Chapter 24
Cinta yang Murni × Kesalahan
Aku Ingin kembali.
Ke hubungan di mana aku bisa mengatakan aku sangat
mencintaimu tanpa rasa canggung kepada Haruka yang sangat kucintai.
Lewat insiden panggilan telepon beberapa hari lalu,
aku kembali menyadari perasaan-perasanku sendiri seperti itu.
Kalau begitu, aku tidak boleh terus-terusan terbuai
oleh racun manis bernama Shigure.
Shigure itu manis, lembut, dan mengabulkan segala
keinginanku sesuai harapanku.
Namun, jika aku terus hanyut di dalamnya, aku hanya
akan semakin terperosok ke dalam jurang yang dalam.
Aku harus menghadapi Haruka.
Dan aku harus membuatnya percaya padaku.
Bahwa aku benar-benar memikirkan kondisi fisik Haruka.
Bahwa aku bukanlah tipe pria yang akan menyakitinya
secara impulsif.
Jika aku bisa membuatnya percaya, Haruka pasti akan
mememaafkan ciuman hari itu. Kita pasti akan terikat oleh ikatan yang jauh
lebih kuat.
Maka dari itu, pertanyaannya adalah apa yang harus
kulakukan agar ia percaya padaku.
Sejujurnya, aku sama sekali tidak punya bayangan.
Apakah aku harus berkonsultasi dengan Tomoe mengenai
hal ini?
"Um, permisi, Kak?"
"Ah, maaf! Selamat datang!"
Gawat, gawat.
Aku malah asyik berpikir padahal ada pelanggan yang
datang ke kasir.
Aku sempat meminta Takeshi untuk mencarikan pekerjaan
paruh waktu di drugstore demi bisa membelikan hadiah ulang tahun untuk
Haruka di bulan Oktober nanti.
Karena aku diterima lewat jalur referensi, aku harus
bekerja dengan benar.
Menyemangati diriku sendiri, aku mengambil pemindai
kode batang dan melayani pelanggan yang datang ke kasir.
Eh, wah. Pelanggan ini cantik banget.
Bukan cuma cantik, tapi seperti gadis jelita. Dilihat
dari fitur wajah dan warna rambutnya, sepertinya dia bukan orang Jepang. Bentuk
mata dan hidungnya sangat tegas. Badannya juga tinggi, dan bagian dadanya tanpa
perlu disebutkan pun benar-benar besar.
Namun, di balik keanggunannya yang bagaikan seorang
putri, masih tersisa sedikit kesan polos.
Apakah dia lebih muda dariku?
Ah, tidak boleh, tidak boleh.
Aku hampir melamun lagi.
Aku harus segera menyelesaikan transaksinya.
Eh,
"…………"
Melihat barang-barang yang dibawa oleh gadis itu, aku
langsung tertegun.
Lipstik. Parfum. Minuman botol plastik. Sampai di situ
masih wajar. Tapi, kemasan berbentuk persegi panjang dengan tulisan besar
0.01mm ini adalah kondom untuk saat-saat tertentu itu!
G-gadis cantik seperti ini pun membeli barang seperti
ini ya.
H-haah……
Atau justru karena dia cantik, makanya dia membelinya?
Artinya, dia mau menggunakannya dengan pacarnya, ya.
Rasanya seperti tidak sengaja melihat sesuatu yang
tidak boleh dilihat.
Kalau terus kupikirkan, ekspresiku pasti akan sangat
kentara di wajah. Aku harus segera memasukkannya ke dalam kantong belanjaan.
"Terima kasih banyak."
"~~~~"
Gadis berambut merah itu menyambar kantong
belanjaannya lalu berlari kabur seolah-olah sedang melarikan diri.
Apa ekspresiku tadi kelihatan di wajah?
Kalau iya, aku merasa sangat tidak enak padanya.
"Hiromichi"
Begitu gadis itu keluar dari toko, seolah sudah
menunggu-menunggu saat yang tepat, Takeshi yang berdiri di kasir sebelah
menyapaku dengan wajah yang sedikit memerah.
"S-sesuatu yang dibeli sama gadis imut barusan
itu, b-bukan itu, kan? Kondom untuk saat-saat tertentu, kan?"
"Iyah. Itu kondom untuk saat-saat tertentu."
"B-beneran ya! K-kehidupan percintaan anak muda
zaman sekarang di negeri ini sudah rusak!"
Otot-otot yang mengkhawatirkan dunia.
Ya ampun, padahal dari sudut pandang mana pun dia
kelihatan seperti orang asing.
"Aku tuh ya Hiromichi, kalau mikir setiap kali
ada jumlah manusia yang kelihatan di mata ini berarti ada aktivitas seks yang
terjadi, lama-lama rasanya kepalaku mau copot."
"Otakmu itu kan memang sudah rusak, makanya sana
ke rumah sakit."
Tapi ya, membayangkan anak seumuran kami menggunakan
barang semacam itu membuatku merasa kalau dunia ini luar biasa sekali, ya.
Entah butuh berapa tahun lagi sampai hari di mana aku
dan Haruka—yang bahkan masih kesulitan sekadar berpelukan—bisa menggunakan
barang seperti itu.
"……Tidak."
Saat itulah.
Sebuah pencerahan yang menjadi secercah cahaya
penuntun untuk menyelesaikan masalahku, sebuah kilatan penyelamat hidup
menyambar di benakku.
Benar, itu dia.
Hal inilah yang kurang dariku selama ini!
"Takeshi!"
"A, ada apa sih."
"Bungkus kondom ini sekalian untukku!"
"Pengkhianat kamvretiiiing! Aku putus pertemanan
dengan bajingan sepertimu sekarang jugaaaa!!"
× × ×
Lalu, akhir pekan yang ditunggu-tunggu pun akhirnya
tiba.
Aku pergi bertamu ke rumah Haruka dan mengerjakan PR
liburan musim panas bersama-sama.
Mungkin kamu akan berpikir, liburan musim panas yang
berharga ini malah dihabiskan berdua dengan pacar hanya untuk mengerjakan PR.
Tapi, urusan belajar adalah satu-satunya bidang di
mana aku—yang kemampuan manusianya hanya berada di tingkat menengah ke
bawah—bisa mendominasi Haruka sang gadis super cantik.
Sesi belajar bersama di mana ia bergantung padaku dan
aku bisa diandalkan itu, sejujurnya adalah hal yang diam-diam sangat
kukainginkan.
Selain itu, situasi di mana seorang cowok bisa masuk
ke kamar seorang cewek adalah hal yang sangat menyenangkan bagi cowok mana pun.
Waktu berlalu begitu cepat, hingga tanpa terasa hari
pun sudah menjadi senja.
"Terima kasih, Hiromichi-kun. Berkatmu semuanya
jadi cepat selesai! Punya pacar yang pintar itu sangat membantu karena PR
langsung beres dan aku bisa fokus pada kegiatan klubー."
"Hal sepele begini gampang diatur. Lagipula siang
tadi aku juga sudah ditraktir makan siang."
"Meskipun cuma burger murah, sih. Tapi kalau kamu
mau yang lebih mahal juga boleh, lho?"
"Mana boleh begitu. Harganya kan tetap saja
sekitar 600 yen. Lagipula Haruka kan lagi sibuk berjuang di kegiatan klub dan
nggak kerja paruh waktu. Rasanya tidak tega kalau harus memerasmu lebih dari
ini."
"Aku sangat bahagia punya pacar yang
pengertian."
Haruka menangkupkan kedua tangannya sambil bergumam
penuh rasa terima kasih.
Sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman canggung
yang entah kenapa terlihat sangat menggemaskan.
Sepertinya hari ini dia sering memperlihatkan ekspresi
seperti itu.
"Entah kenapa hari ini kamu kelihatan senang
banget, Haruka."
"Eh, kelihatan begitu ya?"
"Iya. Bibirnya kelihatan imut. Ada hal bagus yang
terjadi?"
Begitu aku bertanya, ekspresi Haruka meleleh dengan
semakin manis.
"Yah, begitulah. ……Anu, Hiromichi-kun. Alasan
kenapa aku memanggilmu hari ini, seperti yang kubilang di telepon tadi, karena
ada hal yang ingin kutunjukkan dan kusampaikan pertama kali kepada
Hiromichi-kun."
"Ke aku?"
"Iya. Hal ini bahkan belum kuberi tahukan ke Papa
atau Shigure, lho. Fufufu."
Selesai berkata begitu, Haruka berdehem pelan dengan
manis, lalu membusungkan dadanya dan memberitahuku.
"Ehm, aku, Saikawa Haruka yang tidak berbakat
ini, telah diputuskan sebagai pemeran utama wanita untuk pementasan teater
festival budaya tahun ini!"
"Oooooh!? Seriusan?!"
"Serius banget! Belum lama ini aku diberi tahu
oleh Ketua! Katanya untuk festival budaya nanti dia bakal menulis naskah khusus
buat Haruka!"
"Hee, ketua yang itu──…………"
'Akhir-akhir ini kalau aku melihat Haruka, inspirasi
di dalam diriku jadi terstimulasi banget, tahu. Gadis yang sedang kasmaran dan
selucu ini... kira-kira tragedi apa ya yang bakal cocok untuk menyiksanya.'
"……Entah kenapa aku jadi merasa sangat khawatir,
itu bukan sandiwara yang aneh-aneh, kan?"
"Ahaha. Ketua memang kelihatan seperti itu
orangnya, tapi soal naskah dia itu profesional, jadi nggak mungkin ada hal aneh
yang keluar."
Begitu ya. Kalau begitu syukurlah.
"Tapi begitu ya. Pemeran utama. Haruka kan sudah
bekerja keras terus."
Klub teater Seiun memiliki banyak anggota karena daya
tarik sang ketua yang terkenal sebagai penulis naskah.
Bahkan orang awam sepertiku pun tahu betapa hebatnya
pencapaian bisa dipilih menjadi pemeran utama dari sekian banyak anggota.
Melihat wajah Haruka yang begitu berseri-seri dan
tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang meluap dari lubuk hatinya, aku pun
merasa ikut senang melebihi kebahagiaanku sendiri.
……Aku merasa lega karena menyadari ada diri yang
seperti itu di dalam diriku.
Karena itu adalah bukti kalau aku sangat mencintai
Haruka.
Benar. Aku sangat menyukai senyuman ini.
Hanya dengan melihat senyuman cerah Haruka saja,
hatiku sudah berdegup kencang.
Perasaan sayang meluap-luap sampai membuat dadaku
terasa sesak, membuatku ingin memeluknya erat.
Ingin memeluknya, dan menciumnya.
Aku,──ingin mengikuti perasaan yang meluap-luap ini
sekali lagi.
Karena, perasaan ini pasti adalah hal yang benar.
Sempat disangkal oleh Haruka dan membuatku bersikap
ragu-ragu untuk waktu yang lama, cara hidup di mana aku tidak mengekspresikan
rasa sayang kepada kekasih tercinta, malah menyembunyikannya agar tidak tampak
di permukaan, lalu menjaga jarak sambil terus membaca situasi dan suasana hati,
ternyata adalah hal yang salah.
……Tidak apa-apa.
Karena untuk hal itu, aku juga sudah melakukan
persiapan hari ini.
Makanya aku mengerahkan seluruh keberanian yang sudah
lama tidak kukumpulkan, lalu berkata kepada Haruka.
"Hei, Haruka. Sebagai perayaan,──bolehkah aku
menciummu?"
"Eh……"
"Kita sudah lama banget nggak melakukannya,
kan."
"……Um, iya, benar juga. Karena aku sibuk jadi
kita jarang bisa ketemuan."
"Bukannya begitu."
Aku menggelengkan kepala menyangkalnya.
Bukan karena jarang bertemu makanya kami tidak bisa
berciuman.
Melainkan karena akulah yang tidak mau melakukannya.
"Waktu hari laut itu, aku sempat membuat Haruka
ketakutan, kan. Aku sempat merasa kesal dan memendam perasaan itu di lubuk
hatiku. Kenapa aku harus disalahkan separah itu, pikirku."
"!"
"Waktu ciuman itu jadi makin panas, itu karena
perasaan sukaku pada Haruka membuncah, aku hanya ingin menyampaikannya walaupun
sedikit, bukan karena aku ingin ngelakuin seks seperti yang Haruka khawatirkan.
Makanya waktu Haruka menolakku mentah-mentah dengan bilang 'aku tidak suka',
aku benar-benar kaget luar biasa, dan jujur saja, di lubuk hatiku aku sempat
meragukan Haruka. Kenapa Haruka tidak bisa percaya kalau aku tidak akan pernah
melakukan hal tak bertanggung jawab separah itu. Kenapa dia tidak bisa ingin
menyentuh kekasihnya seperti diriku. ……Apa Haruka benar-benar
menyukaiku……begitulah pikirku."
"Hiromichi, kun……"
Pupil mata Haruka bergetar karena terkejut.
Pacarnya sendiri ternyata meragukannya.
Sudah pasti dia akan merasa goyah jika dibenturkan
dengan hal seperti itu.
Tapi, itu semua sudah menjadi masa lalu.
Makanya, untuk membuat Haruka merasa tenang, aku
menggenggam tangannya yang ada di atas meja kaca dengan lembut lalu berkata.
"Tapi, beberapa waktu lalu aku akhirnya menyadari
sesuatu. Ternyata aku yang bodoh."
"Eh……"
"Kalau dipikir-pikir, wajar saja kalau Haruka
merasa takut. Soalnya saat itu aku tidak menyiapkan apa-apa. Mana boleh meminta
orang lain percaya padanya tanpa ada bahan bukti yang bisa dipercaya, itu
terlalu egois. Wajar saja kalau akhirnya ditolak mentah-mentah. Hal seperti ini
seharusnya dipersiapkan dengan benar oleh aku yang cowok supaya Haruka merasa
tenang."
"……Persiapan?"
Haruka memasang ekspresi kebingungan.
Sepertinya dia tidak mengerti dengan apa yang
kukatakan.
Makanya, meskipun sedikit malu untuk diucapkan dengan
kata-kata, aku menyebutkan nama benda itu.
"…………Kondom."
"...!?"
"Aku memang tahu benda semacam itu ada, tapi aku
tidak pernah membayangkan kalau aku sendiri akan membutuhkannya. Makanya aku
tidak punya pemikiran untuk menyiapkannya. Tapi, kalau begitukan tidak boleh,
ya."
Karena aku sedang berpacaran dengan seorang lawan
jenis bernama Haruka.
Saat pelajaran pendidikan kesehatan di kelas satu SMA
pun sudah diajarkan.
Bukan hanya untuk mencegah kehamilan yang tidak
diinginkan, tapi juga untuk mencegah penyakit, saat melakukan hubungan seksual
harus memakai kondom dengan benar.
"Jujur saja, kalau aku dan Haruka……melakukan hal
seperti itu, sampai sekarang pun aku masih belum bisa membayangkannya, tapi
urusan ini bukan masalah dipakai atau tidak dipakai. Kalau kamu benar-benar
menganggap Haruka berharga, menyiapkannya itu adalah bagian dari etika, atau
bisa dibilang kepedulian yang sudah sepatutnya."
Hal itu lah yang kurang dariku.
Mencoba memperpendek jarak dengan Haruka tanpa membawa
hal yang cukup.
Tentu saja aku tidak akan dipercaya.
"Tapi sekarang sudah berbeda. Makanya……hari ini,
bolehkah aku memelukmu dan menciummu lagi seperti hari itu?"
Bukan hanya lewat kata-kata, tapi aku menunjukkan
kepedulianku pada Haruka lewat tindakan.
Mengisi bagian yang kurang dariku pada malam di pantai
waktu itu, aku mengulurkan tanganku ke bahu Haruka.
Aku ingin kembali menjadi sepasang kekasih yang saling
mencintai secara wajar sekali lagi.
Namun, harapanku itu──
"Jangan sentuh aku!!"
Ditolak mentah-mentah.
× × ×
Tangan yang kuulurkan dihempas begitu saja dengan
tenaga seolah ingin memukul.
Rasa sakit yang membuat tulangku mati rasa membuatku
terpaku terkejut.
"…………Haru, ka?"
"…Jahat banget, jahat banget kamu,
Hiromichi-kun……"
Di wajah Haruka, sudah tidak ada lagi senyuman
cemerlang seperti tadi.
Air mata menetes deras dari matanya yang besar.
……Kenapa, dia menangis?
Kenapa…….
Apakah aku yang membuat Haruka menangis?
"Kamu sudah berjanji, kan. Kita sepakat kalau
urusan dewasa itu nanti saja kalau kita sudah dewasa dan bisa bertanggung jawab
penuh. Tapi, malah nekat membeli benda seperti itu……karena kamu jahat."
"T-tunggu dulu! Aku sama sekali nggak ngomongin
soal mau memakainya sekarang! Aku cuma mau minta maaf karena aku selama ini
tidak peduli dengan tubuh Haruka──"
"Kalau begitu kenapa kamu membeli benda kotor
seperti itu?"
……Ha, eh?
Kotor……? Kondom itu?
Eh, m-, maksudnya gimana?
"Kondom itu kan dipakai waktu main-main seks
tanpa mau bikin anak. Buat Hiromichi-kun, seks denganku itu cuma main-main
doang!?"
"──!?"
Reaksi histeris Haruka yang di luar dugaan membuatku
panik.
Bisa dimengerti kalau aku pun memiliki kesan bahwa itu
adalah alat untuk melakukan hal mesum dan rasanya memalukan.
Bahkan untuk sekadar menyebutkan namanya saja aku
sedikit merasa ragu.
Namun, aku sama sekali tidak berpikir kalau kegunaan
benda ini adalah untuk main-main.
Sebagai alat kontrasepsi, benda itu memiliki peran
penting dalam hubungan asmara yang sehat di mana kedua belah pihak saling
peduli, hal itu kuketahui sebagai bentuk pengetahuan.
Tapi pemahaman Haruka──sepertinya tidak seperti itu.
Kotor, katanya.
Ia terang-terangan menunjukkan rasa jijik tanpa
ditutup-tutupi.
Kenapa? Kenapa reaksinya bisa jadi seperti ini?
Aku tidak mengerti. Aku tidak mengerti, tapi ini
gawat.
Aku harus menenangkannya dan menjelaskannya. Bahwa aku
sama sekali tidak berniat menggunakannya sekarang. Tentu saja aku ingin
menyentuh Haruka, tapi aku tidak punya niat melakukan hal seperti itu sebelum
perasaan Haruka siap.
──Namun,
"Seks itu dilakukan bersama orang yang dicintai
demi membuat anak, tahu! Bukan dilakukan supaya anak cowoknya merasa enak
saja!?"
"Tolong tenanglah dan dengarkan penjelasanku! Aku
benar-benar nggak punya maksud begitu! Aku-"
"Kalau begitu dengan maksud apa kamu membeli
benda menjijikan seperti itu!? Itu sama saja seperti bilang kalau kamu cuma
mengincar tubuhku saja……! Padahal aku sudah percaya kalau Hiromichi-kun itu
bukan orang yang seperti Takao-san, tapi ternyata kamu jahat, jahat
banget……"
"H-, Haruka……"
"Pulanglah……! Pergi dari rumah ini sekarang
juga!!"
Suaraku sudah tidak sampai lagi pada Haruka.
× × ×
Aku yang diusir oleh bentakan Haruka berjalan gontai
menyusuri jalanan kota yang diselimuti senja menuju pulang ke rumah.
Melangkah gontai, gontai, tanpa semangat sama sekali.
"…………"
Aku merenung sambil menatap bayanganku sendiri yang
memanjang.
Apakah aku, telah mengulanginya lagi?
Tapi,……apakah aku yang salah dalam hal ini?
Aku sudah……berusaha memikirkan segala sesuatunya
tentang Haruka dengan caraku sendiri.
Pendidikan kesehatan di sekolah juga mengajarkan untuk
bersikap seperti itu.
Secara etika pun, apa yang kulakukan seharusnya
bukanlah hal yang salah.
……Apakah membahas topik itu sendiri adalah sebuah
kesalahan?
Topik yang berkaitan dengan seksualitas semacam itu.
Hal itu sendiri adalah sebuah pantangan bagi Haruka.
Menyimpan semuanya rapat-rapat di dalam hati sampai
dewasa dan nanti saat menikah, lalu menahannya seberapa besar pun perasaan
sayangku pada Haruka yang membuatku ingin memeluknya karena merasa berbahaya
kalau terlalu terbawa suasana.
Menahannya, terus menahannya, tapi memastikan api di
dalam dada agar tidak padam.
"Mana mungkin aku sanggup menahan itu
semua……"
Karena aku benar-benar ingin menyentuhnya.
Kata-kata untuk menyampaikan perasaan suka ini,
jumlahnya terlalu sedikit.
Selain menyampaikan perasaan lewat sentuhan, aku tidak
punya rasa percaya diri……untuk bisa mengikatmu agar tetap bersamaku.
Atau jangan-jangan, dengan membuat alasan seperti ini,
pada dasarnya aku memang hanya ingin menikmati tubuh Haruka saja?
Sebenarnya aku tidak peduli pada hati maupun tubuh
Haruka, dan aku hanya mencocok-cocokkan berbagai alasan demi membenarkan emosi
liar di dalam diriku itu──
"Ah, mungkin saja, ya."
Hanya ingin memuaskan diri dengan tubuh seorang gadis.
Emosi yang kukira sebagai rasa suka itu ternyata
hanyalah sekadar nafsu berahi.
Siapa pun orangnya jadilah asalkan punya penampilan
yang bagus.
──Karena pada dasarnya aku berpikir seperti itulah,
makanya aku melakukan hal itu pada Shigure, bukan?
Hal yang serendah itu, dan sebodoh itu.
Bukannya begitu?
Aku tidak tahu.
Mungkin saja memang benar.
Tapi aku tidak tahu.
Aku bahkan tidak mengerti lagi dengan diriku sendiri.
Hanya saja, rasanya, sudahlah,……aku lelah.
Terus memikirkan hal-hal yang tidak kumengerti. Terus dipermainkan oleh situasi ini. Semuanya.
Kalau rasanya sesakit ini, lebih baik, biarkan
saja……biarkan saja……
Aku ingin melupakan segala hal tentang Haruka.
"Eh? Onii-san, tumben banget pulangnya
cepat?"
Saat aku membuka pintu rumah, mungkin dia sedang
bersantai menonton TV di ruang tamu, dari bagian bawah pintu masuk ruang tamu,
Shigure mengintip memunculkan wajahnya.
"……Ah, aku pulang."
"Gawat juga ya. Hari ini kukira kamu bakal makan
malam di rumah Onee-san, jadi aku sama sekali nggak nyiapin apa-apa, tapi……Onii-san?"
"Hm? Ada apa?"
"Bukannya kalimat itu harusnya aku yang tanya.
Kenapa kamu malah berdiri bengong di dekat pintu masuk begini."
"……Aku nggak lagi bengong kok. Lagipula aku
lapar. Ayo kita makan malam."
"Tadi kan kubilang aku belum nyiapin
apa-apa?"
"A, ah. Begitukah rasanya……"
Wajah Shigure yang tanpa sengaja membuatku teringat
pada Haruka terasa sangat menyiksa bagiku saat ini.
Aku memalingkan wajah karena tidak sanggup menatapnya
langsung, lalu masuk ke dalam kamar.
Suaranya bahkan tidak masuk dengan jelas ke telingaku.
Melihatku seperti itu, Shigure menatapku dengan mata
penuh kekhawatiran.
"……Anu, ada apa lagi dengan Onee-san?"
"Enggak ada apa-apa kok."
"Wajahmu itu sama sekali nggak kelihatan kayak
nggak ada apa-apa, tahu. Langitnya sudah merah begini tapi wajahmu pucat
pasi."
"…………"
"Kalau kamu tersiksa, kamu boleh kok mengandalkan
aku lagi. Kita kan anak kembar. Kalau lawannya aku, itu bukan selingkuh.
Lagipula aku, merasa bahagia selama aku bisa dibutuhkan oleh Onii-san dalam
bentuk apa pun."
"Kalau begitu, biarkan aku memelukmu."
"Eh?"
Alasan yang selalu diucapkan Shigure agar aku bisa
memaafkan diriku sendiri.
Begitu mendengarnya, ada sesuatu di dalam diriku yang
putus dengan bunyi ptuss yang nyaring.
Aku mencengkeram kedua bahu Shigure dengan kasar, lalu
mendorongnya ke dinding menggunakan seluruh tenagaku.
"O-, Onii-san?"
Shigure membelalakkan matanya karena terkejut atas
tindakan kasarku yang tiba-tiba.
Wajah itu mirip dengan Haruka saat aku bilang ingin
menciumnya tadi,
Sungguh, mirip sekali sampai-sampai──
"Kamu menyukaiku, kan. Kamu bilang kamu suka,
kan. Kalau begitu biarkan aku menyentuhmu……! Kenapa cuma aku saja yang selalu
merasa ingin menyentuhmu! Kenapa kamu tidak mau berpikir kalau kamu ingin
mendekatiku, dan ingin lebih tahu kalau aku sangat menyukaimu! Kalau kamu
memang tidak menyukaiku, kalau kamu menyesal sudah menyatakan cinta padaku,
katakan saja dengan jelas lewat kata-kata!!"
"Onii-san……"
"……Aku sudah tidak mengerti lagi. Perasaan suka
antara Haruka dan aku terlalu berbeda, aku jadi tidak tahu apakah Haruka
benar-benar menyukaiku atau tidak. Aku sudah lelah."
Mengatakan hal ini pada Shigure pun tidak ada gunanya.
Ini adalah hal yang seharusnya kukatakan langsung pada
Haruka.
Namun, melihat Shigure yang begitu mirip dengan
Haruka, emosi negatif yang membuncah begitu kuat hingga membuatku tidak sanggup
lagi memimpikannya di dalam dada pun meluap keluar dalam bentuk air mata dan
kata-kata.
Dan begitu bendungan itu jebol, aku tidak bisa
menghentikannya lagi.
"Kumohon…………buat aku melupakan Haruka…………"
Jika, jika memang aku mengincar tubuhnya dan berpikir
kalau gadis siapa pun boleh asal bukan dia, merengkuh Shigure seharusnya bisa
membuatku merasa puas.
Arus keruh emosi yang bergejolak di dalam dadaku ini
akan mereda, dan aku tidak perlu lagi merasa pening memikirkan Haruka.
Seharusnya memang begitu.
Demi alasan yang begitu egois dan murahan itulah aku
mendambakan Shigure.
Namun, di hadapanku yang mendambakan penyelamatan
egois itu, Shigure berkata dengan nada repot.
"Hal itu tidak mungkin bisa dilakukan."
"…………"
"Bagaimanapun caranya aku mencoba, Onii-san tidak
akan bisa melupakan Onee-san. Bukan karena kita adalah anak kembar. Tapi karena
Onii-san adalah orang yang tidak bisa bersikap tidak jujur pada orang lain.
Orang yang tidak bisa membenarkan diri dengan berpikir kalau Onee-san lah yang
salah dan dirinya tidak bersalah. ……Kamu pasti akan menyesal. Pada akhirnya
kamu akan menyalahkan dirimu sendiri dan merasa jauh lebih menderita daripada
sekarang."
"Tch~~~~……"
"Makanya……justru karena itulah aku──, akan terus
menghibur Onii-san seperti ini. Sampai Onii-san bisa memaafkan dirimu
sendiri."
──Selamanya.
Sambil berkata begitu, Shigure melingkarkan lengannya
dengan lembut di leherku, mencengkeram bahuku dengan tenaga yang begitu kasar
sampai-sampai kukunya menancap.
"Tidak apa-apa. Lakukan apa pun yang Onii-san
inginkan."
Senyuman yang memaafkan segala ketidaksempurnaanku dan
segala keegoisanku.
Di dalam pupil mata Shigure yang menatapku
lurus-lurus, terpancar rasa sayang, kepercayaan, dan gairah, segala hal yang
kuinginkan untuk diarahkan Haruka kepadaku.
Menatap tatapan lembut yang penuh kehangatan itu,
"Uuh, uuuuu……uwaaaaahhhhh……"
Aku menangis sambil bergantung pada Shigure.
× × ×
Setelah itu, sang kakak menangis memeras jiwanya
sampai suaranya serak, lalu tertidur karena kehabisan tenaga.
Aku dengan lembut mengelus rambut kakak yang tertidur
di atas pangkuanku agar tidak terbangun.
Berharap agar setidaknya mimpinya bisa menjadi sedikit
lebih indah.
"…………"
Pada akhirnya, ia tidak menyentuhku.
Sejujurnya, aku sudah menduga hal itu akan terjadi.
Karena dia adalah orang yang baik, dan juga──pengecut.
Kebaikan itu tidak selalu berasal dari kekuatan,
begitu pikirku.
Tentu saja di dunia ini ada orang-orang yang bisa
mengasihi orang di sekitarnya semudah mereka bernapas.
Tapi karena pengecut, ia tidak ingin dibenci oleh
orang lain.
Makanya ia tidak ingin melukai orang lain.
Makanya ia bersikap baik pada orang lain. Berusaha
untuk bersikap setulus mungkin.
Kebaikan yang lahir dari rasa cinta diri dan
pertahanan diri semacam itu juga pasti ada.
Ada orang yang menyebut kebaikan palsu seperti itu
mirip dengan sikap menjilat.
Ada juga orang yang mengutuk manusia bermental seperti
itu sebagai pribadi yang tidak tulus di lubuk hatinya yang paling dasar.
Tapi aku tidak berpikir begitu.
Setidaknya, dibandingkan dengan Takao—seorang manusia
yang memiliki kepercayaan diri berlebihan pada dirinya sendiri, tidak peduli
dengan pandangan orang lain, dan tidak keberatan melukai orang di sekitarnya
demi kepentingan diri sendiri—aku jauh lebih menyukai seorang pengecut.
Kakak adalah orang yang seperti itu.
Sebagai manusia ia tidak memiliki kepercayaan diri
yang kokoh pada dirinya sendiri, dan membutuhkan penilaian orang lain untuk
mengukuhkan eksistensinya. Makanya ia berusaha menunjukkan sisi terbaik dari
dirinya.
Sekalipun salah, ia tidak akan mengkhianati orang lain
atas kemauannya sendiri.
Sedapat mungkin, dalam batas kemampuannya, ia berusaha
untuk bersikap setulus mungkin.
Orang seperti ini di masa depan pasti akan menjadi
seorang ayah yang mencintai keluarganya, meskipun biasa saja tapi merupakan
sosok yang hebat.
Begitu ya…… seandainya saja aku tidak pernah bertemu
dengannya.
Akulah yang telah membuat roda takdirnya berputar ke
arah yang salah.
Aku sangat menyadari hal itu.
Aku juga merasa bersalah.
Namun, aku tidak bisa menghentikannya.
Karena aku sangat menyukainya, aku ingin menyentuhnya,
aku ingin mendekatinya. Aku tidak bisa menahan perasaan itu.
Oleh karena itu…… sebagai gantinya, aku tidak akan
keberatan apa pun yang dilakukan orang ini padaku.
Jika orang ini menginginkannya, aku berniat untuk
memberikan segalanya, baik hati maupun ragaku.
Begitu pula dengan uang. Berkat statusku sebagai anak
seorang gravure idol, aku dianugerahi penampilan yang menarik.
Jika aku memanfaatkan penampilan ini dengan baik, aku
tidak akan kesulitan mencari uang.
Sebagai tebusan karena telah memutarbalikkan hati
orang ini, aku akan mencurahkan segalanya untuk membuatnya bahagia.
Itulah tekadku.
……Tapi, bagaimana dengan Kakak?
Kira-kira seberapa besar tekad yang ia miliki hingga
sanggup melukai Kakak sampai separah ini?
Aku memikirkan hal itu sambil menatap sang Kakak yang
tampak begitu kelelahan.
Tepat pada saat itu, ponsel Kakak yang tergeletak di
lantai berdering.
Nama yang tertera di layar adalah, ──Kakak.
Setelah nada dering berlanjut selama beberapa saat,
panggilan itu beralih ke pesan suara, dan terdengar suara Onee-san yang serak
seolah habis menangis.
"……Halo, ini Haruka."
"Kakak……?"
"Um…… soal yang tadi, aku minta maaf karena sudah
berteriak histeris. Rasa jijik ini benar-benar tidak bisa kutahan……."
Melalui pesan suara, Kakak menyampaikan permintaan
maafnya.
Rasa jijik, sebuah frasa kata yang terdengar begitu
mengancam.
Kira-kira apa yang telah terjadi di antara mereka
berdua?
Aku memasang telingaku baik-baik untuk mendengarkan.
"Sebenarnya, aku punya kenangan yang sangat buruk
tentang kondom. ……Harudou-kun pasti tahu, kan, kalau orang tuaku bercerai?
Penyebabnya adalah perselingkuhan Mama, tapi…… hal itu ketahuan oleh Papa
karena aku membuangnya ke tempat sampah rumah…… lalu membawanya ke hadapan
Papa. Waktu itu aku masih kecil…… dan tidak tahu apa-apa. Tentu saja aku tahu
bahwa yang salah bukan alatnya, melainkan Mama dan yang lainnya. Tapi…… aku
tetap tidak bisa menerimanya. Karena hal itu mengingatkanku pada sosok yang
telah menipu Mama dan merobek-robek kebahagiaan Shigure dariku……"
Kondom…….
Apakah topik pembicaraan itu yang diangkat oleh Kakak
hingga memicu pertengkaran mereka?
"Tapi aku tidak ingin membuat Harudou-kun merasa
cemas karena hal ini. Makanya…… aku menelepon karena ingin mengungkapkan
perasaanku secara terus terang melalui kata-kata. Aku sendiri merasa kalau hal
ini terlalu terburu-buru, jadi aku tidak sempat mengatakannya sampai
sekarang──"
Di ujung telepon, Kakak menarik napas dalam-dalam
seolah membulatkan tekad, lalu berbicara.
"Aku menyukai Harudou-kun. Aku sangat menyukai
Harudou-kun. Kalau sudah dewasa nanti, …… ah, aku ingin menikah! ……Begitulah
yang kumaksud secara serius. Aku tidak bisa membayangkan orang lain selain
Harudou-kun, dan aku tidak ingin mengenal siapapun selain Harudou-kun. Dan
suatu saat nanti, aku ingin mengatakannya dengan bangga kepada Papa dan
Shigure. Bahwa orang inilah yang paling menghargaiku di dunia ini, dan orang
inilah yang paling kusukai di dunia ini. ……Oleh karena itu, oleh karena itu ya,
sampai waktu itu tiba, mari kita jalani hubungan yang suci dan benar, ya?
Lagipula, kupikir perasaan suka itu akan terus tumbuh meskipun kita tidak
melakukan hal-hal mesum. Tidak. Justru, kupikir cinta sejati adalah cinta yang
tumbuh dengan cara seperti itu. Ini bukan soal nafsu. Ini adalah hubungan murni
di mana kita saling menyayangi satu sama lain. Aku ingin menjadi seperti itu
bersama Harudou-kun. Aku percaya kalau aku bisa melakukannya jika bersama
Harudou-kun. ……Maafkan aku. Sebenarnya hal seperti ini tidak seharusnya
dikatakan lewat pesan suara, tapi kalau aku melewatkan momen ini, mungkin aku
tidak akan punya keberanian lagi……. Aku akan senang, kalau kamu bisa mengerti."
Kakak mencurahkan isi hatinya kepada Onii-san seolah
memerasnya dari dalam dada.
Mendengar isi hati Kakak yang sesungguhnya itu, aku,
"???????????????????????????????????????"
Aku sama sekali tidak bisa memahami apa yang sedang
dibicarakan oleh Kakak.
……Sejujurnya aku terkejut.
Terkejut pada kenyataan bahwa Onii-san berusaha
menghadapi seseorang yang jalan pikirannya begitu jauh dari nalar.
Bukan apa-apa, tapi,
Kasih sayang yang tidak disertai hasrat seksual adalah
cinta sejati, omong kosong apa itu?
Aku sama sekali tidak mengerti.
Apakah itu teka-teki Zen atau semacamnya?
Lagipula, bukankah alasan dasar kita merasa gemas
kepada lawan jenis adalah mekanisme biologis untuk meneruskan keturunan?
Dorongan fisiologis yang terukir di dalam gen itulah
yang pertama kali ada, dan cinta eksis sebagai hasil dari dorongan yang
memengaruhi emosi serta pikiran.
Sama sekali bukan sebaliknya.
Oleh karena itu, bukankah wajar jika semakin kita
menyukai seseorang, semakin besar pula keinginan kita untuk menyentuhnya?
Bukankah justru hal itulah yang dinamakan hubungan murni?
Atau lebih tepatnya──
Jika dia berniat menyangkal hal itu, lalu untuk alasan
apa Kakak memutuskan berpacaran dengan Onii-san sejak awal?
Jika dia menyuruh untuk menunggu sampai dewasa,
bukankah seharusnya dia baru berpacaran setelah dewasa saja?
Mengumbar kata-kata cinta, membuat orang lain terbawa
perasaan, tetapi sama sekali tidak pernah membalas perasaan Onii-san, namun di
saat yang sama membeberkan alasannya, bahkan tidak memberi izin kepada Kakak
yang baik hati itu untuk melupakannya.
Bisakah ada hal yang, sekolot dan sebodoh ini……?
Padahal aku…… padahal aku hanya terlambat bertemu
daripadanya, namun aku hanya bisa menyentuh orang ini melalui perantara Kakak
seorang.
"…………"
Aku merasakan emosi yang luar biasa dingin menetes ke
dalam lubuk dadaku.
Pada saat itu, aku benar-benar 'membenci' saudari
kembarku sendiri, belahan jiwa yang sedarah denganku.
Lagipula…… sebagai seorang kekasih, masa dia tidak
mengerti?
Setelah mendengar cerita tadi, bagaimana perasaan
Kakak jadinya.
Kakak yang baik hati itu pasti akan menyalahkan
dirinya sendiri. Dia akan berpikir, betapa bodoh dirinya karena terbawa oleh
emosi sesaat, padahal Onee-san begitu serius memikirkan hubungan mereka.
Dan kemudian dia akan kembali berusaha bertahan dengan
putus asa.
Bertahan dalam kesepian yang tidak akan pernah sanggup
ditanggung oleh Kakak, seorang pemuda biasa yang pengecut dan tidak lebih dari
manusia pada umumnya, baik untuk alasan buruk maupun baik.
Aku yang salah. Aku yang salah.
Menancapkan bilah pisau ke dalam lubuk hatinya
sendiri, tempat di mana hasrat alami sebagai makhluk hidup bersuara.
……Sejujurnya, aku sama sekali tidak berniat merebut
posisi kekasih dari Onee-san.
Karena aku tahu bahwa janji semu yang mirip seperti
'perjanjian lisan' itu sama sekali tidak memberikan jaminan apa pun.
Bahkan aku sama sekali tidak tertarik.
Itulah sebabnya aku tidak berniat untuk menghalangi
mereka.
Selama aku bisa tetap berada di lubuk hatinya yang
paling dalam, itu saja sudah lebih dari cukup.
Namun,
Aku tidak mau lagi,
Melihat pria ini terus melukai dirinya sendiri hanya
karena dipermainkan oleh Kakak yang tidak punya pengertian itu.
"──────"
Saat aku memikirkan hal itu──aku sudah menyelesaikan
tindakanku.
Ponsel Kakak, yang tidak pernah diangkat oleh siapa
pun selain Kakak,
Masih tersambung dengan Onee-san,
Aku menekan tombol panggilan itu.
"Kamu bicara seenaknya sendiri, ya. ──Kakak."



Post a Comment