Bab 8: Aku Mencoba Menjadi Model Baju Renang Demi Siswa SMA Berkemampuan Tinggi
(Sudut Pandang
Gadis Tercantik Seangkatan)
Hampir saja aku makan tepat sebelum
memakai bikini. Padahal aku harus menunjukkan perut yang bahkan 1 mikrometer
lebih ramping kepada Sensei.
Tepat setelah kembali ke rumah Sensei,
aku berpindah ke ruang ganti lalu menguncinya.
Untuk berganti ke bikini yang baru saja
kubeli, aku mulai melepas pakaian. Di rumah seorang anak cowok, walau hanya
beberapa detik, berada tanpa sehelai benang pun jelas-jelas membuatku merasa
tegang.
Apalagi kunci pintu ini adalah tipe yang
bisa dibuka dari sisi sebelah sana jika menggunakan koin.
Tentu saja, aku paham kalau Sensei tidak
akan melakukan hal seperti itu sih……
Tak lama setelah selesai berganti
pakaian, aku menatap diriku yang terpantul di cermin yang mengkilap bersih.
Jujur saja, hasilnya terasa lumayan bagus.
Saat membuka pintu ruang ganti, aku bisa
merasakan Sensei yang menunggu di ruang tamu sampai menahan napas.
Pada saat itu, situasi di mana aku
mengenakan baju renang di dalam rumah seketika menjadi sangat malu.
Sensei juga sepertinya merasa malu,
hingga pandangannya malah dialihkan ke arah yang sama sekali berbeda. Kesannya
yang tidak terbiasa dengan wanita terasa imut.
"──Sensei,
tolong beri petunjuk harus mengambil posisi seperti apa ya."
Menyembunyikan kepanikan, aku memanggil
Sensei dengan mode sekretaris.
"Anu…… karena ingin mencoba berbagai
komposisi, pertama-tama sambil berdiri, bisakah mencoba membungkukkan badan ke
depan?
……Nah, begitu. Lalu, dengan kesan menatap
ke arah kamera……"
Sensei, yang tampak gugup dan
terbata-bata, mengarahkan ponselnya lalu mulai mengambil foto.
Di dalam ruangan yang hening tanpa suara,
hanya bunyi jepretan dari ponsel saja yang menggema. Sensei berdiri, duduk,
lalu berdiri lagi, mengubah sudut pengambilan foto sedikit demi sedikit.
……Padahal sudah susah payah memakai baju
renang, tapi pengambilan foto ini berbeda dari yang kuinginkan.
"Sensei. Mumpung ada model hidup di
sini, aku berpikir lebih baik memintaku mengambil lebih banyak pose lho."
"Eh…… Ah, iya……"
"Lalu, aku pernah mendengar kalau
juru foto itu mengambil foto sambil memuji objek fotonya tahu."
"Memuji……?"
"Kalau mengambil foto secara tanpa
suara, kita berdua bakal sama-sama canggung kan? Maksudnya memuji itu dilakukan
demi mencairkan kecanggungan kan."
"Begitu ya…… bakal kucoba……!"
Sensei menunjukkan raut wajah yang
seolah-olah telah menguatkan tekad.
"……Himegi-san. Baju renang itu,
sangat cocok buatmu, ……da, dan imut lho."
Momen saat dipuji begitu, aku merasakan
suhu tubuhku sendiri naik sekitar 2 derajat.
Walau aku sendiri yang memicu pemicunya,
dipuji itu tetap saja membuatku senang.
"……Terima kasih banyak."
"Maaf ya, tapi bisakah minta tolong
ambil beberapa pola posisi secara bebas?"
"Secara
bebas──seperti ini?"
Aku berdiri tegak, bertolak pinggang,
lalu mencoba mengangkat rambutku ke atas
"Posisi mana pun bagus ya. Kamu
langsung menangkap maksudku, sangat membantu tahu."
"Yah, kalau cuma segini sih."
"Ah, ekspresi yang tadi, luar biasa
bagus. Himegi-san berdiri saja sudah jadi gambar ya. Cuma melihatnya saja
rasanya seperti mau terhisap masuk."
"…………"
Aku sampai lupa. Kemampuan memuji milik
Sensei itu kan tidak wajar tingginya.
"Selanjutnya bisakah mencoba posisi
berlutut? ……Nah, sempurna. Kameranya sampai kelihatan senang lho."
Mulai memanusiakan kamera!?
"Selanjutnya bisakah mencoba
berbaring terlentang? Satu tangan di dahi, lalu tangan yang satu lagi ditaruh
di perut…… nah, begitu!"
Sensei sepertinya makin bersemangat, dan
memberikan petunjuk posisi secara berurutan.
"Sambil tetap menatap kamera,
bisakah membuat ekspresi yang agak lesu?"
Pada akhirnya dia sampai memberi petunjuk
untuk ekspresi wajah juga.
Sambil menyimpan keraguan apakah hal ini
dibutuhkan padahal nantinya bakal jadi wajah sang heroine, aku mengarahkan
wajah lesu ke arah kamera.
Dengan begini, pengambilan foto pun
selesai tanpa hambatan. Saat diperlihatkan foto-foto yang diambil, menurut
diriku sendiri semuanya terlihat memikat.
"……Ini, apakah benar-benar perlu
kubuat jadi ilustrasi ya? Bukankah bakal lebih disambut gembira kalau
dipublikasikan seperti ini saja?"
Sensei mengajukan keraguan dengan raut
wajah serius.
"Karena ini gim, jadi harus dibuat
jadi ilustrasi dong."
"Ah, maaf. Soalnya semua fotonya
punya tingkat penyelesaian yang sangat tinggi sampai-sampai aku jadi memikirkan
hal yang tidak masuk akal begitu."
Sensei bergumam dengan sungguh-sungguh
sambil mengusap layar ponselnya.
Ini sudah seperti pengakuan cinta…… Tentu
saja, penyebab utamanya adalah gara-gara aku menyuruhnya memujiku tadi sih.
Di situ Sensei menaruh ponselnya di atas
meja, lalu membungkukkan badan dalam-dalam.
"Terima kasih banyak. Foto-foto yang
diambil hari ini hanya akan digunakan sebagai referensi saat menggambar
ilustrasi saja, dan tidak akan digunakan di luar tujuan tersebut. Bakal
dikelola secara tepat, dan berusaha mencegah kebocoran."
"Gaya bicaranya mirip penanganan
informasi pribadi ya."
"Karena ini informasi pribadi
tingkat tertinggi kan. Kecuali jika diwajibkan oleh hukum, foto tersebut tidak
akan diberikan kepada pihak ketiga tanpa persetujuan yang bersangkutan."
"Hukum dan peraturan seperti apa
yang sampai menyuruh membagikan fotoku coba?"
☆ ☆
Empat hari telah berlalu sejak Sensei
menjabat sebagai pemimpin proyek festival budaya. Di grup chat kelas sesekali
dikirimkan ide-ide yang dipikirkan oleh semua orang. Dari klub board game
dikirimkan pesan 'Kami sudah memikirkan misterinya jadi tolong coba
dipecahkan', dan dari kelompok cewek dikirimkan video drama pendek tentang
tidak bisa keluar dari kelas dengan pesan 'Bagaimana kalau promosinya dengan
kesan seperti ini?'.
Akan tetapi, misteri yang dipikirkan oleh
klub board game semuanya seperti pernah kulihat di suatu tempat, dan video dari
kelompok cewek terlalu terkesan lelucon internal hingga tidak bisa
ditertawakan.
Lebih-lebih lagi di antaranya, ada juga
orang yang melontarkan usulan tidak menyambung seperti, 'Supaya bisa menaikkan
harga satuan pengunjung, bagaimana kalau menyajikan kopi di tengah-tengah
pemecahan misteri?', yang terasa merepotkan.
Pengunjung kan melakukan pemecahan
misteri dalam waktu terbatas yaitu 15 menit, menyajikan minuman sudah
dipastikan hanya akan menjadi gangguan. Kalau dipikir sedikit saja harusnya
paham, tetapi mereka pasti menulisnya secara refleks begitu terlintas di pikiran.
Kesan ingin memamerkan pengetahuan 'Aku tahu istilah harga satuan pengunjung
sih' terlihat sangat jelas dan rasanya menyedihkan.
Begitulah aku mengutuk habis-habisan di
dalam hati, tetapi setiap kali ada pemberitahuan masuk, Sensei selalu
mengirimkan pesan 'Terima kasih banyak. Bakal saya konfirmasi', lalu setelah
pasti memuji ide tersebut, dia menjelaskan titik masalah maupun poin
perbaikannya secara panjang lebar dan dengan ramah.
Jujur saja, aku berpikir beban kerjanya
pasti lumayan besar. Pekerjaan Sensei itu terlalu teliti.
"Sensei, aku benar-benar minta maaf.
Sampai-sampai harus merespons satu per satu ide yang tidak penting……"
Di tengah-tengah tugas sebagai
sekretaris, saat aku meminta maaf, Sensei tersenyum kecut. Sepertinya, bahkan
dengan kemampuan Sensei dalam memperhatikan orang lain sekalipun, sepertinya
sulit untuk menanggapi semuanya.
"Bagaimana kalau begini? Pendapat
maupun ide yang diajukan oleh teman-teman sekelas, untuk sementara biarkan aku
yang memeriksa semuanya. Lalu hanya jika ada hal yang bersinar saja, barulah
dikonfirmasikan ke Sensei."
Sensei kemudian membuka mulut dengan raut
wajah bingung.
"Aduh…… aku juga awalnya berpikir
begitu sih, tapi seiring mengulang pemberian umpan balik, aku merasakan ide-ide
dari semua orang jadi semakin membaik lho. Di antaranya ada juga hal menarik
yang bahkan tidak terlintas di pikiranku, jadi aku mulai berpikir kalau
memberikan balasan secara teliti itu bukan hal yang sia-sia……"
"Eh, benarkah begitu?"
"Iya. Tentu saja, seberapa pun
dibilang ada juga orang yang terus melempar pendapat yang tidak menyambung sih,
tapi aku berniat berusaha merespons semuanya."
"Terima kasih atas kerja
kerasnya……"
Jika aku punya kemampuan umpan balik
sekelas Sensei mungkin aku bisa menggantikannya, tetapi sayangnya aku sama
sekali tidak bisa memberikan balasan yang begitu ringkas sekaligus menangkap
esensinya.
Aku merasa tidak enak karena menyita
waktunya, tetapi urusan ini mau
tidak mau harus diserahkan kepada Sensei
"Omong-omong Sensei, bagaimana
dengan progres ilustrasi heroine?"
Tiba-tiba aku teringat sesuatu dan
menanyakannya, tetapi saat itu Sensei langsung terlihat panik.
"……Anu, ilustrasi yang mana
maksudmu?"
"Ilustrasi baju renang. Kamu
menggambar ilustrasi dengan menjadikan fotoku sebagai referensi kan?"
"Be, benar juga ya……"
"Reaksi itu…… jangan-jangan ada
masalah yang terjadi?"
"Tidak, bukannya begitu kok.
Progresnya lancar sih……"
Dengan raut wajah yang tampak serba
salah, Sensei mengoperasikan pen tablet layar sentuh, lalu menampilkan
ilustrasi yang sedang digambarnya.
"Ah! Imutnya!"
Seperti yang diharapkan dari sang Dewa.
Walau masih berupa draf kasar, tetapi di tahap ini sudah terlihat jelas bahwa
draf ini bakal jadi karya yang bagus.
Tapi…… ada hal yang agak mengganjal.
Heroine di ilustrasi ini jelas-jelas
memiliki luas kain yang lebih kecil
dibanding bikini yang kukenakan.
Selain itu, entah kenapa, bagian dadanya
juga terlihat lebih besar.
Saat memastikan ekspresi Sensei, dia
memalingkan matanya dengan raut wajah canggung. Ini jelas bukan perasaanku
saja……
"Bukan begitu. Kalau memikirkan agar
terlihat menonjol di sampul kemasan, perlu dilakukan penyesuaian
sedikit……"
"Aku kan tidak mengatakan
apa-apa?"
Tanpa sadar, aku membalas dengan nada
suara yang mengandung sedikit hawa amarah.
Tidak boleh, tidak boleh. Aku yang
sekarang adalah sekretaris. Harus bersikap profesional secara penuh.
"Aku kan pada dasarnya hanya
menyediakan gambar referensi saja.
Bagaimana cara menggunakannya, itu kan
bebas terserah Sensei."
Bagus, aku sudah bisa merespons secara
sempurna sebagai sekretaris.
Dengan begini, Sensei bisa melanjutkan kegiatan berkarya tanpa perlu merasa ciut



Post a Comment