambil berendam di bak mandi, aku mengembuskan napas panjang. Dari arah ruang dalam terdengar suara Ibu yang sedang berusaha menghentikan Kaju.


Kalau berdasarkan pengalaman selama ini, paling lama beliau bisa menahannya sekitar lima belas menit.


Lebih baik cepat-cepat selesai mandi....


Aku segera membasuh tubuh di area pancuran, lalu meraih deretan botol sampo. Mataku tertuju pada sampo milik Yakishio yang berada paling ujung.


...Mungkin memang sudah waktunya kukembalikan.


Aku dan Yakishio kan tidak sedang berpacaran.


Dalam hubungan pertemanan yang sewajarnya, meninggalkan sampo di rumah temanku terasa agak aneh.


Sambil memegang botol sampo itu, aku berpikir sejenak.


Ah, benar juga. Dia memang bilang aku boleh memakainya.


Kalau begitu, sebelum kukembalikan, mungkin sekali saja tidak masalah....


Aku menuangkan sampo ke telapak tangan.


Aroma segar jeruk langsung memenuhi udara.


Teman.


Pacar.


Sebenarnya, seberapa besar arti label-label seperti itu di antara seorang pria dan wanita?


Seolah ingin membilas pertanyaan yang tak pernah menemukan jawaban itu, aku mengacak rambutku dengan jari yang masih meninggalkan bekas lipstik.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close