Penerjemah: Amir
Proffreader: Amir
Chapter 6
Tidak Mau
"──"
Kamar yang remang-remang. Pakaian yang berserakan di lantai. Sofa yang dihiasi sisa percampuran keringat kami. Seluruh sisa hawa panas yang membara sebelumnya kini mengendap di dalam ruangan.
Di sampingku, terbaring tubuh dua orang tanpa sehelai benang pun. Ujung mata mereka berdua tampak sedikit memerah.
Setelah menarik selimut untuk menutupi tubuh Satsuki dan Reine, aku pun bangkit berdiri. Lantai di bawah telapak kakiku terasa sangat dingin.
Aku menatap jam dinding. Jarum panjang baru saja melewati angka 12. Suara dentang jarum jam yang bergerak terdengar nyaring tak biasa.
Tersisa 3 jam lagi menuju pergantian hari.
Pada detik itu juga, rasa kantuk, hawa panas, hingga rasa bersalah, semuanya sirna seketika.
"Belum selesai...!"
Aku melompat bangun. Aku menyambar dan mengenakan pakaian yang terlempar di sana secepat mungkin.
Aku menarik laptop yang tergeletak di lantai mendekat. Ujung-ujung jariku terasa dingin. Meskipun begitu, hanya telapak tanganku yang basah oleh keringat dingin yang tidak menyenangkan.
Aku menekan tombol daya. Beberapa detik proses pemuatan sistem terasa terlampau panjang hingga membuatku hampir gila.
"Cepatlah... cepat!"
Meski sadar tidak ada gunanya menekan tombol berulang kali, jemariku sudah mengetuk papan ketik bahkan sebelum kolom kata sandi muncul.
Tampilan layar berganti. Dengan jemari yang saling bertautan canggung, aku mengetikkan kata sandi.
Lalu, aku membuka 【LoD】.
Jika menonton semuanya sekaligus, waktunya sama sekali tidak akan cukup. Namun, jika itu aku, aku pasti bisa. Bahkan jika melewati teks yang belum dibaca, aku masih mengingat apa yang tertulis di sana. Urutan event, pilihan jawaban, variasi gambar CG, hingga tempo perubahan BGM, semuanya terpatri di dalam ingatanku.
"Cepat...!"
Gambar CG. Ilustrasi. Latar belakang. BGM. Lagu pembuka. Lagu penutup. Pilihan jawaban. Percakapan yang tampak seperti petunjuk alur. Variasi ekspresi karakter.
Sambil menyapu segala hal yang tertangkap mata tanpa terkecuali, aku menuntaskan rute individual mereka satu per satu.
Di dalam layar, karakter-karakter yang dimodelkan berdasarkan Satsuki dan yang lainnya bersatu dengan sang karakter utama.
Mereka tertawa tampak bahagia.
Saling bergandengan tangan.
Membicarakan masa depan.
Namun, di balik semua itu, tiga orang lainnya tewas tanpa terkecuali.
"Maafkan aku...!"
Tanpa sadar suara itu terlepas dari mulutku.
Jika ini hanyalah gim biasa, aku tidak akan merasakan apa-apa.
Demi mengumpulkan gambar CG event.
Demi melengkapi raihan trophy.
Demi memahami keseluruhan rute cerita.
Aku seharusnya bisa merelakannya sebagai hal yang wajar.
Namun, sekarang berbeda. Aku tahu bahwa mereka yang berada di seberang layar itu nyata berada di dunia ini.
Ekspresi yang sama.
Gaya rambut yang sama.
Suara yang terbiasa kudengar.
Gerak-gerik yang tak asing.
Semua itu kuhabisi hanya dengan satu tombol skip.
Dada bagian dalamku terasa memekik kesakitan.
Meskipun begitu, aku tidak boleh berhenti. Demi menyelamatkan Satsuki dan Reine yang hidup di sini saat ini, mereka yang ada di dalam layar harus dijadikan pengorbanan.
Hanya itu satu-satunya cara.
Aku tahu ini adalah dalih yang paling menjijikkan. Namun, aku tidak punya pilihan selain membujuk diriku sendiri seperti itu.
"Tidak ada apa-apa..."
Hati Nishikawa Mutsuki hancur.
Padahal ia sampai menjual tubuhnya demi Tanino Yu.
"Kalau rute yang ini..."
Touyama Aoi tewas dengan tubuh dan jiwa yang hancur di tempat pernikahan demi keluarganya.
"Masih ada sisanya──"
Minamino Rena dijual kepada penagih utang. Lalu, jiwanya hancur dan ia tewas.
"Kalau di sebelah sini..."
Kitamoto Rin dibunuh oleh ibunya sendiri. Ia menangis hingga helaan napas terakhirnya.
"──"
Ending Pemusnahan Massal.
『Siswa SMA tertabrak truk yang menerobos lampu merah − BAD END』
Sosok yang dimodelkan berdasarkan diriku terkapar di dalam layar.
Itu adalah gambar CG yang sangat terbiasa kulihat. Pemandangan yang telah berulang kali kulihat dan kubayangkan di dalam kepalaku.
"Haha..."
Benang keteganganku mendadak terputus, dan aku pun telentang jatuh ke lantai begitu saja. Punggungku menghempas lantai, tetapi tidak ada rasa sakit yang menjalar.
Hanya lampu di langit-langit yang membias putih secara samar.
Yang tersisa hanyalah rute harem. Jika menuntaskan rute tersebut, berarti 【LoD】 telah sepenuhnya selesaikan dimainkan.
Jika melakukan itu, 【LoD】 akan cleared.
Hanya saja.
"──Apa-apaan gim sampah ini...!"
Aku mengucapkannya dengan nada seperti meludah.
Saat memainkannya kembali secara terperinci, dari ujung ke ujung semuanya dipenuhi oleh niat jahat Sano dan rasa posesif yang mendalam hingga taraf yang menjijikkan.
Ia seakan mencintai para heroine, padahal sama sekali tidak memercayai mereka. Ia seakan ingin menyelamatkan mereka, padahal sama sekali tidak mengizinkan masa depan di mana mereka tidak menjadi miliknya.
Rasa sakit, pilihan, hingga jalan hidup para gadis itu, seluruhnya ditempatkan hanya demi kepentingan Sano seorang.
Ketika seorang penulis novel atau penulis skenario gim dihujat di media sosial, aku baru bisa memahami perasaan orang-orang yang sampai membenci karya dari sang penulis tersebut.
Hal itu telah menjadi sebuah gangguan.
Orang ini berpikiran seperti ini.
Orang ini menulis dengan hasrat seperti ini.
Orang ini bukannya mencintai karakter tersebut, melainkan hanya ingin memilikinya.
Ketika gangguan semacam itu tertanam di dalam kepala, kita tak akan bisa lagi tenggelam di dalam cerita.
Aku adalah tipe orang yang tadinya tidak memedulikan hal-hal semacam itu. Aku benar-benar berpikir bahwa sang kreator dan karyanya adalah dua hal yang terpisah. Asalkan menarik, itu saja sudah cukup, begitulah pikirku selama ini.
Namun, kalau ini sungguh tidak mungkin.
【LoD】 yang sangat kusukai itu kini tak tampak lebih dari sekadar skenario terburuk. Memainkannya sendiri sudah menjadi sebuah siksaan bagiku. Bahkan keinginan untuk melihat rute harem yang berakhir dengan kebahagiaan sempurna pun telah sirna.
Seharusnya, aku berpikir dengan membuang emosi.
Meskipun begitu, tubuhku menolaknya. Jemariku tidak mau bergerak. Hanya dengan melihat layarnya saja, bagian dalam lambungku terasa terpelintir.
"Satoshi-kun..."
Suara Satsuki terdengar.
Saat hanya menggerakkan pandangan mataku, Satsuki sedang membungkuk menatap wajahku. Dengan raut wajah yang tampak ingin menangis, ia tetap saja mengkhawatirkanku.
Aku menegakkan tubuhku, lalu memaksa ujung bibirku terangkat.
"Maaf, sudah membuatmu khawatir. Aku pasti akan menyelamatkan kalian berdua."
Aku mengelus kepala Satsuki.
Jika biasanya, ia pasti akan tersenyum seolah merasa sedikit lega. Namun, getaran pada tubuh Satsuki tidak kunjung berhenti.
Kata menyedihkan menusuk ke dalam dadaku. Tidak bisa menyelamatkan satu orang wanita yang dicintai, sebenarnya apa yang sedang kulakukan?
Aku mengalihkan pandangan untuk menatap Reine.
Reine terduduk memeluk lututnya di dekat dinding. Ia terbungkus selimut, merengkuh kedua lututnya, dan bergetar kecil. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini juga tampak berantakan. Matanya yang bengkak karena menangis memerah, dan bibirnya kehilangan rona darah.
Melihat sosoknya yang begitu memprihatinkan, rasa ketidakberdayaan makin membengkak di dalam diriku.
"Ah, benar juga!"
Satsuki mendadak menaikkan suaranya. Keceriannya terasa terlampau tidak pas dengan suasana. Satsuki merentangkan tangannya ke bawah meja, lalu mengeluarkan sebuah buku catatan.
Setelah itu, ia menggenggam sebuah pena.
"...Sedang apa kamu?"
Satsuki tidak menjawab. Ia berlutut di lantai, membuka buku catatan tersebut, lalu mulai menuliskan huruf-huruf dengan sangat tekun. Hanya suara ujung pena yang mengikis kertas yang bergema di dalam kamar.
"Surat wasiat tahu!"
"──Ha?"
Tanpa sadar suara canggung terlepas dari mulutku.
Surat wasiat.
Dua kata itu terasa begitu jauh dari kenyataan. Namun, dalam situasi saat ini, hal itu terasa sangat nyata hingga membuatku muak.
Kepalaku menolak untuk memahaminya.
"Lihat, si sampah itu dan Hibise pernah bilang kan kalau mereka tidak terkena pengaruh dari 『Daya Paksa Dunia』?"
Satsuki tidak menatap ke arahku. Pandangannya tetap tertuju pada buku catatan, hanya tangannya yang terus bergerak.
"Mungkin saja, kita juga bisa meninggalkannya."
"Tidak mungkin..."
"Tapi, Satoshi-kun bisa meninggalkan 【Buku Harian】 kan!"
"Makanya──"
"Tapi kan──!"
Kata-kata Satsuki terdengar bergetar. Tangan yang menggenggam pena pun ikut gemetar. Tulisan tangannya menjadi miring tak beraturan. Tinta berbayang karena tetesan yang jatuh ke atas kertas.
"Lagipula, 2 orang lainnya sudah dibunuh, dan kita juga akan dibunuh kan?"
Satsuki berusaha untuk tersenyum. Ia berusaha tersenyum, tetapi gagal.
"Aku akan menerima fakta kalau kita bakal mati kok. Yah, apa ini namanya reinkarnasi? Waktu cuma terulang dan kita bakal jadi milik si sampah itu lagi kan. Lagipula bisa jadi muda lagi itu beruntung ya! Akhir-akhir ini, aku merasa pergerakan tubuhku agak memburuk, jadi aku ingin kembali jadi anak SMA!"
"Satsuki..."
"Hanya saja, aku ingin Satoshi-kun mengingatnya. Makanya, aku akan meninggalkannya untukmu."
"Hentikanlah..."
"Ah, maaf ya. Sebaiknya kamu memang tidak usah mengingatnya ya. Kamu pasti bisa hidup lebih bahagia tanpa ingatan tentang kami kan. Eh, aku, sebaiknya harus bagaimana ya...?"
Pena Satsuki terhenti. Meskipun begitu, jemarinya masih tetap bergetar.
"Makanya, hentikanlah...!"
Melihat Satsuki yang hanya bisa memikirkan hal-hal setelah kematian terasa amat menyakitkan.
"Reine~, kamu tidak apa-apa?"
Hanya pandanganku yang mengikuti Satsuki.
Sambil memeluk buku catatan tersebut, Satsuki berpindah ke samping Reine. Ia merangkul bahu Reine, lalu mengelus punggungnya seolah sedang menenangkan seorang anak kecil.
"Satsuki... aku..."
"Tidak apa-apa. Kita akan terus bersama sampai akhir..."
Kata-kata itu terasa terlalu lembut hingga terasa sebagai hal yang paling buruk.
Melihat mereka berdua yang mulai menguatkan tekad berbalut kepedihan, tanpa sadar aku menggemertakkan gigiku.
Aku harus kehilangan Shino dan Shuna? Lalu kini aku juga harus kehilangan Satsuki dan Reine, tanpa bisa menyelamatkan siapa pun, dan hanya aku seorang yang melupakan segalanya lalu hidup tanpa beban?
"Gaya begini konyol...!"
Gigi gerahamku memekik keras.
Semuanya, seluruhnya, dirampas oleh Sano dan Hibise.
"Bukankah aku sudah memutuskan bakal melindungi kalian meski harus mati...!"
Padahal aku sudah menanamkan tekad untuk menyelamatkan mereka berempat dengan mengorbankan diriku sendiri. Namun, aku justru dibiarkan hidup secara memprihatinkan seperti ini.
"──Dibiarkan hidup?"
Hanya kata-kata itu yang tertambat di dalam kepalaku.
Hanya aku yang dibiarkan hidup.
Hanya aku yang ditinggalkan.
Hanya aku yang melupakan segalanya, lalu menyambut hari esok.
──Apakah hal itu benar-benar sebuah kebetulan?
Hibise bilang ia ingin mendapatkan diriku.
Sano membuat 【LoD】 demi bisa mendapatkan mereka berempat.
Kalau begitu, fakta bahwa hanya aku yang bertahan hidup dalam skenario ini tidak mungkin tanpa arti.
Jantungku berdegup amat kencang.
Di sudut pandanganku, Satsuki dan Reine saling merapat satu sama lain.
Terdengar suara jarum jam yang terus berdetak maju. Pada layar laptop, sosok yang dimodelkan berdasarkan diriku tetap terkapar, membentangkan tulisan BAD END.
"Mungkinkah...!"
Aku menutupi wajahku dengan tangan kiri.
Dengan ujung jari tangan kanan, aku mengetuk pelipis membentuk irama tertentu. Hal-hal yang tidak perlu mulai terkikis dari jalan pikiranku. Kesadaranku tenggelam semakin dalam, hanya berpusat pada hal yang ada di depan mata.
Ingatlah.
Kala itu, mengapa aku bisa mendapatkan masa depan ini?
Mengapa Satsuki dan yang lainnya bisa bertahan hidup?
Mengapa keinginan Sano bisa hancur?
Jawabannya sudah ada di sana sejak awal. Itu karena aku yang menjadi tumbalnya. Karena aku seorang yang keluar dari koridor keinginan Sano, mereka berempat bisa terselamatkan.
Kalau begitu, kali ini pun sama.
Hal yang dibutuhkan untuk menghancurkan keinginan Hibise adalah──
"...Benar juga."
Dari dasar tenggorokanku, terlepas sebuah suara yang tak jelas apakah itu tawa atau helaan napas.
"Benda itu kan masih ada!"
Aku menyisir rambutku ke atas.
Sambil membiarkan jemariku menari di udara, aku merangkai jalan pikiranku. Kepalaku yang tadinya keruh oleh kepanikan mendadak menjadi jernih. Darah yang tadinya mendingin kini berhembus kembali menuju otak.
Detak jantung memcepat.
Hembusan napas memendek.
Pancaindra menjadi sangat tajam.
Sensasi mahakuasa menguasai tubuhku, membuatku merasa seolah bisa melakukan apa saja.
"Haha, hahaha!"
"A-ada apa?"
Satsuki menatapku dengan raut ketakutan. Reine pun seolah lupa cara menangis, menatapku linglung dari balik selimut.
Aku tertawa secara alami.
Akhirnya aku bisa melihatnya.
──Hibise dan Sano.
Cara untuk mengelabui kedua penulis cerita itu, sekaligus menyelamatkan Satsuki dan Reine.
"Oke. Aku paham."
Tidak ada cara lain selain ini. Seharusnya tidak ada jawaban yang lebih sempurna daripada ini.
"Aku──bakal mati."
""Eh?""
Dalam sekejap, seluruh suara lenyap dari dalam kamar.
Suara jarum jam, hembusan napas Reine yang terisak, hingga suara kipas pendingin laptop, semuanya mendadak terdengar amat jauh.
Reine dan Satsuki menatapku dengan tatapan seolah melihat sesuatu yang tak masuk akal.
Itu wajar saja. Bahkan diriku sendiri pun tidak pernah menyangka akan sampai pada kesimpulan seperti itu hingga beberapa detik yang lalu. Namun, sekali hal itu terhubung, aku tak lagi bisa melihat jawaban selain itu.
"Petunjuknya kan sudah ada sejak awal! Bodoh juga aku!"
Saat mengalihkan pandangan, mereka berdua menatapku dengan raut cemas dan takut, jadi aku melemparkan senyuman lembut.
"Tenang saja. Kalian berdua pasti selamat kok."
Maksudku adalah menyampaikan bahwa semua akan baik-baik saja. Namun, ekspresi wajah Satsuki dan Reine sama sekali tidak mencerah. Malahan, rasa takut dan kebingungan di wajah mereka kian mengental.
"Aku tidak paham maksudmu... Kenapa bisa sampai pada kesimpulan begitu?"
"Akan kujelaskan dengan benar."
Suaraku terdengar tegas hingga mengejutkan diriku sendiri.
Jangan terburu-buru. Bicara secara berurutan. Jika tidak membuat mereka berdua paham dan menerimanya, aku bahkan tidak akan bisa mati.
"Pertama, 【LoD】 adalah game demi membuat kalian berempat menjadi milik Sano. Di saat yang sama, itu juga merupakan alat pembalasan dendam pada kalian. Sampai di sini bisa dipahami kan?"
"...Iya, benar."
Satsuki mengangguk pelan.
Sano ingin membuat Satsuki dan yang lainnya menjadi miliknya. Jika tidak bisa menjadi miliknya, ia ingin menghancurkannya. Karena itulah, baik di rute individual maupun di bad end, Satsuki dan yang lainnya mengalami hal-hal yang begitu mengerikan.
Hanya dengan memikirkannya saja sudah membuatku ingin muntah.
"Lalu, Hibise. Si brengsek itu menjadi penulis cerita demi bisa mendapatkan diriku."
Mereka berdua mengangguk.
"Tapi ada yang aneh."
Aku mengalihkan pandanganku ke arah laptop. Di dalam layar, karakter mob yang dimodelkan berdasarkan diriku terkapar tak berdaya.
"Selain di rute harem, aku pasti mati bersama kalian berdua kan."
"Memang benar..."
Terdengar suara napas yang tertahan.
"Kalau ingin membuat keinginan Hibise dan Sano berdampingan, harusnya aneh jika aku tidak dibiarkan hidup. Soalnya, kalau aku mati, Hibise tidak akan bisa mendapatkan diriku kan."
Sano menginginkan empat gadis.
Hibise menginginkan diriku.
Kalau begitu, jika dipikir secara normal, seharusnya mereka membuat rute di mana hasrat mereka berdua sama-sama terpenuhi.
Namun.
"Hibise tahu kalau dunia ini adalah 【LoD】."
Hibise bukan sekadar penulis skenario biasa. Ia menulis cerita ini dengan pemahaman penuh bahwa tindakannya akan memberi dampak pada dunia ini.
Kesimpulan yang ditarik dari hal itu hanya ada satu.
"Dengan kata lain, rute ending pemusnahan massal inilah yang sebenarnya menjadi keinginan Hibise."
Udara di dalam kamar terasa kian berat.
Satsuki menatapku lekat-lekat. Reine pun tak bergeming sambil terus menggenggam selimutnya erat-erat.
"Hibise memperhitungkan bahwa ia bisa mendapatkan diriku jika memilih rute ending pemusnahan massal. Hanya aku yang bertahan hidup, melupakan segalanya, lalu pergi ke samping Hibise. Itulah syarat kemenangannya."
"Aku sudah paham keinginan dan pemikiran Hibise... Aku juga bisa memahaminya! Tapi ya!"
Suara Satsuki mendadak meninggi. Amarah, ketakutan, kebingungan. Seluruh hal itu bercampur menjadi satu dalam suaranya.
Sambil tetap seperti itu, Satsuki menatapku dengan tajam.
"Kenapa kesimpulannya malah Satoshi-kun yang harus mati!?"
"──Karena itu bisa menghancurkan keinginan Hibise."
Satsuki tampak jelas panik dan kebingungan, sementara bahu Reine bergetar kecil.
"Kalau Hibise ingin mendapatkan diriku, aku tinggal membunuh diriku sendiri saja."
Saat diutarakan dengan kata-kata, hal itu terasa terlampau sederhana.
Alasan Satsuki dan yang lainnya masih bisa hidup saat ini adalah karena aku berhasil membongkar dan melampaui 【LoD】 yang mencerminkan jalan pikiran Sano.
Sano ingin memiliki atau membunuh mereka berempat. Namun, dengan aku seorang yang menjadi tumbal, mereka berempat keluar dari koridor keinginan Sano.
Kalau begitu, kali ini aku tinggal melakukan hal yang sama.
Hibise ingin mendapatkan diriku. Ia ingin membiarkan hanya aku yang hidup, membuatku melupakan mereka berempat, lalu menempatkanku di sisinya.
Kalau begitu, aku tinggal mati saja.
Mati, lalu menghancurkan keinginan Hibise.
Namun, berbanding terbalik denganku, pandangan mata Satsuki terasa begitu tajam.
"Hal, hal bodoh seperti itu... kamu pikir kami akan mengizinkannya!?"
Suara Satsuki terdengar bergetar.
"Hibise ingin mendapatkan diriku kan? Kalau begitu, begitu aku mati, Hibise akan menyerah atas diriku dan kalian bisa bertahan hidup."
"...Apakah benar-benar akan seperti itu?"
"Eh?"
"Kalau Hibise tahu Satoshi-kun mati demi kami──apa kamu pikir Hibise bakal membiarkan kami hidup tanpa beban?"
Satsuki menatapku yang tak lagi mampu melanjutkan kata-kata.
"Bisa jadi ia bakal membuat skenario baru lagi sebagai bentuk pembalasan dendam pada kami."
Dadaku mendadak mendingin.
"Jangan bilang tidak mungkin ya? Buktinya karena hal itu, dua orang lainnya sudah dibunuh kan."
Tekanan dalam suara Satsuki kian meningkat.
"Bukan, kalau cuma dibunuh biasa sih masih mending ya. Kita bisa saja dibunuh dengan cara yang sangat kejam. Bisa jadi cara mati yang seharusnya kita tempuh kalau tidak diselamatkan oleh Satoshi-kun."
Kepalaku terasa hendak mendidih. Akal sehatku memahami perkataan Satsuki.
Hal itu memang benar adanya. Bahkan jika aku mati, kemungkinan Hibise menulis cerita berikutnya tidak akan lenyap. Malahan, karena murka akibat diriku direbut darinya, ia mungkin akan memberikan skenario yang jauh lebih mengerikan kepada Satsuki dan yang lainnya.
Namun, emosiku menolak untuk mengakuinya. Satu-satunya jawaban yang kupikir telah kutemukan ternyata hanyalah fatamorgana belaka──mana mungkin aku bisa meyakininya begitu saja.
"Kalau begitu, aku harus bagaimana!?"
"Selain cara itu, tidak ada lagi cara untuk menyelamatkan kalian..."
"Kamu terus-terusan bilang menyelamatkan-menyelamatkan, tapi ya..."
Cahaya kehidupan kembali sirna dari manik mata Satsuki.
"Kita hanya akan kehilangan ingatan lalu mengulangnya dari awal lagi tahu."
"Hah?"
"Kalau memercayai kata-kata Hibise, kita tinggal melupakan soal 【LoD】, lalu mengulangnya dari awal bersama si sampah itu. Korbankan siapa yang ada?"
"──Kamu serius mengatakan hal itu?"
"Iya, aku serius."
Satsuki menegaskannya.
Setelah beberapa jam berlalu, seluruh ingatan kami akan lenyap. Bahkan bisa jadi kami akan melupakan segala hal yang berkaitan dengan 【LoD】. Lalu, aku hanya akan terus melanjutkan hidup.
Di universitas, aku akan tetap menjadi seorang penyendiri seperti biasa. Namun, Hibise akan terus menyapaku dan terlibat denganku secara intens. Ia akan berada di sisiku, tertawa, lalu mengisi kekosongan di dalam hatiku. Tanpa menyadari fakta bahwa aku telah kehilangan sesuatu, aku akan terus merasa terpenuhi.
Satsuki dan yang lainnya pun akan bereinkarnasi. Sosok yang ada di samping mereka bukanlah Sano dengan kepribadian menjijikkan seperti saat ini. Bisa jadi mereka akan bersatu dengan Sano Yuuto yang dulu pernah kukagumi.
Satu sama lain melupakan segalanya. Tidak ada kerugian apa pun. Semuanya hanya kembali menjadi nol.
Satsuki dan yang lainnya hanya akan mendapatkan tiket untuk bahagia bersama Sano. Kami hanya perlu meraih kebahagiaan masing-masing di dunia kami sendiri.
"Makanya, kami──"
"──Tidak mau...!"
"Eh?"
Hal yang keluar dari mulutku adalah sebuah penolakan bagaikan anak kecil.
"Aku tidak ingin menyerahkan kalian berdua pada Sano...!"
Satsuki bungkam.
"Setelah tahu dia adalah orang yang sangat brengsek seperti itu, aku tidak mau kalau Satsuki dan yang lainnya sampai menjadi miliknya!"
"──"
"Kenapa aku harus menyerahkan wanitaku pada orang seperti Sano!"
Pada detik saat aku berteriak, ada sesuatu yang hancur di dalam diriku.
"Memang benar, pada awalnya aku memang berpikir bahwa aku ingin kalian dan Sano bersatu! Sebagai orang yang mencintai 【LoD】, aku hanya ingin melihat happy ending kalian sebagai seorang otaku!"
Aku mengepalkan tanganku erat-erat.
"Tapi ya, si brengsek itu benar-benar sampah. Dia melewatkan pilihan jawaban sesederhana itu, padahal dia menyukai kalian, tetapi dia malah membiarkannya tanpa berbuat apa-apa!"
Menjijikkan. Segala hal tentang Sano terasa sangat menjijikkan.
"Karena aku tidak ingin mati, aku berusaha keras menggantikan dirinya demi menyelamatkan kalian. Demi melihat senyuman kalian, aku percaya bahwa ia akan bertobat!"
Suaraku terdengar parau.
"Namun, makin aku hidup di dalam cerita ini dan tahu bagian belakangnya, rasanya makin menyakitkan..."
Aku menundukkan wajahku.
"Tanpa disadari, aku malah jadi membenci kalian yang telah jatuh cinta pada sampah seperti itu..."
Itu adalah kata-kata yang paling menjijikkan. Meskipun begitu, itu adalah perasaan sejujurnya dari lubuk hatiku.
Aku menjadi benci pada 『Empat Gadis Cantik dari Empat Arah Mata Angin』. Aku membenci karakter yang diciptakan hanya demi jatuh cinta pada Sano. Bahkan sempat ada momen di mana aku berpikir bahwa kalian yang menangis, hancur, dan tewas demi pria semacam itu tampak begitu konyol.
"Meskipun begitu... Satsuki, Reine, Shuna, dan Shino. Kalian semua telah membantuku di balik jalannya cerita ini."
Di hari-hari yang bagaikan neraka itu. Meski tanpa ingatan, meski tidak tahu apa yang telah hilang dari diri kalian, meski kalian berada dalam situasi yang menyakitkan, kalian berempat tetap merentangkan tangan padaku.
Aku jatuh cinta pada kalian bukan sebagai karakter game, melainkan sebagai seorang manusia.
"Tidak bisa melindungi satu orang yang dicintai, sebenarnya apa yang sedang kulakukan...!"
Air mata menetes keluar.
Rasanya sangat menyedihkan. Benar-benar sangat menyedihkan.
Tidak ada yang berubah dari diriku sejak saat dilindungi oleh Satsuki dan yang lainnya di universitas.
Aku tetap saja lemah.
Pada akhirnya, aku tidak bisa menyelamatkan satu hal pun. Sama seperti di kehidupan laluku, aku hanyalah pembawa petaka yang hanya bisa membuat orang lain tertimpa kemalangan.
"...Jadi kamu memikirkan kami seperti itu ya."
Suara Satsuki terdengar.
Saat mengadahkan wajah, Satsuki sedang tersenyum.
"Selama ini aku selalu terngiang-ngiang soal alasan kenapa Satoshi-kun bisa menyukaiku."
Suara Satsuki terdengar sedikit bergetar.
"Bagaimana kalau kami bukanlah karakter dari 【LoD】? Bagaimana kalau Satoshi-kun tidak mengenal kami sejak awal?"
Ia tersenyum dengan senyuman yang seakan sanggup meremukkan niat membunuh sekalipun.
"Apakah kamu akan tetap mengutarakan rasa suka seperti saat ini?"
"Mana mungkin hal itu──"
Satsuki menggelengkan kepalanya secara perlahan, menghentikan kalimat yang hendak kuucapkan.
"Tapi, begitu ya."
Satsuki memicingkan matanya.
"Kekhawatiranku ternyata hanya prasangka yang sia-sia ya."
Seolah-olah ia telah terselamatkan.
Seolah-olah ia telah merelakan sesuatu.
Seakan-akan ia ingin menyampaikan bahwa tak ada lagi hal yang perlu ditakutkan.
"...Satsuki?"
"Kata-kata seindah itu, aku tidak ingin melupakannya."
Satsuki mengangguk dengan raut wajah seolah sedang bermimpi. Suaranya terdengar sangat tenang, hingga membuat tulang belakangku mendingin.
"Hei, Satsuki."
Meski aku memanggil namanya sekali lagi, Satsuki tidak memberi jawaban. Ia berdiri dengan tegak, lalu mulai melangkah seolah getaran tubuhnya yang tadi hanyalah kebohongan belaka.
Satsuki membuka pintu begitu saja dan melangkah menuju dapur.
Suara pijakan di lantai.
Suara pintu geser yang terbuka.
Suara peralatan makan yang saling bertumbukan ringan di dalam rak.
Setiap detail suara itu terdengar dengan sangat jelas secara aneh.
Aku tak mampu bangkit berdiri. Hanya firasat buruk yang mencuat naik hingga ke pangkal tenggorokan.
Lalu, Satsuki kembali.
──Sambil membawa sebilah pisau dapur.
"Satsuki?"
Suara panggilan namaku terdengar parau hingga terasa memprihatinkan.
Satsuki mengangkat pisau dapur itu tepat di samping wajahnya. Pada detik sisi bilahnya menghadap ke arah sini, pantulan cahaya lampu langit-langit membias, dan cahaya putihnya menancap di mataku. Wajah Satsuki tersenyum di balik cahaya tersebut.
Padahal ia seharusnya menangis sampai tadi.
Padahal ia seharusnya merasa takut.
Namun, kini sama sekali tak ada lagi emosi yang tersisa di dalam manik matanya.
"Kalau dipikir-pikir secara mendalam..."
Suara detik jam yang bergerak bergema di dalam kamar.
"Meskipun Satoshi-kun melupakan kami dan bertahan hidup, bukankah itu bukanlah Satoshi-kun yang kami cintai?"
Satsuki melangkah maju satu tapak mendekat.
"Bukan cuma itu, dia kan sudah jadi orang lain."
Satu tapak lagi.
"Kalau begitu, bukankah Satoshi-kun yang kita kenal itu artinya sudah mati?"
"Mungkin bisa dibilang begitu..."
Saat aku menjawabnya, sudut bibir Satsuki terangkat perlahan.
"Ya. Aku paham kalau tidak ada gunanya mengkhawatirkan Satoshi-kun di hari esok!"
Warna kesadaran sehat mendadak sirna dari manik mata Satsuki.
"Kalau begitu..."
Lalu, ia memiringkan kepalanya.
"──Ayo kita bunuh saja."
"Eh?"
Pada detik aku bertanya balik, pandangan mataku terlempar naik. Tubuhku melayang di udara, dan bohlam lampu di langit-langit tertangkap oleh mata.
Selanjutnya, senyuman Satsuki yang amat kelam terlihat. Semua itu berputar tajam, lalu benturan keras menjalar di belakang kepalaku.
"Ghh...!"
Butuh waktu beberapa detik untuk menyadari bahwa aku telah dihempaskan ke lantai.
Pandanganku berputar-putar tak tentu arah. Suara benturan tumpul bergema di dalam telingaku.
"Hup..."
Bersamaan dengan suara yang terdengar ringan itu, sebuah beban menindih di atas perutku.
Satsuki telah naik memangkasku. Sambil memegang pisau dapur, rambut merah mudanya bergoyang pelan.
"A-apa yang sedang kamu lakukan!?"
Reine melompat keluar dari balik selimut. Matanya membelalak lebar, dan bibirnya bergetar hebat.
"Apa katamu... Aku mau membunuh Satoshi-kun."
Satsuki mengucapkannya seolah-olah itu bukanlah hal yang besar.
Membuat sarapan.
Pergi berbelanja.
Suaranya terdengar persis seperti perpanjangan dari kegiatan
sehari-hari semacam itu.
"Kenapa Satoshi juga harus dibunuh!? Cukup kita saja...!"
"Reine..."
Satsuki menatap Reine dengan raut jengkel.
"Coba pikirkan sedikit lagi dong."
"Memikirkan apa...!"
"Kalau Satoshi-kun mati, Satoshi-kun bakal ada di dunia berikutnya kan?"
Tanpa sadar mataku bertautan dengan mata Reine.
Satsuki tampaknya menyadari kebingungan kami, tetapi ia tetap melanjutkan kata-katanya tanpa peduli.
"Tidak ada hubungannya dengan status sebagai orang yang bereinkarnasi atau bukan. Soalnya, 『Iriya Satoshi』 itu kan juga merupakan karakter dari 【LoD】."
Satsuki menggenggam kembali gagang pisau dapur itu erat-erat.
"Kalau kita mati, Satoshi-kun juga pasti akan ikut bersama kita."
Penalaran tersebut memiliki celah yang dapat diterima oleh akal sehat. Jika di dunia berikutnya Sano dan 『Empat Gadis Cantik dari Empat Arah Mata Angin』 ada, tidak mungkin 『Iriya Satoshi』 tidak ada.
Jika aku mati, aku bisa ikut bersama Satsuki dan yang lainnya.
Sambil mempertahankan kepribadian yang sekarang ini, mungkin aku bisa mengulangnya dari awal sekali lagi.
"...Mana mungkin bisa seperti itu...!"
Namun, Reine menolaknya.
"Sejak awal, kita ini akan kehilangan ingatan tahu? Satoshi juga bukanlah pengecualian dari hal itu!"
"Aku sudah tahu betul soal hal itu kok."
Satsuki menyatakannya tanpa ekspresi.
"Tapi ya, kalau tidak dicoba kan kita tidak akan tahu."
"...Kh, cuma karena hal seperti itu, mana boleh kamu merebut masa depan Satoshi!"
Suara Reine pecah bergema.
"Reine, aku juga ingin mencobanya..."
"...Bohong, kan?"
Aku mengangguk dalam diam. Daripada melupakan Satsuki dan yang lainnya lalu hidup tanpa beban, lalu dipenuhi oleh keinginan Hibise tanpa mengetahui apa pun, mati jauh lebih baik.
Namun, Reine menatapku sambil bergetar.
"...Kamu benar-benar, benar-benar mengatakan hal itu?"
"Ya. Persis seperti yang dibilang Satsuki."
"Bukan seperti itu maksudnya!"
Reine memotongnya.
"Bahkan jika bisa kembali ke masa lalu sambil membawa ingatan, apa kamu sanggup melihat kami bersatu dengan si sampah itu...?"
"...Hal, itu..."
Kata-kata tak lagi berlanjut dari mulutku. Hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat bagian dalam tenggorokanku membara.
"Satsuki juga sama saja!"
Reine menatap tajam ke arah Satsuki.
"Setelah tahu perasaan Satoshi, apa kita akan melupakan Satoshi lagi? Apa kamu tega memperlihatkan pada Satoshi sosok kita yang tersenyum pada sampah itu tanpa tahu apa-apa lagi?"
Reine memutarkannya dengan suara yang bergetar.
"Hal semacam itu, mana mungkin bisa kita lakukan lagi...!"
Mendengar kata-kata tersebut, Satsuki memalingkan pandangannya ke bawah. Lalu, ia segera menegakkan wajahnya kembali. Helaian rambut menyangkut di dalam mulutnya. Tanpa memedulikan hal itu sedikit pun, Satsuki menatap Reine.
"Benar-benar wanita yang sangat merepotkan."
Ia bergumam pelan dengan suara yang terlampau dingin hingga tak masuk akal.
Udara membeku. Satsuki benar-benar menatap Reine dengan raut yang teramat jengkel.
Reine pun ikut menyipitkan pandangan matanya. Manik matanya yang masih tersisa sisa air mata mendingin bagaikan es.
"──Kata-kata tadi, apa ditujukan padaku?"
"Iya."
Satsuki mengangguk secara santai.
"Aku selalu memikirkannya, tapi Reine itu benar-benar merepotkan ya."
"Begitu ya."
"Lagipula mau bagaimana pun kita kan tidak akan mengingat apa pun?"
"Benar juga. Lalu?"
"Apa kamu tidak paham? Ada atau tidaknya ingatan Satoshi-kun itu sama sekali tidak penting bagi kita di dunia berikutnya tahu."
Mendengar kata-kata itu, alis Reine tampak bergerak sedikit.
Sambil tetap menatapku ke bawah, Satsuki tersenyum dengan raut yang licik.
"Tapi ya, aku ingin dia mengingat diriku yang sekarang ini tahu. Meskipun kita melupakan Satoshi-kun di dunia berikutnya, kalau cuma Satoshi-kun yang mengingatnya, itu artinya kita akan selalu tersisa di dalam diri Satoshi-kun kan? Membayangkannya saja sudah membuatku merasa senang."
Bilah pisau dapur bergoyang di sudut pandanganku.
Satsuki tertawa sambil mengangkat ujung bibirnya.
"Kalau begitu, bukankah lebih baik seperti itu?"
"Jika kamu mengutarakannya secara sungguh-sungguh, berarti selama ini aku telah salah menilaimu, Satsuki."
Suara Reine terdengar makin rendah. Ia sedikit meretakkan dagunya, menatap tajam ke arah Satsuki seolah merendahkannya.
"Menjijikkan sekali."
Satsuki menggidikkan bahunya. Ia miringkan kepalanya sedikit seolah sedang mengejek Reine.
"Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan tentang diriku selama ini, tapi aku tidak akan pernah berubah tahu."
"Kalau begitu, kita putus hubungan."
"H-hei! Kenapa kalian berdua malah bertengkar!"
Aku berusaha untuk bangkit berdiri. Namun, lutut Satsuki menekan perutku erat-erat.
Berat. Aku tidak bisa bergerak.
Ujung pisau dapur itu diarahkannya tepat ke dadaku.
"Kalau begitu, biarkan aku menuntaskan keinginanku yang sekarang ini ya."
Satsuki menatapku dengan tatapan merendahkan.
"Satoshi-kun, matilah."
Pisau dapur itu diayunkan ke bawah.
Cahaya perak memantul di permukaannya.
Tenggorokanku menegang.
Tubuhku tidak bisa bergerak.
Bilah pisau itu melayang turun begitu saja──
"Satsuki bodoh ini...!"
"Kh!"
Pada detik berikutnya, beban di perutku sirna seketika.
Reine telah menerjang Satsuki. Tubuh Satsuki terlempar ke samping, dan mereka berdua berguling bersama di atas lantai.
Pisau dapur itu jatuh terhempas ke lantai. Suara nyaring bergema di dalam kamar.
"Jangan menghalangi dong. Aku kan sedang di tengah-tengah membunuh Satoshi-kun tahu."
"Jangan bercanda...!"
Reine dan Satsuki saling bergulat di atas lantai.
"Mana ada hak bagi kita untuk mengubah masa depan Satoshi!?"
"Bisa diam tidak sih. Cara bertindak sok benar dan pura-pura manis seperti itu, aku benar-benar membencinya."
"Kalau bicara soal itu, sifatmu yang suka berasumsi secara berlebihan itu terasa sangat menjijikkan tahu. Dasar menhera!"
Mereka berdua saling mencengkeram lengan, merusak tataan rambut, dan saling menindih.
Kaki meja mengikis lantai. Sofa tumbang, kabel laptop tertarik lepas, dan layarnya gelap seketika dalam sekejap. Suara benturan tumpul saat bahu menabrak dinding.
Suara selimut yang terinjak-injak.
Helaan napas yang memburu.
Makian.
"Hei... hentikan..."
Suaraku tidak mau keluar.
Padahal aku ingin menyelamatkan mereka berdua. Padahal aku sedang mencari cara untuk menyelamatkan mereka. Bahkan sekarang pun, aku sudah menanamkan tekad untuk mati demi mereka berdua, tapi kenapa mereka berdua malah hancur dengan cara seperti ini?
"Aku mohon..."
Namun, suara itu tidak sampai pada mereka berdua.
Satsuki menindih tubuh Reine, lalu menatap ke bawah ke arah Reine sambil terengah-engah.
Manik matanya terasa sangat dingin. Sangat tidak menyerupai Satsuki yang hingga beberapa hari lalu selalu tertawa ceria hampir setiap hari.
Reine yang berada di bawahnya pun menatap balik Satsuki dengan tajam. Namun, posisinya sangat buruk. Tubuhnya telah terkunci sepenuhnya.
"──Lagipula kalau Reine juga akan mati..."
Satsuki mencengkeram leher Reine dengan kedua tangannya.
"Biar aku saja yang membunuhmu."
"...Kh!"
Jemari Satsuki menancap di leher putih Reine.
"Aku jadi merasa sedikit bersyukur karena ingatan kita bakal dihapus ya."
Tenaga Satsuki kian mengeras di tangannya.
"Karena meskipun membunuh Reine yang sangat kubenci ini──aku tidak perlu merasakan rasa bersalah apa pun."
Wajah Reine terdistorsi kesakitan.
Dari tenggorokannya, terlepas suara yang tak lagi membentuk kata-kata. Reine memberontak, memukulkan kakinya ke lantai, mencengkeram lengan Satsuki, dan menancapkan kukunya. Namun, lengan Satsuki tidak bergeming. Bagai cengkeraman ragum, ia terus mencekik leher Reine.
"Satsuki, hentikan!"
"Diam dan tonton saja. Bentar lagi aku juga bakal membunuh Satoshi-kun kok."
Kaki Reine memukul-mukul lantai. Satu tangannya menepuk-nepuk lengan Satsuki berulang kali. Suara itu makin lama makin melemah.
Mataku bertautan dengan mata Reine. Manik matanya yang basah oleh air mata. Bibir yang kehilangan rona darah. Mata yang berjuang keras menyampaikan sesuatu tanpa mampu mengutarakannya lewat suara.
──Selamatkan aku.
"Kh!"
Pada detik itu juga, tubuhku bergerak dengan sendirinya. Tanganku merentang bahkan sebelum sempat berpikir.
Begitu bangkit berdiri, kakiku terhuyung. Aku hanya terus melangkah secara membabi buta mengincar punggung Satsuki.
Aku harus menghentikannya.
Aku harus menghentikan Satsuki.
Kalau tidak kuhentikan.
Aku bakal──
"Lho...?"
Punggung Satsuki memerah.
Pada awalnya aku tidak paham apa yang baru saja terjadi. Tubuh Satsuki bergetar kecil. Tenaga pada tangan yang mencekik leher Reine melonggar seketika.
Di tanganku, sebilah pisau dapur tergenggam. Namun, mata pisaunya sudah tak lagi terlihat.
Saat ini, bilah itu tertancap di dalam tubuh Satsuki──
"Ugh, uhuk-uhuk!"
Reine terbatuk-batuk berjuang menghirup udara.
Sambil memegangi lehernya dan berguling di lantai, ia berusaha keras menari napas.
Aku tak mampu bergerak. Diriku sendiri tak bisa memahami apa yang baru saja kulakukan. Kepalaku mendadak kosong. Tak ada perintah yang sampai ke bagian tubuh mana pun.
Sistemku tidak merespons. Tak ada satu pun yang bisa digerakkan.
Tubuh Satsuki perlahan-lahan condong tumbang.
"Kalau begitu... tak apa-apa kok..."
Lewat suara itu, kesadaranku akhirnya pulih kembali.
"A-aku, tidak berniat melakukan hal ini..."
Suara parau terlepas dari dalam tenggorokanku.
Aku merentangkan tangan ke arah perut Satsuki.
Dari sela-sela jemariku, cairan hangat merembes keluar begitu deras.
Itu adalah darah.
Pada detik aku memahaminya, seluruh tubuhku memucat.
Aku menyambar sembarang kain dari tumpukan pakaian kotor di dekatku. Aku menekan kain itu kuat-kuat ke perut Satsuki. Namun, kain tersebut berubah warna menjadi merah dalam sekejap, dan meski terus kutekan, darah itu tetap saja meluap dari sela-sela tanganku.
"Soalnya kalau tidak begini, aku berpikir... kamu tidak akan mau membunuhku..."
"Kamu ini... bicara apa..."
Saat Satsuki hendak ambruk, aku menahannya dengan panik.
Terasa ringan. Terasa jauh lebih ringan daripada biasanya.
Tenaga melayang lepas dari tubuh Satsuki. Area perutnya terwarnai merah oleh darah, dan garis darah tipis mengalir perlahan dari sudut bibirnya.
"Dikeluarkan oleh dunia ini... aku tidak mau, tapi... kalau dibunuh oleh Satoshi-kun... sepertinya tak apa-apa..."
Satsuki menghirup napas dengan sangat kesakitan. Suara hembusan napasnya kian melemah.
"Maaf ya... Harus membuatmu menanggung... dosa paling buruk seperti ini..."
Satsuki tersenyum secara lemah.
"Tapi, sedikit lagi... aku pikir... kamu sudah bisa melupakannya..."
"Jangan bercanda!"
Tenggorokanku serasa hendak robek.
"Kenapa kamu selalu seperti itu!? Mengambil kesimpulan sendiri dan memutuskan hal seenaknya sendiri!"
Membentaknya pun tak ada gunanya. Aku rasanya hampir hancur menghadapi situasi yang tak lagi bisa diperbaiki ini.
"Aku... aku... harus bagaimana lagi...!"
Tangan Satsuki menyentuh pipiku. Ujung-ujung jarinya mulai terasa dingin. Meskipun begitu, sentuhannya tetaplah Satsuki yang seperti biasanya.
"Lupakanlah tentang kami, lalu bahagialah..."
Senyuman yang bagaikan bunga sakura. Namun, itu adalah sakura di detik-detik sebelum berguguran. Indah, rapuh, dan seakan seluruhnya bakal hancur jika tersentuh.
"Meskipun tidak akan tersisa di dalam ingatan maupun catatan..."
Suara Satsuki perlahan-lahan makin mengecil.
"3 tahun ini sangat membahagiakan tahu."
"Kh."
"...Ah, benar juga!"
Satsuki mengedipkan matanya seolah baru ingat sesuatu.
"Bisa tolong sampaikan permohonan maafku pada Reine...? Soalnya aku... sudah bicara hal yang jahat padanya..."
"Bicarakan saja sendiri...! Setelah melakukan hal seperti itu, Reine kasihan sekali kan..."
"...Mau bagaimana lagi."
Bibirnya agak sedikit memanyun.
"Soalnya Reine itu cantik sih... Padahal begitu, dia juga feminin, dan imut..."
Kata-katanya perlahan-lahan menyusut surut.
"Ah, benar juga...!"
Dengan tangan yang tak lagi bertenaga, ia mengisyaratkan wajahku mendekat.
"Apa...?"
Pada detik aku mendekatkan wajahku, sensasi lembut menyentuh bibirku.
"Ehehe."
Satsuki tersenyum dengan raut wajah yang sedikit bangga.
"Ini ciuman terakhir, kan...?"
Pada detik aku mendengar suara itu, dadaku serasa hancur berkeping-keping.
Aku merasa seolah kelopak bunga sakura gugur satu demi satu dari dalam diri Satsuki. Bayangan senyumannya kian memudar. Cahaya di balik manik matanya perlahan-lahan makin menjauh.
Satsuki tak lagi menatapku. Meskipun begitu, ia tetap terus tersenyum ke arahku.
"Kalau begitu, selamat... tinggal... aku su... ka kamu..."
Dari dalam pelukanku, bobot tubuh Satsuki melayang lenyap. Tangannya terkulai jatuh, dan kepalanya terantuk ke lantai. Terdengar suara benturan tumpul yang berat.
Hanya itu saja.
"Satsuki!?"
Aku memanggil namanya, tetapi tak ada jawaban.
"Hei, jangan tidur. Jangan pergi, mohon...!"
Aku mencengkeram bahu Satsuki, menyentuh pipinya, dan menempelkan tangan di jantungnya. Namun, tak ada satu pun balasan yang kembali.
"Hei, aku mohon...!"
Hanya suaraku yang terdengar canggung tak berdaya.
"Aku mohon padamu, bangunlah..."
Aku memeluk erat sosok yang pernah menjadi Satsuki itu.
Bersamaan dengan darah yang meluap dari perutnya, tubuhnya kian mendingin. Meskipun aku memeluknya rapat-rapat, ia terasa makin menjauh.
Air mata menetes keluar secara alami.
"Membuatku membunuhmu sendiri, kamu benar-benar wanita paling buruk..."
Kamu malah meninggalkanku bersama dosa yang sangat luar biasa ini.
Aku menggigit bibirku rapat-rapat. Aku tak mampu bergerak selama beberapa saat sambil terus memeluk Satsuki.
"...Ngh, Satsuki..."
Suara parau terdengar. Reine menegakkan tubuhnya secara perlahan.
Sambil memegangi lehernya dan bernapas dengan sangat kesakitan, ia menatap Satsuki yang terbaring tepat di sampingnya.
Wajah Reine terdistorsi. Ia tampak seolah hendak menangis keras, tetapi ia segera menggigit bibirnya erat-erat. Ia menekan suara tangisnya di dasar tenggorokan.
"Reine──Satsuki itu..."
"Aku tidak butuh."
"Eh?"
Reine menyela dengan tegas.
"Aku tidak butuh permohonan maaf dari orang lain. Aku tidak akan memaafkannya."
"...Benar juga."
Tangan Reine bergetar. Matanya merah padam.
Meskipun begitu, ia berjuang keras menahannya agar tidak menangis.
──Setidaknya berbohonglah yang sedikit lebih masuk akal.
"Tinggal kita berdua saja ya..."
Reine tidak menjawab. Ia menyambar handuk yang ada di dekatnya, lalu menutupkannya pelan ke wajah Satsuki.
Setelah itu, ia mengelus rambut berwarna merah muda sakura yang merembes keluar dari ujung handuk.
Usapannya terasa begitu lembut. Sangat tidak mencerminkan tangan seorang wanita yang mengaku tidak akan memaafkannya.
Reine melangkah menuju sampingku begitu saja, lalu menyandarkan bahunya padaku.
Tanganku berlumuran darah.
Pakaianku pun kotor.
Meskipun begitu, Reine tidak menjauh.
Aku merengkuh tubuh Reine mendekat. Hanya suhu tubuh Reine yang menjadi satu-satunya kenyataan yang masih tersisa di sini saat ini. Namun, aku tidak tahu cara untuk menyelamatkan Reine.
Saat melihat ke arah jam, tersisa 1 jam lagi menuju hari esok.
"──Apakah aku sangat akrab dengan gadis bernama Shuna dan Shino itu?"
Itu adalah pertanyaan yang mendadak.
Aku terpaku sejenak secara linglung, lalu segera menjawabnya.
"...Ya, Reine selalu menjadikan Shuna sebagai bantal peluk, dan Reine selalu memamerkan buku apa yang dibacanya sampai membuat Shino kerepotan."
Pemandangan itu terbayang di dalam kepalaku.
Tepat di sofa sana, hingga beberapa hari yang lalu mereka berempat berkumpul bersama. Reine menempel pada Shuna, Shino membicarakan buku, dan Satsuki tertawa saat melihat hal itu.
Itu baru beberapa hari yang lalu.
Padahal begitu, rasanya sudah seperti masa lalu yang teramat jauh.
"Aku berpikir bahwa aku hanya memiliki Satsuki dan Satoshi."
Reine bergumam pelan.
"Lihatlah, aku ini wanita yang merepotkan kan? Karena itulah aku tidak bisa membuat teman, jadi aku selalu manja pada Satsuki, membuatnya jengkel, dan membuatnya marah seperti hari ini."
Reine melanjutkan kata-katanya sambil terus menatap ke arah Satsuki.
"...Benar juga."
"Bantahlah di bagian itu. Bilang kalau aku tidak bersalah sedikit pun."
Reine memanyunkan bibirnya. Gestur itu sangat mencerminkan sosok Reine yang biasanya.
"Tapi, wanita sepertiku ini ternyata punya 2 teman lagi yang bisa kubuka hatiku ya..."
Udara mendadak terhenti, dan aku menatap Reine.
"Reine...?"
Reine menatap pisau dapur berdarah yang tergeletak di lantai. Jantungku berdegup menghentakkan suara yang tidak menyenangkan.
Reine meraih dan memegang pisau dapur itu.
"Aku juga──akan pergi."
"Tunggu! Tunggu dulu!"
Aku mencengkeram tangan Reine.
"Lagipula sisa hidupku tinggal beberapa puluh menit lagi kan?"
"Makanya, hal itu..."
"──Sudah tidak bisa lagi."
Reine menyatakannya dengan tegas.
"Mari kita menyerah. Satoshi sudah berjuang dengan sangat baik."
"Kh."
Suaranya terasa begitu bermartabat hingga tak menyiratkan sosok wanita yang terus menangis sampai tadi.
Aku hanya memicingkan pandangan mata tanpa sanggup mengutarakan sepatah kata pun.
Terasa sangat menyedihkan.
Setelah ditegaskan dan dipaksa menyerah oleh Reine, di sudut hatiku, ada bagian dari diriku yang merasa lega.
Aku tak perlu menyelamatkan siapa pun lagi. Aku tak perlu mencari cara lagi.
Diriku yang sempat berpikiran seperti itu terasa amat menjijikkan dari lubuk hati yang paling dalam.
"Dengarkan perkataanku sampai akhir."
"Apa yang..."
"Aku sangat menyukai Satoshi."
Itu adalah perasaan suka yang tersampaikan secara jujur dan lurus.
Di situasi seperti ini, di kamar seperti ini, di samping Satsuki. Meskipun begitu, kata-kata Reine tetap terasa begitu indah.
Aku menegakkan wajahku. Reine sedang tersenyum.
"Hanya saja, aku menyukai Satsuki sama besarnya seperti aku menyukaimu."
"Reine..."
"Bukan hanya itu saja."
Reine tertawa seolah merasa kesulitan.
"Meski tak ada di dalam ingatan, aku juga pasti sangat menyukai Shuna dan Shino."
Reine menempelkan tangannya di dada.
"Karena hanya bentuk dari hal-hal berharga yang telah melayang lepas saja yang tersisa di sini."
Reine kembali tersenyum seolah merasa kesulitan.
"Merepotkannya, aku ini orang yang serakah tahu. Aku tidak akan puas hanya dengan Satoshi seorang. Aku ingin dikelilingi oleh orang-orang yang sangat kucintai."
"Artinya cuma aku yang ditinggal sendirian kan..."
"Jangan mengatakan hal yang menyebalkan begitu."
"...Maaf."
Aku memicingkan manik mataku. Namun, kata-kata berikutnya tak lagi bisa kubiarkan begitu saja.
"Lalu, Hibise juga."
Hati ini mendingin seketika dalam sekejap. Air mata menyusut surut dengan cepat.
"...Kenapa nama Hibise bisa keluar di saat seperti ini?"
Itu adalah nama dari sosok yang paling ingin kubunuh di tempat ini saat ini. Namun, Reine hanya mengerutkan wajahnya seolah merasa heran.
"Biar kutegaskan, aku berpikir bahwa si sampah itu harusnya dibunuh bersama-sama tahu. Lagipula dia adalah musuh Satsuki."
"Kalau begitu, jangan membicarakan hal yang tidak-tidak..."
"Ini bukan hal yang tidak-tidak tahu."
Reine menyatakannya dengan mantap.
"Bagaimana ya bilangnya, aku merasa seperti pernah bertemu dengan anak itu."
Lalu, ia mengutarakannya.
"──Apakah aku melupakannya karena 『Daya Paksa Dunia』?"
"Hal itu..."
Aku pun telah melupakan soal Hibise.
Aku baru mengetahui hasil tersebut dengan melihat 【Buku Harian】. Reine bahkan telah melupakan soal Hibise yang berada di sini selama beberapa hari terakhir ini.
"Mulai dari sini dan seterusnya adalah surat wasiat."
"Mana ada surat wasiat yang sewenang-wenang begitu..."
"Dengarkan baik-baik, Tuan Cengeng."
"...Apaan, Putri Tercantik di Dunia."
Candaan yang sangat tipis ini terasa begitu nyaman di telinga saat ini.
"Hibise itu memiliki aroma yang sama denganku tahu."
"Reine jauh lebih indah dan imut kan..."
"Ehem. Sekarang hal semacam itu tidak penting!"
Reine menepuk bahuku. Gestur tersipunya sangat mencerminkan Reine yang seperti biasanya.
"Bagaimana harus mengatakannya ya. Saat berbicara dengan kita, terasa ada sensasi kalau dia memaksakan diri berpura-pura menjadi suatu karakter."
"Apa-apaan hal itu..."
"Apa kamu tidak merasa familier?"
"Mana ada──"
Aku terhenti di tengah-tengah kalimat.
Sifat aslinya yang sebenarnya adalah 'keadaan yang menyedihkan' itu. Namun, setelah ketahuan bahwa dirinya adalah penulis skenario dari 5th ROUTE dan 【LoD】, sikap menyedihkan itu tak lagi terasa sama sekali.
Jika ia sedang berakting, ia adalah aktor yang luar biasa hebat, tetapi mengenai Hibise, rasanya ada sesuatu yang berbeda.
"Sepertinya ada sesuatu ya?"
"...Bukan hal yang sehebat itu kok."
"Begitu ya, kalau begitu syukurlah."
Reine mengangguk pelan. Lalu, ia meraih pisau dapur berdarah yang telah menancap di tubuh Satsuki.
Aku harus menghentikannya. Namun, suara tak mau keluar. Tubuh tak mampu bergerak. Diriku tak lagi memiliki tenaga untuk menghentikan Reine.
Reine berakting dengan sangat tegar, dan di detik-detik paling akhir, ia meninggalkan hal yang harus kulakukan padaku.
"Nee, Satoshi..."
"...Apa?"
"Bahagialah──ya?"
Reine tersenyum sambil menggenangkan air mata.
Pada detik berikutnya, warna merah berhamburan, dan tubuh Reine ambruk terhempas ke lantai bagaikan boneka yang terputus benangnya.
Kulit putih Reine perlahan-lahan terwarnai oleh warna merah.
Aku tak mampu bergerak. Bahkan suara teriakan pun telah mengering sepenuhnya.
Reine terus tersenyum hingga saat-saat terakhirnya.



Post a Comment