NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Shibou End wo Kaihi shita Galge no Heroine-tachi ga Ore no [Nikki-chou] o Yonde Himitsu o Shitta Rashii Volume 3 Chapter 7

 Penerjemah: Amir

Proffreader: Amir


Chapter 7

Maafkan Aku

Malam musim panas terasa begitu menyenangkan hingga membuatku sangat jengkel. Angin yang mengelus kulit tidak terasa dingin, tidak pula terasa hangat. Hembusannya mengelus leher, menyapu rasa panas dari punggung yang berpeluh. Sensasinya terasa seakan sedang dihibur secara lembut oleh seseorang, terasa amat sangat nyaman hingga membuatku merasa jijik.


Di bawah tirisan atap salah satu rumah, genta angin tertiup bernyanyi.


Ting.


Suara yang jernih itu melarut ke dalam taman di tengah malam.


Di bawah lampu jalan, serangga-serangga kecil terbang berputar-putar tanpa arah yang pasti, sementara di kejauhan suara laju mobil bergema samar.


Waktu sudah melewati pukul 23:30.


Harusnya, segalanya sudah berakhir kan.


"Sepertinya mereka sudah mati ya."


Aku mengukir senyuman di bibirku.


Padahal ini adalah malam di mana seseorang tewas.


Padahal 4 orang wanita telah dibunuh. 


Meskipun begitu, segala hal berjalan persis seperti biasanya.


"Akhirrrrnya, aku bisa membunuh mereka. Bisa melenyapkan mereka. Sejak daaaahulu kala, mereka sangat mengganggu dan aku ingin mereka lenyap tahu."


Nada suaraku terdengar dangkal dan asal-asalan seperti biasa.


Bercanda, membuat orang lain jengkel, sebuah suara yang paling buruk. 


Sikap semacam itu adalah keahlianku.


"Wanita yang tiba-tiba muncul seperti itu mana boleh biarkan hidup. Mereka itu bersalah, sangat bersalah."


Aku mengutarakannya di taman yang tak berpenghuni, seolah sedang memprotes kepada hakim yang tak kasatmata.


Mereka hanyalah wanita yang membaca catatan yang tersisa di 【Buku Harian】, merasa paham akan segalanya, lalu seenaknya duduk di samping usaha keras dan perasaan Senpai. 


Wanita memang sering kali duduk di samping usaha keras pria dengan raut wajah yang seolah merasa hal itu sudah sewajarnya. Mereka adalah contoh paling nyata dari hal itu.


Kalau begitu, akulah yang seharusnya terbalaskan.


Aku yang memikirkan 『Iriya Satoshi』 melebihi siapa pun.

Aku yang menopang 『Iriya Satoshi』 melebihi siapa pun.

Aku yang hidup demi 『Iriya Satoshi』 melebihi siapa pun.


Benar kan? Jika tidak begitu, bukankah aneh?


Nee.


"Satoshi-senpai..."


Pada detik aku memanggil nama itu, pangkal tenggorokanku mendadak tersumbat.


Sambil tetap memakai headphone, aku duduk memeluk lutut di atas bangku taman.


Aku tidak memutar musik apa pun. Bahkan aku tidak berniat untuk memutarnya. Apa pun yang kudengar sekarang hanya terasa tidak menyenangkan. Mulai dari lagu favoritku hingga suara tawa seseorang. Seluruhnya terdengar seolah-olah sedang menyalahkanku.


"Apa yang sedang kulakukan sih..."


Ungkapan kelemahan terlepas secara alami dari mulutku. Senyuman yang terukir di wajahku hingga tadi perlahan terkelupas dari pipi. Sekadar mengangkat ujung bibir saja sudah menyedot seluruh tenagaku. Jika tidak tertawa, aku merasa diriku bakal hancur.


Begitu melewati pergantian tanggal, tak ada seorang pun selain diriku yang akan mengingat situasi yang mengenaskan ini.


Baik Saionji Satsuki, Kitagawa Reine, Nanjou Shuna, maupun Shinonome Shino. Semuanya, seluruhnya akan dianggap tidak pernah ada.


Kecuali Iriya Satoshi.


"Maafkan aku..."


Tanpa disadari, bibirku bergerak sendiri.


Aku sendiri tidak tahu permohonan maaf itu ditujukan untuk siapa.


"Maafkan aku... maafkan aku."


Kata-kata yang terus kualirkan setiap hari dan setiap malam.

Kata-kata yang tidak akan pernah didengar oleh siapa pun.

Kata-kata yang tidak sampai kepada siapa pun, tidak diampuni oleh siapa pun, tetapi tetap tak sanggup untuk tidak kumuntahkan.


Aku menekan dahi ke lututku.


Headphone yang kukenakan agak sedikit bergeser, membuat suara genta angin terdengar terlampau jelas. Suara yang menyegarkan itu terdengar seolah-olah sedang menghakimiku. 


Saat ini, hal itu terasa teramat sangat nyaman.


Secara tidak sengaja aku mengadahkan pandanganku.


"Eh?"


Jantungku serasa terhenti seketika.


Membelakangi cahaya lampu jalan, sosok seseorang berdiri di sana. Ia menatapku dengan manik mata tanpa emosi, seolah segala hal telah terkikis habis dari dalam dirinya.


"──Kamu sedang minta maaf pada siapa?"


◇


"Kenapa, kenapa Senpai bisa ada di sini...?"


Hibise bertanya dengan suara yang parau.


Aku tak menjawab dan hanya menatap balik Hibise dari atas.


Hibise yang duduk di tengah-tengah bangku taman bergeser sedikit ke samping, seolah terdorong oleh tatapan mataku.


Tersisa ruang kosong untuk satu orang.


Aku duduk tepat di samping Hibise.


Angin berembus. Pohonan di taman bergemuruh pelan, dan di suatu tempat yang jauh genta angin tertiup menyuarakan dentangannya.


Sambil tetap menatap lurus ke depan, aku mengutarakannya tanpa ekspresi.


"Yang bilang kalau ada hal penting bakal datang ke sini kan aku."


"──"


"Aku cuma datang ke sini karena memercayai kata-kata Reine."


"Begitu ya..."


Aku sama sekali tidak menyukai senyuman itu.


Jangan tersenyum dengan raut bahagia sambil memasang wajah yang hampir menangis begitu, pikirku.


"Kenapa kamu malah tertawa?"


"Soalnya... Senpai itu sangat baik."


"Kan sudah kubilang, aku cuma datang ke sini karena memercayai kata-kata Reine."


Aku mengutarakannya seolah hendak menepis kata-kata Hibise.


Aku tidak baik. Sama sekali tidak baik. Aku tidak datang menemui anak ini karena didasari oleh kebaikan.


Jika Hibise adalah seorang penulis skenario yang dipenuhi oleh niat jahat, aku berpikir untuk segera membunuhnya saat itu juga. Namun, aku langsung tahu bahwa hal itu tidak benar pada detik pertama aku melihatnya.


Aku mengeluarkan pisau dapur dari dalam saku.


Bilah pisaunya berkilau putih usai menangkap cahaya lampu jalan.

Pandangan mata Hibise jatuh perlahan ke arah pisau itu.


Meskipun begitu, Hibise tidak mundur satu tapak pun, tidak pula menunjukkan rasa takut. Malahan, ia tampak seolah merasa lega di suatu bagian dirinya.


"Sudah tidak ada waktu lagi sampai pergantian tanggal kan."


Sambil tetap mengarahkan ujung pisau dapur ke arah Hibise, aku mengucapkannya dengan nada rendah.


"──Ceritakan semuanya."


◇


"──Aku bisa menjadi penulis skenario 【LoD】 itu benar-benar murni karena kebetulan."


Suaranya terdengar kecil.


"Aku disapa saat acara open campus. Pada saat itulah aku mengetahui bahwa orang itu adalah seorang penulis skenario."


Hibise menyatukan jemarinya di atas lutut. Ujung-ujung jarinya bergetar pelan.


"Pada awalnya aku berpikir untuk membunuhnya."


Suhu suaranya merosot turun.


"Satoshi-senpai, betapa buruknya nasib yang harus kita alami akibat ulah orang ini...! Jika memikirkan hal itu, tidak ada alasan untuk tidak membunuhnya...!"


Tenggorokannya bergetar. Niat membunuh yang ia muntahkan adalah hal yang nyata.


"Namun, sosok diriku yang lain muncul dari dalam diriku, dan tanpa disadari aku malah membantunya dalam pembuatan 【LoD】."


Hibise menyipitkan matanya seolah sedang menatap ke tempat yang jauh.


"Sensasi euforia pada saat itu sangat luar biasa. Tidak ada hal yang terasa sesenang ini saat menuliskannya. Ah, aku hidup demi menciptakan kisah ini... Aku benar-benar berpikiran seperti itu dari lubuk hati."


Kata-kata tersebut terasa sangat dekat dengan sebuah pengakuan dosa.


"Pada saat aku menyadari bahwa aku telah melakukan hal yang tak lagi bisa diperbaiki, segalanya sudah terlambat."


Saat Hibise menundukkan kepala, poni panjangnya menyembunyikan raut wajahnya.


"Semua heroine selain yang bersatu dengannya akan dibunuh. Begitu pula dengan tewasnya Satoshi-senpai. Skenario, ilustrasi, hingga CG pun perlahan-lahan selesai dikerjakan... Tepat persis sama seperti 【LoD】 yang kita ketahui."


Tenaga terkumpul di tanganku, membuat ujung bilah pisau sedikit bergoyang.


Pada saat itulah aku akhirnya menyadari bahwa napas diriku sendiri telah memburu.


"Aku menyuarakan revisi skenario berulang kali pada pihak tim produksi."


Namun, Hibise tersenyum secara santai seolah mengejek dirinya sendiri.


"Aku mengajukan skenario di mana Senpai sekalian tidak tewas, demi menghentikan tragedi 【LoD】. Hanya saja──"


Suaranya makin mengecil.


"Apa pun yang kukatakan, segalanya sia-sia."


"..."


"Kalau begitu, ada juga cara untuk menghapus skenario itu dengan tanganku sendiri, lalu menghancurkan 【LoD】 itu sendiri."


Hibise menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Tapi, aku berpikir. Jika aku sampai menghapus skenario itu, apa yang akan terjadi pada Satsuki-senpai dan yang lainnya di dunia berikutnya. Jangan-jangan, itu malah berarti akulah yang telah membunuh mereka."


Aku menurunkan lenganku. 


Angin berembus melewati celah di antara kami berdua.


"...Sebenarnya apa yang dimaksud dengan 5th ROUTE itu?"


Dengan susah payah aku memeras suaraku.


"【LoD】 itu bukankah sudah tamat. Mana mungkin ada sekuel yang dirilis kan?"


Bahu Hibise melompat kecil.


"5th ROUTE adalah kisah yang dibuat seenaknya sendiri oleh orang itu setelah 【LoD】 selesai dikerjakan."


Hibise melanjutkannya dengan nada datar.


"Rekaman kamera pengawas itulah yang mengubah rasa cinta Sano Yuuto kepada Satsuki-senpai dan yang lainnya menjadi rasa benci."


"...Mana ada hal seenaknya sendiri seperti itu."


"Ya. Benar sekali. Aku merasa hal itu benar-benar sangat menjijikkan."


Bagian dalam mulutku mengering. Kemarahan yang dingin mengendap jauh di dasar dada.


Memasang kamera pengawas di kamar orang lain.

Mengamati kami seenaknya sendiri.

Kecewa seenaknya sendiri.

Membenci seenaknya sendiri.


Ia adalah pelaku pemerasan emosional yang paling buruk.


Hibise pun pasti memendam perasaan yang sama. Terasa ada rasa jijik di dalam suaranya.


"Karena itulah, sudah sewajarnya Satsuki-senpai dan yang lainnya membunuh orang itu. Jika bom semacam itu berada di dekat mereka, orang itu memang harus dibunuh."


Hibise tidak menyalahkan Satsuki dan yang lainnya.


Malahan, ia merasa iba.


"Namun, aku telah meremehkan kebulatan tekad orang itu."


Hibise menyatakannya dengan tenang.


"Bagaimana pun caranya, ia ingin mendapatkan keempat wanita itu. Demi tujuan tersebut, 5th ROUTE yang seharusnya tidak ada malah bergerak dengan sendirinya."


"──"


"Bahkan tanpa adanya sang tokoh utama, tetap saja demi membunuh Satsuki-senpai dan yang lainnya."


Tanpa sadar aku mengepalkan tanganku erat-erat.


Aku tidak bisa menerima, tidak pula bisa memahami hal itu.


Meskipun begitu, aku tidak punya bahan apa pun untuk membantah kata-kata Hibise. Kebulatan tekad yang seharusnya tidak ada telah membangkitkan kembali 『Daya Paksa Dunia』.


"...Bagaimana dengan diriku yang bertahan hidup? Maksudku, aku juga termasuk dalam target rasa dendam Sano, kan?"


Hibise tidak langsung menjawab.


Ia menggigit bibirnya. Ia memalingkan pandangannya ke bawah. Setelah itu, ia membuka mulutnya seolah merasa berat untuk mengatakannya.


"...Hal yang bisa kulakukan──hanya menyelamatkan Satoshi-senpai seorang."


"Hah?"


"Aku ini juga seorang penulis skenario. Walau cuma penulis skenario lemah yang tak bisa merombak skenario 【LoD】 sama sekali."


Hibise tertawa seolah mengejek dirinya sendiri.


"Aku cuma mengarahkan niat membunuh orang itu agar hanya tertuju kepada mereka berempat."


Lalu ia mengutarakannya begitu saja.


"'Bukankah bakal terasa lebih menyenangkan jika kita membunuh mereka berempat sambil menyisakan keputusasaan untuk Satoshi-senpai?' begitu..."


Pada detik aku menyadarinya, aku melempar pisau dapur itu dan mencengkeram kerah baju Hibise dengan kasar.


Terdengar suara pisau menancap di tanah. Tubuhnya yang kurus tertarik mendekat ke arahku dengan sangat mudah.


Hibise tidak berbuat apa-apa, ia hanya menatapku. Seolah-olah ia berpikir bahwa dipukul pun adalah hal yang memang sepantasnya.


"Kenapa, kenapa, kenapa kamu lakukan itu...!"


Aku paham apa yang hendak dilakukan oleh Hibise.


Aku sudah terlanjur memahaminya.


Di dalam skenario 【LoD】, aku seharusnya dibunuh. Baik di rute individual maupun di ending kemusnahan total, harusnya aku diasumsikan bakal tewas.


Namun, Hibise sengaja menyisakan hal itu.


『Seorang siswa SMA ditabrak truk yang menerobos lampu merah. BAD END. 』


Karena ia tahu──hanya lewat cara itulah aku bisa tetap hidup.


Jika ia memiliki niat jahat, ia cukup menyisakan sepatah kata 'tewas'.


Rasa janggal yang sempat terlintas tipis di benakku, akhirnya membentuk wujud yang nyata.


──Hibise bermaksud untuk menyelamatkanku.


Dari pusaran neraka bernama 【LoD】 ini. Ia berniat meloloskan diriku seorang ke luar.


"──Alasan kenapa aku mencari Sano Yuuto usai berjumpa kembali dengan Satoshi-senpai... adalah karena aku berpikir mungkin saja aku bisa menghentikan 5th ROUTE."


Hibise mengutarakannya sambil tetap dicengkeram kerah bajunya.


"Saat menghabiskan waktu bersama dalam pembuatan 【LoD】, aku merasakan keberadaanku perlahan-lahan membesar di dalam diri pria itu. Kalau aku bisa mengalihkan perasaannya padaku, aku berpikir mungkin saja..."


"Hal itu..."


Kata-kata tak lagi berlanjut dari mulutku.


"Yah, karena orang itu sudah mati, aku tidak perlu melemparkan diriku sendiri. Hanya saja, karena hal itu telah membuat Satsuki-senpai dan yang lainnya mengambil keputusan seperti itu, aku ini benar-benar yang paling buruk ya..."


Ia mengejek dirinya sendiri secara ironis.


Meskipun mendengar cerita itu, tubuhku tetap bergetar.


"Kenapa kamu melakukan hal seperti itu...!"


Harapan yang tak boleh diucapkan meluap naik dari dasar perutku.


"──Daripada harus bertahan hidup sambil merasakan hal seperti ini, mati jauh lebih baik...!"


Menjijikkan sekali. Aku benar-benar yang paling buruk.


Mendengar kata-kata itu, wajah Hibise terdistorsi kesakitan.


"Tapi... tapi...! Demi menyelamatkan Senpai, cuma ini satu-satunya cara yang ada tahu...!"


Pada detik itu juga, bagaikan tanggul yang jebol, air mata menetes deras berhamburan dari mata Hibise.


"Demi hal itu, aku harus bergulat dengan dilema setiap hari karena telah mencampakkan Satsuki-chan dan yang lainnya!"


Aku membelalakkan mata mendengar kata penyebutan yang tak biasa kudengar itu.


"Satsuki-chan itu selalu saja merasa minder karena menganggap dirinya terlalu biasa! Benar-benar dasar bodoh, bodoh! Sama sekali tidak benar kalau dia tidak punya kelebihan apa-apa! Aku ini selalu terselamatkan oleh keceriaan itu tahu!"


Hibise berteriak.


"Reine adalah teman membaca pertamaku saat aku masih hidup menyendiri! Padahal dia cantik, tapi sebenarnya manja sekali. Sampai-sampai aku bingung siapa yang lebih tua, padahal begitu dia sangat suka kontak fisik, tapi terkadang dia bisa bersikap sangat penuh kasih sayang bagaikan seorang kakak kandung...! Padahal dia tumbuh besar di lingkungan yang serusak itu...!"


Raut wajahnya yang berantakan oleh air mata terus memuntahkan perasaan jujurnya.


"Ketua Shuna itu manusia yang kacau! Dia cuma memikirkan orang lain dan mengabaikan dirinya sendiri! Maksudnya apa coba membagikan hartanya yang tinggal sedikit itu kepada orang lain! Yang selalu kerepotan itu kan aku!"


Ia berusaha menahan isak tangisnya, tetapi kata-katanya tak sanggup terhenti akibat luapan perasaan yang terus membanjir.


"Sebaliknya, Shino-sensei itu terlampau agung! Dia selalu memasang wajah seolah bertanya kenapa hal yang tak kupahami itu tidak bisa kupahami! Seberapa bodoh sih aku harus diperlakukan olehnya!? Tapi, saat aku sedang kesulitan dia selalu ada di sisiku untuk menyemangatiku. Bahkan sampai mengacaukan pekerjaannya dan dimaki-maki oleh keluarganya... demi orang sepertiku ini...!"


Suara Hibise kian hancur berantakan.


"Orang-orang yang sangat kucintai itu..."


Di titik itu, kata-katanya terhenti sejenak.


Hibise menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Bahunya bergetar hebat. Tubuhnya yang kurus tampak seakan hendak patah saat itu juga.


"Demi Satoshi-senpai yang paling kucintai dan paling ingin kubuat bahagia, aku telah membuang mereka semua tahu!?"


Hibise tersungkur meringkuk.


Teriakannya bergema sia-sia di taman malam itu.


Tak ada siapa-siapa di sana.

Tak ada seorang pun yang mendengarkannya.


Dunia terus membunyikan dentangan genta angin dengan raut yang tak mau tahu akan pengakuan dosa Hibise.


Hibise tersungkur meringkuk di atas bangku taman.


"Makanya, aku ingin para Senpai memuntahkan kata-kata kutukan padaku hingga saat-saat terakhir──lalu mati."


Hibise menatapku dengan mata yang basah oleh air mata.


"Hal itu berlaku untuk Senpai juga tahu. Kenapa sih, sampai akhir pun Senpai sama sekali tidak berniat membunuhku..."


Lalu, Hibise menutupi wajahnya.


"Aku ini benar-benar wanita yang menyedihkan. Pada akhirnya aku tidak bisa menuntaskan peran sebagai sosok yang dibenci hingga akhir."


Ia memuntahkannya dengan suara yang serak oleh tangisan.


Itu bukanlah suara yang ditujukan untuk memprovokasi orang, bukan pula suara untuk bercanda. Itu hanyalah suara seorang wanita yang terluka, hancur, dan sedang menantikan hukumannya.


Tenaga melayang lepas dari tubuhku secara perlahan.


Melihat Hibise yang menangis di hadapanku, aku merasakan niat membunuh yang ada di dasar dadaku perlahan-lahan kehilangan wujudnya.


Ia memang membiarkan Satsuki dan yang lainnya tewas. Namun, ia berusaha menyelamatkanku seorang. Ia pun sebenarnya sangat mencintai Satsuki dan yang lainnya. Justru karena terlampau mencintai mereka, ia tak sanggup memaafkan dirinya sendiri yang telah mencampakkan mereka.


Hibise bukanlah musuh. Ia adalah manusia yang dihempas hingga gila oleh 【LoD】 sama seperti kami.


Syukurlah aku memercayai kata-kata Reine.


Hibise yang ada di hadapanku saat ini adalah sosok Hibise yang tak perlu lagi berakting memainkan peran apa pun. Justru karena 【LoD】 akan lenyap, ia akhirnya sanggup memuntahkan perasaan jujur yang paling akhir ini. Topeng antagonisnya telah terkelupas, dan perasaan Hibise akhirnya tersampaikan padaku.


Kamu ini terlampau ceroboh tahu...


Aku melihat ke arah layar ponsel.


Pukul 23:45.


Tersisa 15 menit lagi menuju pergantian tanggal.


Begitu melewati waktu itu, aku akan melupakan soal 【LoD】. Baik senyuman mereka, wajah menangis mereka, wajah marah mereka, hingga suara mereka yang mengutarakan bahwa mereka menyukaiku.


Seluruhnya akan lenyap dari dunia ini.


Angin berembus. Angin musim panas yang tidak dingin dan tidak pula hangat berembus melewati celah di antara kami berdua. Rambut pirang Hibise bergoyang memantulkan cahaya rembulan.


"Kalau begitu, aku pergi dulu ya..."


Tak ada lagi artinya berada di sini.


Aku sudah mendengar perasaan jujur Hibise.

Aku sudah tahu apa yang telah dilakukannya.

Aku sudah bisa merasakan perasaannya.

Aku pun sudah paham alasan kenapa aku bisa tetap bertahan hidup.


Aku bangkit berdiri dari bangku taman. Hibise mengadahkan wajahnya. Manik matanya yang sembap oleh air mata menengadah menatapku.


"Ke mana...?"


"Sudah pasti kan?"


Aku mengadahkan pandangan ke arah langit sekali. Lalu, aku menatap Hibise.


"Aku mau menyusul Satsuki dan yang lainnya."


"Eh?"


Raut wajah Hibise membeku seketika.


"Satsuki pernah bilang. Karena aku juga merupakan karakter dari 【LoD】, aku bisa kembali ke 【LoD】."


"...Tidak boleh."


Itu adalah jawaban yang instan. Bahkan tanpa sempat mengusap air matanya, Hibise menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.


"Tidak boleh. Sama sekali tidak boleh."


"Kenapa..."


Aku paham apa yang ingin dikatakannya, tetapi aku tidak berniat untuk berhenti. Bahkan jika aku tidak bisa kembali ke wujud semula, paling-paling aku hanya akan mati.


Hibise membaca isi hatiku, tetapi ia tetap mengutarakannya sambil bergetar.


"...Skenario terburuk jika Senpai bisa kembali ke 【LoD】 pun, sama sekali tidak ada jaminan kalau Senpai bakal memiliki ingatan yang sekarang tahu?"


"...Ah, begitu ya."


Aku paham apa yang ingin ia sampaikan.


Hanya saja.


"Kalau soal itu tak apa-apa kok."


Aku tersenyum. Itu adalah senyuman yang teramat tenang hingga membuat diriku sendiri merasa muak.


"Kenapa bisa begitu?"


"...Jangan mengatakan hal yang aneh-aneh. Bukankah ini adalah hasil dari permohonanmu sendiri?"


"Eh?"


Hibise membelalakkan matanya.


"Aku tahu kalau 【LoD】 itu terus berulang. Makanya, meskipun Hibise terlibat sebagai seorang penulis skenario, kamu tidak bisa melarikan diri dari 『Daya Paksa Dunia』. Kamu tidak bisa merombak skenario tersebut."


"Benar..."


"Tapi, bukankah ada satu hal yang terasa teramat sangat aneh?"


Aku menatap Hibise dari atas.


"Apakah 『Iriya Satoshi』 memiliki pengaturan karakter sebagai seorang yang bereinkarnasi?"


"──"


Hibise membeku seketika.


Jika tujuan dari 【LoD】 memang murni hanya untuk terus mengulang skenario tersebut, keberadaan diriku adalah sebuah pengganggu. Keberadaan yang memiliki ingatan dari dunia sebelumnya, mencampuri urusan Satsuki dan yang lainnya, serta memicu kesalahan pada bad end.


Hal semacam itu sama sekali tidak diperlukan sejak awal. Meskipun 『Daya Paksa Dunia』 itu nyata ada, aku memang benar-benar merupakan wujud distorsi dari dunia ini.


"Aku berpikir bahwa berkat sosok 'Harusora Hibise' dari dunia sebelumnya dan dunia sebelumnya lagi yang terus-menerus terlibat karena membenci ending semacam ini, 【LoD】 perlahan-lahan mulai berubah."


Begitu pula dengan 5th ROUTE.


Jika 【LoD】 memang telah selesai ditamatkan, Sano tidak perlu mengkhayalkan kisah semacam itu.


Tidak ada alasan untuk mengembalikan Satsuki dan yang lainnya secara paksa menggunakan rute yang tidak pernah ada.


Kalau begitu, dunia ini memang tidak sempurna.


Skenario itu tidak mutlak. Keinginan seseorang yang menumpuk secara berulang-ulang perlahan-lahan meretakkan kisah ini. Sebuah bug yang terselip di dalam putaran berulang yang terasa tanpa batas ini.


Hal itu adalah.


"Kecacatan yang terlahir di dalam 【LoD】 lewat diriku."


Pada detik aku mengucapkannya, bagian dalam dadaku terasa sedikit menghangat.


"Makanya, aku mau pergi menemui Satsuki dan yang lainnya."


"Kh, bukankah itu bodoh!?"


"Kamu mendengarkan perkataanku tidak sih..."


Biarkan aku terlihat keren sedikit dong.


"Bodoh. Sangat bodoh. Super sangat bodoh tahu!"


"Makanya, kenapa..."


"Lagipula, menyaksikan Satsuki-senpai dan yang lainnya bersatu dengan Sano Yuuto tepat di depan mata, kenapa Senpai bisa berbuat hal semacam itu!?"


"──"


"Tidak, Senpai mungkin memang sanggup menyaksikannya! Soalnya Senpai itu kuat!"


Ia menatapku dengan tajam.


"Tapi aku sudah tidak mau lagi. Melihat raut wajah Senpai yang tampak sedih itu...! Entah sudah berapa kali dilupakan, dibuat patah hati, dan merasakan kesedihan..."


Lalu Hibise tertawa. Itu adalah senyuman yang tampak seperti sudah hancur.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita lupakan saja semuanya seperti ini...?"


Itu adalah ajakan yang sangat manis.


Satsuki melambaikan tangan pada Sano.

Reine berdiri di samping Sano.

Shuna tersenyum pada Sano.

Shino menatap Sano.


Aku hanya menyaksikan pemandangan itu sebagai seorang karakter figuran biasa. Hanya membayangkannya saja, dadaku terasa begitu sesak bagai hancur berantakan.


Jika begitu, berada di dalam cengkeraman alur waktu seperti ini lalu melupakan soal 【LoD】 memang jauh lebih baik. Melupakan segalanya dan hidup sebagai manusia yang tidak tahu apa-apa mungkin adalah pilihan yang tepat.


Namun.


"Maaf ya, Hibise."


Aku sudah tahu perasaan seperti apa yang mendasari pilihan Hibise.

Meskipun begitu.


"Aku sudah memutuskan untuk hidup demi mereka."


Karena itulah.


"Menjalani hidup tanpa mereka di sampingku, sampai mati pun aku tidak mau."


"──"


Pada akhirnya, hanya sebatas itu saja.


Apakah itu benar.

Apakah itu salah.

Bisa diselamatkan atau tidak bisa diselamatkan.

Hal-hal semacam itu──sudah tidak penting lagi.


Aku hanya tidak ingin hidup di dunia yang tidak ada mereka di dalamnya.


"Makanya, aku akan pergi."


"Begitu, ya..."


Hibise bergumam pelan.


"Meskipun orang-orang itu sudah mati, aku tetap tidak terpilih ya..."


Dengan raut penuh rasa kecewa. Tampak begitu kesepian. Meskipun begitu, ia mengukir ekspresi yang tampak begitu lega seolah bebannya telah diangkat.


Hibise bangkit berdiri dari bangku taman, lalu membelakangiku.


"Selamat tinggal."


Seakan sudah merasa puas, Hibise berniat melangkah pergi begitu saja.


"──Tunggu dulu."


"Eh?"


"Mau pergi ke mana secara mendadak begitu... Kita belum selesai bicara tahu?"


Aku mencengkeram tangan Hibise. Itu adalah tangan yang kurus.


"...Ada apa? Setelah ini aku berpikir untuk menjalani masa akhir hidupku sendirian dengan kesepian di dunia yang sudah tidak ada seorang pun dari para Senpai tahu."


Hibise menatapku dengan mata yang lesu. Ia berusaha kembali ke pembawaannya yang seperti biasa. Menggunakan candaan tipis untuk menyembunyikan air matanya.


"Ikutlah mati──bersamaku."


Di kejauhan, suara perlintasan kereta api terdengar bergema. Raut emosi sirna dari wajah Hibise.


"...Bercanda kan?"


"Aku tidak sedang bercanda."


Aku tidak melepaskan tangan yang kugenggam.


"Aku sudah tidak boleh kehilangan mereka lagi. Tapi kalau pada akhirnya harus berakhir dengan batas akhir yang sama, bukankah hal itu tidak ada artinya?"


Aku menatap Hibise lurus-lurus.


"Kalau kamu dan aku bekerja sama, kita mungkin bisa mengakhiri 【LoD】."


Aku seorang diri tidak akan cukup. Hanya mengandalkan sosok bereinkarnasi yang memiliki pengetahuan tentang 【LoD】 hanya akan menjadi tindakan perpanjangan hidup bagi Satsuki dan yang lainnya, tanpa pernah bisa mengakhiri 【LoD】.


Meskipun ia tak mampu berbuat apa-apa terhadap Sano, Hibise adalah seorang penulis skenario. Ia adalah sosok yang memahami bagian dalam skenario melebihi siapa pun.


"...Aku paham logikasinya, tapi apa Senpai sadar kalau Senpai baru saja mengutarakan hal yang paling menjijikkan?"


Demi menyelamatkan empat orang wanita, membunuh gadis yang menyukai diriku. Lalu memanfaatkan rasa cinta itu untuk membawanya ke dunia berikutnya.


Demi menyelamatkan mereka.


Hanya memaksakan harapan sekehendak sendiri, lalu memaksa memegang tiket satu arah menuju neraka.


Benar-benar sangat menjijikkan.


"──Ah."


Aku mengangguk.


Aku tidak mau merasakan hal semacam ini lagi.


Sosok diriku yang mengagumi Sano Yuuto yang hanya sekadar baik hati telah berakhir. Sosok diriku yang berpikiran bahwa jika bersikap baik pada seseorang maka suatu saat akan terbalaskan telah mati.


Mulai dari sini dan seterusnya, aku hanya akan hidup demi menyelamatkan orang yang kucintai.


Demi hal itu, aku bakal memanfaatkan apa pun. Meskipun itu adalah seorang gadis yang mengutarakan bahwa ia menyukaiku.


"...Aku sedang meratapi rasa penyesalanku karena telah jatuh cinta pada pria yang benar-benar merepotkan."


Hibise menggerutu.


"Maaf ya..."


"Benar tahu. Senpai itu pria paling buruk yang sangat jahat."


Hibise tertawa dengan wajah yang masih menyisakan air mata.


"Cari saja pria lain."


"Tentu saja! Begitu lulus SMA, aku bakal menggaet pria dengan spesifikasi luar biasa yang jauh lebih tampan, lebih baik hati, lebih kaya, dan lebih pintar daripada Senpai!"


Iya, iya, jawabku mengalirkannya secara asal-asalan.


Hibise tidak mengutarakan apa-apa lagi setelah itu.


"Sungguh ya, kenapa sih aku bisa jatuh cinta pada pria seperti ini..."


"Kalau dikatakan dua kali secara berturut-turut, sejujurnya rasanya agak menyedihkan tahu?"


"Rasakanlah walau cuma seperseribu dari rasa sedihku!"


Begitu keluar dari taman, rel kereta api membentang tepat di sana. Lampu merah perlintasan kereta api merembes samar di tengah malam kota. Sisa rasa panas siang hari masih tertinggal di atas aspal, merambat perlahan melewati sol sepatu.


Pukul 23:59.


Kereta terakhir.


Kami terhenti satu tapak di depan perlintasan kereta api.


"──Hei, Senpai."


"Hmm?"


Saat aku bertanya balik, Hibise menggenggam tanganku. Jika di situasi biasa, hal ini akan diartikan sebagai perselingkuhan oleh Satsuki dan yang lainnya. Namun, saat ini tidak ada siapa-siapa di sini.


Karena itulah, aku tidak menolaknya.


"Karena aku bersedia ikut mati bersamamu, aku ingin kamu berjanji satu hal padaku."


Hibise mengutarakannya sambil menatap ke seberang perlintasan kereta api.


"Kemungkinan untuk menyukaiku──tolong tetap sisakan ya?"


Hal itu terasa lebih seperti sebuah permohonan daripada sebuah pernyataan cinta.


Aku membungkam mulutku sejenak.


"Aku mengerti..."


"Janji ya?"


Saat aku mengangguk dalam diam, Hibise tersenyum seolah merasa puas.


Geng, geng, geng, geng.


Suara perlintasan kereta api kian mengencang. Lampu merah berkedip bergantian.


Dari kegelapan, sorot lampu putih mendekat ke arah kami.


Udara malam bergetar, dan rel kereta meraung rendah.


Angin menerjang maju dari arah depan.


Kami melangkahi perlintasan kereta api. Tangan Hibise menggenggam tanganku erat-erat. Sorot lampu kereta menyilaukan pandangan mata hingga memutih.


Pada detik itu juga, aku menatap Hibise dari sudut mataku.


──Maafkan aku ya? Karena menjadi pria sampah.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close