Bab 17: Saat Festival Malam
(Sudut Pandang
Siswa SMA Berkemampuan Tinggi)
Himegi-san memenangkan juara pertama
Lomba Gadis Cantik Antarsiswa. Menyisipkan lelucon ringan saat perkenalan diri,
lalu menyanggupi permintaan mendadak yang keterlaluan dari pembawa acara dengan
menampilkan tarian, kurasa daya tanggapnya yang tinggi itulah kunci
kemenangannya.
Meski begitu, dari seluruh kontestan dia
memang yang paling cantik secara telak, jadi seandainya dinilai murni
berdasarkan standar wajah sekalipun pasti hasilnya akan tetap sama.
Meski begitu, saat kemenangannya
diumumkan, dadaku terasa hangat, dan sekali lagi aku menyadari betapa hebatnya
Himegi-san.
Aku ingin segera memuji dan mengapresiasi
usahanya, tetapi tepat setelah Himegi-san turun dari panggung, teman-teman
sekelas langsung berkerumun hingga keadaan menjadi sesak.
Menilai akan sulit untuk bergabung ke
sana, aku berputar balik lalu keluar dari gedung olahraga. Kemudian saat
menunggu di tempat kami berpisah sebelum lomba dimulai, Himegi-san berhasil
meloloskan diri dengan membelah lautan manusia.
Namun setelahnya, sekelompok siswa cowok
yang tampaknya mengincar Himegi-san ikut keluar, lalu mengamati situasi kami
dari kejauhan.
Melihat tatapan penuh rasa penasaran yang
tertuju pada Himegi-san yang baru saja menjuarai kontes, aku jadi merasa
minder, takut orang-orang menganggap aneh kalau orang sepertiku berjalan
bersamanya.
"──Sensei,
lihat ini. Iseng-iseng ikut, eh malah menang juara pertama."
Himegi-san mengatakannya dengan nada
bangga, tetapi karena bingung harus berkata apa, aku malah keceplosan bilang,
"Rasanya malah membuatku merasa berjarak begini."
Padahal sebenarnya aku ingin memuji
kemampuannya dalam mempromosikan diri dan mengapresiasi kerja kerasnya di atas
panggung. Tapi aku malah kepikiran kalau orang-orang di sekitar bakal mencibir,
'Memangnya kau siapa berani menilai dia'.
Tak lama kemudian kami mulai berjalan,
tetapi orang-orang di sekitar tetap mengikuti kami dengan menjaga jarak.
Aku ingin segera menyinggung soal
pembaruan kontrak, tetapi berada di bawah sorotan sebanyak ini membuatku tak
bisa bicara, dan cara agar kami bisa berdua saja pun tak kunjung kutemukan.
“Sementara aku masih kebingungan mencari
cara, tibalah waktunya Himegi-san menjaga stan gim escape room pemecahan
misteri.
Begitu kami kembali ke ruang kelas
sendiri, antrean mengular panjang sudah terbentuk dari depan pintu masuk.
Rupanya permainan ini menjadi buah bibir yang ramai diperbincangkan seru di
kalangan pengunjung. Melihat pemandangan teman-teman yang bekerja dengan sibuk
namun tampak gembira, aku merasa lega karena usaha kami tidak sia-sia.
Aslinya aku tidak terjadwal dalam giliran
jaga, tetapi karena situasinya terlampau sibuk, akhirnya aku ikut membantu
pekerjaan serabutan seperti bersih-bersih.
Saat sedang asyik bekerja seperti itu,
pengeras suara di ruang kelas mengumumkan berakhirnya festival budaya. Tanpa
kusadari, seisi kelas sudah bermandikan warna jingga dari langit senja.
Pada akhirnya, aku kehilangan kesempatan
untuk bernegosiasi dengan Himegi-san……
Melewati koridor tempat sisa mi goreng
dijual dengan harga obral, para orang tua murid berangsur meninggalkan gedung
sekolah.
Pemandangan khas usainya perayaan yang
menghadirkan rasa hampa nan sepi.
Kami menuju ke gedung olahraga, dan
setelah upacara penutupan singkat digelar, acara pun dibubarkan. Pembersihan
dan perapian stan diputuskan untuk dilakukan pada hari masuk sekolah
berikutnya.
Kalau terus begini, hari ini bakal
berakhir begitu saja. Didera kepanikan, aku mengejar langkah Himegi-san yang
melangkah keluar dari gedung olahraga.
Akan tetapi, tepat di luar gedung
olahraga, langkah Himegi-san dihentikan oleh tiga orang anak cowok.
"Himegi-san, festival penutupan
tentu saja ikut kan?"
"Iya, niatnya sih begitu
tapi……"
Melihat Himegi-san yang menjawab
ragu-ragu, anak-anak cowok itu langsung memborbardirnya tanpa jeda.
"Iya kan! Ayo barengan sama
kita!"
"Ikut dansa tidak?"
"Aku main band lho nanti. Mau kan
nonton di barisan paling depan?"
Anak-anak gaul itu terus terang-terangan
mendekatinya, menciptakan suasana yang membuatku merasa sangat sulit untuk ikut
mendekat.
Himegi-san dari awal memang sudah
populer, apalagi hari ini dia baru saja menjuarai Lomba Gadis Cantik
Antarsiswa. Pasti banyak anak cowok yang ingin mendekatinya dengan dalih
mengajaknya berdansa di festival penutupan.
Aku tak punya hak untuk menyela di antara
mereka. Berpikir demikian, aku berpura-pura tidak melihat lalu melangkah
melewatinya.
"──Maaf
ya. Aku sudah ada janji dengan orang lain."
Himegi-san menolaknya dengan santai, lalu
berlari mengejar ke arah sini.
Kupikir dia punya urusan di ruang kelas,
tetapi setelah berlari mengejarku dan melewatiku, Himegi-san langsung berbalik
menatapku
"Takahashi-kun. Bukankah ada yang
ingin kamu bicarakan padaku?"
Saat itu juga, aku begitu gugup sampai
rasanya jantungku akan keluar dari mulut
Namun, ini adalah kesempatan terakhir.
Sekarang bukan waktunya
memuntahkan organ dalam dari mulut.
"──Himegi-san.
Maukah kamu pergi ke festival penutupan bersamaku?"
"Tentu saja!"
Himegi-san tersenyum cerah seperti
matahari, membuat semua kecemasanku seketika hilang.
"Habisnya kita berdua ini kan 'Garis
Takdir' dan 'Garis Penggandaan Sinergi' kan."
"Kamu ngomong begitu paham artinya
tidak?"
"Sama sekali tidak paham!"
☆ ☆
Setelah melewati deretan rak sepatu dan
keluar, langit sudah tampak temaram.
Sebuah panggung sederhana telah didirikan
di tengah halaman sekolah, dan nyala api unggun menerangi area sekitarnya.
"Festival penutupan akan segera
dimulai sebentar lagi~!"
Begitu panitia pelaksana berseru melalui
pengeras suara, para siswa berhamburan berkumpul secara serentak.
Tak lama kemudian musik populer mulai
berkumandang, dan kelompok penari sukarela mulai menari di sekeliling api
unggun. Himegi-san menggoyangkan tubuhnya mengikuti irama lagu, dan di
sampingnya, aku mencoba bertepuk tangan pelan.
"Dengar, Takahashi-kun. Mau ikut
gabung menari?"
"Tidak ah, aku kan tidak hafal
gerakannya……"
"Nanti kuajari, gerak asal-asalan
saja juga tidak apa-apa kok. Ini kan bukan ujian."
Belum sempat kata-katanya tuntas,
Himegi-san meraih tangan kananku lalu mulai berlari.
Himegi-san selalu membawaku ke
tempat-tempat yang tak kukenal.
Saat itu aku menyadari bahwa Himegi-san
adalah sosok yang tak tergantikan bagiku.
Aku menjaga jarak yang cukup dari
orang-orang sekitar sambil belajar gerakan tarian darinya.
Langkah kakiku begitu kaku, hingga
berkali-kali kakiku tersandung
kakinya. Namun, Himegi-san hanya tertawa
melihatnya.
"Takahashi-kun, kamu payah menari
ya. Di pelajaran olahraga pun kamu tidak ada niatnya."
"Habisnya kupikir ini parameter yang
tidak dibutuhkan untuk bertahan hidup sih……"
Mana pernah kubayangkan sebulan yang lalu
kalau diriku bakal ikut menari di festival penutupan seperti ini.
Akan tetapi, Himegi-san terus tersenyum
menatapku. Karena itulah, kurasa tak ada lagi yang perlu kutakuti.
"──Himegi-san.
Soal posisi sekretaris itu…… bisakah masa kontraknya kita perpanjang……?"
Dengan keberanian sesaat itu, aku
langsung bertanya. Himegi-san melebarkan matanya karena terkejut, lalu wajahnya
pun berubah menjadi ceria.
"Tergantung persyaratannya sih. Mau
minta perpanjangan sampai kapan?"
"Anu…… untuk sementara perpanjangan
satu bulan dulu, lalu otomatis diperpanjang terus kecuali ada permohonan
penghentian dari salah satu pihak, bagaimana kalau begitu?"
"Tidak boleh. Pokoknya minimal
sampai lulus SMA, aku tidak mau dihentikan kontraknya."
Begitu mendengar kata-kata itu, aku
merasakan hatiku dipenuhi kehangatan.
"Baiklah. Kalau begitu, kontraknya
kita perpanjang dua tahun enam bulan ya."
"Mohon bantuannya ya."
"Yah, kalau untuk urusanku sih
jangankan lulus, naik kelas saja masih belum tentu aman."
"Ah, aku baru ingat. Ibu Sensei
pernah menyuruhku membuat Sensei belajar."
"Kamu malah ingat hal itu ya."
"Mulai besok juga, jadwal belajar
bakal kumasukkan ke agenda kegiatan ya. Ujian tengah semester kan sudah
sebentar lagi."
"Boleh saja, tapi…… jangan kaget ya
melihat betapa payahnya aku dalam
belajar."
"Tenang saja, bagian yang tidak kamu
mengerti nanti bakal kuajari. Soalnya selama ini aku cuma terus-terusan belajar
banyak hal dari Takahashi-kun, jadi sekarang aku jadi tidak sabar
mengajarimu."
Himegi-san berkata demikian, lalu tersenyum layaknya anak kecil yang berniat jahil.
Chapter 16 | ToC | Epilog 1



Post a Comment