Penerjemah: Flykitty
Proffreader: Flykitty
Chapter 6
Kebangkitan Seira
"Fuguh!? Nngh!? Higuuh!?♡"
Hari ini adalah hari ketiga sejak dimulainya ritual pelepasan kutukan pada Seira—dengan kata lain, hari terakhir.
Sejak kejadian itu, Dorothea tidak pernah lagi menyerang. Kedamaian terus berlanjut.
Namun justru itulah yang terasa mengerikan. Kami tidak boleh lengah.
Di hadapanku, Seira, sama seperti dua hari sebelumnya, dengan wajah dipenuhi rasa malu memperlihatkan tubuh bagian bawahnya dan menerima perlakuan dariku.
Dibandingkan saat pertama kali, reaksinya kini jauh lebih sensitif. Tubuhnya gemetar di antara rasa malu dan kenikmatan, dan setiap kali jariku bergerak, tubuhnya tersentak.
"Ah!? ...!? Fuguh, fuguhh!?♡"
Meski begitu, sikap Seira tidak berubah sejak awal. Dengan wajah semerah tomat, ia tetap menatapku dengan mata berkaca-kaca sambil berkata seolah memaksaku,
"Ha... hari ini!? ... cepat selesaikan...!? Hiuuu!?♡"
Dalam posisi merangkak, Seira terus bertahan mati-matian.
Tubuhnya bergetar hebat, napasnya semakin pendek, dan saat getaran dari dalam tubuhnya mulai terasa jelas—aku sadar semuanya akan segera berakhir.
"Ah!? Ini... guh, a-akan...!? Nhooo...!?♡"
Suara erangan yang rasanya tidak pantas keluar dari mulut manusia menggema memenuhi ruangan, dan pada akhirnya seprai tempat tidur pun basah oleh cairan tubuhnya.
"...Guh... Hnn... ...♡"
Setelah beberapa saat cairan bening terus menyembur dari tubuh bagian bawahnya, tenaga Seira akhirnya benar-benar habis, dan ia roboh ke atas ranjang.
"...Pelepasan kutukannya... selesai... ya."
Tiga hari melakukan pelepasan kutukan—bukan, latihan khusus pada bagian belakangnya.
Bukan hanya Seira yang kelelahan, aku pun sama.
Dengan tubuh yang benar-benar lemas, aku menenggak habis ramuan pemulih sihir yang ada di dekatku, lalu mencuci tanganku berkali-kali dengan air hingga bersih untuk menghilangkan aroma tubuh Seira yang masih melekat.
Belasan menit kemudian.
Di atas tempat tidur, Seira perlahan membuka matanya dan menatapku dengan pandangan yang masih kosong.
"...Sudah selesai?"
"Ya. Seharusnya kutukannya sudah benar-benar hilang. Bagaimana kondisi tubuhmu?"
Seira bangkit perlahan, lalu menyentuh lengan dan perutnya sambil memeriksa keadaan tubuhnya dengan hati-hati.
Ia mengepalkan dan membuka telapak tangannya, memutar bahunya perlahan.
Kemudian ia turun dari tempat tidur, menarik napas panjang, meregangkan seluruh tubuh, lalu menggerakkan sendi-sendinya untuk memastikan tubuhnya bisa bergerak normal.
"Guh... ugh..."
"H-Hey!"
Tiba-tiba lutut Seira lemas hingga ia terduduk di lantai.
Kulihat ia mengusap bagian bokongnya.
"Ja... jangan khawatir... hanya sebesar ini... aku masih..."
Sepertinya pemulihannya berjalan lancar. Meski begitu, rupanya sensasi dari ritual tadi masih tertinggal.
"...Perasaan tenaga yang terus tersedot dari tubuhku... sudah tidak ada lagi."
"Jadi selama ini sihir dan staminamu memang terus-menerus dihisap, ya."
Aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya.
Namun memikirkan bahwa ia telah bertahan dalam kondisi seperti itu selama ini membuatku benar-benar menghormatinya.
"E-Eh, tunggu... oi!"
Detik berikutnya, Seira mengambil pedang ksatria yang bersandar di dinding dan langsung mengarahkannya kepadaku.
Aku benar-benar berharap ia sedikit lebih lembut terhadap tubuhnya sendiri.
"—Haaah! Hiaa! Hmph!!"
"Wah!? Hei, bodoh! Nanti kena aku!!"
Suara pedang membelah angin menggema di dalam ruangan.
Setiap kali mata pedang melintas di depan hidungku, embusan angin dingin menyapu kulitku. Kalau saja ada sedikit kesalahan, nyawaku pasti sudah melayang.
"...Kekuatanku... kembali. Pedangku... bergerak persis seperti yang kuinginkan...!"
"Hei, tenang dulu."
Seira terus mengayunkan pedangnya dengan penuh tenaga, tetapi tiba-tiba ia melepaskannya dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya bergetar pelan.
"...Uuh... aku... bisa bertarung lagi... Aku... tidak perlu menyerah pada hidupku sebagai Ksatria Kuil... lagi..."
"...Syukurlah."
Aku menopang bahunya yang runtuh perlahan.
Air mata yang mengalir di pipinya seakan memperlihatkan harapan akan masa depannya.
"...Namamu Shuu, bukan?"
"Akhirnya kau memanggilku dengan namaku juga."
Setelah beberapa saat, Seira kembali tenang.
Wajahnya sudah tampak sehat, dan aura tegasnya sebagai seorang ksatria pun kembali.
Aroma teh yang ia seduh memenuhi seluruh ruangan.
"...Aku memang menerima pelepasan kutukan darimu, tetapi bukan berarti sejak awal aku benar-benar mempercayaimu."
"Yah, itu memang wajar sih."
"Tapi... kau benar-benar telah menghilangkan kutukanku. Karena itu... terima kasih."
Sambil berkata demikian, Seira merapikan posturnya lalu membungkuk dalam-dalam.
Melihat itu, untuk pertama kalinya aku merasa benar-benar diakui olehnya.
"Ya. Jangan lupa laporkan juga pada orang tua itu."
"Tentu saja."
Sesaat kemudian, ia memperlihatkan senyum tipis.
Senyumnya memang kaku, tetapi entah mengapa menghangatkan dadaku.
Mungkin akhir-akhir ini ia memang jarang tersenyum. Namun justru itulah yang terasa sangat khas dirinya.
"—Sekarang, kau pasti punya sesuatu yang ingin dibicarakan, bukan?"
Nada bicaranya langsung menuju inti persoalan.
Rupanya ia masih mengingat apa yang kukatakan sebelum ritual pelepasan kutukan dimulai.
"Ya. Tapi mungkin cerita ini akan sulit dipercaya oleh seorang Ksatria Kuil sepertimu. Meski begitu, semuanya adalah kebenaran. Tolong dengarkan."
Aku menceritakan semua yang telah kualami, kegelapan yang bersembunyi di balik kota ini, serta semua kejahatan yang dilakukan Burdog, tanpa menyembunyikan sedikit pun.
"......"
Semakin banyak yang kuceritakan, wajah Seira semakin menegang, lalu berubah menjadi kemarahan.
Orang yang percaya pada keadilan memang tidak bisa memaafkan kejahatan.
"—Jika semua ucapanmu benar, maka aku tidak bisa membiarkannya. Kau juga bilang memiliki barang bukti, bukan?"
"Ya. Karena itu..."
"Besok, setelah aku kembali ke kesatuanku, aku sendiri yang akan melaporkannya."
"Seira...!"
Aku sama sekali tidak menyangka ia akan langsung mengambil keputusan secepat itu. Wajahku spontan berseri, tetapi kemudian muncul kekhawatiran.
"Tapi... bukankah besok terlalu cepat? Tubuhmu belum pulih sepenuhnya, kan?"
"Tidak. Justru sekarang aku ingin segera menggenggam pedang lagi. Aku sudah tidak sabar ingin memurnikan para penyimpang."
"Kalau memang kau bilang tidak apa-apa. Tapi beri tahu orang tua itu lebih dulu."
"Tentu saja."
Lalu akhirnya—aku mengungkapkan rahasia yang selama ini kusimpan.
"...Ada satu hal yang harus kuminta maaf."
"Apa? Jangan-jangan karena kau telah mempermalukanku? Soal itu jangan kira aku sudah memaafkanmu!"
Dengan wajah merah padam, Seira mulai mengatakan sesuatu, tetapi aku buru-buru menghentikannya.
"Bukan, bukan. Sebenarnya... aku bukan anggota resmi Gereja. Aku bekerja di klinik hanya untuk menyelidiki informasi tentang Burdog."
"...Begitu ya. Lanjutkan."
"Jadi, mulai hari ini aku berhenti dari klinik. Identitasku terdaftar sebagai petualang. Pekerjaanku adalah Priest."
"...Sepertinya kau harus menjalani pengadilan sesat."
Seira mengatakannya dengan wajah serius.
"—Bercanda."
"Jangan bercanda dengan wajah seserius itu..."
Sambil mengangkat bahu, Seira menyesap tehnya lalu berkata pelan,
"...Jadi kau mengobatiku demi mengumpulkan informasi?"
"Tidak. Kebetulan saja orang tua itu datang ke klinik, dan aku melihat berkas medis milikmu."
"Kalau begitu, kau memang terlalu baik. Aku adalah orang Gereja. Karena itu aku memang tidak menyukai para petualang yang kasar. Tapi... Shuu. Kau berbeda."
Perkataannya membuat dadaku terasa hangat.
"Tindakanmu tidak pernah palsu. Jadi hanya karena satu kebohongan kecil, aku tidak akan membencimu."
"...Syukurlah. Menipu orang memang bukan sifatku."
"Ya. Aku memang sudah menduganya."
Suasana damai memenuhi ruangan.
Aku berdiri dari kursi dan berjalan menuju pintu. Seira juga ikut berdiri dan mengantarku sampai ke depan pintu.
"...Shuu. Terima kasih telah menyelamatkan nyawaku."
"Jaga baik-baik nyawamu."
"Hmph. Memangnya kau pikir aku ini siapa?"
Wajahnya kini sudah bukan lagi wajah wanita yang dirasuki kutukan.
Di dalam matanya kini bersinar kebanggaan sebagai Ksatria Kuil dan tekad untuk kembali melangkah.
Akhirnya, Seira yang sesungguhnya telah kembali.
◇◇◇
"Hm? Kau...?"
Begitu keluar dari rumah Seira, sesosok pria bertubuh besar muncul tepat di depanku.
"Ah... Paman."
"Kau baru saja menemui Seira?"
"Ya. Tidak ada hubungannya dengan klinik. Ada urusan pribadi sih."
Pria berwajah babi—bagi Seira, sosok yang seperti ayah angkatnya.
Kupikir-pikir lagi, memang aku belum pernah memberitahunya kalau aku sering datang ke sini.
"Bagaimana keadaan Seira?"
"...Penyakitnya... tidak, kutukannya sudah berhasil kuhilangkan. Dia sudah sembuh."
".....!"
Mendengar itu, mata pria tersebut membelalak. Bahu besarnya bergetar pelan, sementara kepalan tangannya mengepal erat.
"Dia pasti ingin bertemu denganmu. Cepatlah masuk."
"Namamu Shuu... ya."
"Iya."
"...Terima kasih."
Untuk sesaat saja, wajahnya yang seperti babi itu tampak melunak.
Ekspresinya terlihat begitu manusiawi dan tenang—atau mungkin memang sebenarnya wajahnya memang seperti itu.
Aku mengembuskan napas pelan lalu berbalik.
"—Tunggu. Boleh aku tahu nama lengkapmu?"
Aku berhenti melangkah.
"Namaku Shu Mireister. Seorang Priest mesum yang dibesarkan oleh kakek tua brengsek dan nenek tua brengsek di Hutan Iblis."
Meninggalkan kalimat penutup yang sama sekali tidak keren itu, aku pun berpisah dengan pria berwajah babi tersebut.
◇◇◇
"—Seira."
"Paman Babi...!"
Begitu pintu terbuka, Seira langsung berlari dan memeluk tubuh besar itu sambil rambut biru mudanya berkibar.
Satu-satunya orang di dunia ini tempat ia bisa bersandar.
Meski tidak memiliki hubungan darah, pria itu adalah sosok ayah yang terikat dengannya melalui hati.
Dialah Alaistar.
"Kau... sudah sembuh."
"Ya... benar..."
Padahal beberapa saat yang lalu ia sudah menangis. Namun kini air mata baru kembali mengalir. Air mata yang akhirnya bisa ia tumpahkan dari lubuk hatinya.
"Dia... Shuu... yang menyembuhkanku..."
"Barusan aku bertemu dengannya di luar. Seira... kau sudah berjuang dengan sangat baik."
"Uuh... kuh... uh..."
Seira tetap memeluknya erat sambil menangis seperti anak kecil. Namun sebelum sempat mengusap air matanya, masih ada sesuatu yang harus ia sampaikan.
"Paman Babi... ada yang harus kubicarakan. Ada sesuatu yang benar-benar harus kusampaikan..."
"Ya. Aku sudah tahu. Soal Burdog, bukan?"
"...Bagaimana kau bisa tahu?"
"Kemarin aku bertemu Guild Master."
"Teman seperjuanganmu di masa lalu...?"
"Ya. Di sana aku juga sedikit mendengar tentang Shuu."
"Begitu rupanya..."
Setelah Seira kembali tenang, Alaistar bertanya dengan suara lembut.
"Kau sudah bisa bergerak? Baru saja sembuh, kan. Jangan memaksakan diri... meski kurasa percuma mengatakan itu kepadamu."
"Seperti biasa, Paman Babi benar-benar mengenal sifatku. Mulai besok aku akan kembali bertugas."
Begitu mengambil keputusan, Seira memang selalu langsung bertindak. Bukan semata karena rasa tanggung jawab, tetapi juga karena memang ia menyukai bergerak.
"—Kemarin aku sudah menghubungi cabang Hares. Informasi juga sudah dibagikan. Surat kepada Yang Mulia Paus juga telah kukirim. Aku sudah berkoordinasi dengan wakil komandan, dan hari pelaksanaan operasi pemurnian telah ditentukan."
"...Jangan-jangan."
"Operasi akan dilaksanakan tiga hari lagi. Burdog akan ditangkap sebagai penyimpang, dan seluruh fasilitas miliknya di Hares akan disita secara bersamaan."
"—Seperti yang kuduga dari Paman Babi."
Mendengar itu, Alaistar hanya mengangkat sedikit sudut bibirnya.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, keduanya duduk berdampingan, mengobrol tentang hal-hal sepele hingga matahari benar-benar tenggelam.



Post a Comment