Bab 10: Ternyata Siswa SMA Berkemampuan Tinggi Memiliki Teman Masa Kecil yang Imut
(Sudut Pandang
Gadis Tercantik Seangkatan)
“Omong-omong, Kagurazaka-san datang ke
sini mau melakukan apa?”
Saat tiba-tiba merasa penasaran dan
menanyakannya, entah kenapa Sensei menunjukkan raut wajah seolah-olah sudah
pasrah.
“Katanya dia datang untuk membuat draf
kasar manga. Yui itu komikus yang menjual karyanya di acara doujin skala besar,
dan dia sering meminta saran dariku.”
“Eh. Tapi Sensei, bukankah kamu bilang
tidak mau melakukan pembuatan bersama?”
“Itu karena aku cuma memutuskan tidak
melakukannya kalau mengenai gim saja kok.”
“Begitu ya. Jadi kalau dengan gadis imut,
kamu mau membuat karya bersama.”
“Rasanya
kamu sudah salah paham cukup jauh. Gim dan manga itu proses pembuatannya sama
sekali berbeda, jadi──”
Namun, tepat saat Sensei hendak
melanjutkan pembelaan dirinya, bel pintu berbunyi.
“Yaho~. Haruto, apa kabar~?”
Begitu Sensei menekan tombol bicara,
terdengar suara ceria dari sana.
Kami berpindah ke genkan, lalu Sensei
membuka pintu. Di sana berdiri seorang gadis cantik berambut merah.
Dia terlihat jauh lebih imut daripada di foto, benar-benar seperti seorang idola.
"──Uwah!
Benar-benar gadis yang luar biasa cantik ya!"
Kagurazaka-san yang melihatku langsung
berteriak begitu.
"Aku justru iri pada Kagurazaka-san.
Kamu tipe gadis imut seperti yang ada di album foto."
"Nn? Album foto?"
"Ah, tidak, bukan apa-apa kok."
Gara-gara terlalu panik, aku sampai
keceplosan mengatakan hal yang aneh.
Meski begitu…… ternyata Sensei memang
menyukai tipe imut ya……
"──Himegi-san?
Kenapa kamu menatapku tajam begitu?"
"Aku tidak menatap tajam kok. Mataku
dari awalnya memang seperti ini."
"…………"
Sensei tampak seperti ingin mengatakan
sesuatu, tetapi pada akhirnya tidak mengatakan apa-apa.
"Lalu Haruto, orang ini siapa?"
"Himegi Iori-san, teman sekelas. Dia
bekerja sebagai sekretarisku."
"Eeh!? Kamu mempekerjakan
sekretaris!? Karena lagi banyak uang ya!?"
"Uang memang ada, tapi yang
mempekerjakannya itu ibuku. Mana tanpa izin lagi."
"Saya sangat mohon maaf karena
dipekerjakan tanpa izin."
"Ah, bukannya bermaksud begitu……
Maaf ya kalau membuatmu tersinggung."
"Ti, tidak, saya yang telah
menyampaikan hal yang tidak sopan."
Padahal aku cuma melontarkan sedikit
sindiran halus, tapi Sensei malah jadi panik. Aku panik dan berulang kali
menundukkan kepala.
Kagurazaka-san mengamati kami berdua
dengan tenang.
Namun begitu mata kami bertemu, dia
segera tersenyum.
"Salam kenal. Saya Himegi Iori,
bekerja sebagai sekretaris Sensei. Mohon bantuannya."
"Eh, Haruto, kamu menyuruh
sekretaris memanggilmu 'Sensei'?"
"Bukan aku yang menyuruh kok."
"Kalau mempertimbangkan pencapaian
Sensei, panggilan itu sudah sepantasnya."
"Orang
yang tampak sangat serius ya. ──Ah, salam kenal. Aku Kagurazaka Yui. Boleh
kupanggil Iori-san?"
"Tentu saja. Kagurazaka-san sendiri
punya hubungan seperti apa dengan Sensei?"
"Aku dan Haruto itu rumahnya
sebelahan, terus karena seumuran jadi sering main bareng. Yang biasa disebut
teman masa kecil gitu deh."
Apa-apaan itu. Bukannya itu tipe yang
nantinya bakal menikah.
Awalnya punya hubungan seperti kakak
adik, tapi memasuki masa remaja gara-gara diejek orang sekitar jadinya perlahan
makin berjarak, lalu di momen tertentu sama-sama menyadari kalau saling
menyukai, terus langsung melaju sampai ke pernikahan kan. Tipe yang karena
sudah berhubungan antar keluarga sejak kecil jadi pembicaraannya lancar kan.
"Aku dan Yui sama-sama suka manga,
jadi dulu sering pinjam-meminjam. Terus, aku juga minta tolong buat test play
gim yang kubuat."
"Walau test play yang namanya
debugging sih. Soalnya Haruto kan suka mempekerjakan orang dengan
sewenang-wenang."
"Debugging……? Sensei, apakah
itu?"
"Itu pekerjaan memainkan gim yang
sedang dikembangkan berulang kali untuk menemukan bug. Yui itu debugger yang
unggul, yang selalu melakukan gerakan di luar dugaan pengembang."
"Sebelum Haruto pindah ke sini,
hampir setiap hari kita ketemu kan. Waktu bangun tidur rasanya selalu barengan
terus."
Melihat mereka berdua berbicara dengan
mesra, aku merasakan sensasi terasingkan dan ingin lari dari tempat ini.
Tapi kalau pulang ke rumah di sini, aku
pasti bakal kepikiran dan tertekan. Sekarang tidak ada pilihan selain bertahan.
Maksudku, hubungan yang saling memanggil
nama tanpa embel-embel itu rasanya iri banget. Aku juga ingin memanggil Sensei
dengan
"Haruto"……
Tentu saja, kalau mengubah cara panggil
di momen seperti ini pasti bakal dicurigai yang tidak-tidak, jadi aku tidak
bakal melakukannya sih.
"Untuk sementara, ngobrol di genkan
juga gimana kan, mari masuk ke
dalam."
Didesak oleh Sensei, kami berpindah ke
ruang tamu.
"Lho, kok suasana ruangannya agak
berubah ya? Pakai pajang bunga segala di meja."
"Kalau itu dibawakan oleh Himegi-san
kok."
"Bunga yang mekar di halaman
rumahku. Berpikir mungkin bisa membuat ruangan jadi lebih cantik."
"Seperti yang diharapkan dari
sekretaris. Seleranya bagus ya."
"Terima kasih banyak. Omong-omong
Kagurazaka-san, apakah sebelumnya pernah datang ke ruangan ini?"
"Iya, lumayan sering datang kok.
Kalau lagi ada sekolah sih cuma berapa kali sebulan, tapi pas liburan musim
panas kemarin hampir tiap hari datang."
"Setiap hari……!?"
"Kalau Iori-san?"
"Saya datang setiap hari sejak
tanggal 3 September. Karena saya adalah sekretaris."
"Begitu ya, namanya juga pekerjaan
kan."
Entah kenapa balasan yang diberikannya
terasa punya duri. Mungkin aku saja yang terlalu banyak berpikir, tapi rasanya
seperti sedang disaingi.
Maksudku, frekuensi kedatangan
Kagurazaka-san tidak bisa diabaikan.
Menggunakan seluruh waktu liburan musim
panas demi Sensei, dia pasti menyadarinya sebagai seorang pria.
Yah, Sensei kan terlalu ganteng, jadi mau
bagaimana lagi sih……
"Ah, maaf. Kagurazaka-san, mau minum
apa? Ada kopi, cafe au lait, kokoa, teh, dan teh hijau."
"Terima kasih. Aku mau teh saja
deh."
"Mengerti. Kalau Sensei cafe au lait
tidak apa-apa kan?"
"Iya. Terima kasih."
Aku pergi ke dapur lalu mulai menyiapkan
minuman. Sensei dan
Kagurazaka-san dengan gerakan terbiasa
mendaratkan duduk di sofa untuk porsi 3 orang.
Aku juga ingin segera ke sana, tetapi
harus memprioritaskan pekerjaan sebagai sekretaris terlebih dahulu.
Saat menunggu air mendidih, percakapan
mereka berdua yang duduk di sofa terdengar olehku.
"Ngomong-ngomong Haruto. Mumpung
sudah di sini, boleh aku konsultasi soal naskah?"
"Tentu saja. Kali ini orisinal? Atau
karya turunan?"
"Orisinal. Aku ingin menggambar
cerita tentang sepasang cewek dan cowok teman masa kecil, yang karena suatu hal
berkembang jadi hubungan asmara."
Begitu keinginan Kagurazaka-san terdengar
olehku, jantungku langsung berdebar kaget.
Ada ya cara pendekatan yang sejelas itu!?
"Yui beneran suka banget cerita
tentang teman masa kecil yang jadian ya."
"Habisnya bagus kan. Momen saat
sepasang cewek dan cowok yang dari kecil selalu bareng dan tahu segalanya
tentang satu sama lain, mulai menyadari pihak lawan sebagai lawan jenis."
Suara Kagurazaka-san terdengar sangat
bersemangat.
Jangan tertipu Sensei. Kagurazaka-san itu
lewat cerita itu ingin membuatmu menyadari dirinya yang merupakan teman masa
kecil tahu.
"Maksudku, ide teman masa kecil kan
sudah terlalu sering kamu pakai, bukannya sudah tidak ada sisanya lagi."
"Makanya aku mengandalkan Haruto
kan. Coba pikirkan momen baru saat mulai menyadari gadis teman masa kecil
sebagai lawan jenis dong."
"Dibilang
begitu juga…… Yang sudah pernah kamu pakai di karya sebelumnya itu kan, 『Sadar
kalau teman masa kecil ditembak teman sekelas terus muncul rasa saing』, 『Pertama
kali lihat teman masa kecil pakai bikini di kolam renang umum』, 『Lihat
teman masa kecil yang biasanya tegar lagi menangis terus jadi ingin melindungi』,
kan?"
"Terus
ada juga 『Diputuskan teman masa kecil bakal pindah rumah
setelah lulus, terus jadi berpikir tidak ingin terpisah』,
sama 『Waktu kelelahan setengah mati pas naik gunung,
teman masa kecil menggantikan dibawakan ransel lalu turun gunung』
juga ada kan. Tapi dua-duanya dari sudut pandang heroine sih."
"Kalau membacakan ulang doujinshi
milik Yui, rasanya kenangan masa lalu jadi membumbung kembali ya. Kan aku
pernah dibawa ke kolam
renang buat wawancara lapangan, sampai
disuruh naik gunung juga."
"Tapi
gim milik Haruto juga sama kan. Event taman bermain di 『Houkago
Jihen』 itu tindakan heroine-nya kan persis seperti
aku."
"Berarti kita berdua saling memberi
dan menerima ya."
Gunununu……
Mereka menciptakan kenangan sebagai dua
orang lawan jenis dengan dalih riset lapangan, apalagi mempublikasikannya ke
dunia sebagai sebuah karya, ini benar-benar terlalu bikin iri……
Yah, beberapa hari lalu aku juga membantu
wawancara lapangan sih……
Kalau saja aku bertemu Sensei lebih awal,
aku pasti bisa pergi ke taman bermain juga……
Saat aku sedang menggertakkan gigi
seperti itu, Yui-san membuka mulutnya dengan agak malu-malu.
"……Kalau tidak kepikiran ide untuk
cerita tentang teman masa kecil yang jadian, pakai pengalaman nyata juga tidak
apa-apa lho? Haruto, waktu lagi bersamaku ada tidak hal-hal yang menurutmu
menyenangkan saat bersamaku……?"
Kagurazaka-san mendadak melontarkan
pertanyaan yang sangat blak-blakan!?
"Waktu aku minta tolong debugging,
kamu mau membantu tanpa menunjukkan wajah kesal itu buatku senang sih."
Sensei memberikan jawaban yang super
praktis!!
"Begitu ya. Ehehe."
Dia malah senang!! Baik banget sih dia!!
Yui-san ini anak yang baik ya…… Hubungan
di mana mereka saling mendukung dari dulu juga bagus…… Rasanya aku jadi ingin
mendukungnya……
──Tidak,
tidak. Dia itu saingan tahu. Jangan sampai luluh.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kali
ini kita buat yang keterlaluan tapi
mudah dipahami?"
Kagurazaka-san melontarkan usulan seperti
itu.
"Contohnya, dua orang yang sejak TK
selalu mandi bareng, begitu masuk
SMP mendadak jadi merasa malu."
"──SMP!?"
Karena kaget, tanpa sadar aku melontarkan
suara yang hampir mirip jeritan.
Mereka berdua kaget lalu melihat ke
arahku.
"Iori-san, ada apa?"
"Tidak, anu…… Seberapa pun dibilang
teman masa kecil, apakah dua orang itu terus mandi bareng sampai SMP? Bukankah
biasanya saat kelas awal SD sudah mulai merasa malu?"
"Aah, memangnya setting-nya terlalu
dipaksakan ya? Kita berdua juga berhenti pas kelas 3 SD kan."
"Sampai kelas 3 SD kalian mandi
bareng!?"
"Iya lho. Haruto yang merasa malu
terus minta berhenti sih."
Melihat Kagurazaka-san yang
menceritakannya sambil tersenyum, Sensei memalingkan matanya dengan raut
canggung. Pemandangan yang rasanya memperlihatkan keseimbangan kekuatan di
antara mereka berdua.
"Apakah Iori-san punya ide
tertentu?"
Mendadak dilempari pertanyaan, aku kaget.
"Ide, maksudnya?"
"Momen saat dibuat berdebar-debar
oleh anak cowok teman masa kecil, ada tidak?"
"Sayang sekali, karena aku tidak
punya teman masa kecil, aku tidak tahu."
"Kalau begitu tidak harus teman masa
kecil deh. Saat Iori-san jatuh cinta, apa yang menjadi pemicunya?"
"Pemicu……"
Yang
pertama kali terlintas di dalam kepalaku adalah perasaan hormat atas
dilahirkannya 『Houkago Jihen』.
Akan tetapi pada saat memainkan gimnya,
aku belum jatuh cinta pada pembuatnya. Perasaan hormatku sejak kapan ya berubah
menjadi rasa cinta?
Saat mengingat kembali berbagai hal yang
terjadi setelah aku menjadi sekretaris Sensei, rasanya aku tidak langsung jatuh
cinta kepadanya dalam sekali kejadian. Perasaanku tumbuh sedikit demi sedikit
dari berbagai hal. Misalnya, ketika teman sekelas yang kukira tukang membolos
ternyata adalah sosok seperti Dewa. Atau ketika kami beraktivitas bersama dan
dia ternyata begitu cekatan serta bisa diandalkan, sampai-sampai sulit
dipercaya kalau dia masih anak SMA. Atau saat festival yang kami datangi untuk
riset lapangan, ketika dia justru bersenang-senang seperti anak kecil. Atau
ketika kukira kemampuan komunikasinya rendah, tetapi ternyata dia memiliki
kemampuan kepemimpinan yang luar biasa.
──Lho,
ini kan semuanya terang-terangan membicarakan tentang Sensei. Kalau diceritakan
secara asal-asalan bisa-bisa disalahpahami.
"Maaf. Aku tidak terlalu memikirkan
hal yang khusus sih."
"Begitu
ya~……"
Kagurazaka-san bergumam dengan nada
kecewa, tetapi begini saja sudah cukup. Perasaanku tidak boleh sampai tertebak
oleh mereka.
──Tidak,
tunggu sebentar.
Aku menyadari hal yang gawat. Alasan
utamaku berada di tempat ini saat ini adalah 'Menyapa Kagurazaka-san'. Karena
sapaannya sudah selesai, dan setelah menyajikan minuman untuk mereka berdua,
alasan untuk ikut duduk sebagai sekretaris pun hilang.
Tapi, aku masih belum ingin pulang.
Setelah aku keluar dari ruangan ini, percakapan seperti apa yang bakal
dilakukan oleh mereka berdua, aku terlalu penasaran.
Bagaimanapun juga, aku harus membuat
alasan agar bisa tetap bertahan di tempat ini……!
Karena panik, aku akhirnya angkat bicara.
"Ini memang dari sudut pandang
wanita, tetapi menurutku akan bagus kalau ceritanya tentang seorang gadis yang
melihat sisi baru dari teman masa kecil yang selama ini dikiranya sudah dikenal
luar dalam, lalu jatuh cinta karena gap positif itu. Seperti teman masa kecil
yang dikira tidak berguna mendadak bangkit di saat kritis, lalu terbongkar
kalau ternyata selama ini dia adalah orang berbakat yang sengaja menyembunyikan
kemampuannya."
"Maksudmu cerita pertarungan?"
"Yang kubayangkan adalah situasi
kritis dalam bisnis sih, tetapi cerita pertarungan juga bagus menurutku."
"Begitu ya. Misalnya, tepat sebelum
rapat, mesin fotokopi tiba-tiba macet karena kertas tersangkut sehingga dokumen
tidak bisa disiapkan, lalu teman masa kecilnya dengan cepat
memperbaikinya."
"Idenya sendiri tidak buruk
menurutku. Hanya saja, memperbaiki mesin fotokopi yang macet karena kertas
tersangkut sepertinya tidak terlalu terlihat keren."
"Memang benar sih…… Kalau begitu,
anggaplah kita memikirkannya ke arah sana…… Oke, kali ini mari pakai yang itu.
Iori-san, mau bantu memunculkan draf ide?"
"Mengerti."
"Hei, itu kan di luar tugas
Himegi-san sebagai sekretaris tahu."
"Sensei, tidak apa-apa kok. Kalau
aku membantu pekerjaan Kagurazaka-san, pada hasilnya kan bakal terhubung dengan
berkurangnya beban Sensei juga."
"Kalau itu memang benar sih,
tapi……"
"Sip deh! Kalau begitu Iori-san,
pertama-tama mari pikirkan ekosistem sang teman masa kecil! Supaya di adegan
kebangkitannya kelihatan keren, biasanya dia harus dibuat payah banget
kan!"
"Benar sekali. Omong-omong, apakah
boleh jika saya berasumsi bahwa teman masa kecil yang bangkit itu adalah
seorang pria?"
"Boleh banget! Mari pikirkan
syarat-syarat cowok yang super tidak berguna!"
"Benar ya…… Contohnya, di rak buku
kamarnya terdapat banyak album foto idola wanita."
"Himegi-san……?"
"Bercanda kok."
Aku tersenyum kepada Sensei yang tampak panik.
Chapter 9 | ToC | Chapter 11



Post a Comment