Chapter 1
Ramalan Super Masif yang
Sesungguhnya
☆Sudut Pandang Snow von Lichte☆
"Satu,
lihatlah, bulan yang pucat. Jiwa Raja Iblis telah berputar dan kembali."
"Dua,
sepuluh anak yatim paling malang akan mempersembahkan lagu pujian kepada Raja
Iblis; hidup mereka yang sia-sia memang demi saat ini."
"Tiga,
di pulau tua yang dikelilingi laut biru tua, di negeri ideal, korban akan
dipersembahkan pada api Dewa yang baik, dan jiwa Raja Iblis akan ditempa."
"Empat, dan sang Raja akan kembali, bencana terkuat
yang disebut Raja Iblis."
"Lima,
penerus pahlawan berambut biru. Spirit User zaman ini akan menenangkan
Raja Iblis dengan nyawanya sendiri, atas nama sang Dewi."
Semua
orang gemetar ketakutan mendengar kengerian ramalan itu.
Wajah Utusan Nostra... entah mengapa tampak begitu sedih.
Lumen—tertawa.
"Dan hadirin sekalian, izinkan saya memperkenalkan
pahlawan baru yang akan menghadapi ramalan ini."
Saat mataku bertemu dengannya, bulu kudukku berdiri.
"Ayo, beri tepuk tangan untuk pahlawan yang akan
mempertaruhkan nyawanya melawan ramalan ini—Snow von Lichte!!"
Tepuk tangan bergemuruh seperti petir.
Sejak dia menyebut tentang Spirit User, aku sudah
punya firasat buruk.
Dalam ramalan itu, aku ditakdirkan untuk bertarung
melawan Raja Iblis lalu mati.
Aku sungguh tidak menginginkannya.
Aki, Haru-chan, dan Kotori-chan berusaha menahanku.
Namun, semua orang menaruh harapan padaku. Sebagai
seorang bangsawan, aku harus menjawab harapan itu.
Di saat seperti ini, aku selalu memikirkan apa yang akan
dilakukan kakak.
Dia pasti akan melangkah maju—tanpa keraguan sedikit pun.
Tapi aku berbeda. Sejatinya, aku hanyalah orang yang
penakut, egois, dan pemalas.
"Ah..."
Seorang anak kecil menatap langit dengan cemas, sementara
ibunya memeluknya erat.
Aku melihat mereka berdua—ah, tolong jangan memasang
wajah seperti itu.
Tanpa sadar, kakiku sudah melangkah maju.
Aku sungguh tidak menginginkan ini, ini sangat
merepotkan, tapi... aku harus melakukannya.
Aku harus melakukannya, harus melakukannya, harus
melakukannya.
Meskipun aku bereinkarnasi, meskipun ini dunia yang
berbeda—aku harus terus menggantikan kakakku... menggantikan Justia.
"Anak yang baik, Snow."
Lumen tertawa. Senyum yang begitu tenang dan lebar.
Itu adalah wajah manusia yang merasa bahwa segala
sesuatu di dunia ini berjalan sesuai keinginannya—
"Nah, dengan ini ramalan telah terpenuhi! Mulai saat
ini, ramalan ini—dunia akan berubah karena ramalan Raja Iblis dari Nostra
ini—"
"Tidak, ramalan itu sudah... basi."
"Eh?"
Eh?
"A-apa, apa itu!?"
"Si-siapa di sana!!??"
"Chandelier! Di atas chandelier!!"
Semua orang menunjuk ke arah yang sama, tepat di atas
kepala kami, pada lampu kristal sihir yang menerangi panggung.
Di sana—
"Kehi."
Ah...
Pakaian hitam legam, tudung yang menutupi wajah, pria
itu tampak seperti sedang mengenakan kegelapan itu sendiri.
Tanpa suara, dia melompat turun dari ketinggian lebih
dari sepuluh meter.
"Ce-cepat panggil ksatria—"
Entah itu bangsawan atau penyihir, salah satu penonton
berteriak—
"Jangan."
"!!??"
"Mulai saat ini, semua orang di tempat ini dilarang
bergerak sedikit pun."
Hanya satu kalimat.
Seharusnya suaranya tidak terlalu keras. Namun, semua orang langsung mengerti, atau lebih tepatnya, dipaksa
mengerti.
Jika mereka bergerak walau satu langkah saja, nyawa
mereka akan melayang di detik berikutnya.
"Pria berbaju hitam, apakah kau si bodoh yang
berani menentang Gereja?"
"……"
Dia mengabaikan Lumen. Pria itu hanya memunggungi kami,
menatap bulan biru di atas sana.
"Kau mengabaikanku? Baiklah, kalau begitu, biarkan
kau mati oleh cintaku."
Zowa. Saat mendengar suara Lumen, bulu
kudukku kembali berdiri.
Lumen Mira Arteria.
Ada fakta yang hanya diketahui oleh bangsawan setingkat
Count ke atas. Dia memiliki kekuatan untuk membuat manusia tunduk.
Itu adalah salah satu bagian dari keajaiban Tuhan yang
diberikan kepada sang Divine Maiden.
Kekuatan Tuhan yang luar biasa untuk menjatuhkan orang
lain ke dalam kematian hanya dengan satu kata, kini diarahkan kepada Curse—
"—'Lakukan bunuh diri'."
Di bawah malam bulan biru, kata-kata sang Divine
Maiden bergema.
………。
……。
"Bulan yang membosankan, ya."
"…………Hah?"
Namun, tidak ada apa pun yang terjadi.
"Hah—!? I-ini lagi...? Ti-tidak mungkin. Kenapa,
kenapa otoritas milikku—"
Lumen tampak sangat panik. Bahkan
sebagian bangsawan di sana pun menatap dengan ekspresi terperangah.
Mengabaikan semua itu, Curse bergumam.
" Utusan Nostra, ramalanmu lemah."
"…………Apa, apa yang kau katakan?"
"Kau tidak menikmatinya, bukan? Dosa yang kau
tanggung sendiri."
"……Itu bukan urusanmu."
"Tidak, ini urusanku, karena kau punya bakat sebagai
seorang Utusan."
Kata-kata Curse membuat wajah Nostra yang sedu-sedan tadi
mendadak berubah.
Aku tidak tahu kenapa. Tapi, melihat itu, aku merasa
sedikit tidak suka.
Tatapan yang diarahkan pria itu padaku, kini digunakan
untuk menatap wanita lain...
"Ramalanmu itu, indah."
...Kata-kata itu, adalah kata-kata yang pernah ia ucapkan
padaku.
Aku tidak tahu alasannya, tapi lagi-lagi, ada sesuatu
yang bergejolak di dalam dadaku.
Seolah hal itu tidak penting, Curse terus berbicara.
"Itu adalah kata-kata dari seseorang yang memahami
estetika kehancuran. Kau punya potensi. Karena itu, akan kuajari kau."
Wajah Nostra yang seperti boneka kini dipenuhi
keterkejutan.
"Tentang apa ramalan yang sesungguhnya
itu."
"Apa yang kau..."
Curse mengangkat tangannya dengan latar belakang
jendela atap.
"Pinjamkan telingamu. Ramalan yang sesungguhnya,
caranya seperti ini."
Dengan suara yang anehnya bergema di dalam perut,
Curse mengumumkan:
1.
Lihatlah,
Ku-sodeka Gaming Moon. Panjangnya 100 meter, jiwa Raja Iblis telah
berputar dan kembali.
2.
1.000 anak super sehat akan mengetahui kebahagiaan hidup.
3.
Ku-sodeka
Campfire akan membakar habis Dewa yang baik. Utopia
pun akan terbakar sejauh 1.000 kilometer.
4.
Waktunya
telah tiba, itu saja. Pertarungan maut antara Raja Iblis Ku-sodeka dan
Dewi dengan lebar bahu 1.000 meter!! Fight!
5.
Penerus pahlawan berambut biru. Spirit User zaman ini
akan menenangkan Raja Iblis dengan nyawanya sendiri, atas nama sang Dewi.
"Inilah
ramalan yang sesungguhnya—namanya adalah..."
Tak ada yang bisa menghentikan kata-katanya—
"Ramalan Shin-Kusodeka."
"Ramalan Shin-Kusodeka????"
………………Aku tidak mengerti maksudnya.
Aku, Lumen, dan bahkan Nostra. Tidak, semua orang
yang ada di tempat ini tidak mampu mengikuti jalan pikiran Curse.
"Fufu. Fufufufufu. Ah, apakah kau termasuk jenis
badut? Ah—sudahlah, cukup."
Tiba-tiba, Lumen mendapatkan kembali ketenangannya.
Alasannya adalah—
"Tujuh Bencana Surgawi, posisi keempat—Sword
Saint, buru dia."
Ya, dia memiliki pengawal itu di sisinya. Salah satu dari
7 orang terkuat di dunia—posisi keempat.
"Iya, iya, dia yang harus kupotong, kan?"
Sinar pedang biru menyayat malam yang biru. Suaranya
terdengar ringan, namun memiliki niat membunuh yang tajam seperti bilah pisau
yang siap membelah apa pun.
Gakiin!!
Suara benturan antara pedang dan besi. Serangan Sword
Saint yang mengincar Curse berhasil ditangkis.
"Bohong!! Ini, dia bisa menahannya!?"
Entah dia menggunakan sarung tangan atau apa,
serangan yang dilakukan dengan mempertaruhkan seluruh tubuhnya itu ditangkis
hanya dengan satu tangan Curse.
"Lagipula, dengan tangan kosong!!?? Eh, hebat
banget!! Lebih keras dari sisik naga!"
"Gerakan pedang yang tidak buruk."
"Nisshi-shi, kan? Tapi, karena serangan barusan
niatnya buat membunuh, aku jadi agak syok!"
Sword Saint
melompat mundur dengan salto dari adu pedang itu, lalu menyerang lagi. Dia
bergerak dengan menendang udara, seolah melompat ke sana kemari di angkasa.
Itulah Sword Saint dari Tujuh Bencana Surgawi.
Pahlawan yang menaklukkan bencana yang disebut Raja Naga.
Bagiku, gerakan Sword Saint hampir tidak
terlihat. Jejak pedang yang bercahaya biru karena energi sihir itu tampak
seperti meteor.
"Mustahil ada yang bisa mengimbangi gerakan
Tujuh Bencana Surgawi."
Aku membiarkan kata-kata Lumen lewat begitu saja. Memang,
sekilas Curse tampak tidak bisa mengimbangi gerakan Sword Saint.
Tapi salah. Itu adalah—kelonggaran.
"Bermain denganmu tidak buruk, tapi sekarang,
aku ingin memprioritaskan ramalanku."
"Eh, Hiyu!?"
Curse mencengkeram leher Sword Saint yang
sedang melompat dalam sekejap, seperti harimau yang menangkap burung.
"Aku akan membantingmu ke lantai. Perkuat tengkuk,
leher, punggung, dan belikatmu dengan energi sihir secara berurutan. Ayo,
cepatlah."
"I-itu bohong, kan."
Mesha!!
"Mi-gya!!"
Sword Saint dibanting ke atas panggung. Dia tertanam di panggung, matanya memutih, dan tidak bergerak. Dalam
sekejap, pertarungan berakhir.
"...Sword Saint kalah...? Eksistensi
terkuat keempat di dunia?"
Kali ini, Lumen benar-benar membelalakkan matanya.
"Ti-tidak mungkin!! Seharusnya dia sama sekali tidak
bisa mengimbangi gerakan Sword Saint!"
Di matanya, Curse hanya terlihat terdesak. Sebagian besar
orang di panggung ini pun berpikiran sama.
Tapi itu salah. Curse hanya sedang mengamati.
Mengamati, bahkan menilai gerakan Sword Saint yang melompat di udara.
Lalu, dia mengakhiri semuanya dalam sekejap.
Tanpa menggunakan sihir, dia membungkam gadis terkuat
keempat di dunia.
"Pe-pengawal!! Apa tidak ada pengawal!? Seharusnya
di sini ada Ksatria Sihir!! Tangkap dia!"
Atas perintah Lumen, para ksatria mulai bergerak panik—
"Jangan ganggu Rajaku."
"Chu~."
"Wanwan-o!"
"He-hei, kenapa kalian meniru suara hewan!? ...Bumo... Sial, cuma aku yang
merasa malu di sini!"
Bayangan hitam melumpuhkan para ksatria dalam sekejap.
Dia tidak membunuh mereka, tapi para penyihir dan ksatria sihir hebat itu jatuh
pingsan satu demi satu di tangan mereka.
"..."
Curse
Brotherhood...!!
Kelompok misterius berjubah hitam yang dipimpin Curse... Jumlah mereka
bertambah selain wanita bertopeng perak yang sudah ada sejak dulu.
Trio baru itu mengenakan pakaian tradisional Jepang
hitam dan topeng...
Tetap saja, mereka mirip. Sangat mirip dengan
perlengkapan yang ada di game online yang kumainkan di kehidupan
sebelumnya.
Sisterhood. Guild
bermain peran yang dulu kuikuti. Seragam yang mereka pakai sangat mirip. Kenapa
orang-orang ini memakai kostum ini...
"Rajaku, tempat ini sudah berhasil dikuasai."
"...Master, 5 menit lagi, pasukan utama Ksatria
Arteria akan tiba..."
"Begitu ya, kerja bagus."
““““Terima kasih atas pujiannya.””””
Semua wanita berbaju hitam itu berlutut dan memberi
hormat.
Orang-orang sehebat itu, begitu patuh... Curse, sebenarnya siapa kau
ini...?
"Ti-tidak...
Gila... Ksatria, musnah...!? Ku, White Knight! Lindungi aku!"
"..."
Itu
muncul tiba-tiba di panggung. Ksatria dengan baju putih dan topeng putih.
Namun,
Curse tetap tenang—
"Baik,
datanglah."
"!!"
Satu
pertukaran serangan yang sangat cepat. Curse dan White Knight beradu
satu gerakan, namun—
"!?
...Tch."
"Tidak
buruk."
Dosa.
Ksatria
putih itu jatuh berlutut. Aku bahkan tidak tahu apa yang dilakukan kepadanya.
Aku hanya tahu satu hal: tidak ada yang bisa mengimbangi Curse.
"Gila...
White Knight, bahkan kau pun... Saudara kalian berdua sama saja...
Menyedihkan sekali."
Lumen meratapi kehancuran tangan kanannya.
"...Jelek sekali."
"A-apa?"
"Ternyata, kau membosankan."
Curse memunggungi sang pangeran kedua seolah kehilangan
minat sepenuhnya.
"Je-jelek? Kau, barusan kau menyebutku jelek!? Itu
sama saja dengan menghina Tuhan!! Apa kau paham!? Kau menjadikan Gereja Maris
dan dunia sebagai musuhmu!"
"Organisasi yang bahkan tidak bisa membuat satu
ramalan dengan benar ini bicara terlalu besar."
"Ha-haha, apa yang kau katakan!! Lihat!! Bulan biru dan malam ini!! Dunia bergerak sesuai dengan ramalan
Utusan Gereja Maris-ku!!"
"Lihat ke langit."
"Hah?"
Curse menatap bulan biru.
"Bulan yang pucat seperti itu, sudah tidak ada di
mana pun."
"Eh?"
Lumen mendongak ke langit dengan gemetar.
"A-apa
itu...!?"
"Mustahil,
bulan... bulan itu...!"
A-aaaaa...
Tidak mungkin.
Bulan
kembar yang pucat itu mulai berubah. Merah, oranye, kuning, hijau, biru, nila,
ungu...
Bulan
itu mulai bersinar dengan tujuh warna...
"...Mustahil,
ramalan yang diberikan Tuhan kepada Nostra, itu tidak mungkin..."
Lumen menjerit. Utusan Nostra menatap bulan itu dengan
tatapan kosong.
"Bulan itu... apa?"
"Ramalan Shin-Kusodeka."
Bulan besar—maaf, Ku-sodeka—yang bersinar tujuh
warna itu menerangi langit malam. Eh, apa ini?
"Hanya kebenaran yang akan bertahan, yakni Ramalan Shin-Kusodeka
milikku dan Ramalan Raja Iblis dari Utusan sang Divine Maiden."
"Rakyat kekaisaran, para bibit penyihir, lihatlah
dengan mata kepala kalian sendiri."
"Ramalan mana yang akan bertahan, ramalan mana yang
merupakan kebenaran."
"Nah, selanjutnya adalah ramalan kedua."
"Bersiaplah menghadapi guncangannya."
Prolog | ToC | Next Chapter



Post a Comment