NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jitsu wa Haisupekkuna Danshi Kōkōsei - Gakunen'ichi no Bishōjo ni Hisho ni Natte Morau Volume 1 Chapter 9

Bab 9: Sekretaris Cantikku Sepertinya Akan Bertemu dengan Teman Masa Kecilku


(Sudut Pandang Siswa SMA Berkemampuan Tinggi)

 

Bagaimana ini…… Aku membuat Himegi-san kesal.

 

Yah, wajar saja kalau dia marah, padahal dia sudah bersedia menjadi model baju renang, tapi hasilnya malah kuubah……

 

Awalnya aku juga berniat menggambarnya setia mungkin. Tapi begitu prosesnya berjalan, aku jadi ingin menambahkan sedikit di beberapa bagian……

 

Foto milik Himegi-san tidak diragukan lagi sangat sempurna. Tapi itu adalah kesempurnaan sebagai sebuah foto, sedangkan jika dipikirkan sebagai sebuah ilustrasi, mau tidak mau timbul kebutuhan untuk memolesnya.

 

"Aku pikir ilustrasi ini sangat memikat lho. Aku menantikan hasil jadinya."

 

Himegi-san memberikan pujian tambahan, tetapi apakah ini sejujurnya……?

 

Aku sudah tidak bisa memercayai apa pun lagi……!!

 

"Kalau begitu Sensei, untuk tugas hari ini apakah seperti biasa dengan membersihkan rumah dan menyiapkan makanan?"

 

"Ah, maaf. Sebenarnya, aku ingin minta tolong dirapikan kwitansi, apakah boleh?"

 

"Tentu saja. Pekerjaan seperti apa yang harus kulakukan?"

 

"Aku ingin kamu memfoto kwitansinya satu per satu, lalu menyatukannya dan mengirimkannya ke konsultan pajak. Cara mengirimnya nanti kuajari. Kwitansi yang sudah selesai difoto, tolong kelompokkan per bulan lalu masukkan ke dalam amplop ya."

 

Sambil berkata begitu, aku mengeluarkan setumpuk kwitansi dari dalam meja.

 

"Kwitansinya apakah lebih baik diurutkan sesuai tanggal?"

 

"Tidak, asal sudah dipisah per bulan saja sudah cukup, jadi tidak usah pikirkan tanggalnya."

 

Setelah mengajukan beberapa pertanyaan mengenai prosedur kerja, Himegi-san mulai melakukan tugas pemilahan. Dia menata kwitansi di atas meja lalu membaginya per bulan.

 

"Kalau punya pekerjaan seperti Sensei, gim atau manga pun bisa masuk biaya operasional ya. Iri deh."

"Memang benar, itu bagian yang enak sih. Cuma, gim yang sedang jadi bahan pembicaraan harus kupelajari walau tidak tertarik sekalipun, jadi lumayan berat lho."

 

"Dipelajari……?"

 

"Dimainkan lalu dicek isinya."

 

"Aah, begitu ya. Bagi Sensei, gim itu bukannya permainan melainkan pekerjaan, jadi rasanya lebih dekat ke belajar ya?"

 

"Begitulah. Tentu saja, banyak juga gim yang bisa kunikmati secara normal sih. Pada dasarnya aku suka gim jenis apa pun kok."

 

"Fumu-fumu…… Ah, kopi yang diminum di kafe juga masuk biaya operasional ya."

 

"Benar. Lalu contohnya, kalau bisa menjelaskan alasan kenapa pergi ke taman bermain, biaya masuknya pun bisa jadi biaya operasional tahu."

 

"Skenario tambahan kemarin itu kan berlatar taman bermain kan. Waktu itu kamu melakukan wawancara lapangan seperti apa?"

 

"Anu, makan pop corn sama corn dog, beli macam-macam di area merchandise, terus pakai bando yang bisa bikin jadi seperti karakter maskotnya kali ya."

 

"Ehh! Sampai pakai bando juga! Di luar dugaan ya!"

"Cuma, padahal aku ingin naik sebanyak mungkin wahana, tapi teman yang ikut bersamaku di tengah jalan bilang capek, jadi cuma bisa naik dua wahana saja."

 

"──Eh?"

 

"Hm?"

 

"Teman jalan itu, bukannya Sensei pergi sendirian?"

 

"Tidak, aku mengajak teman kok. Soalnya saat menunggu wahana, aku

ingin tahu obrolan seperti apa yang bakal dilakukan."

 

"Aku kaget. Ternyata Sensei punya teman ya."

 

"Kamu menganggapku apa sih?"

"

Orang yang seperti apa? Apakah ada fotonya?"

 

"Ada kok. Karena di dalam taman bermain aku mengambil foto banyak banget, pasti ada yang terpotong di suatu tempat……"

 

Aku membuka folder bahan materi di komputer, lalu menampilkan salah satu foto dari dalamnya untuk kuperlihatkan.

 

Di sana terpotret Kagurazaka Yui yang sedang mengukir senyuman polos

tanpa beban sambil mengenakan bando.

 

"──Ehh!?"

Himegi-san melontarkan suara kaget, lalu melihat wajahku.

 

"Teman yang pergi bersama itu, seorang wanita!?"

 

"Iya, memangnya kenapa."

 

"Apalagi luar biasa imut……!! Kepolosannya tidak main-main……!!"

 

Di dalam foto Yui, Himegi-san memujinya habis-habisan.

 

"Orang ini, punya hubungan seperti apa denganmu?"

 

"Kan sudah kubilang, teman."

 

"Tapi kalian pergi ke taman bermain cuma berdua kan?"

 

"Iya. Teman baik hati yang mau menemaniku riset lapangan dengan senang hati."

 

"Bukan hal seperti itu maksudku…… Tapi, aku juga kan pergi ke festival kembang api berdua saja dengan Sensei sih……"

 

Himegi-san memasang raut wajah rumit sambil bergumam entah apa.

 

Ini adalah naluri liarku sih, tetapi rasanya lebih baik tidak membicarakan soal Yui secara agresif lagi. Sepertinya Himegi-san sedang salah paham yang aneh-aneh……

 

Saat aku sedang berpikir seperti itu, tepat pada saat itu ponselku menerima pesan.

 

Nama pengirimnya adalah orang yang baru saja jadi bahan pembicaraan.

 

Awal pesannya adalah, 『Mulai sekarang aku boleh main ke rumah Haruto?』.

 

Begitu otakku menyadarinya, kepalaku langsung terasa pusing.

 

Yui mau datang ke rumah ini mulai sekarang? Kenapa coba?

 

Sambil merasa gugup aku coba buka aplikasinya, lalu pesannya berlanjut seperti ini.

 

『Mulai sekarang aku boleh main ke rumah Haruto? Draf kasar bab terbaruku belum jadi 1 halaman pun dan ini gawat banget, jadi aku ingin berkonsultasi』

 

Begitu ya…… ternyata begitu toh……

 

Yui teman masa kecilku adalah seorang komikus yang menerbitkan karyanya di acara doujin skala besar.

 

Aku membalas pesannya.

 

『Lewat telepon tidak bisa?』

 

Kemudian, balasan segera datang.

 

『Bakal jadi panjang, jadi aku ingin bicara langsung. Sekarang tidak boleh datang?』

 

……Bukan tidak boleh. Sama sekali bukan tidak boleh sih, tapi……

 

Entah kenapa, aku punya firasat bakal terjadi hal yang kurang bagus.

 

Tapi, aku tidak bisa menjelaskan dengan baik apa sebenarnya yang terasa tidak beres itu. Hanya saja, mengundang Yui dalam kondisi Himegi-san berada di rumah, entah kenapa membuatku

merasa agak enggan.

 

Meski begitu, baik Himegi-san maupun Yui, bukanlah pacarku atau semacamnya. Secara teori maupun moral, seharusnya tidak ada masalah sama sekali.

 

Hmm. Setelah kupikirkan baik-baik, ternyata ini cuma kegeeran dari diriku sendiri. Malu rasanya mengingat aku sempat memikirkan macam-macam.

 

"Anu, Himegi-san. Karena kenalanku bilang mau datang ke rumah mulai sekarang, tidak apa-apa kalau tugas hari ini disudahi saja."

 

Begitu kusampaikan hal itu, mata Himegi-san seketika menjadi tajam.

 

"Mohon maaf jika lancang, bolehkah saya mengetahui nama orang tersebut?"

"Namanya…… Kagurazaka. Ditulis dengan 'Tanjakan Kegembiraan Dewa' sih tapi──"

 

"Nama depannya?"

 

Himegi-san langsung memotong ucapanku dan menanyakan nama depannya.

 

Aku merasakan keringat dingin keluar.

 

"……Yui."

 

"Seorang wanita ya. Jangan-jangan, orang yang ada di foto ini?"

 

"Memang benar sih."

 

"Begitu ya…… Sensei, kenapa kamu berusaha menyembunyikan kenyataan bahwa gadis ini mau datang ke rumah?"

 

"Eh, tidak, bukannya aku sengaja mau menyembunyikannya sih……"

 

"Tapi saat membicarakan taman bermain tadi, kamu menyebut Kagurazaka-san sebagai 'Teman' kan? Namun baru saja, kamu menyebutnya 'Kenalan'."

 

"I, itu cuma kebetulan saja kok. Di dalam diriku teman dan kenalan itu artinya hampir sama kok."

 

"Sensei yang merupakan seorang profesional dalam olah kata, menggunakannya secara terpisah tanpa ada niat?"

 

Himegi-san menatapku dengan curiga.

 

Memang tidak bisa dipungkiri, mungkin di sudut hatiku aku merasa bersalah, sehingga sengaja memilih kata-kata yang bisa menimbulkan salah paham……

 

"Tapi Himegi-san, dari tadi bahasa hormatmu makin formal, kan?"

 

"Hanya perasaanmu saja. Soal tugas hari ini, saya mengerti, tetapi bolehkah saya ikut menyapa Kagurazaka-san juga?"

 

"Ke, kenapa……?"

 

"Sebagai sekretaris, saya ingin mengetahui hubungan antarmanusia Sensei."

 

"Situasi darurat……?"

 

"Atau, apakah akan ada masalah jika saya sampai bertemu dengan Kagurazaka-san?"

 

"Tidak, bukannya ada masalah sih……"

 

Ada masalah…… atau tidak ada ya……?

 

Sambil merasa ragu, aku mengirimkan pesan kepada Yui.

『Sekarang teman sekolah lagi main ke sini, jadi bagaimana kalau hari lain saja? Sabtu atau Minggu minggu ini misalnya』

 

Meski kupikir tidak ada masalah, aku mencoba menolak kedatangannya dengan halus.

 

Kemudian, balasan segera datang.

 

『Teman itu, cewek?』

 

Kenapa bisa tahu!?

 

『Iya, wanita kok』

 

Saat aku membalas sambil berpura-pura tenang, balasan segera datang lagi.

 

『Sekarang tidak boleh datang? Aku ingin menyapa temanmu itu』

 

Kenapa mereka berdua sama-sama ingin saling menyapa sih……!?

 

Bukannya biasanya kita tidak ingin bertemu dengan temannya teman ya……?

 

Akan tetapi, menolaknya di sini juga bakal terkesan aneh. Apakah tidak ada cara untuk membuat mereka berdua tidak saling bertemu──

 

Di saat aku sedang memusingkan kepala seperti itu, serangan susulan dari Yui datang.

『Maksudku, aku sudah jalan ke tempatmu nih』

 

Sudah tidak ada yang bisa kulakukan.



Chapter 8 | ToC | Chapter 10

0

Post a Comment

close