NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanojo no Imouto to Kiss wo Shita Volume 2 Afterword

Kata Penutup


Corona lagi, ya ampuuuuun!!!! (Yang kedua kalinya)

Ya, "Imokiss" yang dimulai tepat saat hantaman deklarasi darurat gelombang pertama, kini merilis volume keduanya di tengah gelombang kedua. Benar-benar tidak beruntung ya, kamu!

Aku menulis kata penutup ini di awal bulan Agustus, jadi aku tidak tahu apa yang akan terjadi bulan depan. Namun, kalau sampai toko buku ditutup lagi gara-gara deklarasi darurat, aku benar-benar akan menangis.

(......Tapi sungguh, karena ini setelah liburan Obon, rasanya hal itu sangat mungkin terjadi dan membuatku takut). Aku ingin melihat sampul luar biasa karya Saba Mizore-sensei berjajar di rak pajangan toko buku, setidaknya sekali saja......

Jujur saja, aku berharap vaksinnya bisa cepat selesai. Soalnya semua industri sekarang sudah benar-benar kacau balau.

Industri makanan dan minuman sepertinya yang paling menderita. Kedai kopi langgananku saja sudah ada tiga yang gulung tikar saat ini.

Restoran keluarga juga sudah menghentikan jam operasional larut malam mereka. Hal ini menjadi pukulan telak bagiku yang punya kebiasaan mengurung diri di sana pada malam hari untuk memacu semangat menulis.

Nah, cukup sampai di sini saja keluh kesahnya, dan sudah lama kita tidak berjumpa. Aku Misora Riku.

Volume kedua dari kisah kejatuhan "Imokiss" ini, apakah kalian bisa menikmatinya? Aku sangat senang jika kalian merasa terhibur.

Lagi pula, proses penulisan volume kedua ini lumayan berat, loh (tertawa).

Meskipun aku, Misora, sudah menjadi penulis veteran dengan pengalaman selama sepuluh tahun dan telah menulis cukup banyak buku. Namun, ini adalah pertama kalinya aku menangani karakter yang pikiran atau ucapannya sangat melenceng dari tindakan aslinya.

Pada dasarnya, semua karakter dalam karyaku selalu membuktikan perkataan mereka. Sebagian besar dari mereka memiliki keselarasan antara pikiran dan tindakan, yakni melakukan tepat seperti apa yang mereka pikirkan.

──Namun, "Imokiss" tidaklah demikian. Meskipun menggunakan sudut pandang subjektif dan bahkan menyertakan monolog, ada banyak perbedaan antara pikiran dengan tindakan nyata.

Karya ini juga penuh dengan dalih dan kebohongan yang bahkan tidak disadari oleh karakternya sendiri. Sebagai penulis, aku merasa seperti, "Mereka ini benar-benar bertindak sesuka hati saja~".

Contohnya kali ini, pandangan Haruka tentang cinta cukup mendapat banyak sorotan. Namun, apakah itu murni pemikiran Haruka sendiri, ataukah sekadar ajaran sang ayah yang ia yakini sebagai pikirannya sendiri?

Bagian ini bahkan tidak dipahami oleh Haruka sendiri. Pada akhirnya, mereka pun sebenarnya tidak mengerti tipe manusia seperti apakah diri mereka itu.

Akan tetapi, aku rasa manusia memang seperti itu. Mampu membayangkan dengan jelas keyakinan dan sosok diri yang diinginkan, lalu mewujudkannya persis seperti perkataan dan harapan.

Itu adalah hal yang luar biasa, dan manusia yang bisa melakukannya entah dia orang baik atau jahat, pastilah bukan orang biasa. Bisa dibilang, itu adalah kualifikasi dari seorang pahlawan.

"Imokiss" adalah potret percintaan orang biasa, dan aku ingin menjadikannya karya di mana kalian bisa menemukan nilai emosional dari pergolakan perasaan yang hanya bisa digambarkan karena mereka bukan pahlawan. Walaupun aku sempat berpikir "Ucapan dan perbuatan kalian beda, woi!", aku sudah berusaha keras menuangkan seluruh emosi yang bergejolak itu ke dalam tulisan tanpa adanya kontradiksi.

Berkat kerja keras melakukan berbagai penyesuaian kecil, saat aku membaca ulang seluruh naskahnya di akhir, aku bisa berucap "Ini seru banget, gila!". Aku berhasil menyelesaikannya dengan hasil yang membuatku puas (memuji diri sendiri).

Tenggelam dalam kenikmatan yang bisa diraih hanya dengan mengulurkan tangan, meski tahu hal itu tidak boleh dilakukan. Perlahan tapi pasti menghancurkan diri sendiri sembari melontarkan alasan untuk membenarkan tindakan tersebut.

Kejatuhan yang ingin kugambarkan dalam proyek ini, serta pemandangan saat mereka bergantung pada cinta yang begitu kuat hingga terasa beracun, rasanya sangat menyenangkan bisa melukiskan semua itu.

Keberhasilanku menuliskan kejatuhan manis yang tak sempat tercurah di volume pertama, sepenuhnya berkat para pembaca yang telah membeli volume satu di tengah awal peluncuran yang sangat buruk karena deklarasi darurat, serta dukungan kalian semua dari mulut ke mulut.

Berkat dukungan kalian, meski dirilis saat toko buku tak bisa beroperasi dengan baik, buku ini bisa mencapai tahap cetak ulang. Aku ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengucapkan rasa syukurku yang terdalam, terima kasih banyak.

Tak lupa juga kuucapkan terima kasih kepada Saba Mizore-sensei, yang akhir-akhir ini sangat aktif di industri novel ringan, karena telah menggambar ilustrasi-ilustrasi indah untuk karya ini. Di tengah kesibukan Anda, sungguh terima kasih banyak.

Sampulnya benar-benar gila, sudah yang paling sempurna. Aku hanya memberi permintaan rancu seperti "Tolong buatkan sampul yang bikin orang pengin ciuman", tetapi beliau membalasnya dengan gambar yang begitu luar biasa.

Saba Mizore-sensei memang hebat, keprofesionalannya sungguh luar biasa.

Pada bulan September, jika toko buku tidak tutup lagi karena deklarasi darurat dan buku ini dipajang dengan rapi di rak karya baru, pasti akan memancarkan kehadiran yang luar biasa, bukan? Aku sangat, sangat ingin melihatnya......

Terima kasih juga untuk editor penanggung jawab, Ohara-san, serta seluruh staf departemen redaksi GA. Aku sangat menantikan buku sampelnya.

Dan untuk restoran "Joyfull" yang telah mengurusku bahkan di saat aku menulis kata penutup ini, terima kasih!

Terima kasih banyak, Joyfull, satu-satunya tempat di sekitarku (satu jam perjalanan kaki satu arah) yang masih buka sampai larut malam! Aku mencintaimu, karena di sinilah benteng pertahanan terakhir bagi penulis Misora Riku.

Terakhir, meski hanya mengulangi apa yang sudah kusampaikan, terima kasih banyak kepada seluruh pembaca yang telah mendukungku. Kalau fetish kalian jadi sedikit menyimpang karena karya ini, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar dari itu bagiku (tersenyum licik).

Di akhir volume kedua ini si adik juga ikut menerobos masuk, lalu bagaimana nasib hubungan ketiga orang ini ke depannya? Akankah Hiromichi, yang sempat berpikir ingin melupakan Haruka walau hanya sejenak, mampu mempertahankan cinta pertamanya?

Lagipula, apakah karya ini masih diperbolehkan memakai nama Romcom (komedi romantis) di volume berikutnya? (tertawa). Aku harap kalian mau menunggunya dengan hati yang berdebar dan penuh penasaran.

Akhir kata, terima kasih telah membaca sampai selesai.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close