NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Nee Shinyuu. Kyou mo Kisu, Shiyokka? V1 Chapter 4

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 4

Aku Ingin Mencium Sagiri

Hari ini aku tidak bermimpi.


Tidak, bukan tidak bermimpi, tetapi lebih tepat dikatakan tidak bisa bermimpi. Sebab, aku sama sekali tidak bisa tidur setelah untuk pertama kalinya ditolak oleh Sagiri.


Raut wajahnya yang tampak seperti hampir menangis pada saat itu, benar-benar tumpang tindih dengan gurat wajah tangisannya di masa lalu yang sebenarnya sudah tidak ingin kulihat lagi.


"A-Anu...... Anda tidak apa-apa......?"


"............Oh?"


"A-Anda kelihatan sama sekali tidak baik-baik saja, sebenarnya sudah terjadi apa......?!"


Selasa pagi.


Di dalam ruang kelas yang suasananya masih tampak sepi dari murid-murid. Sosok yang sedang mencondongkan badannya dari bangku depan untuk mengintip ke arahku adalah Kusakabe, gadis yang memiliki ciri khas berponi panjang. Penampilannya masih sama persis seperti kemarin. Mengingat hal itu, isi kepalaku kembali berputar karena tersadar bahwa kejadian tersebut baru saja terjadi kemarin.


"Aku...... dibenci oleh Sagiri......"


"Sebenarnya apa yang sudah terjadi setelah kita berpisah kemarin?!"


Kusakabe tampak sangat terkejut, hingga poni panjangnya terlihat ikut bergoyang pelan. Bahkan pemikiran tentang sedikit lagi aku akan bisa melihat area di balik poninya itu pun langsung sirna begitu saja, terkalahkan oleh bayangan wajah menangis Sagiri.


"Aku mencium Sagiri, lalu......"


"Ya, lalu......?"


"Saat aku hendak memasukkan lidahku, aku malah membuatnya menangis......"


"Hah......?"


Kenyataannya, dia hanya memasang wajah yang tampak seperti hampir menangis. Namun, karena setelah itu dia langsung berlari pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun, aku yakin dia pasti benar-benar menangis setelahnya.


"Tetapi Anda berdua...... tetap berciuman, 'kan......?"


"......Ya."


"Artinya, dia tetap bersedia dicium oleh Anda, 'kan......?"


"......Sagiri sendiri yang memintaku untuk melakukannya."


"Saya juga sudah menanyakan hal ini kemarin, sih...... tapi kenapa dengan kondisi yang seperti itu kalian berdua masih belum berpacaran juga......?"


"............Justru aku yang ingin menanyakan hal itu."


Sebenarnya, apa arti dari seorang sahabat itu?


Setelah mendapatkan penolakan dari Sagiri yang padahal bersedia dicium olehku, aku kembali tersadar dan kembali ke pertanyaan mendasar tersebut.


Meskipun berstatus sahabat, tetapi tetap berciuman. Justru karena berstatus sahabat, makanya berciuman.


Sagiri menginginkan sebuah hubungan yang teramat istimewa yang hanya berlaku bagi kami berdua saja. Namun, aku telah menghancurkan hubungan itu dengan tanganku sendiri.


......Tanpa memikirkan bagaimana perasaan Sagiri yang sebenarnya.


"S-Sebenarnya saya sangat menyukai cerita yang seperti kisah pelampiasan nafsu kedagingan yang membara di antara sesama sahabat begitu, sih...... ta-ta-tapi kalau mendengarnya langsung dari seorang teman, rasanya kok jadi terlalu vulgar ya...... Hehehe......"


"............"


Melihat Kusakabe yang sedang tersenyum menyeringai sembari menyunggingkan sudut bibirnya, aku sempat hendak mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya urung dan memilih diam.


Sebab, diriku yang sekarang sama sekali tidak memiliki hak untuk memprotes apa pun.


"......Ah, tapi...... saya cukup tertarik lho dengan bagian tentang kehabisan napas akibat terlalu lama berciuman!"


Kusakabe tetap bercerita dengan ekspresi yang tampak ceria, padahal situasi saat ini sedang berada di dalam ruang kelas pada pagi hari.


Aku merasa kepribadiannya sudah menjadi cukup banyak berubah, hanya karena dia sempat berkunjung ke klub Penelitian Jati Diri pada hari kemarin.


"Baik aksi mencekik leher maupun berciuman, kedua hal itu sama-sama didasari oleh rasa cinta, ya...... Uehehehe......"


"......Air liurmu hampir menetes dari mulutmu tuh."


"Duaahh?!"


Kusakabe langsung menghentikan cara tertawanya yang unik itu, lalu mengeluarkan suara pekikan yang juga tak kalah unik sembari reflex menutup mulut menggunakan tangannya. Namun, jika dilihat-lihat lagi, kecerobohannya di saat sedang lengah seperti itu rasanya sedikit mirip dengan Sagiri.


Ya, mirip dengan Sagiri......


"S-Sungguh luar biasa ya, Rekan...... Setelah ahli dalam urusan cekik-mencekik leher, sekarang Anda malah beralih profesi menjadi seorang pemburu air liur......"


Kusakabe mendadak memberikan sebuah julukan misterius yang baru kepadaku. Sebuah julukan yang benar-benar sangat tidak terhormat.


"......Wawasanmu itu benar-benar luar biasa, ya."


"Uehehehehe......"


Sindiranku ternyata sama sekali tidak mempan untuknya. Bagian yang seperti itu pun rasanya juga sangat mirip dengan Sagiri, ugh......


"Tapi, kalau Anda sampai mencuri air liur milik orang lain, itu termasuk tindakan kriminal dan Anda bisa ditangkap polisi, lho......?"


"......Kamu sudah salah sejak dari bagian premis dasarnya."


"Ah, maksud saya, kalau Anda hanya mengambil air liur milik Yakumo-san saja......"


"......Sudah, hentikan pembahasan tentang air liur ini."


"Eh, tapi...... Anda tadi bilang kalau Anda sempat berniat untuk memasukkan lidah, 'kan......?"


Ternyata dugaanku salah besar. Berbeda dengan Sagiri yang selalu bisa menusuk titik kelemahanku dengan jitu dalam sekali serang, Kusakabe adalah tipe orang yang justru akan menaburkan garam di atas luka yang sedang menganga. Terlebih lagi, dia tidak melakukannya karena didasari oleh niat buruk, melainkan murni karena ketidaktahuannya yang mengira bahwa hal yang ditaburkannya itu adalah obat. Sebuah senjata mematikan tanpa disengaja.


Racun yang menyerupai obat penawar itu kini perlahan mulai menggerogoti seluruh tubuhku.


"Sudah pasti, aku sekarang benar-benar telah dibenci olehnya......"


"Ke-Kenapa kesimpulannya malah jadi begitu, sih?! Padahal dari tadi Anda terus-menerus menceritakan kisah kemesraan kalian berdua kepada saya, tahu!"


"Tapi kenyataannya, dia sampai memasang wajah yang seperti hampir menangis begitu......"


"K-Kalau dia memang benar-benar membencinya, dia pasti sudah menolaknya sejak awal sebelum ciuman itu terjadi, 'kan......?"


Justru karena hal itulah aku menjadi tidak mengerti.


Padahal kami sudah selalu bersama sepanjang waktu, tetapi sekarang aku malah menjadi tidak bisa memahami jalan pikiran Sagiri lagi. Hal itu terasa sangat menakutkan dan membuatku merasa ngeri.


"Tapi, apa tidak apa-apa kalau begini terus......?"


"......Apanya?"


"Anu, maksud saya...... B-Bukannya berbicara dengan Yakumo-san, Anda malah asyik mengobrol panjang lebar dengan saya seperti ini...... A-Apakah saya tidak akan mendadak ditusuk dari belakang saat sedang berjalan di jalanan yang sepi pada malam hari nanti?!"


"Aku sengaja berkonsultasi denganmu terlebih dahulu justru karena saat ini Sagiri masih belum datang, tahu......"


Entah mengapa dia malah menjadi sangat waspada terhadap kemungkinan dirinya akan ditusuk.


Malah, aku sempat berpikir kalau diriku sendirilah yang ditusuk, mungkin jalannya akan terasa menjadi jauh lebih mudah bagi kami berdua.


"Ah, kalau dipikir-pikir, apakah Anda berdua biasanya tidak berangkat ke sekolah bersama-sama......?"


"......Habisnya, Sagiri itu egois dan manja seperti kucing. Kemarin saja dia sempat menunjukkan gelagat yang mirip sekali dengan kucing."


"Bisa-bisanya Anda memamerkan kemesraan yang mengalir mulus hanya dalam waktu sekejap begini......?"


Kusakabe menatapku dengan sorot mata seolah-olah sedang melihat sesuatu yang tidak masuk akal. Meski kenyataannya, sepasang mata itu tersembunyi di balik poni panjangnya sehingga tidak kelihatan.


Aku jadi berpikir, jika pandangan di depanku bisa menjadi gelap gulita terhalang poni seperti Kusakabe, apakah aku akan bisa melarikan diri dari kenyataan?


"Halo, halo! Renji, Hina-chan! Selamat pagi!"


"Oii! Akahori! Kusakabe-chan! Tidak terasa sudah seharian tidak bertemu ya sejak kemarin!"


Di saat aku sedang memikirkan hal bodoh semacam itu, sebuah suara lantang yang terdengar sangat menyiksa bagi isi kepalaku yang belum tidur semalaman, mendadak menggema.


Hasegawa tampak melambai-lambaikan tangannya dengan bersemangat tepat di samping Yuzuru yang sedang berjalan sembari melompat-lompat kecil.


Ketua yang bertubuh mungil dan Wakil Ketua yang bertubuh bongsor dari klub Penelitian Jati Diri itu hari ini pun masih terlihat sangat enerjik.


"......Ah, selamat pagi."


"S-Selamat pa——"


"Kamu kenapa, Renji?! Wajahmu pucat sekali, lho!"


"Oi, kantung mata di bawah matamu itu parah sekali, tahu!!"


"——Hyaawaa?!"


Mendengar suara penuh kecemasan mereka saat melihat wajahku, kepalaku rasanya menjadi semakin berdenyut nyeri.


Kusakabe yang duduk di bangku depan terkena dampak langsung dari gelombang suara tersebut, hingga tubuhnya tampak seolah-olah akan terpental.


"Aku cuma...... sedikit kurang tidur, kok......"


"Kalau kondisi badanmu sedang tidak fit, kamu tidak boleh memaksakan diri, tahu! Masuk angin di musim panas itu sangat berbahaya!"


Yuzuru mengangkat kedua tangannya lalu memasang pose seolah-olah sedang mengintimidasi seseorang. Dia pasti bermaksud mengekspresikan betapa menakutkannya hal tersebut. Meskipun tindakannya itu terlihat menggemaskan layaknya seekor hewan kecil, tetapi karena kalimat tersebut keluar langsung dari mulut orang yang baru saja mengalami parahnya masuk angin di musim panas, ucapannya jadi terasa memiliki daya persuasi yang sangat kuat.


"Benar kata Akahori! Itu adalah penyakit masuk angin yang bahkan sampai membuat Yuzuru-chan menderita, tahu! Omong-omong, Yakumo-chan ada di mana?"


"Ugh......?!"


Teng-Tong-Teng-Tong......


Tepat pada saat itu, bel sekolah yang sudah sangat familier berbunyi. Itu adalah bel yang menandakan dimulainya sesi homeroom.


Percakapan kami pun terpaksa terhenti seketika, lalu Yuzuru dan Hasegawa segera kembali ke bangku mereka masing-masing.


——Namun, sampai saat ini Sagiri masih belum juga datang.


"Baiklah, selamat pagi semuanya. Ibu akan mengabsen kehadiran kalian. Ibu sudah menerima laporan bahwa Yakumo-san hari ini izin tidak masuk sekolah karena sedang sakit. Meskipun Kido-san saat ini sudah sembuh dan kembali sehat, penyakit masuk angin di musim panas sedang merebak menjelang liburan musim panas ini, jadi kalian semua tolong jaga kesehatan juga, ya."


Wali kelas kami yang sudah berdiri di atas mimbar kelas pun berbicara.


Mengabarkan bahwa Sagiri...... izin tidak masuk sekolah karena sakit masuk angin.


"Kalau begitu, Ibu mulai absennya. Nomor absen satu, Akahori-kun."


"............"


"Akahori-kun?"


"......Ah, iya. Saya ingin pergi menjenguk Sagiri, apakah saya boleh izin pulang awal?"


"Iya. Tentu saja tidak boleh, ya."


Permohonanku yang sengaja kusisipkan di sela-sela jawaban absensi itu langsung ditolak mentah-mentah dengan sebuah senyuman.


Sagiri tidak masuk sekolah karena sakit masuk angin. Di dalam situasi yang seperti ini, mana mungkin aku bisa fokus mendengarkan pelajaran di kelas. Sebanyak apa pun pesan yang kukirimkan di sela-sela waktu istirahat pergantian jam pelajaran, statusnya sama sekali tidak kunjung berubah menjadi terbaca, hingga tanpa kusadari waktu sudah beranjak ke jam istirahat makan siang.


Tentu saja, aku sama sekali tidak memiliki nafsu untuk memakan apa pun. Apakah telah terjadi sesuatu kepada Sagiri? Jangan-jangan dia sampai harus dilarikan ke rumah sakit menggunakan ambulans? Jika dia sampai harus terbaring lemah di atas ranjang seperti waktu dulu lagi......


Firasat buruk yang seperti itu terus-menerus memenuhi seisi kepalaku. Apakah sebaiknya aku memang harus nekat bolos dan pulang awal sekarang juga?


Namun, andai kata aku bisa menemui Sagiri pun, aku tidak tahu harus mengatakan apa kepadanya. Padahal baru kemarin aku mendapatkan penolakan darinya, bahkan sampai membuatnya menangis.


Jika aku mengajaknya berbicara saat ini, hal itu pasti hanya akan mengganggunya——


"Jibuken! Kumpuul!!"


"Ini saatnya jam Jibuken, Renjiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!"


"Hah, eh...... Apa-apaan nih?!"


"J-Jalanan...... sudah aman terkendali, lho......!"


——Dari luar jangkauan kesadaranku, aba-aba dari Yuzuru mendadak terdengar.


Pada detik berikutnya. Hal yang menyerangku adalah sebuah sensasi melayang yang luar biasa dahsyat. Pandanganku berputar seketika, menampilkan lanskap ruang kelas yang posisinya kini menjadi terbalik. Mataku sempat bertatapan dengan teman-teman sekelas yang hanya bisa terpaku melongo. Namun, pandangan itu langsung menjadi buram akibat guncangan yang hebat.


Di saat itulah, aku akhirnya baru tersadar bahwa sosok yang sedang menggendongku dengan posisi yang aneh ini adalah si pria berbadan bongsor, Hasegawa.


"Karena Renji tampaknya sedang tidak enak badan sejak pagi tadi, kami akan membawanya pergi ke ruang UKS, ya!"


"Jangan banyak bergerak, Akahori! Kalau kamu sampai jatuh, rasanya pasti bakal sakit sekali, lho!"


"Mohon...... maaf ya, atas kegaduhannya......!"


"Ru-Ruang UKS?! T-Tadi kalian bilang Jibuken...... Uwooooooooooo?!"


Hasegawa langsung melesat kencang, berlari keluar menuju koridor sekolah. Di depan pintu ruang kelas yang terbuka lebar, aku...... merasa sempat saling bertatapan dengan Kusakabe yang sedang menahan daun pintu. Hasegawa terus berlari dengan kecepatan penuh membelah area koridor yang sedang ramai oleh lalu lalang murid-murid di jam istirahat makan siang. Aksinya ini sudah bukan lagi berada di level melanggar peraturan dilarang berlari di koridor.


Tidak ada satu orang pun yang mampu menghentikan Hasegawa.


Di tengah guncangan hebat yang terasa seperti sedang naik wahana roller coaster ini, aku hanya bisa melihat sosok duo gadis bertubuh mungil, Yuzuru dan Kusakabe, yang sedang berlari mati-matian dari kejauhan demi mengejar kami.


Pria bertubuh bongsor yang nekat berlari kencang di koridor saat jam istirahat makan siang itu sama sekali tidak mengendurkan kecepatannya. Memanfaatkan keunggulan tubuh raksasanya, setiap langkah kaki yang dihentakkannya terasa jauh lebih lebar dan lebih cepat daripada siapa pun, melewati koridor lalu menuruni anak tangga seolah-olah sedang melompat turun.


Kejadian ini rasanya sudah sangat layak untuk menjadi salah satu dari kisah 7 misteri baru di sekolah kami. Aku harus terus memikirkan hal-hal semacam itu, karena jika tidak, rasanya aku bisa muntah akibat guncangan ini. 


Tepat di saat pandanganku yang diakibatkan oleh posisi digendong Hasegawa layaknya sekarung beras ini mulai mengabur karena alasan yang berbeda dari kurang tidur, terdengar suara knop pintu yang diputar dengan bunyi klik.


Setelah indra penglihatan dan pendengaranku diguncang sedemikian rupa, kali ini giliran indra penciumanku yang mendapatkan porsi tugasnya. Bau yang tercium oleh hidungku bukanlah aroma cairan disinfektan yang khas dari ruang UKS, melainkan aroma ruangan klub yang sudah sangat akrab di hidungku; sebuah ruangan bekas gudang yang agak berdebu.


"Fuh, ini baru namanya masa muda......"


"O-Ogh......"


Hasegawa pun menurunkan dan mendudukkan tubuhku di atas sebuah kursi.


Suaranya terdengar begitu segar, seolah-olah dia baru saja berhasil menyelesaikan sebuah tugas besar. Namun, aku saat ini hanya bisa terbaring telentang di atas dua buah kursi kayu keras yang dijajarkan dua kali dua, dan langit-langit ruang klub yang sudah sangat familier di mataku pun masih tampak terus berputar-putar akibat efek sisa guncangan tadi.


"K-Kita sam-paaii...... hosh......"


"Ha-Hahii...... ehii...... ohohh...... se-sesak...... sekali, ya......"


"Yuzuru-chan! Misi selesai dengan sukses! Kusakabe-chan, kamu juga tidak apa-apa, 'kan!"


Pemandangan di sekitarku benar-benar seperti medan pertempuran yang dipenuhi korban bergelimpangan.


Terdengar suara deru napas Yuzuru yang terengah-engah karena datang terlambat, dan yang lebih parah lagi adalah suara Kusakabe yang terdengar sudah mencapai batas kemampuannya tetapi entah mengapa terdengar senang. 


Di tengah situasi yang seperti itu, hanya suara Hasegawa seorang yang terdengar menggema dengan begitu penuh energi.


Sambil memegangi kepalaku yang terasa sangat berdenyut-denyut karena berbagai macam alasan, aku pun perlahan-lahan mulai bangkit berdiri.


"A-Apa...... maksud kalian melakukan ini......?"


"Kami sudah mendengar ceritanya, Akahori!"


"Aku minta kalian...... menjelaskan alasannya, tahu......!"


"Kamu sedang bertengkar dengan Yakumo-chan, 'kan!"


Pria bongsor yang hanya bermodal kekuatan fisik ini sepertinya memiliki otak yang juga terbuat dari otot, sampai-sampai dia sama sekali tidak mau mendengarkan pertanyaanku.


Meskipun aku berniat untuk memprotes dalam kondisi tubuh yang masih limbung begini, aku yang titik kelemahannya baru saja ditusuk dengan telak pada akhirnya hanya bisa memilih untuk bungkam.


"Ka-Kami...... sudah mendengar situasinya, lho......"


"I-Itu...... 'kan barusan sudah dikatakan oleh Hasegawa-san......?"


Duo gadis bertubuh mungil yang sedang saling memapah satu sama lain sembari bernapas dengan terengah-engah itu kini ikut bergabung ke dalam percakapan.


Satu-satunya orang yang mengetahui bahwa telah terjadi sesuatu antara diriku dan Sagiri hanyalah Kusakabe, yang saat ini kakinya sedang gemetar hebat karena kelelahan layaknya seekor anak rusa yang baru lahir.


Melihat fakta bahwa Yuzuru dan Hasegawa kini ikut berada di sini bersamanya...... singkat kata, situasinya sudah bisa ditebak.


"D-Di dalam Jibuken...... tidak boleh ada rahasia di antara kita, ya......!"


Mungkin karena tenaganya masih belum pulih sepenuhnya, Yuzuru tersenyum sembari terus mengembuskan napasnya yang memburu.


"Benar sekali, Akahori! Karena Jibuken adalah Jibuken!"


Menyambung ucapan itu, Hasegawa kembali mengulang sebuah kalimat yang terdengar bermakna dalam padahal sebenarnya tidak juga.


"M-Mohon maaf ya, Rekan......"


Dan yang terakhir, Kusakabe berucap sembari tubuhnya gemetar. Entah gemetar yang dialaminya ini karena alasan yang mana.


"Kalian ini, benar-benar deh......"


Melihat ketiga orang tersebut—atau lebih tepatnya, dua orang yang sudah biasa dan satu orang anggota baru—aku hanya bisa mengembuskan napas panjang.


Mereka adalah sekumpulan orang yang memiliki jiwa sukarelawan tinggi, yang akan dengan sangat senang hati mengulurkan tangan dan mendengarkan keluh kesah setiap kali ada orang lain yang sedang berada di dalam kesulitan.


Klub Penelitian Jati Diri memang adalah tempat berkumpulnya orang-orang yang seperti itu.


"Kalau boleh langsung ke inti masalahnya, aku rasa Renji harus segera pulang sekarang juga!"


"Bukankah itu terlalu mendadak?!"


Di dalam ruang klub yang sempit dan kecil ini, suara menggemaskan dari sang Ketua bertubuh mungil yang napasnya sudah mulai teratur itu terdengar menggema.


Meskipun dia mengatakannya sembari tersenyum, tetapi kalimat tersebut adalah sebuah pernyataan yang sangat serius.


"Benar kata Akahori! Jangan memasang harga diri yang tidak berguna begitu, cepat sana pergi dan minta maaf kepada Yakumo-chan!"


"Kalau soal itu, memang benar sih...... tapi......"


Di sampingnya, sang Wakil Ketua yang bertubuh bongsor tampak mengacungkan ibu jarinya sembari tersenyum lebar.


Nasihatnya yang tidak menerima bantahan itu seolah-olah bisa membaca isi hatiku yang terdalam.


"M-Melihat orang yang sedang bermuram durja itu rasanya sangat menyiksa, baik bagi si pelaku maupun bagi orang yang melihatnya...... j-jadi saya rasa akan lebih baik kalau Anda beralih ke jenis siksaan lain yang berbeda saja...... seperti dicekik lehernya, misalnya."


"Kusakabe?!"


Dan yang terakhir, Kusakabe yang biasanya pemalu itu mendadak melontarkan sebuah kalimat telak yang hampir mendekati batas penghinaan secara blak-blakan.


Berbicara sesuka hatinya sekaligus berusaha untuk meloloskan hasrat pribadinya sendiri; bagian itulah yang paling menunjukkan jati diri dari seorang Kusakabe.


"Kondisi badan Renji 'kan sedang kurang fit sekarang. Jadi kamu harus berbaikan dengan Sagirin, lalu setelah itu beristirahat dengan benar agar bisa kembali sehat seperti sedia kala! Masuk angin di musim panas itu rasanya benar-benar sangat menyiksa, tahu!"


"Persis seperti yang dikatakan Yuzuru-chan! Dibandingkan dengan sosok Akahori yang sekarang, aku rasa sosok Akahori yang hobi berbicara tidak jelas dan suka mengganggu orang lain secara acak itu masih jauh lebih mendingan!"


"S-Saya rasa, aksi mencekik leher yang didasari oleh rasa cinta dan kemesraan itu jauh lebih baik daripada aksi mencekik leher yang didasari oleh rasa benci karena sedang bertengkar......!"


Tidak, ternyata dugaanku salah; mereka semua sebenarnya hanya sedang berbicara secara asal-asalan sesuai dengan keinginan mereka masing-masing saja.


"Tapi, aku sudah membuat Sagiri menangis......"


Karena alasan itulah aku merasa sangat bersalah.


Apakah diriku yang sekarang—diriku yang telah membuat Sagiri menangis—memang pantas untuk bertindak egois sesuai keinginanku seperti yang mereka lakukan?


"Tapi, satu-satunya orang yang bisa membuat Sagirin kembali tersenyum itu juga cuma kamu seorang, Renji!"


"......Eh?"


"Sudah kubilang dari awal 'kan, Bodoh-hori. Lagipula, mana mungkin orang bisa bertengkar kalau hubungan di antara mereka tidak dekat sejak awal!"


"......Kalau soal itu,"


"S-Saya merasa sangat senang saat melihat momen kebersamaan Anda dan Yakumo-san yang tampak begitu menyenangkan kemarin...... Karena itulah, anu...... to-tolong tunjukkan momen yang seperti itu lagi kepada saya......!"


"......Kalau yang itu tolong maafkan aku, karena rasanya sangat memalukan tahu."


"Hyaawa?!"


Mereka benar-benar orang-orang yang sangat bebas.


Bertindak bebas sesuai dengan jati diri mereka masing-masing, tetapi tetap memikirkan kebaikan orang lain, dan secara alami langsung memberikan dorongan semangat dari belakang.


Mereka adalah sekumpulan orang yang sangat menyenangkan.


"Tapi, aku sendiri...... memang sangat ingin meminta maaf kepada Sagiri......"


"Nah, begitu dong! Jati diri itu, bahkan saat hanya berdua pun tetap merupakan sebuah jati diri, tahu!"


"......Bahkan saat hanya berdua?"


"Benar sekali! Sebuah jati diri yang tercipta justru karena hal itu melibatkan hubungan antara Renji dan Sagirin! Kalian berdua cukup tetap menjadi diri kalian yang seperti biasanya saja, itu sudah lebih dari cukup! Karena itulah jati diri dari kalian berdua!"


Yuzuru menyunggingkan sebuah senyuman yang sangat lebar.


"————"


Mendengar hal itu, aku seketika langsung kehilangan kata-kata.


Jati diri dari kami berdua.


Kondisi seperti biasanya antara diriku dan Sagiri.


Teman masa kecil yang sudah selalu bersama-sama sejak waktu yang sangat lama.


Karena dia adalah sosok yang teramat berharga dan sosok yang kucintai itulah, makanya kami berciuman.


Jati diri dari diriku dan Sagiri.


Hal itulah yang kami sebut sebagai "sahabat".


"......Terima kasih. Yuzuru, Hasegawa, dan juga kamu, Kusakabe."


"Sama-sama! Karena Jibuken baru bisa disebut Jibuken kalau semua anggotanya berkumpul secara lengkap!"


"Pastikan kamu berbaikan dengannya dengan benar, ya!"


"K-Kami akan setia menunggu kabar baiknya, lho......!"


Aku sudah memahami semuanya.


Tentang arti dari ikatan "sahabat" antara diriku dan Sagiri.


Begitu aku melemparkan senyuman kepada ketiga orang yang telah menyadarkanku akan hal itu, mereka semua langsung membalasnya dengan senyuman lebar.


Teng-Tong-Teng-Tong......!


Tepat di saat aku bangkit berdiri, bel yang menandakan berakhirnya jam istirahat makan siang pun berbunyi. Meskipun bunyi bel tersebut memastikan bahwa aku akan membolos dari pelajaran siang ini, bagiku suara itu terdengar seperti lonceng pemberkatan yang sedang mendorongku dari belakang.



Sembari dihujani sorakan semangat dari Yuzuru, Hasegawa, dan juga Kusakabe, aku langsung melesat keluar dari ruang klub.


Di area lapangan sekolah, terlihat murid-murid dari kelas lain sedang berkumpul untuk mengikuti pelajaran olahraga. Aku berlari melewati gerbang sekolah sembari melirik ke arah mereka.


Tentu saja, tidak ada satu orang pun yang berjaga di gerbang sekolah. Padahal aku hanya sekadar melewati gerbang sekolah yang terbuka lebar, tetapi perpaduan antara rasa bebas karena telah merdeka dan rasa bersalah karena nekat kabur dari sekolah, berubah menjadi sebuah letup euforia yang membuat langkah kakiku terasa begitu ringan.


"Hah...... hah......"


Namun, tidak peduli seberapa positif pun suasana hatiku saat ini, sengatan terik musim panas tetap saja datang menyerang.


Akibat hawa panas dan kurang tidur, aku merasa kesadaranku menjadi agak sedikit limbung. Namun, karena itu hanyalah sekadar perasaanku saja, aku tetap terus berlari melewati jalan raya besar dan berbelok ke sebuah jalan setapak yang menuju ke area perumahan yang tenang.


"Sagiri......!"


Padahal aku belum sampai di rumahnya, tetapi tanpa sadar aku sudah memanggil nama Sagiri.


Jalanan sepi yang biasanya kami lalui sembari saling bergandengan tangan berdua, kini terasa sangat sepi saat dilewati seorang diri.


Taman kecil yang sudah tak terhitung berapa kali kujadikan tempat untuk menunggu Sagiri dan tempat yang selalu kami singgahi bersama pun kini tampak kosong melompong karena saat ini adalah siang hari di hari kerja.


"......Lho?"


Pemandangan yang sudah sangat familier di mataku ini rasanya terasa sangat panjang untuk dilalui.


Sembari terus berlari menyusuri jalanan di area perumahan, aku mengambil arah belok kiri di sebuah pertigaan yang jika biasanya aku akan berbelok ke arah kanan untuk pulang ke rumahku sendiri. Di tengah usaha berlari mendaki sebuah jalanan tanjakan yang landai, sebuah ganjalan mendadak terlintas di dalam benakku.


"Kejadian yang seperti ini, rasanya dulu juga pernah terjadi......"


Aku merasa di masa lalu aku juga pernah berlari demi Sagiri dalam kondisi kesadaran yang limbung seperti ini. Namun, aku tidak bisa mengingatnya. Jangankan tentang apa yang telah kulakukan demi Sagiri, alasan mengapa saat itu kesadaranku sampai limbung pun masih menjadi sebuah misteri bagiku.


Mungkin akibat pengaruh dari hawa panas musim panas dan kondisi otak yang kurang tidur, sensasi déjà vu kecil itu pun langsung sirna begitu saja dengan cepat.


Satu-satunya hal yang ada di dalam benakku saat ini hanyalah keinginan yang menggebu-gebu untuk bisa segera bertemu dengan Sagiri.


Menjadikan perasaan itu sebagai bahan bakar utama, aku berhasil menuntaskan jalanan tanjakan yang landai tersebut, lalu lanjut berlari menyusuri sebuah jalan setapak yang bahkan hanya bisa dilalui oleh satu mobil saja...... dan tak lama kemudian, sebuah atap rumah berwarna merah yang sudah sangat familier pun langsung tertangkap oleh pandanganku.


Rumah Sagiri, tempat yang baru saja kukunjungi pada minggu lalu.


Aku pun berdiri di depan pintu rumah tersebut. Berbeda dengan kunjungan sebelumnya, kali ini aku berniat untuk langsung menekan tombol bel rumah tanpa ragu-ragu sedikit pun.


"Ara, Renji-kun?"


Namun pada detik itu juga, di waktu yang sangat pas, seseorang mendadak keluar dari pintu masuk rumah.


Wanita berambut putih yang wajahnya sangat mirip dengan Sagiri itu adalah Ibunya Sagiri, sosok yang sudah sangat sering merawatku sejak aku masih kecil.


Beliau tampaknya baru saja hendak pergi berbelanja karena sedang menjinjing sebuah tas di tangannya. Begitu melihat wajahku, beliau langsung tersenyum dengan ramah.


"Selamat siang! Itu——"


"Mau menjenguk Sagiri?"


Ibunya Sagiri langsung bertanya sembari memotong kalimatku. Raut wajahnya adalah raut wajah penuh kehangatan yang selama ini selalu mengawasi pertumbuhan kami berdua.


"......Eh, ah, iya!"


"Fufu, rasanya sangat bernostalgia ya...... Sagiri sedang tidur di kamarnya, jadi Ibu titip dia, ya?"


Kali ini, tanpa menunggu jawabanku terlebih dahulu, Ibunya Sagiri langsung beranjak pergi sembari melempar senyuman. Saat aku melangkah masuk ke dalam rumah untuk bergantian posisi, terdengar suara pintu yang dikunci dari luar dengan bunyi klik.


Sifat yang selalu bertindak sesuai dengan ritme jalannya sendiri ini benar-benar mencerminkan bahwa beliau adalah ibu kandung dari Sagiri.


Meskipun pihak yang dihadapinya saat ini adalah diriku yang sudah biasa keluar masuk ke dalam rumah ini sejak kecil, apakah tidak apa-apa jika beliau tetap bersikap sesantai ini?


Sembari memikirkan hal tersebut, kali ini aku tidak melangkah menuju ke ruang tamu, melainkan langsung menaiki anak tangga ke lantai atas. Aku terus berjalan menyusuri koridor lantai dua, hingga akhirnya sampai di depan sebuah pintu kamar yang digantungi sebuah papan nama kayu buatan tangan bertuliskan 『Sa☆gi☆ri』, sebuah papan nama yang kami buat bersama di rumah untuk merayakan kelulusan masuk sekolah dasar dulu.


Aku pun mengatur napas terlebih dahulu, lalu mengetuk pintu kamar tersebut secara perlahan.


"Sagiri, kamu tidak apa-apa?"


Aku mencoba memanggilnya dari balik pintu, tetapi sama sekali tidak ada jawaban yang terdengar.


Meskipun setelah itu aku kembali mengetuk pintunya berulang kali, tetap saja hanya keheningan yang membalas.


"......Aku masuk, ya?"


Demi mengantisipasi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, aku sengaja menaikkan volume suaraku pada ucapan terakhir ini.


Aku memutar knop pintu dengan sengaja menimbulkan suara klik yang agak keras, lalu membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam kamar.


"......Ssh...... Ssh......"


Melalui celah gorden tipis berwarna sejuk yang memberikan kesan adem, seberkas sinar matahari tampak menerangi seisi ruangan. Di bawah pancaran sinar tersebut, tepat di atas sebuah ranjang yang dikelilingi oleh tumpukan boneka dalam jumlah yang sangat banyak, Sagiri terlihat sedang tertidur pulas sembari mengembuskan napasnya dengan teratur.


Sosoknya benar-benar tampak persis seperti seorang putri raja yang ada di dalam negeri dongeng.


Begitu melihat gurat wajahnya yang tampak tertidur dengan tenang, ketegangan yang menyelimuti tubuhku seketika langsung sirna, digantikan oleh rasa lega dan kebahagiaan yang membuncah dari dalam dada.


"Syukurlah...... Hm?"


Tepat di saat aku tanpa sadar mengembuskan napas panjang sembari memandangi teman masa kecilku yang sedang tertidur lelap itu, sudut mataku mendadak menangkap sesuatu yang menarik perhatian.


Sebuah bingkai foto yang diletakkan di atas meja belajar yang berada tepat di samping ranjang. Di dalam bingkai tersebut, terpajang sebuah foto masa kecil antara diriku dan Sagiri. Sebuah foto kenangan lama yang menampilkan kami berdua yang saat itu sedang sama-sama menangis dengan raut wajah yang sangat jelek.


"......Benar-benar membuat bernostalgia, ya."


Aku bergumam secara alami saat memandangi foto tersebut. Karena keluargaku bukan tipe orang yang suka menggunakan bingkai foto modis seperti ini dan lebih memilih untuk memasukkan semua foto ke dalam sebuah album tebal, sudah sangat lama sekali aku tidak melihat foto kenangan yang satu ini.


"......Ngh, ngeeungg......?"


"Sagiri?"


Di saat aku sedang asyik bernostalgia sembari memandangi foto masa kecil kami, Sagiri mendadak membalikkan posisi badannya. Mungkin karena dia menyadari kehadiran diriku di dekatnya, Sagiri tampak membuka sedikit kelopak matanya sembari tetap berbaring di atas ranjang, lalu menatap ke arahku dengan pandangan mata yang masih tampak sayu dan buram.


"——Ren-kun......?"


Lalu, dalam kondisi yang masih setengah tertidur itu, dia memanggilku dengan menggunakan nama panggilan masa kecilku dulu.


Gerakan tangan yang menyeka mata serta nada suaranya itu terasa sangat menggemaskan, hingga membuat jantungku berdegup kencang.


"Iya, ini aku."


"Aaa, umm......"


Kepalanya tampak terangguk-angguk kecil menahan kantuk.


Jika dibiarkan begini, dia pasti akan langsung kembali terlapuk tidur untuk yang kedua kalinya.


"Ayo, cepat bangun. Kondisi badanmu tidak apa-apa, 'kan? Mau minum sesuatu? Atau perlu handuk basah?"


"Ngg......?"


Dia kembali mengucek matanya dengan kuat lalu menatap ke arahku dengan lekat.


"Renji......?"


Setelah memanggil namaku dengan nada suara yang agak cadel khas orang baru bangun tidur, tubuhnya mendadak membeku.


"Re-Renjiiii?!"


Sejurus kemudian, dia mendadak melompat di atas ranjang bagaikan seekor kucing yang terkejut. Selimut handuk yang melapisinya terlepas, memperlihatkan penampilannya yang seperti biasa; mengenakan sebuah kaus putih polos yang longgar dan agak kumal.


Mengingat dia sedang sakit masuk angin, hal pertama yang terlintas di benakku adalah dia seharusnya mengenakan pakaian yang jauh lebih hangat dari itu.


"A-A-A-A-Apa-apaan, kenapa kamu bisa ada di sini?!"


"Tentu saja untuk menjengukmu, Sagiri."


Aksi berteriak dengan suara lantang itu membuat penampilannya justru terlihat sangat bugar, sangat berbanding terbalik dengan rasa cemas yang kurasakan sejak tadi.


"Kamu kelihatan bugar sih, tapi wajahmu merah sekali...... Tampaknya kamu memang benar-benar sedang demam, ya?"


"I-Ini semua gara-gara Renji, tahu!"


"Jangan menyalahkan orang lain atas kondisi badanmu sendiri yang sedang drop."


"Gara-gara Renji! Pokoknya gara-gara Renji!"


"Kenapa harus diulang sampai dua kali?"


Sagiri mulai mengamuk.


Sembari mengambil posisi di sudut ranjang layaknya seekor kucing setelah melompat, dia terus-menerus melancarkan serangan argumen yang tidak jelas ke arahku.


Dia tampak bugar padahal aku datang untuk menjenguknya, wajahnya yang memerah disebut sebagai kesalahanku, dan niatku untuk datang meminta maaf malah berujung menjadi adu mulut seperti ini; situasinya benar-benar menjadi sangat kacau balau.


"Habisnya, gara-gara Renji, aku jadi tidak bisa tidur semalaman!"


"......Apa?"


"............Ah."


Gadis yang menyandang predikat sebagai primadona nomor satu di sekolah itu seketika langsung memasang raut wajah panik seolah berkata, Gawat......


Raut wajah setelah melakukan kecerobohan yang fatal seperti ini memang sesekali pernah kulihat. Dan pada saat ini, pengakuannya yang telanjur keluar secara blak-blakan di depanku ini jelas merupakan sebuah kecerobohan yang sangat besar.


Artinya, jika alasan Sagiri sampai jatuh sakit adalah karena dia mengalami kurang tidur......


"Maafkan aku, ya......"


"Eh? Re-Renji......?"


Aku segera menundukkan kepala, lalu mendudukkan diriku di atas karpet yang berada di bawah ranjang.


Sagiri yang mungkin mengira akan mendapatkan omelan dariku, seketika langsung membelalakkan matanya saat melihat tindakanku tersebut.


"Aku yang salah. Aku sudah melakukan hal yang membuatmu tidak nyaman...... Tapi, melihatmu baik-baik saja dan bugar begini, aku benar-benar merasa sangat lega......"


"Ah, u-um...... kalau soal itu, aku juga......"


Suara yang terdengar ragu-ragu dan terputus-putus terdengar dari mulutnya.


......Sejak kami masih kecil, situasinya memang selalu seperti ini. Di saat-saat yang seperti inilah, aku harus bisa membuat Sagiri kembali ceria.


"Yuzuru dan yang lainnya juga mengkhawatirkanmu, lho. Hasegawa dan Kusakabe bahkan sampai mendorongku dari belakang dan menyuruhku untuk cepat-cepat berbaikan denganmu."


"......Yuzurun dan yang lain?"


"Nanti, kirimi mereka pesan atau semacamnya, ya."


"Iya...... Eh, tunggu dulu? Ada banyak sekali pesan masuk dari Renji......"


"Habisnya, aku sangat mengkhawatirkanmu......"


"Ini jumlahnya sampai lebih dari seratus pesan, tahu?! Padahal aku sedang tidur?! Dikirimi pesan 'Kamu tidak apa-apa?' dalam jumlah sebanyak ini malah membuatku merasa ngeri, tahu?!"


"Maaf......"


Sagiri meradang.


Mendengar sebuah argumen yang sangat telak dan benar itu, aku kembali hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam.


"......Tapi, kamu curang."


"Kamu bilang apa?"


Sagiri bergumam dengan suara yang sangat lirih.


"......Aku bilang, terima kasih!"


Aku merasa yakin bahwa kalimat yang diucapkannya barusan bukanlah hal itu. Meskipun dia tampak bugar, wajahnya tetap saja memerah, dan andai kata dia saat ini hanya sedang marah pun, fakta bahwa dia sampai izin tidak masuk sekolah tetap tidak berubah.


"Begitu ya...... Kalau begitu, jangan berteriak-teriak lagi dan beristirahatlah sekarang. Aku akan tetap berada di sini bersamamu."


"......Boleh?"


Raut wajahnya yang semula tampak marah kini berubah menjadi gurat wajah yang menyiratkan rasa bersalah. Melihat sosok Sagiri yang biasanya selalu bersemangat kini tampak sedikit melunak, aku pun mengembuskan napas panjang karena merasa lega.


"Tentu saja boleh. Menurutmu sudah berapa tahun aku selalu berada di sampingmu untuk merawatmu saat sedang sakit? Sudah, ayo, orang sakit harus tidur, tidur."


"......Ughー"


Sembari menenangkan Sagiri yang terus menggerutu, aku menarik kembali selimut handuk yang sempat terjatuh dan menyelimutinya.


Semburan angin lembut berembus samar, membawa aroma tubuh Sagiri yang tercium manis.


"............Laksanakan tugasmu dengan baik."


"Sombong sekali sih, astaga......"


Sagiri yang menyembunyikan wajah merahnya di balik selimut handuk bergumam pelan demi menutupi rasa malunya. Mungkin karena kondisinya memang sedang tidak prima, nada suaranya tidak memiliki ketajaman seperti biasanya.


"Aku cuma ingin memastikan saja, kamu tidak sedang demam, 'kan?"


"......Aku tidak ingat."


"Kalau memang belum mengukur suhu tubuh, bilang saja jujur. Sejak tadi wajahmu itu terus-menerus memerah, tahu."


"Itu 'kan karena Renji, ughー......"


Dia kembali menggerutu.


Sembari menggerutu, dia terus menatap lurus ke arah wajahku dari bawah ranjang.


"......Apakah kamu sebegitu penasarannya?"


"Karena ini menyangkut tentang dirimu, Sagiri, jadi tentu saja itu sudah pasti."


"............"


"Oi, kenapa kamu mendadak diam begitu, oi."


Padahal aku hanya menjawab pertanyaan yang diajukannya, tetapi dia malah menarik selimut handuknya sampai menutupi seluruh kepalanya. Namun tak lama setelah itu, dia kembali menurunkan selimut tersebut dengan kekuatannya sendiri hingga sepasang mata yang berwarna amber jernih miliknya terlihat kembali.


Dia benar-benar orang yang sangat sibuk dan merepotkan, padahal kondisinya sedang lemah.


"......Kalau begitu, boleh kok?"


"Kamu bilang apa?"


Dia sempat mengucapkan sesuatu, tetapi kali ini kalimatnya tidak terdengar dengan jelas karena dia mengucapkannya sembari bergumam dari balik selimut handuk yang menutupinya.


"......Renji bodoh."


"Yang barusan itu jelas salahmu sendiri, 'kan, Sagiri."


Pipi Sagiri yang menyembul dari balik selimut handuk itu memang terlihat jauh lebih merah daripada biasanya.


"Kalau kamu sampai sepadat itu berbicara...... Coba ukur suhu tubuhku......"


"Aku yang ukur?"


"Umm......"


Padahal ini hanya sekadar mengukur suhu tubuh, tetapi entah mengapa jantungku mendadak berdegup kencang. Meski begitu, aku tidak melihat ada termometer di sekitar sini. Karena Sagiri juga entah mengapa sama sekali tidak berniat untuk keluar dari balik selimut handuknya, aku pun mengulurkan tanganku menuju ke arah dahinya.


"......Jangan begitu."


Namun, dengan suara tepukan pelat, tanganku langsung ditepis olehnya.


"......Lakukan dengan dahi, dong?"


Pada awalnya aku sama sekali tidak memahami maksud perkataannya.


Saat aku mencoba menyentuh dahinya dengan tangan dia menolak, tetapi dia malah menyuruhku melakukannya dengan menggunakan dahi.


"......Dengan dahi?!"


Aku baru bisa menyadari makna sebenarnya yang tersembunyi di balik kalimat yang mirip teka-teki itu setelah aku menyadari adanya perubahan pada sikap Sagiri.


"............Umm."


Sembari tetap berbaring di atas ranjang, Sagiri mengarahkan sepasang matanya yang memancarkan penuh harap ke arahku.


Gurat wajah cantik dari sang primadona kini terpampang dengan jelas. Dan seolah-olah sedang menungguku, dia pun perlahan memejamkan kedua matanya.


Terlebih lagi, dia bahkan dengan sangat sengaja menyibakkan poni rambutnya ke arah samping demi memperlihatkan dahinya yang mulus itu kepadaku.


Sebuah situasi klasik yang biasa terjadi ketika sepasang pria dan wanita yang memiliki hubungan sangat dekat sedang mengukur suhu tubuh bersama.


Tuan Putri Tidur yang egois ini ternyata sedang menuntutku untuk menempelkan dahiku ke dahinya demi mengukur suhu tubuhnya.


"......Serius nih?"


Apakah teman masa kecilku yang memiliki tubuh ringkih layaknya seorang putri raja ini benar-benar memahami seberapa luar biasanya tuntutan yang baru saja dilontarkannya itu?


Masalah utamanya adalah posisi Sagiri saat ini sedang berbaring telentang di atas ranjang. Meskipun tubuhnya dilapisi oleh selimut handuk, tetapi bahan kainnya yang tipis itu justru membuat lekuk tubuhnya yang berkembang dengan sangat baik tercetak dengan begitu jelas.


Dalam kondisi yang seperti itu, jika aku nekat melakukan tindakan menempelkan dahi ke dahi Sagiri, posisi tubuh seperti apa yang akan tercipta...... atau lebih tepatnya, posisi kami berdua nantinya akan terlihat persis seperti seseorang yang sedang mengungkung dan menindih pasangannya di atas ranjang.


"......Masih belum, ya?"


Padahal kondisinya seperti itu. Namun, Tuan Putri yang egois ini tetap memejamkan matanya rapat-rapat tanpa bergerak sedikit pun, dan bahkan kini dia malah mendesakku.


Padahal ini adalah tindakan mengukur suhu tubuh yang bisa dibilang sebagai salah satu bagian dari tindakan medis, tetapi entah mengapa hanya rasa bersalah yang terus membuncah di dalam benakku.


Meski begitu, aku sudah terlanjur tersudut ke dalam situasi di mana aku tidak memiliki pilihan lain selain melakukannya.


"T-Tunggu sebentar......!"


Sembari menahan agar suaraku tidak terdengar gemetar, aku pun menumpukan lututku di atas ranjang tempatku bersandar sejak tadi.


Mungkin karena ranjang ukuran tunggal ini memang tidak dirancang untuk dinaiki oleh dua orang sekaligus, suara derit ranjang yang cukup nyaring langsung menggema di dalam kamar.


Huuuh...... Haah......


Meskipun aku refleks mengambil napas dalam-dalam, aroma manis khas kamar Sagiri justru langsung merangsek masuk memenuhi rongga hidungku.


Hal itu kembali membuat isi kepalaku menjadi goyah.


Hanya mengukur suhu tubuh, ini hanya mengukur suhu tubuh, meskipun aku terus berusaha menanamkan sugesti itu ke dalam benakku sendiri, tetapi fakta bahwa sosok yang berada di bawah kungkunganku saat ini adalah sosok gadis yang kucintai yang sedang memejamkan mata dan tertidur, tetap tidak bisa berubah.


Situasi ini mungkin adalah sebuah metode penyiksaan jenis baru.


"Kalau begitu, aku ukur sekarang, ya......?"


"Umm......"


Sagiri memberikan jawaban singkat dengan suara lirih sembari tetap memejamkan matanya. Meskipun itu hanyalah sebuah gerakan kecil yang membuat bibirnya sedikit bergerak, tetapi hal itu sudah sukses membuat jantungku berdegup dengan sangat kencang.


Target utamaku saat ini bukanlah bibirnya, melainkan dahinya. Namun, alasan mengapa pandangan mataku entah mengapa terus saja teralihkan ke arah bibirnya itu, pastilah karena pengaruh dari aktivitas ciuman yang sudah tak terhitung berapa kali kami lakukan selama ini.


"J-Jangan bergerak, ya......"


Kuharap dia bisa memaafkan sikap plin-plan diriku yang terus-menerus memastikan hal itu secara berulang kali.


Padahal kami sudah sering berciuman, dan padahal tindakan kali ini hanyalah sebatas menempelkan dahi saja, tetapi aku justru merasa seolah-olah sedang melakukan sebuah perbuatan dosa yang jauh lebih fatal daripada sebelum-sebelumnya.


Entah karena saat ini kami sedang berada di dalam rumah Sagiri, atau karena kami sedang berada di atas ranjang, atau karena aku akhirnya bisa saling bersentuhan dengannya hari ini, atau mungkin karena perasaanku yang rasanya seolah-olah hampir sampai tetapi tidak kunjung tersampaikan; aku tidak tahu pasti apa jawabannya.


Rasa gugup akibat jarak wajah yang sangat dekat hingga seolah-olah kami bisa berciuman kapan saja ini sebenarnya sudah lama sekali berhasil kulewati.


"............"

"............"


Di dalam kamar yang diselimuti oleh keheningan total itu, suara derit ranjang kembali terdengar berbunyi samar.


"............"

"............"


Ah, seperti dugaan, bulu matanya ternyata sangat panjang, ya.


Pikiran yang seperti itu mendadak terlintas di dalam kepalaku lalu langsung sirna seketika, seiring dengan diriku yang mulai menjauhkan dahiku yang sejak tadi saling bersentuhan dengannya secara perlahan.


"B-Bagaimana......?"


Di dalam sepasang mata berwarna amber jernih yang kini telah terbuka itu, bayangan wajahku tampak terpantul dengan jelas.


"Ah......"


Kira-kira, bagaimana sosok diriku terlihat di mata sang pemilik embusan napas lembut yang tanpa sadar baru saja lolos dari mulutnya itu?


"......Karena aku masih belum tahu pasti, bolehkah aku melakukannya sekali lagi?"


"......Boleh kok."


Dan setelah itu, suara derit ranjang kembali terdengar. Kali ini, kami berdua saling melemparkan pandangan mata satu sama lain.


"............"

"............"


Kami hanya sebatas saling menempelkan dahi ke dahi. Meskipun area permukaan kulit yang saling bersentuhan kali ini jauh lebih luas jika dibandingkan dengan berciuman, tetapi tindakan ini seharusnya jauh lebih sehat dan tidak aneh-aneh. Namun, mengapa kesadaran kami berdua justru menjadi semakin kabur hingga membuat kami sama sekali tidak bisa mengalihkan pandangan mata dari satu sama lain? Jika saja aku sedikit melemaskan kekuatan pada kedua lututku saat ini, aku pasti akan langsung ambruk menindih tubuh Sagiri dan memangkas jarak di antara kami hingga benar-benar menjadi nol.


Tetapi, meskipun aku tidak melakukan tindakan yang sejauh itu, aku merasa seolah-olah perasaan kami berdua saat ini sudah bisa saling bertautan satu sama lain.


"......T-Tidak boleh."


Mungkin karena menyadari hal itu. Sagiri yang bisa dengan sangat cepat mendeteksi adanya perubahan pada kesadaranku yang mulai melayang, langsung menyembunyikan bibirnya yang berwarna merah muda tipis itu dengan menggunakan tangannya.


"Kalau ini ternyata adalah masuk angin biasa, nanti penyakitnya bisa menular ke Renji......"


Meskipun dia mengalihkan pandangan matanya dengan raut wajah yang tampak sangat malu, tetapi gurat warna merah merona yang kini telah menjalar hingga ke kedua pipinya sama sekali tidak bisa disembunyikan.


Sagiri itu egois. Padahal dia sendiri yang memulai ciuman sebelumnya, tetapi di saat aku yang menginginkannya, dia malah menolak. Namun, karena aku tahu penolakannya itu didasari atas rasa pedulinya kepadaku, hal itu justru membuat sosoknya terasa menjadi jauh lebih tercinta di mataku.


"Ah, kamu benar juga......"


"Umm......"


Mendengar ucapannya, isi kepalaku yang semula sempat melayang kini berangsur-angsur mulai mendingin.


Karena Sagiri tahu betul bagaimana rasanya menderita akibat jatuh sakit melebihi orang lain, dia pasti tidak ingin aku sampai merasakan hal yang sama.


"......Sebenarnya, ada hal yang sejak dulu selalu kupikirkan."


"......Eh?"


Justru karena alasan itulah, suasana di antara kami kembali memanas.


"Kupikir, alangkah indahnya jika aku bisa mengambil alih semua rasa sakit dan penderitaanmu, Sagiri."


"......Ah."


Sejak dulu, aku memang selalu tergila-gila pada Sagiri.


"Jadi, tidak apa-apa kalau kamu menularkannya kepadaku."


"T-Tunggu sebentar!"


Maka dari itu, ini adalah sikap egoisku. Aku menggenggam tangan mungilnya secara perlahan untuk menyingkirkannya dari wajahnya, membuat bibirnya yang berwarna merah muda tipis nan indah itu kembali terekspos sepenuhnya.


"Ren——"


"——"


Kreeet. Ranjang kami berderit nyaring seiring dengan guncangan yang besar.


Suara dari pendingin ruangan terdengar mendengung di dalam kamar.


Di atas ranjang yang kini telah kembali diselimuti oleh keheningan, Sagiri bergumam pelan.


"......Renji ada di sini."


Tangan kanannya yang mungil dan terasa dingin tampak menyentuh pipiku. Aku tidak tahu apakah suhu tubuh Sagiri yang sudah mulai menurun atau justru suhu tubuhku sendiri yang sedang meningkat. Namun, sentuhan tangannya terasa sangat nyaman, hingga membuatku tidak bisa mengalihkan pandangan mata dari teman masa kecilku yang berada tepat di sampingku ini.


"Di dalam mimpinya pun, Renji juga ada di sana, lho."


"Mimpi?"


"Umm, mimpi. Mimpi masa lalu......"


Aku pun terkadang suka memimpikan masa lalu. Apakah mimpi yang dialaminya sama dengan mimpiku?


"Sama seperti sekarang, dia sangat baik, tapi dia tidak sejahil dan senakal ini."


"Kamu sendiri juga......"


Aku hampir saja kelepasan berucap bahwa dia dulu tidak seegois ini, tetapi aku langsung menahan kalimatku karena tersadar bahwa sejak dulu dia memang sudah egois.


"......Aku sendiri juga kenapa?"


Namun, tampaknya Sang Putri yang egois ini tidak akan membiarkanku lolos begitu saja. Sepasang matanya yang berwarna amber jernih tampak menatapku tajam, memberikan tekanan lewat tatapan mata seolah mendesakku untuk melanjutkan kalimat yang terputus tadi.


"Menjadi...... menjadi......"


Menjadi semakin menggemaskan, menjadi semakin luar biasa, menjadi semakin memikat. Semua kosakata yang mendadak terlintas di dalam kepalaku itu langsung terkoreksi oleh kenyataan bahwa dia memang sudah seperti itu sejak dulu.


Sebenarnya, bagian apa dari diri Sagiri yang sudah berubah?


Tidak, bukan dia. Pihak yang telah berubah di sini sebenarnya adalah diriku sendiri.


"......Menjadi seorang sahabat yang seperti ini."


"Ah...... Ngguh."


Aku menarik tubuhnya ke dalam dekapanku di atas ranjang, lalu menciumnya. Melalui bibir dan tubuh kami, seluruh esensi dari kata "sahabat" yang saling bersentuhan dan bertumpang tindih ini terasa sangat hangat.


"Re-Ren...... ji......"


Dia tampak menggeliatkan tubuhnya sembari mengembuskan napas yang terasa manis. Namun, sepasang kaki Sagiri yang sudah telanjur melilit kakiku serta tubuh kami yang saling bertumpuk membuat semua celah untuk melarikan diri telah tertutup rapat.


Hubungan di mana kami saling berciuman padahal status kami adalah sahabat. Masalah yang selama ini terus-menerus membebani pikiranku itu seharusnya sudah sirna sejak detik di mana aku menyadari bahwa aku mencintai Sagiri.


Sejak dulu, Sagiri selalu mengatakan bahwa dia mencintaiku. Meskipun aku sudah mengetahui hal itu, aku mendadak menyadari bahwa selama ini aku hanya terlanjur terlalu terkekang oleh sebuah kata bernama "sahabat".


"Re...... ngg...... hnn......"


Aku ingin mengenal Sagiri, mengenal sosok sahabatku ini dengan jauh lebih dalam lagi. Meski begitu, aku sama sekali tidak memasukkan lidahku ke dalam mulutnya. Setidaknya, untuk bagian yang satu itu, aku memilih untuk tetap menghormati perkataan yang diucapkan oleh Sagiri sebelumnya.


Sebagai gantinya, setiap kali dia mencoba untuk berbicara atau setiap kali dia berusaha untuk mengambil napas, aku akan terus mengejar bibirnya yang mencoba menghindar, lalu mematuknya secara perlahan dengan lembut. Ini adalah aksi balas dendamku atas apa yang pernah dilakukannya kepadaku di atas ranjang kamarku waktu itu.


"......Hah...... Haah......"


Napas Sagiri tampak tersengal-sengal, dan tanpa sadar sepasang matanya kini telah berkaca-kaca dengan sempurna.


Alih-alih menangis karena sedih, sepasang matanya tampak sayu berair karena pengaruh hawa panas yang membakar tubuhnya, dan embusan napasnya yang terasa hangat tampak menyapu bibirku.


Padahal niat awal kedatanganku adalah untuk menjenguknya, tetapi aku justru merasa tindakanku ini malah membuat kondisi badannya menjadi semakin memburuk.


"......Nakal."


Kali ini, giliran Sagiri yang memulai ciuman terlebih dahulu.


"......Nakal."


Sembari merapatkan tubuhnya.


"......Nakal."


Sembari melingkarkan kedua tangannya di pinggangku.


"......Renji yang......"


Agar aku tidak bisa melarikan diri.


"......Sahabatku yang......"


Agar aku tidak bisa terlepas darinya.


"......Nakal."


Di dalam kamar yang sejuk oleh hembusan pendingin ruangan, di atas ranjang yang sama.


Kami saling menempelkan tubuh erat-erat hingga sama-sama bermandikan keringat, sembari terus mengulangi aktivitas ciuman yang hanya bisa dilakukan oleh sepasang sahabat seperti kami.


Kami menghabiskan waktu yang sangat membahagiakan ini dengan saling mendekap dan mengulangi ciuman berulang kali di atas ranjang sebagai sesama sahabat.


Di saat garis artikulasi yang membedakan identitas kami berdua mulai mengabur dan tetesan keringat yang entah milik siapa di antara kami berdua sudah mulai bercampur menjadi satu, Sagiri bergumam lirih dengan artikulasi bicara yang sudah tidak terlalu jelas.


"......Mau mengelap, badan?"


"......Eh?"


Bahkan aku yang biasanya tanggap pun, kali ini hanya bisa balik bertanya saking terkejutnya.


Di tengah embusan napas kami yang masih memburu, kehangatan dari tubuh kami yang semula saling menempel erat kini perlahan mulai menjauh, menyisakan rasa kesepian bersamaan dengan hawa dingin dari pendingin ruangan yang mulai berembus menyapu kulit.


Momen ini terasa sangat tepat untuk mendinginkan kulit dan pikiran yang sempat memanas akibat hawa panas yang saling bercampur.


"......Kalau terus begini, kita berdua bisa-bisa malah beneran masuk angin."


"......Kalau begitu, mau bagaimana lagi."


Padahal niatku datang untuk menjenguk orang sakit masuk angin, jadi hal seperti itu jelas tidak boleh terjadi. Isi kepalaku saat ini masih terasa pening oleh hawa panas, dan Sagiri pun memanfaatkan kondisi tersebut untuk bersikap manja kepadaku.


Kami berdua perlahan mulai menegakkan paruh atas tubuh kami di atas ranjang; selimut handuk yang semula menutupi tubuh kami kini telah berantakan dan menumpuk di area kaki.


Sembari melangkah dengan sedikit limbung, Sagiri bangkit berdiri lalu berjalan dengan langkah yang masih agak labil untuk mengambil selembar handuk dari dalam lemari pakaian kamarnya. Bersamaan dengan itu, dia juga mengambil botol plastik yang tergeletak di atas meja, lalu mendudukkan dirinya kembali tepat di sampingku hingga tubuhnya terlihat hampir ambruk.


Kreeet. Ranjang kami kembali berderit nyaring sekali lagi.


"......Ngguh...... Ngguh...... Fuuuhー...... Ini."


"......Terima kasih, ya."


Apakah karena fakta bahwa kami terus-menerus berciuman sampai beberapa saat yang lalu, ataukah karena posisi duduk kami yang membuat bahu kami saling menempel erat? Cara Sagiri meminum minuman isotonik dari botol plastik itu entah mengapa terasa sangat sensual di mataku.


Setelah selesai menghidrasi tubuhnya dan mengambil napas dalam-dalam, Sagiri menyodorkan botol plastik yang isinya kini tinggal setengah itu kepadaku. Aku menerima botol tersebut, lalu langsung meminum habis isinya dalam satu tegukan demi membasahi tenggorokanku yang terasa kering.


Kejadian ini membuatku kembali teringat bahwa momen saat kami berciuman untuk pertama kalinya dulu pun dipicu oleh sebuah ciuman tidak langsung melalui botol minuman yang sama.


"......Nah, ini."


"Ah, u-um."


Kemudian, Sagiri menyerahkan satu-satunya handuk kecil yang dipegangnya itu kepadaku. Handuk itu memiliki tekstur yang terasa sangat empuk dan halus, mirip seperti handuk-handuk yang biasa disediakan di hotel tempat wisata.


"......Menghadap ke arah lain, dong."


"Sa-Sagiri?!"


Saat ini jelas bukan waktunya bagiku untuk memikirkan bagaimana tekstur kelembutan dari handuk tersebut. Padahal posisi bahu kami masih saling menempel erat di atas ranjang yang sama, tetapi Sagiri yang baru saja menyerahkan handuk itu mendadak membalikkan punggungnya membelakangiku sembari mengambil napas dalam-dalam sebanyak satu kali. Dan setelah itu, dia mulai melepas kaus longgar yang dikenakannya.


Dalam sekejap mata, punggungnya yang mulus nan indah langsung terekspos sepenuhnya sebelum akhirnya tertutupi secara samar oleh helaian rambut putih panjangnya yang terurai lembut. Meski begitu, kulit indahnya yang sempat tertangkap oleh pandangan mataku dalam hitungan sepersekian detik itu telah terpatri dengan sangat kuat di dalam lubang memoriku.


"......Padahal aku sudah bilang untuk menghadap ke arah lain."


"Tidak, habisnya kamu mendadak langsung melepas bajumu begitu saja, tahu!"


"......Kalau tidak dilepas, badanku tidak akan bisa dilap, 'kan."


Tidak akan bisa dilap, 'kan, apa-apaan itu! Kalimatnya sama sekali bukan pembelaan yang tepat.


Sembari menutupi bagian dadanya dengan kaus yang telah dilepaskannya, Sagiri sedikit menoleh ke arahku dalam posisi punggung yang masih membelakangiku, lalu mengalihkan pandangan matanya ke bawah dengan raut wajah yang tampak sangat malu.


Situasi ini, ekspresi wajah itu, dan seluruh untaian kalimat yang diucapkannya benar-benar merupakan sebuah pelanggaran yang telak bagi pertahanan imajinasiku.


"T-Tapi tetap saja...... Tidak, sudahlah......"


Berbagai variasi kalimat penolakan sempat terlintas di dalam kepalaku, tetapi karena aku tahu betul bahwa semua penolakan itu pasti akan langsung ditepis mentah-mentah olehnya nanti, aku pun hanya bisa menggelengkan kepalaku pasrah.


Sekarang posisiku sudah terlanjur basah dan tidak bisa mundur lagi.


"......Aku hanya akan mengelap bagian punggungmu saja, ya."


"......Umm."


Kalau begitu, menyelesaikannya dengan cepat adalah pilihan terbaik demi kebaikan kondisi tubuh Sagiri dan juga demi menjaga batas kewarasan logikaku. Saat kembali menatap kulit putih indahnya yang terlihat bagaikan sebuah karya seni itu, aku refleks menelan ludahku sendiri tanpa sadar.


"A-Aku lap sekarang, ya......?"


"Ah, tunggu sebentar......"


"Apa-?!"


Sembari tetap membelakangiku dan mendekap kaus yang telah dilepaskannya di bagian dada dengan menggunakan tangan kiri, Sagiri mengulurkan tangan kanannya menuju ke arah tengkuk untuk mengumpulkan rambut putih panjangnya yang indah, lalu mengurainya ke arah depan.


Akibat tindakannya itu, bagian punggung, pinggang, dan seluruh area tubuhnya yang semula tersembunyi kini terpapar sepenuhnya di bawah terangnya siang hari...... tidak, di atas ranjang ini. Dan pada saat itu, tepat pada detik ketika dia sedang merapikan rambutnya, aku sempat melihat sekilas bagian dari dadanya yang berukuran cukup besar yang tidak mampu tertutupi sepenuhnya oleh lipatan kaus yang didekapnya dari arah punggung.


Aku langsung menggigit bibir bawahku sendiri dengan sangat kuat demi membuang jauh-jauh semua pikiran kotor yang mendadak muncul di dalam kepala.


"......Kalau begitu, tolong, ya."


"......A-Ah, iya."


Ada kalanya rasa sakit bisa menjadi penyelamat di dalam sebuah situasi. Dan hari ini, aku baru saja mempelajari pelajaran berharga tersebut secara langsung melalui tubuhku sendiri. Sembari menanamkan pelajaran itu di dalam benak, aku mulai menggerakkan handuk di tanganku untuk mengelap kulit putih transparan milik Sagiri yang tampak sedikit basah oleh keringat dan——


"Awh...... ngg......"


——Tepat pada detik itu, tubuhnya mendadak tersentak hebat.


Sagiri refleks membungkukkan punggungnya sembari menahan suara lenguhan yang lolos dari mulutnya dengan menggunakan tangan.


"G-Geli tahu......"


Raut wajahnya yang terlihat dari samping kini telah memerah padam hingga ke ujung telinganya.


Padahal aku hanya sebatas mengelap kulit telanjang milik sahabatku yang basah oleh keringat dengan menggunakan selembar handuk, tetapi isi kepalaku justru terus-menerus memikirkan hal-hal yang tidak senonoh.


"M-Maafkan aku......"


"T-Tidak apa-apa...... Aku cuma sedikit terkejut saja tadi......"


Dalam kondisi setengah telanjang dada, Sagiri menggelengkan kepalanya perlahan sembari menunduk dengan nada suara yang terdengar sangat lirih.


Setelah punggungnya yang ramping itu tampak membungkuk kecil, tidak ada kalimat lanjutan yang keluar dari mulutnya; dia hanya diam dalam posisi pasrah sembari menungguku untuk melanjutkan usapan handuk berikutnya.


"Kalau begitu, aku lanjutkan mengelapnya, ya......?"


Tidak ada jawaban verbal yang keluar dari mulut Sagiri, dia hanya memberikan anggukan kecil sebagai respons.


Karena dia memberikan reaksi yang seperti itu, detak jantungku justru menjadi semakin bertalu-talu dengan kencang, dan agar dia tidak sampai mendengar suara detak jantungku ini, aku pun segera menempelkan handuk tersebut ke arah bahunya yang ringkih.


"Hyaaa?!"


Hanya dengan sentuhan itu saja, tubuhnya yang ramping kembali tersentak hebat dan sebuah jeritan kecil yang terdengar sangat menggemaskan langsung lolos dari mulutnya.


Namun, kali ini aku tetap mempertahankan posisi handuk tersebut di atas bahunya sembari mulai mengusap permukaan kulitnya yang terasa sehalus kain sutra secara perlahan.


"Ngguuuh......"


Bagian bahu. Dia tampak menggeliatkan tubuhnya.


"Hyuuu......!"


Bagian tengkuk. Tulang punggungnya seketika langsung menegak lurus.


"Hiaaa...... Ughー......!"


Bagian punggung. 


Sembari membekap mulutnya sendiri dengan tangan, dia berusaha mati-matian menahan suara lenguhan yang terus-menerus keluar dari mulutnya.


"Ngguuuh...... Haah......-?!"


Bagian pinggang samping. Karena sudah tidak sanggup menahannya lagi, sebuah lenguhan bernada tinggi langsung lolos dari mulutnya.


"......Haah...... Haah......"


Dan kemudian, bagian pinggang bawah.


Padahal aku yang sedang mengelap keringatnya, tetapi justru aku sendiri yang kini malah mandi keringat. Itu adalah jenis keringat yang terasa panas sekaligus dingin, sebuah kontradiksi yang menggumpal menjadi satu.


Sagiri terus mengembuskan napas pendek yang memburu secara berulang kali, tetapi kondisi yang sama pasti juga sedang terjadi pada diriku saat ini.


"......Kamu memang sangat lemah terhadap rasa geli, ya."


"......Ini semua...... karena salahmu, tahu, Renji......"


"......Maaf."


Karena dia membalas tindakanku dengan nada suara yang terdengar sangat mendendam padahal aku sudah berbaik hati mengelap badannya, aku pun langsung meminta maaf.


Masalah menggelitik seperti ini, aku sendiri terakhir kali melakukannya saat masih duduk di bangku sekolah dasar. 


Tidak, tindakan kali ini memang bukan bermaksud untuk menggelitiknya, tetapi aktivitas yang menyerupai hal tersebut biasanya memang lebih sering dilakukan saat masih kanak-kanak. Namun, ketika masih kecil dulu, Sagiri memiliki tubuh yang sangat ringkih hingga hari-harinya terus dihabiskan di dalam rumah tanpa bisa melangkah keluar sama sekali.


Karena adanya sebuah kesepahaman tanpa kata bahwa dia tidak boleh dan tidak bisa memaksakan diri meskipun kondisi tubuhnya sedang membaik, jarak di antara dirinya dengan lingkungan sekitar pun perlahan mulai terbentuk secara alami.


"T-Terima kasih, ya......"


"Eh?"


"Karena sudah mau...... mengelap badanku......"


Aku sempat mengira dia sedang berterima kasih atas rasa geli yang dirasakannya tadi.


Hal itu mungkin terjadi karena aku mendadak teringat pada sosok Sagiri di masa lalu, alih-alih berfokus pada sosok Sagiri yang berada tepat di hadapanku saat ini. Meskipun aku tahu betul bahwa tidak ada yang berubah dari dirinya sejak dulu, tetapi sosok Sagiri yang sekarang terasa sangat menggoda dan memikat, sampai-sampai membuatku ingin mengalihkan pandangan mata demi menjaga kesadaranku.


"............"

"............"


Akhir-akhir ini, aku merasa keheningan di antara kami berdua menjadi semakin sering terjadi. Habisnya, aku benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa dalam situasi yang seperti ini. Meskipun saat ini aku sedang dihadapkan pada sosok sahabatku yang bertelanjang dada, tidak ada satu pun untaian kalimat bijak yang terlintas di dalam kepalaku.


"......Nee, Sahabat."


"A-A-A-Apa?!"


Maka dari itu, aku sama sekali tidak menyangka bahwa Sagiri akan menjadi pihak yang membuka pembicaraan terlebih dahulu.


Terlebih lagi, karena nada suaranya terdengar kembali memanas persis seperti sebelumnya, alarm kewaspadaan di dalam kepalaku langsung berdering nyaring, menduga jangan-jangan dia akan kembali meminta untuk berciuman dalam kondisi setengah telanjang seperti sekarang.


"Kenapa?"


"Eh?"


Namun, kalimat yang meluncur dari mulut Sagiri bukanlah sebuah permintaan manja, melainkan sebuah pertanyaan yang diucapkan dengan suara yang bergetar.


"Kenapa Renji...... bisa bersikap selunak dan sebaik itu kepadaku......?"


"......Sagiri?"


Rasa gemetar itu tidak hanya terdengar dari nada suaranya, tetapi juga mulai merambat ke seluruh tubuh rampingnya.


Sudah bisa dipastikan dengan sangat jelas bahwa rasa gemetar itu sama sekali bukan disebabkan oleh hawa dingin dari pendingin ruangan.


"......Renji selalu mengabulkan semua permintaanku, tanpa terkecuali."


"......Itu karena semua itu adalah permintaanmu, Sagiri."


Pertanyaan itu benar-benar sudah sangat terlambat untuk dibahas sekarang. Karena sejak kami masih kecil dulu, aku memang selalu ingin menjadi sosok yang bisa diandalkan dan berguna bagi Sagiri.


"Tapi, aku...... aku tidak bisa mengabulkan permintaan Renji......"


Permintaanku. Hal yang dimaksudkannya itu pastilah mengenai kejadian yang berlangsung kemarin. Yaitu momen saat aku menginginkan hubungan yang lebih dari sekadar teman dengan mencoba memasukkan lidahku saat berciuman, tetapi dia langsung menolaknya.


Sembari menahan tangis, waktu itu Sagiri mengatakan bahwa hal itu akan membuat kami tidak bisa lagi menjadi sahabat.


Padahal dia sendiri yang mengatakannya, tetapi dia juga yang sekarang malah meratapi hal tersebut...... Dia benar-benar sosok sahabat yang merepotkan dan berada di puncak keegoisan.


"......Jadi, kamu tidak bisa tidur semalaman hanya karena terus memikirkan hal itu?"


"............Umm."


Anak ini benar-benar, ya. Bisa-bisanya dia membelenggu dan menyiksa dirinya sendiri hanya karena untaian kalimat yang keluar dari mulutnya sendiri, ah, benar-benar, sungguh......!


"Kamu baik sekali ya, Sagiri."


"............Hah?"


Sagiri itu benar-benar sosok yang sangat egois dan luar biasa manja. Namun, bagian dari dirinya yang seperti itulah yang justru membuat sosoknya terasa sangat tercinta di mataku.


Aku pun perlahan mendekap tubuh sahabatku itu dengan lembut dari arah belakang.


"R-R-R-Re-Renji?!"


"Ada apa?"


"A-A-Ada apa apanya! Apa yang sedang kamu lakukan?!"


"......Aku hanya memelukmu dari belakang, apa kamu membencinya?"


"A-Aku tidak membencinya, sih! T-Tapi kenapa mendadak sekali?!"


"Kalau aku tidak melakukan hal yang seperti ini, kamu pasti tidak akan mau mendengarkan perkataanku, 'kan."


"Itu memang benar, sih, tapi......!"


Di antara semua orang yang kukenal, Sagiri sukses menduduki peringkat pertama sebagai sosok yang paling tidak mau mendengarkan perkataan orang lain di saat-saat yang krusial.


Terlepas dari hal itu, tindakan menahan tubuh teman masa kecilku yang sedang bertelanjang dada dan terus menggeliat di dalam dekapanku ini benar-benar menguras seluruh kekuatan mental, iman, dan juga pikiranku.


Sebab, paruh atas tubuh Sagiri yang sedang kudekap saat ini sama sekali tidak mengenakan pakaian. Jika tanganku sampai tidak sengaja menyentuh area yang salah, maka tamatlah riwayatku.


Area perut Sagiri yang berada di dalam lingkaran lenganku saat ini masih terasa basah oleh sisa keringat, dan demi memutus rantai godaan tersebut, aku pun segera melanjutkan kalimatku.


"......Karena kita adalah sahabat."


"......Auh."


Itulah alasan mengapa aku bisa terus berada di sampingnya sampai sekarang. Aku sudah tahu betul bahwa jika aku membalikkan kalimat pamungkas yang selalu digunakannya untuk menyerangku selama ini, maka efeknya akan menjadi sangat instan bagi dirinya.


"......Kamu curang."


"......Kamu juga, Sagiri."


Sagiri tampak menggenggam kedua tanganku yang melingkar di depan tubuhnya.


Bukan, maksudku, kalau tangan Sagiri justru menggenggam tanganku seperti itu, pertahananku justru akan menjadi semakin menipis...... Tidak, fokusku sekarang bukan ke sana!


"Aku pasti akan mengabulkan apa pun yang menjadi permintaanmu, Sagiri."


"......Eh?"


"Sejak dulu kamu sudah selalu menahan diri dari banyak hal. Karena itu, sekarang aku ingin kamu bisa menikmati hidup dengan bebas sesuai keinginanmu, dan teruslah tersenyum."


Dia sudah terlalu lama menghabiskan waktu dalam kesendirian yang menyakitkan. Sagiri pantas untuk mendapatkan kebahagiaan yang jauh lebih besar lagi.


"......T-Tapi......"


"Tidak ada kata 'tapi'. Kalau memang aku keberatan, secantik apa pun putri manja sepertimu, aku pasti sudah menyerah dan angkat tangan sejak awal."


"A-Apa maksudmu dengan putri manja?! J-Jadi selama ini kamu berpikiran begitu tentangku?!"


"Tentu saja. Kamu pikir aku ini orang suci atau semacamnya?"


"K-Kan bisa menyampaikannya dengan kata-kata yang lebih halus!"


"Aku ingin terus berada di sampingmu, Sagiri."


"Eh?"


"Aku ingin kita terus tertawa bersama."


"......Auh."


"Apa begini saja masih belum cukup?"


"............Tidak, bukan begitu."


Aku mempererat pelukanku dari belakang.


Merasakan hal itu, Sagiri yang sempat hendak memberontak lagi selama sekejap langsung kembali menjadi tenang dan penurut.


Sahabatku yang satu ini memang harus diperlakukan sampai sejauh ini; jika tidak diutarakan dengan jelas lewat kata-kata, dia tidak akan pernah mengerti. Namun, hal yang sama tampaknya juga berlaku bagiku, yang baru bisa menyadari perasaan Sagiri setelah dia menciumku terlebih dahulu.


Aku dan Sagiri sama-sama orang yang merepotkan.


"Keunikan khas kami" yang sempat diucapkan oleh Yuzuru sebelumnya, tampaknya berada di puncak dari segala hal yang melebihi kata merepotkan.


Karena kami sudah terlalu lama bersama dan selalu berada di samping satu sama lain, keberadaan masing-masing telah menjadi hal yang teramat lumrah. Kami sudah berada di posisi yang terlalu dekat, hingga menjadi buta dan tidak bisa melihat apa-apa sebelum segalanya diwujudkan dalam bentuk tindakan nyata dan untaian kata.


"Bukannya belum cukup, kok......"


Sepasang mata berwarna amber jernih itu tampak mendongak menatapku. Di dalam dekapanku, Sagiri yang bertelanjang dada membalikkan tubuhnya, membuat rambut putih panjangnya yang indah bergoyang dengan lembut.


Meski bentuk tubuh femininnya yang telah tumbuh dewasa nan indah tertangkap oleh sudut mataku, pandanganku tetap terpaku sepenuhnya pada wajah Sagiri.


Sebab, sepasang matanya saat ini telah digenangi oleh air mata yang siap tumpah.


Padahal cuaca di luar sana sedang cerah hingga rasanya menyebalkan, tetapi sepasang mata Sagiri seolah-olah akan segera menumpahkan badai hujan air mata yang sangat lebat kapan saja.


Aku tidak ingin melihat Sagiri menangis lagi. Aku ingin dia terus berada di sampingku dan tertawa bersamaku selamanya.


"Sagiri......"


"Ren...... ji......"


Aku mengusap air mata yang hampir berlinang dari sudut matanya dengan menggunakan jariku.


Aku sudah tahu bagaimana cara untuk menghentikan tangisannya ini.


Sembari menempelkan tanganku di pipinya yang basah oleh air mata, aku dan Sagiri yang kini telah membalikkan tubuhnya saling bertatapan langsung dari depan.


Sepasang alisnya yang ramping dan tertata rapi, bulu matanya yang panjang, serta matanya yang besar masih menyisakan kesan kekanak-kanakan, berpadu dengan sangat serasi bersama hidungnya yang mancung dan bibirnya yang mungil. Ini adalah wajah dari sahabatku, sosok yang paling rupawan, memesona, dan menggemaskan di seluruh dunia.


Aku pun mendekatkan wajahku ke arah sahabatku itu. Padahal aku bisa saja terus menatap wajahnya seperti ini selamanya, tetapi masih ada satu hal penting yang harus kuselesaikan.


Sebuah metode satu-satunya di dunia, yang bisa menenangkan sekaligus menghentikan tangisan dari sahabatku ini.


"Naa, Sahabat?"


"......Umm."


Dalam kondisi yang berbanding terbalik dari biasanya, kali ini akulah yang melemparkan pertanyaan kepada Sagiri.


Mendengar itu, Sagiri tersenyum bahagia, lalu membiarkan sisa air matanya berlinang sembari memejamkan kedua matanya perlahan.


Aku tahu betul bahwa air mata ini bukanlah air mata kesedihan. Namun, fakta bahwa Sagiri sedang menangis tetap tidak berubah.


Aku tidak ingin melihat air mata Sagiri. Oleh karena itu, segala penjelasan lebih lanjut hanya akan menjadi hal yang mubazir, dan untaian kata tampaknya sudah tidak lagi dibutuhkan di antara kami berdua saat ini.


Sebab, aku dan Sagiri adalah sepasang sahabat.


——Namun, justru karena alasan itulah. Ada satu kalimat yang benar-benar ingin kusampaikan kepada Sagiri.


"Aku mencintaimu."


"Ah......"


Sejak dulu, sekarang, dan untuk selamanya.


Di dunia ini, aku paling mencintai Sagiri melebihi apa pun.


Akibat dari untaian kalimat yang kuucapkan itu, sepasang mata yang sudah bersusah payah dipejamkannya kini malah kembali terbelalak lebar. Melakukan ciuman terlebih dahulu baru kemudian menyampaikan perasaan yang telah disadari di bagian paling akhir; lalu membuka mata kembali tepat setelah baru saja memejamkannya.


Urutan yang berantakan dan tidak selaras seperti ini pun terasa sangat mencerminkan kepribadian kami berdua.


"——Ngguh."


"——Mmh."


Aku dan Sagiri kembali saling bertumpu pada bibir kami.


Padahal aku baru bisa menyadari perasaanku sendiri setelah menjadi anak SMA dan baru saja berhasil menyampaikan perasaan ini sekarang. Namun, entah mengapa, ciuman ini terasa sangat familier dan familier, sebuah ciuman yang terasa sangat, sangat manis...... seolah-olah mampu meluapkan seluruh rasa kebahagiaan ke dalam dada kami.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close