Penerjemah: Amir
Proffreader: Amir
Chapter 2.2
VS Saionji Satsuki
Setelah keluar dari penginapan dan menyusuri jalan setapak di gunung, terdapat sebuah sungai yang indah.
Yang mengalir di depan mata adalah sungai kecil yang sangat jernih. Permukaan air yang diterpa sinar matahari berkilau dengan cantiknya, bergoyang menyilaukan bagaikan taburan kaca yang dihancurkan.
Saat mendongak, dahan dan dedaunan pohon yang membentang dari tepi sungai menutupi langit, memecah sinar matahari yang menyusup di antaranya menjadi titik-titik kecil.
Suara gesekan dedaunan terdengar begitu menenangkan di telinga. Angin sejuk yang membawa kelembapan membelai lembut pipiku.
Di bawah naungan itu, Satsuki-senpai sudah menunggu sambil menggelar tikar plastik. Rambut berwarna merah muda mewahnya diikat gaya ponytail, dan ia menatap ke arah sini sambil duduk memeluk lutut.
"──Jadi, kenapa Hibise menangis?"
"T-Tidak ada apa-apa, kok!"
Menerima pandangan penuh curiga dari Satsuki-senpai, aku segera menyapu air mataku. Bukan berarti harga diriku baru saja dihancurkan oleh orang sekelas Reine-senpai, ya.
"Satoshi-kun mana?"
"Sudah diperas habis oleh Reine-senpai, hiks."
"Reine, ya..."
Satsuki-senpai melayangkan pandangan menyipit yang dingin ke arah Reine-senpai.
Reine-senpai mengibaskan rambut peraknya dengan agak serba salah, sementara pandangan matanya menyapu canggung.
"Maafkan aku... Tadi kepalaku mendadak kehilangan kendali..."
"Dasar siluman mesum! Aku benci Reine-senpai!"
"B-Begitu... Jadi begitu, ya."
Reine-senpai mendadak tampak terpukul dan murung secara terang-terangan.
Padahal sampai beberapa saat lalu ia adalah si pemangsa ciuman yang mengincar ciuman pertama orang lain. Kenapa sekarang ia malah memasang raut wajah seperti anak anjing yang dibuang begitu, sih!?
Ini kan malah membuatku terlihat seperti orang jahat!
"Aku mau mendinginkan kepala dulu..."
Reine-senpai menghela napas pelan untuk menenangkan diri, lalu melepas baju atasan yang ia kenakan.
Dari balik pakaian itu, muncul sebuah frill bikini berwarna hijau mint. Desainnya tidak secara terang-terangan menonjolkan daya pikat sensual, melainkan lebih mengarah pada kesan manis dan anggun. Namun, bikini itu justru sangat cocok mengenai dirinya.
Mungkin karena merasa sedikit enggan memperlihatkan kulitnya, gerakan tubuhnya secara tak sadar tampak berusaha menutupi area dada dan pinggang. Setiap gerakannya terlihat sangat menggemaskan, dan kontras dengan kesannya yang biasanya dingin justru semakin menyita perhatian.
Sungguh beruntung di sini hanya ada kami saja.
Reine-senpai berbalik lalu menatap ke arah kami.
"Shuna dan Shino di mana?"
"Katanya mereka mau menjelajah dulu sampai Satoshi-kun datang."
"Begitu. Kalau begitu, aku juga mau pergi mencari mereka berdua."
"Siap~! Aku bakal menunggu di sini sampai Satoshi-kun datang, ya!"
Reine-senpai mengangguk pelan, lalu berjalan menyusuri tepi sungai menuju ke arah hilir.
Saat mengalihkan pandangan, Satsuki-senpai masih dalam posisi duduk memeluk lutut sambil melambaikan tangan melepas kepergian Reine-senpai.
"──Nah."
Bikini yang dikenakan Satsuki-senpai adalah bikini putih bermodel simpel. Justru karena tidak memiliki hiasan yang berlebihan, hal itu malah semakin menonjolkan lekuk tubuh Satsuki sendiri yang proporsional dan indah.
Terlihat sehat, lentur, dan sama sekali tidak terkesan murahan, tetapi sanggup mencuri perhatian siapa pun. Terlebih lagi, ia mengenakan jaket hoodie tipis di bahunya secara kasual, dan gaya berbusananya yang terkesan sudah terbiasa itu terasa sangat memikat.
──Aku benar-benar enggan melepas pakaian di depan orang ini...
Sambil menghela napas di dalam hati, aku menautkan jariku pada kancing kemejaku.
Satu per satu kancing kulepas, dan dari baliknya mengintip bikini berwarna oranye muda. Ini adalah baju renang yang kupilih secara khusus untuk kuperlihatkan kepada Satoshi-senpai.
Aku menyita cukup banyak waktu dan kebingungan di toko agar pakaian ini tidak terlalu mencolok, tidak kekanak-kanakan, tetapi tetap bisa terlihat benar-benar imut.
Namun, orang yang paling penting justru tidak ada di sini.
──Yah, tapi kalau melihat baju renangku ini, dia pasti bakal langsung terpesona setengah mati, sih♡.
Membayangkan pemandangan itu, tanpa sadar senyuman terlepas dari bibirku.
"Hee, imut juga ya."
"Eh?"
Satsuki-senpai yang entah sejak kapan memperhatikan ke arah sini mendadak melontarkan kesan singkat.
Tubuhku sempat membeku sesaat. Karena aku sama sekali tidak menyangka kata-kata seperti itu bakal keluar dari mulut Satsuki-senpai.
"──Terima kasih banyak~"
Namun, karena rasanya agak menyebalkan jika harus menerimanya secara polos, aku membalasnya dengan nada sekadarnya.
Keheningan terjadi sesaat. Hanya suara gemericik aliran sungai yang terdengar menjadi sangat jelas. Mungkin karena reaksiku yang acuh tak acuh tadi, Satsuki-senpai juga jadi tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.
Meski ini sepenuhnya kesalahan akibat perbuatanku sendiri, keheningan ini terasa sangat menyiksa.
"Haaah..."
Padahal aku sudah merogoh kocek dalam-dalam demi menginap di penginapan yang sangat mahal ini. Kalau tidak dinikmati sedikit saja, rugi besar namanya.
Aku meregangkan kedua tanganku.
"Kalau begitu, aku juga──"
"Kamu jadi akrab banget ya sama Reine."
Tepat saat aku hendak melangkahkan kaki, Satsuki-senpai mengucapkan hal itu. Suaranya terdengar santai, tetapi entah mengapa memiliki penekanan yang kuat.
"...Akrab dari mananya~ Aku sama sekali tidak merasa makin akrab padanya, kok~"
"Masa?"
Satsuki-senpai menatapku dengan lekat.
"Sikap Reine itu sangat mudah dibaca, lho. Aku sampai terkejut melihat kewaspadaannya terhadap Hibise benar-benar lenyap tanpa sisa."
"Kalau soal itu, aku sendiri malah yang paling ingin tahu alasannya."
Sebuah helaan napas terlepas dari mulutku.
"Hee... Jangan-jangan Hibise punya bakat alami untuk memikat hati orang lain, ya."
"Aku sama sekali tidak butuh kemampuan yang cuma mempan ke Reine-senpai seorang saja, tahu~"
Aku hanya ingin memikat Satoshi-senpai seorang. Senjata khusus untuk memikat Reine-senpai benar-benar sama sekali tidak kubutuhkan.
"Benar juga, masuk akal!"
Senyuman Satsuki-senpai yang ceria, ramah, dan seolah sanggup memikat siapa saja terpancar di wajahnya.
Tanpa sadar aku meneguk ludah.
"──Terus, kamu ngapain Reine?"
Pada detik itu juga, kilau cahaya di mata Satsuki-senpai melenyap tanpa sisa. Ia seolah tak ingin melewatkan setiap gerak-gerikku, perubahan napasku, hingga getaran pada pandangan mataku.
Orang ini biasanya ceria sampai terkesan bodoh, tapi hanya di saat-saat seperti inilah ia bisa mendadak jadi sangat tajam.
Aku menghela napas pelan.
"Cuma kecerobohan kecil, kok. Aku benar-benar melakukan hal yang tidak perlu."
"Jangan mencoba mengelak dengan omongan yang tidak jelas, ya."
"Biarpun bilang begitu, yang namanya wanita kan setidaknya punya satu atau dua rahasia~"
Wanita akan semakin cantik sebanyak rahasia yang simpan.
Yah, walau untuk diriku yang sekarang, lambungku rasanya mau bolong duluan sebelum sempat jadi cantik.
"Kalau cuma rahasia dari kami sih tidak masalah, tapi kamu juga merahasikan sesuatu dari Satoshi-kun, kan?"
"Ya?"
"Kenapa kamu tidak memberi tahu Satoshi-kun kalau benda itu adalah korek api?"
"Kalau saja Hibise memberi tahu kalau itu korek api, dia tidak perlu melakukan penyelidikan konyol seperti itu, kan?"
"──Ah, jadi begitu."
Aku tidak menyangka Satsuki-senpai bisa menganalisis sampai sejauh itu. Namun, begitu jawaban benarnya ditunjukkan, jalan pikiran yang membawanya ke sana jadi sangat mudah kupahami.
Satoshi-senpai adalah seorang reinkarnator, dan dia pasti sudah diberitahu tentang kebenaran dunia ini.
Hanya saja, alasan mengapa mereka bertindak sampai membunuh benda itu mendadak terpasang rapi seperti kepingan puzzle di kepalaku. Jika diasumsikan itu semua demi melindungi Satoshi-senpai, seluruh kejanggalan langsung masuk akal.
──Tapi, aku tidak akan mengatakannya.
Aku menarik sudut bibirku membentuk senyuman.
"Soalnya aku ingin kencan dengan Senpai~ Kalau bukan membahas soal 【LoD】, aku yang sudah dilupakan ini mana mungkin bisa menghabiskan waktu bersamanya~"
Itu bukan kebohongan. Walau aku memang tidak menceritakan semuanya.
"──Kalau kamu berani menyentuh Satoshi-kun,"
Satsuki-senpai tersenyum manis.
"Bakal kuhancurkan kamu sampai tidak tersisa, lho?"
Aku tahu ancaman Satsuki-senpai itu bukan gertakan.
Aku tahu betul, tapi...
"...Wah, jadi menakutkan sekali ya~"
Menyebalkan.
Sungguh, sangat menyebalkan.
Satsuki-senpai yang dulu itu, kini bisa berkata akan menghancurkan orang lain demi melindungi pria yang disukainya sambil tetap tersenyum. Perubahan itu membuat dadaku panas karena jengkel.
Makanya, aku jadi ingin sedikit mengerjainya.
"Ngomong-ngomong, Satsuki-senpai itu urutan ke berapa ya buat Satoshi-senpai?"
"Eh?"
"Maksudku~ di antara 4 orang, Satsuki-senpai itu ada di urutan berapa dalam hal dicintai oleh Satoshi-senpai~?"
Aku mengucapkannya dengan sengaja, pelan dan penuh provokasi.
"...Tentu saja urutan pertama, lah."
"Satoshi-senpai itu bukan Sano Yuuto, lho?"
Begitu nama itu terucap, bahu Satsuki-senpai tampak terguncang hebat.
Efeknya luar biasa telak.
"Satsuki-senpai yang serba biasa ini bisa sejajar dengan tiga orang lainnya itu cuma karena durasi bertahun-tahun yang kamu habiskan bersama pria itu, dan kebetulan saja punya wajah serta tubuh yang bagus."
"...Bisa diam tidak."
Aku mengabaikannya dan terus menekan.
"Tapi, akumulasi waktu yang kebetulan kamu miliki itu sekarang sudah terhapus total."
Aku menatapnya dari atas dengan pandangan kasihan.
"Memangnya, apa yang bisa kamu lakukan?"
"Ugh..."
Tanpa memberi ampun, aku melanjutkan.
"Apakah secantik Reine-senpai?"
"..."
"Apa merasa bisa menang dalam hal kebaikan dari Shuna-senpai?"
"..."
"Apa merasa lebih pintar dari Shino-senpai?"
"...Hentikan."
Bibirnya mulai gemetaran.
"Bagi Satoshi-senpai, hal spesial apa sih yang cuma dimiliki oleh seorang Saionji Satsuki~?"
Sambil menatapnya dari atas, aku tertawa puas di dalam hati.
──Rupanya masalah yang satu ini memang belum terselesaikan olehnya~
Mata yang tadi mengintimidasiku kini bergetar hebat, dan jemari yang memeluk lututnya terkepal makin erat.
Senyum tangguhnya telah hancur, dan sosoknya yang menggigit bibir rapat-rapat persis seperti dirinya di masa lalu. Sifat jahat yang tersembunyi di dalam diriku mulai tumbuh dan mekar dengan suburnya.
"Apakah benar-benar punya hak untuk berdiri di samping Satoshi-senpai~?"
"Tentu saja... punya, lah."
"Bagus deh kalau begitu~ Iri banget ya~ Beneran deh~"
Dan akhirnya, aku memilih kalimat yang paling menancap dalam.
"──Tapi paling kamu cuma urutan keempat, sih."
"Ugh!"
Ia jelas-jelas kehilangan kata-kata.
Melihat sosoknya yang seperti itu, aku bersorak puas di dalam hati.
Akhirnya kekesalanku bisa terbalaskan sedikit. Sejak hari pertama kami bertemu kembali, aku selalu jengkel karena dia bicara seenaknya. Bagi diriku yang mengenal sosoknya sejak zaman SMA, hal itu terasa makin mengesalkan.
Seorang gadis yang serba biasa, cuma ceria, cuma ramah, dan cuma seorang cengeng. Bisa-bisanya berubah jadi gelap hanya demi pria yang disukai, ini benar-benar merusak karakter yang kukenal!
"──Padahal..."
"Ya? Ada apa~?"
Karena suasana hatiku sedang sangat bagus, aku membalasnya dengan nada mengejek. Namun, pada detik berikutnya, Satsuki-senpai mendadak menyentakkan kepalanya mendongak.
"Padahal kamu sendiri ditolak sama Satoshi-kun!"
"Guho!?"
Tiba-tiba hatiku menerima damage 10.000 poin.
"Jangankan urutan keempat, padahal kamu cuma selevel karakter figuran biasa, tapi berkata sombong begitu!?"
"B-Bisa diam tidak! Aku cuma belum mengeluarkan kemampuan tersembunyiku saja, tahu!"
Serangan balasan yang tak terduga itu menancap tanpa ampun di jantungku.
Padahal sampai beberapa saat lalu ia menunduk dengan mata berkaca-kaca, tapi sekarang sudah bisa bangkit lagi.
"Hee~! Padahal sudah 2 tahun tinggal bersama, tapi masih belum bisa bikin Satoshi-kun jatuh cinta, bukannya kamu itu sudah gagal total sebagai seorang wanita!?"
"Yang penting kan siapa yang menang di akhir!"
Meski baru saja menerima pukulan yang sangat telak, aku tidak boleh tumbang di sini.
Kalau sampai kendali situasi direbut kembali oleh Satsuki-senpai, rasanya bakal terlalu menyedihkan. Masa wanita yang beberapa detik lalu berdiri paling atas di atas angin, seketika harus menjilat lantai.
Aku tidak boleh memperlihatkan sosok yang memalukan seperti itu.
Aku memutar mesin otakku dengan panik, mencari bahan untuk melakukan serangan balasan.
"Bukannya Satsuki-senpai sendiri yang makin gemukan~? Kalau begini terus nanti bisa-bisa dicampakkan, lho~?"
"Mana ada aku gemukan!? Coba saja pegang kalau tidak percaya!"
──Sesuai rencana.
Begitu harga dirinya sebagai mantan model gravure dipancing, ia bakal langsung melahap provokasi itu.
"Coba kita lihat ya~"
Saling jual beli kata-kata.
Satsuki-senpai menyodorkan bagian pinggangnya dengan penuh percaya diri. Mata seorang Hibise tidak bisa dikelabui begitu saja, tahu. Meski penampilan luar Satsuki-senpai terlihat sempurna, otak cerdasku memberitahu bahwa pasti ada celah di dalam dirinya.
Toh dia pasti menjalani kehidupan yang malas seperti seorang ibu rumah tangga. Makan keripik kentang di depan tumpukan pakaian kotor sambil menonton drama siang dan mengulik ponselnya, pasti begitu. Seekor binatang buas yang melupakan masa lalunya saat menjalani pekerjaan berat sebagai model gravure.
Akibat kecerobohan sehari-hari, pasti telah tercipta celah berupa lemak tak berguna. Manusia kalau sudah bahagia pasti bakal makin gemuk──ini adalah kebenaran dunia.
Terlebih lagi bagi Satsuki-senpai yang dicintai, dimanja, dan bebas melakukan apa saja bersama Satoshi-senpai, jelas makin menjadi-jadi.
Aku menyakini kemenanganku.
Sambil mempersiapkan mental untuk mencari-cari kesalahan, aku mengulurkan jari ke arah pinggang Satsuki-senpai.
"Permisi ya~"
"...Jijik tahu?"
Bibir menyebalkan itu bakal kubuat bungkam.
Meremas lemak yang menggelambir...
Meremas le...
Tidak bisa diremas.
Lho, tidak ada...? Aneh banget?
Wahai Lemak, kamu ada di mana~?
Jangan sembunyi dong, keluar sini~
Duh, gara-gara aku gadis cantik, jadinya kamu sembunyi ya☆
Tidak usah takut, tahu~?
Halo~!
Halo...
Oii, di mana kamu, Bangsat!?
Ujung jariku tergelincir.
Padahal kulitnya terasa lembut, tetapi sama sekali tidak ada lemak berlebih.
Lho? Beneran, lemaknya pada kabur ke mana sih!?
"Bagaimana? Tidak gemuk, kan?"
Satsuki-senpai bertanya dengan raut wajah yang entah mengapa terlihat sedikit cemas. Ekspresi itu justru terasa sangat menyebalkan sekarang.
Kalau aku selesai di sini tanpa berhasil mencubit lemaknya, dia pasti balik mengejekku habis-habisan.
Hal yang satu itu benar-benar tidak boleh terjadi. Bagaimana pun caranya, aku harus bisa mencubit lemaknya.
"Hei, Hibise... aduh, sakit, sakit, sakit, sakit tahu!?"
Suara jeritan Satsuki-senpai terdengar, tapi aku tidak peduli.
Ini adalah pertempuran. Pertempuran demi mempertaruhkan harga diri sebagai wanita yang tidak boleh kalah sama sekali.
"A-Ada! Ini dia!"
Dengan mengerahkan tenaga bagaikan ragum besi, akhirnya di ujung jariku berhasil terkumpul sesuatu yang sulit disebut sebagai lemak tak berguna. Namun, begitu berhasil kuremas, itu artinya kemenanganku.
Agar tidak terlepas dari tangan, aku mengerahkan seluruh energi untuk mencubit pinggang Satsuki-senpai.
"Kan sudah kubilang sakit! Dasar bodohhhh!?"
"Guhe!?"
Pukulan chop dari Satsuki-senpai menghantam telak ubun-ubun kepalaku.
"Ahiy..."
Bintang-bintang bertebaran di pandanganku, dan dunia terasa bergoyang.
Sambil memegangi kepala, air mata merembes keluar di tempat.
"Aduh~kan, sampai berbekas begini! Kamu mau tanggung jawab bagaimana!?"
"F-Fufun. Itu sih salah Satsuki-senpai sendiri yang gemukan!"
"Kan sudah kubilang aku tidak gemuk! Justru Hibise sendiri tuh!"
"Eh?"
Gara-gara kesadaranku masih berkabut, posisiku berhasil diambil dari belakang oleh Satsuki-senpai. Dan pada detik berikutnya, Satsuki-senpai menindihku dari arah belakang. Bahkan sebelum sempat melarikan diri, kedua lenganku sudah didekap erat, dan tangan Satsuki-senpai mulai merayap ke arah perutku.
"Hya! Mau melakukan apa!"
"Balasan!"
Jari-jari Satsuki-senpai meraba-raba pinggangku.
"Lho, lho~ bukannya Hibise sendiri yang dagingnya menggelambir~?"
"Ugh!"
Bisikan di dekat telinga itu membuat tubuhku refleks bereaksi.
Ketika tangan Satsuki-senpai membelai dari bagian pinggang menuju pusar, secara refleks bahuku terlonjak naik.
Geli, sekaligus rasanya aneh dan menjijikkan. Namun, karena aku didekap erat dari belakang, aku tidak bisa bergerak dengan leluasa. Terlebih lagi, entah karena kepercayaan dirinya sudah pulih, gerakan tangan Satsuki-senpai terasa makin mahir.
Mata yang tadi sempat berkaca-kaca kini seolah bohong belaka, digantikan dengan rasa percaya diri yang melimpah.
"Padahal sudah meremehkanku sedemikian rupa, ternyata bentuk tubuh Hibise serusak ini, ya?"
"S-Saat ini aku sedang dalam program penambahan berat badan! Memang harus menempelkan lemak sampai menggelambir, tahu!"
"Gadis mana yang membela diri dengan lidah bergulung seperti itu..."
Satsuki-senpai mengucapkannya dengan nada sedikit agak canggung.
Memang, kata-kata yang baru saja kuucapkan terasa sudah mengorbankan terlalu banyak hal. Sampai-sampai musuh sendiri ikut merasa iba.
"Hibise tadi sedang cemburu, kan~?"
"Ugh!"
Suara manis nan memikat itu menggodaku di dekat telinga.
"Kamu benar-benar benci ya melihat kami bermesraan dengan Satoshi-kun~?"
"Kalau merasa begitu, cepat putus sekarang juga! Demi kesehatan mentalku!"
"Tidak ma~u."
Tubuh Satsuki-senpai makin menempel erat di punggungku.
"Rasanya Hibise jadi kelihatan imut banget, deh."
"T-Tidak imut, tahu! Dianggap begitu oleh Satsuki-senpai sama sekali tidak membuatku senang!"
"Mungkin Reine tadi merasakan hal yang sama, ya."
"Jangan merasa terhubung di bagian yang aneh seperti itu, lah!?"
Bukan cuma Reine-senpai, kalau sampai diperhatikan terus oleh Satsuki-senpai juga, situasi ini bakal makin menyusahkan.
"Lemah banget sih~ ──Fuuu~"
"Hyaik!?"
Begitu desah napas ditiupkan di dekat telingaku, tubuhku seketika melonjak kaget. Tenaga di kakiku mendadak melenyap, tulang belakangku merinding hebat, dan desah napas yang tak tertahankan terlepas dari mulutku.
Gawat, aku benar-benar sangat sensitif di bagian telinga...
"Hei, Hibise... eh, kamu kenapa?"
Satsuki-senpai menghentikan tangannya yang sedang menjahiliku.
Aku jatuh terduduk sambil menarik napas terengah-engah. Aku sama sekali tidak ingin memperlihatkan kelemahan pada orang yang satu ini.
Karena itulah, aku berbalik menatap Satsuki-senpai lalu melayangkan pandangan tajam padanya.
Dan kemudian.
"Awas kamu ya, Satsuki-chan."
"──Eh?"
"Ah."
Suasana seketika membeku. Angin berembus lewat, dan hanya suara gemericik sungai yang terdengar.
...Aku kelepasan lagi.
Padahal aku baru saja melakukan kesalahan yang sama di depan Reine-senpai tadi, tetapi aku justru mengulangi kegagalan yang serupa. Itu bukanlah kata-kata yang boleh diucapkan oleh diriku yang sekarang kepada wanita di hadapanku ini.
"Hei, Hibise. Yang tadi itu──"
"Oii, maaf membuat kalian menunggu~"
Mendengar suara yang terdengar dari dalam hutan gunung, aku menengadah dengan perasaan seolah baru saja diselamatkan.
"Satoshi-senpai!"
Di sana berdiri Satoshi-senpai yang telah bangkit kembali dengan daya tahan hidup setingkat kecoak. Karena mengenakan celana renang, tentu saja tubuh bagian atasnya bertelanjang dada.
Padahal tadi seharusnya dia sudah berubah menjadi abu putih, tetapi tampaknya dia sudah pulih sampai bisa melakukan aktivitas fisik secara normal kembali.
Aku melompat secara refleks lalu memeluk Satoshi-senpai erat-erat.
"Hibise, lepas dulu!?"
"Senpa~i, dengarkan aku! Aku baru saja diusili oleh Satsuki-senpai~"
Tubuh yang telah tumbuh makin matang dibanding masa SMA.
Otot-otot yang terbentuk dengan pas dan kencang.
Meski tidak basah, kontur kulitnya terlihat sangat menyilaukan akibat terpaan sinar matahari.
Bisa dibilang──sungguh sangat mesum.
Gara-gara habis dikerjai habis-habisan oleh Satsuki-senpai dan Reine-senpai, akal sehatku menjadi jauh lebih rusak dari biasanya. Rasanya tidak akan berdosa jika aku terus menikmati pemandangan ini.
Tepat saat aku berpikir demikian.
"──Mana mungkin kuizinkan, kan?"
Pita bajuku ditarik dari belakang, dan tubuhku dilemparkan begitu saja bagaikan sampah.
"Padahal tadi lagi di posisi yang bagus, jangan mengganggu dong!"
Saat aku melayangkan protes, Satsuki-senpai memasang raut wajah seperti ingin menanyakan sesuatu.
Pasti soal panggilan tadi. Namun, begitu menyadari aku tidak berniat menjawabnya, ia segera menghela napas pelan dan mengumbar senyuman seperti biasanya.
"Biar kuberitahu ya, kenapa aku sama sekali tidak gemuk sejak zaman jadi model gravure dulu."
"Eh?"
Ia membelakangiku lalu berbalik menghadapi Satoshi-senpai.
"S-Satsuki?"
Wajah Satoshi-senpai mendadak pucat pasi. Sepertinya dia sudah menyadari sesuatu, tetapi semuanya sudah terlambat.
"T-Tolong ampuni aku! Kalau lebih dari ini aku beneran bisa matiiiii!"
"Semangat, ya!"
"Ini sudah melewati batas tekad dan mentalitas biasa, tahu! Mmph!?"
Sambil mengabaikan jeritan Satoshi-senpai, Satsuki-senpai meletakkan tangannya di bahu Satoshi-senpai. Dan kemudian, di depan mataku sendiri, ia mendaratkan ciuman yang dalam dan begitu manis.
10 detik.
Meski sempat berusaha memberontak, tenaga di sekitar mata Satoshi-senpai perlahan melenyap, hingga akhirnya Satsuki-senpai melepaskan bibirnya secara perlahan. Kemudian, ia berbalik menatapku sambil menyunggingkan senyuman kemenangan yang sangat kentara.
"Kemesraan terbaik setiap hari yang tidak akan pernah bisa dilakukan Hibise seumur hidup, itulah program diet bermesraan terbaik."
Satsuki-senpai tersenyum manis.
"Inilah rahasia menjaga bentuk tubuhku!"
Saat mendengar kata-kata itu, di dalam otakku terdengar lagi suara hancur berkeping-keping.
Aku tidak bisa bergerak. Pandangan mataku tidak bisa dipalingkan dari pemandangan di hadapanku.
Rasanya sangat kesal, jengkel, dan cemburu. Namun, fakta bahwa ada bagian dari diriku yang mendadak merasa terangsang adalah hal yang paling menyedihkan dari semuanya.
Aku mengepalkan kedua tanganku rapat-rapat.
Untuk saat ini aku mengaku kalah.
Aku akan mengakui hal itu.
Makanya, khusus untuk saat ini saja.
"Uwaaaaaah! Satoshi-senpai dan Satsuki-senpai sama-sama jahat!"
Aku berteriak sambil melesat lari.
Mendorong pijakan di tepi sungai, aku berlari kencang menuju ke arah hulu.
Kekalahan ini adalah investasi untuk masa depan.
Suatu hari nanti, aku pasti akan merebut posisi itu.
Pasti.
Sangat amat pas~ti!



Post a Comment