NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nee Shinyuu. Kyou mo Kisu, Shiyokka? V1 Chapter 3

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 3

Sagiri Ingin Dicium

Aku bermimpi lagi.


Sebuah mimpi masa kecil yang terasa teramat sangat jelas.


『Nee, Ren-kun...... 』


『Ada apa, Sacchan? 』


Aroma higienis—atau mungkin lebih tepat jika disebut aroma khas rumah sakit—tercium di sekitar kami. Aku dan Sagiri kecil sedang duduk di atas kursi ruang tunggu.


Seingatku, waktu itu kondisi kesehatan Sagiri sudah jauh membaik. Meski aku sudah tidak ingat lagi apa alasan pastinya, aku yang merupakan teman masa kecilnya ikut menemani Sagiri pergi ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan.


『Nanti...... aku sudah bisa pergi ke sekolah lagi, 'kan?』


『Tentu saja! Aku sudah tidak sabar!』


Sosok Sagiri kecil kala itu sangat berbeda dengan dirinya yang sekarang; dia tampak begitu pemalu, menundukkan wajahnya sembari memainkan jari dan rambutnya.


Sembari melihat mimpi itu, aku membatin bahwa meskipun kepribadiannya kini telah berubah menjadi jauh lebih ceria, gelagatnya yang unik itu tetap tidak berubah sedikit pun.


『Kalau begitu, Ren-kun tidak akan pergi ke mana-mana, 'kan? 』


『Eh? Tentu saja tidak. Memangnya kenapa?』


『Ha-Habisnya, Ren-kun...... selalu menceritakan hal-hal yang menyenangkan di sekolah...... 』


『Eh? Apa kamu tidak suka?』


『Ti-Tidak benci, kok! Cuma...... 』


Jika dibandingkan dengan sekarang, melihat sosok Sagiri yang tampak panik seperti itu adalah hal yang langka, begitu pula dengan diriku yang bisa bertanya secara blak-blakan tanpa ragu.


Aku tidak bermaksud bicara seperti orang tua yang mengagung-agungkan masa lalu, tetapi aku benar-benar heran mengapa diriku yang dulu bisa bersikap seberani dan seagresif itu.


『Re-Ren-kun...... sepertinya punya banyak teman...... jadi, anu...... 』


『Anu?』


Uwah, diriku yang dulu bahkan sengaja memiringkan kepala demi bisa mengintip wajahnya!


Dia bisa melakukan hal yang hampir mustahil dilakukan oleh diriku yang sekarang dengan begitu tenangnya.


『Re-Ren-kun...... 』


『Iya.』


『A-Apakah...... ada orang yang kamu sukai?』


Aku benar-benar mengingat pertanyaan yang satu ini dengan sangat jelas. Jika tidak, mana mungkin hal ini sampai terbawa ke dalam mimpi. Wajah Sagiri yang menatapku dengan sorot mata penuh kecemasan dan rasa malu, namun tetap berusaha mengumpulkan seluruh keberaniannya, tampak merah padam saat itu. Di dalam ruang tunggu rumah sakit yang didominasi oleh warna putih bersih, sosoknya yang memiliki kulit dan rambut seputih salju akibat penyakitnya itu...... terlihat jauh lebih cantik dari biasanya.


『Iya! Aku suka Sacchan! 』


Guaaaah......?!


Saat mengingat kembali kejadian kala itu dan menyadari bahwa ingatan ini hanyalah sebuah mimpi, diriku yang sekarang langsung menerima hantaman mental yang luar biasa telak.


Kata-kata yang lahir dari kepolosan masa kecil dan ketulusan hati itu kini justru menyiksa diriku sendiri. Aku tidak akan menyebut diriku telah sepenuhnya dewasa, namun apa sebenarnya alasan yang membuatku tidak bisa lagi mengutarakan hal itu seiring berjalannya proses pertumbuhanku?


『Be-Benarkah......? 』


『Iya! Karena itu, kita akan terus bersama-sama bahkan saat di sekolah nanti!』


Sangat berbeda dengan diriku yang sekarang yang selalu dipenuhi banyak pikiran, diriku yang dulu tanpa beban langsung mengacungkan jari kelingkingnya ke depan wajah Sagiri.


『Lagipula, kita 'kan sahabat selamanya!』


『Iya...... kita sahabat selamanya, ya......!』


Ah, begitu ya.


Aku rasa aku mulai sedikit paham mengapa aku mendadak memimpikan hal ini sekarang——



"Nnh......?"


Aku benci pagi hari. Karena di saat seperti ini, seluruh tubuh dan kepalaku selalu terasa berat. Rasanya aku baru saja memimpikan sesuatu, tetapi sebagian besar dari isi mimpi itu kini sudah mengabur dan menjadi samar-samar.


Rasanya mengganjal. Ya, ada perasaan mengganjal yang tertinggal di dalam benakku.


"Haaaaah......"


Aku mengembuskan napas panjang, meluapkan seluruh perasaan mengganjal itu lewat sebuah helaan napas. Padahal aku adalah tipe orang yang sulit beranjak di pagi hari, tetapi jika ada suatu hal buruk yang terjadi atau saat aku sedang terperosok ke dalam penyesalan mendalam terhadap diri sendiri, ingatan akan hal itu biasanya akan langsung membuat kesadaranku terjaga sepenuhnya dalam sekejap.


Hal yang mendadak melintas di kepalaku adalah kejadian yang masih segar di ingatan, yaitu peristiwa yang terjadi pada minggu lalu.


"Aku...... benar-benar telah melakukannya......"


Aku telah mencium Sagiri.


Ya, sebuah ciuman yang kulayangkan atas inisiatifku sendiri.


Setelah kejadian itu, aku sama sekali tidak bisa mengingat bagaimana kelanjutan plot dari film yang kami tonton. Suasana di antara kami mendadak berubah menjadi canggung, kami berdua menjadi sangat irit bicara, hingga tanpa terasa orang tua Sagiri sudah pulang ke rumah. Setelah menyampaikan salam, kami pun berpisah begitu saja tanpa disadari. Jika seandainya aku bisa bersikap sedikit lebih jujur seperti diriku saat masih kecil dulu, apakah hasilnya akan menjadi sedikit berbeda?


Tidak, tindakan menciumnya waktu itu justru merupakan hasil akhir dari diriku yang mencoba untuk bersikap jujur. Namun, dengan ekspresi wajah seperti apa aku harus berhadapan dengannya mulai besok?


"Hah......"


Sembari kembali menghela napas panjang, aku menjatuhkan tubuhku dan berbaring lagi di atas ranjang. Meskipun aku terbangun di jam yang sama seperti biasanya, hari ini adalah hari Senin ketiga di bulan Juli.


Hari Laut, yang berarti hari ini adalah hari libur nasional. Rasanya ada suatu hal yang terlupa olehku, tetapi saat ini memikirkan bagaimana cara berinteraksi dengan Sagiri saat kami bertemu nanti jauh lebih krusial untuk diprioritaskan. Dan untuk bisa memikirkan hal itu, tubuhku memerlukan sedikit istirahat.


Aku kembali memejamkan mata di dalam dekapan tempat tidur, mencoba mencari ketenangan sembari memeluk bantal guling yang terasa begitu lembut dan hangat, sembari otakku terus berputar memikirkan langkah antisipasi yang harus kuambil.


......Lho, tunggu sebentar. 


Memangnya aku punya bantal guling seperti ini?


"............"

"............"


Pandangan mataku mendadak bersinggungan langsung dengan sepasang mata jernih berwarna amber yang indah milik...... sang bantal guling. Namun, alasan mengapa hal itu bisa terjadi adalah karena sosok yang berada di dalam tempat tidur dan sedang berada di dalam dekapan kedua lenganku saat ini bukanlah sebuah bantal guling, melainkan Sagiri——


"Se-Selamat, selamat pa, pagi......"


"UOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOAAAHHH?!"


——Sagiri berada di dalam dekapanku. 


Tentu saja, dalam artian saling memeluk.


"Sa-Sagi, Sagi...... Sagirii?!"


"Ah, halo...... ini aku, lho......?"


Akibat terlampau terkejut, aku sampai terjatuh dari atas ranjang. Kata-kata yang meluncur dari mulutku terdengar sengau dan sangat menyedihkan.


Tapi mau bagaimana lagi, 'kan? Mau seberapa dekat pun status kami sebagai teman masa kecil, mendapati diri berada di satu ranjang yang sama saat terbangun—ditambah lagi tanpa sadar aku telah mendekapnya erat—jelas bukan hal yang biasa.


Terlebih jika sosok tersebut adalah orang yang belakangan ini mulai kusadari keberadaannya, maka situasinya akan menjadi jauh lebih......?


"Sagiri?! B-Baju, bajumu?!"


"Eh? Baju...... Hyaaa?!"


Suara menyedihkan bagian kedua. Baik aku maupun Sagiri sama-sama mengeluarkan pekikan yang aneh secara bersamaan.


"Pakaian macam apa yang sedang kamu kenakan itu?!"


Itu adalah sebuah kemeja.


Sagiri saat itu sedang mengenakan kemeja seragam musim panas yang menjadi standar sekolah kami. Namun, seluruh kancingnya telah terlepas hingga bagian depannya terbuka lebar, memamerkan dengan jelas kulit putih mulus dan sepasang asetnya yang besar, yang biasanya tersembunyi di balik pakaian.


Begitu menyadari hal tersebut, Sagiri langsung menarik selimutku dengan cepat untuk menutupi dan menyembunyikan dadanya. Namun, bagaimana ya mengatakannya...... pakaian dalam miliknya dan selimut yang kugunakan ternyata memiliki warna yang persis sama.


Sebagai informasi, aku memang menyukai warna biru muda.


......Tentu saja, ini konteksnya membicarakan warna selimut.


"K-K-K...... Kamu melihatnya......?"


"Kamuflase! Itu warna kamuflase! Aku tidak melihat apa-apa!"


Sagiri melontarkan pertanyaan itu sembari menyembunyikan paruh bawah wajahnya di balik selimutku.


Akibat perpaduan rasa gemas dan panik yang melandaku, aku malah memberikan jawaban yang sama sekali tidak masuk akal.


"Lagipula, kenapa juga kamu bisa ada di dalam kamarku, Sagiri?!"


Di titik ini, kesadaranku akhirnya pulih sepenuhnya dan berhasil bermuara pada sebuah pertanyaan yang sudah semestinya dipertanyakan.


Di luar, langit perlahan-lahan mulai tampak terang. Namun, layar ponselku masih menampilkan waktu pukul setengah enam pagi.


"Habisnya, saat sedang jalan-jalan pagi tadi, aku melihat ibunya Renji sedang yoga di taman. Begitu aku menyapanya, beliau langsung meminjamkan kunci rumah ini kepadaku......"


"Banyak sekali bagian yang harus diprotes dari kalimatmu itu!"


Mulai dari: bukankah ini terlalu pagi untuk jalan-jalan?


Lalu, apakah Ibu benar-benar melakukan hal seperti itu sepagi ini? Kemudian, apa sebenarnya motif Ibu sampai meminjamkan kunci rumah begitu saja seolah tanpa beban?


Dan kamu sendiri, kenapa bisa-bisanya menerima kunci itu secara cuma-cuma lalu masuk begitu saja ke sini......


"Aku akan menjawab semua pertanyaan itu satu per satu nanti. Tetapi Renji-san......"


"Gaya bicara aneh apa lagi itu......"


"......Boleh aku memasang kancing kemejaku sekarang?"


"............"


Aku langsung berbalik memunggunginya tanpa sepatah kata pun.


Mau bagaimana lagi, jika aku menunjukkan reaksi yang aneh di sini, maka aku akan langsung dianggap kalah. Di atas ranjangku, Sagiri kini sedang mengancingkan kembali kemejanya yang sempat terbuka lebar tadi. Jika digambarkan dengan kata-kata, ini benar-benar sebuah situasi yang luar biasa ekstrem. Aku sendiri bahkan masih belum bisa mencerna bagaimana bisa rangkaian peristiwa ini terjadi.


Satu-satunya hal yang kupahami saat ini hanyalah suara gesekan kain seragamnya yang sejak pagi buta sudah sukses merangsang kerja otakku dengan begitu hebatnya.


"Ah, sudah boleh berbalik, kok."


"Padahal, ini adalah kamarku sendiri...... ta, pi......"


Aku mendadak kehilangan kata-kata. 


Begitu berbalik, aku langsung terperangkap dalam kebisuan yang mendalam.


Setelah perkara kemeja, kini beralih ke perkara ranjang. Sagiri yang masih mengenakan seragam musim panas sekolah kini tampak sedang berbaring di atas ranjangku. Sampai di situ, pemandangan yang tersaji sebenarnya masih sama dengan apa yang terjadi beberapa saat lalu. 


Masalah utamanya baru muncul setelahnya. Kali ini, dia benar-benar merebahkan kepalanya di atas bantal milikku, menyelimuti tubuhnya dengan selimutku sembari menahannya menggunakan satu tangan agar sedikit terangkat. Sembari memamerkan siluet tubuhnya yang proporsional di dalam balutan seragam sekolah tersebut, dia menepuk-nepuk ruang kosong yang tersisa di atas ranjangku dengan telapak tangannya.


Tak peduli siapa pun yang melihatnya, tindakan itu hanya akan mengarah pada satu kesimpulan: sebuah ajakan untuk tidur bersama.


"......Apa yang sedang kamu lakukan?"


Namun, isi kepala dari diriku yang baru saja bangun tidur ini menolak untuk mencerna realitas tersebut.


Mungkin karena pemandangan yang terlampau merangsang itu terasa terlalu tidak nyata untuk dianggap sebagai sebuah kenyataan.


"Eh, kamu tidak tidur lagi?"


"Memangnya menurutmu aku bisa tidur dalam kondisi seperti ini?!"


"Tapi 'kan sekarang masih jam setengah enam?"


"Bisa-bisanya mulutmu mengatakan hal seperti itu, ya!"


Jika dihitung dari fakta bahwa dia bangun lebih awal dariku untuk jalan-jalan, bertemu Ibu di taman, lalu pulang untuk berganti pakaian sebelum akhirnya datang ke rumahku, itu berarti Sagiri telah terbangun jauh lebih pagi daripada jam sekarang.


Aku sama sekali tidak menyangka kalau sosok yang melakukan semua rentetan aktivitas itu akan dengan entengnya mengatakan bahwa sekarang masih jam setengah enam pagi.


"Sudahlah, tidak apa-apa. Di luar perkara detail itu, kita 'kan masih punya banyak waktu sebelum berangkat ke sekolah, jadi ayo tidur lagi."


"Ini bukan perkara detail...... Lagipula, sekolah? Hari ini 'kan hari libur?"


"Eh? Tapi 'kan hari ini ada kegiatan klub Jibuken. Itu loh, Yuzurun bilang ada anak yang ingin datang untuk berkonsultasi."


"......Ah."


"Hahahan? Dari ekspresi wajahmu itu, kamu pasti lupa, ya?"


Sagiri mengulum senyum mengejek sembari tetap mempertahankan posisi berbaringnya yang provokatif di atas ranjang untuk memancingku.


Aku benar-benar lupa total. Dan semua kelalaian ini terjadi tidak lain dan tidak bukan adalah akibat dari perkara ciuman yang kulayangkan kepada Sagiri tempo hari.


"Fuaaaah......"


Namun, terlepas dari alasan tersebut, fakta bahwa Sagiri menyelinap masuk ke dalam ranjangku tetap merupakan persoalan yang berbeda. Kendati demikian, gadis yang menyandang predikat sebagai primadona nomor satu di sekolah itu justru tampak melakukan menguap lebar dengan begitu santainya.


Sebuah ekspresi wajah yang terlampau santai, yang pastinya tidak akan pernah dia perlihatkan kepada orang lain.


"......Kamu tidak mau tidur?"


Dia melontarkan pertanyaan itu seolah-olah hal tersebut adalah sebuah kewajaran, padahal tempat yang sedang ditempatinya saat ini adalah ranjang milikku.


"Aah, padahal aku sudah berbaik hati datang ke sini untuk memberi tahu karena mengira Renji pasti lupa dengan jadwal hari ini, lho~"


"Guh......?!"


Entah mengapa dadaku mendadak terasa bergemuruh dan sesak.


Sagiri dengan begitu jitu menusuk tepat di bagian kelemahanku, seolah-olah dia sudah memperhitungkan hal ini sejak awal. Karena kesalahan dalam poin ini sepenuhnya berada di pihakku, aku pun tidak bisa menyanggah apa pun.


"Se-Seragammu...... nanti bisa kusut, lho......"


Aku benar-benar benci pada kelemahanku sendiri karena hanya bisa memikirkan cara serangan balik yang seperti ini.


"Itu 'kan cuma baju, jadi tidak masalah, 'kan?"


Namun, karena level perdebatan kami sudah terlampau jauh berbeda, kalimatku sama sekali tidak memberikan dampak apa pun baginya. Meskipun menyandang predikat sebagai gadis cantik, Sagiri sejak dulu memang selalu luar biasa ceroboh dan santai jika menyangkut perkara pakaian yang dikenakannya.


"......Eh? Ja-Jangan-jangan, maksudmu menyuruhku melepasnya?!"


"Bu-Bukan begitu!"


Sagiri yang mendadak tersadar langsung bergerak menyembunyikan tubuhnya di balik selimut.


"Ha-Habisnya, baru saja aku sudah dilihat oleh Renji!"


"I-Itu 'kan karena kamu sendiri yang membiarkannya terbuka lebar tanpa izin?!"


"T-Tuh, 'kan! Kamu benar-benar melihatnya!!"


"Maaf!"


Di hadapan interogasi jebakan yang mengalir dengan begitu mulusnya ini, aku sama sekali tidak memiliki ruang untuk melarikan diri. Tapi kalau dipikir-pikir, apakah situasi ini sepenuhnya salahku......?


"Sahabatku mesum......"


Namun, begitu kata-kata itu diucapkan olehnya, aku langsung bungkam dan tidak bisa menyanggah apa pun lagi.


Kelemahanku terlalu banyak, sial......


"......Kamu mau tidur, 'kan?"


"......Iya, baiklah."


Sembari menuruti ajakan Sagiri, aku pun melangkah masuk ke dalam ranjang milikku sendiri.


"............"

"............"


Ini hanya perkara berbagi ranjang yang sama dengan seorang sahabat.


......Aku terus menanamkan kalimat itu ke dalam benakku demi menenangkan diri, meski situasinya sendiri sudah benar-benar tidak bisa ditoleransi lagi.


Sepasang remaja SMA laki-laki dan perempuan kini tengah berbaring berdampingan di atas sebuah ranjang berukuran tunggal. Di satu sisi ada sosok yang mengenakan kemeja seragam musim panas dan rok mini, sementara di sisi lain ada sosok yang mengenakan pakaian tidur berupa kaus lengan pendek dan celana pendek. Kombinasi yang sama sekali tidak serasi itu kini berada di atas ranjang yang sama dan bernaung di bawah selimut yang sama.


Di dalam kamarku, di atas ranjangku, aroma manis milik Sagiri kini menyeruak dan bercampur dengan aroma tubuhku sendiri.


Hari ini pun, isi kepalaku rasanya benar-benar akan dibuat gila olehnya.


"......Renji, kamu itu tipe orang yang tidak suka menyalakan AC saat tidur, ya?"


"Ken-Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"


"Habisnya tadi panas sekali......"


......Panas sekali, lalu apa? Apakah kamu ingin mengatakan kalau kamu membiarkan kemeja seragammu terbuka lebar karena merasa kepanasan? Di dalam ranjangku? Di samping diriku yang sedang tertidur? Dengan kondisi tanpa perlindungan dan hanya mengenakan pakaian dalam?


Meski teramat penasaran, mana mungkin aku bisa menanyakan hal sekorektif itu kepadanya.


"......Kamu bodoh, ya."


"Kalau aku tidak bodoh, aku tidak akan meminta Renji mengajariku belajar, tahu."


Vektor kebodohannya benar-benar berbeda. Dia benar-benar telah tumbuh menjadi seorang gadis cantik yang teramat merepotkan.


Tidak, kalau perkara menjadi gadis cantik, dia memang sudah seperti itu sejak dulu, sih.


"Hei, hei."


"......Apa?"


"Hadap ke sini, dong."


"......Ti-Tidak boleh."


Sejak tadi, aku yang berada dalam kondisi ketegangan tingkat tinggi terus memunggungi Sagiri. Pandanganku hanya terpaku menatap kamarku sendiri dari tepi ranjang.


Padahal ini adalah kamar yang sudah sangat familier bagiku, tetapi entah mengapa suasananya terasa begitu asing dan tidak tenang, persis seperti sedang bertamu di rumah orang lain.


"......Muuu."


Sebuah gumaman tidak puas terdengar dari arah belakangku.


"Eiii!"


"Ahh?!"


Sebuah sentuhan yang terasa lembap dan hangat seketika menyebar di sepanjang kakiku.


Sentuhan itu disertai dengan sedikit tekanan yang secara perlahan mulai melilit kakiku. Di balik selimut. Di atas kakiku yang tanpa perlindungan karena hanya mengenakan celana pendek, kaki Sagiri yang terekspos dari balik rok mininya kini mulai melancarkan sebuah invasi.


Terlebih lagi, sebuah sensasi yang terasa besar dan lembut kini mendesak erat ke arah punggungku. Meskipun aku sudah tahu kalau dia mengenakan pakaian dalam dari apa yang kulihat tadi, keberadaan asetnya itu tetap terasa begitu nyata dan teramat lembut.


"Sa-Sagi, Sagirii?!"


"......Tidak apa-apa, 'kan. Kita 'kan sahabat."


Kontras antara diriku yang panik seperti sebelumnya, dengan Sagiri yang entah mengapa terasa berbeda hari ini.


Hari Senin yang merupakan hari terakhir dari libur panjang. Satu-satunya penyebab yang bisa kupikirkan hanyalah perkara ciuman pada hari Jumat kemarin yang berakhir dengan menggantung.


"Tidak boleh, ya?"


"......hmm?!"


Sagiri menelusuri punggungku dengan ujung jarinya. Lagi-lagi, aku mengeluarkan lenguhan suara yang terdengar sangat menyedihkan.


"Padahal, kemarin Renji sendiri yang memulainya duluan, lho?"


"Sagi......"


Dugaanku tentang penyebabnya ternyata benar. Namun, saat ini aku sudah tidak memiliki kemewahan untuk memikirkan hal itu lagi. Jari yang semula menelusuri punggungku kini terlepas, digantikan oleh lengan rampingnya yang merayap maju ke bagian depan...... menuju ke arah dadaku.


Di dalam satu ranjang yang sama. Aku yang telah direnggut kebebasannya dari arah belakang kini sepenuhnya telah beralih fungsi menjadi bantal guling hidup bagi Sagiri.


"Tubuhmu benar-benar tubuh seorang anak laki-laki, ya......"


"Ka-Ka-Ka...... Karena aku memang laki-laki!"


Jawaban yang kulontarkan sama sekali tidak memiliki arti. Sentuhan tangan sahabatku yang meraba dari balik pakaian, sepasang kaki jenjangnya yang mulus yang kini saling melilit lututku, hingga kelembutan dari seluruh eksistensi bernama Sagiri yang mendesak dari arah belakang, benar-benar telah meluluhlantakkan seluruh akal sehatku.


"Nee, Renji?"


"hmmm?!"


Dia berbisik tepat di telingaku dari arah belakang. Bukan memanggilku dengan sebutan sahabat, melainkan langsung menyebut namaku. Apa sebenarnya arti dari perbedaan ini? Hanya Sagiri seorang yang tahu jawabannya.


"Hadap ke sini, dong."


"............Guh."


Pada akhirnya, aku pun menyerah kalah pada untaian kata yang sederhana dan bisikan suara manis yang terus dilayangkannya itu.


Aku rasa tidak akan ada satu pun laki-laki di dunia ini yang mampu bertahan dalam situasi seperti ini. Namun di sisi lain, sebuah ego mendadak terbersit di dalam benakku; aku sama sekali tidak rela jika dia menunjukkan godaan seperti ini kepada laki-laki lain.


"......Selamat pagi."


"......Se-Selamat pagi."


Di atas ranjang, di dalam satu selimut yang sama, itulah kalimat pertama yang terucap saat mata kami saling bertemu.


Padahal sudah cukup banyak waktu berlalu sejak aku terbangun. Tidak, atau mungkin sebenarnya belum lama sama sekali?


Alih-alih rasa peka terhadap waktu yang sudah benar-benar kacau, yang terjadi adalah seluruh isi kepalaku kini telah sepenuhnya dipenuhi oleh hal-hal tentang Sagiri seorang.


"......Wajahmu merah, lho."


"......Ini 'kan karena kamu tiba-tiba masuk ke sini."


"......Yang masuk ke dekapanku 'kan Renji."


Ada saja jawabannya. Teman masa kecilku ini benar-benar tipe orang yang sangat pandai bersilat lidah. Jika dalam situasi seperti ini...... Sagiri biasanya pasti akan mendahuluiku.


"......Tidak apa-apa, 'kan. Kita 'kan sahabat."


“Auh......”


Ya, dia pasti akan berkata begitu. Karena aku sudah bisa menebaknya, maka kali ini biarkan aku yang mengatakannya terlebih dahulu.


"......Iya, tidak apa-apa."


Tampaknya aku pun sudah mulai terpengaruh olehnya.


Tidak, aku sendiri sudah tahu kalau pengaruh itu sebenarnya sudah mulai menyebar sejak minggu lalu. Kekhawatiran mengenai bagaimana cara berinteraksi dengannya mulai minggu ini ternyata sama sekali tidak ada artinya sejak awal. 


Habisnya, tanpa memedulikan semua keragu-raguanku, Sagiri selalu saja datang secara tiba-tiba atas inisiatifnya sendiri. Terlebih lagi, dia bahkan menyelinap masuk ke dalam ranjang tanpa memedulikan kondisi diriku yang sedang tertidur, sehingga sama sekali tidak ada cara bagiku untuk mengantisipasinya.


Ungkapan bahwa "di antara teman dekat pun harus ada etika" benar-benar tidak berlaku di sini.


Tidak, aku justru berpikir bahwa karena status kami sebagai teman dekat pulalah...... dia bisa berada di sini saat ini.


"......Boleh, 'kan?"


Sebuah lampu hijau yang diucapkan dua kali berturut-turut. Namun, frasa "boleh, 'kan" yang kali ini memiliki arti yang sama sekali berbeda, hingga tanganku pun bergerak sendiri tanpa bisa dicegah.


Sembari mengusap rambut putihnya yang halus dan mengalir bak sutra, aku menyentuh pipinya yang terasa hangat. Kulit seputih salju yang begitu halus seolah melekat erat di telapak tanganku itu kini telah merona merah layaknya warna jingga.


"Sagiri......"


Ya, aku memanggil namanya...... lalu mendekatkan wajahku ke wajahnya.


Cklek.


Tepat di saat aku hendak menciumnya——terdengar suara pintu kamar yang terbuka.


"Sagiri-chaaaan! Hari ini ayo sarapan di rumah Bibi sa......"


"............"

"............"


Itu adalah suara Ibu.


Aku dan Sagiri seketika langsung membatu dalam posisi jarak yang hampir tanpa celah, sembari melayangkan pandangan ke arah Ibu yang kini tengah berdiri di ambang pintu kamar.


"Ara ara......"


Cklek.


Bersamaan dengan gumaman itu, pintu kamar pun kembali tertutup dengan begitu tenangnya. Aku dan Sagiri hanya bisa saling melempar pandang di dalam satu ranjang yang sama.


"Ara, ara......"


"Jangan meniru ucapan Ibu, dong......"


Wajah kami berdua seketika langsung memerah padam, dan di saat yang bersamaan, kami pun langsung memalingkan wajah ke arah yang berlawanan.



"Ibunya Renji tadi tersenyum lebar sekali, ya......"


"Tolong jangan dibahas lagi......"


Aku menutupi wajahku dengan tangan kiri sembari menengadah menatap langit.


Pada pagi hari di hari libur ini, sinar matahari yang menerangi kawasan perumahan yang tenang ini justru menciptakan pemandangan langit biru khas puncak musim panas yang terasa begitu menyebalkan. Hal yang terlintas di benakku saat ini adalah suasana ruang makan yang terasa bagaikan neraka pagi tadi.


Ibu terus-menerus mengoceh tanpa henti dengan senyuman yang belum pernah kulihat berada di level se-ekstrem itu sebelumnya.


“Kalian berdua ternyata sudah punya hubungan yang seperti itu, ya,” atau “Bibi harus segera menghubungi kediaman Keluarga Yakumo, nih,” atau “Malam ini kita harus memasak nasi sekihan, ya,” atau “Kamu tidak boleh membuat Sagiri menangis, lho,” hingga “Jangan lupa pakai pengaman, ya,” dan lain sebagainya, dan lain sebagainya......


Benar-benar sebuah situasi yang terasa seperti di neraka.


"............"

"............"


Dengan atmosfer kecanggungan yang merebak sepenuhnya, aku dan Sagiri terus melangkah menyusuri jalanan menuju sekolah yang tampak lengang, mungkin karena hari ini adalah hari libur.


Rasa canggung yang sudah mengendap sejak minggu lalu kini semakin bertumpuk akibat insiden di atas ranjang pagi tadi. Poin krusialnya di sini adalah suasananya bukan beralih (tergantikan), melainkan justru semakin bertumpuk.


Fakta bahwa aku yang menciumnya duluan, maupun fakta bahwa kami berdua kepergok oleh Ibu saat hampir berciuman di atas ranjang yang sama, semuanya adalah sebuah kenyataan yang mutlak.


"......Nee, Renji."


Bahu kanan Sagiri mendadak bersandar dan menempel erat di bahu kiriku.


"Ayo gandengan tangan."


Ujung jarinya yang ramping tampak menelusuri punggung tanganku.


"Gandengan tangan?!"


Padahal kami sudah berkali-kali berciuman, tetapi mengapa hanya karena perkara bergandengan tangan saja rasa tegang yang aneh ini langsung menjalar ke seluruh tubuhku?


"Ayo, tangan......"


"Uwoh......"


Sebuah lenguhan aneh kembali lolos dari mulutku.


Mau bagaimana lagi, Sagiri langsung meraih dan menggenggam tangan kananku tanpa menunggu jawaban dariku, jadi wajar saja kalau aku sampai mengeluarkan suara yang aneh. Tangan ramping yang membawa kehangatan yang seolah tidak mau kalah dari teriknya cuaca musim panas itu kini telah bertautan erat dengan tangan kiriku dalam sekejap.


Padahal status kami adalah sahabat, tetapi cara bertautan tangan ini benar-benar gaya bertautan tangan sepasang kekasih yang sempurna.


"......Genggam yang erat, dong."


"I-Iya......!"


Remas, remas. Genggam, lepas, genggam, lepas.


Tangan kanan Sagiri yang sedang menggenggam tangan kiriku tampak membuka dan menutup secara berulang kali.


Sensasi geli yang menggelitik celah di antara telapak tangan dan jemari kami mulai menyerang diriku secara intermiten.


"I-Iya, aku mengerti, kok!"


"Ah......"


Karena sudah tidak sanggup lagi menahan rasa geli dan rasa malu yang mendera, aku pun balas menggenggam erat tangan Sagiri. Seketika itu juga, sebuah suara yang terdengar seperti helaan napas kecil lolos dari bibir Sagiri. Sebuah suara yang terasa hangat dan teramat manis.


Akibat hal itu, aku merasa suhu tubuhku mendadak meningkat drastis, dan aku yakin ini semua pastinya bukan semata-mata karena pengaruh dari cuaca musim panas.


"Jantungmu berdebar kencang, ya?"


"Ini 'kan cuma perkara bergandengan tangan saja."


Padahal dulu, bergandengan tangan seperti ini adalah sebuah hal yang biasa bagi kami. Karena aku dan Sagiri, bagaimanapun adalah teman masa kecil.


"Bagaimana kalau ada yang melihat kita lagi seperti tadi?"


"Ini 'kan cuma bergandengan tangan."


Dan sampai sekarang pun, tangan kami masih saling bertautan.


Karena aku dan Sagiri——adalah sahabat.


"Wajahmu merah, lho?"


"Sagiri sendiri juga begitu."


"Kan sekarang musim panas."


"Kalau begitu, aku juga sama."


Saat melewati pinggir taman, terdengar suara derik tonggeret yang tampaknya berasal dari pepohonan di bagian dalam. Suara itu kian memacu atmosfer khas musim panas, membuat hawa terik terasa semakin menyengat.


"............"


"............"


Suara tonggeret itu terasa begitu menggema di sekitar kami.


"......Hanya sampai jalan raya besar, ya."


"......Ehm."


Hari ini pun, cuaca benar-benar sangat panas.



"Yaa, yaa, yaa! Sagirin, Renji, kami sudah menunggu kalian!"


Begitu tiba di sekolah. Kami sampai di ruang klub yang dulunya merupakan bekas gudang, terletak di bagian paling dalam dari gedung sekolah yang luasnya tidak keruan ini.


Saat pintu dibuka, ketua kami di Klub Penelitian Jati Diri—atau yang biasa kami sebut sebagai Klub Sukarelawan—Yuzuru, hari ini pun tampak begitu energik dan memancarkan keimutan layaknya seekor binatang kecil dengan sekuat tenaga.


"Ooooooooooh! Akhirnya kalian datang juga, Yakumo-chan, Akahori! Sebenarnya bagiku agak telat sedikit juga tidak apa-apa, sih! Kalau begitu, aku 'kan jadi bisa punya lebih banyak waktu berdua bersama Yuzuru-chan!"


Di sampingnya, Hasegawa—pria bertubuh layaknya herbivora besar yang menyamar sebagai karnivora—meneriakkan isi hatinya yang jujur tanpa maksud buruk, lengkap dengan senyuman lebar. 


Meskipun niat terselubungnya terlihat sangat jelas, tetapi karena dia terlampau polos, sama sekali tidak ada kesan menyebalkan dari dirinya. Kendati demikian, tampaknya perasaannya itu hari ini pun masih belum tersampaikan kepada Yuzuru.


Hasegawa adalah orang yang jujur dan selalu mengutarakan apa yang dipikirkannya apa adanya. Karakter positif tentang "menjadi diri sendiri" tersebut memberikan pengaruh yang sangat besar, baik dalam artian baik maupun buruk.


"Yaa, yaa, Yuzurun, Hasegawa-kun! Kalian berdua hari ini juga akrab sekali, ya!"


Terpengaruh oleh energi penuh dari mereka berdua, tensi Sagiri pun ikut melonjak drastis. Ke mana perginya sikap malu-malu kucingnya yang tadi?


Baguslah kalau dia tidak bersikap aneh agar tidak memancing kecurigaan yang macam-macam, tetapi melihat perubahannya yang begitu drastis begini, entah mengapa malah memunculkan rasa janggal atau semacamnya di benakku.


"Hehe, benarkah begitu......?"


Pria besar yang polos itu mengusap bagian bawah hidungnya dengan jari karena merasa malu. Tindakan itu sama sekali tidak terlihat imut saat dilakukan oleh seorang laki-laki, tetapi karena dia sendiri tampak sangat senang, mari anggap saja itu hal yang bagus.


"Tidak, kok! Tidak se-ekstrem Sagirin dan Renji!"


Yuzuru menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. Kata-kata itu pasti terucap setelah melihat interaksi antara aku dan Sagiri belakangan ini, tetapi setelah melihat betapa bahagianya Hasegawa tadi, aku jadi merasa agak tidak enak hati. Terlebih lagi, ucapan itu seketika membuatku teringat akan kejadian pagi tadi, hingga jantungku langsung berdegup kencang.


"Ti-Tidak mungkin seperti itu, tahu~?"


Dan hal yang sama rupanya terjadi pada Sagiri. Entah sejak kapan, intonasi bicaranya mendadak berubah menjadi sangat kaku dan tidak natural.


"Hmm? Hmmmmm~?"


......Tolong hentikan, Yuzuru. Jangan memiringkan kepalamu sembari memandangiku dan Sagiri secara bergantian seperti itu. Karena satu-satunya orang yang akan merasa senang dengan gestur se-imut itu hanyalah Hasegawa seorang.


"Apakah terjadi sesuatu lagi di antara kalian berdua?"


Melihat kami berdua yang sudah mandi keringat dingin, Yuzuru langsung melontarkan pertanyaan yang murni didasari rasa penasaran.


Gawat, ini benar-benar gawat.


Sampai mengorbankan nyawa pun, aku tidak akan pernah bisa mengatakan kalau aku telah meleompati topik konsultasi tempo hari dan langsung mencium Sagiri atas inisiatifku sendiri.


"Tidak ada apa-apa, kok?!"


Sagiri secara terang-terangan memalingkan wajahnya, bahkan mulai bersiul dengan sangat payah.


Di mataku, tindakannya itu benar-benar terlihat seperti sedang menggali kuburannya sendiri.


"Benarkah begitu?"


Yuzuru menengadah menatapku dengan binar mata yang teramat murni.


"A-Ah, iya......"


"Oh, begitu ya!"


Dia langsung percaya begitu saja. Aku benar-benar bersyukur atas kepolosan dan kemurnian hati dari ketua Klub Penelitian Jati Diri kami ini.


"Benar juga, ya. Yakumo-chan dan Akahori 'kan memang selalu seperti biasanya."


"Hasegawa. Kamu juga ternyata orang yang baik, ya......"


"Tentu saja, aku 'kan laki-laki yang jantan!"


Terima kasih juga kepada wakil ketua kami yang sama-sama berhati polos. Hanya untuk saat ini, acungan jempolnya yang menyebalkan itu terlihat sangat keren di mataku.


"Omong-omong, bukankah hari ini akan ada klien yang datang?"


Aku sengaja berdeham dengan keras untuk mengalihkan topik pembicaraan secara paksa. Meskipun aku agak terganggu dengan kalimat Hasegawa yang mengatakan bahwa aku dan Sagiri "selalu seperti biasanya", aku merasa akan mendapat masalah besar jika mencoba membahas poin tersebut.


"Benar sekali! Ini adalah permintaan pertama setelah sekian lama untuk Klub Jibuken (Penelitian Jati Diri)!!"


Merespons pertanyaanku, ketua kami langsung melompat-lompat kegirangan.


"Lalu, lalu! Siapa yang akan datang, Yuzuru-chan?!"


Sang wakil ketua, Hasegawa, ikut terbawa suasana dan melakukan lompatan tinggi dengan tubuh raksasanya.


Ya, klub kami yang biasa disebut Klub Sukarelawan ini memang hampir tidak pernah melakukan aktivitas apa pun yang berkaitan dengan nama Klub Penelitian Jati Diri.


"Dia adalah anak yang kalian semua kenal juga, kok! Seharusnya sebentar lagi dia sampai."


"Kami juga mengenalnya?"


Tepat di saat Sagiri melayangkan pertanyaan balik.


Tok, tok.


Terdengar suara ketukan pintu yang samar dari arah luar.


"Tepat waktu! Silakan masuk~!"


Yuzuru menyahut ke arah luar pintu dengan senyuman yang merekah penuh.


Setelah jeda selama beberapa detik, pintu ruangan pun perlahan-lahan terbuka.


"Pe-Permisi......"


Sosok yang melangkah masuk adalah seorang siswi yang sudah sangat familier bagi kami.


"Ah, Hinachin!"


"Ah, Kusakabe-chan!"


"Yaa, yaa, selamat datang, selamat datang! Hina-chan, Klub Penelitian Jati Diri menyambut kedatanganmu!"


Sagiri, Hasegawa, dan Yuzuru secara bergantian menyerukan nama siswi tersebut.


Mendapat serbuan sapaan dari 3 orang sekaligus dalam satu waktu membuat tubuhnya seketika tersentak.


"Ha-Halo...... Na-Nama saya, Kusakabe..... Hina....... Tapi, karena kita berada di kelas yang sama...... kalian pasti...... sudah tahu, 'kan......?"


Dengan sikap yang tampak ketakutan, dia memperkenalkan dirinya seolah-olah ini adalah pertemuan pertama kami.


——Kusakabe Hina.


Seorang siswi yang berada di kelas yang sama dengan kami.


Tinggi badannya tergolong sedikit lebih kecil dari rata-rata siswi pada umumnya; lebih tinggi dari Yuzuru, tetapi lebih pendek dari Sagiri yang memiliki proporsi tubuh bak seorang model. Perawakannya sangat ramping hingga bisa terlihat jelas meski dari balik seragam sekolah, memberikan kesan seorang gadis yang agak kurus.


Poni rambutnya yang panjang menjuntai hingga ke hidung dan menyembunyikan kedua matanya, mencerminkan sosok siswi yang teramat pendiam.


Meskipun berada di kelas yang sama, aku sendiri hampir tidak pernah berinteraksi dengannya.


......Setidaknya, sampai baru-baru ini.


"Tenang saja, semua pembicaraan di sini tidak akan dibocorkan kepada siapa pun! Karena Klub Penelitian Jati Diri ini didirikan justru untuk tujuan itu!"


"Ba-Baik......"


Dengan ragu-ragu, Kusakabe mengalihkan pandangannya dari Yuzuru ke arahku.


Ya. Belakangan ini, entah mengapa dia selalu saja melibatkan diri denganku di setiap ada kesempatan.


"Lalu, lalu, apa yang ingin Hinachin bicarakan?"


"Ah, Yakumo-san...... itu, anu......"


Aku merasa mulai bisa memahami alasan mengapa dia memilih hari libur ini untuk datang kemari.


"Tidak perlu tegang! Klub Jibuken adalah tempat berkumpulnya orang-orang yang sedang galau tentang jati diri mereka, kok!"


"Hya-Hyaaa...... itu, anu......!"


Pihak yang bisa dia jadikan tempat bersandar untuk berkonsultasi sepertinya memang hanya kami seorang. Gadis yang tampak sangat pemalu itu kemudian menarik napas dalam-dalam.


"Sa-Saya juga......! Le-Leher saya! Sa-Saya ingin...... dicekik juga......!"


Dia memekikkan kalimat itu dengan suara lantang yang terdengar sengau.


Mengatakan bahwa dia ingin lehernya dicekik.


Kusakabe Hina. Entah apa yang salah dia pahami, gadis pendiam di kelas kami yang matanya selalu tertutup poni rambut ini tampaknya mengira kalau aku sedang dicekik oleh Sagiri. 



Sebuah wajah baru kini muncul di ruang Klub Penelitian Jati Diri (Jibuken). Meski begitu, karena paruh atas wajahnya tertutup oleh poni rambut yang panjang, aku tidak bisa mengetahui bagaimana ekspresinya saat ini.


"Hya, hya-fwaaa......"


Namun, fakta bahwa dia sedang ketakutan setengah mati terpancar dengan sangat jelas.


Kusakabe, si gadis berponi menutupi mata yang kini duduk dengan manis di salah satu kursi dari jajaran meja yang saling berhadapan dalam formasi dua kali dua, tampak gemetaran persis seperti seekor kucing yang mendadak berada di tempat asing.


Melihatnya membuatku teringat akan perasaanku sendiri saat pertama kali diundang ke rumah Sagiri, sehingga memercikkan sedikit rasa familier di dalam benakku.


"Kalau begitu, mari kita mulai kegiatan Klub Jibuken!"


"Hya-fwa?!"


Yuzuru yang berdiri di samping Kusakabe seketika meneriakkan aba-aba dengan suara yang lantang.


Kombinasi dua gadis bertubuh paling mungil di dalam ruang klub ini benar-benar menunjukkan keseimbangan yang sempurna antara konsep yin dan yang.


Meskipun agak tidak sopan karena dia baru saja datang, keberadaan Kusakabe yang tidak ikut-ikutan bertingkah konyol dan justru memberikan respons serta umpan balik yang bagus di dalam Klub Penelitian Jati Diri yang hanya berisi orang-orang berjiwa bebas ini benar-benar terasa sangat berharga.


"Hina-chan, itu...... kamu ingin lehermu dicekik, 'kan!"


"I-Iya...... Ma-Maafkan saya...... I-Ini aneh...... 'kan, ya......?"


"Sama sekali tidak ada yang aneh! Kalau itu adalah jati dirimu, Kusakabe-chan, kami semua akan mendukungmu dengan sekuat tenaga!"


"Ha-Hahii?!"


Hasegawa berdiri di sisi lain dari Kusakabe, memosisikan gadis itu tepat di tengah-tengah antara dirinya dan Yuzuru.


Tampaknya, bagi Kusakabe yang berada dalam posisi duduk, mendapati seorang pria berbadan raksasa berdiri tepat di sampingnya dan berbicara dengan suara yang menggelegar adalah sebuah hal yang teramat menakutkan.


"Aku sendiri belum pernah dicekik sebelumnya, jadi aku sangat menantikan cerita Hinachin!"


"Ya-Yakumo-saaan......"


Seolah hendak menolong Kusakabe yang kini terjebak di antara ketua dan wakil ketua klub yang memiliki karakter terlampau kuat, Sagiri pun mengambil posisi duduk di meja sebelahnya. Menyusul langkahnya, aku pun ikut melemparkan pelampung penyelamat untuknya.


"Kusakabe, kamu tidak perlu khawatir, kok. Klub Jibuken adalah tempat bagi kita untuk bisa bersikap jujur pada diri sendiri."


"Rekan seorganisasi......"


"Rekan?!"


Seketika itu juga, Kusakabe melayangkan sebuah tatapan mata yang berbinar-binar ke arahku dari balik poni panjangnya.


Apa-apaan sebutan rekan itu......?


"Baiklah, baiklaah! Agar Hina-chan bisa berbicara dengan santai, mari kita mulai dengan memperkenalkan anggota Klub Jibuken terlebih dahulu! Serahkan kepadamu, Rekan Renji!"


"A-Aku?!"


"Kami serahkan kepadamu, Rekan Akahori!"


"Hasegawa, kamu malah ikut-ikutan!"


"Omong-omong, rekan dalam hal apa?"


Ehem!


Umpan maut yang mendadak. Hasegawa ikut memanfaatkan panggilan dari Yuzuru tersebut untuk menjahiliku, sementara hanya Sagiri seorang yang memiringkan kepalanya sembari melemparkan pertanyaan kepadaku.


"......Ah, kurasa Kusakabe juga sudah tahu karena kita berada di kelas yang sama, sih."


Karena situasinya hanya akan menjadi semakin rumit jika aku menjelaskannya di sini, aku pun berdeham dengan keras sebelum akhirnya mulai menjelaskan perihal Klub Penelitian Jati Diri kepada Kusakabe.


"Klub yang kami jalani ini bernama Klub Penelitian Jati Diri. Seperti yang baru saja Kusakabe ceritakan, kami semua pun memiliki beberapa masalah yang tidak bisa diungkapkan kepada orang lain atau memiliki kompleksitas tertentu karena merasa berbeda dari orang kebanyakan. Singkatnya, ini adalah kegiatan untuk menyampaikan bahwa hal semacam itu adalah hal yang wajar dan dimiliki oleh siapa saja, jadi tidak apa-apa. Oleh karena itu, pada dasarnya tidak boleh ada rahasia di antara kami di sini."


Yah, meski nama aslinya adalah Klub Sukarelawan...... dan diriku yang sekarang sebenarnya sedang dipenuhi oleh tumpukan rahasia. Aku merasa sedikit, benar-benar hanya sedikit bersalah di dalam hati.


"Ba-Baik, Rekan......!"


Terlepas dari hal itu, bisakah dia berhenti memanggilku dengan sebutan "rekan"? Namun, karena sepasang manik mata yang bersembunyi di balik poni panjangnya itu tampak berbinar-binar, aku memutuskan untuk tidak memotong antusiasmenya dan langsung beralih memperkenalkan anggota klub yang lain.


"Pertama adalah ketua Klub Penelitian Jati Diri kita, Yuzuru. Karena dia adalah sosok yang mendirikan klub ini, dialah yang paling rumit dalam mengkhawatirkan jati dirinya...... sekaligus yang paling berani menghadapinya. Untuk detailnya, silakan tanyakan langsung kepadanya atau kepada Hasegawa. Kasarnya, kapasitas fisik dan hatinya tidak selaras dengan impian besarnya; singkatnya, dia merasa terganggu dengan tinggi badannya yang mungil dan penampilannya yang terlihat imut."


"O-Oh, begitu ya......!"


"Mohon bantuannya ya, Hina-chan! Renji, nanti ada yang ingin kubicarakan denganmu, lho!"


Aku merasa seperti baru saja mendengar sebuah ancaman yang diucapkan dengan nada yang imut, tetapi mari kita abaikan dan lanjut ke anggota berikutnya.


"Selanjutnya adalah wakil ketua, Hasegawa. Aku tahu kamu mungkin tidak tertarik dengan nama seorang laki-laki, tetapi dia memiliki nama yang sangat maskulin dan selaras dengan perawakan kokoh serta penampilannya yang garang...... yaitu 'Gou'. Namun, kepribadian di dalamnya benar-benar tipe pria pesolek yang santai. Meskipun dia memiliki sisi yang sangat setia, dia diberi atribut yang patat dikasihani karena perasaannya sama sekali tidak pernah dilirik oleh orang yang disukainya. Yah, sederhananya dia adalah tipe pria playboy yang baik, yang tubuhnya saja yang tumbuh menjadi sangat besar sementara hatinya masih tetap seperti anak-anak."


"J-Jadi dia orang yang murni, ya......!"


"Kusakabe-chan, tubuhku memang besar tetapi kamu tidak perlu takut padaku, kok! Akahori, awas kamu nanti, ya!"


Ancaman dari seorang pria bertubuh raksasa benar-benar terasa menakutkan. Dan yang terakhir, adalah Sagiri.


"Dan seperti yang sudah kamu ketahui, dia adalah Sagiri, gadis tercantik di sekolah. Rambut putih panjangnya yang indah bagaikan salju dan kulitnya yang seputih pualam. Sepasang matanya yang memiliki warna pudar yang memesona, bulu matanya yang lentik, alisnya yang tertata rapi, hidungnya yang mancung, serta bibirnya yang berwarna merah muda lembut seolah membawa kehangatan musim semi; dia adalah wanita misterius nan cantik yang penampilannya seolah telah dianugerahi dua atau tiga berkah sekaligus oleh Dewa. Namun, saat kamu berbicara dengannya, dia memiliki kepribadian ramah yang sangat suka bercanda, sebuah celah daya tarik yang bisa membuat siapa saja di dekatnya merasa ceria dan bahagia. Bukan hanya itu, dia juga terkadang menunjukkan sikap malu-malu yang begitu jernih layaknya air lelehan salju yang mengalir dari surga dan bumi, dan sosoknya saat bermanja-manja sembari tertawa dengan polos bagaikan seorang anak kecil benar-benar memancarkan kesegaran layaknya dedaunan hijau yang bertransisi dari musim semi menuju musim panas. Suaranya yang segar khas awal musim panas tetapi mengandung kehangatan yang mendalam di dalamnya adalah jenis suara yang tidak akan pernah bisa dilupakan begitu kamu mendengarnya sekali saja. Bagiku sendiri, julukan sebagai gadis tercantik di sekolah bahkan terasa masih belum cukup untuknya, karena dia sudah berada di level yang layak disebut sebagai gadis tercantik di Jepang, tidak, bahkan gadis tercantik di seluruh dunia——"


"Sud-Sudah cukup, ih!!"


"——Owoh?!"


Padahal kalimat perkenalannya belum selesai, tetapi Sagiri sendiri sudah melesat maju ke arahku dan menghentikan ucapanku secara paksa. Wajahnya benar-benar memerah padam tak keruan.


"K-Klub Penelitian Jati Diri itu 'kan tidak boleh menyembunyikan hal apa pun tentang diri sendiri! Aku bahkan belum menyampaikan setengahnya, lho?!"


"B-Bukan begitu maksudnya, tahu~!! Bukan begitu maksudnya, tahu~!!"


"Hentikan, Sagiri! J-Jangan ditarik! Melar! Dasinya bisa melar, 'kan?!"


Sagiri menarik dasiku lalu mengguncangnya ke atas dan ke bawah dengan sangat keras. Karena posisiku tadi sedang berdiri untuk memperkenalkan anggota klub, aku hampir saja jatuh menubruk Sagiri.


"Wa...... Wah......! Renji, ternyata kamu mengagumi Sagirin sampai se-ekstrem itu......"


"T-Tidak boleh, Yuzuru-chan! Tutup mata, telinga, hidung, dan mulutmu! Kamu bisa ikut hangus terbakar oleh 'Sinar Perayu Teman Masa Kecil Tanpa Pandang Bulu' milik si laki-laki super tidak peka itu!!"


Ini benar-benar sebuah pencemaran nama baik yang keterlaluan.


Yuzuru mengintip ke arahku dari celah jemari kedua tangannya seolah sedang melihat sesuatu yang memalukan, sementara Hasegawa tampak panik layaknya seorang orang tua yang menyembunyikan sesuatu yang tidak layak diperlihatkan kepada anak kecil.


"Hya-fwaaa...... Ka-Kalian berdua ternyata memang punya hubungan yang seperti itu, ya......!"


Hanya Kusakabe seorang yang menatapku dengan binar mata yang tampak seperti sebuah kekaguman.


Padahal aku cuma memperkenalkan Sagiri saja. Meskipun rasa tegang Kusakabe kini telah mencair, tetapi situasi di dalam ruang klub yang sempit ini justru menjadi semakin bising dan gaduh.


Beberapa saat setelah kehebohan insiden tarik-menarik dasi oleh Sagiri yang dipicu oleh perkenalan anggota dariku selesai.


Kami, para anggota Klub Penelitian Jati Diri yang telah kembali tenang, akhirnya mulai memasuki agenda utama dari aktivitas kami.


"Jadi, Hina-chan, arti dari 'ingin dicekik' itu secara spesifiknya seperti apa, sih?"


"Eh, ah...... I-Ini mungkin terdengar seperti cerita yang aneh, tapi......"


"Sama sekali tidak aneh, kok! Klub Jibuken adalah tempat untuk menghadapi jati diri kita sendiri!"


"Ah, iya, anu...... Tindakan mencekik leher mungkin terkesan kasar dan menakutkan bagi orang kebanyakan, tetapi jika dilakukan oleh dua orang yang saling memercayai, tindakan itu akan menjadi sebuah perwujudan cinta yang sangat mendalam, lho......"


"Perwujudan cinta......?! Serius, ternyata mencekik leher itu adalah sebuah bentuk cinta, ya!"


"T-Tindakan itu memang tidak diragukan lagi adalah hal yang berbahaya...... Namun, justru karena berbahaya itulah, kedua belah pihak jadi bisa saling memikirkan satu sama lain dengan sungguh-sungguh. Itu adalah tindakan yang luar biasa......!"


"Saling memikirkan satu sama lain...... Omong-omong, Hinachin tadi bilang ingin dicekik, 'kan?"


"I-Iya......! Sa-Saya ingin leher saya dicekik oleh orang yang ideal bagi saya, sembari dia memikirkan tentang saya seorang......!"


Suara obrolan yang terdengar seru itu menggema di dalam ruang klub yang sempit. Cerita tentang jati diri Kusakabe telah dimulai, dan mereka berempat kini duduk mengitari meja yang disusun saling berhadapan.


Mereka berempat adalah Kusakabe sang klien, Yuzuru sang ketua, Hasegawa sang wakil ketua, dan Sagiri si pembuat suasana menjadi ceria. Sementara aku hanya bisa menyendiri di sudut ruangan sembari memandangi mereka dengan sepi. Karena ruangan ini hanya menyediakan kursi untuk empat orang, kurasa situasi seperti ini sudah menjadi sebuah keniscayaan.


Biasanya dalam situasi seperti ini kami akan menentukan posisi lewat main Janken, tetapi karena aku dianggap terlalu berlebihan dalam memuji Sagiri hingga membuatnya kesal, dia menyuruhku untuk merenungkan perbuatanku di sudut ruangan.


Padahal aku hanya menyampaikan fakta yang sebenarnya, tetapi mengapa Sagiri harus marah, ya?


"Begitu ya, begitu ya! Memang benar, aku pun pasti akan merasa sangat senang jika orang yang kusukai hanya memperhatikan diriku seorang!"


"Yu-Yuzuru-chan?! Benar sekali! Aku juga berpikir begitu! Aku sangat setuju dengarmu!!"


"Hinachin ternyata orang yang sangat romantis, ya!"


"Te-Terima kasih banyak...... Saya tidak menyangka kalau cerita saya akan diterima dengan baik seperti ini......"


Obrolan yang seru dan menyenangkan itu terus berlanjut.


Jika dilihat-lihat, Kusakabe sudah tampak jauh lebih baur dibandingkan saat pertama kali datang tadi. Bagaimanapun juga, bisa mengutarakan cerita yang selama ini disembunyikan dan tidak bisa diungkapkan kepada siapa pun, lalu mendapati cerita itu diterima dengan baik, pastinya adalah sebuah hal yang sangat membahagiakan.


Sebab, hanya untuk menceritakannya saja sudah membutuhkan keberanian yang teramat besar. Karena itulah, aku jadi merasa sedikit iri kepada Kusakabe.


"Ke-Keindahan dari mencekik leher ini...... Rekan pasti memahaminya juga, 'kan!"


"......Eh?"


Tepat di saat aku sedang membatin demikian, Kusakabe mendadak menoleh dan mengarahkan pandangannya kepadaku.


Selaras dengan tindakannya, pandangan ketiga orang lainnya pun seketika ikut tertuju ke arahku.


"Rekan 'kan selalu dicekik menggunakan dasi oleh Yakumo-san di kelas......"


"Eeeh?!"


Sosok yang menjeritkan suara terkejut itu adalah Sagiri yang duduk di sampingnya. Tanpa memedulikan reaksi tersebut, Kusakabe kembali melayangkan tatapan penuh kekaguman ke arahku dari balik poni panjangnya.


"Sa-Saya selalu melihatnya di kelas......! Saat Yakumo-san menarik dasi dan mencekik leher Rekan! M-Melihat hal itu membuat keberanian saya bangkit! Saya sadar kalau sa-saya tidak sendirian! Sa-Saya juga ingin punya pasangan yang bersedia mencekik leher saya seperti Rekan......!!"


"A-Ah~......"


Sosok Sagiri yang biasanya selalu dominan itu kini tampak terpojok. Dia pasti sama sekali tidak menyangka kalau dirinyalah yang menjadi pemicu dari semua ini. Memang benar, setiap kali ada kehebohan di kelas setelah Sagiri berbuat ulah kepadaku dan teman-teman sekelas mulai berdatangan, Kusakabe selalu mendekat ke arahku—bukan ke arah Sagiri—karena dia menganggapku sebagai sesama rekan yang lehernya suka dicekik......


"Re-Renji......"


Dan kali ini, giliran Sagiri yang melemparkan pandangan meminta pertolongan kepadaku.


Melihat sosoknya yang tampak gemetaran dalam skala kecil dengan sepasang mata yang berkaca-kaca membuat jantungku berdegup kencang, terlepas dari situasi membingungkan yang sedang kami hadapi saat ini.


"......Mau aku cekik?"


"Apa-apaan yang kamu katakan itu, bodoh!"


Dengan wajah yang memerah padam, Sagiri membalas ucapanku sembari mengalihkan pandangannya secara bergantian antara aku dan Kusakabe.


"T-T-Tidak boleh! Ka-Kalau saya menyerahkan momen cekikan pertama saya kepada seorang pria, itu...... bisa-bisa saya jadi jatuh cinta kepadanya, lho......!"


Akibat gurauan asal dari Sagiri, Kusakabe yang menanggapinya dengan terlampau serius seketika menjadi sangat panik.


Meski dalam situasi seperti ini, aku berpikir bahwa frasa "menyerahkan momen cekikan pertama" adalah sebuah susunan kalimat yang luar biasa unik.


"Sa-Saya hanya ingin leher saya dicekik oleh orang yang saya sukai!!"


Brak!


Kusakabe berdiri dengan menghentak dari kursinya, meluapkan seluruh isi hatinya dengan sekuat tenaga. Mendengar suaranya yang melengking paling lantang sepanjang hari ini membuat kami semua tercengang hingga mata kami mengerjap heran.


Keheningan sesaat seketika menyelimuti ruang klub yang sempit itu.


"Ma-Maafkan saya......!"


Kusakabe yang tiba-tiba tersadar kembali ke realitas langsung membungkukkan bahunya dan duduk kembali ke kursinya. Bahkan dari balik poni panjangnya pun terlihat jelas kalau wajahnya sudah memerah padam hingga rasanya seolah-olah hampir meledak.


"Fumu, fumu. Fumu, fumu, fumu!"


Di tengah atmosfer yang canggung itu, sosok yang mulai bergerak sembari menempelkan tangan di dagu dan mengangguk-angguk berulang kali adalah sang ketua klub, Yuzuru.


"Artinya, Hina-chan ingin lehernya dicekik oleh orang yang disukainya, dan sekarang sedang mencari seseorang yang bisa menerima diri Hina-chan yang memiliki keinginan seperti itu, 'kan?!"


"Euh...... Ma-Maafkan saya......"


Mendengar rangkuman poin permintaannya itu, Kusakabe mengangguk dengan wajah yang kini menjadi jauh lebih merah dari sebelumnya.


Meskipun kesimpulan dari Yuzuru itu benar, aku merasa kalau Kusakabe sudah hampir mencapai batas ketahanannya.


"Tidak perlu merasa malu, Hina-chan! Sebenarnya, kami semua di sini juga masih pemula dalam hal cekik-mencekik leher ini! Tapi, kami bisa saling berbagi dan menanggung masalah itu bersamamu! Mulai sekarang, Hina-chan adalah bagian dari teman kami!"


"K-Kidou-saaan......"


"Benar sekali, Hinachin! Terima kasih ya sudah mengajari kami banyak hal yang tidak kami ketahui sebelumnya! Emm, kalau aku mungkin tidak bisa memberikan banyak saran, jadi...... Kamu, t-tanyakan saja pada Renji, ya!"


"Ya-Yakumo-san juga......"


"Aku sendiri juga belum begitu paham soal cekik-mencekik leher ini, tapi kalau soal perasaan mendambakan cinta, aku sangat memahaminya! Mari kita sama-sama berjuang di jalan romansa ini!"


"Ha-Hasegawa-san sampai begitu juga......"


Ya, kurasa interaksinya sudah cukup sampai di sini. Karena obrolannya sudah terarah ke tujuan yang bagus, aku pun mengangkat tangan sedikit.


"Bisa minta waktunya sebentar?"


"Re-Rekan......?"


"Rekan Renji, ada apa?"


"Rekan Akahori, apa kamu punya saran?!"


Aku mengabaikan kebiasaan menjahili dari si ketua mungil dan wakil ketua bertubuh raksasa itu. Namun, seolah ingin memberi tahu semua orang yang ada di sini, aku melanjutkan kalimatku.


"Tentu saja aku setuju untuk membantu Kusakabe. Tapi, Kusakabe 'kan punya ritme bicaranya sendiri, jadi kalau kita langsung menyeretnya ke dalam atmosfer obrolan kita yang seperti biasanya, dia pasti akan merasa lelah, 'kan? Karena itu, bagaimana kalau kita istirahat dulu sebentar?"


"Re-Rekan......"


Kusakabe tampak menangkupkan kedua tangannya ke arahku seolah sedang memuja penyelamatnya.


Terlepas dari sikapnya yang cenderung ekstrem, dugaanku tepat kalau dia memang agak memaksakan diri tadi.


"Karena itu, aku akan pergi membelikan minuman. Mau yang seperti biasanya?"


"Horeee! Seperti yang diharapkan dari Rekan Renji!"


"Kamu memang bisa diandalkan, Rekan Akahori!"


"Tentu saja nanti aku akan meminta uang gantinya kepada kalian."


"Yaaaaah?!"


"Apa-apaan itu?!"


Ketua dan wakil ketua yang berkarakter simpel itu langsung memberikan reaksi yang berlebihan.


Karena mereka berdua sama-sama orang yang tulus, hubungan mereka sebenarnya sangat dekat. Hanya saja, sinyal perasaan dari Hasegawa memang terlampau besar.


"Baiklah. Kalau begitu Kusakabe, tanganku tidak akan cukup kalau membawa semuanya sendiri, jadi bisa minta tolong untuk dibantu?"


"Eh, ah, iya! T-Tentu saja!"


Meskipun alasannya adalah untuk beristirahat, situasinya tidak akan berubah jika aku meninggalkan Kusakabe sendirian di tempat ini.


Aku sengaja mengajaknya keluar sebagai alasan agar dia bisa menenangkan diri.


"Sagiri, untukmu yang seperti biasa...... Ju, jus anggur, 'kan?"


Ya, saat hendak bertanya kepada Sagiri pun, aku mendadak kembali menjadi canggung karena terlalu sadar diri. Artinya, di dalam benakku sendiri, jus anggur sudah menjadi sesuatu yang sangat istimewa.


"Ah, iya. Emm, Renji......?"


"Ya?"


Namun, kekhawatiran Sagiri tampaknya terletak pada poin yang berbeda denganku.


"Ka-Kamu tidak boleh mencekiknya, ya?"


"Mana mungkin aku mencekiknya, bodoh!!"


Dengan tatapan penuh cemas, dia menengadah menatapku dari kursinya.


Kira-kira apa yang sedang dicemaskan oleh Sagiri ini......?


"Hya, hya-fwaaa......! Ka-Kalian berdua ternyata memang......!"


Melihat interaksi di antara kami berdua, Kusakabe melayangkan sebuah pandangan bermata binar yang saking kuatnya seolah-olah bisa menembus poni panjangnya sendiri.


Selain untuk beristirahat, kurasa aku juga harus meluruskan kesalahpahaman Kusakabe ini entah bagaimana caranya nanti.


"Maafkan saya, Rekan...... Karena saya, Anda jadi harus repot-repot bersikap perhatian seperti ini......"


Bahkan setelah keluar dari ruang klub, Kusakabe terus berjalan mengekor di belakangku sembari berulang kali membungkukkan kepalanya secara formal.


Meskipun aku mulai terbiasa dipanggil dengan sebutan "Rekan", tetapi karena panggilan itu sendiri didasari oleh sebuah kesalahpahaman, hal ini membuat perasaanku menjadi agak campur aduk.


"Tidak perlu dipikirkan, kok. Aku sendiri juga sering tidak bisa mengikuti ritme obrolan mereka."


"Re-Rekan juga merasakannya?"


"Ya, bahkan bisa dibilang aku merasakannya hampir setiap saat......"


Tensi dan semangat semua orang selalu melonjak drastis setiap kali Klub Jibuken sedang beraktivitas.


Yuzuru adalah yang paling bersemangat demi bisa memimpin kami semua, Hasegawa akan mengerahkan seluruh potensinya sebagai pria bertubuh raksasa demi mengimbangi semangat itu, dan Sagiri sering kali membawa arah obrolan ke tempat yang tidak terduga; pada dasarnya mereka semua bertindak sesuka hati.


"Ta-Tapi jika dilihat-lihat, Anda tampak menikmatinya, ya......"


"Ehm? Habisnya, berada di sana terasa santai, 'kan?"


Bisa bersikap tanpa perlu memedulikan pandangan orang lain adalah hal yang cukup sulit untuk dilakukan. Karena itulah, saat berada di Klub Penelitian Jati Diri, semua orang bisa menjadi diri sendiri dan melakukan apa pun yang mereka sukai. Yah, aku tahu hal ini juga didukung oleh faktor hubungan rasa saling percaya di antara kami, tetapi tidak diragukan lagi kalau aktivitas klub ini memang menyenangkan.


Tentu saja ada banyak momen yang menguras energi, tetapi karena rasa lelah itu adalah jenis kelelahan yang menyenangkan, aku dan Sagiri selalu datang berkumpul di tempat itu.


......Meskipun belakangan ini, situasinya terasa agak berat bagiku karena aku menyimpan terlalu banyak rahasia, sih.


"He-Hebat sekali, ya...... Anda terlihat sangat dewasa, atau bagaimana menyebatkannya ya......"


"Apa yang kamu katakan? Kamu juga hebat tahu, Kusakabe."


"Sa-Saya juga hebat?!"


"Tentu saja. Bukankah kamu sudah mengumpulkan keberanian untuk datang kemari dan menceritakan semuanya?"


"I-Itu karena saya melihat interaksi...... ce-cekikan leher para Rekan di kelas......"


"......Terlepas dari apa pun pemicunya, fakta bahwa kamu bergerak sendiri demi mengubah dirimu itu adalah hal yang luar biasa. Yah, sori kalau kesannya aku bertingkah sok menasihati, sih."


"Re-Rekan......"


Aku mendadak merasa malu sendiri setelah mengucapkan kalimat tersebut. Bisa-bisanya aku mengatakan hal yang terdengar menggelikan begini, ini pasti karena aku merasa terlalu relaks setelah berhasil terbebas dari ruang klub yang membuatku merasa terisolasi tanpa bantuan tadi.


"Ta-Tanpa diduga, hati saya jadi sedikit berdegup kencang karena ucapan Anda tadi......"


"Eh, o-oh......"


Kusakabe terus mengekor di belakangku dengan langkah kecil yang ragu-ragu sembari menangkupkan kedua tangan di depan dadanya.


Eh? Tunggu sebentar. Dalam situasi seperti ini, bagaimana seharusmya aku merespons?


"Ta-Tapi karena Rekan sudah punya Yakumo-san, Anda tidak perlu khawatir ya! Saya ini adalah penganut faksi cinta murni yang radikal, jadi tenang saja......"


"......Faksi cinta murni yang radikal?"


Sebelum logikaku sempat mengejar maksud ucapannya, Kusakabe yang panik langsung melambaikan kedua tangan di depan dadanya untuk meralat perkataannya sendiri.


Memang benar sih kalau aku punya Sagiri...... tapi, tunggu dulu!


"Apa maksudmu dengan kalimat 'aku sudah punya Sagiri' Interogasi?!"


"E-Eeeh......?!"


Aku berbalik sembari meninggikan suaraku, membuat Kusakabe yang mendengarnya langsung tersentak kaget. Akibat refleks terkejutnya itu, langkah kaki Kusakabe terhenti dan dia langsung mundur satu langkah besar ke belakang.


"Me-Mengapa Anda malah terkejut di bagian itu, sih......?"


Namun, Kusakabe tidak menunjukkan rasa takut dan justru memiringkan kepalanya heran.


Tampaknya dia merasa bingung bukan karena kerasnya suaraku, melainkan karena makna dari kata-kataku sendiri.


"Kejadian di kelas bersama Sagiri itu cuma sekadar itu, tahu! Itu hanya kontak fisik biasa sebagai teman masa kecil, a-atau sebagai sahabat! Ya, anggap saja seperti kedekatan di antara dua orang yang sudah saling memahami satu sama lain!"


"H-Haah......?"


Mengapa aku malah mati-matian menyangkal dan membela diri seperti ini? Mungkin itu karena diriku sendiri pun sebenarnya masih belum bisa menerima status hubungan kami yang sekarang ini.


"Tapi, anu......"


Kusakabe menatapku dengan tatapan yang menyiratkan rasa bersalah. Dia melirik sedikit ke arah wajahku, lalu......


"Kalian berdua...... pacaran, 'kan......?"


Dia melontarkan pertanyaan itu dengan nada yang ketakutan setengah mati. Jika pertanyaan ini diajukan beramai-ramai oleh teman-teman sekelas mungkin situasinya masih mendingan, tetapi dalam situasi berdua saja seperti sekarang, ini adalah jenis pertanyaan yang paling sulit untuk kujawab.


"......Tidak."


Aku tidak bisa melakukan apa pun selain menggelengkan kepalaku. Sebab, aku tidak memiliki jawaban yang lebih dari itu.


"Eh, lho? Emm, maafkan saya......"


"Tidak, ini bukan sesuatu yang harus kamu pikirkan, kok......"


Merasa atmosfer di antara kami berubah menjadi canggung, Kusakabe kembali menundukkan kepalanya berulang kali untuk meminta maaf. Namun, ini adalah masalahku sendiri.


Kenyataan bahwa aku tidak bisa menjawab pertanyaannya barusan benar-benar memberikan pukulan yang telak di dalam hatiku.


Sebenarnya aku sudah menyadarinya sejak momen saat aku mencium Sagiri waktu itu. Namun, melalui sudut pandang orang ketiga seperti Kusakabe ini, ada satu hal yang kembali kusadari dengan sangat jelas.


——Aku menyukai Sagiri.


Aku ingin menjadi kekasihnya, bukan lagi sekadar sahabat karibnya. Dan aku berpikir bahwa hubungan yang menggantung tanpa kejelasan seperti ini tidak boleh dibiarkan terus berlanjut. Sedikit demi sedikit, dengan kekuatanku sendiri, aku harus menghadapi Sagiri dan mengubah hubungan ini.


Sama seperti Kusakabe yang sudah mengumpulkan keberaniannya untuk mendatangi Klub Penelitian Jati Diri.


"Anu...... Re-Rekan?"


"......Benar juga. Jika dilihat dari poin bahwa kita sama-sama ingin mengubah diri sendiri, mungkin aku dan kamu memang seorang 'rekan'."


"Eh, ah...... Iya! Terima kasih banyak......!"


Begitu aku mengatakan hal itu dan kembali melangkah, Kusakabe langsung mengikutiku dari belakang dengan raut wajah yang tampak sangat tersentuh.


Alih-alih seorang rekan, aku merasa dia lebih mirip seperti seorang adik kelas yang polos. Ya, semacam tipe teman sekelas yang memiliki atribut adik kelas.


"Berkatmu, aku jadi bisa mengumpulkan sedikit keberanian. Terima kasih, ya."


"Eeeh?! Ke-Keterlaluan kalau Anda sampai berkata seperti itu...... Sa-Saya sama sekali tidak melakukan apa pun...... Hehehe......"


Kusakabe mengibaskan kedua tangannya ke kiri dan ke kanan dengan cepat untuk menyangkal pujianku, tetapi sudut bibirnya tampak tersenyum lebar.


Gadis ini sebenarnya hanyalah seorang gadis penakut yang biasa jika diajak mengobrol, hanya saja dia memang memiliki sebuah kecenderungan kebiasaan yang agak unik.


"Ah, ja-jadi, ada satu hal lagi yang ingin saya tanyakan kepada Rekan......"


"Oh, apa itu? Kalau itu adalah hal yang bisa kujawab, aku akan menjawab apa saja untukmu."


Akhirnya aku bisa memantapkan tekadku demi melangkah maju dalam hubungan dengan Sagiri. Demi membalas budi atas dorongan tak langsung yang membuatku bisa berpikir positif ini, aku pun berbalik menatap Kusakabe dengan sebuah senyuman.


"Ka-Kalau tidak pacaran...... me-mengapa...... kalian...... ber-berciuman......?"


"......Ikut aku sebentar, kamuuuu!!"


"Hyaaa-fwaaaaaaaa?!"


Mendengar pertanyaan yang mendadak meluncur dari mulutnya itu, aku langsung menarik tangan Kusakabe dengan senyum yang masih mengembang di wajahku, lalu menyeretnya masuk ke dalam ruang kelas terdekat.


Setelah membuka pintu dengan memanfaatkan momentum tenaga yang ada, ruangan yang kami masuki ternyata adalah ruang komputer.


Mungkin karena Klub Komputer sedang libur, lampu di dalam ruangan ini dalam kondisi mati dan tidak ada satu orang pun di sana. Hanya ada jajaran komputer yang tertata rapi dengan jarak yang sama di setiap sisinya.


"H-Hiii......! Maafkan saya, maafkan saya, maafkan saya! Saya sama sekali tidak berniat buruk atau bermaksud mengintip! Kejadian waktu itu murni ketidaksengajaan, atau bisa dibilang kecelakaan, atau sebuah insiden di luar kendali yang terpaksa saya lihat......!"


"Ah, m-maaf......!"


Di sudut salah satu meja komputer itu, Kusakabe tampak meringkuk ketakutan setengah mati.


Hal itu wajar saja terjadi karena aku mendadak menarik dan menyeretnya masuk ke dalam ruangan ini secara paksa. Walaupun situasinya mendesak, aku menyadari bahwa aku telah melakukan hal yang keterlaluan kepadanya.


"Tapi...... didorong masuk ke dalam ruangan tanpa penjelasan seperti tadi agak membuat jantung saya sedikit berdegup kencang, sih......"


"O-Oh, begitu ya......"


Kusakabe ini, meskipun penampilannya terlihat penakut, ternyata mental aslinya tergolong cukup tangguh juga.


"Tapi karena Rekan sudah punya Yakumo-san yang sampai ada di tahap berciuman, sebagai penganut faksi cinta murni yang radikal, saya akan berusaha menahan diri agar tidak sampai terjebak di antara kalian berdua meskipun jantung saya sempat berdegup kencang tadi. Lagipula, meskipun kalian tidak pacaran...... eh, tapi kenapa bisa begitu ya......?"


"......Untuk sekarang, mari kita duduk dengan benar dulu."


"Ah, terima kasih banyak......?"


Aku meraih tangan Kusakabe yang sempat terduduk lemas di lantai ruang komputer itu, lalu menariknya dengan lembut untuk mendudukkannya di salah satu kursi mahal yang ada di dekat sana.


Tangan Kusakabe ternyata terasa lebih ramping daripada tangan Sagiri, batin kecilku sembari ikut mengambil posisi duduk di hadapannya.


"......Nah, Kusakabe."


"H-Hyaik?!"


Begitu aku memanggil namanya, dia langsung tersentak kaget dan menegakkan punggungnya dengan tegang. Mungkin rasa gugupku telah menular kepadanya.


"Kamu...... bilang kalau kamu melihat aku dan Sagiri sedang berciuman, 'kan?"


"Ah, auu, emm, etto! Saat Yakumo-san...... pingsan waktu jam pelajaran olahraga hari itu, di ruang UKS...... waktu itu saya juga sedang mengobati luka lecet di kaki saya...... lalu di ruang UKS itu, anu, kalian berdua, di atas ranjang......"


"Su-Sudah cukup...... Aku paham."


"Ah, iya...... Kalau mendengar kalimat yang seperti itu, rasanya saya seperti karakter di film yang bakal dibunuh demi membungkam mulut, ya...... Tapi, k-kalau memang harus dibungkam, setidaknya saya ingin leher saya dicekik saja saat m-membungkamnya......"


Kejadian itu rupanya sudah lama sekali berlalu. Artinya, Kusakabe sudah mengetahui kalau aku dan Sagiri berciuman sejak jauh-jauh hari. Mungkin semuanya sudah terlambat. Tidak, ini sudah pasti terlambat. Tentu saja aku tidak mungkin melakukan hal mengerikan seperti mengabulkan keinginannya untuk dicekik demi membungkam mulutnya, tetapi hal yang harus kulakukan sekarang sudah jelas.


"Aku mohon padamu, Kusakabe! Tolong, jangan beri tahu siapa pun soal masalah ini!"


"Re-Rekan?!"


Aku langsung melakukan Dogeza.


Aku menempelkan dahiku sendiri ke lantai ruang komputer yang terasa licin.


"Eh, ah, t-tolong angkat wajah Anda! Saya tidak menceritakannya kepada siapa pun dan tidak akan memberi tahu siapa-siapa, kok......!"


"A-Apakah itu benar?!"


"I-Iya...... Ha-Habisnya...... saya...... tidak punya teman......"


"......Maafkan aku."


"Melakukan Dogeza setelah mendengar kalimat barusan justru membuat saya makin sakit hati, tahu?!"


Ya, habisnya aku yang bersalah karena telah melukai perasaannya akibat ucapan maafku tadi.


"U-Untuk sekarang, mari kita tenang dulu, ya? Ah, apa Anda mau Dogeza lagi? Apa saya juga harus ikut Dogeza......? Dibandingkan menerima permohonan maaf, melakukan Dogeza rasanya memang lebih mencerminkan jati diri saya, sih......?"


"K-Kamu yang harus tenang, Kusakabe! Tindakan itu malah akan membuat situasinya semakin kacau!"


Melihat seorang laki-laki dan perempuan saling berhadapan dalam posisi Dogeza di dalam ruang komputer pasti akan menjadi sebuah pemandangan yang luar biasa aneh.


Setelah menenangkan Kusakabe yang pola pikirnya mudah sekali melenceng ke arah yang aneh, kami berdua pun kembali duduk di kursi masing-masing.


Hari ini, dimulai sejak aku terbangun di pagi hari dan mendapati Sagiri berada di dalam ranjangku, aku merasa hariku dipenuhi oleh berbagai rentetan peristiwa yang benar-benar menguras energiku secara mental.


"......Kusakabe, ada hal yang ingin kutanyakan padamu."


"Euh, iya."


Euh?


Meskipun aku sempat merasa heran dengan gumaman misterius sebelum dia menjawab tadi, aku tetap memantapkan tekad untuk melanjutkan kalimatku.


"......Menurutmu, apakah sepasang sahabat bisa...... berciuman?"


"Karena saya t-tidak punya teman, hal yang seperti itu agak kurang saya......"


"Maafkan aku......"


"S-Sudah kubilang tidak perlu melakukan Dogeza lagi, 'kan!!"


Kusakabe kembali berteriak dengan lantang. Namun, membiarkannya sampai mengungkit masalah punya teman atau tidak seperti tadi benar-benar membuatku merasa teramat bersalah.


"Sa-Saya rasa sekarang saya bisa memahami maksud ucapan Hasegawa-san yang bilang kalau Anda adalah tipe orang yang 'serius tapi bodoh'......"


"Si bodoh itu pernah mengatakan hal seperti itu tentangku?!"


"Eh, ah, iya. Saya sering menguping pembicaraan Anda saat sedang mengobrol dengan Rekan di kelas......"


"Menguping?!"


"M-Maafkan saya, maafkan saya! Tapi posisi kursi saya 'kan tepat berada di depan kursi Rekan......? Karena Hasegawa-san sering berada di sana, saya jadi tidak bisa duduk di kursi saya sendiri...... Karena itu, Anda tidak boleh melakukan Dogeza lagi, ya?!"


Tepat di saat aku hendak turun dari kursi sekali lagi, Kusakabe langsung menahanku menggunakan tangannya. Tampaknya dalam waktu yang singkat ini, dia sudah mulai bisa membaca pola tindakanku.


Sembari mengingat kembali kalau posisi kursi Kusakabe memang berada tepat di depanku setelah dia mengatakannya barusan, aku membatin bahwa aku harus menegur Hasegawa dengan keras nanti.


"......Kusakabe."


"I-Iya?"


"Maukah kamu mendengarkan cerita tentang hubunganku dan Sagiri......?"


"Sa-Saya rasa tidak akan ada orang yang bisa menolak jika alur obrolannya sudah menjadi seperti ini......"


Kusakabe memberikan jawaban itu dengan nada yang ketakutan, namun......


"Ta-Tapi, dipaksa mendengarkan cerita dalam kondisi kebebasan yang direnggut seperti ini...... anu, rasanya boleh juga, sih......?"


Sudut bibirnya tampak tersenyum sangat lebar. Jangan-jangan, aku secara perlahan justru terus membuka pintu kesenangan baru di dalam dirinya.


"......Jadi, begini ceritanya tentang hubunganku dan Sagiri."


"I-Iya......!"


Dimulai dari titik itu. Aku menceritakan seluruh hubungan yang kujalani bersama Sagiri kepada Kusakabe, termasuk seluruh rentetan peristiwa yang terjadi belakangan ini.


Cerita tentang aku dan Sagiri yang merupakan teman masa kecil.


Cerita tentang Sagiri yang dulunya memiliki tubuh yang lemah dan penyakitan, membuatku selalu menghabiskan waktu untuk terus menemaninya di luar jam sekolah.


Cerita tentang aku yang berjanji akan selalu bersamanya agar Sagiri tidak merasa sedih lagi, hingga kami akhirnya menjadi sahabat karib.


Dan...... cerita tentang bagaimana sahabatku yang keberadaannya sudah kuanggap sebagai sebuah kewajaran itu, menciumku untuk pertama kalinya.


Aku belum pernah menceritakan kisah masa laluku bersama Sagiri dari awal seperti ini kepada siapa pun, dan bagian yang menceritakan tentang ciuman itu terasa sangat memalukan bagiku. Namun, mungkin karena hal itu pulalah. Setelah selesai meluapkan seluruh isi hati dan hal-hal yang selama ini kusimpan sendiri secara rahasia——


"......Terima kasih banyak."


"Eeeh?! Me-Mengapa Anda malah menundukkan kepala kepada saya?!"


——Perasaanku kini terasa menjadi jauh lebih lega.


Meskipun Kusakabe tampak terkejut dengan tindakanku yang tiba-tiba, tetapi bagiku, rasa terima kasih ini bahkan rasanya masih belum cukup untuk membalasnya.


"Re-Rekan, jangan-jangan Anda memiliki kebiasaan aneh yang suka merasa puas setelah memamerkan cerita cinta yang memalukan kepada orang lain, ya......?"


"Mana mungkin aku punya kebiasaan aneh seperti itu! Maksudku, berkat menceritakan hal ini kepadamu, perasaanku jadi terasa jauh lebih tenang......"


"Ah, sa-saya paham! Saya juga merasakan hal yang sama saat berkonsultasi dengan semuanya tadi, rasanya benar-benar melegakan!"


"Ternyata, menceritakan masalah kita kepada orang lain itu memang adalah hal yang penting, ya......"


"I-Iya, benar sekali...... Mengobrol seperti ini...... ternyata adalah hal yang penting, ya......"


Setelah itu, keheningan sempat menyelimuti kami berdua selama beberapa saat.


"......Obrolan yang mirip seperti suasana pelajaran budi pekerti ini sebenarnya apa, sih?"


"......En-Entahlah?"


Kami berdua saling memiringkan kepala heran. Mungkin ini adalah semacam rasa simpati yang hanya bisa dirasakan oleh sesama orang yang baru saja meluapkan seluruh ganjalan di dalam hatinya.


Begitu ya, jadi inilah yang dimaksud dengan sesama "rekan".


"Ka-Kalau begitu...... mengenai masalah yang tadi......"


Tepat di saat aku sedang membatin demikian, Kusakabe tampak mengangkat tangan kanannya sedikit ke atas.


"Artinya...... Rekan dan Yakumo-san adalah teman masa kecil yang sampai berada di tahap sering berciuman. Tetapi, Anda diberi tahu kalau hal itu dilakukan karena kalian adalah sahabat karib, bukan sepasang kekasih. Meski begitu, Anda terlanjur menyadari perasaan cinta Anda dan terus-menerus merasa galau karena hal itu...... apakah pemahaman saya ini sudah benar?"


"......Ya. Aku sendiri pun sebenarnya kurang begitu memahaminya, jadi kurasa kamu hebat sekali, Kusakabe, karena bisa menangkap seluruh situasinya dalam waktu sesingkat ini."


"Dehehee......"


Karena tampaknya tidak terbiasa dipuji, Kusakabe menunjukkan cara tertawa yang terlihat canggung.


"Tapi...... sebenarnya sangat lancang bagi orang yang baru saja muncul seperti saya untuk mengatakan hal ini, sih......"


"Ada apa? Katakan saja tanpa perlu sungkan, 'kan? Lagipula kita sekarang sudah berteman."


"Te-Teman?! T-Tidak, hubungan saya dan Rekan adalah sesama rekan, jadi rasanya terlalu lancang bagi saya jika menganggapnya begitu, tetapi saya akan mengatakannya tanpa ragu."


Kusakabe mengucapkan kalimat itu dengan sangat cepat, lalu mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan.


"Menurut saya, sudah sewajarnya Anda dicium olehnya, lho......?"


Secara mengejutkan, dia berhasil memotong dan meruntuhkan segala kegalauan yang selama ini terus kupendam sendirian, hanya sembari memiringkan kepalanya dengan santai.


Sesi konsultasi rahasia di dalam ruang komputer akhirnya selesai. Aku dan Kusakabe bergegas membeli minuman kaleng di mesin penjual otomatis sesuai dengan jumlah anggota klub sebelum akhirnya kembali ke ruang klub.


Sebab, proses membeli minuman ini sudah memakan waktu yang terlampau lama, sehingga berpotensi menimbulkan kecurigaan yang aneh dari yang lain jika kami tidak bergegas.


"Uggh, ghh...... Apakah dengan begini benar-benar sudah pas, ya?!"


"B-Boleh lebih kencang lagi kok, Yuzuru-chan!!"


"I-Ini adalah bukti cinta di antara mereka berdua, ya......!"


Namun, kecemasanku itu ternyata hanyalah sebuah kekhawatiran yang tak beralasan. 


Di dalam ruang klub Penelitian Jati Diri yang sempit itu. Di atas dua buah meja yang digabungkan saling berhadapan, Hasegawa tampak berbaring terlentang sementara Yuzuru sedang berusaha sekuat tenaga untuk mencekik lehernya yang tebal menggunakan kedua tangan mungilnya. Tepat di samping mereka, Sagiri juga ikut bersorak memberikan dukungan dengan tangan yang mengepal tegang. Semua orang tampak begitu larut di dalam situasi yang kacau tersebut.


"Me-Mengapa kalian malah melakukan hal yang seperti itu di saat kami sedang tidak ada, sih?!"


Kusakabe berteriak dengan lantang dari lubuk hatinya yang terdalam. Tidak diragukan lagi, itu adalah suara paling keras yang pernah dia keluarkan sampai saat ini.


"Ah, Hina-chan, selamat datang kembali! Karena kalian berdua lama sekali kalinya, kami memutuskan untuk mencobanya terlebih dahulu!"


"T-Tidak boleh, tidak boleh! Cara mencekik yang seperti itu bisa menghancurkan jakun dan sangat berbahaya, tahu......!"


"Eh? Benarkah begitu?!"


"Ha-Hasegawa-san juga! Anda tidak boleh meminta cekikan yang lebih kencang lagi padahal tidak memiliki pengetahuan dasar tentang hal ini!"


"Ma-Maaf......"


Alasannya berteriak sekencang itu ternyata karena dia benar-benar merasa marah. Hal ini membuktikan bahwa cekik-mencekik leher bukan hanya sebuah aktivitas yang memiliki teknik mendalam dan berbahaya, tetapi juga merupakan sesuatu yang memang teramat didambakannya.


"Reeenn-jiii?"


"Uwoh?!"


Di saat aku sedang terkesima melihat pemandangan di depanku, Sagiri mendadak bersandar ke tubuhku dari luar arah pandanganku. Karena aku baru saja membicarakan tentang dirinya bersama Kusakabe tadi, keberadaannya kini membuatku menjadi jauh lebih sadar diri daripada biasanya.


"Lama sekali, sih? Apa kamu habis bersenang-senang dengan Hina-chan, ya? Hayooo, hayooo!"


"He-Hentikan, minumannya bisa jatuh! Lagi pula, Sagiri juga jangan memasang wajah tanpa dosa begitu, ikutlah meminta maaf sana!"


Sagiri menyenggol pinggangku menggunakan sikutnya sembari tertawa. Aku tahu kalau semua orang melakukan hal tadi demi berusaha memahami perasaan Kusakabe, tetapi dari sudut pandang Kusakabe yang merupakan seorang penganut ahli dalam urusan cekik-mencekik leher, melakukan tindakan berbahaya seperti itu dengan setengah hati justru terlihat sangat ceroboh dan mengkhawatirkan.


Sembari melirik ke arah Kusakabe yang sedang menjelaskan bahaya tindakan tadi kepada Yuzuru dan Hasegawa dengan gestur tubuh yang sangat ekspresif, Sagiri merebut kaleng jus anggur dari tanganku.


"......Dingin sekali, ya."


"Ehm? Tentu saja, 'kan baru saja dibeli?"


Sagiri bergumam lirih sembari memandangi kaleng jus yang sedang digenggamnya. Berkat tindakan kami yang bergegas kembali tadi, seluruh minuman yang kubawa di dalam pelukanku memang masih terasa sangat dingin.


"Hmm?"


"......Sagiri?"


Entah mengapa Sagiri mengangguk-angguk sendiri, lalu menggeser posisinya mendekat hingga lengan kami saling bersentuhan satu sama lain. Bahkan ketika aku bergeser ke arah meja untuk meletakkan minuman-minuman tersebut, dia tetap mengikutiku dalam diam tanpa jarak.


"Tolong diingat baik-baik, ya?! Meskipun mencekik leher adalah sebuah tindakan yang didasari oleh rasa cinta, tetapi hal itu sangatlah berbahaya sehingga tidak boleh dilakukan hanya untuk sekadar main-main saja!!"


Dan sepanjang waktu hingga kelas bimbingan cekik-mencekik leher yang penuh gairah dari Kusakabe itu berakhir......


"Hmm? Hmm?"


"Sa-Sagiri?"


Sagiri sama sekali tidak mau bergeser dari posisinya yang berada tepat di sampingku. Pada saat kelas bimbingan dari Kusakabe dan aktivitas klub berakhir, matahari di luar ruangan sudah benar-benar mulai tenggelam.


"Semuanya! Terima kasih banyak untuk hari ini......!"


Di depan gerbang sekolah yang tersorot oleh senja. Kusakabe membungkukkan kepalanya sembari melemparkan senyuman kepada kami semua. Karena hanya dia seorang yang bersekolah menggunakan sepeda, dia berkali-kali membungkukkan kepalanya sembari menaiki sepeda jengkinya. Sikapnya yang teramat santun itu seolah benar-benar mencerminkan kepribadian asli seorang Kusakabe.


"Yaaap! Menemukan jati diri itu tidak bisa instan dalam satu hari saja, kok! Jadi, datanglah berkunjung lagi nanti, ya!"


"Apa yang dikatakan Yuzuru-chan itu benar, Kusakabe-chan! Nanti ajari kami lagi cara mencekik leher yang aman, ya!"


Setelah menerima bimbingan tentang "cara mencekik leher yang aman"—sebuah frasa panduan yang pasti akan membuat orang asing memiringkan kepala kebingungan jika mendengarnya—duo kombinasi Yuzuru dan Hasegawa itu kompak mengacungkan jempol mereka secara bersamaan.


Melihat kekompakan sang ketua dan wakil ketua yang sangat serasi itu, Kusakabe tampak merasa senang dan kembali membungkukkan kepalanya berulang kali.


"Re-Rekan juga, mari kita sama-sama berjuang, ya......!"


"Ah, ya......"


Kusakabe mengirimkan sebuah tatapan bermata binar ke arahku dari balik celah poni panjangnya, dengan tingkat semangat yang sangat berbanding terbalik dibandingkan saat dia pertama kali datang ke ruang klub tadi. Namun di sisi lain, aku bisa merasakan tatapan mata Sagiri yang terasa menusuk di sampingku.


Sebab, semenjak kami terburu-buru kembali ke ruang klub setelah aku selesai mengonsultasikan masalahku tentang dirinya kepada Kusakabe, Sagiri terus-menerus menempel di dekatku tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Ka-Kalau begitu, sampai jumpa besok...... Wa, wa-wa-waa?!"


"Hati-hati, lihat ke arah depan!"


Kusakabe yang mengayuh sepeda jengkinya sembari terus menoleh ke belakang untuk membungkuk itu hampir saja terjatuh sebelum akhirnya pergi menjauh untuk pulang.


Meskipun ucapan Sagiri yang menyadari teriakan itu sudah terlambat, Kusakabe tetap mengayuh sepeda jengkinya dengan limbung sembari berulang kali kehilangan keseimbangan, hingga akhirnya punggungnya perlahan mengecil dan menjauh.


"Kalau begitu, Sagirin dan Renji, sampai jumpa lagi, ya!"


"Sampai jumpa besok!"


"Yuzurun dan Hasegawa-kun juga hati-hati di jalan, ya!"


"Sampai jumpa."


Kami pun melambaikan tangan untuk berpisah dengan Yuzuru dan Hasegawa yang pulang menggunakan bus, tepat di halte yang berada tak jauh setelah melewati gerbang sekolah. Karena rumah kami searah dan dekat, aku dan Sagiri berjalan berdampingan untuk pulang.


Kami berbelok dari jalan utama yang menuju ke arah stasiun, masuk ke jalan pintas yang menuju ke area perumahan. Mungkin karena sekolah kami termasuk sekolah unggulan yang cukup terkenal, banyak murid yang datang dari tempat jauh dan hanya sedikit murid yang merupakan warga lokal.


Oleh karena itu, ditambah fakta bahwa hari ini adalah hari libur, praktis hanya aku dan Sagiri saja yang menggunakan jalan ini.


"Hinachin kelihatan senang sekali, ya."


"Ehm? Ah, iya, benar."


Sagiri yang berjalan di sampingku bergumam, dan aku meresponsnya dengan singkat.


Sepanjang waktu saat Kusakabe sedang memberikan kuliah tentang cara mencekik leher, Sagiri terus-menerus menempel di dekatku. Tekanan dalam diam itu, ditambah fakta bahwa aku baru saja kembali menyadari perasaan sukaku kepada Sagiri, membuat debaran jantungku tidak mau berhenti. Kejadian itu masih terekam segar di ingatan, dan sejujurnya sampai sekarang pun jantungku masih berdegup kencang.


"Apakah semua itu berkat bantuan dari sang Rekan, ya~?"


"Aku tidak melakukan apa pun, kok...... Lagipula, jangan ikut-ikutan memanggilku Rekan!"


Sembari berjalan di sampingku, Sagiri sedikit mencondongkan tubuhnya untuk mengintip wajahku. Sepasang mata berwarna amber pucat miliknya yang memantulkan cahaya senja itu terlihat sangat indah.


"Hmm~?"


"......Ada apa dengan ekspresi wajahmu itu?"


Sagiri hanya menatap wajahku sembari tersenyum manis dengan raut yang tampak gembira. Meskipun aku tidak tahu apa arti di balik senyumannya, setidaknya dia tidak terlihat sedang marah.


"Tidak ada apa-apa, kok~"


Sagiri mengalihkan pandangannya dariku, lalu melangkah maju satu langkah besar di depanku.


"Aku cuma berpikir, Renji ternyata lemah ya terhadap tipe anak perempuan yang membuat orang ingin melindunginya!"


Sosoknya yang berbalik sembari tertawa itu tampak tersorot oleh cahaya senja. Rambut putih panjangnya sewarna dengan pendar matahari terbenam, membuatku sempat berpikir apakah ada sosok dewi yang mendadak turun di jalan pintas menuju rumah yang biasa kami lewati ini.


"......Bisa-bisanya kamu berbicara begitu."


Sindiran refleks yang keluar dari mulutku ini sama sekali tidak cukup untuk meredakan debaran kencang di dalam dadaku.


Anak perempuan yang membuat orang ingin melindunginya. Makhluk berstatus teman masa kecil sekaligus sahabat karibku ini benar-benar merepotkan, justru karena dia sangat menyadari kalau dirinyalah sosok yang dimaksud itu.


"Hehe, tentu saja bisa, habisnya mulut ini...... W-Wawa?!"


"Sagiri!!"


Tepat di saat kritis. Sagiri yang berusaha berjalan sembari menghadap ke belakang tiba-tiba kehilangan keseimbangannya dengan drastis. Secara refleks tubuhku langsung bergerak maju dan menyambar tangan rampingnya.


"......Tentu saja orang-orang jadi ingin melindungimu, 'kan?"


Aku langsung menarik tangan ramping itu dan mendekap tubuh Sagiri ke dalam dadaku.


"......Iya. Te-Terima kasih."


Dadaku berdegup dengan sangat kencang. Mungkin itu karena fakta bahwa Sagiri hampir saja terjatuh tadi, atau mungkin juga karena aku sedang memeluk tubuhnya saat ini.


"......Oh."


Setelah memberikan respons singkat, kami berdua pun kembali melangkah secara alami. Agar dia tidak terjatuh lagi, kami berjalan sembari saling menggenggam tangan satu sama lain.


"Saat jalan pulang, kamu tidak memprotesnya, ya."


"Kalau kamu sampai jatuh lagi, itu berbahaya."


Bentuk tautan tangan kami perlahan berubah, dengan jemari yang kini mulai saling menyelingi di antara celah jari satu sama lain.


"............"

"............"


Meskipun hari sudah beranjak malam, suara jangkrik masih terdengar saling bersahutan dengan gigih.


Musim panas baru saja dimulai, dan kami terus berjalan menyusuri jalan pulang yang masih terasa panas ini dengan cara saling bertautan tangan layaknya sepasang kekasih.


"......Hei."


Langkah kaki itu perlahan terhenti tepat di depan taman yang biasa kami datangi.


"......Sa-Sahabat ka——"


"Mau mampir sebentar?"


Sebelum kalimat itu sempat keluar dari mulutnya, aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah Sagiri. Sepasang mata berwarna pucat yang sedang menengadah menatapku itu tampak melebar karena terkejut.


"Hanya sampai hari mulai gelap, ya."


"............Iya."


Sagiri mengangguk pelan sembari menundukkan wajahnya. Aku sengaja menyalahkan cahaya senja atas rona merah yang kini menjalar di telinganya.


Sembari mempererat genggaman tangan kami, kami pun melangkah masuk ke dalam taman yang biasa kami kunjungi. Jika ada orang asing yang melihat pemandangan ini, apakah kami akan terlihat seperti sepasang kekasih di mata mereka? 


Namun kenyataan yang sebenarnya adalah kami bukan sepasang kekasih, melainkan sahabat. 


Meskipun pemikiran yang terdengar seperti sebuah alasan pembelaan diri itu sempat terlintas di benakku, pada akhirnya kami tetap saling bertautan tangan layaknya sepasang kekasih, berjalan bersama layaknya sepasang kekasih, dan kini duduk berdampingan di atas bangku taman yang sunyi hanya berdua saja layaknya sepasang kekasih.


"......Tidak ada siapa-siapa, ya."


"......Benar."


Hanya karena bisikan lirih di sampingku itu saja, dadaku kembali berdegup kencang. Semua ini terjadi karena ulah Sagiri yang terus-menerus mengatakan hal yang memancing perasaan. Dan mungkin situasi di mana tubuh kami saling menempel dengan rapat padahal bangku taman ini berukuran cukup panjang juga ikut andil di dalamnya.


"............"

"............"


Tautan tangan kami kini berada di antara kedua lutut kami yang saling bersentuhan. Kali ini, genggaman tangan itu terasa semakin erat dari sisi Sagiri. Karena itu, aku pun membalas genggamannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Rasa hangat dari suhu tubuh Sagiri serta kelembutan tangannya kini menjalar ke seluruh tangan kiriku.


Padahal menggandeng tangan adalah hal yang sudah biasa kami lakukan sejak kami masih kecil, tetapi entah mengapa saat ini seluruh hatiku benar-benar telah dikuasai oleh rasa gugup yang tak berkesudahan.


"So-Soal kejadian minggu lalu...... Itu......"


Kalimat yang terbata-bata dan terdengar ragu itu mendadak meluncur dari mulut Sagiri. Cara dia membuka topik pembicaraan yang cepat atau lambat memang pasti akan datang itu benar-benar memiliki daya serang yang luar biasa mematikan bagi jantungku.


Kejadian minggu lalu.


Hal itu tidak salah lagi adalah tentang momen saat aku mencium dirinya.


Kejadian tadi pagi memang sempat buyar akibat interupsi mendadak dari Ibu, tetapi hal itu tentu saja bukan sesuatu yang bisa dilupakan begitu saja, baik olehku maupun oleh Sagiri.


——Aku menyukai Sagiri.


Karena itulah, aku sama sekali tidak ingin mengabaikan atau berpura-pura tidak tahu lagi soal perasaan ini.


"A-Ah......"


Hanya dengan mengangguk dan hendak melontarkan kata-kata saja, aku sudah merasakan tenggorokanku menjadi sangat kering.


Saat aku mulai membuka mulutku yang terasa berat, aku mengalihkan pandanganku ke arah Sagiri yang duduk di sampingku.


Tepat pada saat itu, mataku saling bertatapan dengan sepasang mata berwarna amber pucat miliknya yang tampak menatapku dengan penuh kehangatan.


"——"


Seketika itu juga, isi kepalaku langsung menjadi kosong melongpong.


"Ha-Habisnya...... kita 'kan sahabat......"


Kata-kata yang keluar dari mulutku ternyata sama sekali berbeda dengan apa yang sudah kupikirkan sebelumnya.


Tidak, itu salah. Sebab, jauh di dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku tahu betul bahwa kata-kata inilah yang paling dinanti dan akan membuat Sagiri merasa paling bahagia.


"Iya......"


Sagiri tersenyum malu-malu dengan raut wajah yang tampak sangat gembira. Sedemikian rupa hingga bagi kami berdua, kata "sahabat karib" telah menjadi sebuah kata yang teramat istimewa.


"Ehehe...... 'kan kita sahabat......"


Sagiri merebahkan kepalanya dengan lembut di atas pundakku.


Sore hari di bulan Juli.


Di tengah cuaca yang masih terasa panas, lengan baju pendek kami yang bersimbah keringat saling bersentuhan dengan erat. Namun, sama sekali tidak ada rasa tidak nyaman dari sentuhan yang lembut dan hangat tersebut, melainkan rasa nyaman seolah-olah diriku telah menyatu menjadi satu tubuh dengan Sagiri yang kini menguasai seluruh pikiranku.


"Mmm~......"


Tindakannya yang menggosok-gosokkan pipinya di pundakku itu membuatnya terlihat persis seperti seekor kucing yang manja.


Jika menggabungkan sesuatu yang lucu dengan sesuatu yang lucu lainnya akan menghasilkan kombinasi yang terkuat, maka menggabungkan Sagiri yang lucu dengan kucing yang lucu mungkin adalah sebuah kombinasi terkuat dari yang paling kuat.


"A-Apa kamu tidak merasa kepanasan......?"


Oleh karena itu, pertanyaanku yang terlontar saat pikiranku mulai kacau hingga memikirkan hal bodoh seperti tadi menjadi sebuah pertanyaan yang benar-benar salah sasaran.


"Panas, kok?"


Begitu dia membalas pertanyaanku dengan nada yang biasa saja, aku seketika langsung kehilangan kata-kata.


Tidak, mungkin aku hanya sedang terpesona saja saat melihat paras cantiknya dari jarak sedekat ini. Melihat wajah teman masa kecilku yang sudah selalu bersamaku sejak kami masih kanak-kanak.


"Tapi, kamu mau menghangatkanku, 'kan?"


"......Kamu sedang membicarakan kejadian kapan, sih?"


"Kira-kira sekitar dua minggu yang lalu?"


Tampaknya tidak ada istilah kedaluwarsa untuk setiap ucapan yang pernah kulontarkan. Kontradiksi di mana dia memintaku untuk menghangatkannya padahal cuaca sedang panas seperti ini, sepertinya bukan baru pertama kali ini saja terjadi.


Sebab, kami berdua berada di dalam sebuah hubungan yang didasari atas prinsip "berciuman karena kami adalah sahabat karib".


"Ah~ kalau cuacanya dingin, aku bisa masuk angin, nih? Nanti aku bisa-bisa harus kembali menjalani hidup di atas ranjang sendirian dalam kesepian lagi......"


Dia melirikku sekilas. Sosok sahabat bernama Sagiri ini memang selalu sengaja menusuk titik kelemahanku dengan sangat tepat seperti itu.


"Tadi kamu sendiri yang bilang kalau cuacanya panas! Sudah, sini mendekat lagi."


"Waa!"


Dan akulah orang yang selalu bersikap teramat manja dan memanjakannya.


Aku melingkarkan lenganku, lalu menarik pundak Sagiri dengan erat ke dalam dekapanku. Meskipun tubuh Sagiri sempat menegang sesaat, dia kemudian perlahan-lahan menyandarkan seluruh tubuhnya ke badanku.


"......Benar-benar deh, bagian yang seperti itulah dari dirimu."


Meskipun dia hanya menggumamkan kalimat itu dengan lirih di sampingku, aku bisa mendengar seluruh ucapannya dengan sangat jelas.


"......Nee, Sahabat."


Sebelum aku sempat membalas ucapannya, Sagiri sudah terlebih dahulu melanjutkan kalimatnya.


"......Hari ini, kita masih belum melakukannya, lho."


Meskipun dia mencondongkan badannya dari bangku taman, tingkat kerapatan tubuh kami justru terasa semakin lama semakin bertambah erat.


"......Mau?"


Sebelum sempat memberikan jawaban, lenganku yang tadinya melingkar di pundaknya secara alami telah berpindah ke pinggang rampingnya.


Di atas bangku taman ini, posisi tubuh kami sudah hampir menyerupai pose orang yang sedang berpelukan erat.


Paras wajahnya yang tersorot oleh cahaya senja dari jarak sedekat ini terlihat sangat cantik dan menggemaskan. Agar Sagiri yang terus mencondongkan badannya demi memelukku ini tidak terjatuh, aku mempererat dekapanku sekali lagi menggunakan tangan yang melingkar di pinggangnya.


Melalui perantara kemeja sekolah kami, tubuh bagian atas kami saling bersentuhan, tumpang tindih, dan rasanya seolah-olah perlahan semakin menyatu menjadi satu kesatuan.


Aku ingin terus berada dalam kondisi seperti ini bersamanya. Di dalam sebuah taman di mana bisa saja ada orang lain yang datang kapan saja, memikirkan hal yang seperti ini mungkin menandakan kalau aku sudah berada di tahap stadium akhir.


"......Mmh."


"......Ngh."


Namun, hanya karena batasan sekadar hal seperti itu, baik aku maupun Sagiri sudah tidak bisa menghentikan tindakan kami lagi.


Tepat di saat sepasang mata berwarna amber pucat miliknya terpejam, bibir kami berdua pun saling bertumpu dan bertautan satu sama lain. Ciuman yang kami lakukan setelah tiga hari berlalu—sejak hari Sabtu, Minggu, hingga Senin—terasa sangat lama, seolah-olah sengaja dilakukan untuk mengisi kekosongan waktu yang sempat terjeda di antara kami.


"......Ren, ji."


Dia melepaskan tautan bibir kami, lalu memanggil namaku di sela-sela embusan napasnya yang memburu demi menghirup udara. Sosoknya saat itu terlihat sangat teramat memesona di mataku. Oleh karena itu, kali ini akulah yang berinisiatif untuk merebut kembali bibirnya.


Aku membungkam mulut sahabat karibku yang napasnya masih belum teratur itu menggunakan bibirku sendiri. Sembari mendekap tubuhnya yang sempat mengeluarkan suara lirih dan sedikit bergetar, aku menciumnya dengan lembut.


"Haa...... Fuh......"


Ciuman yang kulakukan secara impulsif itu tidak bertahan lama bagi kami berdua, dan akhirnya terlepas sembari mengembuskan napas hangat yang terasa manis.


Baik aku maupun Sagiri sama-sama mengeluarkan embusan napas pendek yang memburu.


Hanya dengan 2 kali ciuman—ya, meskipun hanya dua kali saja—rasanya sudah cukup untuk membuatku merasa seolah-olah akan terkena serangan sengatan panas matahari sekaligus sesak napas secara bersamaan.


"Lagi-lagi, dimulai dari Renji......"


"Apa kamu tidak menyukainya?"


"Tidak, malah aku ingin lagi......"


Tatapan mata kami yang saling mengunci satu sama lain secara alami kembali terpejam.


"......Mmh."


Kami pun kembali berciuman sekali lagi. Rasa panas di musim panas, desiran angin yang menggoyang dedaunan pohon, hingga suara jangkrik yang terus bersahutan tanpa henti, sama sekali tidak mengusik fokus kami.


Hanya dengan merasakan sentuhan bibir kami dan merasakan keberadaan Sagiri saja sudah cukup untuk membuatku merasa sangat bahagia.


"Sagiri......"


Meskipun aku sempat berpikir demikian, jauh di dalam lubuk hatiku, aku ternyata mendambakan hal yang lebih jauh daripada ini.


Aku melepaskan tautan bibirku sebentar untuk memanggil nama sahabat karibku, lalu kembali menciumnya dengan lembut. Kelembutan yang saling bersentuhan secara berulang kali. 


Demi mengejar rasa hangat yang lebih mendalam yang seharusnya berada di balik batasan itu, aku pun mulai memasukkan lidahku melintasi celah di antara bibir Sagiri——


"?! T-Tidak boleh......!!"


——Tetapi, tindakan itu pada akhirnya tidak pernah sampai kepada sahabat karibku.


Dia mendorong pundakku dengan kuat, membuat bibir kami...... membuat sosok Sagiri menjauh dariku.


"Kalau sampai melakukan hal yang itu...... kita...... tidak akan bisa...... tetap menjadi sahabat karib lagi...... karena itulah......"


Suara itu terdengar keluar dengan susah payah dari sela-sela bibir tipisnya yang sewarna merah muda lembut yang kini tengah bergetar, dengan pipi yang telah merona merah padam.


Sorot mata Sagiri yang tampak sedikit berkaca-kaca itu adalah sebuah bentuk penolakan pertama yang pernah dia tunjukkan kepadaku selama ini.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close