NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jitsu wa Haisupekkuna Danshi Kōkōsei - Gakunen'ichi no Bishōjo ni Hisho ni Natte Morau Volume 1 Chapter 17

Bab 17: Saat Festival Malam


(Sudut Pandang Siswa SMA Berkemampuan Tinggi)

 

Himegi-san memenangkan juara pertama Lomba Gadis Cantik Antarsiswa. Menyisipkan lelucon ringan saat perkenalan diri, lalu menyanggupi permintaan mendadak yang keterlaluan dari pembawa acara dengan menampilkan tarian, kurasa daya tanggapnya yang tinggi itulah kunci kemenangannya.

 

Meski begitu, dari seluruh kontestan dia memang yang paling cantik secara telak, jadi seandainya dinilai murni berdasarkan standar wajah sekalipun pasti hasilnya akan tetap sama.

 

Meski begitu, saat kemenangannya diumumkan, dadaku terasa hangat, dan sekali lagi aku menyadari betapa hebatnya Himegi-san.

 

Aku ingin segera memuji dan mengapresiasi usahanya, tetapi tepat setelah Himegi-san turun dari panggung, teman-teman sekelas langsung berkerumun hingga keadaan menjadi sesak.

 

Menilai akan sulit untuk bergabung ke sana, aku berputar balik lalu keluar dari gedung olahraga. Kemudian saat menunggu di tempat kami berpisah sebelum lomba dimulai, Himegi-san berhasil meloloskan diri dengan membelah lautan manusia.

 

Namun setelahnya, sekelompok siswa cowok yang tampaknya mengincar Himegi-san ikut keluar, lalu mengamati situasi kami dari kejauhan.

Melihat tatapan penuh rasa penasaran yang tertuju pada Himegi-san yang baru saja menjuarai kontes, aku jadi merasa minder, takut orang-orang menganggap aneh kalau orang sepertiku berjalan bersamanya.

 

"──Sensei, lihat ini. Iseng-iseng ikut, eh malah menang juara pertama."

 

Himegi-san mengatakannya dengan nada bangga, tetapi karena bingung harus berkata apa, aku malah keceplosan bilang, "Rasanya malah membuatku merasa berjarak begini."

 

Padahal sebenarnya aku ingin memuji kemampuannya dalam mempromosikan diri dan mengapresiasi kerja kerasnya di atas panggung. Tapi aku malah kepikiran kalau orang-orang di sekitar bakal mencibir, 'Memangnya kau siapa berani menilai dia'.

 

Tak lama kemudian kami mulai berjalan, tetapi orang-orang di sekitar tetap mengikuti kami dengan menjaga jarak.

 

Aku ingin segera menyinggung soal pembaruan kontrak, tetapi berada di bawah sorotan sebanyak ini membuatku tak bisa bicara, dan cara agar kami bisa berdua saja pun tak kunjung kutemukan.

 

“Sementara aku masih kebingungan mencari cara, tibalah waktunya Himegi-san menjaga stan gim escape room pemecahan misteri.

 

Begitu kami kembali ke ruang kelas sendiri, antrean mengular panjang sudah terbentuk dari depan pintu masuk. Rupanya permainan ini menjadi buah bibir yang ramai diperbincangkan seru di kalangan pengunjung. Melihat pemandangan teman-teman yang bekerja dengan sibuk namun tampak gembira, aku merasa lega karena usaha kami tidak sia-sia.

 

Aslinya aku tidak terjadwal dalam giliran jaga, tetapi karena situasinya terlampau sibuk, akhirnya aku ikut membantu pekerjaan serabutan seperti bersih-bersih.

 

Saat sedang asyik bekerja seperti itu, pengeras suara di ruang kelas mengumumkan berakhirnya festival budaya. Tanpa kusadari, seisi kelas sudah bermandikan warna jingga dari langit senja.

 

Pada akhirnya, aku kehilangan kesempatan untuk bernegosiasi dengan Himegi-san……

 

Melewati koridor tempat sisa mi goreng dijual dengan harga obral, para orang tua murid berangsur meninggalkan gedung sekolah.

 

Pemandangan khas usainya perayaan yang menghadirkan rasa hampa nan sepi.

 

Kami menuju ke gedung olahraga, dan setelah upacara penutupan singkat digelar, acara pun dibubarkan. Pembersihan dan perapian stan diputuskan untuk dilakukan pada hari masuk sekolah berikutnya.

 

Kalau terus begini, hari ini bakal berakhir begitu saja. Didera kepanikan, aku mengejar langkah Himegi-san yang melangkah keluar dari gedung olahraga.

 

Akan tetapi, tepat di luar gedung olahraga, langkah Himegi-san dihentikan oleh tiga orang anak cowok.

 

"Himegi-san, festival penutupan tentu saja ikut kan?"

 

"Iya, niatnya sih begitu tapi……"

 

Melihat Himegi-san yang menjawab ragu-ragu, anak-anak cowok itu langsung memborbardirnya tanpa jeda.

 

"Iya kan! Ayo barengan sama kita!"

 

"Ikut dansa tidak?"

 

"Aku main band lho nanti. Mau kan nonton di barisan paling depan?"

 

Anak-anak gaul itu terus terang-terangan mendekatinya, menciptakan suasana yang membuatku merasa sangat sulit untuk ikut mendekat.

 

Himegi-san dari awal memang sudah populer, apalagi hari ini dia baru saja menjuarai Lomba Gadis Cantik Antarsiswa. Pasti banyak anak cowok yang ingin mendekatinya dengan dalih mengajaknya berdansa di festival penutupan.

 

Aku tak punya hak untuk menyela di antara mereka. Berpikir demikian, aku berpura-pura tidak melihat lalu melangkah melewatinya.

 

"──Maaf ya. Aku sudah ada janji dengan orang lain."

Himegi-san menolaknya dengan santai, lalu berlari mengejar ke arah sini.

 

Kupikir dia punya urusan di ruang kelas, tetapi setelah berlari mengejarku dan melewatiku, Himegi-san langsung berbalik menatapku

 

"Takahashi-kun. Bukankah ada yang ingin kamu bicarakan padaku?"

 

Saat itu juga, aku begitu gugup sampai rasanya jantungku akan keluar dari mulut

 

Namun, ini adalah kesempatan terakhir. Sekarang bukan waktunya

memuntahkan organ dalam dari mulut.

 

"──Himegi-san. Maukah kamu pergi ke festival penutupan bersamaku?"

 

"Tentu saja!"

 

Himegi-san tersenyum cerah seperti matahari, membuat semua kecemasanku seketika hilang.

 

"Habisnya kita berdua ini kan 'Garis Takdir' dan 'Garis Penggandaan Sinergi' kan."

 

"Kamu ngomong begitu paham artinya tidak?"

 

"Sama sekali tidak paham!"

 

☆ ☆

Setelah melewati deretan rak sepatu dan keluar, langit sudah tampak temaram.

 

Sebuah panggung sederhana telah didirikan di tengah halaman sekolah, dan nyala api unggun menerangi area sekitarnya.

 

"Festival penutupan akan segera dimulai sebentar lagi~!"

 

Begitu panitia pelaksana berseru melalui pengeras suara, para siswa berhamburan berkumpul secara serentak.

 

Tak lama kemudian musik populer mulai berkumandang, dan kelompok penari sukarela mulai menari di sekeliling api unggun. Himegi-san menggoyangkan tubuhnya mengikuti irama lagu, dan di sampingnya, aku mencoba bertepuk tangan pelan.

 

"Dengar, Takahashi-kun. Mau ikut gabung menari?"

 

"Tidak ah, aku kan tidak hafal gerakannya……"

 

"Nanti kuajari, gerak asal-asalan saja juga tidak apa-apa kok. Ini kan bukan ujian."

 

Belum sempat kata-katanya tuntas, Himegi-san meraih tangan kananku lalu mulai berlari.

 

Himegi-san selalu membawaku ke tempat-tempat yang tak kukenal.

 

Saat itu aku menyadari bahwa Himegi-san adalah sosok yang tak tergantikan bagiku.

 

Aku menjaga jarak yang cukup dari orang-orang sekitar sambil belajar gerakan tarian darinya.

 

Langkah kakiku begitu kaku, hingga berkali-kali kakiku tersandung

kakinya. Namun, Himegi-san hanya tertawa melihatnya.

 

"Takahashi-kun, kamu payah menari ya. Di pelajaran olahraga pun kamu tidak ada niatnya."

 

"Habisnya kupikir ini parameter yang tidak dibutuhkan untuk bertahan hidup sih……"

 

Mana pernah kubayangkan sebulan yang lalu kalau diriku bakal ikut menari di festival penutupan seperti ini.

 

Akan tetapi, Himegi-san terus tersenyum menatapku. Karena itulah, kurasa tak ada lagi yang perlu kutakuti.

 

"──Himegi-san. Soal posisi sekretaris itu…… bisakah masa kontraknya kita perpanjang……?"

 

Dengan keberanian sesaat itu, aku langsung bertanya. Himegi-san melebarkan matanya karena terkejut, lalu wajahnya pun berubah menjadi ceria.

 

"Tergantung persyaratannya sih. Mau minta perpanjangan sampai kapan?"

 

"Anu…… untuk sementara perpanjangan satu bulan dulu, lalu otomatis diperpanjang terus kecuali ada permohonan penghentian dari salah satu pihak, bagaimana kalau begitu?"

 

"Tidak boleh. Pokoknya minimal sampai lulus SMA, aku tidak mau dihentikan kontraknya."

 

Begitu mendengar kata-kata itu, aku merasakan hatiku dipenuhi kehangatan.

 

"Baiklah. Kalau begitu, kontraknya kita perpanjang dua tahun enam bulan ya."

 

"Mohon bantuannya ya."

 

"Yah, kalau untuk urusanku sih jangankan lulus, naik kelas saja masih belum tentu aman."

 

"Ah, aku baru ingat. Ibu Sensei pernah menyuruhku membuat Sensei belajar."

 

"Kamu malah ingat hal itu ya."

 

"Mulai besok juga, jadwal belajar bakal kumasukkan ke agenda kegiatan ya. Ujian tengah semester kan sudah sebentar lagi."




"Boleh saja, tapi…… jangan kaget ya melihat betapa payahnya aku dalam

belajar."

 

"Tenang saja, bagian yang tidak kamu mengerti nanti bakal kuajari. Soalnya selama ini aku cuma terus-terusan belajar banyak hal dari Takahashi-kun, jadi sekarang aku jadi tidak sabar mengajarimu."

 

Himegi-san berkata demikian, lalu tersenyum layaknya anak kecil yang berniat jahil.



Chapter 16 | ToC | Epilog 1

Post a Comment

Post a Comment

close