NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Futago Matomete “Kanojo” ni Shinai? Volume 5 Interlude II

Obrolan Si Kembar! 2

Membuat Rencana Baru...?


Malam hari setelah Sakuto pergi keluar bersama Sakamoto. Sensasi lelah yang menyenangkan bergelayut di udara ruang tamu kediaman Usami.

Di depan Hikari dan Chikage, yang duduk berdampingan di sofa, teh herbal yang baru diseduh menghembuskan uap tipis.

"...Phew~, hari ini berat, tapi lumayan seru~," kata Hikari, bersandar pada sofa dan meregangkan tubuh dengan raut wajah puas. Melepaskan ketegangan dari bahunya, ekspresinya memancarkan rasa pencapaian tertentu.

"Ya. Strategi Otachi sukses besar."

Chikage juga memberikan senyuman kecil.

Namun, dia masih memasang ekspresi yang mengisyaratkan bahwa dia tidak bisa menurunkan kewaspadaannya sepenuhnya.

Dia tidak merasa kalau semuanya telah benar-benar berakhir. Perasaan itu membekas tipis di belakang pikirannya.

"...Aku penasaran apa hal-hal seperti ini bakal terus terjadi?"

Bergumamnya Chikage membuat Hikari mengedipkan mata karena terkejut. "Eh?"

"Mengingat bagaimana ini tidak bakal cuma Sakamoto-san, dan bahwa gadis-gadis lain bakal bermunculan dari sekarang..."

Chikage memutar-mutar kelim roknya dengan ujung jarinya.

Hikari meletakkan jari di pipinya dalam gestur berpikir. Namun, dia dengan cepat mengangkat bahunya seolah-olah ingin mengatakan itu bukan masalah besar.

"Aku pikir dia kemungkinan bakal diam untuk sementara waktu, kan?"

"Kamu pikir begitu?"

Chikage memasang ekspresi yang agak kurang yakin.

"Bagaimanapun juga dia sepenuhnya dimainkan oleh strategi kita. Aku sangat meragukan dia bakal melakukan pergerakan lain dalam waktu dekat."

"Aku harap itu benar..."

Chikage menghembuskan napas lega, tetapi sedetik kemudian, dia mengerutkan dahinya seolah-olah mendadak mengingat sesuatu.

"Tapi aku khawatir hal-hal seperti ini bakal terjadi setiap saat dari sekarang~..."

"Aku sepenuhnya mengerti itu~..."

Merekapun menghembuskan napas kecil secara serempak.

"Untuk saat ini, hal terpenting adalah memastikan kita tidak menunjukkan celah apa pun, kan?"

"Celah, ya..."

"Seperti mencoba meningkatkan jumlah waktu yang kita habiskan bersama sebanyak mungkin, dan juga~..."

Tepat saat dia mengatakan hal itu, pipi Hikari merona merah tipis.

"...Mungkin kita bisa mengambil kesempatan dan menerkamnya?" Hikari mengatakannya dengan ceria, seperti lelucon—

"Itu mungkin bagus~. Kita bakal menerkam Sakuto-kun dan—...Eh!? Menerkam!?"

Mata Chikage membelalak, dan wajahnya seketika merona merah terang.

"Maksudmu tidak mungkin...!?"

"B-Cuma bercanda, itu lelucon! Jelas sekali, tidak mungkin kita benar-benar melakukan hal seperti itu!"

"B-Benar, kan~? Astaga, kamu selalu saja membuat lelucon, Hii-chan!"

"Ahahaha," mereka berdua tertawa, tapi—

""Hahaha... Haha... Ha...—""

Pada akhirnya, mereka menundukkan pandangan, jatuh ke dalam keheningan yang canggung. ...Apa itu benar-benar sebuah lelucon?

Tik, tok, suara jarum jam bergema di seluruh ruang tamu.

Mereka tetap terdiam untuk sementara waktu, sampai Chikage akhirnya memecahkan keheningan.

"M-Misalnya, cuma sebagai pengandaian..."

"A-Apa itu?"

Suara Hikari membawa campuran harapan dan kecemasan.

"Bagaimana kalau kita... mengundangnya untuk menginap sebelum Festival Kebudayaan...?"

Hikari sangat terkejut hingga dia duduk tegak.

Chikage secara panik menggelengkan kepalanya, mengangkat suaranya dengan "Tidak!"

"Bukan untuk menyerangnya atau melakukan hal-hal mesum, maksudku, kamu tahu, mempersiapkan Festival Kebudayaan bersama bertiga! Bukankah itu terdengar seperti mimpi!?"

Bukan imajinasinya saja bahwa itu terdengar seperti alasan yang lemah.

"D-Dan setelah itu...?"

"Setelah itu~... kita mandi seperti biasa, dan pergi tidur... atau semacamnya?"

"Mandi... dan pergi tidur..."

Hikari perlahan mengulangi kata-katanya. Nada bicaranya membawa bobot yang aneh dan sugestif.

"Bukan begitu! Aku tidak bermaksud sesuatu yang mendalam dengan itu! Aku cuma bicara tentang aktivitas biasa!"

"A-Aktivitas..."

Hikari menatap Chikage secara lekat.

"Sudah kubilang, ini tidak seperti itu...!"

"Astaga." Chikage meminum teh herbalnya, hanya untuk membuat lidahnya kepanasan. "Panas..."

Keheningan melingkupi ruangan sekali lagi.

Tanpa alasan tertentu, mereka berdua menatap kalender yang menggantung di dinding.

"...Ibu menginap untuk urusan pekerjaan tiga hari sebelum Festival Kebudayaan, kan?" Hikari bergumam pelan, memicu Chikage untuk membalas dengan nada berbisik.

"Kalau begitu, hari itu mungkin sempurna..."

"...Mau merencanakannya?"

"Ya. Cuma merencanakannya, mari kita rencanakan saja untuk saat ini...—"

Saat tik, tok jarum jam bergema di latar belakang, Usami bersaudara secara diam-diam mulai merencanakan sesuatu.

Takdir apa yang menanti Takayashiki Sakuto yang sepenuhnya tidak sadar ini...!?



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close