Bab 5: Entah Bagaimana, Aku Malah Jadi Pemimpin Proyek
(Sudut Pandang
Siswa SMA Berkemampuan Tinggi)
Dua hari telah berlalu sejak festival
kembang api yang kudatangi bersama Himegi-san. Berkat riset lapangan tersebut,
aku mendapatkan inspirasi yang sangat kuat, hingga waktu di luar makan dan
tidur terus kugunakan untuk bekerja. Bahkan di dalam mimpi pun aku memikirkan
kelanjutan skenario dan komposisi ilustrasi, jadi mungkin satu-satunya saat aku
benar-benar lepas dari pekerjaan hanyalah ketika menyantap masakan yang
dibuatkan Himegi-san.
Jalan pulang dari festival kembang api.
Pengalaman menggendong Himegi-san di punggung membuat hasrat berkaryaku
menembus batas. Itu karena aku ingin mengekspresikan gejolak emosi tersebut ke
dalam karya.
Sampai sekarang aku masih bisa
mengingatnya dengan jelas. Tubuhnya yang ramping perlahan disandarkan ke
punggungku, dan merasakan kehangatan tubuhnya. Lengan halus melingkar di
leherku, serta aroma manis yang mengusik rongga hidungku. Dan bagaimana aku menyelipkan
kedua tangan ke belakang lututnya sambil gemetaran karena gugup.
Saat mengerahkan tenaga untuk berdiri
lalu mulai melangkah, darah di sekujur tubuhku serasa mau mendidih. Setiap kali
melangkah, sensasi lembut itu terasa menembus kain yukata.
Kelembutan khas wanita menempel erat di
punggung, jadi wajar saja.
Aku sudah berusaha mengusir
pikiran-pikiran tidak sopan, tetapi mau bagaimana lagi, aku tetap terdistraksi.
Lebih-lebih lagi, seluruh sarafku malah terfokus ke bagian itu.
Aku mengira diriku adalah orang yang
lebih rasional, jadi aku terkejut saat menyadari diriku dikuasai oleh pemikiran
yang begitu terkesan awam.
Selama ini, aku tidak pernah menaruh
perasaan cinta yang begitu kuat pada wanita. Alasannya, karena dibanding wanita
di dunia nyata, karakter wanita yang muncul di dalam gim jauh lebih unggul.
Karakter wanita di gim dirancang dan
dibuat untuk memberikan kegembiraan dan rasa tersentuh bagi pemain. Percakapan
mengalir dengan tempo yang bagus, tidak melakukan hal-hal yang membuat pemain
merasa tidak nyaman tanpa alasan, dan jika tidak salah memilih langkah, rasa
sukanya pasti akan naik. Di atas hal itu, momen yang paling memikat diekstrak
menjadi sebuah cerita, jadi kita bisa menyukainya dengan efisiensi biaya yang
sangat bagus.
Di sisi lain, wanita di dunia nyata
menurutku penyesuaian keseimbangannya gagal.
Masalah utamanya adalah status
tersembunyi bernama 'Suasana Hati'. Jika status ini menurun, sekeras apa pun
kita berusaha di sini, semuanya tidak akan berjalan lancar. Apalagi, nilainya
bisa tiba-tiba berubah karena hal-hal di luar kendali kita, tetapi angkanya
sama sekali tidak ditampilkan. Kalau begitu kan tidak ada cara penanganannya.
Lebih jauh lagi, jawaban benar pada
pilihan selalu berubah setiap kali.
Ada kalanya ingin disetujui
percakapannya, ada kalanya ingin dibantah.
Di atas hal itu, dari isi percakapan
tidak mungkin bisa membedakan balasan yang benar. Karena sama-sama manusia, aku
ingin reaksi yang disukainya konsisten.
Sistem rasa suka juga rumit. Memberikan
hadiah belum tentu menaikkan rasa suka, dan tergantung waktu maupun isinya saat
menyerahkan, justru bisa saja menurun. Sebenarnya apa maksudnya coba.
Tambahan lagi, di dunia nyata kita tidak
bisa melakukan save sebelum bertindak. Bagaimanapun juga ini terlalu tidak
masuk akal.
Karena itu, saat kelas 3 SMP, aku sampai
pada kesimpulan bahwa daripada bermain dengan anak cewek di kelas, bermain gim
jauh lebih menyenangkan.
Akan tetapi, berkat pergi bersama
Himegi-san kemarin karena suatu keadaan, aku jadi menyadari bahwa justru karena
manusia di dunia nyata itu rumit dan tidak bisa diprediksi, mereka jadi terasa
memikat.
Saat ciuman tidak langsung maupun
menggendong di punggung, jantungku berdebar sangat kencang. Begitu pula saat
dia menyiapkan kue ulang tahun untukku, emosi jenis baru yang belum pernah
kurasakan sebelumnya membumbung tinggi di dalam dada.
Selama ini aku menjalani kehidupan yang
terberkati, seperti gimku menjadi hit besar dan dipuji habis-habisan oleh para
pengguna. Karena itulah, aku berpikir akan sulit untuk merasakan kegembiraan
yang melebihi ini dalam kehidupan sehari-hari.
Akan tetapi, kenyataannya sama sekali
berbeda. Pada kegembiraan yang didapatkan dari orang lain, ternyata ada
berbagai macam jenis.
Jika dipaksakan untuk diberi label, apa
yang didapatkan dari pekerjaan adalah rasa pencapaian, dan apa yang didapatkan
dari festival kembang api adalah rasa kebahagiaan. Dan hal-hal itu tidak bisa
dibandingkan besarnya satu sama lain.
Di dunia ini pasti masih ada kegembiraan
yang belum kuketahui.
Bahkan di dalam hal-hal yang selama ini
kubuang karena kuanggap sia-sia, pasti tersembunyi sesuatu yang menarik. Hal
seperti ini tentu saja membuat hasrat berkaryaku semakin menggebu.
Oleh karena itu, di hari Senin pagi ini
pun aku mengabaikan pelajaran secara penuh dan berakhir menulis skenario.
☆ ☆
Tanpa disadari, semua pelajaran telah
selesai dan homeroom sebelum pulang pun dimulai.
Himegi-san sang ketua kelas maju ke
depan, dan diskusi mengenai festival budaya sedang berlangsung. Dia yang
berbicara dengan jelas di depan banyak orang terlihat begitu berwibawa dan
cantik.
Di SMA kami festival budaya digelar pada
tanggal 3 Oktober. Karena hari ini adalah tanggal 7 September, waktu menuju
hari H tinggal kurang dari sebulan, tetapi pertunjukan kelas kami masih belum
diputuskan.
Pertunjukan pada umumnya berupa pameran
atau presentasi di dalam kelas, menjual takoyaki atau yakisoba, atau membuat
ruangan bergaya kafe.
Ada juga kelas yang merombak kelas secara
besar-besaran seperti rumah hantu, tetapi karena usaha yang dibutuhkan sangat
besar namun hasilnya tidak seberapa, sepertinya sedikit orang yang ingin
melakukannya.
Akan tetapi, walau kelas kami tidak punya
ide khusus, mereka tampaknya ingin berfokus pada pertunjukan sehingga terus
mengulang diskusi yang tidak menghasilkan apa-apa.
Meski begitu karena waktunya sudah gawat
jika tidak segera diputuskan, kemarin Himegi-san bilang bahwa kali ini
keputusan akan dipaksakan lewat voting anonim.
"──Dengan
demikian, berdasarkan hasil suara terbanyak, pertunjukan kelas kita diputuskan
adalah 'Gim Escape Room Pemecahan Misteri'."
Himegi-san mengumumkannya sambil melihat
hasil penghitungan.
Padahal sudah membuang banyak waktu, tapi
akhirnya terpilih acara kelas yang biasa saja. Sekadar informasi, aku menulis
'Lelang Gelap' lalu mengumpulkannya.
Gim escape room itu butuh selera yang
lumayan tinggi untuk menentukan setting pandangan dunia maupun isi pemecahan
misterinya, dan rintangannya terlihat tinggi, apakah bakal baik-baik saja ya?
Sambil memikirkan hal semacam itu di
sudut pikiran, aku melanjutkan pekerjaan di ponsel.
"Kalau begitu, aku ingin menentukan
pemimpin proyek ini dari antara orang-orang yang tidak masuk pengurus komite.
Bagi yang tidak tergabung dalam komite mana pun, silakan berdiri."
Suasana mendadak menjadi agak
mencurigakan.
Aku yang berhasil menghindarinya saat
penentuan komite bulan April lalu, berdiri tanpa suara.
"……Lho? Yang tidak punya komite cuma
Takahashi-kun saja?"
Himegi-san mengajukan pertanyaan dengan
raut wajah serba salah.
Orang-orang di sekitar tidak memberikan
respons, tetapi aku tahu.
Bahwa di kelas ini, satu-satunya orang
yang berhasil lolos tanpa masuk komite hanyalah aku.
Aku sebenarnya bisa saja berpura-pura
tidak tahu, tetapi karena tidak ingin menyusahkan Himegi-san, aku memutuskan
untuk menyerahkan diri secara penurut.
"Begitu ya…… Kalau begitu maaf ya,
tapi boleh aku minta tolong ke Takahashi-kun?"
Dia memintanya dengan raut wajah yang
sangat merasa bersalah, hingga dari suasana yang ada sama sekali tidak
memungkinkan untuk menolaknya.
"Tidak apa-apa kok."
Dengan begini, aku berakhir menjadi
pemimpin proyek gim escape room pemecahan misteri.
Meski begitu karena aku punya pekerjaan,
jadi sebaiknya kuselesaikan secepat mungkin.
"Karena target kali ini adalah
pengunjung dari luar sekolah, dengan
memanfaatkan keunggulan lokasi sekolah,
bagaimana kalau setting-nya dibuat sederhana, yaitu 'Escape dari Ruang Kelas'?
Kalau bernuansa horor bakal jadi 'Escape dari Ruang Kelas yang Tidak Bisa
Dibuka', kalau komedi bakal jadi 'Escape dari Pelajaran Tambahan yang
Merepotkan'. Gimmick pemecahan misterinya mungkin bakal disukai kalau
menggunakan barang khas sekolah seperti papan tulis atau lemari alat
kebersihan. Memutar suara bel saat gim dimulai untuk menghidupkan suasana, atau
menjadikan coretan di meja sebagai petunjuk juga mungkin bagus ya. Jika meja
dan kursi digunakan sesuai tata letak saat ini, dalam satu kali main bisa
menampung maksimal 36 orang. Jika 1 kali main berdurasi 15 menit, lalu waktu
pergantian dan pembersihan ringan diasumsikan 5 menit, jumlah orang yang bisa
bermain dalam 1 jam maksimal 108 orang. Rasanya lumayan bagus ya. Apakah mau
dibuat co-op play atau aturan di mana semua orang mengincar posisi ke-1 itu
agak membingungkan, tetapi jika 35 dari 36 orang dibuat kalah setting-nya bakal
memberikan tingkat kepuasan yang rendah, jadi co-op play rasanya lebih bagus
ya."
Saat asal mengutarakan hal-hal yang
terlintas di pikiranku, aku menyadari bahwa teman-teman sekelas sedang bengong.
"Eh…… apakah ada yang salah?"
"Kurasa semua orang kaget karena
jumlah ide Takahashi-kun terlalu luar biasa."
Himegi-san mewakili untuk memberitahuku.
"Maksudku, jangan-jangan kamu punya
pengalaman mengelola gim
escape room pemecahan misteri?"
"Tidak ada kok."
Aku memang sering membuat gim PC, tetapi
baru kali ini aku membuat
gim tipe pengelolaan toko.
"Jika tidak ada masalah dengan arah
pembicaraan yang kusampaikan tadi, apakah boleh jika aku membuat rancangan
proyek dan alur keseluruhannya dalam bentuk dokumen perencanaan lalu
mengajukannya?"
"Dokumen perencanaan……"
Himegi-san bergumam. Semua orang bungkam,
dan sepertinya tidak ada pendapat yang menolak.
"Kalau begitu aku bakal buat dokumen
perencanaannya, jadi tolong
tunggu sekitar 5 menit ya."
"Dalam 5 menit bisa jadi!?"
"Karena cuma garis besarnya saja
kok."
Sambil berkata begitu, aku mulai membuat
dokumen perencanaan di aplikasi catatan ponsel. Ini pertama kalinya membuat
perencanaan gim escape room pemecahan misteri, tetapi begitu mulai berpikir,
ide-ide meluap keluar hingga jari yang mengoperasikan ponsel sampai tidak
sanggup menyusulnya.
"──Sudah
selesai. Untuk sementara aku buatkan 3 pola, jadi kubagikan di grup percakapan
kelas ya."
"Sudah jadi!?"
Melihat Himegi-san yang masih tercengang,
aku menjelaskan.
"Dua
di antaranya adalah yang tadi kubicarakan, yaitu yang bernuansa horor 『Escape
dari Ruang Kelas yang Tidak Bisa Dibuka』 dan
yang bernuansa komedi 『Escape dari Pelajaran Tambahan yang Merepotkan』.
Selain itu, aku juga kepikiran konsep bernuansa masa muda berjudul 『Menuju
Upacara Kelulusan, Tinggal 15 Menit』, jadi sekalian kubuatkan."
"Ini sih terlalu luar biasa
tahu……!!"
"Kalau
sudah selesai dibaca, bisakah kita melakukan voting untuk menentukan arah mana
yang paling bagus? Kalau bisa diputuskan hari ini juga, kita bisa mulai
memikirkan jenis teka-teki yang akan digunakan, dekorasi ruang kelas, serta
pola video untuk promosi di SNS. Sambil membuat proposal tadi, aku juga sempat
memikirkannya. Menurutku, video promosi sebaiknya berupa video pendek yang bisa
ditonton dengan santai, dengan thumbnail yang punya daya tarik kuat. Kalau
melihat algoritma SNS sekarang, konten yang membuat banyak orang ingin
berkomentar memang cenderung lebih kuat, kan? Meski begitu, sebagian besar
orang yang datang ke festival budaya adalah kerabat siswa di sini. Jadi,
daripada mengejar viral, kita perlu memikirkan video seperti apa yang kira-kira
akan menarik perhatian kalau penontonnya adalah orang tua mereka
sendiri──"
"Maaf, Takahashi-kun. Tolong
berhenti sebentar."
Saat aku terus mengutarakan hal-hal yang
terlintas di pikiranku, Himegi-san menghentikanku.
"Kalau dikatakan sebanyak itu
sekaligus, orang biasa tidak bakal bisa memprosesnya tahu. Pertama-tama berikan
waktu kepada semua orang untuk membaca dokumen perencanaan ini dulu."
"……Ah, maaf."
Aku mendadak merasa malu. Gara-gara
terlalu mengejar kecepatan, aku sampai tidak memperhatikan orang-orang di
sekitar.
Setelah
itu, voting kembali dilakukan, dan judul gim escape room pemecahan misteri
diputuskan menjadi 『Escape dari Pelajaran Tambahan yang Merepotkan』.
Karena kalau bernuansa horor atau masa muda perlu memperhatikan musik maupun
pengarahannya, aku berpikir telah terpilih hal yang paling santai.
"──Kalau
begitu, Takahashi-kun. Bisakah kamu membagikan tugas ke semua orang?"
Begitu Himegi-san memintaku, aku
merasakan sensasi seolah-olah sedang berdiri di atas jurang.. Secara refleks,
aku teringat pada masa-masa SMP. Saat aku mencoba membuat gim bersama teman,
lalu sama sekali tidak berjalan lancar.
Tenggat waktu yang tidak ditepati. Umpan
balik yang tidak mau diterima. Saling melempar tanggung jawab atas
ketidakmajuan proses kerja. Dan perselisihan……
Jujur saja, jika aku mengerjakannya
sendirian secara penuh, pembuatan gim bakal berjalan jauh lebih mulus. Akan
tetapi, ini adalah pertunjukan festival budaya. Ada arti tersendiri dalam
proses membuatnya bersama-sama secara kooperatif. Kalau hasil akhirnya membuat
kualitas gimnya jadi biasa-biasa saja pun……
Tidak, tidak boleh.
Sebagai seseorang yang hidup di industri
hiburan, aku tidak boleh menyajikan sesuatu yang membosankan lalu mengecewakan
para pengunjung.
Di tengah-tengah pergolakan batin seperti
itu, raut wajah Himegi-san yang terlihat cemas masuk ke dalam jarak pandangku.
"──Serahkan
padaku."
Aku menguatkan tekad. Karena sudah
menyanggupi peran sebagai pemimpin, proyek ini pasti akan kubuat sukses.
Tentu saja, aku tidak berniat
mengerjakannya dengan sikap setengah-setengah, sekadar melakukan yang terbaik
sampai tenggat waktu.. Aku bertekad tidak akan berkompromi sedikit pun soal
kualitas gim.
"Anu, kalau aku membagikannya secara
sepihak rasanya bakal memicu gesekan, jadi bisakah masing-masing memberi tahu
hal yang ingin dilakukan atau hal yang sekiranya bisa dilakukan? Secara garis
besarnya saja tidak apa-apa kok."
Kemudian, beberapa anak cowok berkacamata
di bagian belakang kelas mengangkat tangan.
"Untuk bagian pemecahan misterinya,
tolong serahkan ke klub board game. Karena kami sering bermain bersama
teman-teman, kami pasti bisa membuat yang lumayan."
"Lagipula sejak awal, yang
mengusulkan gim escape room pemecahan misteri ini kan kami."
Berikutnya, anak-anak cewek di bagian
depan juga ikut menyampaikan pendapat mereka.
"Pemecahan misteri sih kurang paham,
tapi kalau menghias ruang kelas aku bisa kok."
"Lalu pelayanan di hari H juga
serahkan ke kami ya."
"Karena aku ahli mengedit video,
mungkin bisa membantu promosi di SNS."
Meski bukan seluruh kelas, satu per satu
mereka menyampaikan bidang keahlian masing-masing.
"Terima kasih banyak. Kalau begitu
pertama-tama, mari kita bedah tugas-tugasnya dulu ya."
Aku mengoperasikan ponsel, lalu mulai
menuliskan peran-peran yang dipastikan bakal dibutuhkan seperti petugas kasir
dan petugas kebersihan secara berurutan.
Sebenarnya, aku bukannya punya waktu
untuk melakukan hal semacam ini, dan ada juga rasa cemas apakah bakal berjalan
lancar.
Namun, ketika membayangkan bahwa mungkin
ada kegembiraan yang belum pernah kurasakan di ujung proyek ini, diam-diam aku
merasa bersemangat.



Post a Comment