NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jitsu wa Haisupekkuna Danshi Kōkōsei - Gakunen'ichi no Bishōjo ni Hisho ni Natte Morau Volume 1 Chapter 7

Bab 7: Sekretaris Cantikku Bersedia Menjadi Model Baju Renang


(Sudut Pandang Siswa SMA Berkemampuan Tinggi)

 

Mendadak Himegi-san mengatakan ingin memakai baju renang.

 

Seberapa total dia dalam menjalankan pekerjaan sebagai sekretaris……?

 

Bukan, kalau soal selalu mengerahkan seluruh tenaga

sih aku sudah tahu, tapi sampai mau memakai baju renang juga……?

 

Jangan-jangan, karena aku akhirnya menjadi pemimpin proyek gim escape room pemecahan misteri, dia jadi merasa bertanggung jawab kan……?

 

"Bagaimana? Kalau aku yang jadi modelnya, apakah bakal membantu?"

 

Di saat aku sedang panik, Himegi-san berusaha melanjutkan pembicaraan.

 

Jujur saja usulan ini hanya ada keuntungan bagiku, tapi supaya tidak menimbulkan masalah nantinya, sebaiknya aku memintanya untuk tenang dulu.

 

"Anu, kamu nggak perlu sampai melakukan sejauh itu juga nggak apa-apa kok……?"

"Tapi, mencari posisi yang pas dari album foto kan memakan waktu yang lumayan banyak kan?"

 

"Kalau itu…… memang benar sih."

 

"Kalau begitu, bukankah lebih efisien kalau aku berganti memakai baju renang lalu mengambil foto? Padahal begitu, kenapa kamu tidak mau mencobanya?"

 

"Habisnya, aku tidak ingin kalau Himegi-san sampai menyesal……"

 

"Aku tidak bakal menyesal kok. Maksudku, ini kan gagasanku sendiri kan? Kalau aku merasa sedikit saja tidak nyaman, memangnya aku akan mengusulkannya?"

 

"……Memang seperti yang dikatakan Himegi-san sih."

 

Padahal niatnya ingin memintanya berpikir tenang, tetapi aku malah berhasil diyakinkan olehnya.

 

"Baguslah kalau kamu mengerti. Kalau begitu, sekarang aku pergi membeli baju renang dulu ya. Apakah ada ketentuan bentuk atau warnanya?"

 

"──Eh? Sampai sengaja pergi membeli?"

 

"Iya. Karena tahun ini aku tidak membeli baju renang, jadi pas banget. Mumpung sekarang sepertinya sedang ada diskon juga."

"Begitu ya…… Kalau begitu, biaya baju renang biar aku yang keluarkan, jadi minta kwitansinya ya."

 

"Mengerti. Untuk nama penerimanya diisi apa?"

 

"Dikosongkan saja tidak apa-apa. Kalau ditanyai keterangannya, minta ditulis biaya kostum ya."

 

Tanpa disadari pengambilan foto baju renang sudah dipastikan, sambil berpikir begitu aku membalasnya.

 

"Lalu, baju renang seperti apa yang sebaiknya kubeli?"

 

"Baju renang seperti apa ya……"

 

"Baju renang yang bakal dipakai heroine kan sudah diputuskan kan?"

 

"Tidak, aku masih belum memikirkan apa pun kok. Karena tidak tahu baju renang terbaru seperti apa, rencananya mau kupikirkan sambil menggambar."

 

"Ternyata begitu. Kalau begitu setelah sampai di area penjualan aku bakal mengambil foto lalu mengirimkannya, jadi nanti kamu bisa membalas dan memilih mana yang bagus?"

 

"Mengerti. ……Ah tapi, mungkin aku tidak bisa memutuskannya secepat itu. Soalnya ada pertimbangan dengan karakter lain juga."

 

"Tidak apa-apa kok. Aku bakal bersiap menunggu di area penjualan, jadi pilihlah dengan santai."

 

"Kalau begitu rasanya tidak enak…… Kalau kamu memberi tahu mau membeli di mana, aku bisa pergi melihat-lihat duluan, lalu setelah baju renangnya diputuskan aku bakal menghubungi Himegi-san."

 

"Kalau begitu, aku malah bakal menyita waktu Sensei secara sia-sia."

 

"Lagipula aku kan memang perlu memikirkan baju renangnya bagaimana, jadi tidak masalah kok. Kalau membuat Himegi-san menunggu di area penjualan, aku malah bakal panik karena harus buru-buru memutuskan kan……"

 

"Ini juga bagian dari pekerjaan sekretaris, jadi tidak usah dipikirkan sih…… Lagipula, setelah memilihkan baju renangnya, kalau tidak ada ukuran yang pas buatku kan jadi tidak ada artinya."

 

"Ah, ada masalah seperti itu juga ya……"

 

Kalau begitu, apakah tinggal menanyakan ukuran Himegi-san, lalu mencari dari antara yang cocok saja?

 

Tidak, tapi menanyakan ukuran baju renang wanita itu bagaimanapun juga gawat kan……

 

"……Maksudku, bukankah lebih baik kita pergi membeli baju renang bersama saja?"

 

Himegi-san berkata seperti bergumam.

 

Titik buta. Lagipula kalau kami berdua memang sama-sama pergi ke area penjualan, Kalau begitu, pergi bersama jelas jauh lebih praktis.

 

Dengan begini, kami secara mendadak berakhir pergi ke pusat perbelanjaan yang ada di depan stasiun.

 

☆ ☆

 

Di dalam pusat perbelanjaan, terlihat beberapa murid dari SMA yang sama. Akan tetapi Himegi-san tidak terlalu memikirkannya, lalu naik eskalator ke atas.

 

Karena tidak berani berdiri bersebelahan dengannya, aku membiarkan sisi kanan tetap kosong lalu naik satu anak tangga di bawah Himegi-san

 

Mulai sekarang aku bakal memilih baju renang yang akan dikenakan oleh Himegi-san. Mau dipikirkan berapa kali pun ini situasi yang sangat gawat.

 

Aku tidak boleh sampai ketahuan kalau sedang berharap-harap, tetapi kalau lengah sedikit wajahku rasanya mau tersenyum lebar.

 

Tak lama kemudian kami sampai di toko yang separuh area dalamnya diisi barang-barang olahraga.

 

Karena musim panas sebentar lagi berakhir, area baju renang sudah lumayan diperkecil. Sebagai gantinya, banyak juga barang diskon untuk menghabiskan stok.

 

Jika digunakan untuk ilustrasi gim sudah pasti bikini sih, tetapi ada yang hampir tidak memperlihatkan perut, ada juga yang luasnya hanya menutupi kurang dari pakaian dalam.

 

"Jadi, Takahashi-kun ingin aku memakai baju renang yang seperti apa?"

 

Mungkin demi menutupi rasa malu, Himegi-san mengatakannya seperti bercanda.

 

Aku membalas dengan nada suara serius.

 

"Kalau memikirkan penjualan, seharusnya yang lebih terbuka lebih bagus, tapi karena mungkin kamu keberatan, aku pikir lebih baik kamu memakai yang lebih tertutup, lalu sisanya akan kuselaraskan dalam imajinasi."

 

"Tapi kalau begitu, tidak ada artinya dong aku benar-benar memakai baju renang?"

 

"Bukan begitu kok. Membayangkan seseorang memakai baju renang hanya dari penampilan berseragam itu sulit, tapi kalau membayangkan baju renang lain itu hampir tidak ada repotnya kok."

 

"Karena ada gambar referensi juga kan?"

 

Entah kenapa Himegi-san mengatakannya dengan nada tidak senang.

 

"Gambar referensi?"

 

"Album foto idola."

 

"……Ah, benar juga ya."

 

Aku teringat album foto itu masih tertinggal di rak buku, lalu membenarkannya sambil panik. Mungkin dia menemukannya saat sedang membersihkan rumah tadi.

 

Gawat nih…… Album foto itu bukan cuma berisi foto baju renang, tapi juga banyak foto seperti sedang berendam di pemandian air panas……

 

Apakah aku dikira tidak bersih ya……?

 

Meski begitu barang itu kan bahan materi, dan aku tidak mungkin menyembunyikannya setiap kali Himegi-san datang, jadi mau bagaimana lagi.

 

"Sensei, tidak perlu sungkan. Karena yang memutuskan mau pakai atau tidak adalah aku, untuk sementara tolong beri tahu baju renang yang ideal."

 

Tiba-tiba, cara panggil Himegi-san berubah. Sepertinya untuk sesaat dia masuk ke mode sekretaris.

 

"Be, begitu……? Anu, kalau begitu…… mungkin sekitaran sini ya."

Aku menunjuk ke arah bikini warna merah muda yang keterbukaannya lumayan tinggi. Sudah pasti bagian perutnya tentu saja terbuka, ditambah desain yang memperlihatkan belahan dada.

 

"Tidak apa-apa. Kalau segini aku bisa pakai."

 

"Boleh!?"

 

Dia langsung menjawab, dan tanpa sadar aku malah bertanya balik dengan bahasa sopan

 

"Tentu saja. Karena aku tidak memaksakan diri, jadi jangan cemas."

 

Himegi-san mengatakannya dengan santai, lalu masuk ke ruang ganti dan menutup tirainya.

 

Mulai sekarang di dalam sana, Himegi-san bakal berganti memakai baju renang…… Karena merasa bakal jadi aneh, aku memutuskan menunggu agak menjauh.

 

Saat sedang memandangi sepatu gunung demi menenangkan perasaan, pesan masuk ke ponselku.

 

『Pergi ke mana sih (marah)』

 

Saat buru-buru kembali ke ruang ganti, Himegi-san dengan malu-malu membuka sedikit tirainya lalu mengeluarkan wajahnya, dan menatapku tajam.

 

"Kenapa malah menghilang?"

 

"Mendadak ingin melihat sepatu gunung…… Himegi-san sendiri, kenapa cuma buka sedikit begitu?"

 

"……Yang begitu, sudah pasti karena malu kalau sampai kelihatan orang lain kan."

 

"Pa, paham……?"

 

Padahal sebentar lagi aku akan memotret penampilannya seperti itu.

 

Apa dia benar-benar tidak masalah……?

 

"Lalu, bagaimana? Baju renang ini sesuai imajinasimu?"

 

"……Anu……"

 

Begitu melihat penampilan Himegi-san dari depan, hal pertama yang membuatku kewalahan adalah belahan dadanya. Lekuk tubuhnya yang penuh itu hanya tertutup seadanya. Terlalu luar biasa.

 

Saat kupaksa pandanganku turun, terlihat pinggangnya yang ramping dan pusarnya yang imut. Dari situ ke bawah, aku terlalu takut untuk melihatnya.




"Bagus kok menurutku……"

 

Sambil memalingkan mata dari proporsi tubuhnya yang sempurna, aku membalas dengan suara yang seperti dipaksakan keluar. Himegi-san hanya berkata singkat, "Aku paham," lalu menutup tirai dan mulai

berganti pakaian.

 

Setelah itu, Himegi-san keluar sambil membawa bikininya.

 

Pembayarannya memang ditanggung olehku, tetapi karena bakal sama-sama canggung jika aku menerima bikini yang baru saja dilepasnya, kami berdua pun berjalan menuju kasir.

 

"Minta kwitansinya ya. Untuk nama penerimanya dikosongkan saja tidak apa-apa."

 

Begitu aku melontarkan kalimat formal tersebut, Himegi-san berkata, "Kelihatan seperti orang dewasa yang sudah bekerja, keren deh."

 

"Omong-omong Takahashi-kun, setelah ini kita mau bagaimana?"

 

Tepat saat keluar dari toko, dia tiba-tiba bertanya begitu.

 

Mau bagaimana lagi, bukankah seharusnya kita langsung pulang ke rumah lalu melakukan pengambilan foto? Mumpung sudah datang ke pusat perbelanjaan, apakah ada barang yang ingin dibelinya ya?

 

Aku memutar otak secara maksimal, memikirkan bagaimana sebaiknya menjawab.

 

"Anu, Himegi-san ada toko yang ingin didatangi?"

 

"Tidak kok. Tidak ada yang khusus."

 

Lah, tidak ada ternyata.

 

Kalau begitu bukankah langsung menuju ke rumahku saja sudah cukup?

 

Apakah kalau begitu bakal terasa terlalu praktis, atau dianggap terlalu mengejar efisiensi ya?

 

"……Mumpung sudah di sini, mau makan dulu sebelum pulang?"

 

Saat aku memberanikan diri melontarkan usulan, ekspresi Himegi-san langsung menjadi ceria.

 

"Hore! ……Ah, maaf, ternyata tidak jadi deh."

 

"Ehh!?"

 

"Mari cepat pulang lalu ambil foto. Makannya setelah itu saja ya."

 

Begitu mengatakannya, Himegi-san langsung berjalan menuju pintu keluar.

 

Aku tidak paham sama sekali…… Kenapa pemikirannya mendadak berubah coba……?



Chapter 6 | ToC | Chapter 8

0

Post a Comment

close