Obrolan Si Kembar! 2
Membuat Rencana Baru...?
Malam hari
setelah Sakuto pergi keluar bersama Sakamoto. Sensasi lelah yang menyenangkan
bergelayut di udara ruang tamu kediaman Usami.
Di depan Hikari
dan Chikage, yang duduk berdampingan di sofa, teh herbal yang baru diseduh
menghembuskan uap tipis.
"...Phew~,
hari ini berat, tapi lumayan seru~," kata Hikari, bersandar pada sofa dan
meregangkan tubuh dengan raut wajah puas. Melepaskan ketegangan dari bahunya,
ekspresinya memancarkan rasa pencapaian tertentu.
"Ya.
Strategi Otachi sukses besar."
Chikage juga
memberikan senyuman kecil.
Namun, dia masih
memasang ekspresi yang mengisyaratkan bahwa dia tidak bisa menurunkan
kewaspadaannya sepenuhnya.
Dia tidak merasa
kalau semuanya telah benar-benar berakhir. Perasaan itu membekas tipis di
belakang pikirannya.
"...Aku
penasaran apa hal-hal seperti ini bakal terus terjadi?"
Bergumamnya
Chikage membuat Hikari mengedipkan mata karena terkejut. "Eh?"
"Mengingat
bagaimana ini tidak bakal cuma Sakamoto-san, dan bahwa gadis-gadis lain bakal
bermunculan dari sekarang..."
Chikage
memutar-mutar kelim roknya dengan ujung jarinya.
Hikari meletakkan
jari di pipinya dalam gestur berpikir. Namun, dia dengan cepat mengangkat
bahunya seolah-olah ingin mengatakan itu bukan masalah besar.
"Aku pikir
dia kemungkinan bakal diam untuk sementara waktu, kan?"
"Kamu pikir
begitu?"
Chikage memasang
ekspresi yang agak kurang yakin.
"Bagaimanapun
juga dia sepenuhnya dimainkan oleh strategi kita. Aku sangat meragukan dia
bakal melakukan pergerakan lain dalam waktu dekat."
"Aku harap
itu benar..."
Chikage
menghembuskan napas lega, tetapi sedetik kemudian, dia mengerutkan dahinya
seolah-olah mendadak mengingat sesuatu.
"Tapi
aku khawatir hal-hal seperti ini bakal terjadi setiap saat dari
sekarang~..."
"Aku
sepenuhnya mengerti itu~..."
Merekapun
menghembuskan napas kecil secara serempak.
"Untuk saat
ini, hal terpenting adalah memastikan kita tidak menunjukkan celah apa pun,
kan?"
"Celah,
ya..."
"Seperti
mencoba meningkatkan jumlah waktu yang kita habiskan bersama sebanyak mungkin,
dan juga~..."
Tepat saat dia
mengatakan hal itu, pipi Hikari merona merah tipis.
"...Mungkin
kita bisa mengambil kesempatan dan menerkamnya?" Hikari mengatakannya
dengan ceria, seperti lelucon—
"Itu mungkin
bagus~. Kita bakal menerkam Sakuto-kun dan—...Eh!? Menerkam!?"
Mata Chikage
membelalak, dan wajahnya seketika merona merah terang.
"Maksudmu
tidak mungkin...!?"
"B-Cuma
bercanda, itu lelucon! Jelas sekali, tidak mungkin kita benar-benar melakukan
hal seperti itu!"
"B-Benar,
kan~? Astaga, kamu selalu saja membuat lelucon, Hii-chan!"
"Ahahaha,"
mereka berdua tertawa, tapi—
""Hahaha...
Haha... Ha...—""
Pada
akhirnya, mereka menundukkan pandangan, jatuh ke dalam keheningan yang
canggung. ...Apa itu benar-benar sebuah lelucon?
Tik,
tok, suara jarum
jam bergema di seluruh ruang tamu.
Mereka
tetap terdiam untuk sementara waktu, sampai Chikage akhirnya memecahkan
keheningan.
"M-Misalnya,
cuma sebagai pengandaian..."
"A-Apa
itu?"
Suara
Hikari membawa campuran harapan dan kecemasan.
"Bagaimana
kalau kita... mengundangnya untuk menginap sebelum Festival
Kebudayaan...?"
Hikari
sangat terkejut hingga dia duduk tegak.
Chikage
secara panik menggelengkan kepalanya, mengangkat suaranya dengan
"Tidak!"
"Bukan
untuk menyerangnya atau melakukan hal-hal mesum, maksudku, kamu tahu,
mempersiapkan Festival Kebudayaan bersama bertiga! Bukankah itu terdengar
seperti mimpi!?"
Bukan
imajinasinya saja bahwa itu terdengar seperti alasan yang lemah.
"D-Dan
setelah itu...?"
"Setelah
itu~... kita mandi seperti biasa, dan pergi tidur... atau semacamnya?"
"Mandi...
dan pergi tidur..."
Hikari
perlahan mengulangi kata-katanya. Nada bicaranya membawa bobot yang aneh dan
sugestif.
"Bukan
begitu! Aku tidak bermaksud sesuatu yang mendalam dengan itu! Aku cuma bicara
tentang aktivitas biasa!"
"A-Aktivitas..."
Hikari
menatap Chikage secara lekat.
"Sudah
kubilang, ini tidak seperti itu...!"
"Astaga."
Chikage meminum teh herbalnya, hanya untuk membuat lidahnya kepanasan.
"Panas..."
Keheningan
melingkupi ruangan sekali lagi.
Tanpa
alasan tertentu, mereka berdua menatap kalender yang menggantung di dinding.
"...Ibu
menginap untuk urusan pekerjaan tiga hari sebelum Festival Kebudayaan,
kan?" Hikari bergumam pelan, memicu Chikage untuk membalas dengan nada
berbisik.
"Kalau
begitu, hari itu mungkin sempurna..."
"...Mau
merencanakannya?"
"Ya. Cuma
merencanakannya, mari kita rencanakan saja untuk saat ini...—"
Saat tik, tok
jarum jam bergema di latar belakang, Usami bersaudara secara diam-diam mulai
merencanakan sesuatu.
Takdir apa yang
menanti Takayashiki Sakuto yang sepenuhnya tidak sadar ini...!?



Post a Comment