NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Shibou End wo Kaihi shita Galge no Heroine-tachi ga Ore no [Nikki-chou] o Yonde Himitsu o Shitta Rashii Volume 3 Chapter 2.1

 Penerjemah: Amir

Proffreader: Amir


Chapter 2.1

VS Kitagawa Reine 

Setelah kegiatan pagi selesai, kali ini Satoshi-senpai benar-benar berubah menjadi abu putih. Oleh para binatang mesum yang menari kegirangan, energi dan staminanya dihisap sampai habis tanpa sisa.


Sosoknya yang terkapar di atas futon sudah bukan lagi terlihat seperti manusia, melainkan sesuatu yang telah hangus terbakar.


Matanya kosong, pipinya tirus, dan bibirnya pucat pasi.


Aku rasa kalau mereka melangkah satu tahap lagi, ini benar-benar akan berujung pada ending kematian.


Katanya sih, "Kami melakukannya berlebihan♡".


Meninggalkan Senpai yang sedang sekarat itu, kami akan pergi bermain ke sungai mulai sekarang.


Seluruh area di sekitar sini adalah kawasan pegunungan milik Shinonome Group. Hampir tidak ada orang yang keluar-masuk, jadi meski gadis-gadis berparas cantik ini bermain dengan pakaian renang, tidak ada perlu mengkhawatirkan godaan pria atau kamera tersembunyi.


Bagi mereka, tempat ini sangat cocok untuk melepas penat. Dan bagiku, situasi gembira ini adalah kesempatan emas yang datang sekali seumur hidup.


Aku menatap wajah tidur Satoshi-senpai yang terlelap di atas futon. Karena poni rambutnya menutupi area mata, aku menyapunya perlahan dengan ujung jari. Aroma keringat dan sedikit sisa rasa hangat. Wajah tidur yang terlihat jauh lebih tanpa pertahanan dari biasanya.


"Aku bukan tipe wanita yang bakal meninggalkan Senpai begitu saja lalu pergi ke suatu tempat, tahu...?"


Mencoba mengatakannya sendiri malah membuatku sedikit mabuk oleh suasana.


Diriku yang sekarang adalah Saint yang penuh kasih sayang. Bukan wanita yang hanya bisa merampas. Melainkan sosok yang menopang, mendekap, dan menyembuhkan.


Wajahku perlahan mendekat ke wajah tidur Senpai, dan──.


"Sedang apa kamu?"


"Eh?"


Suara yang terdengar dari arah belakang membuat seluruh darah di tubuhku membeku.


Saat berbalik dengan kaku, di sana berdiri Reine-senpai yang sedang menyandarkan punggungnya ke dinding sambil melipat tangan. Rambut peraknya terurai ke bahu, dan ia menatapku dengan raut wajah yang tampak tenang.


Ekspresinya sangat tenang. Sangat amat tenang. Saking tenangnya sampai-sampai terasa menakutkan, tahu!?


Keringat dingin bercucuran deras di dahiku.


"K-Kalian bukannya sudah pergi duluan?"


"Ya. Kami memang pergi duluan. Hanya saja, buku milikku tertinggal."


"Pergi ke sungai tapi membawa buku..."


"Menikmati suasana kan bukan cuma dengan berenang. Membaca buku di bawah payung sambil merasakan ion negatif dari sinar matahari yang menyusup di antara dedaunan... bukankah itu juga cara menghabiskan waktu yang elegan?"


"B-Benar juga! Seperti yang diharapkan dari Reine-senpai! Sangat berbudaya! Intelektual! Gadis literatur! Kalau begitu, let's go!"


Ayo kita bermain sepuasnya!


"Tunggu dulu."


"Guhe!?"


Kerah bajuku ditarik, membuat suara aneh terlepas dari tenggorokanku.


"Hibise, tadi kamu sedang melakukan apa?"


"M-Melakukan apa maksudnya... aku cuma datang untuk memetik bunga, kok?"


"Kalau mau ke kamar mandi, adanya di lobi."


"..."


"Masa harus repot-repot kembali ke kamar?"


"..."


"Seingatku kamu bilang sakit perut──"


"Aaaaa, sudah hentikan, dong!? Aku ngaku kalah, deh!"


Demi mendapatkan Senpai, aku telah membuang seluruh harga diriku sebagai seorang wanita.


『Perutku sakit banget! Kalian pergi duluan saja! Aku bakal menyusul nanti!』


──Padahal aku sudah membuang harga diri seorang gadis...


Pada akhirnya, menghadapi kenyataan kalau aksiku ini sudah terbongkar, aku hanya bisa menundukkan bahuku lesu. Tapi, kalau cuma terbongkar oleh Reine-senpai seorang, lukanya masih tergolong ringan. Kalau aku bisa pura-pura tidak tahu dan pura-pura lugu, lalu paling parah tinggal membungkam Reine-senpai saja──.


"Sekadar informasi, Satsuki dan yang lainnya juga sudah sadar, lho."


"E-Eh...?"


Satu kalimat keputusasaan terlontar.


"Semuanya dibuat ilfil. Tapi, karena kami tidak bisa membiarkan Satoshi dan Hibise ditinggal berdua, kami menentukan siapa yang bakal membawa Hibise kembali lewat main batu-gunting-kertas."


"M-Masa sih!"


Ini adalah kemungkinan terburuk.


Serangan nekat yang memertaruhkan nyawaku ini ternyata dipertontonkan di hadapan mereka berempat.


"...Sampai panik begitu, apa kamu tidak punya harga diri sebagai wanita?"


"Aku bahkan rela membuang hal semacam itu demi bisa mengelabuhi kalian semua, tahu!"


Padahal ini adalah kesempatan langka untuk bisa tinggal berdua dengannya.


Pria yang disukai itu harus direbut dengan keberuntungan dan kemampuan diri!


"Tapi, aku sedikit ingin meniru mentalitasmu yang rela membuang harga diri demi mencapai tujuan."


"E-Ehm. Terima kasih banyak."


Karena mendadak dipuji, aku hanya mengangguk samar.


"Fakta bahwa Satoshi sama sekali tidak melihat Hibise sebagai seorang wanita adalah sebuah pencapaian bagus. Kamu benar-benar wanita yang menyedihkan..."


"Ma-ka-nya~! Apa maksudnya aku ini 'menyedihkan', sih!?"


Tingkat kewaspadaan Reine-senpai terhadapku terlihat merosot drastis di matanya. Fakta bahwa ia menjadi lengah memang sangat menguntungkan bagi pihakku.


Tapi, tetap saja menyebalkan. Sangat amat menyebalkan.


Tanpa mengubah ekspresi wajahnya, Reine-senpai yang menilai kalau aku tidak bisa melakukan apa pun pada Satoshi-senpai memisahkan rambut peraknya dengan mengibaskannya pelan.


Rambut perak yang diterpa sinar matahari itu berkilau dengan cantiknya sampai-sampai terasa menyebalkan.


──Bikin jengkel saja.


Sebenarnya aku berpikir kalau terlalu banyak berbuat curang itu tidak dewasa. Tetapi, setelah diremehkan sejauh ini, aku tidak punya pilihan selain membalasnya.


"──Ngomong-ngomong, Reine-senpai."


"Ada apa?"


Melihat Reine-senpai yang menatapku dengan wajah tenang, aku dengan sengaja berdeham pelan.


Ini adalah hadiah balasan atas tindakannya yang telah menginjak-injak harga diriku. Menyerang titik lemah Reine-senpai sedikit saja rasanya tidak akan membuatku kena karma, kan.


Aku menangkupkan tangan di dada, lalu membuat suaraku semaniss-maniss-manisnya.


"『Aku tuka banget tamuuu♡』"


"Hah?"


Sepertinya dia masih belum paham.


Kalau begitu, mari kubuat sedikit lebih mudah dipahami.


"『Hari ini juga mau tidur bareng! Tidak mau kalau Satoshi tidak ada di dekatku, tidak mau!』"


"K-Kamu...!"


Rona merah perlahan merebak di wajahnya yang putih dan berseri.


"『Cium! Cium!』"


"Segera tutup mulutmu itu! Tidak, aku yang akan membungkammu!"


Reine-senpai melangkah maju menerjang. Incarannya adalah pita dan headphone-ku. Ia mungkin berpikir bisa mengendalikanku kalau berhasil mencengkeram bagian itu, tetapi pemikirannya terlalu dangkal. Aku tidak akan jatuh pada trik yang sama berulang kali!


"Fufufu! Ternyata Reine-senpai manja sekali, ya!"


"Diamlah!"


"Kyaa, takutnya!"


Dengan gesit aku menghindar dari jangkauan tangan Reine-senpai, lalu berlari sekencang-kencangnya di dalam kamar.


Futon, meja rendah, bantal duduk, barang bawaan. Kamar berarsitektur Jepang di penginapan ini sekilas tampak tidak memiliki jalan keluar, tetapi ternyata memiliki cukup banyak rintangan.


Tubuhku yang mungil justru lebih diuntungkan di tempat seperti ini.


"Tapi tapi~ yang paling imut itu sikapmu terhadap 3 orang lainnya, lho~"


"Cih! Jangan berani-berani membuka mulutmu lagi!"


"『Padahal Satsuki menyebalkan saat bangun, tetapi wajah tidurnya imut sekali, ya. Cium』"


"H-Hentikan!"


"『Shuna benar-benar kenyal dan nyaman diusap, ya. Mau kusedot saja perutnya』"


"Sampai mana kamu tahu!?"


"『Shino imut sekali seperti boneka, ya. Siu-shiu ~』"


"Bukan, bukan begitu!"


Cool Beauty yang sempurna kini gemetaran hebat akibat rasa malu. Bukan cuma pipi, bahkan sampai ke lehernya merona merah padam, dan pandangan mata yang tertuju padaku jelas memancarkan kegugupan.


Fufun.


Bagaimana, inilah hak istimewa sang pengarang asli!


"Reine-senpai tentu saja menyukai Satoshi-senpai, tetapi kamu juga sangat menyukai Satsuki-senpai dan yang lainnya, kan~ ──Kalau begituuu~"


Aku menyunggingkan senyum jahat.


"Jangan-jangan~ kamu juga menyukai sesama perempuan~?"


Kelemahan Reine-senpai. Yaitu rasa kasih sayangnya yang begitu mendalam terhadap orang-orang yang sudah ia anggap lebih dari sekadar teman. Rintangan untuk menjadi temannya memang setebal dan setinggi dinding es, sangat sulit untuk dilalui.


Namun, begitu berhasil masuk ke dalam jangkauan itu, perbedaan gender sudah tidak ada artinya lagi baginya. Mereka hanya akan menjadi orang-orang yang dicintainya.


Rumit, posesif, dan penuh kasih sayang.


──Sebab, memang seperti itulah karakter yang kubuat untuknya.


"Cuma itu yang ingin kamu katakan?"


"Eh?"


Pada detik berikutnya, pandanganku berputar hebat.


Pijakan kakiku menghilang, dan lantai tatami mendadak mendekat. Bahkan sebelum sempat melarikan diri, wajahku sudah lebih dulu menghantam bantal duduk.


"Guho!?"


Aku buru-buru berusaha berbalik telentang, tetapi...


"...Kena kamu."


Reine-senpai sudah duduk menunggangi tubuhku.


"Hanya karena rahasiamu terbongkar, bukan berarti boleh pakai kekerasan, dong!?"


"Mana ada begitu! A-Aku sama sekali tidak memikirkan hal semacam itu tentang Satsuki dan yang lainnya!"


"Ngomong apa sih sambil memerah sampai ke telinga begitu!?"


"Tidak merah, kok!"


"Merah padam, tahu!"


"Tidak merah!"


Semakin banyak berdalih, Reine-senpai justru semakin menggali kuburannya sendiri.


Entah karena terbawa emosi hingga kesadaran jaraknya kacau, ia terus menahanku sambil mendekatkan wajahnya.


Rambut peraknya terurai begitu dekat hingga hampir menyentuh pipiku, dan helaan napasnya terasa di kulit. Wajah cantiknya yang bagaikan patung pahatan makin mendekat rapat.


Ini bahaya. Kalau lebih dari ini, aku sendiri yang tidak akan sanggup menahannya.


"T-Terlalu dekat, Reine..."


"──Eh?"


Tubuhku mendadak membeku di tempat.


Gawat, aku kelepasan. Aku sama sekali tidak berniat mengucapkannya.


Diriku yang sekarang hanyalah junior tak tahu diri yang mengincar Satoshi-senpai. Penjajah yang berusaha menghancurkan surga milik Reine-senpai dan yang lainnya. Namun, mulutku justru lancang membocorkan panggilan masa lalu itu.


"...Maafkan aku, Reine-senpai. Aku akan sangat terbantu kalau mau menyingkir dariku."


"A-Aku paham."


Reine-senpai menyingkir dari atas tubuhku tanpa perlawanan. Rona merah di pipinya telah lenyap, berganti dengan ekspresi kebingungan.


"Nee, Hibise."


"...Lupakan saja."


Aku menunjukkan penolakan tegas atas sikap Reine-senpai.


Namun...


"Sebenarnya... hubungan seperti apa yang kita miliki di masa lalu?"


"──"


Ini benar-benar sebuah kecerobohan total.


"Bukan apa-apa, kok... Hanya perasaan saja."


"Hampir tidak ada orang yang kuizinkan memanggilku dengan nama depan."


Aku tahu itu. Ia hanya mengizinkan orang-orang yang benar-benar ia percayai untuk memanggilnya seperti itu.


"Kalau ada orang tak dikenal memanggilku... Reine, biasanya aku tidak akan tinggal diam."


Dan di dalam mata Reine-senpai, terpancar warna rasa ingin tahu.


"Kenapa ya, saat dipanggil seperti itu oleh Hibise, aku sama sekali tidak merasa risih? Tidak, malahan... terasa sangat akrab..."


"Aku cuma tak sengaja kelepasan menyebut nama kenalanku saja, kok. Bukan bermaksud memanggil Reine-senpai. Sudah ya, pembahasan ini selesai!"


Aku sengaja mengucapkannya dengan nada santai, lalu mendorong Reine-senpai untuk menyingkir dan bergegas bangun. Jika aku terus berbicara dengannya lebih lama lagi, hal-hal yang tidak perlu justru akan ikut terseret keluar.


Pada detik itu juga, pergelangan tanganku dicengkeram.


"Ada apa──eh, kyaa!"


Tubuhku ditarik.


Tepat di saat aku berpikir kepalaku bakal menghantam lantai, sentuhan lembut justru menyambut bagian belakang kepalaku.


Saat mendongak, Reine-senpai sedang menunduk menatapku.


"Aku menganggap Hibise sebagai musuh karena kamu menyembunyikan sesuatu dari kami dan Satoshi."


"──Begitu ya~" jawabku dengan suara datar tanpa intonasi.


"Kamu adalah penjahat terburuk yang berusaha menghancurkan surga kami."


"Ya tentu saja. Lagipula kalau aku bisa merebut pria dungu yang sedang tidur di sana itu dari kalian, aku sama sekali tidak peduli pada kalian semua, kok~"


"Begitu..."


"Lalu, situasi ini maksudnya apa ya~?"


Aku benar-benar tidak paham dengan situasi ini, di mana aku justru diberi pangkuan kepala oleh Reine-senpai yang padahal baru saja menganggapku sebagai musuh.


Jika para pria di kampus kami melihat pemandangan ini, mereka pasti akan menggigit saputangan sambil meneteskan air mata darah.


Mendapatkan pangkuan dari Reine-senpai biasanya merupakan ajang kemenangan hidup.


Hanya saja, bagi diriku yang sekarang, ini lebih mirip penyiksaan.


Hangat, lembut──justru karena itulah aku membencinya.


"Aneh ya." 


Reine-senpai menyunggingkan senyuman tipis.


"Sebesar apa pun kamu memaki atau memposisikan diri sebagai rival cinta, aku sama sekali tidak bisa membencimu."


"──"


"Malahan, aku merasa sangat dekat denganmu."


"...Kalau sifat obsensif/posesif sudah sampai tahap ini, menyusahkan juga ya~ Jangan bicara berdasarkan imajinasi dan spekulasi sendiri."


"Fufu, justru sifatmu yang seperti itu."


"Menyebalkan..."


Aku benar-benar merasa terganggu.


Jika memang musuh, seharusnya ia menunjukkan rasa permusuhan dengan lebih jelas. 


Seharusnya ia membenciku saja.


Seharusnya ia mewaspadaiku, menjaga jarak, dan berusaha menyingkirkanku.


Hal itu akan jauh lebih mudah bagiku. 


Namun meski begitu, Reine-senpai tetap memangku kepalaku sambil menatapku dengan pandangan seolah sedang merindukan sesuatu.


──Justru karena itulah, orang ini sangat menyusahkan.


"Hibise tidak akan pernah bisa bersatu dengan Satoshi. Tapi, aku mau mengizinkanmu untuk menjadi temanku."


"Ma-ka-nya~! Aku kan sudah bilang kalau aku tidak tertarik pada Reine-senpai sama sekali! Lagipula mana mungkin aku menyukai orang lain selain Senpai!"


"Satoshi bilang padaku kalau Hibise suka membaca buku, jadi kita bisa berteman. Cerita seperti apa yang kamu sukai?"


"D e n g a r k a n o r a n g b i c a r a !"


Sudah tidak ada harapan lagi.


Di dalam diri Reine-senpai, aku sudah terlanjur dimasukkan ke dalam lingkaran dalam miliknya. 


Meski aku menolaknya atau menyatakan diri sebagai musuh, Reine-senpai akan seenaknya memangkas jarak di antara kami.


Bagian itulah yang benar-benar sangat merepotkan.


"Kalau dilihat baik-baik, ternyata Hibise imut juga ya....Boleh aku cium?"


"Ciuman pertamaku cuma buat Senpai, tahu! Gara-gara sikap yang seperti ini makanya Satsuki-senpai dan yang lainnya sering merasa terganggu!"


"T-Tidak mungkin begitu! ...Kan?"


"Jangan minta konfirmasi padaku!"


Aku melepaskan diri dari cengkeraman Reine-senpai dan berniat meninggalkan tempat ini untuk yang kali ini.


Tepat pada saat itulah. Mataku beradu pandang dengan Satoshi-senpai.


──Ngg? Dengan Satoshi-senpai?


"K-Kalian berdua, jangan-jangan punya hubungan seperti itu..."


Entah sejak kapan ia terbangun, Satoshi-senpai yang mendudukkan separuh tubuhnya di atas futon menatap kami dengan pandangan mata yang menyapu canggung.


Di raut wajahnya bercampur rasa bingung, rasa bersalah, dan sedikit rasa kesepian.


"Bukan begitu! Aku sama sekali tidak tertarik pada Hibise, kok!"


"Setelah mengatakan hal-hal seperti tadi, jahat banget sih!?"


"Heroine yang kalah selamanya diam saja!"


"Baru saja mengatakan hal yang tidak boleh diucapkan, kan!?"


"Jadi begitu ya..."


Satoshi-senpai menyunggingkan senyum lembut seolah baru saja memahami sesuatu.


"Yah, bagaimana ya. Memang bagus kalau kamu bisa akrab dengan Hibise, tapi... tolong jangan tinggalkan aku ya...?"


"Mana mungkin begitu!? Aku tidak tertarik pada siapa pun selain Satoshi!"


──Klek.


Suara sesuatu yang terputus terdengar dari arah Reine-senpai.


"Yah, kalau begitu aku juga mau ke sungai... Reine?"


Reine-senpai berdiri perlahan, tetapi akibat gerakan itu, kepalaku terjatuh menabrak tatami.


"Sakitnya..."


Sambil menatap ke atas dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, aku melihat Reine-senpai melangkah mendekati Satoshi-senpai secara perlahan.


Satoshi-senpai yang baru menyadari keanehan Reine-senpai sudah terlambat untuk bertindak.


Reine-senpai langsung menunggangi tubuh Satoshi-senpai hingga menutup seluruh jalur melarikan diri.


"Cuma Satoshi satu-satunya yang kusukai."


Satoshi-senpai menjadi pucat pasi saat menyadari bahwa ia tidak punya jalan keluar dan baru saja melakukan kesalahan besar.


"A-Anu, Reine...?"


"Akan kuukir hal itu dengan jelas di tubuhmu."


Reine-senpai tersenyum. Rasa malu dan kebingungan yang ada hingga beberapa saat lalu kini telah lenyap tanpa sisa.


Yang tersisa di sana hanyalah rasa kepemilikan yang murni dan bening, yang hanya tertuju pada Satoshi-senpai seorang.


"Maafkan aku maafkan aku maafkan aku! Tapi, bukannya hari ini sudah!?"


"Bersiap-siaplah, Sayang."


"AAAAAAAH!"



"Selalu saja... selalu saja begini...!"


──Dasar Reine bodoh.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close