Chapter 16
Manis ×
Racun
"Anu, Sato-kun, kamu ingat denganku?"
SMA Seiun berada di atas bukit tertinggi di kota ini.
Bagian belakang gedung sekolah, tempat kita bisa melihat seluruh kota lewat
pagar pembatas dari atas bukit itu.
Sepulang sekolah, di hari saat bunga sakura mekar
tujuh per sepuluh bagian, aku dipanggil oleh seorang siswi jurusan umum yang
tidak kukenal, dan dia menanyakan hal itu kepadaku.
Untuk mencari jawabannya, aku—yang diam-diam merasa
panik karena belum pernah dipanggil oleh lawan jenis—berusaha keras
menyembunyikannya dan menatap siswi itu.
Wajahnya begitu cantik bagaikan boneka. Rambut
hitamnya berkibar lembut tertiup angin.
Pinggangnya setinggi model, dan kakinya ramping serta
jenjang. Setelah kuperhatikan baik-baik, ternyata dia adalah gadis yang sangat
cantik.
Aku sangat yakin, aku tidak punya kenalan seperti dia.
Seandainya aku pernah berbincang dengan gadis secantik
ini, itu pasti jadi peristiwa besar bagiku yang belum pernah mengobrol dengan
perempuan sejak SMP. Tidak mungkin aku melupakannya. Jujur saja, kejadian hari
ini akan menjadi kenangan yang bersinar terang dalam kehidupan SMA-ku.
Karena itulah, aku menjawab tidak mengenalnya dengan
terbata-bata. Mendengar hal ini, ia menurunkan alisnya dengan raut kecewa.
"A-Auh.... Begitu, ya. Wajar saja, ini sudah
sejak SD, kan. Ini aku, lho, Saikawa Haruka yang dulu bareng kamu di penitipan
anak waktu kelas empat."
Aku terkejut.
Saikawa. Aku ingat gadis itu. Tak lama setelah ibuku
meninggal, bersamaan dengan masa-masa sibuk ayahku, aku dititipkan di tempat
penitipan anak (semacam tempat pengasuhan anak di dalam SD) selama satu tahun
saat kelas empat.
Dia adalah satu-satunya murid seangkatan yang ada di
sana.
Akan tetapi, yang membuatku terkejut bukan pertemuan
kembali setelah beberapa tahun itu, melainkan kesan tentang Saikawa yang sama
sekali berbeda dari apa yang ada dalam ingatanku.
Sebab, Saikawa yang kuingat bukanlah gadis dengan
kepribadian kuat yang hanya dengan berdiri saja sudah terlihat seperti lukisan.
Tentu saja ia akan berubah karena masa pertumbuhan,
tetapi seharusnya ia adalah gadis yang sosoknya sebagai manusia terasa lebih
datar atau buram.
"Begitu, ya. ...Yah, saat SD dulu, ada banyak hal
yang terjadi sampai membuatku terlihat muram sebelum bertemu dengan
Sato-kun."
Muram. Ya, ia memang sangat muram.
Wajahnya selalu tampak sedih, tubuhnya kurus, dan
rambutnya dibiarkan tumbuh memanjang tanpa banyak dirawat. Hanya dengan
melihatnya saja, ia adalah gadis yang bisa membuat perasaan menjadi muram.
Karena sifat tempat penitipan anak yang sebagian besar
siswanya berada di kelas rendah, Saikawa tidak bisa mengikuti antusiasme
anak-anak yang lebih muda. Sebaliknya, anak-anak itu juga tidak secara proaktif
mengajak Saikawa yang lebih tua untuk bermain, sehingga Saikawa selalu
menyendiri di sana.
Alasanku dulu sering mendekati Saikawa pasti karena
aku merasa kasihan padanya. Aku mengajak Saikawa memainkan berbagai permainan,
membawakannya komik dari perpustakaan untuk dibaca bersama, atau menggelitiknya
tanpa alasan yang jelas.
Sungguh menyenangkan melihat berbagai ekspresi muncul
di wajah Saikawa yang biasanya muram. Aku sangat mengingat hal itu.
Meskipun begitu, hal itu hanya terjadi selama setahun
saat di tempat penitipan anak, dan setelah keluar dari sana aku terlalu asyik
bermain dengan teman-teman sekelasku hingga tidak ingat untuk menemuinya lagi.
Karena itulah, jika ia tidak menyebutkan namanya, aku
tidak akan pernah ingat kenangan itu.
Namun──
"Akan tetapi, aku ingat, kok. Sato-kun selalu
menyemangatiku saat aku merasa murung. Karena itulah yang menjadi... cinta
pertamaku."
Dampak dari kata-katanya itu tidak akan pernah
kulupakan seumur hidup.
"Anu, apa saat ini... kamu punya pacar?"
Ternyata di dunia ini, ada orang yang memberikan kasih
sayang kepadaku. Itulah pertama kalinya aku menyadari hal tersebut.
× × ×
"...."
Aku bermimpi. Mimpi tentang ingatanku saat Haruka
menyatakan perasaannya kepadaku, sekitar dua bulan yang lalu.
Memimpikan hal ini sebenarnya bukan hal yang aneh.
Karena itulah momen di mana aku mendapatkan pacar yang sangat kudambakan sejak
SMP.
Tentu saja, selama sebulan pertama, hampir setiap hari
aku mengingatnya dan tersenyum-senyum sendiri.
...Akan tetapi, hari ini aku tidak bisa tersenyum.
Tentu saja. Kejadian kemarin adalah alasannya.
Berciuman dengan gadis lain yang bukan kekasihku yang
berharga. Sebaliknya, dadaku terasa sesak oleh semacam perasaan bersalah
terhadap Haruka.
Bukannya aku yang sepenuhnya salah dalam hal ini.
"Ah, selamat pagi, Kakak."
Benar, dialah yang bersalah. Aku menoleh ke arah suara
yang berasal dari dapur.
Di sana, sama seperti pagi biasanya, berdirilah
Shigure yang sedang memasak di bawah sorotan cahaya matahari pagi.
Ukh....
Saat aku melihatnya, rasa panas dari kejadian kemarin
kembali hidup di bibirku. Sambil memalingkan pandangan karena malu, aku
menjawab.
"S-Selamat pagi...."
"Bangunnya terlambat sekali, ya. Padahal semalam
Kakak sudah tidur saat aku selesai mandi."
"Aku kelelahan, tahu...."
Gara-gara seseorang.
Omong-omong, anggapan Shigure soal aku tertidur itu
salah. Karena setelah ada jeda sejenak aku merasa canggung untuk kembali
bertatap muka dengannya, jadi aku memutuskan untuk pura-pura tidur saja.
Sejujurnya, aku baru bisa tertidur saat matahari mulai
terbit.
"Kalau begitu, Kakak yang tukang tidur. Karena
sudah bangun, tolong cepat singkirkan futonnya dan siapkan meja. Sarapannya
sudah siap, lho."
"A-Ah, iya...."
Setelah didesak oleh Shigure, aku pun mulai bergerak.
Aku melipat futon yang digelar di ruang keluarga dan mengeluarkan meja.
Lalu, aku menata sarapan buatan Shigure di sana, dan
kami pun duduk bersama di meja makan.
"Selamat makan."
"...Selamat makan."
Menu hari ini adalah roti panggang mentega yang renyah
setelah dipanggang di oven, telur mata sapi setengah matang, sosis, dan salad
berwarna-warni yang disajikan dalam satu piring, lengkap dengan sup krim jagung
dan kopi.
Sup krim jagungnya mungkin sup instan yang sudah
dibeli sebelumnya, tetapi tambahan krimer dan taburan peterseli memberikan
sentuhan warna ekstra, membuatnya terlihat persis seperti menu sarapan hotel
dan sangat menggugah selera.
Meskipun aku menerimanya sebagai bagian normal dari
rutinitas harian, apakah menyiapkan makanan selezat ini juga karena ia
menyukaiku...?
Karena sekarang aku sudah mengetahui perasaan Shigure,
secara alami aku jadi memikirkannya.
"...."
"...."
Saat aku mulai menyadarinya, aku semakin tidak sanggup
menatap wajah Shigure. Eh, ngomong-ngomong, aku sama sekali belum menatap wajah
Shigure sejak bangun pagi ini, kan?
Tentu saja, karena hal ini percakapan kami pun
terhenti. Meja makan keluarga Sato diliputi keheningan yang menyesakkan,
sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.
...C-Canggung banget.
"K-Kayaknya lebih baik aku menyalakan
berita."
Karena tidak tahan dengan keheningan, aku menyalakan
TV untuk mencari suara latar. Aku sebenarnya tidak tertarik pada perkembangan
dunia, tetapi apa pun yang bisa mengalihkan perhatianku dari Shigure──
'──Selanjutnya adalah berita berikutnya. Majalah
mingguan memberitakan bahwa aktor Kataoka Shinichi menjalin hubungan gelap
dengan seorang wanita biasa. Terkait hal ini, Kataoka mengaku bahwa "Isi
berita tersebut hampir sepenuhnya benar" dan meminta maaf dengan
menyatakan "Saya merasa sangat bersalah terhadap istri saya"──'
Woi-woi-woi-woi-woi-woi-woi!!!!
"Pfft, aha, ahahaha."
"...!"
Saat aku berteriak dalam hati karena merasa menginjak
ranjau yang sangat mengerikan, Shigure seolah tak bisa menahan diri lagi,
tertawa terbahak-bahak hingga bahunya bergetar.
"Ya ampun, kenapa dari tadi Kakak kelihatan panik
banget? Pasti karena terlalu menyadariku, kan? Ahahaha, lucu banget."
"Y-Y-Ya, mau bagaimana lagi. Gara-gara kamu
melakukan hal seperti itu kemarin...."
"Kan aku sudah bilang. Aku tidak akan melakukan
hal paksa seperti itu lagi."
Meskipun begitu, mana mungkin aku bisa tenang kalau
ada gadis yang mencintaiku sampai menuntutku sekeras itu di depanku.
"Dengar, ya. Ini sungguh tidak baik, tahu."
"Tidak baik, apakah itu merujuk pada perasaanku
yang bertepuk sebelah tangan padamu, Kak?"
"Iya. Soalnya kita kan belum cerita pada Haruka
kalau kita sudah jadi saudara tiri dan tinggal serumah."
Adik kembar dan pacarnya menjadi saudara tiri karena
pernikahan orang tua mereka dan tinggal bersama. Tentu saja, ini adalah hasil
dari kejadian yang di luar kendali kami, anak-anak, yaitu pernikahan kembali
orang tua, jadi tidak perlu ada yang ditutupi. Haruka pasti akan mengerti hal
itu.
Namun, mengerti dan tidak apa-apa adalah dua hal yang
sama sekali berbeda.
Oleh karena itu, aku dan Shigure sepakat untuk
merahasiakan hal ini agar tidak membebani Haruka saat kami menceritakan hal
ini, setidaknya sampai orang tua kami kembali satu tahun kemudian.
Ini semua demi kebaikan Haruka.
...Akan tetapi, karena Shigure menatapku seperti itu,
arti dari rahasia ini pun ikut berubah.
"Kalau begini, bukankah ini sama saja
mengkhianati Haruka?"
"...Benar juga, ya. Memang ini pengkhianatan,
tetapi yang berkhianat kan hanya aku. Kakak sudah menolakku dengan tegas, jadi
tidak perlu dipikirkan lagi."
"T-Tapi, ya...."
"...Yah, meskipun aku tidak bisa melupakan
perasaanku pada Kakak, aku mungkin bisa mendinginkannya."
"B-Benarkah!? B-Bagaimana caranya?"
"Mungkin perasaanku akan memudar kalau aku
dipukuli tiap pagi sampai bentuk wajahku berubah."
"Mana bisa, woi!! Kamu pasti bilang begitu karena
tahu aku tidak mungkin melakukannya, kan!"
"Kita sama-sama saling memaksa hal yang tidak
mungkin dilakukan, lho~."
Shigure cemberut dan menggembungkan pipinya dengan
imut untuk menunjukkan ketidakpuasannya.
...Sungguh, padahal baru dua bulan lalu aku nyaris
tidak pernah bicara dengan gadis seumuranku, sekarang aku malah ditaksir oleh
dua gadis kembar yang cantik.
Jujur, ini sulit dipercaya. Apakah ini yang dinamakan
masa kejayaan pria?
Aku menghela napas panjang. Bicara soal itu,
sebenarnya apa sih yang membuat Shigure menyukai orang sepertiku ini?
"...Anu, sebenarnya apa sih yang kamu sukai
dariku?"
"Kakak mau tahu?"
"Aku pengin tahu. Padahal tempo hari kamu bilang,
kan? Kamu mau pacar orang kaya dengan tipe wajah oriental berpostur langsing,
dan tingginya 180 sentimeter."
"Iya, aku memang bilang begitu."
"Tinggiku saja bahkan tidak sampai 170."
"Iya, ya. Kalau dibandingkan dengan anak
seumuranmu, Kakak tidak terlalu tinggi."
"Daripada langsing, aku ini cuma kurus."
"Benar, ya. Kakak memang kurus kering,
kelihatannya tidak bisa diandalkan. Kenapa Kakak tidak coba angkat beban
saja?"
"Selain itu, wajahku juga biasa saja."
"Menurutku wajahmu lumayan tipe oriental, tapi
agak seperti rumput laut asin. Mungkin ada kotoran yang tercampur. Yah, intinya
Kakak tidak tampan."
"Lalu, aku juga tidak punya uang."
"Ahaha. Sepertinya aku bakalan diajak kencan ke
kedai ramen, deh."
Hah?
Jangan-jangan dia ini benci padaku, ya?
"Tetapi, aku suka semuanya, kok."
"Jangan bohong."
"Aku tidak bohong, tahu."
Setelah berkata begitu, Shigure membetulkan posisi
duduknya lalu menatap ke arahku. Aku menahan napas karena tatapan matanya.
Sebab, tatapan mata yang diberikan Shigure itu
dipenuhi dengan kasih sayang yang seakan bisa membuatku tenggelam, sama seperti
kemarin.
"Aku suka wajah Kakak. Kakak kelihatan sangat
imut karena semua yang dipikirkan selalu tergambar jelas di wajahmu.
Aku suka postur Kakak yang tidak terlalu tinggi.
Karena aku bisa melihat wajah manismu itu dari dekat.
Aku suka lengan kurus Kakak. Walaupun tidak terlalu
kuat, Kakak selalu memilih untuk membawakan barang yang lebih berat daripadaku.
Aku suka Kakak yang tidak suka pamer. Walaupun Kakak
tahu kemampuanmu terbatas, tetapi kamu tetap berusaha sekuat tenaga untuk jujur
sebisa mungkin."
"Eh, anu..."
"Aku juga suka saat Kakak memakan masakan
buatanku dengan lahap. Aku sangat bahagia setiap kali Kakak bilang 'terima
kasih atas makanannya' setiap habis makan tanpa terlewat.
Aku suka saat melihat Kakak belajar dengan giat.
Menurutku, pria serius yang memikirkan masa depannya dengan baik itu sangat
luar biasa.
Bahkan ketika aku bersikap jahil, aku suka saat Kakak
menyadari kebaikanku yang tersembunyi di balik itu. Aku merasa sangat bahagia
setiap kali berpikir bahwa Kakak sangat memperhatikanku. Dan juga──"
"A-A-Sudah cukup! S-Sudah, itu sudah lebih dari
cukup...."
Berbicara hal memalukan dengan wajah sangat serius
begitu....!
...Gawat. Ah~, gawat, gawat. Rasanya wajahku seperti
mau terbakar. Aku refleks menutupi wajahku dengan kedua tangan.
Uwah, wajahku panas banget.
"Kakak adalah pria yang jauh lebih memikat
daripada yang Kakak bayangkan. Hal itu bisa dijamin oleh aku dan Kak
Haruka."
"Kh~~~~"
Shigure mengatakannya dengan senyuman yang polos tanpa niat buruk. Namun, itu hanya sesaat, karena sesudahnya wajahnya langsung berubah menjadi penuh kebencian.
"Ah, coba lihat TV-nya, Kak. Ramalan bintang pagi
ini. Katanya zodiak Kakak mungkin akan mengalami kemajuan hubungan dengan lawan
jenis yang dekat, lho. Apa ini artinya Kakak bakalan langsung kangen dengan
bibirku setelah kejadian kemarin?"
"B-Bodoh! Mana mungkin begitu, kan!"
Aku menyangkalnya dengan sekuat tenaga, tetapi wajahku
masih terasa panas. Sejak pagi, hatiku terus saja dipermainkan oleh Shigure
yang ekspresinya berubah-ubah.
× × ×
Jangankan saat berduaan di rumah, isi kepalaku tetap
dipenuhi oleh Shigure bahkan saat aku pergi ke sekolah.
Kami merahasiakan status kami sebagai kakak beradik
bukan hanya dari Haruka, tetapi juga dari teman-teman sekelas.
Ini adalah kesepakatan hasil dari persamaan tujuan
kami. Shigure tidak ingin dijadikan bahan khayalan aneh oleh teman sekelas, dan
aku ingin memilih waktu yang tepat untuk memberitahukannya pada Haruka.
Karena itulah, Shigure juga tidak secara aktif
mendekatiku di sekolah.
Aku sempat khawatir akan jadi seperti apa setelah
kejadian kemarin, tetapi seperti janjinya yang 'tidak akan memaksa', Shigure
tetap menjaga jarak seperti biasa, yakni lebih dari sekadar teman sekelas namun
kurang dari seorang teman.
Namun, tidak peduli seberapa normalnya sikap Shigure,
aku tidak bisa lagi menerimanya seperti biasa.
Tanpa sadar mataku terus mengikutinya, dan aku merasa
gugup setiap kali mendengar suaranya.
Saat melihat Shigure bercengkerama dengan teman
sekelas menggunakan senyum ramah yang sangat tidak cocok untuknya, aku malah
memikirkan hal-hal seperti, 'Apakah sikap aslinya yang ia tunjukkan padaku itu
adalah wujud dari rasa sukanya?'.
Menyadari rasa suka yang ditujukan padaku dari setiap
gerak-gerik dan perkataannya, hal ini malah membuatku terlihat seperti pihak
yang sedang jatuh cinta sendirian. Aku merasa sangat bersalah pada Haruka.
Coba pikirkan dari sudut pandang sebaliknya.
Bayangkan sosok Haruka yang masih kepikiran dengan
pengakuan cinta dari pria antah berantah sambil berpikir, 'Orang ini
benar-benar menyukaiku, ya'.
...Membayangkannya saja sudah membuat lambungku
rasanya mau bolong.
Aku tahu apa penyebab keadaanku menjadi seperti ini.
Ciuman itu.
Racun dari ciuman itu... sampai saat ini masih tersisa
di tubuhku, dan terus menggerogotiku. Aku harus membuang racun ini secepatnya.
Caranya sudah sangat jelas. Yaitu dengan berciuman
bersama Haruka.
Jika aku meminta Haruka menciumku sekali lagi dan
menimpa sensasi Shigure yang tertinggal di bibirku, aku pasti bisa kembali
menjadi diriku yang semula.
Menjadi diriku yang kepalanya hanya dipenuhi oleh
Haruka, sama seperti diriku hingga kemarin.
Karena itulah, aku mencuri-curi kesempatan dari
pandangan guru untuk mengajak Haruka makan malam melalui LINE.
Tidak lama kemudian, Haruka membalas dengan syarat 'Kegiatan klubku mungkin akan sedikit lama, tapi kalau kamu mau menunggu', yang langsung kubalas dengan kata YA tanpa keraguan sedikit pun.



Post a Comment