NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nee Shinyuu. Kyou mo Kisu, Shiyokka? V1 Interlude 2

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Interlude 2

"Buku Harian Sagiri Bagian 2"

12 Juli (Selasa)


Hari ini aku, Yakumo Sagiri, kembali menulis buku harian yang sudah menjadi rutinitas harian yang kulakukan. Karena hari ini adalah hari di mana banyak hal terjadi, ada banyak sekali hal yang ingin kutulis!


Benar-benar ada banyak hal yang terjadi, ya, banyak hal......


Pertama, tadi pagi saat aku pergi ke kamarnya untuk membangunkan Renji agar kami bisa pergi ke sekolah lebih cepat, dia yang masih setengah tertidur mendadak memanggilku dengan sebutan "Sacchan".


Padahal seiring kami tumbuh dewasa, tanpa disadari dia sudah tidak pernah memanggilku dengan sebutan itu lagi. Karena dia mengucapkannya secara tiba-tiba, aku benar-benar sangat terkejut sekaligus dibuat berdebar-debar olehnya.


Alhasil, aku sudah tidak bisa menahan diri lagi bahkan sebelum kami berangkat ke sekolah, dan akhirnya aku menciumnya berkali-kali......


Di sekolah, aku juga bertemu lagi dengan Yuzurun setelah sekian lama tidak bersua. Seperti yang sudah kuduga, Yuzurun selalu tampil penuh energi dan menyenangkan, dan hal itu juga ikut membuat Hasegawa-kun menjadi lebih bersemangat. 


Aku pun merasa senang karena rasanya hari-hari kami yang biasa telah kembali. Namun, sekarang aku sudah tidak bisa merasa puas hanya dengan hal itu saja. Sebab, aku sudah terlanjur mengetahui bagaimana rasa dari sebuah ciuman.


Melakukan ciuman dengan Renji di pagi hari saja ternyata masih terasa kurang bagiku. Akhirnya, kami kembali berciuman secara sembunyi-sembunyi di depan ruang klub, berulang kali, berulang kali, dan berulang kali......


Ciuman yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi dari teman-teman rasanya terasa sangat berbeda dari ciuman kami yang biasanya...... rasanya benar-benar luar biasa.



13 Juli (Rabu)


Hari ini pun ada hal membahagiakan yang terjadi.


Begitu tiba di sekolah, Renji memanggilku dengan sebutan "sahabat" atas inisiatifnya sendiri, lalu mengusap kepalaku sembari memujiku imut. Tindakannya itu seolah-olah sedang dipamerkan di hadapan semua orang yang ada di dalam kelas, sehingga membuatku merasa sangat malu...... Namun, jika seandainya di sana tidak ada orang lain, aku rasa aku pasti sudah tidak akan bisa menahan diri untuk langsung menciumnya di tempat itu juga.


Lagipula, Renji sangat jarang menunjukkan pendekatan atau inisiatifnya terlebih dahulu kepadaku. Karena selama ini akulah yang selalu memulai duluan, mengetahui kalau ternyata Renji juga memiliki keinginan yang sama untuk melakukannya membuatku merasa teramat sangat senang!


......Meskipun setelah mengetahui kalau kenyataannya tidak seperti itu, aku sempat merasa agak kesal setelahnya.


Tetapi sebagai gantinya, kami sempat membolos pelajaran bersama-sama. Aku merasa rahasia yang hanya diketahui oleh kami berdua kini semakin bertambah banyak, dan hal itu tetap saja membuatku merasa senang. Namun, ciuman terakhir yang kami lakukan...... di jalan pulang...... padahal seharusnya itu adalah ciuman yang sama seperti biasanya...... tapi entah mengapa rasanya terasa berbeda.


Rasanya seolah-olah aku telah menyatu sepenuhnya dengan Renji...... karena itulah, aku merasa seakan-akan seluruh isi pikiranku telah terbaca dan tembus pandang olehnya. Hal itu membuatku merasa sangat malu...... hingga aku tidak bisa menatap wajahnya, dan aku pun tidak ingin wajahku dilihat olehnya......



14 Juli (Kamis)


Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.


Jika aku merasa malu dan tidak ingin wajahku dilihat olehnya, maka aku tinggal memakai masker saja saat pergi. Aku berhasil memikirkan sebuah rencana yang sangat sempurna.


Jika itu adalah diriku yang dulu, aku pasti akan melilitkan syal tebal berkali-kali di leherku sebagai bentuk perlindungan total yang sia-sia, yang justru malah akan membuatku terkena sengatan panas matahari. Dengan belajar dari kegagalan yang lalu, kini aku telah tumbuh menjadi anak pintar yang bisa berkembang. Ekhem (puji aku).


......Namun ternyata aku gagal.


Kondisi wajahku memang berhasil tersembunyi dengan baik, tetapi aku sama sekali tidak menyangka kalau pandangan mataku justru akan terus-menerus tersedot dan terpaku pada bibir Renji sepanjang waktu.


Bibir milik sahabatku, yang selalu kukecup setiap waktu. Akibat ciuman yang kami lakukan kemarin, bibir itu kini terus mengalihkan perhatianku, menyisakan sebuah sensasi kenikmatan yang rasanya bagikan aliran listrik yang menyengat hebat di dalam kepalaku.


Renji, si pemilik bibir penuh dosa itu, ternyata juga terus-menerus menatap ke arahku sepanjang jam pelajaran...... hal itu sukses membuat jantungku berdebar kencang. Lalu hari ini, karena Yuzurun dan Hasegawa-kun datang terlambat akibat harus mengikuti ujian susulan, kami pun akhirnya hanya tinggal berdua saja di dalam ruang klub.


Jika situasinya sudah seperti itu, mana mungkin aku bisa menahan diri lagi. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kami langsung berciuman. Karena itu, awalnya aku mencoba untuk menahan diri hanya dengan menyentuhnya saja, tetapi lama-kelamaan aku malah menjadi semakin larut dan tidak bisa mengendalikan diri. 


Padahal aku sama sekali tidak mengatakan apa pun, tetapi Renji dengan begitu lembut...... dengan teramat lembut melepaskan maskerku, seolah-olah dia sedang menanggalkan pakaian yang kukenakan.


Tindakannya itu terasa teramat sangat memalukan bagiku. Telapak tangannya yang besar—yang membuatku kembali tersadar kalau dia bagaimanapun adalah seorang laki-laki—menyentuh wajahku...... lalu kami pun saling mengaduk dan mengacak-acak isi rongga mulut satu sama lain dengan begitu intim...... Auhh.


Aku benar-benar telah menjelma menjadi anak yang nakal lagi. Namun, asalkan aku melakukannya bersama dengan Renji, tidak apa-apa 'kan meskipun aku menjadi anak yang nakal?



15 Juli (Jumat)


Renji telah menciumku. Renji telah menciumku. Renji telah menciumku. Renji telah menciumku. Renji telah menciumku. Renji telah menciumku. Renji telah menciumku. Renji telah menciumku. Renji telah menciumku. Renji telah menciumku. Renji telah menciumku. Renji telah menciumku. Renji telah menciumku. Renji telah menciumku. Renji telah menciumku. Renji telah menciumku. Renji telah menciumku. Renji telah menciumku. Renji telah menciumku. Renji telah menciumku!


Secara agresif. Namun di saat yang sama juga terasa begitu lembut, Renji melayangkan kecupan itu kepadaku atas inisiatifnya sendiri......


Dengan telapak tangannya yang besar, dia mendekap pinggangku...... sembari menempelkan tangannya di pipiku, dia mendambakan diriku.


Sebuah ciuman dengan Renji, ciuman dengan teman masa kecilku, ciuman dengan sahabatku, ciuman dengan orang yang paling kucintai. Rasanya benar-benar berbeda jauh jika dibandingkan saat aku yang memulainya sendiri. Kedua lengannya langsung mendekap erat tubuhku yang sempat menegang dan membatu karena terkejut.


Isi kepalaku seketika langsung berubah menjadi putih bersih tanpa coretan. Apakah Renji juga merasakan sensasi yang sama seperti ini saat aku menciumnya untuk pertama kali dulu?


Jika seandainya benar begitu, aku pasti akan merasa sangat senang......


Aduh, aku harus bagaimana sekarang. Aku ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi bersamanya. Aku ingin dia menciumku lebih banyak lagi. Aku ingin kembali didekap di dalam pelukan sepasang lengan itu, dan menerima ciuman yang sedikit menuntut dari sahabat yang paling kucintai itu, sekali lagi......


Aku ingin Renji melakukannya lagi...... lebih banyak, lebih banyak, lebih banyak, dan jauh lebih banyak lagi kepadaku.


——Sama persis seperti saat waktu itu.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close