NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tonari no Seki no Seijo-sama wa Ore ni Kossori Sukāto no Naka o Oshiete Kureru V1 Chapter 2

 Penerjemah: Ceruzz

Proffreader: Ceruzz


Chapter 2

Gadis Suci yang Lupa Memakainya

Awal Juni.


Hari itu adalah hari pertama pelajaran renang di sekolah kami.


Mungkin terdengar agak terlalu awal kalau dilihat dari musimnya, tapi kolam renang sekolah kami berada di dalam ruangan.


Kolam renang air hangat.


Jadi kalau mau, pelajaran bisa saja dilakukan sepanjang tahun.


"Selamat pagi, Himuro-kun."


"Eh…… aah, selamat pagi."


Pagi-pagi sekali, Saotome menyapaku.


Ingin rasanya kubilang sapaan seperti ini biasa saja…… tapi biasanya tidak pernah begini.


Dia tak pernah repot-repot menyapa orang yang kebetulan cuma duduk 

di sebelahnya.


"(Si Gadis Suci menyapa Himuro duluan lho!)"


"(Mereka berdua belakangan ini kelihatan makin dekat ya……)"

"(Jangan-jangan……)"


Rasanya ada yang salah paham.


Untuk saat ini, aku membuka ponselku.


『Hari ini kelihatan ceria banget, ada kejadian apa?』


『Soalnya hari ini spesial』


Setelah mengetik pesan, Saotome mengedipkan sebelah matanya ke arahku.


Oi!


Kalau melakukan hal seperti itu……


"(Tadi mereka berdua saling memberi kode mata, kan?)"


"(Mereka berdua juga sama-sama membuka ponsel. Jangan-jangan lagi kirim pesan……)"


"(Kalau dipikir-pikir, hari ini mereka berdua dapat jadwal piket lagi ya……)"


U-uun……


『Kalau kamu melakukan hal seperti itu, orang-orang bakal salah paham mengira kita pacaran lho』

『Ara? Memangnya ada masalah dengan itu?』


……Eh?


『Aku sih tidak peduli mau dianggap apa. Apa Himuro-kun merasa keberatan?』


K-keberatan…… ya, kalau ditanya keberatan atau tidak, aku tidak 

keberatan sih.


Tapi kalau ditanya apa aku senang, bukan begitu juga.


Lagipula meski mereka salah paham, bukan berarti aku dan Saotome 

benar-benar pacaran.


Ta-tapi…… fakta bahwa Saotome tidak keberatan kalau orang-orang 

mengira aku ini pacarnya.


Itu artinya, apa boleh aku menyimpulkan hal itu?


Apa jangan-jangan, memang ada kemungkinan sekecil apa pun kalau dia sebenarnya suka padaku?


Kalau bisa pacaran dengan Saotome, aku bakal senang sekali.


Soalnya, dia imut.


Kalau soal sifat aslinya…… yah, meram saja deh.


『Atau jangan-jangan kamu sudah punya orang yang disukai?』


『Nggak ada kok』


I-ini…… apa dia sedang memancingku?


『Aah, ngomong-ngomong aku juga tidak punya kok, jadi tenang saja ya


Lalu terdengar tawa kecil.


Saat melirik ke samping, Saotome tampak tertawa sambil menutup mulutnya.


……Ah, apa-apaan ini?


Aku dipermainkan, ya?


『"Si Himuro malah salah paham sendiri lho~" Maksudku, aku tidak bakal menyebarkan hal seperti itu kok. Tenang saja oke?』


『Oi』


『Maaf, maaf』


……Soal dipermainkan mah dari kemarin-kemarin juga sudah begitu ya.


Mikirinnya cuma bikin buang-buang waktu saja.


『Jadi, maksudnya spesial itu apa?』


『Kalau tidak bisa menebak, tidak bakal kuperlihatkan lho. Mau?』


Artinya apa yang dipakainya hari ini spesial.


Tidak, apa jangan-jangan jadi spesial karena "tidak pakai"……?


『Aah, biar kuberitahu duluan, hari ini aku pakai kok』


Rupanya pakai.


Yah, wajar sih.


Menganggap "spesial = tidak pakai" itu pola pikir yang terlalu cetek.


Tapi, tunggu dulu……


『Boleh nih ngasih petunjuk begitu?』


『Soalnya kalau kamu tidak menebaknya dengan benar sekali-sekali, 

jadinya bosan』


Memang sih, sejak menebak dengan benar sekali waktu itu, aku salah terus.


Dengan kata lain bagi Saotome, itu adalah sesuatu yang tidak masalah kalau sampai kulihat.


Setidaknya hambatan mentalnya lebih rendah dibanding "tidak pakai".


Tapi, "spesial" ya.


『Lagipula, Himuro-kun kan tidak bakal bisa menebaknya. Nggak ada hubungannya juga kan?』


Dia memprovokasiku.


Saat melihat ke samping, Saotome sedang terkikik dengan gaya yang sengaja dibuat-buat.


『Bakal kutebak sebelum pulang sekolah』


『Batas waktunya sampai istirahat siang ya』


……Batas waktu?


Seingatku sebelumnya tidak pernah ada hal semacam itu.


『Kenapa harus begitu』


『Padahal tadi sudah kuberi petunjuk, kan? Anggap saja ini imbalannya』


U-uun, rasanya agak kurang masuk akal.


Meski begitu, kalau dipikir-pikir sampai istirahat siang saja tidak 

ketemu jawabannya, mau dipikir sampai pulang sekolah pun bakal sama saja.


Lagipula kuis ini kan bukan hal yang aku minta.


Karena ini semua berjalan atas keinginan Saotome, terserah dia saja mau membuat aturannya seperti apa.


『Mengerti』


Aku mengetik balasan pesan.


Setelah mengecek pesan masuk, Saotome menyimpan ponselnya dengan raut wajah yang tampak lega.


……Ada yang mengganjal.



Terutama soal "batas waktu" yang sebelumnya tidak pernah ada itu.

Kenapa dia menetapkan aturan seperti itu?


Apa yang membuatnya jadi begitu spesial?


Aku memikirkannya terus-menerus…… sampai tanpa sadar pelajaran jam keempat sudah dimulai.


Sebentar lagi istirahat siang.


Aku membandingkan jam dinding dengan jadwal pelajaran.

Gawat nih.


Ngomong-ngomong, yang dimaksud "sampai istirahat siang" itu "sampai istirahat siang dimulai"?


Atau "sampai istirahat siang berakhir"?


Kalau yang dimaksud itu yang kedua, berarti masih ada kelonggaran waktu.


Uun…… jam kelima pelajaran olahraga, ya.


Mengingat waktu untuk ganti baju, durasinya tidak bisa dibilang panjang sih……


……Ganti baju?


Olahraga…… seingatku renang, kan.


Ah!!


Jadi begitu maksudnya!


『Baju renang, kan』


Aku mengeluarkan ponsel lalu mengetikkan jawabannya.


Tak berapa lama kemudian, Saotome membalas pesanku.


『Datang ke belakang gudang olahraga』


Sip!!


◇ ◇ ◇


Jam istirahat siang.


"Sepertinya petunjuknya terlalu banyak ya."



"Yah, begitulah."


Batas waktu sampai istirahat siang.


Itu secara praktis berfungsi sebagai petunjuk.


Soalnya jam pelajaran kelima ada renang.


Makanya Saotome memakai baju renang di balik seragamnya cuma sampai istirahat siang.


Lagipula tidak mungkin kan dia memakai baju renang yang basah kuyup.


"Rasanya aku tidak benar-benar menang."


Tak ada rasa puas seperti sebelumnya.

"Yah, tidak apa-apa kan? Lagipula aku sendiri yang memberi petunjuk sesukaku. Soal batas waktu juga kecerobohanku."


"……Kamu kelihatan santai sekali."


"Soalnya kan cuma baju renang. Nggak bikin malu kok."


Saotome mengatakannya dengan santai tanpa beban.


Sepertinya dia punya teori kalau baju renang itu bukan pakaian dalam, jadi tidak perlu merasa malu.


Memang benar sih kalau dipikir-pikir……


"Lalu, kenapa kamu pakai baju renang?"


Bukannya dia merasa bergairah justru karena malu?


Kalau tidak merasa malu, berarti tidak bikin bergairah dong.


Jadi tidak ada artinya dipakai.


"Uuh, yah…… gimana ya, soal dilihat orang lain sih sebenarnya aku tidak peduli."


Saotome agak tersendag saat menjawab pertanyaanku.


Lalu dengan wajah yang sedikit merona, dia menjawab.

"Bisa dibilang, fakta kalau aku memakainya di dalam seragam itu yang penting…… gitu deh? Aku lumayan suka."


"Haa…… begitu ya?"


Aku tidak begitu paham, tapi ternyata pemikirannya cukup mendalam ya.


"Ya-yah…… ayo cepat selesaikan saja."


"Oke."


Apa pembicaraan ini bikin Saotome merasa malu juga?


Dia menyudahi obrolan lalu mengulurkan tangan ke roknya.


Kemudian perlahan menyingkapnya naik……



"……"

"……Kenapa?"


Tangannya terhenti.


Apa di detik-detik terakhir begini dia mendadak jadi enggan?


"Aku tidak memaksa untuk memperlihatkannya kok……"


"Nggak apa-apa kok."

Saotome menggerakkan tangannya lagi.


Aha, ternyata di dalamnya dia memakai baju renang sekolah…… atau 

lebih tepatnya baju renang kompetisi.


Model high cut.


Cukup terbuka dan berani.


Padahal kukira anak perempuan jaman sekarang semuanya memakai model celana ketat semacam spats.


"Kamu mengikuti pelajaran pakai baju renang itu?"


"T-tidak masalah, kan."


Saotome melepaskan genggamannya dari rok.


Baju renang itu pun kembali tersembunyi di balik roknya.


"Fuu……"


Saotome mendesah pelan.


Wajahnya merah padam.


"Bukannya tadi bilang tidak malu karena cuma baju renang?"


"Sepertinya yang penting itu bukan hasil kerjanya, melainkan prosesnya."


"Quotes yang bagus tuh."


Saat kami sedang membicarakan hal konyol semacam itu……


Suara rintik-rintik mulai terdengar berdenting di sekitar kami.


Begitu melayangkan pandangan ke sekeliling, ternyata hujan mulai 

turun.


Untung saja tempat kami berdiri sekarang berada di bawah atap.


"Hujan…… gawat nih."


"Kamu lupa bawa payung?"


"Iya, begitulah."


"Kalau begitu, mau kupinjamkan pas pulang nanti?"


"Kamu bawa dua?"


"Nggak. Tapi kan tadi aku sudah diberi petunjuk."


"Ara, begitu. Fufu…… terima kasih. Tapi…… rasanya tidak enak juga 

kalau membiarkanmu pulang basah kuyup."


"Tidak usah terlalu dipikirkan……"


"Kalau begitu, bagi dua payungnya ya?"


Saotome mengucapkannya sambil tersenyum.


……Bukannya itu artinya mau pakai payung berdua?


◇ ◇ ◇


Jam pelajaran kelima.


Hari itu seperti yang dijadwalkan, ada pelajaran renang di kolam renang.


Karena kolam renangnya berada di dalam ruangan, hujan sama sekali tidak berpengaruh.


Laki-laki dan perempuan belajar di tempat yang sama.


Kalau dibilang begitu, mungkin kesannya seperti dicampur antara laki-laki dan perempuan, tapi kenyataannya tidak begitu.


Hanya ruangannya saja yang sama.


Area kolam renangnya sendiri cukup luas, jadi kalau cuma mengikuti pelajaran seperti biasa, kami tidak akan saling mengganggu.


Kalau cuma mengikuti pelajaran seperti biasa, sih.

"Hei, Himuro. Coba lihat tuh…… baju renangnya Saotome-san, mantap 

banget lho."


"Eh? Aah…… iya."


Setelah disikut oleh teman sekelas, aku mengalihkan pandangan ke "area perempuan".


Pas sekali saat Saotome sedang berdiri di atas papan loncat.


Dia mengenakan baju renang kompetisi model high cut yang sempat diperlihatkan padaku saat istirahat siang tadi.


Kalau dilihat-lihat lagi, baju renang Saotome memang kelihatan agak terlalu terbuka.


Karena siswi lain memakai model spats, jadinya dia makin mencolok.


Tapi kakinya jenjang banget ya……


Baru saja aku batin begitu, Saotome melompat ke dalam kolam renang 

sambil membentuk garis lekukan tubuh yang indah.


Seperti rumor yang beredar, kemampuan olahraganya memang bagus.


"Ooh…… keren banget ya Gadis Suci."


"Sikapnya yang tidak berusaha menutupi kaki itu terasa tegas dan 

keren."


"Nggak kelihatan vulgar ya. Malah terasa anggun dan suci banget."


"Memang beda ya Gadis Suci."


Teman-teman sekelas mulai saling berbisik memujinya.


Yah, penampilan begitu sih kayaknya separuh memang gara-gara hobinya saja.


Dia cuma ingin memamerkan kakinya, tahu.


"Jangan dipandangin terus, nanti disadari lho."


Aku memberi peringatan sambil sedikit mengambil jarak.


Bisa repot kalau sampai dikira komplotan mereka.


Bukannya aku ingin populer di kalangan perempuan secara khusus sih.


Tapi ya tidak mau dibenci juga.


"Kamu kelihatan tidak tertarik ya."


"Bukannya tidak tertarik, tapi mengintip begitu kan tidak sopan."


Padahal aku sendiri dipamerkan secara terang-terangan sih.


"Pake sok benar segala kamu. ……Omong-omong, belakangan ini kamu sama Saotome-san kelihatan makin akrab ya."

"Jangan-jangan kalian pacaran?"


"Hei, gimana yang sebenarnya?"


"Nggak ada hubungan semacam itu, jadi tenang saja."


Aku menepis desakan pertanyaan teman-sekelasku asal-asalan, lalu mulai berenang.


Uuuh, tapi kalau situasinya begini, kalau sampai pakai payung berdua nanti, hubungan kami pasti bakal makin dicurigai……


◇ ◇ ◇


Lalu, setelah jam pelajaran kelima selesai.


Tak lama kemudian kami──para siswa lelaki selesai berganti pakaian, para siswi kembali ke kelas.


Saat sedang memandanginya tanpa berpikir, Saotome juga masuk ke dalam kelas.


Dia duduk di sebelahku tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Namun…… bagaimana ya bilangnya, rambutnya yang agak basah terasa memancarkan kesan menggoda.


Mungkin karena baru selesai berolahraga?


Kulitnya juga kelihatan sedikit merona.


"A-apa……? Memandangiku terus……"


Saat aku sedang memerhatikannya, Saotome menutupi area dadanya dengan kedua tangan.


Sikap yang terasa wajar untuk gadis seusianya.


Kenapa mendadak menutupi dada?


"Nggak, bukan apa-apa kok."


"……Fuun."


Begitu aku beralasan asal-asalan, Saotome tidak berniat mengutaknya lebih jauh dan langsung menghadap ke depan.


……Fumu.


Padahal biasanya, pasti bakal ada semacam…… kata-kata godaan atau 

semacamnya.


Kenapa ya.


Dia kelihatan seperti sedang cemas dan tidak setenang biasanya.


◇ ◇ ◇


Lalu sepulang sekolah.


Hari ini pun aku dan Saotome masih tertinggal di kelas untuk menyelesaikan tugas piket harian.


"Ayo, sebelum hujannya makin deras, cepat kita selesaikan."


Saotome kelihatan gelisah, tidak seperti biasanya.


Rasa-rasanya wajahnya juga agak memerah.


Lalu entah kenapa, dia juga kelihatan seperti sedang menutupi dadanya.


Memang sejak pelajaran kelima tadi sikapnya sudah aneh.


Ada apa sebenarnya?


"Ada sesuatu yang terjadi pas pelajaran olahraga tadi?"


Kalau memang ada perubahan, kemungkinan besar penyebabnya di 

pelajaran kelima.


Begitu aku mencoba menebak dan bertanya padanya……


"T-t-tidak ada apa-apa kok!?"


Dia mendadak panik setengah mati.


……Kalau tebakanku sampai setepat ini, rasanya malah jadi bersalah.

Uun, tapi pelajaran kelima…… memangnya ada kejadian apa?


Masa gara-gara dia sadar kalau kami sempat melihat penampilannya yang memakai baju renang?


Meskipun cuma dari kejauhan sih.


Apa dia menyadarinya?


"Yaah…… aku tidak bakal mendesakmu sih. Tapi kalau ada tindakanku yang membuatmu tidak nyaman, aku minta maaf ya."


"Himuro-kun tidak ada hubungannya kok. Tenang saja. ……Ini murni kesalahanku."


"Fumu."


"……Melihat reaksimu, sepertinya kamu memang tidak menyadarinya 

ya."


"Menyadari apa?"


"Kalau tidak sadar ya baguslah!"


"Begitu ya."


Kalau dia memang tidak ingin aku menyadarinya, aku tidak bakal memaksanya untuk mengaku.


Aku dan Saotome menyelesaikan pekerjaan piket dengan tenang.


……Namun di tengah-tengah pekerjaan pun, gerakan Saotome terasa kaku.


Apa dia sedang tidak enak badan ya.


"Hujannya…… belum reda juga ya."


"Malah kelihatan bakal makin deras, bukannya reda."


Kepada Saotome yang menatap awan hujan dengan tatapan hampa, aku menyampaikan prakiraan cuaca yang kubuka lewat ponsel.


Lalu aku membuka payung.


"Berbagi…… setengah payung, tidak apa-apa kan?"


"Kalau Himuro-kun tidak berubah pikiran, aku bakal berterima kasih sekali."


Apa benar tidak apa-apa kalau pakai payung berdua?


Ingin rasanya aku bertanya begitu, tapi rasanya canggung, dan yang paling utama aku tidak mau dikira terlalu terbawa perasaan.


"Pikiranku tidak berubah kok. Masuklah."


Pada akhirnya kami berdua berjalan berdampingan di bawah satu payung.


Yaa, bukannya aku benci situasi ini juga sih……


"Lagipula, jam pulang sekolah sudah lewat. Anak-anak yang ikut klub juga pulangnya masih lama."


"Benar juga sih."


Bahu kami saling bersentuhan.


Terkadang, siku atau lengan atasku bersentuhan dengan dadanya yang empuk.


Setiap kali hal itu terjadi kami saling memberi jarak, lalu demi menghindari hujan kami kembali merapat.


Mendekat lalu menjauh, menjauh lalu mendekat secara berulang-ulang.


"……Kamu menyadarinya?"


"Menyadari apa?"


"……Nggak, bukan apa-apa."


Saotome mengatakan hal itu sambil memalingkan wajahnya 


Pipi itu kelihatan merona tipis.

……Interaksi santai semacam itu hanya bisa bertahan sampai hujan mulai turun dengan sangat deras.


"……Maaf ya. Aku tidak menyangka hujannya bakal sederas ini."


"Nggak kok, kalau derasnya begini sih ada payung atau tidak juga tidak bakal ada bedanya."


Gara-gara hujan lebat yang seolah menegaskan bahwa pakai payung berdua pun tidak ada gunanya, kami yang sudah basah kuyup akhirnya berteduh di bawah wahana permainan di taman.


"Aah, sial banget…… harusnya aku nurut aja pas mau dijemput."


Saotome mendesah pelan sambil memeras roknya.


Kaki putihnya yang basah oleh air tampak mengintip sekilas.


Rasanya tidak sopan kalau dipandangi terus.


Begitu pikirku, lalu mengalihkan pandangan ke atas dan……


"Ah……"


Mataku mendadak terkunci di satu titik.


Aku buru-buru memalingkan wajah dari Saotome.


"Ada apa? Ah……"


Rupanya Saotome juga baru sadar, dia langsung menutupi dadanya yang menerawang.


Ya, kelihatan jelas sekali.


Soalnya dia juga tidak pakai pakaian dalam.


"T-tunggu dulu! Dengarkan penjelasanku dulu!!"


Dengan wajah memerah padam, Saotome mendesak mendekat padaku.


Karena dadanya ditutupi tangan, bagian yang krusial memang tidak kelihatan.


"O-ooh…… jangan dekat-dekat dong."


Tapi tetap saja kemejanya yang basah oleh hujan jadi menerawang, 

memperlihatkan kulit putihnya yang tak berubah.


Sensasinya agak terlalu kuat buat mataku.


"Sikapmu yang aneh dari tadi ternyata gara-gara ini ya."


Dia pasti tidak memakai bra setelah pelajaran kelima selesai.


Tanpa bra dalam kondisi begini, jelas saja ada kemungkinan bakal menerawang.


Nekat banget ya.


……Apa sampai segitunya masih terasa kurang?


"B-bukan begitu! Aku tidak semesum itu tahu!!"


"Nggak ah, kayaknya memang begitu deh."


"Bukan, dengarkan dulu!! Dengarkan!"


"A, iya."


Pundakku dicengkeram oleh Saotome, membuatku refleks mengangguk cepat.


"A-aku bukannya sengaja tidak pakai karena suka ya!"


"Fumu……?"


Masa sih?


Mengingat kelakuannya sehari-hari……


Tapi yah, tidak ada gunanya juga dia berbohong atau beralasan di saat seperti ini.


"Cuma, anu…… aku lupa membawanya."


"Lupa bawa apa?"


"……Pakaian dalam."


……Ah, begitu.


Gara-gara berangkat sekolah sudah memakai baju renang kompetisi dari rumah, dia jadi lupa membawa pakaian dalamnya ya.


Lalu baru sadar setelah pelajaran selesai.


"Anak SD kali ah."


Kecerobohan kayak begitu cuma bisa dimaklumi kalau masih anak SD tahu.


"Makanya, mau bagaimana lagi, makanya situasinya jadi begini. ……Ini kan kondisi darurat. Paham?"


"Iya, iya. Aku paham."


Toh mau bagaimanapun alasannya, fakta kalau Saotome itu mesum tetap tidak berubah sih……


Pikirku begitu, tapi tak kuucapkan keras-keras.


Bisa marah besar dia nanti.


Tapi gara-gara lupa bawa pakaian dalam jadi tidak pakai bra berarti……


Jangan-jangan, bagian bawahnya juga tidak pakai?


Kepikiran hal itu, mataku tanpa sadar teralih ke arah rok Saotome.


Rok yang menyerap air hujan itu menempel ketat di kakinya.


Bentuk kakinya terbalut dengan sangat jelas.


Meskipun tidak menerawang, tapi garis area pangkal pahanya rasanya samar-samar kelihatan tapi tidak……


"……Jangan dipandangin terus dong."

Saotome menutupi dadanya dengan kedua tangan sambil tampak malu-malu.


"Aah, maaf."


Padahal yang kupandangi itu roknya, tapi tak perlu menegaskannya ke 

dia.


Di tengah atmosfer yang agak canggung, kami menghabiskan waktu bersama.


"Hujannya sama sekali tidak ada tanda-tanda mau reda ya."


"Iya nih…… sekalian basah kuyup saja apa pas pulang. Pasrah saja."


"Benar juga…… tapi, bagaimana ya. Kalau begini terus, aku tidak bisa jalan di jalanan umum."


Yah…… memang sih, tidak mungkin jalan di luar dengan kemeja menerawang tanpa bra.


Tapi kalau jalan sambil terang-terangan menutupi dada pakai tangan juga……


Ah, benar juga.


"Sekalian saja pakai baju renangmu lagi gimana? Toh sudah sama-sama basah ini."

"Benar juga."

Seolah baru mendapat ide cemerlang, Saotome mengangguk, lalu mengambil tas renangnya dan berlari ke toilet wanita yang ada di taman.


Tak lama kemudian, di tengah guyuran hujan Saotome kembali.


"Bagaimana menurutmu?"


"U-uuh……"


Kalau diberi tahu itu baju renang kompetisi, memang kelihatan sih.


Tapi secara umum, kecil kemungkinan orang berpikir ada siswi SMA yang memakai baju renang kompetisi di balik kemejanya.


Kalau tidak diperhatikan lekat-lekat, orang-orang bakal mengira itu cuma semacam tank top.


"Sekilas pandang sih tidak bakal kelihatan."


"Baguslah kalau begitu."


Ucap Saotome dengan wajah yang sedikit merona.


Lalu dengan raut tampak senang, dia menarik kemejanya.


……Sepertinya dia malah merasa bergairah.


"……Kamu pernah renang pakai baju lengkap tidak?"


"Pas SD dulu. Kan ada latihannya."


"……Aku suka lho latihan yang itu."


Saotome mengatakannya dengan wajah yang tampak bernostalgia.


Wajahnya memerah, kelihatan seperti orang yang kesenangan.


Anak ini tidak ada obatnya ya?


Di tengah interaksi seperti itu, aku mengantarkan Saotome sampai ke stasiun.


Lalu keesokan harinya.


Aku masuk angin.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close