Chapter 18
Demam ×
Saudari
"38,5℃.... Lumayan tinggi juga."
Pagi harinya, saat aku mencoba mengukur suhunya,
ternyata demamnya sangat tinggi. Shigure benar-benar terkena flu berat.
Saat kutanya, rupanya ia mulai merasa lemas sedikit
demi sedikit sejak siang kemarin, dan saat pulang ke rumah di sore hari,
tubuhnya sudah demam.
Sembari berbaring di atas futon di kamarnya, Shigure
menghela napas.
"Ini pasti gara-gara aku kehujanan di akhir pekan
kemarin...."
"Mengingat siang harinya cerah, wajar sih kalau
kamu tidak bawa payung, tapi apa kamu tidak bisa membelinya di suatu
tempat?"
"Entahlah, ya?"
"Jawaban mengambang macam apa itu."
"Bukan begitu, aku hanya tidak terlalu ingat
kejadian saat itu...."
Tumben sekali peraih peringkat dua di angkatan yang
cerdas ini mengatakan hal seperti itu.
"Ngomong-ngomong aku belum bertanya, akhir pekan
kemarin kamu pergi ke stasiun untuk apa? Sampai repot-repot memakai baju yang
tidak biasa kamu pakai segala."
"...Hmm. Rahasia."
"Pelit banget, sih."
"Ceritanya bakal terdengar memalukan kalau
kubahas sekarang. Lagipula, anak perempuan itu punya banyak rahasia, lho.
Uhuk."
Sepertinya flu itu membuat tenggorokannya bengkak, ia
terbatuk seolah kesakitan.
...Aku memang sedikit penasaran kenapa Shigure
berdandan seperti mau kencan dan berada di pusat kota, tetapi sebaiknya aku
tidak membiarkannya banyak bicara. Berpikir demikian, aku pun berhenti
mendesaknya.
"...Oleh karena itu Kakak, hari ini aku libur
sekolah. Tolong jelaskan pada guru untukku, ya?"
"Ah, baiklah."
"Terus, soal makanan Kakak ada di dalam
kulkas──"
"Tidak usah pikirkan hal itu hari ini. Tidur yang
tenang saja sana. Aku akan buatkan bantal es lagi untukmu."
"...Iyaaa."
Aku menepuk pelan dahinya yang panas, menegur Shigure
yang mencemaskan hal yang tidak perlu. Mendapat teguran itu, Shigure menurut
dan segera menutup kedua matanya untuk tidur.
Dengan membawa bantal es yang sudah mencair karena
dipakai semalaman, aku keluar dari kamar Shigure dan menuju dapur. Kemudian aku
mencuci bantal es karet itu dengan sedikit air, lalu memasukkannya ke dalam freezer.
Siang nanti pasti sudah bisa dipakai lagi. Setelah
itu, aku membuka pintu kulkas.
Di dalamnya terdapat salmon rendam koji yang
disimpan dalam plastik Ziploc. Sepertinya ia sudah menyelesaikan persiapannya
sebelum tumbang tadi malam.
"...Kalau kamu sudah tahu tubuhmu demam saat
pulang, harusnya kamu diam saja, dasar bodoh."
Aku menghela napas dengan takjub. Heran, bagaimana
bisa dia berpikir untuk menguras tenaga sejauh itu demi orang lain.
Padahal sewaktu aku tinggal sendiri dulu, jangankan
untuk orang lain, membakar sepotong roti di pagi hari untuk diriku sendiri saja
rasanya sangat malas. Apakah ini... karena dia menyukaiku?
"....Ampun, deh."
Aku menghela napas panjang, lalu menghubungi sekolah
lewat ponsel. Untuk memberitahukan soal absen sakitnya Shigure, dan...
ketidakhadiranku karena harus merawatnya.
Shigure bilang ia tidak nafsu makan, tapi penyakitnya
tidak akan sembuh kalau ia tidak makan. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk
membuatkan bubur untuknya.
Aku pun segera menggunakan ponselku untuk mencari
resep. Aku mengeluarkan bahan-bahan yang tertulis di resep paling atas dari
dalam kulkas.
Ada jahe tube. Telur stok juga ada.
Namun, tidak ada nasi, daun bawang, dan umeboshi
(manisan plum).
Tunggu dulu. Kalau tidak salah, saat aku memasukkan
bantal es tadi──
"Oh, ada, ada."
Saat aku membuka freezer, kulihat beberapa
plastik Ziploc berisi sayuran yang sudah dipotong-potong tersimpan di dalamnya.
Ada paprika hijau, wortel, jamur shimeji, dan daun bawang.
Di sampingnya, tergeletak nasi beku seukuran telapak
tangan yang dibungkus dengan plastic wrap. Begitu, ya.
Rupanya ia menyiapkan stok makanan seperti ini di saat
luang, agar tetap bisa menyajikan menu makanan yang lengkap bahkan di pagi hari
yang sibuk.
Sambil berdecak kagum dengan cara cerdik Shigure, aku
meminjam daun bawang dan nasi dari stok tersebut. Meskipun tidak ada umeboshi,
ya mau bagaimana lagi.
Aku langsung membuat bubur telur sesuai dengan
langkah-langkah di resep. Yah, cuma tinggal memasukkannya ke panci, mengaduk,
dan merebusnya.
Bahkan orang dengan kemampuan memasak nol sepertiku
juga pasti bisa melakukannya.
...Aku memang sedikit gagal saat memecahkan telur,
tetapi karena pada akhirnya bakal dijadikan telur kocok, anggap saja tidak
masalah.
Kalau telurnya sudah matang dengan pas, tinggal
tambahkan daun bawang beku di akhir, dan selesai. Aroma jahe yang menggugah
selera membuat bubur ini terlihat lumayan lezat.
Aku mencoba mencicipinya sedikit. ...Hmm.
Yah, rasanya tidak begitu enak.
Lebih tepatnya, rasanya hambar. Namun, yang namanya
bubur memang seperti itu, kan.
Berbeda dengan nasi kuah zosui kaya kaldu yang
biasa dibuat dari sisa rebusan hotpot di panci. ...Ini pasti karena efek
tidak ada umeboshi-nya.
Apa kutambah sedikit kecap asin saja? Tidak──
"Ngomong-ngomong, bukannya itu bisa dipakai,
ya?"
Tiba-tiba terpikirkan sebuah ide, aku mengambil
sesuatu dari kulkas, mencincangnya sampai halus, lalu meletakkannya di atas
bubur.
"Nnh...!"
Enak banget! Woi, woi, jangan-jangan sebenarnya aku
jago masak, ya?
Kalau begini, aku bisa memberikannya pada Shigure
dengan percaya diri. Aku menyendok bubur dari panci kecil ke dalam mangkuk,
menambahkan taburan topping dadakan itu, lalu membawakannya untuk
Shigure.
"...Eh? Kakak?"
"Oh. Kamu sudah bangun? Buburnya baru saja
selesai kubuat, nih."
Kayu lantai yang kuinjak berderit saat aku masuk ke
kamar Shigure. Suara itu membuat Shigure yang sedang tertidur kembali
terbangun.
Shigure mengerjapkan matanya saat melihat sosokku,
sekilas melirik jam, lalu bertanya.
"...Kenapa Kakak tidak berangkat ke
sekolah?"
"Aku sudah menelepon guru, jadi tenang saja.
Sekalian kubilang kalau aku juga libur karena harus merawatmu."
"...Padahal cuma flu biasa, lebay banget, deh.
Nanti disangka pura-pura sakit supaya bisa bolos, lho?"
"Bukannya aku biasanya selalu serius, dan guru
juga tahu kalau kita berdua tinggal berdua saja, jadi tidak mungkin berpikir
begitu. Lagipula, biarpun cuma flu biasa, saat tubuh sedang tidak enak, kamu
pasti ingin ditemani oleh seseorang, kan?"
Karena aku cukup lama menjadi "anak kunci"
yang sering ditinggal sendirian di rumah, aku bisa memahaminya. Jatuh sakit dan
harus berada sendirian di rumah itu rasanya lumayan kesepian, lho.
Yah, ceritanya bakal berbeda kalau punya cukup energi
untuk bermain gim, sih.
Shigure juga dulunya seorang "anak kunci"
yang hanya tinggal berdua dengan ibunya. Sepertinya kami punya perasaan yang
sepaham tentang hal itu.
Setelah bergumam seperti itu, raut wajahnya mengendur
seakan terlihat sedikit gembira. Aku duduk di sebelah Shigure, lalu menyodorkan
mangkuk berisi bubur kepadanya.
"Nih, kamu bisa memakannya?"
"Harusnya aku yang bilang begitu, tahu."
"...Apa maksudmu, woi."
"Ehehe... aku cuma bercanda, kok."
"Selamat makan."
Setelah mengucapkan kalimat sopan itu, Shigure
menyendok sedikit bubur yang masih mengepulkan uap.
Ia mencoba meniupnya perlahan untuk mendinginkan suhu
panasnya.
"Fuuuh, fuuuuh... uhuk,"
Namun, ia malah tersedak di tengah-tengah usahanya.
Gawat. Sepertinya aku kurang peka memikirkan hal ini.
Dengan lembut, aku mengambil mangkuk dan sendok dari
tangan Shigure, meniup dan mendinginkannya sebagai gantinya, lalu
menyodorkannya ke arah Shigure.
"Nih. Buka mulutmu."
"...Rawatanmu benar-benar totalitas, ya."
Yah, aku sendiri juga merasa kalau ini sedikit berlebihan. Akan tetapi, karena aku sudah membolos sekolah demi merawatnya, kurasa aku memang harus melakukan hal setidaknya sejauh ini.
Shigure tersenyum masam dan membuka mulutnya untuk
menerima suapan bubur itu.
"Kh...!"
Seketika, kulitku terasa panas seperti dibakar api.
Bibir sewarna bunga sakura yang terbuka untuk menerima bubur itu.
Dan lidah merah menyala yang bergerak di baliknya,
yang biasanya tak pernah kulihat.
Warna daging yang berkilau basah oleh air liur itu,
mau tak mau membuatku teringat pada pemandangan malam itu dan──
Tunggu...! Bodoh! Apa yang sedang kupikirkan saat
berhadapan dengan orang sakit!
Aku memejamkan mata erat-erat seakan menggertakkan
kelopak mataku untuk menyingkirkan pikiran kotor itu. Kemudian, sembari
berpura-pura tenang, aku menyuapkan bubur ke antara bibir Shigure.
"...Enak."
"S-Syukurlah kalau begitu."
"Potongan acar shibazuke-nya bikin nafsu makan
naik, ya. Jadi gampang dimakan."
"K-Karena tidak ada umeboshi, jadi kuganti pakai
itu. Lagipula, biarpun namanya makanan orang sakit, kalau rasanya terlalu
hambar kan susah juga dimakan."
"Ternyata itu idemu, ya Kak. Boleh juga. Nanti
aku bakal tiru, deh."
Potongan acar shibazuke dadakan yang kuberikan sebagai
taburan itu ternyata mendapat pujian dari Shigure. Aku senang dipuji oleh
Shigure yang jago masak, tapi aku tidak punya banyak waktu luang untuk merasa
gembira.
Sejujurnya, aku harus berjuang mati-matian menahan
otot wajahku agar tidak bereaksi menjijikkan terhadap ingatan yang menggelitik
dasar otakku ini.
Meski dalam hati aku ingin ini cepat selesai, aku juga
tidak bisa mendesak orang sakit.
Shigure menghabiskan semangkuk kecil bubur itu
perlahan-lahan.
"Terima kasih atas makanannya. Rasanya sangat
lezat."
"Bukan apa-apa."
Meskipun sempat dilanda cobaan tak terduga, aku
berhasil melewatinya dengan selamat. Melewati apa dengan hal yang seperti apa,
ya.
Sulit diungkapkan dengan kata-kata, tetapi rasanya aku
telah melewati sesuatu. Sembari membereskan mangkuk itu, aku menghela napas dan
bertanya pada Shigure.
"Apa ada hal lain yang bisa kubantu? Mencuci baju
atau bersih-bersih, apa saja boleh."
"...Hmm. Kalau bersih-bersih... tidak usah. Aku
ingin tidur dengan tenang, soalnya. Dan untuk cuci baju, hari ini sih tidak
perlu..."
Shigure tampak sedang berpikir. Ya, kalau tidak ada,
aku bisa belajar mandiri di kamarku saja....
Saat aku sedang memikirkan hal itu, tampaknya Shigure
baru teringat sesuatu.
"Ah. Kalau begitu, boleh aku minta tolong satu
hal?"
"Oh. Apa itu."
"Kemarin aku belum mandi, ditambah lagi aku
berkeringat setelah makan bubur, rasanya jadi tidak nyaman, jadi aku mau ganti
piyama."
Begitu, ya. Tentu saja itu terasa tidak nyaman.
Apalagi sekarang musim panas. Dan tidak ada AC di kamar ini.
"Aku cuma perlu menyiapkan pakaian gantinya, kan.
Serahkan padaku."
"Bukan, selain itu juga... bisa tolong lap
punggungku pakai handuk, nggak?"
"Eh...."
...Ah, benar juga. Meskipun mau ganti baju, rasa tidak
nyamannya tidak akan hilang kalau tidak mengelap badannya terlebih dahulu.
Apalagi tangan tidak bisa meraih bagian punggung
dengan sendirinya.
"Baiklah. Aku akan ambilkan handuk, tunggu
sebentar, ya."
Mengelap badan seorang gadis memang terdengar sangat
mendebarkan, tetapi toh ini hanya bagian punggung. Aku tidak akan melihat
payudara, pantat, paha, apalagi wajahnya. Sejujurnya, perbedaan gender pun
nyaris tidak terasa dalam hal ini, kan.
Bahkan sebagai seorang perjaka, tak ada yang perlu
kukhawatirkan soal itu.
"Kalau begitu, tolong, ya."
...Namun, pemikiran melenceng yang sama sekali tidak
tepat sasaran itu sirna seketika saat aku melihat Shigure duduk membelakangiku
sambil memeluk dadanya sendiri, memperlihatkan punggung telanjangnya padaku.
Pada saat yang sama, wajahku memanas hingga rasanya
otak di dalam tengkorakku seperti mau mendidih.
...Woi, woi, apa-apaan ini. Kulit putih yang sedikit
memerah.
Bahu rapuh yang seakan bisa patah kapan saja. Tengkuk
ramping yang terlihat sangat pas dalam genggaman satu tangan.
...Sangat berbeda dengan milik laki-laki.
Meski dalam posisi yang tidak memperlihatkan payudara,
pantat, paha, atau wajahnya. Namun, ...dia terlihat sangat 'perempuan'.
"Kh, ah...."
Aku merasa seperti sedang melihat sesuatu yang tidak
boleh kulihat. Namun aku malah tertarik kepadanya, hingga tenggorokanku terasa
sangat kering.
Padahal aku biasa melihat punggung wanita di iklan
sampo atau semacamnya, dan aku tidak merasakan apa pun saat melihatnya.
Cantik... banget....
Jantungku berdebar kencang sampai rasanya sakit.
Darahku berdesir hebat.
S-Sial, ini di luar dugaan. Siapa sangka mengelap
punggung bisa sampai begini! Apakah boleh... aku menyentuhnya?
"Hatchi!"
Saat itu, Shigure bersin kecil. Kh, aku tidak boleh
membiarkan orang sakit telanjang dada terlalu lama.
Sama seperti saat menyuapinya tadi, aku memejamkan
mata erat-erat dan memantapkan tekad. Walaupun menyentuh, aku akan melakukannya
dengan handuk.
Aku tidak menyentuhnya secara langsung. Makanya, aku
tidak akan tahu bagaimana sensasinya. Aku tak perlu memedulikannya.
Aku harus segera mengelapnya dan menyuruhnya memakai
baju.
"Nnh, uh...."
Namun, saat aku menekan handuk di punggung Shigure,
tepat di antara tulang belikatnya lalu menggosoknya secara vertikal, tubuh
Shigure bergoyang mengikuti gerakannya, lalu ia mengeluarkan erangan seakan
kesakitan.
Bukan karena tenagaku terlalu kuat, melainkan karena
ia tidak punya tenaga akibat flu. Aku harus menopangnya dengan benar.
Harusnya tidak boleh, tetapi... menopangnya berarti
aku harus menyentuh bahunya ini dengan tanganku.
Menyentuh bahu telanjang yang putih dan rapuh ini
dengan tanganku, dengan tangan seorang pria....
Bukankah itu sudah termasuk tindak kriminal!? Namun,
tidak ada cara lain.
Jika ia terus terguncang seperti ini, itu hanya akan
membebani Shigure. Aku menyentuh bahu Shigure dengan berusaha tidak memberikan
terlalu banyak tenaga.
"Kh~~~~~~~!"
Struktur tulangnya yang sangat kecil hingga pas dalam
genggamanku, seolah-olah seperti mainan jika dibandingkan dengan milik pria.
Rasa lembap dan suhu tubuh yang tinggi meresap ke seluruh telapak tanganku saat
bersentuhan dengannya.
Udara yang terpapar panas tubuhnya itu sangatlah
manis.... Entah bagaimana menjelaskannya, baunya bukan seperti aroma manis
bunga sungguhan, tetapi tak ada kata sifat lain yang bisa menggambarkan wangi
ini.
Aroma ini juga berbeda dengan aroma yang sesekali
menguar dari Haruka usai kegiatan klub. Lebih dari sekadar di indra
penciumanku, aroma ini menggugah insting dan sisi lain dalam diriku, sebuah
wangi yang sangat memikat dan merangsang.
Kepalaku pusing. Bahkan hanya dengan mencium baunya
saja sudah membuatku begini.
Sekarang, ...bagaimana jadinya kalau aku mendekatkan
hidungku ke tengkuk putih ini,
...dan menghirup aromanya dalam-dalam....,
...apa yang akan terjadi? Akan jadi apa diriku ini?
"Kakak."
Saat itu, dengan posisi masih membelakangiku, Shigure
memanggilku. Aku sangat terkejut hingga rasanya jantungku mau copot dari mulut,
tetapi aku berhasil menahannya lalu merespons.
"A-Ada apa."
"Kakak memang benar-benar bodoh, ya."
"...Kenapa tiba-tiba menghinaku?"
"Aku tahu, kok. Kalau aku melakukan hal semacam
ini, Kakak pasti bakal deg-degan. Meskipun deg-degan, Kakak tetap berusaha
sebisa mungkin untuk merawat adikmu yang sedang sakit sebagai seorang kakak.
Aku tahu semua itu, makanya aku memanfaatkannya. Soalnya aku ingin Kakak
menyadariku."
"...."
"Kalau Kakak bersikap terlalu baik pada perempuan
sepertiku, nanti Kakak malah makin disukai, lho?"
Kakak mengerti, kan? ucap Shigure sembari menatapku
dari balik bahunya.
...Yah, aku sendiri juga berpikir kalau aku ini bodoh.
Padahal kenyataannya kemarin aku berniat membuatnya membenciku.
Namun, semua pikiran itu langsung lenyap saat aku
melihat Shigure ambruk.
Bukannya aku berniat merawat Shigure karena sebuah
kewajiban. Dirinya itu berharga. Sudah sejak awal.
Karena Shigure juga sangat memedulikanku. Memang benar
kalau niatnya yang ingin melewati batas sebagai seorang adik perempuan itu
merepotkan, tetapi mengatakan hal yang tak sesuai dengan isi hatiku lalu
menyakitinya atau menjauhinya... mungkin itu bukan tindakan bodoh, melainkan
tindakan bajingan.
Kalau disuruh memilih antara bodoh atau bajingan, aku
lebih mending jadi orang bodoh. Setidaknya orang bodoh masih punya sedikit daya
tarik.
Oleh karena itu, aku berkata.
"Jangan kegeeran."
"...!"
"Memang benar kalau aku kadang merasa deg-degan
karena kamu, tapi itu karena kamu adalah adik kembar Haruka. Wajar saja kalau
aku deg-degan pas dicium sama cewek yang wajahnya persis sama pacarku. Tapi itu
semua cuma gara-gara aku melihat bayangan Haruka dalam dirimu, bukan karena aku
menganggapmu lebih dari sekadar adik. Orang yang paling kusukai adalah Haruka.
Perasaan itu tidak akan pernah goyah atau berubah. Makanya tidak peduli
bagaimana perasaanmu padaku, itu tidak ada hubungannya. Sebagai kakak, aku...
hanya ingin merawat satu-satunya adik perempuanku."
Setelah mengatakannya, aku meletakkan handuk di atas
kepala Shigure lalu menepuknya pelan.
"Nih. Sudah selesai, jadi bagian depannya lap
saja sendiri lalu ganti bajumu. Aku bakal belajar mandiri di ruang keluarga,
jadi kalau butuh apa-apa, panggil saja, ya."
"...Iya. Terima kasih banyak, karena sudah
merawatku."
"Itu, sih, ...sudah sewajarnya sebagai sesama
manusia."
Kalau Shigure bukan adik yang manis, aku takkan
melakukan hal ini padanya.
Membalas demikian, aku keluar dari kamar Shigure dan
menutup pintu gesernya supaya ia bisa berganti pakaian.
Tidak, serius, aku hanya jago berlagak sok keren!
Hiromichi Sato!
Aku mencela diriku sendiri setelah keluar dari
kamarnya. Padahal jelas-jelas aku bersemangat layaknya monyet saat melihat
punggung indah Shigure, bisa-bisanya aku melontarkan kata-kata sok keren tanpa
tahu malu.
Dengan cara berlagak tak sesuai kemampuan seperti ini,
cowok ini makin lama makin tak bisa mundur.
...Namun yah, apa yang kukatakan tadi bukan
kebohongan.
Aku hanya berdebar melihat bayangan Haruka di dalam
diri Shigure. Aku tak pernah sedikit pun berpikir kalau aku lebih menyukai
Shigure ketimbang Haruka.
Lagi pula, saat Shigure menyatakan perasaannya pun,
aku bisa dengan tegas mengatakan kalau aku lebih menyukai Haruka, kan. Hatiku
akan selalu mengarah pada Haruka seorang.
Aku punya kepercayaan diri soal itu.
Karena itulah... yah, kalau dipikir-pikir, memang
tidak peduli bagaimana perasaan Shigure padaku, itu bukanlah hal yang penting.
Memang benar, tetapi, yah....
"Meskipun begitu, aku tetap pengin berciuman,
sih...."
Aku ingin mengingatnya kembali. Aku ingin merebutnya
kembali. Sensasi bibir gadis yang paling kusukai dan paling berharga bagiku.
Hasrat ini tak bisa kusembunyikan. Walau begitu...
berbeda denganku yang rusak gara-gara Shigure (dalam artian buruk), aku tidak
ingin membebani Haruka—yang suci—dengan memaksa meminta ciuman padanya.
Aku ingin sebuah momen... sesuatu yang bisa membuat
Haruka juga merasa berhasrat. Apakah ada cara untuk melakukannya?
Saat aku sedang memikirkan hal itu.
Terdengar bunyi bel yang terdengar murahan dari arah
pintu masuk. Karena tidak ada barang bagus semacam interkom di rumahku, aku
bertanya dari balik pintu.
"Dengan siapa?"
"Kurir Satake Unyu. Ada paket kiriman dari
Amerika."
"Hah? Amerika?"
Kenapa dari tempat seperti itu... ah iya, ini dari
ayahku, ya.
Kalau tidak salah, minggu lalu ia sempat mengirim
e-mail yang bilang, 'Ayah sudah mengirim barang yang memakan tempat, jadi
tolong simpan di lemari, ya'.
Aku mengambil stempel dari wadah pernak-pernik di atas
rak sepatu lalu keluar rumah.
Dan aku selesai menerima paketnya. Paket tersebut
terdiri dari dua kardus besar dan sebuah tas plastik yang cukup besar.
Ini benar-benar bawaan yang cukup besar. Semuanya
terlihat kusam karena debu. Kalau aku memasukkannya ke dalam lemari begitu
saja, Shigure pasti akan marah.
Sebenarnya ini apa, sih.
"Ini...!"
Aku membelalakkan mata setelah memeriksa isinya. Saat
aku melihat barang yang tersimpan di dalam kardus itu, sebuah bayangan muncul
di kepalaku.
Bayangan romantis di mana aku dan Haruka berciuman di
tepi pantai malam yang dihiasi langit berbintang. ...Bukankah ini bisa
kugunakan!?
Lagi pula, waktunya sangat tepat. Jika kami bisa
melewati ujian akhir yang akan dimulai sebentar lagi, liburan musim panas yang
ditunggu-tunggu akan tiba.
Namun, aku tidak bisa menggunakan barang ini
sendirian. Aku butuh 'orang dewasa' untuk bekerja sama denganku.
Satu-satunya orang yang terpikirkan olehku adalah dia.
Oleh karena itu, aku segera menggunakan LINE dan mengirim pesan kepada salah satu temanku, Tomoe Wakabayashi.



Post a Comment