Prolog ②: Menjadi Sekretaris Siswa SMA Berkemampuan Tinggi Bahkan di Sekolah
(Sudut Pandang
Gadis Tercantik Seangkatan)
Ruang kelas setelah pulang sekolah terasa
begitu hening, seolah keributan yang biasanya terjadi hanyalah kebohongan.
Setiap kali tirai bergoyang ditiup angin, sinar matahari sore yang lembut
menerobos masuk.
Di dalam kelas hanya ada dua orang, aku
dan Sensei. Sensei sedang menulis skenario gim di ponselnya, dan aku duduk di
kursi tepat di belakangnya sambil mewakili menulis buku harian kelas. Hari ini
Sensei memang bertugas piket harian, tapi mana mungkin aku membiarkannya
membuang-buang waktu berharga untuk urusan sepele seperti mengisi buku harian
kelas.
Teman-teman
sekelas tidak ada yang tahu, padahal Sensei adalah orang yang luar biasa.
Bagaimanapun juga, tiga tahun lalu, saat usianya baru 13 tahun, dia merilis
sebuah gim indie yang luar biasa seru berjudul 『Houkago
Jihen』.
Genre dari gim dewa ini adalah horror
mystery love comedy, yang telah memikat banyak pemain termasuk aku, dan jika
digabungkan dengan sekuelnya, total penjualannya telah menembus 1 juta kopi.
Terlebih lagi, gim pada dasarnya dibuat
oleh beberapa orang, tetapi Sensei adalah seorang superhuman yang membuat
skenario, grafik, musik, hingga pemrograman sendirian.
Dibandingkan denganku, nilai waktunya
terlalu jauh berbeda. Karena itulah, sebagai sekretaris, aku menawarkan diri
untuk menggantikannya menulis buku harian kelas.
Meski begitu, tulisan tanganku dan Sensei
lumayan berbeda. Supaya tindakan menggantikan ini tidak ketahuan, aku menaruh
buku catatan Bahasa Jepang milik Sensei di sampingku, lalu menulis sambil
meniru tulisan tangannya.
"……Anu, Himegi-san. Apa tidak
sebaiknya buku harian itu aku saja yang tulis?"
Sensei mengajukan penawaran itu karena
tidak tega melihatku yang bekerja seolah menumpahkan jiwa pada setiap satu per
satu huruf.
"Tidak perlu sungkan. Sebagai
sekretaris, aku hanya melakukan pekerjaan yang sudah sepantasnya."
Aku yang berada dalam mode sekretaris
menjawab dengan bahasa baku.
Untuk memberikan batasan yang jelas, aku
membiasakan diri menggunakan bahasa baku selama bekerja.
"Sensei harus menyadari betapa
tingginya upah per jam Sensei, kalau tidak, aku yang bakal kesusahan."
"Tidak,
tingginya upah per jam dengan membebankan tugas piket harian itu beda
urusan──"
"Tidak usah banyak omong, cepat
tulis kelanjutan skenario dengan tulisanmu itu dan biarkan aku membacanya. Aku
sangat penasaran bagaimana sang tokoh utama keluar dari krisis sampai-sampai
otakku rasanya mau meledak."
"……Aku usahakan sebisanya."
Sensei tersenyum kecut, lalu
mengembalikan pandangannya ke ponsel.
Ah…… bahagianya…… Bisa saling bertukar
kata seperti ini dengan Sensei di kelas……
Kami biasanya sebisa mungkin tidak
berbicara saat di sekolah. Jika kenyataan bahwa aku adalah sekretarisnya sampai
ketahuan, ada risiko profesi Sensei juga ikut terbongkar secara beruntun.
Kata Sensei, karena ada berbagai macam
risiko, dia ingin agar statusnya sebagai pembuat gim tidak diketahui oleh siapa
pun.
Namun karena sekarang tidak ada orang
lain, kami bisa berbicara secara normal.
Sambil menggerakkan pena, sesekali aku
mengintip Sensei yang sedang bekerja dengan mencondongkan badan secara
sembunyi-sembunyi.
Sensei mengoperasikan ponselnya dengan
tubuh yang sedikit membungkuk. Posturnya memang tidak bisa dikatakan bagus,
tetapi punggung itu terasa sangat diandalkan.
Setiap kali jari Sensei mengetuk layar
ponsel dengan kecepatan yang bahkan tidak terkejar oleh mata, kalimat-kalimat
yang memikat banyak orang pun teranyam. Dunia yang sangat kusukai itu, saat ini
benar-benar sedang lahir dari ujung jari orang ini.
Aku selalu berpikir bahwa ini benar-benar
seperti sihir.
Sensei sama sekali tidak punya motivasi
untuk belajar pelajaran SMA, tetapi saat sedang bekerja, dia terlihat begitu
hidup dan bersinar. Bisa mengagumi sosoknya dari dekat seperti ini adalah hak
istimewa seorang sekretaris.
Selain itu, bisa membaca skenario sebelum
diumumkan dengan dalih membantu memeriksa salah ketik dan kekurangan karakter
juga merupakan hak istimewa sekretaris. Jujur saja, bonus ini saja sudah
sepadan sampai-sampai aku rela menyerahkan seluruh harta kekayaanku.
──Saat
itu, pintu kelas terbuka, dan Aizawa-san dari klub voli masuk.
Karena dia mengenakan pakaian olahraga,
sepertinya dia datang untuk mengambil sesuatu di tengah kegiatan klub.
Hubunganku dengan Aizawa-san sebatas
pernah mengobrol saat berada di tim yang sama dalam pelajaran olahraga, tetapi
tidak pernah makan siang bersama.
Karena merepotkan, aku berharap dia
langsung pergi tanpa mengatakan
apa-apa, tetapi setelah menyadari
keberadaanku, Aizawa-san menyapa dengan sok akrab tanpa alasan.
"Lho? Iori, kamu kok belum
pulang?"
"──Iya.
Soalnya Takahashi-kun minta diajari cara mengisi buku harian."
Hampir bersamaan dengan jawabanku, Sensei
menyimpan ponselnya lalu mengintip ke arah buku harian.
Secara mendadak, kami berdua mulai
bersandiwara.
"Jadi begini, Takahashi-kun. Kolom
'Hal yang Menarik Perhatian di Kelas' itu tinggal diisi dengan hal baik atau
hal yang perlu diperbaiki dari kejadian seharian ini."
"Bahkan kalau kamu bilang begitu,
aku tidak bisa memikirkan apa-apa……"
"Contohnya, hal sederhana seperti
'Begitu bel berbunyi, semua orang langsung duduk di kursi masing-masing' atau
'Ada lampu yang lupa dimatikan jadi harus lebih berhati-hati' saja sudah cukup
kok."
Saat sedang memberikan penjelasan
seadanya, aku menyadari ada buku catatan Bahasa Jepang milik Sensei di samping
buku harian.
Kalau ini sampai terlihat, dia mungkin
bakal menyadari kalau aku sedang menggantikan tulisannya. Sambil berhati-hati
agar kepanikanku tidak terdengar dari suara, aku menutupi buku catatan itu
menggunakan buku harian.
"Iori memang perhatian banget ya~.
Jadi ketua kelas itu berat juga."
Aizawa-san mengucapkannya dengan nada
yang diseret-seret sambil mengintip ke dalam mejanya. Nada bicaranya
seolah-olah kasihan karena aku diganggu oleh seorang inkya.
Memang benar jika dilihat sekilas Sensei
hanyalah seorang inkya biasa,
dan dia tidak pernah memamerkan
pencapaiannya. Malah, dia cenderung ingin menyembunyikannya.
Karena itulah, selain aku, tidak ada
teman sekelas yang tahu betapa hebatnya Sensei. Bahwa sosok aslinya adalah
seorang kreator yang luar biasa berbakat, dengan skenario dewa, ilustrasi dewa,
serta musik dewa yang telah berkali-kali mengguncang jiwaku dan mengaduk-aduk
emosiku.
Terlebih lagi, selain seorang pekerja
keras, Sensei itu baik hati, cepat berpikir, bisa berempati secara alami, dan
mengingat semua hal kecil yang pernah kubicarakan…… Pokoknya dia orang yang
luar biasa. Jika mereka tahu hal itu, sudah pasti mereka tidak akan pernah bisa
lagi memperlakukan Sensei sebagai inkya yang merepotkan.
Aku
terdorong oleh dorongan kuat untuk membocorkan identitas asli Sensei. 『Houkago
Jihen』 juga merupakan gim yang cukup populer di kelas,
jadi mereka pasti akan sangat terkejut.
Aku ingin melihat seperti apa raut wajah
Aizawa-san……
Tapi, aku menahannya sekuat tenaga di
sini. Karena Sensei tidak menginginkan hal seperti itu.
Meski terkadang aku merasa geregetan
seperti ini, kenyataan bahwa hanya aku yang mengetahui sosok asli Sensei
memberikan rasa unggul yang sangat luar biasa.
Tak lama kemudian Aizawa-san keluar dari
kelas, lalu aku dan Sensei saling bertatap muka dan tersenyum cengengesan.
"Kira-kira ketahuan tidak ya kalau
aku menggantikan tulisanmu."
"Gara-gara Himegi-san mendadak mulai
berakting mengajari, aku hampir saja membuatnya tawa tahu. Lagipula, di
tengah-tengah kamu menyembunyikan buku catatan Bahasa Jepang milikku,
kan?"
"Habisnya, kalau ini sampai
kelihatan, dia bakal berpikir kalau aku sedang meniru tulisan tanganmu."
"Lawan bicara kita kan bukan
detektif, tidak akan jadi sampai seperti itu lah. Paling-paling dia cuma
berpikir kalau aku sedang diajari belajar."
"Kalau dipikir-pikir benar juga ya……
Mungkin aku agak terlalu sensitif."
"Perasaan tidak perlu sampai
sekreatif itu hanya gara-gara mewakili menulis buku harian……"
"“Habisnya, kalau pembicaraan malah
melebar sampai identitas asli Takahashi-kun terbongkar, bisa gawat. Aku sebagai
sekretaris harus melakukan pekerjaanku dengan sempurna."
Saat aku mengatakannya dengan serius,
Sensei tersenyum lembut.
"Terima kasih ya sudah memikirkannya
sampai sejauh itu."
……Aku menerima gaji dari Sensei dan
menjalankan kewajibanku sebagai sekretaris.
Namun, aku berpikir bahwa senyuman inilah
yang menjadi imbalan nomor satu.
Pembuat gim populer dan sekretarisnya.
Hubungan kami berdua benar-benar rahasia di sekolah.
Terkadang ada saat-saat di mana rahasia ini hampir terbongkar, tetapi aku merasa hal itu sedikit menyenangkan karena rasanya mirip seperti pasangan kekasih yang berpacaran sembunyi-sembunyi dari orang-orang di sekitar.



Post a Comment