NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Teido de Mune no Ana wa Umaranai Volume 5 Chapter 3


Chapter 3

Seseorang


1

"……Ini, sebenarnya apa?"

Konoe bergumam saat menatap spiral raksasa di hadapannya. Dia penasaran benda apa itu.

Sebuah ruang berbentuk sumur vertikal yang tampaknya diciptakan dengan sihir, serta tangga yang melingkari dindingnya menuju ke bawah.

Ada tangga spiral berdesain simpel tanpa hiasan yang turun begitu dalam, hingga Konoe yang seorang Adept pun tidak dapat mendeteksinya dengan mudah.

Lalu…… apakah itu pintu? Di tengah tangga, terlihat beberapa pintu dipasang dengan jarak yang teratur.

"Ini adalah ruanganku. Tempat yang tidak boleh disentuh oleh siapa pun selain aku."

"……Milik Dewa?"

"Ya, bisa dibilang ini adalah domain khususkubentuk pengasingan diri dari dunia."

Dewa berkata bahwa tempat ini hanya akan menampakkan wujudnya saat Dewa menginginkannya.

Sebuah ruang yang hanya terhubung dengan dunia luar saat Dewa menyentuh pintu masuknya, atau saat Dewa sedang berada di dalam ruangan tersebut.

Di luar waktu itu, baik tubuh asli Dewa, tubuh manifestasi lainnya, Dewa Jahat, maupun dunia itu sendiri tidak akan bisa menyentuhnya.

……Konoe hanya bisa terpana melihat wilayah khusus yang mendadak muncul di hadapannya ini.

"Kalau begitu, ayo jalan."

"……Ah, baik."

Saat itu juga, Dewa mulai melangkah. Memasuki tangga spiral dan menapakinya selangkah demi selangkah ke bawah.

Pintu yang berada di tengah tangga pun perlahan-lahan makin mendekat.

Tak lama kemudian, mereka berdua berdiri di depan pintu pertama. Sebuah pintu tunggal dengan dekorasi yang sederhana.

"……Aku yakin, kalau di domain ini, pasti ada di suatu tempat."

"…………"

Dewa bergumam sambil mengulurkan tangan ke arah pintu, disertai senyuman yang entah mengapa terasa rapuh.

Dewa memutar gagang pintu dan membukanya perlahan-lahan, seolah-olah sedang membuka pintu yang sangat berat.

……Ada apa gerangan di dalamnya?

Mengingat domain ini dibuat dalam skala sedemikian besar, sudah pasti ada sesuatu yang sangat penting bagi Dewa di dalam sana.

"…………"

Tanpa sadar Konoe menahan napas. Detak jantungnya kian memcepat.

Secara perlahan, pemandangan di dalam ruangan mulai terlihat oleh mata Konoe.

Yang ada di dalam sana adalah…… hm?

"……Anu, Konoe. Di dalam sini, ada sesuatu yang sangat berha────"

Brak!

Pintu itu tertutup. Tertutup rapat dengan suara yang keras. Dewa yang menutupnya, tepat setelah mengeluarkannya suara dengan nada yang belum pernah terdengar sebelumnya.

Kecepatannya sungguh luar biasa. Kenyataan bahwa baru saja pintu itu dibuka secara perlahan terasa seperti kebohongan belaka.

"………………"

"………………Ehehe."

Setelah pintu tertutup dan keheningan berlalu beberapa detik, tercium gestur Dewa yang mencoba tertawa untuk menyamarkan suasana. Suasana rapuh yang terpancar hingga tadi mendadak sirna tanpa sisa.

Perubahan suasana yang begitu drastis membuat Konoe sedikit kebingungan.

Dewa melirik-lirik ke arah Konoe beberapa kali.

Seolah wajahnya ingin mengatakan, "Kamu lihat?"

Konoe teringat apa yang baru saja dilihatnya, berpikir bahwa yang dimaksud pasti hal itu.

Dinding ruangan yang terlihat hanya sekilas. Di sana──foto Konoe, Instruktur, dan Dewa tertempel rapat tanpa menyisakan celah sedikit pun.

──Melihat Dewa yang menatapnya seolah berkata "Kamu lihat?", Konoe berpikir sejenak.

Haruskah dia mengaku melihatnya, atau berpura-pura tidak melihatnya. Konoe mempertimbangkan mana pilihan yang lebih baik.

"……Saya melihatnya."

"──!"

Bohong itu tidak baik, dan tidak mungkin dia tidak melihatnya dalam momentum seperti tadi, jadi dia menjawab dengan jujur.

Seketika itu juga, raut wajah Dewa tampak syok.

"……Ugh, maaf ya. Baunya jadi mirip gubuk lukisan Elentennos……"

Dewa mengucapkannya sambil menjatuhkan bahunya lesu.

Konoe memiringkan kepala, bingung dengan istilah gubuk lukisan Elente……?

"…………"

Yah, karena disebut gubuk lukisan, Konoe menduga artinya tempat itu terasa seperti ruangan yang dipenuhi oleh gambar-gambar. Dia juga menyadari bahwa istilah itu digunakan dalam konotasi yang kurang baik.

"……Anu, awalnya tidak begini kok. Aku cuma ingin memajang foto."

Dewa berujar sambil murung. Katanya, awal mulanya dia hanya menempelkan belasan lembar foto yang sudah diambil. Dia hanya mengambil beberapa foto, memajangnya, lalu memandanginya.

Dipermalkan dari foto bertiga antara Konoe, Instruktur, dan Dewa──foto saat diskusi pembagian hadiah perang──lalu berlanjut ke foto-foto pada hari pembagian hadiah perang itu sendiri.

……Namun, puluhan hari telah berlalu sejak hari pertama itu.

"Foto kan bisa dibuat lebih mudah dan lebih banyak daripada lukisan, kan? Jadi saat asyik mengambil foto, jumlahnya malah jadi sebanyak ini…… Aku mengambil foto Instruktur, lalu mengambil foto saat kamu datang ke akademi."

"……Ah."

Konoe teringat bahwa dia memang pernah diajak mengambil foto bersama beberapa kali.

Terutama setelah kejadian Instruktur, mereka mengambil banyak sekali foto. Dia mengambil banyak foto bersama Dewa yang merasa lega dan gembira.

Saat Konoe diminta memunculkan zirah yang telah berevolusi karena Dewa ingin melihatnya, Dewa mengambil foto berulang kali. Mengambil foto di berbagai tempat dan diminta berpose membuat Konoe teringat rasa malunya.

"……Padahal sudah mengambil banyak kenangan indah, sayang sekali kalau tidak dipajang…… tapi lama-lama ruang untuk menempelnya habis."

Karena keasyikan menambah jumlahnya dan terus menempelkannya hingga batas maksimal, akhirnya jadilah seperti itu.

Dewa berbicara sambil terkulai lemas sayapnya. Lalu, dengan suara pelan──dia juga bergumam bahwa melihat kenangan indah ke mana pun memandang itu terasa sangat menyenangkan.

"……Saat menempelkannya aku memang berpikir ini mirip gubuk lukisan, tapi karena pada dasarnya tidak ada orang lain selain aku yang masuk ke domain ini, jadi aku keterusan."

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, tempat ini adalah domain khusus milik Dewa. Karena biasanya terisolasi sepenuhnya, dia jadi kebablasan.

"Semua ruangan di dunia ini menyimpan barang-barang berharga milikku…… Foto yang sekarang, lukisan yang digambar dulu, dan banyak barang kenangan lainnya ada di sini…… Alasan aku mengajak Konoe ke sini kali ini juga untuk meminta bantuan mencari apakah ada lukisan 'anak itu' yang terlupakan."

"……Begitu rupanya."

"Di dunia ini, alur waktu biasanya berjalan lambat, jadi cocok untuk menyimpan barang. ……Ah, sekadar memberitahu, kalau aku sedang ada di dalam, waktunya berjalan dengan kecepatan yang sama dengan dunia luar, dan secara spasial terhubung dengan dunia luar lewat pintu masuk, jadi tidak bisa digunakan sebagai tempat perlindungan."

"……Fumu?"

Konoe mengangguk paham atas berbagai penjelasan itu.

……Namun, dia menatap Dewa sambil berpikir apa yang harus dilakukan.

Sejak tadi, sembari menjelaskan, Dewa terus terkulai lemas sayapnya dengan sangat murung.

Tampaknya dia sangat syok karena fotonya terlihat.

……Menghadapi Dewa yang seperti itu, Konoe berpikir sejenak.

"……Bagaimana ya melesatkannya."

"……? Ya."

"……Yah, kalau mengenai saya, saya tidak terlalu memikirkannya."

Konoe mengucapkannya. Meski sedikit terkejut, reaksinya hanya sebatas itu.

Oleh karena itu, dia meminta Dewa untuk tidak berkecil hati. Seketika, mata Dewa terbelalak.

"……Kamu tidak benci?"

"……Ya."

Konoe mengangguk. Dia sama sekali tidak merasa keberatan.

Apalagi yang melakukannya adalah Dewa sendiri.

Dewa pun mengedipkan matanya beberapa kali. Lalu bergumam, begitu ya.

"……Um, terima kasih. Maaf ya. Aku akan berhenti menempelkan foto di dinding. Aku juga akan minta maaf pada Instruktur."

"……Begitukah?"

"Ya. ……Ah, tapi anu, kalau kamu tidak keberatan, bolehkah aku menaruh beberapa lembar saja di bingkai foto untuk dipajang?"

Dewa bertanya dengan nada ragu-ragu dan hati-hati.

Yah, bagi Konoe sendiri, dia tidak berniat komplain berapa pun jumlah foto yang dipajang. Jadi ketika Konoe mengangguk, Dewa tersenyum gembira.

"Terima kasih. Kalau begitu──aku akan memajang foto Konoe yang sangat keren, ya?"

"………………"

"Ehehe, karena ada banyak, aku harus berusaha keras memilihnya."

Dewa tampak bersenang-senang memikirkan foto mana yang harus dipilih.

Melihat Dewa yang seperti itu…… Konoe merasa agak malu jika dikatakan begitu, lalu memalingkan pandangannya.

──Kemudian, setelah berbincang sejenak.

Dewa dan Konoe kembali berdiri di depan pintu.

"Sekali lagi, bolehkah aku minta bantuanmu untuk mencari 'anak itu'?"

"……Baik."

Saat Konoe mengangguk, pintu pertama perlahan-lahan terbuka. Mereka berdua pun melangkah masuk ke dalam.

◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇

──Pindah ke tempat lain, di sebuah ruangan di gedung penelitian.

Di sana, Instruktur, Maiko, dan Saint yang terpantul di cermin sedang berkumpul mengelilingi meja.

Di atas meja, tumpukan dokumen dari seratus sepuluh tahun yang lalu yang diangkut dari ruang arsip gedung penelitian telah menggunung.

Penyelidikan tentang 'seseorang' yang misterius ini dimulai dari penyelidikan dokumen terlebih dahulu.

Karena membutuhkan waktu sampai pengguna sihir jenis penyelidikan tiba, ini adalah pekerjaan mengisi waktu.

Selain itu, mengenai kemampuan Maiko yang bisa memanipulasi jiwa, karena sebelumnya pernah mengembalikan ingatan Melmina, diputuskan untuk mencobanya.

 Rencananya mereka akan mengumpulkan sukarelawan dari orang-orang yang telah bekerja di akademi sejak seratus sepuluh tahun lalu.

Hanya saja, karena ini melibatkan jiwa dan tidak boleh ada kesalahan sekecil apa pun, Instruktur dikecualikan dari target.

"………………"

………………

"………………"

Bagaimanapun, penyelidikan skala penuh baru akan dimulai beberapa saat lagi. Sampai saat itu tiba, adalah waktu bagi masing-masing untuk melakukan apa yang bisa dilakukan.

Instruktur sedang memeriksa daftar peneliti di gedung penelitian dari seratus tahun hingga seratus dua puluh tahun yang lalu, sedangkan Saint sedang memeriksa dokumen Negara Suci.

Maiko melakukan hal yang berbeda sendirian, yaitu belajar tentang dunia lain. Itu karena Maiko tidak terlalu tahu banyak tentang dunia lain.

"……Seperti dugaanku, tidak ada nama yang kelihatan seperti orang Jepang."

Di sini juga sepertinya tidak ada catatan yang tersisa.

"Nu, kalau di sini aku sudah paham garis besarnya."

Instruktur dan Saint menggelengkan kepala dengan agak kecewa, sementara Maiko menutup buku panduan untuk orang dunia lain yang dipanggil setelah merasa sudah menghafalnya──karena buku panduan itulah yang paling ringkas menjelaskan perbedaan antara dua dunia.

Setelah itu, Instruktur memandang mereka berdua melingkar, lalu bergumam, kalau begitu. Hal yang harus dilakukan selanjutnya adalah.

"Selanjutnya…… karena tidak punya banyak waktu, kita batasi cakupan penyelidikannya. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin kukonfirmasi. Ini tentang Raja Iblis Penyangkalan, Naga Langit."

Ya, benar sekali.

"……Nu?"

Saint langsung mengangguk setuju atas perkataan Instruktur, namun Maiko tampak heran.

Oleh karena itu, Instruktur menjelaskan alasannya kepada Maiko terlebih dahulu.

"Pertama, insiden kali ini memiliki kemungkinan yang sangat tinggi melibatkan Dewa Jahat. Dan selama Dewa Jahat terlibat, pasti ada tujuan buruk di baliknya."

Pertama-tama sebagai premis, hal ini adalah mutlak.

Sebagai mantan monster, Maiko sepertinya tidak memiliki keberatan dan mengangguk-angguk setuju pada perkataan Instruktur.

"Atas dasar itu, tanggal yang tertulis pada dokumen 'seseorang' kali ini adalah seratus sepuluh tahun yang lalu. Naga Langit muncul seratus lima tahun yang lalu. Jarak waktunya agak dekat, kan?"

"Nu."

"Tentu saja ini cuma karena rentang waktunya dekat, dan tidak ada keterkaitan lain. Saat itu selain Naga Langit juga terjadi banyak hal lain. ……Tapi berdasarkan pengalaman, kalau berhadapan dengan Dewa Jahat, lebih baik beraksi dengan mengasumsikan skenario terburuk agar lebih mudah merespons jika terjadi sesuatu."

"Nu, begitu rupanya."

Melihat Maiko yang paham, Instruktur meletakkan dokumen di meja sambil berkata kalau begitu mari kita selidiki Naga Langit terlebih dahulu.

"Maiko, apa kamu tahu tentang pertarungan melawan Naga Langit?"

"……Nu, tidak terlalu."

"Begitu ya. Kalau begitu, bagaimana kalau aku menjelaskannya pada Maiko sambil mengonfirmasinya bersama?"

Instruktur membentangkan peta dari seratus lima tahun yang lalu di depan Maiko. Informasi tentang negara-negara tetangga di sekitar Negara Dewa tertulis secara garis besar di sana.

Kemudian, Instruktur menunjuk ke sebuah tempat yang terpisah beberapa garis dari Negara Dewa saat itu.

Sebuah negara yang dulu benar-benar ada, dan kini seluruh wilayahnya telah tertelan oleh tanah tercemar.

"──Seratus lima tahun yang lalu, Naga Langit muncul di negara yang berjarak tiga negara dari sini. Negara tempat tinggal guruku dan guru Ceres──orang yang umumnya disebut sebagai Adept Orisinal."

 

──Kemudian, Konoe dan Dewa melewati pintu dari tangga spiral dan memasuki ruangan.

Seketika itu juga, ruang luas yang memanjang vertikal langsung tertangkap oleh mata Konoe. Lumayan luas. Mungkin ada sekitar dua puluh tatami. Kira-kira seluas itu.

Tata letak barang di dalam ruangan tampaknya berbeda antara sisi kanan dan kiri. Di sisi kanan, berbagai macam benda dipajang di dinding.

Foto yang terlihat tadi adalah salah satunya, memenuhi dinding sisi kanan dari bagian tengah hingga ke pintu masuk tanpa celah.

Lalu, dari tengah ke bagian dalam, yang tergantung bukanlah foto melainkan lukisan, dan yang ini dipajang dengan jarak yang normal. Ada celah yang rapi.

Selanjutnya saat melihat ke sisi kiri, di sini terdapat rak besar yang ditempatkan. Dinding dari pintu masuk hingga ke dalam dipenuhi oleh rak.

Di dalam rak ditaruh berbagai macam barang──sejenis kotak dan ornamen, dan karena di beberapa tempat terasa ada kekuatan sihir, Konoe tahu bahwa alat sihir juga bercampur di sana.

"Di domain ini, ada banyak ruangan yang mirip seperti ini. Pintu-pintu dipasang dengan jarak teratur di tangga spiral, totalnya mungkin ada beberapa ratus."

"……Beberapa ratus…… eh? Beberapa ratus?"

Mendengar perkataan Dewa, Konoe bertanya ulang karena mengira dia salah dengar.

Namun, Dewa kembali menegaskan bahwa jumlahnya memang beberapa ratus.

"'Ruang Kenangan' ini dibuat beberapa ribu tahun yang lalu saat aku baru saja diciptakan, dan aku menambah ruangan dengan tempo sekitar sepuluh tahun sekali."

Lihat, kalau hidup kan barang-barang bakal bertambah banyak, kan? Dewa tertawa.

Makanya tiap kali ruangan penuh, dia memperpanjang tangga dan membuat ruangan baru.

Tempat ini adalah ruang dimensi lain jadi tidak ada batasan luasnya, tambahnya.

"……"

……Ruangan seukuran dua puluh tatami, ada beberapa ratus.

Tidak, memang tangga spiral itu tampaknya berlanjut sangat dalam ke bawah, pikir Konoe.

Apakah itu bobot dari ribuan tahun? Karena skalanya terlalu besar, Konoe hanya bisa terpikir kesan bahwa itu sangat luar biasa. Seberapa banyak barang yang disimpan di dalam sana?

"Sebagai informasi, bagian atas tangga spiral adalah masa baru-baru ini, dan makin turun ke bawah akan makin mengarah ke masa lalu. ……Kalau begitu, ayo kita lihat dari lukisannya dulu."

"……Ah, baik."

Saat itu juga, Dewa mulai berjalan menuju lukisan di dinding. Konoe menghentikan jalan pikirannya dan menyusul di belakang──.

──

──

──

──Dengan demikian, eksplorasi Konoe dan Dewa pun dimulai.

Dewa pertama-tama menuju ke lukisan yang tergantung di dinding dan mengamatinya satu per satu.

Saat dilihat, di sana terdapat lukisan para Adept. Lukisan yang menggambarkan Adept dan Dewa yang berdiri berdampingan.

Ada juga wajah-wajah yang dikenali oleh Konoe, termasuk lukisan Melmina.

Jika ditanya lukisan apa itu, itu adalah lukisan yang digambar ketika calon Adept berhasil menembus ujian akhir dan kelahiran Adept baru telah diputuskan.

Konoe juga ingat pernah digambar dulu. Sehari sebelum jubah Adept diserahkan kepadanya.

Malahan, lukisan itu juga tergantung di dinding. Pria berwajah cemberut dan Dewa yang tersenyum berdiri berdampingan.

……Sejujurnya, apa aku tidak bisa membuat ekspresiku sedikit lebih lembut ya, pikir Konoe.

"Di dalam sini tidak ada, ya."

Saat Konoe merasa sedikit malu, Dewa menggelengkan kepala menandakan 'anak itu' tidak ada di sana.

Lalu berikutnya mereka berpindah ke arah rak. Jika dilihat lebih dekat, di sana juga ada lukisan yang disisipkan secara vertikal di rak. Dewa mengambilnya satu per satu dan mengonfirmasinya.

Lukisan di sini bukanlah Adept, melainkan orang-orang yang menduduki jabatan penting di akademi.

Ada beberapa wajah yang dikenal Konoe. Seperti sekretarisnya Instruktur.

Konoe mengambil lukisan-lukisan itu dari rak dan menunjukkannya kepada Dewa untuk membantu.

"………………"

………………

Waktu berlalu sejenak. Setelah selesai melihat puluhan lembar lukisan, Dewa kembali menggelengkan kepala bahwa di sini juga tidak ada. Wajah dan nama mereka semua masih diingatnya.

Setelah itu, mereka juga melihat-lihat sepintas alat sihir dan barang lain yang berjejer di rak.

Setelah semuanya selesai, Dewa menyimpulkan bahwa 'anak itu' sepertinya tidak ada di ruangan pertama──sepuluh tahun terakhir ini.

"Kalau begitu, ke ruangan berikutnya."

"……Baik."

Dengan begitu, mereka keluar dari ruangan dan menuruni tangga spiral.

Membuka pintu ruangan berikutnya, lalu memeriksa bagian dalamnya lagi.

Setelah selesai, mereka menuju ke ruangan selanjutnya. Ruangan kedua, ketiga──dua puluh tahun yang lalu, tiga puluh tahun yang lalu, mereka memeriksa ruangan-ruangan tersebut.

Di ruangan kedua ada lukisan Fonia, dan di ruangan ketiga ada lukisan serta dokumen dari saat pemanggilan dunia lain yang pertama.

Konoe merasa tertarik dengan hal itu, namun tetap dalam diam mendukung Dewa.

Mereka berdua memeriksa setiap ruangan dengan teliti.

Mereka terus menuruni tangga, merunut waktu ke belakang hingga empat puluh tahun, lima puluh tahun……

"……Ah, ini."

"……Dewa?"

……Hal itu terjadi setelah ruangan lima puluh tahun yang lalu selesai diperiksa.

Saat keluar dari ruangan dan hendak menuju ke tempat berikutnya, mendadak Dewa menghentikan langkahnya. Pandangannya tidak tertuju pada pintu ruangan, melainkan agak ke samping.

Yang ada di sana adalah…… pakaian pria? Pakaian yang terhias secara mencolok dan berkilauan dipajang di sana.

Pakaian dengan warna dan desain mencolok yang diberi berbagai ornamen, membuat Konoe berpikir bahwa itu mirip dengan pakaian yang dikenakan aktor panggung.

Namun, ada apa dengan pakaian ini……

"…………"

"…………?"

Dewa melihat pakaian itu, lalu melihat Konoe. Melihat pakaian itu lagi, lalu melihat Konoe lagi.

Entah mengapa Dewa mengambil pakaian itu dan membawanya ke hadapan Konoe.

Konoe melihat pakaian berkilauan yang dibawakan ke hadapannya, lalu melihat ke arah Dewa.

 Di sana, wajah Dewa bukan lagi raut serius saat bekerja, melainkan wajah yang tampak bersenang-senang.

"……Perawakannya mirip."

"……Eh?"

"Ini, mungkin cocok!"

"……Eh."

"Pasti sangat keren!"

"………………Tidak tidak tidak tidak tidak, pasti tidak mungkin."

Melihat Dewa yang menyodorkan pakaian ke tubuhnya, Konoe menggelengkan kepalanya berkali-kali.

Kepada Dewa yang menyuruhnya mencoba mencobainya setelah semua selesai, Konoe berusaha keras untuk menolaknya.

◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇

──Sementara itu di tempat yang berbeda, di gedung penelitian.

"Seratus lima tahun yang lalu, Naga Langit muncul di negara yang berjarak tiga negara dari sini. Negara tempat tinggal guruku dan guru Ceres──orang yang umumnya disebut sebagai Adept Orisinal."

Di sana, Instruktur sedang menjelaskan tentang Naga Langit kepada Maiko.

Naga Langit. Raja Iblis Penyangkalan. Raja iblis terkuat dan terburuk dalam sejarah yang menghancurkan tiga negara dalam sekejap mata.

Monster paling kejam yang lahir sebagai hasil dari Emperor Dragon, naga terkuat, yang mendapatkan 消滅/Annihilation, otoritas terburuk.

Menghancurkan seluruh kota di negara besar tempat Adept Orisinal berada dan satu negara lainnya. Bahkan negara ketiga, Archinorca, hampir seluruh kotanya musnah kecuali ibu kota.

Banyak orang lari berhamburan dan terbunuh oleh hembusan nafas napas yang dilepaskan dari belakang mereka.

Setelah tubuh raksasanya yang menutupi langit itu lewat, hanya tersisa lubang besar yang terkikis dalam.

Kota, manusia, bahkan jejak keberadaannya lenyap dari atas tanah.

Dan yang mengerikan adalah, jumlah hari hingga kerusakan sebesar itu terjadi hanya singkat, yaitu──.

"──Nu, lima belas hari, kan?"

"Nn? Yah, benar, pada akhirnya lima belas hari. ……Apa Maiko juga tahu soal ini?"

Maiko mengucapkannya seperti mengingat-ingat, dan Instruktur bertanya balik untuk mengonfirmasi.

Mengenai hal itu, Maiko menjawab bahwa dia mendengarnya dari lagu.

"Lagu?"

"Nu, Valkyrie Lentera Perak."

Dulu, saat bertemu Konoe di desa perintis tanah tercemar, Maiko mendengar anak-anak menyanyikannya.

Lalu, Maiko mencoba menyanyikannya sedikit.

──Dengan demikian, penyelamatan dunia telah terwujud! Keputusasaan telah dibersihkan, dan cahaya ditegakkan di dunia! Pahlawan itu, namanya yang agung adalah──Renatiarica! Valkyrie Lentera Perak, Renatiarica!

Itu adalah lagu kisah pahlawan tentang Lentera Perak──Instruktur yang mengalahkan Naga Langit. Kekalahan dan keputusasaan Adept Orisinal.

Namun meski begitu, nyala api harapan tidak padam, dan di akhir pertarungan selama lima belas hari, dia akhirnya berhasil mengalahkan Raja Iblis dan menyelamatkan dunia.

"……Ah, itu ya."

"Nu?"

Namun, begitu Maiko selesai menyanyi, Instruktur sedikit merengut.

Maiko memiringkan kepalanya ke arah Instruktur dengan gestur heran, mengapa beliau merengut padahal itu lagu yang memuji dirinya sendiri?

"Jujur saja, lagu itu tidak terlalu bagus."

"……?"

"Soalnya, untuk menonjolkan pencapaianku, informasinya diubah ke arah yang buruk atau dipotong."

Dengan wajah bersusah hati, Instruktur bergumam bahwa dirinya dipuji secara berlebihan di lagu itu.

Di sampingnya, Saint juga tersenyum pahit, Karena menyanyikan Kakak dengan keren aku tidak membencinya, tapi memang tidak terlalu bagus ya.

"Kalau dikatakan buruknya di mana secara spesifik, ada alur cerita yang bolak-balik, pencapaian Guru diabaikan, orang-orang penting dipotong──dan yang paling parah, lagu itu membuat kekuatan Naga Langit terdengar sepele."

"Nu?"

"Nah, kalau begitu di sini aku sampaikan lagi informasi yang benar."

Di atas peta yang dibentangkan, Instruktur menarik garis menggunakan pena. Itu adalah jalur pergerakan Naga Langit.

Jejak pergerakan berliku yang melintasi tiga negara, memusnahkan kota dan desa yang dihuni manusia dari ujung ke ujung.

Instruktur bergumam bahwa jika dibuat garis lurus mungkin melebihi seratus ribu kilometer, sambil menggambar garis dengan gerakan tangan tanpa ragu.

Kemudian, tuk, beliau mengetuk peta dengan ujung pena dan berkata.

"Waktu yang dibutuhkan Naga Langit untuk menempuh jarak ini dan menghancurkannya hingga tuntas cuma satu hari."

"……Nu?"

"Lalu…… aku bersama ratusan Adept bertarung melawan Naga Langit dan kalah sekali, pertarungan saat itu memakan waktu satu hari."

"Dengan ini jadi dua hari," kata Instruktur.

Menghitung dua hari dari lima belas hari yang ada.

"──Tiga belas hari sisanya, adalah waktu yang diulur oleh Guru seorang diri."

 

Kemunculan Naga Langit, kecepatannya, dan pencapaian sang guru──mengulur waktu selama tiga belas hari.

Instruktur mengingat masa itu sambil menghembuskan napas panjang.

"……Naga Langit itu, sungguh, sungguh sangat kuat."

Dengan nada suara penuh emosi, beliau menggigit bibirnya dan bergumam. Membayangkan wujud naga raksasa bertubuh panjang seperti ular di balik kelopak matanya.

Dia lebih kuat dari apa pun. Monster itu tak diragukan lagi adalah Raja Iblis terkuat.

"──Naga Langit selalu diselimuti oleh kekuatan pemusnahan."

Ya. Bahkan sekarang setelah seratus lima tahun berlalu dari pertarungan itu, Instruktur masih bisa mengingatnya dengan jelas.

Naga Langit selalu menyelimuti seluruh tubuhnya tanpa celah dengan kekuatan yang sanggup memusnahkan segala ciptaan hanya dengan menyentuhnya.

"Serangan kami sama sekali tidak mempan. Menyentuh sisik Naga Langit saja langsung musnah. Serangan fisik lenyap, dan serangan lainnya juga lenyap. Pedang, api, air, maupun cahaya. Racun, kutukan, hingga sihir unik tipe yang bekerja langsung pada musuh. ……Tidak, lebih tepatnya racun sempat mempan sedikit di awal. Tapi efeknya segera hilang."

Saat itu, umat manusia yang berhadapan dengan Naga Langit seratus lima tahun lalu, setelah menyadari pedang dan api tidak mempan, mencoba membunuh Naga Langit dengan segala cara. Mereka menggunakan seluruh sarana yang terpikirkan.

……Namun, mereka bahkan tidak bisa memberi luka yang berarti. Serangan-serangan itu sirna oleh kekuatan pemusnahan.

Serangan khusus yang sempat mempan sedikit pun segera tidak berefek lagi.

Otoritas pemusnahan milik Naga Langit juga memiliki kemampuan untuk beradaptasi terhadap serangan yang pernah diterimanya sekali.

"Penghentian waktuku juga tidak berguna. Seberapa pun aku menghentikan waktu, kekuatan pemusnahan yang menyelimutinya tidak bisa hilang. Begitu memukul, di saat yang sama tanganku lenyap. Bahkan dampak dari pukulan itu pun ikut sirna. ……Aku mencoba berbagai hal, tapi meneruskan sedikit saja dampak serangan adalah batas maksimalnya. Memukul dengan seluruh tenaga dan membuatnya sedikit terhuyung adalah hal terbaik yang bisa kulakukan. Itu hanyalah penguluran waktu yang sangat singkat."

"……Nu."

"Lagipula, sedikit waktu itu harus ditukar dengan satu tanganku, jadi tidak sepadan, kan?"

Instruktur menatap telapak tangannya sendiri sambil tersenyum pahit. Mengingat kembali rasa tidak berdaya di masa lalu.

"Dan tentu saja, kekuatan pemusnahan Naga Langit tidak hanya untuk bertahan, tapi juga diterapkan pada serangannya. Seberapa keras pun perisai yang ada, tebasan ruang yang memisahkan, hingga pertahanan konseptual yang melindungi dengan hukum alam, semuanya dengan mudah dikoyak oleh napas dan cakar Naga Langit. Hanya dengan usapan manja Naga Langit, lubang dalam tercipta di tanah, gunung lenyap, dan topografi berubah."

──Oleh karena itu, kata Instruktur.

Oleh karena itulah, hanya ada satu orang yang sanggup menahan Naga Langit seperti itu.

"Hanya Guru. Hanya Guru yang bisa menahan Naga Langit, meskipun tidak sanggup melukainya. Sihir unik yang menyatu dengan langit, bumi, dan laut untuk menjadi alam itu sendiri──Law of the Stars. Hanya serangan berbobot massa luar biasa yang dihasilkan dari kekuatan itulah yang sanggup menahan laju invasi Naga Langit."

──Serasa dihantam oleh satu gugusan pegunungan. Instruktur bergumam demikian.

Instruktur teringat tinju gurunya yang telah menyatu dengan bintang.

Wujud Naga Langit yang menghentikan invasinya dan memperketat pertahanannya akibat satu pukulan itu.

Kekuatan penyangkalan Naga Langit yang memusnahkan segala ciptaan, memiliki batas atas hanya terhadap serangan bermassa.

……Meski begitu, fakta bahwa jika dia fokus bertahan dia sanggup memusnahkan gugusan pegunungan yang dihantamkan dengan kecepatan tinggi, membuat batas maksimalnya sudah bisa diperkirakan betapa tingginya.

"Kami saat itu hanya bisa bergantung pada kekuatan Guru. Kami membutuhkan waktu untuk menyusun rencana guna menembus benteng pemusnahan itu. Demi hal tersebut, Guru menghadapi Naga Langit seorang diri dan melakukan pertarungan penguluran waktu."

Sekitar sepuluh hari sejak kemunculan Naga Langit. Adept Orisinal mengulang pertarungan dan pengunduran diri.

Sambil menggigit bibirnya hingga robek melihat negara yang dilindunginya selama ribuan tahun dihancurkan oleh Naga Langit dan rakyat tercintanya dibunuh, beliau tetap fokus pada pertarungan penguluran waktu.

Guna mengulur waktu bagi Instruktur dan para Adept yang berkumpul dari seluruh dunia untuk menyusun rencana mengalahkan Naga Langit.

Demi melindungi dunia, meski harus membiarkan negaranya hancur.

……Tapi. Meski begitu.

"Ten hari kemudian, aku menyergap Naga Langit bersama puluhan rencana yang telah disusun dan ratusan Adept. Itu adalah pertarungan yang mengerahkan seluruh kekuatan umat manusia."

"……Nu."

"Tapi, hasilnya adalah…… seperti yang kukatakan tadi. Kami tidak bisa menang. Kami tidak bisa menembus dinding pemusnahan. Dua hal, gaya elektromagnetik dan resonansi sempat mempan, tapi hanya sanggup memberi luka kecil, dan luka itu pun sembuh total dalam hitungan detik. Dan serangan yang sama tidak mempan untuk kedua kalinya pada Naga Langit."

Umat manusia kalah dalam pertarungan penentuan besar. Meskipun telah memakan banyak korban jiwa, mereka tidak membuahkan hasil apa pun. Alhasil, Naga Langit menepis halangan sang Orisinal dan memusnahkan negara kedua dalam sehari──lalu tiba di negara ketiga, Archinorca.

"Saat Naga Langit memasuki Archinorca, kami sudah tidak memiliki jalan mundur. Bagaimanapun, di Archinorca terdapat Raja Iblis Keabadian. Jika Raja Iblis Keabadian sampai terlepas dari segelnya akibat Naga Langit, kami sudah tidak punya cara lagi. Menghadapi Naga Langit dan Raja Iblis Keabadian secara bersamaan adalah hal yang tidak mungkin bisa dilakukan."

……Meski demikian, tentu saja karena Seraphim Barrier berada di ruang dimensi lain dan hawa keberadaannya telah terhapus oleh kekuatan pemutus, ada kemungkinan Naga Langit pun tidak bisa menemukan Raja Iblis Keabadian.

Ada kemungkinan itu…… namun, tidak ada seorang pun saat itu yang percaya Naga Langit akan melewatkan Seraphim Barrier begitu saja secara kebetulan. Karena dia memiliki kekuatan sebesar itu.

──Sebab itulah, ini adalah pertarungan hidup dan mati yang mempertaruhkan kelangsungan hidup umat manusia.

Sang Orisinal telah kelelahan dari pertarungan hingga titik itu, dan luka Instruktur dari pertarungan penentuan belum sembuh total, sangat jauh dari kondisi prima.

Banyak Adept lainnya juga menderita luka-luka. Namun, jika tidak bertarung di sana, umat manusia akan musnah.

Maka dari itu, tiga hari sejak invasi Naga Langit ke Archinorca, hari kelima belas yang menjadi hari takdir.

Umat manusia bertarung mengerahkan seluruh tenaga. Sang Orisinal dan Instruktur mengulur waktu, sementara para Adept lainnya terus mencoba dan berjuang sekuat tenaga.

Meskipun tidak ada satu pun yang sanggup menembus pemusnahan, mereka terus mencoba. Setiap kali satu percobaan dilakukan, seorang Adept tewas.

Pelindung umat manusia tewas dengan begitu mudahnya. Meski begitu, para Adept tetap berdiri di atas mayat rekan-rekan mereka dan terus bertarung.

Segala cara yang bisa digunakan telah dikerahkan. Demi memalsukan tempat penyegelan Raja Iblis Keabadian, para ksatria Dragonkin dijadikan umpan.

Para ksatria Dragonkin yang mengacungkan tangan meski tahu akan mati, diminta menjaga tempat yang tidak berguna, dan di akhir banyaknya pengorbanan, jalur pergerakannya sedikit demi sedikit dialihkan.

"……Tapi, meski begitu, tetap tidak berguna. Kami umat manusia, tidak bisa menang melawan Naga Langit."

Lama-kelamaan, garis depan pertarungan umat manusia terdesak, hingga akhirnya terpojok sampai ke posisi di mana ibu kota Archinorca terlihat. Mereka tidak bisa mundur lebih jauh lagi. Karena itulah, saat itu, sang Orisinal──.

──Tica. Murid kebanggaanku. Sisanya kuserahkan padamu. Aku titip Dewa dan umat manusia, ya.

──Benar. Beliau tersenyum. Sang Orisinal memanggil Instruktur dengan nama masa kecilnya, Tica, sambil tersenyum. Instruktur pasti tidak akan melupakannya hingga saat kematiannya tiba.

Senyuman terakhir sang guru yang telah bertarung bersama selama ratusan tahun.

Wujud beliau saat tersenyum dan mulai membakar dirinya sendiri.

Instruktur tidak sanggup menghentikannya.

Instruktur yang menderita luka dalam dari pertarungan panjang, tidak akan mampu menghentikannya.

……Bahkan tidak diizinkan untuk menghentikannya.

Umat manusia telah terdesak ke situasi di mana mereka bahkan tidak bisa mengulur waktu tanpa mengorbankan satu-satunya kekuatan tempur yang sanggup menahan Naga Langit dari depan.

"Guru menghancurkan jiwanya. Beliau menghancurkan jiwanya, menjadikan seluruhnya sebagai bahan bakar, dan menciptakan Penjara Agung Bintang untuk mengurung Naga Langit."

"…………Nu."

Adept Orisinal mengendalikan pegunungan di area tersebut dan menciptakan sangkar yang membungkus Naga Langit.

Lalu merengkuh jauh ke dalam tanah, lebih dalam dari wilayah Dewa Jahat. Demi menarik keluar──lahar yang ada di sana.

──Dengan lahar yang terus menyembur dari bawah tanah, beliau mengurung Naga Langit.

"Ini pasti bisa bertahan beberapa hari, jadi susunlah rencana selama waktu itu, kata Guru sebelum akhirnya gugur. Kita mendapatkan waktu beberapa hari dengan menukarnya dengan nyawa Guru."

"…………"

……Instruktur menarik napas sejenak di sana.

Sambil mengingat kembali perasaannya kala itu.

Penjara raksasa yang diciptakan sang guru dan Naga Langit yang berhasil ditahan terbayang di balik kelopak matanya.

Kesedihan karena kehilangan guru dan──penyesalan. Di saat yang sama teringat akan rasa lega karena berhasil mendapatkan sedikit waktu.

Dan, setelah teringat, beliau menatap Maiko yang menundukkan mata dengan sedih di hadapannya, lalu berkata.

"──Ya, seharusnya kita sudah mendapatkan waktu."

"……Nu, nu?"

Benar. Seharusnya begitu. Seharusnya sudah berhasil ditahan. ……Tapi kenyataannya tidak menjadi seperti itu.

Instruktur tersenyum pahit melihat Maiko yang panik di hadapannya.

Bukankah sudah dikatakan di awal?

Pertarungan melawan Naga Langit berlangsung selama lima belas hari, dan hari itu adalah hari kelima belas.

"……Naga Langit itu. Dia menyembunyikan kekuatannya."

"……Nu."

"Yah tepatnya, aku merasa itu bukan kekuatan milik Naga Langit sendiri sih──tapi dia menyembunyikan satu kekuatan yang bisa digunakannya."

Aku mengingatnya. Instruktur mengingat keputusasaan pada momen tersebut.

Benar. Hal itu adalah──.

"──Teleportasi."

"──"

"Naga Langit melakukan teleportasi. Dia berpindah tempat meloloskan diri dari lahar, lalu muncul di atas penjara yang diciptakan oleh Guru."

Rasanya seperti sedang mengalami mimpi buruk. Instruktur bergumam demikian. Semua orang merasa putus asa melihat sosok naga yang terbang seolah menutupi langit. Bahkan Instruktur pun hampir bertekut lutut.

……Meski begitu, Instruktur yang mengepalkan tinju dan berusaha untuk bertarung──namun, Naga Langit malah.

"Di sini, Naga Langit melakukan tindakan yang berbeda dari dugaan. Dan hal itulah yang menjadi titik balik takdir."

Benar, Naga Langit yang muncul di langit saat itu──secara mengejutkan, mencoba untuk melakukan teleportasi sekali lagi.

"Saat itu aku terkejut. Mengabaikan kami yang ada di hadapannya, Naga Langit mendadak mulai diselimuti oleh kegelapan sihir ruang."

"…………Nu?"

"Terlihat jelas kalau dia mencoba pergi ke suatu tempat dengan mengabaikan Raja Iblis Keabadian dan kami. Bahkan tanpa memberikan serangan pamungkas. Alasannya mungkin…… karena hilang kesabaran setelah mencari segel Raja Iblis Keabadian sekian lama dan tidak menemukannya, atau menganggap orang lain sudah tidak penting lagi setelah berhasil membunuh Guru."

Seolah-olah sejak awal tujuannya memang hanya satu-satunya musuh yang sanggup menahannya.

Naga Langit berenang di langit dengan santai sambil menggunakan sihir teleportasi──.

"──Saat kami sedang kebingungan, sihir teleportasinya selesai dan Naga Langit pun lenyap."

Dan, ke mana Naga Langit yang lenyap itu muncul, Instruktur langsung mengetahuinya saat itu juga.

Jika ditanya mengapa, itu karena ada kesadaran yang tersampaikan. Dari siapa lagi kalau bukan dari Dewa.

"Tempat Naga Langit muncul adalah di sini."

"……Nu?"

"Di sini. Di Kota Dewa. Naga Langit muncul di langit tepat di atas tempat kita berada sekarang. Demi membunuh Dewa yang ada di negara ini secara mendadak."

Itulah seluruh kejadian dari pertarungan Archinorca seratus lima tahun yang lalu.

 

──Dan dengan begitu, tirai penipuan pun mulai terangkat. Perlahan-lahan, makin meninggi.

Dewa Kejahatan terus menyuntikkan kekuatan ke dalam wadah tersebut.

Sembari menarik tirai lebih tinggi, ia menuangkan seluruh kekuatan yang telah dikumpulkan. Termasuk seluruh kekuatan yang tersimpan selama ini.

Di dasar bumi, Dewa Kejahatan bergerak menggeliat. Terus menyuntikkan kekuatan. Meski harus memaksa, bahkan jika harus memutarbalikkan hukum alam.

Tidak, jika hukum alam tidak diputarbalikkan, "Benda Itu" tak akan pernah bisa bergerak.

Dewa Kejahatan mengumpulkan kekuatan dari segala penjuru. Jika masih kurang, ia tak segan membantai iblis bawahannya.

Ia memusnahkan bencana di sekitarnya. Memecahkan sebagian inti miasma yang telah lama ditimbunnya.

Ia bahkan membunuh bencana berperingkat rendah. Membunuh, dan membantai mereka satu per satu, hanya demi menyuntikkan kekuatan yang terkumpul ke dalam wadah tersebut.

Lalu, setelah pembantaian yang tak terhitung jumlahnya.

Dewa Kejahatan akhirnya naik ke atas "Benda Itu"──.

──Dan menancapkan bilah senjata ke dadanya sendiri.

Sebuah lubang terbuka di tubuh Dewa Kejahatan yang terbuat dari kegelapan. Sesuatu yang pekat meluap keluar dan menetes ke atas "Benda Itu". Menetes dan mengalir deras tanpa henti.

"Sesuatu" itu adalah kekuatan Dewa Kejahatan, setara dengan tiga puluh persen dari total kekuatan puncaknya.

Karena ia telah menggunakan sepuluh persen saat membuat gumpalan iblis, berarti total kekuatan yang digunakan sudah mencapai empat puluh persen.

[wkuyvmyeiavumero/ivuye]

Tentu saja, itu bukanlah beban yang ringan bagi sang Dewa Kejahatan.

Mengingat jika kekuatan Dewa Kejahatan turun di bawah lima puluh persen dapat menyebabkan gangguan pada sistem sirkulasi jiwa para iblis, bisa dibayangkan betapa besarnya dampak tersebut.

Penggunaan kekuatan berlebihan yang seharusnya tak boleh terjadi.

Untuk mengembalikan kekuatan sebesar ini, trik-trik kecil sama sekali tidak akan cukup.

Sebuah kerugian kekuatan yang tak akan pernah bisa dipulihkan, kecuali dengan menghancurkan dunia, membunuh para dewa, dan memangsanya.

Alasan Dewa Kejahatan menggunakan kekuatan sebesar itu pada saat seperti ini, adalah──.

[krtyvmrim!!!!

◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇

──Dan pada saat yang persis bersamaan.

Konoe dan Dewi masih terus mencari "Anak Itu" di dalam Ruang Kenangan.

Setelah memeriksa kamar kelima dan bersusah payah melarikan diri dari Dewi yang memaksanya mencoba pakaian-pakaian mencolok, mereka melanjutkan pekerjaan.

Mereka memeriksa kamar keenam, ketujuh, kedelapan, dan kesembilan──.

...Tak ada, ya.

"..." Ya."

──Mereka menyelesaikan kamar kesepuluh, ruangan dari seratus tahun yang lalu. Namun, sosok "Anak Itu" yang dimaksud Dewi tetap tidak ditemukan di ruangan-ruangan tersebut.

Tampaknya lukisan yang mereka lihat sejauh ini hanya memuat orang-orang yang ada dalam ingatan sang Dewi.

...Artinya, apakah "Anak Itu" adalah manusia dari seratus tahun lalu, atau sejak awal memang tidak pernah ada lukisan yang tersisa tentangnya?

Untuk saat ini mereka tidak tahu mana yang benar. Namun karena masih banyak ruangan tersisa, mereka menuruni tangga dan berpindah ke kamar kesebelas. Konoe mengulurkan tangan ke pintu berikutnya.

──Hmm? Itu kan...

──Ah, Konoe. Waktunya hampir habis, ayo kembali dulu.

Tepat saat pintu baru dibuka sedikit, Dewi memanggil Konoe.

Konoe miringkan kepalanya sedikit karena bingung. Waktu?

Ya, lagipula kamar kesepuluh sudah selesai dan ini momen yang pas... Selain itu, aturan di area ini agak berbeda dari luar, jadi komunikasi via alat sihir tidak bisa masuk. Walau jalurnya terhubung. Makanya, kalau terjadi sesuatu di luar, kita tidak akan tahu dari dalam sini.

"...Begitu, ya?"

Dewi berkata bahwa ia telah berjanji pada Instruktur untuk keluar secara berkala. Konoe melepaskan tangannya dari pintu, berpikir bahwa mereka memang harus keluar sekali agar tidak berbahaya.

Konoe segera berbalik arah dan naik ke tangga melingkar bersama Dewi menuju pintu keluar.

Mereka menaiki tangga melingkar yang tadi mereka turuni. Naik berputar-putar...

"...?"

Di tengah jalan, Konoe mendadak teringat pada kamar kesebelas yang sempat ia intip sedikit tadi. Benda yang terlihat seperti alat sihir di celah pintu.

Ada tabung logam yang tergantung pada sebuah batang, dan di bagian bawah tabung itu terdapat banyak lubang kecil.

...Ia merasa baru-baru ini pernah melihat barang yang mirip di suatu tempat.

Sembari bertanya-tanya dalam hati tentang benda apakah itu──Konoe berjalan keluar ruangan bersama Dewi dan kembali ke kamar pribadi Dewi yang dipenuhi rak buku.

...Lho?

Tiba-tiba, alat sihir yang diletakkan di samping pintu masuk tampak bersinar──.

Ada pesan dari Instruktur. Katanya sekarang beliau sedang mencari sesuatu di gedung penelitian.

◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇

──Sementara itu, di sebuah ruangan di gedung penelitian. Pembicaraan Instruktur akan segera mencapai tahap akhir.

"Naga Langit muncul di angkasa tepat di atas tempat kita berada sekarang. Untuk membunuh Dewi yang ada di negeri ini secara mendadak."

"............Nu, nu!?"

Naga Langit yang mendadak muncul di negeri ini. Kabar yang diterima Instruktur dari tempat yang jauh.

Kondisi yang benar-benar di ujung tanduk. Maiko yang mendengarkan cerita itu tampak berdebar tegang hingga jamur di kepalanya gemetaran.

Ia menatap Instruktur dengan raut wajah yang seolah bertanya, lalu apa yang terjadi setelah itu?

"...Setelah itu, aku segera bertolak menuju Kota Suci. Sebenarnya saat itu kami sedang beruntung, Gerbang Pemindah Archinorca menuju Kota Suci sudah disiapkan. Untuk keperluan mundur."

Kala itu, selain bertarung melawan Naga Langit, umat manusia juga menyiapkan rencana mundur.

Karena jika situasi memburuk hingga taraf terpaksa, mereka harus merelakan Archinorca dan segel Raja Iblis Abadi untuk melarikan diri.

Maka dari itu, setelah Naga Langit lenyap, Instruktur bergerak sekuat tenaga menuju Gerbang Pemindah sambil mendengar teriakan Dewi yang bergema dari kejauhan, lalu melakukan perpindahan tempat.

──Kemudian, di tempat tujuannya. Instruktur yang menerobos keluar bangunan dengan mendobraknya──melihatnya.

"...Maiko. Saat ini kamu pasti penasaran bagaimana cara kami membunuh Naga Langit, kan?"

"Nu? Nu."

"Sebenarnya, yang membunuh Naga Langit memang aku... Tapi yang benar-benar mewujudkannya bukanlah seorang pahlawan atau siapa pun, melainkan hanya seorang manusia biasa."

"............Nu?"

──Benar. Yang membunuh Raja Iblis terkuat adalah perasaaan dari satu orang manusia saja.

Sama seperti Telnerica yang menganugerahkan Otoritas Emas kepada Konoe.

Yang memusnahkan Raja Iblis yang tak bisa dibunuh oleh siapa pun, pastilah perasaan jujur yang bisa dimiliki siapa saja.

"Sebenarnya, yang menyelamatkan dunia adalah Anak Itu."

Instruktur bergumam. "Anak Itu". Manusia yang dipanggil seperti itu oleh sang Dewi. ...Yah, walau Dewi memang cenderung memanggil siapa saja dengan sebutan "Anak Itu", pikirnya.

Lalu, atas perkataan Instruktur, Saint yang mendengarkan di sampingnya sejak tadi ikut mengangguk.

Benar, kita bisa membunuh Naga Langit berkat Anak Itu.

Jika Anak Itu tidak ada, kemungkinan besar umat manusia sudah punah, ucap sang Saint. Saat itu situasi benar-benar buntu dan tak ada lagi kartu yang bisa dimainkan.

Instruktur dan Saint saling memandang dan mengangguk satu sama lain.

Benar, benar, ini semua berkat "Anak Itu", pikir mereka. Untuk sejenak, mereka terus mengangguk setuju.

Dan Instruktur pun berpikir──dengan ini kisah pertempuran Naga Langit dari seratus lima tahun lalu telah usai.

"............Nu?"

Tiba-tiba, Maiko yang duduk di depan Instruktur memiringkan kepalanya.

Ia memiringkan kepala, menatap Instruktur, lalu menatap Saint.

Ia menatap Instruktur lagi, lalu kembali menatap Saint.

Setelah mengulangnya beberapa kali... ia menunjukkan raut wajah yang tampak bingung dan kesepian. Payung jamurnya pun agak terkulai.

Instruktur merasa heran mengapa Maiko menunjukkan raut wajah seperti itu. Kemudian, Maiko membuka mulutnya dengan agak ragu-ragu──.

"...Nu, aku tidak mengerti. Jangan cuma mengerti berdua saja, beri tahu aku sampai akhir. Cuma dibilang 'berkat Anak Itu', aku tidak paham. Anak Itu orang yang seperti apa? Bagaimana cara dia mengalahkan Naga Langit?"

──Ia mengatakannya.

Instruktur tertegun menatap Maiko, merasa bingung apakah ia belum menjelaskannya──ah, tapi kalau dipikir-pikir memang benar. Ia terlalu keasyikan saling memahami dengan Saint Ceres hingga mengabaikan Maiko.

Wajar saja jika Maiko yang diabaikan menunjukkan wajah kesepian. Instruktur merasa bersalah karena telah hanyut dalam nostalgia tanpa menjelaskan semuanya sampai tuntas.

Saat ia hendak segera menjelaskannya...

"............? ............Eh??"

............? ............Lho??

──Tanpa alasan yang jelas, kata-katanya tidak mau keluar, meninggalkannya dalam kebingungan.

Di seberang cermin, Saint juga memiringkan kepala dengan raut wajah bingung.

Setelah hening selama beberapa detik...

"............Ha?"

............E-Eh?

──Seketika, wajah Instruktur pucat pasi. Ia terperanjat.

Mengapa──karena ia tidak bisa mengingatnya. Baik nama maupun wajah dari "Anak Itu".

◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇

──Tirai penipuan, kini tinggal sedikit lagi.

◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇

"...Ke, kenapa... kenapa aku tidak bisa mengingatnya!?"

Instruktur berdiri hingga menimbulkan suara gaduh. Bagaimana bisa, ini tidak masuk akal. Melupakan penolong dunia!?

Instruktur terperanjat hebat──dan langsung menyadarinya.

...Apakah ini? Apakah ini hal yang disembunyikan oleh Dewa Kejahatan?

Pikiran Instruktur langsung beralih ke mode tempur. Pikirannya menjadi dingin. Ia mencoba memahami situasi secara tenang dan menangkap gambaran utuh dari kejanggalan ini.

Benar. Sejak awal tujuan dari kasus kali ini adalah mencari "Seseorang" yang telah dilupakan, sang pengelana yang berada di gedung penelitian seratus sepuluh tahun lalu.

Tujuannya adalah membongkar konspirasi Dewa Kejahatan.

Karena itulah ia mengenang kembali tentang Naga Langit yang terjadi pada kurun waktu yang berdekatan.

"Seseorang" yang misterius. "Anak Itu" yang telah dilupakan. Keduanya sama-sama kehilangan ingatan.

...Dengan kata lain, apakah pengelana itu adalah "Anak Itu" yang membantu mengalahkan Naga Langit?

"............"

Ia tidak bisa mengingatnya. Nama, wajah, bahkan jenis kelamin "Anak Itu" sama sekali tidak diketahuinya. Melihat reaksi di cermin, Saint Ceres pun mengalami hal yang sama.

Apakah ini kekuatan Dewa Kejahatan? Dzat Dewa yang jahat.

Otoritas miliknya. Kekuatan penipuan.

Apakah dengan itu, keberadaan "Anak Itu" telah dihapus dari ingatan mereka?

──Sejak kapan tepatnya?

Ingatan tentang penolong yang menyelamatkan dunia telah dihapus dari pikirannya, dan ia bahkan dibuat tidak bisa merasakan kejanggalan tersebut.

Di masa lalu, ia pasti sudah berkali-kali membicarakan pertempuran Naga Langit, namun tak sekali pun ia menyadarinya.

Ini juga pertama kalinya ada orang yang diajari bertanya balik seperti ini.

Ia penasaran bagaimana akhir dari pertempuran Naga Langit di dalam kepala para murid yang pernah diajarinya──tetapi saat ini, ada hal yang jauh lebih penting dari itu.

...Benar. Saat itu, seratus lima tahun yang lalu, apa yang sebenarnya telah terjadi?

Yang diketahui Instruktur hanyalah bahwa "Anak Itu" adalah manusia biasa, dan tanpa "Anak Itu", Naga Langit tidak akan bisa dikalahkan──.

"............"

──Sembari merasa cemas, Instruktur berpikir bagaimana cara mengembalikan ingatan tersebut. Ia memikirkan apa yang ingin dilakukan Dewa Kejahatan dengan merebut ingatan tentang "Anak Itu".

Ia mengingat kembali seribu tahun terakhir ini. Mengingat Dewa Kejahatan di masa lalu, dan berbagai pemikiran buruk bermunculan satu demi satu di kepalanya.

"────"

Namun di tengah-tengah itu, timbul sedikit keraguan di pikiran Instruktur.

Justru karena ia telah bertarung lama melawan Dewa Kejahatan, melihat kekuatannya, iblis ciptaannya, dan konspirasinya, ia jadi berpikir.

──Namun, apakah pencabutan ingatan berskala dunia yang begitu sempurna ini benar-benar hanya disebabkan oleh kekuatan penipuan milik Dewa Kejahatan semata?

◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇

──Dan. Di dasar bumi, Dewa Kejahatan menggeliat. Menggeliat, dan memindahkan rencananya ke tahap akhir.

Rencananya berjalan lancar. Bentar lagi "Benda Itu" akan mulai bergerak.

Kartu truf untuk memusnahkan umat manusia yang pernah hilang akibat variabel tak terduga yang tak masuk akal. Demi mendapatkannya kembali, berbagai langkah telah ia jalankan hingga saat ini.

Menyusun siasat, mengambil tindakan, dan memutarbalikkan hukum alam. Selain itu, dua puluh lima tahun yang lalu, ia memasang tirai penipuan di dunia agar rencananya tidak terbongkar.

Dan di atas semua itu──tentu saja, ia telah mengambil tindakan agar "Benda Itu" tidak bisa dibunuh lagi dengan cara yang sama untuk kedua kalinya.

Demi memastikan segalanya aman, ia berniat membunuh perak terlebih dahulu, tetapi ini adalah kartu AS sang Dewa Kejahatan.

Bahkan jika si perak ada, umat manusia tetap tidak bisa berbuat apa-apa. Hal itu sudah terbukti.

Oleh karena itu, dengan ini umat manusia telah berakhir. Akhirnya, cita-cita Dewa Kejahatan akan terwujud.

...Namun.

[lyvmyvrivmai!]

Namun, meski demikian, teriakan Dewa Kejahatan tetap dipenuhi oleh kemarahan.

Dengan mata yang memancarkan kebencian dan murka, Dewa Kejahatan menatap tajam ke arah atas kepalanya.

──Benar. Seharusnya, "Benda Itu" tidak bergerak saat ini.

Sebuah langkah pertaruhan hidup dan mati. Seharusnya ia mempersiapkannya dengan lebih matang. Inti miasma maupun bencana seharusnya tidak dijadikan tumbal.

Kekuatan dirinya sendiri pun seharusnya bisa digunakan lebih sedikit.

Jika ia menghabiskan waktu seratus tahun lagi, "Benda Itu" bisa disesuaikan berulang kali agar menjadi lebih kuat dan jauh lebih dominan.

Dengan begitu, kali ini siapa pun tak akan sanggup berkutik di hadapannya.

Jika melakukan itu, ia bisa meremukkan harapan umat manusia hingga tuntas.

Padahal ia sudah meluangkan waktu untuk bersiap agar bisa membantai mereka semua sampai habis. Namun, meski begitu──.

[dfsulnyggur!!

Dewa Kejahatan berteriak murka. Sebuah gejolak emosi yang jika ia seorang manusia, mungkin akan menggeretakkan giginya hingga hancur.

Dengan perasaan itu, Dewa Kejahatan menatap bahu kanannya sendiri.

Di sanalah alasan mengapa Dewa Kejahatan harus bergerak terburu-buru.

Ia telah diakali oleh Dewa Putih dan manusia itu.

Itu adalah kejadian terkait perak beberapa hari yang lalu. Saat itu, Dewa Kejahatan melakukan kesalahan yang sangat besar.

Tercipta alasan yang membuatnya harus bertindak tanpa memedulikan penampilan. Ia terpaksa bergerak meski persiapannya belum matang.

[ury::::nv!!!!

Di bahu Dewa Kejahatan yang berteriak, terdapat bekas yang tampak seperti ditancapi pisau.

Dewa Kejahatan tidak bisa menghindari pisau yang dilemparkan saat kontak singkat dengan manusia yang muncul di dasar bumi. Ia terkena pisau yang tersimpan murka dahsyat dari Dewa Putih.

Cap dari Dewa Putih yang tak akan pernah bisa menyatu dengan Dewa Kejahatan.

Meski berada di dasar bumi yang dalam, cap itu terus memancarkan cahaya yang menyilaukan.

Dan Dewa Putih, meski tidak bisa menemukan lokasi Dewa Kejahatan, dapat dengan mudah menemukan lokasi cap ini.

Saat ini ia bisa menyembunyikannya berkat kekuatan penipuan, sehingga Dewa Putih sendiri belum menyadari luka ini... tapi jika Dewa Putih menyadarinya, luka itu tak akan bisa disembunyikan lagi. Keberadaan Dewa Kejahatan akan terbongkar sepenuhnya.

[keuryvr!!!!

Dewa Kejahatan menatap langit dengan penuh kebencian.

Manusia itu, seharusnya diselesaikan dan dibunuh setelah kejadian Raja Iblis Abadi. Sama sekali tak disangka akan jadi seperti ini.

...Namun, karena situasi sudah menjadi seperti ini, tak ada lagi waktu untuk memedulikan individu. Seluruh Dewa Putih harus dimusnahkan. Jika tidak, Dewa Kejahatan akan...

[uhguhsgauihrlugh]

──Oleh karena itu, Dewa Kejahatan bergerak sekarang.

Ia menarik kembali penipuan yang terpasang di dunia, membunuh bawahannya, dan mengikis dirinya sendiri untuk disuntikkan ke dalam "Benda Itu".

Di dasar bumi, ke arah yang ditatap oleh Dewa Kejahatan, terdapat sebuah bayangan. Bayangan yang sangat raksasa tak bertepi──.

◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇

──Dan dengan demikian, tirai pun terangkat. Terangkat sepenuhnya.

Tirai penipuan telah disingkap, kebenaran yang tersembunyi mulai menampakkan wujudnya, dan dunia mulai bergerak.

Hari yang tidak istimewa. Hari biasa yang tanpa kesan. Waktu menjelang siang yang membuat kewaspadaan sedikit mengendur.

Saat seseorang beristirahat di sela-sela pekerjaannya, saat seseorang mulai memasak untuk keluarga yang akan pulang, dan saat anak-anak mulai berlari menuju rumah.

──Pertempuran sangat panjang yang telah berlangsung selama ribuan tahun.

Babak terakhirnya dimulai pada momen biasa seperti itu.

◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇

"────"

Konoe, yang kembali ke ruang kerja dari kamar pribadi Dewi, melihatnya. Ia melihat ke luar jendela.

Bersama Dewi yang berdiri di sampingnya, ia melihat Kota Suci yang mendadak gelap seolah-olah langit telah ditutupi oleh sebuah penutup.

◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇

"────!"

Instruktur melihatnya. Bersama dengan Maiko.

Di luar jendela, ia menengadah menatap langit.

◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇

■■■■■■■■■■■■■■!!!!!!

──Sebuah teriakan menggema di seluruh Kota Suci.

Di langit Kota Suci, seekor naga hitam kelam yang sangat raksasa hingga seolah menutupi langit melayang di udara.

Dan di rahangnya, kekuatan pemusnahan berupa Breath terkumpul, siap untuk ditembakkan kapan saja──.

 

■■■■■■■■■■!!!!!!

──Langit tersembunyi dalam kegelapan, naga itu menatap tajam ke bumi, dan teriakannya meremukkan ruang.

Kekuatan dahsyat mulai terpusat di balik taring yang tak terhitung jumlahnya bersamaan dengan perpindahan tempat, meraung-raung hendak memusnahkan manusia yang merayap di daratan.

Itu adalah raungan kebencian yang berniat menghancurkan dunia.

Konoe melihatnya. Ia melihat naga raksasa yang menutupi langit.

Tubuh hitam kelam yang membentang panjang. Tubuh yang mirip naga dari belahan bumi timur meliuk-liuk menutupi langit.

Keberadaan maut dan kekuatan yang luar biasa dahsyat jatuh menimpa mereka──.

(──Aktivasi)

──Oleh karena itu, sang Adept mengulurkan tangan ke senjatanya.

Ia sudah bergerak sejak detik pertama melihat naga itu. Pelatuknya telah ditarik.

Di antara batas hidup dan mati, pikirannya terus dipercepat tanpa batas.

Zirah emas dan putih membungkus tubuh Konoe.

Pada saat yang sama, petir tercipta di lubuk hatinya yang terdalam.

Petir mulai mengikis dan menggantikan tubuhnya.

Wujud Petir──keberadaan Konoe berubah menjadi petir.

Ia segera meningkatkan kecepatan dirinya hingga batas maksimal.

Konoe bergerak. Ia mengulurkan tangan pada Dewi yang masih menengadah menatap langit di sampingnya tanpa sempat bereaksi.

Demi menjalankan tugas seorang Adept yang lebih diprioritaskan dari apa pun.

Melindungi Dewi. Apa pun yang terjadi, bahkan jika harus kehilangan nyawanya sendiri, hanya Dewi yang akan ia lindungi sampai akhir.

■■■■!!!!

──Namun. Meski begitu. Meski begitu, itu tetap terlambat.

Walau Konoe bergerak dengan kecepatan tertinggi.

Konoe sudah terlambat satu langkah sejak awal. Pada saat itu, Breath milik naga sudah...

"──!"

──Namun, pada detik yang sangat krusial itu, ada kilatan cahaya perak.

Setelah sensasi seperti bingkai gambar yang melambat, cahaya perak melintasi langit seolah mengejar udara yang terbelah.

Ia melihatnya. Rahang naga itu terhantam ke atas. Pada saat yang sama Breath dilepaskan, dan aliran hitam kelam menyapu angkasa di atas Kota Suci.

Suara seperti sesuatu yang retak bergema, dan langit mulai memperlihatkan celah robekan.

──■■■■

Meski rahangnya dihantam, naga itu tidak gentar dan tetap menatap tajam Instruktur dengan matanya.

Kekuatan hitam berkumpul di cakar kanan naga. Serta merta ia mengayunkan cakarnya ke arah Instruktur di depannya──bukan, itu salah.

Naga Langit tidak mengayunkan cakar ke arah Instruktur, melainkan ke arah gedung akademi.

──Sekali lagi, cahaya perak melintas.

Cakar kanan naga berhasil ditepis. Tebasan cakar hitam yang dilepaskan dari cakar naga merobek ruang hampa.

Hampir bersamaan, cakar kirinya juga hendak diayunkan, tetapi tebasan perak berhasil menepisnya kembali. ...Namun.

(──Itu kan)

Sambil merangkul Dewi di kedua lengannya, Konoe mengaktifkan Gaun Dewi──pakaian Dewi yang menyimpan Otoritas perlindungan──dari luar, lalu berlari sambil memperhatikan sosok Instruktur.

Sosok yang menepis tiga kali serangan naga itu telah kehilangan kedua lengan dan kaki kanannya.

Itu adalah bagian tubuh yang menyentuh sang naga. Kejadian itu persis seperti cerita yang pernah ia dengar dari Instruktur sebelumnya.

──Naga Langit.

Keberadaan luar biasa yang mendominasi dunia. Ciri-ciri dan penampilan yang pernah diceritakan. Luka yang dialami Instruktur.

Ia sempat ragu, tetapi tidak salah lagi. Walau tidak tahu apakah ini individu yang sama, makhluk itu memiliki kekuatan yang mirip dengan pemusnahan.

(...Kalau begitu, hal yang harus dilakukan pertama kali adalah melarikan Dewi──!)

Konoe semakin melaju. Ia sudah mempelajari cara penanganan saat kondisi seperti ini sebelumnya.

Ia melintasi ruang kerja Dewi, lalu mendobrak pintu yang berada di seberang pintu kamar pribadi. Ia berlari dalam satu tarikan napas menelusuri koridor di baliknya, dan mendobrak pintu di ujung jalan.

Di sana, alat sihir untuk evakuasi selalu disiagakan. Itu adalah alat sihir raksasa yang memakan separuh area lantai teratas.

Alat sihir tingkat pusaka bangsa yang hanya dipasang di negara-negara besar, yang memungkinan perpindahan antarnegara secara instan meski hanya bisa digunakan sekali.

Setelah masuk ke dalam ruangan, Konoe menurunkan Dewi dan menarik tuas alat sihir. Alat sihir mulai bekerja. Hawa dari sihir perpindahan tempat mulai bereaksi.

──■■

Namun, tepat pada saat itu, Naga Langit memancarkan gelombang kekuatan. Kekuatan itu menyebabkan kejanggalan pada ruang di sekitarnya.

Ruang di sekitar mulai terpuntir. Ruang yang sudah mulai distorsi sejak kemunculan Naga Langit kini semakin terpuntir parah.

(──Alat sihirnya!?)

Suara retakan keras terdengar saat alat sihir evakuasi itu hancur. Seolah-olah tak sanggup menahan puntiran ruang. Konoe terperanjat dengan mata terbelalak.

──Dan tanpa memedulikan Konoe, Naga Langit bergerak pada saat yang sama. Ia mengibaskan ekor dari tubuhnya yang panjang, mengincarkan serangan ke gedung akademi.

"──!"

Ekor yang lebih tebal dari bangunan akademi itu melayang menuju akademi dengan tebasan mendatar. Konoe menyadari hawa keberadaan tersebut. Kekuatan penolakan mendekat hendak memusnahkan segalanya.

Konoe segera merangkul Dewi kembali dan menghancurkan dinding di depannya. Ia melompat ke luar, melarikan diri dari lintasan ekor dengan kecepatan bagaikan petir.

Namun meski Konoe dan Dewi berhasil lolos, ekor Naga Langit hendak menyapu bersih gedung akademi beserta Gerbang Pemindah di dekatnya──pada saat itulah, cahaya perak berkilau.

Mata Konoe dan Instruktur saling bertatap sebentar. Satu tebasan perak membelokkan lintasan ekor ke atas. Itu adalah tebasan Instruktur yang entah bagaimana berhasil memulihkan satu tangannya.

"────"

Ekor yang terbelokkan terus melaju dengan momentum yang sama, menghancurkan area dekat atap gedung akademi hingga terbang.

Bangunan itu terkikis tanpa sisa dan tanpa perlawanan. Mungin bisa dikatakan keberuntungan di dalam kemalangan, tidak ada tanda-tanda keberadaan orang di sana. Konoe tanpa sadar menghela napas lega.

■■■■

"...A-Apa!"

──Namun, masih terlalu dini untuk merasa lega.

Naga Langit memutar ekornya yang tadi ditepis, lalu mengayunkannya langsung ke arah pemukiman Kota Suci.

Meski terlepas dari gedung akademi, tebasan dari naga bertubuh raksasa itu tetap jatuh menuju Kota Suci.

"──Ah."

Konoe melihatnya. Ia menyadarinya. Arah yang dituju oleh ekor tersebut adalah area pusat keramaian.

Pusat keramaian. Tempat di mana paling banyak orang berkumpul di Kota Suci. Dan juga.

──Tempat di mana serikat dagang Melmina berada.

Tempat di mana Melmina, Telnerica, Fonia, dan Noel berada. Tempat yang juga ia kunjungi pagi ini. Ekor yang diselimuti kekuatan pemusnahan jatuh ke sana.

"──T-Tunggu"

Pikirannya dipercepat. Segalanya terlihat lambat. Namun Konoe tidak bisa menghentikannya.

Karena ia harus melindungi Dewi. Oleh karena itu, bahkan tanpa bisa bergerak untuk menghentikannya, ekor itu terus jatuh.

Dalam keputusasaan, ia mencoba menembakkan pisau sebagai usaha terakhir, tetapi pisau itu hancur dengan mudahnya.

Pada saat yang sama, serangan para Adept yang terbang menuju ekor dari berbagai sudut Kota Suci juga hancur lebur.

Kecepatan ekor itu tidak berkurang sedikit pun. Segalanya sia-sia. Ekor itu akan langsung menghancurkan kota.

────Aaahhh!!

──Namun, tepat pada saat itu, Dewi yang ada di dalam pelukan Konoe berteriak.

Mana berwarna putih meluap keluar, mewarnai dunia. Perisai putih. Otoritas Dewi Ibu yang mencintai manusia. Kekuatan perlindungan untuk melindungi anak-anaknya dari bencana.

Kepakan sayap putih murni membentang di Kota Suci. Perisai terpasang seolah melingkupi seluruh kota. Ekor yang diayunkan dan perisai putih bertabrakan dari depan──.

──Aagh!

"Dewi!?"

Dewi menjerit. Setelah benturan sesaat, perisai putih mulai retak dengan suara gemeretak keras lalu hancur berantakan.

Walau berhasil menahannya sejenak, perisai itu tetap hancur berkeping-keping.

Darah menyembur dari seluruh tubuh Dewi. Seolah-olah perisai itu adalah tubuh Dewi itu sendiri. Perisai putih murni itu melenyap, menyatu dengan udara.

Setelah jeda waktu yang sangat singkat, ekor naga mulai bergerak kembali──.

◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇

──Namun, penghentian singkat itulah waktu yang dibutuhkan baginya untuk bergerak.

"──Nu!"

Maiko melihatnya. Ia melihatnya, lalu berteriak.

Benar. Maiko terus memperhatikannya. Selama beberapa detik sejak kemunculan Naga Langit, ia terus mengamatinya.

Insting bertarung Maiko berteriak padanya untuk melihat.

Informasi Naga Langit yang didengarnya dari Instruktur.

Ancaman di depan mata. Kekuatan luar biasa yang dirasakan kulitnya.

Demi bisa melawannya, ia harus mengamatinya. Ia harus melihat apa yang bisa mempan terhadapnya.

Maiko melihatnya. Tubuh panjang Naga Langit.

Tubuhnya yang hitam pekat. Surai yang tumbuh di punggungnya.

Mengingat lengan dan pelindung tangan Instruktur telah dihancurkan, sudah pasti daging dan logam pun bisa dilenyapkan olehnya.

Tubuhnya yang hitam pekat kemungkinan besar karena telah melenyapkan cahaya. Melihat pergerakan surainya, naga itu juga melenyapkan pengaruh angin. Raungannya juga merupakan suara yang belum pernah didengar sebelumnya.

Namun, alasan mengapa suaranya tetap bergema meski melenyapkan angin... apakah karena getaran dari mana yang dilepaskan, atau deru udara yang mengalir masuk ke tempat yang telah lenyap?

Maiko melihatnya. Terus melihat, mengamati, dan menerka──karena itulah, ia menyadarinya.

Surainya agak terkulai. Tertarik ke bawah.

Begitu rupanya. Paham sekarang. Entah karena tidak ada pemilik kekuatan tersebut di dalam pasukan pembasmi masa lalu, atau sengaja dikeluarkan dari jangkauan efeknya.

──Kamu tidak melenyapkan gravitasi, kan?

"──Nuu!"

Oleh karena itu, Maiko membayangkan hasratnya. Berharap, lalu mengubah jiwanya.

Kekuatan yang memanipulasi jiwa membalikkan seluruh keberadaan Maiko. Jiwanya merintih kesakitan.

Namun ia tidak berhenti. Karena ia telah melihatnya. Pertempuran hingga saat ini. Dan apa yang hampir hilang dari mereka.

──Di balik kelopak matanya, terlihat warna merah, putih, dan emas.

Kuharap, bahagialah

Jangan lupakan dosa yang telah kau perbuat, dan teruslah menebusnya

...Maiko

Kilau yang indah, sumpah penebusan dosa, dan uluran tangan. Di sana terdapat cinta, dosa, dan kehangatan. Maka dari itu.

"──Nuuuuuuuuuuuu!!!!"

Melalui kekuatan yang memanipulasi jiwa, Otoritas baru terukir di dalam jiwanya. Yang tercipta adalah Sihir Keempat.

Bukan sihir penolakan untuk merebut, melainkan untuk melindungi.

Original Magic──Gravitational Control, Grand Expulsion!




"Original Magic──Gravitational Control, Grand Expulsion!"

Maiko memicu Otoritas Keempatnya. Ia memancarkan harapannya ke seluruh dunia.

Kekuatan itu langsung beraksi seketika. Cahaya ungu membentang luas menyelimuti dunia.

Hukum alam ditulis ulang oleh Otoritasnya──ekor naga yang sedang terayun mendadak terangkat ke atas, lalu tubuh utama Naga Langit ikut terguncang seolah terdorong oleh sesuatu yang amat besar.

──■■!?

Naga Langit menghentikan serangannya dan segera menarik kembali ekornya.

Ia meningkatkan kekuatannya penuh kewaspadaan──tetapi, walau kekuatan pemusnahannya mengikis cahaya ungu Maiko, serangan itu tidak bisa menepisnya secara sempurna.

Benar. Serangan yang sama tidak akan mempan dua kali pada Naga Langit. Artinya, jika baru pertama kali, serangan itu masih sanggup menembusnya walau secara memaksakan.

──Oleh karena itu, tubuh raksasa Naga Langit mulai terdorong dan berakselerasi menuju tempat yang sangat jauh.

Inilah kekuatan Original Magic baru milik Maiko. Memperbesar gravitasi di sekitar target secara ekstrem, mengubah arahnya, dan membuangnya ke tempat yang amat jauh.

■■■■!』

"...Nu!?"

Namun, Naga Langit tak tinggal diam begitu saja. Naga itu meraung. Sembari meraung──kegelapan mulai menyelimuti tubuhnya. Kegelapan sihir pemindah membungkus sang naga.

Apakah ia berniat kabur dari kungkungan gravitasi menggunakan pemindahan tempat? Reaksinya yang terlalu cepat membuat Maiko tak sempat merespons.

──"Bagus sekali, Maiko!!"

──Akan tetapi, kilatan perak melintas. Cahaya perak yang menerangi langit melaju kencang mendekati Naga Langit, berpijar semakin terang──lalu meninju ruang hampa hingga tembus.

Menghancurkan ruang dan merusak proses pembentukan kegelapan. Sebuah gangguan pemindahan. Prinsipnya sama persis dengan cara Naga Langit menghancurkan alat sihir evakuasi tadi.

■■■■■■■■!!

Naga Langit meraung keras sembari terus terdorong makin cepat, menjauh dari Kota Suci.

Kekuatan itu memaksanya melayang miring ke atas, tetapi karena naga itu mencoba melawan dorongan ke arah atas, kecepatannya justru terlempar secara horizontal dan melesat menghilang dari jangkauan pandangan.

Bagaikan batu raksasa yang dilemparkan dari langit, naga itu melesat lenyap ke tempat yang sangat jauh──lalu, setelah berhasil mengacaukan pemindahan tempat tersebut, Instruktur segera mendarat kembali ke gedung akademi. Ia mendarat di hadapan Maiko, lalu mengulurkan tangannya.

"Maaf ya, tapi kamu harus menemaniku mengulur waktu!"

"...Nu!? ............Nu--!!??"

Setelah berkata begitu, Instruktur menggendong Maiko di punggungnya. Tepat setelahnya, jejak cahaya perak melesat mengejar arah terbangnya Naga Langit──.

◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇

"──Instruktur."

Konoe melepas kepergian mereka berdua. Ia melihat dengan jelas isyarat tangan terakhir yang diberikan oleh Instruktur. Isyarat itu berisi dua perintah. Selamatkan Dewi. Pikirkan rencana.

Selagi Instruktur dan Maiko mengulur waktu, ia harus melarikan Dewi dan memikirkan cara untuk menumbangkan naga tersebut. Dengan kata lain──.

"............"

──Dengan kata lain, tampaknya mereka berhasil mendapatkan sedikit waktu berkat Instruktur dan Maiko. Entah berapa lama waktu yang berhasil didapatkan.

Ia bisa merasakan ketegangan yang tadi menyelimuti Kota Suci perlahan-lahan mulai mengendur.

Pertama-tama, sebelum melakukan hal lain, Konoe segera menyembuhkan Dewi yang ada di pelukannya. Setelah perisainya hancur, Dewi bersimbah darah dari kepala hingga kaki dan kehilangan kesadarannya. Luka yang didapat demi melindungi Kota Suci.

Ia mengerahkan seluruh kemampuannya untuk merapal sihir penyembuh hingga luka-luka itu menutup. ...Ia merasa lega.

Setelah penyembuhan selesai, langkah berikutnya adalah mencari hawa keberadaan Gerbang Pemindah untuk melarikan Dewi.

...Sayangnya, sepertinya tidak ada gerbang yang bisa langsung digunakan dalam waktu dekat. Apakah ia harus memikirkan cara lain?

"...Tapi,"

──Pikirnya. Naga Langit. Benar-benar musuh yang mengerikan.

Makhluk itu muncul secara mendadak tanpa alasan yang jelas, lalu dalam pertarungan singkat tersebut, ia memamerkan kekuatannya yang begitu dahsyat.

Dinding pemusnah yang tak tergores sedikit pun oleh tinju Instruktur, serta Breath, cakar, dan ekor yang sanggup melenyapkan segala hal di dunia.

Walau dalam waktu singkat banyak Adept yang melontarkan serangan, selain Instruktur dan Maiko, berapa banyak pun serangan yang dihantamkan sama sekali tidak memberikan dampak apa pun.

Naga Langit bahkan mengabaikan mereka sepenuhnya. Kekuatan yang persis seperti di dalam legenda.

...Karena memiliki sedikit waktu, ia kembali menyadari betapa mengerikannya kekuatan Naga Langit.

Jika Instruktur tidak menepis serangan pertamanya, area di sekitar akademi pasti sudah lenyap dan semua orang akan mati.

Jika Dewi tidak menciptakan perisai, salah satu sudut Kota Suci pasti sudah hancur tak berbekas.

Jika Maiko tidak ada, pertarungan pasti masih berlangsung di atas angkasa Kota Suci.

Jika Instruktur tidak mengacaukan pemindahan tempatnya, naga itu mungkin sudah lolos dari sihir Maiko.

──Hanya karena semua kebetulan itu saling menumpuk, mereka bisa berada di titik ini.

Pertarungan berakhir dalam waktu singkat dan secara hasil tidak ada korban jiwa, tetapi mereka benar-benar berdiri di batas antara hidup dan mati. Salah langkah sedikit saja, segalanya akan berakhir.

"............"

Konoe menatap Dewi di dalam pelukannya. Sosok yang bersimbah darah.

Walau mereka selamat berkat Dewi, melihat kondisinya yang mengenaskan membuat hatinya diselimuti perasaan bersalah.

Apakah ini dampak karena Otoritas perlindungan, benteng mutlak miliknya, telah dihancurkan?

...Ia bahkan tidak bisa melarikan Dewi. Tak disangka alat sihir evakuasi bisa dihancurkan.

Walau ia tahu ada cara untuk mengacaukan pemindahan tempat, ia tak pernah mendengar ada yang bisa menyebarkan gangguan seluas itu.

Padahal seratus lima tahun lalu, dewa dari kerajaan besar lain berhasil melarikan diri dengan cara itu.

Gangguan pemindahan tempat adalah hal yang tidak mudah dilakukan, bahkan bagi pengguna Original Magic elemen ruang sekalipun.

Instruktur juga pernah bilang kalau beliau berlatih sangat keras untuk menguasainya. Bahkan keberhasilannya menguasai sihir itu tergolong sebuah keajaiban.

Karena merasa penyesalan mendalam akibat hanya bisa menatap Naga Langit berpindah tempat di masa lalu, beliau menghabiskan waktu lima puluh tahun untuk menguasainya.

...Instruktur adalah sosok yang tak akan mengulangi kesalahannya sendiri.

"...Tidak, daripada menyesal, saat ini aku harus mencari cara untuk melarikan Dewi."

Konoe berpikir. Bagaimana cara melarikan beliau?

Gerbang Pemindah membutuhkan waktu untuk persiapan aktivasi.

Apakah mereka harus kabur dengan berlari?

Tidak, jika memungkinkan, sihir pemindah jauh lebih baik.

Berdasarkan cerita, kecepatan bergerak Naga Langit amat sangat cepat. Jika dikejar, belum tentu mereka bisa lolos.

──Dan bicara soal sihir pemindah.

Di dalam benak Konoe, terlintas bayangan seorang Instruktur senior berunsur ruang yang bernaung di negara ini, sosok yang sering menjadi lawan tandingnya saat masih menjadi siswa pelatihan. ...Namun, orang itu sedang tidak berada di Kota Suci saat ini.

Konoe, aku sudah menghubungi Instruktur pengguna sihir pemindah itu. Sekarang beliau sedang menuju Kota Suci, sepertinya akan sampai dalam beberapa menit.

"Konoe, kamu tidak apa-apa?"

"...Melmina, Fonia!"

Lensa merah milik Melmina mendekat. Fonia juga ada di sana. Konoe merasa lega melihat mereka berdua baik-baik saja, sekaligus kagum dengan kecepatan kerja mereka yang luar biasa.

Jika begitu, lebih baik menunggu kedatangan Instruktur tersebut.

Sembari menghela napas lega atas segala hal baik ini, ia mengintip ke dalam lensa.

Di sana ada Melmina, dan di belakangnya tampak pula Telnerica dan Noel. ...Meski entah mengapa mereka berdua tampak sangat lemas.

Aku dan Fonia menggendong mereka berdua lalu bergerak agak ekstrem. Sepertinya mereka jadi pusing. Tapi kalau tidak begitu, kita tidak akan bisa lolos dari tebasan ekor Naga Langit.

"...Begitu, ya."

Tampaknya saat ekor naga mengikis gedung akademi, mereka berempat sudah berhasil meloloskan diri dari bangunan tersebut.

Seperti yang diharapkan dari Melmina dan Fonia. Sangat bisa diandalkan.

Tapi kita harus berterima kasih pada Dewi. ...Juga pada Maiko. Tanpa perisai dan sihir itu, semua karyawan di serikatku pasti sudah mati.

"...Ya."

Melmina menggaruk pipinya dengan raut wajah gembira yang bercampur sedikit perasaan rumit.

Ia berkata harus berterima kasih dengan benar nanti...

Lalu di sana, Konoe memutuskan untuk berpindah tempat agar bisa membaringkan Dewi di atas tempat tidur.

Pertama-tama, ia berniat menuju ke kamar Dewi yang pertahanannya paling lengkap.

"...Lantai teratas sudah terkikis sepenuhnya, ya."

Ya, separuh lantai bagian atas sudah lenyap melayang. ...Kamar Dewi dan kamar Instruktur sudah hancur berantakan.

Itu adalah akibat dari satu sabetan ekor Naga Langit. Jika begitu, kamar Dewi sudah tidak bisa digunakan lagi.

Sebagai gantinya, ia berpindah ke ruang penyembuhan darurat yang dipasangi penghalang ketat, lalu membaringkan Dewi di atas tempat tidur.

Fonia yang ikut menemani segera membentangkan perisai Seraphim Barrier untuk memperkuat pertahanan.

...Tapi tetap saja, ini jadi masalah besar, ya. Naga Langit. Aku tidak tahu kenapa dia bisa bangkit lagi, tapi kekuatannya jauh lebih mengerikan dari rumor yang kudengar.

"...Ya."

Bagaimana cara mengalahkannya, ya? Monster itu. Aku baru sadar tadi, tapi aku tidak tahu bagaimana cara kita mengalahkannya pada pertempuran sebelumnya.

"...Eh?"

Saat Konoe memiringkan kepalanya bingung, Melmina berkata bahwa sepertinya ingatan mereka telah direbut.

Seingatku ada Instruktur dan... satu orang lagi. Tapi aku dan Fonia tidak bisa mengingat siapa orang itu dan bagaimana caranya dia mengalahkan naga itu. Konoe, bagaimana denganmu?

"...Aku,"

Saat ditanya begitu, Konoe juga tidak tahu.

Ia sudah sering mendengar tentang kehebatannya, tetapi mengenai cara mengalahkannya, ia merasa hanya pernah diajari bahwa ada bantuan dari seseorang.

Bahkan ia tidak tahu mengapa selama ini ia tidak pernah mempertanyakan penjelasan tersebut. Padahal jelas-jelas sangat aneh. Ia hanya ingat Instruktur berkali-kali mengangguk dan berkata kalau ini semua berkat Anak Itu. Siapa sebenarnya Anak Itu?

"...Maaf. Aku juga tidak tahu apa-apa."

...Begitu, ya. Kurasa juga begitu.

...Dengan kata lain, tanpa disadari, ingatan mereka telah dimanipulasi? Rasa dingin merambat di tulang belakang Konoe.

Ia memprioritaskan penanganan Dewi terlebih dahulu, tetapi setelah ini selesai, berikutnya adalah Naga Langit.

Mereka harus menyusun siasat untuk menumbangkan Raja Iblis itu.

Namun, ingatan mereka justru menghilang. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

Untuk sementara aku akan mengumpulkan informasi. Kamu tetaplah di samping Dewi sampai persiapan pemindahan selesai.

"...Ya, terima kasih."

Bersamaan dengan kata-kata itu, lensa mendarat di atas meja, dan sosok Melmina menghilang dari permukaannya. Sepertinya ia akan mengambil berbagai tindakan di luar sana.

...Konoe menghela napas panjang. Kemudian ia melihat ke luar jendela

Di sana tampak para Adept yang berkumpul dari seluruh penjuru Kota Suci. Mereka semua juga sedang memegang kepala mereka.

Mengamati dari suara-suara yang terdengar, tampaknya mereka juga tidak bisa mengingat bagaimana akhir dari pertempuran sebelumnya.

Hal yang sama terjadi pada staf akademi yang bekerja di ruang penyembuhan.

Dengan wajah pucat pasi, para staf memandang ke ruang hampa sambil bergumam, 'Mengapa tidak bisa ingat?', 'Siapa orang itu?', 'Bagaimana dengan kita?'.

Satu-satunya pengecualian adalah seorang staf wanita muda berusia belasan atau puluhan tahun, yang gemetaran di sudut ruangan dan tampak bingung dengan situasi di sekitarnya.

Mengapa? Kenapa? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu meluap di seluruh gedung akademi.

...Tidak, itu salah. Pasti bukan cuma gedung akademi. Tetapi seluruh kota.

Kekuatan Naga Langit sungguh luar biasa.

Hanya dengan melihatnya, hanya dengan merasakan hawanya saja, ada sensasi mengerikan seolah-olah keberadaan diri sendiri ikut terkikis.

Pasti ada ketakutan luar biasa karena berhadapan langsung dengan ajal. Karena itulah, kaum bangsawan, rakyat biasa, hingga penghuni kawasan kumuh, semuanya sama-sama panik.

──Mengapa Naga Langit bangkit kembali? Bagaimana cara mengalahkan Naga Langit?

──Mengapa kita tidak bisa mengingat pertempuran sebelumnya? Apa yang harus kita lakukan?

──Bagaimana nasib kita nanti? Aku tidak mau mati. Aku takut. Siapa pun, tolong kami.

Di antara orang-orang, ketakutan terhadap Naga Langit dan kebingungan atas ingatan yang hilang mulai menyebar luas.

Emosi negatif berpusar di dalam Kota Suci. Kepanikan itu merambat masuk ke dalam kemampuan persepsi para Adept.

Naga Langit. Raja Iblis terkuat yang seratus lima tahun lalu menghancurkan tiga negara dan merebut nyawa orang-orang yang tak terhitung jumlahnya.

Kala itu, Adept Orisinal, Instruktur, dan ratusan Adept menantangnya bertarung, namun mereka berujung pada kekalahan.

Oleh karena itu, saat ini Kota Suci berada di dalam krisis kehancuran. Secara mendadak, mereka dihadapkan pada situasi kritis di mana mereka tidak tahu apakah esok hari masih bisa bernapas atau tidak.

...Namun di tengah situasi seperti itu, mereka tidak memiliki ingatan tentang kejadian sebelumnya. Mereka melupakan "Seseorang".

Mereka tidak tahu apa-apa sama sekali. Yang mereka pahami hanyalah rasa takut semata. Hanya rasa takut akan Naga Langit yang ditanamkan secara paksa dalam waktu yang sangat singkat.

Sebab itulah semua orang menjadi panik karena rasa takut dan kebingungan. Takut, tidak mengerti, tolong kami, jerit mereka.

"............"

Apa yang sebenarnya terjadi? Konoe memeras otaknya mencari petunjuk.

Namun baik ingatan yang hilang maupun cara mengalahkan Naga Langit, Konoe sama sekali tidak mengetahuinya.

...Atau mungkin, dengan kekuatan ini ia bisa memahami sesuatu?

Konoe menyentuhkan tangan ke matanya. Di sana, kekuatan berwarna emas berpusar.

Kekuatan Telnerica. Sihir yang sewaktu pertempuran melawan Raja Iblis Abadi memperlihatkan ingatan 'Aku', lalu menuntunnya sampai ke tempat si jamur demi menyelamatkan Instruktur dari takdir kematian──.

"Ah, Konoe, Dewi..."

──Ko... e...?

"...! Dewi. Anda sudah sadar?"

Tepat pada saat itu. Saat ia berbalik mendengar suara Fonia, Dewi telah terbangun.

...no... e...

"...Dewi. Syukurlah."

Konoe bergegas mendekati Dewi. Ia benar-benar lega melihat beliau siuman. Ia merasa tenang dari lubuk hatinya yang terdalam. Ia tidak tahu harus bagaimana jika terjadi sesuatu pada Dewi.

Konoe bertanya, apakah Anda baik-baik saja? Apakah ada bagian tubuh yang terasa aneh?

...Namun, tidak ada jawaban dari Dewi, beliau hanya menatap Konoe dengan pandangan kosong.

............kamu... hidup...?

"...? Dewi?"

Dewi bergumam pelan, menatap Konoe dengan tatapan jauh.

Maksud pikirannya tidak tersampaikan dengan jelas.

...Apakah mungkin lukanya belum sembuh total? Padahal saat diperiksa menggunakan sihir kehidupan, tubuhnya seharusnya sudah pulih sepenuhnya.

──Kono, e.

"...?"

Tiba-tiba, di tengah kekhawatiran Konoe, Dewi mengulurkan tangannya.

Sembari berbaring di tempat tidur, beliau perlahan mengulurkan tangan.

...Konoe.

"...Dewi?"

Telapak tangan Dewi menyentuh pipi Konoe dengan lembut. Sensasi yang terasa begitu lembut dan hangat.

Konoe mengedipkan matanya beberapa kali merasakan sentuhan itu.

──Ah.

"...Eh?"

──Seketika itu juga. Tiba-tiba, bulir-bulir air mata menetes dari netra sang Dewi.

Setetes demi setetes air mata berukuran besar meluap tanpa henti.

Membasahi pipinya, lalu jatuh ke atas seprai.

Sembari meneteskan air mata, Dewi mengelus wajah Konoe seolah ingin memastikan bentuk wajahnya. Lalu.

...Ah.

"...A-Apa..."

Dari telapak tangan yang menyentuh pipinya, perasaan sang Dewi mengalir masuk ke dalam diri Konoe. Emosi yang sangat besar.

Itu adalah kegembiraan, sekaligus kesedihan. Sebuah rasa lega, sekaligus kesepian──.

"...?"

──Dan di atas segalanya, itu adalah rasa sakit yang teramat sangat. Rasa sakit yang seolah meremukkan dada.

Rasa sakit sang Dewi menghujam jauh ke dalam diri Konoe. Sangat dalam, dan menancap kuat.

Terasa sakit, menyiksa, namun begitu hangat. Perasaan yang tidak dipahami oleh Konoe itu tersampaikan secara langsung melalui telapak tangan tersebut.

Sebuah perasaan luar biasa kuat yang membuat mereka seolah melupakan segala hal dan menjadikan dunia ini hanya milik mereka berdua.

──Aah...... ah.

"...De, wi."

Ada apa ini sebenarnya? Apa yang sedang terjadi?

Dewi hanya terus meneteskan air mata. Konoe tidak mengerti apa-apa.

Ia tidak memahami satu hal pun... namun ia merasa tidak boleh dibiarkan begitu saja. Ia harus mengetahuinya.

Kehangatan telapak tangan yang menyentuh pipinya, serta rasa sakit sang Dewi yang menancap di dadanya seolah menegaskan hal itu. Berbagai emosi bercampur aduk menjadi satu.

"............Ah."

──Maka dari itu, seolah dituntun oleh kehangatan dan rasa sakit tersebut.

──Kekuatan berwarna emas di dalam diri Konoe mulai bergerak.

Sebuah harapan besar memutar roda gigi emas. Air mata Dewi, rasa sakit, keraguan, kebingungan.

Naga Langit, ingatan yang hilang, situasi yang mendesak, serta orang-orang yang memohon pertolongan.

Berbagai hal yang bercampur aduk menjadi satu harapan itu mekar bagaikan setangkai bunga di dalam hati Konoe.

Sihir berwarna emas perlahan-lahan mulai membuka pintu menuju kebenaran.

Guna menunjukkan jalan yang harus ditempuh sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Konoe.

◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇

──Dengan demikian, dunia kembali melangkah satu tahap ke depan.

Harapan emas merebak luas, cahayanya menyinari rahasia yang seharusnya telah lenyap dari dunia.

Ingatan tentang seseorang yang tak lagi ada di mana pun, yang seharusnya telah musnah.

Namun, ingatan tersebut adalah ingatan yang sanggup disaksikan oleh Konoe.

...Benar. Ini pasti bisa terjadi justru karena dia adalah Konoe.

◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇

──Dan, pintu menuju masa lalu pun terbuka. Konoe mengintip ke seberang pintu melalui pancaran cahaya emas.

Di seberang sana, sebuah pemandangan kota membentang luas.

Tempat itu adalah...

(...Kota Suci?)

Pemandangan yang familier. Area pusat keramaian di sebelah timur Kota Suci. Sebuah alun-alun di titik pusat kawasan tersebut.

Akan tetapi, walau bangunan di sekitarnya terasa tidak asing, Konoe merasa ada yang berbeda dari ingatannya.

Saat ia mencoba memastikan situasinya──ia menyadari ada sebuah poster yang tertempel di papan pengumuman dekat sana. Sebuah tanggal tertulis di atasnya.

(...? Kalender dari seratus lima belas tahun yang lalu?)

Tampaknya ini adalah masa yang sangat lampau.

 Penasaran dengan apa yang terjadi di sini, Konoe mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

...Namun, tidak ada hal istimewa yang terlihat.

Bukan suasana festival, bukan pula tempat terjadinya tragedi, ini hanya pemandangan biasa.

Alun-alun Kota Suci ramai oleh lalu lalang orang-orang, terlihat hidup, tetapi hanya sebatas itu.

Di tengah-tengahnya terdapat sebuah air mancur, dan orang-orang berkumpul di sekelilingnya.

Air yang memancar keluar dari air mancur jatuh diiringi suara gemericik, permukaan airnya hanya bergelombang dengan irama yang teratur.

──Namun, tepat pada saat itulah kejadian itu bermula.

──A, apa!?

Byur, suara kepakan air mendadak membumbung dari air mancur.

Permukaan air terpecah gelombang, orang-orang di sekitarnya terkejut dan menoleh ke arah sumber suara.

............Hah, eh? Di, di mana ini?

Di dalam air mancur, terdapat seorang pria.

Pria itu terduduk seolah baru saja jatuh terjerembap ke dalam air.

Seorang pria dewasa.

Bukan usia yang cocok untuk bermain air di air mancur.

Penampilannya adalah pakaian yang juga diketahui oleh Konoe.

Pakaian setelan jas yang sering dilihat di Jepang.

Dan wajahnya adalah...

(............Eh?)

Konoe terperanjat. Mulutnya menganga tak percaya.

Mengapa demikian, karena...

...Apa-apan ini?

Pria itu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya dengan raut wajah bingung.

Melihat tingkah dan pakaian pria yang aneh itu, seorang penjaga dengan raut curiga mendekat──bertanya apa yang sedang dilakukannya di sana dan menyuruhnya menyebutkan nama.

Pria itu kemudian menyebutkan namanya kepada penjaga tersebut dengan raut penuh kebingungan, sembari menatap tombak yang dipegang sang penjaga dengan mata membelalak heran.

Konoe yang menyaksikan rekaan gambar itu pasti juga menunjukkan ekspresi yang persis sama. Sebab...

...E-Eeto, itu... namaku adalah, Konoe.

(...Apakah pria itu, aku?)

Konoe tertegun menatap pria yang memiliki wajah yang persis sama dengan dirinya──.

◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇

──Itulah awal dari "Seseorang" yang pernah dihapus dari dunia.

Awal dari kisah sepuluh tahun seorang pria dari dunia lain yang dimulai sejak seratus lima belas tahun yang lalu.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close