Bab 11: Sekretaris Cantikku Akhirnya Menginap di Rumahku
(Sudut Pandang Siswa SMA Berkemampuan Tinggi)
Dua gadis yang baru saja saling kenal di rumahku, entah kenapa mulai memikirkan rancangan manga bersama.
"Di halaman pertama, bagaimana kalau kita gambarkan hubungan mereka sebagai teman masa kecil. Contohnya seperti ini……"
Yui menggambar draf kasar naskah di perangkat tablet, sementara Himegi-san melihatnya dengan penuh kekaguman.
"Si cowok tidak kunjung datang di waktu yang dijanjikan, lalu saat
disamperi dia ternyata masih tidur, tambah lagi kamarnya berantakan, sampai-sampai ketahuan juga barang yang agak mesum……"
"Luar biasa ya Kagurazaka-san! Layar yang tadinya putih bersih makin lama makin berubah jadi manga!"
"Ehehe. Yah, habisnya aku kan memang selalu menggambar."
Himegi-san berkali-kali berseru kagum, dan Yui setiap kali menunjukkan raut wajah bangga.
Ini adalah perkembangan yang tidak terbayangkan, tetapi karena sepertinya tidak ada giliranku untuk tampil, aku memutuskan untuk melakukan pekerjaanku sendiri.
Setelah beberapa saat aku mengerjakan tugas, Yui berteriak, "Selesai!".
Waktu menunjukkan pukul 19.00 lewat. Karena ini waktu yang pas untuk makan malam, aku memanggil mereka.
"Terima kasih atas kerja kerasnya. Makan malamnya mau bagaimana?"
"Ah, sudah jam segini ya. Aku bakal siapkan dengan cepat."
"Tidak, tidak, tidak apa-apa kok. Kalian kan pasti lelah setelah memikirkan draf naskah, jadi tugas sekretaris hari ini disudahi saja. Biar kubeli sesuatu di minimarket."
"──Iya, terima kasih ya."
"Traktiran Haruto?"
"Boleh-boleh saja sih."
"Hore~♪"
Dengan begini kami bertiga pergi ke minimarket yang berjarak 30 detik jalan kaki, lalu membeli salad, sup, roti lapis, hingga ayam goreng lalu pulang ke rumah.
Di tengah-tengah menata makanan di atas meja, Yui mengajukan pertanyaan kepada kami.
"Mau menonton anime sesuatu? Atau mau main gim?"
"Makan sambil main gim?"
"Kalau pakai pengontrol sih jelas tidak mungkin, tapi kalau mahjong kan bisa."
"Tidak, anak cewek SMA biasa tidak bisa main mahjong tahu. Himegi-san tidak paham kan?"
"Paham kok."
"Paham ternyata!?"
"Gara-gara pengaruh ayahku…… Sebaliknya, apakah Takahashi-kun dan yang lainnya bisa?"
"Aku dan Yui gara-gara pengaruh manga sih."
"Kalau begitu, mari unduh aplikasi mahjong yang sama, lalu kita main mahjong 3 orang."
Dengan begini, sambil menyantap makanan di atas meja, diputuskan untuk bermain mahjong lewat ponsel.
Menurut pemikiranku, cara bermain mahjong itu memperlihatkan kepribadian masing-masing. Contohnya Yui, dia adalah tipe yang terus mengincar kombinasi bernilai besar tanpa memedulikan risiko.
"Ah! Aku kali ini sepertinya bisa menang Daisansen! Kalian berdua, kalau punya Chun atau Haku, tolong tahan jangan dibuang dulu ya!"
Dengan kesan seperti ini, demi tujuannya sendiri dia tidak keberatan melibat orang-orang di sekitarnya.
Yah, tentu saja tidak ada orang bodoh yang mau bekerja sama walau dikatakan begitu sih.
Di sisi lain, setelah dicoba bermain sekitar 1 jam, Himegi-san ternyata adalah tipe yang tidak menyeberangi jembatan berbahaya, melainkan mengumpulkan poin sedikit demi sedikit dengan tekun.
……Cuma, Himegi-san secara keseluruhan keberuntungannya sangat bagus.
"──Tsumo. Kokushi Musou."
"Beneran? Ini sudah 2 kali lho dalam 1 jam terakhir."
"Fufu. Hari ini kondisiku sedang bagus."
"Syukurlah di Jepang mahjong taruhan itu dilarang……"
"Kalau diizinkan kamu mau pasang taruhan?"
"Kalau pasang taruhan kan makin mendebarkan. Contohnya setiap 10.000 poin mencabut 1 gigi."
"Mahjong taruhan di mana pemenang maupun yang kalah sama-sama tidak untung……"
Tepat di saat aku tercengang, aku menyadari bahwa waktu sudah melewati pukul 20.30.
"Sudah waktunya kita akhiri saja. Himegi-san, kuantarkan sampai stasiun ya. Atau lebih baik kupanggilkan taksi?"
"Tidak usah, aku bisa ke stasiun sendirian kok, jadi tidak apa-apa."
"Tidak, karena cemas jadi biarkan aku mengantarmu."
"Begitu……? Kalau begitu, boleh aku minta tolong……"
Di saat kami sedang berinteraksi seperti itu, Yui berbaring telentang di
sofa.
"Dengar Haruto, karena malas pulang, hari ini aku boleh menginap tidak?"
"──Eh!?"
Himegi-san menatapku dan Yui bergantian dengan tatapan seolah tidak percaya.
Menginap seperti ini adalah hal yang biasa bagi kami berdua, tetapi jika dipikirkan secara tenang, cewek menginap di kamar cowok mungkin adalah hal yang tidak biasa ya. Setidaknya biar kujelaskan dulu.
"Yui itu sering menginap kok. Karena sering begadang buat kerjaan manga, memperbaiki bug gim, atau main mahjong."
"Tapi, rumah ini kan cuma ada 1 tempat tidur……?"
"Di dalam lemari kamar Haruto ada kasur lipat lho. Kalau mau, sofa ini juga sandarannya bisa dilepas terus dipakai tidur."
"Ja, jadi begitu……"
Setelah bergumam sambil menyentuh dagunya dengan tangan kanan, Himegi-san entah kenapa menunjukkan raut wajah seolah telah membulatkan tekad.
"Dengan kata lain, aku hari ini juga bisa menginap dong?"
"Bagaimana jalan pikirannya sampai bisa tiba pada kesimpulan seperti itu coba……!?"
"Habisnya, tempat yang bisa dipakai tidur ada 3 lokasi kan?"
"Memang benar sih, tapi……"
"Coba lihat, aku hari ini kondisinya lagi sangat bagus lho. Aku ingin melanjutkan mahjong sedikit lagi."
"Tidak, tidak, ini kan aplikasi, bukankah bisa dilanjutkan lagi setelah
Himegi-san pulang ke rumah?"
"Tidak boleh. Aku tidak ingin memutus alur bagus ini dengan beristirahat."
Himegi-san mulai melontarkan kata-kata seperti seorang penjudi……
"Biarkan saja dia menginap secara normal kan? Tentu saja kalau sudah dapat izin dari orang tuanya sih."
Yui mengatakannya sambil tetap berbaring di sofa.
Membiarkan seorang cewek menginap di rumah bukanlah sesuatu yang bisa diputuskan sembarangan, tahu……
Meski begitu karena aku mengizinkan Yui menginap, aku jadi tidak punya alasan kuat untuk melarangnya, ya……
"Aku sudah menghubungi Ibu. Katanya boleh menginap di rumah Takahashi-kun."
"Sudah menghubungi!? Dan diizinkan!?"
"Ibu kan kenal dengan Takahashi-kun, lalu ada Yui-san juga kan."
"……Yah, kalau Himegi-san tidak keberatan sih, aku tidak punya alasan untuk menolaknya……"
"Terima kasih ya. Mohon bantuannya."
Himegi-san mengatakannya sambil tersenyum cerah seperti matahari.
"Omong-omong Iori-san, kamu punya piyama? Kalau aku sih selalu sedia di rumah ini."
"──Ah, tidak punya."
"Toko pakaian di depan stasiun masih buka sampai jam 21.00, lho, ayo buru-buru pergi beli. Terus, sikat gigi dan yang lainnya juga butuh kan."
"Benar juga ya. Ayo cepat."
Sambil berbicara begitu, mereka berdua bergegas menuju ke genkan.
"Aku bakal siapkan tempat tidurnya, jadi kalian berdua pergi saja
berdua."
"Takahashi-kun, terima kasih ya."
"Kalau begitu, kami pergi dulu"
Tak lama kemudian mereka berdua keluar. Ruang tamu mendadak menjadi sunyi, dan aku kembali bertanya-tanya, bagaimana bisa semuanya berakhir seperti ini.
Chapter 10 | ToC | Chapter 12



Post a Comment