Chapter
1
Ujian
Sang Dewi
Laut biru, pantai berpasir putih, dan suara tawa
teman-teman.
Latihan bertahan hidup di pulau tak berpenghuni yang
diadakan di Pulau Dagoania memang sempat diwarnai masalah besar, tapi pada
akhirnya... rasanya sangat menyenangkan.
Snow mengenang kembali latihan bertahan hidup di
pulau tak berpenghuni itu seolah-olah sudah terjadi di masa lalu yang sangat
jauh.
Warga Ibukota Kekaisaran kini sedang memadati alun-alun
di depan istana.
Suasananya dipenuhi sesak oleh orang-orang, persis
seperti tempat konser yang dihadiri 100 ribu penonton.
Di atas panggung yang didirikan di alun-alun, terdapat
dua singgasana, di mana Lumen dan Snow duduk berdampingan di kursi tersebut.
"Snow? Wajahmu kelihatan sedikit tegang, ya. Ayo,
tersenyumlah, sepertinya semua orang ingin melihat senyumanmu."
Pangeran Kedua Lumen Mira Arteria. Dia adalah adik dari
mantan tunangannya, Pangeran Pertama Lux Mira Arteria, sekaligus kandidat
tunangan yang baru.
Tepat setelah Snow kembali ke kediaman keluarga duke di
Ibukota Kekaisaran, Pangeran Kedua Lumen Mira Arteria ternyata sudah
menunggunya di sana.
Pangeran Kedua memerintahkannya untuk hadir dalam upacara
pengangkatan Pahlawan yang diadakan di Ibukota Kekaisaran.
Pahlawan──seseorang yang bertarung melawan Raja Iblis. Di
dunia ini, kata itu juga diperlakukan sebagai sebutan untuk sebuah pengorbanan
besar.
Snow terpilih menjadi Pahlawan generasi kedua. Ia dipilih
karena memiliki Gift Spirit User yang sama dengan Pahlawan
sebelumnya, Pahlawan Berambut Biru.
Orang tuanya di dunia ini──Duke Lichte dan istrinya terus
melindungi Snow sampai mereka jatuh pingsan akibat serangan para pengawal
kerajaan yang menerobos masuk ke kediaman mereka.
Lalu, kakaknya yang bernama Aki Von Schwartz──berhasil
mengalahkan 80% dari total pengawal kerajaan, namun pada akhirnya dia
dikalahkan oleh Pangeran Kedua.
Tindakan barbar Pangeran Kedua itu sepertinya sudah
mendapatkan izin dari Yang Mulia Kaisar. Intinya, Kekaisaran memang
menginginkan Snow untuk menjadi seorang Pahlawan.
Demi melindungi Snow Von Lichte, keluarga Duke Lichte
telah menentang kehendak Kekaisaran yang merupakan majikan mereka.
Dan demi melindungi keluarga duke tersebut, Snow pun
mematuhi Pangeran Kedua hingga ia berada di tempat ini sekarang.
"Keluarga yang sangat baik, ya. Sepertinya
mereka benar-benar tidak ingin kamu menjadi seorang Pahlawan."
"...Yang Mulia, tolong jangan sakiti keluarga
duke──"
"Tenang saja, Snow. Kalau kamu bersedia menjadi
Pahlawan, aku tidak akan menyentuh keluarga duke."
"..."
"Aku juga akan menutup mata atas peramal gagal
dan kesatria bodoh itu."
Eugene Tadano dan Sarah Tadano. Kakak beradik yang telah
menghadapi takdir besar dan berhasil selamat dalam latihan bertahan hidup di
pulau tak berpenghuni.
Berkat campur tangan Snow, mereka berdua menumpang di
kediaman keluarga Duke Lichte setelah kembali dari pulau tersebut.
"...Telinga Anda tajam juga, ya."
"Fufu, aku sangat tahu kalau kamu itu sangat peduli
pada teman-temanmu. Itu adalah hal yang luar biasa lho, Snow."
Lumen memandang ke sekeliling alun-alun.
"Pemandangan yang indah, ya. Semua orang merayakan
awal perjalanan barumu. Ini adalah momen pemberkatan yang sangat pantas untuk
seorang Pahlawan."
"Sepertinya Anda benar-benar menginginkan seorang
Pahlawan."
"Setelah melihat apa yang akan terjadi sekarang...
aku yakin kamu pasti akan mengerti."
Upacara pun dimulai. Tepat ketika Pangeran Kedua bangkit
dari singgasananya──suasana di tempat itu langsung berubah menjadi sunyi dan
tegang.
"Sejak zaman kuno dulu──umat manusia telah menderita
karena bencana yang disebut sebagai Raja Iblis."
Hal yang ia ceritakan adalah sejarah pada masa pendirian
Kekaisaran.
"Namun, muncullah seorang pemberani. Berkat
pengorbanannya, bencana bernama Raja Iblis itu berhasil dikalahkan dan
kedamaian sementara pun mendatangi dunia ini, akan tetapi kedamaian itu
hanyalah sesuatu yang fana."
Itulah era Perang Besar Manusia dan Iblis, sebuah masa di
mana manusia dan ras iblis terus berperang.
"Seharusnya kita sudah bersiap-siap. Sebab
kebangkitan kembali sosok itu, sebenarnya sudah diramalkan."
Lumen tidak mau membahas lebih jauh mengenai ramalan
kebangkitan Raja Iblis yang sebelumnya.
Pasalnya, ramalannya tentang kebangkitan Raja Iblis yang
sesungguhnya itu telah dirusak oleh kehadiran Bulan Gaming Super Besar yang
menghiasi langit malam setiap harinya.
"Tapi, semuanya sudah terlambat. Wahai rakyat
Kekaisaran, lihatlah ini."
Lumen mendeklarasikannya dengan penuh wibawa.
"Lihatlah bencana besar yang telah bangkit kembali
ini."
Di belakang Lumen dan Snow, terbentang sebuah cermin
sihir raksasa──benda yang mirip seperti layar bioskop di zaman modern. Gambar
yang terpantul di sana adalah──.
"H-hei, itu kan... ibu kota dari Federasi Wilayah
Selatan?"
"Gambar yang di sebelah sana, itu Hutan Kaca milik
Aliansi Elf..."
"Kota laut milik Federasi Perdagangan Risotto juga
ada, kan?"
Layar itu menampilkan keadaan kota-kota utama dari
negara-negara manusia selain Kekaisaran.
Kota benteng dari bata, kota hutan yang terbuat dari kaca
hijau, dan kota laut yang mengapung di atas samudra biru pekat.
Di balik layar yang terbagi menjadi tiga bagian itu,
terpampanglah wujud dari ketiga kota tersebut.
Gambar itu begitu jelas hingga ekspresi wajah orang-orang
yang tinggal di sana pun bisa terlihat, lalu.
"Eh?"
Awan gelap mulai menyelimuti langit kota.
Kejanggalan pertama kali terjadi di kota benteng bata
merah milik Federasi Wilayah Selatan.
Ada sesuatu yang sangat besar melayang di angkasa.
Sebelum mereka bisa memahami apa benda itu, langit di atas kota benteng
tersebut bersinar biru terang.
"A-aaaa!"
"L-lihat! Kota di Wilayah Selatan...!?"
Para penonton menjadi riuh. Di balik layar itu, kota yang
baru saja dipenuhi oleh lalu lalang orang dan senyuman warga Wilayah Selatan
yang penuh semangat──kini telah hancur menjadi abu.
Kejanggalan selanjutnya terjadi di Hutan Kaca milik
Aliansi Elf.
Itu adalah wilayah tersembunyi tempat tinggal ras tingkat
tinggi yang telah bekerja sama dengan umat manusia pada Perang Besar
sebelumnya, dan langit di sana juga bersinar biru terang.
"Bohong..."
Hutan itu terbakar. Kota kaca hijau tempat tinggal para
elf kini meleleh dan hancur.
Berikutnya adalah kota yang mengapung di atas laut,
sebuah kota yang hidup berdampingan dengan lautan berkat sihir kuno.
Tempat itu merupakan rumah bagi para orang suci agung
yang memiliki kekuatan setara dengan sebuah negara.
Cahaya biru raksasa jatuh dari langit──dan kota laut itu
pun tenggelam menjadi buih di lautan.
Hanya dalam hitungan belasan detik, tiga kota telah
musnah.
Tak lama kemudian,
seseorang dari kerumunan penonton membisikkan sesuatu.
"......Raja Iblis?"
Goooooooooooonnnnggg!!
Langit bergemuruh. Sebagian besar orang di kerumunan itu
secara refleks menutup telinga mereka, bahkan sampai ada yang jatuh terduduk.
"Benar sekali, dia adalah salah satu dari Tujuh
Bencana. Raja Iblis sudah ada di sini."
──Sebuah wujud yang mengerikan──. Makhluk itu melayang di
udara.
Ukurannya raksasa, berbentuk seperti wanita dengan tubuh
yang mengering dan dibalut kain compang-camping. Mumi raksasa berambut biru itu
turun dari langit, mengibarkan awan gelap seolah-olah awan itu adalah jubahnya.
Belum pernah ada yang melihat wujud aslinya secara
langsung. Namun, insting semua orang langsung menyadarinya
bahwa makhluk ini, eksistensi ini adalah──.
"Raja Iblis telah kembali."
Perkataan Lumen tersebut menegaskan dugaan para rakyat.
"Ke dunia yang tidak lagi memiliki Pahlawan
ini."
Sang Iblis telah mewujudkan diri. Ia adalah pemegang
salah satu kursi Tujuh Bencana──Raja para Iblis. Raja yang mengutuk seluruh
makhluk hidup.
"OOOOOOOOOOAAAAAAAAAAAA!!"
Mulut mumi berambut biru yang terjahit itu terbuka
lebar hingga merobek serpihan dagingnya. Gemuruh yang terdengar sebelumnya
ternyata berasal dari suara Raja Iblis.
Kepanikan warga melonjak hingga mencapai puncaknya.
Wajar saja mereka bereaksi seperti itu, mengingat
mereka baru saja menyaksikan kehancuran yang disebabkan oleh Raja Iblis, dan
bayangan mengerikan itu masih membekas kuat di benak mereka saat makhluk itu
muncul.
Kepanikan massa itu menyebar dalam sekejap──.
"Wahai rakyatku. Janganlah kalian takut."
Rambut perak Lumen bersinar. Jika diperhatikan, seberkas
cahaya dari langit menyorot tepat hanya kepadanya.
"Wahai rakyatku. Berdoalah, jangan takut, tapi
memohonlah. Sebutlah nama Tujuh Dewa Agung──dan sebutlah nama sang pemimpin,
nama dewi yang paling penuh dengan cahaya."
Terpengaruh oleh wibawa Lumen, satu per satu dari rakyat
yang hadir mulai berlutut dan memanjatkan doa.
Bagi Snow, itu adalah pemandangan yang sangat tidak
wajar.
"Apa yang kalian lakukan!? Semuanya, cepat lari!
Tempat ini sangat berbahaya! Aku yang akan... aku yang akan menahan monster itu
di sini! Yang Mulia, Anda juga harus segera menyingkir!!"
"...Snow, Snow, Snow! Ah...! Kamu memang yang
terbaik...! Walaupun kamu tidak ingin menjadi Pahlawan, tapi kamu...
pada akhirnya kamu tetap akan maju melawannya, kan...!?"
Lumen menggenggam tangan Snow saat gadis itu hendak
mengeluarkan tongkat sihirnya. Wajah pria itu dengan jelas memancarkan rona
kegembiraan.
"...Apa yang sedang Anda bicarakan?"
"Lihatlah, Snow. Meskipun Raja Iblis telah turun ke
dunia, rakyatku tetap memanjatkan doa. Mereka tidak melarikan diri, betapa
taatnya mereka."
"Ini bukan waktunya untuk membicarakan hal itu──...
Tunggu dulu. Anda... apakah Anda melakukan sesuatu pada orang-orang ini?"
Lumen sama sekali tidak menjawab. Dia hanya
menyunggingkan senyum, dan hal itu sudah cukup menjadi sebuah jawaban.
"Orang ini──"
Snow menepis tangan Lumen. Di saat gadis itu hendak
mengaktifkan Gift-nya untuk memasang penghalang sihir demi melindungi
rakyat, sesuatu terjadi.
"Kamu tidak perlu melakukannya, Snow Von Lichte.
Pahlawanku."
Sebuah suara wanita turun menggema dari langit.
"Eh?"
Sebuah cahaya muncul di angkasa.
"A, AAAAAAAA! LT... AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!??"
Raja Iblis itu terkurung di dalam sebuah kristal yang
bersinar dengan warna pelangi.
Awan gelap terbelah, dan dari celah tersebut cahaya
terus-menerus memancar turun diiringi suara terompet dari langit.
Hal yang muncul bersamaan dengan iringan fanfare itu
adalah.
"Pujilah namaku. Pujilah namaku yang dipenuhi dengan
kejayaan dan cahaya ini."
Seorang Dewi. Ia memiliki tubuh yang tinggi, mata besar
yang sedikit sipit, dan sosok yang montok dalam balutan jubah putih layaknya
bidadari.
Di punggung putihnya, terdapat lingkaran cahaya yang
bersinar.
Lalu, dari punggung dan pinggangnya, membentang enam
helai sayap putih yang terbagi menjadi tiga pasang.
Sebagian besar warga Kekaisaran baru pertama kali melihat
sosoknya secara langsung.
Namun, semua orang tahu siapa dia. Mereka mengenalnya
lewat lukisan agama, patung dewi, dan ibadah di gereja.
"Dewi..."
"Itu adalah Dewi... salah satu dari Tujuh Dewa
Agung, sang dewi keberanian dan kewajiban..."
"Oh, Lutos-sama... rupanya Anda selalu, selalu
mengawasi kami..."
Orang-orang pun berlutut. Itu adalah Dewi Lutos, Pemimpin
Tujuh Dewa Agung sekaligus dewi terkuat yang memiliki penganut paling banyak di
Kekaisaran.
Benar sekali, semua orang saat ini sedang menyaksikan
sebuah keajaiban dewa di mana Dewi itu telah menyegel Raja Iblis.
Kemudian, pancaran cahaya yang dilepaskan sang dewi
menyorot kepada seorang gadis.
"Di sini, terdapat seseorang yang memiliki takdir
untuk mengalahkan Raja Iblis. Sosok pemberani yang mengendalikan roh dengan
didampingi cahaya pelangi."
Petunjuk itu mengarah padanya.
"──Itu artinya, gadis ini, Snow Von Lichte, adalah
Pahlawan untuk generasi ini."
"Ooooooooooooooooooooooooooo!"
Terdengar sorakan besar dari rakyat. Benar, mereka telah melihatnya dengan sangat jelas.
"Itu Nona Snow!"
"Aku tidak akan melewatkannya! Beliau itu, sejak
tadi pun sudah bergerak untuk melindungi kita, lho!"
"Nona dari keluarga duke menjadi Pahlawan, dan
Pangeran Kedua menjadi Utusan Dewa...! Oh!! Kekaisaran kita benar-benar
dilindungi oleh Tuhan!"
"Ugh..."
Snow tersentak karena semuanya ini terasa terlalu
kebetulan. Mulai dari Raja Iblis yang tiba-tiba muncul, lalu dewi yang langsung
menyegelnya. Titik awal dari seluruh kejadian ini adalah──.
"...Sebenarnya apa yang ingin Anda lakukan?"
"Aku ingin mencintaimu."
──Pengangkatan Snow sebagai Pahlawan yang dipelopori oleh
Lumen.
"Aku sudah lama, lama sekali menyukaimu. Sejak
pandangan pertama ketika kamu diperkenalkan sebagai tunangan kakakku, kamu
terlihat begitu anggun, elegan, dan bersinar. Tapi entah kenapa, aku tertarik
pada dirimu yang menyimpan sisi gelap dan kemuraman itu."
Lumen menggenggam tangan Snow.
"Snow. Aku masih ingat saat pertama kali kita
bertemu. Kamu adalah satu-satunya wanita yang tidak mempan terhadap sihir Charm
milikku, yang merupakan anugerah cinta dari dewa..."
Lumen Mira Arteria merasa sangat tertarik pada Snow.
"Sejak bertemu denganmu, sebanyak apa pun wanita
atau pria yang kunikmati, dan sebanyak apa pun cinta yang kurebut dari orang
lain, semua itu tidak pernah cukup... Hatiku terasa dingin, hampa, dan sedih,
seolah-olah ada lubang yang menganga di sana. Semakin aku memikirkanmu, aku
jadi semakin menginginkanmu..."
Mana berwarna perak meluap dari tubuh Lumen.
Rambut peraknya yang panjang semakin memanjang, bahkan
tinggi badannya pun ikut bertambah dengan pesat.
"Inilah yang benar-benar disebut cinta. Ah, aku
sungguh telah jatuh cinta, Snow. Aku sudah jatuh cinta padamu."
Lumen Mira Arteria telah tumbuh dewasa, wujudnya berubah
dari seorang remaja laki-laki menjadi seorang pemuda.
Utusan Dewa yang mendapat pasokan kekuatan ilahi dari
perwujudan Lutos itu, telah tumbuh mencapai wujud yang pantas untuk mendapatkan
wanita bernama Snow yang ada di hadapannya.
"...Yang Mulia, wujud itu..."
"Wajahku jadi mirip dengan kakakku dan itu membuatku
sedikit kesal... tapi tidak masalah. Aku akan senang jika ini adalah penampilan
yang sesuai dengan seleramu, Snow."
"Aku sama sekali, sama sekali tidak mengerti
maksudmu... M-mencintaiku? K-kenapa hal itu bisa berujung pada situasi yang
melibatkan Pahlawan, Raja Iblis, dan dewi ini...? Kenapa semua itu harus
menggunakan cara seperti menjadikan keluarga duke sebagai sandera..."
Lumen tersenyum dengan ramah.
"Aku tahu tentang luka yang kamu miliki, ──di dunia
kehidupanmu sebelumnya, hatimu telah dikutuk oleh kakak perempuanmu."
"...Hah?"
Lumen menyentuh luka batin Snow. Itu adalah kenangan dari
luka yang tak kunjung sembuh, yang selalu menyiksa Snow setiap kali dia
menghadapi cobaan, baik di Hutan Terlarang maupun di pulau tak berpenghuni.
"Aku ingin melepaskan kutukanmu itu, Snow."
Apa maksudnya──. Sebelum Snow sempat membuka mulutnya,
sorakan yang sangat meriah bergema.
"Mulai sekarang, Pahlawan Snow akan menghadapi ujian
dari dewi untuk mendapatkan kekuatan demi mengalahkan Raja Iblis!! Wahai rakyat
Kekaisaran, wahai para umatku, rayakanlah titik awal dari perjalanan yang agung
ini!"
"Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!"
Tanpa sadar, Snow telah tertelan ke dalam situasi yang
tak memberikannya jalan untuk kembali.
"...Apakah dewi dan Raja Iblis ini juga sudah Anda
siapkan?"
"Tentu saja tidak, aku tidak punya kekuatan yang
cukup untuk mengendalikan dewi maupun Raja Iblis. Aku hanya meminjam kekuatan
dari dewa-dewa lain, dan sedikit membantu membuang hal-hal yang tidak berguna
dari Dewi Lutos. Dewa tidak membutuhkan sifat kemanusiaan. Sebagai sosok yang
pantas disebut dewa, mereka hanya perlu mempermainkan, memelintir, dan
menjadikan takdir umat manusia fana sebagai bahan mainan mereka."
Snow sama sekali tidak bisa menebak maksud sebenarnya
dari perkataan Lumen.
"Snow. Aku hanya ingin membuktikan, bahwa hanya
akulah yang bisa melindungimu."
"Atas nama Dewi Lutos. Mulai sekarang, kita akan
melakukan penyortiran pengikut yang akan mendampingi Pahlawan Snow──alias Party
Pahlawan."
Dalam sekejap, sebuah gelang berwarna perak terpasang di
lengan kanan semua orang yang ada di sana, termasuk para penonton.
"Gelang itu bernama 'Gelang Ujian'. Bagi kalian yang
ingin menjadi pengikut Pahlawan dan berharap bisa menjadi kekuatan baginya,
angkatlah gelang itu ke langit. Gelang itu hanya akan bersinar pada mereka yang
pantas, dan menemukan siapa yang layak untuk menjadi pengikut Pahlawan, yakni
kualifikasi sebagai Party Pahlawan!!"
Atas perintah dari sang dewi, banyak orang──para kesatria
dan petualang yang berkumpul di sana mulai mengangkat lengan mereka. Akan
tetapi.
"Gagh──!"
"Gu, uh...!"
"Apa-apaan ini, panas, panas banget!!"
Dalam sekejap, gelang itu bersinar hitam kelam, dan para
pemakainya pun mengerang kesakitan.
"Gelang itu bersinar dengan mengisap mana dari
pemakainya. Sebuah ujian memang selalu disertai dengan penderitaan."
"Berkat belas kasihku, nyawa kalian tidak akan
terancam jika kalian menurunkan lengan kalian."
Bahkan sebelum sang dewi selesai berbicara, lengan-lengan
yang diangkat ke udara itu mulai turun satu per satu. Baik para petualang
maupun kesatria, semuanya menyerah tanpa terkecuali.
Di tengah keriuhan para warga yang berkumpul di
alun-alun, orang-orang yang awalnya bertahan dengan wajah tegar pun tak sanggup
lagi menahan rasa sakit, lalu menurunkan lengan dan berlutut satu per satu.
"Oh...?"
Sang dewi bersuara keheranan karena dia melihat ada satu
lengan yang masih terangkat di sana.
Lengan itu milik seorang pemuda tampan berambut pirang
dan bermata biru yang mengenakan seragam Akademi Sihir.
Meskipun wajahnya berkerut menahan sakit, ia tetap
mengangkat gelangnya ke arah langit.
Baik Snow maupun Lumen tahu siapa pria itu.
"Aki... kenapa kamu..."
Dia adalah Aki Von Schwartz, Kakak tiri Snow yang berbeda
ibu.
Aki yang sebelumnya dikalahkan oleh Lumen di kediaman
duke dan seharusnya ditahan sebagai sandera oleh pasukan Lumen, kini justru
berada di tempat ini.
"Guh... Tunggu aku, Snow! Kakak akan segera ke
sana!!"
Wajahnya tampak pucat pasi, keringat bercucuran di
keningnya, dan giginya terkatup rapat.
Meski begitu, lengannya tetap terentang lurus ke arah
angkasa.
Gelang itu terus-menerus menyerap mana dari dalam
tubuh Aki.
Namun, sama sekali tidak ada tanda-tanda gelang itu
akan bersinar terang.
"Anda sangat tangguh ya, Kakak Ipar."
"Aku tidak sudi──dipanggil kakak olehmu!!"
"Galak sekali. ...Padahal aku sudah mematahkan
kedua lengannya, menempatkannya di bawah sihir ilusi, bahkan memaksanya meminum
Ramuan Slumber Drop sebelum menjebloskannya ke penjara... tapi bagaimana
bisa dia melarikan diri?"
"Karena aku ini kakaknya!"
"Itu sama sekali bukan jawaban, Kakak Ipar."
Lumen memetikkan jarinya dengan bunyi snap. Pada saat
itu juga, gelang di lengan Aki memancarkan cahaya hitam kelam.
"Guh!? A-aaaaa...!!"
Gelang itu menyerap mana sekaligus nyawa Aki,
menimbulkan rasa sakit yang sudah mencapai taraf penyiksaan.
"Aki, sudah, sudah cukup, hentikan...
hentikan!"
"...Gu, ah...! Tidak apa-apa! Tunggu saja, Snow!
Kakak akan segera ke sana!"
"Bukankah lebih tepat kalau kau bilang akan segera
pergi ke alam baka?"
"Fufu."
Sang dewi dan Lumen menertawakan perjuangan keras Aki
tersebut.
"Oh, lihatlah sosok gagah berani Tuan Aki itu!"
"Kasih sayang kakak beradik yang sangat indah...
Dia rela mempertaruhkan nyawanya demi Nona Snow!"
"Inilah yang pantas disebut sebagai kesatria
sesungguhnya! Kesatria Tingkat Atas, Aki Von Schwartz!"
"Jangan ada yang mengganggunya, mari kita
saksikan kehebatan Tuan Aki!!"
Para warga hanya bisa menonton pengorbanan sang kakak
seolah-olah sedang menyaksikan pertunjukan sirkus, namun tidak ada seorang pun
yang mau membantunya.
"Jangan... Aki... hentikan, kumohon hentikan...
Kumohon, kamu bisa mati nanti... kamu bisa mati..."
Suara tangisan Snow tidak mencapai telinga siapa pun,
karena memang tidak ada siapa-siapa di sana yang berada di pihak──.
"Kamu tidak memiliki seorang sekutu pun di
pihakmu, wahai Pahlawanku, Snow."
"Hanya aku satu-satunya yang ada di pihakmu. Snow
milikku."
Ya, dia tidak memiliki satu pun sekutu.
"Snow."
Sang dewi mewujudkan dirinya di belakang Snow.
Sambil meletakkan tangannya di bahu gadis itu dan
mendekatkan bibirnya ke telinga, sang dewi membisikkan sesuatu dengan suara
yang semerdu kecapi.
"Gara-gara kamu, anggota keluargamu akan mati lagi,
ya♪"
──Ingatan. Bersamaan dengan suara dewi itu, kepingan
memori di dalam benak Snow mengalir masuk.
Truk yang menabrak barisan anak-anak yang sedang
berwisata, dirinya yang terpaku tak bisa bergerak, kakaknya yang langsung
melompat keluar──serta sosok kakaknya yang tumbang dalam genangan darah demi
melindungi anak itu.
Saat itu, kakaknya Yustia harus mati karena Snow tidak
bisa bergerak untuk menolong. Dan sekarang, kakaknya Aki akan mati karena Snow
tak berdaya.
Kenapa semuanya selalu berakhir seperti ini? Tentu saja karena diriku sendirilah yang tidak berguna.
Itu adalah ingatan dari kehidupan sebelumnya, di hari
pemakaman sang kakak.
Ini adalah isi hati orang tuanya, yang mereka gumamkan di
hadapan peti mati kakaknya sebelum dikuburkan.
──Tuhan, apakah Engkau juga harus memilih Yustia──
──Kenapa harus Yustia?
Seharusnya akulah yang mati, namun anehnya, justru akulah
yang selamat.
Menyalahkan diri sendiri──itulah kutukan milik Snow, akan
tetapi kutukan tersebut tidak akan menghentikan langkah gadis itu.
"...Anda tidak perlu memberitahuku soal itu."
Tiba-tiba saja, Snow melangkah maju.
"Oh? Ya, ampun, ufufu, Snow, anak sepertimu ini...
ufufu, sungguh manis sekali, pantas saja Utusan Dewaku sampai terpikat
padamu."
"Benar, kan? Dewi Lutos. Gadis itu benar-benar
luar biasa, kan."
Dari atas panggung, sang dewi dan Utusan Dewa hanya
bisa memandang langkah Snow dengan tatapan penuh kasih sayang.
"...Aku sudah sangat memahaminya, kok, hal seperti
itu..."
Snow turun dari panggung, lalu kerumunan orang terbelah
bagaikan gelombang pasang surut air laut untuk membukakan jalan bagi Snow.
Bisikan sang dewi, ingatan dari kehidupan sebelumnya,
dan──perkembangan yang didapatkannya di dunia ini, semua itu mendorong punggung
Snow, telah memaksanya untuk terus melangkah maju.
"Karena aku sendiri juga sudah berkembang."
Snow Von Lichte memiliki seorang pemuda yang menarik
hatinya, orang itu bernama Kastani Takihito.
Ia adalah pemuda di ladang yang entah kenapa tak bisa
Snow abaikan sejak di kehidupan sebelumnya, pria yang membuat matanya selalu,
selalu saja mengikutinya sejak mereka kembali bertemu di Akademi Sihir di dunia
ini.
Di Hutan Terlarang, pemuda itu pernah berkata begini
padanya.
"Snow, kuserahkan yang lain padamu!"
Di pulau tak berpenghuni, pemuda itu pernah berkata
begini padanya.
"Hal semacam itu sama sekali tidak cocok denganmu,
Snow."
Perkataan pemuda itu menyalakan sebuah kehangatan di
dalam diri Snow, dan gadis itu tidak ingin mengkhianati perasaan tersebut.
Dia meyakinkan dirinya bahwa ia tidak boleh lari dari
penderitaan, tidak boleh merasa lega sendirian.
"...Snow, tunggu, apa yang sedang kamu
lakukan."
"Aki... terima kasih untuk segalanya selama
ini."
Menghampiri Aki yang sedang menahan rasa sakit, Snow
langsung memeluk erat pria itu.
"Tunggu... Snow... A-apa yang
kamu katakan!?"
"Aki. Aku sangat senang kamu mau datang
menemuiku... Maaf ya karena aku selalu memaksamu melakukan hal yang tidak
mungkin..."
"S-snow, tunggu, kumohon tunggulah... A-apa yang
sebenarnya ingin kamu lakukan!!??"
Dalam pelukannya pada tubuh Aki, Snow pun mengucapkan
sesuatu.
"Spirit Magic: Rainbow Gravity"
Sihir yang ia aktifkan adalah Rainbow Gravity,
sihir itu memiliki efek untuk memberikan daya tarik buatan pada benda apa pun
yang disentuhnya.
"Maafkan aku, Aki."
"Jangan-jangan──hentikan, Snow!! Belum, aku masih
bisa menahannya!! Ingatlah bahwa aku ini adalah kakakmu!!"
Lengan Aki tertarik ke bawah akibat gaya tarik dari Rainbow
Gravity.
Gelang Ujian milik Aki Von Schwartz sama sekali tidak
bersinar, dan pada akhirnya, bahkan Aki pun tidak bisa terus mendampingi Sang
Pahlawan.
"A-aaah, Snow, tunggu, kumohon tunggulah! Sekali
lagi, biarkan aku mencobanya sekali lagi! Mari kita ulangi dari awal!!"
Snow menekan tubuh Aki untuk menahannya saat pria itu
berusaha keras untuk bangkit berdiri.
"...Snow?"
"Aki, terima kasih karena kamu selalu menolongku,
dan karena kamu selalu berusaha melindungiku."
"Tunggu... Tunggu dulu, Snow... a-apa yang sedang
kamu bicarakan? I-itu sudah seharusnya, itu sudah menjadi kewajibanku. Ini
bukan sesuatu yang pantas untuk kamu beri ucapan terima kasih! Aku ini kakakmu,
tahu!!"
Snow menatap lekat-lekat wajah Aki yang terlihat
begitu putus asa itu. Ia menatapnya seolah-olah ingin mengukir dalam-dalam ke
ingatannya, wajah kakak yang selalu melindunginya tersebut.
Ah, aku benci sekali harus melalui semua ini... Apakah
ini artinya aku juga harus mengucapkan selamat tinggal pada Aki?
Aku benar-benar membencinya... Padahal, aku hanya
ingin hari-hari seperti biasanya terus berlanjut selamanya. Tapi, aku harus
melakukannya.
"Biar aku yang melakukannya."
"S-snow, tunggu, kumohon tunggulah..."
Aki, jangan tunjukkan wajah sesedih itu. Lihatlah, semua
orang memasang ekspresi wajah cemas dan ketakutan setengah mati.
Semua orang di sini memiliki kehidupan mereka
sendiri-sendiri, memiliki hari esok yang sedang menanti mereka. Melindungi
semua itu adalah tugas seorang bangsawan──kalau itu adalah Kakak, sudah jelas
apa yang akan dilakukannya di saat-saat seperti ini.
"──Aku bersumpah di hadapan warga Kekaisaran yang
kucintai."
Warga Kekaisaran pun berhenti memanjatkan doa. Semua mata
terpaku pada sosok gadis yang berdiri tegap di tengah alun-alun itu──.
"Putri sulung dari keluarga Duke Lichte, Snow Von Lichte!
Akulah yang akan mengalahkan Raja Iblis──dan membawa ketenangan serta kedamaian
bagi Kekaisaran!!"
"Tunggu, Snow, kamu, kamu sama sekali tidak perlu
melakukan itu, biarkan aku, biarkan kakakmu ini yang melakukannya...! Aku tidak
akan pernah membiarkan adik perempuanku bertarung sendirian! Hal semacam itu,
menjadi seorang Pahlawan..."
──Kali ini, aku pasti akan bertindak layaknya Kakak.
"Benar, aku, akulah penerus dari Pahlawan generasi
pertama──Pahlawan Berambut Biru──"
"Tidak, Snow, hentikan, kumohon hentikan semua ini.
Jangan lakukan itu, jangannnnnnnnn!"
──Aku harus menjadi seorang tokoh utama yang keren.
"Aku adalah Pahlawan──Snow Von Lichte."
Kilauan cahaya pelangi yang memancar dari langit menyorot
tubuh Snow. Cahaya itu seolah-olah menunjukkan bahwa langit dan bumi sedang
memberkati Snow.
"Akulah yang akan menumbangkan Raja Iblis itu."
Diiringi dengan sorak sorai meriah dari kerumunan, sang
gadis pun mati dan sosok Pahlawan terlahir di dunia.
Kutukan yang ditanggung sendiri oleh Snow──kutukan yang
membuatnya terus-menerus menyalahkan diri sendiri, sebuah kutukan mirip luka
yang terukir rumit di dalam jiwanya akibat takdir yang mengikatnya sejak dari
kehidupan sebelumnya.
Melihat secara langsung kutukan semacam itu, Utusan Dewa
pun tertawa sinis.
"Ah, sungguh cantik sekali... Snow... Aku ingin
kamu menunjukkan lebih, lebih banyak lagi sisi cantikmu itu... Aku ingin
memberikanmu lebih banyak lagi penderitaan yang luar biasa... Aku ingin
menantang ujian yang luar biasa ini bersamamu."
Meskipun menggunakan rasa cinta yang menyimpang itu,
kutukan gadis itu tidak akan pernah bisa dilepaskan.
"...Sialan, sial, apa yang sebenarnya sedang kamu
lakukan, apa yang kamu lakukan, Aki Von Schwartz... Padahal saat itu kamu sudah
bersumpah. Pada akhirnya, jika kamu saja tidak bisa melindungi satu-satunya
adik perempuanmu, bagaimana bisa kamu menyebut dirimu sebagai... seorang
kakak..."
Begitu pula dengan kasih sayang tulus dari sang kakak
sejak di kehidupan sebelumnya, hal itu pun tetap tidak akan mampu melepaskan
kutukan gadis itu.
"Jangan menangis, Aki. Asal kamu tahu ya, sekarang
aku merasa sedikit bahagia lho."
"Apa yang, kau katakan──ah..."
"Karena aku merasa bisa menjadi seperti Kakak."
"Bukan... Bukan begitu, Snow... Kamu tidak perlu,
kamu tidak perlu berubah menjadi Yustia... Ah, aaah."
Raut keputusasaan langsung terpampang jelas di wajah
Aki. Sesaat, wajah Snow terlihat menumpuk──dengan wajah kakaknya yang bernama
Yustia.
Mengabdikan diri demi hidup orang lain bagaikan wujud
perwujudan dari kesejahteraan bersama.
Namun, eksistensi semacam itu sudah tidak bisa lagi
disebut sebagai seorang manusia, dan pastinya, Snow akan benar-benar berubah
menjadi sosok Yustia.
Berubah menjadi Pahlawan, suatu entitas mirip sebuah
sistem yang rela membuang nyawanya sendiri dengan mudah demi membantu orang
lain, serta sebuah kutukan untuk terus menyalahkan diri sendiri.
Kutukan yang diberikan oleh Snow kepada dirinya
sendiri itu──tidak akan ada seorang pun di dunia ini yang bisa melepaskannya.
Baik itu Utusan Dewa, maupun kakaknya sendiri, tidak
akan ada yang bisa melakukannya.
"Permisiiiii, tolong tukarkan gelang
iniiii!"
──Kecuali, sang Raja Kutukan.
"Padahal aku tidak ngapa-ngapain tapi gelangnya
rusak~!! Tolong ganti dengan yang baru donggg~!!"
Sosok yang muncul adalah seorang remaja laki-laki
berambut hitam yang mengenakan seragam Akademi Sihir.
Remaja itu melompat ke tengah alun-alun sambil
mengangkat puing-puing Gelang Ujian yang telah terbelah menjadi dua.
Snow dan Aki sangat mengenal sosok remaja tersebut.
"Eh...? C-Kastani...?"
"...B-brother...?"
Remaja laki-laki itu melambaikan tangannya dengan
santai ke arah kakak beradik yang sedang tercengang tersebut.
"Ah, Snow dan Aki. Yo. Lihat ini, gelangnya cacat
produksi tahu, cacat produksi. Ah, Aki, boleh aku pinjam gelangmu
sebentar?"
"...Jangan bilang kamu datang ke sini demi hal
itu, Brother..."
Alih-alih menjawab perkataan Aki, remaja itu menyentuh
gelang milik Aki. Dengan mulus, gelang itu terlepas dari tangan Aki.
"...Aku tidak bisa melindungi Snow... Aku tidak
punya kualifikasi untuk itu... Brother... Aku tahu kalau aku tidak
seharusnya meminta hal semacam ini padamu... Tapi, kumohon, kumohon... Aku
memohon padamu, ini adalah permohonan seumur hidupku, tolong lindungi Snow,
sebagai gantiku──lindungilah Snow──"
Sebelum Aki selesai berbicara, remaja itu berlutut di
tempatnya agar pandangan mata mereka sejajar.
"Kata-kata tidak diperlukan lagi, Aki."
"Brother...?"
"Kamu adalah kakak terbaik bagi Snow."
Remaja laki-laki itu memasangkan gelang Aki ke lengannya
sendiri, lalu tersenyum lebar.
"Kamu kaku sekali, Aki. Bukan, maksudku
Brother."
"──!!!!!!!!!!!!"
Dalam sekejap──sebuah ingatan sesaat berlarian melintasi
sel-sel otak Aki Von Schwartz.
Tes... Air mata hangat mengalir membasahi pipi Aki yang
menengadah menatap langit dengan silau.
"Heh... Tak terkalahkan di kampung halaman, ya... Benar juga, Brother... Kamu memang sudah menjadi pria yang seperti itu
sejak dulu, ya."
Kampung halaman Kastani adalah Jepang, sedangkan kampung
halaman Aki adalah Eropa.
Sebuah fakta yang tidak pernah ada itu, entah bagaimana,
telah menyelamatkan Aki.
Genggaman erat!! Remaja itu dan Aki Von Schwartz saling
berjabat tangan dengan sangat kuat.
"Eh? Eh? Aki...? Kastani...? Eh?"
Snow tertinggal karena sama sekali tidak mengerti
dengan situasinya. Tidak, bukan hanya Snow, tidak ada seorang pun yang bisa
mengikuti jalan pikiran remaja berambut hitam dan Aki tersebut.
Bahkan sang dewi dan Utusan Dewa sekalipun tak
memahaminya.
Dewi Lutos memasang wajah kebingungan. Dengan
ekspresi sedingin es seolah-olah suasana hatinya yang sangat baik tadi hanyalah
kebohongan belaka, dewi itu menatap sang remaja.
"...Siapa kamu?"
Dewi Lutos yang hanya terdiri dari fungsinya sebagai
dewa ini, telah kehilangan ingatan tentang pemilik Gift peringkat G yang
pernah dikutuknya, serta ingatannya saat dihajar habis-habisan oleh sang Raja
Kutukan.
Ingatan-ingatan itu──telah dibuang ke arah boneka
Nutos-sama yang dimuntahkan layaknya sampah.
"...Pria itu... yang ada di acara prom... sampai
sejauh mana dia berniat mengacaukan segalanya..."
Hanya Lumen seorang yang mengingat tentang remaja
itu. Bagi Utusan Dewa tersebut, ini adalah pertama kalinya dia mengingat
keberadaan sesama laki-laki selain anggota keluarganya.
"Sebutkan namamu, wahai anak manusia."
"Aku adalah orang yang akan menjadi pengikut
Pahlawan Snow."
Remaja laki-laki itu mengangkat gelangnya ke arah langit.
"Hmph."
"Haha."
Sang dewi dan Utusan Dewa tertawa meremehkan. Gelang
Ujian──syarat agar gelang itu bisa bersinar hanyalah bagi mereka yang membawa
kekuatan dewa.
Jika ada orang selain kriteria tersebut yang memakai
gelangnya, nyawa mereka hanya akan tersedot sia-sia.
Membayangkan wajah penderitaan remaja itu, sang dewi dan
Utusan Dewa sama-sama menyunggingkan senyuman yang sangat mirip.
"...Eh?"
"...Kenapa, bisa begini."
Senyuman di wajah keduanya segera menghilang. Kenapa bisa
begitu? Karena remaja itu masih terus mengangkat gelangnya ke arah langit.
"T-tunggu, kau, kenapa kau bisa memasang wajah
setenang itu──"
Mengabaikan sepenuhnya suara Lumen, remaja itu kembali
melanjutkan kata-katanya.
"Biar aku sebutkan namaku. Namaku adalah Kastani
Takihito. Bukan, aku bukan lagi sekadar──Kastani Takihito biasa."
Gelang yang diangkatnya itu bersinar──. Gelang yang
hanya bisa dibuat bersinar oleh dewa atau seseorang dengan kekuatan setara dewa
itu, kini bersinar terang layaknya matahari.
"Mustahil... gelangnya... bersinar."
"Sebenarnya, apa yang sedang terjadi..."
Gelang remaja itu sama sekali tidak berhenti memancarkan
sinarnya.
"Ugh, apa yang..."
"Ah, Brother... Sudah kuduga, sudah kuduga. Hanya
padamu sajalah, aku bisa mempercayakan Snow..."
Aki terus membuka matanya bahkan di tengah pancaran
cahaya yang menyilaukan itu. Sambil terus menitikkan air mata, ia
menatap lurus ke satu titik.
Snow pun perlahan-lahan membuka matanya dengan ragu. Pemandangan yang terbentang di hadapannya adalah──.
"Eh...?"
Warna pelangi. Di depan mata Snow, sebuah cahaya
berwarna pelangi berkilauan dengan sangat terang.
"Kenapa... bisa...?"
Sang dewi dan Utusan Dewa hanya bisa membuka mulut mereka
dan membeku di tempat.
Semua orang yang melihat pancaran cahaya pelangi itu
dibuat gemetar ketakutan.
Pelangi, tujuh warna, cahaya warna-warni nan indah yang
seolah meluap-luap memancarkan kilaunya.
Gadis-gadis yang membaur di tengah kerumunan rakyat
diam-diam menangkupkan tangan mereka dan menundukkan kepala ke arah cahaya
pelangi tersebut.
Pemandangan itu terlihat persis seperti doa yang
dipanjatkan kepada seorang dewa.
Pada awalnya, semua orang berpikiran seperti ini. Bahwa
remaja yang bernama Kastani Takihito itulah yang membuat gelangnya bersinar.
Bukan. Dugaan mereka salah.
Bukan Kastani Takihito yang membuat gelangnya bersinar──.
Melainkan, hal yang sebenarnya bersinar itu adalah──.
"Kenapa──malah kau sendiri yang bersinar?"
"Karena diriku ini penuh dengan misteri."
Sosok Kastani Takihito itu sendirilah yang sedang
bersinar. Baik rambut, mata, maupun tubuhnya, semuanya terus memancarkan cahaya
pelangi yang terang benderang.
"Kastani... Takihito, sebenarnya, kau ini makhluk
apa..."
"...Bukan begitu."
"Eh?"
"Sudah kubilang, kan. Aku bukan lagi sekadar Kastani
Takihito biasa, diriku yang sekarang adalah──pengikut Pahlawan Snow, sekaligus
seorang pria misterius yang akan menantang ujian."
Ya, namanya adalah──.
"Rainbow Kastani Takihito."
Kastani Takihito memancarkan cahaya berwarna pelangi.



Post a Comment