Bab 6: Pahlawan Tengen yang Legendaris
Mulai keesokan paginya, Pasukan Prajurit
Bayaran Iwankutu bekerja dengan kapasitas penuh.
"Ketua, setelah kawanan Red Lizard,
sekarang Big Snake datang juga!"
"Kh, serahkan bagian timur padaku!
Kau, pergilah sebagai bantuan ke bagian selatan!"
"Mbak, kami juga tidak bisa bergerak
dari sini... tapi anak panahnya habis!"
"Oraaa, kemarilah! Aku yang bakal
jadi lawan kalian!"
Dari sepuluh anggota pasukan prajurit
bayaran, delapan orang berjaga di empat penjuru desa—timur, barat, selatan, dan
utara—masing-masing dua orang untuk mencegat monster. Di pusat desa, Shattei
dan Mazonea bersiap, membentuk sistem yang akan langsung pergi memberi bantuan
ke empat penjuru jika situasi para anggota memburuk.
"Sialan, beneran bermunculan satu
demi satu sejak pagi... Kenapa di wilayah Kekaisaran ada monster sebanyak ini,
sih!"
"Tidak ada waktu buat istirahat, ya.
Tapi cuma dalam sehari hari ini saja jumlah pembasmian kita semua sudah sangat
banyak, lho. Lagipula kemampuan mereka belakangan ini agak tumpul... Pas banget
buat mengasah keahlian!"
Karena desanya kecil, jangkauan
pertahanannya pun kecil. Namun menghadapi desa sekecil itu, monster bermunculan
secara bertubi-tubi dalam jumlah yang berlebihan.
Hanya saja, berhubung mereka adalah
pasukan prajurit bayaran yang telah memupuk pengalaman secara lumayan, keahlian
masing-masing—dan yang paling utama adalah kerja sama mereka—terjalin dengan
sangat luar biasa, hingga berhasil mencegah kerusakan pada desa.
""""""Dohyaaa~
Capek bangetttt!""""""
Meski begitu, karena melakukannya
sepanjang siang, di waktu sore seluruh prajurit bayaran mengalami kelelahan
yang sangat hebat, terkapar lemas berlumuran lumpur dan keringat.
"Maksudku, beneran ada apa sih sama
desa ini!"
"Walau tidak ada monster yang begitu
tangguh, kenapa bisa muncul terus-menerus satu demi satu begitu?"
"Ini kita harus melakukan hal ini
sampai kapan?"
"Kami sudah lemas banget, lho~...
Ingin mandi juga..."
Sudah berada di batas kemampuan untuk
bergerak. Wujud Pasukan Iwankutu yang tertunduk lemas seperti itu dihampiri
oleh Damon.
"Guwahahaha, ada apa~ sudah sampai
di batas kemampuan, ya~? Kemarin aku melakukan hal ini sendirian, tahu~?"
Di sebelah kanan ada Strayer, di sebelah
kiri ada Shesta yang melayaninya, dan kedua tangannya menempel di dada mereka
berdua sembari tertawa terbahak-bahak.
Damon yang sepanjang hari ini tidak
keluar rumah, untuk pertama kalinya melangkahkan kaki ke luar.
"Guh, kau ini beneran sepanjang
hari..."
"Guhehehehehe, hari yang benar-benar
luar biasa banget~ ya kan? Kalian berdua."
Damon memamerkan senyum mesum penuh. Di
sisinya, Strayer dan Shesta kaki dan pinggangnya gemetar hebat, dalam kondisi
lemah hingga seolah akan langsung terkapar lemas jika dadanya tidak dipegang
dan ditopang oleh Damon.
"Uu, Kakak Damon ini sejak pagi
beneran tidak mau melepaskanku... Melakukan banyak hal pada kami, au, luar
biasa banget, ciuman juga banyak banget."
Shesta yang hingga kemarin adalah gadis polos, lugu, dan suci di desa terpencil. Namun kini, setelah dipaksa mengenali hal sensual, seluruh tubuhnya menjadi sensitif, dan jangankan merasa keberatan, matanya sudah seperti hancur dan bernoda, sudut mulutnya kendur secara mesum.
"Bicara apa kau, malam hari juga
bakal kita lakukan, tahu. Ya, kan? Strayer."
"///////////"
"Eh, bohong, m-masih mau lagi? Ueh~
b-bisa hancur, tahu... uehehehe... Ah, wajah Strayer-san memerah dan kelihatan
senang! Ya ampun, senang karena dilakukan hal mesum sebanyak ini beneran orang
aneh, tahu!"
Merek bertiga bermesraan dengan santai.
Padahal mereka semua mengalami kelelahan yang sangat hebat, tetapi hanya
rombongan Damon yang bersenang-senang, sungguh status yang sangat enak.
"Pokoknya lapar banget..."
"Ung, lemas banget..."
Jika dalam keadaan biasa, mereka pasti
akan melontarkan kata-kata dendam pada Damon, tetapi Pasukan Iwankutu sudah
tidak memiliki tenaga lagi untuk memprotes hal itu. Namun, saat itulah—
"Ya, terima kasih atas kerja
kerasnya semuanya."
"Kami membawakan masakan."
"""""Eh............?"""""
Najimi, Fukuro, dan para wanita desa
membawakan banyak masakan dan sup hangat yang baru saja dibuat.
"Kami semua yang membuatnya. Silakan
dimakan."
"Eh, a-aku, anu, a...
uangnya..."
"Tidak usah. Jangankan meminta uang
dari penyelamat nyawa kami, kami malah cuma bisa membalas dengan hal sekelas
ini..."
Mengucapkan hal itu, Najimi dan yang
lainnya menyerahkan makanan kepada satu demi satu orang. Atas kebaikan itu,
Pasukan Iwankutu tertegun lemas.
"T-Tidak, kami kan cuma disewa
saja... anu, kami ini..."
"Ya ampun~ kau kan bukan Damon,
terima saja secara jujur, dong. Bukan soal uang atau pekerjaan, tapi 'terima
kasih' adalah apa yang dirasakan oleh semua orang."
Begitu Najimi mengucapkan hal itu, wanita
desa lainnya—tidak, para warga desa yang berkumpul satu demi satu melontarkan
kata "terima kasih" sembari memamerkan senyuman.
"Benar benar, kalau tidak ada kalian, tidak tahu desa ini bakal jadi bagaimana."
"Kami punya alkohol kebanggaan,
minum saja sepuasnya!"
"Hei hei, Paman sekalian kuat banget
ya! Luar biasa!"
Diperlakukan secara ramah, diajak bicara,
dan didekati oleh para warga desa membuat Pasukan Iwankutu menjadi bingung.
Pasukan prajurit bayaran itu jika tidak ada pekerjaan hanyalah preman biasa.
Kalaupun ada pekerjaan, mereka dijauhi oleh pasukan ksatria atau kaum bangsawan
sebagai "orang yang haus uang", merupakan mata pencaharian yang tidak
dipandang baik dan tidak dipercaya.
Karena itulah hanya dengan bekerja
setelah menerima uang, disyukuri dengan senyuman seperti ini belum pernah
mereka alami sebelumnya.
Sehingga Pasukan Iwankutu yang biasanya
bertindak tidak sopan dan kasar pun merasa agak canggung dan malu.
"Hehehe, dasar, orang-orang desa
terpencil santai banget ya..."
Shattei tertawa mengucapkan hal itu.
Namun Shattei maupun para anggota pasukan lainnya, setelah bekerja dari pagi
sampai malam lalu disyukuri seperti ini, merasakan sesuatu seperti rasa
kepuasan membumbung di dalam diri mereka.
"Aah, sudah, teman-teman! Makan lalu
hari ini hilangkan rasa lelah dan cepat-cepat istirahat! Besok dari pagi juga
kita bakal bekerja terus-menerus, jadi persiapkan mental kalian!"
"""""Oooooooookkk!""""""
Seolah menutupi rasa malunya, dengan
tubuh lelah mereka berteriak sekuat tenaga, dan Pasukan Iwankutu pun tertawa.
"""""M-Masakannya
enak banget!?""""""
"Guwahahaha, masakan Najimi itu
enak, tahu! Tambahan lagi sayurannya segar karena baru dipetik."
"Sedikit banyak untuk mengusir
monster, aku ingin membuat pagar yang mengelilingi desa. Lalu yang paling utama
demi kelangsungan desa, sungai yang ada di dalam gunung ini... sebagian darinya
harus direbut kembali dari para monster."
"Saat ini kita bisa bertahan
menggunakan air yang dibeli di kota atau air yang diambil dengan pengawalan
kami, tapi tidak akan bisa bertahan selamanya. Hanya saja, walau merebut
kembali sungainya, monster bakal datang lagi. Kalau begitu kita tidak akan bisa
mengambil air dengan tenang."
Pekerjaan di hari kedua sebelum siang
telah selesai, Pasukan Iwankutu menyantap makan siang bersama para warga desa
sembari berkumpul di depan rumah Yaoji.
"Pagar kayu bakal dikerjakan oleh kami para pria di desa! Selama ini tempat ini sangat aman sampai-sampai tidak butuh hal seperti itu, tapi kalau mau dibuat pasti bisa!"
"Silakan gunakan kuda untuk bergerak
di dalam desa, tidak apa-apa. Para pria di desa juga bakal memberi bantuan
sebisa mungkin menggunakan cangkul, kapak, atau lemparan batu!"
"Para wanita di desa bakal memasak
air panas kapan saja, mengobati luka, dan menyiapkan makanan!"
Rapat untuk membahas tindakan
perlindungan desa ke depannya. Yaoji dan yang lainnya secara aktif menyampaikan
pendapat, bekerjasama melakukan apa yang bisa mereka lakukan. Demi melindungi
desa ini. Sampai beberapa saat lalu mereka dihadapkan pada pilihan membuang
desa atau mati begitu saja. Para warga desa pun semuanya bangkit berdiri.
"Tapi ya, Ketua, Mbak. Kalau
monsternya seperti hari ini atau kemarin sih masih sanggup bertahan beberapa
hari lagi... tapi setelah dua hari ini aku paham, kita butuh jumlah orang yang
agak lebih banyak... Lagipula mengamankan markas di sungai itu kalau cuma kita
saja tidak akan sanggup..."
"Aku paham. Dibanding satu dua orang
ahli, jumlah orang memang lebih penting. Kalau prajurit penjaga kota bisa
dikirimkan sebagai bantuan pasti bakal sangat menolong, tapi..."
"Nih. Kita juga sudah berburu banyak
monster dalam dua hari ini. Apa barang ini tidak bisa diubah jadi uang lalu
dipakai bernegosiasi sama tuan tanah?"
"Katanya dia tuan tanah yang
reputasinya sangat buruk, tapi bagaimana ya."
Hal itu murni pertarungan untuk
"bertahan". Jika ditanya apakah mereka bisa terus melindungi desa
dari monster yang bermunculan dan menyerang secara terus-menerus selamanya,
bahkan bagi Pasukan Iwankutu sekalipun hal itu mustahil.
"Guwahahahahaha, m-makanya kan sudah
kubilang? Pindah rumah saja, tahu."
Lalu tanpa membaca atmosfer Pasukan
Iwankutu dan para warga desa yang berusaha meningkatkan moral, Damon
melontarkan kata-katanya secara tanpa ampun.
"Hei hei... Bos. Kami kan disewa
olehmu, tahu? Buat melindungi desa ini."
"Benar, lho. Kami juga sebagai
profesional berusaha sekuat tenaga buat melaksanakannya. Padahal begitu, kau
yang paling penting malah... maksudku, kau beneran tidak memberi bantuan di
siang hari..."
Sambil tertawa kebingungan dan membaca
raut wajah Damon, Shattei membalas demikian. Ya, bagaimanapun juga, yang menyewa
Pasukan Iwankutu adalah Damon, dan Damon-lah sang pemohon. Damon yang
seperti itu mulai dipanggil 'Bos' oleh Shattei dan yang lainnya, tetapi meski
begitu, hati Shattei dan yang lainnya dalam dua hari ini sudah berpihak
sepenuhnya pada warga desa. Hal itu karena Damon, walau memiliki kekuatan yang
jauh melampaui siapa pun, sama sekali tidak memberi bantuan dalam dua hari ini,
mengurung diri di rumah tanpa bosan terus bersetubuh seperti binatang bersama
Strayer dan Shesta.
"Aahn? Wajarlah. Maksudku, aku
menyewa kalian kan supaya aku bisa santai, dan aku dari awal tidak pernah
berpikir buat terus melindungi tempat ini selamanya, tahu. Ya, kan? Bapak
Yaoji."
"Kh, Nak..."
"Tidak akan ada habisnya. Pikiranku
adalah lebih baik membuang desa lalu pindah rumah. Soalnya, walau pasukan
prajurit bayaran yang memiliki dua orang Class Holder memberi bantuan, bukan
berarti bisa melindungi selamanya, kan. Sebelum jatuh korban, cepat-cepat
rapikan perasaan kalian lalu buang saja desa ini."
Ya, kenyataan logis dari Damon bahwa
perasaan saja tidak akan bisa menyelesaikan masalah tidak bisa dibantah oleh
Shattei dan yang lainnya.
"Kakak Damon... tetap saja... tidak
bisa, ya?"
Mendekati Damon seperti itu, Shesta yang
mengenakan pakaian yang teramat berani berupa armor bikini mikro dan celana
pendek bertanya.
"Shesta, berikan buah itu. Lewat
mulut. Aaan."
"Ung, boleh kok, nchuh, churu, a,
nchuh."
"Master, silakan nikmati yang ini
juga."
"Ooh, Strayer. Jepit buah yang
diolesi madu ini di antara dadamu, am am."
"Hau, nnn."
Di tengah-tengah pembicaraan serius,
Damon melakukan perbuatan konyol yang mesum, basah, dan lengket bersama dua
orang wanita.
"Puha, hei, Kakak Damon,
tidak bisa ya?"
"Emm~?"
"Sedikit lagi saja, Kakak Damon
juga, anu, kan? Kalau mau berusaha keras, aku bakal berusaha memberikan
pelayanan yang lebih mesum lagi, ya? Ya? Hal mesum apa pun bakal kulakukan,
jadi ya? Pakaian yang ingin kakak untuk kupakai bakal kupakai semuanya, lho? Penampilan
yang lebih mesum juga bakal kutingkatkan, lho?"
"Hal itu sih bikin senang ya.
Permainan kombinasi Strayer dan kau juga makin sering dilakukan makin kompak
jalannya, dan yang paling utama kau kan masih masa pertumbuhan jadi ke depannya
tubuhmu bakal makin berubah, makanya bersetubuh samamu ke depannya pun bikin
aku antusias."
"K-Kalau begitu..."
"Tapi... yah, ini kan soal melihat
kenyataan."
"Kh, uuu..."
Kini sudah tak ubahnya seorang WTS,
memamerkan senyum mesum dan pelayanan seksual tanpa memedulikan pandangan orang
demi melayani Damon. Melihat wujud Shesta itu yang merasa terangsang secara
sensual hanyalah Damon, sementara orang-orang lainnya merasa hatinya seolah
tersayat melihat wujud Shesta yang berusaha keras demi desa.
"Makanya, sudah kubilang jangan
gampang mengucapkannya, kan."
"Najimi?"
Lalu Najimi memelototi Damon dengan
tatapan menghina.
"Pada akhirnya kami tidak dibantu
oleh Ibu Kota, tuan tanah, atau siapa pun. Kami tidak tahu cara hidup selain di
desa ini, dan walau pindah rumah kami tidak tahu apakah bakal diterima. Jangan
gampang menyuruh membuang tempat ini."
"............"
"Kau pikir seberapa banyak Shesta terluka saat membayar imbalannya? Semuanya demi desa ini... demi kami... Makanya kalau kau sudah menerima tubuh dan hati Shesta, kau juga..."
Najimi ingin melontarkan berbagai
kata-kata. Meminta agar Damon memberi bantuan lebih banyak lagi. Namun karena
tahu Damon bukan sosok yang bisa diminta seperti itu, ia paham apa yang harus
diucapkannya.
"Pokoknya, kau besok juga
bertarunglah."
"Aahn? Tidak ah, aku..."
"Malam ini kau boleh bersetubuh
lagi, kok."
"Oho."
Sangat mengesalkan, tetapi tidak ada
pilihan lain selain membayar imbalannya.
"Mbak Najimi, t-tapi!"
"Aku sudah berjanji, kan, Shesta.
Aku tidak akan membiarkanmu sendirian mengalami hal yang menyiksa. Makanya
tidak apa-apa, kan? Damon."
Dan asal dibayar, Damon akan bergerak.
Hanya dengan itu sudah memberi arti yang besar, Najimi pun memahaminya.
"Hoo, itu sih bagaikan pucuk dicinta
ulam pun tiba. Boleh juga~ besok aku juga bakal berusaha keras."
"Begitu. Dua hari ini pagi, malam,
siang tidak peduli terus-terusan bersemangat, sebenarnya kau sudah lemas, kan?
Jangan meremehkan ketabahan kami sepasang kakak beradik desa terpencil, ya.
Malah bakal kubuat kau lemas tak berdaya, tahu!"
Najimi yang kini secara biasa melakukan
negosiasi menjual diri seperti itu. Kata-kata dan wujudnya membuat para warga
desa dan kedua orang tua Sekund memasang raut wajah yang campur aduk.
Satu-satunya penghiburan adalah fakta bahwa hati mereka berdua tidak hancur
sampai sejauh itu. Namun—
"Ketua, Mbak, k-kemarilah,
gawat!"
Saat itulah. Prajurit bayaran yang
disisakan berjaga di luar berlari masuk dengan wajah pucat pasi.
"Cih, monster lagi, ya."
"Kali ini Tingkat Bahaya
berapa?"
Tingkat yang tidak sanggup ditangani oleh prajurit bayaran biasa, hingga meminta bantuan pada Shattei dan Mazonea yang merupakan Class Holder.
Maksudnya, monster dengan Tingkat Bahaya yang lumayan telah muncul lagi. Menghentikan makan siang, mereka memegang senjata lalu keluar. Orang-orang Desa Dokaina juga merapatkan raut wajah mereka.
Shesta tanpa sadar memeluk Damon.
"Aah, tidak ada habisnya ya."
Damon menghela napas menghadapi situasi
di mana ia bahkan tidak bisa makan dengan tenang. Lalu Strayer yang menempel
pada Damon mendongakkan kepalanya.
"Master. Ini agak..."
"Aahn? Apa, kau jadi ingin
bersetubuh? Kalau begitu naiklah."
"Saya merasakan kekuatan yang
teramat dahsyat. Ini, Tingkat Bahaya ini..."
"Ha?"
"Master, tempat ini berbahaya."
Raut wajah Strayer tampak serius. Malah
meski tanpa emosi, Damon menyadari bahwa matanya memancarkan desakan yang
seolah memohon.
"Apa ada sesuatu yang kelihatan
gawat yang datang? Tingkat Bahaya 4? 5? Jangan-jangan Tingkat 6, ya?"
Damon ikut menghentikan tangannya yang
sedang mempermainkan tubuh Shesta dan Strayer, lalu bangkit berdiri. Dan di
saat itu juga, suara berteriak kembali bergema luas.
"S-Semuanya sekarang juga lari dari
desa!"
"Cepat, barang bawaan tidak usah
dipikirkan, semuanya lari!"
Itu adalah suara Shattei dan Mazonea yang
melompat keluar lebih dulu.
Suara yang teramat mendesak terdengar
dari dua orang yang merupakan Class Holder. Para warga desa ikut merinding lalu
melompat keluar.
Damon yang penasaran ada apa ikut keluar.
Dan semuanya menyaksikan ancaman yang muncul tersebut secara langsung.
"HOGYARAGUAARAkAARAAAAA!"
Di saat keluar, bumi bergetar, angin
kencang berembus dahsyat hingga seolah akan menerbangkan mereka. Dan langit
menjadi gelap hingga menutupi matahari. Hal itu karena di depan mata ada wujud
seperti gunung yang berdiri menjulang.
"A-Ap... apa-apaan monster
itu!"
Seseorang berteriak. Dan ada orang yang
sampai lemas kakinya. Ada mereka yang ketakutan dan hanya gemetar, ada juga
mereka yang bahkan tidak sanggup mengeluarkan suara. Sejauh itulah wujud yang
muncul di desa melampaui imajinasi orang-orang yang ada di tempat itu.
"Sialan, Mazonea, serangan
bersamaan!"
"Cih, pergi sana! Dasar
monster!"
Shattei dan Mazonea yang berteriak nekat
melancarkan serangan sekuat tenaga sebagai Class Holder. Panah yang dilapisi
mana. Buster sword yang dilapisi mana. Dihantamkan pada wujud yang raksasa
bagaikan gunung itu.
"Gek... pedangku!"
"Panahku..."
Namun hal seperti itu bahkan tidak
sanggup menembus Ujung bilahnya.
Senjata yang dihantamkan ke wujud raksasa
itu justru pecah hancur.
"Apa-apaan... itu... Red
Lizard?"
Damon sendiri sampai membelalakkan mata
dan tertegun lemas.
Ukuran raksasa yang sama sekali tidak
bisa dibandingkan dengan seluruh monster yang pernah ditemuinya selama ini.
Monster berkaki empat yang tubuh raksasanya sanggup meratakan rumah-rumah di
desa dengan sangat mudah.
"A, aaah, yang seperti itu lagi...
tapi, lebih... dibanding monster yang membunuh Ayah dan Ibu... jauh
lebih..."
Wujud itu memiliki bentuk yang sangat
mirip dengan Red Lizard yang membunuh orang tua Najimi dan menjerumuskan desa
ini ke dalam bahaya. Namun ukurannya jelas berbeda. Red Lizard memang monster
yang lumayan raksasa, tetapi yang muncul di depan mata saat ini ukurannya jelas
berada di skala yang berbeda.
Rahang tebal dan raksasa yang melahap
habis segalanya. Taring tajam yang melengkung. Sisik hitam kemerahan yang
memancarkan hawa membara, pupil merah yang menyipit vertikal menangkap mangsa
dan mangsanya pada matanya. Mangsa yang dimaksud adalah seluruh manusia yang
berada di tempat itu saat ini.
Lalu Strayer yang membelalakkan matanya
lebar-lebar, tampak tanpa emosi tetapi jelas-jelas terguncang, bergumam di
samping Damon.
"Itu adalah... Lizard Lord... Raja
Pemangsa... Tingkat Bahaya 10..."
Kata-kata itu membuat semua orang
gemetar.
Red Lizard yang merupakan Tingkat Bahaya
2 saja tidak sanggup dilukai sedikit pun oleh orang biasa, dan jika berkelompok
akan menjadi Tingkat Bahaya 3 yang dianggap sebagai tingkat berbahaya jika
tidak ada Class Holder. Jika Tingkat Bahaya di atas itu, maka Class Holder pun
jika bukan kelas tingkat tinggi tidak akan sanggup mengatasinya.
"B-Bohong, kan... Tingkat Bahaya
10... jangankan melihatnya secara langsung... apa beneran ada..."
"Lari semuanya! Kita bisa dibunuh!
Ini sudah bukan di tingkat pembasmian lagi, tahu!"
Shattei dan Mazonea yang merupakan Class
Holder veteran, jangankan bertarung, wajah mereka pucat pasi dan gemetar hebat.
"Tidak mungkin. Tingkat Bahaya 10
saya sendiri hanya melihatnya di buku panduan... bahkan sudah dianggap mitos...
Apa hal itu adalah biang kerok dari keanehan yang terjadi di desa ini? Tapi
kenapa berada di tanah seperti ini? Hal itu sudah tak ubahnya membutuhkan
pengiriman lebih dari seribu prajurit pun tidak akan cukup... Justru pasukan
puluhan ribu... jika bukan kelompok tingkat Pahlawan... Pokoknya tempat ini
sudah..."
Strayer sendiri berada dalam situasi
terguncang hingga tidak sanggup mencerna situasi ini. Dan semua orang
memahaminya.
Jika tidak lari, semuanya akan dibunuh.
Dan di saat yang sama, mereka dipaksa
untuk menyadarinya.
"KISHAAAAA!"
Raungan Lizard Lord hingga membuat udara
bergetar. Hanya dengan satu suara itu, semua orang tidak sanggup bergerak lagi.
Tidak akan dibiarkan kabur. Semuanya akan
dimangsa. Meski tidak paham bahasanya, mereka dipaksa memahaminya. Dan semua
orang tersudut hingga tidak sanggup menggerakkan kaki untuk kabur.
"I-Ibu, Shesta... l-lari... Najimi
juga..."
"T-Tidak bisa, k-kaki lemas, tubuh
juga... a, aaah..."
"Aku juga... tidak bisa, sudah...
tidak sanggup lagi..."
Yaoji yang biasanya gagah, Fukuro yang
biasanya ceria, dan Shesta semuanya diselimuti keputusasaan, hanya bisa gemetar
dan lemas kakinya.
"Sialan... tidak disangka ada hal
seperti ini... harusnya aku tidak usah datang..."
"Aku juga, mati dengan cara seperti
ini..."
Shattei dan Mazonea pun tidak sanggup
bertarung maupun kabur lagi, semua orang sudah benar-benar menyerah.
"Tingkat Bahaya 10, ya... Beneran, nih? Hal yang cuma muncul di dongeng atau mitos, kok bisa-bisanya ada di tempat seperti ini... Memang sih, ini kelihatan gawat."
"Master, maafkan saya, tapi tempat
ini, desa ini sudah..."
"Benar ya. Kalau hal seperti ini
sampai muncul, memang sudah bukan saatnya membicarakan batas waktu lagi."
Damon yang tertegun melihat Lizard Lord
yang muncul, mulai berpikir bahwa desa ini sudah benar-benar tamat, dan
merupakan hal bijak jika pergi meninggalkan tempat ini sekarang. Bagaimanapun
juga menghadapi hal ini terasa tidak sepadan.
"Aku kan bukan Pahlawan. Seberapa
pun imutnya Shesta, atau walau sudah meniduri Najimi berkali-kali, itu tidak
sepadan buat jadi imbalan bertarung melawan ini."
Makanya, membiarkannya begitu saja pun
tidak apa-apa, kan.
"Master?"
"Tingkat Bahaya 10... kalau
dikalahkan sendiri bakal jadi pahlawan... namanya bakal bergema dan dipuji
seluruh dunia... Cih, emangnya kenapa. Pujian seperti itu apa artinya, sih.
Guwahaha, dibiarkan saja juga tidak apa-apa, kan."
Damon sudah berpikir untuk merangkul Strayer di ketiaknya lalu kabur sebelum masalahnya jadi makin merepotkan.
Sebab dirinya bukanlah Pahlawan. Ia telah
disadarkan bahwa niat baik tanpa imbalan itu sama sekali tidak ada artinya.
Namun melihat wujud Damon yang seperti
itu, Strayer tersentak. Meski berucap "dibiarkan saja", Damon sama
sekali tidak melangkah pergi dari tempat itu, ia hanya menatap keadaan para
warga desa dengan raut wajah seolah baru saja menelan empedu.
"Aku tidak mau... tolonglah..."
Shesta yang sudah dipeluk dan
dipermainkannya secara puasa, meneteskan air mata. Dari berbagai penjuru
terdengar suara jeritan menangis, suara meminta tolong, dan suara ketakutan
dalam keputusasaan.
"Bising banget... Emangnya kenapa...
Dunia di mana saat enaknya saja bergantung, memuji, mendekat, lalu saat nilai
gunanya hilang langsung membalikkan telapak tangan... Niat baik tanpa imbalan
itu persetanlah. Kalau mau ditolong berikan imbalan. Imbalan... berikan
dong."
Melihat keadaan itu, Strayer memahami
suasana hati Damon.
"Master... Anda..."
Damon berniat meninggalkan desa. Ia ingin
meninggalkannya. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia harus meninggalkannya.
Jika tidak begitu, penghinaan di Ibu Kota yang pernah dirasakannya dulu jadi tidak ada artinya.
Tindakan tanpa imbalan yang tidak sepadan
tidak akan dilakukannya lagi. Makanya tidak akan menolong. Padahal harusnya
begitu, tetapi tepat saat dihadapkan pada kenyataan bahwa seluruh warga desa
akan mati jika dibiarkan begini, hatinya sebagai manusia yang dulu pernah
bersungguh-sungguh bercita-cita menjadi pahlawan tidak sanggup dipotong begitu
saja, hingga membuat Damon menjadi bingung—Strayer memahaminya.
Lalu, ada satu orang lagi yang memahami
keadaan Damon tersebut.
"Damon... kau..."
Meski sudah ditiduri berkali-kali oleh
Damon, menerima penghinaan, dan menyimpan rasa benci serta jijik, tetapi karena
telah terhubung secara mendalam, Najimi yang menyentuh sisi kemanusiaan Damon
menyadari bahwa Damon yang sekarang sedang ragu.
Kalau begitu, apa yang harus dilakukan?
Najimi sudah tahu jawabannya. Damon yang sekarang hanya perlu didorong
punggungnya. Tinggal dibuatkan 'alasan' saja.
"Damon!"
Karena itulah, Najimi menetapkan
tekadnya. Lalu ia membatin di dalam hati.
(Dengan begini benar-benar selamat
tinggal... Sekund... aku sudah...)
Najimi memanggil nama Damon, lalu
melompat merangkul Damon begitu saja dan mencium bibirnya.
"Nhh?"
Di tengah situasi seperti ini, ciuman
mendadak dari Najimi. Karena sangat mendadak dan di luar dugaan, Damon terkejut
dan mematung tanpa bisa melakukan apa pun.
"Damon... aku bersumpah
padamu."
"Ha?"
"Aku cuma gadis petani di desa
terpencil... wanita yang tidak ada apa-apanya dibanding Nona di Ibu Kota atau
wanita sangat cantik bagaikan tiada duanya seperti Strayer-san... tapi aku
tetap bersumpah."
Dicium, dipeluk, dan ditatap dengan sorot
mata serius dari Najimi membuat Damon menjadi panik. Pada Damon yang seperti
itu, Najimi mendeklarasikan.
"Aku bakal jadi wanitamu seumur
hidup."
"Ha...?"
"Nanti malam atau cuma sekali dua
kali sudah stop. Pagi, siang, malam, kapan saja di mana saja berapa kali pun,
kalau kau ingin bersetubuh, kapan pun aku bakal mau bersetubuh! Penampilan mesum
seperti Shesta juga bakal kupakai, pelayanan juga, hal mesum apa pun yang kau
minta bakal kulakukan! Kalau kau menginginkannya... berapa anak pun... bakal
kuterima..."
"Nuo!"
Najimi sama sekali tidak mengatakan hal
itu untuk menggoda. Seperti kata Najimi, tubuh dan seumur hidup seorang wanita
desa terpencil sama sekali tidak sepadan sebagai imbalan untuk bertarung
melawan monster Tingkat Bahaya 10. Makanya, ini murni memberikan 'alasan' pada
Damon.
"Makanya! Cepat bereskan hal itu,
lalu kita bakal bersetubuh banyakkkk banget!"
Mendengar deklarasi itu Damon sempat
tertegun lemas, tetapi segera memamerkan senyum mesumnya yang seperti biasa.
"Guwahahahahaha, itu sih bagus
banget! Bukan cuma soal jumlah seperti nanti malam saja... mulai sekarang
seumur hidup, aku bisa bersetubuh kapan saja di mana saja berapa kali pun sama
Najimi, ya! Itu sih bagus! Itu baru sepadan sebagai imbalan! Sip, mari
bersetubuh banyak banget sama Najimi!"
Berkat 'alasan' yang diberikan oleh
Najimi, Damon menjadi sangat bersemangat, tanpa ada keraguan atau kebingungan
lagi ia mengamuk murni menuruti nalurinya.
"Hei, kau monster raksasa, karena aku
mau bersetubuh sama Najimi, cepat melayang terbang sana!"
Damon yang mendapatkan alasan untuk
bertarung, tertawa bagaikan iblis lalu melesat berlari, dan menghantamkan
tendangan melompat bagaikan angin kencang yang mengamuk tepat di antara kedua
mata Lizard Lord.
"GARUGAAAAAA!"
Di saat itu juga, seluruh orang yang
berada di tempat itu matanya terperanjat. Tubuh raksasa Lizard Lord yang bahkan
tidak sanggup ditembus Ujung bilahnya oleh serangan Class Holder seperti
Shattei dan Mazonea, bergetar dan mengerang hanya dengan satu tendangan Damon.
"Bos!"
"Kakak Damon!"
"Nak!"
Tanpa sadar, semua orang bersuara. Di saat mereka yang kakinya lemas mendongak menatap, Damon memamerkan senyuman tanpa
gentar sedikit pun di hadapan Lizard Lord Tingkat Bahaya 10.
"Ooh, keras... beneran keras...
Dihantamkan di antara kedua mata saja tidak jatuh, memang tangguh
ya."
"Guru... gu..."
Lizard Lord memutar tubuhnya ke arah
Damon lalu memelototinya.
Itu bukan mata yang melihat mangsa seperti
yang diarahkan pada para warga desa tadi. Jelas-jelas mata melihat musuh.
"Apa-apaan kau memelototiku. Mau protes, hah? Maksudku, kau tadi membuat Shesta-ku menangis, kan? Kau tadi mau memangsanya, kan? Yang boleh memangsa Shesta itu cuma aku tahu, dasar kadal sialan!"
Hanya seorang pria, berhadapan langsung
dengan monster Tingkat Bahaya 10 dan kenyataan bahwa dirinya dianggap sebagai
musuh.
"GUGYAGAAAAAA!"
"Nuo!"
Lizard Lord mengayunkan tangannya yang
raksasa ke arah Damon.
Damon menahannya dengan kedua lengan,
tetapi akibat tubuh raksasa dan tenaganya, kedua kakinya melesak ke dalam
tanah. Cakar tajam yang memanjang menancap ke tubuh Damon hingga darah
mengalir.
"Uoh, kh, tenaga gila apa-apaan ini,
nuu!"
Menahannya sekuat tenaga hingga pembuluh darahnya menonjol, Damon perlahan-lahan terdesak. Mengertakkan gigi menyadari memang sudah sepatutnya Tingkat Bahaya 10. Di sisi lain, reaksi semua orang yang menyaksikan hal itu secara langsung berbeda.
"D-Ditahan, Bos!"
"B-Bohong, kan... Pria apa dia
itu..."
Fakta bahwa ia sanggup menahan satu
serangan Lizard Lord saja sudah tak ubahnya sebuah keanehan.
"Guh, dasar, aku ini dikalahkan sama
monster raksasa seperti ini, nnoo!"
Berpusat di kaki Damon, retakan menjalar
di tanah dan makin membesar. Tubuh Damon perlahan tenggelam. Namun meski
begitu, semua orang merasa hatinya berdebar kencang melihat wujud Damon
tersebut.
"L-Luar biasa... Nak itu... luar
biasa."
"Kuat... k-keren?"
Bercucuran darah, mengertakkan gigi,
tetapi seorang diri menahan serangan monster raksasa, wujud Damon tersebut
membuat hati semua orang bergetar dan dadanya membara.
"B-Berjuanglah, Kakak Damon!"
"T-Tolonglah, Nak, menanglah!"
"Bos, bantai saja!"
Tanpa disadari semua orang yang tadi
gemetar dalam keputusasaan, matanya berbinar-binar mengirimkan sorak-sorai dan
dukungan pada
Damon. Menerima hal itu, Damon
memalingkan raut wajah cemberut.
"Bising banget! Aku ini berusaha
keras demi bersetubuh sama Najimi, tahu, jangan kirimkan dukungan tanpa imbalan
yang tidak jadi uang satu perunggu pun!"
Damon berteriak. Namun, kedua kakinya yang
tadinya hampir tenggelam terhenti, berhasil bertahan.
"Shesta, bukan begitu!"
"Mbak Najimi."
"Anak itu..." bisik-bisik
"Eh... a-ahaha, ehe, b-benar
ya."
Bagaimanapun juga, memberikan dukungan
murni kepada Damon hanya akan dimarahi. Najimi yang memahami hal itu berlari
menghampiri
Shesta lalu berbisik di telinganya. Dan
Shesta yang mendengar hal itu tanpa sadar tertawa terkejut di tengah situasi
seperti ini. Namun, ia mengangguk lalu berteriak.
"Kakak Damon!"
"Ha?"
"Aku tadi bilang 'selama tinggal di
desa ini' aku bakal menuruti apa saja kata Kakak Damon, tapi mulai sekarang...
seumur hidup aku bakal menuruti apa saja kata Kakak Damon! Cepat menang lalu
mari bersetubuh banyakkk banget!"
"Kau ini!"
Damon tanpa sadar hampir berteriak. Apa kau pikir aku ini orang dangkal yang bakal menuruti apa saja kalau dibilang begitu, pikirnya.
Namun di sisi lain, ia juga berpikir
apakah dirinya yang sekarang dianggap tidak bisa menang jika tidak dipicu
seperti itu, sehingga Damon menyerap tenaganya.
"Aah... benar... bakal kubuat kalian bersetubuh banyak banget... Makanya tenang saja dan lihat di sana!"
Mendengar kata-kata Damon, Shesta
tertawa. Seseorang yang tubuhnya dinodai dan menangis di dalam hati sembari
memanggil Damon "Kakak" dengan senyum buatan selama ini, kini tertawa
dari dalam hatinya.
Najimi juga tertawa kebingungan, Matanya sudah tidak memancarkan perasaan rumit pada Damon lagi, melainkan hanya
menatapnya secara membara.
"Garu, guru? Gu... KISHAAAAA!"
Lalu Lizard Lord, meski tidak memahami
bahasa, mulai bingung menghadapi situasi aneh ini. Pria kecil yang tidak ada
apa-apanya dibandingkan dirinya tidak sanggup diratakan. Menjadi kesal, ia mengaum
keras sembari makin mengerahkan tenaga untuk meratakannya. Namun, meski begitu, Damon tidak hancur. Malah sebaliknya, perlahan-lahan mulai mendorong balik.
"Master... ketahanan kaki dan
pinggang yang luar biasa... Kedua kaki bagaikan manusia super itu menahan satu
serangan monster Tingkat Bahaya 10... Master."
Strayer merekamnya di dalam manik
matanya. Lalu membuat dada, pipi, dan rahimnya membara.
"Masterku..."
Kini ia tidak bisa mempertahankan wajah
tanpa emosinya lagi, meleleh dan jatuh sepenuhnya ke dalam pelukan Damon.
"ORAAAAA!"
Dan akhirnya Damon mendorong balik lengan
Lizard Lord. Akibat dorongan tenaga itu posisi Lizard Lord berguncang hebat. Di
saat yang sama Damon melompat tinggi, melapisi kaki kanannya dengan mana yang
sangat melimpah.
"Meraunglah lalu sirna! Tendangan
Pamungkas!"
Tendangan sekuat tenaga yang mengangkat
kakinya tinggi-tinggi.
Tendangan itu menghantam rahang Lizard
Lord hingga terlempar naik, hancur, taringnya remuk, dan lehernya patah
sepenuhnya.
"Opps, bahkan tidak sempat meraung
ya."
Benar-benar satu serangan mematikan,
Damon telah membasmi Lizard Lord Tingkat Bahaya 10.
Rombongan di tempat itu tertegun bisu
menghadapi situasi di depan mata. Damon mendarat, dan Lizard Lord yang telah
tewas tumbang begitu saja di atas tanah. Di saat bisa mencernanya sebagai
kenyataan, desa kecil itu dari keheningan seketika meledak oleh sorak-sorai
yang sangat besar.
"O-Oooooooooo!"
"Luar biasa, berhasil, berhasil!
Luar biasa banget, Nak!"
"Selamat, k-kita... selamat..."
"Tidak bisa dipercaya, ini mitos!
Hal seperti ini adalah mitos!"
"Ini adalah pencapaian besar yang
boleh disebarkan ke seluruh dunia! Bos, kau ini sebenarnya apa, sih!"
"Damon-kun, terima ka—"
Selamat. Bergembira atas fakta itu, dan
semua orang hendak melontarkan suara terima kasih pada Damon yang telah
menyelamatkan mereka. Namun Damon memamerkan taringnya.
"Bising banget, ucapan terima kasih
itu menjijikkan! Imbalan, imbalan! Aku kan sudah mendapatkan Najimi dan Shesta,
makanya begitu saja sudah cukup tahu!"
Dirinya bukanlah pahlawan lagi. Ucapan
terima kasih pun tidak perlu. Sikap Damon yang tampak seperti menutupi rasa
malunya membuat para warga desa dan Pasukan Iwankutu tertawa kebingungan. Dan
di tempat yang agak jauh dari lingkaran itu, Najimi bersandar pada Shesta
sembari bergumam.
"Sudah tidak apa-apa, kan,
Shesta."
"Mbak Najimi..."
"Di desa ini Sekund... tidak,
Pahlawan sudah tidak akan datang menolong kita lagi. Kita tidak punya pilihan
lain selain menyerahkan tubuh kita. Tapi sebanyak yang kita serahkan, anak itu
bakal membalasnya…"
"Ung... kuat... keren... Asal tidak
terlalu mesum saja sih bagus ya~"
"Beneran ya."
"Tapi ya sudahlah. Soalnya... kita
kan sudah memutuskan, ya."
Mereka sudah menjadi milik Damon seumur
hidup. Ke depannya pertemuan seperti apa pun, pria seperti apa pun yang muncul,
bahkan jika Sekund pulang sekalipun, mereka telah memutuskan untuk menjadi
wanita milik Damon seorang. Namun saat ini mereka merasa hal itu tidak sepadan
dengan penderitaan, rasa benci, ataupun kesedihan seperti yang diperkirakan
sebelumnya.
"Aah, menyebalkan banget! Najimi,
Shesta, kemarilah! Bersetubuh, bersetubuh! Mari bersetubuh!"
"Fufu, iya-iya, aku paham kok,
bersetubuhlah sepuasmu."
"Iyaa~ katakan hal apa saja yang ingin kau
lakukan ya, Kakak Damon♪"
Menuruti permintaannya, mereka berdua
berpegangan tangan sembari berlari menghampiri Damon.
"Master... inilah Pahlawan Tengen.
Sosok melampaui batas yang tak bertepi..."
Dan Strayer yang masih berdiri di tempat
itu menatap ke bawah pada bangkai Lizard Lord, merasakan debaran dada pada
Damon, dan di saat yang sama meneteskan air mata lagi. Seberapa besar sosok
berbakat yang telah direbutnya dari dunia ini.
"Maafkan saya..."
Itu bukan lagi permintaan maaf yang
ditujukan kepada Damon seorang.
Melainkan permintaan maaf yang tidak
mungkin dimaafkan yang ditujukan kepada seluruh umat manusia dan dunia.
"Hei, Strayer! Kau juga kenapa
melamun di sana! Kau juga sudah pasti ikut bergabung, cepat kemarilah!"
Namun, meski meminta maaf, sosok yang
ditebus oleh Strayer kini hanyalah Damon seorang.
"Baik, Masterku. Ke mana pun Anda
pergi."
Sambil menyadari kembali dosa dirinya,
Strayer berlari menghampiri Damon.
──♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Ancaman di desa telah sirna, dan Damon
sesuai janjinya melahap habis tiga orang gadis sampai fajar tiba.
"Ahi, a, nhi... a... nho... m-masih
mau lagi?"
"Luarrr biasa... K-Kakak...
ahi."
"...Master..."
Tiga orang gadis yang dilibas habis
hingga tuntas sampai tidak sanggup menjadi tandingan meski bertiga sekaligus,
kini tergeletak di atas tempat tidur dan lantai menjadi gumpalan daging yang
bernapas.
"Guwahaha. Benar-benar penyegaran
yang sangat luar biasa... Nah, sebagai ganti senam pagi, aku bakal melibas
monster kroco dulu, deh."
Lalu, Damon yang telah menikmati sepuas
hatinya merasa tubuh dan jiwanya menjadi ringan. Berburu monster terasa hanya
sebatas olahraga yang pas baginya.
"Master... jika Anda hendak pergi,
saya juga..."
Strayer tergesa-gesa mencoba mengejar
Damon yang hendak keluar dari kamar. Namun, di saat ia bangkit berdiri, kaki dan
pinggang Strayer gemetar hebat hingga tidak bisa langsung berlari.
"Jangan memaksakan diri. Lagipula
cuma berburu monster biasa. Malah kalau kau yang sekarang sampai ikut keluar,
secara harfiah cuma bakal jadi pengganggu. Malam nanti bakal kutiduri lagi,
jadi saat siang hari pulihkan saja tenaga fisikmu."
"Tidak, saya tidak apa-apa. Baik
tenaga fisik untuk melayani Master di malam hari, maupun tugas di siang hari
agar tidak menjadi pengganggu Master... tidak ada masalah."
"Mana ada tidak ada masalah, kau
gemetar bergetar begitu bagaikan anak kuda yang baru lahir, tahu."
"Saya tidak apa-apa. Saya akan
segera bersiap."
Damon tanpa sadar tertawa melihat wujud
Strayer yang tampak tidak elok itu. Namun Strayer sendiri sangat serius, dan
memaksakan diri hendak tetap mengikuti Damon dari belakang.
"Lagipula, memangnya buat apa kau
ikut?"
"Seperti kemarin, lewat persepsi
saya, saya akan memberitahukan lokasi monster kepada Master. Serahkan pada
saya. Saya pasti akan menjadi kekuatan bagi Anda."
Makanya dirinya juga akan ikut. Melihat
Strayer yang memohon demikian, tawa Damon pun terhenti. Lalu dengan raut wajah
yang serius ia melontarkan keraguan.
"Hei, Strayer."
"Baik."
"Kau kan sudah dihantam oleh sifat
asliku yang bajingan sampai sejauh ini, tapi kau tetap berpikir kalau aku ini
sosok yang mulia bernama Pahlawan Tengen itu? Kalau saja kau tidak melakukan
kesalahan, aku bakal menjadi pahlawan yang menyelamatkan dunia dan umat
manusia. Dan kau yang merusak segalanya, berpikir kalau tubuh dan jiwamu harus
merasakan penderitaan neraka, makanya diperkosa seperti ini, dan menyerahkan
diri pada bahaya nyawa demi menebus dosamu?"
"Master?"
"Apa kau tidak berpikir sebaliknya?
Setelah menyaksikan sifat asliku secara langsung, mau itu Pahlawan Tengen atau
apa, pada akhirnya aku ini sama seperti Sekund, orang sampah yang tenggelam
dalam jabatan pahlawan dan wanita, melupakan rasa keadilan ataupun rasa cinta
yang murni, lalu hidup menuruti hasratnya sendiri. Bahkan di saat para warga
desa yang tidak punya kekuatan nyaris dibasmi oleh monster raksasa pun ia tidak
bergerak, dan baru bergerak setelah ditukar dengan tubuh wanita, tahu?"
Sambil mengucapkan hal itu, Damon
menunjuk Najimi dan Shesta yang sedang terbaring mengerang di atas tempat
tidur.
"Damon Gokua adalah sampah yang
bahkan tidak perlu ditebus dosanya. Baguslah dia tidak lolos jadi pahlawan.
Tidak mau menolong orang secara cuma-cuma, memanfaatkan kelemahan orang lain,
menodai wanita dan melahap nikmatnya kenikmatan—ia adalah bajingan paling tidak
berguna dan paling jahat."
Damon kehilangan segalanya akibat
kesalahan Strayer. Seharusnya ia menjadi Pahlawan, menyelamatkan banyak umat
manusia, dan bisa mendapatkan segalanya.
Namun di sisi lain, bagaimana jika Damon
menjadi Pahlawan saat itu?
Bukankah Damon juga akan tenggelam dalam
hasrat seperti Sekund, dan pada akhirnya memamerkan sifat asli yang sama
seperti sekarang?
Makanya, bukankah kesalahan Strayer itu
justru hal yang benar?—Damon melontarkan kata-kata yang sarat akan sindiran dan
ejekan. Namun, Strayer menatap Damon secara lurus dan berlutut di satu kakinya.
"Saya akan berada di sisi Anda
seumur hidup. Biarpun itu adalah neraka atau di ujung dunia sekali pun, saya
akan ikut ke mana saja. Hal itu kini menjadi alasan keberadaan saya. Sifat asli
Master, maupun bagaimana Anda sebagai Pahlawan, sama sekali tidak pantas untuk
dipikirkan oleh orang seperti saya. Saya mengonfirmasi seluruh diri Anda, dan
biarpun perintah seperti apa pun saya akan mematuhinya dengan senang hati, jadi
selama nyawa ini masih ada, jika tubuh sebagai wanita ini bisa digunakan, silakan
gunakan sesuka Anda. Masterku."
Hal "bagaimana jika" sudah
tidak ada hubungannya lagi bagi Strayer.
Yang terpenting saat ini dan ke depannya
adalah tekad bahwa dirinya akan terus berada di sisi Damon, mendengarkan
seluruh perintah dan keinginan Damon, mengonfirmasi seluruh diri Damon, serta
mempersembahkan nyawa, jiwa, tubuh, dan jiwanya hanya demi Damon seorang.
"Cih... begitu ya. Yah, tidak
apa-apa, sih. Terserah kau saja."
"Baik, ke mana pun."
Damon merasa heran atas tekad berat milik
Strayer, dan tidak berniat mengucapkan lebih dari itu lagi. Sebagai gantinya,
jika memang begitu Damon menyampaikan pada Strayer.
"Kalau begitu, ini perintah.
Istirahatlah. Cuma gara-gara monster kroco saja, tidak usah repot-repot datang
ke sisiku."
"Eh... Master."
"Perintahku itu mutlak, kan?"
Damon menyampaikan bahwa jika itu
perintah maka tidak akan ada protes, kan. Strayer yang seperti biasa pun
menjadi bingung menghadapi perintah itu. Bahwa dirinya bukanlah sosok yang
pantas dikhawatirkan oleh Damon. Lalu, Damon memamerkan senyum mesum yang
dibuat-buat sembari menarik Strayer mendekat, meremas pantat dan dadanya.
"Simpan tenaga fisikmu. Masuklah ke
dalam kamar mandi lalu bersihkan tubuhmu sampai sangat bersih. Lalu, kalau aku
sedang ingin bersetubuh, mau siang ataupun malam, terimalah dalam kondisi
sempurna. Atau, kau mau menyerahkan tubuh yang penuh dengan keringat, air
liurku, dan sperma hingga berbau amis ini padaku, lalu melayaniku dalam kondisi
sangat lelah, hah?"
"Kh, hal itu... nh... a."
Strayer mengerang akibat kata-kata dan
cumbu rayu tangan Damon.
Lalu Damon menyampaikan hal itu sembari
memeluk Strayer.
"Kau itu milikku seumur hidup.
Makanya jangan memaksakan kehendak yang berat itu padaku. Diam dan patuhi
perintahku, bergeraklah demi mewujudkan keinginanku, kalau kubilang datang ya
datanglah, dan kalau kubilang jangan datang ya jangan datang. Paham, kan?"
"Namun, Master... saya..."
"Hei, mematuhi perintahku itu cuma
di bibir saja, hah? Jangan sampai kata 'namun' keluar dari mulutmu atas apa
yang kucucapkan."
"Master..."
"Lagipula, apakah menaruhmu selalu
di sisiku itu hal yang bagus? Soalnya aku belum bisa mempercayai ataupun
menganggapmu dapat dipercaya sampai sejauh itu, sih."
"Kh, a... Mohon maaf
sebesar-besarnya. Saya tidak memikirkan kerepotan bagi Master."
Jika dibilang begitu, Strayer tidak punya
pilihan lain selain patuh. Bahwa "aku tidak mempercayaimu" adalah hal
yang teramat wajar dan masuk akal—Strayer menyadarinya, lalu menundukkan
kepalanya karena malu atas sikap kekanak-kanakannya sendiri.
(Benar juga... saya ini apa... Master
memeluk saya hanya untuk menggunakannya sebagai pelampiasan hasrat seksual
saja, dan sebenarnya fakta bahwa keberadaan saya ada di sisinya adalah hal yang
tidak menyenangkan...)
Padahal wajar saja jika berpikir ingin
membunuhmu, tidak ingin melihat wajahmu, atau tidak ingin menaruhmu di sisinya,
tetapi apa yang sedang kukatakan ini, pikirnya.
Namun, Damon memamerkan senyuman melihat
wujud Strayer yang merenung dan menginstrospeksi diri sejauh itu, menaruh
tangannya di pipi Strayer untuk mendongakkan wajahnya, lalu menyumpal bibir itu
dengan ciuman.
"Nh."
"A, Master..."
Strayer menjadi bingung saat diberikan
ciuman pekat. Lalu Damon kembali tertawa secara mesum sepuasnya.
"Makanya, diam saja dan bersiaplah
untuk bersetubuh! Hari ini juga aku bakal melakukannya banyak-banyak
samamu."
Mendengar kata-kata itu, entah mengapa
dada Strayer berdebar kencang, merasa hatinya seolah terselamatkan, lalu ia
mengangguk mantap atas perkataan Damon.
"Sesuai keinginan Anda."
Setelah Strayer akhirnya patuh dan
menurut, Damon membalikkan badan lalu melangkah ke luar. Mungkin karena sudah
bersetubuh semalaman bersama Strayer, Najimi, dan Shesta, menghirup udara luar
yang bersih dan segar membuat perasaannya menjadi segar.
"Soal desa ini, soal diriku ke
depannya... lalu, soal Strayer juga... yah, mari kita jalani pelan-pelan
saja."
Apa yang bakal dilakukannya ke depan, dan
bagaimana langkahnya kelak, Damon yang sekarang masih belum memikirkannya
sejauh itu.
Namun meski Damon telah kehilangan
segalanya dan masa depannya sempat tertutup, untuk saat ini ia memutuskan untuk
hidup menuruti keinginannya sembari terus melangkah dan memikirkannya ke depan,
menatap lurus ke depan.
【Pengalaman Damon】
●
Mantan Saint Strayer: 70 Ronde
●
Gadis Cantik Dada Besar Desa Najimi: 17 Ronde
●
Adik Perempuan Pahlawan Shesta: 30 Ronde
●
Sepasang Kakak Beradik Malang Rumah Bordil Aarne dan Maai: 5 Ronde + 5 Ronde



1 comment