Penerjemah: Amir
Proffreader: Amir
Chapter 2.4
VS Shinonome Shino
Aku terus berjalan melintasi sungai dan naik semakin jauh ke arah hulu.
Meski saat ini sedang puncak musim panas, semakin jauh aku melangkah ke hulu, air sungai terasa makin dingin. Aliran air yang membelai pergelangan kaki memiliki suhu yang berbeda dari rasa dingin yang nyaman tadi. Jika merendam kaki terlalu lama, dinginnya seolah sanggup meresap hingga ke sumsum tulang.
Batu-batu di bawah kaki pun jauh lebih kasar dan tajam dibanding area hilir. Setiap kali menginjakkan kaki, telapak kakiku hampir terpeleset oleh permukaan batu yang licin. Jarak pandang ke dasar air sulit diperkirakan; saat kukira dangkal dan melangkah masuk, ternyata airnya lebih dalam dari dugaan hingga membasahi lututku.
Perlahan-lahan, bergerak maju satu meter saja terasa sangat melelahkan. Bakal berbahaya kalau sampai terpeleset dan jatuh di tempat seperti ini. Jika kepalaku sampai terantuk batu, rasanya benar-benar bukan bahan lelucon lagi.
"Shino-senpai~ Ada di mana~?"
Aku mencoba memanggil, tetapi suaraku seperti terserap habis di antara celah-celah pepohonan.
Tidak ada sahutan; hanya ritme suara alam yang terdengar kembali.
"Jangan-jangan, dia sudah kembali?"
Mana mungkin ia melangkah sejauh ini ke dalam hutan.
Tepat saat aku berniat untuk berbalik arah.
"Eh? Suara apa ini?"
Saat memasang telinga baik-baik, suara itu seolah terdengar dari arah depanku. Di ujung pandangan mataku, tampak sesuatu yang menyerupai kabut putih.
Diliputi rasa penasaran, aku melangkah sedikit lebih jauh ke depan.
Suara air terdengar makin membahana. Gemuruhnya kian menjadi-jadi. Suara gemericik sungai yang tadinya terasa menenangkan di telinga, kini berubah menjadi dentuman berat dan rendah yang bergema hingga ke dasar perut seiring aku melangkah makin dalam.
"Uwah, megahnya..."
Yang membentang di hadapanku adalah sebuah air terjun setinggi kira-kira 10 meter. Air berwarna putih meluncur deras melintasi tebing batu yang terjal.
Hantaman air yang menumbuk kolam air terjun berubah menjadi cipratan halus yang membubung ke udara, membuat pemandangan di sekitarnya tampak samar berembun. Keagungan alami yang berdiri begitu saja tanpa peduli pada urusan manusia.
Tanpa sadar, aku dibuat terpesona oleh pemandangan itu.
"──Untuk apa Anda datang ke mari?"
"Hiii!?"
Jantungku rasanya mau melompat keluar.
Secara refleks aku menoleh ke samping, dan melihat Shino-senpai sedang duduk bersila di atas batu besar tepat di depan air terjun. Punggungnya tegak lurus, matanya menyipit, dan ia duduk dengan tenang seolah menyatu bersama gemuruh suara air terjun.
Menghilangkan hawa keberadaan lalu mengintai dari belakang seperti biasanya.
Itu adalah kebiasaan buruknya.
Di balik topeng wajah datar yang tampak dingin itu, ia pasti sedang tersenyum culas.
Melihat penampilannya, ia pasti sudah duduk di sana sejak tadi.
Aku menarik napas dalam-dalam sekali.
Udaranya memang benar-benar segar. Tinggal di dalam hutan pegunungan yang jauh dari pemukiman manusia setahun sekali mungkin bukan ide yang buruk.
Hanya alam yang sanggup menyembuhkan hatiku yang terluka ini.
"Sip!"
Kalau begitu, aku akan menjalankan peranku.
Persiapan untuk melayangkan omelan sudah selesai.
Satu, dua, tiga!
"──Kenapa Anda bertelanjang dada!?"
Shino-senpai sama sekali tidak mengenakan sehelai benang pun di tubuhnya. Baju renang dan pakaiannya terlipat rapi serta tergantung di dahan pohon. Mana mungkin ia datang ke sini cuma untuk bermain air tanpa busana.
Pasti tidak mungkin, tetapi bagaimana bisa aku tidak melayangkan protes melihat hal ini!?
"Untuk dapat menyatu dan merasakan alam, baju renang hanya akan menjadi penghalang."
"Tidak usah sampai segitunya juga, kan!"
Aku langsung memotong pembicaraannya. Namun, Shino-senpai tetap tidak bergeming dan melanjutkan meditasinya.
Sambil menatapnya heran, aku melanjutkan perkataanku.
"Bagaimana kalau ada orang lain yang datang...? Aku tidak mau tanggung jawab kalau sampai kelihatan orang lain, lho?"
"Tidak perlu khawatir. Tidak ada wisatawan lain selain kita."
"...Tolong miliki sedikit rasa malu."
"Memang benar, jika memiliki hal tersebut mungkin Satoshi-san akan menjadi lebih senang."
"Bukan itu maksudku!"
Shino-senpai menatap ke arahku lalu mengangguk dengan raut wajah serius.
"Pekerjaan yang bagus. Mari saya beri pujian untuk Anda."
"Sudahlah, terserah..."
Aku menghela napas panjang dan dalam. Berbicara dengan seorang jenius memang selalu membingungkan.
Mencoba memahaminya hanya akan membuat pikiran makin lelah.
"Kalau begitu, cepat pakai baju renangnya lalu kembali. Semuanya sedang mencari Anda, tahu?"
Aku membelakangi air terjun dan berniat untuk melangkah mundur.
Pada detik berikutnya.
"Jangan bergerak."
"──Eh?"
Bahkan sebelum sempat berbalik, seberkas kilatan perak membelah udara di samping pandanganku.
Suara angin berdesing tajam. Sesuatu melintas tepat di dekat pipiku. Beberapa helai rambutku melayang dan meliuk pelan di udara.
Sesaat kemudian, terdengar suara tancapan tumpul yang menancap di belakangku.
"Apa... yang..."
Tenggorokanku tercekat.
Tadi itu, aku hampir saja terbunuh?
Wajahku seketika pucat pasi karena darah yang menyurut mendadak.
Shino-senpai berdiri perlahan dari atas batu besar lalu melangkah mendekat ke arahku. Masih dalam keadaan tanpa busana. Rambut hitam panjangnya yang basah menempel di tubuh, menutupi bagian-bagian pentingnya. Kulitnya yang terkena cipratan air terjun tampak begitu putih, sama sekali tidak terlihat seperti manusia, melainkan bagaikan siluman atau roh yang bersemayam di wilayah suci para dewa. Namun, yang jauh lebih menakutkan adalah ekspresi wajahnya.
Tanpa emosi, tanpa belas kasihan.
Raut wajah Shino-senpai sama sekali tidak menunjukkan perubahan apa pun, seolah-olah ia tidak baru saja melempar senjata tajam.
"E-Eto. Kyaa!"
Saat mencoba melangkah mundur, kakiku tersandung batu di bawah. Pergelangan kakiku terkilir, membuatku jatuh terduduk di tanah.
"Aduh-duh... ha."
Shino-senpai sudah berdiri tepat di hadapanku. Manik mata berwarna merah delima yang menatapku dari atas berkilau terang di tengah terpaan cipratan air terjun.
Aku tidak bisa menerka apa yang sedang dipikirkannya saat ini.
Lalu, tangan Shino-senpai terulur lurus ke arahku.
"Hiiik!"
Secara refleks aku memejamkan mata rapat-rapat.
"Kalau harus mati, aku lebih memilih ciuman dulu sama Satoshi-senpaaai!"
"Bicara mengingau apa Anda ini..."
"Ha-Eh?"
Tangan Shino-senpai melewati tubuhku dan terulur lurus ke area tepat di belakangku.
"Daripada itu, Hibise-san, sebaiknya Anda segera menjauh dari sana."
"Eh? Gyaaaaaaaa!"
Di sana terdapat seekor ular.
Tidak, lebih tepatnya, sesuatu yang tadinya adalah seekor ular. Bagian kepalanya telah tertembus secara presisi oleh pisau yang dilemparkan oleh Shino-senpai. Bagian tubuhnya masih bergelung tipis, menimbulkan suara gesekan yang mengerikan di atas rumput.
Punggungku seketika terasa membeku.
Seandainya Shino-senpai tidak melempar pisau itu.
Seandainya aku melangkah mundur satu langkah lagi.
Ular itu tepat berada di dekat kakiku.
Tanpa menggerakkan alisnya sedikit pun, Shino-senpai mendekati bangkai tersebut. Ia kemudian mencabut pisau yang menancap.
Terdengar suara gesekan licin yang mengerikan. Cipratan darah menciptakan bintik-bintik merah di atas kulit putihnya. Tanpa memedulikan hal itu, Shino-senpai mengangkat tubuh ular tersebut.
"Fufu, kita mendapatkan tangkapan yang sangat segar."
Ia kemudian langsung memenggal kepala ular itu begitu saja.
"Hiiik!?"
Aku terduduk lemas di tanah. Kakiku sudah tidak memiliki tenaga lagi. Suara dentuman air terjun terasa sangat membahana. Pemandangan alam yang tadinya terlihat sangat indah kini mendadak berubah menjadi tempat berburu yang menunjukkan taringnya.
"A-Apa yang sedang Anda lakukan?"
"Ini diperlukan demi 'Keberkahan' mutlak."
"Jawaban itu sama sekali tidak menjelaskan apa-apa..."
Shino-senpai menghela napas pendek dengan raut wajah yang tampak benar-benar heran.
"Ular ini adalah ular viper. Biasanya digunakan sebagai bahan pembuat obat stamina."
"Haaah... bukannya itu ular berbisa!?"
Aku makin menjauhkan diri dari Shino-senpai.
Apa maksudnya area aman milik keluarga Shinonome? Gunung ini benar-benar berbahaya, tahu!?
"Fufu, jika membuat obat stamina dari ini, saya bisa menikmati 'Keberkahan' tanpa batas bersama Satoshi-san. Saya harus kembali ke penginapan dan meminta koki kepala untuk mengolahnya."
"Lakukan saja sesuka Anda..."
Aku berdiri dengan tubuh sempoyongan.
Kulit yang basah akibat cipratan air terjun terasa dingin. Pergelangan kakiku sedikit terasa sakit. Jantungku masih berdegup kencang tanpa kendali.
Entah sejak kapan Shino-senpai mengeluarkannya, ia kini sudah memegang botol transparan di tangannya.
Dengan gerakan tangan yang terampil, ia mencoba memasukkan bangkai ular tersebut ke dalamnya.
Melihat pemandangan itu, aku menyadarinya sekali lagi. Orang ini adalah sosok jenius yang tidak dapat diukur dengan akal sehat kita. Jika didorong rasa penasaran, ia akan duduk bersila. Jika diperlukan, ia tidak ragu bertelanjang dada, dan saat menemukan ular berbisa, ia akan menghabisinya tanpa ragu.
Bagi orang biasa, pikirannya jelas sudah tidak beres. Namun bagi Shino-senpai, semua itu pasti terasa sangat rasional.
"Haaah... Pokoknya semua orang sedang mencari Anda. Cepat kembali, ya~"
Ucapku sembari membelakangi Shino-senpai. Suara gemuruh air terjun kembali bergema keras di punggungku.
Sebaiknya aku segera kembali. Berapa pun nyawa yang kumiliki tidak akan pernah cukup jika aku terus berada di sini.
Sambil memikirkan hal itu, aku melangkah hendak kembali ke jalan yang kulewati tadi.
"──Apakah membunuh Benda Itu merupakan sebuah kesalahan?"
"Eh?"
Langkahku terhenti seketika dalam posisi membelakanginya.
Suara gemuruh air terjun mendadak terasa menjauh. Hawa dingin yang tadinya terasa menenangkan di kulit, kini terasa seperti bilah pisau yang merayapi tulang belakangku.
Saat berbalik secara perlahan, entah sejak kapan Shino-senpai sudah mengenakan pakaian renangnya. Rambut hitam kebanggaannya diikat gaya side-tail, dan sebuah topi jerami bertengger di kepalanya. Ia mengenakan bikini hitam bergaya sederhana. Kain pareo transparan melingkari pinggangnya, melambai lembut tertiup angin.
Ia tampak seperti seorang putri bangsawan yang anggun di tempat peristirahatan pedalaman. Namun, kata-kata yang keluar dari mulutnya terdengar sangat mengerikan.
"──Lelucon Anda keterlaluan, tahu~"
Aku tersenyum manis. Berakting dengan nada seperti biasanya, berpura-pura tidak tahu apa-apa.
"Akan kuanggap ucapan tadi sebagai black humor khas orang kaya, ya~"
"Apakah semuanya akan selesai jika saya membunuh Hibise-san?"
Senyumanku seketika membeku.
Shino-senpai melanjutkan percakapan dengan asumsi bahwa aku sudah mengetahui segalanya.
Fakta bahwa ia telah membunuh Benda Itu. Lalu keyakinan bahwa membunuhku akan menyelesaikan masalah. Setiap kata yang diucapkannya terasa amat berat, bagaikan batu yang ditenggelamkan ke dalam kolam air terjun.
"──Orang jenius memang benar-benar sulit dihadapi, ya~"
Aku menghela napas panjang.
Tidak ada gunanya lagi berpura-pura. Orang ini pasti sudah bisa melihat sampai ke tahap apa yang sedang kusembunyikan.
"Bagaimana bisa karakter yang kubuat bersama Benda Itu di duniaku sebelumnya bisa memiliki otak yang jauh lebih cerdas daripada kami sendiri?"
"Kalian tidak sanggup mengukur kapasitas manusia yang menjadi model dari 'Shinonome Shino'. Hanya sebatas itu permasalahannya."
Ia tersenyum, tampak sedikit menikmati percakapan ini.
"Meski pada akhirnya, hal ini akan berujung pada perdebatan mana yang lebih dulu ada, ayam atau telur."
"..."
"Apakah kalian yang menciptakan saya, ataukah kalian hanya merangkum sosok asli saya ke dalam sebuah karya?"
Shino-senpai mengalihkan pandangannya ke arah air terjun.
"Fufu, saya cukup tertarik, tetapi tidak ada cara untuk membuktikannya."
Ia terkekeh pelan.
Tidak ada rasa takut maupun amarah di dalam senyuman itu. Bahkan keberadaan dirinya sendiri dieksekusi sebagai objek observasi semata.
Aku hanya bisa angkat topi menghadapi ketahanan mental seperti itu.
"...Apakah Anda juga akan membunuhku sama seperti Benda Itu?"
Mungkn beruntung atau justru sial, tempat ini adalah pekarangan kediaman keluarga Shinonome.
Di dalam hutan yang lebat ini, suara air terjun terdengar sangat gemuruh, hingga jeritan pun tidak akan terdengar dari jarak yang sedikit jauh. Bahkan jika aku menghilang tanpa jejak, kekuatan keluarga Shinonome sanggup menyapu bersih semua buktinya dengan mudah.
Kepastian motif.
Sarana untuk mengeksekusinya.
Latar tempat pun sudah mendukung sempurna.
"──Tidak, saya tidak akan melakukan apa pun."
Jawab Shino-senpai santai tanpa beban.
"Karena saya tahu bahwa menentang hal ini adalah perbuatan yang sia-sia."
Tidak ada emosi apa pun di dalam matanya. Tidak ada kebencian, amarah, maupun keraguan. Hanya ada kepasrahan tenang yang lahir karena ia telah menyadari segalanya.
Orang ini sudah melihat garis akhir dari cerita ini. Atau mungkin, ia sudah paham bahwa sebanyak apa pun usaha yang dikerahkan, tempat tujuan akhirnya tidak akan pernah berubah. Karena ia sudah memahami situasi sejauh ini, aku pun memutuskan untuk menanyakan hal yang perlu kutanyakan.
"──Kalau begitu, izinkan aku menanyakan satu hal saja."
"Silakan."
"Reine-senpai, Satsuki-chan, Ketua Shuna, dan... Satoshi-senpai."
Saat menyebutkan nama-nama itu, ada sesuatu di dalam diriku yang mendadak terasa nyeri. Diriku yang sekarang seharusnya tidak berhak menggunakan panggilan seperti itu lagi. Namun, tidak ada gunanya berpura-pura di saat situasi sudah seperti ini.
"Kalian saling mempercayai satu sama lain melebihi siapa pun, tetapi hanya Shino-senpai seorang yang tidak pernah berubah sejak saat itu."
Aku menatap lurus ke arah Shino-senpai.
"──Apakah menyendiri terasa jauh lebih nyaman bagi Anda?"
Angin berembus melewati celah di antara kami.
Poni Shino-senpai menutupi pandangan matanya.
Saat angin mereda, sudut bibir Shino-senpai terangkat membentuk kurva lengkung bagaikan bulan sabit.
"Fufu, menarik sekali."
Ia tertawa miring.
Manik matanya yang berwarna merah menatapku dengan penuh rasa benci.
"Mungkin hanya kalian saja yang sanggup mengguncang emosiku sampai sejauh ini."
Shino-senpai mengatakannya dengan tenang.
"Dari lubuk hatiku yang terdalam, aku benar-benar murka pada Hibise-san."
Ia benci karena titik lemahnya berhasil ditusuk tepat di sasaran. Namun, ia justru menikmati reaksinya sendiri yang seperti itu.
Ekspresi wajahnya menunjukkan hal tersebut.
Shino-senpai terlalu jenius. Ia bisa melakukan apa saja sendirian. Seorang jenius serbabisa. Karena itulah, ia tidak merasa perlu untuk bergantung pada siapa pun.
"Agar tidak terjadi kesalahpahaman, kuberitahu ya, bagi saya mereka adalah keberadaan yang sangat berharga."
Shino-senpai tersenyum tipis.
"Reine-san, Shuna-san, Satsuki-san. Saya menyayangi mereka melebihi siapa pun."
Lalu tanpa ragu, ia melanjutkan perkataannya.
"Mereka adalah keberadaan yang harus saya lindungi."
"Harus dilindungi, ya."
Dari kata-kata itu saja, aku sudah bisa memahaminya.
Shino-senpai tidak pernah menganggap mereka bertiga sebagai sosok yang setara dengannya. Ia melindungi karena mereka berharga. Ia mengayomi karena ia menyayangi mereka. Namun, tatapan mata itu bukan ditujukan kepada seorang rekan, melainkan lebih dekat kepada objek perlindungan.
"Kalau begitu, secara kemampuan tidak ada manusia yang bisa mengungguli Shino-senpai selain Satoshi-senpai, kah?"
Aku menghela napas panjang.
"Fufu, itu juga sebuah kesalahpahaman, lho."
Shino-senpai menggelengkan kepalanya dengan raut wajah tampak gembira.
"Bahkan Satoshi-san pun, dari sudut pandang saya, sudah menjadi objek yang harus dilindungi."
"Eh? Kenapa bisa begitu?"
"Bukannya Satoshi-san menjadi sangat unggul hanya karena dia adalah seorang reinkarnator?"
"──"
"Melakukan dominasi mutlak dengan memanfaatkan pengetahuan dari kehidupan sebelumnya. Saya mendengar bahwa dia tadinya hanyalah seorang NEET tidak berguna, tetapi setelah merefleksikan hal itu, kini dia menjadi orang yang bekerja paling keras dibanding siapa pun."
Shino-senpai bercerita dengan tenang.
"Itu sangat luar biasa. Kemampuan itu bahkan melampaui diriku yang sekarang."
"Lalu, kenapa dia justru masuk ke dalam kategori orang yang harus dilindungi?"
"Fufu, itu pertanyaan yang sangat konyol."
Manik mata merah Shino-senpai menyipit.
"Jika umurku melampaui masa hidup yang pernah dijalani oleh Satoshi-san, maka pengetahuan yang menjamin keunggulannya itu akan menjadi tidak berguna lagi."
Pengetahuan dari kehidupan sebelumnya.
Pada titik waktu saat ini, hal itu memang merupakan senjata yang sangat mematikan. Namun seiring berjalannya waktu, pengetahuan itu akan menjadi usang.
Saat pengetahuannya berhasil tersalip, yang tersisa hanyalah kemampuan murni dari individu itu sendiri.
Shino-senpai menghela napas pendek.
"Satoshi-san memang unggul, tetapi saya adalah seorang jenius. Hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang biasa seumur hidupnya sekalipun, sanggup saya lakukan dengan mudah."
"...Singit sekali ya ucapan Anda."
"Saya mohon maaf. Namun, itulah kenyataannya."
Shino-senpai tersenyum tanpa menunjukkan rasa bersalah sedikit pun. Lalu, ia melanjutkan bicaranya dengan penuh gairah.
"Ketika sosok seperti saya mengetahui bahwa konsep fiksi ilmiah seperti reinkarnasi benar-benar ada di dunia ini, saya bisa bertindak dengan memperhitungkan seluruh kemungkinan tersebut. Ternyata menghadapi hal yang tidak diketahui bisa semenyenangkan ini, ya."
Cahaya rasa penasaran intelektual terpancar dari dalam mata Shino-senpai.
Senyuman itu bahkan terlihat seperti orang yang sudah gila. Namun, itu bukanlah kegilaan yang lahir dari rasa takut. Melainkan kenikmatan seorang jenius yang berhasil mengubah hal tidak diketahui menjadi sesuatu yang dipahami. Bahkan di saat fondasi dunia ini runtuh sekalipun, raut wajah itu bukanlah raut ketakutan, melainkan raut seseorang yang melihatnya sebagai bahan eksperimen semata.
"──Karena itulah, saya menyadari bahwa membunuh Hibise-san adalah perbuatan yang tidak ada gunanya."
Bersamaan dengan kata-kata itu, senyuman Shino-senpai kembali ke ekspresi khasnya yang biasa. Namun, kali ini terasa sedikit lebih rapuh.
"Begitu ya."
Aku menghela napas panjang.
"Fufu, saya tidak berniat memberitahukan hal ini kepada siapa pun, kok."
Ia juga sudah menyadari hal itu.
Seolah ingin menegaskan bahwa sebanyak apa pun kebohongan yang kuucapkan, semuanya akan sia-sia.
Percakapan kami saat ini hanyalah sekadar konfirmasi bersama.
"Yang membunuh Sano Yuuto... adalah Shino-senpai, kan?"
"Benar. Yang mengeksekusinya secara langsung adalah saya."
Ia mengucapkannya tanpa emosi.
"Kenapa Anda melakukan hal itu?"
"──Karena saya adalah sosok yang paling tidak manusiawi di antara mereka."
Sambil tetap mengumbar senyuman, Shino-senpai menjawab.
"Mereka semua adalah orang-orang yang sangat lembut. Karena itulah, saya tidak ingin kelembutan itu ternoda oleh bayang-bayang kelam saat tinggal bersama."
Ia melanjutkan bicaranya.
"Jika saya menyerahkan penanganan masalah ini kepada orang lain, ada kemungkinan kenyataan bahwa mereka telah membunuh Benda Itu akan terbongkar kepada Satoshi-san saat hati mereka sedang lemah akibat masalah sepele."
Shino-senpai menyampaikannya dengan nada datar.
"Makanya, saya sendiri yang mengeksekusinya secara langsung."
Memang benar, jika orang ini yang melakukannya, ia sanggup menyembunyikannya rapat-rapat di balik senyuman itu sampai mati, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
──Namun, tetap saja. Shino-senpai telah berkembang ke arah yang cukup aneh dibanding masa lalu.
Padahal otaknya sangat encer, tetapi kenapa pemikirannya tetap konyol sejak saat itu, ya?
──Shino-sensei...
"Nah, mari kita kembali. Sudah saatnya saya juga ingin menikmati 'Keberkahan' bersama Satoshi-san."
"Gaya banget bahasa Anda..."
Aku tertawa sinis.
Aku benar-benar tidak habis pikir dengan isi kepalanya yang sanggup mengatakan hal seperti itu tepat setelah percakapan seberat ini.
"Fufu, merupakan suatu keberuntungan bagi saya bisa mengetahui kalau Hibise-san ternyata punya preferensi NTR..."
"Sama sekali tidak ada!"
"Mari kita lihat mana yang akan terjadi lebih dulu, apakah otakmu yang hancur atau kami yang menyerah."
"Ka~n sudah ku~bi~lang~! Aku tidak punya kelainan kayak begitu! Dengarkan aku!"
Di dalam pikiran kalian, sebenarnya aku ini sudah jadi monster seperti apa, sih!?
Ini benar-benar pencemaran nama baik!
"Oii, Hibise~... Shino~..."
"Ah, Senpai!"
Mendengar ada suara yang memanggil, aku pun berbalik. Di sana tampak Satoshi-senpai yang kembali terlihat amat tidak berdaya seperti tadi, berjalan sambil menjadikan dahan pohon sebagai tongkat. Di sampingnya, ada Shuna-senpai yang kulitnya tampak begitu segar dan berseri-seri.
Shuna-senpai? Bukannya tadi dia sedang bersimpuh sambil dimarahi habis-habisan?
Shuna-senpai tersenyum manis sambil membusungkan dadanya.
"Aku sudah dimaafkan, lho~♡"
"Oh, begitu ya! Bagus deh kalau begitu!"
Aku menatap Satoshi-senpai dengan pandangan mata yang sinis.
"Justru karena Senpai gampang kalah oleh hal-hal seperti itu, Shuna-senpai jadi makin melonjak!"
"M-Maafkan aku, aku tidak punya muka lagi di hadapanmu."
Menyerahkan pekerjaan padaku, lalu mereka berdua malah bersenang-senang sendiri.
Benar-benar parah.
Hukuman mati hukumnya!
Tapi kalau Senpai melakukan hal yang sama padaku, kuanggap bebas dari segala tuduhan, deh.
Semua yang terjadi sampai sekarang bakal kuanggap lunas.
Tepat saat aku berniat mengusulkan hal tersebut...
"Ah, kebetulan sekali."
Shino-senpai mendadak melangkah mendekati Satoshi-senpai.
"S-Shino... Mmph!?"
Pada detik itu juga, Shino-senpai tanpa ragu merebut bibir Satoshi-senpai.
"Mmph..."
"Aaaahhhhh!?"
Sebuah ciuman yang sangat dalam.
Wajah Satoshi-senpai yang tadinya lesu kini dipenuhi oleh rasa terkejut dan kebingungan. Dahan pohon yang digunakannya sebagai tongkat jatuh terlepas begitu saja ke tanah.
"Wah~ Shino-chan berani banget~"
"Bukan 'berani banget', tapi apa-apaan yang kalian lakukan, sih!?"
Saat aku berteriak, Satoshi-senpai menyandarkan tubuhnya ke batu besar seolah-olah telah kehilangan seluruh tenaganya. Tanpa memedulikan hal itu, Shino-senpai terus mengikis jarak di antara mereka seolah hendak merobohkannya.
"Hibise-san, sebagai tanda terima kasih, mari saya bagikan 'Keberkahan' ini untuk Anda."
"Eh? Tidak usah, terima kasih!"
Aku segera mengibaskan kedua tanganku untuk menolak. Namun, kedua lenganku mendadak dicengkeram erat dari arah belakang.
"Sudahlah, Hibise-chan. Tidak perlu sungkan-sungkan~"
"Aku bukannya sungkan, tahu!"
Padahal aku benar-benar menolak, tetapi cengkeraman lengan Shuna-senpai terasa sangat kuat secara aneh. Ia terlihat sangat bersemangat sampai-sampai tidak tampak seperti wanita yang baru saja diceramahi.
"S-Shino... Kali ini aku beneran bisa mati..."
Satoshi-senpai menatap Shino-senpai dengan raut wajah yang hampir menangis.
Sudah lama sekali aku tidak melihat Satoshi-senpai sepasrah dan seburuk ini.
...Tidak juga, rasanya hari ini saja aku sudah melihatnya berkali-kali.
"Tidak apa-apa."
Shino-senpai tersenyum sangat lembut.
"Saya akan menghentikannya tepat satu langkah sebelum Anda benar-benar mati."
"Coba baca ulang arti kata 'tidak apa-apa' di dalam kamus!"
"Lagipula, keahlian utama Satoshi-san adalah mengelak dari ending kematian, kan?"
"Mana ada begitu! Ugh, aku mohon padamu, Shino... Kalau lebih dari ini, aku beneran mati..."
Suara itu terdengar hampir seperti sebuah permohonan yang pasrah.
Hanya saja, Shino-senpai justru tertawa dengan sangat tenang.
"Satoshi-san."
"Eh...?"
"Seandainya Anda mati pun──Anda tinggal nereinkarnasi lagi saja, kan?"
"Candaanmu tidak lucu, hentikan! Uh, aduh, tolong, siapapun, tolongin akuuuuu!"
Setelah dimangsa oleh Shino-senpai, akhirnya lengkap sudah penderitaannya.
Sudah berapa kali otakku harus dibuat hancur dalam sehari ini?
Aku hanya bisa berdiri terpaku menyaksikan pemandangan di hadapanku.
Berapa kali lagi otakku harus dihancurkan? Berapa kali lagi aku harus diperlihatkan perbedaan posisi yang mencolok ini?
Iri.
Jengkel.
Kasihan pada diri sendiri.
Dan dari segalanya, aku paling benci pada diriku sendiri yang tetap tidak bisa memalingkan pandangan dari pemandangan ini.
──Tapi ya sudahlah, tidak peduli lagi.
Lagipula, memang semuanya sudah sia-sia dari awal.




Post a Comment