NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Shujinkou no Osananajimi ga, Wakiyaku no Ore ni Guigui Kuru V4 Chapter 1

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 1

Sebenarnya, satu-satunya perbedaan antara tokoh pendukung dan tokoh utama terletak pada heroinenya

"Baru saja dimulai, kan...."


Aku bangkit di atas ranjang sambil mengumpat pelan kepada mimpi yang baru saja kulihat.


Kehidupan pertamaku, awal semester dua.


Sedikit harapan yang kumiliki hancur berkeping-keping dalam sekejap, lalu kehidupanku sebagai tokoh pendukung pun dimulai kembali.


Namun kalau dipikir sekarang, masa itu masih jauh lebih baik. Karena saat itu aku masih bisa menjalani hari-hari yang damai sebagai tokoh pendukung biasa....


"Yah, untuk sekarang anggap saja tidak apa-apa...."


Setelah melewati semester pertama yang penuh gejolak, akhirnya liburan musim panas pun tiba. 


Akhirnya datang pula ketenangan yang hanya berlangsung sesaat.


Karena aku tahu selama liburan musim panas tidak akan terjadi apa pun, pagi ini terasa tenang—atau kalau mau dibilang buruk, terlalu santai tanpa rasa waspada.


Dulu, aku──Ishii Kazuki, kehilangan segalanya.


Aku dijebak atas kejahatan yang bahkan tidak pernah kulakukan, dan berubah dari tokoh pendukung menjadi tokoh antagonis.


Diadili atas tuduhan palsu, aku menjadi sasaran penganiayaan di SMA Hirasaka.


Penganiayaan itu bahkan merembet kepada keluargaku, hingga seluruh anggota keluargaku selain diriku kehilangan nyawa.


Dunia ini sudah rusak.


Setelah kehilangan alasan untuk hidup, pada Festival Tanabata saat usiaku tujuh belas tahun, aku melompat dari atap SMA Hirasaka untuk mengakhiri semuanya.


...Namun itu bukanlah akhir, melainkan awal.


Aku yang seharusnya sudah mati, ketika sadar justru kembali sekitar dua tahun sebelum kematianku....


Ke bulan April saat usiaku masih lima belas tahun.


Sejak saat itulah kehidupan keduaku dimulai.


Dalam kehidupan pertamaku, seluruh keluargaku terbunuh akibat komedi romantis itu. Karena itulah, di kehidupan kedua aku bertekad untuk tidak membiarkan akhir yang sama terulang.


Aku mati-matian menjauh dari komedi romantis yang berlangsung di SMA Hirasaka.


...Dan justru setelah melarikan diri itulah aku mengetahui kebenarannya.


Di balik komedi romantis yang dipenuhi niat baik itu, tersembunyi begitu banyak niat jahat.


Dan satu cinta yang begitu mendalam.


Aku mengetahui bahwa Amada Teruhito, yang selama kehidupan pertamaku kuanggap sebagai sahabat baik, sengaja mendorongku hingga ke jurang, lalu secara tidak langsung membunuhku beserta keluargaku.


Karena itulah aku memilih untuk tidak lagi melarikan diri.


Aku memilih bertarung.


Aku akan menghancurkan komedi romantis itu, dan kali ini melindungi keluargaku.


Setelah menghancurkan komedi romantis milik Amada, lingkungan di sekitarku pun berubah drastis.


Dalam kehidupan pertama, hubunganku dengan Tsukiyama Ouji hanya sebatas kenalan.


Sekarang kami benar-benar menjadi teman.


Aku juga menjadi jauh lebih dekat dengan Ushimaki Fuuka dan Iba Kouki, yang dulu bahkan hanya sekadar menyadari keberadaanku.


Namun semua itu bukan hasil usahaku seorang diri.


Ada satu orang lagi....


Hidaka Mikoto, yang selalu berada di pihakku apa pun yang terjadi.


Karena keberadaannya, aku berhasil melewati semester pertama yang penuh kekacauan, dan memperoleh lingkungan yang bahkan lebih baik daripada yang pernah kuimpikan.


Karena itu, aku benar-benar bersyukur kepada Hidaka Mikoto.


Tentu saja, perasaanku kepadanya bukan hanya rasa terima kasih.


Tidak berlebihan jika kukatakan bahwa dia adalah orang yang paling istimewa dan paling berharga bagiku.


...Namun.


"Hidaka. Sudah cukup, jangan siaga menungguku bangun tidur setiap pagi begini."


Bukan berarti aku akan membiarkan apa pun yang dia lakukan.


Begitu membuka mata dan melirik ke samping, seperti biasa Hidaka Mikoto sudah siap di sana.


"............"


Dia duduk dengan manis sambil terus menatapku tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Sudah jelas, aku dan Hidaka Mikoto sama sekali tidak tinggal serumah. Kami tinggal di rumah masing-masing. Bahkan stasiun terdekat kami pun berbeda.


Namun entah bagaimana, wanita ini selalu datang ke rumahku setiap pagi, lalu dengan kemungkinan yang sangat tinggi menungguku bangun tepat di samping tempat tidurku.


Bukankah menyenangkan kalau setiap bangun tidur ada gadis cantik luar biasa di sampingmu?


Ya. Itu cara berpikir orang awam.


Aku sudah terlalu sering melihat sisi buruk para gadis cantik yang bertolak belakang dengan penampilan mereka.


Karena itulah, sekarang aku memiliki mental sekeras baja yang tidak akan goyah hanya karena penampilan.


Aku ini profesional. Jadi, sehebat apa pun kecantikan Hidaka, aku tidak akan memanjakannya.


Karena itu, kalau dia mengulanginya lagi, aku akan marah.


...Tidak, yang berikutnya saja.


Ah, lebih baik yang setelah itu.


Ya, yang setelah berikutnya lagi.


Sial.


Imut sekali.


"............"


Meskipun menerima protes dariku, dia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda menyesal....


...Tidak juga. Beberapa waktu lalu dia pernah diam-diam menyusup ke dalam tempat tidurku saat aku sedang tidur, lalu dimarahi Ibu.


Sejak saat itu dia memang tidak pernah melakukannya lagi.


Berarti mungkin dia memang sedikit menyesal. Walaupun sejujurnya aku berharap dia menyesal lebih banyak lagi.


Bagaimanapun juga, bukan itu masalahnya.


"............Muu."


Entah kenapa sikap Hidaka hari ini terasa aneh. Biasanya begitu aku bangun, dia langsung mengucapkan, "Selamat pagi," lalu meminta "ciuman selamat pagi" dengan penuh semangat.


Hari ini dia tidak melakukan keduanya. Entah kenapa dia malah menggembungkan pipinya sambil cemberut.


Benar-benar sengaja terlihat imut.


...Tapi aku memaafkannya. Karena memang lucu.


"Ada apa, Hidaka?"


"............"


Meskipun sudah kutanya, tetap tidak ada jawaban.


Bahkan bukan cuma itu, pipinya malah semakin menggembung karena udara di dalam mulutnya bertambah.


Melihat tingkahnya yang menggemaskan, aku hampir saja tergoda untuk mencubit pipinya. Namun, aku berhasil menahan diri tepat pada saat terakhir.


Tenang. Jangan tertipu oleh kelucuannya.


Lawanmu ini penyusup rumah.


"............"


Lima detik berlalu dalam keheningan.


Ini pasti yang namanya, "Coba tebak kenapa aku sedang ngambek."


Di satu sisi aku sedikit senang mengetahui kalau Hidaka juga memiliki sisi seperti gadis biasa. Namun di sisi lain, kalau aku salah menebak alasannya, itu bisa menjadi masalah besar.


Kalau sampai salah, aku pasti akan menyakitinya.


Karena itu, aku tidak boleh keliru.


Tapi... apa penyebabnya?


Apa waktu tidur tadi aku mengigau yang aneh-aneh?


Tidak, lupakan kemungkinan itu. Kalau memang begitu, mustahil aku bisa mengingat apa yang kukatakan.


Jadi aku harus menganggap penyebabnya berasal dari perkataanku setelah bangun.


Sejak bangun tadi aku hanya mengucapkan dua kalimat.


—"Hidaka. Sudah cukup, jangan siaga menungguku bangun tidur setiap pagi begini."


Dan...


—"Ada apa, Hidaka?"


Saat kalimat pertama keluar, Hidaka sudah terlihat sedang kesal. Jadi penyebabnya jelas bukan kalimat kedua.


Apa dia marah karena aku tidak suka dia menungguku bangun?


Tidak mungkin. Aku sudah sering memprotes soal itu. Namun Hidaka Mikoto selalu mengabaikannya dan lebih memilih memenuhi keinginannya sendiri.


Kalau begitu, berarti yang lain....


...Ah. Jangan-jangan begitu ya?


Saat ini hanya ada kami berdua di kamar. Dan saat hanya berdua dengannya, kami punya satu janji khusus. Namun tanpa sadar aku baru saja melanggar janji itu.


"............"


Seolah ingin berkata, "Aku punya protes."


Hidaka menusuk pipiku dengan jari telunjuknya yang indah.


Karena itu, setelah menarik napas sebentar, aku menatap lurus ke arahnya lalu berkata,


"Selamat pagi.... Miko-san."


"...!"


"Selamat pagi, Kazupyon!"


Udara di pipinya langsung mengempis. Dengan wajah penuh kebahagiaan, Hida... maksudku, Miko-san tersenyum lebar.


Saat hanya berdua, aku tidak lagi memanggilnya "Hidaka", melainkan "Miko-san".


Itulah aturan baru kami.


Sebenarnya panggilan itu lahir karena aku sempat ingin memanggilnya dengan nama depannya, "Mikoto", tetapi malah gugup dan salah mengucapkannya.


Meski begitu, Miko-san bersikeras kalau ia lebih suka dipanggil seperti itu.


"...Bagus."


Ia bergumam pelan dengan nada suara yang seolah-olah ekornya sedang bergoyang kegirangan.


Melihatnya seperti itu, emosi pertama yang muncul dalam diriku justru rasa bangga.


Mungkin memang aku orang yang payah. Padahal kepada orang payah sepertiku, Miko-san selalu menunjukkan kasih sayangnya tanpa ragu.


Padahal dia punya begitu banyak pilihan lain.


Kenapa justru harus aku?


Pikiran seperti itu sampai sekarang masih ada. Namun bukan berarti aku boleh terus bersikap pasif.


Ini mumpung liburan musim panas. Setidaknya hubungan kami harus sedikit berkembang....


"Hm?"


"Ada apa?"


"Entah kenapa aku merasa Kazupyon akan mengatakan sesuatu yang membuatku senang."


Sepertinya sekarang aku memang harus mengatakan sesuatu yang membuat Hidaka bahagia. Tingkat kesulitannya langsung melonjak drastis.


"Begitukah?"


Sebenarnya memang ada yang ingin kubicarakan. Entah itu benar-benar akan membuat Miko-san senang atau tidak.


Tapi kalau dia sudah mengatakan seperti itu sebelumnya, jadi jauh lebih sulit untuk mengatakannya.


"Iya. Tapi sepertinya Kazupyon bakal malu sampai susah mengatakannya, jadi aku sudah menyiapkan bantuan."


"...Boleh kutanya, bantuan seperti apa?"


"Cukup ucapkan hanya ke dalam mulutku. Inilah yang disebut mouth-to-mouth untuk kata-kata."


Wanita ini benar-benar melempar romantisme sejauh lemparan palu.


"Tidak usah. Aku tidak butuh bantuan seperti itu."


"Jadi Kazupyon tidak menyangkal kalau memang ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku.... Bagus."


Seperti biasa, kemampuan membaca situasi dan teknik menggiring lawan bicaranya benar-benar mengerikan.


Deg-degan....


Miko-san menatapku dengan mata bening yang berbinar-binar dan bibir cantik yang membentuk senyuman. Tatapan yang dipenuhi kepercayaan dan kasih sayang.


Sejak dulu Miko-san selalu menghadapiku dengan perasaan yang begitu tulus. Sedangkan aku justru kebalikannya.


Aku selalu bersikap setengah-setengah.


Sungguh memalukan. Dan aku merasa sangat bersalah.


Alasan yang mendorongku memang cukup negatif. Aku hanya ingin sedikit mengurangi rasa bersalah itu....


"Jadi...."


Sekarang sedang liburan musim panas. Kalau bicara liburan musim panas, tentu teringat kenangan musim panas.


Dengan alasan yang terdengar dipaksakan itu sebagai penyemangat, aku memutuskan untuk mengajak Miko-san pergi berke... berk... yah, pergi jalan-jalan berdua.


Sejak semester pertama, dia hampir setiap hari datang ke rumahku.


Tempat kerja part-time kami juga sama. Bahkan selama liburan musim panas pun kami hampir setiap hari bertemu.


Namun...


Selama ini kami belum pernah sekalipun pergi ber... bermain hanya berdua.bJanji-janji yang kami buat selama liburan pun selalu melibatkan orang lain.


Selalu pergi bersama beberapa orang.


Ini tidak boleh terus seperti ini. 


Dalam komedi romantis, heroine sering kali memberanikan diri mengajak sang tokoh utama. Namun keberuntungan semacam itu tidak mungkin terjadi padaku.


Dan yang terpenting, aku tidak ingin bergantung pada keberuntungan semacam itu.


"Hei, Miko-san."


Karena itu, akulah yang akan mengajaknya.


"Hehe. Ada apa, Kazupyon?"


Bulu matanya bergoyang setiap kali berkedip. Padahal hampir setiap hari aku melihat wajahnya, tetapi aku tetap tidak pernah terbiasa dengan kecantikannya.


Tidak, serius. Orang ini benar-benar imut.


Bukan. Bukan waktunya terpana.


Katakan saja. 


Ajak dia pergi jalan-jalan berdua selama liburan musim panas.


Baik. Tekad sudah bulat.


Satu... dua...


Pintu kamarku terbuka.


"Kak, sudah bangun?"


Yang masuk adalah adik perempuanku, Ishii Yuzuki... Yuzu.


Yah.


Kalau Yuzu sudah datang memang tidak bisa diapa-apakan.


Ajakan seperti itu memang seharusnya dilakukan saat hanya berdua. Untuk sekarang, kutunda saja dulu.


"Sudah. Kakak juga sudah siap buat ciuman selamat pagi."


"Tidak perlu."


Ahh...


Adik perempuanku memang yang paling imut di dunia. Tapi hari ini dia jauh lebih tenang dari biasanya. Biasanya kalau Miko-san menyusup ke kamarku, dia pasti jauh lebih marah.


"Miko-chan tidak masuk ke tempat tidur, kan?"


"Iya. Aku berhasil menahan diri."


"Begitu ya. Kalau begitu tidak apa-apa."


Repot juga. Sekarang menyusup ke kamarku sudah dianggap hal yang biasa sampai-sampai standar kemarahan Yuzu berubah.


Melihatnya begitu, aku baru sadar kalau aku sendiri juga mulai terbiasa Miko-san masuk ke kamarku.


Ini sudah seperti hasil cuci otak saja.


Seram.


"Kazupyon, kalau ingin merahasiakannya dari Yuzu-chan, ada cara yang sempurna supaya cuma aku yang bisa mendengarnya."


Meskipun Yuzu datang, keinginannya sama sekali tidak berubah.


Aku yakin seratus persen dia akan mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal, tapi tetap saja kutanya.


"Cara apa?"


"Kita berdua melepas semua pakaian lalu masuk ke dalam selimut. Tempat suci yang tercipta. Siapa tahu jadi kenyataan. Ubah khayalan menjadi kenyataan. Sekaranglah waktunya melepas pakaian."


"Miko-chan, ayo. Sarapan sudah siap."


"...Sayang sekali."


Yuzu langsung mencengkeram tengkuk si monster pelepas pakaian itu. Lalu menyeretnya keluar begitu saja.


Saat aku hendak mengambil satu kaus kaki Miko-san yang tertinggal di kamar, Yuzu langsung menyambarnya dengan kecepatan luar biasa.


"Kakak tidak boleh menyentuhnya!"


Aku malah dimarahi, padahal itu cuma hadiah bagiku.


Akhirnya tinggal aku sendirian di kamar.


"Haaah.... Gagal ya...."


Kalau saja sejak awal aku langsung memanggilnya "Miko-san", pasti tadi aku bisa langsung mengajaknya.


"Tidak apa-apa.... Kesempatan masih banyak...."


Aku bukan pengecut.


Tadi hanya waktunya saja yang kurang tepat.


Aku pasti akan mengajak Miko-san.


Pasti.


◇ ◇ ◇


"Bagaimana kalau liburan musim panas nanti kita ke Prefektur Iwate? Ayah ingin mencoba makan wanko soba!"


Ayah mengusulkan itu setelah menghabiskan semangkuk sup misonya.


Ibu dan Yuzu pun menanggapi.


"Boleh juga. Tapi jangan terlalu memaksakan diri, ya?"


"Aku juga ingin mencoba wanko soba. Katanya rasanya bisa diubah pakai berbagai macam bumbu pendamping, kan?"


Percakapan keluarga itu sama persis seperti di kehidupan pertamaku. Meskipun kehidupanku yang kedua berubah drastis karena tindakanku, keluargaku tetap sama seperti dulu.


Dan itu membuatku sangat bahagia.


Tentu saja, ada juga hal-hal yang berubah....


"Om benar-benar tidak sabar karena kali ini Miko-chan juga ikut ya!"


"Aku juga sangat menantikannya."


Dipanggil Ayah, Hidaka menjawab dengan senyum malu-malu.


Di kehidupan pertamaku, kami memang pergi berlibur ke Prefektur Iwate.nNamun saat itu Hidaka tidak ikut.


Sedangkan di kehidupan kedua, berbeda.


Hidaka Mikoto ikut dalam perjalanan tahunan keluarga Ishii.


Ibu kemudian bertanya kepadanya.


"Miko-chan, bagaimana? Perlu kami ikut menjelaskan kepada keluargamu?"


"Tidak, tidak apa-apa. Aku akan mengatakannya sendiri."


"...Begitu."


Hidaka langsung menjawab tanpa ragu.


Melihat sikapnya, Ibu sempat menunjukkan ekspresi yang agak rumit sesaat.


Sebenarnya aku sudah lama memikirkannya.


Aku hampir... bahkan sama sekali tidak tahu keadaan keluarga Hidaka. Dia selalu datang ke rumah kami setiap pagi untuk sarapan.


Artinya kemungkinan besar dia tidak sarapan di rumahnya sendiri.


Apa hubungannya dengan keluarganya memang kurang baik?


Aku sering memikirkan hal itu. Namun aku tidak tahu apakah pantas menanyakannya.


"Oh iya! Kak, besok masih ingat, kan?"


Mungkin untuk mengusir suasana yang mulai muram, Yuzu sengaja berbicara dengan suara keras.


Anak ini benar-benar baik hati.

Benar-benar malaikat.


"Tentu saja. Besok kita pergi belanja bersama, kan? Apa pun yang Yuzu inginkan akan Kakak belikan."


"Aku beli pakai uang sakuku sendiri."


Anak yang serius sekali. Kalau gadis lain yang suka cari muka, mungkin dia akan berkata, "Waah! Makasih yaaa!" dengan suara manja demi menguras dompet laki-laki.


Tapi Yuzu tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Dengan kata lain, adik perempuanku memang yang paling imut di dunia.


Ah, tidak boleh. Aku hampir kembali tenggelam menikmati kemalaikatan Yuzu.


Tapi ada satu hal yang harus kuingatkan.


"Ngomong-ngomong, Yuzu tidak boleh ikut memilih baju renang untuk Tsukiyama, ya? Mata Yuzu yang indah tidak boleh melihat tubuh laki-laki yang mencurigakan."


"Cara ngomong Kakak jahat banget! Memang sih Tsukiyama-san agak... begitu...."


Yuzu mengalihkan pandangan dengan canggung.


Penyebabnya adalah agenda utama kami besok.


Selain pergi berlibur bersama keluarga saat musim panas nanti, kami juga punya satu rencana perjalanan lagi.


Yaitu perjalanan ke Okinawa.


Kami akan meminjam vila milik ayah Tsukiyama, lalu berenam—aku, teman-teman yang biasa bersama di sekolah, ditambah Yuzu—akan pergi ke Okinawa.


Perjalanannya berlangsung selama lima hari empat malam, mulai Jumat minggu pertama Agustus hingga Selasa minggu berikutnya.


Kalau sudah Okinawa, tentu identik dengan laut.

Kalau laut, tentu identik dengan baju renang.


Sebelumnya kami sudah pergi berbelanja untuk memilih baju renang. Namun karena suatu alasan, hanya Tsukiyama yang tidak bisa ikut. 


Begitu mengetahui hal itu, Tsukiyama berkata,


"Aku juga mau semuanya memilihkan baju renang untukku! Tenang saja! Aku percaya diri dengan bentuk tubuhku!"


Entah apa hubungannya, dengan logika yang sulit dipahami itu dia malah mengumpulkan kami semua hanya demi memilihkan baju renangnya.


Hidaka dan Yuzu tentu saja ikut. Begitu pula Iba dan Ushimaki, yang meski hubungan mereka sekarang agak canggung, dulunya adalah gadis-gadis paling populer di sekolah.


Empat gadis cantik.


Lalu kenapa empat gadis cantik itu harus berkumpul hanya untuk memilihkan baju renang bagi seorang pria bertubuh atletis?


Karena itulah akhirnya diputuskan bahwa besok kami akan pergi berbelanja untuk persiapan perjalanan, sekaligus memilihkan baju renang untuk Tsukiyama.


"Yuzu-chan, tenang saja. Meski kelihatannya mengecewakan, sebenarnya dia tidak berbahaya."


"Mm... Aku tahu dia bukan orang jahat, tapi..."


Setelah belanja bersama sebelumnya, Yuzuki sudah cukup akrab dengan Iba dan (terutama) Ushimaki, tetapi dia masih sedikit canggung terhadap Tsukiyama.


Alasannya jelas. Beberapa waktu lalu Tsukiyama pernah datang bermain ke rumahku. Saat bertemu Yuzu, dia langsung berkata, "Inilah malaikat yang sesungguhnya!"—sebuah kesimpulan yang menurutnya sangat wajar—lalu mulai memuja Yuzu.


Sampai di situ sebenarnya masih tidak masalah. Yang jadi masalah, dia memujanya keterlaluan. Dengan teori bahwa Yuzu adalah sosok yang harus dipuja, bukan didekati, dia terus berdiri agak jauh sambil memuji-muji kehebatan Yuzu.


Hasilnya, Yuzu malah jadi takut padanya.


Harusnya dia mencontohku yang masih berada dalam batas kewajaran. Dasar orang aneh.


"Hei, Kazuki. Sebenarnya dari dulu ayah penasaran... jangan-jangan Tsukiyama itu..."


Ayah memasang wajah sedikit bingung. Wajar saja, karena presiden direktur perusahaan tempat Ayah bekerja, Tsukitate Manufacturing, adalah ayah Tsukiyama. Bagaimanapun juga, dia memang putra seorang presiden direktur.


Aku memang belum pernah membicarakan hal itu kepada Ayah, tetapi nama keluarga "Tsukiyama" termasuk langka.


Mungkin Ayah sudah menyadari bahwa Tsukiyama adalah putra bos perusahaannya.


"Ya, benar seperti yang Ayah pikirkan. Dia cuma tameng daging yang berguna kalau terjadi sesuatu."


"Itu sama sekali bukan yang Ayah pikirkan!"


Rupanya tebakanku meleset. 


Namun, sekalipun dia putra presiden direktur, bagiku Tsukiyama tetaplah Tsukiyama.


Tameng daging yang berguna... sekaligus satu-satunya sahabat laki-lakiku yang benar-benar berharga.


◇ ◇ ◇


Liburan musim panas adalah hak istimewa para pelajar.


Setelah sarapan dan mengantar Ayah berangkat kerja, Yuzu mengusulkan dengan wajah berbinar,


"Ayo maraton drama di layanan streaming! Inilah nikmatnya liburan musim panas!"


Usulan yang terlalu imut untuk ditolak.


Akhirnya kami sekeluarga (ditambah Hidaka) menonton drama bersama di ruang keluarga.


Saat Ibu mulai menyiapkan makan siang, Hidaka langsung menawarkan bantuan. Yuzu yang tak mau kalah pun ikut membantu Ibu.


Melihat dapur yang jauh lebih ramai dari biasanya mungkin justru menjadi kenikmatan terbesar bagiku selama liburan musim panas.


Setelah makan siang selesai, aku dan Hidaka keluar bersama.


Hari ini kami bekerja part-time dari pukul dua siang sampai sepuluh malam.


Karena selama liburan musim panas kami memiliki dua rencana perjalanan, ada beberapa hari ketika kami tidak bisa masuk kerja.


Karena itu, pada hari-hari lain kami berusaha mengambil shift sebanyak mungkin.


Memang demi gaji, tetapi lebih dari itu sebagai bentuk permintaan maaf kepada manajer toko yang kesulitan menyusun jadwal kerja.


Biasanya aku belum pernah bekerja pada siang hari di hari kerja, jadi suasana minimarket yang kukenal terasa sedikit berbeda dan cukup menyegarkan.


"Damai sekali..."


Karena pelanggan sedang sepi dan tidak ada pekerjaan, tanpa sadar aku bergumam pelan sambil berdiri di kasir.


Kehidupanku sekarang benar-benar damai, seolah semua kekacauan sebelumnya hanyalah kebohongan.


Penyebabnya sederhana.


Aku tidak sedang berada di SMA Hirasaka. Selama tidak pergi ke SMA Hirasaka, aku tidak perlu bertemu Amada Teruhito, orang yang hanya menjadi sumber kebencianku.


Hanya dengan tidak bertemu dia saja, hatiku bisa setenang ini.


Bagi diriku, dia memang tak ubahnya dewa pembawa malapetaka.


Yah, mungkin baginya aku juga sama.


Amada tentu tidak mengetahuinya, tetapi seharusnya musim panas ini dia menikmati liburan bersama para heroine yang menawan. Bahkan perjalanan ke Okinawa seharusnya menjadi miliknya, bukan milikku.


Namun semua romansa yang seharusnya terjadi di semester pertama telah kuhancurkan, dan semua heroine mengetahui sifat aslinya.


Akibatnya Amada gagal menjadi protagonis, dan seluruh heroine meninggalkannya.


Dari pengetahuanku di kehidupan pertama, Iba, Ushimaki, Kanie, dan Hitsujitani yang dulu menyimpan perasaan padanya kini sudah tidak lagi mencintainya.


Bahkan, mereka sangat membencinya.


Dan aku juga tahu satu hal lagi dari kehidupan pertamaku.


Selama liburan musim panas tidak akan ada heroine baru yang muncul.


Dalam romansa komedi, liburan musim panas biasanya dipakai untuk mempererat hubungan dengan heroine yang sudah ada.


Amada yang bercita-cita menjadi protagonis romansa komedi klasik tidak akan bisa melakukan apa pun selama musim panas.


Ditambah lagi semua heroine yang seharusnya ada sudah menghilang darinya. Maka akan jauh lebih sulit baginya memicu event romansa.


...Yah, setidaknya sampai liburan musim panas berakhir.


Begitu semester dua dimulai, heroine baru akan muncul.


Souda Hiromi.


Siswi pindahan dengan tahi lalat di bawah mata kanan dan rambut twintail bergaya country sebagai ciri khasnya.


Dialah heroine Amada berikutnya.


Yang merepotkan dari gadis itu adalah fanatismenya terhadap Amada yang sudah berada di tingkat tidak normal.


Heroine lain memang sudah cukup gila, tetapi Souda jauh lebih parah. 


Pokoknya dia akan mengabdikan diri sepenuhnya kepada Amada.


Mulai dari merapikan seragamnya, membuatkan bekal makan siang, hingga terus melayaninya tanpa henti.


Sebaliknya, dia sangat membenci pria selain Amada. Sedikit saja ada laki-laki yang mengajaknya bicara, dia akan langsung berkata, "Jijik."


Karena itulah aku dan anak-anak laki-laki lain diam-diam menjulukinya "Crazy Maid."


Dan tentu saja, setelah insiden itu terjadi, "Crazy Maid" juga langsung mengarahkan taringnya kepadaku.


Segera setelah aku dijatuhi hukuman atas tuduhan palsu, aku berusaha menjelaskan kepada teman-teman laki-lakiku yang saat itu masih akrab denganku demi membuktikan bahwa aku tidak bersalah.


Tetapi aku tidak pernah berhasil.


Karena Souda selalu menghalangiku.


Setiap kali aku mencoba mengajak mereka bicara, mereka akan mengabaikanku sepenuhnya.


Kalau aku memohon agar setidaknya mereka mau mendengarkan penjelasanku, entah dari mana Souda akan muncul lalu berkata kepada mereka, "Jadi... kalian juga mau menjadi musuh Teruteru?"


Karena ketakutan, mereka bukan hanya mengabaikanku, tetapi langsung melarikan diri.


Hal itu tidak hanya terjadi pada teman-teman dekatku.


Entah bagaimana caranya, Souda berhasil menundukkan seluruh siswa laki-laki dan membuatku benar-benar terisolasi di SMA Hirasaka. Semuanya demi menciptakan lingkungan yang sempurna bagi Amada.


Mengapa Souda begitu mengabdi kepada Amada, aku tidak tahu. Bahkan saat hubungan kami masih baik dan aku pernah bertanya langsung kepada Amada, dia hanya menjawab, "Sejujurnya aku juga tidak begitu tahu..."


Sepertinya mereka memang sudah saling mengenal sebelum Souda pindah sekolah. Namun aku tidak pernah berhasil mengetahui detailnya.


Biasanya Amada akan bercerita banyak meski tidak ditanya, tetapi setiap kali topiknya tentang Souda, dia selalu bungkam meski aku bertanya.


Selain itu, reaksi para heroine saat itu juga terasa aneh.


Biasanya kalau muncul heroine yang begitu setia kepada protagonis, heroine lain pasti akan waspada atau setidaknya merasa tersaingi.


Namun mereka sama sekali tidak pernah menegur tindakan Souda. Bahkan cenderung membiarkannya.


Seolah-olah hanya Souda yang memiliki hak untuk mengabdi kepada Amada. Bagaimana dia memperoleh hak seperti itu tetap menjadi misteri.


Namun aku tidak berniat menyelidikinya. Lagi pula sekarang belum ada cara untuk melakukannya.


Souda baru akan muncul pada semester dua.


Mungkin saja ada event selama liburan musim panas yang mempertemukan Amada dan Souda. Namun tanpa informasi apa pun, aku tidak mungkin bisa mencegahnya.


Kalau memang tidak bisa dilakukan, ya tidak bisa.


Nikmati saja masa liburan dan lupakan Amada—


...Mana mungkin.


Kalau memang ada event yang menghubungkan Souda dengan Amada selama musim panas, aku pasti akan menghancurkannya.


Amada selalu bertindak seolah wajar melewati batas yang seharusnya tidak boleh dilewati.


Karena itu, hubungan antara orang seaneh dia dengan heroine segila Souda harus dihentikan.


Memang, saat ini pilihanku masih sedikit.


Tetapi sedikit bukan berarti tidak ada sama sekali.


Apakah Amada dan Souda baru bertemu saat liburan musim panas, atau sebenarnya mereka sudah saling mengenal sejak dulu?


Saat toko sedang benar-benar kosong, aku memanggil Hidaka.


"Hidaka."


Sekarang memang hanya ada kami berdua di toko, tetapi kami sedang bekerja.


Karena pelanggan bisa datang kapan saja, aku memilih memanggilnya dengan nama keluarga.


"Ada apa, Kazupyon?"


Dia tampak sedikit tidak puas dengan cara kupanggil, tetapi tetap menerimanya.


"Kau kenal seseorang bernama Souda Hiromi?"


Bagi Hidaka, pertanyaan ini mungkin tidak menyenangkan.


Bagaimanapun juga, dia adalah teman masa kecil Amada. Dalam hal lamanya hubungan, tidak ada yang mengalahkannya.


Karena itu, kalau memang mereka sudah saling mengenal sejak lama...


"Tidak kenal."


Jawaban yang wajar. Lagi pula Souda baru pindah pada semester dua.


Berarti mereka memang belum saling mengenal?


...Tidak, jangan terburu-buru menyimpulkan.


Dulu juga ada kasus Hitsujitani Miwa, teman masa kecil lain yang dikenalnya dari kelas renang, tanpa sepengetahuan Hidaka.


Bisa saja Amada bertemu Souda tanpa diketahui Hidaka.


"Hei, Kazupyon."


"Hm?... Eh?"


Aku punya firasat buruk.


Hidaka memang tersenyum, tetapi matanya sama sekali tidak ikut tersenyum.


"Hiromi itu laki-laki atau perempuan?"


"Perempuan yang sebisa mungkin ingin kuhindari."


"Fufu... begitu ya."


Cahaya kembali muncul di matanya, dan senyum lembut pun mengembang.


Sepertinya suasana hatinya membaik.


"Kazupyon memang jahat. Menyebut nama perempuan lain lalu membuatku cemas."


"Aku tidak bermaksud begitu. Maksudku... sekarang kaulah yang paling penting."


"...Bagus."


Mungkin alasan Hidaka mudah merasa cemas seperti ini adalah karena hubungan kami masih setengah-setengah.


Kalau begitu...mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuk melakukan sesuatu yang gagal kulakukan pagi tadi.


Untungnya, tidak ada pelanggan sama sekali.


Mengisi ulang barang dan membersihkan toko juga sudah selesai.


Bukan berarti aku sengaja terburu-buru menyelesaikannya demi menciptakan waktu berdua. Hanya saja, kebetulan kami memang punya waktu untuk berbicara berdua.


Ya. Kadang kebetulan memang luar biasa.


Ternyata sesekali keajaiban khas romansa komedi juga bisa terjadi padaku.


Kalau begitu, aku harus memanfaatkan kesempatan ini.


"Hei, Hida—"


"Oh! Lagi kerja ya, Ishii-kun, Hidaka-san!"


"Terima kasih sudah datang. Tolong jangan pernah lagi memperlihatkan wajah menyebalkan itu di sini."


"Itu bukan kalimat yang pantas diucapkan kepada pelanggan, kan!?"


Diamlah, Hitsujitani.


Kau bukan pelanggan, melainkan pengganggu.


Pergi sana ditendang kuda.


Aku baru saja hendak mengajak Hidaka keluar. Datangnya benar-benar di waktu yang paling buruk.


"Aduh... baru ketemu saja sudah galak banget. Hidaka-san juga setuju, kan?"


"Aku sedang terharu melihat kebaikan hati Kazupyon. Kalau aku, langsung telepon 110."


"Wah. Pemborosan uang pajak."


Meski dihujani sindiran dariku dan Hidaka, mantan heroine Amada, Hitsujitani Miwa, hanya tersenyum santai lalu berjalan ke depan kasir tempatku berdiri.


Serius, dia datang mau apa?


"Teman jauh-jauh datang menemui, tapi sikapmu kejam banget, ya?"


"Temanku cuma Tsukiyama."


"Ah, bagian itu malah kau akui dengan tegas ya..."


"Ya jelas. Jadi, ada perlu apa? Kau kan tidak tinggal di sekitar sini."


"Kalau alasannya karena aku kangen ingin lihat wajah Ishii-kun, bakal senang?"


"Orang yang setiap hari makan makanan kelas atas tidak akan merasa senang hanya karena diberi makanan kelas atas."


"Muji sambil nusuk juga ya..."


Dari samping terdengar suara kecil.


"...Bagus."


"Sedikit saja baik padaku juga boleh, kan?"


Meski mengeluh, dia tampaknya tidak terlalu memikirkannya. Lagi pula dia juga punya identitas lain sebagai VTuber populer "Hanatori Miyabi."


Karena terkenal, dia sudah terbiasa menerima hujatan dari para haters. Mentalnya jadi luar biasa kuat. Sindiran sekasar apa pun nyaris tidak berpengaruh.


Dengan kata lain, bebas dipukul habis-habisan.


"Jangan-jangan kamu lagi mikirin sesuatu yang jahat banget?"


"Nggak kok, samsak."


"Minimal dipikirin saja, jangan diucapin langsung dong."


Berisik sekali.


Aku memang kesal karena dia mengganggu rencanaku, tapi... tunggu dulu. Memang gagal mengajak Hidaka, tetapi ini justru kesempatan bagus.


Sekalian saja kutanya.


"Hei, Hitsujitani. Kau kenal Souda Hiromi?"


"Nggak kenal. Siapa itu?"


Hitsujitani juga tidak mengenalnya.


Kalau begitu, apakah Amada dan Souda memang baru bertemu saat liburan musim panas?


Saat aku sedang memikirkan itu, pintu otomatis kembali terbuka. Kupikir akhirnya ada pelanggan sehingga aku bisa mengusir samsak tak berguna ini.


Sayangnya, yang datang bukan pelanggan.


Melainkan Kobayakawa, pegawai paruh waktu yang dipekerjakan Hitsujitani.


"Haa... haa... dingin..."


Di kedua tangannya tergantung empat kantong kertas besar. Kaos yang dipakainya sudah basah oleh keringat hingga warnanya berubah.


Benar-benar seperti tukang angkut barang. Seberapa keras pun dia berusaha, mustahil rasa sukanya akan meningkat.


Kasihan juga sih… Tidak. Kalau mengingat apa yang pernah dia lakukan, justru dia harus bersyukur aku cuma menghukumnya sampai sebatas ini.


Hitsujitani mendekatinya dengan tatapan penuh kekhawatiran yang jelas dibuat-buat.


Benar-benar licik.


"Kobayakawa-kun, kamu nggak apa-apa?"


"Uhyoo!"


Bagiku itu nasib terburuk.


Tetapi bagi Kobayakawa, mungkin itu justru surga.

Senyumnya benar-benar menjijikkan.


"Kayaknya aku juga bantu bawa deh. Masa semua harus kamu angkut sendirian—"


"Nggak usah! Aku sendiri yang bilang mau bantu! Hehe!"


Katanya memang atas kemauannya sendiri. Padahal jelas-jelas tidak. Hitsujitani-lah yang mengarahkan situasi supaya dia mengatakan itu.


Memang khas Hitsujitani. Wanita yang sama sekali tidak merasa bersalah memanfaatkan laki-laki memang beda kelas.


"Makasih ya! Hehe. Memang laki-laki banget deh. Keren."


"Yah, beginian sih gampang."


Kobayakawa, meski kau berusaha bergaya keren, wanita licik di depanmu sudah melihat niat kotormu sampai ke akarnya.


Semoga suatu hari nanti kau sadar bahwa anggapan "orang yang paling dekat pasti akan jadi yang paling disayangi" hanyalah ilusi.


Dengan langkah riang, Hitsujitani kembali ke depan kasir.


"Makasih ya, Ishii-kun. Sudah mengenalkan aku pada orang sehebat dia."


"Sesekali kasih dia hadiah juga deh."


Kalau sampai Kobayakawa sadar akan sifat asli Hitsujitani lalu kembali mengamuk, yang repot nanti juga aku.


Cambuk harus diimbangi dengan permen. Sesekali dia juga perlu diberi hadiah.


Menyadari tatapan jengkalku, Hitsujitani menyeringai lalu berbisik pelan,


"Orang secantik aku mau berada di dekatnya saja sudah merupakan hadiah, kan?"


Begitu mendengar ucapannya, aku langsung berharap dia mengunggah kalimat itu ke media sosial dan kena hujat habis-habisan.


Mungkin karena kesal melihat Hitsujitani mendekatiku hanya untuk berbisik, Hidaka yang tadi diam mendadak menghampiri kami dengan tatapan yang begitu mengerikan.


"Hitsujitani, menghalangi. Kalau masih ingin bicara lebih lama, bayar satu liter darah untuk setiap detiknya."


"Minimal minta uang dong!? Kalau uang sih aku punya sebanyak apa pun! Walaupun cuma uang yang kupunya..."


Sedih juga....


Mungkin beginilah rasanya. Meski sudah memiliki lebih dari satu juta pelanggan sebagai streamer independen dan menghasilkan uang yang tidak pantas untuk ukuran siswi SMA, tetap saja ada hal-hal yang tidak bisa dipenuhi oleh uang.


Entah kenapa, aku merasa baru saja melihat secuil kebenaran hidup.


"Ngomong-ngomong, aku juga nggak berniat lama-lama kok."


"Kalau begitu, kenapa datang?"


"Ada sesuatu yang mau kukasih buat kalian berdua."


""Sesuatu?""


Suaraku dan Hidaka bertumpuk.


Sedikit... tidak, lumayan senang juga rasanya.


"Hitsujitani, kerja bagus. Hari ini akan kujadikan hari peringatan pertama kalinya suaraku bertumpuk dengan Kazupyon."


"Kebahagiaanmu sesederhana itu, Hidaka-san?"


"Nilai kebahagiaan berbeda bagi setiap orang. Selama bisa mendapat pengalaman baru bersama Kazupyon, itu sudah menjadi kebahagiaanku."


Kalau dia mengatakannya setegas itu, rasanya benar-benar memalukan. Dan aku jadi merasa menyedihkan karena belum mampu mengatakannya balik.


Semua ini gara-gara Hitsujitani datang.


Dasar samsak kotor.


"Yah sudahlah. Jadi, yang mau kukasih itu... kalian pernah main ke Round One?"


"Round One?"


Begitu mendengar kata itu, ingatan dari kehidupan pertamaku langsung muncul.


Setelah liburan musim panas berakhir, Hitsujitani pernah berkata, "Review kerja samaku dengan Round One bagus, jadi aku dikasih tiket gratis."


Jangan-jangan ini...


Karena harem Amada sudah bubar, dia tidak punya teman untuk memakai tiket gratis itu, jadi ingin memberikannya kepada kami?


Kalau memang begitu, ini justru kesempatan emas.


—"Karena sudah dapat tiket, bagaimana kalau kita pergi berdua?"


Dengan begitu aku bisa mengajak Hidaka dengan sangat alami.


Bagus sekali, Hitsujitani. Sebagai hadiah, statusmu kuangkat dari samsak kotor menjadi samsak saja.


"Setelah kerja sama itu selesai aku dapat tiket gratis. Kalau kalian mau, silakan dipakai."


Tenang. Jangan terlihat terlalu bersemangat.


Harus tetap santai... dengan gaya cool.


Tenang saja, gayaku yang cool sudah terkenal. Sekarang saatnya memperlihatkan kepada Kobayakawa perbedaan kelas kami.


"Nggak masalah. Kalau memang tidak ada yang memakainya... ya mau bagaimana lagi."


Sempurna.


Kuncinya ada di kata terakhir, sambil sedikit mengangkat sudut bibir. Dengan begitu pasti terlihat seperti aku menerimanya karena terpaksa.


"...Norak."


Diam kau, mesin pencetak tiket.


"Yah, syukurlah kalau kalian mau! Nih!"


Hitsujitani mengeluarkan beberapa lembar tiket dari tasnya lalu meletakkannya di atas meja kasir.


"Total ada enam lembar! Pergilah bersenang-senang bersama teman-teman kalian yang biasa, ditambah adikmu!"


"Ma... makasih!"


"Hah!? Ada apa itu!? Suaramu campur aduk antara rasa syukur dan dendam!"


"Jangan pedulikan..."


Aduuuuh!! Aku memang senang!


Tapi bukan begitu juga maksudnya! Kenapa di saat seperti ini kau malah perhatian! Bahkan sudah menyiapkan tiket untuk Yuzu juga!


Baik sekali kau ini! Sialan!


"Kalau begitu aku pergi dulu ya. Semangat kerja, kalian berdua!"


Setelah menyerahkan tiket, urusannya tampaknya sudah selesai.


Dia membeli sedikit minuman dan camilan, lalu pergi bersama Kobayakawa dengan langkah ringan.


Saat hendak keluar, Kobayakawa tampak gugup lalu bertanya,


"Hei, Hitsujitani. Mau nggak... kita juga main ke Round One?"


"Ah! Ide bagus! Ayo ajak semuanya dan pergi bareng!"


"Hah? Ah... iya... benar juga..."


"Biaya buat Kobayakawa-kun nanti aku yang bayar. Sebagai ucapan terima kasih karena selama ini sudah banyak membantu! Khusus buatmu, lho?"


"...Baik."


Benar-benar pukulan ganda yang kejam.


Dia ingin pergi berdua, tetapi malah diajak mengundang semua orang. Belum lagi harus ditraktir oleh gadis yang dia sukai. Sebagai laki-laki, perlakuan itu benar-benar menyakitkan.


Dengan langkah ceria Hitsujitani, dan langkah penuh kesedihan Kobayakawa, keduanya pun pergi.


"Syukurlah ya, Kazupyon."


"Iya... benar juga. Kau juga senang, Hidaka?"


"Senang sekali. Soalnya bisa bermain bersama semuanya."


Dia tersenyum riang dengan mata yang begitu murni.


Yah, kalau Hidaka senang, itu sudah cukup....


...Kurasa.


"Kalau begitu besok kita atur jadwalnya."


"Yup!"


Hmph! Lagi pula sejak awal aku juga tidak berniat memanfaatkan bantuan Hitsujitani untuk menciptakan waktu berdua dengan Hidaka!


Kalau memang mau mengajaknya, tentu aku ingin melakukannya dengan usahaku sendiri.


Aku sama sekali tidak kecewa.


◇ ◇ ◇


Setelah dibuat menderita oleh niat baik Hitsujitani, seolah-olah Tuhan berkata, "Yang salah itu kamu sendiri karena tidak bisa memanfaatkan kesempatan," toko langsung ramai.


Akibatnya, aku hampir tidak punya waktu untuk mengobrol dengan Hidaka.


Padahal dia berada tepat di sampingku, tetapi kata-kata yang ingin kusampaikan tetap tidak bisa kusampaikan.


Aku sempat berpikir dengan gaya dramatis seperti itu, padahal kenyataannya kami hanya sedang bekerja paruh waktu.


Namun aku tidak menyesal. Memang dunia ini membuat orang ingin mengeluh karena tak bisa mengatakan apa yang ingin dikatakan.


Tapi kesempatan masih banyak....


Pukul sepuluh malam pun tiba. Batas waktu siswa SMA boleh bekerja di minimarket telah berakhir.


Shift kami selesai.


Mulai sekarang aku akan pulang berdua dengan Hidaka.


Biasanya aku mengantarnya sampai stasiun, lalu pulang berjalan kaki ke rumah. Karena itu aku tidak boleh terburu-buru.


Mengajaknya tepat setelah keluar dari minimarket terlalu tidak romantis. 


Targetku adalah saat kami berpisah di stasiun.


Saat itu aku tinggal berkata dengan santai, "Kalau kau mau, bagaimana kalau kita pergi berdua ke suatu tempat selama liburan musim panas?"


Setelah percakapanku dengan Hitsujitani tadi, aku sadar kalau gaya cool masih terlalu dini untukku. Jadi yang terpenting adalah tetap bersikap alami.


...Walaupun sejak awal memikirkan hal itu berarti sudah tidak alami lagi.


"Hidaka, ayo pulang."


"Iya."


Kami berganti pakaian, melepas seragam kerja, lalu berpamitan sebentar kepada manajer.


Setelah mengobrol sebentar dengan pegawai yang datang menggantikan shift kami, akhirnya kami keluar dari minimarket.


"Ah..."


Hidaka mengeluarkan suara pelan seolah baru teringat sesuatu.


Aku tahu. Pasti soal bergandengan tangan, kan?


Kami sedang berdua. Biasanya memang sedikit memalukan. Tetapi sekarang aku mendapat kekuatan liburan musim panas.


Bergandengan tangan saja pasti mudah.


Malah aku yang ingin melakukannya lebih dulu.


Kalau begitu, sekarang juga—


"Ayah dan Yuzu-chan."


Tenanglah, tangan kananku!!


"Yahho! Kazuki-kun! Mikoto-chan! Kerja keras ya! Om datang jemput!"


"Hah? Kenapa repot-repot..."


"Soalnya sudah malam begini, kan? Ya tentu Om harus menjemput! Membiarkan gadis secantik Mikoto-chan pulang sendirian itu berbahaya!"


Si pria penuh kejutan yang tak terduga benar-benar muncul.


"Ayo, Om antar pakai mobil! Cepat naik!"


Biasanya setiap kali Hidaka bersikap agresif, selalu ada yang menghalanginya. Namun aku tidak menyangka hal yang sama juga akan terjadi padaku.


...Kenapa?


"Terima kasih banyak. Aku benar-benar senang."


Hidaka tampak sangat bahagia.


"Kazuki juga capek ya... eh, memangnya sedang apa? Kenapa memegangi pergelangan tangan kananmu begitu?"


"Jangan dipikirkan, Yuzu. Kakakmu sedang terkena penyakit khas laki-laki.... Pokoknya aku duduk di depan ya. Yuzu duduk di pangkuanku saja bagaimana?"


"Nggak mau. Aku duduk di belakang sama Miko-chan."


Sepertinya bahkan sedikit hiburan pun tidak ditakdirkan untukku.


Jangan menyerah. Masih ada besok.


Besok pasti...


...Ah ya, besok kami justru pergi belanja bersama semuanya. 


Mengajak Hidaka bermain berdua di depan Iba, Ushimaki, dan Tsukiyama?


Mana mungkin.


◇ ◇ ◇


Keesokan paginya, seperti biasa Hidaka datang ke rumah kami.


Setelah sarapan bersama, kami bertiga—aku, Hidaka, dan Yuzu—berangkat menuju stasiun tempat berkumpul.


Kami tiba sepuluh menit sebelum waktu yang dijanjikan.


Iba dan Ushimaki belum datang, tetapi Tsukiyama sudah lebih dulu menunggu. Begitu melihat kami, dia langsung melambaikan kedua tangannya dengan penuh semangat.


"Kazuki! Di sini! Di sini!"


"Nggak usah melambai segitunya. Aku juga sudah lihat."


Semangatnya sejak awal benar-benar berlebihan.


Atau lebih tepatnya...


Kepribadiannya benar-benar berubah dibanding kehidupan pertama. Dulu Tsukiyama jauh lebih tenang dan tidak pernah seheboh ini.


"Hai."


"Halo..."


Setelah aku menyapa, Hidaka memberi salam singkat, sedangkan Yuzu menyapa dengan sedikit gugup.


"Wah! Baru kali ini aku lihat Hidaka pakai baju santai. Rasanya seperti dapat bonus."


"Fufu. Makasih."


Sebenarnya hubungan Tsukiyama dan Hidaka cukup baik. Waktu Yuzu takut kepada Tsukiyama pun, Hidaka sempat membelanya dengan caranya sendiri.


"Nah..."


Setelah selesai mengobrol singkat dengan Hidaka, Tsukiyama—meski hanya mengenakan kaus—entah kenapa merapikan kerah bajunya.


Lalu dengan wajah sangat serius, dia berlutut dengan satu kaki di depan Yuzu dan menundukkan kepala dalam-dalam.


"Wahai Malaikat. Hari ini saya mendapat kehormatan luar biasa karena diizinkan menemani Anda berbelanja. Jika ada barang yang Anda inginkan, mohon berikan perintah. Apa pun itu, saya akan melakukan segala cara agar barang tersebut sampai ke tangan Anda...."


"Aku tidak butuh apa-apa! Dan tolong berdiri sekarang juga!"


"Apa!? Kalau begitu... bagaimana caraku mengungkapkan rasa syukurku...!?"


"Perasaanmu sudah tersampaikan kok, jadi tolong bersikap biasa saja!"


"Sial! Padahal aku punya uang...! Jadi beginikah batas kekuatan harta...!"


Entah kenapa kalimat itu terdengar mirip dengan ucapan seorang streamer yang kudengar kemarin.


Sejak pertama kali melihat Yuzu saat datang ke rumahku, Tsukiyama langsung jatuh menjadi pengagumnya.


Hari ini pun dia masih memuja Yuzu seperti biasa. Bedanya denganku, Tsukiyama tidak bertemu Yuzu setiap hari.


Mungkin kalau hanya sesekali bertemu, orang memang akan bereaksi seperti ini.


Memang luar biasa Yuzu.


Saat aku sedang mengaguminya, Iba dan Ushimaki akhirnya datang.


"Selamat siang, semuanya. Eh... Ouji-kun sedang apa?"


"Sedang menyampaikan rasa syukur kepada malaikat."


"Begitu ya...."


Sambil mendorong kacamatanya dengan jari telunjuk, Iba memilih tidak mendekati Tsukiyama dan langsung berjalan ke arah Hidaka.


Begitu melihat Ushimaki, wajah Yuzu langsung dipenuhi rasa lega sekaligus senang.


"Mo-chan!"


"Hai, Yuzu-cha... wah! Aduh! Jangan langsung melompat memelukku begitu dong!"


"Hehehe...."


Perempuan ini... dipeluk Yuzu?


Sejak dulu aku tahu Yuzu memang akrab dengannya, tapi aku tidak menyangka sampai sejauh ini....


Padahal, sudah lama juga Yuzu tidak memelukku...!


"Yuzu-chan, hari ini penampilanmu lucu ya. Terus, kamu ganti sampo?"


"Kamu tahu? Aku pakai yang direkomendasikan Miyabi-chan. Wanginya enak, kan?"


Iri sekali.... Aku juga ingin dipeluk Yuzu.


Saat aku sedang menggeliat karena iri, keadaan Hidaka jauh lebih parah. Bukan sekadar menggeliat, dia bahkan terlihat seperti hampir berguling-guling karena kesal.


"Seperti yang kuduga, Mo adalah ancaman. Kenapa dia bisa sedekat itu dengan Yuzu-chan.... Padahal aku saja butuh waktu sebulan sampai akhirnya dipeluk...."


Jadi kau pernah dipeluk juga, ya. Kau juga sudah cukup membuat iri, sialan.


"Fufu. Kalau begitu, bagaimana kalau Mikoto-san puas dengan memelukku saja?"


"Muu.... Terima kasih...."


Dengan ekspresi usil, Iba memeluk Hidaka.


Dulu Iba bukan tipe orang yang melakukan hal seperti ini. Mungkin ini juga salah satu perubahan yang hanya terjadi di kehidupan keduaku.


"Hei, Kazuki...."


"Aku tidak akan memelukmu, dan kau juga tidak usah memelukku."


"Kuh! Senangnya... kau sampai mengerti apa yang ingin kukatakan!"


Ternyata, apa pun pilihannya tetap berakhir buruk juga, ya.


◇ ◇ ◇


"Hei, Kazuki."


"Ada apa, Tsukiyama?"


Saat aku dan Tsukiyama berkeliling di pusat perbelanjaan yang pernah kami datangi sebelumnya, tiba-tiba dia mulai mengeluh.


Kelompok perempuan berpisah dengan kami. Kukira mereka akan membeli perlengkapan untuk perjalanan, ternyata tujuan pertama mereka adalah membeli piyama kembar untuk dipakai bersama.


"Kenapa kita harus jalan terpisah dari para cewek? Aku ingin mereka yang memilihkan baju renangku."


Mengeluh karena berpisah dari para cewek? Aku paham.


Ingin para cewek memilihkan baju renang (pria) untukmu? Yang itu aku tidak paham.


Apa ini termasuk alasan yang tidak murni? Pertanyaan itu langsung kulupakan sesaat kemudian.


"Kan bisa saja kita menemani mereka memilih piyama dulu, baru setelah itu mereka memilihkan baju renangku."


"Tidak. Itu sama sekali tidak boleh."


"Kenapa?"


Saat aku menjawab dengan nada serius, Tsukiyama tampaknya menyadari beratnya persoalan dan ikut memasang nada serius.


"Ada dua alasan utama. Pertama, tidak ada seorang pun yang tertarik dengan baju renangmu. Kedua, Ushimaki."


"Alasan pertama terlalu menyedihkan untuk dibahas. Boleh jelaskan alasan kedua?"


Ya ampun.... Setelah selama ini bersama, ternyata dia masih belum paham juga.


Baiklah. Akan kujelaskan dengan sangat rinci.


"Mungkin tidak akan terjadi, tapi kalau sampai mereka mencoba piyama, ada kemungkinan Ushimaki malah tanpa sengaja memperlihatkan pakaian dalam yang sedang dipakainya."


"Hah? Ushimaki punya hobi seperti itu?"


"Bukan soal hobi, tapi entah kenapa dia selalu berhasil melakukannya. Setidaknya, aku sudah tiga kali dipaksa melihat pakaian dalamnya. Setelah itu, Ushimaki malah menangis."


Entah kenapa, sedikit saja ada celah, dia selalu memanggil Baron.


Jangan pernah mendekati Ushimaki saat dia sedang berganti pakaian. Itulah aturan baru yang kini tertanam dalam hidupku.


"Hmm.... Kalau begitu memang tidak bisa diapa-apakan.... Meski aku masih tidak begitu mengerti."


"Benar. Memang tidak bisa diapa-apakan."


Begitu percakapan itu selesai, Tsukiyama menoleh ke sekeliling lebih dulu, lalu mendekatiku dengan senyum menyebalkan.


"Hei, Kazuki. Rahasia ya... hubunganmu sama Hidaka sekarang gimana?"


"....Biasa saja."


"Jangan sedingin itu, dong. Dari dulu aku pengen banget ikut ngobrol soal cinta antar cowok! Aku kan selalu tidak pernah bisa ikut pembicaraan seperti itu."


Ya jelas. Apalagi saat masa-masa puncak 'mengecewakannya'.


"...Jangan bilang ke orang lain."


"Tidak akan. Ngomong-ngomong, kalimat barusan masuk peringkat tujuh dalam 'Kalimat yang Ingin Kudengar dari Teman', dan sekarang aku benar-benar bahagia."


"Kalau begitu, boleh kita hentikan pembicaraannya sekarang?"


"Hei, jangan begitu dong! Masa sudah sampai sini malah berhenti!"


Kalimat itu juga pasti masuk daftar 'Kalimat yang Ingin Kau Ucapkan', ya?


Melihat wajah Tsukiyama yang begitu antusias, aku bisa menebaknya, tapi tidak kuungkit.


"Nanti kami akan pergi bermain berdua."


Ini bukan sekadar menggertak. Aku memang sudah memutuskan akan melakukannya.


Walaupun sekarang masih sebatas rencana, selama nanti benar-benar kulakukan, tidak masalah.


"Wah! Jadi akhirnya kalian resmi pacaran!?"


"Belum."


"Begitu ya! Berarti kau mau menyatakan cinta di akhir kencan!"


"Tidak. Aku juga tidak berniat menyatakan cinta."


"........"


Tsukiyama menatapku seolah sedang melihat makhluk paling menyedihkan di dunia.


Apa? Memangnya ada masalah?


"Jadi maksudmu, kau tidak berniat pacaran, tidak berniat menyatakan cinta, tapi tetap mengajak Hidaka berkencan?"


"Bukankah memperdalam hubungan juga penting?"


"Bahkan komedi romantis murahan yang sengaja dipanjang-panjangkan pun rasanya bakal melakukannya dengan lebih baik."


"Diam."


Aku juga punya keadaan yang cukup rumit.


"Yah, tidak apa-apa. Selama ada kemajuan sedikit saja, aku akan mendukungmu! Semangat, Kazuki!"


"Kau sendiri cepat cari pacar. Tidak ada orang yang kau sukai?"


"Hmm.... Tidak ada sih. Lagi pula, walaupun suka belum tentu bisa jadian, kan?"


"Kalau kau sih pasti bisa."


"Hah? Memangnya aku semenarik itu? Uhe! Uhehehe...."


"Ucapan tadi kutarik kembali."


Aku kesal melihat tawanya yang menjijikkan, jadi aku mempercepat langkah sedikit. Tsukiyama buru-buru mengejarku.


Begitu kami tiba di bagian baju renang, ternyata ada dua orang yang sama sekali tidak kami duga.


Kanie Kokoro dan ketua kelompok perempuan dari faksi Kanie.


Mereka tampaknya baru selesai berbelanja dan keluar dari toko dengan gembira... lalu menyadari keberadaan kami.


"Lho? Ishii-kun dan Tsukiyama-kun?"


Mungkin karena ada ketua kelompok di sampingnya, Kanie tidak menunjukkan sikap angkuhnya seperti biasanya. Ia menyapa kami dengan wajah yang agak canggung.


Tapi aku tahu. Kalau diperhatikan baik-baik, alisnya berkedut seolah berkata, "Duh, ketemu orang-orang yang merepotkan."


Tenang saja. Aku juga berpikiran sama.


"Yo. Kalian juga beli baju renang?"


"Iya. Baru saja selesai."


Tanpa sadar, aku dan Kanie saling bertukar pandang.


Bukan berarti kami akrab. Hubungan kami hanyalah saling memanfaatkan. Dan untuk saat ini, kepentingan kami benar-benar sejalan.


Kalau ketua kelompok itu dan Tsukiyama berada di tempat yang sama, pasti akan terjadi sesuatu yang merepotkan.


Sebaiknya kami saling menyapa sebentar lalu segera memisahkan mereka.


"Kalau begitu, kami pergi dulu—"


"Kalian juga datang buat beli baju renang, Tsukiyama-kun!?"


Seketika wajah Kanie berubah muram.


"Tidak, bukan begitu. Kami cuma kebetulan lewat—"


"Kazuki, kau bicara apa? Bukannya kita memang datang untuk membeli baju renangku?"


Mengecewakan sekali! Benar-benar mengecewakan!!

Jujur memang bagus, sialan.


"Iya, kan! K-kalian memang datang beli baju renang, kan!?"


Matanya sampai merah karena terlalu bersemangat.


Dulu perempuan ini memang sempat menyimpan sedikit perasaan pada Tsukiyama.


Tapi hanya sebatas, "Tsukiyama-kun ternyata lumayan juga." Sekarang perasaan itu sudah hilang.


Seandainya hanya berhenti sampai di situ tentu bagus.


Masalahnya, ternyata dia menyimpan hobi yang sangat busuk.


Melihat aku dan Tsukiyama akur saja bisa membuatnya bergairah secara seksual.


"Nfuu! Nfuuu!"


Hembusan napasmu menjijikkan. Jangan menatap kami bergantian dengan mata yang nyaris keluar seperti itu.


"Nanti kami semua mau pergi liburan, jadi kami datang buat memilih baju renang."


"Uffo.... Berarti sekarang Ishii-kun dan Tsukiyama-kun bakal masuk ke ruang ganti yang sama...."


Mana mungkin begitu.


Benar-benar perempuan berhati busuk.


Bagaimana bisa Kanie akur dengan perempuan seperti ini? Memang aku sendiri yang membuat mereka menjadi akrab, sih.


"Kazuki, kenapa kita harus masuk ruang ganti yang sama?"


"Jangan tanya aku."


Aku melirik Kanie, berusaha menyampaikan, "Tolong hentikan perempuan ini."


Tapi dia hanya menggeleng.


Ya sudah. Walaupun pasti sia-sia, setidaknya aku coba melawan.


"Begini.... Kami cuma mau memilih baju renang Tsukiyama. Buat cewek pasti membosankan, jadi kalian tidak usah—"


"Tidak mungkin!"


Sudah kuduga, sia-sia.


"Koro, ini kesempatan! Kesempatan! Peluang seperti ini tidak boleh dilewatkan!"


Ketua kelompok itu berbisik pada Kanie dengan semangat luar biasa.


Masalahnya, suaranya terdengar jelas.

Belajarlah mengatur volume suara.


"Kesempatan apa?"


"Kita bisa melihat Tsukiyama-kun memakai baju renang!"


Entah kenapa, firasatku mengatakan kata melihat yang dia maksud berbeda dengan yang kupahami.


Semoga saja aku salah.


"Tapi kalau kita para cewek ikut, bukannya malah mengganggu... hya!"


Dengan gerakan cepat, ketua kelompok itu memegang kedua bahu Kanie.


Tubuh mungil Kanie sampai bergoyang, tetapi perempuan itu yang sedang bersemangat sama sekali tidak menyadarinya.


"Dengar, Koro. Memang kalau kita memaksa melihat Tsukiyama-kun telanjang bulat, itu akan merepotkan."


Bukan merepotkan. Itu namanya tindak kriminal.


Dasar mesum. 


Jangan mengatakannya dengan wajah serius seperti itu.


"Tapi ingat baik-baik, ya?"


Aku yakin ini bukan sesuatu yang perlu diingat.


Tanpa menyadari pikiranku, dia berkata dengan ekspresi sungguh-sungguh.


"Puting susu laki-laki itu legal."


Entah kenapa aku mulai merasa keberadaanmu sendiri yang ilegal.


Perburuan baju renang Tsukiyama yang secara tak sengaja melibatkan Kanie dan ketua kelompok itu...berubah menjadi pemandangan neraka yang jauh lebih parah dari perkiraan.


"Bagaimana?"


"Bagus! Bagus sekali! Terutama garis paha yang kencang itu.... slurp"


"Cocok sekali untukmu, Tsukiyama. Yang itu saja—"


"Kalau begitu, aku ambil yang berikutnya!"


Begitulah terus. Karena wajah Tsukiyama memang bagus, hampir semua baju renang cocok untuknya.


Makanya aku terus berusaha segera memuji satu dan mengakhiri pemilihan baju renang.


Namun setiap kali begitu, ketua kelompok itu selalu menghalangi demi memuaskan keinginannya.


Ini sudah yang ketujuh.


"Hei, lakukan sesuatu."


"Aku kan gadis cantik yang lemah, jadi tidak bisa."


"Yang benar itu perempuan tengik berkulit badak."


"Yang berpikir begitu cuma Ishii-kun yang otaknya sudah rusak."


Mungkin karena kesal dengan situasi sekarang, kata-kata kami sama-sama mulai dipenuhi duri.


Ajang saling melampiaskan emosi. Padahal kalau Kanie bersikeras mengajak pulang tanpa banyak bicara, mungkin semua ini sudah selesai.


Tapi dia paham itu dan tetap tidak melakukan apa pun.


"Soalnya, pemandangan semenarik ini jarang bisa dilihat."


Bagaimanapun juga, Kanie memang peduli pada temannya.

Andaikan sedikit saja kepedulian itu diarahkan kepadaku.


"Ngomong-ngomong, Kanie."


"Apa?"


"Kau kenal Souda Hiromi?"


"Tidak. Siapa itu?"


"Seorang perempuan yang sepertinya bakal merepotkanku di masa depan."


"Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu."


Ia tampak tidak terlalu tertarik. Sambil memutar-mutar rambutnya dengan jari telunjuk, dia menjawab singkat.


Jadi, Kanie juga bukan orangnya. Kalau begitu, tinggal memastikan pada Iba dan Ushimaki saja.


"Yah, kalau nanti ada masalah, bersiaplah saja."


Peristiwa romcom yang mungkin akan terjadi pada semester dua. Semakin banyak orang yang bisa dijadikan sekutu untuk menghancurkannya, semakin baik.


"Hah? Jangan seret-seret aku."


"Ini kesempatan buat membayar utangmu, kan?"


"...Males."


Meski mengeluh, dia tidak benar-benar menolak. Itu karena Kanie memang berutang budi padaku.


Memang aku juga pernah meminjam bantuannya, tapi yang lebih sering membantu adalah aku.


Mulai dari menolong Kanie yang terisolasi sampai melindunginya dari para pria menyebalkan.


"Oh iya. Aku memang sudah janjian main sama teman-teman yang biasa, tapi aku juga sudah janjian pergi ke festival musim panas bareng Hime-chan dan Moka-chan."


"Cuma kalian bertiga?"


"Iya. Tapi mungkin saja nanti kami kebetulan bertemu cowok lain...."


Cara mengatakannya benar-benar bikin tidak enak.


"Benar-benar kebetulan?"


"Ya iyalah. Cuma, orang itu memang kelihatannya selalu beruntung soal beginian. Jadi aku sudah siap kalau nanti kebetulan bertemu."


Amada memang punya kekuatan misterius yang bisa mengubah kebetulan menjadi sesuatu yang seolah sudah ditakdirkan.


Festival musim panas, ya....


Aku ingin mengajak Hidaka, tapi percakapanku dengan Kanie barusan membuatku khawatir.


Kalau aku dan Hidaka pergi ke festival lalu bertemu Amada, itu bakal sangat merepotkan.


"Pergi saja ke festival yang agak jauh dari daerah sini. Musim seperti ini kan banyak festival di berbagai tempat. Kami juga rencananya mau ke yang agak jauh."


Padahal aku belum mengatakan apa pun.


Kenapa dia bisa tahu apa yang sedang kupikirkan?

Apa aku semudah itu ditebak?


"Kamu tidak pergi sama Hidaka-san?"


"Untuk sekarang belum ada rencana."


"Haaah.... Padahal aku sudah membantu menahan Hime-chan dan Moka-chan. Manfaatkan kesempatan itu dong. Anggap saja kau berutang satu padaku."


"Dari awal kau kan bukan membuat janji demi itu. Jadi itu tidak bisa dihitung sebagai utang."


"Bisa dong. Soalnya aku sudah memberimu informasi yang berharga."


Alasan yang menyebalkan, tapi sulit untuk kubantah sepenuhnya.


"Semangat ya, Ishii-kun. Aku juga tidak sabar melihat kalian jadian lalu membuat orang itu tersiksa. Cepatlah jadi pasangan."


"Aku tidak berniat memenuhi keinginan bodohmu."


"Hehe. Sayang sekali."


Setelah Tsukiyama selesai memilih baju renang, ketua kelompok perempuan itu langsung memaksakan memberikan kontaknya sambil berkata,


"Ini kontakku. Aku menunggu foto dalam keadaan telanjang bulat."


Ini musim panas, jadi setidaknya pakailah baju renang.


◇ ◇ ◇


Setelah Tsukiyama membeli baju renangnya, aku juga membeli beberapa barang.


(Sebagian besar gara-gara perempuan busuk itu.)


Aku sempat khawatir membuat Hidaka dan yang lain menunggu terlalu lama, tapi ternyata belanja mereka justru lebih lama daripada kami.


Selain piyama, mereka juga membeli kebutuhan sehari-hari dan tabir surya.


Yuzu dengan gembira berkata,


"Kami beli piyama yang modelnya sama tapi warnanya beda!"


Aku berniat mengusap kepalanya, tapi dia langsung menepis tanganku sekuat tenaga.


Sedih sekali.


Setelah itu kami menuju restoran keluarga untuk makan siang, tapi....


"Maaf. Boleh ganti restoran lain?"


Sambil refleks menyembunyikan tubuh Hidaka di belakangku, aku mengatakan itu.


"Oh? Kenapa... begitu ya."


Awalnya Iba terlihat bingung, tapi begitu melihat ke arah restoran, dia langsung mengerti.


Di restoran keluarga yang hendak kami masuki ada Amada Teruhito bersama beberapa anak laki-laki sekelas kami.


Orang-orang yang bersamanya adalah anggota kelompok Tsugo, teman-teman yang paling lama bersamaku di kehidupan pertama.


Awalnya aku kesal melihat mereka ada di sana, tapi kemudian aku juga bisa memahaminya.


Bagaimanapun juga, restoran keluarga ini memang tempat yang dulu sering kami gunakan untuk nongkrong berjam-jam. Waktu itu kami berkata,


"Di sekolah tidak mungkin. Jadi kita tunggu keajaiban di sini."


Lalu kami duduk seharian di restoran ini, kecuali Amada yang memang sudah berada di sana....


Kalau aku dulu, mana pernah ada pertemuan kebetulan seperti itu.


Kenapa Amada selalu mengalaminya?


"............"


Tanpa berkata apa-apa, aku mengamati mereka sebentar.


Anggota kelompok Tsugo tampak gelisah sambil melihat ke sekeliling, seolah percaya pada keajaiban yang peluangnya nyaris mustahil.


Amada juga begitu. Dia sengaja ikut melihat ke sana kemari bersama mereka. Persis seperti protagonis romcom yang ceritanya bahkan belum dimulai.


Tapi itu cuma salah paham. Justru karena semua heroine yang seharusnya bersamamu sudah hilang, sekarang kau berada di sana.


Iba bertanya dengan suara pelan.


"Apakah melihatnya membuat perasaanmu lebih baik?"


"Yang kurasakan cuma jijik... dan perasaan yang sulit dijelaskan."


Memang bukan itu tujuanku. Tapi aku sudah merebut sebagian besar hal yang seharusnya didapatkan Amada.


Aku tidak merasa bersalah, juga tidak merasa unggul.

Yang ada hanyalah rasa jijik... dan kecemasan.


Melihat Amada yang begitu menyedihkan, sangat berbeda dari kehidupanku yang pertama. Karena aku tahu betapa gemilangnya dia dulu, pemandangan ini terasa tidak nyata.


Seolah-olah dunia yang sekarang ini palsu....


Tapi tentu saja tidak.


Semua itu adalah akibat dari perbuatannya sendiri.


"Pokoknya kita pindah dulu. Maaf, tapi ayo cari tempat yang agak jauh."


"Kazupyon, maaf ya...."


Sambil mencubit pelan ujung kausku, Hidaka mengucapkan itu.


"Ini demi aku, jadi kau tidak perlu minta maaf."


Hanya Yuzu yang tidak tahu apa-apa. Dia memandang kami dengan wajah bingung.


Namun aku sengaja tidak menjelaskan apa pun, lalu kami menuju restoran keluarga di stasiun sebelah.


Sial....


Kenapa justru aku yang harus kabur?


◇ ◇ ◇


Meski sempat mendapat masalah yang tak terduga, di restoran keluarga berikutnya tidak ada Amada.


Memang sudah sewajarnya begitu, tapi aku tetap menghela napas lega.


Kurasa itu bukti kalau sampai sekarang aku masih takut pada Amada.


Sebanyak apa pun aku berkata pada diri sendiri bahwa semuanya sudah baik-baik saja, rasa takut karena kehilangan keluargaku di kehidupan pertama tetap tidak hilang.


Aku memang masih takut pada Amada....


"Hei, kalian. Ada yang kenal Souda Hiromi?"


Saat Hidaka dan Yuzu pergi mengambil minuman, aku bertanya kepada tiga orang yang masih duduk.


Aku sudah menanyakannya pada Hidaka, Hitsujitani, dan Kanie. Dengan begitu, semua orang yang punya hubungan dekat dengan Amada di kehidupan pertama sudah kutanyai.


Kalau mereka pun tidak mengenalnya, berarti Souda Hiromi pasti sudah mengenal Amada sejak dulu, atau akan muncul dalam salah satu peristiwa yang akan dialami Amada nanti.


"Aku tidak kenal."


"Aku juga."


"Aku juga tidak."


Mereka bertiga langsung menyangkal.


Iba tampak mengaduk kopinya dengan wajah serius, itu sedikit menggangguku, tapi dua lainnya hanya memasang wajah bingung.


"Orang itu kenalanmu, Ishii-san?"


"Bukan."


Aku langsung menjawab pertanyaan Iba.


"Begitu ya...."


"Ada yang mengganggumu?"


"Hehe. Kalau kau terlalu tertarik pada perempuan lain, nanti Mikoto-san marah, lho."


Jangan mengucapkan lelucon seperti itu sambil tersenyum anggun. Waktu aku bertanya pada Hidaka dulu, suasananya benar-benar menegangkan.


"Itu karena kau sengaja membuatnya terdengar mencurigakan."


"Bukankah penyebabnya justru pertanyaan Ishii-san yang terdengar penuh maksud?"


"Berisik."


Ya, memang kalau tiba-tiba menyebut nama orang yang tidak dikenal, pasti terdengar mencurigakan. Tapi aku memang tidak punya cara lain untuk mencari tahu.


Dengan begini, semua kemungkinan sudah tertutup....


Heroine yang mampu membuat murid-murid laki-laki tunduk karena ketakutan, dan berbeda dari heroine lain, hanya memikirkan kebahagiaan Amada lalu bertindak habis-habisan demi dirinya....Souda Hiromi.


Kalau bisa, aku ingin menghancurkan flag itu.


Masalahnya, informasi tentangnya terlalu sedikit.


Aku tahu dia adalah gadis pindahan yang mengabdi secara berlebihan pada Amada.


Tapi bahkan di kehidupan pertama pun, setiap kali kutanya bagaimana mereka berkenalan, Amada tidak pernah mau menjawab. Padahal heroine lain saja tidak kutanya pun dia ceritakan.


Kenapa hanya soal Souda yang disembunyikannya mati-matian?


Justru itu yang membuat keberadaan Souda terasa semakin menyeramkan.


"Kazupyon, kami kembali. Tadi lagi bahas apa?"


"Oh... ya, aku cuma menanyakan pada mereka soal yang dulu kudengar di minimarket."


Aku menjawab dengan jujur karena tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman. Rasanya alis Hidaka sedikit bergerak.


Tapi mungkin tidak apa-apa.


Mungkin....


Setelah itu kami menghabiskan waktu dengan damai, menentukan kapan menggunakan tiket Round One pemberian Hitsujitani, lalu mengobrol seru tentang perjalanan ke Okinawa minggu depan.


◇ ◇ ◇


"Semuanya, jangan sampai bangun kesiangan hari Jumat minggu depan ya!"


Sesampainya di stasiun, Tsukiyama si borjuis mengatakan itu sebelum naik taksi.


Memang pantas disebut orang kaya.


Alih-alih naik kereta, dia langsung naik taksi. 


Kalau dipikir-pikir, kemarin Hitsujitani juga membawa barang sebanyak itu. Bukankah dia seharusnya naik taksi saja?


Pikiran itu sempat muncul, lalu langsung menghilang.


"Kalau begitu, semuanya. Kita bertemu lagi hari Jumat minggu depan."


"Sampai jumpa lagi, Yuzu-chan! Nanti kita main sepuasnya ya!"


"Iya! Mo-chan, jangan bangun kesiangan ya!"


Setelah berpisah dengan Ushimaki dan Iba di pintu tiket, kami menuju peron yang berlawanan.


Karena arah Hidaka sama denganku dan Yuzu, sekarang kami tinggal bertiga.


Saat itu juga, Hidaka langsung memeluk Yuzu seolah sudah tidak bisa menahannya lagi.


"Nyah! Miko-chan, kenapa?"


"Aku sedang mengambil kembali kadar Yuzu-chan yang direbut Mo."


"Tidak ada yang direbut kok, dan memang tidak ada yang seperti itu!"


"Tapi... Yuzu-chan kelihatan senang waktu bersama Mo...."


"Ya, memang menyenangkan sih.... Tapi waktu sama Miko-chan juga menyenangkan kok."


Sambil mengalihkan pandangan dengan sedikit malu, Yuzu mengatakan itu.


Aku juga ingin memeluknya.


"Kazupyon, boleh tidak malam ini aku tidur di kamar Yuzu-chan?"


"Pulanglah ke rumahmu."


"...Padahal aku kesepian."


Hidaka mengerucutkan bibir sedikit lalu mengeluh.


Belakangan ini aku sering berpikir. Kurasa Hidaka sekarang jauh lebih sering memperlihatkan emosinya dibanding dulu.


Sejak awal dia memang sangat agresif, tapi dalam hal mengekspresikan perasaan, dia masih cukup tertutup.


Namun sekarang dia jauh lebih sering tertawa dan juga lebih sering marah.


Kalau perubahan itu mungkin terjadi karena diriku, entah kenapa aku merasa sedikit bahagia.


"Yah, tahan saja dulu. Oh ya, ini...."


"Eh?"


Mengikuti alur percakapan, aku menyerahkan kantong belanja yang kubawa kepada Hidaka.


"Kazupyon, ini...."


Saat menemani Tsukiyama membeli baju renang tadi, aku sekalian membeli barang lain.


Aku ingat waktu kemari sebelumnya dia memang sudah membeli baju renang, tapi belum membeli ini.


"Ini sandal pantai. Kalau kau mau, pakailah."


".............!"


Mungkin dia sama sekali tidak menyangka akan menerima hadiah seperti itu dariku.


Hidaka membelalakkan matanya.


Sebenarnya aku ingin memberikannya saat kami hanya berdua. 


Tapi aku bukan protagonis yang bisa selalu tampil keren. Karena itu, saat ada kesempatan, aku akan langsung memberikannya....


"Hari ini mungkin terasa sepi. Tapi libur musim panas masih panjang. Kita juga masih punya dua perjalanan. Selain itu... yah... pasti ada hari di mana kita bisa pergi berdua juga, kan?"


Kalau ada kesempatan mengatakannya, lebih baik kuucapkan sekarang.


Ah....wajahku panas.


Bukan karena musim panas, tapi karena malu.


"...Bagus."


Dengan wajah penuh kebahagiaan, Hidaka memeluk kantong belanja itu.


Di belakangku, Yuzu menepuk punggungku sambil berkata,


"Aku juga ikut main, lho."


"Kalau begitu, aku pulang dulu. Oh ya...."


Hidaka berhenti sejenak, lalu menatapku dengan senyum paling indah yang pernah kulihat.


"Kazupyon, aku sayang kamu!"


Dengan senyum yang terasa seolah bunga-bunga bermekaran di belakangnya, Hidaka pun pergi.


Libur musim panas sebenarnya sudah dimulai sejak tadi.


Tapi entah kenapa....


Baru sekarang rasanya benar-benar terasa bahwa liburan musim panas telah dimulai.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close