NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jitsu wa Haisupekkuna Danshi Kōkōsei - Gakunen'ichi no Bishōjo ni Hisho ni Natte Morau Volume 1 Chapter 8

Bab 8: Aku Mencoba Menjadi Model Baju Renang Demi Siswa SMA Berkemampuan Tinggi


(Sudut Pandang Gadis Tercantik Seangkatan)

 

Hampir saja aku makan tepat sebelum memakai bikini. Padahal aku harus menunjukkan perut yang bahkan 1 mikrometer lebih ramping kepada Sensei.

 

Tepat setelah kembali ke rumah Sensei, aku berpindah ke ruang ganti lalu menguncinya.

 

Untuk berganti ke bikini yang baru saja kubeli, aku mulai melepas pakaian. Di rumah seorang anak cowok, walau hanya beberapa detik, berada tanpa sehelai benang pun jelas-jelas membuatku merasa tegang.

 

Apalagi kunci pintu ini adalah tipe yang bisa dibuka dari sisi sebelah sana jika menggunakan koin.

 

Tentu saja, aku paham kalau Sensei tidak akan melakukan hal seperti itu sih……

 

Tak lama setelah selesai berganti pakaian, aku menatap diriku yang terpantul di cermin yang mengkilap bersih. Jujur saja, hasilnya terasa lumayan bagus.

 

Saat membuka pintu ruang ganti, aku bisa merasakan Sensei yang menunggu di ruang tamu sampai menahan napas.

Pada saat itu, situasi di mana aku mengenakan baju renang di dalam rumah seketika menjadi sangat malu.

 

Sensei juga sepertinya merasa malu, hingga pandangannya malah dialihkan ke arah yang sama sekali berbeda. Kesannya yang tidak terbiasa dengan wanita terasa imut.

 

"──Sensei, tolong beri petunjuk harus mengambil posisi seperti apa ya."

 

Menyembunyikan kepanikan, aku memanggil Sensei dengan mode sekretaris.

 

"Anu…… karena ingin mencoba berbagai komposisi, pertama-tama sambil berdiri, bisakah mencoba membungkukkan badan ke depan?

……Nah, begitu. Lalu, dengan kesan menatap ke arah kamera……"

 

Sensei, yang tampak gugup dan terbata-bata, mengarahkan ponselnya lalu mulai mengambil foto.

 

Di dalam ruangan yang hening tanpa suara, hanya bunyi jepretan dari ponsel saja yang menggema. Sensei berdiri, duduk, lalu berdiri lagi, mengubah sudut pengambilan foto sedikit demi sedikit.

 

……Padahal sudah susah payah memakai baju renang, tapi pengambilan foto ini berbeda dari yang kuinginkan.

 

"Sensei. Mumpung ada model hidup di sini, aku berpikir lebih baik memintaku mengambil lebih banyak pose lho."

 

"Eh…… Ah, iya……"

 

"Lalu, aku pernah mendengar kalau juru foto itu mengambil foto sambil memuji objek fotonya tahu."

 

"Memuji……?"

 

"Kalau mengambil foto secara tanpa suara, kita berdua bakal sama-sama canggung kan? Maksudnya memuji itu dilakukan demi mencairkan kecanggungan kan."

 

"Begitu ya…… bakal kucoba……!"

 

Sensei menunjukkan raut wajah yang seolah-olah telah menguatkan tekad.

 

"……Himegi-san. Baju renang itu, sangat cocok buatmu, ……da, dan imut lho."

 

Momen saat dipuji begitu, aku merasakan suhu tubuhku sendiri naik sekitar 2 derajat.

 

Walau aku sendiri yang memicu pemicunya, dipuji itu tetap saja membuatku senang.

 

"……Terima kasih banyak."

 

"Maaf ya, tapi bisakah minta tolong ambil beberapa pola posisi secara bebas?"

"Secara bebas──seperti ini?"

 

Aku berdiri tegak, bertolak pinggang, lalu mencoba mengangkat rambutku ke atas

 

"Posisi mana pun bagus ya. Kamu langsung menangkap maksudku, sangat membantu tahu."

 

"Yah, kalau cuma segini sih."

 

"Ah, ekspresi yang tadi, luar biasa bagus. Himegi-san berdiri saja sudah jadi gambar ya. Cuma melihatnya saja rasanya seperti mau terhisap masuk."

 

"…………"

 

Aku sampai lupa. Kemampuan memuji milik Sensei itu kan tidak wajar tingginya.

 

"Selanjutnya bisakah mencoba posisi berlutut? ……Nah, sempurna. Kameranya sampai kelihatan senang lho."

 

Mulai memanusiakan kamera!?

 

"Selanjutnya bisakah mencoba berbaring terlentang? Satu tangan di dahi, lalu tangan yang satu lagi ditaruh di perut…… nah, begitu!"

 

Sensei sepertinya makin bersemangat, dan memberikan petunjuk posisi secara berurutan.

"Sambil tetap menatap kamera, bisakah membuat ekspresi yang agak lesu?"

 

Pada akhirnya dia sampai memberi petunjuk untuk ekspresi wajah juga.

 

Sambil menyimpan keraguan apakah hal ini dibutuhkan padahal nantinya bakal jadi wajah sang heroine, aku mengarahkan wajah lesu ke arah kamera.

 

Dengan begini, pengambilan foto pun selesai tanpa hambatan. Saat diperlihatkan foto-foto yang diambil, menurut diriku sendiri semuanya terlihat memikat.

 

"……Ini, apakah benar-benar perlu kubuat jadi ilustrasi ya? Bukankah bakal lebih disambut gembira kalau dipublikasikan seperti ini saja?"

 

Sensei mengajukan keraguan dengan raut wajah serius.

 

"Karena ini gim, jadi harus dibuat jadi ilustrasi dong."

 

"Ah, maaf. Soalnya semua fotonya punya tingkat penyelesaian yang sangat tinggi sampai-sampai aku jadi memikirkan hal yang tidak masuk akal begitu."

 

Sensei bergumam dengan sungguh-sungguh sambil mengusap layar ponselnya.

 

Ini sudah seperti pengakuan cinta…… Tentu saja, penyebab utamanya adalah gara-gara aku menyuruhnya memujiku tadi sih.

 

Di situ Sensei menaruh ponselnya di atas meja, lalu membungkukkan badan dalam-dalam.

 

"Terima kasih banyak. Foto-foto yang diambil hari ini hanya akan digunakan sebagai referensi saat menggambar ilustrasi saja, dan tidak akan digunakan di luar tujuan tersebut. Bakal dikelola secara tepat, dan berusaha mencegah kebocoran."

 

"Gaya bicaranya mirip penanganan informasi pribadi ya."

 

"Karena ini informasi pribadi tingkat tertinggi kan. Kecuali jika diwajibkan oleh hukum, foto tersebut tidak akan diberikan kepada pihak ketiga tanpa persetujuan yang bersangkutan."

 

"Hukum dan peraturan seperti apa yang sampai menyuruh membagikan fotoku coba?"

 

☆ ☆

 

Empat hari telah berlalu sejak Sensei menjabat sebagai pemimpin proyek festival budaya. Di grup chat kelas sesekali dikirimkan ide-ide yang dipikirkan oleh semua orang. Dari klub board game dikirimkan pesan 'Kami sudah memikirkan misterinya jadi tolong coba dipecahkan', dan dari kelompok cewek dikirimkan video drama pendek tentang tidak bisa keluar dari kelas dengan pesan 'Bagaimana kalau promosinya dengan kesan seperti ini?'.

Akan tetapi, misteri yang dipikirkan oleh klub board game semuanya seperti pernah kulihat di suatu tempat, dan video dari kelompok cewek terlalu terkesan lelucon internal hingga tidak bisa ditertawakan.

 

Lebih-lebih lagi di antaranya, ada juga orang yang melontarkan usulan tidak menyambung seperti, 'Supaya bisa menaikkan harga satuan pengunjung, bagaimana kalau menyajikan kopi di tengah-tengah pemecahan misteri?', yang terasa merepotkan.

 

Pengunjung kan melakukan pemecahan misteri dalam waktu terbatas yaitu 15 menit, menyajikan minuman sudah dipastikan hanya akan menjadi gangguan. Kalau dipikir sedikit saja harusnya paham, tetapi mereka pasti menulisnya secara refleks begitu terlintas di pikiran. Kesan ingin memamerkan pengetahuan 'Aku tahu istilah harga satuan pengunjung sih' terlihat sangat jelas dan rasanya menyedihkan.

 

Begitulah aku mengutuk habis-habisan di dalam hati, tetapi setiap kali ada pemberitahuan masuk, Sensei selalu mengirimkan pesan 'Terima kasih banyak. Bakal saya konfirmasi', lalu setelah pasti memuji ide tersebut, dia menjelaskan titik masalah maupun poin perbaikannya secara panjang lebar dan dengan ramah.

 

Jujur saja, aku berpikir beban kerjanya pasti lumayan besar. Pekerjaan Sensei itu terlalu teliti.

 

"Sensei, aku benar-benar minta maaf. Sampai-sampai harus merespons satu per satu ide yang tidak penting……"

 

Di tengah-tengah tugas sebagai sekretaris, saat aku meminta maaf, Sensei tersenyum kecut. Sepertinya, bahkan dengan kemampuan Sensei dalam memperhatikan orang lain sekalipun, sepertinya sulit untuk menanggapi semuanya.

 

"Bagaimana kalau begini? Pendapat maupun ide yang diajukan oleh teman-teman sekelas, untuk sementara biarkan aku yang memeriksa semuanya. Lalu hanya jika ada hal yang bersinar saja, barulah dikonfirmasikan ke Sensei."

 

Sensei kemudian membuka mulut dengan raut wajah bingung.

 

"Aduh…… aku juga awalnya berpikir begitu sih, tapi seiring mengulang pemberian umpan balik, aku merasakan ide-ide dari semua orang jadi semakin membaik lho. Di antaranya ada juga hal menarik yang bahkan tidak terlintas di pikiranku, jadi aku mulai berpikir kalau memberikan balasan secara teliti itu bukan hal yang sia-sia……"

 

"Eh, benarkah begitu?"

 

"Iya. Tentu saja, seberapa pun dibilang ada juga orang yang terus melempar pendapat yang tidak menyambung sih, tapi aku berniat berusaha merespons semuanya."

 

"Terima kasih atas kerja kerasnya……"

 

Jika aku punya kemampuan umpan balik sekelas Sensei mungkin aku bisa menggantikannya, tetapi sayangnya aku sama sekali tidak bisa memberikan balasan yang begitu ringkas sekaligus menangkap esensinya.

 

Aku merasa tidak enak karena menyita waktunya, tetapi urusan ini mau

tidak mau harus diserahkan kepada Sensei

 

"Omong-omong Sensei, bagaimana dengan progres ilustrasi heroine?"

 

Tiba-tiba aku teringat sesuatu dan menanyakannya, tetapi saat itu Sensei langsung terlihat panik.

 

"……Anu, ilustrasi yang mana maksudmu?"

 

"Ilustrasi baju renang. Kamu menggambar ilustrasi dengan menjadikan fotoku sebagai referensi kan?"

 

"Be, benar juga ya……"

 

"Reaksi itu…… jangan-jangan ada masalah yang terjadi?"

 

"Tidak, bukannya begitu kok. Progresnya lancar sih……"

 

Dengan raut wajah yang tampak serba salah, Sensei mengoperasikan pen tablet layar sentuh, lalu menampilkan ilustrasi yang sedang digambarnya.

 

"Ah! Imutnya!"

Seperti yang diharapkan dari sang Dewa. Walau masih berupa draf kasar, tetapi di tahap ini sudah terlihat jelas bahwa draf ini bakal jadi karya yang bagus.

 

Tapi…… ada hal yang agak mengganjal. Heroine di ilustrasi ini jelas-jelas

memiliki luas kain yang lebih kecil dibanding bikini yang kukenakan.

 

Selain itu, entah kenapa, bagian dadanya juga terlihat lebih besar.

 

Saat memastikan ekspresi Sensei, dia memalingkan matanya dengan raut wajah canggung. Ini jelas bukan perasaanku saja……

 

"Bukan begitu. Kalau memikirkan agar terlihat menonjol di sampul kemasan, perlu dilakukan penyesuaian sedikit……"

 

"Aku kan tidak mengatakan apa-apa?"

 

Tanpa sadar, aku membalas dengan nada suara yang mengandung sedikit hawa amarah.

 

Tidak boleh, tidak boleh. Aku yang sekarang adalah sekretaris. Harus bersikap profesional secara penuh.

 

"Aku kan pada dasarnya hanya menyediakan gambar referensi saja.

Bagaimana cara menggunakannya, itu kan bebas terserah Sensei."

 

Bagus, aku sudah bisa merespons secara sempurna sebagai sekretaris.

 

Dengan begini, Sensei bisa melanjutkan kegiatan berkarya tanpa perlu merasa ciut



Chapter 7 | ToC | Chapter 9

0

Post a Comment

close