NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Bonjin Jujutsushi no Tanoshii Isekai Akuyaku Play Volume 2 Epilog

Epilog

Lautan Pagi Hari, Tentang Kejadian Setelah Pulang ke Rumah


Setelah itu.

Aku segera bergegas menuju ladang yang menjadi tempat kejadian "kematian"-ku dengan menyamar sebagai Kastani Takihito.

Di depan mata Snow-san dan rombongan Eugene-kun yang datang untuk menguburku dengan layak, aku mempertunjukkan aksi kebangkitan yang ajaib.

……Aku benar-benar tidak menyangka Eugene-kun dan Sara-san akan menangis sekencang itu.

Tidak disangka, kakak-beradik yang dikenal dingin itu memelukku dari kedua sisi sambil terus terisak……

Snow-san juga menangis tersedu-sedu, dan Aki-kun bahkan mengikuti ke mana pun aku pergi, termasuk ke toilet selama beberapa hari setelah kebangkitanku dengan alasan khawatir. Toilet itu tidak boleh, tahu!

Mengenai alasan bagaimana aku bisa selamat dari luka fatal itu──karena aku terkubur di ladang yang tercemar oleh Magic Power milik Chandra, aku secara ajaib kembali bernapas.

Berkat White, alias Weiss, yang memberikan kesaksian, alasan itu sudah aman.

Karena Weiss adalah seorang petualang ternama, mereka semua langsung percaya begitu saja. Kerja bagus, diriku!

Dan akhirnya──Shiraha-san juga telah sadar sepenuhnya.

Negeri impian Chandra telah lenyap dalam hitungan jam.

Sebagian besar murid di kelas naga bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

◇◇◇◇

Zaa-zaa.

Zaa-zaa.

Di pantai yang menghadap ke laut biru zamrud. Hari ini adalah hari terakhir pelatihan bertahan hidup.

Saat pagi buta ketika matahari bahkan belum terbit, aku dipanggil ke sini.

"Jadi kau benar-benar hidup, ya. Kau cukup ulet juga, ya."

"Kau juga, Shiraha-san. Meskipun jantungmu sempat dicuri, kau terlihat sangat sehat."

Kami duduk berdampingan sambil menatap lautan. Udaranya biru dan jernih.

Di langit, Gaming Moon yang bersinar dengan tujuh warna masih samar-samar terlihat.

Sepertinya, Shiraha-san sempat diperlihatkan oleh Chandra bagaimana aksi bunuh diri misteriusku yang lalu.

Dia bilang ada hal yang ingin dibicarakan mengenai itu.

"Hmph, kau ini benar-benar tidak bisa diam, ya. Yah, aku sudah menduganya. Lagipula, saat kau mati, aku sama sekali tidak merasakan apa-apa. Cuma merasa, 'Oh, dia mati', begitu saja."

"Begitu, ya."

Ternyata aku memang dibenci……!

Tapi tidak masalah. Aku sudah mendengar semuanya dari Sara-san.

Shiraha-san bahkan berani menantang Chandra yang sekuat itu!

Memang dia wanita yang membara, Shiraha Mitekiba!

Siapa pun lawannya, jika temannya disakiti, dia akan langsung menunjukkan taringnya!! Aku jadi kagum── "Maaf, itu tadi bohong."

"Eh?"

Wajah Shiraha-san memenuhi pandanganku. Wajah yang cantik──.

Ada sensasi lembut di bibirku. Wah, aku dicium.

"Sejujurnya, saat aku berpikir kau mati, aku tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Kepalaku jadi kacau dan rasanya sakit sekali──sampai aku merasa tidak peduli lagi pada apa pun."

"Shiraha-san, tadi, apa kau baru saja menciumku?"

"Diam, dengarkan saja."

"Baik."

Wajahku dikunci oleh iron claw milik Shiraha-san, dan aku terus didengarkan ceramah secara sepihak.

Meskipun tidak penting, ternyata telapak tangan seorang gadis juga punya aroma yang wangi, ya.

“Diamlah sebentar, ini bagian penting.”




Ya. Tidak, mungkin cuma perasaanku saja.

"Saat aku kalah oleh Chandra dan merasa akan mati──wajah Aki-sama terbayang. Ah, rasanya aku ingin bertemu Aki-sama sekali lagi sebelum semuanya berakhir."

"Iya."

"Terus, akhir-akhir ini aku kan selalu membuntuti Aki-sama. ……Tapi, aku tidak merasa gugup atau berdebar-debar lagi seperti dulu."

"Padahal kamu fangirl berat Aki-kun, kan?"

"Diam, dengarkan saja."

"Iya."

Iron claw Shiraha-san makin mengencang, benar-benar penguatan Magic Power yang mantap.

"Nah, aku berpikir itu aneh. Lalu, saat aku coba mengingat kembali, di saat aku merasa jantungku dicabut dan akan mati…… orang yang teringat di saat-saat terakhir bukanlah Aki-sama, melainkan kamu."

"Iya."

"Sepertinya, aku menyukaimu."

"Iya…… hah?"

Shiraha-san memelukku dengan sangat erat.

Wajahku ditarik ke dadanya dan didekap kencang.

Rasanya seperti mau dibunuh.

Dada miliknya yang lumayan besar itu ditekan ke telingaku──.

Degup, degup, degup, degup, degup.

Suara yang begitu nyaring terdengar dari dadanya, seolah dia sedang memukul drum.

Aroma keringat manis naik dari hidung hingga ke otakku.

"Ya, benar juga. Saat bersamamu, aku merasa gugup dan bergairah. Aku terus berdebar-debar, tahu."

"Tidak terlihat seperti itu, sih?"

"Aku hanya tidak suka kalau harus histeris hanya karena orang sepertimu."

"Begitu, ya. Ngomong-ngomong, dadamu terus menempel di kepalaku."

"Memang sengaja kutempelkan, diam saja dan nikmati keuntungannya."

Shiraha-san menggumam dengan santai.

Meski kata-katanya begitu, tidak ada tanda-tanda dia akan melepaskanku.

"Aku, ingin berpacaran denganmu. Tapi, kamu tidak perlu menjawabnya sekarang."

"……Ngomong apa, sih?"

"Menyebalkan sekali, tapi kalau aku memintamu pacaran sekarang, aku yakin cuma bakal ditolak. Aku tidak tahan membayangkan diriku yang ini ditolak olehmu. Makanya, aku tidak butuh jawabanmu sekarang."

"Haa……"

Navi, apa kamu mengerti maksud anak ini?

“Hoaaaaaa…… ke-kejadiannya persis kayak manga romansa…… hoaaaa.”

Gagal total. Sekarang dia tidak bisa diandalkan.

"Jadi, mulai sekarang aku akan benar-benar berusaha membuatmu jatuh cinta padaku. Entah kamu seorang duke, petualang, ataupun bangsawan, aku tidak peduli."

"Iya."

Akhirnya Shiraha-san melepaskanku dengan tiba-tiba. Terakhir, dia berbisik pelan di telingaku.

"Jangan pernah lakukan hal seperti itu lagi. Kalau kamu mati, aku juga akan mati."

"……Kau bicara begitu lagi."

"Kau pikir aku bercanda? Aku, tidak punya keinginan untuk hidup di dunia tanpa dirimu."

Shiraha-san kembali ke arah kelompok anak-anak populer yang sedang memulai barbekyu pagi dengan wajah tanpa beban. Hmm…… sulit membedakan apakah seorang gadis sedang bercanda atau serius.

Setelah ini, aku dipanggil oleh Snow-san, Kotori-san, dan White yang memasang wajah sangat dingin…… aku diceramahi tentang bahayanya memiliki pacar saat masih menjadi siswa, serta tentang menjaga batasan hubungan dengan lawan jenis sebagai pemimpin organisasi.

Ada apa dengan kalian semua, tiba-tiba sekali.

Yah, sudahlah. Begitulah, pelatihan bertahan hidup berakhir dengan selamat. Ah, menyenangkan sekali.

◇◇◇◇

Nah, kehidupan di akademi sihir pun berlanjut lagi.

Kegiatan sebagai Curse yang sesungguhnya dimulai kembali.

Dengan kata lain, itu adalah sinyal dimulainya "Ramalan Super Besar" yang baru.

Bagaimanapun juga, kasus Chandra kemarin telah menuntaskan ramalan ketiga.

Tersisa dua ramalan lagi, hanya tentang raja iblis dan pahlawan.

Baiklah, skenario seperti apa ya yang akan kugambar kali ini?

Sambil memikirkan hal itu, aku pulang ke rumah setelah kelas selesai.

Jadwal hari ini adalah melatih anggota SWORD di markas Curse Brotherhood di lantai bawah tanah yang disiapkan White sesuka hatinya.

Setelah latihan selesai, aku akan mentraktir mereka masakan sayur baru, yaitu kakiage.

Anak-anak di dunia ini jarang makan makanan enak, jadi reaksi mereka pasti menarik.

Sambil memikirkan itu, aku tiba di rumah.

“Hai, selamat datang. Aku sudah menunggumu.”

"Uwo."

Begitu aku membuka pintu rumah, yang muncul adalah hantu berambut biru, si cantik boku-ko yang keren.

Tolong berhenti berkeliaran di rumahku sesukamu.

“Bukankah dia itu semacam arwah gentayangan?”

Jangan asal bicara, serius. Navi, tolong usir dia, aku mohon.

“Ssst. Jangan terlalu memancingnya. Bagaimana kalau dia melakukan poltergeist……”

Oi, seram sekali itu.

“Aku sedih kalian takut padaku, uhuk. Kamu sudah bekerja keras dalam pelatihan bertahan hidup, ya.”

"Hah? Maksudnya apa?"

“Fufu, itu ucapan terima kasih. Karena kecerobohanku sendiri, banyak orang yang menjadi korban kemalangan. Sepertinya aku memang manusia yang tidak berguna.”

Aku benar-benar tidak paham apa yang dia bicarakan.

Jadi, aku memutuskan untuk mengabaikannya.

Aku melintasi tubuh hantu berambut biru itu menuju ruang tamu──.

“Hei, ada permintaan dariku.”

"Permintaan?"

“Un──kamu, tolong bunuh raja iblis yang akan bangkit nanti. Lalu satu lagi──”

Sebuah kata kunci yang cukup penting diucapkan begitu saja. Namun, di saat berikutnya, aku menyadari ada sesuatu yang lebih mengejutkan di dalam ruangan.

“Yang ini, bagaimana?”

Hantu berambut biru itu menunjuk ke sudut ruangan yang gelap.

"U, u, u…… u, u……"

Suara isakan terdengar. Oi, jangan bilang dia membawa teman hantu baru? Jangan bercanda, saat aku hendak melontarkan keluhan──.

Basari. Sayap terlihat di balik kegelapan. Sayap?

"Bieeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen!! Selesai, sudah selesaiiiiiii, semuanya sudah berakhirrrrrrr!! Karier dewi milikku ini, se-semuanya sudah hancurrrrrr!"

Suara tangisan yang terdengar seperti akhir dunia bergema. Tangisan keras, diselingi suara ingus yang disedot.

Di kepalanya, tertempel kertas lusuh bertuliskan "Dibuang" dengan selotip.

Sayapnya patah, tubuhnya penuh jelaga, dan rambut pirangnya kusut masai penuh dengan rambut bercabang.

"Dibuang……!! Di-dibuang, semuanya sudah berakhirrrrr, uwaaaaaaaaaa!! Ini aku!! Pimpinan dari Tujuh Dewa Besar──"

“Mantan pimpinan, kan?”

Mendengar satu kalimat dari hantu berambut biru itu, dia──'Dewi Lutos'──membeku sesaat.

"──Bieeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee!! Ke-kenapa kamu bilang begituuuuuuuuuuuuuuu!!??"

Tangisan keras dimulai lagi.

Cih, aku tidak paham, tapi Lutos-sama, yang memberiku kehidupan penjahat terbaik, sedang menangis!

Siapa yang tega melakukan hal kejam ini pada dewi yang bisa diajak bicara seperti ini!!!! Aku tidak bisa memaafkan ini!

"Ueeeeeeee! Ini semua, semua kejadian ini terjadi karena ramalan si dia—ramalan konyol yang besar itu. Ramalan besar apa, hah, bieeeeeeeeeeeeeee."

……

……

……

……Itu

Lagi-lagi aku, ya. Merepotkan sekali, sungguh.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close