Bab 9: Sekretaris Cantikku Sepertinya Akan Bertemu dengan Teman Masa Kecilku
(Sudut Pandang
Siswa SMA Berkemampuan Tinggi)
Bagaimana ini…… Aku membuat Himegi-san
kesal.
Yah, wajar saja kalau dia marah, padahal
dia sudah bersedia menjadi model baju renang, tapi hasilnya malah kuubah……
Awalnya aku juga berniat menggambarnya
setia mungkin. Tapi begitu prosesnya berjalan, aku jadi ingin menambahkan
sedikit di beberapa bagian……
Foto milik Himegi-san tidak diragukan
lagi sangat sempurna. Tapi itu adalah kesempurnaan sebagai sebuah foto,
sedangkan jika dipikirkan sebagai sebuah ilustrasi, mau tidak mau timbul
kebutuhan untuk memolesnya.
"Aku pikir ilustrasi ini sangat
memikat lho. Aku menantikan hasil jadinya."
Himegi-san memberikan pujian tambahan,
tetapi apakah ini sejujurnya……?
Aku sudah tidak bisa memercayai apa pun
lagi……!!
"Kalau begitu Sensei, untuk tugas
hari ini apakah seperti biasa dengan membersihkan rumah dan menyiapkan
makanan?"
"Ah, maaf. Sebenarnya, aku ingin
minta tolong dirapikan kwitansi, apakah boleh?"
"Tentu saja. Pekerjaan seperti apa
yang harus kulakukan?"
"Aku ingin kamu memfoto kwitansinya
satu per satu, lalu menyatukannya dan mengirimkannya ke konsultan pajak. Cara
mengirimnya nanti kuajari. Kwitansi yang sudah selesai difoto, tolong
kelompokkan per bulan lalu masukkan ke dalam amplop ya."
Sambil berkata begitu, aku mengeluarkan
setumpuk kwitansi dari dalam meja.
"Kwitansinya apakah lebih baik
diurutkan sesuai tanggal?"
"Tidak, asal sudah dipisah per bulan
saja sudah cukup, jadi tidak usah pikirkan tanggalnya."
Setelah mengajukan beberapa pertanyaan
mengenai prosedur kerja, Himegi-san mulai melakukan tugas pemilahan. Dia menata
kwitansi di atas meja lalu membaginya per bulan.
"Kalau punya pekerjaan seperti
Sensei, gim atau manga pun bisa masuk biaya operasional ya. Iri deh."
"Memang benar, itu bagian yang enak
sih. Cuma, gim yang sedang jadi bahan pembicaraan harus kupelajari walau tidak
tertarik sekalipun, jadi lumayan berat lho."
"Dipelajari……?"
"Dimainkan lalu dicek isinya."
"Aah, begitu ya. Bagi Sensei, gim
itu bukannya permainan melainkan pekerjaan, jadi rasanya lebih dekat ke belajar
ya?"
"Begitulah. Tentu saja, banyak juga
gim yang bisa kunikmati secara normal sih. Pada dasarnya aku suka gim jenis apa
pun kok."
"Fumu-fumu…… Ah, kopi yang diminum
di kafe juga masuk biaya operasional ya."
"Benar. Lalu contohnya, kalau bisa
menjelaskan alasan kenapa pergi ke taman bermain, biaya masuknya pun bisa jadi
biaya operasional tahu."
"Skenario tambahan kemarin itu kan
berlatar taman bermain kan. Waktu itu kamu melakukan wawancara lapangan seperti
apa?"
"Anu, makan pop corn sama corn dog,
beli macam-macam di area merchandise, terus pakai bando yang bisa bikin jadi
seperti karakter maskotnya kali ya."
"Ehh! Sampai pakai bando juga! Di
luar dugaan ya!"
"Cuma, padahal aku ingin naik
sebanyak mungkin wahana, tapi teman yang ikut bersamaku di tengah jalan bilang
capek, jadi cuma bisa naik dua wahana saja."
"──Eh?"
"Hm?"
"Teman jalan itu, bukannya Sensei
pergi sendirian?"
"Tidak, aku mengajak teman kok.
Soalnya saat menunggu wahana, aku
ingin tahu obrolan seperti apa yang bakal
dilakukan."
"Aku kaget. Ternyata Sensei punya
teman ya."
"Kamu menganggapku apa sih?"
"
Orang yang seperti apa? Apakah ada
fotonya?"
"Ada kok. Karena di dalam taman
bermain aku mengambil foto banyak banget, pasti ada yang terpotong di suatu
tempat……"
Aku membuka folder bahan materi di
komputer, lalu menampilkan salah satu foto dari dalamnya untuk kuperlihatkan.
Di sana terpotret Kagurazaka Yui yang
sedang mengukir senyuman polos
tanpa beban sambil mengenakan bando.
"──Ehh!?"
Himegi-san melontarkan suara kaget, lalu
melihat wajahku.
"Teman yang pergi bersama itu,
seorang wanita!?"
"Iya, memangnya kenapa."
"Apalagi luar biasa imut……!!
Kepolosannya tidak main-main……!!"
Di dalam foto Yui, Himegi-san memujinya
habis-habisan.
"Orang ini, punya hubungan seperti
apa denganmu?"
"Kan sudah kubilang, teman."
"Tapi kalian pergi ke taman bermain
cuma berdua kan?"
"Iya. Teman baik hati yang mau
menemaniku riset lapangan dengan senang hati."
"Bukan hal seperti itu maksudku……
Tapi, aku juga kan pergi ke festival kembang api berdua saja dengan Sensei
sih……"
Himegi-san memasang raut wajah rumit
sambil bergumam entah apa.
Ini adalah naluri liarku sih, tetapi
rasanya lebih baik tidak membicarakan soal Yui secara agresif lagi. Sepertinya
Himegi-san sedang salah paham yang aneh-aneh……
Saat aku sedang berpikir seperti itu,
tepat pada saat itu ponselku menerima pesan.
Nama pengirimnya adalah orang yang baru
saja jadi bahan pembicaraan.
Awal
pesannya adalah, 『Mulai sekarang aku boleh main ke rumah Haruto?』.
Begitu otakku menyadarinya, kepalaku
langsung terasa pusing.
Yui mau datang ke rumah ini mulai
sekarang? Kenapa coba?
Sambil merasa gugup aku coba buka
aplikasinya, lalu pesannya berlanjut seperti ini.
『Mulai sekarang aku boleh main ke rumah Haruto?
Draf kasar bab terbaruku belum jadi 1 halaman pun dan ini gawat banget, jadi
aku ingin berkonsultasi』
Begitu ya…… ternyata begitu toh……
Yui teman masa kecilku adalah seorang
komikus yang menerbitkan karyanya di acara doujin skala besar.
Aku membalas pesannya.
『Lewat telepon tidak bisa?』
Kemudian, balasan segera datang.
『Bakal jadi panjang, jadi aku ingin bicara
langsung. Sekarang tidak boleh datang?』
……Bukan tidak boleh. Sama sekali bukan
tidak boleh sih, tapi……
Entah kenapa, aku punya firasat bakal
terjadi hal yang kurang bagus.
Tapi, aku tidak bisa menjelaskan dengan
baik apa sebenarnya yang terasa tidak beres itu. Hanya saja, mengundang Yui
dalam kondisi Himegi-san berada di rumah, entah kenapa membuatku
merasa agak enggan.
Meski begitu, baik Himegi-san maupun Yui,
bukanlah pacarku atau semacamnya. Secara teori maupun moral, seharusnya tidak
ada masalah sama sekali.
Hmm. Setelah kupikirkan baik-baik,
ternyata ini cuma kegeeran dari diriku sendiri. Malu rasanya mengingat aku
sempat memikirkan macam-macam.
"Anu, Himegi-san. Karena kenalanku
bilang mau datang ke rumah mulai sekarang, tidak apa-apa kalau tugas hari ini
disudahi saja."
Begitu kusampaikan hal itu, mata
Himegi-san seketika menjadi tajam.
"Mohon maaf jika lancang, bolehkah
saya mengetahui nama orang tersebut?"
"Namanya……
Kagurazaka. Ditulis dengan 'Tanjakan Kegembiraan Dewa' sih tapi──"
"Nama depannya?"
Himegi-san langsung memotong ucapanku dan
menanyakan nama depannya.
Aku merasakan keringat dingin keluar.
"……Yui."
"Seorang wanita ya. Jangan-jangan,
orang yang ada di foto ini?"
"Memang benar sih."
"Begitu ya…… Sensei, kenapa kamu
berusaha menyembunyikan kenyataan bahwa gadis ini mau datang ke rumah?"
"Eh, tidak, bukannya aku sengaja mau
menyembunyikannya sih……"
"Tapi saat membicarakan taman
bermain tadi, kamu menyebut Kagurazaka-san sebagai 'Teman' kan? Namun baru
saja, kamu menyebutnya 'Kenalan'."
"I, itu cuma kebetulan saja kok. Di
dalam diriku teman dan kenalan itu artinya hampir sama kok."
"Sensei yang merupakan seorang
profesional dalam olah kata, menggunakannya secara terpisah tanpa ada
niat?"
Himegi-san menatapku dengan curiga.
Memang tidak bisa dipungkiri, mungkin di
sudut hatiku aku merasa bersalah, sehingga sengaja memilih kata-kata yang bisa
menimbulkan salah paham……
"Tapi Himegi-san, dari tadi bahasa
hormatmu makin formal, kan?"
"Hanya perasaanmu saja. Soal tugas
hari ini, saya mengerti, tetapi bolehkah saya ikut menyapa Kagurazaka-san
juga?"
"Ke, kenapa……?"
"Sebagai sekretaris, saya ingin
mengetahui hubungan antarmanusia Sensei."
"Situasi darurat……?"
"Atau, apakah akan ada masalah jika
saya sampai bertemu dengan Kagurazaka-san?"
"Tidak, bukannya ada masalah
sih……"
Ada masalah…… atau tidak ada ya……?
Sambil merasa ragu, aku mengirimkan pesan
kepada Yui.
『Sekarang teman sekolah lagi main ke sini, jadi
bagaimana kalau hari lain saja? Sabtu atau Minggu minggu ini misalnya』
Meski kupikir tidak ada masalah, aku
mencoba menolak kedatangannya dengan halus.
Kemudian, balasan segera datang.
『Teman itu, cewek?』
Kenapa bisa tahu!?
『Iya, wanita kok』
Saat aku membalas sambil berpura-pura
tenang, balasan segera datang lagi.
『Sekarang tidak boleh datang? Aku ingin menyapa
temanmu itu』
Kenapa mereka berdua sama-sama ingin
saling menyapa sih……!?
Bukannya biasanya kita tidak ingin
bertemu dengan temannya teman ya……?
Akan
tetapi, menolaknya di sini juga bakal terkesan aneh. Apakah tidak ada cara
untuk membuat mereka berdua tidak saling bertemu──
Di saat aku sedang memusingkan kepala
seperti itu, serangan susulan dari Yui datang.
『Maksudku, aku sudah jalan ke tempatmu nih』
Sudah tidak ada yang bisa kulakukan.
Chapter 8 | ToC | Chapter 10



Post a Comment