NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Shibou End wo Kaihi shita Galge no Heroine-tachi ga Ore no [Nikki-chou] o Yonde Himitsu o Shitta Rashii Volume 3 Chapter 2.3

 Penerjemah: Amir

Proffreader: Amir


Chapter 2.3

VS Nanjou Shuna

"──Jadi, di sinilah aku sekarang setelah melarikan diri."


Aku bergumam pelan.


Aku berhasil dipermainkan dan dipaksa mundur oleh Satsuki-senpai. Bahkan kekalahanku bisa dibilang sangat telak.


Bayangan Satsuki-senpai yang mencium Satoshi-senpai secara alami di sampingnya masih terekam jelas di dalam ingatanku.


Jengkel, menyebalkan. Dan yang paling membuatku benci pada diri sendiri adalah kenyataan bahwa aku sempat merasa sedikit terangsang.


"...Haaah."


Aku duduk di atas batu besar lalu mencelupkan kedua kakiku ke dalam air. Semakin aku berjalan menuju hulu, keberadaan tanda-tanga kehidupan manusia perlahan makin menipis.


Tepi sungai yang tadinya tertata rapi kini berubah menjadi pijakan yang makin terjal seiring langkahku bergerak maju. Batu-batu datar berubah menjadi batu-batu besar yang kasar dan bersudut. Rumput liar tumbuh seenaknya, sementara dahan-dahan rendah menaungi bagian atas kepalaku.


Ini adalah wilayah pegunungan milik keluarga Shinonome. Area yang berbahaya seharusnya sudah dirawat atau setidaknya ditutup agar tidak bisa dimasuki.


Jadi, tempat ini pasti aman.


Pasti.

Mungkin.


"Fuuu, udaranya segar sekali ya~"


Mungkin inilah yang dinamakan menyatu dengan alam.


Rasa hangat di kulitku perlahan memudar. Di atas kepala, bayangan pepohonan membentang luas, dan terpaan sinar matahari pun terasa jauh lebih lembut.


Saat kupejamkan mata, yang terdengar hanyalah gemericik air sungai, gesekan dedaunan, dan cicitan jangkrik dari kejauhan.


Byur!


Ah iya, batu jatuh... ngg?


Terkejut oleh suara yang cukup keras, aku membuka mata dan melihat riak air besar sedang membual di hulu.


Tak lama kemudian, sebuah bayangan muncul dari dasar sungai.


Dewi?


Bukan, ternyata sosok sebenarnya adalah...


"Lho~ Ada Hibise-chan~"


"Shuna-senpai..."


Suara santai terdengar dari arah hulu. Ia kemudian berjalan melangkah mendekat ke arahku.


"Sedang apa di sini?"


"Lagi terjun ke air~ Tadi ketemu tempat yang pas banget~"


Melihat ke arah yang ditunjuk jari Shuna-senpai, terdapat sebuah batu besar di sana.


Tingginya sekitar 3 meter.


"Oh begitu~ Tapi daripada itu, ada yang meluap ke mana-mana tuh~?"


"Ara~ Terima kasih ya~"


Shuna-senpai merapikan baju renangnya dengan gerakan yang sangat alami. Seluruh tubuhnya basah kuyup oleh air, dan tetesan air jatuh perlahan dari ujung rambutnya. Gerakan menyibak poni ke belakang terlihat sangat anggun, memancarkan pesona penuh kelembapan yang berbeda dari atmosfer biasanya.


Namun, yang paling menyita perhatian melebihi hal itu adalah baju renang yang dikenakannya. Baju renang renda berwarna putih yang menutupi hingga ke area leher, jenis yang biasa disebut high-leg. Namun, akibat desainnya yang terbuka lebar dari bagian dada hingga ke perut, pandangan mataku tidak memiliki tempat untuk bersembunyi.


Mulai dari belahan dada hingga ke pusar, semuanya masuk ke dalam pandanganku secara mencolok.


"Fumu."


Saat tersadar, kedua tanganku sudah terulur ke depan. Dan dengan mantap, aku meremas erat dua gunung besar yang menjulang di hadapanku.


"Sedang melakukan apa~?"


Ia memiringkan kepalanya sambil tetap memasang senyum santai seperti biasanya.


"A-Ah, maaf. Soalnya ada dua gunung besar di sana, jadi tangan saya refleks meremasnya!"


Lagipula, Shuna-senpai memiliki lekuk tubuh paling berisi di antara mereka berempat. Setiap kali melangkah, lekukan lembut itu bergoyang dan menyedot pandangan mata secara otomatis.


"Malu tahu~"


"Tolong, 10 detik saja lagi!"


"Ya sudah, mau bagaimana lagi~"


Sungguh luar biasa Sang 【Saint】 dari almamaterku.


──Remas-remas.


"Ooo...!"


Luar biasa.


Aku sampai dibuat terharu secara tak sadar. Jika memiliki aset seluar biasa ini, rasanya menggoda Satoshi-senpai bukanlah hal yang mustahil.


Kalau begitu, aku harus mempelajarinya mulai dari sekarang.


Sambil membayangkan aksi perebutan di masa depan, aku merekam sensasi, bobot, dan rasa kekalahan ini ke dalam tanganku.


"Nah, sudah selesai~"


"Yah..."


Waktu memang sangat kejam.


Sambil merasa kecewa, aku memberi hormat kepada Sang Dewi yang telah memberikanku waktu terbaik ini.


"Terima kasih banyak, Shuna-senpai-paii!"


"Bukannya 'pai'-nya kelebihan satu~?"


"Maaf. Shuna-senpai-Oppai!"


"Ngg~?"


Senyuman Shuna-senpai tidak berubah sedikit pun. Namun pada detik berikutnya, kepalaku cengkeram dengan erat.


"...Eh? Ada apa ini. Cengkeraman di kepala ini... aduh, sakit, sakit, sakit, sakiiiit! Saya cuma bercanda!"


Terdengar suara tengkorak kepalaku gemeretak.


Tidak, ini benar-benar bisa retak, tahu!


"Jangan terlalu sering melakukan pelecehan seksual, ya~?"


"T-Tapi! Kalau memakai baju renang mesum seperti itu, wajar dong kalau kena lecehhhh!"


"Ngg~? Tadi bicara apa~?"


"Mohon maafkan sayaaaaa!"


"Nama saya siapa~?"


"Shuna-senpaiiii!"


"Mau bagaimana lagi~"


Wush.


Pada detik berikutnya, aku dilemparkan ke sungai. Bongkongku mendarat di bagian dangkal, membuat cipratan air membual ke mana-mana.


"Aduh-duh..."


Saat mengangkat wajah, Shuna-senpai sedang menatapku dari atas dengan senyuman khas sang 【Saint】. Senyuman yang terasa lembut, penuh kebaikan, dan seolah sanggup mengampuni hal apa pun. Hanya saja, itu adalah senyuman yang ia tampilkan tepat setelah hampir meremukkan tengkorak kepalaku.


Sambil basah kuyup, aku duduk di atas batu besar.


Shuna-senpai sendiri duduk di sebelahku tanpa menunjukkan raut wajah bersalah sedikit pun. Kami berdua meluruskan kaki ke arah sungai, lalu menyepak-nyepakkan air secara perlahan.


"──Aku sama sekali tidak menyangka kalau Shuna-senpai bakal pakai kekerasan fisik... Nama besar sang 【Saint】 bisa rusak, tahu~?"


"Tidak apa-apa, kok~ Lagipula 【Saint】 di social game belakangan ini kan kebanyakan tipe otot~"


"Aku paham sih kalau konsep 【Saint】 tipe otot memang makin banyak di social game, tapi kalau Shuna-senpai sendiri yang bilang begitu, bukannya malah merusak citra diri sendiri...?"


"Wah, kamu paham topik ini ya~ Ternyata Hibise-chan juga main gim, ya~"


"...Yah, sekadarnya saja."


"Ooo~"


"Ngapain tepuk tangan segala, sih..."


Cuma karena sedang tren saja.


Aku cuma mempelajarinya karena tuntutan pekerjaan, mau bagaimana lagi. Hanya saja, aku masih belum bisa sepenuhnya menerima konsep di mana seorang 【Saint】 adalah tipe otot.


Bagaimanapun juga, aku ingin seorang 【Saint】 itu memiliki sifat yang penuh kelembutan. Sosok yang sanggup menyembuhkan, mengampuni, dan merangkul siapa saja.


Setidaknya, bukan sosok yang membuat tengkorak kepala orang lain berderit retak.


"Aku senang kamu mengkhawatirkanku, tapi aku benar-benar tidak apa-apa, kok~"


Shuna-senpai mengucapkannya sambil menatap aliran sungai.


"Lagipula bayangan kalau seorang 【Saint】 itu selalu lembut kan pada dasarnya cuma ilusi belaka~"


"Maksudnya itu──"


Saat melayangkan pandangan ke samping, aku mendadak menahan napas. Ia sedang menatap ke arahku dengan senyuman yang seperti biasanya, tetapi kilau cahaya di matanya telah melenyap total. Mata yang mengintip dari sela-sela poni basahnya terasa sangat sunyi dan dingin bagaikan es.


"──Mana mungkin kami mau berakting menuruti pengaturan yang dibuat oleh kalian para pengarang asli, kan?"


Saat angin berembus, dedaunan di pepohonan bergoyang dan bersuara riuh. Helai daun hijau tua jatuh ke permukaan sungai, lalu terbawa aliran air secara perlahan menuju ke hilir. Ikan-ikan kecil melompat di atas air, memicu suara kecipak kecil yang entah mengapa terdengar sangat jelas.


Shuna-senpai sudah tidak lagi menatapku. Ia menatap lurus ke arah aliran sungai. Garis wajah dari samping itu terlihat tenang, lembut, dan sangat mencerminkan dirinya yang seperti biasanya.


"Haaah..."


Aku berdiri lalu mengambil sebuah batu yang ukurannya pas di genggaman tangan. Tanpa mengucap sepatah kata pun, aku melempar batu itu ke sungai.


Burrr.


Batu itu tenggelam dengan suara kecil, memicu timbulnya riak air yang menyebar di permukaan. Lingkaran riak saling bertumpuk, terdistorsi oleh aliran sungai, hingga akhirnya lenyap tanpa sisa seolah tak pernah terjadi apa-apa.


"──Sejak kapan menyadarinya~?"


"Mungkin sejak Hibise-chan mulai sering datang berkunjung ke rumah, ya~"


Ia mengucapkannya dengan nada suara terseret yang santai seperti biasanya.


"Soalnya rasanya janggal banget, kok kamu bisa merebut hati kami dalam waktu yang singkat sekali~"


Sambil merasakan tatapan mata di punggungku, aku memilih untuk tetap bungkam. Angin yang menyentuh kulit basahku terasa sedikit dingin.


"Sama halnya dengan kencan selingkuh itu~ Kami tidak mungkin cuma tinggal diam tanpa mengawasi situasi, kan~?"


Ia melanjutkan bicaranya dengan nada datar.


"Reine-chan, aku, Satsuki-chan, Shino-chan. Kami semua dialihkan perhatiannya dengan cara yang sangat pas dan presisi, sampai-sampai kami berpikir 'memang cuma cara ini yang bisa dilakukan'~"


Dari arah belakang, terdengar suara gemeretak tulang.


Sepertinya Shuna-senpai baru saja memutar lehernya.


Suara kecil itu entah mengapa terasa terdengar sangat nyaring.


"Lalu begitu juga saat kamu datang ke rumah kami. Hibise-chan itu terlalu pintar dalam membuat kami marah atau merasa serba salah, lho~"


"──"


"Atau mungkin lebih tepat kalau kubilang kamu terlalu mahir dalam mengendalikan kami~ Mulai dari poin yang bisa membuat kami marah, jarak untuk melangkah masuk, sampai kapan harus menarik diri, semuanya terasa seperti sudah kamu pahami betul~"


Terdengar suara helaan napas.


"Gara-gara hal itu, secara perlahan kami semua jadi menurunkan rasa kewaspadaan terhadap Hibise-chan~"


Bagian dalam dadaku mendadak terasa sedikit dingin.


"Hanya Tuhan yang bisa melakukan mind control seperti itu secara alami tanpa memicu rasa aneh sedikit pun~"


Dan kemudian, ia berbisik dengan nada suara yang merendah.


"Kamu yang mengetik profil diri kami, kan~?"


Aku menghela napas panjang.


Aku dibuat heran sampai tidak bisa berkata-kata lagi.


"Lalu, mau memperlakukanku seperti apa? Sama seperti benda itu──eh?"


Saat aku akhirnya berbalik menatapnya, Shuna-senpai justru sedang tersenyum ramah. Tidak ada niat membunuh, rasa waspada, ataupun rasa benci di sana. Ia hanya menatapku dengan raut wajah seperti sedang melihat seorang anak kecil yang nakal.


"Tidak akan kuapa-apakan, kok~"


"B-Begitu ya."


Anehnya, aku benar-benar tidak merasakan emosi apa pun.


"Aku cuma ingin mengobrol saja dengan Hibise-chan~"


"...Padahal kita bahkan belum pernah bertemu secara langsung sebelumnya?"


"Iya, benar sekali~ Padahal kita belum pernah bertemu sebelumnya~"


Aku menghela napas sekali lagi. 


Benar-benar sulit untuk dihadapi.


Sangat amat sulit.


Menerima permusuhan secara terang-terangan justru jauh lebih mudah bagiku. Lebih mudah jika disalahkan, dicurigai, atau dibenci; rasanya jauh lebih jelas dan mudah dipahami.


"...Sejak kapan Shuna-senpai punya akal bulus sejauh ini?"


Aku bertanya dengan nada sinis yang diselubungi rasa penasaran.


Nanjou Shuna dalam ingatanku adalah sosok ketua OSIS yang paling lembut dibanding siapa pun. Selalu tersenyum, berjuang demi orang lain, tidak bisa membiarkan orang yang kesusahan, dan secara alami menjadi sosok yang selalu diandalkan.


Karena itulah, ia selalu dipanggil sebagai Sang 【Saint】.


Tentu saja, wajar kalau begitu karena kamilah yang merancang karakternya. Namun, Shuna-senpai yang sekarang benar-benar berbeda.


Judi, gacha gim, dan berbagai hal lainnya. Ia justru menjadi troublemaker nomor satu yang paling sering menyusahkan Satoshi-senpai dan yang lainnya.


Jujur, aku sangat terkejut saat mencari tahu tentangnya. Soalnya, ia sangat amat berbeda dengan sosok Nanjou Shuna yang kukenal.


"Manusia itu ya, baru akan merasakan empati dan kedekatan saat melihat sisi tak berdaya atau kekurangan dari orang lain, lho~"


Garis wajah dari samping saat menatap aliran sungai itu terlihat sangat tenang.


"Rasa ingin perhatian bakal muncul, ingin membantu dengan cara apa pun, dan akhirnya berubah jadi rasa sayang~ Hibise-chan juga pasti paham, kan~?"


"...Mungkin."


Satu sosok senior mendadak terlintas di dalam benakku. Seseorang yang sangat bodoh, tidak keren, tetapi tetap ingin kubantu sampai detik-detik terakhir. Ia tersenyum, seolah sanggup menembus dan membaca reaksiku itu.


"Makanya~ aku juga ingin jadi beban buat semua orang~"


"Pemikirannya terlalu ekstrem, tahu."


Aku menepuk dahi sambil menghela napas panjang.


"Kalau tetap berakting jadi 【Saint】 yang lembut, kemungkinan besar Satoshi-senpai bakal memilih Shuna-senpai jadi istri sahnya, tahu~?"


Aku tidak tahu apa arti dari angka "nomor satu" di antara mereka berempat. Namun, Shuna-senpai hanya tersenyum tipis dan tampak sedikit rapuh.


"Aku cuma sudah lelah berakting jadi 【Saint】 yang lembut bagi semua orang~"


Nada suaranya terdengar jauh lebih pelan dibanding beberapa saat lalu.


"Kalau terus-terusan berakting jadi anak baik, orang-orang tidak berguna cuma bakal memanfaatkan hal itu~ Kalau mengingat latar belakang keluarga 'Nanjou Shuna', rasanya aku makin yakin akan hal itu~"


"...Yah, memang begitu sih latar belakang yang kami buatkan~"


Kehidupan di mana ia harus tetap bersikap lembut di tengah situasi yang kasihan. Yang menentukan takdir itu memang kami di dunia sebelumnya.


"Makanya, rasanya sekarang jauh lebih nyaman, dan beban di bahuku akhirnya bisa terangkat~"


"──"


"Meski aku sadar sudah membuat Satoshi-kun susah, orang tidak bisa membiarkan anak yang bermasalah begitu saja, dan tidak akan tega mencampakkannya juga, kan~?


Kalau aku bersikap manja dan egois, Satoshi-kun dan yang lainnya bakal menuruti semuanya seperti sedang memanjakan anak kecil~"


"...Uwah, menjijikkan banget."


"Iya lah~ Aku kan memang yang paling menjijikkan~"


Ia menempelkan tangan di pipi lalu tertawa secara dibuat-buat.


Aku sangat membenci senyuman Shuna-senpai yang seperti itu, hingga tanpa sadar kata-kata jujurku keluar begitu saja.


"...Dari dulu, selalu mengambil jalan yang terlalu ekstrem."


"Ngg~? Maksudnya bagaimana~?"


"Anda itu gagal karena terus-terusan bersikap manis ke semua orang dan mencoba melakukan semuanya secara sempurna. Coba tahu diri sedikit."


Sambil mengucapkannya, bagian dalam dadaku terasa mengganjal.


"Mungkin sempat besar kepala karena dipanggil 【Saint】, tapi bagiku, Ketua Shuna dari dulu sampai kapan pun tetaplah orang yang bodoh, sangat bodoh, dan super duper bodoh."


"──"


"Lagian ya,... eh, kenapa?"


Shuna-senpai menunjukkan raut wajah yang tampak cengo dan kebingungan. Namun, wajah itu segera tertunduk ke bawah.


"Rasanya... agak menyebalkan ya~"


"Eh?"


Pada detik berikutnya, lenganku ditarik kuat. Tubuhku hilang keseimbangan, dan pandanganku mendadak menjadi gelap. Lalu, sesuatu yang sangat empuk ditekan ke wajahku.


──A-Aku tidak bisa bernapas!?


"Hibise-chan~"


Suara Shuna-senpai terdengar menggema dari atas kepalaku.


"Sebenarnya, apa hubunganmu denganku di masa lalu~?"


Meski terasa empuk, aku sama sekali tidak bisa meloloskan diri. Mendorong lengan maupun bahunya sama sekali tidak membuatku bisa keluar dari kuncian ini.


"Cara bicara dan atmosfermu itu... kamu tidak menatapku sebagai 【Saint】, melainkan hanya sebagai seorang 'Nanjou Shuna' biasa, kan~? Bukan cuma itu, kamu juga menganggapku sebagai anak yang tidak berguna, kan~?"


Entah ia tidak menyadarinya atau sengaja melakukan ini, Shuna-senpai justru makin menekan dan menindih tubuhku.


"Selain orang tuaku, cuma ada 4 orang yang menganggapku seperti itu~ Soalnya kalau tidak punya hubungan yang sangat dekat, mana mungkin ada yang tahu kalau aku ini anak yang tidak berguna~"


Nada suara Shuna-senpai terdengar sedikit lebih berat dan merendah.


"──Kenapa bisa begitu?"


A-Aku tidak bisa... ber... napas!


"Dossyaaaa!"


"Uwah~"


Aku memutar tubuhku dengan sekuat tenaga, hingga akhirnya berhasil lolos dari cengkeraman Shuna-senpai. Namun, arah gulinganku sangat buruk.


"Ah."


"Aca~"


Tepat saat mataku beradu dengan Shuna-senpai, aku langsung jatuh tercebur ke sungai.


Aku segera memunculkan wajah ke permukaan air sambil menarik napas terengah-engah.


"Haaah, haaah... Aku pikir bakal mati tadi."


"Cepat jawab dong~"


Shuna-senpai masih tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. Ia tidak akan membiarkanku kabur sebelum aku memberikan jawaban.


"...Bukannya sudah kubilang, karena aku ini pengarang aslinya, makanya aku merancang Shuna-senpai dan yang lainnya seperti itu... Jawaban begitu tidak boleh, ya~?"


"Iya, tidak boleh dong~"


Ia menjawabnya secara instan tanpa ragu.


"Soalnya, kalau Hibise-chan—yang tahu semua latar belakang kami dan bisa mengendalikan situasi—punya niat jahat, Satoshi-kun kan pasti bisa kamu dapatkan dengan mudah~?"


"──"


"Kalau kamu punya alasan tertentu, ceritakan saja padaku~ Kalau ada yang bisa kubantu, aku bakal bantu apa saja, kok~?"


"...Bukannya tadi bilang mau berhenti bersikap seperti【Saint】?"


"Benar juga ya~ Jadi mungkin ini juga salah satu sikap manja dan egoisku~"


Orang ini benar-benar menyusahkan sejak dulu. Katanya sudah berhenti berpura-pura bersikap lembut, tetapi pada akhirnya ia tetap saja mengulurkan tangan pada penderitaan orang lain. Padahal sudah lelah menjadi 【Saint】, tetapi kebiasaan itu tetap tidak bisa ia buang.


Kalau begitu.


"Nggak usah sok perhatian, Hibise-chan. Jangan-jangan kamu itu──"


"Satoshi-senpaaaii!"


Aku berteriak sekuat tenaga. Aksi anehku itu membuat senyuman Shuna-senpai seketika membeku.


"Shuna-senpai bulan ini kalah judi sampai ratusan ribu yen, lho~!"


"Eh?"


Wajah Shuna-senpai mendadak berubah serius.


Aku pun makin gencar melancarkan serangan.


"Bukan cuma itu saja! Dia juga terus-terusan melakukan gacha sampai batas pity~!"


Suara teriakanku menggema di sepanjang aliran sungai. Seekor burung terbang meninggalkan dahan seolah-olah sedang melarikan diri.


Shuna-senpai sempat terperangah sejenak, tetapi ia segera mengembalikan senyuman khasnya.


"Fufufu, aku tidak tahu kamu dapat informasi itu dari mana, tapi Satoshi-kun kan tidak ada di──"


"Shuna."


"...Lho~?"


Dengan gerakan kaku bagaikan mesin berkarat, ia berbalik dan mendapati Satoshi-senpai sedang berdiri tegak di sana. Tanpa sempat menyibak rambutnya yang basah, ia hanya menatap Shuna-senpai dengan tajam dan tenang.


"Omongan tadi... benar?"


"K-Kenapa bisa ada di sini~?"


"Aku datang buat menjemput kalian. Shino tidak ada di sini, ya?"


"I-Iya~ Katanya dia mau mencari pencerahan~"


"B-Begitu ya."


Satoshi-senpai sempat dibuat kebingungan sejenak oleh kelakuan aneh Shino-senpai. Namun, ia segera berdehem pelan dan menatap lurus ke arah Shuna-senpai.


──Kesempatan!


"Kalau begitu, saya akan pergi memanggil Shino-senpai ya! Satoshi-senpai tolong urus ceramahnya Shuna-senpai!"


"Maaf ya membuntutimu, Hibise..."


"Siap!"


Aku berpura-pura menjadi junior yang baik dengan sepenuh tenaga.


"Lalu, Shuna-senpai tadi sempat memamerkan total biaya gacha dan jumlah kekalahan judinya padaku, jadi sepertinya dia sama sekali tidak merasa kapok! Bahkan aku juga sempat diacak-acak!"


"A-Aku tidak melakukan hal seperti itu, kan~!?"


"Shuna."


Suara Satoshi-senpai makin merendah.


"Kamu lebih sayang pacarmu atau juniormu sih~?"


"Untuk kali ini, jelas Hibise."


"Lho~?"


"Yesss!"


Satu kemenangan perdana!


...Tapi tidak, hal seperti ini tidak boleh dihitung sebagai kemenangan, kan...


Tentu saja ucapan tadi hanyalah dalih semata. Namun, aku sudah dibuat jengkel setelah sekian lama. Kalau terus-terusan didesak seperti tadi, aku bisa saja kelepasan mengatakan hal yang tidak perlu.


Mohon maaf ya, tapi kuharap dimarahi habis-habisan di sana.


"Kalau begitu, saya berangkat dulu ya!"


Shuna-senpai bersimpuh dengan raut wajah lesu.


Di hadapannya, Satoshi-senpai mulai mengomel dan menceramahinya. Namun, entah mengapa Shuna-senpai justru terlihat sedikit tersenyum.


Setelah melihat pemandangan itu untuk terakhir kalinya, aku segera melangkah makin jauh ke dalam.


"...Beneran wanita yang merepotkan."


Kata-kata umpatan yang kulontarkan seketika melenyap, menyatu bersama gemericik suara sungai.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close