NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Teido de Mune no Ana wa Umaranai Volume 5 Chapter 2


Chapter 2

Mimpi


1

Aku bermimpi. Sang Dewa sedang bermimpi.

Itu adalah sebuah mimpi yang sangat jauh.

Seolah betapa pun aku mengulurkan tangan, aku tak akan pernah bisa menggapainya.

Meski berlari atau berteriak, aku tak bisa menyentuhnya. Aku hanya bisa mengamatinya. Mimpi yang seperti itu.

Rasanya ada seseorang yang sedang tertawa. Rasanya aku pun ikut tertawa.

Rasanya pernah ada sesuatu di sana. Rasanya sesuatu itu telah sirna.

Samar, tak jelas, dan sulit digenggam.

Namun anehnya, ini adalah jenis mimpi yang membuatku sadar bahwa aku telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga.

──Sisa-sisa masa lalu yang kini tak sanggup lagi kuingat.

Hal yang telah tersumbat dan tak lagi terlihat itu, entah mengapa sang Dewa bisa melihatnya di dalam mimpi…… Tidak, justru karena di dalam mimpilah dia sanggup melihatnya.

"──Aah."

Sang Dewa melihatnya. Di batas antara mimpi dan kenyataan, terdapat serpihan putih yang terjatuh.

Warna yang melambangkan dirinya sendiri. Namun entah mengapa, itu adalah warna yang sangat menyedihkan.

Benar. Suatu hari, di suatu tempat, sang Dewa pernah mengulurkan tangan ke arah benda itu──.

"────?"

Lalu, sang Dewa pun terbangun. Saat perlahan membuka kelopak matanya, langit-langit yang tak asing menyambut pandangannya.

Di atas ranjang kamarnya sendiri. Dari jendela terdekat, cahaya berwarna jingga menerobos masuk.

"…………"

Selama puluhan detik, dia hanya menatap langit-langit…… Sebelum akhirnya bangkit dengan tubuh yang sedikit lesu dan turun dari ranjang.

Ketika melangkah mendekati jendela dan melihat ke luar, matahari mulai terbit dan langit pun perlahan terang.

Cahaya berwarna fajar membalut Kota Para Dewa. Sang Dewa menatap pemandangan itu dengan kesadaran yang masih samar.

──Menetes.

"──Uh?"

Dengar suara tetesan air. Kemudian disusul tetesan demi tetesan berikutnya.

Saat bertanya-tanta ada apa…… dia pun segera menyadarinya.

 Begitu menempelkan tangan ke area matanya, ada rasa basah yang tersentuh.

Sensasi basah itu mengalir di pipinya satu demi satu, lalu menetes jatuh ke lantai. Itu adalah.

"……Ah, benar juga. Mimpi itu."

Rasanya aku baru saja memimpikan hal yang menyedihkan.

Rasanya aku baru melihat sesuatu yang membuatku ingin menangis.

Sesuatu yang telah hilang. Sesuatu yang tak tergapai. Sebuah serpihan dari sesuatu.

──Ah, sebenarnya itu mimpi tentang apa, ya?

Aku ingin mengetahuinya, tetapi mimpi selalu lenyap seiring terciptanya kesadaran saat terbangun. Aku tak bisa mengingatnya lagi.

Sang Dewa memikirkan sisa-sisa rasa sakit yang berdenyut samar di dadanya──dan hanya bisa menatap langit di batas antara malam dan pagi.

◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇

Keesokan harinya, sehari setelah rapat laporan fenomena hilangnya bahasa Jepang dan kunjungan ke gedung penelitian.

Konoe kembali meninggalkan kediaman bersama Telnerica sejak pagi hari.

Hari ini pun sama seperti kemarin, mereka melewati kawasan pemukiman lalu keluar menuju jalan utama.

Cuaca sangat cerah. Lalu lalang orang-orang begitu ramai, dan suara para pedagang yang menjajakan dagangannya terdengar dari berbagai arah.

Konoe melangkah menyusuri jalanan yang hidup itu bersama Telnerica. ……Dan, agenda yang ada di hadapan mereka hari ini adalah.

(……Pesta wanita, ya?)

Konoe bergumam di dalam hatinya. Benar, hari ini Telnerica, Melmina, dan Fonia kabarnya akan mengadakan pesta wanita.

Mereka bertiga akan berkumpul di Perusahaan milik Melmina untuk membicarakan sesuatu.

(……Kira-kira mereka bakal ngobrolin apa, ya?)

Konoe sempat terpikir hal itu…… tetapi dia segera mengoreksi pikirannya sendiri, menyadari bahwa tak seharusnya seorang laki-laki ikut campur dalam urusan pesta wanita.

Sambil menggaruk kepala, dia melirik ke samping dan melihat Telnerica berjalan dengan ekspresi seperti biasanya.

Tepat menatap lurus ke depan, dan saat sadar Konoe sedang memandanginya, gadis itu tersenyum tipis sambil memiringkan kepalanya.

Konoe bingung harus mengucapkan apa padanya…… hingga beberapa detik kemudian, dia kembali menatap ke depan sambil bilang tidak ada apa-apa. Keduanya pun lanjut berjalan……

……

……

……

Beberapa menit kemudian. Konoe dan Telnerica tiba di Perusahaan Melmina.

Begitu menyapa pegawai di pintu masuk, mereka langsung diantar menuju area dalam.

"Selamat pagi, Konoe, Telnerica."

"……Selamat pagi, kalian berdua."

Saat sampai di ruangan lantai teratas, Melmina dan Fonia langsung menyambut mereka dengan sapaan.

Konoe dan Telnerica membalas sapaan itu lalu melangkah masuk ke dalam ruangan…… Di sini, Telnerica berpisah dari sisi Konoe dan berjalan menuju arah Melmina serta Fonia.

Begitu sampai di dekat mereka berdua, dia berbalik dan berkata sambil tersenyum lebar, terima kasih banyak karena sudah mengantarku.

Di sampingnya, Melmina dan Fonia pun ikut tersenyum lebar dengan cara yang sama.

Konoe merasakan atmosfer yang sedikit berbeda dari biasanya pada mereka…… Namun karena mereka tertawa, dia berpikir mungkin ini bukan hal yang perlu terlalu dipusingkan.

"……Uh, ya sudah kalau begitu, Telnerica. Sore nanti aku jemput, ya."

"Baik. Tuan Konoe, saya serahkan kepada Anda."

Karena itu, setelah menentukan waktu penjemputan, Konoe meninggalkan ruangan dan langsung keluar dari Perusahaan Melmina.

Begitu keluar ke jalan besar, dia berpikir apa yang sebaiknya dia lakukan hari ini.

……Karena tak ada rencana khusus, dia mulai berjalan sambil berpikir untuk pergi ke Akademi saja.

◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇

Setelah Konoe pergi meninggalkan ruangan.

Masih dengan senyuman di wajahnya, Melmina mendekati jendela dan memperhatikan Konoe yang membelakangi gedung Perusahaan untuk berjalan menuju jalan besar.

Dia menatap lekat-lekat sosok itu yang perlahan menghilang di balik tikungan jalan di antara lautan manusia.

"…………"

"…………"

"…………"

Tepat di saat punggung Konoe tak lagi terlihat, senyuman itu menyapu bersih dari wajahnya.

Senyum itu cuma pura-pura karena ada Konoe di dekatnya. Saat melirik ke samping, senyuman Telnerica dan Fonia pun ikut sirna.

Bertiga dengan wajah datar, mereka bergerak seolah-olah sudah berjanji sebelumnya menuju ke arah kursi.

Meja bulat kecil yang dikelilingi oleh mereka bertiga. Jarak masing-masing tak sampai satu meter. Fonia duduk lebih dulu di kursi, disusul oleh Telnerica.

Hanya Melmina yang tak langsung duduk; sebagai tuan rumah, dia mengambil teko teh, menuangkannya ke dalam cangkir, dan meletakkannya di hadapan semua orang.

"Terima kasih, Melmina."

"Terima kasih, Kakak."

"……Jangan panggil aku Kakak."

Di tengah atmosfer yang berat, Fonia memanggilnya Kakak seperti biasa, dan Melmina pun membalasnya untuk berhenti seperti biasa.

……Meski interaksi ini sudah diulang berkali-kali, atmosfer di antara mereka tak menjadi ringan sedikit pun. Setelah selesai membagikan teh, Melmina pun duduk di kursinya.

"……Kalau begitu, mari kita mulai pesta wanitanya."

Melmina mendeklarasikan hal itu, lalu menatap Telnerica dan Fonia secara berurutan. Dua orang yang dipanggil oleh Melmina hari ini.

Telnerica membenarkan posisinya dengan ekspresi kaku. Sementara Fonia duduk dengan wajah yang sedikit melamun.

Di hadapan mereka berdua, Melmina mengambil cangkir teh di tangannya. Dia meminumnya seteguk untuk membasahi tenggorokannya.

"──Ini memang mendadak, tapi aku berencana untuk menyatakan cintaku pada Konoe."

 

2

Itu adalah sebuah deklarasi dari Melmina yang bisa dikatakan sangat sepihak.

──Pernyataan bahwa dia berniat mengutarakan perasaannya.

Bukan meminta pendapat dari mereka berdua, melainkan sebuah pernyataan keputusan bahwa dia pasti akan melakukannya.

Sebagai topik pembuka kumpul-kumpul ini, mungkin itu adalah sebuah deklarasi yang sangat mengejutkan.

"……"

"……"

……Namun, dua gadis berambut emas dan biru itu tidak terkejut. Mereka hanya mengembalikan pandangan ke arah Melmina dengan tenang.

Sejak awal pesta wanita ini diadakan, mereka mungkin sudah paham apa yang ingin disampaikan.

Melmina tahu betul. Dua orang yang ada di tempat ini sangat cerdas, walau dengan arah yang berbeda.

Karena itulah, sebagaimana Melmina yang memanggil mereka dengan penuh keberanian, mereka berdua pun duduk di tempat ini dengan keberanian yang sama.

Keheningan melingkupi ruangan itu untuk beberapa saat──.

"……Hei, Melmina."

"Ada apa, Fonia?"

Yang pertama kali membuka suara adalah Fonia. Kali ini, dia tidak memanggilnya Kakak.

Lalu, setelah jeda satu ketukan, dia kembali bersuara.

"Boleh aku tanya kenapa?"

Kenapa. Kenapa dia mendadak memutuskan untuk menyatakan cintanya, itulah maksudnya.

……Alasannya adalah.

"Fonia, gara-gara insiden Instruktur kemarin, aku jadi menyesal."

Instruktur yang berubah menjadi wujud kecil akibat ulah Dewa Kejahatan. Surat wasiat yang ditulisnya, serta perjalanan nekat menuju kedalaman labirin.

Di dasar bumi yang mereka capai, ada Tika yang tak bisa kembali ke wujud semula dan gelombang bencana yang mendekat.

──Benar. Hari itu, Melmina merasa sangat menyesal.

Di saat akhir dari segalanya sudah berada di depan mata, dia meratap. Kalau saja akhirnya harus mati, harusnya dia menyatakan perasaannya sejak awal.

Dia tak ingin mati tanpa sempat menyampaikannya. Ada penyesalan yang tersisa. Dia ingin menjadi kekasihnya.

Kemudian, kalau dilihat dari hasil akhirnya, Instruktur berhasil kembali seperti semula dan selamat. Namun.

"Aku tak mau menyesal lagi. Kalaupun harus mati, aku ingin mati dengan dada membusung tegak bahwa aku telah hidup sekuat tenaga. Makanya, aku akan menyatakan cintaku pada Konoe."

"……Begitu, ya."

Mendengar ucapan Melmina, Fonia memejamkan mata dan mengangguk.

Di sampingnya, Telnerica pun ikut mengangguk pelan.

──Dengan kata lain, ini artinya mengakhiri hubungan mereka yang sekarang.

Daripada tiga wanita yang menyukai Konoe berkumpul seperti ini tanpa menyatakan cinta, tak bisa jadi kekasih, dan cuma membuang waktu tanpa kepastian, lebih baik memperjelas semuanya.

Menyatakan cinta dengan benar dan membangun hubungan yang baru.

……Meskipun hasil akhirnya nanti akan mengubah hubungan antara Konoe dan ketiga orang di tempat ini menjadi seperti apa, mereka belum mengetahuinya.

"……Hei, Telnerica."

"……Ya, Melmina."

Melmina memanggil Telnerica yang berada di seberang meja. Telnerica pun memanggil nama Melmina.

Kalau dipikir-pikir, awal dari situasi saat ini adalah gadis berambut emas yang duduk di hadapannya ini.

Jika tidak ada dia, Melmina pasti sudah sejak lama menyatakan cintanya pada Konoe.

Walau pengalaman cinta Melmina cuma sebatas pada Konoe, dia sudah tak terhitung berapa kali mengambil langkah maju bersama keberanian saat dibutuhkan.

Dia harusnya sanggup menekan rasa takutnya dan melangkah ke depan.

Namun, alasan kenapa situasi abu-abu ini terus berlanjut adalah karena ada Telnerica di sisi Konoe.

Karena adanya hubungan antara Konoe dan Telnerica, dia tak bisa menyatakan cintanya.

……Yah, walau begitu, kalau Konoe dan Telnerica sudah resmi berpacaran, mungkin akan ada banyak hal yang bergerak, tetapi tampaknya situasinya tidak seperti itu.

(Tapi kalau dipikir-pikir, aneh juga ya. Kenapa Telnerica nggak menyatakan cintanya?)

Melmina merasa heran. Hubungan antara Telnerica dan Konoe sangatlah misterius.

Mereka tinggal bersama. Bahkan berkah berupa Unique Magic yang cuma ada satu-satunya pun telah dia serahkan.

Namun kalau ditanya apakah mereka berpacaran, kabarnya belum ada pernyataan cinta yang resmi.

Kenapa bisa begitu, Melmina yang bukan Telnerica tentu tak paham.

Kalaupun harus menebak…… apakah karena dia tak memiliki kekuatan?

Keputusannya beberapa hari lalu untuk membidik gelar Adept bersama kakaknya, Nel, apakah itu juga alasannya?

Orang yang tak memiliki kekuatan bahkan tak bisa melindungi dirinya sendiri.

Di dalam dunia yang kejam ini, terkadang manusia bisa mati dengan sangat mudah.

Dan jika mereka berpacaran lalu dia mati setelahnya, Konoe akan ditinggalkan sendirian.

……Ah, benar juga. Dia tahu.

Belum ada satu tahun sejak Telnerica terkena penyakit mematikan akibat wabah labirin di kampung halamannya dan nyaris tewas.

"…………"

"…………"

Melmina menatap lekat ke arah Telnerica. Telnerica pun balik menatap Melmina. Pasti ada emosi rumit yang saling berseliweran di antara mereka.

Sebab, Telnerica berada lebih dekat dengan Konoe dibanding siapa pun.

Di sisi lain, Melmina memiliki kekuatan yang cukup untuk berjalan berdampingan dengan Konoe.

Pasti mereka berdua memiliki hal yang sangat diinginkan oleh satu sama lain. Kalau diingat-ingat, saat pertama kali bertemu pun dia memikirkan hal yang mirip.

(……Kita ini sedikit mirip, ya.)

Melmina bukannya benci pada Telnerica. Malah, dia cukup menyukainya.

Mereka cocok, dan jika bukan karena status sebagai saingan cinta, mereka pasti bisa jadi teman seumur hidup.

……Namun karena saingan cinta, bukannya berdiri berdampingan, mereka justru saling berhadapan.

──Melmina berpikir. Mulai sekarang dia akan menyatakan cintanya pada Konoe.

Kalau sudah begitu, Telnerica pun pasti akan menyatakan cintanya dalam waktu dekat. Karena jika tidak melakukan apa-apa, Melmina mungkin akan memonopoli Konoe sendirian.

Lagipula, fakta bahwa persiapan untuk menantang latihan Adept sudah selesai beberapa hari lalu juga berdampak besar. Mulai sekarang dia pasti akan jadi lebih kuat.

"Melmina."

"Apa?"

Tiba-tiba, Telnerica membuka suara. Lalu.

"Aku juga akan menyatakan cintaku pada Tuan Konoe."

"Begitu, ya."

Sudah kuduga. Mereka saling menatap. Kedua gadis itu hanya saling menatap lekat. Menatap mata lawan yang baru saja mengibarkan bendera perang.

──Sekali lagi, Melmina tak tahu bagaimana hasil dari pernyataan cinta itu nantinya.

Bentuk akhir dari hubungan di sekitar Konoe akan menjadi seperti apa, dia tak tahu. ……Mungkin saja akan jadi harem.

Namun apa pun yang terjadi, dia merasa akan terus memiliki ganjalan emosi seumur hidup dengan gadis di hadapannya ini.

"……Kalian berdua ternyata begitu, ya. Hei, terus Melmina. Kapan kamu mau menyatakan cintanya?"

"Segera."

Pertanyaan dari Fonia meluncur dari samping, dan Melmina langsung menjawabnya tanpa ragu. Kalau bisa, bahkan setelah ini pun dia siap.

Dia tak tahu Konoe pergi ke mana, tetapi dia sudah siap untuk mencarinya dan menyatakan cintanya.

Saat dia menyampaikan hal semacam itu…… Fonia mendadak tersenyum manis. Lalu berkata.

"Gitu, ya. Syukurlah. Soalnya hari ini aku juga nggak ada acara."

"……?"

"Kalau gitu ayo pergi sekarang. Dia pasti masih ada di sekitar sini."

"…………??"

……Gimana? Melmina memiringkan kepalanya.

……Fonia ini baru saja ngomong apa?

……Aku juga nggak ada acara?

……Ayo pergi sekarang?

Karena tidak paham, Melmina mencerna kata-kata Fonia dalam kepalanya. Memahaminya perlahan.

Tidak, maksudnya, walau dia berharap ini salah, tapi perkataan itu terdengar seperti.

"Maksudmu…… kamu mau ikut saat aku menyatakan cinta, begitu……?"

"Eh, iya, mau ikut. Ayo barengan?"

Fonia mengangguk seolah itu hal yang sangat wajar. Dia bahkan berdiri sambil merapikan pakaiannya.

Oh, jadi dia benar-benar berniat ikut. Begitu, ya. Begitu.

Melmina menarik napas dalam-dalam. Lalu.

"──KENAPA BEGITU, SIH!!!!"

──Dia berteriak. Benar-benar sekuat tenaga.

Tidak, aneh banget, kan? Kenapa saingan cinta malah mau ikut waktu orang lain mau menyatakan cinta?

"……? Kenapa gimana, soalnya aku juga mau menyatakan cinta, kan? Ayo kita menyatakan cinta barengan?"

"Jelas-jelas aku nggak mau, lah!?"

Melmina menolaknya sekuat tenaga lagi. Kebodohan apa sampai harus menyatakan cinta bareng orang lain. Ini penembakan cinta, lho. Peristiwa besar dalam hidup. Harus dilakukan sendirian, dong.

Namun melihat Melmina yang seperti itu, Fonia memasang wajah sedikit tidak puas. Apaan. Mau ngomong apa lagi dia.

"Tapi kan ini ujung-ujungnya harem. Menurutku bakal lebih nggak ribet kalau kita barengan."

"……Nggak, kamu ini ya."

"Aku nggak mau ada pertengkaran. Ayo kita akur. Aku mau akur sama Kakak-kakak sekalian."

Jangan panggil aku Kakak, balas Melmina secara refleks──sambil memikirkan arti kata 'pertengkaran' yang diucapkan Fonia.

Yah, tergantung urutan dan situasinya, hal itu memang bisa saja terjadi. Namun bagi Melmina, walau harus bertengkar pun, dia tetap ingin menyatakan cintanya sendirian.

……Namun di saat itu, Fonia kembali bersuara.

"Kita ini bukannya bertengkar, tapi harusnya bersatu. Melmina juga sadar, kan?"

"……Sadar apa?"

"Selain yang ada di sini, masih ada satu orang lagi yang sangat menyukai Konoe."

"────"

──Hal itu. ……Kalau bilang tak tahu, itu bohong namanya.

Bayangan sosok berwarna perak melintas di benak Melmina. Instruktur. Guru dari Konoe, Melmina, dan Fonia.

Memang benar, Melmina sudah menyadarinya. Bahwa Instruktur telah jatuh cinta pada Konoe.

Dilihat saja sudah kelihatan. Wajah luarnya memang ditutupi, tetapi matanya tak bisa berbohong.

Malah, yang berada di dekatnya dan belum sadar mungkin cuma Konoe seorang sebagai pihak yang bersangkutan. Saking jelasnya tingkah sang Instruktur.

Malah sejak beberapa waktu lalu, di lingkungan Akademi sudah cukup heboh membicarakan soal Instruktur itu.

……Apalagi baru beberapa hari lalu ada pengumuman bahwa perjodohan tahun depan dibatalkan, membuat dugaan itu tak diragukan lagi.

"Hei, Melmina. Kalau sama aku atau Telnerica, mau bertengkar atau sampai ke tahap mana pun, skenario terburuknya mungkin kamu masih bisa mengatasi."

"…………"

"Tapi kalau bertengkar sama Instruktur, aku pikir kita nggak akan menang."

……Hal itu, memang benar. Perkataan Fonia tidak salah. Tak akan menang. Mana mungkin bisa menang.

Kalau sampai terjadi peperangan, jangankan kekuatan tempur, dari segi kekuasaan maupun kekayaan pun tak akan sanggup menang.

Ditambah lagi, Melmina tahu. Walau tidak sampai terjadi perang pun──Konoe itu, tidak, Konoe juga sangat menyukai Instruktur.

Melmina tahu hal itu. Karena dialah yang berlatih paling dekat di sisi Konoe.

Tentu saja, ucapan menyukai itu bukan dalam arti perasaan romantis. Mungkin sebatas rasa hormat.

Namun tak diragukan lagi ada rasa suka yang mendalam tersimpan di sana.

Ikatan antara Konoe dan Instruktur terjalin ke arah yang sedikit unik, sehingga sulit menebak bagaimana hubungan mereka ke depannya.

……Lagipula, dilihat dari sudut pandang sesama wanita pun, Instruktur itu cantiknya sampai bikin terpesona.

"Kalau kita sibuk bertengkar, bisa-bisa Instruktur mengambil semuanya dari samping."

"…………………………"

"Makanya, ayo kita menyatakan cinta barengan, bikin harem yang rukun, terus jadi keluarga. Kalau begitu, kalau terjadi hal buruk, kita bertiga bisa bersatu."

Fonia tersenyum manis. Padahal perkataannya sangat tidak masuk akal, tetapi bagian alasannya yang logis justru membuat Melmina kesal.

Senyumannya tampak begitu bersinar, dan emosi yang kembali seiring pemulihan jiwanya justru terasa sangat menyebalkan khusus untuk saat ini.

Sambil menahan rasa ingin decak kesal, Melmina melirik ke samping. Telnerica pun memasang wajah tidak suka.

Namun, ada sedikit raut kepasrahan di sana. Ekspresi dengan berbagai emosi yang bercampur aduk.

Apakah itu hasil dari membenarkan perkataan Fonia?

……Maksudnya, jangan-jangan aku juga memasang wajah seperti itu sekarang?

"…………gh."

Nggak mau. Dia benar-benar tak sudi. Namun, Melmina mulai berpikir.

Dia galau di antara jurang perbedaan kekuatan dengan sang Instruktur dan perasaan gadis mudanya──.

◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇

──Demikianlah, waktu ketiganya terus berlalu.

Instruktur. Pahlawan terkuat yang sebenarnya merupakan satu dari tiga wanita tercantik di dunia.

Seberapa pun beliau sedang memegang kepala di dalam kamarnya sendiri, keberadaannya memberikan dampak yang sangat besar bagi ketiga gadis di pesta wanita ini.

 

3

Sementara di waktu yang sama. Konoe yang telah meninggalkan Perusahaan Melmina tiba di Akademi seorang diri.

Bukan karena ada tujuan khusus, bukan pula karena ada pekerjaan. Hanya saja dia tak punya hal lain untuk dilakukan.

Bagi Konoe, Akademi adalah tempat di mana dia menghabiskan waktu selama dua puluh lima tahun.

Tempat yang paling familier melebihi apa pun. Bisa dikatakan tempat yang menenangkan. Makanya, kalau sedang senggang, dia punya kebiasaan untuk datang ke Akademi.

……Yah, kalau mengingat kembali latihan neraka di sana, Konoe sendiri agak heran dengan pikirannya.

Namun Konoe adalah tipe orang yang lebih memprioritaskan rasa terbiasa ketimbang kenyamanan murni.

Bagaimanapun juga, karena alasan itulah Konoe berjalan bolak-balik di depan kantor administrasi.

Sambil berpikir apakah harus berlatih atau mencari pekerjaan saja, dia melihat papan pengumuman status penggunaan area latihan…… dan sialnya semuanya sudah penuh.

Kalau begitu cari pekerjaan saja, pikirnya sambil bergeser ke papan pengumuman lembar permintaan tugas.

 Di sana terpampang tugas-tugas seperti pengumpulan bahan yang tidak mendesak, tetapi di masa depan harus ada yang menyelesaikannya.

Karena tak ada sifat darurat, imbalannya memang sedikit, tetapi jumlahnya banyak sehingga keuntungannya adalah bisa memilih sesuka hati sebagai tugas rutin.

Konoe memeriksa apakah ada tugas yang bisa selesai dalam sehari……

"……?"

……Dan, kejadian itu. Terjadi saat Konoe sedang melihat lembar tugas pembasmian monster.

Konoe merasa aneh. Tadi, di sudut penglihatannya, tampak bayangan putih melintas.

Siapa pemilik bayangan itu, tak perlu berpikir panjang pun dia langsung tahu. Dewa.

Di tangga ujung koridor. Setelah turun dari atas, bayangan itu langsung masuk ke jalan samping. Langkahnya pun terburu-buru.

Sang Dewa mengenakan atasan yang tak biasa dilihat──sebuah jubah pendek?──dan itu sangat berkesan.

……Apakah terjadi sesuatu? Konoe berpikir. Ya tentu saja, sang Dewa yang berjalan di dalam Akademi bukanlah hal yang aneh. Tidak aneh, tapi……

……Ada sedikit rasa ganjal. Entah kenapa, suasana sang Dewa terasa berbeda dari biasanya.

"…………"

Lama-kelamaan Konoe mulai memikirkan sang Dewa. Dia berpikir untuk pergi mengecek keadaannya.

Itu adalah pilihan yang tak akan pernah terlintas di kepala Konoe yang biasanya. Pergi melihat keadaan orang lain tanpa ada urusan adalah hal yang tak akan pernah dia lakukan.

Namun, tetap saja. Suasana sang Dewa tadi terasa sangat mengganjal di hatinya.

(……Coba aku lihat saja, ya?)

Setelah sedikit ragu, Konoe melangkahkan kakinya menuju lorong tempat sang Dewa menghilang. Jika yang ada di sana adalah Dewa seperti biasanya, dia tinggal minta maaf karena telah membuntutinya.

Konoe mulai menyusuri koridor.

Hawa keberadaan sang Dewa yang sempat dia pikirkan ternyata berhenti, dan kini berada di taman tengah antara gedung Akademi dan gedung penelitian.

Dia berjalan ke arah sana, membelok di beberapa sudut, hingga tiba di depan pintu belakang.

Sambil berpikir apa yang harus diucapkan saat menyusul sang Dewa, dia mendorong pintu itu hingga terbuka.

"……?"

──Dan, Konoe pun melihatnya. Sang Dewa berada tepat di luar pintu belakang.

Melangkah beberapa pijakan ke taman tengah, di area yang tertutup bayangan pohon. Di sana.

"……Eh?"

"──"

──Mata yang terbuka lebar, dan tetesan air yang meluap.

──Di hadapan Konoe, ada sang Dewa yang sedang meneteskan air mata.

……De, wa?

Taman tengah di antara gedung Akademi dan gedung penelitian. Di balik bayangan pohon, sang Dewa sedang menangis.

Sang Dewa membuka matanya lebar-lebardengan air mata yang menetes berderai-derai.

Konoe mengucek matanya karena ragu, tetapi mana mungkin dia salah mengenali sang Dewa.

Sang Dewa. Sosok bertatap sayap putih yang merupakan perwujudan keindahan di dunia ini.

Sosok yang selalu memperhatikannya selama ini. Mana mungkin Konoe salah mengenali sosok beliau.

"…………De, Dewa?"

"……Ah."

"……A, Ada apa? Apakah Anda baik-baik saja?"

Konoe panik dan bergegas mendekat. Selama dua puluh lima tahun ini, Konoe tak pernah melihat sang Dewa menangis seperti ini. Sang Dewa selalu tersenyum dengan lembut.

Kemarin saat pulang pun beliau melambaikan tangan dengan senyuman, lantas kenapa. Apa yang sebenarnya terjadi.

Sempat terlintas di pikirannya apakah ini serangan musuh, tetapi ini di dalam Akademi.

Tempat yang dipasangi penghalang anti-Dewa Kejahatan dan anti-monster.

Lagipula kalau terjadi sesuatu, Instruktur sebagai pengawalnya tak mungkin tidak ada di sampingnya.

Karena itulah dia tak paham kenapa beliau menangis, tetapi jelas tak bisa dibiarkan begitu saja. Konoe berlari mendekat dan memanggil sang Dewa. ……Namun.

"……Dewa?"

"……Ah, eh? Kono, e?"

"……Eh?"

Sang Dewa hanya memanggil nama Konoe dengan wajah yang tampak linglung.

Tidak bilang baik-baik saja maupun tidak, beliau membuka matanya lebar-lebar dan menatap Konoe dengan air mata yang menggenang.

Beliau mengedipkan mata beberapa kali, dan setiap kali dilakukan, tetesan air mata berukuran besar jatuh dari sudut matanya dan mengalir di pipinya.

"…………Konoe?"

"……?? Um. Ya. Ada apa?"

"…………"

Saat namanya dipanggil sekali lagi, Konoe membalasnya. Namun, sang Dewa kembali tertegun linglung.

Begitu saja, waktu dalam keheningan berlalu……

"……Eh, lho? ……Eh?"

"……Dewa?"

"……Etto……?"

Lalu, mendadak sang Dewa mengedipkan matanya berkali-kali.

Dengan gestur bingung, beliau melihat ke kanan, lalu melihat ke kiri.

Seperti orang yang tak paham apa yang sedang terjadi.

Beliau menyentuh pipinya sendiri dengan tangan, melihat ujung jarinya yang basah──lalu menatap Konoe.

"…………Ah……!"

──Di saat itulah, rona wajah sang Dewa kembali. Seolah-olah kesadarannya telah pulih sepenuhnya.

"……Ah…… itu, ini"

"……?"

"Ini, bu, bukan begitu!"

Dengan panik sang Dewa menutupi wajahnya dan menyapu air mata menggunakan lengan bajunya. Sebuah gerakan kasar yang sangat tidak mencerminkan sosok Dewa.

Lalu setelah melihat lengannya yang basah, beliau membelakangi Konoe. Beliau melakukan sesuatu di sana.

……Tak lama kemudian, beliau berbalik perlahan.

"Ehehe. Kenapa aku menangis, ya?"

"……"

"Aku baik-baik saja. Tidak ada apa-apa, kok."

Sang Dewa yang berbalik sudah merapikan penampilannya, tersenyum seolah kejadian tadi hanyalah kebohongan belaka.

Aku baik-baik saja kok, ucapnya sambil tersenyum manis dan memiringkan kepala.

Bekas air mata di pipinya pun telah hilang, menampilkan senyuman yang tak berbeda dari biasanya. Senyuman Dewa yang indah dan lembut, yang telah dilihat Konoe selama dua puluh lima tahun.

"……Dewa."

Namun, justru karena senyuman itu tak ada bedanya dari biasa. Konoe sanggup menyadari bahwa kata-kata sang Dewa adalah kebohongan.

Karena beliau tersenyum seperti biasa, Konoe yang lamban ini pun bisa paham. Bahwa sang Dewa saat ini sedang memaksakan diri. Sang Dewa sedang berpura-pura dengan paksa.

Makanya, Konoe menjadi cemas…… tetapi tetap saja, Konoe tak tahu harus mengatakannya bagaimana. Dia hanya bisa menatap sang Dewa lekat-lekat.

"Konoe, jangan memasang wajah seperti itu. Aku sehat dan baik-baik saja, kok."

"……"

"Maksudku, aku beneran baik-baik saja. Cuma mimpi buruk sedikit saja, kok."

"……Mimpi?"

Sang Dewa bercerita. Bahwa tadi pagi beliau memimpikan hal yang aneh.

Isi mimpinya tak ingat, tetapi itu adalah jenis mimpi yang membuat air mata menetes setelah terbangun.

Ada rasa kehilangan seolah telah merelakan sesuatu yang berharga, dan perasaan itu masih tersisa sedikit meski sudah berlalu beberapa jam, membuatnya merasa ganjal.

Makanya, saat keluar ke taman tengah untuk jalan-jalan menyegarkan pikiran.

"……Tahu-tahu air mata meluap keluar gitu saja. Mendadak banget sampai bikin kaget."

"…………"

"Cuma karena itu kok, jadi tidak apa-apa. ……Ehehe, menangis berkali-kali cuma gara-gara mimpi sedih itu seperti anak kecil, ya?"

Bukan karena ada situasi darurat, melainkan hanya menangis karena mimpinya sedih.

Sang Dewa berkata demikian sambil menggaruk pipinya dengan malu-malu.

Lalu, beliau menundukkan alisnya seolah bilang, aduh maaf ya sudah menunjukkan sisi yang agak memalukan.

……Konoe memikirkan kata-kata sang Dewa itu sejenak.

"──Tidak."

"……?"

"……Tidak, hal itu tidak benar."

Konoe membantah. Dia menggelengkan kepalanya perlahan. Dia tak berpikir itu hal yang memalukan.

……Sebab, Konoe tahu betul.

Dia tahu rasanya mimpi yang selalu menyakitkan, menyiksa, dan membuat ingin menangis.

Dia sudah melihatnya berkali-kali. Luka masa lalu yang digali kembali, diperlihatkan pada hal yang telah hilang.

Luka yang seharusnya sudah sembuh kembali memuntahkan darah, terasa berdenyut sakit seperti bernanah selamanya.

Karena Konoe tahu rasa sakit dari mimpi sedih semacam itu.

Makanya, itu sama sekali tidak memalukan.

Setidaknya Konoe tak akan pernah berpikir begitu.

"……Begitu, ya."

"……Ya."

Sang Dewa bergumam pelan mendengar penjelasan Konoe, lalu menundukkan pandangannya.

Hanya sedikit, sang Dewa memasang raut wajah seperti menangis sambil tersenyum.

"…………"

"…………"

……Demikianlah. Konoe dan sang Dewa menghabiskan waktu bersama untuk sejenak.

Tanpa membuka suara, hanya saling berdampingan. Pintu belakang Akademi yang jarang digunakan orang.

Tak ada tanda-tanda keberadaan orang di sekitar, hanya suara angin yang bertiup melewati tempat itu yang bergema.

……Sang Dewa tidak tersenyum, melainkan menatap taman di antara gedung Akademi dan gedung penelitian dengan pandangan kosong.

"………………Anu, ya."

"……Ya."

"Ada sedikit rasa ganjal."

Tiba-tiba, sang Dewa bergumam pelan. Sambil menatap lekat ke arah taman tengah.

"……Dulu, rasanya di sini pernah ada sesuatu. Aku mengingatnya lewat mimpi. Padahal begitu, aku tak tahu benda apa itu."

"……Ya."

"Padahal itu adalah hal yang tak boleh dilupakan."

"……Ya."

"Kenapa, ya……"

Sang Dewa menatap taman tengah dengan raut sedih. Seolah sedang mencari sesuatu.

Namun, apakah karena tak menemukan apa-apa, beliau menunduk dan menggigit bibirnya seolah menyalahkan diri sendiri.

"…………"

"…………"

Waktu yang sunyi kembali berlalu. Sang Dewa terus menundukkan kepalanya.

Konoe berada di sisi sang Dewa tersebut.

Tanpa bersuara. Karena tak tahu harus mengucapkan apa, dia hanya berdiri di sisinya.

"……Hei, Konoe."

"……Ya."

Kemudian, sang Dewa bergumam pelan.

"Aku sedang ingin jalan-jalan sedikit. ……Boleh minta tolong temani aku?"

 

4

──Dan, kegelapan pun bergolak, gaungnya bergema jauh di dasar bumi.

[rutayv::naiyvm]

Dewa Kejahatan meleliut geli, menggerakkan kekuasaannya. Menggunakan otoritas nista dan kekuatan tipu daya, sedikit demi sedikit dia menarik kembali tirai yang pernah diselubungkannya ke seluruh dunia pada dua puluh lima tahun yang lalu.

Lalu…… menyuntikkan seluruh kekuatan yang terkumpul itu ke dalam sang wadah.

◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇

"──Aku lagi ingin jalan-jalan sebentar. Mau menemaniku?"

Setelah sang Dewa meminta hal tersebut, Konoe kini berjalan bersamanya di halaman tengah.

Halaman tengah. Area taman yang terletak di antara gedung akademi dan gedung penelitian.

Pepohonan tinggi tumbuh rimbun di sana, dengan jalan setapak berpelipit batu yang berbelok-belok menembus celah-celahnya.

Taman itu seolah dirancang mengikuti keberadaan pohon, bukan pohon yang ditanam mengikuti jalan.

Berbagai jenis bunga tumbuh tak beraturan di tepi jalan, warnanya bercampur padu. Mungkin sengaja dibuat meniru bentuk alam yang liar.

Konoe dan sang Dewa berjalan berdampingan menelusuri jalan itu. Melangkah perlahan, menembus kerapatan pepohonan.

Langkah kaki sang Dewa yang berbunyi tuk, tuk, bergema ringkih di sekitar. Mereka terus berjalan.

Di depan mata Konoe, kepakan sayap putih bersih milik sang Dewa berayun pelan. Aroma dedaunan dan pepohonan tercium lembut. Begitu pula bau tanah yang basah.

────

"…………"

Beberapa menit berlalu dalam keheningan seperti itu.

──Tiba-tiba sang Dewa menghentikan langkahnya, melemparkan pandangan ke satu titik.

Ketika Konoe ikut melihatnya, ada sebuah bangku yang terletak menyendiri, agak jauh dari jalan setapak.

Lokasinya tepat di bawah kaki pohon yang cukup besar. Berada di bawah bayang-bayang rindang yang terhalang dari sinar matahari.

Ditambah lagi, ada banyak pohon serupa yang tumbuh di sekelilingnya, membuat tempat itu agak tersembunyi dari jalur utama.

Sang Dewa menatap bangku itu lama──lalu mengarahkan langkahnya ke sana.

Beliau berjalan menuju bangku tersebut dan berdiri tepat di depannya.

Sang Dewa tak mengucapkan sepatah kata pun. Beliau hanya terus menatap bangku itu tanpa berkedip.

Lalu, tiba-tiba beliau bergumam pelan.

…………Hei, Konoe.

"……Ya?"

Bisakah kamu duduk di sini bersama denganku?

Duduk bersama? Konoe agak terkejut…… tapi dia sama sekali tak punya alasan untuk menolak.

Karena itu, Konoe duduk terlebih dahulu lalu mengibaskan dedaunan kering yang mengotori dudukan. Barulah setelah itu sang Dewa ikut duduk.

Bangku yang lumayan lebar. Walau diduduki dua orang berdampingan, masih tersisa sedikit ruang luang──.

──Setelah itu, waktu kembali berlalu dalam keheningan. Sang Dewa menundukkan kepalanya, sementara Konoe hanya diam berdiri di sampingnya.

Angin berembus pelan, membuat dedaunan bergemerisik lembut. Angin yang sangat menyejukkan.

Seolah bertugas memperbarui udara di sekitar mereka. Sinar matahari yang menerobos celah daun bergoyang-goyang di atas tanah, terasa begitu menenangkan di mata.

────Ah.

"……?"

Tiba-tiba Konoe merasa ada sesuatu yang tersampaikan dari sang Dewa. Namun, dia tak memahami maksudnya.

Karena suara sang Dewa bergema langsung di dalam hati, bahkan dengan mempertajam pendengarannya pun, Konoe tak akan bisa mendengarnya sebagai suara fisik.

Saat Konoe bertanya-tanya dalam hati, sang Dewa berkata pelan.

Tempat yang sangat nyaman, ya.

Memang benar, pikir Konoe. Tempat yang tersembunyi dari sekeliling berkat rimbunnya pohon, ditambah bayangan sejuk yang menghalangi teriknya matahari, terasa sangat cocok dengan selera Konoe.

Anginnya pun terasa menyegarkan, tampaknya bagus juga kalau dipakai untuk tempat makan siang.

"……Kalau saja saya menemukannya saat masih menjadi siswa pelatihan, mungkin saya sudah sering menggunakannya."

……Fufu, iya ya. Tempat ini sepertinya cocok untuk makan camilan.

Mendengar perkataan Konoe, raut wajah sang Dewa sedikit melunak sebelum akhirnya mengangguk.

Lalu, beliau bergumam bahwa pasti akan sangat membahagiakan jika ada teh dan kue di sini.

Sang Dewa tersenyum tipis, tampak sedikit lebih bersemangat dari sebelumnya.

Konoe yang melihat hal itu merasa lega dan ikut mengulum senyum. Untuk sejenak, mereka saling melempar senyum hangat.

……Yup, rasanya perasaanku sedikit lebih lega. Terima kasih sudah menemaniku, Konoe.

Sang Dewa tersenyum kepada Konoe dengan raut wajah ceria seperti biasanya.

Konoe meresponsnya dengan menggelengkan kepala.

"Tidak perlu berterima kasih."

Tentu saja tak perlu. Sebab dulu, Konoe jugalah yang sering disapa dan disemangati oleh sang Dewa. Di saat hatinya hampir patah akibat latihan yang begitu berat, sang Dewa berkali-kali hadir untuknya.

Karena itu, Konoe menyampaikan bahwa ini hanyalah bentuk balas budinya, jadi beliau tak perlu berterima kasih.

Mendengar hal itu, mata sang Dewa membelalak kaget sebelum akhirnya tersenyum jauh lebih bahagia.

──Setelah itu, percakapan santai pun mengalir di antara mereka.

Bicara tentang rumah baru, tentang rapat laporan kemarin, hingga cerita Konoe saat berkunjung untuk meninjau gedung penelitian.

Sang Dewa mendengarkan kisah kaku Konoe dengan raut wajah penuh ketertarikan.

Lalu, Konoe berpikir apakah ada topik lain yang bisa dibicarakan. ……Ah, benar juga.

……Eh? Makanan kaleng pengawet baru?

"……Iya. Produk yang baru-baru ini dikembangkan oleh Melmina. Kemarin saya sempat diberi sisanya. Kalau Anda berkenan, apakah mau mencobanya?"

Konoe mengambil sebatang stik berukuran sepuluh sentimeter yang terbungkus rapi dari kantong pinggangnya.

Makanan darurat buatan Melmina.

Kelezatannya tak bisa dibandingkan sama sekali dengan ransum pengawet berbentuk batu bata yang lama itu.

Saat Konoe mengulurkannya, sang Dewa menjangkaukan tangannya dengan ragu-ragu.

Be-Benarkah ini enak? Berbeda dengan 'batu bata' yang dulu itu?

"……Iya."

Dengan raut wajah agak tegang, sang Dewa membuka bungkusnya. Matanya sempat bergerak ragu sejenak…… sebelum akhirnya menguatkan tekad dan memasukkannya ke dalam mulut. Seketika itu juga.

…………Kh! Benar-benar enak!?

Sang Dewa terperanjat kaget. Beliau segera menggigitnya lagi, dan lagi.

Setelah menelan semuanya ke dalam mulut, tubuhnya gemetar seolah terkejut hebat.

Tidak dipercaya…… 'Batu bata' itu bisa jadi selezat ini……!

"Melmina hebat sekali! Dia layak mendapat medali penghargaan!" teriak sang Dewa heboh.

Konoe merasa sedikit bangga karena Melmina dipuji sedemikian rupa.

……Namun, di samping itu. Meski dia sendiri yang menawarkan makanan darurat baru tersebut, Konoe baru sadar kalau sang Dewa ternyata pernah memakan ransum 'batu bata' itu.

Padahal itu bukan sesuatu yang pantas dimakan oleh sosok dewa. Lagipula rasanya sangat mengerikan.

Ketika Konoe menanyakan hal tersebut, sang Dewa menjawabnya.

Iya. Dulu sekali. Karena ada suatu kejadian kecil. Karena itulah, ak-aku…… e-eh?

"……?"

Lho, itu…… kapan, ya……? Bersama dengan…… siapa……?

Saat itu juga. Pandangan sang Dewa mendadak menerawang jauh. Sama seperti yang terjadi sebelumnya.

Beliau mengulurkan tangan seolah sedang mencari-cari sesuatu yang hilang……

……Ah, ternyata benar……

"……Dewa?"

……Aku, telah melupakan hal yang sangat penting.

Sang Dewa mengucapkan kalimat itu dengan raut wajah menahan tangis, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam.

──Senyuman sang Dewa kembali sirna tanpa bekas.

…………

Rasa sedih yang mendalam dari sang Dewa menyentuh dada Konoe.

Ada banyak hal yang ingin Konoe katakan untuk menghibur, namun pada akhirnya dia tetap tidak tahu harus diucapkan seperti apa.

……Waktu berlalu dalam keheningan yang kesekian kalinya. Sang Dewa terus menunduk tanpa bergerak.

──────Tidak boleh.

"……Dewa?"

Namun. Tak tahu berapa lama waktu telah berlalu.

Tiba-tiba sang Dewa mengangkat kepalanya. Ekspresi di wajahnya telah berubah total.

Tidak boleh. Kalau begini terus, tidak boleh.

"……Dewa."

Sang Dewa tidak menangis. Wajahnya kini menyiratkan tekad yang sangat kuat. Beliau mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dan menatap lurus ke depan.

──Aku harus menemukannya.

Sang Dewa berkata bahwa beliau telah melupakan 'Sesuatu'. Sesuatu yang sangat berharga dan tidak boleh hilang begitu saja.

Jika demikian, beliau harus mencarinya. Beliau tidak bisa terus diam seperti ini. Tidak boleh membiarkan hal berharga itu hilang selamanya.

"……Baik."

Melihat binar tekad yang begitu kuat di mata sang Dewa membuat Konoe merasa lega. Baguslah kalau beliau sudah kembali bersemangat.

Sebab jika sang Dewa memasang wajah hendak menangis, Konoe selalu bingung harus berbuat apa.

Konoe mengembuskan napas panjang lalu berkata, jika ada hal yang bisa dibantu olehnya, beliau boleh meminta bantuan apa pun.

Mendengar hal itu, sang Dewa meresponsnya.

……Terima kasih. Aku senang sekali. Kalau begitu, Konoe…… boleh aku minta tolong?

Atas petunjuk sang Dewa, Konoe berjalan bersamanya memasuki gedung akademi.

Mereka menyusuri koridor dan menaiki anak tangga. Hingga akhirnya, mereka tiba di lantai teratas.

Sang Dewa berjalan lurus menuju ruang kerjanya dan membuka pintu. Menurut beliau, di tempat inilah mungkin terdapat petunjuk mengenai 'Sesuatu yang Terlupakan' itu.

Setelah masuk ke dalam, mereka melewati bagian samping meja kerja yang menumpuk tinggi dengan berbagai dokumen.

Sang Dewa terus berjalan menuju area dalam, dan Konoe mengekor tepat di belakangnya.

Di sebelah sini.

Di sana terdapat sebuah pintu. Sebuah pintu yang terletak di sudut ruang kerja, berada di area yang sedikit gelap.

Pintu itu tersembunyi di balik tanaman hias. Konoe sendiri sebenarnya tahu keberadaan pintu tersebut, namun tak pernah mendekatinya.

Saat Konoe memperhatikan pintu itu sambil bertanya-tanya ruangan apa yang ada di dalamnya, sang Dewa memegang gagang pintu dan mendorongnya. Seketika itu juga, pemandangan di dalam ruangan terlihat.

Di hadapan mereka, tampak jajaran rak buku yang dipenuhi oleh ribuan buku. ……Apakah ini ruang arsip?

Masuklah.

Konoe mengira mereka akan mencari 'Sesuatu yang Terlupakan' itu dari tumpukan dokumen, namun sang Dewa malah melambaikan tangan memanggilnya masuk. Konoe menurut saja dan melangkahkan kakinya menembus pintu.

"……?"

Pada saat itulah, indra penciuman Konoe menangkap aroma yang berbeda dari biasanya.

Aroma yang rasanya pernah dia kenal sebelumnya. Apakah ini……?

Konoe melangkah semakin jauh ke dalam ruangan dan mulai mengamati.

Suasana di dalam ruangan kini terlihat jelas olehnya.

Ada banyak sekali rak buku di dalam sana. Berjajar rapi hingga ke bagian paling dalam ruangan. Itu adalah pemandangan pertama yang tadi sempat dilihatnya.

"……??"

……Namun, hal yang ada di dalam ruangan ini bukan hanya sekadar rak buku.

Di sudut yang terlindung oleh bayangan pintu, tampak berbagai perabotan rumah tangga tertata di sana.

Ada meja, kursi, dan lemari pakaian. Ada sofa berukuran mungil, gantungan jas bergaya elegan──bahkan di bagian paling dalam, terdapat sebuah dapur kecil.

Seluruh fasilitas untuk menunjang kehidupan sehari-hari tersedia lengkap di sini.

Apa maksudnya ini? Di saat Konoe mulai merasa bingung, sang Dewa tiba-tiba melepaskan jubah mirip jubah pendek yang dikenakannya di depan Konoe, lalu menggantungkannya pada hanger.

──Sang Dewa kini mengenakan pakaian yang lebih tipis, lalu berbalik menatap Konoe.

"……Anu."

……?

Melihat ruangan dan sosok sang Dewa yang seperti itu membuat Konoe membuka suaranya dengan bingung.

"……Ini ruangan apa?"

Eh? Ini kamar pribadiku, lho?

──Mendengar pertanyaan itu, sang Dewa menjawabnya dengan raut wajah polos tanpa dosa.

 

──Kamar…… pribadi?

Konoe melongo dengan mulut sedikit terbuka──butuh jeda beberapa saat baginya untuk mencerna kata-kata tersebut.

Kamar milik sang Dewa. Ruang pribadi. Area kehidupan personal beliau.

Sangat berbeda maknanya dengan ruang kerja di sebelah yang biasa mereka gunakan untuk acara minum teh. Ruangan sebelah memang dirancang untuk menerima tamu, tapi tempat ini jelas berbeda.

……Bagaimana tidak, bersama dengan rak buku dan berbagai perabotan lainnya, tampak sebuah tempat tidur diletakkan di sudut paling dalam ruangan.

"……E-Emm."

……?

Konoe yang mulai panik membuang pandangannya ke sembarang arah.

Dia bingung mengapa sang Dewa membawanya ke tempat seperti ini.

Dia merasa tidak sopan jika memperhatikan ruangan ini terlalu lancang, sehingga bingung harus menatap ke mana. Saat berusaha mengalihkan pandangan agar tidak melihat hal yang aneh-aneh…… tiba-tiba matanya tertuju pada jubah yang baru saja dilepas sang Dewa di belakang tubuhnya.

……Fokus Konoe mendadak tertuju pada jubah tersebut. Sebenarnya, sejak pertama kali bertemu sang Dewa hari ini, Konoe memang sudah sedikit penasaran dengan jubah itu.

Alasannya tidak lain karena dia merasakan alur kekuatan sihir di sana. Itu adalah perkakas sihir yang memiliki efek Hiding──sebuah kekuatan pembatas persepsi tingkat ringan.

Efeknya tidak akan mempan pada seorang Adept, namun sudah lebih dari cukup untuk mengelabui rakyat biasa.

Jenis perkakas sihir yang berguna saat ingin menghindari perhatian publik tanpa mengganggu tugas pengawalan.

Karena sang Dewa biasanya tidak mengenakan benda itu, Konoe menduga beliau hanya menggunakannya saat hendak keluar ruangan──.

──Konoe? Ada apa?

"……E-Eh, anu."

Panggilan dari sang Dewa membuat pikiran Konoe yang sempat melayang jauh mendadak buyar. Dia kembali dari aksi melarikan diri dari kenyataan.

Namun setelah sadar pun, Konoe tentu saja kembali dibuat bingung, hingga akhirnya dia memutuskan untuk menatap deretan rak buku di sana. ……Benar juga, kalau menatap buku-buku ini kan tidak masalah, pikirnya terlambat.

Hampir seluruh luas lantai di kamar sang Dewa ini didominasi oleh rak buku. Begitu banyaknya hingga dari pintu masuk hanya deretan rak bukulah yang terlihat.

Ah, kamu kaget ya melihat bukunya ada banyak sekali?

Menyadari arah pandangan Konoe, sang Dewa berbicara dengan nada sedikit riang.

Beliau lalu melanjutkan bahwa wajar saja jika tempat ini seperti ini, karena itulah hakikat dirinya.

Aku ini kan fragmen yang diciptakan dari tubuh utama──Sang Dewi Bunda──dengan dianugerahi konsep pencarian. Sosok yang menjunjung tinggi pengetahuan dan perkembangan.

"…………Baik."

……Mengenai hakikat keberadaan sang Dewa, Konoe memang pernah mempelajarinya.

Ini adalah kisah dari beberapa ribu tahun yang lalu.

Dewa tertinggi di dunia ini dulunya hanya ada satu tunggal, dan belum ada fragmen pembagian diri yang diciptakan.

Dewa Kehidupan. Sosok yang menguasai kehidupan dan perlindungan. Dewa dengan wewenang kekuasaan untuk menciptakan nyawa serta melindunginya dari segala bencana.

Bersama para dewa lainnya, beliau turun ke planet yang dulunya hanyalah tanah tandus, lalu mengubahnya menjadi dunia yang berlimpah dengan kehidupan.

Menciptakan manusia, memberikan pemberkahan, dan melindungi mereka agar dapat hidup lebih baik.

 Sejak zaman dahulu kala beliau terus mengawasi manusia, kadang menegur dan membimbing mereka yang hampir melangkah ke jalan yang salah.

──Keberadaannya benar-benar menyerupai sosok ibu yang penuh kasih sayang terhadap anaknya.

Dewi Bunda Yang Maha Pengasih. Itulah wujud asli dari Dewa Kehidupan yang berdiri di puncak tertinggi seluruh dewa di dunia ini.

Dunia ini dulunya hidup berdampingan dengan sang Dewa. Sebuah planet dengan ukuran beberapa kali lipat lebih besar dari Bumi, tanah kaya yang dipenuhi dengan keindahan alam, serta perlindungan yang dianugerahkan oleh para dewa.

Manusia tidak pernah kelaparan, tidak perlu saling berebut wilayah, dan memiliki sihir yang mempermudah kelangsungan hidup mereka. Manusia hidup tenteram dalam naungan para dewa.

……Namun, beberapa ribu tahun yang lalu. Dewa Kejahatan menyerang dari dunia luar, mengubah dunia yang damai itu dalam sekejap mata.

Manusia dibantai oleh monster-monster ciptaan Dewa Kejahatan, dan mereka yang mencoba bertarung dengan menyelam ke dalam labirin malah dijangkiti oleh wabah penyakit mematikan. Dunia yang indah itu hancur berantakan dalam sekejap.

Sebagai Dewi Bunda, Dewa Kehidupan berusaha mati-matian melindungi manusia dari kejahatan tersebut…… namun beliau tidak mampu.

Dewa Kehidupan tidak bisa menang melawan Dewa Kejahatan. Tidak, lebih tepatnya, beliau bahkan tidak bisa bertarung sama sekali.

Sebab beliau bukanlah dewa yang diciptakan untuk bertempur. Seorang dewa tidak bisa menyimpang dari hakikat keberadaannya sendiri.

Kekuatan yang hanya bertujuan untuk melindungi manusia dari bencana tidak akan mampu menghadapi pasukan Dewa Kejahatan yang terus bertambah tanpa batas.

Lagipula, dengan wewenang kehidupan dan perlindungan, beliau tidak bisa memberikan kekuatan bertarung kepada manusia.

Sebagai seorang ibu, beliau tidak sanggup menyuruh anak-anaknya pergi bertempur.

Memang ada dewa bertipe petarung seperti Dewa Perang di antara jajaran para dewa, namun kekuatan mereka tidak cukup untuk menandingi Dewa Kejahatan yang sangat dahsyat.

Tingkatan eksistensi mereka sebagai dewa terlalu jauh berbeda. Para ksatria yang menerima pemberkahan Dewa Perang langsung terhempas tak berdaya di hadapan malapetaka ciptaan Dewa Kejahatan.

Manusia dan para dewa semakin tersudut. Jumlah korban tewas terus meningkat, dan tanah yang dibangun selama ini hancur lebur.

Pasukan Dewa Kejahatan menggerogoti wilayah tempat tinggal manusia sedikit demi sedikit hingga tak tersisa.

Tanpa bisa memberikan perlawanan yang berarti, dunia manusia berada di ambang kepunahan──.

──Karena itulah. Demi melindungi manusia, Dewa Kehidupan akhirnya membelah dirinya sendiri dan melahirkan para fragmen.

Beliau mengikis eksistensinya sendiri, menciptakan sepuluh pecahan, lalu menanamkan konsep yang berbeda dari kehidupan dan perlindungan ke dalam masing-masing pecahan tersebut.

Dengan menanamkan konsep baru, beliau sengaja membelokkan hakikat keberadaannya sebagai dewa.

Melalui penyimpangan wujud ini──meski beliau sendiri tetap tak bisa bertarung, setidaknya beliau jadi memiliki kemampuan untuk menganugerahkan kekuatan bertarung kepada manusia.

Lewat proses itulah sepuluh fragmen diciptakan, dan melalui fragmen-fragmen tersebut, para Adept akhirnya lahir ke dunia.

Dengan lahirnya para pelindung kemanusiaan ini, barulah manusia mampu melancarkan perlawanan terhadap pasukan Dewa Kejahatan.

──Setelah itu, bahkan hingga beberapa ribu tahun berlalu sampai sekarang, pertempuran di dunia ini masih terus berlanjut.

──Begitulah awal mula fragmen diciptakan, dan sepuluh fragmen itu masing-masing diberi hakikat keberadaan yang berbeda.

"……Baik."

──Konoe mendengarkan penjelasan tentang asal-usul kelahiran para fragmen langsung dari mulut sang Dewa. Jujur saja, meski ini adalah materi pelajaran yang sudah pernah Konoe dapatkan sebelumnya, dia tetap menyimak setiap perkataan beliau dengan sungguh-sungguh.

Di antara semuanya, konsep yang dianugerahkan kepadaku adalah pencarian. Sebuah hakikat keberadaan yang terus mencari, serta menjunjung tinggi pengetahuan dan perkembangan.

"……Baik."

Sembari mengangguk merespons penjelasan sang Dewa bahwa para fragmen memiliki sifat yang sangat jauh berbeda dari tubuh utama, Konoe terus melangkah mengekor di belakang sang Dewa.

Saat ini Konoe dan sang Dewa sedang berjalan menyusuri area dalam kamar beliau. Menerobos celah-celah rapi di antara deretan rak buku.

Atas lambaian tangan sang Dewa yang menyuruhnya mendekat, Konoe menyusuri lorong tersebut. Mereka berjalan berkelok-kelok menembus puluhan baris rak buku yang menjulang tinggi.

Tampaknya tujuan sang Dewa bukanlah kamar pribadi ini, melainkan sebuah tempat yang terletak jauh di dalam ruangan pribadi tersebut.

Karena kamar sang Dewa telah diperluas menggunakan sihir ruang, ukurannya begitu fantastis hingga ujung ruangannya saja tidak terlihat meski sudah berjalan cukup jauh.

Dalam hati Konoe menghela napas lega karena bisa menjauh dari area tempat tidur tadi……

……Namun, di samping itu. Entah mengapa, Konoe merasa ada mekanisme tersembunyi yang terpasang di deretan rak buku ini.

Rasanya jika seseorang berjalan menelusuri lorong ini dengan urutan tertentu seperti permainan jalur acak, akan ada sesuatu yang muncul.

Konoe menggelengkan kepalanya heran, mempertanyakan mengapa sang Dewa sampai harus memasang mekanisme rumit seperti ini di kamarnya sendiri.

Sebenarnya kami para fragmen ini sudah menjadi eksistensi yang sangat jauh berbeda dari tubuh utama. Mungin lebih tepat kalau kami disebut sebagai pengikut atau abdi ketimbang fragmen. Perbedaan itu bahkan terpancar dari penampilan luar kami…… Wujudku yang menyerupai anak-anak ini juga merupakan dampak dari konsep pencarian itu sendiri.

"……Apakah begitu?"

Karena konsep pencarian membuat rasa ingin tahuku menjadi sangat kuat, sisi anak-anak dalam diriku jadi terpancar jauh lebih dominan.

……Konoe baru tahu tentang fakta itu. Memang benar, dulu dia sempat heran mengapa sosok Dewi Bunda malah berwujud seperti anak kecil.

Di saat Konoe sedang terkejut, sang Dewa sedikit menoleh ke belakang dan tertawa getir.

Alasan kenapa aku dan anak itu──si Instruktur──sampai nekat melakukan pemanggilan dari dunia lain juga karena konsepku adalah pencarian. ……Kalau tubuh utama atau fragmen lain yang memegang kendali, mereka pasti tidak akan pernah mau melakukannya.

Lagipula, bukankah ritual pemanggilan dunia lain itu memiliki terlalu banyak variabel yang tidak pasti? Ujar sang Dewa.

Tidak ada jaminan apakah kita bisa akur dengan manusia dari dunia lain yang dipanggil, ada kemungkinan kebudayaan mereka bertabrakan dengan kita, atau bahkan ada risiko sosok jahat yang malah terbebas ke dunia ini.

Tubuh utama pada dasarnya tidak pernah mencampuri urusan kami jadi beliau diam saja…… tapi fragmen lain yang berfaham konservatif benar-benar menentang keras ide ini. Mereka cemas bagaimana kalau tindakan ini malah melahirkan benih bencana baru yang tak bisa dikendalikan. Seperti membawa masuk benda-benda berbahaya ke dunia kita.

……Begitu rupanya. Jika dijelaskan seperti itu, beberapa hal berbahaya yang tak boleh dibawa masuk ke dunia ini langsung terlintas di kepala Konoe. Sehebat apa pun itu, memang ada beberapa teknologi yang sama sekali tidak boleh disentuh.

Meski begitu, aku merasa kita tetap membutuhkan teknologi baru. Kita tidak bisa terus mempertahankan status quo. Demi mengalahkan Dewa Kejahatan, kita harus terus melangkah ke depan. Lagipula……

Kalimat sang Dewa terhenti di sana. Tepat di saat deretan rak buku yang panjang itu berakhir, memperlihatkan sebuah dinding kokoh di hadapan mereka. Sebuah pintu terpasang di tengah dinding tersebut. Dari aliran mana di sekitarnya, Konoe baru menyadari bahwa jebakan rute pada rak buku tadi memang dibuat khusus untuk menyembunyikan pintu ini.

Di sini tempatnya. Kalau di sini…… pasti ada sesuatu yang tersisa.

Sang Dewa bergumam pelan dengan nada suara yang menyerupai doa. Beliau lalu memegang gagang pintu tersebut──.

◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇

Pada saat yang bersamaan. Di lantai teratas gedung penelitian, tepatnya di dalam ruangan sang Instruktur.

Melanjutkan tugas dari hari kemarin, sang Instruktur sedang bergelut dengan tumpukan pekerjaannya seorang diri dalam keheningan.

Meski belum menemukan jawaban atas sikap yang harus diambilnya terhadap Konoe, urusan pekerjaannya berjalan sangat lancar.

Dengan pena di satu tangan, beliau memeriksa lembar laporan penelitian dan mengevaluasi setiap pencapaian di dalamnya.

Tentu saja, beliau melakukan itu setelah memahami seluruh materi rumit tersebut secara sempurna.

Sang Instruktur tidak hanya seorang jenius dalam bertarung, namun otaknya pun berada di tingkat jenius.

Bahkan mesin mobil berdaya uap pun bisa dirakit ulang olehnya seorang diri jika beliau memang menginginkannya.

"…………"

……Selain itu, di tengah pekerjaannya, sang Instruktur tentu saja sadar betul saat Konoe melangkah masuk ke dalam kamar pribadi milik sang Dewa.

Namun beliau memilih untuk mengabaikannya──yah, kalau itu Konoe sih harusnya tidak masalah. Murid kesayanganku mana mungkin melakukan hal yang macam-macam pada sang Dewa, kan?

"──Hm?"

Tepat pada saat itu, sebuah lampu di sudut ruangan mendadak menyala terang. Itu adalah lampu panggilan.

Warnanya biru. Warna penanda bahwa ada tamu mendadak yang datang. Dan lagi, tamu itu bukanlah sosok yang bisa diabaikan begitu saja.

Penasaran dengan siapa yang datang, sang Instruktur bangkit berdiri dan melangkah menuju lantai satu.

Menyusuri koridor dan melangkah turun melewati tangga. Begitu beliau memunculkan dirinya di ruang administrasi gedung penelitian.

"……Ah, Instruktur-sama, orang ini……"

"Instruktur-sama, maafkan saya karena telah memanggil Anda secara mendadak seperti ini."

Dua sosok manusia berdiri di dalam ruang administrasi. Yang satu adalah staf administrasi gedung penelitian, sementara yang satunya lagi adalah pria yang tak pernah dilihatnya.

Namun, meski wajah pria itu terasa asing, lambang yang terpasang di bahunya sangatlah familier bagi sang Instruktur.

──Itu adalah lambang Negara Suci. Negara Suci.

Sama seperti Negara Dewa, wilayah itu merupakan salah satu dari sepuluh negara besar yang dipimpin oleh fragmen milik sang Dewa. Dan bagi sang Instruktur, negara itu memiliki arti tersendiri.

"Saya membawa barang yang dititipkan langsung oleh Sang Orang Suci."

"Dari Ceres?"

Sang Orang Suci. Sosok gadis berambut merah muda langsung terlintas di dalam benak sang Instruktur. Benar juga. Negara Suci adalah tempat di mana Sang Orang Suci berada.

Celestina. Sang Orang Suci Kelopak Gugur. Sosok yang berhasil menumbangkan Raja Iblis Pemakan Mimpi.

Seorang individu yang menduduki kursi Meja Bundar Ramalan, sekaligus sosok yang memegang posisi puncak akademi di Negara Suci.

Bagi sang Instruktur, gadis itu bisa dibilang sudah seperti adik perempuannya sendiri. Pertemuan terakhir mereka adalah saat beliau menerima ramalan kematian dari gadis itu.

Bagi sang Instruktur, ada banyak hal yang terasa menyusahkan dan merepotkan dari sosok gadis itu, namun dia tetaplah orang yang sangat bisa dipercaya.

Gadis seperti itulah yang kini mengirimkan paket barang kepadanya.

Kira-kira apa yang dikirimkannya? Sang Instruktur segera membuka paket tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah buku catatan tebal dan……

(……Cermin?)

Kening sang Instruktur berkerut heran. Sebuah cermin bulat berukuran sekitar tiga puluh sentimeter.

Itu bukan sekadar cermin biasa. Itu adalah cermin khusus yang digunakan oleh pengguna Origin Magic milik Negara Suci.

Menggunakan otoritas koneksi, cermin itu mampu menghubungkan dua cermin secara bersamaan untuk mengirimkan visual beserta suara secara langsung.

Jika di Negara Dewa, fungsinya mirip dengan lensa milik Melmina.

"……Humm."

Sang Instruktur meminta bantuan staf administrasi untuk meminjam ruangan kosong di dekat sana, lalu membawa masuk buku catatan beserta cermin tersebut.

Setelah ditinggalkan seorang diri, beliau mengalirkan mana miliknya ke dalam cermin.

──Kak Rena.

──Bayangan gadis berambut merah muda terpancar di permukaan cermin. Sang Orang Suci, Celestina, berada di sana.

 

Kakak, maafkan saya atas hubungan yang mendadak ini.

Cahaya berpendar di permukaan cermin, memperlihatkan wajah Sang Orang Suci dengan jelas.

 Di balik cermin sana, raut alisnya tampak menurun dengan ekspresi serba salah──dan dari raut wajahnya yang agak tegang itu, sang Instruktur yang sudah lama mengenalnya langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres.

Kontak mendadak seperti ini pasti menandakan telah terjadi sesuatu yang serius




.Kakak, sebenarnya tadi pagi, ada seorang manusia asal dunia lain yang bernaung di tempat saya menemukan sesuatu yang sedikit tidak biasa.

"……Sesuatu yang tidak biasa? Apa maksudmu buku panduan yang dikirim bersama cermin ini?"

Benar. ……Lebih tepatnya, saya sendiri tidak tahu apakah ini merupakan suatu kejanggalan atau bukan, tetapi karena memiliki firasat buruk, saya memutuskan untuk mengirimkannya kepada Kakak.

"……Begitu?"

Tidak tahu apakah ini suatu kejanggalan atau bukan? Sembari memiringkan kepalanya bingung mendengar perkataan Sang Orang Suci, sang Instruktur meraih buku panduan tersebut.

Buku itu dibuat sangat sederhana, hanya berupa tumpukan kertas yang dijilid menggunakan tali.

Kualitas kertasnya sudah memburuk dan warnanya pun telah menguning, membuat siapa saja bisa langsung tahu bahwa itu adalah barang tua hanya dalam sekali pandang.

"Judulnya…… 'Panduan untuk Manusia dari Dunia Lain'."

Apakah ini barang yang berhubungan dengan dunia lain? Sembari membatin, sang Instruktur menyapukan jarinya di atas buku lalu membukanya. Beliau kemudian membalik halaman demi halaman. Hal yang tertulis di dalam sana adalah……

"Apakah ini berisi perbandingan antara dunia ini dengan dunia lain──Jepang?"

Benar, sepertinya penulisnya adalah orang Jepang.

Tampaknya buku ini memang ditulis untuk membandingkan perbedaan apa saja yang ada di antara dunia ini dan Jepang.

Mulai dari kebudayaan, hukum, teknologi, hingga sihir. Selain itu, tertulis pula cara pandang terhadap agama serta keberadaan sosok dewa di dunia ini. Banyak hal lain yang juga dibahas di dalamnya.

Di sana juga tercantum hal-hal yang harus diperhatikan oleh manusia asal Bumi saat hidup di dunia ini, seperti peringatan untuk tidak mengumparkan sumpah kepada Dewa secara sembarangan karena melanggarnya akan mengakibatkan hilangnya pemberkahan. Penulis yang merupakan orang Jepang tersebut mencatat hal-hal yang telah dipelajarinya setelah tiba di dunia ini.

"……Humm."

Melihat isinya, sang Instruktur merasa buku ini seperti buku pelajaran yang diberikan kepada manusia asal dunia lain yang baru saja dipanggil.

Terutama pada bagian poin-poin peringatan, isinya sangat mirip dengan deskripsi yang ada di buku pelajaran yang pernah dibacanya dulu.

……Dengan kata lain, dari segi isi, sebenarnya tidak ada yang terlalu spesial atau langka dari buku ini.

Kakak. Ada dua hal utama yang membuat saya merasa janggal dengan buku panduan tersebut. Yang pertama adalah tanggal penyerahan yang tercantum di halaman pertama.

"……Tanggal penyerahan."

Sang Instruktur membalik halaman buku dan kembali ke bagian yang dimaksud. Di sana memang tertulis sebuah tanggal berukuran kecil.

"──? Tanggalnya…… seratus sepuluh tahun yang lalu?"

Kening sang Instruktur berkerut tajam. Di sana memang tertulis deretan angka dari seratus sepuluh tahun yang lalu.

Jika penulisnya adalah seorang Reincarnator, hal seperti ini jelas tidak mungkin terjadi. Sebab, pemanggilan dari dunia lain baru dimulai tiga puluh tahun yang lalu. Itu artinya, sosok yang menulis buku ini bukanlah manusia yang dipanggil lewat ritual tersebut.

……Kalau begitu, kemungkinan lainnya adalah……

"Humm, apakah dia seorang Lost One?"

────

──Lost One. Di dunia ini, terkadang ada manusia dari dunia lain yang terdampar tanpa melalui proses pemanggilan. Contohnya seperti sosok 'Aku' yang pernah terlibat dalam pembantaian Raja Iblis Abadi. Meski sangat langka, setidaknya ada satu orang yang ditemukan dalam kurun waktu seratus tahun. Karena itu, beliau menduga buku ini ditulis oleh seorang manusia dunia lain yang tersesat ke salah satu negara.

……Lho? Tiba-tiba sang Instruktur menyadari sesuatu. Mata Sang Orang Suci tampak membelalak lebar di balik cermin.

……Begitu, ya. Reaksi Kakak ternyata seperti itu. Kalau begitu ini memang benar-benar……

"……Ceres?"

Kakak. Tolong buka halaman terakhir. Itulah hal kedua yang membuat saya merasa janggal.

Sembari menyimpan keraguan atas sikap Sang Orang Suci, sang Instruktur membuka halaman buku tersebut sesuai dengan yang diperintahkan.

Lalu──beliau melihat stempel yang tertera di sana.

"……Eh? Stempel Gedung Penelitian Negara Dewa?"

Sang Instruktur menatapnya lekat-lekat. Cap yang tertera di sana memang benar-benar stempel resmi yang hanya dimiliki oleh sekretariat gedung penelitian Negara Dewa.

Sang Instruktur tidak mungkin salah mengenali cap ini.

Bagaimanapun juga, sebagai pemegang posisi puncak di gedung penelitian, beliau selalu menerima hasil penelitian yang dibubuhi cap ini saban hari selama beratus-ratus tahun.

Dengan kata lain, apa maknanya──buku panduan yang dibubuhi stempel ini merupakan hasil penelitian resmi dari gedung penelitian, dan sosok yang menuliskannya adalah seorang peneliti dari gedung penelitian itu sendiri.

……Namun jika demikian, muncul sebuah pertanyaan baru.

"Ini artinya, seratus sepuluh tahun yang lalu ada seorang Lost One di gedung penelitian Negara Dewa yang meneliti perbedaan antara Jepang dan dunia ini? ……Tapi, aku tidak pernah tahu ada orang seperti itu."

……Dugaanku ternyata benar. Aku juga tidak ingat pernah mendengar cerita tentang Lost One tersebut dari Kakak, makanya aku merasa ada yang aneh.

Sang Instruktur menopang dagunya dengan tangan sembari berpikir keras. Seratus sepuluh tahun yang lalu ada seorang Lost One di Negara Dewa? Apalagi di gedung penelitian?

Dalam ingatan sang Instruktur, beliau sama sekali tidak memiliki kenangan tentang hal itu. Dan hal seperti itu jelas tidak masuk akal.

Jika di area pemukiman warga sipil mungkin masih masuk akal, namun sangat mustahil ada seorang Lost One di dalam area akademi dan gedung penelitian tanpa ada laporan yang masuk kepadanya.

Saking tidak masuk akalnya, sampai-sampai terlintas kemungkinan bahwa stempel yang tertera di buku tersebut adalah barang palsu.

……Hanya saja, pemalsuan dokumen maupun stempel yang berhubungan dengan akademi merupakan kejahatan berat yang pelakunya bisa dihukum pancung karena berisiko mengancam nyawa orang banyak. Apakah buku ini memiliki nilai yang sepadan hingga seseorang rela mengambil risiko sebesar itu?

"…………"

Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Selain tidak memiliki ingatan tentang Lost One tersebut, beliau juga tidak mengenali dokumen penelitian ini sama sekali.

Selama beberapa ratus tahun terakhir, sang Instruktur selalu memeriksa seluruh hasil penelitian yang masuk. Jika itu terjadi seratus sepuluh tahun yang lalu, beliau pasti sudah memeriksanya tanpa terkecuali.

Sang Instruktur menatap dokumen itu lekat-lekat. Berharap ada sedikit saja bagian yang bisa diingatnya.

Namun, tetap saja tidak ada ingatan apa pun yang muncul──.

"────"

──Apakah benar?

──Apakah benar-benar tidak ada?

Pada saat itulah, sebuah perasaan ganjil muncul di dalam diri sang Instruktur. Sebuah rasa janggal yang sangat aneh. Perasaan itu mendadak hadir begitu saja, seolah penutup matanya baru saja disingkap.

Ada sesuatu yang tidak beres. Ada yang aneh. Rasanya ada sesuatu yang telah dilupakannya. Perasaan janggal yang seperti itu.

Beliau tidak tahu pasti apa hal itu. Beliau tidak tahu…… namun entah mengapa, pemandangan halaman tengah yang terletak di antara gedung akademi dan gedung penelitian mendadak terlintas di dalam benaknya.

Halaman tengah yang luas. Tempat yang ditanami banyak pohon dan dipenuhi bayangan rindang. Namun dari ruangannya, sang Instruktur bisa mengintip suasana di bawah sana.

──Benar juga. Dulu beliau pernah melihat seseorang di bawah sana.

……Namun, wujud dari sosok tersebut sama sekali tidak bisa diingatnya, tak peduli sekeras apa pun beliau mencoba.

"…………"

Aku telah melupakan seseorang yang menulis buku panduan ini. Sang Instruktur mulai menyadari kemungkinan tersebut.

Pada saat yang sama, beliau juga teringat dengan rapat laporan yang digelar kemarin──tentang fenomena hilangnya Bahasa Jepang.

Sama-sama berhubungan dengan Jepang. Beliau merasa segalanya saling terhubung kepada 'Seseorang'. Sang Instruktur memutar otak sembari terus berpikir……

(……Tapi, ini bisa jadi situasi yang buruk.)

Batinnya. Sang Instruktur mengkhawatirkan timing terungkapnya kejanggalan ini.

Kenyataan yang selama puluhan tahun tak pernah ditemukan, kini mendadak terkuak satu demi satu dalam waktu yang bersamaan.

Ada kemungkinan sesuatu yang besar akan segera terjadi. Namun, secara timing ini adalah saat yang paling buruk. Mengapa demikian?

(──Belum ada lima puluh hari berlalu sejak ramalan terakhir.)

Penglihatan masa depan milik Dewa Takdir yang diberikan setiap lima puluh hari sekali. Ramalan tentang takdir kematian yang dianugerahkan di wilayah keilahian.

Sejak ramalan terakhir diberikan, bahkan belum ada empat puluh hari yang berlalu.

Artinya, untuk sepuluh hari ke depan atau lebih, mereka tidak akan bisa memprediksi konspirasi apa yang sedang direncanakan oleh Dewa Kejahatan.

Sebab itulah, untuk saat ini tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Saking tidak tentunya situasi, sang Instruktur sampai harus menjaga kewaspadaan tinggi secara diam-diam sejak kembali dari dasar bumi.

Gara-gara itu pula beliau sampai belum bisa pulang ke rumah. ……Yah, walau kalaupun pulang, beliau mungkin bingung bagaimana harus bersikap di hadapan Konoe yang ada di kediaman.

(Bagaimanapun juga, penyebab dari kejanggalan ini harus segera diusut sampai tuntas.)

Agar bisa segera menyelidiki buku panduan ini, sang Instruktur memanggil seseorang menggunakan perkakas sihir.

Beliau mengatur panggilan untuk mendatangkan seseorang yang memiliki kemampuan tipe penyelidikan──lalu tiba-tiba, wewenang kekuasaan emas milik Konoe terlintas di benaknya.

(…………Tidak.)

Namun, sang Instruktur memutuskan untuk tidak memanggil Konoe kali ini, melainkan orang lain.

Alasan utamanya karena syarat aktivasi wewenang kekuasaan emas sangatlah sulit, dan beliau berpikir dalam situasi seperti ini tidak seharusnya mengurangi kekuatan personel tempur utama.

……Atau mungkin, nalurinya membisikkan bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk melibatkan Konoe.

Sang Instruktur akhirnya memanggil pengguna Origin Magic lain yang berpesialisasi dalam bidang penyelidikan.

Selain itu, beliau juga meminta bantuan Sang Orang Suci untuk ikut menyelidiki. Sebab buku panduan tersebut memang ditemukan di wilayah Negara Suci.

Untuk sementara, mereka akan menghubungkan cermin ke Negara Suci dan melangsungkan penyelidikan bersama, lalu mulai melakukan persiapan.

Sembari menunggu persiapan penyelidikan selesai, sang Instruktur sendiri kembali mengamati buku panduan di hadapannya. Beliau mengorek ingatannya, berharap ada hal lain yang bisa teringat.

──Tepat pada saat itulah.

Nuk, nuk!

"…………"

Sebuah suara yang sangat familier terdengar melintas di depan ruangan. Suara yang akhir-akhir ini sering terdengar di berbagai sudut akademi.

Di saat yang sama, bunyi roda troli yang berderit juga ikut terdengar. ……Anak itu benar-benar bekerja di banyak tempat, ya.

Tanpa mengucap sepatah kata pun, sang Instruktur berdiri dan melangkah menuju pintu.

"Maiko, bisa ikut denganku sebentar?"

"Nu!?"

Melangkah keluar ke koridor, beliau menarik Maiko masuk ke dalam ruangan. Jika ditanya mengapa, ini juga murni karena nalurinya.

Beliau merasa tindakan ini akan membawa dampak yang lebih baik. Sang Instruktur memang selalu memutuskan untuk mengikuti nalurinya di saat keputusan rasional sulit untuk diambil.

Sang Instruktur membawa Maiko masuk ke dalam ruangan dan mengenalkannya kepada Sang Orang Suci.

Sembari menjelaskan situasi saat ini secara garis besar kepada Maiko yang matanya berkedip-kedip bingung──sang Instruktur teringat bahwa kurun waktu seratus sepuluh tahun yang lalu adalah masa-masa di mana Raja Iblis Naga Langit Pertama muncul.

◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇

Tirai pertunjukan mulai terangkat.

Sembari memicu riak gelombang di berbagai tempat, tirai dari panggung kebohongan ini perlahan-lahan mulai tersingkap naik.

◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇

──Sementara itu, Konoe. Bersama dengan sang Dewa, dia menatap pintu di hadapannya. Pintu yang terletak di bagian dalam kamar pribadi, tersembunyi di balik kekangan batas rak buku.

Di sini tempatnya. Kalau di sini…… pasti ada sesuatu yang tersisa.

Sembari mengutarakan hal itu, sang Dewa mendorong pintunya. Suara decitan berat terdengar saat pintu itu perlahan terbuka lebar.

Hal yang membentang di balik pintu tersebut adalah……

"──Ini……"

Mata Konoe membelalak lebar. Pemandangan di balik pintu itu adalah sebuah area yang sama sekali berbeda dari ruang sebelumnya. Sebuah dimensi terpisah.

Area berbeda yang tak memiliki kesinambungan dengan ruangan luar. Tidak salah lagi.

Bagaimana tidak, hal ini sangat tidak masuk akal. Di dalam gedung akademi, tidak mungkin ada lubang vertikal sedalam ini.

Sebuah lubang vertikal raksasa membentang lurus ke bawah dalam wujud silinder.

Diameter lingkarannya mungkin mencapai puluhan meter.

Selain itu, di bagian dindingnya terpasang tangga yang melingkar dan menjalar turun ke bawah.

Dengan kata lain, ini adalah──

(──Tangga spiral.)

──Tangga yang teramat dalam, begitu dalam hingga seolah membentang tanpa batas.

Hal yang menampakkan wujudnya di balik pintu itu adalah sebuah tangga spiral yang sangat amat raksasa.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close