Penerjemah: Flykitty
Proffreader: Flykitty
Epilogue
Tidak ada sesuatu pun yang dapat membatasi kebebasan seorang heroine untuk bertindak
Benar-benar, kata "penuh liku dan gejolak" sangat cocok menggambarkan perjalanan ke Okinawa ini, dan hari ini adalah hari terakhirnya.
Setelah semua orang sarapan bersama di vila milik Tsukiyama, kami berangkat sedikit lebih awal menuju Bandara Naha dengan taksi.
Hari terakhir perjalanan diisi dengan berkeliling bandara, masing-masing menjelajahi area di dalam bandara.
Hanya saja, kali ini ada dua orang yang tidak ada saat kami datang ke Okinawa....
"Aku tidak sabar. Nanti setelah semester dua dimulai, kita bisa bertemu lagi, kan? Semoga kita sekelas!"
"Mungkin aku dan Hiromi bakal masuk kelas yang berbeda, tapi kalau bisa sekelas dengan kalian semua, aku pasti senang."
Yang datang sambil bergandengan tangan dengan akrab adalah Souda Hiromi dan Souda Yumi.
Meskipun pesawat yang mereka naiki berbeda, hari ini juga merupakan hari terakhir perjalanan bagi kakak beradik Souda. Karena itu, kami sudah saling menghubungi sebelumnya dan memutuskan bertemu di bandara untuk menghabiskan waktu bersama.
"... Kazu, ada apa?"
"Entahlah.... Rasanya... pemandangan ini benar-benar indah."
Di kehidupan pertamaku, aku bahkan tidak pernah ikut perjalanan ke Okinawa. Aku bahkan tidak pernah diajak.
Karena itu, aku sama sekali tidak tahu bagaimana Amada dan yang lain pulang dari Okinawa waktu itu.
Meski begitu, ada satu hal yang bisa kupastikan.
Kakak beradik Souda tersenyum sambil bergandengan tangan. Tak satu pun dari mereka hilang. Mereka berdua ada di sini.
Pemandangan ini... pasti jauh lebih indah dibandingkan kehidupan pertamaku.
"Hehe. Hiromi-san dan Yumi-san kelihatannya benar-benar akrab."
"Iya."
"Kazupyon, syukurlah."
Hidaka, yang sedang bergandengan tangan dengan Yuzu, berkata begitu padaku.
"Ya. Kurasa memang syukurlah. Walaupun semuanya tidak berjalan sempurna."
Seperti biasa. Pada akhirnya, apa yang bisa kulakukan memang terbatas. Bahkan kali ini pun, kalau tidak ada bantuan semua orang, aku tidak akan bisa menyelamatkan Souda Hiromi.
Kalau boleh berharap, aku sebenarnya ingin menghilangkan perasaan Hiromi pada Amada....
Tapi itu sudah terlalu serakah.
Begitu semester dua dimulai, Souda Hiromi mungkin akan menjadi heroine Amada....
Lalu menjadi musuh kami—
"Tidak apa-apa kok."
"Hah?"
"Memang sedikit rumit, tapi kurasa semuanya akan baik-baik saja. Sangat rumit sih...."
Kenapa Hidaka malah memasang wajah tidak senang?
Aku mencoba menyampaikan pertanyaan itu lewat tatapan, tetapi tampaknya dia tidak berniat menjawab. Untuk pertama kalinya, dia malah mengalihkan pandangan.
Yah, kalau Hidaka bilang begitu, mungkin memang akan baik-baik saja.
Sekalipun Hiromi menjadi heroine Amada, semoga saja dia tidak sampai bermusuhan dengan kami....
...Eh?
Yumi sedang apa?
Dia pura-pura menjatuhkan barang lalu diam-diam melepaskan tali sepatu Tsukiyama....
"Tsukiyama-kun, tali sepatumu lepas."
"Hah? Serius? Makasih sudah ngasih tahu... eh?"
Souda Yumi berjongkok sedikit, sengaja memperlihatkan belahan dadanya, lalu mulai mengikat tali sepatu Tsukiyama.
"Hehehe. Mau bagaimana lagi, biar aku yang mengikatkannya.... Nah, sudah selesai."
"Maaf sudah merepotkan. Makasih."
"Sama-sama."
Entah kenapa. Padahal senyumnya sangat cantik, tapi rasanya benar-benar menyeramkan.
"Tsukiyama-kun, haus tidak? Aku bawa air putih, teh, sama jus, jadi bilang saja kapan pun."
"Hm? Tidak kok. Makasih sudah repot-repot."
"Jangan dipikirkan."
"Semua keinginan Ouji-kun... akan kupenuhi semuanya...."
Saat melihat senyum Souda Yumi waktu itu, aku merasa seolah jantungku diremas erat oleh rasa takut.
Tentu saja.
Karena senyum yang diperlihatkan Yumi benar-benar sama dengan senyum yang diperlihatkan Hiromi saat datang pada semester dua di kehidupan pertamaku....
Jangan-jangan itu....
"Tsukiyama-kun... maaf ya...."
Hiromi, yang sepertinya tahu jawabannya, bergumam pelan dengan wajah benar-benar merasa bersalah.
Entah kenapa aku merasa Tsukiyama sedang menghadapi krisis terbesar dalam hidupnya, jadi aku bertanya.
"Boleh aku tahu sebenarnya apa yang terjadi?"
"Itu... soal kejadian kemarin, kan?"
"Iya."
"Berkat kalian berdua, Yumi berubah pikiran. Dia bilang, 'Selama ini ternyata aku yang salah. Aku akan benar-benar mandiri dari Hiromi, jadi tenang saja.'"
"Hm. Syukurlah kalau begitu."
"Lalu setelah itu...."
Entah kenapa. Aku cuma punya firasat yang sangat buruk.
"‘Kalau begitu aku juga harus mengajarkan kesalahan pada diriku sendiri. Aku harus meresapkan pesonaku sampai ke tulang sumsum. Kepada Tsukiyama-kun yang sudah benar-benar merendahkanku....’ begitu katanya."
"Ya ampun...."
Sepertinya memang ada takdir yang tidak bisa diubah sekeras apa pun kita berusaha.
Baik di kehidupan pertama maupun kedua, Souda Yumi tetap saja jatuh ke dalam kegelapan....
"Kau tidak bisa menghentikannya?"
"Menurutmu, mungkin bisa menghentikan orang seperti itu?"
Saat Hiromi mengalihkan pandangannya, aku ikut melihat ke arah Tsukiyama.
"Hahaha! Tidak usah sampai begitu juga! Lagi pula aku kan tidak melakukan apa-apa pada Yumi."
"Bukan begitu."
Sambil berkata demikian, Yumi memeluk lengan kanan Tsukiyama, lalu menempelkan dadanya.
Kemudian dia mendekatkan bibirnya ke telinga Tsukiyama, mengembuskan napas selembut cokelat yang meleleh.
"Berkat Ouji-kun, nyawa Hiromi terselamatkan. Berkat Ouji-kun juga aku menyadari kesalahanku. Jadi, sebagai balasan untuk penolongku, aku harus membalas budi dengan sepenuh hati."
Tanpa kusadari, cara dia memanggil Tsukiyama juga sudah berubah....
"Tapi jangan biarkan perempuan yang tidak kukenal mendekatimu, ya? Dibandingkan gadis lain mana pun, kamu harus selalu mengutamakanku."
Seram....
"Kurasa Yumi memang tipe orang yang bergantung pada seseorang. Selama ini orang itu adalah aku. Tapi sekarang sepertinya sudah berubah."
Tipe yang bergantung pada orang lain....
Penjelasan itu terlalu masuk akal. Di kehidupan pertama pun, dia memang menunjukkan ketergantungan yang luar biasa....
Meski begitu, kalau dibandingkan kehidupan pertama... ini masih jauh lebih baik, kan?
"Yah, kalau Ouji-kun sih pasti tidak masalah. Memang sisi menyedihkannya sangat menonjol, tetapi sebagai efek sampingnya dia memiliki mental yang luar biasa kuat."
Entah sejak kapan Iba sudah datang dan mengatakan itu seolah urusan orang lain.
Namun memang benar.
Melihat keadaan Yumi dan Tsukiyama....
"Mengutamakan Yumi? Ya boleh saja. Tapi kalau nomor satu sih tidak bisa. Nomor satu tetap Kazuki."
"Hmm. Jadi yang merepotkan adalah Ishii-kun, ya...."
Jangan. Jangan ikut menyeretku.
"Nah, benar kan? Tidak masalah."
"Yang tidak masalah cuma kau."
"Tenang saja. Kalau terjadi sesuatu, aku akan melindungi Ishii-san dengan tidur bersama dalam keadaan telanjang."
"Itu sama sekali tidak membuatku tenang."
"Kejam sekali.... Padahal dulu kamu sendiri yang berkata, 'Kalau terjadi sesuatu, lindungilah aku sekuat tenaga'...."
"Kazupyon?"
"Aku memang bilang! Tapi bukan itu maksudnya!"
Kenapa di tengah krisis malah muncul krisis baru?
Sejak kami sama-sama tahu bahwa kami menjalani kehidupan kedua, cara Iba menjaga jarak denganku benar-benar rusak total.
"Sudahlah, tidak apa-apa. Lagi pula, Ouji-kun pasti akan baik-baik saja. Ishii-san juga sebenarnya berpikir begitu, bukan?"
"...Ya."
Aku tidak tahu bagaimana akhirnya hubungan Tsukiyama dan Souda Yumi nanti. Tapi kalau dia, rasanya pasti bisa mengatasinya.
"Kalau begitu, sisanya adalah urusan mereka berdua. Kita sudah berhasil mencapai tujuan kita. Itu saja sudah cukup."
Suara Iba terdengar sangat puas.
Biasanya ekspresi bangganya cukup menyebalkan, tapi kali ini aku tidak merasa begitu.
Karena kali ini, aku benar-benar diselamatkan olehnya.
Kalau tidak ada Iba, Souda Hiromi pasti tidak akan bisa diselamatkan.
Masa depan terburuk pasti sudah menjadi kenyataan.
Aku menyampaikan rasa terima kasih itu dalam hati, tetapi sepertinya dia sama sekali tidak menyadarinya.
Dia malah mengobrol dengan Hiromi dengan wajah ceria.
"Ngomong-ngomong, Hiromi-san. Selamat datang di pihak kami. Moka-san dan aku menyambutmu."
"Hime Hime. Entah kenapa itu sama sekali tidak terdengar menyenangkan...."
Aku tidak tahu mereka sedang membicarakan apa, tetapi melihat wajah Hiromi yang benar-benar lesu, aku tahu itu pasti bukan hal yang baik.
"Tidak apa-apa. Setidaknya, lingkungan ini jauh lebih baik daripada sebelumnya."
"Soal itu... ya, nanti sebentar lagi akan kucoba lihat sendiri."
"Kalian sebenarnya sedang membicarakan apa?"
"Haa...."
Iba dan Hiromi menghela napas panjang bersamaan.
Di sampingku, Hidaka menggenggam tanganku sedikit lebih erat daripada biasanya.
"Tidak apa-apa kok, Miko Miko. Aku tidak sebodoh itu sampai menantang pertarungan yang pasti kalah."
"Meski begitu, Hiro-chan tetap harus diwaspadai. Kazupyon sangat baik pada Hiro-chan."
Entah sejak kapan mereka menjadi akrab, Hidaka dan Hiromi sekarang saling memanggil dengan nama panggilan.
Sebenarnya mereka sedang membicarakan apa?
Sebenarnya mereka sedang membicarakan apa!?
"Eh? Masa sih? Jadi Ishii-kun akhirnya sadar juga sama pesonaku?"
"Aku memang menganggapmu menarik, tapi kau tetap tidak bisa mengalahkan gadis yang ada di sampingku."
"...Bagus."
"Aku tahu kok. Tapi biarkan aku mengucapkan terima kasih dengan benar!"
Sambil memperlihatkan senyum yang begitu segar, Souda Hiromi melangkah maju.
Hidaka yang menggenggam tanganku di sampingku menarik tanganku sedikit ke arahnya.
Sementara itu, aku hanya menatap lurus ke mata Hiromi.
"Tadi pagi... sudah lama sekali sejak terakhir kalinya Papa dan Mama tersenyum. Yumi sedikit demi sedikit mau mendekati mereka.... Rasanya keluarga kami sedikit kembali seperti dulu."
Mungkin...Itulah langkah pertama menuju pemandangan yang selama ini diinginkan Hiromi.
Kalau dia berhasil melangkah sejauh itu, berarti mempertaruhkan nyawaku memang tidak sia-sia.
"Aku yakin... kami akan baik-baik saja.... Mulai sekarang, kami akan terus melangkah maju sedikit demi sedikit...."
"Memang lebih baik kalau sebuah keluarga akur."
"Iya.... Aku benar-benar setuju."
Hidaka menggenggam tanganku sedikit lebih erat.
"Selama ini aku selalu ingin punya pacar. Aku pikir kebahagiaan terbesar bagiku adalah menjadi pacar Amada-kun. Tapi berkat Kazu Kazu...."
Hiromi menghentikan ucapannya.
Dia menundukkan kepala, mengembuskan napas panjang, lalu kembali menatapku.
"Sekarang... aku jauh, jauh lebih bahagia!"
Sesuai dengan kata-katanya, Souda Hiromi memperlihatkan senyum yang dipenuhi kebahagiaan tanpa sedikit pun kepalsuan.
【Amada Teruhito (2)】
Benar-benar liburan musim panas terburuk....
Seharusnya sekarang aku dikelilingi para heroine yang imut dan sedang menikmati perjalanan yang menyenangkan. Tapi entah kenapa, yang ada di sekelilingku malah cuma para karakter sampingan yang bahkan tidak pantas diberi satu baris dialog pun.
Aku bukanlah orang yang seharusnya membusuk di tempat seperti ini.
Sebagai protagonis dunia ini, akulah yang seharusnya menjadi pusat kekaguman dan memperoleh kebahagiaan.
Tapi semua kebahagiaanku telah dihancurkan. Oleh sampah terburuk di dunia ini, Ishii Kazuki....
Padahal aku hanya melakukan apa yang memang harus kulakukan sebagai sosok yang dikagumi semua orang. Tapi bajingan itu memanfaatkan orang-orang di sekitarnya untuk menjebakku. Padahal aku sama sekali tidak melakukan kesalahan apa pun.
Bahkan yang lebih parah lagi, dia membuat Hidaka Mikoto, heroine utamaku, selalu berada di sisinya seolah sengaja ingin memamerkannya di hadapanku. Mengikatnya dengan rantai menyebalkan bernama cinta pertama.
Aku tahu betul kalau perasaan Mikoto terhadap Ishii sudah benar-benar hilang. Meski begitu, hanya ada satu alasan kenapa Mikoto masih berada di sisi Ishii.
Mikoto sedang diancam olehnya. Dia memegang kelemahan yang membuat Mikoto tak bisa melawan, jadi Mikoto terpaksa tetap berada di sisinya.
Tidak apa-apa, Mikoto. Aku mengerti semuanya. Aku pasti akan menyelamatkanmu, jadi tenanglah.
Untungnya, Ishii dan Mikoto masih belum menjadi sepasang kekasih. Jadi belum ada alasan untuk panik.
Mungkin dia sengaja belum berpacaran dengannya hanya untuk membuatku semakin menderita.
Benar-benar tipikal antagonis.
Antagonis dalam cerita memang selalu mengikat heroine, tapi tidak pernah melakukan hal yang benar-benar penting.
Mereka benar-benar selalu bertindak demi memudahkan sang protagonis.
Yah, tapi kalau dipikir-pikir itu memang pilihan yang benar.
Kalau saja kau berani menyentuh Mikoto, aku tidak akan pernah memaafkanmu.
Bukan cuma kau. Semua orang yang berharga bagimu akan kuhapus dari cerita ini.
Istilahnya, ini yang disebut perkembangan "balasan setimpal". Antagonis memang pantas mengalami nasib paling buruk bersama seluruh keluarganya.
Malah, kenyataan kalau aku belum melakukan itu membuktikan kalau aku benar-benar baik hati.
Tapi hari itu benar-benar nyaris....
Beberapa hari setelah liburan musim panas dimulai, para karakter sampingan itu mengajakku ke restoran keluarga dengan alasan konyol seperti, "Ayo cari pertemuan yang ditakdirkan."
Lalu tanpa melakukan apa pun, kami cuma berlama-lama di sana dengan sia-sia.
Apa-apaan karakter sampingan bermimpi seperti itu? Hak istimewa semacam itu seharusnya hanya diberikan kepada orang sepertiku.
Tapi karena memperlakukan mereka dengan kasar bukanlah tindakan yang pantas bagi seorang protagonis, aku terpaksa ikut. Dan saat itulah kelompok terburuk datang....
Ishii... bersama para pengkhianat itu.
Dari sekian banyak tempat, mereka malah datang ke restoran keluarga tempat aku berada. Lebih parah lagi, mereka memaksa Mikoto ikut bersama mereka.
Wajah Mikoto yang penuh kesedihan saat itu masih terbayang jelas di mataku.
Dia sedang meminta pertolonganku. Dia mengharapkan keselamatan dari sang protagonis.
Tapi saat ini aku masih hanyalah protagonis yang belum berdaya.... Semua itu gara-gara para heroine sialan yang seharusnya mengikutiku malah mengkhianatiku. Karena itulah aku hanya bisa menggertakkan gigi dan menahannya.
Sebagai permintaan maaf karena belum bisa menyelamatkannya, aku menyampaikan penyesalanku lewat tatapan mata. Sepertinya Mikoto mengerti maksudku.
Setelah mengalihkan pandangannya dariku, Mikoto membawa Ishii dan yang lainnya pergi dari sana.
Memang benar, Mikoto adalah heroine utamaku.
Pasti saat Ishii dan yang lain belum menyadari keberadaanku, dia mengatakan sesuatu kepada mereka agar aku dan Ishii tidak saling berpapasan.
Padahal dia pasti ketakutan karena diancam, tapi dia masih rela melakukan sejauh itu demi diriku....
Aku benar-benar mencintaimu, Mikoto.
Aku mencintaimu.
Kau adalah milikku, dan aku adalah milikmu.
Tenang saja. Masa-masa menyedihkanmu akan segera berakhir.
Sebenarnya, tadi malam aku menerima telepon dari seorang pria.
"Aku kebetulan bertemu seseorang di Okinawa. Apa kau kenal Souda Hiromi?"
Begitu mendengar kata-kata itu, aku langsung yakin.
Seperti yang kuduga, akulah protagonisnya.
Orang yang menghubungiku adalah Tsukiyama Ouji. Meski dia mengkhianatiku dan berpihak pada Ishii, dulunya dia adalah sahabatku.
Tapi ternyata dia memang masih sahabatku. Bagaimanapun juga, dia sudah memberitahuku informasi sehebat ini.
Souda Hiromi. Seorang gadis yang secara kebetulan kutemui saat liburan musim panas ketika masih SD, lalu menjadi akrab denganku.
Gadis itu sangat mencintaiku.
Demi diriku, dia pasti mau melakukan apa pun.
Tidak seperti para heroine pengkhianat itu, dia akan selalu mematuhiku sampai kapan pun.
Buktinya, Tsukiyama bahkan sempat bertanya kepadaku.
"Memangnya kalian pernah membuat janji atau semacamnya?"
Ya, benar.
Kami memiliki janji yang istimewa, hanya untuk kami berdua.
Dan selama janji itu masih ada, Souda Hiromi pasti akan terus mematuhiku.
Tsukiyama juga memberitahuku kalau gadis itu akan pindah ke sini menjelang akhir liburan musim panas.
Benar-benar kabar terbaik.
Tunggulah, Mikoto.
Aku pasti akan menyelamatkanmu dari Ishii.
Kita berdua pasti akan hidup bahagia bersama.
Karena kita adalah protagonis dan heroine utama….
◇ ◇ ◇
Menjelang akhir liburan musim panas, aku dengan tekun terus datang ke perpustakaan.
Bukan karena aku hobi membaca atau semacamnya. Malah sebenarnya ini merepotkan setengah mati.
Soalnya, dia seharusnya sudah segera datang.
Heroine praktisku, Souda Hiromi.
Makanya, aku sampai rela datang ke perpustakaan setiap hari.
Lihat saja, pertemuan kembali di tempat penuh kenangan seperti ini kan makanan favorit cewek-cewek bodoh?
Aku cuma menyesuaikan diri dengan tingkat kecerdasan Souda Hiromi. Aku memang baik hati, ya.
Begitulah yang kupikirkan, tetapi....
"...Hah."
Cepatlah muncul. Hari ini sudah hari ketiga.
Lagi pula, kalau Tsukiyama sampai repot-repot memberiku informasi soal kepindahannya, harusnya sekalian memastikan kapan tepatnya dia pindah. Kalau begitu aku tinggal datang di hari itu saja....
──Saat itulah.
Ketika sedang melihat ke luar dari dalam perpustakaan, aku menemukan seorang gadis yang sangat mencolok.
Kalau dibandingkan dengan Mikoto, dia jelas jauh di bawah. Tapi kalau dibandingkan dengan gadis biasa, dia tetap termasuk cantik.
Rambut samping bergaya country yang diikat menjadi side tail. Ditambah tahi lalat kecil di bawah mata kanannya.
Tidak salah lagi.
Itu Souda Hiromi.
Ya ampun....
Akhirnya kau muncul juga. Kalau begitu, mari kita ciptakan sedikit pertemuan yang terasa seperti takdir.
Aku mengeluarkan sebotol air mineral dari tas, lalu membasahi handuk.
Handuk itu kugosokkan ke kepala dan wajahku....
Sip, jadilah pria yang berkeringat deras.
Selanjutnya tinggal pindah ke bangku di luar tanpa ketahuan....Sempurna.
Seorang pemuda yang dengan tabah menunggu di tempat penuh kenangan sambil bermandikan keringat.
Nah, sekarang tinggal kau menghampiriku. Kau pasti tahu, kan?
"............"
Oi, kenapa kau tidak menghampiriku?
Aku sampai sengaja membuat diriku berkeringat deras demi terus menunggumu di sini.
Sial. Merepotkan sekali....
"E-eh, permisi!"
"Ada apa?"
Hah, padahal aku sampai harus menyapamu duluan, tapi sapaan pertamamu malah begitu?
Kau akhirnya bisa melihat diriku yang sudah tumbuh menjadi pria yang lebih hebat. Cepat sadari itu dan tunjukkan kalau kau lebih senang.
"Souda... Hiromi, kan?"
"............Ya. Memangnya kenapa...?"
"Benar kan! Kau tidak ingat? Nih, aku! Amada Teruhito!"
"Teru Teru?"
"Benar! Wah, senangnya! Aku yakin kalau menunggumu di sini, kita pasti akan bertemu!"
Hah....
Akhirnya dia ingat juga. Padahal dia menyukaiku, tapi malah lupa wajahku. Serius, itu tidak masuk akal.
Yah, mungkin itu karena aku tumbuh menjadi jauh lebih tampan.
Kalau begitu, akan kumaafkan. Soalnya mulai sekarang aku memang berniat memanfaatkannya.
"Aku dengar dari Tsuki! Katanya kau sebentar lagi akan pindah ke sini!"
"Iya.... Aku pindah bersama keluargaku. Teru Teru, kau sudah banyak berubah ya."
"Kalau begitu, Hiromi juga. Kau menjadi jauh lebih cantik...."
"Hehe. Terima kasih...."
Baiklah.
Hari ini, khusus untukmu, akan kuluangkan waktuku.
Bersyukurlah.
Aku sampai mengosongkan satu hari penuh hanya demi heroine sampingan sepertimu. Bahkan aku juga sudah menghujanimu dengan pujian.
Tidak mungkin kau tidak senang, kan?
"Hei, Teru Teru. Aku ingin bertanya satu hal...."
"Ya. Ada apa?"
"Kau masih ingat 'janji' kita?"
Yah, sudah kuduga kau akan menanyakan itu.
Tentu saja aku ingat.
—"Kalau saat kita bertemu lagi nanti tidak ada orang yang kita sukai, kita akan menjadi sepasang kekasih."
Tapi kalau aku bilang masih ingat, nanti malah merepotkan. Soalnya sejak membuat janji itu dulu, aku sudah memutuskan kalau Mikoto yang akan menjadi heroine utamaku.
Jadi yang harus kulakukan sekarang cuma satu.
"Janji? Maaf, maksudmu apa?"
Kalau pria biasa melupakan janji seperti itu, pasti langsung dibenci. Tapi aku kan protagonis.
Heroine sampingan bodoh seperti ini pasti akan berusaha mati-matian agar aku mengingat janji itu lagi.
Tapi jangan harap aku membiarkan heroine sampingan naik menjadi heroine utama hanya gara-gara janji konyol begitu.
"............Oh, begitu ya. Maaf, lupakan saja...."
Meskipun kau memasang senyum yang penuh kesulitan, jangan harap aku akan merasa kasihan.
Ayo. Kau pasti tahu harus mengatakan apa sekarang, kan?
—"Ayo kita membuat kenangan baru bersama."
"Kalau begitu, kita juga tidak perlu membuat kenangan baru."
Benar. Lalu....
"Hah?"
Oi, tunggu sebentar.
Apa sebenarnya yang baru saja kau katakan?
Bukan begitu, kan?
Seharusnya kau dengan sabar mengabdikan dirimu untukku yang sudah berkeringat deras menunggumu di sini....
"Kenapa sih pasang wajah bloon begitu? Jijik, tahu."
"E-eh... Hiromi, ada apa? Cara bicaramu kok...."
"Lagi pula, aku bukan Hiromi."
"Hah?"
Mana mungkin. Dari mana pun dilihat, kau jelas....
"Hiromi, sebaiknya jangan berurusan dengan pria ini. Dia lima puluh kali lebih sampah dari yang kubayangkan."
"Kurasa itu agak keterlaluan sih...."
Saat itu, terdengar suara dari belakangku.
Ketika aku menoleh, di sana berdiri seorang gadis yang wajahnya sangat mirip dengan Hiromi....
"Yo.... Sudah lama tidak bertemu, Amada-kun."
"Hah? Hahhhh!?"
Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ada dua gadis yang punya wajah Souda Hiromi?!
Tidak, tunggu dulu. Kalau dipikir-pikir, dulu dia pernah bilang, kan?
Kalau dia punya kakak kembar yang sangat mirip dan juga sangat sempurna....
"Ahaha... ya karena kami memang sangat mirip, kalau bertemu lagi setelah lama pasti akan tertukar juga, kan..."
"Jadi selama ini yang aku ajak bicara itu...."
"Iya.... kakakku...."
Jangan bercanda! Kau, sebagai heroine sampingan, berani-beraninya mengujiku?!
Membawa kakak kembar memang boleh saja. Tapi kalau begitu, seharusnya keduanya malah jatuh cinta padaku.
Tapi ini malah mengujiku? Sungguh heroine gagal yang menyedihkan.
"Kalian dengar semuanya, kan? Katanya dia bahkan tidak ingat janji kita."
"Iya ya.... kalau memang tidak ingat, ya sudah tidak apa-apa...."
"Tunggu! Itu... itu kan janji ‘kalau saat kita bertemu lagi tidak ada orang yang kita sukai, kita akan jadi pasangan’, kan?!"
Sial. Padahal aku tidak berniat mengatakannya....
Kalau begini, aku jadi harus benar-benar menjadi pacarnya sekali. Tidak, tapi... ada juga cerita romcom seperti itu, jadi tidak apa-apa.
Tinggal pacaran sebentar, lalu buang dia di waktu yang tepat.
"Hmm. Ternyata kau sejak awal ingat, tapi pura-pura lupa karena situasinya jadi tidak menguntungkan."
"Bukan! Aku benar-benar baru ingat sekarang!"
"Ya ya."
Gadis sialan ini benar-benar menyebalkan. Diamlah. Aku sedang bicara dengan Hiromi.
"Hey, Hiromi. Aku sudah ingat janji kita. Jadi...."
"Iya. Terima kasih. Jadi...."
Ya sudah, aku akan pacaran denganmu.
Tapi hanya di awal saja.
Setelah itu, setelah ciuman dan hal-hal lain yang cocok, aku akan membuangmu. Puaslah dengan itu.
"Seperti janji kita, kita tidak perlu jadi sepasang kekasih, ya."
"Hah?"
"Maaf ya, Amada-kun. Aku sudah punya orang yang aku sukai. Bukan kamu."
Apa dia ini gila? Padahal aku sendiri sebenarnya ingin pacaran dengan Mikoto, tapi aku sudah rela bilang cukup denganmu.
Tapi dia malah bilang ada orang yang disukainya?
Tidak mungkin. Tidak mungkin. Tidak mungkin.
"A-apa.... itu...."
"Sudah, pembicaraannya selesai. Ayo pergi, Hiromi."
"Wah! Jangan tarik aku, Yumi!"
Dua saudari kembar Souda itu pergi begitu saja, mengabaikan amarahku seolah itu hal yang wajar.
Padahal aku, sang protagonis, sudah menunggu mereka, tapi mereka bahkan tidak mengucapkan satu kata terima kasih pun dan membelakangiku begitu saja.
"Hei, Hiromi. Menurutmu rumah Ouji itu tidak butuh pelayan? Kalau tidak tidur, tidak istirahat, dan tidak dibayar, mungkin aku bisa diterima ya?"
"Itu terlalu berat, sebaiknya jangan."
"Benarkah? Kalau begitu, tidak istirahat dan tidak dibayar saja deh."
"...Ya, semangat saja."
Ini buruk....
Tidak kusangka Souda Hiromi akan menipuku seperti ini.
Apa sebenarnya yang terjadi dengan dunia ini? Bukankah aku protagonisnya? Padahal kupikir mulai semester dua aku akan mendapatkan boneka yang berguna....
"Jadi akhirnya, boneka yang bertambah cuma satu orang ya...."
Previous Chapter | ToC |



Post a Comment