NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanojo no Imouto to Kiss wo Shita Volume 2 Chapter 2

Chapter 16

Manis × Racun


"Anu, Sato-kun, kamu ingat denganku?"

SMA Seiun berada di atas bukit tertinggi di kota ini. Bagian belakang gedung sekolah, tempat kita bisa melihat seluruh kota lewat pagar pembatas dari atas bukit itu.

Sepulang sekolah, di hari saat bunga sakura mekar tujuh per sepuluh bagian, aku dipanggil oleh seorang siswi jurusan umum yang tidak kukenal, dan dia menanyakan hal itu kepadaku.

Untuk mencari jawabannya, aku—yang diam-diam merasa panik karena belum pernah dipanggil oleh lawan jenis—berusaha keras menyembunyikannya dan menatap siswi itu.

Wajahnya begitu cantik bagaikan boneka. Rambut hitamnya berkibar lembut tertiup angin.

Pinggangnya setinggi model, dan kakinya ramping serta jenjang. Setelah kuperhatikan baik-baik, ternyata dia adalah gadis yang sangat cantik.

Aku sangat yakin, aku tidak punya kenalan seperti dia.

Seandainya aku pernah berbincang dengan gadis secantik ini, itu pasti jadi peristiwa besar bagiku yang belum pernah mengobrol dengan perempuan sejak SMP. Tidak mungkin aku melupakannya. Jujur saja, kejadian hari ini akan menjadi kenangan yang bersinar terang dalam kehidupan SMA-ku.

Karena itulah, aku menjawab tidak mengenalnya dengan terbata-bata. Mendengar hal ini, ia menurunkan alisnya dengan raut kecewa.

"A-Auh.... Begitu, ya. Wajar saja, ini sudah sejak SD, kan. Ini aku, lho, Saikawa Haruka yang dulu bareng kamu di penitipan anak waktu kelas empat."

Aku terkejut.

Saikawa. Aku ingat gadis itu. Tak lama setelah ibuku meninggal, bersamaan dengan masa-masa sibuk ayahku, aku dititipkan di tempat penitipan anak (semacam tempat pengasuhan anak di dalam SD) selama satu tahun saat kelas empat.

Dia adalah satu-satunya murid seangkatan yang ada di sana.

Akan tetapi, yang membuatku terkejut bukan pertemuan kembali setelah beberapa tahun itu, melainkan kesan tentang Saikawa yang sama sekali berbeda dari apa yang ada dalam ingatanku.

Sebab, Saikawa yang kuingat bukanlah gadis dengan kepribadian kuat yang hanya dengan berdiri saja sudah terlihat seperti lukisan.

Tentu saja ia akan berubah karena masa pertumbuhan, tetapi seharusnya ia adalah gadis yang sosoknya sebagai manusia terasa lebih datar atau buram.

"Begitu, ya. ...Yah, saat SD dulu, ada banyak hal yang terjadi sampai membuatku terlihat muram sebelum bertemu dengan Sato-kun."

Muram. Ya, ia memang sangat muram.

Wajahnya selalu tampak sedih, tubuhnya kurus, dan rambutnya dibiarkan tumbuh memanjang tanpa banyak dirawat. Hanya dengan melihatnya saja, ia adalah gadis yang bisa membuat perasaan menjadi muram.

Karena sifat tempat penitipan anak yang sebagian besar siswanya berada di kelas rendah, Saikawa tidak bisa mengikuti antusiasme anak-anak yang lebih muda. Sebaliknya, anak-anak itu juga tidak secara proaktif mengajak Saikawa yang lebih tua untuk bermain, sehingga Saikawa selalu menyendiri di sana.

Alasanku dulu sering mendekati Saikawa pasti karena aku merasa kasihan padanya. Aku mengajak Saikawa memainkan berbagai permainan, membawakannya komik dari perpustakaan untuk dibaca bersama, atau menggelitiknya tanpa alasan yang jelas.

Sungguh menyenangkan melihat berbagai ekspresi muncul di wajah Saikawa yang biasanya muram. Aku sangat mengingat hal itu.

Meskipun begitu, hal itu hanya terjadi selama setahun saat di tempat penitipan anak, dan setelah keluar dari sana aku terlalu asyik bermain dengan teman-teman sekelasku hingga tidak ingat untuk menemuinya lagi.

Karena itulah, jika ia tidak menyebutkan namanya, aku tidak akan pernah ingat kenangan itu.

Namun──

"Akan tetapi, aku ingat, kok. Sato-kun selalu menyemangatiku saat aku merasa murung. Karena itulah yang menjadi... cinta pertamaku."

Dampak dari kata-katanya itu tidak akan pernah kulupakan seumur hidup.

"Anu, apa saat ini... kamu punya pacar?"

Ternyata di dunia ini, ada orang yang memberikan kasih sayang kepadaku. Itulah pertama kalinya aku menyadari hal tersebut.

× × ×

"...."

Aku bermimpi. Mimpi tentang ingatanku saat Haruka menyatakan perasaannya kepadaku, sekitar dua bulan yang lalu.

Memimpikan hal ini sebenarnya bukan hal yang aneh. Karena itulah momen di mana aku mendapatkan pacar yang sangat kudambakan sejak SMP.

Tentu saja, selama sebulan pertama, hampir setiap hari aku mengingatnya dan tersenyum-senyum sendiri.

...Akan tetapi, hari ini aku tidak bisa tersenyum. Tentu saja. Kejadian kemarin adalah alasannya.

Berciuman dengan gadis lain yang bukan kekasihku yang berharga. Sebaliknya, dadaku terasa sesak oleh semacam perasaan bersalah terhadap Haruka.

Bukannya aku yang sepenuhnya salah dalam hal ini.

"Ah, selamat pagi, Kakak."

Benar, dialah yang bersalah. Aku menoleh ke arah suara yang berasal dari dapur.

Di sana, sama seperti pagi biasanya, berdirilah Shigure yang sedang memasak di bawah sorotan cahaya matahari pagi.

Ukh....

Saat aku melihatnya, rasa panas dari kejadian kemarin kembali hidup di bibirku. Sambil memalingkan pandangan karena malu, aku menjawab.

"S-Selamat pagi...."

"Bangunnya terlambat sekali, ya. Padahal semalam Kakak sudah tidur saat aku selesai mandi."

"Aku kelelahan, tahu...."

Gara-gara seseorang.

Omong-omong, anggapan Shigure soal aku tertidur itu salah. Karena setelah ada jeda sejenak aku merasa canggung untuk kembali bertatap muka dengannya, jadi aku memutuskan untuk pura-pura tidur saja.

Sejujurnya, aku baru bisa tertidur saat matahari mulai terbit.

"Kalau begitu, Kakak yang tukang tidur. Karena sudah bangun, tolong cepat singkirkan futonnya dan siapkan meja. Sarapannya sudah siap, lho."

"A-Ah, iya...."

Setelah didesak oleh Shigure, aku pun mulai bergerak. Aku melipat futon yang digelar di ruang keluarga dan mengeluarkan meja.

Lalu, aku menata sarapan buatan Shigure di sana, dan kami pun duduk bersama di meja makan.

"Selamat makan."

"...Selamat makan."

Menu hari ini adalah roti panggang mentega yang renyah setelah dipanggang di oven, telur mata sapi setengah matang, sosis, dan salad berwarna-warni yang disajikan dalam satu piring, lengkap dengan sup krim jagung dan kopi.

Sup krim jagungnya mungkin sup instan yang sudah dibeli sebelumnya, tetapi tambahan krimer dan taburan peterseli memberikan sentuhan warna ekstra, membuatnya terlihat persis seperti menu sarapan hotel dan sangat menggugah selera.

Meskipun aku menerimanya sebagai bagian normal dari rutinitas harian, apakah menyiapkan makanan selezat ini juga karena ia menyukaiku...?

Karena sekarang aku sudah mengetahui perasaan Shigure, secara alami aku jadi memikirkannya.

"...."

"...."

Saat aku mulai menyadarinya, aku semakin tidak sanggup menatap wajah Shigure. Eh, ngomong-ngomong, aku sama sekali belum menatap wajah Shigure sejak bangun pagi ini, kan?

Tentu saja, karena hal ini percakapan kami pun terhenti. Meja makan keluarga Sato diliputi keheningan yang menyesakkan, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

...C-Canggung banget.

"K-Kayaknya lebih baik aku menyalakan berita."

Karena tidak tahan dengan keheningan, aku menyalakan TV untuk mencari suara latar. Aku sebenarnya tidak tertarik pada perkembangan dunia, tetapi apa pun yang bisa mengalihkan perhatianku dari Shigure──

'──Selanjutnya adalah berita berikutnya. Majalah mingguan memberitakan bahwa aktor Kataoka Shinichi menjalin hubungan gelap dengan seorang wanita biasa. Terkait hal ini, Kataoka mengaku bahwa "Isi berita tersebut hampir sepenuhnya benar" dan meminta maaf dengan menyatakan "Saya merasa sangat bersalah terhadap istri saya"──'

Woi-woi-woi-woi-woi-woi-woi!!!!

"Pfft, aha, ahahaha."

"...!"

Saat aku berteriak dalam hati karena merasa menginjak ranjau yang sangat mengerikan, Shigure seolah tak bisa menahan diri lagi, tertawa terbahak-bahak hingga bahunya bergetar.

"Ya ampun, kenapa dari tadi Kakak kelihatan panik banget? Pasti karena terlalu menyadariku, kan? Ahahaha, lucu banget."

"Y-Y-Ya, mau bagaimana lagi. Gara-gara kamu melakukan hal seperti itu kemarin...."

"Kan aku sudah bilang. Aku tidak akan melakukan hal paksa seperti itu lagi."

Meskipun begitu, mana mungkin aku bisa tenang kalau ada gadis yang mencintaiku sampai menuntutku sekeras itu di depanku.

"Dengar, ya. Ini sungguh tidak baik, tahu."

"Tidak baik, apakah itu merujuk pada perasaanku yang bertepuk sebelah tangan padamu, Kak?"

"Iya. Soalnya kita kan belum cerita pada Haruka kalau kita sudah jadi saudara tiri dan tinggal serumah."

Adik kembar dan pacarnya menjadi saudara tiri karena pernikahan orang tua mereka dan tinggal bersama. Tentu saja, ini adalah hasil dari kejadian yang di luar kendali kami, anak-anak, yaitu pernikahan kembali orang tua, jadi tidak perlu ada yang ditutupi. Haruka pasti akan mengerti hal itu.

Namun, mengerti dan tidak apa-apa adalah dua hal yang sama sekali berbeda.

Oleh karena itu, aku dan Shigure sepakat untuk merahasiakan hal ini agar tidak membebani Haruka saat kami menceritakan hal ini, setidaknya sampai orang tua kami kembali satu tahun kemudian.

Ini semua demi kebaikan Haruka.

...Akan tetapi, karena Shigure menatapku seperti itu, arti dari rahasia ini pun ikut berubah.

"Kalau begini, bukankah ini sama saja mengkhianati Haruka?"

"...Benar juga, ya. Memang ini pengkhianatan, tetapi yang berkhianat kan hanya aku. Kakak sudah menolakku dengan tegas, jadi tidak perlu dipikirkan lagi."

"T-Tapi, ya...."

"...Yah, meskipun aku tidak bisa melupakan perasaanku pada Kakak, aku mungkin bisa mendinginkannya."

"B-Benarkah!? B-Bagaimana caranya?"

"Mungkin perasaanku akan memudar kalau aku dipukuli tiap pagi sampai bentuk wajahku berubah."

"Mana bisa, woi!! Kamu pasti bilang begitu karena tahu aku tidak mungkin melakukannya, kan!"

"Kita sama-sama saling memaksa hal yang tidak mungkin dilakukan, lho~."

Shigure cemberut dan menggembungkan pipinya dengan imut untuk menunjukkan ketidakpuasannya.

...Sungguh, padahal baru dua bulan lalu aku nyaris tidak pernah bicara dengan gadis seumuranku, sekarang aku malah ditaksir oleh dua gadis kembar yang cantik.

Jujur, ini sulit dipercaya. Apakah ini yang dinamakan masa kejayaan pria?

Aku menghela napas panjang. Bicara soal itu, sebenarnya apa sih yang membuat Shigure menyukai orang sepertiku ini?

"...Anu, sebenarnya apa sih yang kamu sukai dariku?"

"Kakak mau tahu?"

"Aku pengin tahu. Padahal tempo hari kamu bilang, kan? Kamu mau pacar orang kaya dengan tipe wajah oriental berpostur langsing, dan tingginya 180 sentimeter."

"Iya, aku memang bilang begitu."

"Tinggiku saja bahkan tidak sampai 170."

"Iya, ya. Kalau dibandingkan dengan anak seumuranmu, Kakak tidak terlalu tinggi."

"Daripada langsing, aku ini cuma kurus."

"Benar, ya. Kakak memang kurus kering, kelihatannya tidak bisa diandalkan. Kenapa Kakak tidak coba angkat beban saja?"

"Selain itu, wajahku juga biasa saja."

"Menurutku wajahmu lumayan tipe oriental, tapi agak seperti rumput laut asin. Mungkin ada kotoran yang tercampur. Yah, intinya Kakak tidak tampan."

"Lalu, aku juga tidak punya uang."

"Ahaha. Sepertinya aku bakalan diajak kencan ke kedai ramen, deh."

Hah?

Jangan-jangan dia ini benci padaku, ya?

"Tetapi, aku suka semuanya, kok."

"Jangan bohong."

"Aku tidak bohong, tahu."

Setelah berkata begitu, Shigure membetulkan posisi duduknya lalu menatap ke arahku. Aku menahan napas karena tatapan matanya.

Sebab, tatapan mata yang diberikan Shigure itu dipenuhi dengan kasih sayang yang seakan bisa membuatku tenggelam, sama seperti kemarin.

"Aku suka wajah Kakak. Kakak kelihatan sangat imut karena semua yang dipikirkan selalu tergambar jelas di wajahmu.

Aku suka postur Kakak yang tidak terlalu tinggi. Karena aku bisa melihat wajah manismu itu dari dekat.

Aku suka lengan kurus Kakak. Walaupun tidak terlalu kuat, Kakak selalu memilih untuk membawakan barang yang lebih berat daripadaku.

Aku suka Kakak yang tidak suka pamer. Walaupun Kakak tahu kemampuanmu terbatas, tetapi kamu tetap berusaha sekuat tenaga untuk jujur sebisa mungkin."

"Eh, anu..."

"Aku juga suka saat Kakak memakan masakan buatanku dengan lahap. Aku sangat bahagia setiap kali Kakak bilang 'terima kasih atas makanannya' setiap habis makan tanpa terlewat.

Aku suka saat melihat Kakak belajar dengan giat. Menurutku, pria serius yang memikirkan masa depannya dengan baik itu sangat luar biasa.

Bahkan ketika aku bersikap jahil, aku suka saat Kakak menyadari kebaikanku yang tersembunyi di balik itu. Aku merasa sangat bahagia setiap kali berpikir bahwa Kakak sangat memperhatikanku. Dan juga──"

"A-A-Sudah cukup! S-Sudah, itu sudah lebih dari cukup...."

Berbicara hal memalukan dengan wajah sangat serius begitu....!

...Gawat. Ah~, gawat, gawat. Rasanya wajahku seperti mau terbakar. Aku refleks menutupi wajahku dengan kedua tangan.

Uwah, wajahku panas banget.

"Kakak adalah pria yang jauh lebih memikat daripada yang Kakak bayangkan. Hal itu bisa dijamin oleh aku dan Kak Haruka."

"Kh~~~~"

Shigure mengatakannya dengan senyuman yang polos tanpa niat buruk. Namun, itu hanya sesaat, karena sesudahnya wajahnya langsung berubah menjadi penuh kebencian.




"Ah, coba lihat TV-nya, Kak. Ramalan bintang pagi ini. Katanya zodiak Kakak mungkin akan mengalami kemajuan hubungan dengan lawan jenis yang dekat, lho. Apa ini artinya Kakak bakalan langsung kangen dengan bibirku setelah kejadian kemarin?"

"B-Bodoh! Mana mungkin begitu, kan!"

Aku menyangkalnya dengan sekuat tenaga, tetapi wajahku masih terasa panas. Sejak pagi, hatiku terus saja dipermainkan oleh Shigure yang ekspresinya berubah-ubah.

× × ×

Jangankan saat berduaan di rumah, isi kepalaku tetap dipenuhi oleh Shigure bahkan saat aku pergi ke sekolah.

Kami merahasiakan status kami sebagai kakak beradik bukan hanya dari Haruka, tetapi juga dari teman-teman sekelas.

Ini adalah kesepakatan hasil dari persamaan tujuan kami. Shigure tidak ingin dijadikan bahan khayalan aneh oleh teman sekelas, dan aku ingin memilih waktu yang tepat untuk memberitahukannya pada Haruka.

Karena itulah, Shigure juga tidak secara aktif mendekatiku di sekolah.

Aku sempat khawatir akan jadi seperti apa setelah kejadian kemarin, tetapi seperti janjinya yang 'tidak akan memaksa', Shigure tetap menjaga jarak seperti biasa, yakni lebih dari sekadar teman sekelas namun kurang dari seorang teman.

Namun, tidak peduli seberapa normalnya sikap Shigure, aku tidak bisa lagi menerimanya seperti biasa.

Tanpa sadar mataku terus mengikutinya, dan aku merasa gugup setiap kali mendengar suaranya.

Saat melihat Shigure bercengkerama dengan teman sekelas menggunakan senyum ramah yang sangat tidak cocok untuknya, aku malah memikirkan hal-hal seperti, 'Apakah sikap aslinya yang ia tunjukkan padaku itu adalah wujud dari rasa sukanya?'.

Menyadari rasa suka yang ditujukan padaku dari setiap gerak-gerik dan perkataannya, hal ini malah membuatku terlihat seperti pihak yang sedang jatuh cinta sendirian. Aku merasa sangat bersalah pada Haruka.

Coba pikirkan dari sudut pandang sebaliknya.

Bayangkan sosok Haruka yang masih kepikiran dengan pengakuan cinta dari pria antah berantah sambil berpikir, 'Orang ini benar-benar menyukaiku, ya'.

...Membayangkannya saja sudah membuat lambungku rasanya mau bolong.

Aku tahu apa penyebab keadaanku menjadi seperti ini. Ciuman itu.

Racun dari ciuman itu... sampai saat ini masih tersisa di tubuhku, dan terus menggerogotiku. Aku harus membuang racun ini secepatnya.

Caranya sudah sangat jelas. Yaitu dengan berciuman bersama Haruka.

Jika aku meminta Haruka menciumku sekali lagi dan menimpa sensasi Shigure yang tertinggal di bibirku, aku pasti bisa kembali menjadi diriku yang semula.

Menjadi diriku yang kepalanya hanya dipenuhi oleh Haruka, sama seperti diriku hingga kemarin.

Karena itulah, aku mencuri-curi kesempatan dari pandangan guru untuk mengajak Haruka makan malam melalui LINE.

Tidak lama kemudian, Haruka membalas dengan syarat 'Kegiatan klubku mungkin akan sedikit lama, tapi kalau kamu mau menunggu', yang langsung kubalas dengan kata YA tanpa keraguan sedikit pun.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close