Chapter
2
Mimpi
1
Aku bermimpi. Sang Dewa sedang bermimpi.
Itu adalah sebuah mimpi yang sangat jauh.
Seolah betapa pun aku mengulurkan tangan, aku tak akan
pernah bisa menggapainya.
Meski berlari atau berteriak, aku tak bisa
menyentuhnya. Aku hanya bisa mengamatinya. Mimpi yang seperti itu.
Rasanya ada seseorang yang sedang tertawa. Rasanya
aku pun ikut tertawa.
Rasanya pernah ada sesuatu di sana. Rasanya sesuatu itu
telah sirna.
Samar, tak jelas, dan sulit digenggam.
Namun anehnya, ini adalah jenis mimpi yang membuatku
sadar bahwa aku telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
──Sisa-sisa masa lalu yang kini tak sanggup lagi kuingat.
Hal yang telah tersumbat dan tak lagi terlihat itu, entah
mengapa sang Dewa bisa melihatnya di dalam mimpi…… Tidak, justru karena di
dalam mimpilah dia sanggup melihatnya.
"──Aah."
Sang Dewa melihatnya. Di batas antara mimpi dan
kenyataan, terdapat serpihan putih yang terjatuh.
Warna yang melambangkan dirinya sendiri. Namun entah
mengapa, itu adalah warna yang sangat menyedihkan.
Benar. Suatu hari, di suatu tempat, sang Dewa pernah
mengulurkan tangan ke arah benda itu──.
◆
"────?"
Lalu, sang Dewa pun terbangun. Saat perlahan membuka
kelopak matanya, langit-langit yang tak asing menyambut pandangannya.
Di atas ranjang kamarnya sendiri. Dari jendela
terdekat, cahaya berwarna jingga menerobos masuk.
"…………"
Selama puluhan detik, dia hanya menatap
langit-langit…… Sebelum akhirnya bangkit dengan tubuh yang sedikit lesu dan
turun dari ranjang.
Ketika melangkah mendekati jendela dan melihat ke
luar, matahari mulai terbit dan langit pun perlahan terang.
Cahaya berwarna fajar membalut Kota Para Dewa. Sang
Dewa menatap pemandangan itu dengan kesadaran yang masih samar.
──Menetes.
"──Uh?"
Dengar suara tetesan air. Kemudian disusul tetesan
demi tetesan berikutnya.
Saat bertanya-tanta ada apa…… dia pun segera
menyadarinya.
Begitu menempelkan
tangan ke area matanya, ada rasa basah yang tersentuh.
Sensasi basah itu mengalir di pipinya satu demi satu,
lalu menetes jatuh ke lantai. Itu adalah.
"……Ah, benar juga. Mimpi itu."
Rasanya aku baru saja memimpikan hal yang menyedihkan.
Rasanya aku baru melihat sesuatu yang membuatku ingin
menangis.
Sesuatu yang telah hilang. Sesuatu yang tak tergapai.
Sebuah serpihan dari sesuatu.
──Ah, sebenarnya itu mimpi tentang apa, ya?
Aku ingin mengetahuinya, tetapi mimpi selalu lenyap
seiring terciptanya kesadaran saat terbangun. Aku tak bisa mengingatnya lagi.
Sang Dewa memikirkan sisa-sisa rasa sakit yang
berdenyut samar di dadanya──dan hanya bisa menatap langit di batas antara malam
dan pagi.
◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇
Keesokan harinya, sehari setelah rapat laporan
fenomena hilangnya bahasa Jepang dan kunjungan ke gedung penelitian.
Konoe kembali meninggalkan kediaman bersama Telnerica
sejak pagi hari.
Hari ini pun sama seperti kemarin, mereka melewati
kawasan pemukiman lalu keluar menuju jalan utama.
Cuaca sangat cerah. Lalu lalang orang-orang begitu ramai,
dan suara para pedagang yang menjajakan dagangannya terdengar dari berbagai
arah.
Konoe melangkah menyusuri jalanan yang hidup itu bersama
Telnerica. ……Dan, agenda yang ada di hadapan mereka hari ini
adalah.
(……Pesta wanita, ya?)
Konoe bergumam di dalam hatinya. Benar,
hari ini Telnerica, Melmina, dan Fonia kabarnya akan mengadakan pesta wanita.
Mereka bertiga akan berkumpul di Perusahaan milik Melmina
untuk membicarakan sesuatu.
(……Kira-kira mereka bakal ngobrolin apa, ya?)
Konoe sempat terpikir hal itu…… tetapi dia segera
mengoreksi pikirannya sendiri, menyadari bahwa tak seharusnya seorang laki-laki
ikut campur dalam urusan pesta wanita.
Sambil menggaruk kepala, dia melirik ke samping dan
melihat Telnerica berjalan dengan ekspresi seperti biasanya.
Tepat menatap lurus ke depan, dan saat sadar Konoe
sedang memandanginya, gadis itu tersenyum tipis sambil memiringkan kepalanya.
Konoe bingung harus mengucapkan apa padanya…… hingga
beberapa detik kemudian, dia kembali menatap ke depan sambil bilang tidak ada
apa-apa. Keduanya pun lanjut berjalan……
……
……
……
Beberapa menit kemudian. Konoe dan Telnerica tiba di
Perusahaan Melmina.
Begitu menyapa pegawai di pintu masuk, mereka langsung
diantar menuju area dalam.
"Selamat pagi, Konoe, Telnerica."
"……Selamat pagi, kalian berdua."
Saat sampai di ruangan lantai teratas, Melmina dan Fonia
langsung menyambut mereka dengan sapaan.
Konoe dan Telnerica membalas sapaan itu lalu melangkah
masuk ke dalam ruangan…… Di sini, Telnerica berpisah dari sisi Konoe dan
berjalan menuju arah Melmina serta Fonia.
Begitu sampai di dekat mereka berdua, dia berbalik dan
berkata sambil tersenyum lebar, terima kasih banyak karena sudah mengantarku.
Di sampingnya, Melmina dan Fonia pun ikut tersenyum lebar
dengan cara yang sama.
Konoe merasakan atmosfer yang sedikit berbeda dari
biasanya pada mereka…… Namun karena mereka tertawa, dia berpikir mungkin ini
bukan hal yang perlu terlalu dipusingkan.
"……Uh, ya sudah kalau begitu, Telnerica. Sore nanti
aku jemput, ya."
"Baik. Tuan Konoe, saya serahkan kepada Anda."
Karena itu, setelah menentukan waktu penjemputan, Konoe
meninggalkan ruangan dan langsung keluar dari Perusahaan Melmina.
Begitu keluar ke jalan besar, dia berpikir apa yang
sebaiknya dia lakukan hari ini.
……Karena tak ada rencana khusus, dia mulai berjalan
sambil berpikir untuk pergi ke Akademi saja.
◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇
Setelah Konoe pergi meninggalkan ruangan.
Masih dengan senyuman di wajahnya, Melmina mendekati
jendela dan memperhatikan Konoe yang membelakangi gedung Perusahaan untuk
berjalan menuju jalan besar.
Dia menatap lekat-lekat sosok itu yang perlahan
menghilang di balik tikungan jalan di antara lautan manusia.
"…………"
"…………"
"…………"
Tepat di saat punggung Konoe tak lagi terlihat, senyuman
itu menyapu bersih dari wajahnya.
Senyum itu cuma pura-pura karena ada Konoe di dekatnya.
Saat melirik ke samping, senyuman Telnerica dan Fonia pun ikut sirna.
Bertiga dengan wajah datar, mereka bergerak seolah-olah
sudah berjanji sebelumnya menuju ke arah kursi.
Meja bulat kecil yang dikelilingi oleh mereka bertiga. Jarak masing-masing tak sampai satu meter. Fonia duduk lebih dulu di
kursi, disusul oleh Telnerica.
Hanya Melmina yang tak langsung duduk; sebagai tuan
rumah, dia mengambil teko teh, menuangkannya ke dalam cangkir, dan
meletakkannya di hadapan semua orang.
"Terima kasih, Melmina."
"Terima kasih, Kakak."
"……Jangan panggil aku Kakak."
Di tengah atmosfer yang berat, Fonia memanggilnya Kakak
seperti biasa, dan Melmina pun membalasnya untuk berhenti seperti biasa.
……Meski interaksi ini sudah diulang berkali-kali,
atmosfer di antara mereka tak menjadi ringan sedikit pun. Setelah selesai
membagikan teh, Melmina pun duduk di kursinya.
"……Kalau begitu, mari kita mulai pesta
wanitanya."
Melmina mendeklarasikan hal itu, lalu menatap Telnerica
dan Fonia secara berurutan. Dua orang yang dipanggil oleh Melmina hari ini.
Telnerica membenarkan posisinya dengan ekspresi kaku.
Sementara Fonia duduk dengan wajah yang sedikit melamun.
Di hadapan mereka berdua, Melmina mengambil cangkir teh
di tangannya. Dia meminumnya seteguk untuk membasahi tenggorokannya.
"──Ini memang mendadak, tapi aku berencana untuk
menyatakan cintaku pada Konoe."
2
Itu adalah sebuah deklarasi dari Melmina yang bisa
dikatakan sangat sepihak.
──Pernyataan bahwa dia berniat mengutarakan perasaannya.
Bukan meminta pendapat dari mereka berdua, melainkan
sebuah pernyataan keputusan bahwa dia pasti akan melakukannya.
Sebagai topik pembuka kumpul-kumpul ini, mungkin itu
adalah sebuah deklarasi yang sangat mengejutkan.
"……"
"……"
……Namun, dua gadis berambut emas dan biru itu tidak
terkejut. Mereka hanya mengembalikan pandangan ke arah Melmina dengan tenang.
Sejak awal pesta wanita ini diadakan, mereka mungkin
sudah paham apa yang ingin disampaikan.
Melmina tahu betul. Dua orang yang ada di tempat ini
sangat cerdas, walau dengan arah yang berbeda.
Karena itulah, sebagaimana Melmina yang memanggil mereka
dengan penuh keberanian, mereka berdua pun duduk di tempat ini dengan
keberanian yang sama.
Keheningan melingkupi ruangan itu untuk beberapa saat──.
"……Hei, Melmina."
"Ada apa, Fonia?"
Yang pertama kali membuka suara adalah Fonia. Kali ini,
dia tidak memanggilnya Kakak.
Lalu, setelah jeda satu ketukan, dia kembali bersuara.
"Boleh aku tanya kenapa?"
Kenapa. Kenapa dia mendadak memutuskan untuk menyatakan
cintanya, itulah maksudnya.
……Alasannya adalah.
"Fonia, gara-gara insiden Instruktur kemarin,
aku jadi menyesal."
Instruktur yang berubah menjadi wujud kecil akibat
ulah Dewa Kejahatan. Surat wasiat yang ditulisnya, serta perjalanan nekat
menuju kedalaman labirin.
Di dasar bumi yang mereka capai, ada Tika yang tak bisa
kembali ke wujud semula dan gelombang bencana yang mendekat.
──Benar. Hari itu, Melmina merasa sangat menyesal.
Di saat akhir dari segalanya sudah berada di depan mata,
dia meratap. Kalau saja akhirnya harus mati, harusnya dia menyatakan
perasaannya sejak awal.
Dia tak ingin mati tanpa sempat menyampaikannya. Ada
penyesalan yang tersisa. Dia ingin menjadi kekasihnya.
Kemudian, kalau dilihat dari hasil akhirnya, Instruktur
berhasil kembali seperti semula dan selamat. Namun.
"Aku tak mau menyesal lagi. Kalaupun harus mati, aku
ingin mati dengan dada membusung tegak bahwa aku telah hidup sekuat tenaga.
Makanya, aku akan menyatakan cintaku pada Konoe."
"……Begitu, ya."
Mendengar ucapan Melmina, Fonia memejamkan mata dan
mengangguk.
Di sampingnya, Telnerica pun ikut mengangguk pelan.
──Dengan kata lain, ini artinya mengakhiri hubungan
mereka yang sekarang.
Daripada tiga wanita yang menyukai Konoe berkumpul
seperti ini tanpa menyatakan cinta, tak bisa jadi kekasih, dan cuma membuang
waktu tanpa kepastian, lebih baik memperjelas semuanya.
Menyatakan cinta dengan benar dan membangun hubungan
yang baru.
……Meskipun hasil akhirnya nanti akan mengubah
hubungan antara Konoe dan ketiga orang di tempat ini menjadi seperti apa,
mereka belum mengetahuinya.
"……Hei, Telnerica."
"……Ya, Melmina."
Melmina memanggil Telnerica yang berada di seberang
meja. Telnerica pun memanggil nama Melmina.
Kalau dipikir-pikir, awal dari situasi saat ini adalah
gadis berambut emas yang duduk di hadapannya ini.
Jika tidak ada dia, Melmina pasti sudah sejak lama
menyatakan cintanya pada Konoe.
Walau pengalaman cinta Melmina cuma sebatas pada Konoe,
dia sudah tak terhitung berapa kali mengambil langkah maju bersama keberanian
saat dibutuhkan.
Dia harusnya sanggup menekan rasa takutnya dan melangkah
ke depan.
Namun, alasan kenapa situasi abu-abu ini terus berlanjut
adalah karena ada Telnerica di sisi Konoe.
Karena adanya hubungan antara Konoe dan Telnerica, dia
tak bisa menyatakan cintanya.
……Yah, walau begitu, kalau Konoe dan Telnerica sudah
resmi berpacaran, mungkin akan ada banyak hal yang bergerak, tetapi tampaknya
situasinya tidak seperti itu.
(Tapi kalau dipikir-pikir, aneh juga ya. Kenapa Telnerica
nggak menyatakan cintanya?)
Melmina merasa heran. Hubungan antara Telnerica dan Konoe
sangatlah misterius.
Mereka tinggal bersama. Bahkan berkah berupa Unique
Magic yang cuma ada satu-satunya pun telah dia serahkan.
Namun kalau ditanya apakah mereka berpacaran, kabarnya
belum ada pernyataan cinta yang resmi.
Kenapa bisa begitu, Melmina yang bukan Telnerica tentu
tak paham.
Kalaupun harus menebak…… apakah karena dia tak memiliki
kekuatan?
Keputusannya beberapa hari lalu untuk membidik gelar
Adept bersama kakaknya, Nel, apakah itu juga alasannya?
Orang yang tak memiliki kekuatan bahkan tak bisa
melindungi dirinya sendiri.
Di dalam dunia yang kejam ini, terkadang manusia bisa
mati dengan sangat mudah.
Dan jika mereka berpacaran lalu dia mati setelahnya,
Konoe akan ditinggalkan sendirian.
……Ah, benar juga. Dia tahu.
Belum ada satu tahun sejak Telnerica terkena penyakit
mematikan akibat wabah labirin di kampung halamannya dan nyaris tewas.
"…………"
"…………"
Melmina menatap lekat ke arah Telnerica. Telnerica pun
balik menatap Melmina. Pasti ada emosi rumit yang saling berseliweran di antara
mereka.
Sebab, Telnerica berada lebih dekat dengan Konoe
dibanding siapa pun.
Di sisi lain, Melmina memiliki kekuatan yang cukup untuk
berjalan berdampingan dengan Konoe.
Pasti mereka berdua memiliki hal yang sangat diinginkan
oleh satu sama lain. Kalau diingat-ingat, saat pertama kali bertemu pun dia
memikirkan hal yang mirip.
(……Kita ini sedikit mirip, ya.)
Melmina bukannya benci pada Telnerica. Malah, dia cukup
menyukainya.
Mereka cocok, dan jika bukan karena status sebagai
saingan cinta, mereka pasti bisa jadi teman seumur hidup.
……Namun karena saingan cinta, bukannya berdiri
berdampingan, mereka justru saling berhadapan.
──Melmina berpikir. Mulai sekarang dia akan menyatakan
cintanya pada Konoe.
Kalau sudah begitu, Telnerica pun pasti akan menyatakan
cintanya dalam waktu dekat. Karena jika tidak melakukan apa-apa, Melmina
mungkin akan memonopoli Konoe sendirian.
Lagipula, fakta bahwa persiapan untuk menantang latihan
Adept sudah selesai beberapa hari lalu juga berdampak besar. Mulai sekarang dia
pasti akan jadi lebih kuat.
"Melmina."
"Apa?"
Tiba-tiba, Telnerica membuka suara. Lalu.
"Aku juga akan menyatakan cintaku pada Tuan
Konoe."
"Begitu, ya."
Sudah kuduga. Mereka saling menatap. Kedua gadis itu
hanya saling menatap lekat. Menatap mata lawan yang baru saja mengibarkan
bendera perang.
──Sekali lagi, Melmina tak tahu bagaimana hasil dari
pernyataan cinta itu nantinya.
Bentuk akhir dari hubungan di sekitar Konoe akan menjadi
seperti apa, dia tak tahu. ……Mungkin saja akan jadi harem.
Namun apa pun yang terjadi, dia merasa akan terus
memiliki ganjalan emosi seumur hidup dengan gadis di hadapannya ini.
"……Kalian berdua ternyata begitu, ya. Hei,
terus Melmina. Kapan kamu mau menyatakan cintanya?"
"Segera."
Pertanyaan dari Fonia meluncur dari samping, dan Melmina
langsung menjawabnya tanpa ragu. Kalau bisa, bahkan setelah ini pun dia siap.
Dia tak tahu Konoe pergi ke mana, tetapi dia sudah siap
untuk mencarinya dan menyatakan cintanya.
Saat dia menyampaikan hal semacam itu…… Fonia mendadak tersenyum manis. Lalu berkata.
"Gitu, ya. Syukurlah. Soalnya hari ini aku juga
nggak ada acara."
"……?"
"Kalau gitu ayo pergi sekarang. Dia pasti masih ada
di sekitar sini."
"…………??"
……Gimana? Melmina memiringkan kepalanya.
……Fonia ini baru saja ngomong apa?
……Aku juga nggak ada acara?
……Ayo pergi sekarang?
Karena tidak paham, Melmina mencerna kata-kata Fonia
dalam kepalanya. Memahaminya perlahan.
Tidak, maksudnya, walau dia berharap ini salah, tapi
perkataan itu terdengar seperti.
"Maksudmu…… kamu mau ikut saat aku menyatakan cinta,
begitu……?"
"Eh, iya, mau ikut. Ayo barengan?"
Fonia mengangguk seolah itu hal yang sangat wajar. Dia
bahkan berdiri sambil merapikan pakaiannya.
Oh, jadi dia benar-benar berniat ikut. Begitu,
ya. Begitu.
Melmina menarik napas dalam-dalam. Lalu.
"──KENAPA BEGITU, SIH!!!!"
──Dia berteriak. Benar-benar
sekuat tenaga.
Tidak, aneh banget, kan? Kenapa
saingan cinta malah mau ikut waktu orang lain mau menyatakan cinta?
"……? Kenapa gimana, soalnya aku juga mau menyatakan
cinta, kan? Ayo kita menyatakan cinta barengan?"
"Jelas-jelas aku nggak mau, lah!?"
Melmina menolaknya sekuat tenaga lagi. Kebodohan apa
sampai harus menyatakan cinta bareng orang lain. Ini penembakan cinta, lho.
Peristiwa besar dalam hidup. Harus dilakukan sendirian, dong.
Namun melihat Melmina yang seperti itu, Fonia memasang
wajah sedikit tidak puas. Apaan. Mau ngomong apa lagi dia.
"Tapi kan ini ujung-ujungnya harem. Menurutku bakal
lebih nggak ribet kalau kita barengan."
"……Nggak, kamu ini ya."
"Aku nggak mau ada pertengkaran. Ayo kita akur. Aku
mau akur sama Kakak-kakak sekalian."
Jangan panggil aku Kakak, balas Melmina secara
refleks──sambil memikirkan arti kata 'pertengkaran' yang diucapkan Fonia.
Yah, tergantung urutan dan situasinya, hal itu memang
bisa saja terjadi. Namun bagi Melmina, walau harus bertengkar pun, dia tetap
ingin menyatakan cintanya sendirian.
……Namun di saat itu, Fonia kembali bersuara.
"Kita ini bukannya bertengkar, tapi harusnya
bersatu. Melmina juga sadar, kan?"
"……Sadar apa?"
"Selain yang ada di sini, masih ada satu orang lagi
yang sangat menyukai Konoe."
"────"
──Hal itu. ……Kalau bilang tak tahu, itu bohong namanya.
Bayangan sosok berwarna perak melintas di benak Melmina.
Instruktur. Guru dari Konoe, Melmina, dan Fonia.
Memang benar, Melmina sudah menyadarinya. Bahwa
Instruktur telah jatuh cinta pada Konoe.
Dilihat saja sudah kelihatan. Wajah luarnya memang
ditutupi, tetapi matanya tak bisa berbohong.
Malah, yang berada di dekatnya dan belum sadar
mungkin cuma Konoe seorang sebagai pihak yang bersangkutan. Saking jelasnya
tingkah sang Instruktur.
Malah sejak beberapa waktu lalu, di lingkungan
Akademi sudah cukup heboh membicarakan soal Instruktur itu.
……Apalagi baru beberapa hari lalu ada pengumuman
bahwa perjodohan tahun depan dibatalkan, membuat dugaan itu tak diragukan lagi.
"Hei, Melmina. Kalau sama aku atau Telnerica,
mau bertengkar atau sampai ke tahap mana pun, skenario terburuknya mungkin kamu
masih bisa mengatasi."
"…………"
"Tapi kalau bertengkar sama Instruktur, aku
pikir kita nggak akan menang."
……Hal itu, memang benar. Perkataan Fonia tidak salah.
Tak akan menang. Mana mungkin bisa menang.
Kalau sampai terjadi peperangan, jangankan kekuatan
tempur, dari segi kekuasaan maupun kekayaan pun tak akan sanggup menang.
Ditambah lagi, Melmina tahu. Walau tidak sampai
terjadi perang pun──Konoe itu, tidak, Konoe juga sangat menyukai Instruktur.
Melmina tahu hal itu. Karena dialah yang berlatih
paling dekat di sisi Konoe.
Tentu saja, ucapan menyukai itu bukan dalam arti
perasaan romantis. Mungkin sebatas rasa hormat.
Namun tak diragukan lagi ada rasa suka yang mendalam
tersimpan di sana.
Ikatan antara Konoe dan Instruktur terjalin ke arah
yang sedikit unik, sehingga sulit menebak bagaimana hubungan mereka ke
depannya.
……Lagipula, dilihat dari sudut pandang sesama wanita
pun, Instruktur itu cantiknya sampai bikin terpesona.
"Kalau kita sibuk bertengkar, bisa-bisa
Instruktur mengambil semuanya dari samping."
"…………………………"
"Makanya, ayo kita menyatakan cinta barengan,
bikin harem yang rukun, terus jadi keluarga. Kalau begitu, kalau terjadi hal
buruk, kita bertiga bisa bersatu."
Fonia tersenyum manis. Padahal perkataannya sangat
tidak masuk akal, tetapi bagian alasannya yang logis justru membuat Melmina
kesal.
Senyumannya tampak begitu bersinar, dan emosi yang
kembali seiring pemulihan jiwanya justru terasa sangat menyebalkan khusus untuk
saat ini.
Sambil menahan rasa ingin decak kesal, Melmina
melirik ke samping. Telnerica pun memasang wajah tidak suka.
Namun, ada sedikit raut kepasrahan di sana. Ekspresi
dengan berbagai emosi yang bercampur aduk.
Apakah itu hasil dari membenarkan perkataan Fonia?
……Maksudnya, jangan-jangan aku juga memasang wajah
seperti itu sekarang?
"…………gh."
Nggak mau. Dia benar-benar tak sudi. Namun, Melmina
mulai berpikir.
Dia galau di antara jurang perbedaan kekuatan dengan
sang Instruktur dan perasaan gadis mudanya──.
◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇
──Demikianlah, waktu ketiganya terus berlalu.
Instruktur. Pahlawan terkuat yang sebenarnya
merupakan satu dari tiga wanita tercantik di dunia.
Seberapa pun beliau sedang memegang kepala di dalam
kamarnya sendiri, keberadaannya memberikan dampak yang sangat besar bagi ketiga
gadis di pesta wanita ini.
3
Sementara di waktu yang sama. Konoe yang telah
meninggalkan Perusahaan Melmina tiba di Akademi seorang diri.
Bukan karena ada tujuan khusus, bukan pula karena ada
pekerjaan. Hanya saja dia tak punya hal lain untuk dilakukan.
Bagi Konoe, Akademi adalah tempat di mana dia
menghabiskan waktu selama dua puluh lima tahun.
Tempat yang paling familier melebihi apa pun. Bisa
dikatakan tempat yang menenangkan. Makanya, kalau sedang senggang, dia punya
kebiasaan untuk datang ke Akademi.
……Yah, kalau mengingat kembali latihan neraka di sana,
Konoe sendiri agak heran dengan pikirannya.
Namun Konoe adalah tipe orang yang lebih memprioritaskan
rasa terbiasa ketimbang kenyamanan murni.
Bagaimanapun juga, karena alasan itulah Konoe berjalan
bolak-balik di depan kantor administrasi.
Sambil berpikir apakah harus berlatih atau mencari
pekerjaan saja, dia melihat papan pengumuman status penggunaan area latihan……
dan sialnya semuanya sudah penuh.
Kalau begitu cari pekerjaan saja, pikirnya sambil
bergeser ke papan pengumuman lembar permintaan tugas.
Di sana terpampang
tugas-tugas seperti pengumpulan bahan yang tidak mendesak, tetapi di masa depan
harus ada yang menyelesaikannya.
Karena tak ada sifat darurat, imbalannya memang sedikit,
tetapi jumlahnya banyak sehingga keuntungannya adalah bisa memilih sesuka hati
sebagai tugas rutin.
Konoe memeriksa apakah ada tugas yang bisa selesai dalam
sehari……
"……?"
……Dan, kejadian itu. Terjadi saat Konoe sedang melihat
lembar tugas pembasmian monster.
Konoe merasa aneh. Tadi, di sudut penglihatannya, tampak
bayangan putih melintas.
Siapa pemilik bayangan itu, tak perlu berpikir panjang
pun dia langsung tahu. Dewa.
Di tangga ujung koridor. Setelah turun dari atas,
bayangan itu langsung masuk ke jalan samping. Langkahnya pun terburu-buru.
Sang Dewa mengenakan atasan yang tak biasa
dilihat──sebuah jubah pendek?──dan itu sangat berkesan.
……Apakah terjadi sesuatu? Konoe berpikir. Ya tentu saja,
sang Dewa yang berjalan di dalam Akademi bukanlah hal yang aneh. Tidak aneh,
tapi……
……Ada sedikit rasa ganjal. Entah kenapa, suasana sang
Dewa terasa berbeda dari biasanya.
"…………"
Lama-kelamaan Konoe mulai memikirkan sang Dewa. Dia
berpikir untuk pergi mengecek keadaannya.
Itu adalah pilihan yang tak akan pernah terlintas di
kepala Konoe yang biasanya. Pergi melihat keadaan orang lain tanpa ada urusan
adalah hal yang tak akan pernah dia lakukan.
Namun, tetap saja. Suasana sang Dewa tadi terasa sangat
mengganjal di hatinya.
(……Coba aku lihat saja, ya?)
Setelah sedikit ragu, Konoe melangkahkan kakinya menuju
lorong tempat sang Dewa menghilang. Jika yang ada di sana adalah Dewa seperti
biasanya, dia tinggal minta maaf karena telah membuntutinya.
Konoe mulai menyusuri koridor.
Hawa keberadaan sang Dewa yang sempat dia pikirkan
ternyata berhenti, dan kini berada di taman tengah antara gedung Akademi dan
gedung penelitian.
Dia berjalan ke arah sana, membelok di beberapa sudut,
hingga tiba di depan pintu belakang.
Sambil berpikir apa yang harus diucapkan saat menyusul
sang Dewa, dia mendorong pintu itu hingga terbuka.
"……?"
──Dan, Konoe pun melihatnya. Sang Dewa berada tepat
di luar pintu belakang.
Melangkah beberapa pijakan ke taman tengah, di area
yang tertutup bayangan pohon. Di sana.
"……Eh?"
"──"
──Mata yang terbuka lebar, dan tetesan air yang
meluap.
──Di hadapan Konoe, ada sang Dewa yang sedang
meneteskan air mata.
◆
……De, wa?
Taman tengah di antara gedung Akademi dan gedung
penelitian. Di balik bayangan pohon, sang Dewa sedang menangis.
Sang Dewa membuka matanya lebar-lebardengan air mata
yang menetes berderai-derai.
Konoe mengucek matanya karena ragu, tetapi mana
mungkin dia salah mengenali sang Dewa.
Sang Dewa. Sosok bertatap sayap putih yang merupakan
perwujudan keindahan di dunia ini.
Sosok yang selalu memperhatikannya selama ini. Mana mungkin Konoe salah mengenali sosok beliau.
"…………De, Dewa?"
"……Ah."
"……A, Ada apa? Apakah Anda baik-baik saja?"
Konoe panik dan bergegas mendekat. Selama dua puluh
lima tahun ini, Konoe tak pernah melihat sang Dewa menangis seperti ini. Sang
Dewa selalu tersenyum dengan lembut.
Kemarin saat pulang pun beliau melambaikan tangan dengan
senyuman, lantas kenapa. Apa yang sebenarnya terjadi.
Sempat terlintas di pikirannya apakah ini serangan musuh,
tetapi ini di dalam Akademi.
Tempat yang dipasangi penghalang anti-Dewa Kejahatan dan
anti-monster.
Lagipula kalau terjadi sesuatu, Instruktur sebagai
pengawalnya tak mungkin tidak ada di sampingnya.
Karena itulah dia tak paham kenapa beliau menangis,
tetapi jelas tak bisa dibiarkan begitu saja. Konoe
berlari mendekat dan memanggil sang Dewa. ……Namun.
"……Dewa?"
"……Ah, eh? Kono, e?"
"……Eh?"
Sang Dewa hanya memanggil nama Konoe dengan wajah yang
tampak linglung.
Tidak bilang baik-baik saja maupun tidak, beliau
membuka matanya lebar-lebar dan menatap Konoe dengan air mata yang menggenang.
Beliau mengedipkan mata beberapa kali, dan setiap kali
dilakukan, tetesan air mata berukuran besar jatuh dari sudut matanya dan
mengalir di pipinya.
"…………Konoe?"
"……?? Um. Ya. Ada apa?"
"…………"
Saat namanya dipanggil sekali lagi, Konoe membalasnya.
Namun, sang Dewa kembali tertegun linglung.
Begitu saja, waktu dalam keheningan berlalu……
"……Eh, lho? ……Eh?"
"……Dewa?"
"……Etto……?"
Lalu, mendadak sang Dewa mengedipkan matanya
berkali-kali.
Dengan gestur bingung, beliau melihat ke kanan, lalu
melihat ke kiri.
Seperti orang yang tak paham apa yang sedang terjadi.
Beliau menyentuh pipinya sendiri dengan tangan,
melihat ujung jarinya yang basah──lalu menatap Konoe.
"…………Ah……!"
──Di saat itulah, rona wajah sang Dewa kembali.
Seolah-olah kesadarannya telah pulih sepenuhnya.
"……Ah…… itu, ini"
"……?"
"Ini, bu, bukan begitu!"
Dengan panik sang Dewa menutupi wajahnya dan menyapu
air mata menggunakan lengan bajunya. Sebuah gerakan kasar yang sangat tidak
mencerminkan sosok Dewa.
Lalu setelah melihat lengannya yang basah, beliau
membelakangi Konoe. Beliau melakukan sesuatu di sana.
……Tak lama kemudian, beliau berbalik perlahan.
"Ehehe. Kenapa aku menangis, ya?"
"……"
"Aku baik-baik saja. Tidak ada apa-apa, kok."
Sang Dewa yang berbalik sudah merapikan penampilannya,
tersenyum seolah kejadian tadi hanyalah kebohongan belaka.
Aku baik-baik saja kok, ucapnya sambil tersenyum manis
dan memiringkan kepala.
Bekas air mata di pipinya pun telah hilang, menampilkan
senyuman yang tak berbeda dari biasanya. Senyuman Dewa yang indah dan lembut,
yang telah dilihat Konoe selama dua puluh lima tahun.
"……Dewa."
Namun, justru karena senyuman itu tak ada bedanya dari
biasa. Konoe sanggup menyadari bahwa kata-kata sang Dewa adalah kebohongan.
Karena beliau tersenyum seperti biasa, Konoe yang lamban
ini pun bisa paham. Bahwa sang Dewa saat ini sedang memaksakan diri. Sang Dewa
sedang berpura-pura dengan paksa.
Makanya, Konoe menjadi cemas…… tetapi tetap saja, Konoe
tak tahu harus mengatakannya bagaimana. Dia
hanya bisa menatap sang Dewa lekat-lekat.
"Konoe, jangan memasang wajah seperti itu. Aku
sehat dan baik-baik saja, kok."
"……"
"Maksudku, aku beneran baik-baik saja. Cuma
mimpi buruk sedikit saja, kok."
"……Mimpi?"
Sang Dewa bercerita. Bahwa tadi pagi beliau memimpikan
hal yang aneh.
Isi mimpinya tak ingat, tetapi itu adalah jenis mimpi
yang membuat air mata menetes setelah terbangun.
Ada rasa kehilangan seolah telah merelakan sesuatu yang
berharga, dan perasaan itu masih tersisa sedikit meski sudah berlalu beberapa
jam, membuatnya merasa ganjal.
Makanya, saat keluar ke taman tengah untuk jalan-jalan
menyegarkan pikiran.
"……Tahu-tahu air mata meluap keluar gitu saja. Mendadak banget sampai bikin kaget."
"…………"
"Cuma karena itu kok, jadi tidak apa-apa. ……Ehehe,
menangis berkali-kali cuma gara-gara mimpi sedih itu seperti anak kecil,
ya?"
Bukan karena ada situasi darurat, melainkan hanya
menangis karena mimpinya sedih.
Sang Dewa berkata demikian sambil menggaruk pipinya
dengan malu-malu.
Lalu, beliau menundukkan alisnya seolah bilang, aduh maaf
ya sudah menunjukkan sisi yang agak memalukan.
……Konoe memikirkan kata-kata sang Dewa itu sejenak.
"──Tidak."
"……?"
"……Tidak, hal itu tidak benar."
Konoe membantah. Dia menggelengkan kepalanya
perlahan. Dia tak berpikir itu hal yang memalukan.
……Sebab, Konoe tahu betul.
Dia tahu rasanya mimpi yang selalu menyakitkan, menyiksa,
dan membuat ingin menangis.
Dia sudah melihatnya berkali-kali. Luka masa lalu yang
digali kembali, diperlihatkan pada hal yang telah hilang.
Luka yang seharusnya sudah sembuh kembali memuntahkan
darah, terasa berdenyut sakit seperti bernanah selamanya.
Karena Konoe tahu rasa sakit dari mimpi sedih semacam
itu.
Makanya, itu sama sekali tidak memalukan.
Setidaknya Konoe tak akan pernah berpikir begitu.
"……Begitu, ya."
"……Ya."
Sang Dewa bergumam pelan mendengar penjelasan Konoe,
lalu menundukkan pandangannya.
Hanya sedikit, sang Dewa memasang raut wajah seperti
menangis sambil tersenyum.
"…………"
"…………"
……Demikianlah. Konoe dan sang Dewa menghabiskan waktu
bersama untuk sejenak.
Tanpa membuka suara, hanya saling berdampingan. Pintu
belakang Akademi yang jarang digunakan orang.
Tak ada tanda-tanda keberadaan orang di sekitar,
hanya suara angin yang bertiup melewati tempat itu yang bergema.
……Sang Dewa tidak tersenyum, melainkan menatap taman
di antara gedung Akademi dan gedung penelitian dengan pandangan kosong.
"………………Anu, ya."
"……Ya."
"Ada sedikit rasa ganjal."
Tiba-tiba, sang Dewa bergumam pelan. Sambil
menatap lekat ke arah taman tengah.
"……Dulu, rasanya di sini pernah ada sesuatu. Aku
mengingatnya lewat mimpi. Padahal begitu, aku tak tahu benda apa itu."
"……Ya."
"Padahal itu adalah hal yang tak boleh
dilupakan."
"……Ya."
"Kenapa, ya……"
Sang Dewa menatap taman tengah dengan raut sedih. Seolah
sedang mencari sesuatu.
Namun, apakah karena tak menemukan apa-apa, beliau
menunduk dan menggigit bibirnya seolah menyalahkan diri sendiri.
"…………"
"…………"
Waktu yang sunyi kembali berlalu. Sang Dewa terus
menundukkan kepalanya.
Konoe berada di sisi sang Dewa tersebut.
Tanpa bersuara. Karena tak tahu harus mengucapkan apa,
dia hanya berdiri di sisinya.
"……Hei, Konoe."
"……Ya."
Kemudian, sang Dewa bergumam pelan.
"Aku sedang ingin jalan-jalan sedikit. ……Boleh minta
tolong temani aku?"
4
──Dan, kegelapan pun bergolak, gaungnya bergema jauh di
dasar bumi.
[rutayv::naiyvm]
Dewa Kejahatan meleliut geli, menggerakkan kekuasaannya.
Menggunakan otoritas nista dan kekuatan tipu daya, sedikit demi sedikit dia
menarik kembali tirai yang pernah diselubungkannya ke seluruh dunia pada dua
puluh lima tahun yang lalu.
Lalu…… menyuntikkan seluruh kekuatan yang terkumpul itu
ke dalam sang wadah.
◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇
"──Aku lagi ingin jalan-jalan sebentar. Mau
menemaniku?"
Setelah sang Dewa meminta hal tersebut, Konoe kini
berjalan bersamanya di halaman tengah.
Halaman tengah. Area taman yang terletak di antara gedung
akademi dan gedung penelitian.
Pepohonan tinggi tumbuh rimbun di sana, dengan jalan
setapak berpelipit batu yang berbelok-belok menembus celah-celahnya.
Taman itu seolah dirancang mengikuti keberadaan pohon,
bukan pohon yang ditanam mengikuti jalan.
Berbagai jenis bunga tumbuh tak beraturan di tepi jalan,
warnanya bercampur padu. Mungkin sengaja dibuat meniru bentuk alam yang liar.
Konoe dan sang Dewa berjalan berdampingan menelusuri
jalan itu. Melangkah perlahan, menembus kerapatan pepohonan.
Langkah kaki sang Dewa yang berbunyi tuk, tuk,
bergema ringkih di sekitar. Mereka terus berjalan.
Di depan mata Konoe, kepakan sayap putih bersih milik
sang Dewa berayun pelan. Aroma dedaunan dan pepohonan tercium lembut. Begitu
pula bau tanah yang basah.
【────】
"…………"
Beberapa menit berlalu dalam keheningan seperti itu.
──Tiba-tiba sang Dewa menghentikan langkahnya,
melemparkan pandangan ke satu titik.
Ketika Konoe ikut melihatnya, ada sebuah bangku yang
terletak menyendiri, agak jauh dari jalan setapak.
Lokasinya tepat di bawah kaki pohon yang cukup besar.
Berada di bawah bayang-bayang rindang yang terhalang dari sinar matahari.
Ditambah lagi, ada banyak pohon serupa yang tumbuh di
sekelilingnya, membuat tempat itu agak tersembunyi dari jalur utama.
Sang Dewa menatap bangku itu lama──lalu mengarahkan
langkahnya ke sana.
Beliau berjalan menuju bangku tersebut dan berdiri
tepat di depannya.
Sang Dewa tak mengucapkan sepatah kata pun. Beliau
hanya terus menatap bangku itu tanpa berkedip.
Lalu, tiba-tiba beliau bergumam pelan.
【…………Hei,
Konoe.】
"……Ya?"
【Bisakah
kamu duduk di sini bersama denganku?】
Duduk bersama? Konoe agak terkejut…… tapi
dia sama sekali tak punya alasan untuk menolak.
Karena itu, Konoe duduk terlebih dahulu lalu mengibaskan
dedaunan kering yang mengotori dudukan. Barulah setelah itu sang Dewa ikut
duduk.
Bangku yang lumayan lebar. Walau diduduki dua orang
berdampingan, masih tersisa sedikit ruang luang──.
◆
──Setelah itu, waktu kembali berlalu dalam keheningan.
Sang Dewa menundukkan kepalanya, sementara Konoe hanya diam berdiri di
sampingnya.
Angin berembus pelan, membuat dedaunan bergemerisik
lembut. Angin yang sangat menyejukkan.
Seolah bertugas memperbarui udara di sekitar mereka.
Sinar matahari yang menerobos celah daun bergoyang-goyang di atas tanah, terasa
begitu menenangkan di mata.
【────Ah.】
"……?"
Tiba-tiba Konoe merasa ada sesuatu yang tersampaikan dari
sang Dewa. Namun, dia tak memahami maksudnya.
Karena suara sang Dewa bergema langsung di dalam hati,
bahkan dengan mempertajam pendengarannya pun, Konoe tak akan bisa mendengarnya
sebagai suara fisik.
Saat Konoe bertanya-tanya dalam hati, sang Dewa berkata
pelan.
【Tempat yang
sangat nyaman, ya.】
Memang benar, pikir Konoe. Tempat yang tersembunyi dari
sekeliling berkat rimbunnya pohon, ditambah bayangan sejuk yang menghalangi
teriknya matahari, terasa sangat cocok dengan selera Konoe.
Anginnya pun terasa menyegarkan, tampaknya bagus juga
kalau dipakai untuk tempat makan siang.
"……Kalau saja saya menemukannya saat masih menjadi
siswa pelatihan, mungkin saya sudah sering menggunakannya."
【……Fufu, iya
ya. Tempat ini sepertinya cocok untuk makan camilan.】
Mendengar perkataan Konoe, raut wajah sang Dewa sedikit
melunak sebelum akhirnya mengangguk.
Lalu, beliau bergumam bahwa pasti akan sangat
membahagiakan jika ada teh dan kue di sini.
Sang Dewa tersenyum tipis, tampak sedikit lebih
bersemangat dari sebelumnya.
Konoe yang melihat hal itu merasa lega dan ikut
mengulum senyum. Untuk sejenak, mereka saling melempar senyum hangat.
【……Yup,
rasanya perasaanku sedikit lebih lega. Terima kasih sudah menemaniku, Konoe.】
Sang Dewa tersenyum kepada Konoe dengan raut wajah ceria
seperti biasanya.
Konoe meresponsnya dengan menggelengkan kepala.
"Tidak perlu berterima kasih."
Tentu saja tak perlu. Sebab dulu, Konoe jugalah yang
sering disapa dan disemangati oleh sang Dewa. Di saat hatinya hampir patah
akibat latihan yang begitu berat, sang Dewa berkali-kali hadir untuknya.
Karena itu, Konoe menyampaikan bahwa ini hanyalah
bentuk balas budinya, jadi beliau tak perlu berterima kasih.
Mendengar hal itu, mata sang Dewa membelalak kaget
sebelum akhirnya tersenyum jauh lebih bahagia.
──Setelah itu, percakapan santai pun mengalir di antara
mereka.
Bicara tentang rumah baru, tentang rapat laporan kemarin,
hingga cerita Konoe saat berkunjung untuk meninjau gedung penelitian.
Sang Dewa mendengarkan kisah kaku Konoe dengan raut wajah
penuh ketertarikan.
Lalu, Konoe berpikir apakah ada topik lain yang bisa
dibicarakan. ……Ah, benar juga.
【……Eh?
Makanan kaleng pengawet baru?】
"……Iya. Produk yang baru-baru ini dikembangkan oleh
Melmina. Kemarin saya sempat diberi sisanya. Kalau Anda berkenan, apakah mau
mencobanya?"
Konoe mengambil sebatang stik berukuran sepuluh
sentimeter yang terbungkus rapi dari kantong pinggangnya.
Makanan darurat buatan Melmina.
Kelezatannya tak bisa dibandingkan sama sekali dengan
ransum pengawet berbentuk batu bata yang lama itu.
Saat Konoe mengulurkannya, sang Dewa menjangkaukan
tangannya dengan ragu-ragu.
【Be-Benarkah
ini enak? Berbeda dengan 'batu bata' yang dulu itu?】
"……Iya."
Dengan raut wajah agak tegang, sang Dewa membuka
bungkusnya. Matanya sempat bergerak ragu sejenak…… sebelum
akhirnya menguatkan tekad dan memasukkannya ke dalam mulut. Seketika itu juga.
【…………Kh!
Benar-benar enak!?】
Sang Dewa terperanjat kaget. Beliau segera
menggigitnya lagi, dan lagi.
Setelah menelan semuanya ke dalam mulut, tubuhnya
gemetar seolah terkejut hebat.
【Tidak
dipercaya…… 'Batu bata' itu bisa jadi selezat ini……!】
"Melmina hebat sekali! Dia layak mendapat medali
penghargaan!" teriak sang Dewa heboh.
Konoe merasa sedikit bangga karena Melmina dipuji
sedemikian rupa.
……Namun, di samping itu. Meski dia sendiri yang
menawarkan makanan darurat baru tersebut, Konoe baru sadar kalau sang Dewa
ternyata pernah memakan ransum 'batu bata' itu.
Padahal itu bukan sesuatu yang pantas dimakan oleh
sosok dewa. Lagipula rasanya sangat mengerikan.
Ketika Konoe menanyakan hal tersebut, sang Dewa
menjawabnya.
【Iya.
Dulu sekali. Karena ada suatu kejadian kecil. Karena itulah, ak-aku……
e-eh?】
"……?"
【Lho, itu……
kapan, ya……? Bersama dengan…… siapa……?】
Saat itu juga. Pandangan sang Dewa mendadak menerawang
jauh. Sama seperti yang terjadi sebelumnya.
Beliau mengulurkan tangan seolah sedang mencari-cari
sesuatu yang hilang……
【……Ah,
ternyata benar……】
"……Dewa?"
【……Aku,
telah melupakan hal yang sangat penting.】
Sang Dewa mengucapkan kalimat itu dengan raut wajah
menahan tangis, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam.
──Senyuman sang Dewa kembali sirna tanpa bekas.
【…………】
Rasa sedih yang mendalam dari sang Dewa menyentuh dada
Konoe.
Ada banyak hal yang ingin Konoe katakan untuk menghibur,
namun pada akhirnya dia tetap tidak tahu harus diucapkan seperti apa.
……Waktu berlalu dalam keheningan yang kesekian kalinya. Sang Dewa terus menunduk tanpa bergerak.
【──────Tidak
boleh.】
"……Dewa?"
Namun. Tak tahu berapa lama waktu telah berlalu.
Tiba-tiba sang Dewa mengangkat kepalanya. Ekspresi di wajahnya telah berubah total.
【Tidak
boleh. Kalau begini terus, tidak boleh.】
"……Dewa."
Sang Dewa tidak menangis. Wajahnya
kini menyiratkan tekad yang sangat kuat. Beliau
mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dan menatap lurus ke depan.
【──Aku
harus menemukannya.】
Sang Dewa berkata bahwa beliau telah melupakan
'Sesuatu'. Sesuatu yang sangat berharga dan tidak boleh hilang begitu saja.
Jika demikian, beliau harus mencarinya. Beliau tidak
bisa terus diam seperti ini. Tidak boleh membiarkan hal berharga itu hilang
selamanya.
"……Baik."
Melihat binar tekad yang begitu kuat di mata sang
Dewa membuat Konoe merasa lega. Baguslah kalau beliau sudah kembali
bersemangat.
Sebab jika sang Dewa memasang wajah hendak menangis,
Konoe selalu bingung harus berbuat apa.
Konoe mengembuskan napas panjang lalu berkata, jika
ada hal yang bisa dibantu olehnya, beliau boleh meminta bantuan apa pun.
Mendengar hal itu, sang Dewa meresponsnya.
【……Terima
kasih. Aku senang sekali. Kalau begitu, Konoe…… boleh aku minta tolong?】
◆
Atas petunjuk sang Dewa, Konoe berjalan bersamanya
memasuki gedung akademi.
Mereka menyusuri koridor dan menaiki anak tangga. Hingga
akhirnya, mereka tiba di lantai teratas.
Sang Dewa berjalan lurus menuju ruang kerjanya dan
membuka pintu. Menurut beliau, di tempat inilah mungkin terdapat petunjuk
mengenai 'Sesuatu yang Terlupakan' itu.
Setelah masuk ke dalam, mereka melewati bagian samping
meja kerja yang menumpuk tinggi dengan berbagai dokumen.
Sang Dewa terus berjalan menuju area dalam, dan Konoe
mengekor tepat di belakangnya.
【Di sebelah
sini.】
Di sana terdapat sebuah pintu. Sebuah pintu yang terletak
di sudut ruang kerja, berada di area yang sedikit gelap.
Pintu itu tersembunyi di balik tanaman hias. Konoe
sendiri sebenarnya tahu keberadaan pintu tersebut, namun tak pernah
mendekatinya.
Saat Konoe memperhatikan pintu itu sambil bertanya-tanya
ruangan apa yang ada di dalamnya, sang Dewa memegang gagang pintu dan
mendorongnya. Seketika itu juga, pemandangan di dalam ruangan terlihat.
Di hadapan mereka, tampak jajaran rak buku yang dipenuhi
oleh ribuan buku. ……Apakah ini ruang arsip?
【Masuklah.】
Konoe mengira mereka akan mencari 'Sesuatu yang
Terlupakan' itu dari tumpukan dokumen, namun sang Dewa malah melambaikan tangan
memanggilnya masuk. Konoe menurut saja dan melangkahkan kakinya menembus pintu.
"……?"
Pada saat itulah, indra penciuman Konoe menangkap aroma
yang berbeda dari biasanya.
Aroma yang rasanya pernah dia kenal sebelumnya. Apakah
ini……?
Konoe melangkah semakin jauh ke dalam ruangan dan
mulai mengamati.
Suasana di dalam ruangan kini terlihat jelas olehnya.
Ada banyak sekali rak buku di dalam sana. Berjajar
rapi hingga ke bagian paling dalam ruangan. Itu adalah pemandangan pertama yang
tadi sempat dilihatnya.
"……??"
……Namun, hal yang ada di dalam ruangan ini bukan
hanya sekadar rak buku.
Di sudut yang terlindung oleh bayangan pintu, tampak
berbagai perabotan rumah tangga tertata di sana.
Ada meja, kursi, dan lemari pakaian. Ada sofa berukuran
mungil, gantungan jas bergaya elegan──bahkan di bagian paling dalam, terdapat
sebuah dapur kecil.
Seluruh fasilitas untuk menunjang kehidupan sehari-hari
tersedia lengkap di sini.
Apa maksudnya ini? Di saat Konoe mulai merasa bingung,
sang Dewa tiba-tiba melepaskan jubah mirip jubah pendek yang dikenakannya di
depan Konoe, lalu menggantungkannya pada hanger.
──Sang Dewa kini mengenakan pakaian yang lebih tipis,
lalu berbalik menatap Konoe.
"……Anu."
【……?】
Melihat ruangan dan sosok sang Dewa yang seperti itu
membuat Konoe membuka suaranya dengan bingung.
"……Ini ruangan apa?"
【Eh? Ini
kamar pribadiku, lho?】
──Mendengar pertanyaan itu, sang Dewa menjawabnya dengan
raut wajah polos tanpa dosa.
5
──Kamar…… pribadi?
Konoe melongo dengan mulut sedikit terbuka──butuh jeda
beberapa saat baginya untuk mencerna kata-kata tersebut.
Kamar milik sang Dewa. Ruang pribadi. Area kehidupan
personal beliau.
Sangat berbeda maknanya dengan ruang kerja di sebelah
yang biasa mereka gunakan untuk acara minum teh. Ruangan sebelah memang
dirancang untuk menerima tamu, tapi tempat ini jelas berbeda.
……Bagaimana tidak, bersama dengan rak buku dan
berbagai perabotan lainnya, tampak sebuah tempat tidur diletakkan di sudut
paling dalam ruangan.
"……E-Emm."
【……?】
Konoe yang mulai panik membuang pandangannya ke
sembarang arah.
Dia bingung mengapa sang Dewa membawanya ke tempat
seperti ini.
Dia merasa tidak sopan jika memperhatikan ruangan ini
terlalu lancang, sehingga bingung harus menatap ke mana. Saat berusaha
mengalihkan pandangan agar tidak melihat hal yang aneh-aneh…… tiba-tiba matanya
tertuju pada jubah yang baru saja dilepas sang Dewa di belakang tubuhnya.
……Fokus Konoe mendadak tertuju pada jubah tersebut.
Sebenarnya, sejak pertama kali bertemu sang Dewa hari ini, Konoe memang sudah
sedikit penasaran dengan jubah itu.
Alasannya tidak lain karena dia merasakan alur kekuatan
sihir di sana. Itu adalah perkakas sihir yang memiliki efek Hiding──sebuah
kekuatan pembatas persepsi tingkat ringan.
Efeknya tidak akan mempan pada seorang Adept, namun sudah
lebih dari cukup untuk mengelabui rakyat biasa.
Jenis perkakas sihir yang berguna saat ingin menghindari
perhatian publik tanpa mengganggu tugas pengawalan.
Karena sang Dewa biasanya tidak mengenakan benda itu,
Konoe menduga beliau hanya menggunakannya saat hendak keluar ruangan──.
【──Konoe?
Ada apa?】
"……E-Eh, anu."
Panggilan dari sang Dewa membuat pikiran Konoe yang
sempat melayang jauh mendadak buyar. Dia kembali dari aksi melarikan diri dari
kenyataan.
Namun setelah sadar pun, Konoe tentu saja kembali dibuat
bingung, hingga akhirnya dia memutuskan untuk menatap deretan rak buku di sana.
……Benar juga, kalau menatap buku-buku ini kan tidak masalah, pikirnya
terlambat.
Hampir seluruh luas lantai di kamar sang Dewa ini
didominasi oleh rak buku. Begitu banyaknya hingga dari pintu masuk hanya
deretan rak bukulah yang terlihat.
【Ah, kamu
kaget ya melihat bukunya ada banyak sekali?】
Menyadari arah pandangan Konoe, sang Dewa berbicara
dengan nada sedikit riang.
Beliau lalu melanjutkan bahwa wajar saja jika tempat ini
seperti ini, karena itulah hakikat dirinya.
【Aku ini kan
fragmen yang diciptakan dari tubuh utama──Sang Dewi Bunda──dengan dianugerahi
konsep pencarian. Sosok yang menjunjung tinggi pengetahuan dan perkembangan.】
"…………Baik."
……Mengenai hakikat keberadaan sang Dewa, Konoe memang
pernah mempelajarinya.
◆
Ini adalah kisah dari beberapa ribu tahun yang lalu.
Dewa tertinggi di dunia ini dulunya hanya ada satu
tunggal, dan belum ada fragmen pembagian diri yang diciptakan.
Dewa Kehidupan. Sosok yang menguasai kehidupan dan
perlindungan. Dewa dengan wewenang kekuasaan untuk menciptakan nyawa serta
melindunginya dari segala bencana.
Bersama para dewa lainnya, beliau turun ke planet yang
dulunya hanyalah tanah tandus, lalu mengubahnya menjadi dunia yang berlimpah
dengan kehidupan.
Menciptakan manusia, memberikan pemberkahan, dan
melindungi mereka agar dapat hidup lebih baik.
Sejak zaman dahulu
kala beliau terus mengawasi manusia, kadang menegur dan membimbing mereka yang
hampir melangkah ke jalan yang salah.
──Keberadaannya benar-benar menyerupai sosok ibu yang
penuh kasih sayang terhadap anaknya.
Dewi Bunda Yang Maha Pengasih. Itulah wujud asli dari
Dewa Kehidupan yang berdiri di puncak tertinggi seluruh dewa di dunia ini.
Dunia ini dulunya hidup berdampingan dengan sang
Dewa. Sebuah planet dengan ukuran beberapa kali lipat lebih besar dari Bumi,
tanah kaya yang dipenuhi dengan keindahan alam, serta perlindungan yang
dianugerahkan oleh para dewa.
Manusia tidak pernah kelaparan, tidak perlu saling
berebut wilayah, dan memiliki sihir yang mempermudah kelangsungan hidup mereka.
Manusia hidup tenteram dalam naungan para dewa.
……Namun, beberapa ribu tahun yang lalu. Dewa
Kejahatan menyerang dari dunia luar, mengubah dunia yang damai itu dalam
sekejap mata.
Manusia dibantai oleh monster-monster ciptaan Dewa
Kejahatan, dan mereka yang mencoba bertarung dengan menyelam ke dalam labirin
malah dijangkiti oleh wabah penyakit mematikan. Dunia yang indah itu hancur
berantakan dalam sekejap.
Sebagai Dewi Bunda, Dewa Kehidupan berusaha
mati-matian melindungi manusia dari kejahatan tersebut…… namun beliau tidak
mampu.
Dewa Kehidupan tidak bisa menang melawan Dewa
Kejahatan. Tidak, lebih tepatnya, beliau bahkan tidak bisa bertarung sama
sekali.
Sebab beliau bukanlah dewa yang diciptakan untuk
bertempur. Seorang dewa tidak bisa menyimpang dari hakikat keberadaannya
sendiri.
Kekuatan yang hanya bertujuan untuk melindungi
manusia dari bencana tidak akan mampu menghadapi pasukan Dewa Kejahatan yang
terus bertambah tanpa batas.
Lagipula, dengan wewenang kehidupan dan perlindungan,
beliau tidak bisa memberikan kekuatan bertarung kepada manusia.
Sebagai seorang ibu, beliau tidak sanggup menyuruh
anak-anaknya pergi bertempur.
Memang ada dewa bertipe petarung seperti Dewa Perang
di antara jajaran para dewa, namun kekuatan mereka tidak cukup untuk menandingi
Dewa Kejahatan yang sangat dahsyat.
Tingkatan eksistensi mereka sebagai dewa terlalu jauh
berbeda. Para ksatria yang menerima pemberkahan Dewa Perang langsung terhempas
tak berdaya di hadapan malapetaka ciptaan Dewa Kejahatan.
Manusia dan para dewa semakin tersudut. Jumlah korban
tewas terus meningkat, dan tanah yang dibangun selama ini hancur lebur.
Pasukan Dewa Kejahatan menggerogoti wilayah tempat
tinggal manusia sedikit demi sedikit hingga tak tersisa.
Tanpa bisa memberikan perlawanan yang berarti, dunia
manusia berada di ambang kepunahan──.
──Karena itulah. Demi melindungi manusia, Dewa Kehidupan
akhirnya membelah dirinya sendiri dan melahirkan para fragmen.
Beliau mengikis eksistensinya sendiri, menciptakan
sepuluh pecahan, lalu menanamkan konsep yang berbeda dari kehidupan dan
perlindungan ke dalam masing-masing pecahan tersebut.
Dengan menanamkan konsep baru, beliau sengaja membelokkan
hakikat keberadaannya sebagai dewa.
Melalui penyimpangan wujud ini──meski beliau sendiri
tetap tak bisa bertarung, setidaknya beliau jadi memiliki kemampuan untuk
menganugerahkan kekuatan bertarung kepada manusia.
Lewat proses itulah sepuluh fragmen diciptakan, dan
melalui fragmen-fragmen tersebut, para Adept akhirnya lahir ke dunia.
Dengan lahirnya para pelindung kemanusiaan ini, barulah
manusia mampu melancarkan perlawanan terhadap pasukan Dewa Kejahatan.
──Setelah itu, bahkan hingga beberapa ribu tahun berlalu
sampai sekarang, pertempuran di dunia ini masih terus berlanjut.
◆
【──Begitulah
awal mula fragmen diciptakan, dan sepuluh fragmen itu masing-masing diberi
hakikat keberadaan yang berbeda.】
"……Baik."
──Konoe mendengarkan penjelasan tentang asal-usul
kelahiran para fragmen langsung dari mulut sang Dewa. Jujur saja, meski ini
adalah materi pelajaran yang sudah pernah Konoe dapatkan sebelumnya, dia tetap
menyimak setiap perkataan beliau dengan sungguh-sungguh.
【Di antara
semuanya, konsep yang dianugerahkan kepadaku adalah pencarian. Sebuah hakikat
keberadaan yang terus mencari, serta menjunjung tinggi pengetahuan dan
perkembangan.】
"……Baik."
Sembari mengangguk merespons penjelasan sang Dewa bahwa
para fragmen memiliki sifat yang sangat jauh berbeda dari tubuh utama, Konoe
terus melangkah mengekor di belakang sang Dewa.
Saat ini Konoe dan sang Dewa sedang berjalan
menyusuri area dalam kamar beliau. Menerobos celah-celah rapi di antara deretan
rak buku.
Atas lambaian tangan sang Dewa yang menyuruhnya
mendekat, Konoe menyusuri lorong tersebut. Mereka berjalan berkelok-kelok
menembus puluhan baris rak buku yang menjulang tinggi.
Tampaknya tujuan sang Dewa bukanlah kamar pribadi
ini, melainkan sebuah tempat yang terletak jauh di dalam ruangan pribadi
tersebut.
Karena kamar sang Dewa telah diperluas menggunakan
sihir ruang, ukurannya begitu fantastis hingga ujung ruangannya saja tidak
terlihat meski sudah berjalan cukup jauh.
Dalam hati Konoe menghela napas lega karena bisa
menjauh dari area tempat tidur tadi……
……Namun, di samping itu. Entah mengapa, Konoe merasa
ada mekanisme tersembunyi yang terpasang di deretan rak buku ini.
Rasanya jika seseorang berjalan menelusuri lorong ini
dengan urutan tertentu seperti permainan jalur acak, akan ada sesuatu yang
muncul.
Konoe menggelengkan kepalanya heran, mempertanyakan
mengapa sang Dewa sampai harus memasang mekanisme rumit seperti ini di kamarnya
sendiri.
【Sebenarnya
kami para fragmen ini sudah menjadi eksistensi yang sangat jauh berbeda dari
tubuh utama. Mungin lebih tepat kalau kami disebut sebagai pengikut atau abdi
ketimbang fragmen. Perbedaan itu bahkan terpancar dari penampilan luar kami……
Wujudku yang menyerupai anak-anak ini juga merupakan dampak dari konsep
pencarian itu sendiri.】
"……Apakah begitu?"
【Karena
konsep pencarian membuat rasa ingin tahuku menjadi sangat kuat, sisi anak-anak
dalam diriku jadi terpancar jauh lebih dominan.】
……Konoe baru tahu tentang fakta itu. Memang benar,
dulu dia sempat heran mengapa sosok Dewi Bunda malah berwujud seperti anak
kecil.
Di saat Konoe sedang terkejut, sang Dewa sedikit
menoleh ke belakang dan tertawa getir.
【Alasan
kenapa aku dan anak itu──si Instruktur──sampai nekat melakukan pemanggilan dari
dunia lain juga karena konsepku adalah pencarian. ……Kalau tubuh utama atau
fragmen lain yang memegang kendali, mereka pasti tidak akan pernah mau
melakukannya.】
Lagipula, bukankah ritual pemanggilan dunia lain itu
memiliki terlalu banyak variabel yang tidak pasti? Ujar sang Dewa.
Tidak ada jaminan apakah kita bisa akur dengan
manusia dari dunia lain yang dipanggil, ada kemungkinan kebudayaan mereka
bertabrakan dengan kita, atau bahkan ada risiko sosok jahat yang malah terbebas
ke dunia ini.
【Tubuh
utama pada dasarnya tidak pernah mencampuri urusan kami jadi beliau diam saja……
tapi fragmen lain yang berfaham konservatif benar-benar menentang keras ide
ini. Mereka cemas bagaimana kalau tindakan ini malah
melahirkan benih bencana baru yang tak bisa dikendalikan. Seperti membawa masuk
benda-benda berbahaya ke dunia kita.】
……Begitu rupanya. Jika dijelaskan seperti itu,
beberapa hal berbahaya yang tak boleh dibawa masuk ke dunia ini langsung
terlintas di kepala Konoe. Sehebat apa pun itu, memang ada beberapa teknologi
yang sama sekali tidak boleh disentuh.
【Meski
begitu, aku merasa kita tetap membutuhkan teknologi baru. Kita tidak
bisa terus mempertahankan status quo. Demi mengalahkan Dewa Kejahatan, kita
harus terus melangkah ke depan. Lagipula……】
Kalimat sang Dewa terhenti di sana. Tepat di saat deretan
rak buku yang panjang itu berakhir, memperlihatkan sebuah dinding kokoh di
hadapan mereka. Sebuah pintu terpasang di tengah dinding tersebut. Dari aliran
mana di sekitarnya, Konoe baru menyadari bahwa jebakan rute pada rak buku tadi
memang dibuat khusus untuk menyembunyikan pintu ini.
【Di sini
tempatnya. Kalau di sini…… pasti ada sesuatu yang tersisa.】
Sang Dewa bergumam pelan dengan nada suara yang
menyerupai doa. Beliau lalu memegang gagang pintu tersebut──.
◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇
Pada saat yang bersamaan. Di lantai teratas gedung
penelitian, tepatnya di dalam ruangan sang Instruktur.
Melanjutkan tugas dari hari kemarin, sang Instruktur
sedang bergelut dengan tumpukan pekerjaannya seorang diri dalam keheningan.
Meski belum menemukan jawaban atas sikap yang harus
diambilnya terhadap Konoe, urusan pekerjaannya berjalan sangat lancar.
Dengan pena di satu tangan, beliau memeriksa lembar
laporan penelitian dan mengevaluasi setiap pencapaian di dalamnya.
Tentu saja, beliau melakukan itu setelah memahami seluruh
materi rumit tersebut secara sempurna.
Sang Instruktur tidak hanya seorang jenius dalam
bertarung, namun otaknya pun berada di tingkat jenius.
Bahkan mesin mobil berdaya uap pun bisa dirakit ulang
olehnya seorang diri jika beliau memang menginginkannya.
"…………"
……Selain itu, di tengah pekerjaannya, sang Instruktur
tentu saja sadar betul saat Konoe melangkah masuk ke dalam kamar pribadi milik
sang Dewa.
Namun beliau memilih untuk mengabaikannya──yah, kalau
itu Konoe sih harusnya tidak masalah. Murid kesayanganku mana mungkin melakukan
hal yang macam-macam pada sang Dewa, kan?
"──Hm?"
Tepat pada saat itu, sebuah lampu di sudut ruangan
mendadak menyala terang. Itu adalah lampu panggilan.
Warnanya biru. Warna penanda bahwa ada tamu mendadak yang
datang. Dan lagi, tamu itu bukanlah sosok yang bisa diabaikan begitu saja.
Penasaran dengan siapa yang datang, sang Instruktur
bangkit berdiri dan melangkah menuju lantai satu.
Menyusuri koridor dan melangkah turun melewati
tangga. Begitu beliau memunculkan dirinya di ruang administrasi gedung
penelitian.
"……Ah, Instruktur-sama, orang ini……"
"Instruktur-sama, maafkan saya karena telah
memanggil Anda secara mendadak seperti ini."
Dua sosok manusia berdiri di dalam ruang
administrasi. Yang satu adalah staf administrasi gedung penelitian, sementara
yang satunya lagi adalah pria yang tak pernah dilihatnya.
Namun, meski wajah pria itu terasa asing, lambang
yang terpasang di bahunya sangatlah familier bagi sang Instruktur.
──Itu adalah lambang Negara Suci. Negara Suci.
Sama seperti Negara Dewa, wilayah itu merupakan salah
satu dari sepuluh negara besar yang dipimpin oleh fragmen milik sang Dewa. Dan
bagi sang Instruktur, negara itu memiliki arti tersendiri.
"Saya membawa barang yang dititipkan langsung
oleh Sang Orang Suci."
"Dari Ceres?"
Sang Orang Suci. Sosok gadis berambut merah muda
langsung terlintas di dalam benak sang Instruktur. Benar juga. Negara Suci
adalah tempat di mana Sang Orang Suci berada.
Celestina. Sang Orang Suci Kelopak Gugur. Sosok yang
berhasil menumbangkan Raja Iblis Pemakan Mimpi.
Seorang individu yang menduduki kursi Meja Bundar
Ramalan, sekaligus sosok yang memegang posisi puncak akademi di Negara Suci.
Bagi sang Instruktur, gadis itu bisa dibilang sudah
seperti adik perempuannya sendiri. Pertemuan terakhir mereka adalah saat
beliau menerima ramalan kematian dari gadis itu.
Bagi sang Instruktur, ada banyak hal yang terasa
menyusahkan dan merepotkan dari sosok gadis itu, namun dia tetaplah orang yang
sangat bisa dipercaya.
Gadis seperti itulah yang kini mengirimkan paket barang
kepadanya.
Kira-kira apa yang dikirimkannya? Sang Instruktur segera membuka paket tersebut. Di dalamnya terdapat
sebuah buku catatan tebal dan……
(……Cermin?)
Kening sang Instruktur berkerut heran. Sebuah cermin
bulat berukuran sekitar tiga puluh sentimeter.
Itu bukan sekadar cermin biasa. Itu adalah cermin
khusus yang digunakan oleh pengguna Origin Magic milik Negara Suci.
Menggunakan otoritas koneksi, cermin itu mampu
menghubungkan dua cermin secara bersamaan untuk mengirimkan visual beserta
suara secara langsung.
Jika di Negara Dewa, fungsinya mirip dengan lensa
milik Melmina.
"……Humm."
Sang Instruktur meminta bantuan staf administrasi
untuk meminjam ruangan kosong di dekat sana, lalu membawa masuk buku catatan
beserta cermin tersebut.
Setelah ditinggalkan seorang diri, beliau mengalirkan
mana miliknya ke dalam cermin.
『──Kak
Rena.』
──Bayangan gadis berambut merah muda terpancar di
permukaan cermin. Sang Orang Suci, Celestina, berada di sana.
6
『Kakak,
maafkan saya atas hubungan yang mendadak ini.』
Cahaya berpendar di permukaan cermin, memperlihatkan
wajah Sang Orang Suci dengan jelas.
Di balik
cermin sana, raut alisnya tampak menurun dengan ekspresi serba salah──dan dari
raut wajahnya yang agak tegang itu, sang Instruktur yang sudah lama mengenalnya
langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres.
Kontak mendadak seperti ini pasti menandakan telah terjadi sesuatu yang serius
.
"……Sesuatu yang tidak biasa? Apa maksudmu buku
panduan yang dikirim bersama cermin ini?"
『Benar.
……Lebih tepatnya, saya sendiri tidak tahu apakah ini merupakan suatu
kejanggalan atau bukan, tetapi karena memiliki firasat buruk, saya memutuskan
untuk mengirimkannya kepada Kakak.』
"……Begitu?"
Tidak tahu apakah ini suatu kejanggalan atau bukan?
Sembari memiringkan kepalanya bingung mendengar perkataan Sang Orang Suci, sang
Instruktur meraih buku panduan tersebut.
Buku itu dibuat sangat sederhana, hanya berupa tumpukan
kertas yang dijilid menggunakan tali.
Kualitas kertasnya sudah memburuk dan warnanya pun telah
menguning, membuat siapa saja bisa langsung tahu bahwa itu adalah barang tua
hanya dalam sekali pandang.
"Judulnya…… 'Panduan untuk Manusia dari Dunia
Lain'."
Apakah ini barang yang berhubungan dengan dunia lain?
Sembari membatin, sang Instruktur menyapukan jarinya di atas buku lalu
membukanya. Beliau kemudian membalik halaman demi halaman. Hal yang tertulis di
dalam sana adalah……
"Apakah ini berisi perbandingan antara dunia ini
dengan dunia lain──Jepang?"
『Benar,
sepertinya penulisnya adalah orang Jepang.』
Tampaknya buku ini memang ditulis untuk membandingkan
perbedaan apa saja yang ada di antara dunia ini dan Jepang.
Mulai dari kebudayaan, hukum, teknologi, hingga
sihir. Selain itu, tertulis pula cara pandang terhadap agama serta keberadaan
sosok dewa di dunia ini. Banyak hal lain yang juga dibahas di dalamnya.
Di sana juga tercantum hal-hal yang harus
diperhatikan oleh manusia asal Bumi saat hidup di dunia ini, seperti peringatan
untuk tidak mengumparkan sumpah kepada Dewa secara sembarangan karena
melanggarnya akan mengakibatkan hilangnya pemberkahan. Penulis yang merupakan
orang Jepang tersebut mencatat hal-hal yang telah dipelajarinya setelah tiba di
dunia ini.
"……Humm."
Melihat isinya, sang Instruktur merasa buku ini
seperti buku pelajaran yang diberikan kepada manusia asal dunia lain yang baru
saja dipanggil.
Terutama pada bagian poin-poin peringatan, isinya
sangat mirip dengan deskripsi yang ada di buku pelajaran yang pernah dibacanya
dulu.
……Dengan kata lain, dari segi isi, sebenarnya tidak
ada yang terlalu spesial atau langka dari buku ini.
『Kakak.
Ada dua hal utama yang membuat saya merasa janggal dengan buku panduan
tersebut. Yang pertama adalah tanggal penyerahan yang tercantum di halaman
pertama.』
"……Tanggal penyerahan."
Sang Instruktur membalik halaman buku dan kembali ke
bagian yang dimaksud. Di sana memang tertulis sebuah tanggal berukuran kecil.
"──? Tanggalnya…… seratus sepuluh tahun yang
lalu?"
Kening sang Instruktur berkerut tajam. Di sana memang
tertulis deretan angka dari seratus sepuluh tahun yang lalu.
Jika penulisnya adalah seorang Reincarnator, hal
seperti ini jelas tidak mungkin terjadi. Sebab, pemanggilan dari dunia lain
baru dimulai tiga puluh tahun yang lalu. Itu artinya, sosok yang menulis buku
ini bukanlah manusia yang dipanggil lewat ritual tersebut.
……Kalau begitu, kemungkinan lainnya adalah……
"Humm, apakah dia seorang Lost One?"
『────』
──Lost One. Di dunia ini, terkadang ada manusia
dari dunia lain yang terdampar tanpa melalui proses pemanggilan. Contohnya
seperti sosok 'Aku' yang pernah terlibat dalam pembantaian Raja Iblis Abadi.
Meski sangat langka, setidaknya ada satu orang yang ditemukan dalam kurun waktu
seratus tahun. Karena itu, beliau menduga buku ini ditulis oleh seorang manusia
dunia lain yang tersesat ke salah satu negara.
……Lho? Tiba-tiba sang Instruktur menyadari sesuatu.
Mata Sang Orang Suci tampak membelalak lebar di balik cermin.
『……Begitu,
ya. Reaksi Kakak ternyata seperti itu. Kalau
begitu ini memang benar-benar……』
"……Ceres?"
『Kakak.
Tolong buka halaman terakhir. Itulah hal kedua yang membuat saya merasa
janggal.』
Sembari menyimpan keraguan atas sikap Sang Orang
Suci, sang Instruktur membuka halaman buku tersebut sesuai dengan yang
diperintahkan.
Lalu──beliau melihat stempel yang tertera di sana.
"……Eh? Stempel Gedung Penelitian Negara
Dewa?"
Sang Instruktur menatapnya lekat-lekat. Cap yang
tertera di sana memang benar-benar stempel resmi yang hanya dimiliki oleh
sekretariat gedung penelitian Negara Dewa.
Sang Instruktur tidak mungkin salah mengenali cap
ini.
Bagaimanapun juga, sebagai pemegang posisi puncak di
gedung penelitian, beliau selalu menerima hasil penelitian yang dibubuhi cap
ini saban hari selama beratus-ratus tahun.
Dengan kata lain, apa maknanya──buku panduan yang
dibubuhi stempel ini merupakan hasil penelitian resmi dari gedung penelitian,
dan sosok yang menuliskannya adalah seorang peneliti dari gedung penelitian itu
sendiri.
……Namun jika demikian, muncul sebuah pertanyaan baru.
"Ini artinya, seratus sepuluh tahun yang lalu
ada seorang Lost One di gedung penelitian Negara Dewa yang meneliti
perbedaan antara Jepang dan dunia ini? ……Tapi, aku tidak pernah tahu ada orang
seperti itu."
『……Dugaanku
ternyata benar. Aku juga tidak ingat pernah mendengar cerita tentang Lost
One tersebut dari Kakak, makanya aku merasa ada yang aneh.』
Sang Instruktur menopang dagunya dengan tangan
sembari berpikir keras. Seratus sepuluh tahun yang lalu ada seorang Lost One
di Negara Dewa? Apalagi di gedung penelitian?
Dalam ingatan sang Instruktur, beliau sama sekali
tidak memiliki kenangan tentang hal itu. Dan hal seperti itu jelas tidak masuk
akal.
Jika di area pemukiman warga sipil mungkin masih
masuk akal, namun sangat mustahil ada seorang Lost One di dalam area
akademi dan gedung penelitian tanpa ada laporan yang masuk kepadanya.
Saking tidak masuk akalnya, sampai-sampai terlintas
kemungkinan bahwa stempel yang tertera di buku tersebut adalah barang palsu.
……Hanya saja, pemalsuan dokumen maupun stempel yang
berhubungan dengan akademi merupakan kejahatan berat yang pelakunya bisa
dihukum pancung karena berisiko mengancam nyawa orang banyak. Apakah buku ini
memiliki nilai yang sepadan hingga seseorang rela mengambil risiko sebesar itu?
"…………"
Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Selain tidak
memiliki ingatan tentang Lost One tersebut, beliau juga tidak mengenali
dokumen penelitian ini sama sekali.
Selama beberapa ratus tahun terakhir, sang Instruktur
selalu memeriksa seluruh hasil penelitian yang masuk. Jika itu terjadi seratus
sepuluh tahun yang lalu, beliau pasti sudah memeriksanya tanpa terkecuali.
Sang Instruktur menatap dokumen itu lekat-lekat.
Berharap ada sedikit saja bagian yang bisa diingatnya.
Namun, tetap saja tidak ada ingatan apa pun yang
muncul──.
"────"
──Apakah benar?
──Apakah benar-benar tidak ada?
Pada saat itulah, sebuah perasaan ganjil muncul di
dalam diri sang Instruktur. Sebuah rasa janggal yang sangat aneh. Perasaan itu
mendadak hadir begitu saja, seolah penutup matanya baru saja disingkap.
Ada sesuatu yang tidak beres. Ada yang aneh. Rasanya
ada sesuatu yang telah dilupakannya. Perasaan janggal yang seperti itu.
Beliau tidak tahu pasti apa hal itu. Beliau tidak tahu……
namun entah mengapa, pemandangan halaman tengah yang terletak di antara gedung
akademi dan gedung penelitian mendadak terlintas di dalam benaknya.
Halaman tengah yang luas. Tempat yang ditanami banyak
pohon dan dipenuhi bayangan rindang. Namun dari ruangannya, sang Instruktur
bisa mengintip suasana di bawah sana.
──Benar juga. Dulu beliau pernah melihat seseorang di
bawah sana.
……Namun, wujud dari sosok tersebut sama sekali tidak
bisa diingatnya, tak peduli sekeras apa pun beliau mencoba.
"…………"
Aku telah melupakan seseorang yang menulis buku
panduan ini. Sang Instruktur mulai menyadari kemungkinan tersebut.
Pada saat yang sama, beliau juga teringat dengan
rapat laporan yang digelar kemarin──tentang fenomena hilangnya Bahasa Jepang.
Sama-sama berhubungan dengan Jepang. Beliau merasa
segalanya saling terhubung kepada 'Seseorang'. Sang Instruktur memutar otak
sembari terus berpikir……
(……Tapi, ini bisa jadi situasi yang buruk.)
Batinnya. Sang Instruktur mengkhawatirkan timing
terungkapnya kejanggalan ini.
Kenyataan yang selama puluhan tahun tak pernah
ditemukan, kini mendadak terkuak satu demi satu dalam waktu yang bersamaan.
Ada kemungkinan sesuatu yang besar akan segera
terjadi. Namun, secara timing ini adalah saat yang paling buruk. Mengapa
demikian?
(──Belum ada lima puluh hari berlalu sejak ramalan
terakhir.)
Penglihatan masa depan milik Dewa Takdir yang
diberikan setiap lima puluh hari sekali. Ramalan tentang takdir kematian yang
dianugerahkan di wilayah keilahian.
Sejak ramalan terakhir diberikan, bahkan belum ada
empat puluh hari yang berlalu.
Artinya, untuk sepuluh hari ke depan atau lebih,
mereka tidak akan bisa memprediksi konspirasi apa yang sedang direncanakan oleh
Dewa Kejahatan.
Sebab itulah, untuk saat ini tidak ada yang tahu apa
yang akan terjadi. Saking tidak tentunya situasi, sang Instruktur sampai harus
menjaga kewaspadaan tinggi secara diam-diam sejak kembali dari dasar bumi.
Gara-gara itu pula beliau sampai belum bisa pulang ke
rumah. ……Yah, walau kalaupun pulang, beliau mungkin bingung bagaimana harus
bersikap di hadapan Konoe yang ada di kediaman.
(Bagaimanapun juga, penyebab dari kejanggalan ini harus
segera diusut sampai tuntas.)
Agar bisa segera menyelidiki buku panduan ini, sang
Instruktur memanggil seseorang menggunakan perkakas sihir.
Beliau mengatur panggilan untuk mendatangkan seseorang
yang memiliki kemampuan tipe penyelidikan──lalu tiba-tiba, wewenang kekuasaan
emas milik Konoe terlintas di benaknya.
(…………Tidak.)
Namun, sang Instruktur memutuskan untuk tidak
memanggil Konoe kali ini, melainkan orang lain.
Alasan utamanya karena syarat aktivasi wewenang
kekuasaan emas sangatlah sulit, dan beliau berpikir dalam situasi seperti ini
tidak seharusnya mengurangi kekuatan personel tempur utama.
……Atau mungkin, nalurinya membisikkan bahwa saat ini
bukanlah waktu yang tepat untuk melibatkan Konoe.
Sang Instruktur akhirnya memanggil pengguna Origin
Magic lain yang berpesialisasi dalam bidang penyelidikan.
Selain itu, beliau juga meminta bantuan Sang Orang Suci
untuk ikut menyelidiki. Sebab buku panduan tersebut memang
ditemukan di wilayah Negara Suci.
Untuk sementara, mereka akan menghubungkan cermin ke
Negara Suci dan melangsungkan penyelidikan bersama, lalu mulai melakukan
persiapan.
Sembari menunggu persiapan penyelidikan selesai, sang
Instruktur sendiri kembali mengamati buku panduan di hadapannya. Beliau
mengorek ingatannya, berharap ada hal lain yang bisa teringat.
──Tepat pada saat itulah.
『Nuk, nuk!』
"…………"
Sebuah suara yang sangat familier terdengar melintas
di depan ruangan. Suara yang akhir-akhir ini sering terdengar di berbagai sudut
akademi.
Di saat yang sama, bunyi roda troli yang berderit
juga ikut terdengar. ……Anak itu benar-benar bekerja di banyak tempat, ya.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, sang Instruktur
berdiri dan melangkah menuju pintu.
"Maiko, bisa ikut denganku sebentar?"
"Nuー!?"
Melangkah keluar ke koridor, beliau menarik Maiko
masuk ke dalam ruangan. Jika ditanya mengapa, ini juga murni karena nalurinya.
Beliau merasa tindakan ini akan membawa dampak yang
lebih baik. Sang Instruktur memang selalu memutuskan untuk mengikuti nalurinya
di saat keputusan rasional sulit untuk diambil.
Sang Instruktur membawa Maiko masuk ke dalam ruangan
dan mengenalkannya kepada Sang Orang Suci.
Sembari menjelaskan situasi saat ini secara garis
besar kepada Maiko yang matanya berkedip-kedip bingung──sang Instruktur
teringat bahwa kurun waktu seratus sepuluh tahun yang lalu adalah masa-masa di
mana Raja Iblis Naga Langit Pertama muncul.
◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇
Tirai pertunjukan mulai terangkat.
Sembari memicu riak gelombang di berbagai tempat,
tirai dari panggung kebohongan ini perlahan-lahan mulai tersingkap naik.
◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇
──Sementara itu, Konoe. Bersama dengan sang Dewa, dia
menatap pintu di hadapannya. Pintu yang terletak di bagian dalam kamar pribadi,
tersembunyi di balik kekangan batas rak buku.
【Di sini
tempatnya. Kalau di sini…… pasti ada sesuatu yang tersisa.】
Sembari mengutarakan hal itu, sang Dewa mendorong
pintunya. Suara decitan berat terdengar saat pintu itu perlahan terbuka lebar.
Hal yang membentang di balik pintu tersebut adalah……
"──Ini……"
Mata Konoe membelalak lebar. Pemandangan di balik
pintu itu adalah sebuah area yang sama sekali berbeda dari ruang sebelumnya.
Sebuah dimensi terpisah.
Area berbeda yang tak memiliki kesinambungan dengan
ruangan luar. Tidak salah lagi.
Bagaimana tidak, hal ini sangat tidak masuk akal. Di
dalam gedung akademi, tidak mungkin ada lubang vertikal sedalam ini.
Sebuah lubang vertikal raksasa membentang lurus ke
bawah dalam wujud silinder.
Diameter lingkarannya mungkin mencapai puluhan meter.
Selain itu, di bagian dindingnya terpasang tangga
yang melingkar dan menjalar turun ke bawah.
Dengan kata lain, ini adalah──
(──Tangga spiral.)
──Tangga yang teramat dalam, begitu dalam hingga seolah
membentang tanpa batas.
Hal yang menampakkan wujudnya di balik pintu itu adalah
sebuah tangga spiral yang sangat amat raksasa.



Post a Comment