NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jitsu wa Haisupekkuna Danshi Kōkōsei - Gakunen'ichi no Bishōjo ni Hisho ni Natte Morau Volume 1 Chapter 10

Bab 10: Ternyata Siswa SMA Berkemampuan Tinggi Memiliki Teman Masa Kecil yang Imut


(Sudut Pandang Gadis Tercantik Seangkatan)

 

“Omong-omong, Kagurazaka-san datang ke sini mau melakukan apa?”

 

Saat tiba-tiba merasa penasaran dan menanyakannya, entah kenapa Sensei menunjukkan raut wajah seolah-olah sudah pasrah.

 

“Katanya dia datang untuk membuat draf kasar manga. Yui itu komikus yang menjual karyanya di acara doujin skala besar, dan dia sering meminta saran dariku.”

 

“Eh. Tapi Sensei, bukankah kamu bilang tidak mau melakukan pembuatan bersama?”

 

“Itu karena aku cuma memutuskan tidak melakukannya kalau mengenai gim saja kok.”

 

“Begitu ya. Jadi kalau dengan gadis imut, kamu mau membuat karya bersama.”

 

“Rasanya kamu sudah salah paham cukup jauh. Gim dan manga itu proses pembuatannya sama sekali berbeda, jadi──”

 

Namun, tepat saat Sensei hendak melanjutkan pembelaan dirinya, bel pintu berbunyi.

 

“Yaho~. Haruto, apa kabar~?”

 

Begitu Sensei menekan tombol bicara, terdengar suara ceria dari sana.

 

Kami berpindah ke genkan, lalu Sensei membuka pintu. Di sana berdiri seorang gadis cantik berambut merah.

 

Dia terlihat jauh lebih imut daripada di foto, benar-benar seperti seorang idola.




"──Uwah! Benar-benar gadis yang luar biasa cantik ya!"

 

Kagurazaka-san yang melihatku langsung berteriak begitu.

 

"Aku justru iri pada Kagurazaka-san. Kamu tipe gadis imut seperti yang ada di album foto."

 

"Nn? Album foto?"

 

"Ah, tidak, bukan apa-apa kok."

 

Gara-gara terlalu panik, aku sampai keceplosan mengatakan hal yang aneh.

 

Meski begitu…… ternyata Sensei memang menyukai tipe imut ya……

 

"──Himegi-san? Kenapa kamu menatapku tajam begitu?"

 

"Aku tidak menatap tajam kok. Mataku dari awalnya memang seperti ini."

 

"…………"

 

Sensei tampak seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya tidak mengatakan apa-apa.

 

"Lalu Haruto, orang ini siapa?"

 

"Himegi Iori-san, teman sekelas. Dia bekerja sebagai sekretarisku."

"Eeh!? Kamu mempekerjakan sekretaris!? Karena lagi banyak uang ya!?"

 

"Uang memang ada, tapi yang mempekerjakannya itu ibuku. Mana tanpa izin lagi."

 

"Saya sangat mohon maaf karena dipekerjakan tanpa izin."

 

"Ah, bukannya bermaksud begitu…… Maaf ya kalau membuatmu tersinggung."

 

"Ti, tidak, saya yang telah menyampaikan hal yang tidak sopan."

 

Padahal aku cuma melontarkan sedikit sindiran halus, tapi Sensei malah jadi panik. Aku panik dan berulang kali menundukkan kepala.

 

Kagurazaka-san mengamati kami berdua dengan tenang.

 

Namun begitu mata kami bertemu, dia segera tersenyum.

 

"Salam kenal. Saya Himegi Iori, bekerja sebagai sekretaris Sensei. Mohon bantuannya."

 

"Eh, Haruto, kamu menyuruh sekretaris memanggilmu 'Sensei'?"

 

"Bukan aku yang menyuruh kok."

 

"Kalau mempertimbangkan pencapaian Sensei, panggilan itu sudah sepantasnya."

"Orang yang tampak sangat serius ya. ──Ah, salam kenal. Aku Kagurazaka Yui. Boleh kupanggil Iori-san?"

 

"Tentu saja. Kagurazaka-san sendiri punya hubungan seperti apa dengan Sensei?"

 

"Aku dan Haruto itu rumahnya sebelahan, terus karena seumuran jadi sering main bareng. Yang biasa disebut teman masa kecil gitu deh."

 

Apa-apaan itu. Bukannya itu tipe yang nantinya bakal menikah.

 

Awalnya punya hubungan seperti kakak adik, tapi memasuki masa remaja gara-gara diejek orang sekitar jadinya perlahan makin berjarak, lalu di momen tertentu sama-sama menyadari kalau saling menyukai, terus langsung melaju sampai ke pernikahan kan. Tipe yang karena sudah berhubungan antar keluarga sejak kecil jadi pembicaraannya lancar kan.

 

"Aku dan Yui sama-sama suka manga, jadi dulu sering pinjam-meminjam. Terus, aku juga minta tolong buat test play gim yang kubuat."

 

"Walau test play yang namanya debugging sih. Soalnya Haruto kan suka mempekerjakan orang dengan sewenang-wenang."

 

"Debugging……? Sensei, apakah itu?"

 

"Itu pekerjaan memainkan gim yang sedang dikembangkan berulang kali untuk menemukan bug. Yui itu debugger yang unggul, yang selalu melakukan gerakan di luar dugaan pengembang."

 

"Sebelum Haruto pindah ke sini, hampir setiap hari kita ketemu kan. Waktu bangun tidur rasanya selalu barengan terus."

 

Melihat mereka berdua berbicara dengan mesra, aku merasakan sensasi terasingkan dan ingin lari dari tempat ini.

 

Tapi kalau pulang ke rumah di sini, aku pasti bakal kepikiran dan tertekan. Sekarang tidak ada pilihan selain bertahan.

 

Maksudku, hubungan yang saling memanggil nama tanpa embel-embel itu rasanya iri banget. Aku juga ingin memanggil Sensei dengan

"Haruto"……

 

Tentu saja, kalau mengubah cara panggil di momen seperti ini pasti bakal dicurigai yang tidak-tidak, jadi aku tidak bakal melakukannya sih.

 

"Untuk sementara, ngobrol di genkan juga gimana kan, mari masuk ke

dalam."

 

Didesak oleh Sensei, kami berpindah ke ruang tamu.

 

"Lho, kok suasana ruangannya agak berubah ya? Pakai pajang bunga segala di meja."

 

"Kalau itu dibawakan oleh Himegi-san kok."

"Bunga yang mekar di halaman rumahku. Berpikir mungkin bisa membuat ruangan jadi lebih cantik."

 

"Seperti yang diharapkan dari sekretaris. Seleranya bagus ya."

 

"Terima kasih banyak. Omong-omong Kagurazaka-san, apakah sebelumnya pernah datang ke ruangan ini?"

 

"Iya, lumayan sering datang kok. Kalau lagi ada sekolah sih cuma berapa kali sebulan, tapi pas liburan musim panas kemarin hampir tiap hari datang."

 

"Setiap hari……!?"

 

"Kalau Iori-san?"

 

"Saya datang setiap hari sejak tanggal 3 September. Karena saya adalah sekretaris."

 

"Begitu ya, namanya juga pekerjaan kan."

 

Entah kenapa balasan yang diberikannya terasa punya duri. Mungkin aku saja yang terlalu banyak berpikir, tapi rasanya seperti sedang disaingi.

 

Maksudku, frekuensi kedatangan Kagurazaka-san tidak bisa diabaikan.

 

Menggunakan seluruh waktu liburan musim panas demi Sensei, dia pasti menyadarinya sebagai seorang pria.

Yah, Sensei kan terlalu ganteng, jadi mau bagaimana lagi sih……

 

"Ah, maaf. Kagurazaka-san, mau minum apa? Ada kopi, cafe au lait, kokoa, teh, dan teh hijau."

 

"Terima kasih. Aku mau teh saja deh."

 

"Mengerti. Kalau Sensei cafe au lait tidak apa-apa kan?"

 

"Iya. Terima kasih."

 

Aku pergi ke dapur lalu mulai menyiapkan minuman. Sensei dan

Kagurazaka-san dengan gerakan terbiasa mendaratkan duduk di sofa untuk porsi 3 orang.

 

Aku juga ingin segera ke sana, tetapi harus memprioritaskan pekerjaan sebagai sekretaris terlebih dahulu.

 

Saat menunggu air mendidih, percakapan mereka berdua yang duduk di sofa terdengar olehku.

 

"Ngomong-ngomong Haruto. Mumpung sudah di sini, boleh aku konsultasi soal naskah?"

 

"Tentu saja. Kali ini orisinal? Atau karya turunan?"

 

"Orisinal. Aku ingin menggambar cerita tentang sepasang cewek dan cowok teman masa kecil, yang karena suatu hal berkembang jadi hubungan asmara."

Begitu keinginan Kagurazaka-san terdengar olehku, jantungku langsung berdebar kaget.

 

Ada ya cara pendekatan yang sejelas itu!?

 

"Yui beneran suka banget cerita tentang teman masa kecil yang jadian ya."

 

"Habisnya bagus kan. Momen saat sepasang cewek dan cowok yang dari kecil selalu bareng dan tahu segalanya tentang satu sama lain, mulai menyadari pihak lawan sebagai lawan jenis."

 

Suara Kagurazaka-san terdengar sangat bersemangat.

 

Jangan tertipu Sensei. Kagurazaka-san itu lewat cerita itu ingin membuatmu menyadari dirinya yang merupakan teman masa kecil tahu.

 

"Maksudku, ide teman masa kecil kan sudah terlalu sering kamu pakai, bukannya sudah tidak ada sisanya lagi."

 

"Makanya aku mengandalkan Haruto kan. Coba pikirkan momen baru saat mulai menyadari gadis teman masa kecil sebagai lawan jenis dong."

 

"Dibilang begitu juga…… Yang sudah pernah kamu pakai di karya sebelumnya itu kan, 『Sadar kalau teman masa kecil ditembak teman sekelas terus muncul rasa saing』, 『Pertama kali lihat teman masa kecil pakai bikini di kolam renang umum』, 『Lihat teman masa kecil yang biasanya tegar lagi menangis terus jadi ingin melindungi』, kan?"

"Terus ada juga 『Diputuskan teman masa kecil bakal pindah rumah setelah lulus, terus jadi berpikir tidak ingin terpisah』, sama 『Waktu kelelahan setengah mati pas naik gunung, teman masa kecil menggantikan dibawakan ransel lalu turun gunung』 juga ada kan. Tapi dua-duanya dari sudut pandang heroine sih."

 

"Kalau membacakan ulang doujinshi milik Yui, rasanya kenangan masa lalu jadi membumbung kembali ya. Kan aku pernah dibawa ke kolam

renang buat wawancara lapangan, sampai disuruh naik gunung juga."

 

"Tapi gim milik Haruto juga sama kan. Event taman bermain di 『Houkago Jihen』 itu tindakan heroine-nya kan persis seperti aku."

 

"Berarti kita berdua saling memberi dan menerima ya."

 

Gunununu……

 

Mereka menciptakan kenangan sebagai dua orang lawan jenis dengan dalih riset lapangan, apalagi mempublikasikannya ke dunia sebagai sebuah karya, ini benar-benar terlalu bikin iri……

 

Yah, beberapa hari lalu aku juga membantu wawancara lapangan sih……

 

Kalau saja aku bertemu Sensei lebih awal, aku pasti bisa pergi ke taman bermain juga……

 

Saat aku sedang menggertakkan gigi seperti itu, Yui-san membuka mulutnya dengan agak malu-malu.

"……Kalau tidak kepikiran ide untuk cerita tentang teman masa kecil yang jadian, pakai pengalaman nyata juga tidak apa-apa lho? Haruto, waktu lagi bersamaku ada tidak hal-hal yang menurutmu menyenangkan saat bersamaku……?"

 

Kagurazaka-san mendadak melontarkan pertanyaan yang sangat blak-blakan!?

 

"Waktu aku minta tolong debugging, kamu mau membantu tanpa menunjukkan wajah kesal itu buatku senang sih."

 

Sensei memberikan jawaban yang super praktis!!

 

"Begitu ya. Ehehe."

 

Dia malah senang!! Baik banget sih dia!!

 

Yui-san ini anak yang baik ya…… Hubungan di mana mereka saling mendukung dari dulu juga bagus…… Rasanya aku jadi ingin mendukungnya……

 

──Tidak, tidak. Dia itu saingan tahu. Jangan sampai luluh.

 

"Kalau begitu, bagaimana kalau kali ini kita buat yang keterlaluan tapi

mudah dipahami?"

 

Kagurazaka-san melontarkan usulan seperti itu.

 

"Contohnya, dua orang yang sejak TK selalu mandi bareng, begitu masuk

SMP mendadak jadi merasa malu."

 

"──SMP!?"

 

Karena kaget, tanpa sadar aku melontarkan suara yang hampir mirip jeritan.

 

Mereka berdua kaget lalu melihat ke arahku.

 

"Iori-san, ada apa?"

 

"Tidak, anu…… Seberapa pun dibilang teman masa kecil, apakah dua orang itu terus mandi bareng sampai SMP? Bukankah biasanya saat kelas awal SD sudah mulai merasa malu?"

 

"Aah, memangnya setting-nya terlalu dipaksakan ya? Kita berdua juga berhenti pas kelas 3 SD kan."

 

"Sampai kelas 3 SD kalian mandi bareng!?"

 

"Iya lho. Haruto yang merasa malu terus minta berhenti sih."

 

Melihat Kagurazaka-san yang menceritakannya sambil tersenyum, Sensei memalingkan matanya dengan raut canggung. Pemandangan yang rasanya memperlihatkan keseimbangan kekuatan di antara mereka berdua.

 

"Apakah Iori-san punya ide tertentu?"

 

Mendadak dilempari pertanyaan, aku kaget.

 

"Ide, maksudnya?"

 

"Momen saat dibuat berdebar-debar oleh anak cowok teman masa kecil, ada tidak?"

 

"Sayang sekali, karena aku tidak punya teman masa kecil, aku tidak tahu."

 

"Kalau begitu tidak harus teman masa kecil deh. Saat Iori-san jatuh cinta, apa yang menjadi pemicunya?"

 

"Pemicu……"

 

Yang pertama kali terlintas di dalam kepalaku adalah perasaan hormat atas dilahirkannya 『Houkago Jihen』.

 

Akan tetapi pada saat memainkan gimnya, aku belum jatuh cinta pada pembuatnya. Perasaan hormatku sejak kapan ya berubah menjadi rasa cinta?

 

Saat mengingat kembali berbagai hal yang terjadi setelah aku menjadi sekretaris Sensei, rasanya aku tidak langsung jatuh cinta kepadanya dalam sekali kejadian. Perasaanku tumbuh sedikit demi sedikit dari berbagai hal. Misalnya, ketika teman sekelas yang kukira tukang membolos ternyata adalah sosok seperti Dewa. Atau ketika kami beraktivitas bersama dan dia ternyata begitu cekatan serta bisa diandalkan, sampai-sampai sulit dipercaya kalau dia masih anak SMA. Atau saat festival yang kami datangi untuk riset lapangan, ketika dia justru bersenang-senang seperti anak kecil. Atau ketika kukira kemampuan komunikasinya rendah, tetapi ternyata dia memiliki kemampuan kepemimpinan yang luar biasa.

 

──Lho, ini kan semuanya terang-terangan membicarakan tentang Sensei. Kalau diceritakan secara asal-asalan bisa-bisa disalahpahami.

 

"Maaf. Aku tidak terlalu memikirkan hal yang khusus sih."

 

"Begitu ya~……"

 

Kagurazaka-san bergumam dengan nada kecewa, tetapi begini saja sudah cukup. Perasaanku tidak boleh sampai tertebak oleh mereka.

 

──Tidak, tunggu sebentar.

 

Aku menyadari hal yang gawat. Alasan utamaku berada di tempat ini saat ini adalah 'Menyapa Kagurazaka-san'. Karena sapaannya sudah selesai, dan setelah menyajikan minuman untuk mereka berdua, alasan untuk ikut duduk sebagai sekretaris pun hilang.

 

Tapi, aku masih belum ingin pulang. Setelah aku keluar dari ruangan ini, percakapan seperti apa yang bakal dilakukan oleh mereka berdua, aku terlalu penasaran.

 

Bagaimanapun juga, aku harus membuat alasan agar bisa tetap bertahan di tempat ini……!

 

Karena panik, aku akhirnya angkat bicara.

 

"Ini memang dari sudut pandang wanita, tetapi menurutku akan bagus kalau ceritanya tentang seorang gadis yang melihat sisi baru dari teman masa kecil yang selama ini dikiranya sudah dikenal luar dalam, lalu jatuh cinta karena gap positif itu. Seperti teman masa kecil yang dikira tidak berguna mendadak bangkit di saat kritis, lalu terbongkar kalau ternyata selama ini dia adalah orang berbakat yang sengaja menyembunyikan kemampuannya."

 

"Maksudmu cerita pertarungan?"

 

"Yang kubayangkan adalah situasi kritis dalam bisnis sih, tetapi cerita pertarungan juga bagus menurutku."

 

"Begitu ya. Misalnya, tepat sebelum rapat, mesin fotokopi tiba-tiba macet karena kertas tersangkut sehingga dokumen tidak bisa disiapkan, lalu teman masa kecilnya dengan cepat memperbaikinya."

 

"Idenya sendiri tidak buruk menurutku. Hanya saja, memperbaiki mesin fotokopi yang macet karena kertas tersangkut sepertinya tidak terlalu terlihat keren."

 

"Memang benar sih…… Kalau begitu, anggaplah kita memikirkannya ke arah sana…… Oke, kali ini mari pakai yang itu. Iori-san, mau bantu memunculkan draf ide?"

 

"Mengerti."

 

"Hei, itu kan di luar tugas Himegi-san sebagai sekretaris tahu."

 

"Sensei, tidak apa-apa kok. Kalau aku membantu pekerjaan Kagurazaka-san, pada hasilnya kan bakal terhubung dengan berkurangnya beban Sensei juga."

 

"Kalau itu memang benar sih, tapi……"

 

"Sip deh! Kalau begitu Iori-san, pertama-tama mari pikirkan ekosistem sang teman masa kecil! Supaya di adegan kebangkitannya kelihatan keren, biasanya dia harus dibuat payah banget kan!"

 

"Benar sekali. Omong-omong, apakah boleh jika saya berasumsi bahwa teman masa kecil yang bangkit itu adalah seorang pria?"

 

"Boleh banget! Mari pikirkan syarat-syarat cowok yang super tidak berguna!"

 

"Benar ya…… Contohnya, di rak buku kamarnya terdapat banyak album foto idola wanita."

 

"Himegi-san……?"

 

"Bercanda kok."

 

Aku tersenyum kepada Sensei yang tampak panik.



Chapter 9 | ToC | Chapter 11

Post a Comment

Post a Comment

close