Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Epilogue
"Nee, Sahabat. Hari ini kita ciuman lagi, yuk?"
Sembari menarik dasi seragamku dengan kuat, Sagiri mendongak menatap wajahku.
Cahaya jingga dari matahari terbenam yang menembus kaca buram pada pintu besi menuju atap sekolah, tampak menyepuh wajah cantiknya dengan rona kemerahan.
"Apa maksudmu dengan 'hari ini lagi'? Hari ini saja kita sudah melakukannya sampai 10 kali, tahu......"
Waktu sudah menunjukkan jam pulang sekolah.
Sejak Sagiri yang sudah kembali sehat masuk sekolah lagi, aku sudah berulang kali dipanggil olehnya, dan setiap kali bertemu, dia pasti akan selalu merengek meminta ciuman.
"Ehehe, kalau kamu menatapku terus seperti itu, aku jadi malu, nih."
"Dengarkan perkataanku dulu, dong."
Wajahnya tampak sangat bahagia. Bisa dibilang, dia sedang benar-benar berbunga-bunga. Sejak aku pergi menjenguknya kemarin, lalu menyampaikan perasaanku dan menciumnya, sikapnya terus-menerus menjadi seperti ini.
Gadis cantik bertubuh ideal yang jika diam saja pasti akan dikagumi semua orang ini, ternyata bisa menunjukkan gelagat yang sangat menggemaskan dan tampak sedikit bodoh saat hatinya sedang berbunga-bunga. Bisa melihat sisi dirinya yang polos dan tanpa celah seperti ini adalah hak istimewa yang hanya dimiliki oleh seorang sahabat.
"Entah kenapa, tatapan mata Renji terasa sedikit mesum......"
"Aku tidak sedang melihatmu dengan tatapan mesum, kok."
"Apanya yang 'tatapan mata', maksudmu apa?!"
"Habisnya, aku cuma berpikir kalau kamu sangat menggemaskan."
"Uuuuhー!"
Jika biasanya akulah yang selalu digoda oleh kalimat-kalimat ringannya, sekarang situasinya telah berbalik hingga akulah yang bisa menggodanya. Merespons perkataanku tersebut, Sagiri menggembungkan pipinya seperti anak kecil, mengekspresikan rasa malu sekaligus rasa kesalnya lewat seluruh raut wajah.
Dia benar-benar menggemaskan.
Tepat di saat pemikiran itu terlintas di dalam benakku.
"——Mmh."
"——Eh?!"
Dalam sebuah serangan mendadak, bibirku langsung dibekap oleh bibirnya. Dasi seragamku ditarik dengan sentakan kuat, dan dia menyampaikan protes tanpa katanya itu melalui bibirnya yang berwarna merah muda lembut.
Berapa kali pun kami melakukannya, waktu seolah-olah selalu berhenti berputar setiap kali bibir kami saling bertumpu.
Dari arah bawah tangga, hanya terdengar lamat-lamat suara hiruk-pikuk yang samar dari sisa-sisa aktivitas murid di jam pulang sekolah.
"......Wajahmu merah padam tuh, Sahabat?"
Sagiri perlahan menjauhkan bibirnya, lalu tersenyum puas karena merasa telah berhasil memenangkan momentum. Itu adalah wajah dari sahabatku yang paling familier; sosok yang paling menggemaskan sekaligus paling menyebalkan di seluruh dunia.
"Tuh 'kan, terbukti kalau Renji yang jauh lebih menggemaskan."
"J-Jangan malah bersaing untuk hal yang seperti itu, dong......"
Tanpa disadari, posisi menyerang dan bertahan di antara kami telah berbalik sepenuhnya.
Siapa yang menyangka bahwa alasan dia mendadak menciumku adalah karena dia kesal setelah dibilang menggemaskan, dan hanya ingin melihat wajahku yang tersipu akibat serangan mendadaknya itu?
Sebuah kontak fisik penuh kasih sayang yang hanya bisa dilakukan karena status kami yang merupakan sepasang sahabat.
Hari ini pun, Sagiri tampak sangat puas.
"Kalau begitu, sekali lagi yuk?"
"......Kita sudah membuat Yuzuru dan yang lainnya menunggu, lho."
"Sekali ini saja lagi, ya?"
"......Mau bagaimana lagi."
Namun, Sagiri tampaknya tidak akan pernah puas jika hanya dilakukan sekali.
Tentu saja. Jika dia bisa puas hanya dengan sekali melakukan, kami tidak akan mungkin berciuman sampai lebih dari 10 kali pada hari ini.
"——Mmh."
"——Ngguh."
Dan kali ini, akulah yang memulai ciuman itu terlebih dahulu.
Aku kembali menempelkan bibirku pada bibir sahabatku; sepasang bibir yang tidak pernah membuatku bosan seberapa sering pun aku menyentuhnya, dan justru membuatku merasa semakin bahagia setiap kali kami melakukannya. Berciuman dengan Sagiri kini telah menjadi bagian dari aktivitas harian yang lumrah bagi kami.
Tentu saja, karena kami adalah sepasang sahabat.
Saat terbangun di pagi hari, saat berpapasan di jalan menuju sekolah, saat menyelinap keluar dari ruang kelas, saat jatuh sakit karena kondisi tubuh yang menurun, saat membuatnya menangis, bahkan saat kami sedang bertengkar sekalipun; kami akan tertawa, berbaikan kembali, dan selalu melakukan ciuman setiap kali momen-momen itu terjadi.
Bagi kami, itulah arti sesungguhnya dari kata "Sahabat".
Saat aku perlahan menjauhkan bibirku dari bibirnya, sepasang mata berwarna amber jernih yang tampak berkaca-kaca itu kembali menatap ke arahku.
Ah, gawat. Sinyal di dalam dirinya sudah benar-benar menyala sepenuhnya.
"......Nee, Sahabat. Sekali ini saja lagi, kita ciuman, yuk?"
Tatapannya memancarkan kilau yang tampak berbinar layaknya anak kecil, sekaligus menyiratkan kesan sensual layaknya orang dewasa.
Saat dihadapkan pada raut wajahnya yang tampak sebahagia itu, sudah pasti aku tidak akan mampu untuk menolaknya.
"......Ini benar-benar yang terakhir, ya?"
Dan setelah itu, aku dan Sagiri kembali saling bertumpu pada bibir kami. Sebuah ciuman yang tulus dan penuh kebahagiaan di antara sepasang sahabat, sebuah ciuman spesial yang hanya milik kami berdua saja.
Afterword
Salam kenal, saya Yumeigetsu.
Saya sangat menyukai cerita romcom yang super manis. Saya benar-benar sangat menyukai karya-karya yang hanya dengan membacanya saja bisa membuat kita senyum-senyum sendiri, dan hanya dengan melihatnya saja bisa membuat kita merasa malu sekaligus berdebar-debar. Saking sukanya, sensasi itu saja sudah cukup bagi saya untuk menjadi "teman makan nasi" yang nikmat.
“Nee Shinyuu. Kyou mo Kiss, Shiyokka?” (Hei, Sahabat. Hari ini kita ciuman lagi, yuk?)
Bagaimana menurut Anda sekalian mengenai karya ini?
Jika cerita ini berhasil membuat Anda tersenyum-senyum sendiri, berdebar-debar, sedikit cemas, terangsang...... eh, maksudnya membuat hati Anda berdesir kencang, saya akan merasa sangat bahagia!
Sesuai dengan judulnya, ini adalah sebuah cerita komedi romantis super manis yang mengusung prinsip simple is the best; tentang sepasang sahabat karib yang berciuman setiap hari.
Faktanya, kata "ciuman" muncul sekitar 300 kali di dalam karya ini. Tokoh utama kita, Renji-kun, dan sang heroik, Sagiri-chan, terus-menerus melakukan ciuman dalam intensitas yang begitu tinggi hingga mungkin akan membuat Anda berpikir, "Bukankah mereka berciuman terlalu banyak?" Padahal, status mereka hanyalah sepasang sahabat karib. Jadi, bagi Anda tipe pembaca yang suka membaca bagian kata penutup terlebih dahulu, silakan menantikan hal tersebut......!
Saya, yang sangat menyukai tema ciuman ini, dulunya adalah seorang pekerja kantoran biasa. Titik balik yang membuat saya memutuskan untuk keluar dari perusahaan tempat saya bekerja selama hampir 10 tahun dan memantapkan diri untuk menjadi seorang penulis adalah karena sebuah insiden kecelakaan lalu lintas...... Namun, cerita suram seperti itu pasti tidak ada yang mau mendengarnya, bukan!
Bagaimana kalau saya menceritakan kisah tentang saya yang berhenti dari pekerjaan demi mengejar mimpi menjadi penulis, lalu masuk ke sekolah kejuruan yang memiliki jurusan penulisan novel, kemudian pergi ke SM Bar untuk melakukan riset demi kebutuhan karya tetapi malah berakhir ketagihan, hingga akhirnya tersadar akan minat saya terhadap seni ikatan setelah rutin datang ke sana selama beberapa bulan......
Eh? Waktunya sudah habis......?
Meskipun saya adalah tipe orang yang hidup dengan mengalir begitu saja tanpa rencana yang matang seperti itu, saya merasa sangat bahagia karena berhasil memenangkan penghargaan dari Dash X Bunko, sehingga bisa mempersembahkan buku ini ke hadapan Anda sekalian.
Kepada Fujiko-sensei, yang telah membuat ilustrasi-ilustrasi luar biasa indah, menggemaskan, sekaligus keren yang sukses membuat jantung terus berdebar. Kepada Editor H-sama, yang dengan berbaik hati memberikan izin dan berkata, "Jika isinya semenarik ini, versi yang sekarang pasti jauh lebih baik," padahal jumlah halaman buku ini sudah jelas-jelas melampaui instruksi rata-rata yang seharusnya hanya sekitar 240 halaman saja. Kepada para dosen pembimbing yang telah menanamkan pemahaman mendalam kepada saya—yang dulunya hanya sekadar hobi menulis tanpa bakat—mengenai apa itu novel, apa itu cerita, dan apa itu manusia. Kepada teman-teman kuliah yang saling memotivasi dan mengasah kemampuan bersama sembari mendiskusikan preferensi (fetish) masing-masing baik siang maupun malam. Serta kepada para pembaca sekalian yang telah mendukung karya ini sejak masih diserialisasikan di situs Shousetsuka ni Narou dan Kakuyomu, dan kepada Anda...... yang saat ini sedang memegang buku ini di tangan Anda......
Beruntung sekali, saat ini saya dikelilingi oleh banyak orang luar biasa yang rasa terima kasih saya kepada mereka tidak akan pernah cukup untuk diutarakan.
Saya percaya bahwa membuat karya-karya yang menghangatkan hati dan mampu membawa kebahagiaan bagi Anda sekalian adalah bentuk balas budi terbesar yang bisa saya lakukan. Oleh karena itu, mohon dukungannya selalu mulai dari sekarang dan seterusnya!
Sekali lagi, terima kasih banyak karena telah bersedia membeli dan membaca buku ini!
Yumeigetsu



Post a Comment