NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 10 Chapter 4

Chapter 4

Perubahan Drastis


Hari menjelang akhir musim semi.

Di dalam studio pemotretan milik sebuah perusahaan penerbitan berlantai enam di Tokyo, suara penuh semangat dari seorang fotografer bergema ke seluruh ruangan.

"Wah, bagus sekali, Haruki-chan. Ya, bagus, luar biasa! Eh, Mari-chan, bisa tolong lebih mendekat ke Haruki-chan dengan senyuman cerah seolah menyambut musim panas?"

"B-Baik!"

Mari menjawab fotografer itu dengan suara kaku. Berdiri berdampingan di depan kamera, Haruki dan Mari mengenakan pakaian manis dan menyegarkan yang terkesan seperti di tepi perairan.

Pemotretan ini dilakukan untuk majalah khusus target remaja putri SMP dan SMA yang akan menampilkan rubrik khusus mereka.

Sesi foto individu yang mendetail telah usai, dan yang tersisa hanyalah foto sampul utama yang menampilkan mereka berdua.

Namun, meskipun sudah mengambil beberapa jepretan sejak tadi, tampaknya sang fotografer belum mendapatkan hasil yang memuaskan.

Tidak ada arahan khusus yang diberikan kepada Haruki, tetapi banyak catatan dan permintaan yang ditujukan kepada Mari. Sadar akan hal itu, kecemasan tampak jelas terpancar di wajah Mari.

Jika dibiarkan seperti ini, situasinya bisa semakin memburuk.

Ditambah lagi, mereka tidak memiliki banyak waktu.

Berpikir demikian, Haruki mengangkat satu tangannya untuk menghentikan sementara pemotretan, lalu menegur sang fotografer.

"Bisa minta waktunya sebentar?"

"Haruki-chan, ada apa?"

"Tema kali ini adalah 'Kita di Tepi Air', kan?"

"Ya, betul sekali. Beberapa hasil fotonya sudah cukup bagus, tapi aku merasa kita bisa mendapatkan yang lebih baik lagi, jadi aku agak pemilih..."

Fotografer itu tersenyum masam sambil meminta maaf. Haruki meletakkan tangan di dagunya sejenak untuk berpikir, lalu tersenyum manis dan memberikan sebuah usulan.

"Aku terpikir sesuatu, bagaimana kalau kita memasukkan sedikit elemen cerita ke dalam foto ini? Misalnya, datang bersama Mari-chan untuk melihat air terjun yang megah, atau datang mencari ikan karena dengar ada ikan yang indah di sini, hal seperti itu."

"Ho... Menarik juga. Mari kita coba."

Fotografer tersebut tampak antusias, dan staf lainnya turut mengangguk setuju.

Setelah memastikan usulannya diterima, Haruki menoleh dan melemparkan senyuman penuh tantangan kepada Mari.

"Ayo kita mulai, ikuti aku ya."

"Tunggu—"

Sebelum Mari sempat memprotes, Haruki mengubah atmosfer di sekelilingnya dalam sekejap—menampilkan senyuman cerah penuh antisipasi. Melihat itu, Mari menahan napasnya. Di dalam mata Mari yang membelalak, terpantul sosok seorang gadis yang datang bermain ke sungai kecil bersama sahabat sejati yang tak tergantikan.

Saat Haruki menunjuk ke suatu arah dengan ekspresi antusias dan mengamati sekitarnya dengan penuh rasa ingin tahu, siapa pun pasti akan berhalusinasi melihat aliran sungai di tengah pegunungan.

Ketika Mari yang berada tepat di sampingnya langsung mengikuti dan menampilkan senyuman polos bersama Haruki, seketika itu pula bayangan air terjun yang megah atau ikan yang berenang di sungai terlintas jelas di mata.

Semua orang terpaku menatap Haruki dan Mari, terpesona hingga tak percaya.

Tepat pada saat seekor ikan besar yang berenang di sungai melompat dan cipratan airnya seolah hampir mengenai mereka, sang fotografer seolah ditarik oleh sihir untuk mengabadikan momen tersebut.

Suara kliks bergema di dalam studio.

Mendengar suara itu, Haruki mengendurkan bahunya dan menghela napas lega.

"Fiuh, bagaimana hasilnya?"

"J-! Ah... bagus, ya. Hasil fotonya sangat bagus. Atau bisa dibilang, berhasil tertangkap dengan sempurna..."

"Syukurlah kalau begitu."

Haruki tersenyum manis kepada sang fotografer yang masih tampak terpana, lalu menepukkan kedua tangannya.

Para staf yang lain pun masih terlihat seperti kebingungan seolah baru saja disihir.

Sambil tersenyum masam, Haruki membungkuk sopan kepada mereka.

"Sesi pemotretannya sudah selesai, kan? Terima kasih banyak! Waktu kita sudah mendesak, jadi kami harus—nah, Mari-chan."

"T-! Ah, terima kasih banyak...!"

Atas dorongan Haruki, Mari buru-buru membungkukkan badan.

Haruki meninggalkan studio sambil melambaikan tangan diiringi senyuman riang, lalu menuju ruang ganti untuk berganti pakaian.

Sesampainya ia di ruang ganti yang terasa suram—hanya berisi lemari loker, beberapa kursi pipa, dan sebuah meja seadanya—ia langsung menghela napas panjang, "Haaah~."

Bersamaan dengan itu, Mari masuk ke dalam ruangan dengan ekspresi kesal dan bergumam dengan nada penuh penyesalan.

"Tadi makasih ya, Bibi."

"Siapa yang Bibi?!"

Haruki langsung menoleh tajam dengan tatapan jengkel.

Namun Mari melanjutkan kata-katanya dengan wajah tetap cemberut.

"Ya ampun, Bibi kan memang bibi. Kan adik ibu-ku."

"Hubungan keluarganya memang begitu sih. Tapi kalau didengar orang lain bisa gawat, jadi tolong hentikan panggilan itu di luar."

"Baiklah, Bu-Bibi."

"...Sialan."

Mari sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah atas peringatan Haruki, lalu melangkah menuju loker tempat ia menyimpan pakaian ganti miliknya.

Haruki tak kuasa menghela napas dalam-dalam. Ibu Mari dikabarkan adalah kakak tiri Haruki yang berbeda ibu. Selain itu, ia juga merupakan kakak kandung Seiji Sakurajima, manajer Momoka dan Airi. Singkatnya, Mari adalah keponakan Haruki.

Kendati demikian, usia mereka tidak terpaut jauh sehingga ia tidak dapat merasakan hubungan keluarga itu secara nyata.

Mengingat mereka adalah orang yang sebelumnya tidak saling kenal, ia memiliki kesan kuat bahwa Mari adalah rekan kerja yang lebih muda dan menyebalkan, dan sejujurnya gadis itu adalah sosok yang canggung serta sulit dihadapi.

Namun pada akhirnya, ia tetap membentuk tim dengan Mari karena kelihaian Seiji tidak bisa diabaikan.

Faktor lain yang mendasari adalah adanya preseden dekat seperti Momoka dan Airi.

Kenyataannya, keahlian Seiji memang terbukti nyata. Popularitas Haruki dan yang lainnya saat ini adalah buktinya.

Rupanya, Mari awalnya dijadwalkan untuk debut secara solo.

Mereka berencana menjualnya sebagai cucu dari aktor legendaris Kiyotatsu Sakurajima, namun reaksi dari berbagai pihak ternyata kurang begitu bagus. Di tengah situasi itulah Haruki muncul begitu saja.

Dari sudut pandang Mari, Haruki tampak seperti seseorang yang datang merebut tempatnya secara tiba-tiba. Ia sangat mengerti dan memaklumi jika Mari merasa tidak suka padanya.

Meskipun mereka sedang berada di situasi di mana mereka tidak bisa memilih jalan lain, Haruki sendiri tetap merasa bersalah karena telah menyerobot masuk. Oleh karena itu, ia berniat untuk bersikap lapang dada sejauh menyangkut Mari.

Terlebih lagi, meskipun Mari bersikap galak kepadanya, gadis itu bekerja dua kali lebih lipat lebih serius dalam hal pekerjaan.

Ia memiliki bakat dan tidak pernah berhenti berusaha.

Bahkan dalam pemotretan sampul majalah tadi, Mari mampu langsung merespons improvisasi Haruki seketika itu juga.

Sejak terjun ke dunia hiburan, sangat jarang ia menemukan orang seperti Mari yang tidak hanya tidak tenggelam dalam akting Haruki, tetapi juga mampu membalasnya. Terlebih lagi, Mari terkadang menunjukkan akting yang membuat bulu kuduk Haruki merinding.

Ketegangan bagaikan bilah pedang yang terhunus, pertarungan sungguhan yang tidak boleh lengah sedetik pun. Sejujurnya, interaksi semacam itu dengan Mari terasa sangat menyenangkan, dan meskipun ia merasa tindakannya sedikit jahil, ia tidak bisa menghentikannya.

Selain itu, melihat sang keponakan menyalakan jiwa kompetitif untuk melawannya dan terus meningkatkan kemampuannya membuat Haruki merasa gemas, meskipun ia memandangnya dari posisi yang lebih tinggi. Sambil tersenyum kecil, Haruki membuka lokernya untuk berganti pakaian—namun saat melihat kondisi di dalam loker tersebut, ia mengeluarkan suara kericuhan karena terkejut.

"Uwa..."

"Ada apa, Bibi?"

"...Ini."

Setelah ragu sejenak, Haruki berpikir bahwa memperlihatkan barang buktinya secara langsung akan lebih cepat, lalu ia mengeluarkan pakaian pribadinya yang telah dicabik-cabik menggunakan senjata tajam dari dalam loker dan menunjukkannya kepada Mari.

Melihat hal itu, wajah Mari langsung berkerut jijik dan ia berkata dengan nada mencibir.

"Hah, apa-an ini, tidak masuk akal! Ulah usil lagi?"

"Ya, sepertinya begitu. Keamanan di tempat ini benar-benar payah."

"Kuno banget, itu sih rasa iri. Kalau mau berbuat ulah, jangan sembunyi di belakang, hadapi langsung dong!"

"Kalau mereka punya keberanian sebesar itu, mereka tidak akan pakai cara pengecut begini."

"Aku tahu sih! Ahh, sungguh, menyebalkan banget!"

Melihat apa yang dialami Haruki, Mari meluapkan amarah seolah-olah itu terjadi pada dirinya sendiri.

Karena sifat seperti inilah Haruki tidak bisa membenci Mari meskipun gadis itu bersikap lancang padanya. Pada dasarnya, Mari adalah orang yang berhati lurus.

Banyak orang yang merasa terganggu dengan kemunculan Haruki yang tiba-tiba melesat bagai komet dan langsung meraih popularitas.

Sesi pemotretan sampul majalah hari ini pun diputuskan secara mendadak.

Itu berarti ada seseorang yang posisinya digantikan pada sampul majalah kali ini.

Insiden usil semacam ini sudah sering terjadi sejak ia memulai debutnya sebagai idol.

Haruki menghela napas pasrah lalu menenangkan Mari.

"Yah, kita anggap saja ini sebagai risiko dari kepopuleran."

"Tapi!"

"Bagi orang-orang seperti itu, kita cukup balas pukul mereka dengan menggunakan kemampuan kita. Bukannya begitu?"

"Itu... benar sih..."

Mari meredakan amarahnya dengan ekspresi enggan.

Melihat gadis itu, Haruki mengangkat bahunya dan berkata.

"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan pakaianku ya. Aku tidak mungkin pulang mengenakan kostum ini."

"Um, soal itu..."

"Ini...?"

Teringat sesuatu, Mari mengeluarkan sebuah kantong kertas dari dalam lokernya lalu menyerahkannya.

Ketika Haruki menerimanya dan bertanya maksudnya, Mari menjawab dengan cuek.

Keluarga Om—maksudku, manajer yang menyuruh membawanya."

"Kak—Seiji-san?"

"Iya, dia bilang situasi seperti ini mungkin saja terjadi, jadi dia menyuruhku untuk membawanya."

"Begitu ya."

Haruki menjawab dengan santai.

Ia tidak dapat memastikan apakah Seiji melakukannya karena mengkhawatirkan dirinya atau sekadar mengkhawatirkan produk berharganya.

Aku akan menyiapkan lingkungan di mana bakatmu bisa bersinar paling terang.

Mengingat kembali ucapan Seiji kepadanya saat itu, yah, sepertinya alasan keduanyalah yang benar. Hingga kini, Seiji terus mencarikan pekerjaan dengan penuh semangat lalu mengatur jadwalnya. Meskipun tampaknya ia menggunakan cara-cara yang cukup agresif.

Namun, hal itu juga merupakan permintaan dari pihak Haruki sendiri. Mereka saling memanfaatkan satu sama lain. Ia sudah tidak mengharapkan interaksi yang menghangatkan hati dari seorang kakak beradik di titik ini.

Yang terpenting, hal yang harus ia lakukan sekarang adalah meningkatkan popularitasnya.

Meraih popularitas, lalu memenangi kesempatan kolaborasi dengan Takura Mao melalui berbagai aktivitas seperti modeling dan lainnya.

Menjadi idol adalah sarana untuk bisa berada tepat di hadapan ibunya yang hanya bisa ia temui di lokasi kerja.

Berhasil mendapatkan pekerjaan pemotretan meskipun itu rubrik khusus merupakan pencapaian yang besar.

Ia pasti sudah selangkah lebih dekat dengan tujuannya.

Sambil berganti pakaian, Haruki menatap pakaian pribadinya yang telah dirobek-robek, lalu mengerutkan kening.

Menjadi anak Takura Mao saat ini adalah target perhatian yang empuk. Terlebih lagi jika ia mewarisi kemampuan dan bakat sang ibu secara maksimal.

Haruki di masa lalu pasti akan terombang-ambing oleh rasa penasaran dan niat buruk orang-orang di sekitarnya. Itulah sebabnya ibunya menyuruhnya untuk menjadi anak baik dan diam saja.

Namun, sekarang berbeda.

Ia memiliki banyak teman yang bisa dipercaya dan diandalkan. Ia juga memiliki seorang gadis yang merupakan sahabat sekaligus rivalnya.

Selain itu, ada seorang teman masa kecil yang telah menariknya keluar dari tempat gelap dan kini sangat ia cintai hingga tak tertolong lagi.

Keberadaan mereka menjadi poros yang kokoh di dalam dirinya.

Sejak debut, ia terus berlari tanpa menoleh ke belakang demi menggapai tujuannya.

Ia mengingat kembali kehidupannya di sekolah setelah naik ke kelas dua.

Reaksi orang-orang di sekitarnya benar-benar telah berubah.

Di kelas, orang-orang memperlakukannya dengan hati-hati secara berlebihan, memperlakukannya seolah-olah ia adalah benda rapuh yang berbahaya.

Siswa dari tingkat atau kelas lain terus-menerus berdatangan mengintip, membuatnya merasa seperti tontonan sirkus.

Dulu ia sengaja membuat tembok pembatas dengan orang lain agar tidak ada yang bisa masuk selangkah pun ke dunianya.

Namun kini, justru orang-orang di sekitarnya yang membangun tembok, meninggalkannya dalam keadaan terisolasi.

Ia sudah menduga hal ini akan terjadi dan telah mempersiapkan mentalnya sampai batas tertentu.

Namun, hanya bisa memandang dari kejauhan saat Hayato dan yang lainnya bersenang-senang bersama terasa begitu menyesakkan dan menyayat hati.

Meskipun berada di sekolah yang sama, Hayato terasa begitu jauh.

Meski begitu, fakta bahwa mereka masih bisa mengobrol seperti biasa melalui grup chat terasa begitu menggelikan.

Ia ingin segera kembali ke tempat mereka berada.

Menjelang Haruki selesai berganti pakaian, Mari menegurnya sambil memegang ponsel di tangannya.

"Paman bilang mobilnya akan segera berputar menjemput kita di depan."

"Huum, padahal orang itu sibuk sekali ya. Sepertinya kita langsung pindah ke jadwal berikutnya."

"Um... kalau untuk jadwal itu khusus Bibi saja ya."

"............"

Haruki terdiam kehabisan kata-kata dan memasang ekspresi samar.

Mari adalah rekan satu unit idolanya.

Namun, ada kalanya Haruki menerima pekerjaan solo seperti ini, dan hal itu secara nyata mencerminkan perbedaan popularitas di antara mereka.

Bagi Mari sendiri, perasaannya pasti rumit.

Meskipun ia berbicara seolah-olah itu bukan masalah besar, ekspresinya tampak kaku.

Pada akhirnya, Haruki meninggalkan ruang ganti dalam keheningan.

Begitu keluar ke lorong, orang-orang yang sedang bersiap-siap di studio lain tampak sibuk berlalu-lalang.

Namun, begitu Haruki muncul di area tersebut, mereka sesaat menghentikan kesibukan dan mengarahkan pandangan padanya.

Lalu mereka berbisik-bisik, "Eh, bukankah itu anak Takura Mao," "Pemotretan gravure?", "Sudah pasti karena koneksi orang tuanya." Isinya sama sekali bukan hal yang ramah.

Paku yang menonjol akan selalu dipukul, atau ibarat duri di dalam daging.

Banyak orang yang tidak menyukai kehadiran Haruki yang tiba-tiba muncul di dunia hiburan dan meraup popularitas.

Ia baru saja menjadi korban tindakan usil beberapa saat lalu.

Namun, Haruki sendiri melangkah dengan gagah berani tanpa menunjukkan sedikit pun rasa terganggu oleh tatapan atau bisikan mereka.

Tepat pada saat itu, seorang pria tiba-tiba muncul menghalangi jalan Haruki dan Mari.

"Yo, Haruki-chan. Kita ketemu lagi, masih ingat denganku?"

"Hah..."

Haruki mati-matian mempertahankan ekspresinya agar tidak terlihat jijik, lalu memberikan jawaban samar.

Mari tampak kebingungan tidak tahu harus berbuat apa, membuat Haruki melangkah maju selangkah untuk melindungi gadis itu di belakang punggungnya.

Ia mengamati pria di hadapannya. Berwajah tampan dengan rambut cokelat cerah, tampil modis namun terkesan kurang tulus, seorang pria tampan yang usianya sedikit di atas Haruki.

Ia ingat pernah berada di acara televisi yang sama dengan pria itu beberapa hari lalu.

Ia ingat sekilas bahwa pria itu adalah anggota dari grup idol pria tertentu, dan beberapa penggemarnya ada di kelasnya.

Ia tampaknya cukup terkenal, namun namanya tidak langsung terlintas di kepalanya. Bagi Haruki, pria itu hanya bernilai sebatas itu.

Haruki menyipitkan mata dan mengamatinya.

Di dalam matanya tidak terlihat rasa penasaran, ketertarikan, maupun nafsu, melainkan kilatan ambisi yang berkilat tajam.

"Sepertinya kamu sedang menghadapi banyak kesulitan ya. Bagaimana kalau kita istirahat sejenak? Ada kafe di dekat sini yang menyajikan kue enak. Kalau kamu meluapkan keluh kesahmu di sana, beban di pundakmu pasti akan berkurang."

Sambil terus berbicara akrab dengan Haruki, pria itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling pada orang-orang yang sedang memerhatikan mereka.

Haruki sedikit mengerutkan keningnya, memasang topeng senyuman di wajahnya sementara ia menghela napas dalam hatinya.

Tujuannya kemungkinan besar adalah untuk mendompleng popularitas Haruki atau mencari muka agar bisa mendapatkan koneksi.

Di saat ada orang yang membenci Haruki, tipe orang seperti ini juga sangat banyak.

Dan orang-orang yang mendekatinya dengan motif semacam itu cenderung bersikap memaksa dan gigih.

Lalu bagaimana cara kita keluar dari situasi ini...—sementara Haruki sedang menghitung langkah di dalam kepalanya, sesosok figur yang sangat ia kenal tiba-tiba menyela dan meraih tangannya.

"Maaf. Dia sudah punya janji lain."

"Eh, Kaidou!?"

Haruki membelalakkan matanya selebar-lebarannya, melontarkan seruan terkejut.

Ikki berdiri dengan ekspresi santai sambil tersenyum manis.

Menghadapi kemunculan Ikki yang tiba-tiba, pria itu tampak terkejut sekaligus curiga, sementara Mari mengerjap-ngerjapkan mata karena tidak memahami situasi.

Segera sadar kembali, pria itu tidak lagi mencoba menyembunyikan rasa tidak senangnya lalu mencengkeram bahu Ikki.

"Hei, siapa kamu. Wajah asing sekali? Sebagai manajer... bukankah kamu terlalu akrab dengan Haruki-chan?"

"Aku adalah teman sekolahnya. Aku juga diminta oleh yang lain untuk menjaganya agar tidak didekati oleh serangga pengganggu."

"Apa?!"

Pria itu tampak tersinggung mendengar sebutan 'serangga pengganggu' dari Ikki, wajahnya berkerut masam dengan jelas.

Wajar saja. Harga dirinya sebagai seorang pria pasti terpancing ketika tindakannya dihambat oleh sekadar teman sekelas dari seorang idol yang sedang berada di puncak popularitas.

Dengan wajah yang memerah padam, pria itu hendak mencengkeram Ikki, namun sebuah suara ceria terdengar dari samping.

Yam-hoo, Harupi!

"Kakak."

MOMO... eh, Kakak...!?

Menoleh ke arah sumber suara, tampak Momoka—kakak perempuan Ikki sekaligus model karismatik yang kecantikannya bahkan melampaui pesona Haruki—datang menghampiri sambil melambaikan tangan dengan ceria.

Tunggu sebentar, Momocchi Senpai!

Sungguh, anak itu tidak bisa tenang ya.

Menyusul di belakang Momoka adalah Airi Sato, sesama model populer, dan Houji Uu, aktris yang namanya sedang naik daun akhir-akhir ini.

Mereka semua adalah model dan aktris yang sangat digandrungi oleh para remaja putri seperti halnya Momoka.

Dan popularitas mereka jauh melampaui pria itu.

Pria itu pasti menyadari fakta tersebut. Kehadiran tiga orang wanita yang jauh lebih populer dari dirinya membuat ia terkejut hingga wajahnya menegang dan membeku di tempat.

Bahkan Mari menutup mulutnya karena tidak percaya, tampak kebingungan setengah mati.

Menghadapi pria itu, Ikki menyunggingkan senyuman segar dan menyapa.

"Salam kenal. Aku Ikki, adiknya MOMO. Aku adalah pendatang baru yang akan segera debut, jadi mohon bimbingannya, Senpai. Um, kalau boleh tahu nama Anda—"

"Eh, ah, aku..."

Tepat saat pria itu hendak menjawab dengan tertekan oleh kehadiran Ikki—atau lebih tepatnya kehadiran MOMO, Airi, dan Uu di belakangnya—Momoka tiba-tiba berseru lantang, "Ah!"

"Aku ingat! Bukankah orang ini si 'Pangeran Takdir'?"

"Pangeran Takdir?"

Ketika Ikki melontarkan pertanyaan karena bingung, Momoka berkata dengan nada terang-terangan menunjukkan rasa jijik.

"Dia ini, suka banget menggoda junior-junior kita. Rayuannya selalu sama, 'Jangan-jangan kamu adalah orang takdirku?'. Makanya dia dijuluki Pangeran Takdir. Benar kan, Airin?"

"Betul. Aku juga pernah mendengarnya dari anak-anak yang minta saran."

"Ah, Pangeran Takdir ya. Aku juga pernah dengar. Selain hobi menempel dan bertindak gigih pada anggota baru, dia juga sering kedapatan menyentuh... Mumpung ada kesempatan bagus begini, aku rasa kita harus mengobrolkan hal itu secara serius."

"I-Itu..."

Pria itu tampaknya telah melakukan berbagai macam pelanggaran di berbagai bidang.

Didatangi oleh tiga orang wanita yang jauh lebih populer darinya—Momoka, Airi, dan Uu—membuat wajah pria itu berubah pucat pasi.

Ikki tidak menyia-nyiakan celah ini, ia langsung menggandeng tangan Haruki dan Mari, lalu mendesak mereka untuk segera meninggalkan tempat tersebut.

"Ayo pergi, Nikaidou-san. Dan... um, Mari-chan juga."

"Wah!" "E-Eh, baik!"

Dipandu oleh Ikki, mereka bertiga menuju ke ruang hall utama.

Begitu sampai di sana, suara-suara yang mendesak 'Pangeran Takdir' tadi terdengar semakin samar.

Memastikan sudah tidak ada pasang mata di sekitar mereka, Haruki menghela napas lega sambil mengusap dadanya.

Ikki menekan tombol lift di dinding lorong, lalu berkata dengan nada ceria.

"Kalian tadi benar-benar tertimpa nasib sial ya."

Mendengar kata-kata itu, Mari kembali menguasai dirinya dan menyampaikan rasa terima kasih dengan terbata-bata kepada Ikki.

"T-Terima kasih banyak...!"

"Fufu, sama-sama. Yah, masalah tadi sebagian besar diselesaikan oleh kakak-kakakku sih."

"Uhm, omong-omong, kamu adiknya MOMO, sungguhan?!"

Mari bertanya dengan posisi tubuh condong ke depan.

"Betul. Tapi, aku sendiri tidak punya kelebihan apa-apa. Ini murni kasus nebeng koneksi Kakak."

Menghadapi pertanyaan penuh rasa penasaran dari Mari, Ikki tersenyum masam sambil mengangkat bahunya.

Tepat pada saat itu, lift berdenting menandakan kedatangannya.

Begitu dipersilakan masuk oleh Ikki, Haruki akhirnya tersadar dari linglungnya, lalu menatap tajam dengan mata menyipit penuh kecurigaan.

"...Kaidou, apa-apaan ini?"

"Apanya yang apa-apaan, kan sudah kujelaskan tadi. Aku mengkhawatirkan Nikaidou-san yang tiba-tiba menghilang dari hadapan kami. Walaupun dunia idol dan modeling itu berbeda bidang, tapi karena sama-sama di dunia hiburan, kurasa aku bisa lebih mudah mengumpulkan informasi. Dan benar dugaanku, kejadian seperti tadi terjadi."

"Itu memang karena aku yang sa—eh bukan itu maksudku! Kaidou, kamu ini serius mau jadi model!?"

"Makanya, liftnya sudah datang, ayo masuk."

"Tunggu, Kaidou!"

Didorong oleh punggungnya, Haruki masuk ke dalam lift.

Haruki menatap tajam Ikki yang menekan tombol lantai satu dengan tatapan setengah percaya.

Ia benar-benar tidak paham.

Seharusnya Ikki tidak menunjukkan ketertarikan apa pun pada dunia hiburan.

Lagipula, ia tidak merasa Ikki memiliki keinginan untuk menjadi seorang model.

Sebagai buktinya, ia ingat tahun lalu ketika identitas Haruki sebagai anak Takura Mao terbongkar dan ia terseret masalah saat pergi jalan-jalan bersama yang lain, Ikki menggunakan kartu 'adik MOMO' di hadapan Houji Uu untuk menarik perhatian aktris itu demi keluar dari situasi krisis. Saat itu pun, tindakan tersebut terasa seperti langkah darurat terakhir. Haruki bahkan sempat merasa sakit hati karena telah memaksa Ikki mengeluarkan kartu seperti itu.

Menerima tatapan penuh selidik dan keheranan dari Haruki, Ikki mengangkat bahunya menjawab.

"Yah, kurasa kamu pasti terkejut karena ini terjadi secara tiba-tiba."

"Kenapa harus jadi model... sampai menggunakan koneksi MOMO dan Uu-san..."

"Tentu saja karena Nikaidou-san—karena aku tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh temanku, jadi aku merasa khawatir dan bertindak. Setidaknya, kurasa Hayato-kun pasti akan melakukan hal yang sama kalau dia berada di posisiku."

"Itu..."

"Lagi pula, kalau Hayato-kun sampai datang ke dunia hiburan, Nikaidou-san pasti tidak akan tenang hatinya. Jadi kurasa ini adalah tugasku."

"—Sakit?!"

"Berisik!"

Haruki dengan wajah cemberut menendang tulang kering Ikki yang sengaja menambahkan kalimat tidak penting.

Ikki meringis kesakitan, berjongkok sambil memegangi bagian yang ditendang dengan mata berkaca-kaca, sementara Mari terkejut melihat tindakan spontan Haruki dan tampak kebingungan.

Kendati demikian, apa yang dikatakan Ikki ada benarnya. Jika itu Hayato, ia pasti akan langsung mendatangi Haruki dengan cara apa pun jika ia memiliki sarana yang sama, dan hal itu sangat mudah dibayangkan. Haruki sendiri sangat sadar bahwa ia telah terjun ke dunia hiburan dengan mendahulukan ego pribadinya, sehingga ia sangat memahami hal tersebut.

Meski begitu, ia tetap terkejut dengan tindakan Ikki.

Ikki mungkin terpengaruh setelah berinteraksi dengan Hayato.

Namun ia tidak menyangka Ikki akan melakukan tindakan sebesar ini, membuat Haruki menghela napas lelah bercampur rasa geli. Ikki sendiri hanya bisa tersenyum masam sambil berkata, "Ahaha."

Namun, ada sesuatu yang terus mengganjal di dalam hati Haruki.

Saat ia mengerutkan kening karena tidak tahu apa ganjalan itu, lift mengumumkan kedatangan mereka di lantai dasar.

Begitu melangkah keluar ke lobi pintu masuk, Seiji terlihat memarkirkan mobilnya tidak jauh dari pintu keluar dan melambaikan tangan ke arah mereka.

Melihat itu, Mari membungkuk kecil kepada Ikki.

"Uhm, kalau begitu aku duluan ya."

"Ya, sampai jumpa di kesempatan berikutnya."

Ikki melambaikan tangan dengan anggun kepada Mari yang berjalan menuju mobil Seiji.

Tepat saat Haruki hendak menyusul Mari dan mengangkat satu tangan untuk berpamitan pada Ikki, pemuda itu melontarkan kalimat dengan nada serius yang tidak biasa.

"Sebenarnya, alasan utamaku menjadi model adalah demi Himeko-chan."

"...Eh?"

"Yah, kurasa kamu sudah bisa menebaknya, aku sendiri tidak punya ketertarikan pada dunia model atau dunia hiburan. Tapi Himeko-chan, meskipun tidak diucapkannya, dia sangat mengkhawatirkan Nikaidou-san. Dia merasa kesepian, sama seperti Hayato-kun... Makanya, agar Himeko-chan bisa merasa sedikit lebih tenang, aku memutuskan menjadi model supaya bisa melihat keadaannya secara langsung dan menyampaikannya pada Himeko. Sesederhana itu saja."

Mendengar ucapan Ikki yang tersenyum malu-malu karena merasa canggung, kata-kata itu meresap begitu saja ke dalam hati Haruki.

Tidak ada hal yang muluk-muluk. Pemuda itu hanya berlari kaku dan kikuk tanpa mempedulikan apa pun demi gadis yang disukainya. Hanya sebuah tindakan usil yang ikut campur.

Namun, Haruki kini sangat memahami perasaan di balik tindakan itu hingga terasa menyayat hati. Ia menoleh ke arah Ikki, memasang ekspresi bermasalah, lalu melemparkan godaan.

"Kaidou itu, benar-benar bodoh ya."

"Aku juga berpikir begitu. Tapi sekarang, aku sedikit menyukai diriku yang bisa menjadi sebodoh ini."

Mendengar jawaban Ikki yang diucapkan tanpa rasa malu sedikit pun, Haruki menyipitkan mata silau, lalu bergumam singkat, "Begitu ya."

Di dalam mobil Seiji yang melaju menuju lokasi kerja berikutnya, suara ceria Mari yang bernada kagum menggema memenuhi kabin.

"Haa~, jadi tadi itu Ikki-san ya, ganteng banget! Pantas saja dia adiknya MOMO! Selain visualnya yang luar biasa, caranya menyelamatkan kami dengan gesit dan aksi escoort-nya juga sempurna! Sebenarnya tipe wanita seperti apa sih yang dia suka, Bibi tahu tidak!?"

"Ah... tipe adik perempuan, mungkin?"

"Muu, tipe adik perempuan... aku sih anak sulung, tapi kalau bersama Bibi, apa aku bisa ambil peran sebagai adik perempuan ya!?"

"Mungkin saja... tapi omong-omong, sebaiknya kamu urungkan niat untuk mendekati Kaidou. Anak itu sudah jatuh cinta setengah mati, dan ada satu gadis yang ingin ia kejar."

"Eh—"

Mari membeku dengan ekspresi patah hati.

Haruki tersenyum masam dengan ekspresi bingung.

(Demi Hime-chan, ya...)

Daya juang seperti itu sama sekali tidak bisa dibayangkan dari diri Ikki yang dulu hanya sekadar menyesuaikan diri dengan orang-orang di sekitarnya saat pertama kali mereka bertemu.

Jika dipikir-pikir lagi, bukankah Saki juga nekat merantau dari desa ke perkotaan meskipun masih anak SMP?

Sambil menatap ke luar jendela dan meresapi betapa kuatnya kekuatan cinta yang mampu memicu hal-hal tak terduga, ia tiba-tiba menyadari sesuatu.

"Eh, tunggu. Kita tidak sedang menuju ke kantor, kan? Jadwal pekerjaan setelah ini..."

Haruki bertanya kepada Seiji dengan sedikit rasa penasaran. Ia masih belum bisa sepenuhnya membaca jarak dengan saudara tirinya ini.

Mendengar itu, Seiji terdiam sejenak sebelum memberikan jawaban dengan suara tegang dan kaku.

"Ah, dibatalkan. Ada sedikit masalah gawat."

"Masalah gawat?"

Mengingat Seiji sebelumnya pernah memaksanya melakukan hal-hal yang agak di luar batas, Haruki langsung memasang sikap siaga.

Sebenarnya apa yang telah terjadi?

Saat Haruki mengerutkan kening, Seiji menyerahkan sebuah tablet di tengah lampu merah.

Melihat data yang tertera di layar, Haruki membelalakkan matanya dan melontarkan seruan terkejut.

"...Eh!?"

Film terbaru "Senjin", dibintangi oleh Mao Takura.

Kata-kata itu langsung terpampang di matanya. Tampaknya sebuah film yang dibintangi oleh Mao Takura akan segera diproduksi, dan ini tampak seperti pengumuman audisi untuk pemeran lainnya. Ia sempat mendengar bahwa ibunya sedang mengisolasi diri dari dunia luar demi mendalami karakternya. Film inilah yang dimaksud rupanya.

Sampai di sini tidak ada masalah.

Namun, catatan kecil yang mengikuti di bawahnya—"Karya Perpisahan / Pensiun Mao Takura"—terlalu sulit untuk dipercaya begitu saja.

Menyadari Haruki yang tertegun, Seiji berbicara dengan nada suara yang juga bercampur kebingungan.

"Seperti yang kamu lihat. Mao Takura akan pensiun melalui film tersebut."

"Eh, kenapa bisa begitu..."

Berita itu datang secara tiba-tiba. Haruki tidak bisa menyembunyikan kebingungannya karena alasan di balik pensiun itu sama sekali tidak diketahui.

Hingga saat ini popularitasnya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda meredup, tidak ada skandal apa pun yang mencuat, dan jika harus mencari-cari alasan, mungkin hanya fakta keberadaan Haruki yang akhirnya terungkap ke publik.

Namun, berdasarkan penilaian orang-orang di industri, reputasi Mao Takura masih sangat tinggi, dan kecil kemungkinan hal tersebut menjadi alasan pengunduran dirinya.

Bahkan di masyarakat umum, tidak ada suara-suara yang menyudutkan Mao Takura. Saat Haruki sedang merenung sambil menatap lekat layar tablet, Seiji berbisik dengan sedikit keraguan.

"Rumor itu mungkin memang benar."

"Rumor?"

"Mao Takura menderita penyakit parah."

"...Eh?"

"Dalam beberapa tahun terakhir, dia tampak sengaja menutupi kulitnya atau terkadang wajahnya terlihat sangat pucat, dan sempat disuarakan bahwa mungkin saja... tapi kini tingkat keakuratannya semakin tinggi. Yah, kalau itu Mao-kun, bahkan jika dia sakit, dia pasti mampu menipu orang-orang di sekitarnya dengan kemampuan aktingnya agar tidak ada yang menyadari."

"............"

Penyakit. Mendengar kata-kata itu membuatnya semakin tidak mengerti situasi yang terjadi.

Wajah ibu Hayato yang ia temui di rumah sakit dan kakek Minamo melintas di dalam benaknya.

Jantungnya mulai berdegup kencang dengan cara yang tidak menyenangkan.

Setelah menghembuskan napas pelan "Fuu," Seiji memberitahu dengan suara yang penuh tekad.

"Bagaimanapun juga, tidak mungkin seseorang menggunakan kata pensiun sebagai bahan gurauan untuk urusan pekerjaan. Oleh karena itu, kita bisa menganggap film kali ini sebagai kesempatan terakhir bagi Haruki-kun untuk beradu akting dengan Mao-kun. Meskipun berbeda dari rencana awal, aku berniat menepati janji. Mulai sekarang, aku akan mencari segala cara agar Haruki-kun bisa ikut ambil bagian dalam film tersebut. Haruki-kun, apa kamu tidak keberatan?"

Mendapatkan arah dan tujuan yang jelas dari Seiji, Haruki mengubah fokusnya. Situasi yang melilit ibunya memang belum begitu ia pahami, tetapi ia hanya perlu menemuinya langsung dan menanyakan hal itu. Demi mewujudkannya, ia akan mengerahkan seluruh tenaganya untuk bisa bergabung dalam film tersebut. Alur pemikiran yang sangat sederhana.

Haruki menjawab Seiji dengan ekspresi serius.

"Ya, aku mengerti."



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close