NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nee Shinyuu. Kyou mo Kisu, Shiyokka? V1 Chapter 2

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 2

Sahabat Ingin Berciuman

Aku sedang bermimpi. Sebuah mimpi dari masa lalu yang teramat lampau, namun terasa begitu jelas dan nyata.


『Ren-kun, Ren-kun! Ceritakan sesuatu lagi hari ini!』


Di atas sebuah kasur yang dikelilingi oleh banyak sekali boneka binatang, Sagiri kecil sedang duduk dengan sepasang mata yang berbinar-binar. Tubuhnya saat itu jauh lebih kurus dan kecil daripada sekarang, seorang anak perempuan yang rambut putihnya pun masih pendek.


『Iya, tentu saja! Sacchan, hari ini ya, aku pergi karyawisata bersama semuanya!』


Di samping kasur itu, sosok yang sedang duduk di kursi sambil bercerita adalah aku waktu kecil. Padahal itu adalah diriku sendiri, tetapi aku bisa melihatnya dengan sangat jelas seolah-olah jiwaku sedang terlepas dari raga. Mimpi terkadang bisa menjadi hal yang sangat praktis.


『Karyawisata?! Ke mana?!』


『Ke taman! Di sana ada sungai yang sangat besar, lalu ada banyak sekali burung, pokoknya hebat banget!』


『Wah, asyiknya~! Aku juga...... Uhuk! Uhuk-uhuk?!』


『Sacchan?!』


—Sagiri?!


Meskipun aku mengulurkan tangan, tanganku hanya menembus tubuh mereka.


Tentu saja, karena ini adalah sebuah mimpi, aku tidak bisa mengintervensinya. Aku hanya bisa menonton rekaman masa lalu. Mimpi terkadang bisa menjadi hal yang sangat kejam dan tidak praktis.


『Tu-tunggu sebentar! Aku akan segera memanggil Ayah dan Ibu Sacchan—』


『Uhuk-uhuk...... J-jangan pergi......』


『Eh, tapi......!』


『Aku mohon......』


Sembari terbatuk-batuk, Sagiri kecil mencengkeram tangan diriku masa kecil yang hendak bangkit berdiri dengan panik. Diriku yang masih kecil saat itu hanya bisa memandang tangan tersebut dan pintu kamar secara bergantian, lalu terdiam kaku tak bisa bergerak.


『Aku tidak mau sendirian lagi......』


『Sacchan......』


『Aku juga...... ingin pergi ke luar ruangan bersama semuanya......!』


Ah, aku mengingatnya. Air mata pada saat itu, tidak akan pernah bisa kulupakan.


『Ayah, Ibu, dokter...... semuanya bilang tidak boleh karena fisikku lemah...... Kenapa tidak boleh...... Aku tidak tahu, aku tidak paham......』


『A-aku 'kan ada di sini!!』


Sebab, hari itu adalah hari di saat aku mengucapkan sumpahku.


『......Ren-kun?』


『Aku akan selalu bersamamu selamanya! Kalau Sacchan lemah, aku yang akan menjadi kuat! Aku akan selalu bersamamu selamanya!!』


『......Benarkah?』


『Iya!』


Sagiri yang tadinya menangis perlahan-lahan mulai mengulas senyuman.


『Benar-benar janji?』


『Iya, janji!』


『Pergi ke luar ruangan...... dan pergi ke taman juga...... bersamaku?』


『Iya! Habisnya aku ingin bermain bersama Sacchan!』


Hal itu membuatku merasa sangat senang.


『Hei Sacchan, apa kamu tahu tentang ini?』


『......Tentang apa?』


『Teman yang selalu akrab selamanya...... katanya disebut sebagai 'sahabat'!!』


『Sahabat......』


Kesadaranku mulai kabur.


『Hei, Ren-kun......』


『Ada apa, Sacchan?』


Ah, sial.


『Kita akan selalu bersama, 'kan?』


Padahal bagian terbaiknya baru akan dimulai setelah ini—.



"Nnn......?"


Pikiran yang tadinya kabur perlahan-lahan mulai terkumpul kembali.


Aku benci waktu pagi. Aku yang tidak kuat menghadapi pagi hari selalu kesulitan untuk bangun tidur. Oleh karena itu, aku selalu memasang alarm lebih awal daripada jam bangun yang seharusnya...... 


Eh, sekarang jam berapa?


"Ah, kamu sudah bangun?"


Rambut putih yang panjang terlihat di mataku. Seseorang yang cantik, yang sudah bersamaku sejak dulu—.


"......Sacchan?"


"............Eh?"


Dia adalah Sagiri. Teman masa kecilku, sekaligus gadis tercantik nomor satu di sekolah.


"......Ih. Kamu masih mengantuk, ya?"


Benar, dia adalah sahabatku...... 


Eh, tunggu, kenapa dia bisa ada di kamarku......?


"......Mau bagaimana lagi ya, dasar Sahabat."


Ah, ternyata aku masih bermimpi—.


"Mmph."


"Mmph?!"


—Bukan, ini adalah sentuhan lembut yang nyata di bibirku.


"Sa-sa-sa-sa-Sagiri?!"


"Renji, selamat pagi. Wajahmu saat tidur tadi manis sekali, lho?"


Di ujung pandangan mataku yang baru saja terbangun di atas kasur, Sagiri yang sudah mengenakan seragam sekolah tampak sedang tersenyum.


"Ke-kenapa kamu bisa ada di sini?!"


"Sekali-sekali tidak apa-apa, 'kan? Kita 'kan teman masa kecil, lagipula—"


"Hei, kamu—"


Bukan lagi seorang anak kecil, melainkan Sagiri yang sekarang, yang sudah tumbuh dengan sehat dan bertenaga.


"—Mmph."


"—Mmph."


Dia kembali menciumku sekali lagi.


"......Karena kita adalah sahabat, 'kan?"


"......A-ah."


Berbeda dari masa lalu, ini adalah sebuah pagi yang terlalu penuh rangsangan, yang diberikan oleh sahabatku yang kini telah menjadi sangat aktif. 



Kami melangkah di jalan menuju sekolah sembari menikmati udara pagi yang terasa begitu jernih. Mungkin karena hari masih terlalu pagi, jalanan yang melewati kawasan pemukiman warga ini pun hampir tidak dilewati oleh siapa pun.


Saat berjalan di luar dan bermandikan pancaran sinar matahari pagi yang lembut, rasa kantukku telah sepenuhnya sirna. ......Ralat, lebih tepatnya saat Sagiri menciumku untuk yang kedua kalinya tadi, mau tidak mau aku pasti langsung terbangun sepenuhnya.


Yah, bukannya aku merasa keberatan, sih......


"......Kali ini apa lagi yang sedang kamu rencanakan?"


"Eh?"


Aku bertanya kepada teman masa kecilku yang sedang berjalan dengan langkah ringan sedikit di depanku. Mendengar hal itu, gadis tercantik nomor 1 di sekolah yang rambut putih panjangnya tampak berkilau keemasan diterpa cahaya matahari pagi itu pun menoleh ke belakang sambil mengeluarkan suara yang aneh.


Kecantikannya yang begitu memesona saat menoleh itu benar-benar sangat indah bagaikan sebuah lukisan, sampai-sampai rasanya sah-sah saja jika kata 'gadis cantik yang menoleh' di dalam kamus ditambahkan entri nama 'Yakumo Sagiri' sebagai contoh kalimatnya.


"Biasanya kamu selalu berangkat ke sekolah lebih siang dariku, tapi hari ini kamu sengaja datang sepagi ini hanya untuk membangunkan mimpiku, pasti ada udang di balik batu, 'kan?"


"Hmm~"


Sagiri menghentikan langkahnya. Dia melipat kedua tangan di depan dada dan berpura-pura tampak sedang berpikir keras sebelum akhirnya berkata,


"Kejutan?"


"Sini, cepat bicara yang jujur."


"Aduh-duh-duh-duh, sakit tahu?! Aku menolak kekerasan! Menolak kekerasan!!"


Karena dia mencoba menjulurkan lidahnya untuk mengelabui pertanyaanku, aku langsung mencengkeram kepalanya dengan lembut.


Rambut putihnya yang indah dan diterpa oleh cahaya matahari pagi itu, hari ini pun terasa sangat halus dan lembut seperti penampilannya.


"A-aku akan bicara, jadi lepaskan! Aku akan bicara! Aku baru mau bicara setelah dilepaskan! Le-lepaskan aku~!!"


"Astaga. Seharusnya kamu bersikap begitu sejak awal, 'kan?"


"......Renji, bukankah sejak kemarin kamu bersikap terlalu kejam kepadaku?"


"......Kalau kamu melakukan hal-hal aneh lagi lalu berakhir pingsan seperti kemarin bagaimana? Aku bersikap begini karena mencemaskanmu, tahu?"


"......Grrr"


Sembari memegangi kepalanya yang terasa sakit dengan kedua tangan, dia melayangkan pandangan protes kepadaku. Aku melangkah meleewati sisi gadis yang menyenangkan ini, namun dia segera berlari menyusul dan menyamakan langkah kakinya di sampingku. Meskipun dia melakukannya sambil menggertakkan gigi karena merasa kesal.


Ada ungkapan yang mengatakan 'dia akan menjadi gadis cantik asalkan tetap diam', namun menurutku Sagiri benar-benar curang karena meskipun dia tidak diam pun dia tetap terlihat cantik, dan hal itu justru menciptakan sebuah pesona kontras yang unik karena dia juga memiliki selera humor yang lucu dan menarik.


Yah, aku memang mengetahui semua sisi dari dirinya, namun aku juga berpikir bahwa sangat wajar jika orang-orang yang tidak mengetahui hal itu akan langsung jatuh cinta kepadanya.


Ya. Sagiri itu memang sangat populer, sih......


"......Padahal kamu sendiri sudah melihat dadaku."


"......Hah? Apa-apaan, ka-kamu, hei?!"


Di tengah jalan pagi yang melewati kawasan pemukiman yang sunyi ini, sebuah bom yang luar biasa dahsyat mendadak dijatuhkan.


Sebuah taktik pengalihan untuk mengubah topik pembicaraan secara paksa, yang terasa sama sekali tidak alami dengan alur obrolan kami yang tadi. Namun, jika ada orang lain yang sampai mendengar kalimat itu, hal tersebut bisa menjadi kartu as yang akan membunuh karakterku secara sosial. Terlebih lagi, wajah Sagiri sendiri saat ini juga sudah memerah padam karena merasa malu.


Itu adalah sebuah serangan nekat yang merugikan kedua belah pihak.


"Bukan, waktu itu kejadiannya tidak seperti yang kamu pikirkan......"


"Apanya yang bukan? Padahal kita ini 'kan sahabat......"


"I-itu, bukan begitu......"


Sagiri tampak langsung murung lesu.


Sosoknya saat ini mendadak tumpang tindih dengan sosok Sagiri yang ada di dalam mimpiku tadi. Lagipula, kalau statusnya adalah seorang sahabat, memangnya aku diperbolehkan untuk melihatnya......?


"Kalau begitu, ini ya?"


"Eh?"


Karena aku sedang memikirkan hal-hal yang tidak senonoh seperti itu, aku jadi tidak menyadari bahwa Sagiri baru saja memanggilku dengan sebutan sahabat.


"—Mmph!"


"—Mmph?!"


Dasiku ditarik, dan dia langsung menciumku begitu saja.


Sebuah ciuman terbuka yang diselimuti oleh segarnya hawa pagi, membuat detak jantungku berdegup dengan kencang tak keruan.


"Ka-ka-ka-kamu ini, kita sedang berada di luar ruangan, tahu! Bagaimana kalau sampai ada orang lain yang melihat kita?!"


"......Tidak apa-apa, kok. Aku sudah memastikan situasi di sekitar kita dengan baik sebelum melakukannya."


"Tetap saja tidak boleh!"


"La-gi-an,"


"Mmph?!"


Kali ini, yang mendarat bukanlah sebuah ciuman.


Jari telunjuk Sagiri tampak ditempelkan tepat di atas bibirku.

Tindakan ini sendiri sebenarnya sudah pernah dilakukannya pada minggu lalu, jadi mungkin ini masih jauh lebih baik daripada sebuah ciuman. Namun, saat ini kami sedang berada di luar ruangan, dan tempat ini adalah jalanan umum menuju sekolah yang berada di tengah pemukiman warga.


"Kita adalah sahabat, 'kan?"


"............Ugh."


Teman masa kecilku ini mungkin memang sama sekali tidak menyadari seberapa besar pesona dirinya yang selalu berhasil menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Namun, begitu dia mengeluarkan kalimat 'karena kita adalah sahabat, 'kan?', aku benar-benar tidak bisa membalas perkataannya lagi.


Kata 'sahabat' telah menjadi sebuah paspor pengecualian bagi tindakannya, sekaligus telah bertransformasi menjadi titik kelemahanku yang paling telak.


"Ayo, ayo, tidak enak kalau kita sampai membuat mereka menunggu lama, jadi mari kita cepat pergi!"


"He-hei, jangan tiba-tiba berlari begitu!"


Membuat mereka menunggu? Menunggu siapa?


Meskipun pertanyaan itu sempat tebersit di dalam benakku, saat ini aku tidak bisa berkonsentrasi untuk memikirkannya.


Hari ini aku sudah dicium olehnya sebanyak 3 kali. 2 kali saat baru bangun tidur di pagi hari, dan 1 kali yang baru saja terjadi ini. Aku merasa frekuensi ciuman yang diberikan oleh Sagiri semakin hari rasanya semakin bertambah saja. Jika polanya terus seperti ini, kira-kira apa yang akan terjadi pada sisa hari ini nanti?


Sembari kepalaku dipenuhi oleh khayalan-khayalan seperti itu, Sagiri terus menarik tanganku dan membawaku berlari bersamanya.



......Apakah hari ini pun aku akan kembali dicium oleh Sagiri di sekolah?


Rasa cemas yang turut menyimpan sedikit bumbu harapan itu seketika langsung sirna begitu saja pada saat aku melangkah masuk ke dalam ruang kelas.


"Bwahahaha! Aku, sudah bangkiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit kembali!!"


"Yuzuru! Yuzuru! Yuzuru! Yuzuru! Yuzuru! Yuzuru-chaaan!!"


"......Tolong beri tahu aku, Sagiri. Bagian mana dulu yang harus mulai kukomentari?"


"Hmm, semuanya?"


Penyebabnya adalah karena ruang kelas yang sejatinya hanya diisi oleh 4 orang termasuk aku dan Sagiri itu saat ini suasananya benar-benar sangat bising tak keruan.


Saat itu jam masih menunjukkan pukul setengah 8 pagi, waktu di mana orang-orang yang berada di sekolah kemungkinan besar hanyalah para anggota klub olahraga yang sedang melakukan latihan pagi.


Aku dan Sagiri membuka pintu ruang kelas kami, yaitu kelas 2-B. Dan pemandangan di dalam kelas langsung disambut oleh atmosfer heboh layaknya sebuah festival budaya.


"Oh, Akahori dan Yakumo-chan! Akhirnya kalian datang juga! Lihat ini! Ini adalah perayaan atas bangkitnya kembali Yuzuru-chan!"


Biang keladi dari kehebohan layaknya festival ini sebenarnya hanya bersumber dari 2 orang saja.


Sosok yang pertama kali paling mencuri perhatian sudah pasti adalah Hasegawa, si pria berbadan bongsor yang tinggi besarnya dapat langsung dikenali dalam sekali lihat. Hasegawa sedang berdiri di depan meja guru, berdendang dan menari dengan penuh antusiasme yang luar biasa seolah-olah tuhan yang disembahnya baru saja turun langsung ke dunia.


Biar kuperjelas sekali lagi, dia melakukannya di dalam ruang kelas.


"Yo, yo, yo, yo! Sagirin dan Renji! Sudah lama tidak bertemu, ya!"


Dan tepat di atas meja guru di kelas tersebut, ada seorang gadis yang sedang berdiri. Gadis itulah yang menjadi seluruh akar permasalahan sekaligus dalang utama yang telah membuat perilaku Hasegawa menjadi tidak waras seperti saat ini.


Dengan patuh dia tetap melepas sepatu ruangan (uwabaki) miliknya, dan kedua kaki jenjangnya yang menjulur dari balik rok tampak dibalut oleh stocking hitam. Menurut pengakuan dari dirinya sendiri, hal itu dilakukannya agar kakinya bisa terlihat menjadi lebih panjang. 


Apakah usaha itu membuahkan hasil? 


Saat ini posisinya bahkan terlihat jauh lebih tinggi hingga bisa memandang rendah Hasegawa, si pria bongsor yang ada di sampingnya...... namun jika dibalik, jika dia tidak berdiri di atas meja guru seperti itu, dia sebenarnya adalah seorang gadis yang perawakannya paling mungil di antara kami semua.


Rambutnya yang sewarna cokelat muda terang memiliki potongan sepanjang bahu yang bergelombang lembut dan mengembang, mengingatkan pada sosok seekor binatang kecil yang lucu. Sepasang mata bulatnya yang berwarna biru tampak memancarkan rasa percaya diri yang meluap-luap, dan ekspresi wajahnya itu semakin mempertegas kesan kekanak-kanakan yang ada pada dirinya dengan sangat jelas.


"Ketua Klub Penelitian Jati Diri! Kido Yuzuru! Hari ini resmi bangkiiiiit kembali di sini!!"


——Kido Yuzuru.


Ketua yang bertubuh teramat mungil dari Klub Penelitian Jati Diri—atau yang biasa kami sebut Jibuken—tempat di mana aku, Sagiri, dan Hasegawa bernaung, saat ini sedang berdiri gagah dengan berkacak pinggang di atas meja guru di pagi buta.


"Bagus, bagus, bagus! Karena semuanya sudah berkumpul, mari kita lakukan presensi Jibuken setelah sekian lama! Ayo mulai!"


"Oooooh!!"


"Yaaay!"


"O-oh......"


Energinya benar-benar luar biasa tinggi, sampai-sampai tidak akan ada yang mengira kalau dia baru saja absen dari sekolah selama 1 minggu karena terserang flu musim panas. Dan seolah hanyut ke dalam luapan energi yang tinggi itu, urutan sahutan pun dilanjutkan oleh si pria bongsor yang histeris, disusul oleh gadis tercantik di sekolah yang tampak bersemangat, lalu terakhir adalah aku yang kebingungan.


......Kalau dipikir-pikir kembali, suasananya memang selalu seperti ini. Mengingat hal itu membuatku sadar bahwa meskipun aku sempat sepenuhnya lupa akibat rentetan ciuman dari Sagiri, lingkungan di sekitarku sebenarnya memang selalu ramai dan bising.


Seolah ingin memimpin Klub Penelitian Jati Diri yang akhirnya kembali berkumpul dalam formasi lengkap ini, Yuzuru yang bertubuh mungil langsung menunjuk ke arah Hasegawa yang berada di sampingnya.


"Anggota nomor 1! Pria yang nama dan penampilannya terlihat sangat kuat, namun sebenarnya berhati murni dan gampang tergoda perempuan! Hasegawa Gou, Gou! Dia adalah Wakil Ketua yang sangat, sangat bisa diandalkan!"


"Ooooooh! Yuzuru-chaaan! Aku benar-benar sangat merindukan momen iniiiiii!!"


Mendengar dirinya digembor-gemborkan sebagai sosok yang bisa diandalkan, si pria bongsor, Hasegawa, langsung meneteskan air mata haru yang luar biasa.


"Anggota nomor 2! Gadis yang secantik dewi namun aslinya memiliki kepribadian yang luar biasa ceroboh dan sembrono! Yakumo Sagiri, Sagirin! Dia sangat, sangat manis sekali!"


"Wah! Yuzurun, sudah lama tidak bertemu! Tapi Yuzurun jauh lebih manis, kok!"


Dipuji manis oleh sang ketua yang bertubuh mungil dan menggemaskan, Sagiri yang merupakan gadis tercantik nomor satu di sekolah pun langsung melambaikan tangannya sembari mengulas senyuman lebar.


"Anggota nomor 3! Pria yang sekilas terlihat paling jantan dan berprinsip kokoh, namun aslinya hanyalah seorang pria kaku, serius, dan tidak tahu cara mengekspresikan diri! Akahori Renji, Renji! Jika diajak mengobrol, dia sebenarnya memiliki sisi ceroboh yang tak terduga!"


"Melihatmu seaktif ini, tampaknya kondisimu sudah tidak perlu dicemaskan lagi, ya."


Entah mengapa, aku merasa hanya giliranku saja yang bagian akhirnya tidak terdengar seperti sebuah pujian.


"Dan kemudian, Anggota nomor 0! Mungil dan menggemaskan? Oh, tentu bukan! Bermimpilah yang besar! Berjiwa lapanglah yang besar! Benar, jadilah dirimu sendiri! Ketua Klub Penelitian Jati Diri! Kido Yuzuru...... adalah diriku sendiriiiiiii!!"


Sesi pengenalan anggota yang meriah itu pun mencapai puncaknya, dan sang ketua mungil dari Klub Penelitian Jati Diri, Yuzuru, berseru dengan lantang dari atas meja guru.


Pekikannya terdengar begitu menggelora, seolah-olah menjadi genderang perang yang menandai momen kebangkitannya.


"Nah, nah, nah! Karena ini adalah hari pertama Jibuken berkumpul kembali setelah sekian lama, aku akan menyampaikan agenda aktivitas pertama kita!"


"Oh! Langsung ada aktivitas...... Memang Yuzuru-chan yang terbaik!"


"Yuzurun benar-benar penuh energi sejak pagi, ya! Melihat Yuzurun membuatku ikut menjadi bersemangat juga!"


"......Aku tidak keberatan, sih, tapi sebentar lagi murid-murid yang lain sudah mulai berdatangan ke kelas, lho?"


Kami bertiga, termasuk aku, menunggu instruksi selanjutnya dari sang ketua.


Terlepas dari sikap 2 orang lainnya, alasan mengapa aku mau mendengarkannya dengan patuh adalah karena gadis ini memiliki sifat yang jauh lebih keras kepala dan egosentris daripada Sagiri.


"Fufufu...... Tenang saja! Ini akan selesai dalam sekejap!"


Menampilkan sifat egosentrisnya secara penuh tanpa beban, ketua kami yang agung, Yuzuru, perlahan-lahan mulai mengubah posisinya yang tadinya berdiri tegak menjadi berlutut dan bertumpu pada kedua tangan dan kakinya di atas meja guru——


"......Si-siapa pun...... tolong turunkan aku~?!"


——Lalu dia mulai gemetaran tak berdaya, persis seperti anak kucing yang terjebak di atas pohon dan tidak bisa turun.


Yuzuru, yang dalam segala hal selalu mendahulukan antusiasme tanpa pernah memikirkan akibatnya terlebih dahulu, memang merupakan sosok yang paling payah dan tidak bisa diandalkan di dalam klub ini.



Ketua Klub Penelitian Jati Jiri kami yang agung, Yuzuru, telah bangkit kembali dengan cara yang terasa gagah sekaligus mengenaskan secara bersamaan.


Kehidupan sekolah yang akhirnya berhasil mendapatkan kembali atmosfer bisingnya setelah sekitar tiga minggu lamanya jika dihitung sejak masa ujian, kini terasa semakin bertambah intens karena ditambah dengan fakta bahwa liburan musim panas sudah berada tepat di depan mata.


Hasilnya——hatiku pun bisa merasakan kedamaian.


Sebab, Sagiri dan Yuzuru adalah sesama perempuan yang hubungannya paling dekat dan akrab. Karena hubungan mereka yang sangat baik itu, mereka berdua sering menghabiskan waktu bersama di sekolah.


Dengan kata lain, di sela-sela waktu itulah aku akhirnya bisa merenungkan dengan tenang tentang apa sebenarnya arti dari seorang 'sahabat'.


Kedamaian kehidupan sekolah yang datang untuk sementara waktu itu pun berlalu dalam sekejap, hingga akhirnya bel pulang sekolah berbunyi dan tiba waktunya untuk kegiatan klub.


Klub Penelitian Jati Diri kami yang berharga akhirnya resmi kembali aktif setelah tiga minggu lamanya vakum.


"......A-aku sudah tidak mau belajar lagiiiiiiiiiiiiiiii!!"


"Yu-Yuzuru-chaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan?!"


"Semangat, Yuzurun! Berjuanglah, berjuang!"


"Sagiri benar. Berjuanglah, Yuzuru."


Namun, begitu klub kembali aktif, kami langsung dihadapkan pada krisis pembubaran.


Mengenai alasan mengapa Yuzuru kembali berteriak histeris sepulang sekolah setelah sebelumnya melakukan hal yang sama di atas meja guru tadi pagi, hal itu tentu saja berkaitan erat dengan garis waktu sejak tiga minggu yang lalu.


——3 minggu yang lalu.


Memasuki masa ujian akhir semester, seluruh kegiatan klub resmi dilarang.


——2 minggu yang lalu.


Pelaksanaan ujian akhir semester. Tentu saja selama periode ini kegiatan klub masih tetap dilarang.


——1 minggu yang lalu.


Akibat kelelahan setelah ujian, Yuzuru terserang flu musim panas dan akhirnya harus absen dari sekolah.


——Dan sekarang.


Hampir semua hasil lembar ujian yang dikembalikan kepada Yuzuru yang baru saja sembuh dari sakit itu ternyata mendapatkan nilai merah, membuat dirinya terkonfirmasi harus mengikuti kelas remedial.


"Yuzurun, tersenyumlah, tersenyum! Kalau kita belajar dengan cara yang menyenangkan, ujian sama sekali tidak menakutkan, kok!"


"Sa-Sagirin......"


Sagiri tampak sedang mengajari Yuzuru belajar. Sagiri, yang biasanya selalu menyelonong masuk ke rumahku sesuka hatinya untuk meminta diajari belajar olehku, sekarang justru sedang mengajari orang lain belajar......!


Melihat pemandangan itu entah mengapa membuat diriku merasa sangat terharu.


"Ma-maafkan aku, Yuzuru-chan! Kalau saja aku...... kalau saja aku punya kekuatan yang lebih besar lagi!!"


"Kekuatan akademik maksudmu, 'kan?"


Di sampingku, Hasegawa yang sedang memamerkan kebodohan otaknya yang murni otot itu tampak meratapi ketidakberdayaan dirinya sendiri.


"Akahori! Aku punya satu permintaan kepadamu! Pinjamkan aku kekuatanmu...... tolong ajari aku belajar!"


"......Aku tidak keberatan dengan hal itu, tapi bukankah sekarang prioritas utamanya adalah persiapan ujian remedial Yuzuru?"


"Bodoh! Krisis yang menimpa Yuzuru-chan adalah krisis bagi diriku juga! Aku yang akan maju menggantikannya untuk ikut ujian!!"


"Sudah pasti tidak boleh, 'kan."


Dengan situasi yang seperti ini, sesi belajar bersama yang mendadak ini pun dimulai, dan tanpa terasa 1 jam sudah hampir berlalu. Karena suasananya terlalu bising, aku agak sangsi apakah ini bisa disebut sebagai sesi belajar bersama atau tidak.


"Lagipula! Apa hubungannya antara belajar dengan jati diri, coba?!"


"Bukankah kemampuan akademikmu akan langsung tecermin pada hasilnya?"


"Renji! Aku tidak sedang meminta argumen yang masuk akal, tahu!!"


"Benar apa katanya, Akahori! Argumen yang masuk akal terkadang bisa melukai perasaan orang lain, jadi camkan itu baik-baik!!"


"......Kenapa malah aku yang dimarahi?"


"Sudah, sudah, Renji! Yuzurun 'kan juga baru masuk sekolah lagi setelah sekian lama...... ya?"


"Ugh......"


Sebuah kedipan mata dari gadis tercantik di sekolah.


Aku tidak tahu apakah dia sengaja melakukannya atau tidak, namun hal itu benar-benar telak mengenaku dan membuat jantungku berdebar kencang.


"Sa-Sagirin~!"


"Nah, anak pintar. Yuzurun 'kan anak yang bisa melakukannya kalau mau berusaha. Bagaimana kalau kita istirahat sebentar?"


"Mau! Aku sayang banget sama Sagirin!"


"Ka-kamu manis sekali, Yuzuru-chan......!"


Meskipun bising, hari-hari seperti ini terasa sangat ramai dan menyenangkan.


Inilah kehidupan sehari-hari di Klub Penelitian Jati Diri. Sesuai dengan namanya, tempat ini memang merupakan perkumpulan untuk meneliti apa arti dari jati diri, namun dengan kata lain, tempat ini juga menjadi wadah di mana kami bisa menjadi diri kami sendiri dengan apa adanya. Kontras antara penampilan dan kepribadian, idealisme dan realitas, serta penilaian maupun stigma dari orang lain. Ini adalah sebuah klub yang dibentuk untuk membebaskan diri dari belenggu-belenggu semacam itu.


Oleh karena itu, sang ketua yang menjadi representasi dari klub ini merupakan orang yang paling sering galau mengenai jati dirinya sendiri di antara kami semua, sehingga fluktuasi emosinya terasa sangat besar jika dibandingkan saat dia sedang bersemangat.


Sebagai catatan, sang wakil ketua adalah Hasegawa, si pria bongsor yang saat ini sedang kelabakan menahan rasa gemas akibat keimutan Yuzuru tersebut.


"Kalau begitu, sebagai hadiah atas kerja kerasmu, aku akan membelikan jus yang sangat manis untuk Yuzuru!"


"Horeee~!"


"A-aku bisa mati karena keimutannya......!"


Ah, rasanya sangat familier.


Benar, aku jadi teringat kembali bahwa masa muda yang normal itu seharusnya adalah yang seperti ini. Masa muda yang dipusingkan oleh teman masa kecil yang merupakan gadis tercantik nomor satu di sekolah itu tidak akan ada di mana pun——


"Kalau begitu, Sahabat. Mau pergi bersama?"


——Ternyata ada di sini.



Klub Penelitian Jati Diri kami yang berharga ini, untuk sementara waktu, merupakan sebuah klub resmi yang diakui oleh pihak sekolah.


Mengenai mengapa aku menyebutnya 'untuk sementara waktu', hal itu karena klub ini berada di zona abu-abu; setengah diakui secara resmi dan setengahnya lagi tidak diakui.


Pihak sekolah tidak akan meloloskan izin jika agenda aktivitasnya hanya sebatas hal yang samar-samar seperti meneliti, menjelajahi, dan mendalami jati diri, sehingga nama resmi dari klub ini sebenarnya adalah Klub Sukarelawan.


Sukarelawan. Dengan kata lain, aktivitas sosial merupakan kedok bagi agenda kegiatan kami di luar, sementara esensi utama dari klub ini yang sebenarnya adalah Klub Penelitian Jati Jiri.


Sebagai catatan, kami berempat sebagai anggota hampir tidak pernah menyebut klub ini dengan nama resminya sebagai Klub Sukarelawan. Kami hanya menggunakannya saat perlu menyamakan kata dengan pihak guru di sekolah saja.


Karena statusnya yang seperti kapal kayu reyot itu, ruang klub yang dialokasikan untuk kami pun seadanya, dan entah bagaimana kami malah diberikan sebuah tempat yang dulunya merupakan bekas gudang di sudut gedung sekolah. Letaknya berada di lantai 1, di ujung paling dalam, tepat di bagian paling pinggir dari gedung sekolah yang sejajar dengan ruang kelas khusus.


Di samping ruang klub kami yang berukuran mungil di ujung koridor itu terdapat ruang persiapan laboratorium sains, dan jika dikatakan secara terang-terangan, tidak akan ada seorang pun yang sudi datang ke tempat seperti ini setelah jam pulang sekolah.


Di koridor yang agak remang-remang dan hampir tidak dilewati oleh siapa pun inilah aku dan Sagiri sedang berjalan bersama. Karena tidak ada orang lain di sekitar kami, suara langkah kaki kami terdengar menggema dengan sangat jelas.


"Wah, dinginnya~!"


Kami tiba di samping pintu lobi sekolah setelah melewati koridor yang panjang. Di sana, kami membeli minuman di vending machine yang tersedia.


Sagiri yang tidak tahan dengan cuaca panas tampak sangat puas dengan kaleng minuman dingin yang kubelikan untuknya.


Sagiri memegang kaleng jus anggur di tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang susu kotak, lalu dia menempelkan kedua minuman itu ke kedua pipinya untuk mendinginkan wajah. Terlepas dari jus anggur, susu kotak itu padahal adalah milik Yuzuru.


"Renji tidak mau mencobanya juga? Dingin dan rasanya segar, lho?"


"Memangnya ada yang bakal senang kalau aku yang melakukannya?"


Aku juga sedang memegang minuman di kedua tanganku, namun aku tidak berniat melakukannya. Di tangan kananku ada kaleng jus anggur yang sama dengan milik Sagiri, dan di tangan kiriku ada botol minuman bersoda untuk Hasegawa.


Seandainya aku menempelkan botol itu ke pipiku, aku sama sekali tidak sudi membayangkan sosok Hasegawa yang meminumnya setelah itu.


"Eh, kalau begitu, apa Renji akan senang jika aku yang melakukannya?"


Sagiri bertanya kepadaku dengan ekspresi wajah yang tampak kebingungan.


"Tentu saja, habisnya Sagiri 'kan manis......"


Begitu mengatakannya, aku langsung merutuki diriku sendiri di dalam hati.


"Hmm~?"


Sorot mata yang diarahkan kepadaku seketika langsung berubah.


"Kalau Renji sendiri bagaimana?"


Langkah kaki Sagiri mendadak terhenti.


"Apakah Renji akan merasa senang jika aku melakukan ini?"


Sembari menatapku dengan lekat, dia menjepit kedua pipinya menggunakan minuman dingin yang dipegangnya.


Sejujurnya, aku menganggapnya sangat manis.


"......Kamu 'kan memang selalu terlihat manis dalam situasi apa pun."


Karena itulah, agar dia tidak menyadari perasaanku yang sebenarnya, aku mengucapkan kalimat itu dengan nada ketus lalu segera melangkah lebar melewati sisinya begitu saja.


"......Ah, he-hei! Tunggu aku, Renji!"


Meskipun terdengar suara sahutan dari arah belakang, aku tidak berniat untuk menunggunya. Sebab, aku merasa sangat malu.


"Ih, benar-benar deh......!"


Namun lihatlah, pada akhirnya seperti ini. Sagiri akan langsung segera berlari menyusul dan berjalan beriringan di sampingku.


"............"

"............"


Eh, bukankah posisi kami terasa agak terlalu dekat?


Dekat, jarak di antara kami terasa teramat dekat. Sagiri berjalan di posisi yang sangat dekat hingga lengan kami berdua rasanya hampir bersentuhan.


Kami berjalan melewati koridor yang sama dengan jalan berangkat tadi. Hanya gema dari suara ketukan sepatu ruangan kami yang beradu dengan lantai yang memecah keheningan di antara kami.


"............"

"............"


Bagaimana pun aku memikirkannya, atmosfer saat ini benar-benar tidak bisa dibilang seperti suasana orang yang hanya sekadar berjalan melewati koridor.


Bagaimana ya mengatakannya, rasanya begitu manis, namun di saat yang sama juga menyesakkan...... atmosfernya terasa seperti itu.


"......Anu, hei."


"......O-oh."


Sagiri bergumam di sampingku.


"Jus ini. Ini hadiah...... karena Yuzurun sudah berjuang, 'kan?"


"A-ah......"


Aku melirikkan pandanganku sekilas, namun karena Sagiri agak sedikit menunduk, aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya.


"Aku juga, maksudku, aku sudah berjuang...... mengajari Yuzurun belajar dengan baik, 'kan?"


"I-itu benar, sih......"


Namun, jika ada satu hal yang bisa kupahami saat ini.


"......Nee, dengar, Sahabat. Bagaimana kalau kepadaku juga, hm?"


Sosok sahabatku yang bertanya dengan ekspresi malu-malu—sangat berbeda dari biasanya—ini.


"Bisakah kamu...... memberiku sebuah hadiah?"


Benar-benar terlihat teramat manis sekali.



Sagiri yang mendadak bersikap manja itu meminta sebuah hadiah kepadaku.


Apakah alasan mengapa aku hampir saja langsung menurutinya tanpa syarat begitu saja adalah karena adanya kenangan di masa lalu?


『Lalu setelah itu, Yakumo-chan tiba-tiba saja menarik dasi Akahori dan membawanya keluar dari kelas!』


『L-lalu, lalu setelah itu bagaimana?!』


Dari balik pintu, samar-samar terdengar suara tawa Yuzuru dan Hasegawa yang sedang mengobrol dengan asyik.


Koridor yang agak remang-remang di bagian paling dalam gedung kelas khusus ini memang hampir tidak dilewati oleh siapa pun setelah jam pulang sekolah, sehingga suara dua orang yang berada di dalam ruang klub dapat terdengar dengan jelas bahkan dari luar.


Hal itu berarti...... hal yang sebaliknya pun juga berlaku.


"Mereka sedang membicarakan kita, ya?"


"I-itu benar, sih......"


Tepat di samping pintu ruang klub itulah aku dan Sagiri saat ini berada. Kedua lenganku sedang mendekap total empat buah minuman; dua kaleng jus, satu botol plastik, dan satu susu kotak.


Dalam kondisi seperti itu, aku menyandarkan punggungku ke dinding. Situasinya adalah gadis tercantik nomor satu di sekolah, yang memiliki rambut putih panjang dan sepasang mata berwarna pudar, saat ini sedang berdiri tepat di hadapanku dan mengadang jalanku.


『Tentu saja ada berbagai macam rumor yang beredar setelah itu! Seperti apakah mereka berdua sebenarnya berpacaran, atau apakah mereka memiliki hubungan rahasia yang tidak bisa diceritakan kepada orang lain! Tapi ya, kalau menurut kata Yakumo-chan sendiri, sih, katanya mereka berdua cuma sebatas sahabat.』


『Begitu rupanya! Tapi bukankah itu berarti musim semi akhirnya telah tiba bagi mereka berdua?!』


Bahkan dalam situasi sekritis ini pun, suara obrolan mereka yang terdengar menyenangkan masih terus mengalir dari balik pintu.


Seandainya aku berada di dalam sana, aku pasti sudah akan menyela dan memprotes bahwa sekarang ini sebenarnya adalah musim panas.


"Kamu sedang berpikir kalau sekarang ini adalah musim panas, ya?"


"............"


Sahabatku ini sepertinya bisa membaca pikiran.


"Habisnya kita 'kan sahabat. Aku bisa tahu hanya dengan melihat wajahmu."


Gawat, dia benar-benar serius bisa menebaknya.


Terlebih lagi, setelah mengatakan hal itu, dia semakin mengikis jarak di antara kami. Sebuah jarak yang sangat dekat yang hampir bisa dibilang seperti sudah saling bersentuhan. Merasakan senyuman manisnya dari jarak sedekat ini membuatku bisa merasakan wajahku sendiri yang mulai memanas.


Karena sudah tersudut di dinding, aku tidak memiliki tempat untuk melarikan diri, ditambah kedua tanganku pun sedang penuh, sehingga aku hanya bisa pasrah dalam kondisi yang apa adanya ini.


"......Ya. Karena kita 'kan...... sahabat, bukan?"


Hadiah yang diinginkan oleh Sagiri pun dimulai.


"——Mph."


Dasiku ditarik, dan bibir kami pun saling bertautan.


Hari ini, ini adalah ciuman yang keempat kalinya. Kelembutan bibirnya yang terasa begitu segar itu seolah-olah sanggup melepas rasa dahaga di tenggorokanku, padahal aku sendiri belum meminum apa pun.


"Merunduklah sedikit lagi......"


"Ka-kamu yang membuat kedua tanganku memegang jus seperti ini, tapi malah meminta hal yang—"


"——Mmph."


"——?!?"


Ciuman kelima.


Mulutku dipaksa bungkam kembali olehnya. Sebuah ciuman panas yang saling bertukar embusan napas, seolah-olah dia ingin merangkul mulutku yang tadinya sempat terbuka setengah.


Pengalaman asing di mana bibirku dipermainkan oleh bibirnya ini membuat otakku terasa seakan meleleh.


『Tapi omong-omong, bukankah mereka berdua lama sekali, ya? Y-ya, meskipun aku sendiri merasa senang karena bisa mengobrol lagi dengan Yuzuru-chan setelah sekian lama, jadi tidak masalah, sih......』


『Ahaha! Aku juga sangat senang sekali bisa mengobrol lagi dengan Gou setelah sekian lama!』


『Yu-Yuzuru-chan! Memang benar begitu, tapi maksudku bukan yang seperti itu......! 』


Namun, suara dari 2 orang yang terdengar dari dalam kamar itu seketika memaksaku untuk ditarik kembali ke dalam realitas.


Di tengah situasi yang seperti itu, perasaan yang mendadak membuncah di dalam diriku adalah rasa bersalah. Aku dan Sagiri sedang bersembunyi dan berciuman tepat di depan pintu sembari membuat dua orang di dalam menunggu kami. Bagaimana pun aku memikirkannya, fakta bahwa kami sedang melakukan sesuatu yang sama sekali tidak bisa dibenarkan hanya dengan alasan 'karena kami sahabat' ini membuat debaran di dadaku berpacu dengan kencang.


"......Haa. Sa......habat......"


Di hadapanku, sepasang matanya yang berwarna pudar layaknya batu ambar tampak terlihat sayu dan sayup.


Sagiri pun sama halnya denganku, dia sudah terbuai dan tidak bisa berhenti. Ini adalah sebuah hadiah. Dengan hanya bersandar pada status formalitas yang rapuh layaknya kapal kayu reyot saat Klub Sukarelawan ini didirikan, aku melanjutkan ciumanku dengan sahabatku.


"......Sekali lagi."


Ciuman yang keenam kalinya.


Aku tahu betul bahwa kami sudah seharusnya segera menyudahi hal ini.


Aku tahu betul akan hal itu. Namun, benakku sudah terlanjur lumpuh oleh sensasi nikmat dan kebahagiaan yang menjalar dari bibir kami, hingga yang bisa kupikirkan hanyalah sederet alasan tidak berarti—seperti berdalih bahwa saat ini hal itu mustahil dilakukan karena kedua tanganku sedang penuh.


"Sa-Sagiri......"


Meskipun demikian, akal sehatku yang tersisa di batas akhir masih sempat bekerja. Tepat di momen saat bibir kami terpisah, aku berhasil memanggil namanya dengan suara yang melemah. Namun, aku hanya sebatas bisa memanggilnya saja.


Sahabatku sempat membelalakkan matanya yang bulat karena terkejut selama sesaat, namun sedetik kemudian, sebuah senyuman tipis langsung terkembang di wajahnya.


"Suuuth......"


Dia menegakkan jari telunjuknya di depan bibir, lalu berkata,


"Nanti bisa kedengaran, lho?"


Dan ciuman yang ketujuh kalinya pun terjadi.


Padahal kami belum meminum jusnya sama sekali, namun rasanya benar-benar teramat manis.


"......Hanya satu kali ini lagi, ya."


Karena waktu kami untuk mengobrol hari ini terbilang sedikit, kami melakukan ciuman ini seolah-olah untuk menebus waktu yang hilang tersebut. Meskipun ada kemungkinan seseorang akan melihat kami, namun justru karena peluang untuk tepergok itu sangat kecil, kami jadi tidak bisa berhenti.


Ciuman rahasia yang terus berlanjut atas dasar 'karena kami sahabat' ini, ternyata menyimpan efek candu yang membuat kami seolah tidak akan pernah bisa lepas.


Pada saat aku dan Sagiri kembali ke dalam ruang klub, kaleng-kaleng jus yang kudekap di dada sudah sepenuhnya berubah menjadi hangat.



Hari pun berganti, dan peristiwa ini terjadi pada hari Rabu pagi.


"Hasegawa, beri tahu aku. Kenapa aku tidak pernah bisa menang melawan Sagiri?"


"Eh, kamu masih melanjutkan permainan itu?"


"Ini bukan permainan!"


Di dalam ruang kelas pagi ini, keluh kesahku langsung ditepis begitu saja oleh si pria bongsor tersebut.


"Aku sudah memikirkannya. Bagaimana caranya agar aku bisa menang melawan Sagiri!"


"Kalau kamu sudah memikirkannya sendiri, berarti input dariku sudah tidak butuh lagi, 'kan?"


"Kalau aku hanya berbicara sendirian, bukankah aku malah akan terlihat aneh?"


"Kondisimu yang sekarang ini justru persis seperti itu, Akahori."


"Hasegawa...... Selama percakapan di antara kita masih terjalin, ini tidak bisa disebut sebagai berbicara sendirian."


"Kamu ini benar-benar merepotkan sekali kalau sudah menyangkut urusan Yakumo-chan!"


Benar, hal yang terpenting adalah percakapan. Percakapan hanya akan terjalin jika dilakukan oleh sesama orang yang berada di arena yang sama. Akhir-akhir ini aku terus-menerus dibuat kelabakan oleh Sagiri, dan aku merasa posisiku kini berada di bawahnya padahal kami adalah teman masa kecil.


Aku berpikir bahwa situasi ini tidak boleh dibiarkan begitu saja.


"Kalau dipikir-pikir kembali, sebenarnya ini adalah urusan yang mudah...... Hanya saja karena aku terlanjur menjadi terlalu sadar diri, makanya aku......!"


"......Bagaimana ya mengatakannya, Akahori, kamu ini punya kepribadian yang agak merugikan diri sendiri, ya."


Hasegawa menatapku dengan pandangan iba, namun aku tidak memedulikannya.


Sebab, untuk hari ini—tidak, untuk ke depannya—aku sudah menyiapkan sebuah rencana rahasia!


Rencana brilian ini justru terlintas di benakku kemarin, saat aku habis-habisan dihujani ciuman olehnya dengan kedok sebuah hadiah.


"Yaa, yaa, yaa! Selamat pagi, wahai rekan-rekan sekelas sekalian!"


"Yaa, yaa, selamat pagi semuanya! Yaa, yaa~"


Pintu ruang kelas seketika terbuka lebar dengan sangat bising, menampilkan Yuzuru yang tampak penuh energi sejak pagi, diikuti oleh Sagiri yang masuk sembari menirukan gayanya.


Melihat sosok sahabatku yang hari ini juga terlihat sangat cocok dengan rambut putih panjangnya yang indah itu, rasa tegang langsung menjalar di dalam diriku.


Aku tidak boleh melakukan kesalahan. Pertarungan ini sebenarnya sudah dimulai sejak sekarang.


"Selamat pagi, Yuzuru-chan! Hari ini kamu juga terlihat manis, ya!"


"Selamat pagi, terima kasih! Gou juga hari ini terlihat besar dan kekar seperti biasanya, ya!"


"O-oh......?! Ugh......!"


Hasegawa yang berada di sampingku tampak gemetar bahagia karena dipuji. Aku ikut senang mendengarnya, namun saat ini aku tidak memiliki kemewahan waktu untuk memedulikannya.


"Selamat pagi, Renji. Hari ini kamu datang cepat sekali, ya."


Sebab, aku harus bertarung melawan gadis tercantik nomor satu di sekolah yang baru saja duduk di sampingku ini.


——Dan untuk tujuan itulah, aku telah menyiapkan rencana rahasia ini!


"Oh, Sahabat. Selamat pagi!"


"............Eh?"


Mata dibalas mata, gigi dibalas gigi, dan sahabat dibalas dengan sahabat. Akhir-akhir ini, frekuensi ciuman Sagiri terasa semakin bertambah dari hari ke hari.


Hal yang mengganjal di pikiranku adalah kata 'sahabat' yang terus-menerus membuatku pusing. Bukankah Sagiri justru menganggap kata ini jauh lebih spesial daripada diriku sendiri?


Jika tidak demikian, dia tidak akan repot-repot selalu menyebut kata 'sahabat' setiap kali hendak menciumku. Dengan kata lain, aku menyimpulkan bahwa kata 'sahabat' inilah yang sengaja digunakan untuk menciptakan atmosfer yang memicu terjadinya ciuman.


Kalau begitu, solusi untuk mengatasinya sebenarnya sangat mudah. Aku hanya perlu menggunakan kata 'sahabat' ini sesering mungkin demi membuatnya menjadi sebuah hal yang biasa saja.


Aku hanya perlu menghapus kesan spesial dari kata tersebut.


"Ada apa dengan ekspresi wajahmu itu? Kamu selalu terlihat manis kapan pun aku melihatmu, Sahabat."


"Eh? Eh? Eh?"


Dalam strategi seperti ini, kecepatan adalah kunci utama. Memanfaatkan celah di saat Sagiri sedang terkejut karena tidak menyangka kalimat itu akan keluar dari mulutku, aku pun langsung gencar melancarkan serangan berikutnya. Karena entah mengapa aku selalu menjadi pihak yang terus-menerus dipuji manis olehnya, sebagai aksi balas dendam, kali ini akulah yang gantian memuji bahwa dia manis.


Tidak lupa, aku juga menambahkan bonus dengan menyisir rambutnya yang halus dan indah itu menggunakan jari-jariku.


"Kamu tidak hanya manis, tapi juga cantik. Bagiku, Sagiri adalah sahabat nomor satu di dunia."


"Ah, ugh...... e-eh...... uuh......"


Tindakanku ini mungkin memang agak sedikit berlebihan, namun jika mengingat selisih ketertinggalan poin yang sudah dia cetak diatasku selama ini, porsi ini rasanya sudah sangat pas. Sebagai seorang sahabat, aku harus bisa berdiri di arena yang sama dengan Sagiri.


"Re-Renji kepada Sagirin......! Ha-hawauuu!"


"Ja-jangan dilihat, Yuzuru-chan! Sialan, dia malah mulai melakukan hal yang aneh-aneh lagi!"


Oleh karena itu, aku memutuskan untuk mengabaikan sang ketua mungil dan si pria bongsor yang mulai heboh sendiri di samping kami.


"Re-rere...... Renji?! A-a-a-apa...... apa yang terjadi padamu......?"


Sebab, hari ini pun prioritas utamaku tetaplah Sagiri. Strategiku tampaknya berhasil dengan sangat mulus. Melihat Sagiri yang saat ini benar-benar menunjukkan gelagat salah tingkah yang luar biasa, inilah kesempatan emasku.


"Tidak ada apa-apa, kok? Bukankah hal seperti ini sudah biasa dilakukan antar sahabat? Haha, kamu menggemaskan sekali."


"Ah, auu...... auu......!"


Melihat teman masa kecilku yang kini menundukkan kepala dengan kulit putihnya yang merona merah padam, aku pun merasa telah memenangkan pertarungan ini.


Jika aku terus konsisten melakukan hal ini, aku pasti akan bisa menekan frekuensi Sagiri untuk berbuat yang aneh-aneh lagi!


——Padahal, tadinya aku menganggap remeh hal itu.


"Malah gelagat Sahabat ini yang aneh banget tauuuu, uwaaaaahhh?!"


Dasi di leherku mendadak ditarik dengan paksa menggunakan tenaga yang jauh lebih kuat dari sebelum-sebelumnya.


"Mphhhhhhhhh!!"


"Sa, gi, riii?!"


Dan dalam kondisi seperti itu, Sagiri langsung melangkah pergi sembari terus menarik dasiku. Aku pun terseret keluar dari ruang kelas seolah-olah sedang ditarik paksa, bahkan sampai hampir tersandung dan jatuh.


Aku benar-benar menjadi pusat perhatian dan dihujani oleh tatapan penuh rasa penasaran dari Yuzuru, Hasegawa, serta teman-teman yang lain, namun saat itu aku sama sekali tidak memiliki kemewahan untuk memedulikan hal tersebut karena leherku rasanya tercekik setengah mati.



Ini adalah kali kedua aku diseret keluar dari ruang kelas oleh Sagiri dengan dasi yang ditarik seperti ini.


Jika yang pertama terjadi pada saat jam pulang sekolah, kali ini peristiwa tersebut terjadi di pagi hari sebelum jam bimbingan kelas dimulai. Sayup-sayup aku bisa mendengar suara bel sekolah yang berbunyi saat kami sedang menaiki tangga, namun langkah kaki Sagiri sama sekali tidak terhenti.


Sambil mati-matian menahan rasa sesak, tempat yang akhirnya kami tuju adalah titik pemberhentian terakhir di ujung tangga yang sama seperti waktu itu.


Sebuah area sempit dan agak remang-remang, di mana terdapat sebuah pintu menuju atap gedung yang sudah pasti tidak akan pernah bisa dibuka.


"............"


"Sa, Sagiri......?"


Begitu aku berpikir bahwa Sagiri akhirnya melepaskan dasiku di tempat itu, dia malah langsung memalingkan wajahnya ke arah lain dengan sangat kentara.


"Be, benar juga, ya...... Ternyata bukan cuma aku saja......"


Dia melilitkan rambut putih panjangnya yang indah itu ke jemarinya, lalu memainkannya secara berulang-ulang.


"Ka, karena kita sahabat...... Si Sahabat juga, ingin melakukannya, 'kan......?"


Di balik helai rambut sampingnya yang tampak bergoyang, aku bisa melihat kedua daun telinganya yang berkulit putih bersih itu kini sudah merona merah padam hingga ke ujungnya.


"K-kalau begitu......"


Sepasang matanya yang berwarna pudar melirik ke arahku sekilas, tampak benar-benar terlihat sangat gugup dan tidak tenang.


"Ma-mau melakukannya......?"


Suara singkat yang diucapkannya itu terdengar sangat bergetar dan melengking karena malu. Namun di luar dugaan, hal itu justru menjadi hal yang paling berhasil membuat jantungku berdebar kencang sepanjang hari ini.


"T-tunggu sebentar, Sagiri! Aku sama sekali tidak mengatakan hal yang seperti itu, lho?!"


"......Eh?"


Akan tetapi, urusan yang satu ini tentu saja berbeda cerita. Sagiri pasti sudah salah paham akan sesuatu. Aku merasa situasi akan menjadi sangat gawat jika aku tidak segera melakukan sesuatu untuk menghentikan aksinya yang lepas kendali sampai-sampai bolos jam bimbingan kelas pagi seperti ini.


Meskipun sepertinya, semuanya sudah terlambat......


"Ta, tapi Renji juga!"


Sagiri yang terlihat sangat salah tingkah itu wajahnya kini sudah memerah padam, sebuah rona yang bahkan dapat terlihat dengan sangat jelas meskipun area di tempat ini terbilang remang-remang. 


Otakku rasanya mulai kehilangan fungsi warasnya akibat pesona dari teman masa kecil kebanggaanku ini—gadis yang akan selalu terlihat sebagai sosok wanita cantik baik saat dia sedang diam maupun tidak.


Melihat sosoknya yang sedang tersipu malu seperti ini terlihat sangat manis, sampai-sampai rasanya aku sanggup untuk terus menatapnya selamanya.


"Kamu...... ingin berciuman, 'kan?"


Ralat. Dia terlalu manis sampai-sampai aku mungkin tidak akan sanggup untuk menatapnya secara langsung.


Menatapku dengan pandangan sayu dari jarak sedekat ini sembari mengerucutkan bibirnya yang imut itu benar-benar merupakan sebuah pelanggaran yang tak tertandingi.


"......Tidak, bukan begitu."


"Eh?!"


Jika ditanya apakah aku ingin atau tidak...... jawabannya adalah aku ingin. Namun, ada sebuah perbedaan persepsi yang sangat jelas di antara diriku dan Sagiri saat ini. Bahkan orang sepertiku pun pada akhirnya menyadari hal tersebut.


"La, lalu bagaimana dengan kejadian yang di kelas tadi?!"


"Bukan, kalau yang itu...... aku cuma ingin membalas perbuatanmu yang biasanya, kok......"


Gadis tercantik nomor satu di sekolah itu kini mencengkeram kedua pundakku dengan ekspresi wajah yang tampak sangat putus asa.


Menghadapi sosok mutlak yang akan selalu terlihat manis dengan ekspresi wajah apa pun seperti dirinya, aku yang tadinya sempat merasa berada di atas angin kini justru berbalik menjadi pihak yang tersudutkan dalam sekejap.


"B-bagaimana bisa begitu......"


Bahu Sagiri seketika langsung melemas, dan dia pun tertunduk dengan lesu. Rasa bersalah dan rasa lega yang mendera diriku secara bersamaan di saat yang sama sukses membuat isi kepalaku menjadi semakin kacau.


"............"


"Sa, Sagiri......?"


Aku memanggil nama Sagiri yang mendadak terdiam membisu. Namun, meskipun dia sedang tertunduk lesu, kedua tangannya yang mencengkeram pundakku sama sekali tidak kunjung dilepaskan.


Tepat di hadapanku, aku bisa melihat bagian ubun-ubun kepalanya yang ditumbuhi oleh rambut putih yang indah. Aroma yang sangat harum tercium dari sana, dan bahkan di saat dia sedang terdiam pun, hal itu tetap berhasil mengacaukan konsentrasiku.


"............"


"A-apa yang mau kamu lakukan?!"


Push, push, push!


Sambil terus mencengkeram kedua pundakku, Sagiri mendorong tubuhku ke depan dengan kekuatan yang luar biasa. Tubuhku pun terdorong mundur tanpa bisa melakukan perlawanan sedikit pun, hingga dalam sekejap punggungku langsung membentur pintu besi dingin yang menuju ke arah atap. Membuatku merasa merinding dalam dua arti yang berbeda.


"......Nee, Sahabat."


"Ikh?!"


Sagiri tidak mengangkat wajahnya. Namun hanya dari suaranya saja, aku bisa mengetahui bagaimana perasaannya saat ini...... Aku benar-benar bisa memahaminya.


Dia sedang marah. Bagaimana pun aku memikirkannya, itu adalah jenis suara yang dikeluarkan olehnya saat sedang marah.


"......Kamu ingin melakukannya?"


Dia tersenyum. Itu adalah sebuah senyuman lebar yang terkembang di wajah gadis tercantik di sekolah. Akan tetapi, hanya sepasang matanya saja yang sama sekali tidak ikut tersenyum.


"......Kamu ingin melakukannya, 'kan?"


Menggunakan kedua tangannya, Sagiri menumpukan seluruh berat badannya pada pundakku. Membuat tubuhku perlahan-lahan merosot ke bawah seolah-olah sedang mengitari permukaan pintu yang menyangga punggungku.


"......Karena itulah, kamu sengaja melakukan hal yang seperti tadi, 'kan?"


Dan pada akhirnya, aku pun dipaksa untuk terduduk di lantai tempat itu. Dengan punggung yang bersandar pada pintu dan kedua lutut yang tertekuk asal-asalan, posisiku kini menjadi agak berantakan layaknya orang yang sedang melakukan posisi duduk memeluk lutut.


Di tempat itulah Sagiri kemudian memosisikan tubuhnya hingga duduk mengangkang tepat di atasku seolah hendak mengurungku, sebuah posisi yang sudah pasti akan terlihat sangat luar biasa intim di mata siapa pun yang melihatnya.


"......Kita akan melakukannya, 'kan?"


Kedua tangan yang tadinya mencengkeram pundakku kini beralih menjepit kedua pipiku. Jemarinya terasa sangat ramping, lembut, dan lembap, dan sepasang tangan yang hangat itu kini mengunci posisi wajahku tanpa ampun. 


Tepat di hadapanku saat ini, terpampang jelas paras menawan nomor satu di sekolah milik sahabatku yang wajahnya kini sudah memerah padam dengan mata yang tampak berkaca-kaca.


Melalui posisi mengangkang ini, aku dapat merasakan kehangatan dan kelembutan dari tubuh Sagiri dengan sangat jelas.


Tubuh kami saling menempel erat sampai-sampai rasa panasnya musim panas tidak lagi terasa mengganggu.


"......Ciuman."


Bobot tubuhnya semakin bertumpu padaku, dia memelukku, dan tingkat keintiman di antara kami pun kian bertambah.


"Tu-tunggu dulu, Sagiri! S-situasi yang seperti ini benar-benar——"


Isi kepalaku seketika menjadi panik akibat merasakan dua kelembutan yang besar dan hangat bahkan dari balik seragam sekolah kami.


"——Mph."


Dan ciuman itu terjadi, seolah sengaja untuk membuatku melupakan kepanikan tersebut.


Ciuman dalam posisi yang saling menempel erat seperti ini memberikan kenyamanan yang luar biasa, seakan-akan diriku dan Sagiri tengah melebur menjadi satu.


“Teng~ Tong~ Teng~ Tong~, Teng~ Tong~ Teng~ Tong~, Teng~ Tong~ Teng~ Tong~, Teng~ Tong~ Teng~ Tong~......”


Suara bel yang sudah sangat familier yang menandakan dimulainya jam pelajaran pertama itu entah mengapa terdengar begitu jauh.


"......Nee, Sahabat?"


Sagiri melepaskan bibirnya, lalu menatapku dan tersenyum dengan tatapan mata yang tampak jahil.


"Bagaimana kalau...... kita bolos saja terus seperti ini?"


Bagaimana pun aku memikirkannya, ini sama sekali bukan jarak keintiman yang wajar antar sahabat, namun aku tidak mampu berkata apa-apa saat berhadapan dengan senyumannya itu.



Aku dan Sagiri akhirnya benar-benar membolos di jam pelajaran pertama. Jadi, merupakan hal yang sangat wajar jika kami langsung dikerubungi oleh teman-teman sekelas begitu kami kembali ke dalam ruang kelas.


Kali ini pun aku dicecar dengan berbagai macam pertanyaan ini dan itu, membuatku harus bersusah payah untuk mengalihkan pembicaraan, sementara Sagiri dengan santainya tersenyum mendengarkan dan mengabaikan pertanyaan-pertanyaan tersebut.


Setelah melewati berbagai hal, waktu pulang sekolah pun tiba, dan hari ini pun saatnya untuk kegiatan klub.


Hari ini, kegiatan klub kebanggaan kami—Klub Sukarelawan atau yang disebut juga dengan Perkumpulan Riset Jati Diri—kembali diadakan di dalam ruang klub sempit bekas gudang yang berada di ujung paling dalam gedung kelas khusus, namun......


"Renji, belakangan ini apa terjadi sesuatu antara kamu dan Sagirin?!"


"Pft?!"


Ketua klub mungil kebanggaan kami, Yuzuru, bertanya sembari memiringkan kepalanya.


Sebagai informasi, saat ini hanya ada aku dan Yuzuru saja di dalam ruang klub ini. Sagiri sempat berkata kepadaku, "Karena hari ini aku ditembak lagi, aku pergi mendengarkannya dulu, ya~" sebelum akhirnya dia bergegas berlari keluar dari ruang kelas. Sementara itu, Hasegawa—si pria bongsor yang bisa diandalkan—pergi berangkat menuju tempat kerja paruh waktunya di supermaket sembari menangis dan melontarkan kalimat ancaman yang berbahaya seperti, "Kalau kamu berani macam-macam kepada Yuzuru-chan, akan kubunuh kamu......"


"Ti-tidak ada...... terjadi apa-apa, kok......"


"Fufufu! Tidak ada rahasia-rahasiaan di dalam Perkumpulan Riset Jati Diri, lho!"


Dengan kata lain, aku yang sedang berada berdua saja dengan Yuzuru benar-benar tidak memiliki tempat untuk melarikan diri.


"Kalau soal itu......"


Tiba-tiba saja, di sini aku teringat kembali akan perkataan yang diucapkan oleh Hasegawa tempo hari. Bukankah ini merupakan kesempatan emas bagiku untuk berkonsultasi kepada Yuzuru mengenai masalah Sagiri?


"Belakangan ini Sagirin terlihat sangat ceria sekali, dan itu semua pasti berkat Renji, 'kan?!"


"Sagiri? Tidak, tapi, aku tidak melakukan apa-apa......"


Yuzuru membalas pertanyaanku dengan sebuah senyuman yang merekah lebar.


"Bukan begitu! Habisnya, senyuman Sagirin sekarang terlihat jauh lebih indah dan dia tampak sangat bahagia daripada yang sebelum-sebelumnya!"


"......Begitu, ya. Sagiri terlihat...... bahagia, ya."


Seandainya Hasegawa berada di tempat ini, dia pasti sudah akan berteriak histeris mengatakan betapa manisnya Yuzuru saat ini. Namun bagiku, alih-alih memikirkan keimutan Yuzuru, perkataannya itu justru terasa teramat hangat di dalam hatiku dan aku tidak bisa membendung rasa itu.


Sagiri merasa senang dan terlihat bahagia. Hanya dengan mengetahui hal itu saja sudah cukup membuat hatiku merasa sangat terpenuhi. 


Karena aku mengenal sosok Sagiri di masa lalu yang penyakitan dan sering menangis, aku merasa sangat bersyukur dan bahagia saat melihatnya bisa menghabiskan hari-harinya dengan penuh sukacita saat ini. Dan Yuzuru, selaku ketua dari Perkumpulan Riset Jati Diri, adalah orang yang paling pertama menyadari perubahan tersebut.


Ya. Jika aku ingin bertanya, sekaranglah satu-satunya waktu yang tepat.


"......Yuzuru, ada sesuatu yang ingin kutanyakan kepadamu."


"Tentu saja boleh, tentu saja boleh! Perkumpulan Riset Jati Diri akan selalu menyambut murid yang sedang dalam masalah kapan pun juga!"


Sebuah senyuman tanpa beban terkembang di wajah Yuzuru. Kepribadiannya yang ceria dan selalu berpikiran positif ini pasti merupakan rahasia mengapa dia bisa sangat cocok berteman dengan Sagiri. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika aku mencoba untuk mengandalkannya.


"Kalau begitu, sebenarnya yang dimaksud dengan sahabat itu——"


Cklek!


Tepat di momen saat aku hendak mulai berbicara, pintu ruang klub mendadak terbuka.


"Aku pulang~! Eh, ada apa dengan atmosfer ini......?"


Orang yang masuk dengan penuh energi itu tidak lain adalah gadis tercantik nomor satu di sekolah yang sudah kita kenal dengan baik.


"Kalian berdua lagi membicarakan apa, sih?"


Sagiri berjalan mendekat dan duduk di sampingku sembari melemparkan senyuman.


Terlebih lagi, dia menggeser kursinya sendiri hingga ke jarak di mana pundak kami saling bersentuhan......


Akibat hal tersebut, aku pun gagal berkonsultasi kepada Yuzuru dan tidak memiliki pilihan lain selain mengalihkan pembicaraan.



"Eh, hap, hop!"


Di bawah siraman langit senja. Gadis tercantik nomor 1 di sekolah itu sedang berjalan di depanku sembari merentangkan kedua tangannya.


Pada akhirnya, karena kami bertiga terus bersama-sama sampai jam kegiatan klub berakhir, aku sama sekali tidak mendapatkan kesempatan untuk berkonsultasi kepada Yuzuru.


Setelah terus-menerus berjuang mengalihkan pembicaraan, tanpa terasa waktu pulang sekolah pun tiba. Terlebih lagi, di tengah-tengah kegiatan klub tadi, Sagiri juga ikut terlibat dalam pertanyaan yang dilontarkan tanpa beban oleh Yuzuru, yaitu: "Waktu aku absen kemarin, kalian berdua sempat ada kejadian sesuatu ya?" sehingga entah mengapa Sagiri pun berakhir berada di pihak yang sama denganku untuk ikut menyembunyikan hal tersebut.


Padahal statusnya adalah sahabat, namun aku sendiri benar-benar sama sekali tidak bisa memahami apa yang sedang berputar di dalam isi kepalanya.


"Yak, sampai, eh, wa, wa-wa-wa?! Ah, aku mati......"


Sahabatku itu kini sedang memainkan permainan klasik 'kalau jatuh dari garis putih berarti mati' di atas pembatas jalan yang biasa kami lewati saat pulang. Meskipun arus lalu lintas kendaraan di jam-jam seperti ini terbilang sepi, namun melihatnya melakukan hal itu tetap saja membuatku merasa sedikit waswas.


"Kalau kamu tersandung nanti bisa bahaya, lho?"


"Renji, situasi yang seperti itu namanya sudah terlambat!"


"Kenapa kamu malah terlihat bangga begitu......"


Ekspresi wajahnya saat itu benar-benar menunjukkan rahasia kemenangan yang sama sekali tidak akan membuat malu seandainya diperlihatkan di depan umum.


Namun, aku berharap dia tidak menggunakan kata-kata seperti 'mati' atau 'sudah terlambat', karena hal itu mengingatkanku pada tangisannya sewaktu kami masih anak-anak.


"Haa...... Untunglah sekarang sudah jam jalan pulang."


"Nn~, kamu lagi membicarakan soal apa?"


"Aku lagi membicarakan soal dirimu, Sagiri."


Obrolan ringan di antara kami terus mengalir di sepanjang jalan pulang yang melewati area perumahan warga ini.


Semuanya terasa normal. Sosok Sagiri saat ini benar-benar terlihat seperti sosok Sagiri yang biasanya. Dia terlihat seperti Sagiri yang seperti biasa, sampai-sampai rasanya sulit dipercaya bahwa dia adalah orang yang sama yang tadi pagi membolos jam pelajaran sekolah bersamaku demi bersembunyi dan melakukan ciuman.


Apakah aku saja yang sebenarnya berpikir terlalu berlebihan?


Semakin dipikirkan, aku justru semakin tidak memahami sosok teman masa kecilku yang seharusnya berada di posisi paling dekat denganku ini. Padahal barusan dia masih berjalan di depanku seperti ini, namun tiba-tiba saja dia melangkah terhuyung-huyung keluar dari jalur jalan...... Eh!


"Renji! Ayo kita mampir sebentar!"


"Ah, hei, tunggu! ......Astaga."


Belum sempat aku memprotes, Sagiri sudah mulai berlari kecil dan langsung melesat pergi. Tempat tujuannya adalah sebuah taman kecil di tengah area perumahan warga yang kebetulan baru saja kami lewati. Itu adalah taman yang sama, tempat di mana aku selalu menunggu Sagiri.


"Juara satuuu~! Renji kalah!"


"Sejak kapan taruhannya dimulai, sih......"


Berdiri di tengah taman kecil itu sembari mengacungkan jari telunjuknya yang ramping ke arah langit, sosoknya benar-benar terlihat sangat menawan. Meskipun dia memiliki paras tipe wanita cantik dan anggun, namun ketika dia melakukan aksi spontan lalu tertawa, dia akan memancarkan pesona menggemaskan layaknya seorang anak kecil ke sekelilingnya.


"Oleh karena itu! Sebagai pemenang, aku akan memberikan sebuah hadiah untukmu, Renji si pecundang!"


"Bukankah standarnya terbalik...... Eh, itu 'kan?"


Sembari menunjukkan senyuman kekanak-kanakan tersebut, Sagiri mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan langsung menyerahkannya kepadaku. Benda itu adalah jus anggur kalengan, minuman yang selalu kuminum di sini setiap kali aku sedang menunggunya.


"Ehehe, kamu suka, 'kan?"


"Ah, i-iya...... Terima kasih, ya."


Jantungku seketika berdegup kencang saat melihat gelagatnya yang mendongak menatapku sembari tersenyum, hingga membuatku refleks memalingkan wajah ke arah lain.


"Rasakan ini!"


"Uwaaa?!"


Celah kelenggahanku itu langsung dimanfaatkan olehnya. Sagiri mendadak menempelkan kaleng jus yang dingin itu tepat ke tengkuk leherku.


"Ahahaha! Katanya, 'uwaaa?!' lho!"


"Ka-kamu ini, ya!"


"Ini pembalasan untuk kejadian tadi pagi! Bagaimana? Bagaimana? Kaget, 'kan?!"


Rasa berdebar akibat benda dingin yang mendadak ditempelkan ke leher, berpadu dengan rasa berdebar karena wajah imut sahabatku—yang selalu mencari celah untuk menciumku—kini mendadak mendekat.


Mau bagaimana lagi, pandangan mataku pada akhirnya justru berakhir terpaku pada bibir merah muda tipis miliknya.


"Lho, lho, lho~? Wajahmu memerah, tuh?"


"B-bising tahu! I-ini pasti gara-gara pantulan cahaya matahari senja!"


"Kalimat itu akhirnya keluar juga dari mulutmu ya, Renji."


Benar-benar anak ini, dia sama sekali tidak tahu bagaimana perasaanku...... Eh? Perasaanku......?


"......Mau melakukannya?"


"......Eh?"


Semuanya sudah terlambat saat aku mencoba untuk bertanya balik. Seperti biasa, dasi di leherku ternyata sudah terlanjur ditarik olehnya.


"——Mph."

"——Mph."


Di tengah taman yang disinari oleh cahaya mentari senja, kami kembali berciuman. 


Itu adalah sebuah ciuman mendadak, sama sekali tidak ada yang berbeda dari biasanya. Namun, hal yang membedakannya dari sebelum-sebelumnya adalah fakta bahwa kali ini diriku pun secara alami langsung menerima ciuman tersebut.


"............Eh?"


Sepasang mata Sagiri seketika terbelalak lebar. Perubahan kecil namun berdampak besar di dalam diriku itu tampaknya berhasil tersampaikan kepada Sagiri melalui tautan bibir kami.


Begitu bibir yang saling bertumpu itu terpisah, ekspresi wajahnya yang sedang menatapku dari jarak sedekat ini perlahan-lahan mulai berubah menjadi semakin merah padam.


"A-apa yang barusan itu......"


Sagiri langsung menundukkan kepalanya sembari menyembunyikan bibirnya menggunakan tangan. Paras menawannya yang tersiram cahaya senja, serta sensasi nikmat dari ciuman barusan, benar-benar terus melekat dan tidak bisa hilang dari dalam isi kepalaku.



『A-apa yang barusan itu......』


Bahkan setelah keesokan paginya tiba, ciuman di taman waktu itu masih terus membekas di dalam isi kepalaku.


Itu adalah ciuman. Sebuah ciuman yang sama seperti biasanya. Namun, ciuman itu terasa sangat nyaman dan nikmat......


Hanya dengan mengingatnya kembali saja sudah lebih dari cukup untuk membuat isi kepalaku dipenuhi oleh khayalan dan nafsu duniawi.


"Enyahlah pikiran kotor, enyahlah pikiran kotor, enyahlah pikiran kotor, enyahlah pikiran kotor, enyahlah pikiran kotor, enyahlah pikiran kotor, enyahlah pikiran kotor, enyahlah pikiran kotor, enyahlah pikiran kotor, enyahlah pikiran kotor, enyahlah pikiran kotor, enyahlah pikiran kotor, enyahlah pikiran kotor, enyahlah pikiran kotor, enyahlah pikiran kotor, enyahlah pikiran kotor, enyahlah pikiran kotor, enyahlah pikiran kotor, enyahlah pikiran kotor, enyahlah pikiran kotor, enyahlah pikiran kotor, enyahlah pikiran kotor, enyahlah pikiran kotor, enyahlah pikiran kotor, enyahlah pikiran kotor, enyahlah pikiran kotor, enyahlah pikiran kotor......"


"Sumpah, kamu menakutkan banget tahu, Bakahori."


"......Yang kamu maksud Bakahori itu aku?!"


"Oh, ternyata kesadaranmu untuk merespons banyolan masih ada ya, Akahori!"


Begitu aku mengangkat wajahku yang tadinya terpuruk di atas meja, Hasegawa sedang tertawa dengan sangat lepas.


Saat aku melirik ke arah jam dinding, waktu masih menunjukkan pukul 08.20 pagi. Walaupun Hasegawa sudah tiba di kelas, tampaknya Sagiri masih belum datang.


"Ada apa, Akahori? Apa kamu lagi memikirkan soal Yakumo-chan lagi?"


"A-apa?! Ja-ja-ja-jangan bicara sembarangan!"


"Tuh 'kan, kentara banget kalau lagi kepikiran......"


"A-aku tidak memikirkannya!!"


Aku hanya sedang sedikit merenungkan tentang esensi ciuman dengan sahabatku, jadi ini bukan berarti aku sedang mengkhawatirkannya.


Ciuman adalah sebuah hal yang misterius. 


Padahal dilakukan di bagian bibir yang sama, di tempat yang sama, dan dengan orang yang sama, namun perasaan yang dirasakan bisa berubah tergantung pada bagaimana kondisi suasana hati kita saat melakukannya.


Bukankah hal ini sudah bisa dikategorikan sebagai sebuah komunikasi, sebuah bahasa tubuh yang tidak memerlukan untaian kata-kata? Mungkin karena itulah orang-orang di luar negeri terbiasa melakukan ciuman hanya sebagai bentuk formalitas salam sapaan.


Dengan kata lain, ada kemungkinan bahwa alasan Sagiri menciumku selama ini adalah sebagai bagian dari salam sapaan belaka. Jika itu hanya sekadar salam, maka masuk akal mengapa dia melakukannya setiap hari. Dan soal dia yang menyebutnya sebagai hadiah...... lalu wajahnya yang memerah dan mendadak menjadi bersikap malu-malu setelah melakukannya, bukankah hal itu juga bukan sesuatu yang aneh...... ya?


"Apa aku...... benar-benar sedang kepikiran?"


"Setidaknya begitulah kondisimu akhir-akhir ini, Akahori. Istilahnya, hehehe...... seperti seorang gadis remaja yang sedang jatuh cinta."


"............"


Kalimat omong kosong yang keluar dari mulut pria bertubuh bongsor yang sedang mengusap bagian bawah hidungnya dengan malu-malu itu seketika langsung menusuk tepat ke dalam hatiku.


Gawat. Ini benar-benar gawat. Secara samar, aku sebenarnya sudah menyadari bahwa diriku mulai berharap untuk mendapatkan ciuman dari Sagiri. Tanpa kusadari, isi kepalaku sudah dipenuhi oleh sosok Sagiri, dan aku benar-benar tidak bisa menahan diri karena ingin segera melihat wajahnya.


Ini adalah sebuah kecanduan. Aku mengalami kecanduan terhadap sahabatku sendiri yang dimediasi melalui ciuman, hingga membuatku memikirkan tentang Sagiri selama 24 jam penuh tanpa henti.


Jika aku bertemu dengan Sagiri dalam kondisi seperti ini, aku tidak tahu hal bodoh apa yang akan kuperbuat nanti. Jika aku sampai lepas kendali seperti kemarin, maka segalanya pasti akan menjadi sangat kacau.


Harus ada sesuatu, sesuatu yang bisa mengalihkan perhatianku...... 


Ah!?


"Ha-Hasegawa! Kamu......"


"Eh? Aku?"


"Punya wajah yang bisa membuat hati orang menjadi tenang, ya......"


"Melihat kondisimu, aku merasa lebih baik menghajarmu sekarang lalu menyeretmu pergi ke rumah sakit, dah......!"


Tolong pikirkan perbedaan ukuran tubuh kami terlebih dahulu.


Tepat di saat aku sedang merasa waswas karena melihat pria bertubuh kekar itu mulai mengepalkan tinjunya di hadapanku—


Sreeek~ Terdengar suara pintu ruang kelas yang digeser terbuka.


"Te-teman-teman, selamat pagi......"


Hanya dengan mendengar suara itu saja, jantungku langsung berdegup kencang. Suaranya yang terdengar anggun itu kini terdengar agak teredam seolah-olah terhalang oleh sesuatu, jika tidak...... Eh?


"Eh? Sa-Sagirin, kamu lagi masuk angin ya?!"


Orang yang paling pertama menyadari perubahan pada diri Sagiri dan langsung menyapanya adalah Yuzuru yang duduk di barisan kursi paling depan.


Sangat wajar jika dia berpikir demikian. Sebab, Sagiri melangkah masuk ke dalam ruang kelas dengan mengenakan masker—sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.


"Ka-ka-ka...... apa penularan virus flu dariku kemarin menular kepadamu?!"


"Tidak apa-apa, kok. Aku tidak apa-apa, semuanya, aku baik-baik saja."


Dipimpin oleh Yuzuru yang memang baru saja sembuh dari flu musim panas, para siswi di kelas langsung berkumpul mengelilinginya dengan raut wajah cemas.


Melihat Sagiri yang berusaha menanggapi perhatian mereka dengan nada suara yang dibuat-buat ceria, aku berpikir bahwa tindakan itu benar-benar mencerminkan kepribadiannya. Sahabatku adalah sosok penyayang yang sangat pandai dalam memedulikan perasaan orang lain. Di samping hal itu, aku sendiri sebenarnya sedang merasa sangat tidak tenang, namun......


"......Ah."


Tepat saat Sagiri hendak duduk di kursi di sebelahku, pandangan mata kami secara alami langsung saling bertemu. Mungkin karena setengah dari bagian wajahnya tertutup oleh masker, pergerakan dari bola matanya menjadi dapat terlihat dengan sangat jelas.


Fakta bahwa sepasang matanya langsung terbelalak lebar di detik pertama dia melihatku pun dapat tertangkap oleh indra penglihatanku dengan sangat sempurna.


"......Re-Renji...... se-selamat pagi......"


"......Oh, o-pagi...... Sa-Sagiri...... ka-kamu tidak apa-apa......?"


"......I-iya, tidak apa-apa...... te-terima kasih ya......"


"......O-oh, begitu ya......"


Akibat atmosfer tersebut, percakapan di antara kami berdua pun berakhir menjadi sebuah obrolan yang teramat sangat canggung.



Sagiri pergi berangkat ke sekolah dengan mengenakan masker.


Sesuai dengan arti dari namanya, dia memang memiliki kepribadian yang sulit dipahami layaknya kabut. Namun aku berpikir, begitu kabut itu mulai tersingkap, maka tidak akan ada lagi hal yang tersembunyi, dan segalanya akan langsung terpampang dengan sangat jelas melalui ekspresi wajah dan penampilannya.


Berusaha untuk menggenggam kabut adalah hal yang mustahil untuk dilakukan. Namun pada hakikatnya, kabut adalah kumpulan dari uap air yang mendingin, dan air adalah unsur yang sejatinya berada sangat dekat dengan kehidupan kita. Unsur itu sudah ada di sana sejak awal, sehingga kita sama sekali tidak perlu bersusah payah merentangkan tangan untuk mencarinya.


Karena terlalu banyak memikirkan tentang Sagiri, isi kepalaku tampaknya mulai melahirkan untaian kalimat yang puitis.


Yah, intinya hal yang ingin kusampaikan adalah——


"Pada tahun keenam era Kaei, tepatnya pada tahun 1853, Komodor Perry datang berkunjung dengan menaiki Kapal Hitam dan——"


"............"

"............"


——Bahkan di tengah-tengah jam pelajaran yang sedang berlangsung pun, aku benar-benar tidak bisa fokus karena terus-menerus merasa penasaran dengan keberadaan Sagiri yang berada tepat di sebelahku.


Bahkan ketika aku membuka buku pelajaran, atau saat memegang lembar rangkuman materi tebal buatan guru yang dibagikan ke meja kami, bahkan ketika tulisan di papan tulis terus ditulis lalu dihapus dengan kecepatan luar biasa—seolah-olah guru di depan memiliki keahlian menulis kilat hingga membuatku tidak sempat menyalinnya—aku tetap tidak bisa mengalihkan pandangan mataku dari Sagiri.


"............"


Aku bisa melihat profil wajah samping teman masa kecilku yang sedang menatap papan tulis dengan pandangan kosong. Kulitnya yang sejak awal memang sudah putih bersih, kini tampak tertutup oleh masker besar sehingga terlihat semakin putih menonjol. Namun, helai rambut putih panjangnya tetap terlihat paling mencolok di antara perpaduan warna putih yang sama tersebut, dan aku berpikir bahwa dia benar-benar sangat cantik.


Entah benar atau tidak kalau ada yang bilang warna putih itu memiliki dua ratus jenis corak yang berbeda. Namun yang pasti, aku benar-benar bisa membuktikan dan merasakan kebenaran dari ucapan itu di tengah jam pelajaran melalui profil wajah samping sahabatku ini.


"......Nn."


"—!? "


Aku hampir saja refleks mengeluarkan suara.


Di dalam ruang kelas yang sedang melangsungkan jam pelajaran, di mana ruangan tersebut dipenuhi oleh riuh suara goresan kapur dan pensil mekanik, hanya diriku sajalah—sebagai orang yang terus memusatkan perhatian penuh kepada Sagiri—yang tidak melewatkan suara helaan napas yang lolos dari balik maskernya.


Entah hal itu dilakukan secara sengaja atau tidak, aku sendiri kurang tahu. Namun dari balik maskernya, Sagiri mulai memainkan area mulutnya sendiri menggunakan jari-jemarinya. Dia menyentuhnya dengan lembut, menekannya sedikit kuat, mengulangi gerakan menyentuh lalu melepaskannya secara berirama, hingga menyusuri permukaan bibirnya secara perlahan.


Setiap kali dia melakukan hal itu, siluet bentuk bibir yang tercetak di balik masker sukses membuat jantungku berdegup kencang.


——Aku benar-benar telah menjadi sadar sepenuhnya akan dirinya.


Tidak, sebenarnya aku memang sudah selalu menyadarinya sejak hari di mana kami berciuman waktu itu, namun perasaan yang kali ini terasa berbeda.


——Rahasianya terasa sangat nikmat.


Itu mungkin terdengar seperti sebuah alasan yang sangat dangkal dan konyol, namun pemikiran itulah yang kini sedang menguasai seluruh isi kepalaku.


——Ciuman yang kulakukan sembari memikirkan tentang Sagiri, rasanya benar-benar teramat nikmat.


Mungkin hal itulah yang menjadi akar dari segalanya.


Padahal ciuman-ciuman kami yang sebelum ini pun, tentu saja rasanya juga sangat nikmat...... Terasa lembut, lembap, memiliki aroma yang harum, dan sanggup membuat isi kepalaku serasa meleleh. Namun, semua itu adalah jenis ciuman yang dilakukan oleh Sagiri secara mendadak, atau jenis ciuman yang terjadi saat kami berdua sedang sama-sama terbuai dalam suasana.


Meskipun terdengar memalukan, namun kenyataannya selama ini aku memang hanya selalu menjadi pihak yang pasrah dan menerima perlakuannya saja. Ini adalah sebuah fakta yang sama sekali tidak bisa dibantah. Karena itulah, ciuman yang kami lakukan tepat di saat aku mulai menyadari sedikit demi sedikit tentang perasaan yang kupunya untuk Sagiri...... menjadi sebuah hal yang sama sekali tidak bisa kulupakan.


"............"


"......Nn?"


Sembari menyembunyikan perasaan yang menyerupai sebuah hasrat tersembunyi dan tidak akan pernah bisa kuungkapkan ini di dalam hati, aku terus-menerus menatap profil wajah sampingnya.


Hingga tiba-tiba, Sagiri langsung menggenggam pensil mekaniknya dan mulai menuliskan sesuatu, lalu melemparkannya ke atas mejaku dengan memanfaatkan kelengahan guru di depan. Itu adalah selembar kertas catatan yang dilipat. Begitu aku membukanya, di sana tertulis sebuah kalimat dengan gaya tulisan yang membulat.


『Kamu melihatku terus』


Begitulah bunyi tulisan yang tertera di sana.


"—!?"


Keringat dingin seketika langsung mengucur deras dari tubuhku, dan aku pun buru-buru memalingkan wajahku ke arah samping. Di saat yang sama, Sagiri juga langsung memalingkan wajahnya ke arah lain dengan ketus. Namun dari celah gerakannya itu, aku bisa melihat bagian telinganya yang terkait tali masker kini sudah merona merah padam.



Sampai waktu pulang sekolah tiba, jumlah frekuensi obrolanku dengan Sagiri secara luar biasa bisa dihitung dengan satu digit jari saja. 


Hal seperti ini benar-benar tidak pernah terjadi sebelumnya di antara kami. Obrolan yang terjadi pun hanya sebatas urusan formalitas belaka, atau jenis obrolan yang sewajarnya terjadi secara alami karena kami berada di dalam satu ruangan dan duduk di kursi yang bersebelahan—bahkan rasanya agak meragukan untuk mengategorikan hal itu sebagai sebuah percakapan. Ditambah lagi, sikapku yang terlalu kentara hingga membuatku berbicara dengan terbata-bata, serta ekspresi wajah Sagiri yang tetap bisa kuketahui meskipun terhalang masker, membuat atmosfer di antara kami menjadi benar-benar terasa sangat kaku......


Setelah melewati waktu-waktu yang canggung tersebut, bel pulang sekolah akhirnya berbunyi, dan hari ini pun tiba saatnya untuk kegiatan klub.


Kami berdua yang sedang dalam kondisi canggung ini akhirnya berjalan menuju ruang klub dari Klub Sukarelawan atau Perkumpulan Riset Jati Diri, yang terletak di ujung paling dalam lantai satu gedung kelas khusus.


"............"

"............"


Hanya ada kami berdua di sini.


Di hari yang seperti ini, dan di momen yang seperti ini, kami justru berakhir berdua saja. Hal ini bisa terjadi karena Yuzuru sedang sibuk mengikuti ujian susulan, sementara Hasegawa pergi untuk memberikan dukungan kepadanya.


Sebenarnya, apa saja yang biasanya aku bicarakan dengan Sagiri sebelum-sebelumnya, ya?


"......Nee."


Orang yang pertama kali memecah kesunyian yang canggung itu adalah Sagiri.


Berbeda dengan saat kami sedang belajar untuk ujian, posisi duduk kami yang selalu berada di tempat yang sama di dalam ruang klub ini membuat jarak di antara kami hari ini pun terasa sangat dekat.


Padahal kami tidak bisa saling mengobrol, padahal suasananya sedang canggung, namun Sagiri justru menggeser tubuhnya secara mandiri hingga menempel erat denganku.


Ruang klub yang pada dasarnya merupakan sebuah bekas gudang sempit ini, entah mengapa hari ini terasa menjadi jauh lebih sempit dari biasanya.


"Ka-kamu...... merasa penasaran, ya?"


Secara sekilas, dia mengarahkan pandangan matanya ke arahku dari balik maskernya. Melihat gelagat dari teman masa kecilku yang bersikap malu-malu seperti itu membuatku teringat akan masa lalu dan seketika merasa goyah.


"Sa-Sagiri sendiri bagaimana......?"


Namun, aku berhasil mengerahkan seluruh tenagaku di detik-detik terakhir untuk tetap bertahan pada kesadaranku.


Meski begitu, aku hanya sebatas bisa bertahan saja tanpa bisa memberikan jawaban yang semestinya, dan malah berbalik melontarkan sebuah pertanyaan yang sama sekali tidak nyambung.


"A-aku juga merasa penasaran, tahu......?"


"Sa-Sagiri juga!?"


Sebuah pukulan telak yang tidak terlihat dari Sagiri yang sedang menundukkan kepalanya itu sukses telak mengenatiku.


Itu adalah jenis serangan yang berada di tingkat sanggup memberikan luka fatal dalam sekali pukul.


"......Nee, Sahabat."


Hanya dengan mendengar sebutan itu saja sudah sukses membuat tubuhku rasanya ingin melompat saking terkejutnya.


"Bibir milik sahabatku, umm......"


Sembari tetap mengenakan maskernya, Sagiri memalingkan wajahnya tepat ke arahku.


"Bo-bolehkah...... aku menyentuhnya......?"


Dia merentangkan tangannya perlahan secara perlahan.


Berusaha untuk menggapai bagian bibirku. Dan tanpa disadari, posisiku dan Sagiri kini sudah saling berhadapan dalam posisi duduk. Sagiri yang mengenakan masker itu mendongak menatapku, dan ujung jari-jemarinya yang putih, ramping, dan indah itu kini mulai terulur menuju ke arah wajahku.


"Sahabat......"


Aku tidak tahu sudah berapa kali aku mendengar kata itu keluar dari mulutnya, namun nada suaranya yang digunakan saat memanggil nama sahabatnya saat ini terdengar mengandung sebuah letupan hasrat yang hangat. Dan sepasang tangannya yang kini tengah membelai pipiku dengan lembut itu terasa sangat menggelitik.


"Sa-Sagiri......"


"Hya?! Ka-kamu menggelitikku!"


Entah mengapa, justru Sagiri-lah yang tertawa kegelian.


Tampaknya, embusan napas yang keluar saat aku berbicara tadi terasa menggelitik telapak tangan Sagiri. 


Sagiri yang sejak kecil selalu sakit-sakitan dan jarang berinteraksi dengan orang lain, ternyata sama sekali tidak memiliki ketahanan terhadap rasa geli.


"......Dasar, memangnya mulut nakal."


"Fwahhi?!"


"Fufu, tidak boleh."


Ibu jari Sagiri kini menyentuh bibirku. Bibirku yang sudah telanjur sensitif karena terus-menerus digoda di depan mata, kini dapat merasakan kehangatan dan kelembutan dari jemari Sagiri.


"Ternyata bibir anak laki-laki pun...... selembut ini, ya."


Sembari melontarkan kalimat manis yang sanggup menggetarkan otak, Sagiri mulai mempermainkan bibirku dengan jarinya. Setiap kali jarinya menggerakkan bibirku ke atas dan ke bawah, bibir atas dan bawahku saling bergesekan hingga menimbulkan suara plek, pluk.


Hal itu terasa sangat memalukan bagiku.


"Ugh......"


"Tidak boleh. Perlihatkan...... wajahmu lebih jelas lagi padaku?"


Aku bahkan tidak diizinkan untuk memalingkan wajah, membiarkan bibirku terus dipermainkan oleh jarinya.


Kira-kira, seperti apa ekspresi wajahku saat ini?


Pasti terlihat sangat bodoh dan menjadi jenis wajah yang sama sekali tidak boleh diperlihatkan kepada orang lain.


Tentu saja. Sosok seorang laki-laki yang bibirnya sedang dipermainkan oleh seorang gadis, seorang perempuan cantik, sekaligus sahabatnya sendiri......


Penampilan seperti ini, benar-benar hanya bisa kuperlihatkan kepada Sagiri seorang.


"Sahabat......"


Dia benar-benar licik.


Di saat aku sedang mengekspos wajah yang seperti ini, Sagiri justru menyembunyikan wajahnya sendiri di balik masker.


Masker yang menyembunyikan paras cantiknya itu tampak mengembang setiap kali dia mengembuskan napas.


Aku sangat ingin melihat apa yang ada di baliknya.


"Fuhfwah?!"


"Ah, luar biasa......"


Tiba-tiba saja, pergerakan ibu jari Sagiri berubah. Dia mulai merangsek maju seolah hendak membuka paksa bibirku, mencoba untuk menyusup ke dalam mulut. Meski aku refleks mengatupkan gigi dengan rapat, tampaknya tujuan jarinya bukan ke sana, melainkan mulai menyusuri bagian dalam bibirku.


"Jadi, rasanya seperti ini......"


Bagian dalam bibir yang biasanya tidak pernah terekspos ke luar, kini dapat merasakan kehangatan dari sebuah jari. Orang yang biasa menyentuh bagian seperti ini paling-paling hanyalah seorang dokter gigi. Namun sekarang, jari sahabatku tengah menyusup ke sana tanpa permisi dan menjalar dengan lembut.


——Isi kepalaku rasanya sudah hampir menjadi gila.


"Uwa, uwaaa......"


Bagaikan anak kecil yang sedang takjub dan terbuai, Sagiri tengah melakukan sebuah permainan terlarang yang rasanya tidak pantas dimaafkan meskipun pelakunya adalah seorang anak-anak.


Tidak, aku bahkan tidak tahu apakah ini bisa disebut sebagai sebuah permainan atau bukan.


Hal yang kupahami saat ini hanyalah fakta bahwa jari yang tadinya menyusup ke balik bibirku kini telah bertambah, dari satu jari menjadi dua jari.


"Luar...... luar biasa......"


Sagiri telah kehilangan kemampuan merangkai kata-katanya sama sekali. Menggerakkan, menjepit, menggoyang, hingga meregangkannya. Gadis tercantik di sekolah kini sedang mempermainkan bagian dalam bibirku sepuasnya, hanya dengan menuruti dorongan nalurinya.


"Haa~...... Fuu~......"


Padahal akulah pihak yang sedang dipermainkan, namun entah mengapa aku bisa mengetahui bahwa napas sahabatku kini justru menjadi semakin memburu. Hal itu tidak hanya terdengar dari suaranya saja, melainkan juga terpancar dari gerakan dan penampilannya. Pundaknya naik-turun saat bernapas, tatapan matanya tampak sayu meredup, dan maskernya terus-menerus mengembang dan mengempis dengan intens.


——Di mataku, dia terlihat seolah-olah sedang sangat tersiksa.


"......Ah."


Suara embusan napas yang lolos itu adalah milik Sagiri.


Tanpa disadari, aku telah melepas masker yang menyembunyikan area mulutnya tersebut.


——Karena dia terlihat sangat tersiksa.


Kedua tangan Sagiri sedang bertumpu pada wajahku untuk mempermainkan bibirku, sehingga tanpa ada perlawanan maupun hambatan berarti, masker itu terlepas dengan mudah. Bibir merah muda tipis serta pipi putih bersihnya kini terekspos ke udara luar, merona dengan warna kemerahan.


"......Euh."


Dia sangat cantik. Aku merasa takjub saat melihat bibir sahabatku untuk pertama kalinya hari ini.


Apakah karena bibir itu sempat tersembunyi sebelumnya? Apakah karena dari tadi hanya diriku saja yang dipermainkan? Atau karena...... Sagiri kini tampak bersikap begitu pasrah dan malu-malu?


Aku tidak menemukan jawabannya. 


Hanya saja, pandangan mataku kini telah terpaku pada bibir yang seharusnya sudah biasa kulihat dan kusentuh berulang kali setiap harinya.


"Sa-sahabat juga......?"


Aku tidak menyadari bahwa sepasang bola mata indahnya yang jernih itu kini telah berkaca-kaca.


"Bo-boleh, kok......?"


Namun, bahkan setelah aku menyadari hal tersebut, pandangan mataku tetap saja langsung tersedot kembali ke arah bibirnya.


"Sentuhlah......"


Dan aku pun, mulai menyentuh bibir milik sahabatku.


Sembari membiarkan bagian dalam bibirku dipermainkan oleh jari Sagiri di dalam ruang klub sepulang sekolah, aku juga ikut menyentuh bibir milik Sagiri. Meskipun situasi ini bisa dijabarkan dengan untaian kata, namun jika ada orang yang bertanya situasi macam apa yang sebenarnya sedang terjadi, aku akan langsung kehilangan kata-kata untuk menjawab situasi yang aneh sekaligus penuh dosa ini.


"......Nnh."


Embusan napas hangat yang lolos dari mulut Sagiri menyapu jemariku.


Bibir bawahnya terasa membal kembali saat ditekan, dan kelenturannya terasa jauh lebih lembut daripada tekstur sebuah permen jeli. Hanya dengan sedikit menempelkan jari saja, kelembapan di dalam mulutnya seolah langsung mengisap jariku dan enggan untuk melepaskannya. Walaupun aku belum pernah menyentuhnya langsung, namun aku membayangkan mungkin seperti inilah rasanya tentakel seekor gurita.


Bibir inilah yang setiap hari selalu menciumku. Karena itulah, mungkin aku sudah tidak akan pernah bisa lepas darinya lagi.


"......Ham."


"Muah?!"


Tiba-tiba saja, Sagiri langsung mengulum ibu jariku.


Dia mengatupkannya dengan cepat. Bukan dengan cara menggigit, melainkan menjepitnya di antara bibir atas dan bawah, mengunci ibu jariku di dalam sebuah sensasi sentuhan yang terasa lembap, hangat, dan teramat lembut.


Jantungku seketika serasa ingin melompat keluar. Bahkan, aku sampai refleks mengeluarkan suara jeritan. Namun, karena saat ini ada dua jari Sagiri yang sedang menyusup di dalam mulutku, aku sama sekali tidak bisa bergerak untuk melepaskan diri.


"Henhi...... (Renji......)"


Mungkin, dia sedang memanggil namaku.


Sembari mengulum dan melumat ibu jariku dengan lembut. Rangsangan yang tersalurkan melalui ibu jariku berpadu dengan pemandangan sensual yang terpampang tepat di depan mata, menciptakan kombinasi yang terasa sangat erotis.


"Nnh...... ham...... nnh......"


Sagiri tampak begitu terbuai mendalami kegiatannya mengulum ibu jariku. Dia mengubah posisi dan sudutnya, seolah-olah seperti seorang bayi yang sedang mendambakan empeng susu, membuat ibu jariku semakin terbenam jauh di dalam jepitan bibirnya.


Suara erangan lirih yang lolos setiap kali dia mengulumnya, berpadu dengan stimulasi visual dan taktil, kini ikut menyerang indra pendengaranku untuk terus menggoyahkan kesadaranku.


Aku akan mengatakannya sekali lagi, pemandangan ini benar-benar terasa sangat erotis.


"Haa...... nnh...... am......"


Seperti yang sudah kukatakan tadi, tempat ini adalah sekolah, tepatnya di dalam ruang klub sepulang sekolah. Padahal sebentar lagi dua orang yang sedang menyelesaikan ujian susulan akan segera kembali, namun aku dan Sagiri justru masih saling mempermainkan bibir satu sama lain di sini. Adanya rasa bersalah karena melakukan hal semacam ini di lingkungan sekolah, berpadu dengan rasa berdosa karena merasa bahwa kami sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih terlarang daripada sekadar ciuman biasa.


Kedua pergolakan emosi tersebut sudah teramat sangat cukup untuk mengacaukan seluruh isi pikiranku menjadi berantakan.


"......Fwah!"


Tanpa kusadari, aku telah merentangkan sepasang tanganku yang lain untuk membelai pipi Sagiri yang tengah merona kemerahan.


Menerima perlakuan itu, Sagiri tampak menggeliatkan tubuhnya karena kegelian. Namun sebelum dia sempat menjauh, aku sudah memosisikan ibu jari dari tanganku yang satunya lagi untuk menyentuh bibir Sagiri, memegangnya erat seperti cara seseorang menggenggam stik kontroler gim.


Dengan begini, pertarungan di antara aku dan Sagiri telah berimbang menjadi dua lawan dua—sebuah pemikiran aneh yang mendadak melintas di kepalaku.


"Hah...... nha...... nnh......"


"Fuh...... haa...... fuu......"


Padahal kami hanya sebatas sedang mempermainkan bibir saja, namun suara embusan napas kami yang memburu kini terdengar menggema memenuhi ruang klub yang sunyi ini.


Sembari mengulum jariku, Sagiri terus mempermainkan bibirku. Sementara diriku yang sedang dipermainkan oleh jari Sagiri, terus menyusuri permukaan bibir milik Sagiri.


Kami berdua sama-sama terbuai dan melupakan waktu, hingga tanpa disadari, jariku yang tadinya hanya sebatas menyentuh bagian luar kini entah sejak kapan...... sudah menyusup masuk ke dalam mulut Sagiri.


"Hi, hinhu~...... (Sa, sahabat~......)"


Dengan posisi mulut yang diganjal terbuka oleh ibu jariku, sahabatku itu menatapku lekat-lekat dengan sepasang mata yang memancarkan kilatan hasrat yang hangat. Tatapan itu terasa sangat provokatif, memikat, penuh pesona, dan seolah sedang berusaha menghancurkan dinding pertahanan terakhir dari logikaku secara terang-terangan dari arah depan.


Jika kondisinya sudah seperti ini, bukankah tidak apa-apa jika aku membuang seluruh logikaku sekarang?


Di saat pemikiran seperti itu mulai menguasai seluruh isi kepalaku, aku sekali lagi menatap wajah Sagiri dengan saksama. Setetes air liur tampak mengalir di sudut mulutnya, dan di sudut matanya pun terlihat ada sedikit genangan air mata yang membayang.


"—!?"


Genangan air mata itu seketika langsung menarik paksa kembali logikaku yang tadinya sudah berada di ambang kehancuran...... 


Sebab, ekspresi wajahnya yang dibayangi oleh genangan air mata tipis itu mendadak tumpang-tindih dengan sosok Sagiri di masa lalu.


"Eh......? Re-Renji......?"


Aku pun langsung menarik kedua tanganku dari mulut Sagiri, lalu menurunkan tangannya yang dari tadi terulur ke arah wajahku. Meskipun seutas benang perak dari air liur tampak membentang vertikal mengikuti pergerakan jariku yang menjauh, namun anehnya diriku saat ini sudah bisa berpikir dengan sangat tenang.


"S-seperti yang kubilang...... kalau diteruskan lebih dari ini, rasanya akan gawat......"


Ini adalah bentuk keegoisanku, sebuah ego murni dari diriku sendiri. Genangan air mata di matanya barusan benar-benar mengingatkanku pada sosok dirinya yang sering menangis tersedu-sedu saat kami masih kecil dulu.


Walaupun aku tahu bahwa Sagiri sendiri yang menginginkannya, dan aku pun paham kalau kondisi kami yang sekarang sudah berbeda dengan masa lalu, namun tubuhku refleks bergerak sendiri untuk menyudahinya.


"......Tidak apa-apa, kok."


"......Tentu saja tidak boleh, 'kan."


Namun, Sagiri tampaknya enggan untuk mundur. Padahal dulu aku selalu berpikir bahwa dialah sosok yang harus kulindungi, namun tanpa disadari dia kini telah tumbuh menjadi sosok yang cukup kuat untuk memaksakan keinginannya sendiri kepadaku.


"......Kita ini sahabat, lho?"


"......Justru karena kita sahabat makanya tidak boleh."


Tetapi aku pun juga tidak berniat untuk mundur. Karena itulah, jarak di antara kami justru berakhir menjadi semakin terkikis dekat.


"Biasanya, hal seperti ini......"


Sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku, tangan Sagiri sudah menyentuh pipiku.


"Kalau begitu, tidak apa-apa, 'kan?"


Aku yang terkejut langsung menatap ke arah Sagiri.


Di sana, dia sedang menunjukkan sebuah senyuman lembut yang terlihat sangat tulus layaknya seorang malaikat.


"......Sejak dulu, aku ini memang anak nakal, tahu?"


Namun, sosok Sagiri yang sebenarnya adalah seorang anak nakal, sosok iblis kecil yang penuh tipu daya. Meskipun sejak kecil tubuhnya selalu lemah, dia adalah orang yang akan selalu bersikap egois demi mewujudkan segala hal yang ingin dilakukannya.


Sosok Sagiri yang sekarang adalah seseorang yang berhasil tumbuh menjadi sehat dan kuat setelah melewati masa-masa penuh kesabaran tanpa pernah menyerah sedikit pun, meskipun dia harus menangis tersedu-sedu.


"Hei, Sahabat."


Kedua tangannya kini bertumpu hangat di pipiku.


"Ayo kita sama-sama......"


Paras cantiknya mulai mendekat, hingga jarak di antara kami terkikis habis menjadi nol.


"......menjadi anak nakal?"


Dan setelah itu, aku pun kembali berciuman dengan sahabatku. Itu adalah sebuah ciuman yang terasa sangat nikmat, sebuah ciuman yang di dalamnya melebur beraneka ragam luapan perasaan menjadi satu.



"Aku adalah anak yang nakal......"


"Akhir-akhir ini, kenapa kamu kelihatan lesu setiap hari, sih?"


Keesokan harinya setelah aku membiarkan diriku hanyut oleh perlakuannya dan melakukan ciuman penuh dosa tersebut. Isi kepalaku kini benar-benar telah dipenuhi sepenuhnya oleh berbagai macam ekspresi wajah dari sahabatku.


Wajahnya saat tertawa lepas dengan riang. Wajahnya saat bersikap pasrah sembari menundukkan kepala. Wajahnya saat berpura-pura tidak tahu dengan ekspresi jenaka. Wajahnya yang merona merah padam. Hingga wajahnya saat jarinya menyusup ke dalam mulutku, menatapku penuh harap seolah sedang mendambakan sesuatu.


Senyuman lembut yang diperlihatkannya sesaat sebelum kami berciuman, serta senyuman nakal penuh kemenangan yang ditunjukkannya setelah kami selesai berciuman.


Padahal kami telah melakukan hal yang seperti itu, melakukan ciuman yang seperti itu, dan melakukan tindakan senakal itu di dalam ruang klub yang hanya berisi kami berdua, namun setelahnya kami tetap bisa menjalani kegiatan klub seperti biasa bersama Yuzuru dan yang lainnya begitu mereka kembali dari ujian susulan...... 


Memikirkannya saja sudah membuatku serasa ingin menjadi gila.


"Oh, ternyata kamu, Hasegawa...... Aku sempat mengira kalau kamu adalah Raja Enma yang datang ke sini untuk mengadili dosa-dosaku......"


"Memangnya kamu pikir aku ini apa, hah?!"


"Rasa bersalah di dalam diriku yang telah mengubahmu menjadi Raja Enma, tahu......"


"Kamunya dong yang berubah! Kamu juga anggota Jibuken*, 'kan!"


Ucapan Hasegawa memang ada benarnya. Seperti yang diharapkan dari Wakil Ketua Perkumpulan Riset Jati Diri kita.


"......Lagipula, kalau orang yang modalnya cuma kelewat serius sepertimu saja dibilang anak nakal, seluruh umat manusia di bumi ini bisa-bisa dicap sebagai anak nakal semua, tahu?"


"A-a-a-anak nakal?!"


"Ih, apa-apaan, kok reaksimu seram begitu!"


Aku refleks bereaksi karena terlalu sensitif terhadap kata itu.


Hal itu terjadi karena ucapan Sagiri kemarin tentang 'ciuman anak nakal' benar-benar telah membakar habis seluruh isi otakku tanpa sisa.


"Padahal Yuzuru-chan sudah bersusah payah berhasil melewati ujian susulannya dengan selamat, tapi kamu malah terus-terusan melamun sejak kemarin, tahu......"


"......Hm?"


Hasegawa yang tampak sangat tidak puas melihat penampilanku yang menyedihkan ini menyandarkan tubuhnya ke bingkai jendela kelas. Di saat tubuh besarnya sedang mengintimidasi dan menatap ke arahku, tiba-tiba saja arah pandangannya beralih ke tempat lain.


Tatapannya itu terarah ke area belakang punggungku yang sedang menghadap ke arah koridor kelas.


"Coba tebak, siapa ini~?"


"Uwowa?!"


Pandanganku mendadak menjadi gelap gulita. Di saat yang sama, aku merasakan kehangatan yang lembut dari sepasang tangan yang kini tengah menutupi mataku. Kemudian, terdengar suara tawa yang sudah sangat akrab di telingaku.


"Sa-Sagiri?!"


"Sangat benar!"


Sepasang tangan ramping itu langsung menjauh dari wajahku dengan cepat. Sosok yang berdiri di sana, seperti yang sudah bisa ditebak dan bahkan sama sekali tidak berniat disembunyikan, adalah gadis tercantik di sekolah yang sangat serasi dengan rambut putih panjangnya dan senyuman nakalnya: Sagiri.


"K-kamu ini apa-apaan, sih, mendadak begitu......"


"Apanya yang apa-apaan? 'Kan cuma kuis biasa?"


Saat dia memiringkan kepalanya sembari menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya sendiri, jantungku seketika berdegup kencang. Mau bagaimana lagi, kesadaranku langsung otomatis terfokus ke arah bibirnya.


Tidak, ini tidak boleh. Ingat, ini di dalam ruang kelas, Renji......


"Hebat ya, bisa menjawab dengan benar. Sahabatku ini 'kan memang paling suka dengan jariku. Uri, urii~"


"Ofwah?!"


Dia menekan-nekan pipiku dengan gemas menggunakan jari telunjuknya yang tegak berdiri.


......Tentu saja, aku ingatkan sekali lagi, ini masih di dalam ruang kelas.


"Nah, hadiahnya sudah selesai! Ah, Yuzurun, selamat pagi~!"


"Ah, hei......"


Setelah puas bermain-main dengan pipiku, Sagiri langsung berjalan menghampiri Yuzuru, sang Ketua Perkumpulan Riset Jati Diri yang bertubuh mungil yang baru saja melangkah masuk ke dalam kelas.


Sebagai penutup untuk adegan ini, aku ingin menegaskan sekali lagi bahwa ini adalah suasana ruang kelas di pagi hari.


"He-hei, Akahori! Apa-apaan yang barusan itu?!"


"Bikin iri setengah mati tahu, hei!"


"Bisa-bisanya kalian pamer kemesraan sejak pagi buta!"


"Lagipula, ini pertama kalinya aku melihat Yakumo-san bisa tertawa selepas itu!"


"Sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan padanya! Apa yang terjadi di antara kalian! Cepat katakan! Sudah saatnya kamu menyerahkan diri dan mengaku!"


"Kalian berdua pasti beneran pacaran, 'kan?!"


"Kalau belum pacaran, buruan jadian sana, astaga!"


"Ha-hadiah apa yang dimaksud tadi......?! Ha-hadiahnya bukan dicekik, 'kan......?"


Teman-teman sekelas langsung datang mengerumuniku bak air bah. 90% persen dari mereka adalah pasukan barisan para laki-laki, ditambah satu orang siswi yang selalu memiliki selera dan hobi yang sangat spesifik dan unik itu.


"Eh, ada apa ini? Kenapa semua orang berkumpul—Uwaaa......?!"


Saat aku mencoba mengintip dari celah kerumunan orang yang mengepungku untuk melihat dalang utama yang memicu kekacauan ini, ternyata Sagiri sendiri juga sudah berakhir dikepung oleh barisan para siswi di sudut lain.


Sagiri benar-benar sama sekali tidak menyadari seberapa menarik dan berpengaruhnya sosok dirinya bagi orang-orang di sekitarnya.



Kriitt—terdengar suara pintu yang dikunci rapat.


Saat ini adalah jam istirahat siang, di dalam ruang klub Perkumpulan Riset Jati Diri. Dampak dari aksi candaan bunuh diri yang dilakukan Sagiri tadi pagi ternyata masih berbuntut panjang bahkan sampai jam istirahat siang tiba. Kami berdua yang seharusnya melarikan diri ke arah yang berbeda, entah bagaimana bisa berpapasan di tengah jalan dan berakhir mengungsi bersama ke ruang klub ini.


Kami pun duduk di kursi yang biasa kami tempati di dalam ruang klub Perkumpulan Riset Jati Diri, yang dulunya merupakan sebuah bekas gudang yang agak gelap dan berdebu.


Di sanalah Sagiri akhirnya bisa bernapas lega dan mengembuskan napas panjang sembari melemaskan seluruh otot tubuhnya.


"Akhirnya aku bisa makan bekal dengan tenang......"


"Ini semua 'kan gara-gara ulahmu sendiri......"


"Uee~...... ueee~......"


Dia menyahut dengan suara erangan aneh yang terdengar seperti rentekan tangis. Tampaknya dia sudah terlalu lelah sampai-sampai tidak punya tenaga lagi untuk membalas perkataan sinisku.


Dari 4 meja yang digabungkan saling berhadapan dalam formasi dua kali dua, aku duduk di sisi dekat jendela, sementara Sagiri duduk di sebelahnya di sisi dekat pintu. Kemudian, aku dan Sagiri kembali mengembuskan napas panjang secara bersamaan.


"Menjadi seorang gadis cantik yang populer itu memang merepotkan ya~......"


"Sejak kapan sifat kelewat percaya dirimu itu lahir, sih......?"


"Sifat ini 'kan dibesarkan oleh Renji sendiri tahu~......"


Itu adalah sebuah helaan napas yang terdengar optimis. 


Padahal dulu dia adalah sosok yang selalu meratapi kelemahannya sendiri dan terus-menerus mengeluh sembari menangis. Namun sekarang, dia justru bisa duduk santai sembari melemaskan tubuhnya di sampingku, sambil mengunyah daging hamburg dari kotak bekalnya dengan lahap. Mungkin karena hari ini dia makan dengan sedikit ceroboh dari biasanya, area di sekitar mulutnya sampai belepotan penuh dengan saus daging.


"Sini, hadapkan wajahmu ke mari."


"Hohe? Wafuh?!"


Aku mengeluarkan saputangan dari dalam saku celenaku lalu menyeka area di sekitar mulut Sagiri. Sosoknya yang langsung memejamkan mata erat-erat karena terkejut di saat saputangan itu menyentuh wajahnya terlihat sangat menggemaskan, hingga membuatku merasa telah memenangkan sesuatu di dalam hati.


"Kalau urusan yang begini, sejak dulu kamu memang benar-benar tidak pernah berubah ya, Sagiri."


"Mgugugugigigigigigiiii......!"


Saat aku menjauhkan saputangan dari mulutnya sambil kembali mengembuskan napas panjang—kali ini dalam arti yang berbeda—Sagiri langsung mengertakkan giginya dengan intensitas yang sama sekali tidak mencerminkan sosok seorang gadis cantik.


Rasanya wajahnya saat ini tampak memerah padam. Itu adalah jenis warna merah dari seseorang yang sedang marah karena merasa teramat malu.


"Gigigiii...... Ah, kinpira*!"


"Cepat banget ganti suasananya...... Lagipula, jangan mengambil lauk orang lain, dong!"


Padahal tadi wajahnya memerah padam sampai mengertakkan gigi, tapi sekarang dia tiba-tiba mengulurkan sumpitnya tanpa izin ke arah kotak bekal milikku. Dia benar-benar teman masa kecil yang perubahan suasana hatinya kelewat drastis.


"Biarkan saja, tidak apa-apa, 'kan? Aku 'kan paling suka kinpira buatan ibumu, Renji!"


"Maksudku, jangan merebut lauk orang lain tanpa bersuara seolah-olah itu sudah sealami bernapas, tahu."


"Tadi aku sudah bilang suka, 'kan?"


"Memangnya kalau kamu bilang suka, kamu pikir bisa berbuat sesukamu, hah?"


Sembari mengoceh, Sagiri meraup habis seluruh kinpira gobo yang berada di sudut kotak bekal milikku. Meski makanan ini tidak membuat area mulutnya sekotor saat makan daging hamburg, tetap saja mulut yang sedang merebut makan siang orang lain itu kini telah penuh sesak oleh kinpira gobo.


"Hehe, ada celah......"


"......Begitu, ya."


"Ahhh! Daging hamburg sekali gigitkuuu?!"


"Maaf ya, habisnya pertahananmu penuh dengan celah, sih."


"Pikirkan kurs tarifnya dong, kurs tarif! Ini tidak adil! Perry! Perry!"


"Perjanjian Tidak Adil* itu baru terjadi setelah masa itu, tahu?"


Sagiri yang terus menggerutu itu menyebutkan nama seorang tokoh sejarah secara berulang-ulang, yang seingatku baru saja kami pelajari di kelas sejarah baru-baru ini. Namun, karena aku hanya merebut kembali apa yang telah direbut dariku, maka tidak ada yang namanya kurs tarif yang adil di sini.


Secuil dari lembaran sejarah kelam mengenai pertikaian umat manusia yang terus berulang, kini tengah dipentaskan di atas kotak bekal milikku dan Sagiri.


"Dasar kamu setan pemakan daging......"


"Awas ya, kamu jangan sekali-kali mengatakan hal yang sama di luar sana."


Kalimat ejekan yang menyindir kesukaanku pada daging hamburg itu memiliki tingkat daya hancur sosial yang kelewat kuat.


"Padahal, kamu tadi juga hampir memakan jariku......"


"Tu-tunggu dulu, kalau yang itu 'kan dari kamunya sendiri yang......"


Saat aku hendak menyanggah gumaman lirih yang baru saja lolos dari mulutnya—


"............"

"............"


Di sana, sahabatku tengah menatapku lekat-lekat dengan pandangan mata yang sedikit sayu.


Saat aku tersadar, segalanya sudah terlambat—baik itu tempat, situasi, maupun atmosfer di sekitar kami.


"......Hei, Sahabat?"


Jarak di antara kami yang duduk di atas kursi yang saling bersebelahan kini semakin terkikis. Melompati batas wilayahnya sendiri, sahabatku kini tengah menginvasi kursi yang sedang kutempati.


"......Aku ini, sangat suka daging hamburg, lho."


"......Padahal, aku juga suka kinpira, sih."


Aku tahu. Karena kami adalah teman masa kecil, hal sejelas itu sudah berada di tingkat pengetahuan umum bagiku. Makanan kesukaan dari masing-masing kami kini telah masuk ke dalam mulut satu sama lain. Dan sekarang, hal yang sedang kami pandangi hanyalah pintu masuk dari mulut tersebut.


"......Kembalikan."


"......Kamu sendiri juga."


Sepasang tangan yang bertumpu di pipiku membuatku terkunci dan tidak bisa bergerak. Pertikaian yang telah terikat mati dan membuat kami tidak bisa mundur lagi ini, memaksa kami untuk melangkah maju ke ujung bibir masing-masing demi merebut kembali apa yang telah diambil—


Ding-Dong-Dang-Dong!


"Hya?!"


"Owagh?!"


——Lonceng jam kiamat yang mengatur dunia sekolah pun berdentang, menghentikan jam istirahat siang sekaligus pertikaian di antara kami berdua.


"Ah, eh, wa...... Se-selanjutnya pelajaran apa?!"


"Ma-ma-matematika! Kalau kita terlambat, kita bakal dihabisi dengan logika oleh guru yang licik itu!"


"Ka-kalau begitu, kita harus buru-buru, 'kan?!"


"I-iya bener, kita harus cepat-cepat?!"


Dengan sangat panik, aku dan Sagiri langsung saling menjauhkan diri, memasukkan kotak bekal masing-masing ke dalam tas, lalu bergegas berlari keluar dari ruang klub.


Jika tadi terus dilanjutkan, kira-kira apa yang akan terjadi?


Mungkin akan ada suatu perubahan dalam bentuk pertikaian di antara aku dan sahabatku ini. Namun, tidak ada jawaban untuk hal yang tidak sempat terjadi, dan aku hanya bisa menghabiskan sisa waktu pelajaran hingga bel pulang sekolah dalam keadaan frustrasi dan gelisah sepanjang waktu.


Deg-deg, deg-deg, deg-deg.


Rasa berdebar-debar karena perang perebutan bekal yang terjadi di dalam ruang klub yang hanya berisi kami berdua saat jam istirahat siang. Rasa berdebar-debar karena hampir terlambat masuk kelas saat bel berbunyi. Ditambah lagi rasa berdebar-debar karena tidak bisa fokus pada pelajaran dan hanya terus-menerus memandangi Sagiri yang berada di sebelahku, menciptakan sebuah simfoni tiga tingkat rasa berdebar-debar.


Jika terus seperti ini, jantungku bisa-bisa meledak suatu saat nanti. Di saat aku sedang memikirkan hal bodoh semacam itu, tanpa disadari waktu sudah menunjukkan jam pulang sekolah.


Di dalam ruang klub Perkumpulan Riset Jati Diri—tempat yang telah melahirkan berbagai macam rasa berdebar-debar tersebut.


Mungkin karena ruangan ini dulunya merupakan sebuah bekas gudang, pintu dengan model gagang putar yang sudah jarang ditemukan di sekolah ini tiba-tiba terbuka lebar dengan suara dentuman yang keras.


"Ke-se, ke-se-se-se-se-se-se-se-se-se-se-se-se-se-sa-laaaan bangeeet sih?!』『


Sosok yang melangkah masuk ke dalam ruangan adalah ketua kecil kita, Yuzuru.


Dia, yang sama sekali tidak bisa dibilang pintar dan juga tidak memiliki stamina fisik yang mumpuni alias penuh dengan kelemahan, terus terengah-engah dengan tangan yang masih memegangi gagang pintu.


"Yuzuru-chan?! Te-te-tenang, tenang dulu! A-ayo kita tarik napas dalam-dalam! Tarik, tahan, embuskan! Tarik, tarik, tahan, embuskan!"


Si pria berbadan besar, Hasegawa, yang terlalu menyukai Yuzuru langsung ikut panik tidak karuan. Harusnya dia menyuruh Yuzuru untuk tenang dulu, atau mendebat kalau itu bukan cara tarik napas yang benar, atau mempertanyakan kenapa malah dia sendiri yang ikut-ikutan mempraktikkan cara napas itu......


"Uh, uhuk...... ueegh......!"


"Tarik, tahan, Yuzuru-chaaan!!"


Malah beneran dipraktikkan, dia 'kan jadi tersedak tahu, kamu tidak perlu ikut-ikutan melakukan itu, Hasegawa. Suasana kacau ini langsung melahirkan banyak sekali poin yang ingin kukritik hanya dalam waktu sekejap.


"Yuzurun, kamu tidak apa-apa? Mau minum susu?"


"Te-terima kasih...... Sagirin......"


"Sial...... kenapa aku tidak berguna sekali sebagai seorang pria......!"


Di tengah situasi yang kacau balau tersebut, bantuan dari Sagiri tampak begitu bersinar.


Seperti yang diharapkan, karena suasana di sini mendadak menjadi sangat ramai, segala hal yang terjadi di siang hari serta rasa berdebar-debar yang kurasakan langsung terbang melayang entah ke mana.


"......Glek. Pe-perhatian semuanya!"


Yuzuru yang telah menghabiskan susunya langsung bangkit pulih dengan kecepatan yang luar biasa.


Kecepatan pemulihannya benar-benar setara dengan anak sekolah dasar. Tidak hanya dari segi penampilan, kepulan energinya pun bahkan bisa membuat anak-anak kalah saing. Namun, karena hal itu adalah hal yang paling tabu dari segala hal yang tabu untuk diucapkan di dalam Perkumpulan Riset Jati Diri, aku sama sekali tidak bisa menyuarakannya.


"P-Perkumpulan Riset Jati Diri! K-Kita dapat permohonan bantuan, lhooo!!"


Yuzuru mengangkat kedua tangannya ke atas dan bersorak hore sembari mencengkeram kotak susu yang sudah kosong. Sosok dan gelagatnya itu benar-benar terlihat seperti anak sekolah dasar.


"A-Apaaa benar begitu?!"


Hasegawa ikut mengangkat kedua tangannya dan menunjukkan reaksi yang sangat berlebihan untuk mengimbangi Yuzuru. Jika dia yang melakukannya, dia justru terlihat seperti seekor beruang yang bersiap untuk menerkam.


"Dengan begini, klub kita akhirnya bisa terselamatkan dari krisis pembubaran ya......"


"Sejak awal krisis seperti itu 'kan memang tidak ada."


Aku langsung menyambar perkataan Sagiri yang sedang berpura-pura menangis haru dengan ekspresi jenaka.


"Eh, Renji...... kenapa kamu cuma menyanggah perkataanku saja, sih......?"


"Soalnya cuma ucapanmu saja yang isinya melantur ke mana-mana."


"Buuu~!"


Pipi putih mulusnya langsung menggembung kesal.


Lagi-lagi, di luar kendaliku, aku malah berpikir kalau dia terlihat sangat menggemaskan.


"Sagirin! Renji! Ini bukan saatnya bagi kalian berdua untuk bermesraan, tahu!"


"Eh, bermesraan?"


"Ini cuma adu mulut biasa, lho?"


"Mereka berdua ini, yang benar saja......"


Yuzuru memberikan teguran salah sasaran yang terasa menggelikan, sementara Hasegawa tampak terperangah kehabisan kata-kata.


Begitulah Perkumpulan Riset Jati Diri, aktivitas kami selalu dimulai dengan suasana yang ramai seperti biasanya. Kami berempat kemudian duduk di kursi yang telah diatur dalam formasi dua kali dua saling berhadapan, dengan posisi aku dan Sagiri duduk berdampingan, serta Hasegawa dan Yuzuru di seberang kami.


"Po-pokoknya! Ini permohonan bantuan, permohonan bantuan! Permohonan bantuan untuk Jibuken!"


Padahal baru saja duduk, Yuzuru kembali menggebrak meja dan langsung berdiri seketika. Jika dibandingkan dengan gebrakan meja Hasegawa tempo hari, suara dan tekanan dari gebrakan Yuzuru ini terdengar jauh lebih menggemaskan.


"Yuzurun, permohonan bantuan itu bukan ditujukan untuk Klub Sukarelawan, 'kan?"


"Benar sekali, Sagirin! Klub Sukarelawan memang punya agenda kegiatannya sendiri saat liburan musim panas nanti, tapi kali ini berbeda! Permohonan bantuan ini ditujukan khusus untuk kita, Perkumpulan Riset Jati Diri!"


Yuzuru melonjak-lonjak di tempatnya sembari bertumpu pada meja dengan penuh semangat. Suasana hatinya benar-benar sedang berada di tingkat kegembiraan yang luar biasa.


Hal ini bisa terjadi karena secara formalitas kelompok kami terdaftar dengan nama Klub Sukarelawan. Namun, identitas asli dari kelompok ini adalah Perkumpulan Riset Jati Diri, sebuah wadah untuk saling berbagi keluh kesah mengenai ketidakstabilan masa pubertas tentang pencarian makna diri, sekaligus tempat untuk mencari jalan agar bisa hidup sebagai diri sendiri yang seutuhnya.


Karena status kegiatannya yang tidak resmi, informasi tentang klub ini hanya bisa tersebar melalui desas-desus dari mulut ke mulut di antara para murid. Itulah alasan mengapa Yuzuru sampai mengangkat kedua tangannya dan luar biasa gembira seperti ini.


"Lalu Yuzurun, siapa orang yang akan datang nanti?"


"Fufufu, kalau yang itu rahasia sampai harinya tiba! Lagipula, Perkumpulan Riset Jati Diri 'kan memang wadah berkumpul bagi orang-orang yang sedang bimbang dengan dirinya sendiri!"


"Harinya? Memangnya bukan hari ini?"


"Hari ini hari Jumat, jadi katanya dia ada jadwal kerja paruh waktu! Karena itu dia baru bisa datang hari Senin depan. Hari Senin depan adalah Hari Laut, jadi walaupun sekolah libur, kita akan tetap mengadakan kegiatan klub!"


"Kalau begitu, artinya besok dan lusa aku tidak bisa bertemu dengan Yuzuru-chan......?"


Hasegawa mendadak langsung dirundung keputusasaan.


"Tapi, itu berarti aku tetap bisa bertemu dengan Yuzuru-chan meskipun di hari libur nasional, jadi ini sebuah keuntungan besar......!"


Namun sedetik kemudian, dia langsung bangkit pulih dengan sendirinya. Benar-benar orang yang sangat sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Kalau begitu, mari kita mulai kegiatan Jibuken hari ini! Ayo kita kejar makna jati diri kita sedalam mungkin, supaya kita tidak memalukan di depan orang yang meminta bantuan minggu depan nanti!"


Tetapi, luapan perasaan yang begitu kentara tersebut sama sekali tidak disadari oleh Yuzuru yang sedang terhanyut dalam kegembiraannya.


"O-Oooooooooohhh!!"


Yah, karena Hasegawa sendiri terlihat bahagia, kurasa ini tidak masalah.


Saat ini, dialah pria berbadan besar yang paling berhasil menerapkan prinsip hidup sebagai dirinya sendiri yang seutuhnya di dalam ruangan ini.


"Hei, hei. Renji, Renji."


"Hm? Ada apa, Sagiri?"


Tidak seperti biasanya, Sagiri sama sekali tidak ikut memeriahkan kehebohan Yuzuru. Entah mengapa dia terus menarik-narik kemeja sekolahku. Namun, karena saat ini dia memanggilku dengan nama 'Renji' dan bukan dengan sebutan 'Sahabat', hatiku kembali merasakan kelonggaran yang biasa kurasakan saat menghabiskan waktu bersama teman masa kecilku.


"Nanti malam...... mau datang ke rumahku tidak?"


Namun, kelonggaran di dalam hatiku itu seketika langsung runtuh berantakan dalam sekejap akibat bisikan dari sahabatku.


『Nanti malam...... mau datang ke rumahku tidak?』

『Nanti malam...... mau datang ke rumahku tidak?』

『Nanti malam...... mau datang ke rumahku tidak?』


Diucapkan kalimat seperti itu tepat di awal kegiatan klub, mana ada remaja laki-laki di masa pubertas yang bisa tetap menjaga ketenangan hatinya?


Aku sangat yakin sekali kalau orang seperti itu tidak akan pernah ada. 


Mengapa? Karena diriku sendiri adalah buktinya. Terlebih lagi, sang pelaku yang mengucapkan kalimat itu terus berada tepat di sampingku sepanjang waktu, membuatku terus merasa waswas dan tidak tenang memikirkan apa lagi yang akan dia katakan atau lakukan setelah ini.


Akibatnya, tanpa disadari aku terus kehilangan fokus dan pikiranku melayang ke mana-mana, melanjutkan kondisi yang kualami sejak pelajaran siang tadi hingga selama kegiatan klub berlangsung. Dan sekarang, aku sedang dalam perjalanan pulang sekolah bersama dengan Sagiri.


——Tanpa pernah tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya.


Aku kembali terperangkap ke dalam pusaran pemikiran ini.


"Eh, up, hap...... to-to-to-tohh?!"


"......Kalau kamu jatuh, aku tidak mau tahu ya."


"Habisnya kamu telat sih mengingatkannya, pelit amat."


"Siapa yang kamu maksud pelit, hah?"


Mungkin ini sedang menjadi tren pribadinya akhir-akhir ini, hari ini pun Sagiri kembali berjalan sembari bermain gim 'jika jatuh dari garis putih maka akan mati', dan dia langsung kehilangan keseimbangannya dengan cepat. Sisi dari dirinya yang benar-benar tidak pernah berubah, selamanya akan tetap seperti itu.


Mungkin ini adalah hal yang wajar, tetapi akhir-akhir ini aku terus dihadapkan pada perubahan besar dari dirinya, sehingga hal itu terus mengusik pikiranku.


Jika mengingat waktu dulu, kami biasanya bisa keluar masuk rumah satu sama lain secara bebas hanya dengan modal menunjukkan muka saja. Namun setelah menjadi murid SMA, dia tiba-tiba saja mulai menciumku secara intens. Apakah ini terjadi hanya karena aku saja yang terlalu berlebihan dalam menanggapinya?


Jika seandainya, ini hanya seandainya, jika ada satu kemungkinan di antara sejuta peluang bahwa aku dan Sagiri adalah sepasang kekasih...... mungkin rasa berdebar-debar ini adalah hal yang wajar bagi sepasang kekasih. Namun, kami berdua bukanlah sepasang kekasih, melainkan sahabat.


Padahal status kami adalah sahabat, tetapi kami sudah berulang kali saling berciuman. Karena itulah, aku terus-menerus dirundung kebimbangan yang mendalam.


"Kamu kenapa? Kok mukanya serius begitu."


"T-Tidak, bukan apa-apa......"


Padahal dulu aku bisa membicarakan apa saja dengan Sagiri, tetapi belakangan ini hal yang tidak bisa kuungkapkan justru semakin bertambah banyak.


Melihat wajah cantiknya yang sedang mendongak dan mengintip ke arahku dari bawah membuat jantungku berdegup kencang, hingga kata-kata yang hendak kuucapkan mendadak tersangkut di tenggorokan.


Hal itu membuktikan betapa kuatnya aku mulai menyadari dan memandang Sagiri sebagai seorang lawan jenis.


"Jangan-jangan, kamu sedang tegang ya?"


"Si-siapa juga yang tegang!"


"Ahaha! Benar, 'kan~!"


Sagiri yang sukses menggoda diriku tertawa dengan riang. Bahkan senyuman yang biasanya terasa menyebalkan bagi diriku pun, sekarang jika kulihat malah membuat jantungku berdebar tidak karuan. 


Penyebab utama yang terus mengacaukan ketenangan hatiku ini tentu saja adalah ciuman itu. Dicium oleh Sagiri kini telah bertransformasi menjadi bagian dari rutinitas keseharianku. Karena itulah, sebuah pemikiran melintas di benakku.


——Hari ini, aku sama sekali belum dicium olehnya.


Meskipun tadi pagi ada aksi tusuk-tusuk pipi gemas, dan saat jam istirahat siang ada aksi saling tatap setelah perang perebutan bekal, tetapi aktivitas ciuman itu sendiri memang belum kami lakukan hari ini.


Berharap untuk dicium dan sampai memikirkan hal semacam itu, membuatku merasa kalau diriku ini mungkin memang sudah benar-benar tidak tertolong lagi.


"Hei, Sagiri......"


"Nn~?"


"Hari ini, tuh......?!"


Tepat saat aku hendak menyuarakannya, aku langsung tersentak sadar. Barusan aku hampir saja menanyakan hal yang benar-benar di luar akal sehat.


——Apakah hari ini kita tidak akan berciuman? begitu maksudnya.


Sahabatku itu menatapku lekat-lekat dengan wajahnya yang menggemaskan, sementara aku sama sekali tidak akan sudi menanyakan hal memalukan seperti itu bahkan meski mulutku sampai robek sekalipun.


"......Ha-hari ini, tidak, maksudku hari ini juga, em...... kamu terlihat cantik."


Oleh karena itu, pada akhirnya aku justru melontarkan kalimat pengalihan yang teramat sangat canggung seperti itu.


"Heh?!"


Akan tetapi, efeknya ternyata luar biasa mutakhir.


Wajah putih mulusnya seketika langsung merona merah padam dalam sekejap, seolah-olah baru saja meledak.


"Te-teri...... ma kasih......"


"O-oh......"


Aku memang berhasil mengalihkan pembicaraan, tetapi reaksi yang dia tunjukkan benar-benar di luar ekspektasiku.


Biasanya dia akan tertawa sembari menggodaku kembali lalu melepaskan serangan balasan yang telak, tetapi khusus hari ini, dia justru memalingkan wajahnya ke arah lain sembari memainkan anak rambutnya dengan jari. Gelagatnya yang tersipu malu itu langsung terhubung dengan kenyataan bahwa setelah ini aku diundang untuk berkunjung ke rumah Sagiri.


Sosok Sagiri yang tampak anggun dan pemalu seperti ini benar-benar merupakan tipe ideal yang paling telak mengenai sasaran di dalam hatiku.


"Kenapa...... kamu baru mengatakannya...... sekarang......?"


Sagiri memutar-mutar rambut putih panjangnya dengan jari. Jika ditanya kenapa baru mengatakannya sekarang, akulah yang sebenarnya paling ingin menanyakan hal itu pada diriku sendiri.


"Ka-kamu sendiri juga terkadang suka mengatakannya, 'kan......"


"Habisnya, Renji juga terlihat manis, sih......"


"Kurasa, hal itu...... sama saja dengan yang kurasakan."


Padahal ini adalah kesempatan emas bagiku untuk memegang kendali atas dirinya, tetapi justru diriku sendirilah yang malah menerima dampak kerusakan paling besar di sini.


"Ya...... be-begitu ya......"


"Oh...... i-iya, benar juga ya......"


Atmosfer apa ini? Suasana canggung macam apa yang sedang menyelimuti kami saat ini?


"Ka-kalau begitu, jalanku ke arah sini......"


"A-aku ke arah sini ya......"


Padahal kami berdua sudah sama-sama tahu akan hal itu. Kami sempat berdiri terpaku sejenak di depan persimpangan jalan yang biasa menjadi tempat kami berpisah.


"A-aku akan menunggumu ya......"


"O-oke, aku mengerti......"


Setelah itu, kami pun berpisah dengan cara yang teramat sangat kaku. 


Setelah berjalan beberapa saat, aku menyempatkan diri untuk melirik ke arah belakang. Mungkin karena langkah kakinya yang gontai, sosok Sagiri sudah tidak terlihat lagi dari pandanganku. Oleh karena itu, aku langsung menarik napas dalam-dalam secara perlahan, lalu—


"Apa-apaan yang sudah kulakukan tadi, sih?!"


—aku berteriak sekencang-kencangnya dengan sekuat tenaga.


Namun tetap saja, hal itu sama sekali tidak mengubah kenyataan bahwa setelah ini aku harus pergi ke rumah Sagiri dalam atmosfer yang canggung ini.


Padahal tujuanku berkunjung ke rumah teman masa kecilku ini hanya untuk sekadar main di malam hari, tetapi entah mengapa aku sampai harus mandi dan menggosok tubuhku hingga tiga kali tanpa alasan yang jelas. Mungkin ini semua karena ini adalah musim panas.


Ya, benar, ini semua salah musim panas. Bukannya karena aku sedang menyimpan suatu harapan yang aneh-aneh, lho ya.


"......Fuuuh...... sial......!"


Jari-jariku tampak gemetaran. 


Padahal aku hanya tinggal menekan tombol interkom di pintu depan rumah yang sudah sangat familier ini, tetapi kondisi mentalku saat ini sedang berada di tingkat ketegangan yang teramat ekstrem.


Di malam musim panas yang gerah ini, keringat dingin yang aneh kembali bercucuran di bawah guyuran cahaya lampu yang menerangi area teras depan rumah.


Tadi aku berpisah dengan Sagiri dalam atmosfer yang aneh. Namun, aku seperti sudah terkena kutukan yang membuatku ingin segera melihat wajahnya kembali.


Begitu aku menekan tombol ini, aku akan bisa bertemu dengan Sagiri.


——Apakah Sagiri juga masih memikirkan kejadian yang tadi?

——Atau, dia sudah kembali bersikap santai seperti biasanya?

——Jangan-jangan, jangan-jangan hanya diriku sendirilah yang terus memikirkan hal ini sejak tadi?

——Namun, jika ternyata tidak seperti itu, apa yang harus kulakukan kalau suasana di antara kami masih tetap canggung?


Imajinasi tidak berguna semacam itu terus lahir dan lenyap secara berulang-ulang di dalam kepalaku.


"............"


Rasanya aku bisa saja terus berdiri terpaku di tempat ini selamanya. Namun, hal itu terasa sangat mencerminkan bagaimana kondisi hubungan antara diriku dan Sagiri saat ini......


"......Ah, sudahlah!"


Sembari menghempaskan segala kegundahan yang telah menumpuk di dalam dada, aku pun menekan tombol interkom tersebut.


Sepanjang belasan tahun aku hidup di dunia ini, kurasa ini adalah cara menekan tombol interkom yang paling membutuhkan kesiapan mental terbesar yang pernah kulakukan.


Ping-Pong...... Ping-Pong...... Ping-Pong


Alunan nada bel rumah yang berubah-ubah secara ritmis terdengar menggema dari dalam rumah.


Tak lama berselang setelah itu, terdengar suara kunci pintu yang dibuka disusul oleh bunyi gagang pintu yang diputar.


"............Halo."


"............Yo."


Sagiri hanya memunculkan wajahnya sedikit dari balik celah pintu.


Entah dia masih memikirkan kejadian tadi atau tidak, reaksinya benar-benar berada di antara keduanya sehingga sulit untuk ditebak.


"......Mau masuk?"


"......'Kan kamu sendiri yang menyuruhku datang."


"Benar juga, sih."


"Hah?!"


Setelah sebuah percakapan singkat yang entah ada gunanya atau tidak itu, Sagiri akhirnya membuka pintu depan rumahnya lebar-lebar. Dan begitu melihat penampilannya, aku refleks menyuarakan keterkejutanku. Dia mengenakan kaus putih longgar yang sudah agak usang seperti biasanya, berpadu dengan celana pendek yang tertutup oleh kaus tersebut. Penampilan dari sahabatku ini benar-benar terlampau minim pertahanan.


Meski pakaian itu sudah sangat biasa kulihat sampai-sampai tidak berlebihan jika dibilang aku sudah bosan melihatnya, bagi diriku yang sekarang, sosoknya itu justru menjadi racun yang sangat mematikan.


"Eh, apa...... ada apa?"


"Kamu ini! Keluar dengan pakaian seperti itu benar-benar terlalu teledor, tahu?!"


"Te-tenang saja, tidak apa-apa kok! Kalau yang datang bukan Renji, aku pasti akan memakai jaket dulu!"


Masalahnya, akunya yang tidak apa-apa! Sejak dulu aku memang sudah tahu kalau baju santainya di rumah selalu berantakan, tapi belakangan ini aku baru saja tidak sengaja melihat bagian dalam dari pakaian usang tersebut.


Sagiri tampaknya juga menyadari hal itu. Dia langsung menutupi bagian dadanya yang longgar dengan kedua tangan. Namun, tindakan defensifnya itu justru malah semakin mengaduk-aduk rasa bersalah yang berkecamuk di dalam dadanya.


"Ya-ya sudah, pokoknya masuk dulu saja......"


"A-aku permisi masuk ya......"


Pintu depan rumah tertutup dengan suara dentuman pelan.


Tentu saja, aroma khas Sagiri langsung tercium olehku. Biar tidak salah paham, maksudku ini adalah aroma rumah Sagiri yang sudah sangat familier bagiku sejak dulu.


"Ke-kenapa kamu sampai bicara sekaku itu sih......?"


"Bi-biar bagaimanapun, kita harus tetap menjaga sopan santun meski sudah akrab, 'kan! Lagipula ini 'kan sudah malam!"


"Padahal di rumah cuma ada aku sendiri, jadi tidak perlu dipikirkan sampai sejauh itu juga tidak apa-apa kok......"


Sembari berkata demikian, Sagiri yang sudah mengenakan sandal rumah mulai melangkah pergi sembari memicu bunyi langkah kaki yang khas di atas lantai kayu koridor. Karena hubungan pertemanan kami yang sudah terjalin selama bertahun-tahun, aku pun memakai sandal rumah yang memang sudah disediakan khusus untukku lalu berjalan mengekor di belakangnya.


......Tunggu dulu, barusan dia bilang kalau di rumah cuma ada dia sendiri?


"Kamu duduk di sofa dulu ya sambil menunggu?"


"Eh, a-ah, oke......"


Pertanyaan yang sempat terlintas di benakku itu langsung terjawab oleh kondisi ruang tengah yang tampak sepi, meskipun hari sudah malam. Tempat itu bukanlah kamar Sagiri yang berada di lantai dua...... melainkan ruang tengah yang terletak di lantai 1.


Tepat di depan pintu masuk, terdapat sebuah meja kayu dengan 4 kursi. Sementara di sisi sebelah kanan, sebuah sofa panjang diletakkan di atas karpet menghadap sebuah meja kaca rendah dan sebuah televisi layar besar berukuran 75 inci.


Alasan mengapa aku bisa tahu persis ukuran televisi tersebut adalah karena Sagiri pernah memamerkannya kepadaku secara berulang-ulang sampai membuatku bosan, sembari berkata bahwa televisi barunya itu berukuran sangat besar.


Dengan jantung yang berdegup kencang tidak karuan, aku pun duduk di ujung sofa rumah teman masa kecilku yang sudah sangat sering kukunjungi ini, dengan sikap yang kaku layaknya seekor kucing yang berada di tempat asing.


Apakah orang tua Sagiri masih belum pulang jam segini?


"Mau minum apa~?"


Suara Sagiri yang terdengar dari arah dapur di bagian dalam terasa menggema dengan sangat jelas di telingaku.


"A-apa saja boleh kok!"


"Jawaban begitu yang sebenarnya paling bikin bingung, tahu~"


Meskipun dia berkata demikian, dalam situasi seperti ini mana mungkin aku bisa merasakan rasa dari minuman yang akan disuguhkan nanti. Padahal kondisi tenggorokanku sendiri saat ini terasa sangat kering. Tubuh manusia memang benar-benar penuh dengan misteri.


Mungkin karena sedang berada di rumahnya sendiri, sikap Sagiri tampak sudah kembali santai seperti biasanya. Namun di sisi lain, diriku sendiri sedang didera ketegangan yang teramat sangat, bahkan aku pun bisa menyadarinya dengan jelas. Lengan yang kuletakkan di atas lutut bahkan sampai gemetaran dengan begitu hebat.


"Nah, ini dia!"


"A-ah, oke......"


Sesuatu diletakkan dengan agak kasar di atas meja kaca rendah, memicu bunyi benturan pelan. Benda itu adalah sebuah minuman berwarna ungu transparan dengan gelembung-gelembung gas yang meletup-letup di permukaannya.


Jus anggur bersoda. Sagiri pasti tidak memiliki maksud terselubung apa pun saat menyuguhkannya. 


Mengapa? Karena dia tahu betul kalau aku sangat menyukai jus anggur. Namun bagi diriku, jus anggur adalah rasa dari ciuman pertama kami.


Hal itu seharusnya juga berlaku sama bagi Sagiri, tetapi dia tampak sama sekali tidak memedulikannya dan langsung mengambil posisi duduk tepat di sampingku.


Dia menaikkan kedua kakinya ke atas sofa, lalu menekuk lututnya dalam posisi duduk memeluk lutut sembari meringkuk, membuat tubuh kami berada dalam posisi yang hampir menempel sepenuhnya......


"............"

"............"


Di dalam gelas, hanya suara letupan dari gelembung sodalah yang terdengar menggema secara berulang-ulang.


"............"

"............"


......Bukankah ini terlalu dekat?


Padahal aku yang sedang tegang ini sudah sengaja mengambil posisi duduk di ujung sofa panjang, lalu kenapa dia malah ikut-ikutan duduk tepat di sebelahku seperti ini?


Bahu kami bahkan saling bersentuhan, atau lebih tepatnya menempel satu sama lain. Aroma yang harum tercium samar dari rambut putih panjangnya yang tampak lembut. Bagian leher kausnya yang longgar membuat pertahanannya benar-benar terbuka, hingga tulang selangkangannya yang indah dapat terlihat dengan jelas olehku......


"......Ka-kamu merasa tegang ya?"


"O-oh?!"


Karena dia tiba-tiba mengajakku berbicara, suaraku sampai refleks melengking tinggi akibat terkejut.


Aku benar-benar bersyukur karena tadi tidak sedang memegang gelas jus yang ada di atas meja untuk mengalihkan rasa tegangku. Jika seandainya aku sedang memegangnya, aku pasti akan terkejut lalu menjatuhkannya, dan hal itu pasti akan memicu kekacauan besar dalam artian yang berbeda.


"T-Ternyata Renji juga bisa merasa tegang ya......"


"Ya-Ya jelas......"


Sembari menyisir anak rambut di samping wajahnya dengan tangan, sepasang mata dengan warna yang lembut itu mendongak menatap ke arahku. Hanya dengan gelagatnya yang seperti itu saja sudah sukses membuat dadaku bergemuruh hebat. Hanya karena Sagiri memalingkan wajahnya ke arahku, pandangan mataku secara otomatis langsung tersedot dan tertuju pada bibirnya yang berwarna merah muda tipis itu.


Aku benar-benar sudah terlihat seperti seekor anjing yang telah selesai dilatih.


"Ka-Kalau begitu...... karena sudah hampir waktunya......"


Dia melepaskan tangannya dari anak rambut di samping wajahnya, membuat rambut panjangnya yang halus tampak terurai jatuh dengan lembut. Tindakan kasual semacam itu pun sudah lebih dari cukup untuk semakin meningkatkan kadar ketegangan di dalam hatiku.


Tanpa disadari, aku sampai menelan ludah secara refleks akibat kondisi ini.


"A-Ayo kita tonton......!"


Sembari berkata demikian, tangannya yang tampak ramping dan mungil itu terulur ke arah alat pengendali jarak jauh yang berada di atas meja, lalu...... hm?


『Penayangan Perdana di Televisi Nasional!』


Sebuah suara dengan volume yang menggelegar tiba-tiba saja berbunyi, menghancurkan atmosfer manis dan asam yang sempat menyelimuti kami berdua dalam sekejap.


『Seluruh Amerika Dibuat Kekeringan Darah! Zombie Panic VS Gadis dari Sumur Terkutuk!!』


Layar televisi besar berukuran 75 inci itu seketika menampilkan segerombolan zombi yang tengah mengepung sebuah sumur yang mendadak muncul di tengah-tengah pusat perbelanjaan di Amerika, lalu......


"Kyaaa?!"


"A-Ah...... oh?"


Terkejut oleh volume suara yang tiba-tiba menggelegar, Sagiri sampai tersentak melonjak, lalu dengan ekspresi yang luar biasa serius langsung memeluk erat bantal sofa yang ada di dekatnya.


『Zombie Panic VS Gadis dari Sumur Terkutuk!!』


Judul film tersebut sekali lagi terpampang jelas di layar televisi besar.


Di titik inilah aku akhirnya baru memahami alasan mengapa Sagiri bersusah payah mengundangku ke rumahnya di saat kondisi rumah sedang kosong melompong seperti ini.



Bermula dari kunjungan rumah yang mendebarkan, kini berlanjut menjadi sesi menonton film yang tidak kalah mendebarkan.


Kondisi jantungku yang terus-menerus dipermainkan oleh sahabatku ini sudah benar-benar babak belur akibat dipaksa berulang kali menerima beban kejut yang tiba-tiba lalu ditenangkan kembali secara bergantian. Namun, sang pelaku utama yang terus mempermainkanku itu, saat ini juga sedang dikuasai oleh situasinya sendiri——


『Aku sudah tidak tahan lagi berada di pusat perbelanjaan gila ini! Aku mau pulang duluan!』


『Tunggu, Jamie! Di luar masih ada gerombolan zombi, tahu?!』


"Awawa......"


『Memangnya kenapa! Hal seperti itu cuma rekayasa belaka! Kalaupun ini cuma buat menakut-nakuti, seleranya benar-benar buruk, ta——』


『Ja-Jamie...... jangan bergerak, ya. Tetap di sana, jangan bergerak sama sekali, oke?!』


『Tolong aku, Tom! Sumurnya! Sumurnya mendadak tumbuh dari lantai dan mau menelanku!』


『Aku mengerti! Aku mengerti, jadi tenanglah! Tidak apa-apa, tenang saja, aku akan menolongmu sekarang......!』


『Tidak bisa, kakiku! Kakiku dicengkeram...... AAAAAAAAARGH?!』


『JAMIEEEEEEEEEE!!』


"Hyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa?!


——dia benar-benar sedang dipermainkan sepenuhnya oleh film horor tersebut.


Sembari mendekap bantal sofa dengan sekuat tenaga, Sagiri menatap layar televisi jumbo 75 inci itu tanpa berkedip dengan raut wajah yang sangat ketakutan.


Sejak dulu Sagiri memang tipe orang yang kesepian, tetapi di saat yang sama dia juga sangat lemah terhadap hal-hal yang berbau mistis atau menakutkan.


Anehnya, rasa penasaran untuk melihat hal-hal menakutkan di dalam dirinya justru sangat kuat. Alhasil, akulah yang selalu menjadi korban untuk diseret ke dalam situasinya.


『Tom! Barikadenya jebol, gerombolan zombinya sepertinya akan merangsek masuk!』


『Diamlah, Kate! Jamie, Jamie baru saja mati, tahu?!』


『Tom! Kalau begini terus kita semua bisa mati!』


『Sial...... ah, sialan! Baik, aku mengerti!!』


"Hooo......!"


Namun, kurasa ini pun bukan hal yang buruk.

Lagipula, aku jadi bisa melihat sisi lain dari sosok Sagiri yang tengah menikmati film ini dengan begitu larut dan antusias.


『GROOOOAAAR!!』


『KYAAAAAAA?!』


『KATEEEEEEEE!!』


"Waaaaaaa?!"


"Uoooooooo?!"


Barikade akhirnya jebol, dan Kate pun habis dilahap oleh gerombolan zombi.

Bersamaan dengan terlemparnya bantal sofa, Sagiri langsung menghambur dan memeluk dadaku erat-erat.


"Ti-Tidak bisa! Aku sudah tidak sanggup lagi!!"


"Te-Te-Te-Tenanglah dulu?!"


Justru diriku sendirilah yang tidak bisa tenang saat ini.


Tunggu, ini tidak benar, 'kan...... ciuman dan pelukan itu adalah dua hal yang berbeda jauh, bukan?! Sosok Sagiri yang sedang larut dalam ketakutan dengan sosok Sagiri yang biasanya juga terasa berbeda, bukan?! Terlebih lagi, kelembutan yang kurasakan saat dia memakai kaus santai seperti ini jelas terasa berbeda jika dibandingkan saat dia mengenakan seragam sekolah!


"......Renji, wangimu enak sekali."


"......A-Aku 'kan tadi habis mandi dulu."


Namun, debaran di dalam dadaku tetap tidak berubah sedikit pun.

Bisa-bisanya orang ini mendadak melontarkan perkataan seperti itu di situasi sekarang.


『KYAAAAA! Jessie tertangkap oleh tangan anak perempuan yang menjulur dari dalam sumur?!』


『Kita lari, Helena!!』


"Hyaaaaaaaaa?!"


"Ooooooooo?!"


Tenanglah, Sagiri! Tenanglah, wahai film! Tenanglah, diriku sendiri!

Sagiri yang awalnya condong ke samping kini langsung bergeser naik dan duduk mengangkang di atas pangkuanku yang sedang bersandar di sofa, lalu mengalungkan kedua tangannya ke belakang leherku.


Kelembutan yang terasa jauh lebih nyaman daripada bantalan sofa kini menempel erat di sekujur tubuhku, membuatku benar-benar terkunci dan tidak bisa menggerakkan badan sama sekali.


"Uuuh, hiks......"


"Ti-Tidak apa-apa...... tidak apa-apa, Sagiri......"


Mungkin aktor yang bermain di dalam film itu juga sedang merasakan gejolak emosi yang sama sepertiku saat ini. Lagipula, sebenarnya bagaimana sih garis hubungan asmara karakter Tom ini......


Jamie, Kate, Jessie, Helena.


Kecuali Tom, semua karakter yang bersamanya di dalam film ini adalah perempuan.


Sembari merasa heran dengan lingkaran pertemanan Tom, aku mengusap kepala Sagiri dengan lembut untuk menenangkannya. Rambutnya selalu terasa halus dan lembut setiap kali kusentuh.


Padahal situasinya sedang seperti ini, atau mungkin justru karena situasinya sedang seperti inilah, pemikiran semacam itu malah melintas di kepalaku. Rasa berdebar yang kurasakan sejak awal kunjungan rumah hingga sesi menonton film ini tampaknya telah tertimbun dan tergantikan sepenuhnya oleh sensasi baru yang kurasakan sekarang.


"......?"


Entah mengapa, di tengah situasi seperti ini, aku malah merasakan suatu kehangatan yang terasa familier. Padahal ini adalah situasi yang aneh, tetapi momen di mana aku harus menenangkan Sagiri yang sedang memelukku erat seperti ini memberikan semacam sensasi dejavu di dalam diriku.


『Fiuh...... Helena, sepertinya kita akhirnya berhasil lolos......』


『Ya, kamu benar, Tom......』


"......Sa-Sagiri! Mereka sudah berhasil lolos, lho!"


"Eh, ah, iya......"


Bahkan di saat aku sedang melamunkan hal itu pun, adegan film terus berjalan maju. Demi menenangkan Sagiri, aku langsung membuang jauh-jauh sisa pemikiran yang sedang berusaha mengingat sesuatu tadi, lalu menyuarakan kata-kata itu untuk mengalihkan perhatiannya.


Di layar televisi, tampak Tom dan karakternya yang lain telah berhasil melarikan diri ke sebuah pondok kecil yang terletak di dalam hutan.


Tentu saja, rasanya akan terlalu sepele jika aku harus melayangkan protes mengenai mengapa tiba-tiba ada hutan di dalam area pusat perbelanjaan. Hanya dengan gerakan Sagiri yang memalingkan wajahnya kembali ke arah televisi, rambut panjangnya yang halus tampak terurai dan mengembuskan aroma yang sangat harum, hingga membuat protes sepele yang sempat terlintas di benakku tadi langsung sirna seketika.


『Helena, kita harus tetap bertahan hidup seperti ini...... mmph?! 』


"——Eh."

"——Lho."


Aku dan Sagiri refleks menyuarakan keterkejutan kami secara bersamaan.


Penyebabnya adalah karena Tom mendadak dicium oleh Helena.


Sebuah ciuman yang teramat tiba-tiba. Adegan ciuman panas yang terpampang jelas di layar lebar berukuran 75 inci itu berlanjut dengan momen di mana Helena langsung mendorong tubuh Tom hingga terbaring di atas ranjang.


『Tom...... aku mencintaimu. Chuu...... aku sangat mencintaimu, Tom...... nnh.』


『Tu-Tunggu dulu, Helena...... kalau sekarang...... nnh...... hah...... ini...... bukan saat yang...... mmph.』


"............"

"............"


Sebuah adegan percintaan dewasa tiba-tiba saja mengalir dari sebuah film aksi horor kelas B.


Aktor tampan berambut pirang dan aktris menawan itu tampak saling memeluk dan bergelung di atas ranjang sembari berulang kali melakukan ciuman yang teramat intim.


Di titik ini, kesadaranku mendadak kembali pulih sepenuhnya, dan aku pun baru menyadari suatu hal.


Saat ini, aku dan Sagiri sedang berada di atas sofa yang sama dalam posisi menempel erat dan saling memeluk satu sama lain. Kondisi kami benar-benar sangat mirip dengan adegan ranjang yang sedang ditayangkan di televisi saat ini.


"...... -Sahabat?"


Sembari memalingkan wajahnya dari layar televisi, Sagiri kini menatap lurus ke arahku dengan wajah yang sudah merah padam.


『Nnh...... He-Helena...... kalau lebih dari ini......』


『Tidak apa-apa, Tom...... tidak ada satu orang pun yang melihat kita......』


Namun, alasan dia memanggilku seperti itu adalah karena tanpa disadari, tanganku sendiri ternyata telah bergerak memeluk balik pinggang ramping Sagiri dengan erat. Ini adalah kali kedua bagi diriku untuk memeluk Sagiri atas inisiatifku sendiri.


Jika dihitung secara saksama, jumlahnya mungkin bisa saja lebih banyak dari itu. Namun, momen yang terekam dengan sangat jelas dan terpatri kuat di dalam ingatanku hanyalah satu kejadian di masa kecil kami dahulu...... sebuah kenangan yang terlampau besar.


『Ta-Tapi...... aku dan kamu adalah teman......』


『Padahal kita sudah berciuman...... kamu masih belum paham juga?』


Dialog dari film horor yang masih terus berputar itu terasa sangat pas dan selaras dengan situasi yang sedang kami hadapi saat ini.


"......Kamu, tidak mau menonton filmnya lagi?"


Namun, kalimat yang meluncur dari mulutku justru merupakan sebuah langkah untuk melarikan diri.


Bahkan di situasi yang sudah sejauh ini pun, mulutku malah tetap menyuarakan kata-kata yang bertolak belakang dengan apa yang sebenarnya sedang kupikirkan.


"Tidak mau......"


Sagiri menggelengkan kepalanya demi merespons pertanyaan keliru yang kulontarkan tadi.


Padahal dia sendiri yang mengajakku untuk menonton, benar-benar gadis yang egois.


Ya, inilah Sagiri yang sebenarnya. Egois, semaunya sendiri, selalu mempermainkan orang lain, tetapi juga selalu memperlihatkan senyuman polos yang menggemaskan kepadaku.


Dia adalah sahabatku yang teramat berharga.


"Aku tidak bisa menontonnya lagi tahu......"


Kini sebuah wajah cantik yang tampak sayu dan dihinggapi rona hangat berada tepat di hadapanku, sembari kedua tangannya mengalung di leherku dan matanya mendongak menatapku lekat-lekat.


Bentuk alisnya yang rapi, bulu matanya yang panjang, sepasang mata dengan warna yang lembut, hidungnya yang mancung, hingga bibirnya yang tampak basah dan segar, semuanya kini berada tepat di depan mataku.


Sosoknya saat ini sepenuhnya menjadi milikku seorang. Ini bukanlah sosok Sagiri di depan layar kaca yang ditujukan untuk konsumsi semua orang, melainkan wajah asli Sagiri yang hanya diketahui oleh diriku seorang.


"......Begitu ya."


Aku sama sekali tidak bisa memikirkan kata-kata keren untuk diucapkan layaknya seorang tokoh utama di dalam film. Satu-satunya hal yang mampu kulakukan hanyalah menarik pinggang rampingnya agar semakin merapat ke arahku.


"............"

"............"


Tidak ada kata-kata yang terucap. 


Di saat seperti ini, apa sebenarnya yang harus kukatakan?


Tepat di saat-saat yang teramat krusial seperti ini, isi kepalaku justru mendadak berubah menjadi putih bersih tanpa coretan. Alhasil, aku hanya bisa terus terpaku menatap wajahnya.


"......Nee, Sahabat."


Dan pada akhirnya, pihak yang selalu memulai pembicaraan terlebih dahulu adalah Sagiri.


Padahal dulu aku sempat sesumbar bahwa aku akan menjadi sosok yang kuat demi bisa melindungi dirinya yang memiliki fisik lemah, tetapi nyatanya dialah yang selalu menggandeng dan menarik tanganku ke mana-mana. Aku pun selalu merasa tenang dan bermanja-manja di dalam kenyamanan tersebut.


"Hari ini, ayo kita lakukan lagi......"


Akan terasa sangat tidak peka jika aku harus memperjelas maksud dari kalimatnya dengan kata 'ciuman'.


Kami sudah berulang kali melakukan aktivitas ciuman itu bersama-sama. Apa yang terjadi hari ini hanyalah babak perpanjangan dari rutinitas yang biasa kami lakukan.


Sebuah kesepakatan tanpa kata. Sebuah hadiah rahasia di antara kami berdua. Sebuah rahasia yang hanya diketahui oleh kami berdua.


Tak peduli seberapa keras aku memilih dan memperindah kata-kata untuk menggambarkan situasi ini, perasaan terdalam yang tersembunyi di balik tindakan kami tetap tidak akan pernah berubah.


Kami berdua sudah melangkah terlalu jauh hingga tiba di suatu tempat yang membuat kami tidak akan bisa kembali lagi. Baik Sagiri maupun diriku...... sama-sama menginginkan hal ini.


Di tempat ini, sudah tidak ada lagi ruang bagi tanda tanya yang berfungsi untuk meminta sebuah persetujuan.


"Sagiri......"


『Helena......』


Aku sama sekali tidak pernah menyangka kalau situasi di dalam film dan kenyataan yang sedang kuhadapi bisa tumpang-tindih dengan begitu pas di tempat ini.


Tampaknya realitas kehidupan memang tidak bisa berjalan dengan mulus layaknya sebuah skenario film. Namun, gangguan sekecil ini sama sekali sudah tidak memiliki kekuatan untuk menghentikan situasi kami yang sudah terlanjur melangkah sejauh ini.


Aku menempelkan telapak tanganku yang bebas ke atas pipi mulus Sagiri.


"Hya!"


Hanya dengan sentuhan itu saja sudah sukses membuat Sagiri menggeliatkan tubuhnya karena merasa geli. Namun, dia sama sekali tidak berniat untuk melarikan diri. Dia justru menyipitkan matanya dan semakin mendekatkan wajahnya ke arahku, persis seperti seekor kucing yang sedang dimanja dan diusap.


Gelagatnya itu terasa teramat sangat menggemaskan dan membuatku jatuh cinta setengah mati.


"......-ッ"


Tindakannya yang terlalu imut itu sempat membuat napas kegembiraanku tersumbat di tenggorokan.


Hal itu membuat dadaku terasa sesak, sekaligus memicu rasa haru yang mendalam di dalam hatiku.


"——Nnh?!"


Sepasang mata dengan warna lembut itu seketika langsung terbelalak lebar karena terkejut.


Penyebabnya adalah karena aku telah bergerak terlebih dahulu untuk mengunci dan membungkam bibir Sagiri atas inisiatifku sendiri.


Suara desahan napas dan lenguhan halus yang sempat lolos barusan bukanlah milikku, melainkan milik Sagiri.


Setelah seharian penuh dipaksa untuk menahan diri, ini adalah satu-satunya kecupan yang kulayangkan karena diriku yang sudah teramat mendambakan sosok sahabatku ini.


Rasa dari ciuman itu terasa sangat mirip dengan jus anggur bersoda yang diletakkan di atas meja.


Sebuah ciuman yang teramat manis, sekaligus memberikan sensasi rangsangan yang begitu kuat.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close