NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Futago Matomete "Kanojo" ni Shinai? Volume 1 Prolog

Prolog


Sedikit lewat tengah hari di hari libur, mereka memutuskan untuk mengambil foto purikura kenang-kenangan di arcade depan stasiun.

"Sakuto-kun, kamu lebih suka mesin yang mana?"

"Hmm... Jujur, aku kurang paham hal-hal begini."

"Kalau begitu, meskipun aku juga belum berpengalaman, menyerahkannya kepadaku adalah hal yang tepat."

Sambil berkata begitu, Usami Chikage menyentuh lengan kanan Takayashiki Sakuto—yang juga dikenal sebagai Sakuto-kun—dengan malu-malu.

Kulitnya putih bak salju bubuk, dan bibir merah muda pucatnya terasa segar seperti buah-buahan.

Rambut di sisi kirinya diikat dengan pita, dan telinga putih kecil yang terlihat di bawahnya tampak lucu. Namun, mungkin karena dia malu profil wajahnya dilihat, dia jarang memperlihatkan sisi itu. Dia selalu berdiri di sebelah kanan Sakuto, mengintip dengan mata bulat besar dari sela-sela poni.

Di samping kecantikannya yang rapi dan anggun, bentuk tubuhnya juga luar biasa. Bahkan jika dibandingkan dengan gadis-gadis di sekitarnya, tubuhnya berkembang sangat baik dan memancarkan daya tarik dewasa.

Ada pesona dalam ketidakseimbangan itu yang selalu membuat jantung Sakuto berdebar kencan.

Dalam mimpi terliarnya pun, dia tidak pernah membayangkan hari di mana dia akan berkencan dengan gadis seluar biasa ini akan tiba.

"...? Ada apa?"

"Ah, tidak... Aku cuma masih belum bisa mempercayainya."

"Fufu, aku juga."

Biasanya, di sekolah, Chikage menjaga jarak dengan orang lain lewat ekspresi dan sikapnya yang bermartabat. Namun kini pipinya merona, dan dia mengarahkan senyum lembut ke arah Sakuto.

"Bisa bersamamu seperti ini... membuatku sangat bahagia."

"Tidak, bukan itu maksudku—wah...!?"

Sambil memeluk lengan kiri Sakuto, Usami Hikari bertanya,

"Ada apa, ada apa? Kalian lagi ngomongin apa?"

"A-Aku cuma bilang kalau aku masih belum bisa mempercayainya..."

"...? Maksudmu, kenyataan kalau kita pacaran seperti ini?"

Hikari memamerkan senyuman yang polos.

Kecerahan yang ceria ini dan sikap mengekspresikan kasih sayang dengan seluruh tubuhnya berasal dari hatinya yang murni. Karena dia selalu mencari kontak fisik seperti anak anjing yang memanjakan diri pada pemiliknya, Sakuto menahan diri agar tidak terlalu memanjakannya.

Terlepas dari kepolosannya itu, dia, sama seperti Chikage, memiliki bentuk tubuh yang luar biasa. Namun dia secara tidak sadar menggesekkan atau menekan tubuhnya ke arah Sakuto, yang mana cukup merepotkan dengan caranya sendiri.

Tanpa pertahanan dan tanpa celah, Sakuto akhirnya dibiarkan dengan jantung yang terus berdebar kencang.

Dia juga tidak pernah berpikir hari di mana dia akan berkencan dengan gadis seluar biasa ini akan tiba—

Tapi... ini bukan mimpi, kan...

Kedua lengannya dipegang oleh dua gadis cantik yang terlihat seperti baru keluar dari lukisan... keadaan memiliki bunga di kedua tangannya ini memang persis seperti yang terlihat.

Singkatnya, Takayashiki Sakuto telah mendapatkan pacar pertama dalam hidupnya—dua orang sekaligus.

Begitu ya, bukankah ini yang terbaik—sebelum dia sempat berpikir begitu, Sakuto melihat sekeliling dengan gelisah, bertanya-tanya apakah ada kenalan yang sedang memperhatikan.

Dia jujur merasa bahagia memiliki pacar, ingin benar-benar terbawa suasana, dan ingin membangkitkan semangatnya. Namun tentu saja, ketika ada dua pacar, dia malah berakhir mengkhawatirkan lingkungan sekitarnya.

Apakah ini benar-benar tidak apa-apa?

Situasi berkencan dengan dua gadis pada saat yang sama ini adalah—

"Tunggu sebentar, Hii-chan! Kamu tidak bisa asal memeluknya tiba-tiba begitu. Itu tidak adil..."

"Fufun, kecerobohan adalah musuh terbesar. —Sakuto-kun, aku bakal kesepian kalau kamu cuma memperhatikan Chi-chan."

Sambil tersenyum manis, Hikari memeluk lengan kiri Sakuto hingga terimpit.

"Anu, Hikari, kamu menempel terlalu dekat..."

"Benar itu, Hii-chan. Sakuto-kun jadi kesulitan, tahu?"

Sambil menegur Hikari, Chikage mempererat genggamannya di lengan kanan Sakuto.

"Oh iya, ada yang menarik di sebelah sana. Mau pakai mesin yang itu?"

"Ah, yang lagi populer sekarang? Boleh juga tuh. —Sakuto-kun, bagaimana kalau kita pakai yang itu?"

"Y-Ya..."

Model yang dipilih Hikari bernama "Photo Gray", di mana empat foto berjejer secara vertikal seperti komik empat panel. Mesin ini tidak memiliki fungsi untuk mempercantik wajah, yang biasa disebut "operasi plastik 400 yen".

Namun, kesederhanaan dan kesannya yang alami ternyata sangat bagus, membuatnya populer karena bisa menonjolkan kesan bergaya—atau begitulah yang dijelaskan oleh para "pacar"-nya.

Bingkai pertama. Sakuto berdiri di tengah, diapit oleh Hikari dan Chikage di kedua sisi, dan gambar mereka yang mempererat genggaman di kedua lengannya hingga terimpit diproyeksikan pada layar depan.

Kedua gadis itu memiliki wajah yang sama persis, tetapi itu bukan karena efek khusus dari mesin.

Karena mereka adalah saudara kembar yang cantik, hal itu sudah sangat wajar.

Namun, meskipun mereka kembar, keduanya memiliki sifat yang berbeda dan tentu saja memasang ekspresi yang berbeda pula. Sang kakak, Hikari, memasang wajah berseri-seri seperti biasanya, sedangkan sang adik, Chikage, pipinya merona merah, mungkin merasa gugup.

Apakah lingkungan setelahnya yang memisahkan kepribadian mereka berdua yang lahir berselang lima belas menit ini? Nyatanya, cara bicara mereka berbeda, cara berpikir mereka berbeda, dan pesona yang masing-masing mereka miliki pun berbeda.

Namun, apa yang mereka pikirkan saat ini di tempat ini cocok hingga pada tingkat yang menakutkan.

Hal itu adalah: Aku mencintai Sakuto-kun.

"Sakuto-kun, rasanya kamu agak terlalu condong ke arah Hii-chan."

Chikage, dengan ekspresi yang lebih cemberut dari sebelumnya, menarik lengan kanan Sakuto dengan cengkeraman erat.

"Tidak, itu karena Hikari menarikku..."

"Tolong lebih condong ke arahku. Tanpa ragu, manfaatkan kesempatan ini."

"B-Baiklah..."

Dengan enggan, tepat saat Sakuto mencoba memanfaatkan kesempatan dan mencondongkan badan, kali ini lengan kirinya yang berlawanan ditarik dengan cengkeraman yang lebih erat.

"Sakuto-kun, kamu terlalu condong ke Chi-chan, tahu? Aku ingin kamu lebih ke arah sini."

Berbeda dengan Chikage, ekspresi Hikari tampak cerah, menyimpan rasa jahil seolah sedang menggoda Sakuto.

"Tidak, tidak, bukankah aku sudah berada tepat di tengah-tengah sekarang...?"

"Nn-nn, aku ingin kamu lebih condong ke arahku. Umm... seperti kita sedang pamer?"

"B-Baiklah..."

Sekali lagi dengan enggan, tepat saat Sakuto mencoba mencondongkan badan untuk memamerkannya, kali ini Chikage tidak membiarkannya.

"Tunggu sebentar, Hii-chan... Kita sudah memutuskan kalau monopoli Sakuto-kun itu dilarang, kan?"

"Aku pikir Chi-chan juga tidak berada di posisi untuk bicara begitu, tahu?"

Berhadapan dengan Chikage yang mengerutkan alisnya, Hikari bersiap dengan senyuman yang seolah memperlihatkan kalau dia masih punya banyak ketenangan. Di latar belakang, seekor naga dan harimau—bukan, seekor landak dan musang muncul.




Saat kedua gadis kembar itu terlibat percakapan seperti itu, wajah Sakuto sudah berubah merah padam.

Dia merasa sangat panik dan tidak tahu harus mengarahkan kesadarannya ke mana. Pasalnya, bahkan sebelum memasuki bilik pribadi mesin Photo Gray ini, lengannya terus-menerus terimpit dengan begitu erat.

Terlebih lagi, intensitas impitan itu semakin lama semakin meningkat.

Tirai pertengkaran antara dua bersaudara yang memperebutkannya baru saja akan tersingkap. Ini adalah situasi yang sangat serius. Sebagai pacar dari keduanya, dia harus melakukan sesuatu. Dia sangat memahami hal itu.

Namun, rasanya begitu lembut.

Jika seseorang harus menggambarkan situasi ini ke dalam sebuah grafik, "pertengkaran" si kembar dan "kelembutan dada mereka" berbanding lurus, membentuk garis lurus yang membentang tak terhingga ke atas dari titik nol.

Oleh karena itu, Sakuto berpikir.

Ini bahaya, akal sehatku bisa melayang keluar jendela.

Maka, tepat saat insting Sakuto hendak mengintip sedikit, kesadarannya akhirnya meninggalkan tempat ini—

—Jadi begini.

Sekali pandang, Sakuto adalah seorang siswa SMA tak berbahaya yang bisa kamu temukan di mana saja. Dengan kata lain, seorang "karakter figuran".

Dia mengikuti ujian masuk Akademi Arisuyama swasta dan berhasil diterima pada bulan April ini. Sejak saat itu hingga satu setengah bulan berlalu, Sakuto adalah karakter figuran yang tidak menonjol sama sekali. Dia tidak punya teman dan sudah menyatu sepenuhnya dengan pemandangan kelas bagaikan salah satu fasilitas sekolah.

Namun, dengan memegang motto hidup "paku yang terlalu menonjol akan dipukul", situasi itulah yang memang sangat diinginkan oleh Sakuto.

Sebab itu, dipikirkan oleh teman-teman sekelasnya hanya sebatas "dia punya nama belakang yang langka", Sakuto sangat menikmati kehidupan figurannya yang berjalan lancar.

—Namun.

Lewat takdir yang terpuntir, dia malah berakhir berkencan dengan dua gadis kembar cantik ini sekaligus—

—Kesadaran Sakuto telah kembali.

Melihat keduanya masih bertengkar, Sakuto terdorong oleh rasa kewajiban tertentu.

Hal yang perlu dilakukan saat ini bukanlah menyesali masa lalu. Melainkan bagaimana cara menyelesaikan masalah yang sedang terjadi di dalam bilik foto ini.

Untuk menghentikan pertengkaran antar saudara ini dan, lebih jauh lagi, menegaskan posisinya sendiri—

"—Aku paham. Kalau begitu mari kita lakukan ini."

Pertama, Sakuto menarik kedua lengannya dari sela-sela si kembar, meloloskan diri dari kekangan kelembutan tersebut.

Hal ini membuatnya bisa menilai situasi dengan lebih tenang. Meski ada sedikit rasa enggan untuk melepaskannya, Sakuto memberi tahu dirinya sendiri kalau ini tidak bisa dihindari.

Selanjutnya, dia menyatukan lengan si kembar yang kini kosong, membuat mereka berdua saling merangkul lengan satu sama lain. Dengan melakukan ini, dia berhasil membuat dua orang yang baru saja bertengkar tampak seperti saudara kembar yang akrab.

Lebih jauh lagi, Sakuto berdiri di belakang mereka. Kemudian, dia mengintipkan wajahnya dari sela-sela wajah mereka, tepat di batas antara terlihat dan tidak.

Lalu, lihatlah apa yang terjadi.

Sakuto berhasil menciptakan "kesan pengikut", tampak seolah-olah dia hanya sedang menemani dua gadis kembar yang akrab.

Dengan begini, semuanya telah terselesaikan. Sakuto menghela napas lega dan mengukir senyum puas.

"Lihat, begini tidak apa-apa, kan? Nah, kalian berdua—lihat ke arah lensa..."

Sekarang yang tersisa hanyalah menunggu tombol bidik kamera lepas secara otomatis—

" "Ini saaalaaah!" "

—Rupanya, ini salah.

Untuk sementara waktu, tombol bidik kamera terlepas pada saat ucapan "Ini saa-".

Meskipun orang mungkin berpikir mereka bakal mengambil foto ulang, diputuskan bahwa foto ini lucu dengan caranya sendiri, dan akhirnya diadopsi sebagai bingkai pertama yang berkesan dari 'Foto Kenang-kenangan Mulainya Pacaran'.

Sedangkan untuk sisanya—

'Sakuto, Wajahnya Mendadak Dekat dengan Hikari'

'Sakuto, Menggendong Chikage dengan Gaya Tuan Putri'

'Pada Akhirnya Bermesraan Bertiga'

—Ketiga foto itu menjadi sisanya.

Melihat hasil foto Photo Gray yang sudah jadi, Sakuto memegang kepala dengan kedua tangannya.

Apa yang akan terjadi jika, karena suatu kesalahan, foto-foto ini sampai bocor ke luar?

Apakah benar-benar tidak apa-apa kalau aku punya dua pacar...? Aku merahasiakannya karena ini hal buruk, tapi...

Sakuto menatap si kembar dalam diam.

"Ini mahakarya! Daripada gembira, marah, sedih, dan humor, ini lebih terasa seperti 'marah-gembira-cinta-bikin berdebar', mungkin?"

"Hmm... Punya Hii-chan mungkin lebih lucu... Bagus ya, aku ingin mengambilnya satu kali lagi..."

"Aku juga super iri dengan punya Chi-chan. Bagaimanapun juga, gendongan gaya tuan putri itu adalah impian—"

Melihat kedua gadis kembar yang saling iri satu sama lain seperti itu, Sakuto tersenyum.

...Yah, sudahlah.

Biasanya, seseorang harus bersikap terbuka dan adil.

Namun, menyimpan rahasia yang tidak bisa diceritakan kepada orang lain mungkin ternyata menyenangkan di luar dugaan.

—Jadi begini.

Sakuto, Hikari, Chikage—ketiganya berakhir berkencan, tetapi untuk memperjelas alasan mengapa bisa menjadi seperti ini, perlu untuk kembali sedikit ke masa sebelum Sakuto terlibat dengan dua gadis kembar ini.

Saat itu adalah musim pepohonan hijau yang segar.

Suatu siang pada hari di mana bunga sakura telah gugur dan daun-daun hijau mulai bertunas.

Hal itu terjadi ketika hasil ujian tengah semester ditempelkan di koridor—



Illustrasi | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close