Bab 16: Mencoba Menyusun Siasat Demi Memperbarui Kontrak
(Sudut Pandang
Gadis Tercantik Seangkatan)
Sesuai rencana, aku berhasil membawa
Sensei ke Rumah Ramalan. Dan tanpa dicurigai sama sekali, kami bisa masuk ke
bilik tempat Hori-san menjadi sang peramal.
Hori-san adalah teman sekelasku saat SMP.
Kali ini, dia bersedia membantuku dalam melancarkan rencana. Siasatnya adalah,
saat aku menanyakan masa depan kami berdua, dia akan mengatakan hal-hal bagus
saja sehingga Sensei bakal terpikir untuk memperpanjang
kontrak.
"Baiklah…… Uuumm…… Penglihatannya
sudah mulai tampak……"
Hori-san memejamkan mata sambil
menangkupkan kedua tangan di atas bola kristal, lalu mulai berbicara dengan
gaya bicara khas peramal.
"Pusaran rasi bintang kalian berdua
saling tumpang tindih secara tepat, ini benar-benar 'Garis Takdir'. Pihak pria
memendam hawa 'Gerak', terlahir di bawah naungan bintang pembuka jalan. Di sisi
lain, pihak wanita memendam hawa 'Sirkulasi', terlahir di bawah naungan bintang
penarik benang jodoh yang baik. Bintang-bintang yang tadinya bersinar terpisah
ini, di detik saat keduanya saling bertumpuk akan berubah menjadi 'Aliran
Pembuluh Naga', menghasilkan 'Garis Penggandaan Sinergi' yang melipatgandakan
peruntungan kerja."
──Luar
biasa! Hebat banget kamu, Hori-san! Aku sama sekali tidak paham apa yang kamu
bicarakan, tapi auranya terasa seperti peramal sungguhan!
Walaupun ini seratus persen rekayasa,
kalau sampai dikatakan seperti ini tentu saja membuatku merasa sangat senang.
Hanya saja, aslinya sebelum meramal itu
biasanya menanyakan tanggal lahir atau golongan darah terlebih dahulu, tetapi
karena sudah kuberitahukan sebelumnya, dia malah melompati prosedur itu. Sensei
tidak bakal sadar kalau ini sudah disiapkan kan ya……?
"Pihak pria yang bergerak, pihak
wanita yang menyelaraskan momentum. Dari segelintir benih yang ditabur pihak
pria dalam jumlah banyak, pihak wanita akan membuatnya bertunas sekaligus dalam
sekejap. Hal yang jika dilakukan sendirian hanya berujung 'Keberhasilan', jika
kalian berdua bergandengan akan melahirkan 'Keberhasilan Dahsyat yang Tak
Tertandingi'. Aliran peruntungan akan berputar di antara kalian berdua,
melahirkan kekayaan serta kemasyhuran yang terus mengalir tanpa henti.. Hari di
mana kalian berdua menggenggam kekuasaan yang bahkan sanggup membeli seisi
dunia pun sudah tidak jauh lagi."
"Sampai sejauh itu!?"
Sensei sampai terperangah syok. Ramalan
Hori-san jelas-jelas sudah terlalu berlebihan, tetapi dia sama sekali tidak
tampak mencurigainya.
Kalau nanti kontrakku sebagai sekretaris
diperpanjang, aku harus berhati-hati menjaga Sensei agar tidak gampang
terjerumus penipuan.
"Terlebih lagi, kalian berdua diikat
berlipat-lipat oleh benang merah ‘Jalinan Karma’. Dengan terus bersama, pihak
pria akan mengenal ketenteraman batin, sementara pihak wanita akan meraup rasa
percaya diri. Seberat apa pun rintangan yang datang menghadang di masa depan,
kalian akan menunjukkan ikatan persatuan yang mampu melampauinya. Gugusan
bintang takdir membisikkan pesan kepada kalian berdua: segeralah menikah
sekarang juga."
──Menikah!?
Hori-san malah keenakan dan memasukkan
improvisasi yang kelewatan!
Menikah itu…… yah, rasanya tidak buruk
sih, tapi……
"Jika kalian mengambil keputusan di
sini dan saat ini juga, takdir kalian berdua akan selaras sempurna. Biar saya
tegaskan, hubungan kalian berdua ini sudah bukan lagi di tingkat kecocokan
biasa. Kalian dipertemukan karena saling ditarik oleh 'Bintang Suami Istri'.
Pernikahan bukanlah garis akhir, melainkan sebuah ritual penyempurnaan takdir.
Mustahil rasanya membayangkan dua insan yang memiliki kecocokan luar biasa
seperti ini tidak menjadi sepasang suami istri. Nah…… tentukanlah keputusan
kalian."
Pada akhirnya kami malah didesak untuk
memutuskan pernikahan.
Bukan, bukan itu maksudku! Aku cuma ingin
memperpanjang kontrak
kerja sebagai sekretaris……!
☆ ☆
Ujung-ujungnya, gara-gara ulah Hori-san
yang lepas kendali, rencanaku
gagal total. Padahal menurut rencana, di
Rumah Ramal aku ingin memancing pembicaraan seperti "Kecocokan kerja kita
berdua rasanya luar biasa ya", lalu memancing kata-kata "Aku ingin
memperpanjang
kontrak" dari mulut Sensei……
Begitu melangkah keluar dari kelas 1-3,
tercipta jarak yang canggung di antara diriku dan Sensei. Semua ini gara-gara
kata-kata "Menikah" dan "Suami Istri" yang terus
diteriakkan berulang kali oleh Hori-san.
Bagaimanapun caranya aku harus
membalikkan situasi ini……
Meski begitu, apa yang harus kulakukan
ya…… Andai saja ada cara untuk memamerkan betapa berharganya diriku sebagai
seorang sumber daya manusia……
"Pendaftaran kontestan Lomba Gadis
Cantik Antarsiswa akan segera ditutup sebentar lagi~!"
Saat sedang berjalan tanpa tujuan
mengitari area sekolah, pengumuman
seruan itu terdengar dari arah gedung
olahraga.
Saat itu juga, aku langsung terpikir,
“Ini dia.” Kalau aku bisa meraih hasil gemilang di kontes gadis cantik, mungkin
aku bisa menunjukkan pesonaku kepada Sensei.
Sebenarnya, aku memegang pendirian yang
menolak kontes semacam ini. Kalau cuma dianggap sebagai hiburan mungkin bisa
dinikmati sih, tapi memberi peringkat pada fisik manusia itu bagiku terasa
terlalu rendahan.
Ditambah lagi, aku tidak pandai berdiri
di depan orang banyak.
Memimpin jam wali kelas pun terpaksa
kulakukan semata-mata karena tugasku sebagai ketua kelas, aslinya aku ingin
digantikan oleh orang lain.
Maka dari itu, kalau bukan dalam kondisi
terdesak seperti sekarang, mustahil aku mempertimbangkan untuk ikut.
Membayangkan diriku harus menjual pesona manis kepada para juri demi meminta
‘Tolong pilih aku ya’ saja sudah membuatku pusing.
Namun aku tidak menemukan jalan keluar
lain, dan batas waktunya kian menipis. Pada akhirnya, demi memikat Sensei, aku
mengesampingkan rasa enggan itu lalu memutuskan untuk ikut serta.
Agar rasa tidak sukaku terhadap kontes
ini tidak terbongkar, aku menyampaikannya seriang mungkin.
"Ada kontes gadis cantik lho.
Kelihatannya seru, boleh aku ikut sebentar?"
"Tentu saja. Semangat ya."
Mendapat dorongan dari Sensei, aku
memantapkan tekad lalu mendaftar, dan sepuluh menit kemudian aku sudah berdiri
di panggung gedung olahraga untuk memperkenalkan diri.
Karena ikut tanpa persiapan apa pun dan
rasa gugupku sudah meluap-luap, kata-kataku sama sekali tidak mengalir lancar.
Meski begitu, aku berusaha sekuat tenaga memberikan jawaban yang berbobot atas
pertanyaan pembawa acara, dan saat ditanyai bakat khusus, untuk sementara aku
mencoba menampilkan tarian, pokoknya melakukan apa pun agar bisa bertahan di
panggung.
Di bawah panggung berdiri lautan
penonton, berkali-kali membuatku ingin kabur rasanya, tetapi begitu menemukan
sosok Sensei di antara kerumunan itu, aku memaksakan nyaliku untuk
menuntaskannya sampai akhir.
Hasilnya, secara aklamasi para juri
memutuskan diriku sebagai pemenang. Terus terang aku kaget melihat seluruh
suara diberikan kepadaku, tetapi menilainya secara objektif, dari semua peserta
memang akulah yang paling cantik, jadi kurasa ini hasil yang pantas. Walaupun
tentu saja di pidato kemenangan aku tetap merendah dengan mengatakan "Aku
merasa tidak percaya".
Aku ingin segera melapor kepada Sensei,
tetapi begitu turun dari panggung sambil membawa plakat kemenangan, teman-teman
seangkatan langsung berkerumun menghampiri dan memblokir jalanku.
"Keren banget, Himegi-san!"
"Selamat ya!"
"Tadi kamu cantik luar biasa
lho!"
Teman-teman sekelas dan anak-anak cowok
yang tidak kukenal melontarkan berbagai pujian, namun karena tidak tertarik,
aku hanya menanggapinya seadanya saja.
Setelah membelah kerumunan orang yang
mengganggu itu dan berhasil keluar dari gedung olahraga, Sensei sudah
menungguku di sana.
"──Sensei,
lihat ini. Iseng-iseng ikut, eh malah menang juara pertama."
Sengaja kupasang sikap santai seolah
bukan masalah besar sambil mengangkat plakat itu, raut wajah Sensei justru
terlihat agak dingin.
"……Kamu benar-benar hebat. Saking
hebatnya, entah kenapa aku malah merasa ada jarak di antara kita……"
Begitulah gumam Sensei dengan canggung.
Reaksi itu berbanding terbalik dengan apa
yang kuharapkan. Padahal aku hanya ingin dia menyadari betapa langka dan
berharganya diriku ini.
Pujian dari orang lain sama sekali tidak kubutuhkan. Mau bagaimana pun aku tidak peduli. Karena itu Sensei, tolong pujilah aku. Katakanlah bahwa kamu membutuhkanku, katakanlah bahwa kamu ingin aku terus menjadi sekretarismu…
Chapter 15 | ToC | Chapter 17



Post a Comment