NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jitsu wa Haisupekkuna Danshi Kōkōsei - Gakunen'ichi no Bishōjo ni Hisho ni Natte Morau Volume 1 Chapter 5

Bab 5: Entah Bagaimana, Aku Malah Jadi Pemimpin Proyek


(Sudut Pandang Siswa SMA Berkemampuan Tinggi)

 

Dua hari telah berlalu sejak festival kembang api yang kudatangi bersama Himegi-san. Berkat riset lapangan tersebut, aku mendapatkan inspirasi yang sangat kuat, hingga waktu di luar makan dan tidur terus kugunakan untuk bekerja. Bahkan di dalam mimpi pun aku memikirkan kelanjutan skenario dan komposisi ilustrasi, jadi mungkin satu-satunya saat aku benar-benar lepas dari pekerjaan hanyalah ketika menyantap masakan yang dibuatkan Himegi-san.

 

Jalan pulang dari festival kembang api. Pengalaman menggendong Himegi-san di punggung membuat hasrat berkaryaku menembus batas. Itu karena aku ingin mengekspresikan gejolak emosi tersebut ke dalam karya.

 

Sampai sekarang aku masih bisa mengingatnya dengan jelas. Tubuhnya yang ramping perlahan disandarkan ke punggungku, dan merasakan kehangatan tubuhnya. Lengan halus melingkar di leherku, serta aroma manis yang mengusik rongga hidungku. Dan bagaimana aku menyelipkan kedua tangan ke belakang lututnya sambil gemetaran karena gugup.

 

Saat mengerahkan tenaga untuk berdiri lalu mulai melangkah, darah di sekujur tubuhku serasa mau mendidih. Setiap kali melangkah, sensasi lembut itu terasa menembus kain yukata.

Kelembutan khas wanita menempel erat di punggung, jadi wajar saja.

 

Aku sudah berusaha mengusir pikiran-pikiran tidak sopan, tetapi mau bagaimana lagi, aku tetap terdistraksi. Lebih-lebih lagi, seluruh sarafku malah terfokus ke bagian itu.

 

Aku mengira diriku adalah orang yang lebih rasional, jadi aku terkejut saat menyadari diriku dikuasai oleh pemikiran yang begitu terkesan awam.

 

Selama ini, aku tidak pernah menaruh perasaan cinta yang begitu kuat pada wanita. Alasannya, karena dibanding wanita di dunia nyata, karakter wanita yang muncul di dalam gim jauh lebih unggul.

 

Karakter wanita di gim dirancang dan dibuat untuk memberikan kegembiraan dan rasa tersentuh bagi pemain. Percakapan mengalir dengan tempo yang bagus, tidak melakukan hal-hal yang membuat pemain merasa tidak nyaman tanpa alasan, dan jika tidak salah memilih langkah, rasa sukanya pasti akan naik. Di atas hal itu, momen yang paling memikat diekstrak menjadi sebuah cerita, jadi kita bisa menyukainya dengan efisiensi biaya yang sangat bagus.

 

Di sisi lain, wanita di dunia nyata menurutku penyesuaian keseimbangannya gagal.

 

Masalah utamanya adalah status tersembunyi bernama 'Suasana Hati'. Jika status ini menurun, sekeras apa pun kita berusaha di sini, semuanya tidak akan berjalan lancar. Apalagi, nilainya bisa tiba-tiba berubah karena hal-hal di luar kendali kita, tetapi angkanya sama sekali tidak ditampilkan. Kalau begitu kan tidak ada cara penanganannya.

 

Lebih jauh lagi, jawaban benar pada pilihan selalu berubah setiap kali.

 

Ada kalanya ingin disetujui percakapannya, ada kalanya ingin dibantah.

 

Di atas hal itu, dari isi percakapan tidak mungkin bisa membedakan balasan yang benar. Karena sama-sama manusia, aku ingin reaksi yang disukainya konsisten.

 

Sistem rasa suka juga rumit. Memberikan hadiah belum tentu menaikkan rasa suka, dan tergantung waktu maupun isinya saat menyerahkan, justru bisa saja menurun. Sebenarnya apa maksudnya coba.

 

Tambahan lagi, di dunia nyata kita tidak bisa melakukan save sebelum bertindak. Bagaimanapun juga ini terlalu tidak masuk akal.

 

Karena itu, saat kelas 3 SMP, aku sampai pada kesimpulan bahwa daripada bermain dengan anak cewek di kelas, bermain gim jauh lebih menyenangkan.

 

Akan tetapi, berkat pergi bersama Himegi-san kemarin karena suatu keadaan, aku jadi menyadari bahwa justru karena manusia di dunia nyata itu rumit dan tidak bisa diprediksi, mereka jadi terasa memikat.

 

Saat ciuman tidak langsung maupun menggendong di punggung, jantungku berdebar sangat kencang. Begitu pula saat dia menyiapkan kue ulang tahun untukku, emosi jenis baru yang belum pernah kurasakan sebelumnya membumbung tinggi di dalam dada.

 

Selama ini aku menjalani kehidupan yang terberkati, seperti gimku menjadi hit besar dan dipuji habis-habisan oleh para pengguna. Karena itulah, aku berpikir akan sulit untuk merasakan kegembiraan yang melebihi ini dalam kehidupan sehari-hari.

 

Akan tetapi, kenyataannya sama sekali berbeda. Pada kegembiraan yang didapatkan dari orang lain, ternyata ada berbagai macam jenis.

 

Jika dipaksakan untuk diberi label, apa yang didapatkan dari pekerjaan adalah rasa pencapaian, dan apa yang didapatkan dari festival kembang api adalah rasa kebahagiaan. Dan hal-hal itu tidak bisa dibandingkan besarnya satu sama lain.

 

Di dunia ini pasti masih ada kegembiraan yang belum kuketahui.

 

Bahkan di dalam hal-hal yang selama ini kubuang karena kuanggap sia-sia, pasti tersembunyi sesuatu yang menarik. Hal seperti ini tentu saja membuat hasrat berkaryaku semakin menggebu.

 

Oleh karena itu, di hari Senin pagi ini pun aku mengabaikan pelajaran secara penuh dan berakhir menulis skenario.

 

☆ ☆

 

Tanpa disadari, semua pelajaran telah selesai dan homeroom sebelum pulang pun dimulai.

Himegi-san sang ketua kelas maju ke depan, dan diskusi mengenai festival budaya sedang berlangsung. Dia yang berbicara dengan jelas di depan banyak orang terlihat begitu berwibawa dan cantik.

 

Di SMA kami festival budaya digelar pada tanggal 3 Oktober. Karena hari ini adalah tanggal 7 September, waktu menuju hari H tinggal kurang dari sebulan, tetapi pertunjukan kelas kami masih belum diputuskan.

 

Pertunjukan pada umumnya berupa pameran atau presentasi di dalam kelas, menjual takoyaki atau yakisoba, atau membuat ruangan bergaya kafe.

 

Ada juga kelas yang merombak kelas secara besar-besaran seperti rumah hantu, tetapi karena usaha yang dibutuhkan sangat besar namun hasilnya tidak seberapa, sepertinya sedikit orang yang ingin melakukannya.

 

Akan tetapi, walau kelas kami tidak punya ide khusus, mereka tampaknya ingin berfokus pada pertunjukan sehingga terus mengulang diskusi yang tidak menghasilkan apa-apa.

 

Meski begitu karena waktunya sudah gawat jika tidak segera diputuskan, kemarin Himegi-san bilang bahwa kali ini keputusan akan dipaksakan lewat voting anonim.

 

"──Dengan demikian, berdasarkan hasil suara terbanyak, pertunjukan kelas kita diputuskan adalah 'Gim Escape Room Pemecahan Misteri'."

 

Himegi-san mengumumkannya sambil melihat hasil penghitungan.

Padahal sudah membuang banyak waktu, tapi akhirnya terpilih acara kelas yang biasa saja. Sekadar informasi, aku menulis 'Lelang Gelap' lalu mengumpulkannya.

 

Gim escape room itu butuh selera yang lumayan tinggi untuk menentukan setting pandangan dunia maupun isi pemecahan misterinya, dan rintangannya terlihat tinggi, apakah bakal baik-baik saja ya?

 

Sambil memikirkan hal semacam itu di sudut pikiran, aku melanjutkan pekerjaan di ponsel.

 

"Kalau begitu, aku ingin menentukan pemimpin proyek ini dari antara orang-orang yang tidak masuk pengurus komite. Bagi yang tidak tergabung dalam komite mana pun, silakan berdiri."

 

Suasana mendadak menjadi agak mencurigakan.

 

Aku yang berhasil menghindarinya saat penentuan komite bulan April lalu, berdiri tanpa suara.

 

"……Lho? Yang tidak punya komite cuma Takahashi-kun saja?"

 

Himegi-san mengajukan pertanyaan dengan raut wajah serba salah.

 

Orang-orang di sekitar tidak memberikan respons, tetapi aku tahu.

 

Bahwa di kelas ini, satu-satunya orang yang berhasil lolos tanpa masuk komite hanyalah aku.

Aku sebenarnya bisa saja berpura-pura tidak tahu, tetapi karena tidak ingin menyusahkan Himegi-san, aku memutuskan untuk menyerahkan diri secara penurut.

 

"Begitu ya…… Kalau begitu maaf ya, tapi boleh aku minta tolong ke Takahashi-kun?"

 

Dia memintanya dengan raut wajah yang sangat merasa bersalah, hingga dari suasana yang ada sama sekali tidak memungkinkan untuk menolaknya.

 

"Tidak apa-apa kok."

 

Dengan begini, aku berakhir menjadi pemimpin proyek gim escape room pemecahan misteri.

 

Meski begitu karena aku punya pekerjaan, jadi sebaiknya kuselesaikan secepat mungkin.

 

"Karena target kali ini adalah pengunjung dari luar sekolah, dengan

memanfaatkan keunggulan lokasi sekolah, bagaimana kalau setting-nya dibuat sederhana, yaitu 'Escape dari Ruang Kelas'? Kalau bernuansa horor bakal jadi 'Escape dari Ruang Kelas yang Tidak Bisa Dibuka', kalau komedi bakal jadi 'Escape dari Pelajaran Tambahan yang Merepotkan'. Gimmick pemecahan misterinya mungkin bakal disukai kalau menggunakan barang khas sekolah seperti papan tulis atau lemari alat kebersihan. Memutar suara bel saat gim dimulai untuk menghidupkan suasana, atau menjadikan coretan di meja sebagai petunjuk juga mungkin bagus ya. Jika meja dan kursi digunakan sesuai tata letak saat ini, dalam satu kali main bisa menampung maksimal 36 orang. Jika 1 kali main berdurasi 15 menit, lalu waktu pergantian dan pembersihan ringan diasumsikan 5 menit, jumlah orang yang bisa bermain dalam 1 jam maksimal 108 orang. Rasanya lumayan bagus ya. Apakah mau dibuat co-op play atau aturan di mana semua orang mengincar posisi ke-1 itu agak membingungkan, tetapi jika 35 dari 36 orang dibuat kalah setting-nya bakal memberikan tingkat kepuasan yang rendah, jadi co-op play rasanya lebih bagus ya."

 

Saat asal mengutarakan hal-hal yang terlintas di pikiranku, aku menyadari bahwa teman-teman sekelas sedang bengong.

 

"Eh…… apakah ada yang salah?"

 

"Kurasa semua orang kaget karena jumlah ide Takahashi-kun terlalu luar biasa."

 

Himegi-san mewakili untuk memberitahuku.

 

"Maksudku, jangan-jangan kamu punya pengalaman mengelola gim

escape room pemecahan misteri?"

 

"Tidak ada kok."

 

Aku memang sering membuat gim PC, tetapi baru kali ini aku membuat

gim tipe pengelolaan toko.

 

"Jika tidak ada masalah dengan arah pembicaraan yang kusampaikan tadi, apakah boleh jika aku membuat rancangan proyek dan alur keseluruhannya dalam bentuk dokumen perencanaan lalu mengajukannya?"

 

"Dokumen perencanaan……"

 

Himegi-san bergumam. Semua orang bungkam, dan sepertinya tidak ada pendapat yang menolak.

 

"Kalau begitu aku bakal buat dokumen perencanaannya, jadi tolong

tunggu sekitar 5 menit ya."

 

"Dalam 5 menit bisa jadi!?"

 

"Karena cuma garis besarnya saja kok."

 

Sambil berkata begitu, aku mulai membuat dokumen perencanaan di aplikasi catatan ponsel. Ini pertama kalinya membuat perencanaan gim escape room pemecahan misteri, tetapi begitu mulai berpikir, ide-ide meluap keluar hingga jari yang mengoperasikan ponsel sampai tidak sanggup menyusulnya.

 

"──Sudah selesai. Untuk sementara aku buatkan 3 pola, jadi kubagikan di grup percakapan kelas ya."

 

"Sudah jadi!?"

 

Melihat Himegi-san yang masih tercengang, aku menjelaskan.

 

"Dua di antaranya adalah yang tadi kubicarakan, yaitu yang bernuansa horor 『Escape dari Ruang Kelas yang Tidak Bisa Dibuka』 dan yang bernuansa komedi 『Escape dari Pelajaran Tambahan yang Merepotkan』. Selain itu, aku juga kepikiran konsep bernuansa masa muda berjudul 『Menuju Upacara Kelulusan, Tinggal 15 Menit』, jadi sekalian kubuatkan."

 

"Ini sih terlalu luar biasa tahu……!!"

 

"Kalau sudah selesai dibaca, bisakah kita melakukan voting untuk menentukan arah mana yang paling bagus? Kalau bisa diputuskan hari ini juga, kita bisa mulai memikirkan jenis teka-teki yang akan digunakan, dekorasi ruang kelas, serta pola video untuk promosi di SNS. Sambil membuat proposal tadi, aku juga sempat memikirkannya. Menurutku, video promosi sebaiknya berupa video pendek yang bisa ditonton dengan santai, dengan thumbnail yang punya daya tarik kuat. Kalau melihat algoritma SNS sekarang, konten yang membuat banyak orang ingin berkomentar memang cenderung lebih kuat, kan? Meski begitu, sebagian besar orang yang datang ke festival budaya adalah kerabat siswa di sini. Jadi, daripada mengejar viral, kita perlu memikirkan video seperti apa yang kira-kira akan menarik perhatian kalau penontonnya adalah orang tua mereka sendiri──"

 

"Maaf, Takahashi-kun. Tolong berhenti sebentar."

 

Saat aku terus mengutarakan hal-hal yang terlintas di pikiranku, Himegi-san menghentikanku.

"Kalau dikatakan sebanyak itu sekaligus, orang biasa tidak bakal bisa memprosesnya tahu. Pertama-tama berikan waktu kepada semua orang untuk membaca dokumen perencanaan ini dulu."

 

"……Ah, maaf."

 

Aku mendadak merasa malu. Gara-gara terlalu mengejar kecepatan, aku sampai tidak memperhatikan orang-orang di sekitar.

 

Setelah itu, voting kembali dilakukan, dan judul gim escape room pemecahan misteri diputuskan menjadi 『Escape dari Pelajaran Tambahan yang Merepotkan』. Karena kalau bernuansa horor atau masa muda perlu memperhatikan musik maupun pengarahannya, aku berpikir telah terpilih hal yang paling santai.

 

"──Kalau begitu, Takahashi-kun. Bisakah kamu membagikan tugas ke semua orang?"

 

Begitu Himegi-san memintaku, aku merasakan sensasi seolah-olah sedang berdiri di atas jurang.. Secara refleks, aku teringat pada masa-masa SMP. Saat aku mencoba membuat gim bersama teman, lalu sama sekali tidak berjalan lancar.

 

Tenggat waktu yang tidak ditepati. Umpan balik yang tidak mau diterima. Saling melempar tanggung jawab atas ketidakmajuan proses kerja. Dan perselisihan……

 

Jujur saja, jika aku mengerjakannya sendirian secara penuh, pembuatan gim bakal berjalan jauh lebih mulus. Akan tetapi, ini adalah pertunjukan festival budaya. Ada arti tersendiri dalam proses membuatnya bersama-sama secara kooperatif. Kalau hasil akhirnya membuat kualitas gimnya jadi biasa-biasa saja pun……

 

Tidak, tidak boleh.

 

Sebagai seseorang yang hidup di industri hiburan, aku tidak boleh menyajikan sesuatu yang membosankan lalu mengecewakan para pengunjung.

 

Di tengah-tengah pergolakan batin seperti itu, raut wajah Himegi-san yang terlihat cemas masuk ke dalam jarak pandangku.

 

"──Serahkan padaku."

 

Aku menguatkan tekad. Karena sudah menyanggupi peran sebagai pemimpin, proyek ini pasti akan kubuat sukses.

 

Tentu saja, aku tidak berniat mengerjakannya dengan sikap setengah-setengah, sekadar melakukan yang terbaik sampai tenggat waktu.. Aku bertekad tidak akan berkompromi sedikit pun soal kualitas gim.

 

"Anu, kalau aku membagikannya secara sepihak rasanya bakal memicu gesekan, jadi bisakah masing-masing memberi tahu hal yang ingin dilakukan atau hal yang sekiranya bisa dilakukan? Secara garis besarnya saja tidak apa-apa kok."

 

Kemudian, beberapa anak cowok berkacamata di bagian belakang kelas mengangkat tangan.

 

"Untuk bagian pemecahan misterinya, tolong serahkan ke klub board game. Karena kami sering bermain bersama teman-teman, kami pasti bisa membuat yang lumayan."

 

"Lagipula sejak awal, yang mengusulkan gim escape room pemecahan misteri ini kan kami."

 

Berikutnya, anak-anak cewek di bagian depan juga ikut menyampaikan pendapat mereka.

 

"Pemecahan misteri sih kurang paham, tapi kalau menghias ruang kelas aku bisa kok."

 

"Lalu pelayanan di hari H juga serahkan ke kami ya."

 

"Karena aku ahli mengedit video, mungkin bisa membantu promosi di SNS."

 

Meski bukan seluruh kelas, satu per satu mereka menyampaikan bidang keahlian masing-masing.

 

"Terima kasih banyak. Kalau begitu pertama-tama, mari kita bedah tugas-tugasnya dulu ya."

 

Aku mengoperasikan ponsel, lalu mulai menuliskan peran-peran yang dipastikan bakal dibutuhkan seperti petugas kasir dan petugas kebersihan secara berurutan.

 

Sebenarnya, aku bukannya punya waktu untuk melakukan hal semacam ini, dan ada juga rasa cemas apakah bakal berjalan lancar.

 

Namun, ketika membayangkan bahwa mungkin ada kegembiraan yang belum pernah kurasakan di ujung proyek ini, diam-diam aku merasa bersemangat.



Chapter 4 | ToC | Chapter 6

0

Post a Comment

close