NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanojo no Imouto to Kiss wo Shita Volume 2 Chapter 4

Chapter 18

Demam × Saudari


"38,5℃.... Lumayan tinggi juga."

Pagi harinya, saat aku mencoba mengukur suhunya, ternyata demamnya sangat tinggi. Shigure benar-benar terkena flu berat.

Saat kutanya, rupanya ia mulai merasa lemas sedikit demi sedikit sejak siang kemarin, dan saat pulang ke rumah di sore hari, tubuhnya sudah demam.

Sembari berbaring di atas futon di kamarnya, Shigure menghela napas.

"Ini pasti gara-gara aku kehujanan di akhir pekan kemarin...."

"Mengingat siang harinya cerah, wajar sih kalau kamu tidak bawa payung, tapi apa kamu tidak bisa membelinya di suatu tempat?"

"Entahlah, ya?"

"Jawaban mengambang macam apa itu."

"Bukan begitu, aku hanya tidak terlalu ingat kejadian saat itu...."

Tumben sekali peraih peringkat dua di angkatan yang cerdas ini mengatakan hal seperti itu.

"Ngomong-ngomong aku belum bertanya, akhir pekan kemarin kamu pergi ke stasiun untuk apa? Sampai repot-repot memakai baju yang tidak biasa kamu pakai segala."

"...Hmm. Rahasia."

"Pelit banget, sih."

"Ceritanya bakal terdengar memalukan kalau kubahas sekarang. Lagipula, anak perempuan itu punya banyak rahasia, lho. Uhuk."

Sepertinya flu itu membuat tenggorokannya bengkak, ia terbatuk seolah kesakitan.

...Aku memang sedikit penasaran kenapa Shigure berdandan seperti mau kencan dan berada di pusat kota, tetapi sebaiknya aku tidak membiarkannya banyak bicara. Berpikir demikian, aku pun berhenti mendesaknya.

"...Oleh karena itu Kakak, hari ini aku libur sekolah. Tolong jelaskan pada guru untukku, ya?"

"Ah, baiklah."

"Terus, soal makanan Kakak ada di dalam kulkas──"

"Tidak usah pikirkan hal itu hari ini. Tidur yang tenang saja sana. Aku akan buatkan bantal es lagi untukmu."

"...Iyaaa."

Aku menepuk pelan dahinya yang panas, menegur Shigure yang mencemaskan hal yang tidak perlu. Mendapat teguran itu, Shigure menurut dan segera menutup kedua matanya untuk tidur.

Dengan membawa bantal es yang sudah mencair karena dipakai semalaman, aku keluar dari kamar Shigure dan menuju dapur. Kemudian aku mencuci bantal es karet itu dengan sedikit air, lalu memasukkannya ke dalam freezer.

Siang nanti pasti sudah bisa dipakai lagi. Setelah itu, aku membuka pintu kulkas.

Di dalamnya terdapat salmon rendam koji yang disimpan dalam plastik Ziploc. Sepertinya ia sudah menyelesaikan persiapannya sebelum tumbang tadi malam.

"...Kalau kamu sudah tahu tubuhmu demam saat pulang, harusnya kamu diam saja, dasar bodoh."

Aku menghela napas dengan takjub. Heran, bagaimana bisa dia berpikir untuk menguras tenaga sejauh itu demi orang lain.

Padahal sewaktu aku tinggal sendiri dulu, jangankan untuk orang lain, membakar sepotong roti di pagi hari untuk diriku sendiri saja rasanya sangat malas. Apakah ini... karena dia menyukaiku?

"....Ampun, deh."

Aku menghela napas panjang, lalu menghubungi sekolah lewat ponsel. Untuk memberitahukan soal absen sakitnya Shigure, dan... ketidakhadiranku karena harus merawatnya.

Shigure bilang ia tidak nafsu makan, tapi penyakitnya tidak akan sembuh kalau ia tidak makan. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk membuatkan bubur untuknya.

Aku pun segera menggunakan ponselku untuk mencari resep. Aku mengeluarkan bahan-bahan yang tertulis di resep paling atas dari dalam kulkas.

Ada jahe tube. Telur stok juga ada.

Namun, tidak ada nasi, daun bawang, dan umeboshi (manisan plum).

Tunggu dulu. Kalau tidak salah, saat aku memasukkan bantal es tadi──

"Oh, ada, ada."

Saat aku membuka freezer, kulihat beberapa plastik Ziploc berisi sayuran yang sudah dipotong-potong tersimpan di dalamnya. Ada paprika hijau, wortel, jamur shimeji, dan daun bawang.

Di sampingnya, tergeletak nasi beku seukuran telapak tangan yang dibungkus dengan plastic wrap. Begitu, ya.

Rupanya ia menyiapkan stok makanan seperti ini di saat luang, agar tetap bisa menyajikan menu makanan yang lengkap bahkan di pagi hari yang sibuk.

Sambil berdecak kagum dengan cara cerdik Shigure, aku meminjam daun bawang dan nasi dari stok tersebut. Meskipun tidak ada umeboshi, ya mau bagaimana lagi.

Aku langsung membuat bubur telur sesuai dengan langkah-langkah di resep. Yah, cuma tinggal memasukkannya ke panci, mengaduk, dan merebusnya.

Bahkan orang dengan kemampuan memasak nol sepertiku juga pasti bisa melakukannya.

...Aku memang sedikit gagal saat memecahkan telur, tetapi karena pada akhirnya bakal dijadikan telur kocok, anggap saja tidak masalah.

Kalau telurnya sudah matang dengan pas, tinggal tambahkan daun bawang beku di akhir, dan selesai. Aroma jahe yang menggugah selera membuat bubur ini terlihat lumayan lezat.

Aku mencoba mencicipinya sedikit. ...Hmm.

Yah, rasanya tidak begitu enak.

Lebih tepatnya, rasanya hambar. Namun, yang namanya bubur memang seperti itu, kan.

Berbeda dengan nasi kuah zosui kaya kaldu yang biasa dibuat dari sisa rebusan hotpot di panci. ...Ini pasti karena efek tidak ada umeboshi-nya.

Apa kutambah sedikit kecap asin saja? Tidak──

"Ngomong-ngomong, bukannya itu bisa dipakai, ya?"

Tiba-tiba terpikirkan sebuah ide, aku mengambil sesuatu dari kulkas, mencincangnya sampai halus, lalu meletakkannya di atas bubur.

"Nnh...!"

Enak banget! Woi, woi, jangan-jangan sebenarnya aku jago masak, ya?

Kalau begini, aku bisa memberikannya pada Shigure dengan percaya diri. Aku menyendok bubur dari panci kecil ke dalam mangkuk, menambahkan taburan topping dadakan itu, lalu membawakannya untuk Shigure.

"...Eh? Kakak?"

"Oh. Kamu sudah bangun? Buburnya baru saja selesai kubuat, nih."

Kayu lantai yang kuinjak berderit saat aku masuk ke kamar Shigure. Suara itu membuat Shigure yang sedang tertidur kembali terbangun.

Shigure mengerjapkan matanya saat melihat sosokku, sekilas melirik jam, lalu bertanya.

"...Kenapa Kakak tidak berangkat ke sekolah?"

"Aku sudah menelepon guru, jadi tenang saja. Sekalian kubilang kalau aku juga libur karena harus merawatmu."

"...Padahal cuma flu biasa, lebay banget, deh. Nanti disangka pura-pura sakit supaya bisa bolos, lho?"

"Bukannya aku biasanya selalu serius, dan guru juga tahu kalau kita berdua tinggal berdua saja, jadi tidak mungkin berpikir begitu. Lagipula, biarpun cuma flu biasa, saat tubuh sedang tidak enak, kamu pasti ingin ditemani oleh seseorang, kan?"

Karena aku cukup lama menjadi "anak kunci" yang sering ditinggal sendirian di rumah, aku bisa memahaminya. Jatuh sakit dan harus berada sendirian di rumah itu rasanya lumayan kesepian, lho.

Yah, ceritanya bakal berbeda kalau punya cukup energi untuk bermain gim, sih.

Shigure juga dulunya seorang "anak kunci" yang hanya tinggal berdua dengan ibunya. Sepertinya kami punya perasaan yang sepaham tentang hal itu.

Setelah bergumam seperti itu, raut wajahnya mengendur seakan terlihat sedikit gembira. Aku duduk di sebelah Shigure, lalu menyodorkan mangkuk berisi bubur kepadanya.

"Nih, kamu bisa memakannya?"

"Harusnya aku yang bilang begitu, tahu."

"...Apa maksudmu, woi."

"Ehehe... aku cuma bercanda, kok."

"Selamat makan."

Setelah mengucapkan kalimat sopan itu, Shigure menyendok sedikit bubur yang masih mengepulkan uap.

Ia mencoba meniupnya perlahan untuk mendinginkan suhu panasnya.

"Fuuuh, fuuuuh... uhuk,"

Namun, ia malah tersedak di tengah-tengah usahanya.

Gawat. Sepertinya aku kurang peka memikirkan hal ini.

Dengan lembut, aku mengambil mangkuk dan sendok dari tangan Shigure, meniup dan mendinginkannya sebagai gantinya, lalu menyodorkannya ke arah Shigure.

"Nih. Buka mulutmu."

"...Rawatanmu benar-benar totalitas, ya."

Yah, aku sendiri juga merasa kalau ini sedikit berlebihan. Akan tetapi, karena aku sudah membolos sekolah demi merawatnya, kurasa aku memang harus melakukan hal setidaknya sejauh ini.




Shigure tersenyum masam dan membuka mulutnya untuk menerima suapan bubur itu.

"Kh...!"

Seketika, kulitku terasa panas seperti dibakar api. Bibir sewarna bunga sakura yang terbuka untuk menerima bubur itu.

Dan lidah merah menyala yang bergerak di baliknya, yang biasanya tak pernah kulihat.

Warna daging yang berkilau basah oleh air liur itu, mau tak mau membuatku teringat pada pemandangan malam itu dan──

Tunggu...! Bodoh! Apa yang sedang kupikirkan saat berhadapan dengan orang sakit!

Aku memejamkan mata erat-erat seakan menggertakkan kelopak mataku untuk menyingkirkan pikiran kotor itu. Kemudian, sembari berpura-pura tenang, aku menyuapkan bubur ke antara bibir Shigure.

"...Enak."

"S-Syukurlah kalau begitu."

"Potongan acar shibazuke-nya bikin nafsu makan naik, ya. Jadi gampang dimakan."

"K-Karena tidak ada umeboshi, jadi kuganti pakai itu. Lagipula, biarpun namanya makanan orang sakit, kalau rasanya terlalu hambar kan susah juga dimakan."

"Ternyata itu idemu, ya Kak. Boleh juga. Nanti aku bakal tiru, deh."

Potongan acar shibazuke dadakan yang kuberikan sebagai taburan itu ternyata mendapat pujian dari Shigure. Aku senang dipuji oleh Shigure yang jago masak, tapi aku tidak punya banyak waktu luang untuk merasa gembira.

Sejujurnya, aku harus berjuang mati-matian menahan otot wajahku agar tidak bereaksi menjijikkan terhadap ingatan yang menggelitik dasar otakku ini.

Meski dalam hati aku ingin ini cepat selesai, aku juga tidak bisa mendesak orang sakit.

Shigure menghabiskan semangkuk kecil bubur itu perlahan-lahan.

"Terima kasih atas makanannya. Rasanya sangat lezat."

"Bukan apa-apa."

Meskipun sempat dilanda cobaan tak terduga, aku berhasil melewatinya dengan selamat. Melewati apa dengan hal yang seperti apa, ya.

Sulit diungkapkan dengan kata-kata, tetapi rasanya aku telah melewati sesuatu. Sembari membereskan mangkuk itu, aku menghela napas dan bertanya pada Shigure.

"Apa ada hal lain yang bisa kubantu? Mencuci baju atau bersih-bersih, apa saja boleh."

"...Hmm. Kalau bersih-bersih... tidak usah. Aku ingin tidur dengan tenang, soalnya. Dan untuk cuci baju, hari ini sih tidak perlu..."

Shigure tampak sedang berpikir. Ya, kalau tidak ada, aku bisa belajar mandiri di kamarku saja....

Saat aku sedang memikirkan hal itu, tampaknya Shigure baru teringat sesuatu.

"Ah. Kalau begitu, boleh aku minta tolong satu hal?"

"Oh. Apa itu."

"Kemarin aku belum mandi, ditambah lagi aku berkeringat setelah makan bubur, rasanya jadi tidak nyaman, jadi aku mau ganti piyama."

Begitu, ya. Tentu saja itu terasa tidak nyaman. Apalagi sekarang musim panas. Dan tidak ada AC di kamar ini.

"Aku cuma perlu menyiapkan pakaian gantinya, kan. Serahkan padaku."

"Bukan, selain itu juga... bisa tolong lap punggungku pakai handuk, nggak?"

"Eh...."

...Ah, benar juga. Meskipun mau ganti baju, rasa tidak nyamannya tidak akan hilang kalau tidak mengelap badannya terlebih dahulu.

Apalagi tangan tidak bisa meraih bagian punggung dengan sendirinya.

"Baiklah. Aku akan ambilkan handuk, tunggu sebentar, ya."

Mengelap badan seorang gadis memang terdengar sangat mendebarkan, tetapi toh ini hanya bagian punggung. Aku tidak akan melihat payudara, pantat, paha, apalagi wajahnya. Sejujurnya, perbedaan gender pun nyaris tidak terasa dalam hal ini, kan.

Bahkan sebagai seorang perjaka, tak ada yang perlu kukhawatirkan soal itu.

"Kalau begitu, tolong, ya."

...Namun, pemikiran melenceng yang sama sekali tidak tepat sasaran itu sirna seketika saat aku melihat Shigure duduk membelakangiku sambil memeluk dadanya sendiri, memperlihatkan punggung telanjangnya padaku.

Pada saat yang sama, wajahku memanas hingga rasanya otak di dalam tengkorakku seperti mau mendidih.

...Woi, woi, apa-apaan ini. Kulit putih yang sedikit memerah.

Bahu rapuh yang seakan bisa patah kapan saja. Tengkuk ramping yang terlihat sangat pas dalam genggaman satu tangan.

...Sangat berbeda dengan milik laki-laki.

Meski dalam posisi yang tidak memperlihatkan payudara, pantat, paha, atau wajahnya. Namun, ...dia terlihat sangat 'perempuan'.

"Kh, ah...."

Aku merasa seperti sedang melihat sesuatu yang tidak boleh kulihat. Namun aku malah tertarik kepadanya, hingga tenggorokanku terasa sangat kering.

Padahal aku biasa melihat punggung wanita di iklan sampo atau semacamnya, dan aku tidak merasakan apa pun saat melihatnya.

Cantik... banget....

Jantungku berdebar kencang sampai rasanya sakit. Darahku berdesir hebat.

S-Sial, ini di luar dugaan. Siapa sangka mengelap punggung bisa sampai begini! Apakah boleh... aku menyentuhnya?

"Hatchi!"

Saat itu, Shigure bersin kecil. Kh, aku tidak boleh membiarkan orang sakit telanjang dada terlalu lama.

Sama seperti saat menyuapinya tadi, aku memejamkan mata erat-erat dan memantapkan tekad. Walaupun menyentuh, aku akan melakukannya dengan handuk.

Aku tidak menyentuhnya secara langsung. Makanya, aku tidak akan tahu bagaimana sensasinya. Aku tak perlu memedulikannya.

Aku harus segera mengelapnya dan menyuruhnya memakai baju.

"Nnh, uh...."

Namun, saat aku menekan handuk di punggung Shigure, tepat di antara tulang belikatnya lalu menggosoknya secara vertikal, tubuh Shigure bergoyang mengikuti gerakannya, lalu ia mengeluarkan erangan seakan kesakitan.

Bukan karena tenagaku terlalu kuat, melainkan karena ia tidak punya tenaga akibat flu. Aku harus menopangnya dengan benar.

Harusnya tidak boleh, tetapi... menopangnya berarti aku harus menyentuh bahunya ini dengan tanganku.

Menyentuh bahu telanjang yang putih dan rapuh ini dengan tanganku, dengan tangan seorang pria....

Bukankah itu sudah termasuk tindak kriminal!? Namun, tidak ada cara lain.

Jika ia terus terguncang seperti ini, itu hanya akan membebani Shigure. Aku menyentuh bahu Shigure dengan berusaha tidak memberikan terlalu banyak tenaga.

"Kh~~~~~~~!"

Struktur tulangnya yang sangat kecil hingga pas dalam genggamanku, seolah-olah seperti mainan jika dibandingkan dengan milik pria. Rasa lembap dan suhu tubuh yang tinggi meresap ke seluruh telapak tanganku saat bersentuhan dengannya.

Udara yang terpapar panas tubuhnya itu sangatlah manis.... Entah bagaimana menjelaskannya, baunya bukan seperti aroma manis bunga sungguhan, tetapi tak ada kata sifat lain yang bisa menggambarkan wangi ini.

Aroma ini juga berbeda dengan aroma yang sesekali menguar dari Haruka usai kegiatan klub. Lebih dari sekadar di indra penciumanku, aroma ini menggugah insting dan sisi lain dalam diriku, sebuah wangi yang sangat memikat dan merangsang.

Kepalaku pusing. Bahkan hanya dengan mencium baunya saja sudah membuatku begini.

Sekarang, ...bagaimana jadinya kalau aku mendekatkan hidungku ke tengkuk putih ini,

...dan menghirup aromanya dalam-dalam....,

...apa yang akan terjadi? Akan jadi apa diriku ini?

"Kakak."

Saat itu, dengan posisi masih membelakangiku, Shigure memanggilku. Aku sangat terkejut hingga rasanya jantungku mau copot dari mulut, tetapi aku berhasil menahannya lalu merespons.

"A-Ada apa."

"Kakak memang benar-benar bodoh, ya."

"...Kenapa tiba-tiba menghinaku?"

"Aku tahu, kok. Kalau aku melakukan hal semacam ini, Kakak pasti bakal deg-degan. Meskipun deg-degan, Kakak tetap berusaha sebisa mungkin untuk merawat adikmu yang sedang sakit sebagai seorang kakak. Aku tahu semua itu, makanya aku memanfaatkannya. Soalnya aku ingin Kakak menyadariku."

"...."

"Kalau Kakak bersikap terlalu baik pada perempuan sepertiku, nanti Kakak malah makin disukai, lho?"

Kakak mengerti, kan? ucap Shigure sembari menatapku dari balik bahunya.

...Yah, aku sendiri juga berpikir kalau aku ini bodoh. Padahal kenyataannya kemarin aku berniat membuatnya membenciku.

Namun, semua pikiran itu langsung lenyap saat aku melihat Shigure ambruk.

Bukannya aku berniat merawat Shigure karena sebuah kewajiban. Dirinya itu berharga. Sudah sejak awal.

Karena Shigure juga sangat memedulikanku. Memang benar kalau niatnya yang ingin melewati batas sebagai seorang adik perempuan itu merepotkan, tetapi mengatakan hal yang tak sesuai dengan isi hatiku lalu menyakitinya atau menjauhinya... mungkin itu bukan tindakan bodoh, melainkan tindakan bajingan.

Kalau disuruh memilih antara bodoh atau bajingan, aku lebih mending jadi orang bodoh. Setidaknya orang bodoh masih punya sedikit daya tarik.

Oleh karena itu, aku berkata.

"Jangan kegeeran."

"...!"

"Memang benar kalau aku kadang merasa deg-degan karena kamu, tapi itu karena kamu adalah adik kembar Haruka. Wajar saja kalau aku deg-degan pas dicium sama cewek yang wajahnya persis sama pacarku. Tapi itu semua cuma gara-gara aku melihat bayangan Haruka dalam dirimu, bukan karena aku menganggapmu lebih dari sekadar adik. Orang yang paling kusukai adalah Haruka. Perasaan itu tidak akan pernah goyah atau berubah. Makanya tidak peduli bagaimana perasaanmu padaku, itu tidak ada hubungannya. Sebagai kakak, aku... hanya ingin merawat satu-satunya adik perempuanku."

Setelah mengatakannya, aku meletakkan handuk di atas kepala Shigure lalu menepuknya pelan.

"Nih. Sudah selesai, jadi bagian depannya lap saja sendiri lalu ganti bajumu. Aku bakal belajar mandiri di ruang keluarga, jadi kalau butuh apa-apa, panggil saja, ya."

"...Iya. Terima kasih banyak, karena sudah merawatku."

"Itu, sih, ...sudah sewajarnya sebagai sesama manusia."

Kalau Shigure bukan adik yang manis, aku takkan melakukan hal ini padanya.

Membalas demikian, aku keluar dari kamar Shigure dan menutup pintu gesernya supaya ia bisa berganti pakaian.

Tidak, serius, aku hanya jago berlagak sok keren! Hiromichi Sato!

Aku mencela diriku sendiri setelah keluar dari kamarnya. Padahal jelas-jelas aku bersemangat layaknya monyet saat melihat punggung indah Shigure, bisa-bisanya aku melontarkan kata-kata sok keren tanpa tahu malu.

Dengan cara berlagak tak sesuai kemampuan seperti ini, cowok ini makin lama makin tak bisa mundur.

...Namun yah, apa yang kukatakan tadi bukan kebohongan.

Aku hanya berdebar melihat bayangan Haruka di dalam diri Shigure. Aku tak pernah sedikit pun berpikir kalau aku lebih menyukai Shigure ketimbang Haruka.

Lagi pula, saat Shigure menyatakan perasaannya pun, aku bisa dengan tegas mengatakan kalau aku lebih menyukai Haruka, kan. Hatiku akan selalu mengarah pada Haruka seorang.

Aku punya kepercayaan diri soal itu.

Karena itulah... yah, kalau dipikir-pikir, memang tidak peduli bagaimana perasaan Shigure padaku, itu bukanlah hal yang penting.

Memang benar, tetapi, yah....

"Meskipun begitu, aku tetap pengin berciuman, sih...."

Aku ingin mengingatnya kembali. Aku ingin merebutnya kembali. Sensasi bibir gadis yang paling kusukai dan paling berharga bagiku.

Hasrat ini tak bisa kusembunyikan. Walau begitu... berbeda denganku yang rusak gara-gara Shigure (dalam artian buruk), aku tidak ingin membebani Haruka—yang suci—dengan memaksa meminta ciuman padanya.

Aku ingin sebuah momen... sesuatu yang bisa membuat Haruka juga merasa berhasrat. Apakah ada cara untuk melakukannya?

Saat aku sedang memikirkan hal itu.

Terdengar bunyi bel yang terdengar murahan dari arah pintu masuk. Karena tidak ada barang bagus semacam interkom di rumahku, aku bertanya dari balik pintu.

"Dengan siapa?"

"Kurir Satake Unyu. Ada paket kiriman dari Amerika."

"Hah? Amerika?"

Kenapa dari tempat seperti itu... ah iya, ini dari ayahku, ya.

Kalau tidak salah, minggu lalu ia sempat mengirim e-mail yang bilang, 'Ayah sudah mengirim barang yang memakan tempat, jadi tolong simpan di lemari, ya'.

Aku mengambil stempel dari wadah pernak-pernik di atas rak sepatu lalu keluar rumah.

Dan aku selesai menerima paketnya. Paket tersebut terdiri dari dua kardus besar dan sebuah tas plastik yang cukup besar.

Ini benar-benar bawaan yang cukup besar. Semuanya terlihat kusam karena debu. Kalau aku memasukkannya ke dalam lemari begitu saja, Shigure pasti akan marah.

Sebenarnya ini apa, sih.

"Ini...!"

Aku membelalakkan mata setelah memeriksa isinya. Saat aku melihat barang yang tersimpan di dalam kardus itu, sebuah bayangan muncul di kepalaku.

Bayangan romantis di mana aku dan Haruka berciuman di tepi pantai malam yang dihiasi langit berbintang. ...Bukankah ini bisa kugunakan!?

Lagi pula, waktunya sangat tepat. Jika kami bisa melewati ujian akhir yang akan dimulai sebentar lagi, liburan musim panas yang ditunggu-tunggu akan tiba.

Namun, aku tidak bisa menggunakan barang ini sendirian. Aku butuh 'orang dewasa' untuk bekerja sama denganku.

Satu-satunya orang yang terpikirkan olehku adalah dia.

Oleh karena itu, aku segera menggunakan LINE dan mengirim pesan kepada salah satu temanku, Tomoe Wakabayashi.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close