NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanojo no Imouto to Kiss wo Shita Volume 2 Chapter 1

Chapter 15

Menimpa × Ciuman Pertama


Suara rintik hujan di balik selembar kaca jendela tipis itu terdengar begitu jauh. Hawa panas dan lembap musim hujan yang menempel di kulit pun tidak lagi kuperhatikan.

Seluruh kesadaranku tersedot pada gadis di hadapanku.

Telingaku hanya mendengarkan embusan napasnya yang panas. Kulitku hanya merasakan suhu tubuh yang menguar dari kulitnya yang seputih porselen.

Dan mataku hanya memantulkan wajah kekasih tercinta, pacar pertamaku sejak masuk SMA.

Namun, semua itu segera menjadi kabur. Wajah kekasihku mendekat, lalu bibir kami bertaut dengan lembut.

Sebuah ciuman.

Ciuman lembut seakan sedang mengecup bibir. Pada saat itu juga, seluruh indraku dikuasai oleh sensasi bibir kami yang saling bersentuhan.

"Aku menyukaimu.... Nnh...."

Begitu lembut seolah penuh perhatian, tetapi juga terasa panas membara. Sensasi yang berbeda dari sentuhan tangan maupun kulit ini membuat kepalaku pening seperti sedang demam.

Saat aku membuka mata sedikit, di balik bulu matanya yang lentik, aku mendapati diriku tenggelam. Tenggelam di dalam sepasang mata yang dipenuhi cinta, yang seolah akan tumpah menjadi air mata kapan saja.

"Kakak...."

Dari mulut kecilnya yang menggumam penuh gairah, serta celah bibirnya yang basah oleh air liurku, lidahnya mengintip sekilas. Warna daging orang lain yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Apa jadinya jika aku menyerahkan diriku padanya seperti ini?

Jantungku berdegup kencang bagai dering lonceng. Apakah ini rasa takut, atau justru harapan?

Namun──tepat pada saat itu.

Ting-tong.

"Khh────!?"

Tiba-tiba, suara elektronik yang hambar bergema dari ponselku. Itu adalah suara notifikasi pembaruan aplikasi.

Suara kehidupan sehari-hari yang familier itu menarik kesadaranku kembali ke dunia nyata.

Apa, ...apa yang sedang kulakukan!? Darah yang tadinya membuat sekujur tubuhku panas hingga pening kini mengalir balik, membuatku pucat pasi.

Tentu saja begitu. Lagi pula, gadis di depanku ini adalah adik kembar yang kebetulan berwajah persis dengan kekasihku, Haruka!

"M-Menjauhlah, Shigure!"

"Kyaa."

Aku buru-buru melepaskan tubuh Shigure dariku.

"A-Apa yang kamu pikirkan! C-Candaan semacam ini sudah kelewatan batas, tahu!"

Shigure memang selalu menggodaku. Sejak kami menjadi saudara tiri karena pernikahan ulang orang tua kami sebulan yang lalu, aku sudah mengalaminya berkali-kali.

Namun, kali ini benar-benar sudah keterlaluan.

Akan tetapi, Shigure melengkungkan bibirnya yang basah dan berkata.

"Apakah aku terlihat sedang bercanda?"

"Ukh...."

Kata-kataku tercekat. Sepasang mata Shigure masih memancarkan kasih sayang yang bersinar seperti sebelumnya.

Saat menatapnya, inti kepalaku mulai terasa berdenyut panas lagi.

...Aku tahu. Meskipun aku hanya perjaka payah dengan pengalaman cinta dua bulan, aku bisa memahaminya jika ditatap seperti itu.

Bahwa Shigure... sedang sangat serius, tidak pernah seserius ini sebelumnya.

'Kakak. Maukah kamu berselingkuh denganku?'

Selingkuh. Itu adalah kata yang diucapkan Shigure tadi.

Cinta menggebu-gebu yang ia tunjukkan padaku ini sama sekali tidak pantas disandingkan dengan kata seliar itu.

Tentu saja. Hasrat sepanas ini bahkan belum pernah kutunjukkan pada kekasihku, Haruka.

Namun, justru karena itulah.

Mana mungkin aku bisa menerima perasaan seberat itu begitu saja!

"Bagaimana lagi aku harus menganggapnya selain candaan! K-Kita ini, anu, sepasang kakak beradik, tahu!"

Perasaan itu terlalu besar untuk diterima, tetapi juga terlalu serius untuk diabaikan begitu saja. Aku pun mulai panik.

Jika memungkinkan, aku ingin mengaburkannya. Aku ingin menganggap ini sekadar godaan rutinnya yang kebetulan sedikit kelewatan.

Karena jika tidak begitu, hubungan kami yang baru saja mulai terasa nyaman ini akan hancur. Adik perempuan yang berwajah persis dengan kekasihku.

Hidup satu atap bersama adik yang seperti itu. Segala hal tentang 'saat ini' yang dibangun di atas keseimbangan rapuh akan menjadi berantakan.

──Akan tetapi,

"Kakak beradik? Apakah Kakak menganggapku sebagai adik perempuanmu yang sesungguhnya?"

"T-Tentu saja. Lagipula kamu memang adikku."

"Pembohong."

Shigure tersenyum menawan dengan tatapan yang seolah mampu menembus semua pikiran pengecutku, lalu ia kembali berlutut dan mengulurkan tangannya ke pipiku.

Hanya dengan sentuhan itu, keberanian semu yang kupersenjatai dengan alasan klise langsung terlucuti. Jantungku berdebar tak karuan, dan wajahku memanas seolah terbakar.

"Kalau dicium oleh orang yang benar-benar dianggap sebagai keluarga sedarah, wajahmu tidak akan berubah selucu ini, lho?"

"....~Kuh!"

"Hihihi. Pipimu panas sekali.... Telingamu juga sampai merah padam, ...Kakak manis banget, deh. Kakak tidak perlu memaksakan diri, kok. Lagipula, mana mungkin kita bisa menjadi kakak beradik sungguhan hanya dalam waktu sebulan setelah bertemu."

"Itu tidak...."

"Setidaknya bagiku, itu hal yang mustahil."

"...!"

"Meskipun begini, aku sudah berusaha keras, lho? Aku mencoba menutup perasaanku agar tidak menghancurkan hubungan yang ada hanya demi hal konyol bernama cinta. Bagaimanapun juga, Kakak adalah kakak tiriku, pacar dari kakak kandungku, dan aku sangat menyukai kalian berdua. ...Namun, melihat kalian berciuman di depan stasiun hari ini, aku sadar bahwa hal itu benar-benar mustahil."

K-Kamu melihatnya....!

"Sejak dulu, aku selalu mengalah pada Kak Haruka untuk berbagai hal. Entah itu potongan kue yang lebih besar, atau posisi pertama saat bermain gim. Akan tetapi, aku tidak pernah menganggapnya sebagai beban. Karena aku menyukai Kak Haruka. Karena senyumannya adalah hal yang paling kusukai di dunia ini. Namun... kali ini berbeda. Meskipun aku bisa mengalah untuk hal lain, aku merasa cinta ini tidak bisa kuserahkan begitu saja. Aku tidak tahan hanya diam melihatnya memonopoli hati Kakak, sementara aku terus terbelenggu dalam posisi 'adik perempuan kalian berdua' yang sudah disematkan padaku sejak pertama kali kita bertemu."

Sambil membisikkan hal itu dengan nada penuh gairah, Shigure mengelus pipiku dengan lembut seolah sedang memanjakanku.

"Aku tidak akan lancang memintamu putus dengan Kak Haruka. Namun, untuk sekali ini saja, maukah Kakak memberiku kesempatan untuk menjadi nomor satumu? Aku jamin Kakak tidak akan menyesal."

Melalui matanya yang basah, kata-katanya yang manis, dan kulitnya yang hangat, ia menyampaikan perasaannya padaku.

Cinta yang besar, sangat besar dan murni, tersalurkan begitu saja. Pada saat yang sama, terbesit pula tekadnya yang rela menghancurkan ikatan dengan kakak tercintanya yang baru ia temui lagi setelah sepuluh tahun.

"...."

...Aku tidak bisa lari dari ini. Ini bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan menganggapnya sebagai godaan biasa lalu berdamai begitu saja.

Aku sangat memahaminya.

Sebagai seorang pria, ini adalah masalah di mana aku harus memberikan jawaban atas cinta Shigure.

Kalau begitu, ──jawabannya sudah pasti.

Aku menarik napas panjang dan balas menatap mata Shigure.

Kemudian, aku menerima kasih sayangnya yang entah mengapa membuatku merasa bersalah itu, lalu mengucapkan jawabanku.

"Hentikanlah."

"Kakak...."

"...Aku sangat mengerti perasaanmu, Shigure. Aku tahu ini bukan sekadar candaan dan kamu benar-benar menyukai orang sepertiku. Namun... hal seperti ini tidak boleh terjadi."

"Apakah itu karena kita kakak beradik?"

Bukan. Aku menggelengkan kepalaku.

"Aku juga sama sepertimu. Meskipun aku sudah berusaha, aku tidak bisa menganggapmu sebagai adik kandung sungguhan hanya dalam waktu satu bulan."

"Kalau begitu, apakah aku tidak menarik?"

"Bodoh. Aku bahkan tidak pernah berpikir seperti itu."

Sudah pasti begitu. Shigure, yang merupakan saudara kembar Haruka, adalah gadis cantik dengan pesona luar biasa yang jarang ditemui, sama seperti Haruka.

Gadis semanis itu menyiapkan makanan lezat setiap pagi dan malam, serta menghabiskan waktunya bersamaku dengan raut wajah yang sangat bahagia.

Bahkan jika mengesampingkan fakta bahwa wajahnya persis dengan kekasihku, tidak mungkin aku tidak merasa tertarik padanya.

"Setiap kali aku bersamamu, aku selalu berdebar-debar, lho. Kamu juga pasti tahu kalau aku sudah berusaha mati-matian untuk menyembunyikan hal itu, kan?"

Selain itu, Shigure bukan hanya gadis yang manis. Ia juga gadis yang sangat baik hati.

Aku sadar bahwa kebiasaannya menggodaku selama ini adalah bentuk kepeduliannya padaku yang merasa canggung dan selalu membangun tembok dengan lawan jenis.

Seandainya bukan Shigure, mana mungkin aku bisa akrab secepat ini hanya dalam waktu sebulan lebih. Rumah ini pasti akan terasa lebih tegang dan sunyi tanpa adanya obrolan.

Walaupun aku sering menyebutnya jahil atau iblis kecil karena merasa malu, aku sangat tahu bahwa Shigure adalah gadis luar biasa yang selalu memperhatikan dan memedulikan orang lain.

"Makanya, ini bukan tentang status kita sebagai kakak beradik, atau tentang betapa menariknya dirimu."

Ini tentang hal yang jauh lebih sederhana. Hal yang sederhana namun sangat penting.

Singkatnya, ──tentang siapa yang aku cintai.

"Aku lebih menyukai Haruka daripada kamu. Aku hanya akan membalas cinta yang tulus ini kepada Haruka seorang. Sebanyak apa pun perasaan yang kuterima darimu, aku tidak bisa membalasnya sama sekali. Karena itulah aku tidak bisa menerimanya. Kasih sayangmu ini seharusnya kamu berikan kepada seseorang yang bisa membalasnya dengan sepadan."

Sesuatu yang pahit merembes ke dalam dadaku. Aku tidak pernah tahu bahwa menolak cinta tulus dari orang lain akan terasa sepahit ini.

Namun, aku merasa bahwa hal ini harus tetap kuucapkan.

Oleh karena itu, aku mengatakannya dengan tegas. Setelah mendengar jawabanku, Shigure menjauhkan tubuhnya dariku dan duduk di atas tikar tatami.

"...Tentu saja, ya. Mana mungkin Kakak mau berselingkuh denganku."

Suaranya terdengar lemah. Walaupun ekspresinya tersembunyi di balik poni yang tergerai, ia pasti sangat terluka.

Akan tetapi, Shigure langsung mengangkat wajahnya dan memamerkan senyuman.

"Terima kasih banyak, Kak. Padahal tidak aneh jika kamu sangat membenciku dan tidak mau bicara lagi denganku setelah aku melakukan hal seperti ini. Namun, kamu mau menerima perasaanku dengan sungguh-sungguh dan menjawabnya dengan kata-katamu sendiri. Berkat hal itu, aku jadi memahaminya. Bahwa saat ini masih belum ada celah bagiku untuk menyelip di antara kamu dan Kak Haruka."

Hanya karena ia tersenyum, bukan berarti ia tidak terluka. Itu sungguh hal yang mustahil.

Ia hanya sedang memaksakan diri. Namun, karena aku tidak bisa membalas perasaannya, aku juga tidak berhak menyuruhnya untuk berhenti memaksakan diri.

Karena itulah, aku memanfaatkan pengertian Shigure dan berkata──

"...Begitu, ya. Syukurlah kalau kamu sudah menger──, ...Eh?"

Hmm? Eh?

Bukankah tadi ada kata-kata aneh yang terselip?

"Hei, Shigure. Apa kamu baru saja bilang 'saat ini masih belum ada'?"

"...? Iya. Aku memang mengatakannya."

Shigure mengangguk membenarkan. Hal itu membuat dadaku bergemuruh.

Hei, hei hei hei, itu berarti....

"Jangan-jangan, kamu sama sekali tidak berniat menyerah padaku?"

"Tentu saja. Sejak awal aku sudah tahu kalau kamu tergila-gila pada Kak Haruka, jadi aku tidak akan menyerah hanya karena ditolak sekali, lho."

A-Apa katamu!? Kenapa nada bicaramu terdengar seolah itu adalah hal yang sangat wajar!?

"Bukan, bukan begitu! Tunggu sebentar! Sudah kubilang, kan!? Aku ini menyukai Haruka!"

"Iya. Aku sudah mendengarnya, lho?"

"Makanya, aku tidak bisa membalas perasaanmu."

"Iya. Aku juga sudah tahu soal itu, lho?"

"K-Kalau begitu... maksudku adalah kamu harus melupakanku dan mencari pria lain...!"

"Eh, aku tidak mau, tuh?"

"Kenapa kamu menjawabnya dengan enteng begitu!?"

Namun, saat aku sedang kebingungan, Shigure justru menatapku dengan wajah yang sama bingungnya.

"Ya mau bagaimana lagi, mana mungkin aku berani melakukan hal senekat ini pada pacar dari kakak kandungku yang juga merangkap sebagai kakak tiriku, jika perasaanku hanya sebatas sesuatu yang bisa dilupakan setelah menangis semalaman."

I-Iya sih, mungkin memang begitu, tetapi....

"Lagi pula, seandainya aku bilang 'Baik, aku mengerti. Aku akan melupakan perasaanku padamu sepenuhnya, jadi mari kita kembali menjadi saudara seperti sedia kala mulai besok', dan benar-benar bersikap seolah aku sudah melupakannya keesokan harinya, apakah kamu akan memercayainya?"

"Ukh, guh."

Aku kehabisan kata-kata. Sebab, apa yang dikatakan Shigure adalah fakta tak terbantahkan.

"Ya sudahlah, tidak apa-apa, kan. Bagaimanapun perasaanku padamu, pada akhirnya semua ini akan berlalu begitu saja jika kamu tidak berpaling padaku."

"I-Itu mungkin benar, tetapi...."

"Atau jangan-jangan──Kakak yang lemah ini merasa terganggu karena kamu bisa saja mencampakkan Kak Haruka dan tergoda olehku jika aku terus menempel padamu?"

"A-Apa...! Dasar bodoh! Mana mungkin hal seperti itu terjadi!!"

"Kalau begitu, tidak masalah kan jika aku terus menyimpan cinta bertepuk sebelah tangan ini?"

Raut wajahnya yang menggemaskan tadi langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Shigure kini memamerkan senyuman licik andalannya, seolah ia sedang menyeringai.

D-Dasar, adikku yang satu ini malah bersikap semaunya sendiri!

Yah, tapi... masalah sebenarnya terletak di dalam hati Shigure.

Seperti yang dikatakan Shigure tadi, meskipun aku memaksanya berjanji untuk melupakan semuanya dengan bersih di sini, hal itu tidak akan menjadi jaminan apa pun.

Oleh karena itu, aku mengatakannya seolah ingin menunjukkan keteguhan tekadku.

"Khh, ya sudah, terserah kamu saja. Namun asal kamu tahu, usahamu itu hanya akan membuang-buang waktu! Tidak peduli apa yang dipikirkan seorang adik sepertimu, aku tetap paling menyukai Haruka! Perasaanku itu mustahil berubah!"

"Meski berkata begitu, rasanya tadi perlawananmu sangat sedikit saat aku menciummu."

"Guhah."




D-Dia menyadarinya....!

"Tadi Kakak sok keren bilang 'Aku hanya akan membalas cinta yang tulus ini kepada Haruka seorang', tapi aku ingat jelas lho kalau sekitar tiga puluh detik sebelumnya Kakak cuma pasrah dengan wajah manis yang sedang mabuk kepayang?"

"Guhooo."

Hentikan, serangan itu benar-benar mengenaiku.

...Tunggu, serius deh, kenapa dari awal aku tidak melawan saja, sih!

Apakah aku goyah dan tertelan oleh besarnya perasaan yang ditabrakkan kepadaku ini? Pokoknya, ini benar-benar hal yang menyedihkan.

Entah wajah sebodoh apa yang kuperlihatkan di depan Shigure tadi. Membayangkannya saja sudah membuatku ngeri.

Kepada diriku yang sedang kelojotan ini, Shigure kembali memasang wajah sedikit serius dan berkata.

"Namun, aku juga menyesali ciuman tadi, dan sejujurnya perasaanku terlalu meluap-luap sampai aku sendiri terkejut karena tidak bisa menahan diri. Padahal tidak ada artinya merebut ciuman secara paksa dengan mengabaikan perasaan Kakak seperti itu... aku memang bodoh, makanya aku berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi, dan untuk ciuman selanjutnya──aku akan berjuang agar Kakak yang melakukannya padaku♡"

"Khh~~~~...!"

Shigure menekankan jari telunjuk ke bibir bawahnya, lalu mengerucutkan bibirnya.

Melihat gerak-gerik itu, aku merasakan wajahku memanas hebat, membuatku tak tahan untuk memalingkan pandangan dari Shigure.

Bibir basah yang berubah bentuk hanya dengan sedikit sentuhan.

Kelembutan dan kehangatan daging itu benar-benar telah terukir tajam dalam ingatanku.

Benar. Sensasi itu telah menimpa dan menghapus sensasi ciumanku dengan Haruka.

Aku tidak bisa mengingat ciuman dengan kekasihku, tetapi aku tak bisa melupakan ciuman dengan adik perempuanku.

Aku merasa pusing dengan situasiku saat ini. Apakah aku akan baik-baik saja dengan keadaan seperti ini?

Bisakah aku terus menjalani kehidupan sebagai kakak beradik dengan Shigure?

Padahal aku baru saja mulai terbiasa hidup dengan adik perempuan yang berwajah persis dengan kekasihku ini.

Awan gelap yang lebih muram dari langit musim hujan kini mulai menyelimuti masa depan kehidupan kami.

Namun.... Pada saat itu aku sama sekali belum menyadarinya.

Bahwa awan gelap ini pun, ──hanyalah pertanda dari badai besar yang akan segera datang menerjang.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close