NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Bonjin Jujutsushi no Tanoshii Isekai Akuyaku Play Volume 3 Chapter 1

Chapter 1

Ujian Sang Dewi


Laut biru, pantai berpasir putih, dan suara tawa teman-teman.

Latihan bertahan hidup di pulau tak berpenghuni yang diadakan di Pulau Dagoania memang sempat diwarnai masalah besar, tapi pada akhirnya... rasanya sangat menyenangkan.

Snow mengenang kembali latihan bertahan hidup di pulau tak berpenghuni itu seolah-olah sudah terjadi di masa lalu yang sangat jauh.

Warga Ibukota Kekaisaran kini sedang memadati alun-alun di depan istana.

Suasananya dipenuhi sesak oleh orang-orang, persis seperti tempat konser yang dihadiri 100 ribu penonton.

Di atas panggung yang didirikan di alun-alun, terdapat dua singgasana, di mana Lumen dan Snow duduk berdampingan di kursi tersebut.

"Snow? Wajahmu kelihatan sedikit tegang, ya. Ayo, tersenyumlah, sepertinya semua orang ingin melihat senyumanmu."

Pangeran Kedua Lumen Mira Arteria. Dia adalah adik dari mantan tunangannya, Pangeran Pertama Lux Mira Arteria, sekaligus kandidat tunangan yang baru.

Tepat setelah Snow kembali ke kediaman keluarga duke di Ibukota Kekaisaran, Pangeran Kedua Lumen Mira Arteria ternyata sudah menunggunya di sana.

Pangeran Kedua memerintahkannya untuk hadir dalam upacara pengangkatan Pahlawan yang diadakan di Ibukota Kekaisaran.

Pahlawan──seseorang yang bertarung melawan Raja Iblis. Di dunia ini, kata itu juga diperlakukan sebagai sebutan untuk sebuah pengorbanan besar.

Snow terpilih menjadi Pahlawan generasi kedua. Ia dipilih karena memiliki Gift Spirit User yang sama dengan Pahlawan sebelumnya, Pahlawan Berambut Biru.

Orang tuanya di dunia ini──Duke Lichte dan istrinya terus melindungi Snow sampai mereka jatuh pingsan akibat serangan para pengawal kerajaan yang menerobos masuk ke kediaman mereka.

Lalu, kakaknya yang bernama Aki Von Schwartz──berhasil mengalahkan 80% dari total pengawal kerajaan, namun pada akhirnya dia dikalahkan oleh Pangeran Kedua.

Tindakan barbar Pangeran Kedua itu sepertinya sudah mendapatkan izin dari Yang Mulia Kaisar. Intinya, Kekaisaran memang menginginkan Snow untuk menjadi seorang Pahlawan.

Demi melindungi Snow Von Lichte, keluarga Duke Lichte telah menentang kehendak Kekaisaran yang merupakan majikan mereka.

Dan demi melindungi keluarga duke tersebut, Snow pun mematuhi Pangeran Kedua hingga ia berada di tempat ini sekarang.

"Keluarga yang sangat baik, ya. Sepertinya mereka benar-benar tidak ingin kamu menjadi seorang Pahlawan."

"...Yang Mulia, tolong jangan sakiti keluarga duke──"

"Tenang saja, Snow. Kalau kamu bersedia menjadi Pahlawan, aku tidak akan menyentuh keluarga duke."

"..."

"Aku juga akan menutup mata atas peramal gagal dan kesatria bodoh itu."

Eugene Tadano dan Sarah Tadano. Kakak beradik yang telah menghadapi takdir besar dan berhasil selamat dalam latihan bertahan hidup di pulau tak berpenghuni.

Berkat campur tangan Snow, mereka berdua menumpang di kediaman keluarga Duke Lichte setelah kembali dari pulau tersebut.

"...Telinga Anda tajam juga, ya."

"Fufu, aku sangat tahu kalau kamu itu sangat peduli pada teman-temanmu. Itu adalah hal yang luar biasa lho, Snow."

Lumen memandang ke sekeliling alun-alun.

"Pemandangan yang indah, ya. Semua orang merayakan awal perjalanan barumu. Ini adalah momen pemberkatan yang sangat pantas untuk seorang Pahlawan."

"Sepertinya Anda benar-benar menginginkan seorang Pahlawan."

"Setelah melihat apa yang akan terjadi sekarang... aku yakin kamu pasti akan mengerti."

Upacara pun dimulai. Tepat ketika Pangeran Kedua bangkit dari singgasananya──suasana di tempat itu langsung berubah menjadi sunyi dan tegang.

"Sejak zaman kuno dulu──umat manusia telah menderita karena bencana yang disebut sebagai Raja Iblis."

Hal yang ia ceritakan adalah sejarah pada masa pendirian Kekaisaran.

"Namun, muncullah seorang pemberani. Berkat pengorbanannya, bencana bernama Raja Iblis itu berhasil dikalahkan dan kedamaian sementara pun mendatangi dunia ini, akan tetapi kedamaian itu hanyalah sesuatu yang fana."

Itulah era Perang Besar Manusia dan Iblis, sebuah masa di mana manusia dan ras iblis terus berperang.

"Seharusnya kita sudah bersiap-siap. Sebab kebangkitan kembali sosok itu, sebenarnya sudah diramalkan."

Lumen tidak mau membahas lebih jauh mengenai ramalan kebangkitan Raja Iblis yang sebelumnya.

Pasalnya, ramalannya tentang kebangkitan Raja Iblis yang sesungguhnya itu telah dirusak oleh kehadiran Bulan Gaming Super Besar yang menghiasi langit malam setiap harinya.

"Tapi, semuanya sudah terlambat. Wahai rakyat Kekaisaran, lihatlah ini."

Lumen mendeklarasikannya dengan penuh wibawa.

"Lihatlah bencana besar yang telah bangkit kembali ini."

Di belakang Lumen dan Snow, terbentang sebuah cermin sihir raksasa──benda yang mirip seperti layar bioskop di zaman modern. Gambar yang terpantul di sana adalah──.

"H-hei, itu kan... ibu kota dari Federasi Wilayah Selatan?"

"Gambar yang di sebelah sana, itu Hutan Kaca milik Aliansi Elf..."

"Kota laut milik Federasi Perdagangan Risotto juga ada, kan?"

Layar itu menampilkan keadaan kota-kota utama dari negara-negara manusia selain Kekaisaran.

Kota benteng dari bata, kota hutan yang terbuat dari kaca hijau, dan kota laut yang mengapung di atas samudra biru pekat.

Di balik layar yang terbagi menjadi tiga bagian itu, terpampanglah wujud dari ketiga kota tersebut.

Gambar itu begitu jelas hingga ekspresi wajah orang-orang yang tinggal di sana pun bisa terlihat, lalu.

"Eh?"

Awan gelap mulai menyelimuti langit kota.

Kejanggalan pertama kali terjadi di kota benteng bata merah milik Federasi Wilayah Selatan.

Ada sesuatu yang sangat besar melayang di angkasa. Sebelum mereka bisa memahami apa benda itu, langit di atas kota benteng tersebut bersinar biru terang.

"A-aaaa!"

"L-lihat! Kota di Wilayah Selatan...!?"

Para penonton menjadi riuh. Di balik layar itu, kota yang baru saja dipenuhi oleh lalu lalang orang dan senyuman warga Wilayah Selatan yang penuh semangat──kini telah hancur menjadi abu.

Kejanggalan selanjutnya terjadi di Hutan Kaca milik Aliansi Elf.

Itu adalah wilayah tersembunyi tempat tinggal ras tingkat tinggi yang telah bekerja sama dengan umat manusia pada Perang Besar sebelumnya, dan langit di sana juga bersinar biru terang.

"Bohong..."

Hutan itu terbakar. Kota kaca hijau tempat tinggal para elf kini meleleh dan hancur.

Berikutnya adalah kota yang mengapung di atas laut, sebuah kota yang hidup berdampingan dengan lautan berkat sihir kuno.

Tempat itu merupakan rumah bagi para orang suci agung yang memiliki kekuatan setara dengan sebuah negara.

Cahaya biru raksasa jatuh dari langit──dan kota laut itu pun tenggelam menjadi buih di lautan.

Hanya dalam hitungan belasan detik, tiga kota telah musnah.

 Tak lama kemudian, seseorang dari kerumunan penonton membisikkan sesuatu.

"......Raja Iblis?"

Goooooooooooonnnnggg!!

Langit bergemuruh. Sebagian besar orang di kerumunan itu secara refleks menutup telinga mereka, bahkan sampai ada yang jatuh terduduk.

"Benar sekali, dia adalah salah satu dari Tujuh Bencana. Raja Iblis sudah ada di sini."

──Sebuah wujud yang mengerikan──. Makhluk itu melayang di udara.

Ukurannya raksasa, berbentuk seperti wanita dengan tubuh yang mengering dan dibalut kain compang-camping. Mumi raksasa berambut biru itu turun dari langit, mengibarkan awan gelap seolah-olah awan itu adalah jubahnya.

Belum pernah ada yang melihat wujud aslinya secara langsung. Namun, insting semua orang langsung menyadarinya bahwa makhluk ini, eksistensi ini adalah──.

"Raja Iblis telah kembali."

Perkataan Lumen tersebut menegaskan dugaan para rakyat.

"Ke dunia yang tidak lagi memiliki Pahlawan ini."

Sang Iblis telah mewujudkan diri. Ia adalah pemegang salah satu kursi Tujuh Bencana──Raja para Iblis. Raja yang mengutuk seluruh makhluk hidup.

"OOOOOOOOOOAAAAAAAAAAAA!!"

Mulut mumi berambut biru yang terjahit itu terbuka lebar hingga merobek serpihan dagingnya. Gemuruh yang terdengar sebelumnya ternyata berasal dari suara Raja Iblis.

Kepanikan warga melonjak hingga mencapai puncaknya.

Wajar saja mereka bereaksi seperti itu, mengingat mereka baru saja menyaksikan kehancuran yang disebabkan oleh Raja Iblis, dan bayangan mengerikan itu masih membekas kuat di benak mereka saat makhluk itu muncul.

Kepanikan massa itu menyebar dalam sekejap──.

"Wahai rakyatku. Janganlah kalian takut."

Rambut perak Lumen bersinar. Jika diperhatikan, seberkas cahaya dari langit menyorot tepat hanya kepadanya.

"Wahai rakyatku. Berdoalah, jangan takut, tapi memohonlah. Sebutlah nama Tujuh Dewa Agung──dan sebutlah nama sang pemimpin, nama dewi yang paling penuh dengan cahaya."

Terpengaruh oleh wibawa Lumen, satu per satu dari rakyat yang hadir mulai berlutut dan memanjatkan doa.

Bagi Snow, itu adalah pemandangan yang sangat tidak wajar.

"Apa yang kalian lakukan!? Semuanya, cepat lari! Tempat ini sangat berbahaya! Aku yang akan... aku yang akan menahan monster itu di sini! Yang Mulia, Anda juga harus segera menyingkir!!"

"...Snow, Snow, Snow! Ah...! Kamu memang yang terbaik...! Walaupun kamu tidak ingin menjadi Pahlawan, tapi kamu... pada akhirnya kamu tetap akan maju melawannya, kan...!?"

Lumen menggenggam tangan Snow saat gadis itu hendak mengeluarkan tongkat sihirnya. Wajah pria itu dengan jelas memancarkan rona kegembiraan.

"...Apa yang sedang Anda bicarakan?"

"Lihatlah, Snow. Meskipun Raja Iblis telah turun ke dunia, rakyatku tetap memanjatkan doa. Mereka tidak melarikan diri, betapa taatnya mereka."

"Ini bukan waktunya untuk membicarakan hal itu──... Tunggu dulu. Anda... apakah Anda melakukan sesuatu pada orang-orang ini?"

Lumen sama sekali tidak menjawab. Dia hanya menyunggingkan senyum, dan hal itu sudah cukup menjadi sebuah jawaban.

"Orang ini──"

Snow menepis tangan Lumen. Di saat gadis itu hendak mengaktifkan Gift-nya untuk memasang penghalang sihir demi melindungi rakyat, sesuatu terjadi.

"Kamu tidak perlu melakukannya, Snow Von Lichte. Pahlawanku."

Sebuah suara wanita turun menggema dari langit.

"Eh?"

Sebuah cahaya muncul di angkasa.

"A, AAAAAAAA! LT... AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!??"

Raja Iblis itu terkurung di dalam sebuah kristal yang bersinar dengan warna pelangi.

Awan gelap terbelah, dan dari celah tersebut cahaya terus-menerus memancar turun diiringi suara terompet dari langit.

Hal yang muncul bersamaan dengan iringan fanfare itu adalah.

"Pujilah namaku. Pujilah namaku yang dipenuhi dengan kejayaan dan cahaya ini."

Seorang Dewi. Ia memiliki tubuh yang tinggi, mata besar yang sedikit sipit, dan sosok yang montok dalam balutan jubah putih layaknya bidadari.

Di punggung putihnya, terdapat lingkaran cahaya yang bersinar.

Lalu, dari punggung dan pinggangnya, membentang enam helai sayap putih yang terbagi menjadi tiga pasang.

Sebagian besar warga Kekaisaran baru pertama kali melihat sosoknya secara langsung.

Namun, semua orang tahu siapa dia. Mereka mengenalnya lewat lukisan agama, patung dewi, dan ibadah di gereja.

"Dewi..."

"Itu adalah Dewi... salah satu dari Tujuh Dewa Agung, sang dewi keberanian dan kewajiban..."

"Oh, Lutos-sama... rupanya Anda selalu, selalu mengawasi kami..."

Orang-orang pun berlutut. Itu adalah Dewi Lutos, Pemimpin Tujuh Dewa Agung sekaligus dewi terkuat yang memiliki penganut paling banyak di Kekaisaran.

Benar sekali, semua orang saat ini sedang menyaksikan sebuah keajaiban dewa di mana Dewi itu telah menyegel Raja Iblis.

Kemudian, pancaran cahaya yang dilepaskan sang dewi menyorot kepada seorang gadis.

"Di sini, terdapat seseorang yang memiliki takdir untuk mengalahkan Raja Iblis. Sosok pemberani yang mengendalikan roh dengan didampingi cahaya pelangi."

Petunjuk itu mengarah padanya.

"──Itu artinya, gadis ini, Snow Von Lichte, adalah Pahlawan untuk generasi ini."

"Ooooooooooooooooooooooooooo!"

Terdengar sorakan besar dari rakyat. Benar, mereka telah melihatnya dengan sangat jelas.

"Itu Nona Snow!"

"Aku tidak akan melewatkannya! Beliau itu, sejak tadi pun sudah bergerak untuk melindungi kita, lho!"

"Nona dari keluarga duke menjadi Pahlawan, dan Pangeran Kedua menjadi Utusan Dewa...! Oh!! Kekaisaran kita benar-benar dilindungi oleh Tuhan!"

"Ugh..."

Snow tersentak karena semuanya ini terasa terlalu kebetulan. Mulai dari Raja Iblis yang tiba-tiba muncul, lalu dewi yang langsung menyegelnya. Titik awal dari seluruh kejadian ini adalah──.

"...Sebenarnya apa yang ingin Anda lakukan?"

"Aku ingin mencintaimu."

──Pengangkatan Snow sebagai Pahlawan yang dipelopori oleh Lumen.

"Aku sudah lama, lama sekali menyukaimu. Sejak pandangan pertama ketika kamu diperkenalkan sebagai tunangan kakakku, kamu terlihat begitu anggun, elegan, dan bersinar. Tapi entah kenapa, aku tertarik pada dirimu yang menyimpan sisi gelap dan kemuraman itu."

Lumen menggenggam tangan Snow.

"Snow. Aku masih ingat saat pertama kali kita bertemu. Kamu adalah satu-satunya wanita yang tidak mempan terhadap sihir Charm milikku, yang merupakan anugerah cinta dari dewa..."

Lumen Mira Arteria merasa sangat tertarik pada Snow.

"Sejak bertemu denganmu, sebanyak apa pun wanita atau pria yang kunikmati, dan sebanyak apa pun cinta yang kurebut dari orang lain, semua itu tidak pernah cukup... Hatiku terasa dingin, hampa, dan sedih, seolah-olah ada lubang yang menganga di sana. Semakin aku memikirkanmu, aku jadi semakin menginginkanmu..."

Mana berwarna perak meluap dari tubuh Lumen.

Rambut peraknya yang panjang semakin memanjang, bahkan tinggi badannya pun ikut bertambah dengan pesat.

"Inilah yang benar-benar disebut cinta. Ah, aku sungguh telah jatuh cinta, Snow. Aku sudah jatuh cinta padamu."

Lumen Mira Arteria telah tumbuh dewasa, wujudnya berubah dari seorang remaja laki-laki menjadi seorang pemuda.

Utusan Dewa yang mendapat pasokan kekuatan ilahi dari perwujudan Lutos itu, telah tumbuh mencapai wujud yang pantas untuk mendapatkan wanita bernama Snow yang ada di hadapannya.

"...Yang Mulia, wujud itu..."

"Wajahku jadi mirip dengan kakakku dan itu membuatku sedikit kesal... tapi tidak masalah. Aku akan senang jika ini adalah penampilan yang sesuai dengan seleramu, Snow."

"Aku sama sekali, sama sekali tidak mengerti maksudmu... M-mencintaiku? K-kenapa hal itu bisa berujung pada situasi yang melibatkan Pahlawan, Raja Iblis, dan dewi ini...? Kenapa semua itu harus menggunakan cara seperti menjadikan keluarga duke sebagai sandera..."

Lumen tersenyum dengan ramah.

"Aku tahu tentang luka yang kamu miliki, ──di dunia kehidupanmu sebelumnya, hatimu telah dikutuk oleh kakak perempuanmu."

"...Hah?"

Lumen menyentuh luka batin Snow. Itu adalah kenangan dari luka yang tak kunjung sembuh, yang selalu menyiksa Snow setiap kali dia menghadapi cobaan, baik di Hutan Terlarang maupun di pulau tak berpenghuni.

"Aku ingin melepaskan kutukanmu itu, Snow."

Apa maksudnya──. Sebelum Snow sempat membuka mulutnya, sorakan yang sangat meriah bergema.

"Mulai sekarang, Pahlawan Snow akan menghadapi ujian dari dewi untuk mendapatkan kekuatan demi mengalahkan Raja Iblis!! Wahai rakyat Kekaisaran, wahai para umatku, rayakanlah titik awal dari perjalanan yang agung ini!"

"Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!"

Tanpa sadar, Snow telah tertelan ke dalam situasi yang tak memberikannya jalan untuk kembali.

"...Apakah dewi dan Raja Iblis ini juga sudah Anda siapkan?"

"Tentu saja tidak, aku tidak punya kekuatan yang cukup untuk mengendalikan dewi maupun Raja Iblis. Aku hanya meminjam kekuatan dari dewa-dewa lain, dan sedikit membantu membuang hal-hal yang tidak berguna dari Dewi Lutos. Dewa tidak membutuhkan sifat kemanusiaan. Sebagai sosok yang pantas disebut dewa, mereka hanya perlu mempermainkan, memelintir, dan menjadikan takdir umat manusia fana sebagai bahan mainan mereka."

Snow sama sekali tidak bisa menebak maksud sebenarnya dari perkataan Lumen.

"Snow. Aku hanya ingin membuktikan, bahwa hanya akulah yang bisa melindungimu."

"Atas nama Dewi Lutos. Mulai sekarang, kita akan melakukan penyortiran pengikut yang akan mendampingi Pahlawan Snow──alias Party Pahlawan."

Dalam sekejap, sebuah gelang berwarna perak terpasang di lengan kanan semua orang yang ada di sana, termasuk para penonton.

"Gelang itu bernama 'Gelang Ujian'. Bagi kalian yang ingin menjadi pengikut Pahlawan dan berharap bisa menjadi kekuatan baginya, angkatlah gelang itu ke langit. Gelang itu hanya akan bersinar pada mereka yang pantas, dan menemukan siapa yang layak untuk menjadi pengikut Pahlawan, yakni kualifikasi sebagai Party Pahlawan!!"

Atas perintah dari sang dewi, banyak orang──para kesatria dan petualang yang berkumpul di sana mulai mengangkat lengan mereka. Akan tetapi.

"Gagh──!"

"Gu, uh...!"

"Apa-apaan ini, panas, panas banget!!"

Dalam sekejap, gelang itu bersinar hitam kelam, dan para pemakainya pun mengerang kesakitan.

"Gelang itu bersinar dengan mengisap mana dari pemakainya. Sebuah ujian memang selalu disertai dengan penderitaan."

"Berkat belas kasihku, nyawa kalian tidak akan terancam jika kalian menurunkan lengan kalian."

Bahkan sebelum sang dewi selesai berbicara, lengan-lengan yang diangkat ke udara itu mulai turun satu per satu. Baik para petualang maupun kesatria, semuanya menyerah tanpa terkecuali.

Di tengah keriuhan para warga yang berkumpul di alun-alun, orang-orang yang awalnya bertahan dengan wajah tegar pun tak sanggup lagi menahan rasa sakit, lalu menurunkan lengan dan berlutut satu per satu.

"Oh...?"

Sang dewi bersuara keheranan karena dia melihat ada satu lengan yang masih terangkat di sana.

Lengan itu milik seorang pemuda tampan berambut pirang dan bermata biru yang mengenakan seragam Akademi Sihir.

Meskipun wajahnya berkerut menahan sakit, ia tetap mengangkat gelangnya ke arah langit.

Baik Snow maupun Lumen tahu siapa pria itu.

"Aki... kenapa kamu..."

Dia adalah Aki Von Schwartz, Kakak tiri Snow yang berbeda ibu.

Aki yang sebelumnya dikalahkan oleh Lumen di kediaman duke dan seharusnya ditahan sebagai sandera oleh pasukan Lumen, kini justru berada di tempat ini.

"Guh... Tunggu aku, Snow! Kakak akan segera ke sana!!"

Wajahnya tampak pucat pasi, keringat bercucuran di keningnya, dan giginya terkatup rapat.

Meski begitu, lengannya tetap terentang lurus ke arah angkasa.

Gelang itu terus-menerus menyerap mana dari dalam tubuh Aki.

Namun, sama sekali tidak ada tanda-tanda gelang itu akan bersinar terang.

"Anda sangat tangguh ya, Kakak Ipar."

"Aku tidak sudi──dipanggil kakak olehmu!!"

"Galak sekali. ...Padahal aku sudah mematahkan kedua lengannya, menempatkannya di bawah sihir ilusi, bahkan memaksanya meminum Ramuan Slumber Drop sebelum menjebloskannya ke penjara... tapi bagaimana bisa dia melarikan diri?"

"Karena aku ini kakaknya!"

"Itu sama sekali bukan jawaban, Kakak Ipar."

Lumen memetikkan jarinya dengan bunyi snap. Pada saat itu juga, gelang di lengan Aki memancarkan cahaya hitam kelam.

"Guh!? A-aaaaa...!!"

Gelang itu menyerap mana sekaligus nyawa Aki, menimbulkan rasa sakit yang sudah mencapai taraf penyiksaan.

"Aki, sudah, sudah cukup, hentikan... hentikan!"

"...Gu, ah...! Tidak apa-apa! Tunggu saja, Snow! Kakak akan segera ke sana!"

"Bukankah lebih tepat kalau kau bilang akan segera pergi ke alam baka?"

"Fufu."

Sang dewi dan Lumen menertawakan perjuangan keras Aki tersebut.

"Oh, lihatlah sosok gagah berani Tuan Aki itu!"

"Kasih sayang kakak beradik yang sangat indah... Dia rela mempertaruhkan nyawanya demi Nona Snow!"

"Inilah yang pantas disebut sebagai kesatria sesungguhnya! Kesatria Tingkat Atas, Aki Von Schwartz!"

"Jangan ada yang mengganggunya, mari kita saksikan kehebatan Tuan Aki!!"

Para warga hanya bisa menonton pengorbanan sang kakak seolah-olah sedang menyaksikan pertunjukan sirkus, namun tidak ada seorang pun yang mau membantunya.

"Jangan... Aki... hentikan, kumohon hentikan... Kumohon, kamu bisa mati nanti... kamu bisa mati..."

Suara tangisan Snow tidak mencapai telinga siapa pun, karena memang tidak ada siapa-siapa di sana yang berada di pihak──.

"Kamu tidak memiliki seorang sekutu pun di pihakmu, wahai Pahlawanku, Snow."

"Hanya aku satu-satunya yang ada di pihakmu. Snow milikku."

Ya, dia tidak memiliki satu pun sekutu.

"Snow."

Sang dewi mewujudkan dirinya di belakang Snow.

Sambil meletakkan tangannya di bahu gadis itu dan mendekatkan bibirnya ke telinga, sang dewi membisikkan sesuatu dengan suara yang semerdu kecapi.

"Gara-gara kamu, anggota keluargamu akan mati lagi, ya♪"

──Ingatan. Bersamaan dengan suara dewi itu, kepingan memori di dalam benak Snow mengalir masuk.

Truk yang menabrak barisan anak-anak yang sedang berwisata, dirinya yang terpaku tak bisa bergerak, kakaknya yang langsung melompat keluar──serta sosok kakaknya yang tumbang dalam genangan darah demi melindungi anak itu.

Saat itu, kakaknya Yustia harus mati karena Snow tidak bisa bergerak untuk menolong. Dan sekarang, kakaknya Aki akan mati karena Snow tak berdaya.

Kenapa semuanya selalu berakhir seperti ini? Tentu saja karena diriku sendirilah yang tidak berguna.

Itu adalah ingatan dari kehidupan sebelumnya, di hari pemakaman sang kakak.

Ini adalah isi hati orang tuanya, yang mereka gumamkan di hadapan peti mati kakaknya sebelum dikuburkan.

──Tuhan, apakah Engkau juga harus memilih Yustia──

──Kenapa harus Yustia?

Seharusnya akulah yang mati, namun anehnya, justru akulah yang selamat.

Menyalahkan diri sendiri──itulah kutukan milik Snow, akan tetapi kutukan tersebut tidak akan menghentikan langkah gadis itu.

"...Anda tidak perlu memberitahuku soal itu."

Tiba-tiba saja, Snow melangkah maju.

"Oh? Ya, ampun, ufufu, Snow, anak sepertimu ini... ufufu, sungguh manis sekali, pantas saja Utusan Dewaku sampai terpikat padamu."

"Benar, kan? Dewi Lutos. Gadis itu benar-benar luar biasa, kan."

Dari atas panggung, sang dewi dan Utusan Dewa hanya bisa memandang langkah Snow dengan tatapan penuh kasih sayang.

"...Aku sudah sangat memahaminya, kok, hal seperti itu..."

Snow turun dari panggung, lalu kerumunan orang terbelah bagaikan gelombang pasang surut air laut untuk membukakan jalan bagi Snow.

Bisikan sang dewi, ingatan dari kehidupan sebelumnya, dan──perkembangan yang didapatkannya di dunia ini, semua itu mendorong punggung Snow, telah memaksanya untuk terus melangkah maju.

"Karena aku sendiri juga sudah berkembang."

Snow Von Lichte memiliki seorang pemuda yang menarik hatinya, orang itu bernama Kastani Takihito.

Ia adalah pemuda di ladang yang entah kenapa tak bisa Snow abaikan sejak di kehidupan sebelumnya, pria yang membuat matanya selalu, selalu saja mengikutinya sejak mereka kembali bertemu di Akademi Sihir di dunia ini.

Di Hutan Terlarang, pemuda itu pernah berkata begini padanya.

"Snow, kuserahkan yang lain padamu!"

Di pulau tak berpenghuni, pemuda itu pernah berkata begini padanya.

"Hal semacam itu sama sekali tidak cocok denganmu, Snow."

Perkataan pemuda itu menyalakan sebuah kehangatan di dalam diri Snow, dan gadis itu tidak ingin mengkhianati perasaan tersebut.

Dia meyakinkan dirinya bahwa ia tidak boleh lari dari penderitaan, tidak boleh merasa lega sendirian.

"...Snow, tunggu, apa yang sedang kamu lakukan."

"Aki... terima kasih untuk segalanya selama ini."

Menghampiri Aki yang sedang menahan rasa sakit, Snow langsung memeluk erat pria itu.

"Tunggu... Snow... A-apa yang kamu katakan!?"

"Aki. Aku sangat senang kamu mau datang menemuiku... Maaf ya karena aku selalu memaksamu melakukan hal yang tidak mungkin..."

"S-snow, tunggu, kumohon tunggulah... A-apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan!!??"

Dalam pelukannya pada tubuh Aki, Snow pun mengucapkan sesuatu.

"Spirit Magic: Rainbow Gravity"

Sihir yang ia aktifkan adalah Rainbow Gravity, sihir itu memiliki efek untuk memberikan daya tarik buatan pada benda apa pun yang disentuhnya.

"Maafkan aku, Aki."

"Jangan-jangan──hentikan, Snow!! Belum, aku masih bisa menahannya!! Ingatlah bahwa aku ini adalah kakakmu!!"

Lengan Aki tertarik ke bawah akibat gaya tarik dari Rainbow Gravity.

Gelang Ujian milik Aki Von Schwartz sama sekali tidak bersinar, dan pada akhirnya, bahkan Aki pun tidak bisa terus mendampingi Sang Pahlawan.

"A-aaah, Snow, tunggu, kumohon tunggulah! Sekali lagi, biarkan aku mencobanya sekali lagi! Mari kita ulangi dari awal!!"

Snow menekan tubuh Aki untuk menahannya saat pria itu berusaha keras untuk bangkit berdiri.

"...Snow?"

"Aki, terima kasih karena kamu selalu menolongku, dan karena kamu selalu berusaha melindungiku."

"Tunggu... Tunggu dulu, Snow... a-apa yang sedang kamu bicarakan? I-itu sudah seharusnya, itu sudah menjadi kewajibanku. Ini bukan sesuatu yang pantas untuk kamu beri ucapan terima kasih! Aku ini kakakmu, tahu!!"

Snow menatap lekat-lekat wajah Aki yang terlihat begitu putus asa itu. Ia menatapnya seolah-olah ingin mengukir dalam-dalam ke ingatannya, wajah kakak yang selalu melindunginya tersebut.

Ah, aku benci sekali harus melalui semua ini... Apakah ini artinya aku juga harus mengucapkan selamat tinggal pada Aki?

Aku benar-benar membencinya... Padahal, aku hanya ingin hari-hari seperti biasanya terus berlanjut selamanya. Tapi, aku harus melakukannya.

"Biar aku yang melakukannya."

"S-snow, tunggu, kumohon tunggulah..."

Aki, jangan tunjukkan wajah sesedih itu. Lihatlah, semua orang memasang ekspresi wajah cemas dan ketakutan setengah mati.

Semua orang di sini memiliki kehidupan mereka sendiri-sendiri, memiliki hari esok yang sedang menanti mereka. Melindungi semua itu adalah tugas seorang bangsawan──kalau itu adalah Kakak, sudah jelas apa yang akan dilakukannya di saat-saat seperti ini.

"──Aku bersumpah di hadapan warga Kekaisaran yang kucintai."

Warga Kekaisaran pun berhenti memanjatkan doa. Semua mata terpaku pada sosok gadis yang berdiri tegap di tengah alun-alun itu──.

"Putri sulung dari keluarga Duke Lichte, Snow Von Lichte! Akulah yang akan mengalahkan Raja Iblis──dan membawa ketenangan serta kedamaian bagi Kekaisaran!!"

"Tunggu, Snow, kamu, kamu sama sekali tidak perlu melakukan itu, biarkan aku, biarkan kakakmu ini yang melakukannya...! Aku tidak akan pernah membiarkan adik perempuanku bertarung sendirian! Hal semacam itu, menjadi seorang Pahlawan..."

──Kali ini, aku pasti akan bertindak layaknya Kakak.

"Benar, aku, akulah penerus dari Pahlawan generasi pertama──Pahlawan Berambut Biru──"

"Tidak, Snow, hentikan, kumohon hentikan semua ini. Jangan lakukan itu, jangannnnnnnnn!"

──Aku harus menjadi seorang tokoh utama yang keren.

"Aku adalah Pahlawan──Snow Von Lichte."

Kilauan cahaya pelangi yang memancar dari langit menyorot tubuh Snow. Cahaya itu seolah-olah menunjukkan bahwa langit dan bumi sedang memberkati Snow.

"Akulah yang akan menumbangkan Raja Iblis itu."

Diiringi dengan sorak sorai meriah dari kerumunan, sang gadis pun mati dan sosok Pahlawan terlahir di dunia.

Kutukan yang ditanggung sendiri oleh Snow──kutukan yang membuatnya terus-menerus menyalahkan diri sendiri, sebuah kutukan mirip luka yang terukir rumit di dalam jiwanya akibat takdir yang mengikatnya sejak dari kehidupan sebelumnya.

Melihat secara langsung kutukan semacam itu, Utusan Dewa pun tertawa sinis.

"Ah, sungguh cantik sekali... Snow... Aku ingin kamu menunjukkan lebih, lebih banyak lagi sisi cantikmu itu... Aku ingin memberikanmu lebih banyak lagi penderitaan yang luar biasa... Aku ingin menantang ujian yang luar biasa ini bersamamu."

Meskipun menggunakan rasa cinta yang menyimpang itu, kutukan gadis itu tidak akan pernah bisa dilepaskan.

"...Sialan, sial, apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan, apa yang kamu lakukan, Aki Von Schwartz... Padahal saat itu kamu sudah bersumpah. Pada akhirnya, jika kamu saja tidak bisa melindungi satu-satunya adik perempuanmu, bagaimana bisa kamu menyebut dirimu sebagai... seorang kakak..."

Begitu pula dengan kasih sayang tulus dari sang kakak sejak di kehidupan sebelumnya, hal itu pun tetap tidak akan mampu melepaskan kutukan gadis itu.

"Jangan menangis, Aki. Asal kamu tahu ya, sekarang aku merasa sedikit bahagia lho."

"Apa yang, kau katakan──ah..."

"Karena aku merasa bisa menjadi seperti Kakak."

"Bukan... Bukan begitu, Snow... Kamu tidak perlu, kamu tidak perlu berubah menjadi Yustia... Ah, aaah."

Raut keputusasaan langsung terpampang jelas di wajah Aki. Sesaat, wajah Snow terlihat menumpuk──dengan wajah kakaknya yang bernama Yustia.

Mengabdikan diri demi hidup orang lain bagaikan wujud perwujudan dari kesejahteraan bersama.

Namun, eksistensi semacam itu sudah tidak bisa lagi disebut sebagai seorang manusia, dan pastinya, Snow akan benar-benar berubah menjadi sosok Yustia.

Berubah menjadi Pahlawan, suatu entitas mirip sebuah sistem yang rela membuang nyawanya sendiri dengan mudah demi membantu orang lain, serta sebuah kutukan untuk terus menyalahkan diri sendiri.

Kutukan yang diberikan oleh Snow kepada dirinya sendiri itu──tidak akan ada seorang pun di dunia ini yang bisa melepaskannya.

Baik itu Utusan Dewa, maupun kakaknya sendiri, tidak akan ada yang bisa melakukannya.

"Permisiiiii, tolong tukarkan gelang iniiii!"

──Kecuali, sang Raja Kutukan.

"Padahal aku tidak ngapa-ngapain tapi gelangnya rusak~!! Tolong ganti dengan yang baru donggg~!!"




Sosok yang muncul adalah seorang remaja laki-laki berambut hitam yang mengenakan seragam Akademi Sihir.

Remaja itu melompat ke tengah alun-alun sambil mengangkat puing-puing Gelang Ujian yang telah terbelah menjadi dua.

Snow dan Aki sangat mengenal sosok remaja tersebut.

"Eh...? C-Kastani...?"

"...B-brother...?"

Remaja laki-laki itu melambaikan tangannya dengan santai ke arah kakak beradik yang sedang tercengang tersebut.

"Ah, Snow dan Aki. Yo. Lihat ini, gelangnya cacat produksi tahu, cacat produksi. Ah, Aki, boleh aku pinjam gelangmu sebentar?"

"...Jangan bilang kamu datang ke sini demi hal itu, Brother..."

Alih-alih menjawab perkataan Aki, remaja itu menyentuh gelang milik Aki. Dengan mulus, gelang itu terlepas dari tangan Aki.

"...Aku tidak bisa melindungi Snow... Aku tidak punya kualifikasi untuk itu... Brother... Aku tahu kalau aku tidak seharusnya meminta hal semacam ini padamu... Tapi, kumohon, kumohon... Aku memohon padamu, ini adalah permohonan seumur hidupku, tolong lindungi Snow, sebagai gantiku──lindungilah Snow──"

Sebelum Aki selesai berbicara, remaja itu berlutut di tempatnya agar pandangan mata mereka sejajar.

"Kata-kata tidak diperlukan lagi, Aki."

"Brother...?"

"Kamu adalah kakak terbaik bagi Snow."

Remaja laki-laki itu memasangkan gelang Aki ke lengannya sendiri, lalu tersenyum lebar.

"Kamu kaku sekali, Aki. Bukan, maksudku Brother."

"──!!!!!!!!!!!!"

Dalam sekejap──sebuah ingatan sesaat berlarian melintasi sel-sel otak Aki Von Schwartz.

Tes... Air mata hangat mengalir membasahi pipi Aki yang menengadah menatap langit dengan silau.

"Heh... Tak terkalahkan di kampung halaman, ya... Benar juga, Brother... Kamu memang sudah menjadi pria yang seperti itu sejak dulu, ya."

Kampung halaman Kastani adalah Jepang, sedangkan kampung halaman Aki adalah Eropa.

Sebuah fakta yang tidak pernah ada itu, entah bagaimana, telah menyelamatkan Aki.

Genggaman erat!! Remaja itu dan Aki Von Schwartz saling berjabat tangan dengan sangat kuat.

"Eh? Eh? Aki...? Kastani...? Eh?"

Snow tertinggal karena sama sekali tidak mengerti dengan situasinya. Tidak, bukan hanya Snow, tidak ada seorang pun yang bisa mengikuti jalan pikiran remaja berambut hitam dan Aki tersebut.

Bahkan sang dewi dan Utusan Dewa sekalipun tak memahaminya.

Dewi Lutos memasang wajah kebingungan. Dengan ekspresi sedingin es seolah-olah suasana hatinya yang sangat baik tadi hanyalah kebohongan belaka, dewi itu menatap sang remaja.

"...Siapa kamu?"

Dewi Lutos yang hanya terdiri dari fungsinya sebagai dewa ini, telah kehilangan ingatan tentang pemilik Gift peringkat G yang pernah dikutuknya, serta ingatannya saat dihajar habis-habisan oleh sang Raja Kutukan.

Ingatan-ingatan itu──telah dibuang ke arah boneka Nutos-sama yang dimuntahkan layaknya sampah.

"...Pria itu... yang ada di acara prom... sampai sejauh mana dia berniat mengacaukan segalanya..."

Hanya Lumen seorang yang mengingat tentang remaja itu. Bagi Utusan Dewa tersebut, ini adalah pertama kalinya dia mengingat keberadaan sesama laki-laki selain anggota keluarganya.

"Sebutkan namamu, wahai anak manusia."

"Aku adalah orang yang akan menjadi pengikut Pahlawan Snow."

Remaja laki-laki itu mengangkat gelangnya ke arah langit.

"Hmph."

"Haha."

Sang dewi dan Utusan Dewa tertawa meremehkan. Gelang Ujian──syarat agar gelang itu bisa bersinar hanyalah bagi mereka yang membawa kekuatan dewa.

Jika ada orang selain kriteria tersebut yang memakai gelangnya, nyawa mereka hanya akan tersedot sia-sia.

Membayangkan wajah penderitaan remaja itu, sang dewi dan Utusan Dewa sama-sama menyunggingkan senyuman yang sangat mirip.

"...Eh?"

"...Kenapa, bisa begini."

Senyuman di wajah keduanya segera menghilang. Kenapa bisa begitu? Karena remaja itu masih terus mengangkat gelangnya ke arah langit.

"T-tunggu, kau, kenapa kau bisa memasang wajah setenang itu──"

Mengabaikan sepenuhnya suara Lumen, remaja itu kembali melanjutkan kata-katanya.

"Biar aku sebutkan namaku. Namaku adalah Kastani Takihito. Bukan, aku bukan lagi sekadar──Kastani Takihito biasa."

Gelang yang diangkatnya itu bersinar──. Gelang yang hanya bisa dibuat bersinar oleh dewa atau seseorang dengan kekuatan setara dewa itu, kini bersinar terang layaknya matahari.

"Mustahil... gelangnya... bersinar."

"Sebenarnya, apa yang sedang terjadi..."

Gelang remaja itu sama sekali tidak berhenti memancarkan sinarnya.

"Ugh, apa yang..."

"Ah, Brother... Sudah kuduga, sudah kuduga. Hanya padamu sajalah, aku bisa mempercayakan Snow..."

Aki terus membuka matanya bahkan di tengah pancaran cahaya yang menyilaukan itu. Sambil terus menitikkan air mata, ia menatap lurus ke satu titik.

Snow pun perlahan-lahan membuka matanya dengan ragu. Pemandangan yang terbentang di hadapannya adalah──.

"Eh...?"

Warna pelangi. Di depan mata Snow, sebuah cahaya berwarna pelangi berkilauan dengan sangat terang.

"Kenapa... bisa...?"

Sang dewi dan Utusan Dewa hanya bisa membuka mulut mereka dan membeku di tempat.

Semua orang yang melihat pancaran cahaya pelangi itu dibuat gemetar ketakutan.

Pelangi, tujuh warna, cahaya warna-warni nan indah yang seolah meluap-luap memancarkan kilaunya.

Gadis-gadis yang membaur di tengah kerumunan rakyat diam-diam menangkupkan tangan mereka dan menundukkan kepala ke arah cahaya pelangi tersebut.

Pemandangan itu terlihat persis seperti doa yang dipanjatkan kepada seorang dewa.

Pada awalnya, semua orang berpikiran seperti ini. Bahwa remaja yang bernama Kastani Takihito itulah yang membuat gelangnya bersinar.

Bukan. Dugaan mereka salah.

Bukan Kastani Takihito yang membuat gelangnya bersinar──. Melainkan, hal yang sebenarnya bersinar itu adalah──.

"Kenapa──malah kau sendiri yang bersinar?"

"Karena diriku ini penuh dengan misteri."

Sosok Kastani Takihito itu sendirilah yang sedang bersinar. Baik rambut, mata, maupun tubuhnya, semuanya terus memancarkan cahaya pelangi yang terang benderang.

"Kastani... Takihito, sebenarnya, kau ini makhluk apa..."

"...Bukan begitu."

"Eh?"

"Sudah kubilang, kan. Aku bukan lagi sekadar Kastani Takihito biasa, diriku yang sekarang adalah──pengikut Pahlawan Snow, sekaligus seorang pria misterius yang akan menantang ujian."

Ya, namanya adalah──.

"Rainbow Kastani Takihito."

Kastani Takihito memancarkan cahaya berwarna pelangi.



Prolog | ToC | Chapter 2

Post a Comment

Post a Comment

close