Epilog
Lautan Pagi
Hari, Tentang Kejadian Setelah Pulang ke Rumah
Setelah itu.
Aku segera bergegas menuju ladang yang menjadi tempat
kejadian "kematian"-ku dengan menyamar sebagai Kastani Takihito.
Di depan mata Snow-san dan rombongan Eugene-kun yang
datang untuk menguburku dengan layak, aku mempertunjukkan aksi kebangkitan yang
ajaib.
……Aku benar-benar tidak menyangka Eugene-kun dan
Sara-san akan menangis sekencang itu.
Tidak disangka, kakak-beradik yang dikenal dingin itu
memelukku dari kedua sisi sambil terus terisak……
Snow-san juga menangis tersedu-sedu, dan Aki-kun
bahkan mengikuti ke mana pun aku pergi, termasuk ke toilet selama beberapa hari
setelah kebangkitanku dengan alasan khawatir. Toilet itu tidak boleh, tahu!
Mengenai alasan bagaimana aku bisa selamat dari luka
fatal itu──karena aku terkubur di ladang yang tercemar oleh Magic Power
milik Chandra, aku secara ajaib kembali bernapas.
Berkat White, alias Weiss, yang memberikan kesaksian,
alasan itu sudah aman.
Karena Weiss adalah seorang petualang ternama, mereka
semua langsung percaya begitu saja. Kerja bagus, diriku!
Dan akhirnya──Shiraha-san juga telah sadar sepenuhnya.
Negeri impian Chandra telah lenyap dalam hitungan jam.
Sebagian besar murid di kelas naga bahkan tidak tahu apa
yang sebenarnya terjadi.
◇◇◇◇
Zaa-zaa.
Zaa-zaa.
Di pantai yang menghadap ke laut biru zamrud. Hari ini
adalah hari terakhir pelatihan bertahan hidup.
Saat pagi buta ketika matahari bahkan belum terbit, aku
dipanggil ke sini.
"Jadi kau benar-benar hidup, ya. Kau cukup ulet
juga, ya."
"Kau juga, Shiraha-san. Meskipun jantungmu sempat
dicuri, kau terlihat sangat sehat."
Kami duduk berdampingan sambil menatap lautan. Udaranya
biru dan jernih.
Di langit, Gaming Moon yang bersinar dengan
tujuh warna masih samar-samar terlihat.
Sepertinya, Shiraha-san sempat diperlihatkan oleh
Chandra bagaimana aksi bunuh diri misteriusku yang lalu.
Dia bilang ada hal yang ingin dibicarakan mengenai
itu.
"Hmph, kau ini benar-benar tidak bisa diam, ya. Yah,
aku sudah menduganya. Lagipula, saat kau mati, aku sama sekali tidak merasakan
apa-apa. Cuma merasa, 'Oh, dia mati', begitu saja."
"Begitu, ya."
Ternyata aku memang dibenci……!
Tapi tidak masalah. Aku sudah mendengar semuanya dari
Sara-san.
Shiraha-san bahkan berani menantang Chandra yang sekuat
itu!
Memang dia wanita yang membara, Shiraha Mitekiba!
Siapa pun lawannya, jika temannya disakiti, dia akan
langsung menunjukkan taringnya!! Aku jadi kagum── "Maaf, itu tadi
bohong."
"Eh?"
Wajah Shiraha-san memenuhi pandanganku. Wajah yang
cantik──.
Ada sensasi lembut di bibirku. Wah, aku dicium.
"Sejujurnya, saat aku berpikir kau mati, aku tidak
bisa berpikir apa-apa lagi. Kepalaku jadi kacau dan rasanya sakit
sekali──sampai aku merasa tidak peduli lagi pada apa pun."
"Shiraha-san, tadi, apa kau baru saja
menciumku?"
"Diam, dengarkan saja."
"Baik."
Wajahku dikunci oleh iron claw milik Shiraha-san,
dan aku terus didengarkan ceramah secara sepihak.
Meskipun tidak penting, ternyata telapak tangan seorang
gadis juga punya aroma yang wangi, ya.
“Diamlah sebentar, ini bagian penting.”
Ya. Tidak,
mungkin cuma perasaanku saja.
"Saat aku kalah oleh Chandra dan merasa akan
mati──wajah Aki-sama terbayang. Ah, rasanya aku ingin bertemu Aki-sama sekali
lagi sebelum semuanya berakhir."
"Iya."
"Terus, akhir-akhir ini aku kan selalu membuntuti
Aki-sama. ……Tapi, aku tidak merasa gugup atau berdebar-debar lagi
seperti dulu."
"Padahal kamu fangirl berat Aki-kun,
kan?"
"Diam, dengarkan saja."
"Iya."
Iron
claw
Shiraha-san makin mengencang, benar-benar penguatan Magic Power yang
mantap.
"Nah,
aku berpikir itu aneh. Lalu, saat aku coba mengingat kembali, di saat aku merasa
jantungku dicabut dan akan mati…… orang yang teringat di saat-saat terakhir
bukanlah Aki-sama, melainkan kamu."
"Iya."
"Sepertinya, aku menyukaimu."
"Iya…… hah?"
Shiraha-san memelukku dengan sangat erat.
Wajahku ditarik ke dadanya dan didekap kencang.
Rasanya seperti mau dibunuh.
Dada miliknya yang lumayan besar itu ditekan ke
telingaku──.
Degup, degup, degup, degup, degup.
Suara yang begitu nyaring terdengar dari dadanya, seolah
dia sedang memukul drum.
Aroma keringat manis naik dari hidung hingga ke otakku.
"Ya, benar juga. Saat bersamamu, aku merasa gugup
dan bergairah. Aku terus berdebar-debar, tahu."
"Tidak terlihat seperti itu, sih?"
"Aku hanya tidak suka kalau harus histeris hanya
karena orang sepertimu."
"Begitu, ya. Ngomong-ngomong, dadamu terus
menempel di kepalaku."
"Memang sengaja kutempelkan, diam saja dan
nikmati keuntungannya."
Shiraha-san menggumam dengan santai.
Meski kata-katanya begitu, tidak ada tanda-tanda dia
akan melepaskanku.
"Aku, ingin berpacaran denganmu. Tapi, kamu
tidak perlu menjawabnya sekarang."
"……Ngomong apa, sih?"
"Menyebalkan sekali, tapi kalau aku memintamu
pacaran sekarang, aku yakin cuma bakal ditolak. Aku tidak tahan membayangkan
diriku yang ini ditolak olehmu. Makanya, aku tidak butuh jawabanmu
sekarang."
"Haa……"
Navi, apa kamu mengerti maksud anak ini?
“Hoaaaaaa……
ke-kejadiannya persis kayak manga romansa…… hoaaaa.”
Gagal
total. Sekarang dia tidak bisa diandalkan.
"Jadi,
mulai sekarang aku akan benar-benar berusaha membuatmu jatuh cinta padaku.
Entah kamu seorang duke, petualang, ataupun bangsawan, aku tidak peduli."
"Iya."
Akhirnya
Shiraha-san melepaskanku dengan tiba-tiba. Terakhir, dia berbisik pelan di
telingaku.
"Jangan pernah lakukan hal seperti itu lagi. Kalau
kamu mati, aku juga akan mati."
"……Kau bicara begitu lagi."
"Kau pikir aku bercanda? Aku, tidak punya keinginan
untuk hidup di dunia tanpa dirimu."
Shiraha-san kembali ke arah kelompok anak-anak populer
yang sedang memulai barbekyu pagi dengan wajah tanpa beban. Hmm…… sulit membedakan apakah
seorang gadis sedang bercanda atau serius.
Setelah
ini, aku dipanggil oleh Snow-san, Kotori-san, dan White yang memasang wajah
sangat dingin…… aku diceramahi tentang bahayanya memiliki pacar saat masih
menjadi siswa, serta tentang menjaga batasan hubungan dengan lawan jenis
sebagai pemimpin organisasi.
Ada apa dengan kalian semua, tiba-tiba sekali.
Yah, sudahlah. Begitulah, pelatihan bertahan hidup
berakhir dengan selamat. Ah, menyenangkan sekali.
◇◇◇◇
Nah, kehidupan di akademi sihir pun berlanjut lagi.
Kegiatan sebagai Curse yang sesungguhnya dimulai kembali.
Dengan kata lain, itu adalah sinyal dimulainya
"Ramalan Super Besar" yang baru.
Bagaimanapun juga, kasus Chandra kemarin telah
menuntaskan ramalan ketiga.
Tersisa dua ramalan lagi, hanya tentang raja iblis dan
pahlawan.
Baiklah, skenario seperti apa ya yang akan kugambar kali
ini?
Sambil memikirkan hal itu, aku pulang ke rumah setelah
kelas selesai.
Jadwal hari ini adalah melatih anggota SWORD di
markas Curse Brotherhood di lantai bawah tanah yang disiapkan White sesuka
hatinya.
Setelah latihan selesai, aku akan mentraktir mereka
masakan sayur baru, yaitu kakiage.
Anak-anak di dunia ini jarang makan makanan enak, jadi
reaksi mereka pasti menarik.
Sambil memikirkan itu, aku tiba di rumah.
“Hai, selamat datang. Aku sudah menunggumu.”
"Uwo."
Begitu aku membuka pintu rumah, yang muncul adalah hantu
berambut biru, si cantik boku-ko yang keren.
Tolong berhenti berkeliaran di rumahku sesukamu.
“Bukankah dia itu semacam arwah gentayangan?”
Jangan asal bicara, serius. Navi, tolong usir dia,
aku mohon.
“Ssst. Jangan terlalu memancingnya. Bagaimana kalau dia
melakukan poltergeist……”
Oi, seram sekali itu.
“Aku sedih kalian takut padaku, uhuk. Kamu sudah bekerja
keras dalam pelatihan bertahan hidup, ya.”
"Hah? Maksudnya apa?"
“Fufu, itu ucapan terima kasih. Karena kecerobohanku
sendiri, banyak orang yang menjadi korban kemalangan. Sepertinya aku memang
manusia yang tidak berguna.”
Aku benar-benar tidak paham apa yang dia bicarakan.
Jadi, aku memutuskan untuk mengabaikannya.
Aku melintasi tubuh hantu berambut biru itu menuju ruang
tamu──.
“Hei, ada permintaan dariku.”
"Permintaan?"
“Un──kamu, tolong bunuh raja iblis yang akan bangkit
nanti. Lalu satu lagi──”
Sebuah kata kunci yang cukup penting diucapkan begitu
saja. Namun, di saat berikutnya, aku menyadari ada sesuatu yang lebih
mengejutkan di dalam ruangan.
“Yang ini, bagaimana?”
Hantu berambut biru itu menunjuk ke sudut ruangan yang
gelap.
"U,
u, u…… u, u……"
Suara
isakan terdengar. Oi, jangan bilang dia membawa teman hantu baru? Jangan
bercanda, saat aku hendak melontarkan keluhan──.
Basari. Sayap terlihat di balik kegelapan.
Sayap?
"Bieeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen!!
Selesai, sudah selesaiiiiiii, semuanya sudah berakhirrrrrrr!! Karier dewi
milikku ini, se-semuanya sudah hancurrrrrr!"
Suara tangisan yang terdengar seperti akhir dunia
bergema. Tangisan keras, diselingi suara ingus yang disedot.
Di kepalanya, tertempel kertas lusuh bertuliskan
"Dibuang" dengan selotip.
Sayapnya patah, tubuhnya penuh jelaga, dan rambut
pirangnya kusut masai penuh dengan rambut bercabang.
"Dibuang……!! Di-dibuang, semuanya sudah
berakhirrrrr, uwaaaaaaaaaa!! Ini aku!! Pimpinan dari Tujuh Dewa
Besar──"
“Mantan pimpinan, kan?”
Mendengar satu kalimat dari hantu berambut biru itu,
dia──'Dewi Lutos'──membeku sesaat.
"──Bieeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee!! Ke-kenapa
kamu bilang begituuuuuuuuuuuuuuu!!??"
Tangisan keras dimulai lagi.
Cih, aku tidak paham, tapi Lutos-sama, yang memberiku
kehidupan penjahat terbaik, sedang menangis!
Siapa yang tega melakukan hal kejam ini pada dewi yang
bisa diajak bicara seperti ini!!!! Aku tidak bisa memaafkan ini!
"Ueeeeeeee! Ini semua, semua kejadian ini terjadi
karena ramalan si dia—ramalan konyol yang besar itu. Ramalan besar
apa, hah, bieeeeeeeeeeeeeee."
……
《……》
……
《……Itu》
Lagi-lagi aku, ya. Merepotkan sekali, sungguh.



Post a Comment