Prolog
Dewi Lutos dan Boneka Nutos
Kalian semua sudah berusaha dengan baik.
Meskipun dikelilingi oleh orang-orang yang hanya
memikirkan diri mereka sendiri, kalian tetap bersikap baik pada orang lain dan
mematuhi aturan. Kalian menyembunyikan kemarahan, dan tetap tersenyum
bahkan saat ingin menangis.
Kalian pantas mendapatkan pujian.
Semakin seseorang berusaha hidup dengan serius, benar,
dan baik, semakin sering pula mereka mengalami hal-hal yang tidak masuk akal.
Ketidakadilan, kesombongan, pengkhianatan, dan
keputusasaan. Dunia ini penuh dengan dendam, kedengkian, dan
kemarahan.
Aku menyukai orang-orang yang berusaha hidup baik di
dunia seperti itu. Oleh karena itu, ada sesuatu yang ingin kusampaikan.
Kalian memiliki hak. Hak untuk menentukan cara hidup
kalian sendiri.
Jangan sembunyikan kemarahan kalian. Kalian tidak perlu
tersenyum saat ingin menangis.
Jika ingin marah, marahlah. Jika ingin menangis,
menangislah.
Kalian semua adalah kucing di dalam kotak.
Esensi sejati manusia tidak akan diketahui sampai
saat-saat terakhir. Orang seperti apa kalian sebenarnya, tidak akan pernah
terungkap sampai kehidupan itu berakhir.
Sama seperti kucing di dalam kotak yang tidak diketahui
apakah ia hidup atau mati, sampai kotak itu dibuka.
Bagaimana jika saat kotaknya dibuka, hasilnya adalah
kejahatan? Tidak masalah.
Sebanyak apa pun kalian jatuh dan ternoda oleh kejahatan.
Sekalipun kalian menderita dalam keputusasaan──dan berujung menjadi kutukan,
itu bukanlah masalah.
Dunia ini memiliki diriku. Aku, sang kejahatan terkuat
ini, yang akan menjadi akhir bagi kalian yang telah berubah menjadi jahat.
Yah, intinya apa yang ingin kukatakan adalah.
"Bulan gaming raksasa sialan itu apa-apaan
sihhhhhhhhhh, gara-gara bulan bodoh ituuuu, kehidupanku sebagai dewi
benar-benar berakhiiiiiiir!! Huwaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!"
Kalau sudah selevel diriku, rasanya aku bisa bertindak
jahat secara tidak sadar...
Huft... Bakat kejahatanku sendiri benar-benar
menakutkan, ya.
"Apa sih yang orang ini bicarakan."
◇◇◇◇
Halo, aku Kastani Takihito.
Setelah menyelesaikan ujian bertahan hidup di pulau
tak berpenghuni milik Akademi Sihir dan pulang ke rumah, ada seorang wanita
berambut pirang yang sedang menangis tersedu-sedu.
Wanita bermata biru itu memiliki rambut pirang yang
kusam, sayap yang layu, serta penampilan yang mirip seperti wanita karir cantik
berusia sekitar 30-an yang kelelahan.
"Uwaaaan! Penthouse di atap apartemen
menara surga milikku yang dilengkapi pemandian umum besar, semuanya meledak
hancurrr, huwaaaaaa!"
Dewi Lutos, sosok penolong yang telah membawaku ke
dunia ini, sedang menangis histeris.
"Dewi Lutos... Menilai dari aura keilahian yang
menyelimutinya, sepertinya dia memang asli... Tapi, dia terlihat menjadi jauh
lebih lemah..."
Lutos-sama terus menangis dan meratap. Saat aku bertanya
apa yang terjadi padanya──.
"Huwaaa!! Akuu, diusirrr, dari posisi dewiii."
Hmm, begitu, ya.
"Dewi-dewi lain membentuk aliansi dan
menyerangkuuu!! Padahal aku sudah berusaha kelar! Entah
kenapa, tenagaku hilang dan aku tidak bisa bertarung... Miko itu jugaaa, saat
aku sadar, dia sudah mengkhianatiku...! Apa-apaan sih, bocah laki-laki berambut
perak itu... cuma karena wajahnya sedikit tampan, aku sama sekali tidak
mengertiiii."
Oh, begitu. Bocah berambut perak... rasanya aku ingat
ada orang seperti itu.
"Apakah itu Pangeran Kedua, Lumen Mira Arteria,
yang muncul di acara prom sebelumnya?"
Ah, benar juga, ada orang seperti itu. Orang kurang ajar yang telah merebut permainan peranku sebagai seorang
peramal.
"Orang kurang ajar yang merebutnya itu adalah
Anda sendiri, lho."
Aku hanya merebut kembali permainan peran peramalku
sendiri.
"Uwah, dia mengatakannya dengan
sungguh-sungguh..."
"Padahal aku ini adalah pemimpin Tujuh Dewa Agung,
sekaligus dewi keberanian dan kewajiban, tapi semuanya sudah berakhiiiir!"
Begitu, ya. Sepertinya, Lutos-sama...
"Anda dipecat dari posisi dewi, ya."
"──Genapa gamu bilang begiduuuuuu!!
Huwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!"
Sudah pasti, dia benar-benar dipecat jadi dewi. Air
mata Lutos-sama mengalir deras bagaikan air mancur.
"Tapi, bagaimana mungkin Dewi Lutos bisa seperti
itu? Di antara Tujuh Dewa Agung, dia seharusnya adalah dewi yang sangat
kuat."
Hee, begitu rupanya, hebat sekali Lutos-sama.
"Uuuuu, ada apa ini sebenaryaaaa. Keyakinan dari
para umat Gereja Malice juga sudah tidak bisa mencapai diriku lagi... Aku,
akuuu, hiks hiks..."
Hmm. Dari apa yang kudengar, berarti situasi Lutos-sama
ini──.
"Singkatnya, Anda dikhianati dan kalah,
kan."
"Uwaaaaaaaaaaaan!! Benar sekaliiiii!! Aku
jengkeeeellll!!"
Tapi, kenapa Anda bisa ada di rumahku?
"Uuuh, aku juga tidak tahuuu... Saat aku sadar, aku
sudah dijatuhkan dari surga ke rumah ini... Aku
tidak bisa bergerak dari rumah iniiii... Aku sudah hampir tidak punya keyakinan
yang tersisa dari mana pun untuk mempertahankan keberadaanku..."
Kalau dipikir sebaliknya, itu berarti Lutos-sama bisa
mempertahankan keberadaannya selama berada di rumah ini? Kenapa bisa begitu,
ya.
"Apakah Anda punya petunjuk mengenai hal itu?"
Hmm, apakah "Altar Terima Kasih Lutos-sama"
yang aku letakkan di ruang bawah tanah beberapa waktu yang lalu itu ada
hubungannya?
"Itu dia penyebabnya."
Langkah yang bagus, kan.
Lutos-sama adalah dewi dermawan yang telah
memberikanku kehidupan sebagai penjahat terkutuk. Penjahat berkelas tinggi
sangatlah peka terhadap budi dan rasa terima kasih.
Seperti yang kuduga, aku tidak bisa memaafkan hal
ini. Kenapa dewi yang dermawan seperti dirinya harus mengalami hal seperti
ini...
Dia memang mengatakan sesuatu tentang ramalan super
besar yang baru, atau karena bulan gaming raksasa sialan itu. Namun, itu
pasti hanyalah suatu kesalahpahaman belaka.
Aku mencoba bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada
Lutos-sama.
"K-kamu... Padahal kamu ini cuma pemilik Gift
peringkat G, pria gila yang malah meminta kutukan atas kemauan sendiri. Tapi,
kamu mau mendengarkan ceritaku, ya?"
"Tentu saja!"
"Uuuh, kebaikanmu sungguh menyentuh hatiku...
Apa-apaan ini... Padahal kamu cuma manusia fana... Terima kasih, ya..."
Aku memberikan tisu lembut yang dijual oleh Perusahaan
Tyler (Catatan: Aku menjual metode pembuatannya kepada ayah Kotori) kepada
Lutos-sama. Setelah itu, aku mempersilakannya duduk di kursi.
Srrtt... Lutos-sama menyeka hidungnya
yang memerah, lalu mulai menceritakan situasinya sedikit demi sedikit.
"Sebenarnya, awal mula dari semua ini... Disebabkan
oleh pria yang muncul belasan tahun yang lalu itu."
Belasan tahun yang lalu... Hmm, secara kebetulan
waktunya tumpang tindih dengan saat aku memulai aktivitas Curse-ku, ya.
"Pria yang tiba-tiba muncul entah dari mana itu,
memojokkan Gereja Malice dalam sekejap mata... Dia menyerang fasilitas gereja,
serta menghajar habis-habisan para orang suci dan rasul yang seharusnya
mendapatkan kekuatan khusus dari dewa."
Menyerang gereja, terdengar persis seperti
aktivitasku sebagai Curse. Heh, dunia ini memang luas, ya.
"Lagi pula, pria itu! Entah gangguan macam apa ini,
tapi dia sama sekali tidak menyentuh katedral milikku! Alih-alih begitu,
setelah membakar katedral milik dewi lain, dia malah membangun patung batuku di
sana...!"
"Dia bahkan menulis pesan tidak jelas seperti 'Lutos
telah tiba!!!!' dengan tulisan dari darah...! Gara-gara hal itu,
dewi-dewi lain jadi mengira kalau aku yang menyuruh pria itu, makanya mereka
semua sangat marah padakuuuu!"
Sambil mengontrol teknik sihir dari Kitab Darah Segar,
aku juga pernah membuat seni grafiti dari darah pada puing-puing bangunan yang
kuhancurkan.
Benar-benar mengejutkan. Tidak kusangka ada kelompok
anti-gereja yang memiliki tingkat kesempurnaan sama sepertiku...
"Hiks. Karena kejadian-kejadian itu terus
menumpuk... Aku jadi dipandang dingin oleh dewi-dewi lain. Lalu, tepat di saat
kekuatanku melemah akibat ramalan itu, mereka semua mengeroyokku sampai jadi
begini... Uuuh, aku sangat membenci bulan gaming raksasa sialan ituuuu,
kenapa setiap malam harus bersinar dengan warna pelangi sihhhh..."
Ramalan itu...? Bulan gaming raksasa sialan?
Lagipula, ramalan super besar yang baru dan bulan gaming
raksasa sialan itu memang benar-benar perbuatanku.
Masalah Eugene dan yang lainnya di pulau tak berpenghuni
sebelumnya.
Meskipun sebagian besar disebabkan oleh dewa gadungan itu
dan komunitas tradisi busuk mereka, seharusnya aku juga punya sekitar 2%
tanggung jawab di dalamnya.
Tapi, kenapa bulan gaming raksasa sialan itu bisa
sangat aktif memengaruhi begitu banyak hal?
"...Sejak awal, bagaimana cara Anda membuatnya
bersinar setiap malam?"
Eh? Tentu saja dengan tekad yang kuat.
Terus-menerus mengirimkan kekuatan kutukan ke bulan
awalnya memang sedikit berat, tapi aku sudah terbiasa di hari ketiga.
Kuncinya adalah dengan mengubah sifat kekuatan
kutukan agar ia bisa melakukan pemulihan mandiri terhadap kekuatan kutukan yang
tertahan di bulan.
"...Bukankah Anda telah menyempurnakan energi
tak terbatas?"
Tidak, tidak, tingkat kesempurnaannya masih rendah,
lho.
Meskipun disebut pemulihan mandiri, akurasinya masih
sangat rendah. Untuk saat ini, bulan gaming raksasa itu hanya berfungsi
sebagai gudang penyimpanan kekuatan kutukan saja.
Idealnya, aku ingin bulan gaming raksasa itu
bisa memproduksi kekuatan kutukan dengan sendirinya.
Tapi tetap saja, pada akhirnya siapa orang yang telah
melakukan hal ini? Benar-benar tidak bisa dimaafkan, beraninya dia melakukan
hal seperti itu pada penolongku!
"Lutos-sama, tolong beri tahu aku, siapa sebenarnya
yang telah merendahkan Anda! Aku tidak bisa memaafkannya! Aku tidak akan
memaafkan penjahat yang telah menyudutkan Lutos-sama!!"
"Kamu, mau marah demi diriku? ...Hiks, apa-apaan
ini, padahal kamu cuma pemilik Gift peringkat G yang setara dengan
sampaaaaah. Tapi, ternyata kamu orang yang baik, yaaaaa..."
Lutos-sama menangis bagaikan air mancur dan menyeka
ingusnya dengan suara yang sangat keras.
"Ini semua gara-gara orang yang bernama
Curseee... Gara-gara orang tidak jelas yang bernama Curse itu, aku sampai harus
mengalami hal seperti iniiii."
Hmm, ternyata ini ulah orang bernama Curse. Curse,
sosok yang sedang bermusuhan dengan gereja. Ya, ya, aku mengerti.
Profesor, apa sebenarnya yang terjadi di sini...?
"Siapa yang Anda panggil Profesor."
...Apa ada kemungkinan ini adalah arc Copy
Curse? Bagaimana dengan perkembangan cerita super dramatis di mana tiruanku
menjiplak aksiku dan memojokkan Lutos-sama?
"Berdasarkan bukti situasional, semua kerugian
yang disebutkan Lutos tadi sangat cocok dengan aktivitas Anda."
Navi menghela napas panjang dengan nada suara yang
lesu.
"Sejak awal, apa menurut Anda White dan saya
akan melewatkan keberadaan orang kurang ajar yang meniru Anda?"
Uwah. Benar-benar argumen yang sangat meyakinkan.
Memang benar, kalau ada tiruanku yang muncul, mereka
pasti akan langsung menyadarinya.
Hmm, kalau begitu... Orang yang menyudutkan Lutos-sama
adalah... Curse, dengan kata lain, diriku sendiri.
Navi. Kalau aku memang punya tanggung jawab dalam hal
ini, menurutmu berapa persentase kesalahanku?
"Bukankah 100%?"
Dunia ini benar-benar telah menjadi tempat yang keras,
ya.
"Yang membuatnya keras itu adalah Anda sendiri,
lho."
Baguslah, aku memang suka hal-hal yang keras.
"Uuuuu, semuanya sudah berakhiiiir. Padahal aku
sudah bersusah payah naik ke posisi pemimpin Tujuh Dewa Agung, tapiiii,
karierku sudah tamatttt, huwaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!"
Hmm. Sepertinya aku memang punya sedikit tanggung
jawab atas hal ini.
Ini sudah jadi kebiasaanku, menyebarkan pengaruh
kejahatan pada lingkungan di sekitarku. Mungkin ini yang dinamakan masalah
keluarga, ya?
"Kebiasaan yang sangat merepotkan, ya. ...Tapi,
untuk kali ini, rasanya tidak masalah, kan?"
Hoo, tumben sekali Navi memihak padaku.
"Benar, bagi saya──apa pun yang terjadi pada dewi di
sana itu bukanlah urusan saya."
Kau sangat dingin, ya, Navi. Padahal aku punya kesan
kalau kau ini adalah anak yang lumayan baik pada orang lain selain diriku.
"...Apakah Anda lupa? Dewi ini adalah sosok jahat
yang telah mempermainkan takdir kalian para reinkarnator."
Suara Navi terdengar sangat rendah.
Eh, Lutos-sama itu orang yang seperti itu?
"Sejak awal, dia berniat mengutuk Kotori hanya
karena suasana hatinya. Selain itu, para rasul yang Anda kalahkan sebelumnya,
maupun miko itu, dengan kata lain mereka bisa dibilang adalah korban yang
takdirnya telah dipelintir olehnya."
"Dia adalah salah satu dari Tujuh Dewa Agung, Dewi
Lutos sang dewi keberanian dan kewajiban yang memperlakukan manusia seperti
mainan... Tidak, tidak hanya dia, seluruh dewa di dunia ini semuanya..."
T-tidak mungkin... Mana mungkin Lutos-sama adalah dewi
jahat seperti itu...
"Huwaaaaaaa! Padahalll, aku tidak melakukan hal
buruk apa punnnnn. Padahal aku cuma mengoleksi jiwa-jiwa fana yang bodoh dan
tidak sedap dipandang, lalu membuat sistem pahlawan atau raja iblis untuk
mengikat mereka dalam reinkarnasi abadi sebagai bahan permainannnnn!"
Dia benar-benar melakukannya, ya.
...Benar juga. Sepertinya aku juga terlalu terbawa
suasana.
Mungkin karena dia dengan murah hati mengutukku. Aku jadi
percaya begitu saja kalau Lutos-sama hanyalah seorang dewi yang baik hati.
"Seharusnya Anda menyadari kalau dia itu orang
yang tidak beres sejak Anda dikutuk."
Seperti yang dikatakan Navi, sepertinya Lutos-sama juga
merupakan sosok kejahatan.
A-apa yang terjadi ini. Lutos-sama yang telah
memberiku kehidupan terkutuk dengan senang hati, tidak kusangka dia adalah dewi
yang jahat, alias dewi kejahatan...
U-uuh. Benar-benar sebuah tragedi. Hal semacam ini,
uuuuh... Lutos-sama, padahal aku percaya padamu... uuuh...
"Player... Apakah Anda bersedih? ...Anda
benar-benar memiliki hati yang sangat lem──"
Uuh──... "Pembunuh Dewi"...... ──Terdengar
tidak buruk juga.
"...Eh?"
Dewi yang merupakan simbol dari reinkarnasi dunia
lain, identitas aslinya ternyata adalah musuh besar yang harus dikalahkan, ya.
...Ohoho.
"Suara tawa yang menjijikkan."
Aku memiliki sebuah mimpi besar.
Yaitu menjadi penjahat terkuat. Aku telah memutuskan
untuk secara aktif melenyapkan kejahatan apa pun selain diriku secara acak.
Lagipula, sejak awal aku benci orang jahat.
Sangat disayangkan, tapi sepertinya Lutos-sama juga
merupakan sebuah kejahatan.
Mau bagaimana lagi. Aku akan membunuhnya dengan penuh
rasa terima kasih.
"Uwah... Perubahan sikap yang sangat cepat...
Menakutkan..."
"Uuuh, hiks, dengan begini, aku pasti akan
menghilang... Kehilangan keyakinan umat... tanpa ada yang mengingat
diriku... Bagaikan embun yang jatuh, embun yang akan mengakhiri diriku ini...
begitulah. Dewi yang malang... uuh, tidak kusangka dewi yang cantik dan terkuat
ini akan menghilang karena hal seperti ini... Ini adalah kerugian bagi
dunia..."
Dewi kejahatan ini masih punya kelonggaran, ya.
Tapi... Hmm. Kalau Lutos-sama yang masuk dalam kategori
"dikalahkan dengan penuh rasa terima kasih" ini terlihat begitu
menyedihkan, rasanya agak kurang, ya...
Sayapnya layu dan tampak seperti kain pel yang mengering,
sementara rambut pirangnya yang dulu cantik kini terlihat seperti rumput laut
kering yang kasar.
Kulitnya juga dipenuhi noda air mata dan tanah,
membuatnya terlihat persis seperti kucing liar, kan.
"A-apa. Matamu itu, sorot matamu seperti ingin
mengatakan sesuatu, ya..."
Oi, kalau begini rasanya aku seperti sedang menindas yang
lemah. Aku ingin Lutos-sama mengeluarkan semangatnya lebih banyak lagi.
"Player? Apa yang akan Anda laku──"
Sebelum menjawab pertanyaan Navi, aku memanggil
Lutos-sama.
"Lutos-sama, Lutos-sama, apa Anda tahu siapa
aku?"
"...Hah? ...Kamu itu Kastani Takihito yang punya Gift
peringkat G, kan? Reinkarnator tidak jelas yang menginginkan kutukan atas
kemauannya sendiri. Omong-omong, sejak awal kenapa orang sepertimu bisa
bercampur ke dalam dunia itu──"
"Aku adalah Curse."
"...Hah?"
"...Hah?"
Navi dan Lutos-sama memberikan reaksi yang benar-benar
sama.
"Aku adalah pemimpin Curse Brotherhood yang telah
memojokkan Anda, Curse."
Hening.
Keheningan yang begitu pekat hingga suara udara yang
menumpuk pun terdengar, lalu.
"Pffft~~~~!!"
Lutos-sama menyemburkan tawanya.
"Pffft ha ha ha ha ha! Pffft!! Kamu, bodoh
banget, yaaaaa!? Ahahahahaha! Kamu? Curse itu!? Itu sangat
mustahillll!"
Lutos-sama mendadak jadi sangat bertenaga. Sepertinya dia bisa menjadi sangat bertenaga saat sedang mengejek orang
lain.
"Asal kamu tahu, ya!? Dengarkan baik-baik, Kastani
Takihito! Hal semacam itu, sangatlah mustahil!"
Brak! Lutos-sama menunjuk ke arahku dengan penuh
semangat.
"Curse!! Si bodoh itu, dia adalah monster yang
menentang Gereja Malice ciptaan Tujuh Dewa Agung dan identitas aslinya belum
bisa dipastikan sampai saat ini! Kesatria Suci yang telah dianugerahi Senjata
Suci, orang suci yang diberikan kekuatan oleh dewa, koleksi rasul yang
dipanggil dari dunia lain, bahkan kandidat penerus sekelas miko pun berhasil
dikalahkan olehnya."
"Identitas asli monster yang tampaknya mustahil
untuk ukuran manusia fana itu, tidak mungkin merupakan orang dengan Gift
peringkat G sepertimu, peringkat terbawah di antara para reinkarnator sekaligus
pembawa bencana, hahahaha!"
"Apa yang harus kulakukan agar Anda mau
percaya?"
"Pfffft hahaha! Benar juga~ Kalau begitu, ini, di
sini. Coba pukul di sini~!"
Lutos-sama dengan wajah menyeringai tingkat maksimal
menunjuk ke arah perutnya sendiri.
Gaun putih dewi yang hangus di beberapa tempat itu, entah
memang desain aslinya atau akibat dikeroyok habis-habisan di surga. Kini gaun
itu berubah menjadi mode busana yang memamerkan pusar.
"Divine Barrier"
Sesuatu yang berbentuk seperti kristal salju
semi-transparan melayang di perut Lutos-sama.
Itu sejenis penghalang yang terbentuk dari energi
yang sangat mirip dengan mana.
"Kalau kamu berhasil melancarkan satu serangan saja
ke perutku, aku akan mengakui kalau kamu itu adalah Curse~. Pffft~"
Lutos-sama mulai meliuk-liukkan tubuhnya, seolah
memamerkan perut putihnya yang ramping.
"Ah~ Tapi, tapi~ Divine Barrier ini.
Bahkan dalam mitos sekalipun, tidak pernah ada satupun manusia fana yang
berhasil menghancurkannya~. Bahkan 'Pahlawan Terdahulu' yang dijuluki terkuat,
'Core Sang Pemakan Sihir', paling-paling hanya bisa membuat keretakan pada
penghalang ini~"
Penghalang yang bahkan tidak bisa dihancurkan oleh
Pahlawan dari mitos, ya. ...Itu sangat keren.
"Aku mengerti."
"Hah? Kamu mengerti? Pffft hahaha, kamu itu sama
sekali tidak mengerti apa-apa, benar-benar konyol wkwkwkwk. Yang bisa
menghancurkan penghalang ini hanyalah kaum dewa yang memiliki Divine Power
yang sama~. Orang lemah sepertimu──"
"Aku sangat menantikannya."
Aku jadi semakin bersemangat, nih.
Melihatku yang memasang kuda-kuda dengan kepalan tangan,
Lutos-sama juga memasang pose bertarung layaknya menghadapi seekor semut.
"──Hah? Menantikannya???? Pffft hahaha! Hahahaha!
Gertakan yang payah. Karena kau berbohong aneh begitu~ Dasar sampah dengan Gift
peringkat G, beraninya melawan Dewi Lutos ini! Asal kau tahu~ kalau sekarang
aku bisa memberikanmu kesempatan untuk meralat kebohongan konyolmu yang tadi,
lho~"
Kecepatan liukan pinggul Lutos-sama yang menari ke kiri
dan ke kanan semakin bertambah.
"Bisa dibilang, Divine Barrier ini
adalah──Pertahanan! Mutlak! Pertahanan mutlaaaak, ini adalah pertahanan mutlak,
tahu! Selama kau adalah manusia fana, kau tidak akan pernah bisa
menghancurkannya, o-hohoho! Hei, bagaimana perasaanmu sekarang, hah,
bagaimana?"
...Pertahanan mutlak?
Oi, oi, oi, ini benar-benar membuatku sangat bersemangat.
"Oi, oi, oi, dia bakal mati lho, Lutos itu."
"Apakah kau tidak mengerti kebaikanku ini... Coba
saja ikan teri sepertimu memukul Divine Barrier ini? Yang hancur
bukanlah penghalangnya melainkan tubuhmu, lenganmu akan jadi daging cincang,
cin, cang... ──...Hm?"
"Curse Power Enhancement"
Zzzzt. Kilauan seperti api berwarna hitam dan merah
mulai berkumpul.
Di tangan kananku, aku membalutkan kekuatan kutukan.
Kekuatan yang berhasil kujadikan milikku setelah berlatih
keras saat menjadi budak tani sejak datang ke dunia ini.
Kekuatan yang berhasil kucapai, justru karena Lutos-sama
yang ada di depanku ini telah memberikanku kehidupan sebagai penjahat terkutuk.
"Hm? Hm? Hmmm? ...T-tunggu seben, tar... Kau,
benda hitam itu, apa...? Benda itu melelehkan, mana di sekitarnya... kan? Hah? Eh?
Apa-apaan, itu."
"Ini kekuatan kutukan."
"Makanya, kekuatan kutukan itu apaan!?"
Inilah balasan, dariku untuk Anda──.
"H-hei!! T-tunggu dulu! Tidak, tunggu!! Makanya,
kekuatan kutukan itu apaan!? A-aku tidak tahu hal semacam ituk!!!! T-tunggu,
m-mana, itu bukan mana, kan!? Benda itu, memakan dan melelehkan mana di
sekitarnya? Hah!? Manusia fana tidak mungkin bisa melakukan hal semacam itu!!
T-tunggu, tunggu tunggu, kalau aku dipukul dengan benda itu... Baik mana maupun
Divine Power murni tidak akan ada artinya──sudah pasti akan tertutupi
olehnya──... Tunggu... Melelehkan mana, dan Divine Power?
...Saat Miko terdahulu bertarung melawan Curse... Sepertinya dia juga melakukan
hal yang sama...! Hei! Berhenti!! Berhenti!! Eh, makanya, sudah kubilang
tunggu!"
Kehidupan kedua yang Anda berikan, telah mengabulkan
keinginanku.
Aku ingin menjadi penjahat. Saat ini, aku sedang berada
di jalan menuju impianku itu...
"Hei!! Hei, kubilang! Kau, kau dengar ucapanku,
kan!? A-aku bukannya takut, lho!! Hanya saja, untuk sekarang,
untuk sekarang, bagaimana kalau kita bicara sedikit lagiiiii!? Ya? Ya? ...Beraninya kau mengabaikan ucapanku yang merupakan dewi ini! Benar-benar
bodoh! Makanya manusia fana itu... k-kenapa kau mengepalkan tanganmu!? Kenapa,
kau bersiap untuk memukul!? Hah? Memukul, jangan-jangan, kau benar-benar
berniat memukulku!? Hei! Berhenti mengumpulkan kekuatan di kepalan tangan
itu!"
Apakah Anda bisa melihatnya, Lutos-sama. Satu serangan
ini, adalah dari diriku untuk Anda──.
"T-tunggu──Dengarkan bicaraku, ──Sama sekali, orang
ini, kenapa dia sama sekali tidak mau mendengarkan perkataan orang lain!?"
Sebagai bentuk BALAS BUDI!!!! Curse Body Blow!!
"Hiaaaaaa!!!!!!!"
"Gyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!??!!??"
Krak──Praaaaaaang!!!!!!
Suara yang terdengar bagaikan petir menyambar dan
menghancurkan kaca.
Curse Body Blow itu
bersarang sempurna di perut ramping nan menawan milik Lutos-sama.
Penghalangnya hancur, dan tubuh Lutos-sama terlipat
membentuk huruf V sebelum akhirnya menabrak dinding!
"Gyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!??"
Jeritan yang sangat keras dan sama sekali tidak
terdengar seperti jeritan seorang wanita cantik.
Hebat sekali, ya. Dewi Lutos-sama...! Padahal aku
memukulnya dengan cukup keras, tapi dia masih punya sisa tenaga untuk menjerit
sekeras itu!
"Ugeeeeeeeeeeeeeeeee!!?? Sakit,
sakiitttttttttttttttt!!?? A-aku ini, ugh, Dewi Lutos ini, sampai menerima luka
seper, seperti ini... Aaaaaaaaaaa!?"
Lutos-sama berguling-guling di lantai sambil meronta
kesakitan. Dia masih sangat bertenaga, kan.
"Bagaimana rasanya? Lutos-sama."
"K-kauuuuuuu... Apa, apa yang sudah kau
lakukannnnn... Ini mustahil, kekonyolan, macam apa iniiiii...! Divine
Barrier, Divine Barrier milik Lutos ini, mana mungkin bisa
dihancurkan oleh ikan teri sepertimuuuuuuuuu"
Lutos-sama menjerit seolah-olah dia adalah penjahat di
adegan klimaks. Hmmm, orang ini memang sangat menarik. Daya tahan tubuhnya
benar-benar luar biasa karena dia bahkan tidak memuntahkan setetes darah pun.
"K-kau ini, sebenarnya siapa...!? Padahal kau cuma
sampah pemilik Gift peringkat G, uhuk, c-cepat sebutkan namamu! Sebutkan
identitas aslimu!"
"Kehih."
"!!"
"Seharusnya aku sudah mengatakannya tadi,
Lutos-sama... Penolong yang telah hadir dalam kehidupanku. Andalah
yang memilih, dan Andalah yang telah melahirkan──kutukan bernama diriku
ini."
"K-kau, apa yang kau bicarakan──"
Baiklah, waktu pertunjukan sang penjahat dimulai.
Aku mengumpulkan dan merajut kekuatan kutukan dalam
sekejap, lalu mengubah pakaianku menjadi kostum Curse, serta membuka mata
kutukan bergaya Tiga Monyet.
Menunjukkan identitas asli di hadapan entitas tingkat
tinggi yang menguasai dunia...! Otakku terasa sangat terstimulasi. Ini
dia, ini. Inilah yang selama ini ingin kulakukan.
Mulut Lutos-sama perlahan-lahan terbuka lebar.
"Wujud, itu...... Teknik penghambat persepsi...
Mata iblis dengan pola yang belum pernah kulihat sebelumnya... Sama seperti...
laporan dari para umat... Pria berpakaian hitam...!"
Sambil menggetarkan suaranya, Lutos-sama menyebutkan nama
itu.
"Curse, ternyata kau adalah, Curse...!!"
"Ya, lama tidak berjumpa, Lutos-sama."
"...Begitu, jadi begitu ceritanya... Ha, haha,
budak yang seharusnya mati bagaikan sampah pada saat itu... Ternyata identitas
aslimu adalah, Curse..."
Lutos-sama berdiri terhuyung-huyung, membentangkan
sayapnya yang layu, lalu menyibakkan rambutnya.
Bzzzt──Ruang di sekitar Lutos-sama mulai berputar dan
terdistorsi.
"...Ini adalah peringatan, Player."
Ya, aku tahu kok, Navi.
Mana Lutos-sama, tidak, ini Divine Power, kan?
Energinya sedang mendistorsi ruang di sekitar kami.
"...Berani-beraninya kau melakukan hal semacam
ini pada Dewi Lutos, apa kau pikir kau bisa lolos begitu saja."
"Tidak, tidak, tidak mungkin seperti itu. Dewi
Lutos adalah dewi terkuat sekaligus pemimpin dari Tujuh Dewa Agung yang
disembah oleh Gereja Malice... Melakukan hal yang lebih tidak sopan dari ini
padanya, tentu saja aku tidak berani."
Aku melangkah maju satu langkah, dua langkah mendekati
Lutos-sama.
"...Kau, ternyata memang meremehkanku, ya."
"Mana mungkin, aku sama sekali tidak meremehkan
Anda──De-wi-yang-ter-hor-mat."
"──! Peringatan, Player...! Ini
adalah..."
Baguslah, efek provokasiku sangat luar biasa.
"──Wahai manusia fana yang sangat kecil."
Warna memudar dari pemandangan di sekitarku.
Dunia berubah menjadi hitam putih, dan waktu berhenti
bagi segala sesuatu selain diriku dan Lutos-sama.
Ini adalah campur tangan terhadap dunia yang jauh
melampaui Canopy Domain.
"Apakah kau sedang mempermainkan dewa?"
Dewi Lutos sekarang benar-benar menganggapku sebagai
musuhnya.
Rasa dingin yang menusuk tulang terasa seolah-olah
lautan, pegunungan, dan seluruh alam semesta sedang memamerkan taring mereka
padaku.
"Kehih."
"Manusia fana, apakah kau memiliki kata-kata
terakhir?"
"Tidak ada. Cepat tunjukkan padaku, apa yang kau
sebut kekuatan dewa itu."
"...Benar-benar sombong."
Lutos-sama mengumpulkan Divine Power di ujung
jarinya. ──Pancaran energi yang sangat murni...! Ini pertama kalinya tubuhku
berteriak menyuruhku untuk segera menghindar!
"Berbanggalah, Curse. Kaulah manusia pertama──yang
merasakan serangan ini."
Ah, ini──sangat mirip dengan cahaya yang kulihat saat
darmawisata sebelum aku bereinkarnasi──.
"──Doomsday Magic...! Berani-beraninya dia
menggunakan hal semacam itu pada manusia──!? Player!! Itu sangat
berbahaya! Sekuat apa pun Anda, itu bukanlah sesuatu yang bisa ditahan oleh
makhluk hidup! Cepat menghin──!!"
Jeritan Navi. Namun, bahkan jeritan itu lenyap ditelan
oleh cahaya yang dipancarkan Lutos.
"Rasakanlah sendiri kekuatan dewa."
Aku akan menahannya dengan kekuatan kutukanku──kekuatan
manusia yang kuperoleh di dunia ini demi mewujudkan mimpiku.
"Nah, mari kita bandingkan kutukan siapa yang lebih
kuat──"
Pop.
Suara konyol yang terdengar seperti berondong jagung yang
baru saja meletup dengan ceria.
"Eh."
"Eh?"
"...Eh."
Suara kebingungan itu keluar dari mulutku, Navi, lalu
Lutos-sama secara berurutan.
Ada apa ini? Ke mana perginya cahaya yang tadi berniat
memusnahkanku itu?
Tidak, sejak awal, ke mana perginya Lutos-sama?
Lutos-sama yang tadinya memancarkan Divine Aura
yang luar biasa, kini tidak ada di mana pun. Yang ada hanyalah...
"...Boneka?"
Entah kenapa, ada sebuah boneka yang melayang di udara.
Wajah boneka itu tidak bisa digambarkan dengan kata-kata,
ya.
Tidak datar, tapi juga tidak sedang tersenyum. Ekspresi yang serius seperti salah mengartikan antara ketenangan dan
kehampaan... Entah kenapa terasa sedikit tidak tahu malu juga.
Desain gaun usangnya yang berwarna putih, sayapnya
yang mungil, rambut emasnya, dan matanya yang berwarna hijau... Luar biasa,
karakteristik itu...
"Entah kenapa... rasanya itu seperti, 'itu',
ya?"
"Apa sih, Navi. Kalau cuma 'itu' aku tidak
mengerti."
"Itu lho, 'itu'. Yang barusan bersikap penuh
semangat layaknya dewa itu lho."
"Navi, kau ini benar-benar meremehkannya. Tidak
mungkin orang yang tadi mengatakan hal-hal seperti 'Wahai manusia fana' atau
dialog-dialog lain yang cuma boleh diucapkan oleh bos terakhir itu adalah benda
ini."
"...Benar juga, ya? Padahal tadi dia kelihatan
sangat keren, ya."
Benar sekali, Navi.
Ukurannya sekecil telapak tangan... Makhluk aneh yang
mirip boneka ini tidak mungkin Lutos-sama, kan.
Meskipun wajahnya sangat mirip dengan merchandise
Lutos-sama, tapi Lutos-sama tidak mungkin punya tangan, kaki, dan proporsi
tubuh yang mirip bayi begini──.
"...Hiks, bukan kok... Ini bukan sekadar
bersikap sok keren, aku ini memang dewa... Aku tidak bersikap sok
keren..."
Ternyata ini Lutos-sama?
"...Hei, tunggu, sebentar... boleh tidak? Sepertinya
tadi aku salah merapal mantra kutukan dewa..."
"Ah, iya."
Boneka itu mengajakku bicara.
Mantra kutukan dewa atau apa pun itu, dia benar-benar
mengatakan hal-hal seperti Lutos-sama.
Boneka itu berputar-putar di udara, ke atas dan ke bawah,
sambil tetap memasang ekspresi datarnya yang tidak tahu malu──lalu tiba-tiba
berhenti bergerak.
Tes... Setitik air mata menetes dari mata bulat boneka
itu.
"U-uwaaaaaaaaaaaan! Diambil! Semuanya diambil
dariku! Kekuatanku, wujudku, semuanya, semuanya diserap uwaaaaaaaaaaaaaa!"
"Dia menangis."
"Kocak banget dia menangis."
Boneka ini sepertinya memang Lutos-sama.
Aku melepaskan kekuatan kutukan dan kembali ke wujud
murid sekolah.
Sambil tetap memasang ekspresi datar, boneka itu terus
menangis bagaikan air terjun... Aku menegur Lutos-sama yang telah sepenuhnya
kehilangan kekuatannya.
"Ada apa, Lutos-sama? Mau cerita?"
Tepat pada saat itu.
"Curse! Saya ingin melapor──"
Tiba-tiba, seorang gadis cantik berambut putih muncul di
kamarku. Dia adalah bawahan pertamaku, White. Akhir-akhir ini, dalam pikiranku
dia menjadi topik hangat sebagai wanita karir super yang menjalankan semua
operasional organisasi sendirian.
Padahal dia bisa saja mengambil cuti sebentar, karena
kami baru saja pulang dari latihan bertahan hidup, lho.
Secara refleks, aku memasukkan Lutos-sama ke dalam saku
dadaku.
"Mugyuu, hei, perlakukan aku dengan lebih hati-hati
sedikit, dong──"
"CHU?"
Sepertinya Bikara si tikus yang tertidur tanpa izin di
dalam saku dadaku tiba-tiba terbangun.
Sesama makhluk kecil, boneka dan hewan kecil itu pasti
bisa akrab, kan.
"Kyaaaaaaaaa! Hei, di dalam saku dadamu ini ada
tikus, ada tikus yang tinggal di sini, tahu!? Di dunia macam apa kau ini hidup!
Jangan sok imut, ya! Kau ini tidak tahu malu! Padahal kau itu jahat, tapi malah
sok imut──"
"CHU!"
Grak!
"Gyaaaaaaaa! Wajahku digigit tikusss! Padahal aku
ini dewiiiiiii! Saku ini benar-benarrrrrrrrr."
Maaf, Lutos-sama. Kalau sampai White melihatmu, dia pasti
akan marah dan menyuruhku untuk membuangmu...
"Apakah kau ini anak kecil yang baru saja memungut
anjing liar?"
"Tadi, apakah Anda mendengar sesuatu?"
"Entahlah? ...Jadi, White, laporan apa?"
"Baik... Silakan lihat ini, Tuanku."
White merapat padaku.
Jarak kami sangat dekat, hingga bahu kami bersentuhan.
Aroma sabun yang lembut tercium dari rambut putih White. Hmm, kalau
ini laki-laki biasa, jarak sedekat ini pasti akan membuatnya langsung jatuh
cinta.
Sebagai atasan White, aku harus memperingatkannya. Kalau
dia selalu menjaga jarak sedekat ini dengan siapa pun, bisa-bisa terjadi hal
yang tidak diinginkan pada anak laki-laki yang sedang puber di Akademi Sihir.
"White, kau terlalu dekat."
"............Eh?"
Seketika wajah White terlihat murung. Telinga elf-nya
yang terkulai membuatnya terlihat seperti anak anjing.
"...I-iya, benar... Maafkan aku, aku terlalu
akrab, ya... Aku lupa kalau aku ini hanyalah sebuah senjata... Saat melakukan
banyak hal bersama Anda, bermain di pulau tak berpenghuni, maupun di laut...
Aku jadi salah paham seolah-olah aku ini adalah manusia biasa──"
"Ah! Maaf! Tidak apa-apa, kok! Ya! White, sini, di
sebelah Kastani ini masih kosong, lho! Mendekatlah,
mendekat! Kita ini teman, kan!"
"...♪ Iya ♪"
Karena sepertinya akan merepotkan, aku mengubah arah
pembicaraan.
White kembali merapat padaku.
Maaf, para anak laki-laki puber di Akademi Sihir, aku
tidak bisa melindungi kalian. Berhati-hatilah agar cinta pertama kalian tidak
direbut oleh elf cantik berambut putih ini.
"Anda tidak perlu khawatir. Selain pada Anda, White
tidak akan pernah menyentuh pria lain, apalagi membiarkan mereka masuk ke dalam
zona pribadinya."
...Navi. Kau ini benar-benar tidak mengerti tentang
makhluk yang bernama perempuan, ya.
"Nada bicara Anda seolah-olah Anda sangat
mengerti soal perempuan, ya."
Aku memang sangat mengerti, lho. Panggil
aku ahli hati perempuan.
"Dari mana asal kepercayaan diri Anda itu?"
Diamlah.
Menurut pandanganku sebagai ahli hati perempuan, memang
ada tipe perempuan seperti White, yang manis tapi entah kenapa memiliki jarak
yang sangat dekat dengan laki-laki.
Misalnya seperti Snow atau Shiraha, yang bersikap baik
pada laki-laki tidak populer sepertiku.
Sekitar 90% laki-laki itu bodoh. Mereka akan terbawa
suasana dan berpikir, "Eh, jangan-jangan gadis ini menyukaiku? Dia sering
tersenyum, dan kalau tertawa dia suka menyentuhku".
Lalu, coba tebak apa yang terjadi saat laki-laki itu
menyatakan cinta padanya?
"...Apa yang akan terjadi?"
BOM, begitulah.
"Tolong kembalikan beberapa detik waktu saya
yang terbuang saat mendengarkan ucapan Anda dalam diam tadi."
Waktu tidak bisa dikembalikan, wleee~
"Apa-apaan, orang ini benar-benar..."
Karena sepertinya Navi benar-benar kesal, mari kita
kembali ke topik.
Sambil masih menempel padaku, White menyisir rambut
putihnya beberapa kali dengan tangan. Rambut White yang diterpa cahaya siang
hari terlihat seolah-olah memancarkan cahaya.
Dia mengeluarkan sebuah alat sihir yang bentuknya mirip
cermin tangan dari sakunya. Alat ini bisa memproyeksikan gambar dari tempat
yang jauh.
Gambar yang terpantul di cermin itu adalah──.
"Benar, salah satu dari Tujuh Bencana. Raja Iblis
sudah ada di sini."
Di alun-alun Ibukota Kekaisaran, muncul monster mirip
mumi berambut biru dan Dewi Lutos.
Kalau begitu, boneka yang ada di sini... Lutos-sama
yang sekarang sedang dijadikan bantal guling oleh Bikara yang terbangun dengan
linglung di dalam saku dadaku ini, adalah──.
"Palsu, kah?"
"Orang itu yang palsuuuuuuuuuuuuu!!!!!!!"
Yah, yang palsu biasanya juga bilang begitu...
Lagipula, tidak ada alasan kenapa yang palsu tidak bisa mengalahkan yang asli.
Aku sendiri lebih suka kani kama daripada kepiting
asli, lho.
Tapi, ini benar-benar tidak masuk akal. Kenapa
ada dua Lutos-sama?
"...Begitu, ya."
Tolong jelaskan, Navi yang hebat.
"Penyebab kenapa Lutos berubah menjadi boneka
telah terungkap. Ini adalah pemisahan jiwa secara paksa."
Hoo. Aku tidak mengerti.
"Sepertinya Divine Aura dan kepribadian
manusianya telah dipisahkan."
Hoo, hoo.
"Sosok yang turun di Ibukota Kekaisaran di balik
layar itu adalah Divine Aura Dewi Lutos itu sendiri. Perwujudan dari
kekuatannya sebagai seorang dewa."
Begitu, ya, Lutos-sama yang ada di sana adalah dewanya
sendiri, ya.
Lalu, bagaimana dengan Lutos-sama yang ada di sini?
"Bisa dibilang dia ini seperti ampasnya, ya. Cuma
sisa kepribadian manusianya dengan manfaat yang setara dengan jimat seharga 500
yen, paling-paling hanya berguna agar jari kaki tidak mudah terbentur sudut
lemari."
"Kalau begitu, yang di sana itu sudah jelas yang
asli, kan?"
"Genapa gamu bilang begiduuuu, aguuu, agu ini Lutos
yang asli tauggg, huwaaaa."
Benar-benar suara tangisan yang kotor... Tangisan
yang tidak punya rasa malu dan harga diri ini... dia bukanlah orang
sembarangan.
Aku salah, yang ada di sini adalah Lutos-sama yang asli.
"K-k-kau... kau itu lumayan baik, ya... Uuuuh,
setelah aku mendapatkan kekuatanku kembali, aku akan memaafkan semua hal yang
telah terjadi... Aku bahkan bisa menjadikanmu sebagai rasulku──"
"Aku tidak tertarik menjadi bawahan boneka,
lho."
"Siapa yang kau panggil peninggalan suci pretty
cute... Uwaaaan!! Pada akhirnya, tubuh dewaku juga ikut hilaaaang,
uwaaaan!"
Hebat sekali Lutos-sama, "peninggalan suci pretty
cute", pengakuan macam apa itu, sungguh tidak tahu malu.
Inikah... kemampuan seorang dewi.
"Ada kesamaan di antara kalian berdua, ya."
Kumohon, ampunilah aku, Navi. Memangnya kapan pengakuanku
pernah aneh sebelumnya?
"..."
Navi terdiam seribu bahasa. Aku menang lagi. Tolong
beritahu aku bagaimana rasanya kekalahan.
Di seberang cermin, sedang terjadi keributan besar. Sepertinya
Raja Iblis muncul, dan tak lama kemudian Dewi Lutos menyusul. Ibukota
Kekaisaran sedang dalam suasana pesta, ya.
"Baiklah, ayo pergi, White."
"Eh?"
"Sepertinya Snow sedang dalam kesulitan."
Aku tidak tertarik dengan apa yang dilakukan bocah
berambut perak itu, tapi aku tertarik pada Raja Iblis dan Lutos palsu itu.
Lebih dari segalanya, sebagai teman yang penuh
misteri, Kastani Takihito, tidak masuk akal jika aku hanya menonton saja.
"──! Sesuai keinginan Anda, Tuanku."
Aku melangkah menuju gerbang teleportasi ke Ibukota
Kekaisaran yang telah dipersiapkan oleh White dan bawahan-bawahannya tanpa
kusadari.
Pandanganku memutih dan proses teleportasi pun dimulai.
"Event konyol akan segera dimulai lagi, ya."
Illustrasi | ToC | Chapter 1



Post a Comment