NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanojo no Imouto to Kiss wo Shita Volume 2 Chapter 3

Chapter 17

Pukul 8 Malam × Etiket


Setiap kali Haruka Saikawa mengatakan bahwa kegiatan klubnya akan selesai terlambat, biasanya ia akan berlatih hingga gerbang sekolah ditutup pada pukul delapan malam.

Oleh karena itu, aku menghabiskan waktu dengan mengerjakan PR dan belajar mandiri hingga perpustakaan tutup pada pukul enam. Setelah itu, aku bermain di arkade yang berjarak sekitar 10 menit jalan kaki dari sekolah bersama Takeshi yang baru saja selesai dari kegiatan klubnya.

Tepat sebelum gerbang ditutup, aku menuju ke ruang klub teater tempat Haruka berada. Ruang klub teater adalah bangunan prafabrikasi di samping gedung olahraga.

Anggota klub selalu berganti pakaian olahraga di sana dan berlatih di panggung gedung olahraga. Meskipun hari ini anggota klub voli dan basket sudah pulang, mereka masih terus berlatih teater.

Termasuk Haruka, seluruh anggota klub meneriakkan dialog dengan lantang, sembari bermandikan keringat seakan mereka baru saja disiram seember air.

...Melihat pemandangan seperti ini, aku semakin merasa bahwa klub teater sama sekali tidak mirip dengan klub budaya pada umumnya.

"Ah, bukankah ini si Pacar? Lama tak jumpa."

"Ketua. Selamat malam."

"Lagi nunggu Haruka? Maaf, ya, jadi mengganggu waktu pacaran kalian sepulang sekolah."

Seorang kakak kelas tiga menyapaku dengan ramah, aku yang notabene adalah orang luar yang sedang mendekat.

Dengan tinggi badan yang sedikit lebih dariku, rambut hitam bergelombang sebahu, dan mata sayu yang terlihat sedikit mengantuk, ia adalah seorang wanita cantik misterius yang tampak menonjol dengan kantung matanya yang besar.

Ia adalah satu-satunya anggota klub teater yang masih mengenakan seragam, sekaligus ketua klub ini.

Aku sudah beberapa kali datang ke klub teater demi Haruka, jadi banyak anggota di sini yang tahu tentang hubunganku dengannya. Termasuk ketua klub ini.

"Akhir-akhir ini akting Haruka jadi makin oke, lho."

"Aku sudah dengar. Katanya ia dipuji karena aktingnya sudah sedikit lebih bagus, ya?"

"Ahaha. Benar sekali. Saat kelas satu, penampilannya memang bagus, tetapi ia terasa membosankan saat tampil di panggung. Bisa dibilang, anak itu payah dalam berbohong. Makanya, orang lain bisa langsung tahu kalau ia sedang berakting."

Aku agak mengerti maksudnya. Berbeda dengan Shigure, isi pikiran Haruka sangat mudah terbaca dari wajahnya.

Bisa dibilang bahwa pekerjaan seorang aktor adalah berbohong menggunakan seluruh tubuh, jadi mungkin pekerjaan ini kurang cocok untuk Haruka.

"Namun, belakangan ini akting anak itu terasa jauh lebih natural. Ia masih kaku seperti biasanya, tetapi kini kemampuannya mulai terlihat. Mungkin bisa dibilang, karakter uniknya yang selama ini tertutupi oleh kemampuannya yang setengah matang kini mulai terpancar. Kalau ia bisa menyajikan akting yang semenarik ini, mungkin aku bisa menulis satu naskah dengan Haruka sebagai pemeran utamanya."

"Eh! Yang benar saja!"

"Serius, kok. Akhir-akhir ini, setelah melihat Haruka, aku merasa ide-ide kreatif di kepalaku mulai bermunculan dan terstimulasi. Aku jadi penasaran... tragedi macam apa yang harus kusiapkan untuk mempermainkan gadis manis yang sedang dimabuk cinta ini!"

"Eh... yang benar saja...."

"Itu semua juga berkat kamu, si Pacar, yang sudah mengajari Haruka tentang laki-laki! Terima kasih!"

Bahasamu, woi!

"Aku sama sekali nggak ngajarin hal kayak gitu, tahu!"

"Oh, gitu, ya? Ya sudah, maaf-maaf saja nih, soalnya aku mau meminta dia untuk memainkan peran sebagai wanita penghancur klub saat liburan musim panas nanti, jadi tolong pastikan kalian sudah berhubungan seks sebelum itu, ya."

"Nggak bakal!"

"Kalau saja aku punya penis, pasti bakal lebih cepat, ya~."

"Nggak bakal kubiarkan!!"

Ngomong-ngomong, sudah pasti aku sangat kewalahan menghadapi orang ini. Entah bagaimana, termasuk Shigure juga, aku selalu bingung harus bersikap seperti apa saat para gadis mulai melontarkan lelucon jorok....

Apalagi kalau orangnya cantik, itu benar-benar merepotkan.

"Ah! Hiromichi-kun!"

Saat aku sedang kebingungan, Haruka akhirnya menemukanku.

Begitu melihat sosokku, ia langsung berlari ke arahku dengan rambut yang semakin acak-acakan.

"Kamu datang menjemputku! Maaf ya, latihannya jadi lebih lama."

"Tidak apa-apa. Lagipula melihatmu bekerja keras juga menyenangkan. Ini, kubawakan minuman."

"Ehehe. Terima kasih!"

Setelah menerima minuman olahraga yang kubeli di minimarket saat perjalanan kembali dari arkade, Haruka tersenyum manis dengan wajah berbinar senang.

Bukan senyuman sensual yang membuat jantung berdebar seperti milik Shigure. Melainkan senyuman yang membuat hati orang yang melihatnya terasa hangat, ekspresi yang hanya dimiliki oleh Haruka.

Aku benar-benar sangat menyukai wajah Haruka yang ini. Kalau saja tidak ada orang lain, rasanya aku ingin memeluknya sekarang juga──

"EMOSIONAAAL!!"

"Kyaa!? K-Ketua!?"

Saat aku sedang memikirkan hal itu, Ketua Klub yang berdiri di sebelahku tiba-tiba membelalakkan matanya yang biasanya sayu hingga memerah, mendengus keras, dan langsung memeluk Haruka.

A-Apa-apaan wanita ini!

"Ekspresi yang barusan itu luar biasa! Sangat emosional! Berikan, berikan aku lebih banyak ekspresi seperti itu!!"

"Ayo kita latihan dari awal sekali lagi sebelum aku melupakan ekspresi tadi! Ayo, semuanya juga bersiap-siap!"

"Eeeh! Ini kan sudah mau jam delapan!?"

"Penyakit Ketua kumat lagi, deh...."

"Sudah cukup, nanti dimarahi guru, lho!"

"Kalau itu terjadi, aku akan sujud telanjang bulat memohon ampun, jadi tidak akan ada masalah!"

"Bukannya malah tambah masalah kalau begitu!?"

"Hei, Klub Teater! Mau sampai kapan kalian di sekolah! Cepat pulang!"

"Tuh kan, guru BK sudah datang! Bukannya sudah kubilang!"

"Bagus, serahkan padaku!"

"Kyaaaa! Semuanya, tolong hentikan Ketua!"

Ketua itu mulai melepas blusnya tanpa ragu. Guru tersebut langsung melotot kaget, sementara anggota klub yang lain bergegas memeganginya.

Pada akhirnya, kegiatan klub hari itu pun dibatalkan setelah sang Ketua yang setengah telanjang itu diseret ke ruang bimbingan konseling.

× × ×

Saat aku dan Haruka keluar dari sekolah, matahari yang mendekati titik balik musim panas pun telah terbenam.

Kami berjalan bersisian menyusuri rute pulang sekolah yang hanya diterangi oleh lampu jalan. Sepanjang jalan, Haruka meminta maaf atas keributan tadi dengan nada menyesal.

"Maaf ya, Hiromichi-kun. Ketua kami memang orang yang sedikit aneh."

...Sedikit?

"Yah, karena aku sudah sering bertemu dengannya, aku lumayan terbiasa, kok."

"Meskipun sebagai anggota klub aku hanya bisa menuruti perkataannya, biarpun orangnya begitu, ia adalah sosok yang hebat, lho."

"Kalau soal itu, aku juga tahu. Dia orang yang sangat terkenal, kan."

Meski kakak kelas yang aneh seperti itu, ia adalah siswa peraih peringkat satu di kelas unggulan tahun ketiga, dan dua tahun lalu ia juga membuat geger publik sebagai seorang penulis novel sekaligus siswi SMA aktif yang memenangkan penghargaan novel bergengsi.

Mungkin bisa dibilang batas antara keanehan dan kejeniusan itu setipis kertas. Saat kami berjalan sembari mengobrol santai, sebuah sepeda melaju dari arah depan kami.

Aku menarik tangan Haruka dan kami menepi ke pinggir jalan.

Saat itu aku sadar bahwa aku secara otomatis menggandeng tangan Haruka sembari berjalan.

"...Ehehe. Terima kasih. Saat kita berjalan bergandengan tangan seperti ini, aku jadi teringat kencan kita kemarin."

"A-Ah, iya..."

"Kencan kemarin seru banget, ya. Bahkan setelah pulang pun aku masih deg-degan terus, sampai-sampai aku sama sekali tidak bisa tidur, lho. Makanya hari ini aku sedikit kurang tidur, deh."

"...Aku juga. Pada akhirnya aku baru bisa tidur pas menjelang pagi."

...Gawat. Rasanya aku ingin muntah darah karena rasa bersalah.

Sebab, saat Haruka sedang deg-degan karena ciuman denganku, aku malah berciuman dengan Shigure. Sejujurnya, alasan aku tidak bisa tidur kemarin juga karena hal itu.

Apalagi aku terus menyeret masalah itu dan malah memikirkan Shigure seharian penuh.

Namun, cukup sampai di sini saja.

Aku menguatkan tekadku dalam hati. Memang benar kalau ritmeku hancur berantakan seharian ini, tetapi kalau aku bisa mendapatkan satu ciuman lagi dari Haruka, aku pasti bisa kembali ke ritme awalku.

Masalahnya adalah, bagaimana caranya aku bisa membawanya ke tahap ciuman?

Ah, benar juga. Karena topik obrolannya sedang mengarah pada kencan kemarin, bukankah aku bisa menyambungkannya dari sini?

"Lalu, ya. Waktu jam istirahat siang tadi, anak-anak dari klub angkat besi bantuin ngeluarin properti panggung. Terus Takeshi-kun malah mulai latihan pakai dumbel sama ampli, makanya dia kena marah sama Ketua."

G-Gawat.

Saat aku sedang sibuk melamun, topik pembicaraannya malah melenceng jauh dari kencan kemarin menjadi tentang otot. Sialan.

Tentu saja aku tidak punya keahlian komunikasi untuk mengarahkan pembicaraan dari otot ke ciuman.

"Dia memang tipe yang bakal langsung mulai latihan beban setiap kali tangannya menyentuh barang yang cukup berat, sih."

"Dia bener-benar tipe yang keras pada diri sendiri, ya."

"Menurutku, yang seperti itu namanya pecandu, lho."

Sembari merespons, aku mencari celah untuk menciumnya, tetapi sepertinya topik tentang otot ini tak kunjung berakhir.

Bagaimana kalau aku sekalian mencuri ciuman secara tiba-tiba? Seperti... memeluk bahunya tiba-tiba di tengah obrolan, menariknya ke dadaku, lalu menciumnya dengan lembut.

'Maafkan aku, tolong jangan bicarakan laki-laki lain di depanku', atau semacamnya.

...Ah, iya, ya. Sumpah jijik banget.

Membayangkannya saja sudah membuatku gatal-gatal. Hal seperti ini hanya pantas dilakukan oleh cowok tampan seperti Tomoe. Sadar dirilah, Sato Hiromichi.

Aku harus memikirkan cara yang lebih realistis. Ah, iya. Kemarin itu alur ciumannya bagaimana, ya?

Aku berusaha mengingat-ingat.

Kalau tidak salah... kencan kemarin secara keseluruhan terasa cukup canggung. Kami sama-sama terlalu memikirkan soal ciuman, sehingga semuanya terasa kaku.

Namun... saat kami berpisah di depan stasiun, tepat saat kami hampir bubar tanpa melakukan apa-apa selain saling sadar diri, kupikir ini tidak boleh berakhir begitu saja, jadi... aku menggenggam tangan Haruka.

Lalu aku berkata.

Aku tidak ingin pulang begitu saja.

Lalu Haruka membalas, aku juga tidak ingin pulang.

Kemudian, bibir kami secara alami bersentuhan──eh, tunggu dulu, apa yang kulakukan kemarin luar biasa banget, kan!?

Aku sampai terkejut sendiri saat mengingatnya. Dari mana asal keberanian sebodoh itu?

Namun, hal yang bisa kulakukan kemarin pasti bisa kulakukan hari ini. Aku juga sudah teringat hal yang penting.

"Oh, iya. Tadi kamu bilang kita akan makan malam bersama. Apakah Hiromichi-kun sudah menentukan ke mana kita akan pergi?"

"E-Eh, belum, sih. Aku rencananya mau mendiskusikannya denganmu dulu."

"Kalau begitu, ada tempat yang pengin banget aku kunjungi sekarang! Di sana boleh, kan?"

"Boleh saja, kok. Asal itu tempat yang ingin didatangi oleh Haruka."

"Horeee!"

Hal yang penting. Itu adalah fakta bahwa kesempatan baru akan datang di saat perpisahan.

Kami tidak akan bisa bertemu lagi hari ini. Rasa rindu itulah yang akan memperkuat keinginan untuk saling mencari.

Sejak awal, meminta ciuman segera setelah bertemu itu terlalu terburu-buru. Jangan terlalu serakah.

Kalau aku terlalu memaksakan diri dan malah membuat Haruka menjauh, semuanya akan sia-sia.

Aku menegur diriku sendiri karena terlalu terburu-buru ingin mencium Haruka.

Tidak masalah.

Ramalan bintang tadi juga bilang, kan. Katanya, hubungan dengan lawan jenis yang dekat mungkin akan mengalami kemajuan.

Aku harus memercayainya dan menunggu kesempatan dengan sabar. Lagipula, tak ada alasan mengapa aku tak bisa melakukannya hari ini sedangkan kemarin aku bisa melakukannya, kan?

Saat perpisahan nanti pasti suasananya akan mendukung. Pasti.

"Lalu, memangnya kedai mana yang ingin kamu kunjungi, Haruka?"

× × ×

"Haaah. Enak banget, ya. Ramen porsi sayur dengan ekstra bawang putih!"

"................Benar, ya."

Aku benar-benar takkan memercayaimu lagi, ramalan bintang acara TV pagi!

Setelah keluar dari kedai, aku yang menemani Haruka sampai ke peron stasiun berteriak dalam hati.

...Yah, percakapan kami persis seperti yang kalian baca.

Kedai yang diinginkan Haruka adalah kedai ramen di depan stasiun.

...Jujur saja, hari ini aku ingin menghindari makan ramen.

Akan tetapi, kedai itu baru saja dibuka di depan stasiun, dan kami berdua sudah sering membahas ingin ke sana setiap kali melewatinya.

Terlebih lagi, aku sudah terlanjur bilang tak masalah ke mana pun asalkan itu tempat yang diinginkan Haruka, jadi aku tidak bisa menolaknya.

Tentu saja, meminta ciuman setelah makan makanan seperti itu tidak sopan. Etika yang buruk.

Singkatnya, tujuanku yang selama ini kurahasiakan hari ini telah gagal total. Haaah....

"...Haruka, kamu sangat suka ramen, ya."

"Iya, aku suka banget. Mungkin karena kegiatan klubku menguras energi, ya. Ada saat-saat di mana aku sangat, sangat ingin makan ramen setelah kegiatan klub. Seperti hari ini, misalnya. Rasanya tubuhku berteriak minta cairan, garam, dan minyak."

"Memang sih, kalau kamu berkeringat sebanyak itu, wajar kalau kamu merasa begitu."

"Hiromichi-kun juga suka ramen, kan? Kita lumayan sering makan ramen pas kencan."

"Yah, satu-satunya makanan lezat yang ramah buat kantong pelajar cuma ramen, sih, dan kamu juga terlihat senang. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, jarang banget dengar ada cewek yang suka ramen. Menurutku itu lumayan unik."

"Eh?"

Mendengar kata-kataku ini, Haruka terkejut dan membelalakkan matanya dengan bingung.

"Tidak juga, kok. Cewek-cewek juga pada suka ramen. Anggota klub teater yang cewek ada banyak, tapi semuanya sangat suka ramen, lho."

"Begitu, ya. Mengejutkan. Kupikir cewek-cewek bakal benci sama bau minyak atau bawang putih."

"Ah, memang banyak sih yang pesan tanpa bawang putih. Padahal sayang banget, lho. Padahal ramen bakal jauh lebih enak kalau ditambah bawang putih. Ah.... Jangan-jangan kamu nggak suka cewek yang nambahin bawang putih ke ramennya?"

Seketika, raut wajah Haruka berubah muram.

Gawat.

Karena rencanaku gagal dan perasaanku sedang kacau, aku malah melontarkan sesuatu yang terdengar seperti keluhan.

Alasanku ingin berciuman dengan Haruka adalah karena hatiku yang lemah dipermainkan oleh Shigure.

Padahal Haruka tidak salah apa-apa, tapi kenapa aku malah membuatnya memasang ekspresi seperti itu? Apa yang sedang kulakukan, sih?

Aku segera menyangkal pertanyaan Haruka yang terdengar khawatir itu.

"Nggak! Sama sekali nggak gitu! Lagipula kalau makannya barengan, baunya nggak bakalan kecium, kan. Makanya, jangan sungkan makan apa pun yang kamu mau, ya. Soalnya... Haruka yang sedang makan ramen dengan lahap itu kelihatan manis, kok."

"Ma...! I-Itu namanya curi-curi kesempatan, tahu...."

Eh, ah....

Wah. Karena terlalu panik, aku jadi keterlaluan memujinya.

Barusan aku secara natural bilang kalau dia 'manis'!

Ucapan klise murahan yang sama sekali tidak cocok diucapkan oleh cowok kaku sepertiku!

"M-Maaf."

Melihat sosok Haruka yang tersipu malu dengan wajah merona merah, mau tak mau aku pun jadi ikut merasa malu lalu meminta maaf.

Tiba-tiba, Haruka menatapku dengan wajah merajuk sambil berkata "Hmpf".

"Jangan minta maaf. Aku pengin... kamu bilang gitu lebih banyak...."

Ah, aah, aaah... (kosakataku mulai berkurang drastis).

Gawat, pacarku manisnya minta ampun.

Kalau kamu mau, aku bisa mengatakannya sebanyak yang kamu mau!

Namun, tepat setelah aku menguatkan tekad, pengumuman kedatangan kereta menggema di peron. Kereta ini sungguh tidak peka sama sekali.

Pada akhirnya, kami pun berpisah tanpa melakukan apa pun.

"Sayang sekali.... Kita harus berpisah sekarang."

"...Iya. Sampai ketemu besok di sekolah, ya."

Sembari melambaikan tangan pada Haruka yang menaiki kereta, aku merasa sedikit tidak puas.

Tiba-tiba Haruka berbalik dan berkata,

"Asal kamu tahu, ya, Hiromichi-kun. Aku suka kencan yang bikin aku deg-degan sampai nggak bisa tidur seperti kemarin. Tapi, kencan makan malam bareng kamu sepulang sekolah kayak gini juga aku suka banget! Makanya, ajak aku lagi, ya!"

"A, aa.... Tentu saja."

Setelah aku menjawab demikian, Haruka tersenyum malu-malu dengan wajah bahagia.

Ia terlihat sangat gembira.

Pada saat yang sama, pintu kereta menutup, lalu membawa Haruka menjauh, berlawanan dengan arah rumahku. Aku memandangi kereta itu hingga menghilang dari peron, dan—

"Kh~~~~...."

...Aku merinding.

Tentu saja. Karena berbeda dengan Haruka yang sangat menikmati kencan makan malam hari ini dari lubuk hatinya, aku malah merasa tidak puas karena pada akhirnya tidak terjadi apa-apa sampai tadi.

Padahal baru beberapa saat yang lalu kami sama-sama memerah hanya karena bergandengan tangan.

Dalam artian yang buruk, hanya dirikulah yang menjadi liar.

Aku jadi tidak bisa menikmati waktu yang sama dengan cara yang sama seperti Haruka.

Tanpa diragukan lagi, ini semua gara-gara ciuman yang meledak-ledak dan emosional, sebuah ciuman berbahaya namun penuh hasrat yang menghantamkan perasaan telanjang Shigure kepadaku.

...Gawat. Gawat-gawat-gawat, ini tidak boleh dibiarkan!

Ini bukan lagi sekadar rasa tidak nyaman atau rasa bersalah pada Haruka karena terlalu memikirkan Shigure.

Racun dari cinta Shigure telah mengubah nilai-nilaiku.

Diriku sebagai manusia sedang dihancurkan.

Ini adalah racun mematikan. Racun mematikan yang tak ada tandingannya. Jika aku mengonsumsinya lebih banyak dari ini, itu bisa menyebabkan kerusakan yang tak bisa diperbaiki.

Aku harus... aku harus segera melakukan sesuatu...!

× × ×

Apartemen kayu dua lantai dengan nuansa ala era Showa yang terasa seolah-olah waktu berhenti dan melewatkan era Heisei ini, adalah tempat di mana aku dan Shigure tinggal.

Sembari menaiki tangga yang berderit, aku menarik napas dalam-dalam di depan pintu.

Sangat berbahaya jika aku membiarkan diriku terkena racun dari kasih sayang Shigure lebih dari ini.

Hatiku akan berubah.

Satu-satunya tindakan yang bisa kulakukan untuk mencegahnya hanyalah satu. Membuat Shigure membenciku.

Pagi ini, Shigure bilang kalau dia tidak bisa melupakan perasaan cintanya padaku, tapi dia bisa mendinginkannya.

Ia mengusulkan cara yang cukup ekstrem. Walaupun memukul itu terlalu berlebihan, tetapi kata-katanya itu tepat sasaran.

Jika ia kecewa pada seseorang, perasaannya pun akan memudar.

Artinya, ............mulai hari ini aku akan menjadi kakak yang kasar!!

"Woi! Aku pulang, woi!"

Aku membuka pintu dengan kasar hingga rasanya hampir jebol.

Lalu aku masuk ke rumah dengan langkah berat yang seakan bisa menghancurkan lantai.

"Woi-woi-woi. Kakakmu yang hebat ini udah pulang, nggak ada sambutan apa, hah?! Bak mandinya udah diisi kan, hah?!"

...Entah kenapa, rasanya ada yang salah!

Ini lebih mirip suami yang mabuk daripada kakak yang kasar, kan?

Namun, ini adalah batas maksimal imajinasiku karena aku tidak pernah mengalami fase pemberontakan saat remaja.

Yah, apa pun itu, ini pasti akan membuat siapa saja yang melihatnya merasa tidak nyaman, jadi aku akan meneruskannya saja.

"Woi-woi-woi, kenapa diam aja, hah! Kamu ada di situ kan, Shigure!"

...Namun, tak ada tanggapan.

Apa dia sedang keluar?

Tidak, tidak mungkin. Shigure tak pernah meninggalkan rumah tanpa mengunci pintu.

Lalu, apa ia sedang mendengarkan musik di kamarnya?

"Kalau kamu nggak segera balas panggilanku, aku nggak bakal kasih kamu puding ini! Walaupun ujung-ujungnya aku bakal makan dua buah! Jangan pikir aku bakal selalu ngalah sama kamu!"

Demi melontarkan kalimat itu, aku mengayun-ayunkan kantong plastik berisi paket puding isi tiga yang sengaja kubeli, lalu memaksa masuk ke ruang keluarga.

Lalu, ──di sanalah aku melihatnya.

Di lantai kayu dapur yang terhubung dengan ruang keluarga.

Tampak sosok Shigure yang tergeletak lemah di sana.

"S, Shigure!?!?"



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close