Bab I
Grak, hanya dengan
sedikit menggerakkan lengan, rantai yang terikat langsung berdenting.
Dengan wajah yang amat lesu, Theo
mengedarkan pandangan ke sekeliling, dan yang tertangkap oleh penglihatannya
adalah sebuah sel tahanan dengan kebocoran atap yang parah.
Di dalam kegelapan, sepasang mata tajam
berkedip sesaat, lalu sesuatu bergegas pergi dengan suara gemerisik yang pelan.
Kemungkinan besar seekor tikus.
Dari jendela berjeruji besi di atas
kepala, pancaran sinar matahari pagi masuk ke dalam, perlahan-lahan memanaskan
bagian dalam sel tahanan.
Genangan air yang terbentuk di lantai sel
akibat hujan semalam memantulkan wajahnya sendiri.
Wajah yang kurus kering. Rambutnya yang
semula acak-acakan kini semakin rusak, bahkan mulai bercampur dengan uban.
Karena sudah berhari-hari tidak mandi, ketombenya pasti sudah sangat parah.
Theo sendiri tidak bisa mencium baunya, tetapi tempat ini pastilah mengeluarkan
bau busuk.
Siapa pun yang melihatnya, pasti akan
langsung tahu dari perlakuan ini kalau dia adalah seorang tahanan.
──Sejak
Theo dijebloskan ke dalam sel tahanan ini, waktu sudah hampir satu bulan
berlalu.
Tidak. Jika ingin ditarik lebih jauh
lagi, mungkin lebih tepat untuk mengatakan bahwa tiga tahun telah berlalu sejak
upacara kelulusan waktu itu.
Padahal waktu yang berlalu baru sebatas
itu, tetapi lingkungan di sekitar
Theo telah berubah total.
Dua setengah tahun yang lalu.
Negara tetangga, Leiwelt, mendadak
melancarkan serangan.
Leiwelt adalah negara kecil. Sebuah
negara yang terletak di wilayah beriklim dingin, dan meski memiliki laut di
bagian utara, hampir di sepanjang musim air lautnya membeku sehingga pelabuhan
tidak dapat berfungsi. Karena iklim yang dingin itu pula, sebagian besar
tanaman pertanian tidak dapat tumbuh di sana.
Mungkin karena itulah, industri yang
berkembang di sana adalah industri tentara bayaran.
Mereka mendidik dan melahirkan banyak
penyihir, lalu meraup keuntungan melalui perang atau pembasmian monster.
Jika berbicara tentang penyihir Leiwelt,
reputasi mereka sangatlah buruk.
Namun, pada awalnya, negara menganggap
remeh Leiwelt.
Alasannya sederhana. Karena perbedaan
kekuatan tempur di antara
kedua belah pihak terlampau jauh.
Akan tetapi, hasilnya justru benar-benar
bertolak belakang dari perkiraan.
Sebuah kota yang berada di perbatasan
lenyap seketika hanya dalam waktu beberapa jam saja, secara harfiah.
Situasi
mulai berubah menjadi buruk sejak sesosok 《Monster》
muncul di medan perang.
《Monster》 tersebut sangat berbeda jauh dari monster
konvensional pada umumnya.
Memiliki
perawakan buruk rupa yang seolah-olah menggabungkan beberapa monster secara
paksa. Daya pemulihan luar biasa yang sanggup menyembuhkan luka seberat apa pun
dalam sekejap. Makhluk yang disebut 《Chimera》 itu pun langsung memulai pembantaian dalam
sekejap mata.
Sebagai akibatnya, entah sudah berapa
banyak penyihir dan prajurit dari negara sendiri yang tewas berjatuhan.
Namun, negara yang sudah telanjur basah
dan tidak bisa mundur lagi, akhirnya mengambil keputusan terburuk bagi Theo.
Yaitu,
keputusan untuk menerjunkan para elite muda──murid-murid Theo──ke garis depan.
Murid-murid
Theo kabarnya berhasil mencerai-beraikan para 《Chimera》
dalam sekejap mata.
Dalam sekali hentakan mereka membalikkan
kedudukan, hingga
akhirnya
gadis-gadis itu sampai dijuluki sebagai 《Lima
Pahlawan》.
Karena
itulah, negara mulai memanfaatkan mereka secara agresif──
Dan kemudian, semua orang terbunuh dengan
menyisakan hanya satu orang saja.
Berdasarkan cerita yang didengar Theo
saat dia bergegas mengelilingi kota-kota di sekitar medan perang atas
inisiatifnya sendiri, salah satu muridnya kabarnya sempat menolong prajurit
Leiwelt yang terluka, yang seharusnya merupakan musuh.
Gadis itu berkata bahwa dirinya tidak
berniat untuk membunuh orang.
Karena sihir bukanlah 'alat pembunuh',
begitulah katanya.
Namun, akhir ceritanya, gadis itu
dikhianati oleh prajurit yang terluka tadi, dan kabarnya dia tewas dibunuh
menggunakan 'sihir'.
……Benar-benar cerita yang konyol.
Bodoh. Ya, berapa kali pun akan tetap
kukatakan. Mereka benar-benar bodoh. Kenapa juga harus menaruh belas kasihan
pada prajurit musuh?
Padahal kalau sampai kehilangan nyawa
sendiri, semuanya akan menjadi tidak ada artinya.
Namun, yang paling tidak bisa dimaafkan
adalah.
Dirinya sendiri, Theo, yang telah
mengajarkan hal seperti itu kepada mereka.
"Wah, wah, Theo-kun. Bagaimana
rasanya tinggal di dalam sel tahanan?"
Tiba-tiba, sebuah suara yang teramat
tidak menyenangkan menggema.
Saat Theo mengangkat wajahnya perlahan,
di seberang jeruji besi berdiri seorang pria bertubuh tinggi kurus yang
mengenakan kacamata sebelah.
Di sampingnya tampak dua orang prajurit
berbaju zirah yang berjaga, kemungkinan sebagai pengawal.
Usia pria berkacamata sebelah itu
terlihat sekitar empat puluh tahunan.
Wajahnya tampak seperti gumpalan dari
segala hal yang licik, menjengkelkan, dan mencurigakan.
Fitur wajahnya memang rupawan, tetapi
karena dia terus memasang senyuman tipis yang palsu, dia hanya terlihat seperti
seorang penipu.
Bahan pakaiannya terlalu mewah, terasa
sangat salah tempat jika
dibandingkan dengan prajurit di
sebelahnya.
"Sudah satu bulan berlalu ya, sejak
Theo-kun mengamuk di medan perang demi mencari murid-murid tersayangmu, lalu
akhirnya tertangkap oleh kami. Waktu memang berlalu dengan cepat."
"…………"
"Apakah berbicara denganku saja
sekarang kamu sudah malas? Tapi, apa yang kukatakan itu adalah sebuah
kenyataan, bukan?"
Ya. Itu adalah kenyataan.
Muridnya telah tewas. Theo yang mendengar
rumor tersebut langsung mengajukan diri untuk pergi ke medan perang.
Demi mengetahui kebenaran yang
sesungguhnya.
Demi memastikan apa yang telah terjadi
sebagai akibat dari apa yang telah dia ajarkan kepada murid-muridnya.
Namun, medan perang tidak lebih dari
sebuah neraka jahanam.
Karena
tempat itu tidak hanya dipenuhi oleh prajurit negara musuh, melainkan juga
disesaki oleh 《Chimera》 yang tak terhitung jumlahnya.
Theo
mengerahkan seluruh sihir yang dimilikinya untuk membakar habis para 《Chimera》.
Ada banyak orang yang mempercayai sihir
milik Theo tersebut.
Mungkin karena walaupun dia adalah
seorang akademisi, dia dipanggil dengan berbagai macam julukan.
Dan para prajurit yang menjadi rekannya
rela mengajukan diri untuk menjadi perisai.
Salah satu dari mereka gugur sambil
tersenyum dan berkata, "Tolong titip anak perempuanku, ya."
Salah satu dari mereka tewas sambil
menangis dan berkata, "Impianku adalah membuka toko di kota."
Banyak
prajurit dari negaranya sendiri yang mempercayai Theo, terkadang mengajari Theo
yang tidak terbiasa bertarung tentang cara bertempur, terkadang Theo yang
mengajari mereka sihir, membangun hubungan saling percaya──dan pada akhirnya,
tidak ada satu pun yang tersisa selain Theo, semuanya tewas.
Ujung-ujungnya, Theo hanyalah seorang
akademisi yang hanya bisa bicara soal teori ideal, yang kebetulan memiliki
kekuatan bernama sihir.
Meski begitu, Theo tetap berlari
mengitari medan perang.
Demi mencari murid-muridnya.
Sambil membunuh prajurit musuh dan
chimera dalam jumlah yang jauh lebih banyak daripada pihak kawan.
Sambil melumuri kedua tangan ini dengan
darah dan dosa yang mutlak tidak akan pernah bisa dihapuskan.
Namun, ada batasnya bagi satu orang untuk
menghadapi sebuah pasukan militer.
Dan begitulah akhirnya dia tertangkap
oleh pria berkacamata sebelah ini.
"Sungguh
membuat rindu ya. Aku sempat dibuat jantungan saat chimera-chimera berhargaku
diledakkan olehmu. Seperti yang diduga dari 《Kingmaker》."
"…………"
"Bisakah kamu memberikan reaksi
sekarang? Aku merasa kesepian sampai-sampai rasanya ingin menangis……"
Pria berkacamata sebelah itu berpose
sedih yang dibuat-buat.
"……Berapa kali pun kamu datang ke
sini, aku tidak berniat untuk membicarakan tentang murid-muridku kepada
kalian."
"Oh, rupanya yang membuatmu
penasaran tetap hal itu, ya?"
Dengan wajah gembira, pria itu mengangkat
sebelah sudut bibirnya.
"Yah, mungkin ini memang salahku.
Hari demi hari, yang kutanyakan selalu tentang murid terakhirmu, Karina
Rudbeckia. Wajar saja kalau Theo-kun menjadi merajuk seperti itu."
Karina Rudbeckia.
Murid terakhir Theo yang masih bertahan
hidup sampai sekarang.
Tepat seperti perkataan pria berkacamata
sebelah itu, selama ini Theo terus-menerus diinterogasi hanya demi menggali
informasi mengenai Karina.
"Salah
satu dari 《Lima Pahlawan》,
dan 《Titisan Holy Lily》.
Kami pun tidak punya pilihan selain waspada terhadap muridmu yang sampai
dinilai setinggi itu. Kenyataannya, kerugian pada pasukan militer kami sudah
sangat besar. Theo-kun, tahukah kamu sudah berapa banyak chimera yang
dihancurkan olehnya?"
Entah apa yang lucu, pria berkacamata
sebelah itu tiba-tiba terkekeh pelan.
"Seratus ribu, lho, seratus ribu.
Dialah monster yang sebenarnya. Sosok seperti itulah yang dinamakan makhluk
yang dipilih oleh Tuhan."
"…………"
"Tapi,
sayang sekali. Kedatanganku hari ini bukan untuk mengorek informasi tentangnya.
──Hei, bawa dia keluar."
"Hah?"
Nada suara pria berkacamata sebelah itu
mendadak berubah drastis, dan prajurit yang berjaga di sampingnya langsung
memaksa Theo untuk berdiri lalu menyeretnya keluar dari sel tahanan.
"……He-hei. Apa…… maksudnya
ini!"
"Ada dua informasi yang kuinginkan
dari Theo-kun. Pertama, sudah pasti informasi tentang Karina Rudbeckia. Kedua,
informasi rahasia mengenai teori sihir yang kamu ciptakan. Yah, sejak awal aku
memang tidak berharap banyak pada poin kedua. Hanya saja, sekarang poin pertama
pun sudah tidak diperlukan lagi."
"Apa
yang kamu bicara──"
──kan.
Theo hendak melontarkan kalimat itu,
tetapi dia tidak mampu merangkai kata-katanya sampai akhir.
Karena
saat dia diseret oleh para prajurit, dibawa keluar dari sel tahanan dan
melangkah keluar dari gedung──dia baru menyadari bahwa ada kerumunan orang
dalam jumlah besar yang mengepung tempat itu dan berteriak dengan penuh
histeria.
UOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!
Sorak-sorai yang teramat gemuruh hingga
membuat tanah berguncang.
Tidak, itu adalah suara kebencian yang
mendalam.
Tempat Theo ditawan adalah sel tahanan di
dalam kastel yang terletak di sekitar perbatasan antara negaranya sendiri dan
Leiwelt. Dia diseret hingga ke balkon kastel tersebut, lalu dipaksa berdiri
tegak.
Dari balkon, terlihat pemandangan
alun-alun besar.
Pasukan militer Leiwelt tampak memenuhi
tempat itu hingga nyaris tidak ada celah.
Meski tidak dapat menangkap setiap
perkataan mereka satu per satu, tetapi Theo dapat membaca luapan rasa dendam
yang teramat sangat dari ekspresi wajah mereka yang mengerikan.
Bom suara yang teramat masif itu seketika
membuat Theo mual dan hampir muntah.
Namun, dia tidak boleh memperlihatkan
sosok yang mengenaskan di
hadapan musuh.
"──Hadirin
sekalian!"
Seolah membelah gelombang tsunami suara
tersebut, pria berkacamata sebelah itu meninggikan suaranya.
Dia pasti sedang menggunakan suatu sihir.
Sebab meskipun suara kebencian
diteriakkan secara bersahut-sahutan dengan volume yang menggelegar, suara pria
berkacamata sebelah itu tetap terdengar dengan jelas lantang.
"Bahkan
sebelum perang ini dimulai, kita semua telah lama menderita akibat perbuatan
mereka! Khususnya, kalian pasti masih ingat betul tentang 《Lima
Iblis》 yang dipimpin oleh Karina Rudbeckia!
Merekalah yang telah menghancurkan kota
kita, melepaskan chimera, dan menyulut peperangan! Begitu kita berhasil
menguasai teknik untuk menjinakkan chimera berkat kerja keras kita yang tiada
henti, kali ini mereka malah membakar habis warga sipil di berbagai kota!"
Apa
yang──sedang dia bicarakan?
Theo tidak dapat memahami perkataan pria
berkacamata sebelah itu, dan hanya bisa meluapkan suaranya di dalam batin.
Bukankah yang melepaskan chimera dan yang
menyulut peperangan itu adalah kalian semua?
Lalu, kenapa sekarang malah seolah-olah
Theo dan yang lainnya yang memulai semua ini?
"-!"
Theo berusaha meninggikan suaranya untuk
membantah, tetapi dia hanya bisa menganga tanpa ada suara sedikit pun yang
keluar.
Seakan sudah bisa menebak hal itu, pria
berkacamata sebelah itu melirik
ke bawah ke arahnya.
Pria itu mengedipkan sebelah matanya
secara kilat, lalu menggerakkan bibir. Memang tidak terdengar sebagai suara,
tetapi hanya dengan membaca gerakan bibir itu, Theo tahu persis apa yang
dikatakannya.
──Diamlah.
Keparat
ini──keparat ini!!!
Pria itu pasti menggunakan sihir untuk
merebut suara Theo. Berapa kali pun dia mencoba mengeluarkan suara, jeritannya
bahkan tidak sampai ke telinganya sendiri. Secara fisik kedua lengan dan
kakinya dibelenggu oleh logam, dan sihirnya pun telah disegel. Tidak ada satu
hal pun yang bisa dilakukannya untuk melawannya.
Di saat Theo sedang berjuang mati-matian
untuk memberontak, pria berkacamata sebelah itu terus melanjutkan pidatonya.
"Tapi, sekarang kalian boleh tenang!
Benih kecemasan telah disingkirkan!"
"Sebab,
satu-satunya yang tersisa dari 《Lima Iblis》──Karina
Rudbeckia, telah berhasil kita tumpas! Hadirin sekalian, kita sudah melangkah
sangat dekat menuju kemenangan!"
"──────"
Suara itu tidak mau keluar.
Namun, dia ingin meneriakkan bantahan
dengan seluruh sisa tenaga yang dimilikinya.
Mana
mungkin Karina tewas. Gadis yang bahkan dijuluki sebagai 《Titisan
Holy Lily》 itu tidak mungkin mati semudah itu──
Akan tetapi.
Pria berkacamata sebelah itu dengan
mudahnya menghancurkan secercah harapan yang berusaha dikumpulkan Theo di dalam
dadanya, setelah dia mengeluarkan sebuah benda entah dari mana dan
mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Meski
begitu, mungkin ada di antara kalian yang tidak bisa percaya begitu saja bahwa 《Iblis
Terburuk》 Karina Rudbeckia telah dikalahkan. Mengingat
iblis itu memang sebuah ancaman yang teramat besar. Oleh karena itu, khusus
untuk hadirin sekalian, akan kuperlihatkan buktinya."
"──Ini
adalah kepala Karina Rudbeckia."
"────────"
Sudah berapa kali dirinya dibuat
terperangah dalam waktu yang bahkan tidak sampai sepuluh menit ini?
Kepala yang diangkat tinggi-tinggi oleh
pria berkacamata sebelah itu adalah kepala milik seorang gadis yang tampak
polos.
Rambut emas yang semula membanggakan
kilau indahnya kini tampak kusam akibat kotoran. Pada wajah yang bagaikan karya
seni itu terukir beberapa luka, mungkin akibat berlari menembus berbagai medan
perang.
Namun, tidak salah lagi.
Itu benar-benar kepala Karina, muridnya.
"UOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!"
Sekali lagi sorak-sorai histeris meledak,
dan bom suara langsung menghantam gendang telinga.
Atmosfer bergetar, tubuhnya ikut
terguncang, dan Theo seketika muntah di tempat.
Karena tidak ada makanan yang masuk ke
perutnya, hanya cairan asam lambung saja yang keluar, tetapi dia terus-menerus
mual dan muntah tanpa henti.
Dia ingin menganggap ini semua sebagai
mimpi. Sebuah mimpi buruk yang teramat pekat.
Namun,
hal ini. Hantaman suara yang terus-menerus memukuli tubuhnya ini, terus
menyampaikan bahwa semua ini adalah kenyataan──
"Ngomong-ngomong, ada satu hal yang
ingin kusampaikan kepadamu."
Dan di sana.
Di tengah sorak-sorai histeris yang terus
menggema di alun-alun, pria berkacamata sebelah itu berbisik lirih tepat di
telinga Theo.
Apakah pria ini sedang menggunakan sihir
lagi?
Walau berupa bisikan pelan, suara pria
itu terdengar dengan sangat jelas yang aneh.
"Menurutmu,
bagaimana cara kami bisa membunuh Karina Rudbeckia? Gadis yang bahkan
disebut-sebut sebagai 《Titisan Holy Lily》
itu."
"Kamu pasti tidak tahu, kan?
Bukankah kamu juga merasa heran? Tapi, kenyataannya adalah sebuah cerita yang
luar biasa konyol."
"Karina Rudbeckia itu, entah
bagaimana, meski berada di medan perang, dia selalu berusaha sebisa mungkin
untuk tidak membunuh manusia. Yah, walaupun begitu, dia tetap bisa mengatasinya
berkat kekuatannya…… tapi terhadap orang yang terlalu naif seperti itu, selalu
ada cara yang bisa dilakukan."
"Kami hanya perlu mengikatkan bom
sihir pada prajurit dari negaramu sendiri, lalu mengirimkannya kembali.
Tampaknya, bahkan Sang Holy Lily sekalipun tidak sanggup mengatasinya jika hal
itu dilakukan kepada beberapa orang secara bersamaan. Akhir ceritanya
benar-benar sangat konyol."
"Bukankah
akhir hayat dari gadis yang bahkan disebut sebagai 《Mahakarya
Umat Manusia》 itu terasa sangat tragis? Sungguh malang sekali.
Ah, bukan, maksudku bukan akhir hayat gadis itu."
"──Melainkan
fakta bahwa dia tidak diberkahi oleh seorang guru yang baik. Dia pasti diajar
oleh seorang guru yang bodoh dan terlalu naif. Ah, sungguh malang sekali. Jika
gurunya waras, dia pasti──tidak, kelima pahlawan itu pasti semuanya masih hidup
sekarang."
"Kamu pasti sudah paham, kan? Alasan
mereka semua tewas adalah karena salahmu. Theo Proteus-kun."
"──,
──, ──────────!!!"
Raungan tanpa kata lolos dari
tenggorokannya.
Dia ingin membunuh pria di hadapannya
ini. Dia ingin menghancurkannya hingga lumat dan menginjak-injaknya. Dan yang
terpenting, tepat seperti perkataan pria berkacamata sebelah itu, dia ingin
membunuh dirinya sendiri yang telah menjadi penyebab kematian gadis-gadis itu.
Namun, pada kenyataannya dia tidak bisa
menggerakkan tubuhnya sedikit pun, bahkan tidak bisa meninggikan suaranya.
Melihat
sosok Theo yang seperti itu──
"Ahya,
ahyahyahya, hyahahahahahahahahahahahahahahahaha,
ahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha──!!!"
Entah apa yang lucu, pria berkacamata
sebelah itu tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya.
Menatap Theo yang sesaat lupa untuk
berteriak dan tertegun karena terperangah, pria berkacamata sebelah itu menyeka
air matanya dengan jari seolah merasa teramat terhibur.
"Ahya,
hihik…… ah, bukan, maaf ya. Tapi, momen seperti inilah yang membuatku
bersemangat untuk hidup. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa aku memilih
jalan peperangan ini demi bisa melihat banyak wajah seperti wajahmu saat ini.
Dan di saat momen yang kunanti-nanti itu akhirnya tiba, ternyata wajahmu
benar-benar melampaui ekspektasiku. Berapa kali pun aku melihatnya──ahya,
ahyahya, hihihihihihi!"
"Kamu…… sebenarnya kamu ini
siapa?!"
Apakah sihirnya sudah terlepas, suara
Theo akhirnya berhasil keluar.
Pria berkacamata sebelah itu mengenakan
pakaian yang sama sekali berbeda dari para prajurit di sekitarnya. Pada
awalnya, Theo mengira pria itu mengenakan pakaian mewah yang berbeda karena dia
adalah seorang bangsawan.
Namun, ada kemungkinan lain.
Yaitu, kemungkinan bahwa sejak awal dia
tergolong dalam organisasi yang sama sekali berbeda dari negara tetangga.
Pria berkacamata sebelah itu
menyunggingkan senyum di sebelah sudut bibirnya.
"Aku? Yah, karena kamu memang sudah
hampir mati. Maka khusus untukmu, akan kuberitahu."
"Tepat
seperti dugaanmu, aku bukan orang Leiwelt. Melainkan 《Gereja
Ortodoks》.
Kami adalah pencari Tuhan yang sejati, dengan menghalalkan segala cara──bahkan
dengan menyulut peperangan sekalipun."
Ah.
Sebuah sensasi yang menyerupai intuisi
langsung menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat Theo menjadi yakin.
Bajingan ini orangnya. Tidak ada
hubungannya dengan negaranya sendiri maupun Leiwelt. Yang melepaskan chimera,
yang membuat mereka menyerang Leiwelt, dan kali ini menyerang negara Theo
hingga menyulut peperangan adalah dia. Yang menciptakan pemicu hingga
murid-murid Theo tewas adalah dia. Yang menjebak orang-orang baik dari kedua
negara hingga berujung pada saling membenci adalah dia.
Bajingan
ini──bajingan inilah yang menjadi akar dari segala petaka!
Pria berkacamata sebelah itu kembali
menghadap ke arah alun-alun, lalu memanfaatkan sihir untuk mengeraskan suaranya
sekali lagi.
"Hadirin sekalian! Hari ini adalah
hari bersejarah atas ditumpasnya Karina Rudbeckia, tetapi hal yang patut
dirayakan bukan hanya itu saja! Akan kuperkenalkan kepada kalian, inilah
pendidik keji yang telah melahirkan lima iblis! Selama dia masih ada,
iblis-iblis baru akan terus bermunculan tanpa henti! Oleh karena itu, mari kita
akhiri semuanya di sini!"
"──Dialah
sang 《Raja Iblis》,
Theo Proteus!"
Bom suara masif yang entah sudah keberapa
kalinya kembali menghantam perawakan Theo.
Yang membedakannya dari yang tadi adalah,
kali ini seluruh kebencian itu ditujukan tepat ke arah Theo.
Gara-gara
dia. Karena dia ada. Matilah, rasakan balasannya, mati, mati mati mati mati
mati mati mati mati mati mati mati mati mati mati mati mati mati mati mati
mati──!
Setelah dihujani suara dendam dari
manusia yang tak terhitung jumlahnya, pada akhirnya sesuatu yang berharga di
dalam diri Theo pun hancur.
"Ha,
haha, hahaha, kah, haHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA──────────!!"
Semuanya terasa sangat konyol, hingga dia
meledak dalam tawa yang keras.
Jika orang tidak tahu alasannya, jika
orang tidak tahu apa-apa, sikap
Theo
saat ini benar-benar persis seperti sesosok 《Raja
Iblis》 yang keji.
"Ada pesan terakhir?"
"Akan kubunuh kalian."
Sambil menyeringai lebar, Theo
melontarkan kalimat itu.
"Akan
kubunuh kalian! Pasti akan kubunuh kalian! Hanya kamu yang mutlak tidak akan
pernah kumaafkan!! Hanya kamu yang telah membunuh murid-muridku!!! Walau harus
mati, walau harus menghalalkan segala cara, hanya kamu yang pasti
akan──!!"
"Ahya, hyahahahaha! Luar biasa, luar
biasa sekali! Theo Proteus! Aku sama sekali tidak berharap banyak, tapi ini
adalah pertunjukan yang terbaik!"
Pria berkacamata sebelah itu berteriak
menyahuti kalimat Theo sambil merentangkan kedua lengannya lebar-lebar.
"Sangat
cocok jika 《Raja Iblis》
yang keji tewas bukan oleh tangan kita, melainkan oleh karya buatan mereka
sendiri! Benar begitu, kan?!"
Tepat
pada saat pria itu berteriak, Theo menyadari bahwa di belakangnya telah berdiri
sesosok 《Monster》.
Seekor chimera yang sempat berkeliaran di
medan perang. Makhluk itu, yang kini disebut-sebut sebagai ciptaan dari negara
Theo, muncul di alun-alun untuk membunuh Theo.
Panjang total monster itu sekitar tiga
meter. Jauh lebih raksasa daripada chimera yang ada di medan perang.
Monster itu mengangkat lehernya, lalu
mendekatkan wajahnya untuk menatap ke bawah ke arah Theo.
Bersamaan dengan mulutnya yang terbuka,
sebuah napas hangat berembus menerpa Theo, dan taring-taring raksasa pun
langsung mendekat.
Tidak ada waktu untuk melawan.
Lebih cepat daripada kecepatan Theo untuk
mengerang, monster itu langsung menelannya.
Pada sekelumit instan itu, mungkin hanya
salah dengar saja, tetapi dia merasa seperti mendengar sebuah suara.
《……■■se■, ■■■te…………》
Kalimat itulah suara terakhir yang
didengar Theo di penghujung hidupnya.
Tepat setelah itu, Theo Proteus pun
tewas.
──Seharusnya
begitu.
"…………?"
Pada awalnya, Theo tidak dapat mengenali
informasi yang ditangkap oleh panca inderanya secara akurat.
Angin musim semi yang nyaman membelai
pipinya. Suara deris daun-daun pepohonan yang bergoyang akibat embusan angin
menggetarkan gendang telinganya, dan aroma manis bunga menggelitik hidungnya.
Dan, yang tertangkap oleh penglihatannya
adalah sebuah papan besar berwarna hijau tua kehitaman.
Terlambat beberapa detik, Theo baru
menyadari bahwa benda itu adalah sebuah papan tulis.
Dia
tampaknya baru saja selesai menuliskan namanya sendiri. Tulisan 『
Theo
Proteus』 terukir di sana, benar-benar dalam gaya tulisan
tangannya sendiri. Saat menurunkan pandangan, tangan pribadinya tampak sedang
menggenggam sebatang kapur putih yang ujungnya sudah sedikit mengikis.
"Sensei, apakah ada masalah?"
Sebuah suara yang sangat akrab terdengar
dari arah belakang.
Theo menoleh secara refleks, dan seketika
itu juga dia langsung kehilangan kata-kata.
Tentu
saja, salah satu alasannya adalah karena apa yang tertangkap oleh matanya
bukanlah medan perang, melainkan sebuah 『ruang
kelas』.
Namun, yang jauh lebih mengejutkan
daripada hal itu adalah,
"……Karina?"
Gadis
bagaikan 《Holy Lily》
yang memancarkan perpaduan aura antara prajurit veteran dan penganut agama yang
taat.
Sosok gadis itulah yang kini sedang duduk
dengan manis di bagian tengah ruang kelas.
Wajah Karina terlihat beberapa tahun
lebih muda daripada yang ada di dalam ingatan Theo.
Benar-benar seperti terlahir kembali
menjadi muda.
Namun, bukan hanya dia seorang.
Di dalam ruang kelas tersebut, di samping
Karina, tampak empat orang murid perempuan lainnya juga sedang duduk di kursi
mereka.
Rambut merah yang menyala bagaikan api.
Dengan mata yang sedikit terangkat tajam serta posisi bersedekap seolah hendak
mendekap dadanya yang besar, penampilannya entah mengapa memberikan kesan agak
angkuh. Dia adalah putri dari empat keluarga bangsawan agung
Lumiere──Isabella
Lumiere.
Rambut
poni berwarna seputih es yang dibiarkan memanjang hingga menyembunyikan
wajahnya. Gadis itu tampak sedang mencuri-curi pandang ke arah sini dengan
sikap gelisah. Memiliki fitur wajah yang teramat cantik bagaikan sebuah boneka,
serta sepasang tanduk yang tumbuh di atas kepalanya──Xue Amaryllis.
Rambut berwarna merah muda yang ditata
dalam gaya konde dua di atas kepala. Seragam sekolahnya dihiasi dengan banyak
sekali renda, menampilkan gaya busana yang manis dan anggun. Di sisi lain, dia
tampak sedang menatap ke luar jendela kelas dengan sikap tidak acuh.
Dia
adalah Putri Ketujuh dari kerajaan ini──Momo Sanctia.
Rambut
putih keemasan yang seolah telah menyerap pancaran sinar matahari. Sambil
menyunggingkan senyum lebar yang konyol dengan air liur yang menetes dari sudut
bibirnya, gadis yang tampak teramat polos itu sedang tertidur lelap sambil
menelungkupkan tubuhnya di atas meja──Iris.
Dan
yang terakhir, gadis dengan rambut emas berkilau yang memiliki kecantikan
bagaikan patung dewi. Seorang gadis berbakat yang memadukan kecantikan dan
kecerdasan, serta memiliki kekuatan sekaligus sisi spiritual layaknya seorang
Holy Lily──Karina Rudbeckia.
Kelima murid Theo yang seharusnya telah
tewas kini semuanya berkumpul di dalam ruang kelas.
Di saat yang bersamaan, sebuah kilatan
ingatan, atau mungkin sesuatu yang menyerupai keyakinan, mendadak melintas di
dalam benaknya.
Yaitu, fakta bahwa dia pernah melihat
pemandangan ini sebelumnya.
Namun, hal seperti itu seharusnya tidak
mungkin terjadi.
Sebab, ini adalah hari pertama di saat
Theo baru menerima tugas untuk mengampu kelas mereka.
Ini adalah pemandangan pada hari upacara
pembukaan sekolah, waktu di saat dirinya telah melompat mundur kembali ke masa
empat tahun yang lalu.
Prolog | ToC | Next Chapter



Post a Comment