NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Futago Matomete “Kanojo” ni Shinai? Volume 5 Chapter 5

Chapter 5

Usami yang Ini...?


Langkah kaki bertiga yang menyusuri kota di sekitar kastel terasa ringan. Namun, itu bukan sekadar karena mereka sedang dalam suasana hati untuk berwisata.

Sebaliknya, jalan-jalan ini adalah serangkaian taktik dan adu siasat yang terus berlanjut.

Dengan kata lain—ini bukan lagi persaingan cinta biasa, ataupun sekadar main-main. Ini adalah pertempuran sengit antara menyerang dan bertahan yang berkecamuk di medan perang yang tenang namun tegang. Buktinya adalah—

"Mari istirahat sebentar. Sepertinya di sana ada tempat berendam kaki."

Sambil berjalan di jalanan kota kastel, Sakamoto mengatakan hal itu dengan nada santai.

Namun, reaksi Usami-san terhadap kata-kata itu terlambat hanya sepersekian detik.

Itu adalah "jeda" sangat kecil yang kurang dari satu detik—tetapi apakah seseorang menyadari "jeda" itu atau tidak, akan mengubah hasil dari pertandingan ini. Sakamoto sendiri belum menyadari kejanggalan tersebut.

"Wah, kelihatannya nyaman sekali!"

Usami-san mengangguk, tersenyum sealami mungkin.

Area berendam kaki itu terletak di samping sebuah penginapan pemandian air panas kecil.

Bangku-bangku kayu berderet rapi, dan para wisatawan sedang santai merendam kaki mereka di air hangat. Uap melayang lambat di udara, membuat aliran waktu seolah melambat di tempat itu.

"Suasananya sepertinya enak. Mau merendam kaki sebentar?"

"Boleh juga. Kamu juga tidak keberatan, kan, Sakuto-kun?"

"Ya, kakiku memang mulai terasa pegal karena terus berjalan."

Sakuto mengangguk, dan mereka bertiga duduk berdampingan lalu melepas sepatu serta kaus kaki masing-masing.

Saat mereka menyelupkan kaki ke dalam air hangat—

"...Haa~, nikmatnya~..."

Ketika Sakamoto menyipitkan mata dan menghela napas puas, pipi Usami-san juga mengendur rileks.

"Benar-benar nyaman. Suhunya juga pas sekali~..."

Setelah itu, tidak ada yang bersuara untuk beberapa saat.

Setiap kali angin berembus, pepohonan berona musim gugur bergoyang pelan, dan guguran daun melayang jatuh ke permukaan pemandian kaki. Daun-daun itu hanyut perlahan di atas air, hingga akhirnya lenyap bersama kepulan uap.

Itu benar-benar momen ketenangan yang murni—

Hanya untuk saat yang singkat ini, mereka melupakan persaingan mereka, dan bertiga hanya menatap pemandangan dalam suasana hati yang rileks. Namun, orang pertama yang memecahkan keheningan adalah Sakamoto.

"Aku benar-benar masih tidak tahu sama sekali..."

Sakamoto menatap Usami-san dengan lekat.

Usami-san menyambut tatapan itu dengan senyuman penuh percaya diri. Dia mengayunkan kakinya pelan, menciptakan riak di permukaan air. Kakinya yang cantik dan pucat kini merona kemerahan karena kehangatan air panas.

Sebenarnya, tepat sebelum mereka berendam di pemandian kaki, Sakuto secara rahasia memberi tahu Usami-san bahwa Sakamoto telah menerima "fakta bahwa dia memiliki pacar," dan pemikirannya saat ini sepenuhnya terjebak dalam labirin untuk mencari tahu "apakah dia Hikari atau Chikage."

Mendengar hal itu, Usami-san terkekeh pelan. Wajahnya seolah mengatakan bahwa semuanya berjalan sesuai rencana.

—Usami-san yang sama kini mengajukan pertanyaan dengan senyum lembut.

"Kamu masih belum bisa menebaknya?"

"Belum," jawab Sakamoto sambil mengerucutkan pipinya.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kamu mencoba mengamatiku sedikit lebih dekat lagi?"

"...Pelit. Lagipula, sebelum ini kita hampir tidak pernah mengobrol, kan?"

Sakamoto memanyunkan bibirnya, tetapi dia tampak dalam suasana hati yang cukup baik. Jika dipikir-pikir, dia mungkin sebenarnya menikmati situasi ini.

"Apakah Chikage-chan sedang berpura-pura menjadi Hikari-chan, atau Hikari-chan yang berpura-pura menjadi Chikage-chan?" gumam Sakamoto pelan, membuat Usami-san terkekeh.

"Yah, bagaimana ya? —Hei, Sakuto-kun, menurutmu aku ini Hikari? Atau Chikage?"

"Yah, aku sudah tahu sejak awal."

Sakuto mengedikkan bahunya pasrah.

"Hmm... Begitu ya, begitu ya?"

Sambil bersedekap, Sakamoto menunjukkan ekspresi yang tampak senang.

"Baaiiiklah, aku akan menyelidikinya sedikit lagi. Aku pasti bakal menebaknya dengan benar!"

Berseberangan dengan Sakamoto yang mengepalkan tangannya antusias, Usami-san sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda tergoyahkan.

"Kalau begitu, aku akan menantikannya."

Usami-san berdiri perlahan.

"Permisi, aku mau melihat-lihat suvenir sebentar."

Meninggalkan area berendam kaki, Usami-san berjalan menjauh. Tepat pada saat itu—

"Hei."

Sakamoto langsung melemparkan tatapan tajam ke arah Sakuto.

"Aku benar-benar tidak paham? Yang mana dia sebenarnya?"

Sakuto mengedikkan bahu.

"Yah, mungkin bakal lebih sulit membedakannya kalau kamu tidak akrab dengan mereka."

"Agak menyebalkan... Padahal kupikir aku bisa langsung menebaknya!"

"Yah, kamu tidak bisa melihat menembusnya semudah itu."

Karena sudah mengetahui jawabannya, Sakuto memilih kata-katanya dengan hati-hati.

"Aku juga tidak bisa membedakan mereka pada awalnya..."

"Bagaimana cara kamu belajar membedakan si kembar itu, Takayashiki-kun?"

Mendengar pertanyaan itu, Sakuto sedikit menyipitkan matanya.

"...Hm? Yah, cuma dengan memperhatikan mereka, mungkin. Kamu harus bisa melihat menembusnya kalau kamu mencintai mereka."

Pada saat itu juga, gerakan Sakamoto terhenti.

"...Rasakan ini."

Byur! Sakamoto meraup air panas dengan tangannya dan menyiramkannya ke arah Sakuto.




"Tunggu... barusan itu untuk apa, sih, mendadak begitu!?"

"Rasakan ini, rasakan ini, rasakan ini."

Byur, byur, byur! Dia menyiramkan lebih banyak air ke arah Sakuto.

"Sudah kubilang hentikan...!"

Sakamoto menghentikan tangannya, tetapi menatap ke depan dengan wajah yang tampak sama sekali tidak puas.

"Aku agak kesal..."

"...Gara-gara apa?"

"Maksudku, ekspresi kemenangan Usami-san yang tadi... dan dia jahat sekali."

Sakuto tersenyum kecipuan.

"Yah, itu karena kamu sendiri yang mulai menggangguku duluan, Sakamoto-san. Lagipula kamu malah mencoba mengajakku kencan padahal aku sedang bersama mereka berdua..."

"Bukan cuma itu. Aku juga kesal padamu, Takayashiki-kun."

"Aku? Memangnya aku berbuat sesuatu?"

Sakamoto merengut dan merajuk sambil menatap Sakuto dengan tajam.

"Menyebalkan sekali melihat betapa kamu sangat dicintai."

"Maksudnya bagaimana coba..."

Melihat wajah Sakuto yang tampak pasrah, Sakamoto terkekeh pelan.

"Jadi, apa kamu sudah mulai jatuh cinta padaku?"

"Tidak..."

"Kamu bilang begitu, padahal sebenarnya kamu sudah suka padaku, kan? Kamu suka padaku, kan?"

Mendengar nada bicaranya yang seolah cuma menggoda, Sakuto mengerutkan alisnya.

"Ha? Apa-apaan kegeeran itu... Sudah kubilang kan kalau aku sudah punya pacar?"

"Tidak apa-apa. Anggap saja ini kesempatan untuk menyatakan cinta padaku."

"Aku tidak akan..."

Tepat pada saat itu, Usami-san kembali.

Sakuto menatap ke arah kaki Usami-san dan mengembuskan napas lega yang tertahan agar tidak disadari Sakamoto.

Kakinya yang tadinya merona merah karena panasnya air beberapa saat lalu, kini telah kembali ke warna aslinya.

"Maaf ya membuat kalian menunggu. —Kalau begitu, mari kita pergi ke tempat berikutnya♪"

Di bawah naungan dedaunan musim gugur, tampaknya pertarungan antara Usami-san dan Sakamoto masih jauh dari kata usai—

"Suasananya tenang sekali. Nyaman banget~."

Begitu melangkahkan kaki ke dalam kafe, Usami-san mengaguminya dengan helaan napas terkagum-kagum. Mencari tempat untuk bersantai sejenak setelah berendam kaki, mereka bertiga memilih kedai ini.

Kedai ini adalah kafe klasik di mana seseorang bisa merasakan kehangatan ornamen kayu.

Di balik konter, seorang pembuat kopi tua sedang menyeduh kopi dengan tenang. Musik jaz berirama rendah mengalun di seluruh kedai, dan pencahayaan yang lembut menciptakan suasana yang menenangkan.

"Anu, untuk tempat duduknya—"

Sakuto mengedarkan pandangan ke sekeliling kedai dan melihat hanya ada satu meja yang kosong. Sebuah meja kecil yang diperuntukkan bagi dua orang. Meja untuk empat orang sudah penuh, dan seorang pria yang tampak seperti pelanggan tetap sedang duduk di konter sambil membentangkan korannya.

"Cuma tersisa meja untuk dua orang, ya..."

Sakamoto menatap Sakuto dengan ekspresi yang sedikit kebingungan. Tepat setelah itu—

"Kalau begitu, kamu dan Sakamoto-san saja yang duduk di sana, Sakuto-kun," kata Usami-san dengan sangat alami.

"Aku mau pergi memilih beberapa suvenir sebentar, jadi silakan kalian berdua duduk duluan."

Meninggalkan kata-kata santai itu, Usami-san berbalik dengan anggun dan melangkah keluar kedai.

Keheningan mengalir di antara dua orang yang ditinggalkan.

"...Eh?" gumam Sakamoto pelan sekali lagi.

Alunan jaz yang terlalu tenang berdengung di telinga mereka.

"...Untuk sementara, mau duduk dan menunggu sampai meja empat orang kosong?"

Saat Sakuto mengusulkan itu, Sakamoto mengangguk, tampak sedikit serba salah.

Beberapa saat kemudian—Sakuto menelusuri gagang cangkirnya dengan jari, sementara Sakamoto menatap keluar jendela.

Musik jaz yang mengalun dari pengeras suara, suara lembaran koran yang dibalik di meja konter, pembuat kopi yang sedang menyeduh kopi—seharusnya ini adalah ruang yang elegan, namun keheningan aneh menggantung di antara mereka berdua.

Ini bukanlah ketegangan dari kencan pertama. Sesuatu yang menyerupai kejanggalan tak kasatmata membentang di antara mereka.

Sakamoto sepertinya sedang tenggelam dalam pemikiran yang dalam. Duduk berdua saja—hingga beberapa saat lalu dia sibuk memancing situasi untuk memanfaatkan kesempatan ini, tetapi sekarang dia diam-diam hanyut dalam lamunan.

—Dan kemudian.

"...Ada yang aneh," kata Sakamoto mendadak.

"Tentang Usami-san... atau lebih tepatnya, tentang tujuan dari seluruh pertarungan yang kita lakukan ini."

Sorot mata Sakamoto berubah. Itu bukan lagi lelucon ringan. Tatapan tajam dan menyelidik diarahkan lurus kepada Sakuto.

"Maksudmu bagaimana?"

"Seluruh pertarungan ini cuma untuk melihat apakah aku bisa menebak dia si kembar yang mana... apakah benar-benar hanya sebatas itu?"

Suara Sakamoto terdengar kian terasah dan tajam.

"Ini cuma pendapat subjektifku saja, tapi daripada mencoba melihat apakah aku bisa 'menebaknya', aku merasakan keputusasaan yang jauh lebih kuat darinya agar 'tidak teridentifikasi'."

Dia tajam sekali—pikir Sakuto, meskipun dia tetap menjaga ekspresi wajahnya agar terlihat netral.

"Aku penasaran apa tujuannya..." gumam Sakamoto seolah berbicara pada dirinya sendiri.

"Kalau aku punya saudara kembar..."

Sambil mengucapkan itu, dia perlahan mengangkat cangkirnya. Matanya saat menyesap kopi terlihat persis seperti seorang detektif yang jeli. Sakuto menelan ludah.

—Sakamoto Akane.

Sepanjang hari ini, dia sudah belajar lebih dari cukup bahwa gadis ini sama sekali bukan orang yang peka atau lambat merespons.

Jika terus begini, dia mungkin akan menyentuh inti dari kebenaran. Sambil mempertahankan raut tenang, Sakuto mengangkat cangkirnya sendiri.

—Dan kemudian.

Sakamoto mendadak menengadah. "Hei?"

"Aku sudah penasaran dari tadi, tapi kenapa harus repot-repot mengubah situasi ini menjadi permainan seperti ini?"

Jari Sakuto terhenti seketika di pinggiran cangkirnya.

"Biasa, kalau dia memang pacarmu, dia akan dengan bangga bilang, 'Aku pacarnya,' kan? Tapi entah itu Hikari-chan atau Chikage-chan, kenapa dia begitu berusaha keras agar tidak teridentifikasi..."

Sakamoto menatap lekat-lekat ke dalam cangkirnya, membiarkan satu, lalu dua tetes krimer jatuh ke dalam kopi.

"Untuk sengaja mengusulkan permainan 'tebak aku yang mana'... mungkinkah..."

Sakamoto mengambil sendoknya dan mulai mengaduk perlahan di sepanjang tepi cangkir.

Warna hitam dan putih bercampur menjadi satu, membentuk pusaran saat mereka berangsur-angsur melebur satu sama lain. Sambil menatap lekat pemandangan itu, Sakamoto secara perlahan merangkai kata-katanya.

"Bukankah itu untuk mengaburkan alasan sebenarnya kenapa dia tidak ingin teridentifikasi? Jika alasan itu berkaitan dengan semacam rasa bersalah yang benar-benar harus dirahasiakan...—"

Jantung Sakuto berdegup kencang sesaat.

Gawat...

Ini sudah jauh melampaui topik tentang "yang mana Hikari dan yang mana Chikage." Jalan pikiran Sakamoto telah maju ke tahap, "Bukankah ada sesuatu yang jauh lebih besar yang sedang disembunyikan di sini?"

"Hei, Takayashiki-kun."

"...Ada apa?"

Masih menatap permukaan kopinya, Sakamoto perlahan membuka mulutnya.

—Tepat pada saat itu.

Lonceng di pintu kedai berdenting ringan, dan menyatu dengan alunan musik jaz, suara anggun Usami-san bergema, "Maaf membuat kalian menunggu~." Timingtnya begitu sempurna hingga terasa sangat terencana.

"Apa yang sedang kalian berdua bicarakan?"

Sakamoto menatap Usami-san dengan lekat. Gadis itu tersenyum manis, tetapi ekspresinya entah bagaimana terlihat seolah dia sudah mengetahui semuanya dan hanya sedang menguji mereka.

"Hmm~, sedang bermain jadi detektif?"

Sakamoto mengedikkan bahunya ringan dan mengangkat cangkirnya.

"Aku detektifnya, dan Takayashiki-kun adalah pelakunya."

Usami-san tersenyum dan mencolek pipi Sakuto dengan jarinya secara jahil.

"Ya ampun~, Sakuto-kun. Kamu tidak boleh mencuri hati gadis lain, lho~?"

"Aku tidak mencuri apa-apa..."

Melihat itu, Sakamoto terkekeh pelan.

Tepat pada moment tersebut, gelas-gelas di meja empat orang telah dibersihkan, dan meja itu kini kosong.

Merekapun bertiga pindah ke sana, dan saat mengingat kembali kejadian sepanjang hari, suasana di antara mereka perlahan mulai mencair.

Tadi itu benar-benar hampir saja...

Intuisi Sakamoto tak disangka-sangka hampir menyentuh kebenaran utama—tetapi Sakuto merasa sangat lega karena langkah gadis itu terhenti tepat satu langkah sebelum mengetahui semuanya.

Melangkah ke peron Stasiun Yuki Sakuranomachi, angin malam yang agak dingin menyapu lembut kulit mereka.

Matahari telah sepenuhnya terbenam, dan lampu-lampu jalan di depan stasiun menerangi trotoar secara samar.

Sakuto dan Sakamoto keluar dari stasiun bersama-sama.

Usami-san tidak terlihat di mana pun. Dia bilang ada "urusan yang harus diselesaikan" dan berpisah dengan mereka di dalam stasiun—setidaknya, itulah alasan resminya. Kenyataannya, dia masih berada di suatu tempat di dalam bangunan stasiun.

"Haa~, kembali ke kota asal memang membuat perasaan jadi tenang."

Sambil merenggangkan tangannya, Sakamoto Akane mengembuskan napas puas.

"...Ya."

Sambil memutar bahunya yang kaku, Sakuto juga menghela napas dalam-dalam.

Rasa lelah karena berjalan seharian menghantamnya seketika, tetapi lebih dari itu, rasa lega karena permainan ini akhirnya selesai jauh lebih besar.

"Pada akhirnya, aku kalah dalam pertarungan ini, tapi..."

Sakamoto menggedikkan bahunya dan tersenyum kecipuan.

"Tapi, ya sudahlah, lagipula ini seru!" Sakamoto menengadah menatap wajah Sakuto. Dia menunjukkan ekspresi yang tampak cukup segar.

Terlepas dari semua yang dia katakan, Sakamoto-san sebenarnya menikmati harinya, ya...

Sakuto membiarkan ketegangan di bahunya perlahan luntur.

Sebagai pihak yang mengusulkan trik bertukar tempat ini, dia merasa lega karena lawan mereka bisa menerima hari ini sebagai sebuah permainan dan pulang dengan puas.

"Meskipun begitu..."

Sakamoto berbicara sambil sedikit menundukkan pandangannya.

"Aku merasa seperti dipermainkan~."

"Dipermainkan?"

"Soalnya, aku menghabiskan seharian penuh mencoba menebaknya mati-matian, tapi sampai detik terakhir pun, aku masih tidak tahu dia itu yang mana."

Sakamoto mengerucutkan pipinya dan tersenyum jahil.

"Dan, kamu tahu, karena aku terlalu fokus pada Usami-san, di tengah jalan aku malah sama sekali lupa pada bagian terpentingnya—yaitu makin akrab denganmu, Takayashiki-kun."

"...Eh?"

Sakuto secara refleks bertanya balik, membuat Sakamoto menyeringai.

"Maksudnya, Kurasa ini artinya... kita harus mengulang kencan ini di lain waktu?"

"Eh...!?"

Melihat keterkejutan refleks dari Sakuto, Sakamoto terkekeh.

"Bercanda kok. Cuma lelucon♪"

Tepat saat Sakamoto menggedikkan bahunya ringan—

"Oh~? Apakah itu Akane?"

Di tengah keramaian lalu lalang, mereka berbalik ke arah suara dan melihat sekelompok siswa laki-laki dan perempuan yang biasa berkumpul dengan Sakamoto di kelas berjalan menuju ke arah mereka.

"Hm? Cowok yang bersamamu... bukankah itu Takayashiki?"

Salah satu siswa laki-laki menyadari keberadaan Sakuto dan menyipitkan matanya curiga.

Gawat...

Sakuto merasakan sensasi dingin merayap di tulang belakangnya seketika. Berdua saja di stasiun—hanya dari hal itu saja, sangat mudah untuk membayangkan perkembangan cerita di mana kecurigaan yang tak perlu mulai bermunculan.

"Eh? Apa? Kalian berdua jalan bareng... jangan-jangan, kencan?"

Salah satu siswa perempuan bertanya pada Sakamoto dengan nada menggoda dan cengiran lebar.

Bukan—Sakuto secara panik berusaha membantahnya, tetapi sebelum dia sempat bersuara, Sakamoto menghela napas, "Haa~," dan menggedikkan bahunya.

"Ya, ini kencan. Memangnya kenapa?"

Dalam sekejap, keributan pecah di antara kelompok tersebut.

"Eeeh!? Serius!?"

"Kalian berdua pacaran!?"

Dihadapkan pada rentetan pertanyaan cepat, Sakamoto secara sengaja menempelkan jarinya ke pipi dan memiringkan kepalanya.

"Hmm~... Bagaimana ya. Kami belum pacaran, tahu?"

Lalu, dia melirik sekilas ke arah Sakuto.

"...Benar, kan?"

Peringatan yang jelas dan tak terbantahkan berkilat di matanya.

Meskipun sempat berjengit sesaat, Sakuto membalasnya dengan gedikan bahu ringan agar kepanikannya tidak terendus.

"...Entahlah?"

Dia tidak berbohong—karena itulah, dia tidak akan membantahnya.

"...Apa maksudnya itu, jawabannya menggantung sekali~~!"

Salah satu siswa perempuan mulai menjerit kegirangan, dan kelompok di sekelilingnya mulai heboh, rasa penasaran mereka benar-benar terpancing.

Tanpa melangkah ke dalam lingkaran itu, Sakuto perlahan menundukkan pandangannya.

Dia merasa benar-benar kalah telak oleh satu gerakan dari Sakamoto Akane.

"Kalau begitu, kami mau cari makan sekarang, apa kamu dan Takayashiki-kun mau ikut, Akane?"

Salah satu gadis bertanya sambil menepuk pelan bahu Sakamoto.

"Ya, aku ikut, aku ikut."

Setelah menjawab dengan antusias, Sakamoto melirik sekilas ke arah Sakuto.

"Kamu mau bagaimana, Takayashiki-kun?"

Sakuto berpikir sejenak, tetapi—

"Aku... bakal bergabung dengan kalian lain kali saja, kalau ada kesempatan."

"Ya sudah? Sampai jumpa minggu depan kalau begitu."

Sakamoto melambaikan tangannya ringan dan berjalan pergi bersama teman-temannya.

Menatap punggungnya yang makin menjauh, Sakuto mengembuskan napas panjang.

Akhirnya selesai juga...

Berdiri terpaku di tengah keramaian di depan stasiun, merasakan kelegaan yang mendalam, Sakuto mendengar sebuah suara.

"Kerja bagus untuk hari ini, Sakuto-kun."

Usami-san—bukan, Chikage mendekatinya dengan senyuman tenang.

"Astaga... Aku benar-benar lelah..."

—Dan kemudian.

"Kerja bagus~, Sakuto, Chii-chan!"

Muncul secara sembunyi-sembunyi dari kerumunan adalah Usami-san yang satu lagi—Hikari.

Dia mengenakan topi dan mantel panjang, tetapi pakaian di dalamnya benar-benar sama persis dengan yang dikenakan Chikage.

Tepat saat Sakuto melihat wajah mereka, dia merasakan sisa ketegangan perlahan luntur dari bahunya.

—Dengan demikian.

"Operasi: Ke Sini, Ke Sana, Yang Mana, Strategi Agung Otachi" kali ini—gambaran utuhnya adalah sebagai berikut.

Tujuan dari operasi ini sangatlah sederhana—

1.    Memaksa Sakamoto bertanya-tanya "Yang mana pacar Sakuto?" dan mengunci jalan pikirannya pada pertanyaan itu.

2.    Menyembunyikan fakta paling krusial yang tidak boleh terbongkar: "Mereka bertiga berpacaran."

Untuk mencapai hal ini, Usami bersaudara memilih metode "bertukar tempat."

Namun, sekadar bertukar tempat saja tidak cukup.

Chikage berpura-pura menjadi Hikari, dan Hikari berpura-pura menjadi Chikage—jika mereka hanya terus memainkan peran itu, mereka pada akhirnya akan melakukan kecerobohan, dan lagipula mereka tidak bisa sepenuhnya menghilangkan kebiasaan unik masing-masing.

Terlebih lagi, masalah besar akan muncul: "Jika Usami-san yang itu terus-terusan memainkan peran sepanjang waktu, maka Usami-san yang ini tidak akan punya kesempatan untuk bermesraan dengan Sakuto (bagian ini sangat penting)." Hal ini secara tidak terelakkan akan memicu komplain seperti "Itu tidak adil!"

Oleh karena itu, gagasan untuk bermain "estafet"—atau lebih tepatnya, 1 "operan tongkat"—terlahir.

Dengan bertukar tempat pada momen-momen kunci, mereka menciptakan ilusi "Usami-san Hibrida"—sebuah fusi dari Usami bersaudara—untuk mengacaukan jalan pikiran Sakamoto.

Makin dia kebingungan dan bertanya-tanya, "Usami-san yang mana ini? Yang mana pacar Takayashiki-kun?", maka operasi ini makin berhasil. Mereka berhasil mencegahnya menyentuh kenyataan krusial bahwa "mereka bertiga berpacaran."

—Meskipun kalau boleh jujur, Sakamoto sebenarnya sudah sangat dekat dengan kebenaran utama.

Jika intuisi tajamnya terasah sedikit lebih tajam lagi, dia mungkin sudah menyadari bahwa si kembar bergantian tempat di tengah jalan.

Namun, jalan pikiran Sakamoto terikat oleh pertanyaan, "Yang mana pacarnya?"

Karena itulah, dia tidak mampu menyentuh jawaban paling sederhana, namun paling tidak mungkin: "Keduanya adalah pacarnya"—

"Meskipun begitu, kalian berdua berhasil bertukar tempat dengan sangat alami. Alur percakapannya juga mulus sekali."

Sakuto berbicara saat mereka bertiga sedang mengadakan rapat evaluasi di sebuah kafe.

""Karena kami punya ini.""

Usami bersaudara menunjuk ke telinga kanan mereka secara bersamaan.

Mengintip di antara sela-sela rambut mereka adalah earphone nirkabel—melihat itu, Sakuto teringat pada kencan pertamanya dengan Chikage lalu tersenyum kecipuan.

"Tidak... Itu sebenarnya terlihat sangat mencurigakan. Maksudku, Sakamoto-san memang tidak menyadarinya, tapi tetap saja..."

Sikap pasrah Sakuto memancing senyum puas dari Usami bersaudara.

"Kalau dia sampai tahu, kami berencana memberi tahu kalau kami sebenarnya kembar tiga."

"Tidak, itu terlalu tidak masuk akal!"

Hikari tertawa, "Yah, begitulah."

"Jadi, apa kamu jatuh cinta pada 'Usami-san Hibrida', Sakuto?"

Saat ditanyai hal itu, Sakuto tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum kecipuan.

"Tidak, aku lebih suka sebagaimana biasanya, di mana kalian masing-masing berdiri sebagai individu."

"Bukankah itu jawaban paling mewah dari semuanya~? —Benar kan, Chii-chan?"

"Ya. —Artinya dia tidak akan puas kecuali kalau punya setidaknya dua gadis, kan?"

"Bukan, bukan itu maksudku sama sekali..."

Ekspresi kerepotan Sakuto membuat Chikage tertawa terhibur.

"Ngomong-ngomong, apa kamu tahu momen tepat saat kami bertukar tempat?"

Sakuto bersedekap dan berkata, "Tentu saja."

"Tapi Sakamoto-san mungkin lebih tajam dari dugaan kita. Kurasa trik ini tidak akan mempan untuk kedua kalinya."

"Benar juga." Hikari terkekeh.

"Untuk saat ini, apa aman untuk menganggap dia masih mengincarmu, Sakuto?"

"Menilai dari sikapnya, yah, kurasa begitu..."

Sakuto tersenyum kecipuan.

"Tapi tetap saja, menjadikannya pertarungan dua lawan satu benar-benar membuat hatiku sedikit meragukan..."

Saat Chikage menggumamkan itu pelan, Hikari langsung memotongnya dengan nada menggoda.

"Bicara apa sih? Kamu kan sangat menikmati peranmu saat berpura-pura menjadi aku tadi~?"

"I-Itu... Itu kan demi Sakuto-kun!"

"Ya, ya, teruslah beralasan~."

Sakuto terkekeh melihat interaksi konyol mereka, tetapi Chikage mendadak memasang ekspresi serius.

"Tapi... aku penasaran kenapa kita tidak bisa dengan bangga bilang, 'Aku pacarnya'..."

Dihadapkan pada pertanyaan itu, Sakuto terdiam sejenak sebelum menjawabnya perlahan.

"...Aku berharap hari di mana kalian bisa mengatakannya akan tiba."

Terhadap kata-kata itu, dan terhadap senyuman itu, baik Chikage maupun Hikari membalasnya dengan anggukan pelan, "Ya."

Bahkan tanpa mengucapkan sesuatu yang spesial, untuk saat ini, ini sudah cukup.

Namun pasti, suatu hari nanti, hari di mana mereka bisa mendeklarasikannya dengan bangga akan tiba—mereka bertiga berpikir demikian pada saat itu, berharap hari seperti itu benar-benar akan datang.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close