Penerjemah: Flykitty
Proffreader: Flykitty
Chapter 4
Menyusup ke Kediaman
Saat matahari mulai terbenam, langit senja mewarnai kota dengan cahaya merah keemasan.
"──Erina, kami mengandalkanmu."
"Ya!"
Menjawab suara Glen, rambut keemasan Erina bergoyang lembut.
Rambut peraknya yang biasa kini berubah menjadi warna emas lembut berkat wig yang dikenakannya. Sebagai pengganti jubah pendeta, ia mengenakan gaun merah tua.
Itulah pakaian yang disiapkan untuk pesta yang akan diadakan di kediaman Burdog, tempat yang akan mereka selidiki.
Glen menatap penampilannya, lalu menarik napas dan berkata,
"Kalau kau merasa dalam bahaya, pastikan memberi isyarat."
"Benar. Kami akan langsung menerobos masuk."
"Glen, Garo, terima kasih. Aku akan baik-baik saja... aku sudah siap."
Erina menjawab dengan tegas sambil mengangguk kecil.
Di balik ketegangannya, tampak tekad yang kuat di matanya.
Kemudian Erina pergi seorang diri menuju tempat pertemuan dengan perantara yang telah diatur melalui pemilik kedai minuman.
"──Silakan ikuti saya."
Seorang pria berbaju hitam berkata singkat dengan suara rendah. Ekspresinya tak terbaca di balik kacamata hitam.
Erina mengikuti pria itu dan dengan tenang naik ke dalam kereta kuda.
Di belakang mereka, Glen dan yang lainnya tetap membuntuti dari kejauhan.
Tujuan mereka adalah──kediaman Burdog di pinggiran Distrik Barat.
Sesaat setelah tiba dan melihat bangunan itu, Erina menahan napas.
"Jadi... ini tempatnya..."
Yang menjulang di hadapannya adalah bangunan megah yang lebih menyerupai sebuah kastil.
Gerbang besar yang menyerupai jeruji besi dihiasi ukiran emas, sementara jauh di dalam halaman tampak sebuah air mancur.
Kemewahannya jelas mustahil dibiayai hanya dari pemasukan gereja.
(Pantas saja setingkat Uskup Agung... tapi tetap saja, bukankah ini terlalu kaya...?)
Dengan rasa heran sekaligus waspada, Erina mengatupkan bibirnya.
Pria berbaju hitam di belakangnya membungkuk hormat.
"──Silakan masuk. Setelah itu, silakan menikmati pesta sesuka Anda."
"Baik... terima kasih."
Pria itu pergi tanpa berkata apa-apa lagi, seolah menghilangkan suara langkahnya.
Tinggal sendirian di depan pintu, Erina menarik napas pelan──lalu memberanikan diri melangkah masuk.
Bagian dalamnya benar-benar dipenuhi kemeriahan pesta kalangan bangsawan.
Cahaya lampu gantung yang berkilauan menerangi seluruh ruangan.
Para wanita bergaun indah dan pria berjas ekor walet bercengkerama dengan ramah.
Aroma parfum dan anggur bercampur menjadi udara manis yang hampir membuat sesak.
"Oh? Apa Anda peserta yang baru pertama kali datang?"
"I-iya..."
Yang menyapanya adalah seorang pria bertubuh kecil dengan kumis tipis. Tatapannya tampak aneh, penuh keserakahan.
"Perkenalkan, saya Balbo, seorang pedagang. Kebetulan saya juga baru pertama kali menghadiri acara ini. Terus terang saya agak gugup."
"Balbo-sama... nama saya Liena. Saya juga baru pertama kali datang..."
"Haha, kebetulan sekali. Bagaimana kalau kita bersama? Saya juga akan memperkenalkan Anda kepada yang lain."
"...Baik. Terima kasih."
Dengan menggunakan nama samaran Liena, Erina tersenyum lalu mengikuti pria itu.
Di tengah perjalanan, seorang pelayan menyodorkan nampan perak.
"Nona, ini anggurnya."
"Terima kasih."
Permukaan anggur merah di dalam gelas memantulkan cahaya merah berkilau. Tatapan Erina sedikit menajam.
(Minuman yang disajikan di tempat seperti ini... tidak bisa dipercaya.)
Diam-diam ia mulai melantunkan mantra dengan suara lirih.
"〈Purification〉."
Cahaya lembut menyelimuti gelas itu. Dalam sekejap, cairan merah tersebut berubah menjadi air sebening kristal.
Sambil meminum air itu, ia mengamati sekeliling.
"──Semuanya, izinkan saya memperkenalkan Liena-sama. Beliau juga baru pertama kali datang. Mohon sambut beliau dengan baik."
Di tempat yang dituju terdapat empat orang pria dan wanita.
Namun begitu melihat wajah salah satu dari mereka──ekspresi Erina membeku.
(Ji-Jilbe...!?)
Orang itu adalah Jilbe, seorang penjaga gerbang yang dikenalnya. Sebagai penjaga pos pemeriksaan di Kota Petualang Hares, mustahil orang biasa seperti dirinya berada di pesta semacam ini.
(Kenapa kau ada di sini...? Apa penyamaranku...)
"Salam kenal. Aku Jilbe. Senang bertemu denganmu, Liena."
"Y-ya..."
Erina memaksakan senyum dan bertukar salam seperlunya dengan tiga orang lainnya. Untungnya, identitasnya belum terbongkar.
Erina menghela napas lega dalam hati.
Beberapa saat kemudian keenam orang itu terus mengobrol santai. Namun bila terus begini, ia tidak akan mendapatkan bukti apa pun.
Akhirnya Erina memberanikan diri bertanya.
"──Maaf, apakah Uskup Agung tidak akan datang hari ini?"
Sampai sekarang, Burdog belum juga menampakkan diri.
"Uskup Agung sedang sibuk. Apa Anda ada urusan dengannya?"
"Tidak... hanya saja, sebagai salah seorang umat, saya merasa terhormat bila bisa bertemu beliau."
"Haha, itu wajar."
Terdengar tawa ringan. Erina ikut tersenyum untuk menyesuaikan suasana. Namun saat berikutnya...
"Ah..."
"Ada apa? Apa Anda terlalu banyak minum?"
Salah seorang wanita tiba-tiba terhuyung dan jatuh ke dada pria di sebelahnya. Pria itu menopangnya sambil melihat sekeliling.
"Sepertinya mabuknya mulai terasa. Aku akan membawanya beristirahat sebentar."
Sambil menggendong wanita itu, pria tersebut menghilang ke lorong bagian dalam.
(...Jangan-jangan memang benar ada sesuatu yang dicampurkan!?)
Jantung Erina berdegup kencang.
Saat ia memperhatikan lebih saksama, kejadian serupa juga terjadi di berbagai sudut ruangan.
Satu demi satu wanita roboh. Para pria menopang mereka lalu membawa mereka ke bagian dalam.
(Benar juga... pesta ini memang bertujuan menjebak para wanita...!)
Erina hendak mulai melantunkan mantra pemulih kesadaran. Namun tepat saat itu, pandangannya mulai bergoyang.
"A... uh..."
"Liena? Kau tidak apa-apa?"
Jilbe mengulurkan tangan dan menopang tubuh Erina.
(Padahal anggurnya sudah kumurnikan... lalu kenapa...? Tidak... kesadaranku... kalau aku pingsan di sini... Jilbe, kau...)
Penglihatannya memutih.
Hal terakhir yang ia lihat adalah senyum Jilbe yang tampak seperti sedang menyeringai sambil menopangnya.
◇◇◇
"──Apa Erina baik-baik saja? Rasanya dia terlalu lama."
"Glen, aku mengerti perasaanmu... tapi tunggu sedikit lagi. Kita masih belum menerima isyarat."
"Hmm... kesabaranku juga sudah hampir habis. Semoga saja tidak terjadi sesuatu di dalam."
Saat malam mulai turun...
Di depan gerbang kediaman Burdog, tiga anggota Silver Blade bersembunyi sambil menahan napas.
"Kalau dipikir-pikir sekarang, mungkin penyusupan kali ini terlalu gegabah. Kalau identitas Erina terbongkar... para Ksatria Kuil mungkin akan mendatangi Guild."
"Kalau skandalnya belum tersebar ke publik, Burdog mungkin masih bisa menggerakkan Ksatria Kuil... bahkan bisa jadi justru kita yang dituduh sebagai pelakunya."
Keheningan menyelimuti mereka. Ketiganya tahu betul betapa mengerikannya kekuatan gereja.
Sehebat apa pun seorang petualang, mereka bukan lawan yang bisa dihadapi bila harus melawan satu organisasi besar.
"Erina... semoga kau selamat..."
Saat Glen berbisik demikian──
"Akhirnya... kami menemukan kalian!!"
Suara tergesa-gesa terdengar dari belakang bersamaan dengan langkah kaki yang berlari.
Ketika mereka menoleh, Iris dan Medina datang sambil terengah-engah.
"Iris... bahkan Medina juga? Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"
"Glen-sama, gawat!"
Dengan wajah penuh kepanikan, Iris melanjutkan.
"Saat Medina-sama menyusup ke fasilitas bawah tanah, beliau mendengar sesuatu! Penjaga Jilbe──Jilbe itu ternyata menggunakan fasilitas bawah tanah tersebut! Dan sekarang, kalian semua sedang menjadi target iblis Dorothea!"
"Apa...!? Jilbe!?" Glen terkejut.
"Dan sekarang iblis itu langsung mengincar kita?"
Glen dan Rishia sama-sama terkejut mendengar penjelasan Iris.
"Ya, aku benar-benar mendengarnya. Karena itu, cepat tinggalkan tempat ini! Kalau sedekat ini dengan kediaman Uskup Agung Burdog, tidak aneh kalau Dorothea berada di sekitar sini!"
"Tapi Erina sedang menyusup ke dalam dengan menyamar."
Memikirkan Erina, Glen dan yang lainnya tidak mungkin meninggalkan tempat itu.
"Tapi sekarang terlalu berbahaya! Mundurlah! Nyawa kalian──"
Namun kata-kata Iris dipotong oleh suara lain.
"──Ara...? Kudengar mangsaku ada empat orang. Fufu, ternyata sedikit berbeda ya."
Di seberang jalan. Dengan cahaya malam di belakangnya, kulit ungu pucat dan rambut putihnya bersinar secara misterius.
Di kepalanya tumbuh dua tanduk panjang yang tajam.
──Iblis Dorothea.
Ia tersenyum penuh kegembiraan sambil menjilat bibirnya.
"──〈Stealth〉."
Sesaat setelah menyadari kehadiran Dorothea, Medina secara refleks mengaktifkan skill miliknya.
"Medina-sama... tolong selamatkan Erina-sama..."
Suara Iris terdengar lirih.
Memahami maksud di balik kata-kata itu, Medina tidak menjawab. Ia bergerak bagaikan bayangan dan menghilang dari tempat itu.
"Itukah... iblis Dorothea..."
"Tekanan sihir yang mengerikan... kulitku sampai terasa perih..."
"Ya... cukup dengan berdiri di sini saja sudah terasa. Dia benar-benar berada di luar kewajaran."
Keringat dingin mengalir di dahi Glen dan yang lainnya saat mereka menatap Dorothea yang berdiri di hadapan mereka.
Tekanan yang dipancarkan dari tubuhnya seolah membuat ruang di sekitarnya berderit.
"Sebenarnya sih, aku tidak berniat membunuh siapa pun di kota ini... tapi sayangnya, ada yang memintaku melakukan itu."
"...Kenapa kau mau mengikuti permintaan seseorang?"
Glen menilai bahwa lawannya masih bisa diajak berbicara, lalu mencoba membuka percakapan.
Pertanyaan itu sekaligus untuk membeli sedikit waktu.
"Seberapa banyak sih kalian tahu tentang kami, para iblis?"
"──Makhluk yang lahir dari mutasi monster, keberadaan yang tak bisa hidup berdampingan dengan manusia. Bertindak sesuka hati, tidak membentuk kelompok, dan selalu berusaha memanfaatkan manusia... begitulah yang kudengar."
Bahkan bagi Glen dan kawan-kawan, ini adalah pertama kalinya mereka berhadapan langsung dengan iblis.
Kehidupan mereka masih penuh misteri. Tidak ada yang tahu di mana mereka tinggal. Konon setiap iblis memiliki cara berpikir yang berbeda, seolah-olah mereka adalah perwujudan kebebasan itu sendiri.
"Hehe, kurang lebih benar. Terutama bagian 'bertindak sesuka hati', itu yang paling menggambarkan kami."
"Kalau begitu──kenapa menerima permintaan manusia?!"
"Barusan saja kubilang kalau kami bertindak sesuka hati, bukan?"
Saat itu juga, sosok Dorothea menghilang bagaikan kabut.
"──?!"
Niat membunuh datang dari samping.
Secara refleks Glen mencabut pedang sucinya dan nyaris berhasil menahan tebasan cakar yang datang menghantam.
"Sial...! Semuanya, bertahan sampai Erina datang!"
"Siap!" "Ya!" "Baik!"
Dentang logam bergema keras.
Begitu Glen mendorong balik cakar Dorothea, mereka bertiga segera menyusun ulang formasi.
Di belakang mereka berdiri──bukan Erina yang biasanya memberikan dukungan dari garis belakang, melainkan Iris yang menggenggam tongkat sucinya.
Namun Iris menjalankan peran Erina sebaik mungkin.
"〈Protect〉! 〈Strong〉! 〈Air Boost〉!"
Mantra bertumpuk, dan cahaya lembut menyelimuti tubuh ketiga rekannya.
Sihir pendukung yang meningkatkan pertahanan, kekuatan, dan kecepatan sekaligus mengalir ke tubuh mereka.
Dorothea menjilat bibirnya sambil tersenyum angkuh, lalu menerjang sambil membelah udara.
"Rishia, dia datang!"
"Tidak akan kubiarkan!"
Saat Dorothea mengincar Rishia, Garo melompat ke depan sambil mengangkat perisai besarnya.
Cakar tajam menghantam perisai, memercikkan bunga api.
"──Sekarang! 〈Fire Lance〉!"
Bersamaan dengan mantra Rishia, tombak api melesat lurus ke arah Dorothea. Namun Dorothea hanya mengibaskan tangannya dengan santai, dan api itu pun lenyap.
"Kalian pikir api selemah itu bisa membakarku? Jangan membuatku tertawa!"
"Ugh...?!"
Tubuh besar Garo terpental bersama perisainya akibat dahsyatnya cakar hitam Dorothea, lalu terguling di tanah.
Namun memanfaatkan celah itu, Glen menyerang dari belakang.
"──Keras sekali...!"
Pedangnya tidak mampu menembus. Bilahan pedang itu ditahan oleh cakar kiri Dorothea.
"Jadi ini kemampuan salah satu manusia terkuat di kota ini? Kalau begitu, aku benar-benar kecewa."
Dalam sekejap Dorothea sudah berada tepat di hadapan Glen. Tinju kanannya menghantam keras sisi tubuh Glen.
"Guh...!"
Suara benturan tumpul terdengar. Napas Glen tersengal, dan tubuhnya terseret di atas tanah.
"Glen!"
"A-aku masih... baik-baik saja...!"
Meski merasakan rasa darah di mulutnya, Glen bangkit kembali dengan bertumpu pada pedangnya. Lalu sekali lagi ia melangkah maju.
Cahaya tekad di matanya sama sekali belum padam.
"Padahal aku sempat berharap sedikit... tapi memang manusia itu rapuh."
"──〈Heat Haze〉."
Siluet Glen bergetar dan melebur ke dalam kegelapan.
Saat Dorothea menyadarinya, Glen sudah menebaskan pedangnya ke arah kepala sang iblis.
"Oh? Teknik yang menarik."
Namun tebasan itu pun kembali ditahan hanya dengan satu ayunan cakar.
"Sepertinya... tanpa Shuu-sama... memang akan sangat sulit..."
Iris menggertakkan giginya sambil menggenggam tongkat sucinya erat-erat.
Suara doanya yang lirih tenggelam dalam hiruk-pikuk pertempuran.
◇◇◇
──Pada saat Glen dan yang lainnya mulai bertarung.
Di sebuah ruangan sunyi di bagian dalam kediaman.
"...Nn... ah... uh..."
Dengan napas yang masih lemah, Erina perlahan membuka matanya. Pandangannya masih kabur.
Lampu berwarna jingga bergoyang pelan menerangi ruangan yang remang-remang.
Punggungnya merasakan kelembutan, seolah ia dibaringkan di atas ranjang mewah.
"...Di mana... aku..."
Saat mencoba bangun, lengannya terasa sangat berat.
Ia baru menyadari penyebabnya ketika hendak menggerakkan tangannya.
Klang...
"...!? A-apa... ini...?!"
Pergelangan kedua tangannya dipasangi borgol berwarna perak. Pergelangan kakinya pun dibelenggu dengan alat yang sama. Rantai kecil bergoyang, mengeluarkan bunyi logam yang tumpul.
"Hehe... sepertinya kau sudah sadar, Liena. Selamat datang di ruang istirahat."
"...Kau... Jilbe..."
Perlahan muncul sosok penjaga kota, Jilbe.
Di satu tangannya tergenggam segelas anggur yang diputar-putarnya perlahan.
Senyumnya terasa dingin dan menyeramkan, seolah topeng yang menutupi niat aslinya belum juga dilepas.
"Aku sengaja menunggumu sadar. Bukankah aku pria yang sopan?"
"Bagian mana dari keadaan ini yang bisa disebut sopan...?!"
Dengan suara yang bergetar karena marah, Erina menatapnya tajam. Namun Jilbe justru memutar sudut bibirnya, seakan menikmati reaksi itu.
"Ekspresi itu... benar-benar membuatku tergila-gila. Aku terkejut, kau sangat mirip dengan seorang wanita yang kukenal. Sama-sama anggun dan cantik..."
(...Dia masih belum menyadari identitasku... tapi kalau begini terus...!)
Keringat dingin membasahi seluruh tubuh Erina.
Tak ada sedikit pun cahaya kewarasan di mata Jilbe. Yang tersisa hanyalah naluri buas layaknya seekor binatang.
"Dari penampilanmu, usiamu sekitar dua puluh tahun. Kau sudah dewasa. Pasti bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini, bukan?"
"...!"
Erina mati-matian menarik borgolnya. Namun belenggu itu sama sekali tidak terlepas.
Waktu terus berjalan, sementara rasa cemas semakin menyesakkan dadanya.
──Kalau begitu, aku harus menggunakan sihir.
"〈Holy Lance〉!"
Seharusnya cahaya muncul. Namun kekuatan yang ia kumpulkan di ujung jarinya menghilang sia-sia.
Tidak ada cahaya yang lahir.
"Di aula tadi aku mendengar kalau kau seorang Priest. Untuk berjaga-jaga, aku menggunakan borgol khusus."
"Batu... penyegel sihir..."
"Mineral langka yang mampu menyegel sihir siapa pun yang menyentuhnya. Sulit sekali mendapatkannya, tapi sepertinya Uskup Agung memiliki banyak persediaan."
"Kurang ajar... kau ini..."
Sihirnya tersegel. Belenggu di tangannya pun mustahil dilepas dengan tenaga. Artinya, pada saat ini Erina benar-benar sudah terpojok.
"Setelah melakukan semua ini... apa yang sebenarnya ingin kalian lakukan?!"
"Kalau Uskup Agung yang turun tangan, dosa apa pun bisa diubah menjadi pengampunan. Tak peduli sekeras apa seorang wanita berteriak, suaranya takkan pernah sampai ke pihak yang berwenang."
(Sebenarnya sudah separah apa kebusukan Uskup Agung Burdog ini...!)
Penculikan wanita. Transaksi gelap di fasilitas bawah tanah. Pemeliharaan goblin secara ilegal. Semakin dalam menyelidikinya, semakin tak berujung pula sisi gelap Burdog.
(Menutupi berbagai kasus... Aku harus mendapatkan bukti dengan alat sihir perekam, lalu membawa dia beserta kelompoknya ke pengadilan inkuisisi...)
Namun sementara ia masih berpikir demikian, bayangan Jilbe semakin mendekat. Saat tangan pria itu mulai terulur, Erina menahan napas.
"Awalnya akan kulakukan dengan lembut... kau beruntung yang mendapat giliran pertama adalah aku, Liena."
Jilbe duduk di atas kedua paha Erina sambil menghalangi gerakannya, lalu mengulurkan tangan ke tubuhnya.
"Ja... jangan... jangan...!"
"Hahahahahaha!!"
Namun karena kedua tangannya terbelenggu, Erina tidak mampu merapikan ataupun mempertahankan pakaiannya.
Jilbe mencengkeram kasar bagian kerah gaunnya, lalu menariknya kuat-kuat ke arah berlawanan.
Brrak! Suara kain robek bergema di ruangan.
Dari balik sobekan itu tampak kulit putih bak porselen milik seorang wanita yang selama ini menjaga kesuciannya sebagai rohaniawan.
Kain tipis yang menutupi bagian dadanya nyaris tidak mampu lagi menyembunyikan lekuk tubuhnya.
"Wanita cantik memang selalu punya selera pakaian dalam yang bagus... akhir-akhir ini aku mulai menyadarinya... slurp..."
"...Uuuh..."
Sambil berkata demikian, Jilbe mulai menjilat bagian perut Erina.
Tubuh Erina bergetar seolah menolak sentuhan itu. Semakin ia bertekad untuk bertahan, rasa takut dan penghinaan semakin mencengkeram seluruh tubuhnya.
"Tak perlu setakut itu, kan? Bukankah sudah kubilang aku akan bersikap lembut."
Sambil berkata demikian, Jilbe melepaskan pakaiannya hingga tubuh bagian atasnya telanjang.
Akhirnya, tangan Jilbe mulai mendekati dada Erina.
(Tidak... jangan... Aku benar-benar... akan diperlakukan seperti ini oleh sampah seperti dia... Kalau memang harus begini, lebih baik Shuu-sama saja yang... ...eh? Kenapa aku justru memikirkan Shuu-sama saat seperti ini...?)
Kulit lembut yang belum pernah disentuh siapa pun itu kini terancam ternodai untuk pertama kalinya.
Erina mengepalkan kedua tangannya erat-erat, mempersiapkan diri menghadapi apa yang akan terjadi.
Tepat pada saat itu.
"────Hm?"
Pintu kamar yang sejak tadi tertutup rapat...
Entah mengapa kini terbuka sedikit, membiarkan cahaya dari lorong masuk ke dalam.
"Liena... sekarang biarkan aku melihat dadamu yang indah itu──"
Namun tangan Jilbe tak pernah mencapai tubuh Erina.
Tok. Bersamaan dengan bunyi pelan itu, sebuah benturan menghantam tengkuk Jilbe.
Tubuhnya langsung terkulai seperti boneka yang talinya diputus, lalu roboh ke atas ranjang. Matanya terbalik, dan ia benar-benar kehilangan kesadaran.
"Eh... e-eh..."
"Erina... aku datang... untuk menyelamatkanmu... Aku... Medina...!"
"Medina-sama!!"
Belum pernah seumur hidupnya Erina merasa begitu lega seperti saat itu. Rasa syukur yang meluap membuat air mata mengalir dari sudut matanya.
Air mata itu menjadi bukti bahwa ia telah terbebas dari rasa takut dan akhirnya merasakan kehangatan pertolongan.
Keberadaan yang samar itu perlahan menjadi jelas saat Medina melepaskan efek skill 〈Stealth〉.
Ia mengambil kunci dari saku Jilbe yang tergeletak di ranjang, lalu dengan cekatan melepaskan borgol Erina.
"Medina-sama... terima kasih banyak... Aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu."
"A-aku tidak melakukan sesuatu yang istimewa... Tapi sekarang keadaan darurat! Di luar, Glen-sama dan yang lainnya sedang bertarung melawan iblis! Mereka sedang menunggu kepulanganmu!"
"Iblis!? Glen dan yang lainnya!?"
Wajah Erina langsung berubah pucat mendengar laporan Medina.
"Ah! Medina-sama! Bisakah kau memotong tirai itu!?"
"Y-ya!"
Medina segera memahami maksudnya. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan pisau yang dahulu dirampas dari para bandit.
Bilahan pisau membelah udara, dan kain tirai yang tebal pun terpotong rapi.
Erina mengambil kain itu dan membalutkannya dengan cekatan ke tubuhnya.
Gaun darurat itu memang jauh dari indah, tetapi cukup untuk menggantikan pakaian yang telah robek dan menjaga martabatnya.
"Medina-sama, ayo kita pergi!"
"Ya!"
Setelah memastikan Jilbe benar-benar terikat, mereka berdua segera berlari keluar dari ruangan.
Namun tujuan Erina bukanlah pintu keluar.
"Medina-sama! Aku tahu nyawa Glen dan yang lainnya sedang dalam bahaya! Tapi sebelum itu, ada satu hal yang harus dilakukan!"
Sambil berlari, Erina melepas sebuah alat kecil menyerupai anting yang terpasang di telinga kirinya, lalu menyerahkannya kepada Medina.
"Ini...?"
"Ini adalah alat sihir perekam. Tolong... Kau lebih mampu daripada aku. Aku ingin kau menyusup ke kamar Uskup Agung Burdog dan merekam semua buktinya!"
"...Baik."
Medina sempat ragu.
Di medan pertempuran, Glen dan Iris sedang berada dalam bahaya. Jika terjadi sesuatu sekarang, ia mungkin akan kehilangan Iris...
Dan jika itu terjadi, ia akan menyalahkan dirinya sendiri seumur hidup. Namun pada akhirnya, Medina tetap memilih memenuhi permintaan Erina.
Alasannya hanya satu.
Jika mereka gagal membawa pulang bukti kali ini, setelah keamanan diperketat mungkin mereka tidak akan pernah mendapat kesempatan menyusup lagi.
Dengan adanya pertempuran di jalan dan Jilbe yang telah dilumpuhkan, hanya tinggal menunggu waktu sebelum seluruh penghuni rumah menyadari keadaan itu.
Kalau ingin bertindak, sekaranglah saatnya.
Shuu-sama pasti juga akan melakukan hal yang sama.
Keduanya pun berlari menyusuri lorong rumah besar itu dengan cepat namun tetap tanpa suara.
Untungnya, seluruh pelayan sedang berada di ruang pesta sehingga lorong-lorong tampak kosong.
Akhirnya mereka tiba di lantai paling atas, di depan sebuah pintu yang paling besar dan paling mewah di seluruh kediaman.
"Medina-sama... kemungkinan besar..."
"Y-ya..."
Medina menggenggam erat alat sihir perekam itu, lalu mengaktifkan 〈Stealth〉.
Dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara, ia membuka pintu perlahan dan menyelinap masuk.
◇◇◇
"Hehehe... Untungku benar-benar terus mengalir..."
Duduk santai di kursi mewah bersandaran tinggi di ruang kerjanya adalah Uskup Agung Undil Burdog.
Melihat angka-angka di buku pembukuan, senyum tak bisa disembunyikan dari wajahnya.
Rambut merah panjangnya bergoyang pelan diterpa cahaya bulan yang masuk melalui jendela.
"Kalau ingin mencapai kedudukan Kardinal, aku masih membutuhkan lebih banyak prestasi... Untuk itu, uang dan dukungan Kekaisaran mutlak diperlukan. Kalau tak bisa menggunakan umat secara terang-terangan, mau tak mau aku harus mengandalkan pihak luar."
Ia menyeruput teh dari cangkirnya dengan tenang, lalu menghela napas. Setelah itu ia bangkit dari kursinya dan berpindah duduk ke sofa.
"Gua goblin memang sudah dihancurkan, tapi kalau mau membuatnya lagi, bisa kapan saja. Bisnis bawah tanah pun berjalan sangat lancar... Para rekan kerjaku pasti sedang menikmati waktu mereka bersama para wanita malang malam ini..."
Dengan senyum tipis, ia membaringkan tubuhnya di sofa seolah menjadikannya tempat tidur.
"Meski aku seorang Uskup Agung, pekerjaan tetap terlalu banyak... Ingin rasanya beristirahat sebentar, tapi sekarang bukan waktunya bermalas-malasan... Oh ya, katanya klinik yang sering bekerja sama denganku baru menerima seorang pendatang baru yang luar biasa... Kalau ada waktu nanti, mungkin aku akan mampir lagi..."
Tak lama setelah mengucapkan kata-kata itu, Burdog memejamkan mata karena kelelahan dan tertidur di atas sofa.
"────"
Tak ada langkah kaki.
Tak ada suara napas.
Tak ada bunyi apa pun.
Namun malam itu...seseorang benar-benar berada di ruangan tersebut.
Sebuah buku pembukuan diam-diam menghilang dari ruang kerja Burdog.
Dan melalui sebuah alat sihir perekam, suara serta seluruh pengakuannya berhasil direkam dengan jelas.
◇◇◇
"Mantra penyembuhanku sudah tak mampu mengejar luka mereka...!"
Glen, Rishia, dan Garo telah dipenuhi luka dari kepala hingga kaki, tubuh mereka berlumuran darah dan keringat.
Iris terus-menerus memberikan sihir penyembuhan, tetapi serangan bertubi-tubi Dorothea terlalu luar biasa sehingga semua itu hampir tidak berarti.
"Kurasa sandiwara ini sudah cukup."
Sebaliknya, Dorothea sama sekali tidak mengalami luka sedikit pun.
Setiap langkahnya menekan keempat lawannya dengan kekuatan dan kecepatan yang luar biasa. Seluruh medan pertempuran seakan berada di bawah kendalinya.
"Dorothea... sebenarnya... levelmu berapa...?!"
Perbedaan kekuatan mereka begitu besar hingga tak seorang pun merasa memiliki peluang menang. Bahkan petualang peringkat A pun mungkin tak akan mampu menghadapinya.
Meski merasa jawabannya mustahil, Glen tetap bertanya.
"Bagaimanapun juga kalian semua akan mati di sini... jadi tak ada salahnya kuberitahu. Levelku... 59."
"L-lima puluh sembilan...?"
"Hampir dua kali lipat dari kami... Aku bahkan belum pernah mendengar angka setinggi itu."
Angka yang diucapkan Dorothea benar-benar di luar nalar.
Seluruh anggota Silver Blade menjadi pucat. Level mereka bahkan belum mencapai tiga puluh.
Perbedaannya benar-benar membuat putus asa.
Namun, di antara mereka ada satu orang yang diam-diam merasa sedikit lega. Ia tidak mengatakannya, tetapi rasa lega itu memang ada.
"Hehe... untuk ukuran manusia, kalian sudah lumayan. Tapi bagaimana kalau satu saja dari kalian tak bisa bergerak? Bukankah seluruh keadaan akan langsung runtuh?"
Dorothea tersenyum penuh percaya diri sambil melontarkan kata-kata yang mengancam.
"Apa maksudmu──"
Saat Glen hendak bereaksi, Iris berteriak panik.
"S-semua! Cepat menjauh dari sana!!"
Tatapan Iris membeku. Ia merasakan aura sihir jahat yang sama seperti yang pernah ia rasakan di fasilitas bawah tanah.
Namun peringatannya sudah terlambat.
"──〈Kutukan Noda Nafsu〉."
Dorothea mengangkat tangan kanannya.
Nama kutukan itu bergema pelan di dalam kegelapan. Sasarannya adalah tempat Rishia berdiri sambil memegang tongkatnya.
"Apa──"
"Kutukan itu──"
Begitu mendengar nama kutukan yang pernah dijelaskan Iris, Glen dan Garo langsung menoleh ke arah Rishia.
"Rishia!!"
"────"
Namun yang berteriak bukanlah salah satu dari mereka.
Tiba-tiba tubuh Rishia terdorong oleh kekuatan tak terlihat dan terlempar ke jalan.
Orang yang mendorongnya adalah──
"E-Erina...?"
Suara lirih terdengar.
Erina yang seharusnya masih berada di dalam rumah kini telah kembali. Namun sesaat setelah kembali, sesuatu terjadi padanya.
Ekspresinya berubah kosong seolah akal sehatnya dirampas, sementara tubuhnya mulai dilahap kutukan.
"...Ugh... tubuhku... panas...!"
"Erina-sama!!"
Iris segera berlari menghampiri Erina. Karena pernah mengalami kejadian serupa, Iris tahu betul betapa berbahayanya keadaan itu.
Karena itulah──
"Medina-sama!"
"Guh... uh..."
Tiba-tiba sesuatu yang tak terlihat menghantam tengkuk Erina. Ia langsung kehilangan kesadaran.
"Jadi ada yang ikut campur, ya...? Tapi tetap saja, satu orang sudah tak bisa bertarung. Kalian sudah tamat."
Dorothea mengangkat cakarnya yang berkilau lalu berjalan menuju Erina dan Iris dengan langkah penuh keyakinan.
Namun mata Iris tetap jernih. Tak ada sedikit pun tanda menyerah.
"──Benar. Mari kita akhiri semuanya."
Sambil berkata demikian, Iris perlahan berdiri dan mengangkat tongkat sucinya.
"Semuanya, tutup mata kalian! ──〈Shine Mist〉!"
Begitu mantra selesai diucapkan, cahaya yang sangat menyilaukan meledak ke segala arah. Jalanan yang gelap seketika berubah lebih terang daripada siang hari.
"Gh──!"
Dorothea terkena cahaya itu secara langsung. Ia memejamkan mata dan memalingkan wajahnya. Penglihatannya lenyap sementara akibat cahaya tersebut.
"Kalian pikir bisa kabur hanya dengan cara seperti ini?!"
Namun Dorothea bukan lawan yang mudah dihentikan hanya dengan kilatan cahaya. Ia langsung menerjang ke arah Iris sambil mengayunkan cakarnya.
Saat itulah sebuah dinding tembus pandang tiba-tiba muncul.
Cakarnya menghantam dinding tersebut, menghasilkan dentang keras seperti logam.
"Menyebalkan sekali...!!"
Ia terus menghantamnya berkali-kali. Beberapa detik kemudian, dinding itu akhirnya hancur.
Saat kabut cahaya menghilang dan pandangannya kembali normal...tak ada seorang pun yang tersisa di sana.
Kereta kuda yang sebelumnya berada di tepi halaman kediaman pun telah menghilang.
"Sial... aku terlalu banyak bermain-main... Sudahlah. Mereka bisa kubunuh kapan saja. Lain kali aku tak akan mengampuni mereka..."
Dorothea menahan amarahnya dan hendak pergi ke dalam kegelapan. Namun saat itu ia merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya.
"────Apa?"
Ujung kelima cakarnya di tangan kanan perlahan berubah menjadi ungu. Lalu mulai meleleh seperti lilin yang dipanaskan.
"Gh──Hah!"
Dengan panik Dorothea menggunakan cakar tangan kirinya untuk memotong habis seluruh cakar tangan kanannya.
Cakar-cakar yang terpotong itu langsung meleleh tanpa meninggalkan bekas.
"Cakarku...!! Bajingan-bajingan itu... Aku pasti akan membunuh mereka...!!"
Kalau bukan karena kabut cahaya dan dinding pelindung tadi, hal seperti ini tidak mungkin terjadi.
Tanpa disadarinya, Dorothea ternyata telah terkena serangan yang tak kasatmata.
Sambil melontarkan raungan penuh amarah dan penyesalan, ia pun menghilang ke dalam kegelapan malam.



Post a Comment