NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tokidoki Bosotto Russia-go de Dereru Tonari no Alya-sa Volume 3 Chapter 6

Bab 6: Suhuku Naik Dalam Berbagai Arti


Sebenarnya... tidak pernah ada hal yang benar-benar dramatis.

Sama sekali tidak ada fakta bahwa ibu melakukan penganiayaan, atau ibu berselingkuh dengan pria lain. Malahan, kalau diingat-ingat sekarang... ibu adalah sosok ibu yang sangat tenang dan lembut. Walau ada banyak hal yang terjadi dengan Ayah, Ibu tetap bersikap lembut pada kami berdua. Jika kami mendapat hasil yang bagus di tempat les, beliau bakal memuji, dan terkadang beliau juga memanggangkan kue kering. Bagi masyarakat umum pun, beliau dipastikan adalah sosok ibu yang lembut.

 

Aku dan adikku, sangat menyukai ibu yang seperti itu.

 

...Pemicunya, benar-benar hal yang sangat sepele. Suatu hal yang dipastikan bakal membuat sebagian besar orang di dunia ini kecewa sambil membatin, "Eh? Cuma gara-gara hal itu?". Kalau dipikir-pikir sekarang, itu benar-benar bukan hal besar. Hanya saja... pada suatu hari secara mendadak, Ibu tidak mau menatap mataku lagi.

 

Ibu yang biasanya menatap lurus ke mataku sambil membelai kepalaku dan berkata, "Kamu sudah berjuang keras, ya", "Luar biasa sekali",

...mulai memalingkan pandangannya. Senyuman yang biasanya tenang, tanpa disadari berubah menjadi canggung... hingga aku menyadari bahwa Ibu sedang memaksakan diri.

 

Pasti gara-gara pencapaianku sejauh ini belum membuat Ibu puas.

Perjuanganku masih kurang. Harus lebih, harus menghasilkan lebih banyak pencapaian lagi. Kalau tidak, Ibu tidak bakal merasa senang dari lubuk hatinya.

 

Nee Ibu, lihatlah aku. Kemarin aku dipuji oleh guru merangkai bunga, lho? Di karate pun aku sudah mendapat sabuk hitam. Kalau belajar, aku sudah mempelajari materi tingkat SMP, lalu piano yang sangat Ibu sukai juga──

 

"Sudah, hentikan!!"

 

...Mata yang seperti itu. Bukan mata seperti itu yang ingin kulihat. Aku, cuma──

 

 

"Uu, gh..."

 

Begitu terbangun dari tidur, ia mengerang merasakan hawa panas aneh dan rasa lemas yang menyelimuti seluruh tubuhnya.

 

"Ooh..."

 

Saat ia menggerakkan tubuhnya di atas tempat tidur, pergerakan kecil itu menghantarkan sensasi yang bergetar hebat hingga ke dalam kepala dan inti tubuhnya, membuat Masachika merasa sangat lelah.

 

Sebenarnya, sejak tadi malam ia sudah punya sedikit firasat buruk... tapi sepertinya, ia benar-benar tumbang terkena flu.

Tanpa disadari tenggorokannya juga terasa sakit, dan yang paling parah seluruh tubuhnya terasa sangat berat dan lemas. Dipastikan badannya juga memancarkan demam yang cukup tinggi.

 

Tepat pada timing tersebut, jam weker yang diletakkan di samping bantal mulai membunyikan alarm, hingga Masachika mengangkat tangannya yang berat untuk menghentikan alarm tersebut.

 

Sekalian ia mengambil ponsel yang diletakkan di sebelahnya, lalu berguling miring ke sisi kanan. Rasa sakit menjalar di lengan atas dan bahu kanannya yang tertindih oleh tubuh, tetapi itu masih jauh mendingan ketimbang penderitaan saat harus mengangkat lengan.

 

"Aduh, tidak bisa, nih..."

 

Membuka ponselnya, Masachika bermaksud memberi tahu sekolah bahwa ia absen hari ini. Namun, ia tidak tahu nomor kontak sekolah. Ia merasa sempat mencatatnya di suatu tempat, tetapi tidak bisa mengingatnya secara langsung. Apakah harus mencari nomor telepon akademi di internet... saat memikirkan hal itu, ia langsung merasa malas.

 

"Takeshi... tidak, Hikaru saja deh."

 

Berniat meminta bantuan salah satu dari kedua sahabatnya untuk menyampaikan pesan pada wali kelas, ia memilih Hikaru berdasarkan tingkat kepercayaan acak. Di dalam benaknya, bayangan Takeshi berteriak memprotes "Kenapa harus begitu!", tetapi ia tidak peduli. Ia tidak punya ruang untuk memikirkannya.

...Halo, Masachika?

 

"Ooh... maaf ya, aku mendadak kena flu."

 

Eh? Kamu tidak apa-apa?

 

"Yah... pokoknya hari ini aku izin libur dulu. Bisakah kamu sampaikan pada Pak Guru?"

 

Iya, aku paham. ...Sepulang sekolah nanti, mau kujenguk? Sekarang di rumah sendirian, kan?

 

"Tidak usah, aku bakal minta bantuan kenalan, kok... Terima kasih, ya."

 

Begitu, ya... kalau begitu cepat sembuh, ya.

 

"Sip~"

 

Setelah mengakhiri sambungan telepon dengan Hikaru, Masachika memeras sisa tenaganya untuk mengirimkan pesan pada Yuki.

 

Maaf, aku kena flu

 

Bisa tolong minta Ayano bawakan obat?

 

Setelah bersusah payah mengetik pesan sebatas itu lalu mengirimkannya, Masachika menjatuhkan ponselnya begitu saja ke tempat tidur lalu kembali berbaring telentang.

 

"Haaa..."

 

Setidaknya ia ingin minum segelas air, tetapi sekadar turun dari tempat tidur saja rasanya sangat malas. Beruntung rasa kantuknya masih tersisa, jadi ia memutuskan untuk kembali tidur saja.

 

(Meskipun begitu, rasanya aku baru saja bermimpi buruk, ya...)

 

Apakah gara-gara kemarin berpapasan kembali dengan ibu setelah sekian lama? Ia merasa baru saja bermimpi tentang masa lalu yang biasanya sebisa mungkin tidak ingin diingatnya kembali.

 

(Maksudku, belakangan ini rasanya aku jadi sering banget mengingat

masa lalu...)

 

Kenangan saat masih menjadi Suou Masachika telah menjadi memori yang ingin disegel oleh Masachika yang sekarang. Hal-hal yang tidak menyenangkan, hal-hal yang menyedihkan, hal-hal yang menyiksa.

 

Karena tiap kali mengingat hal-hal tersebut, sensasi tidak menyenangkan yang bergejolak bakal menyebar di dadanya.

 

(Enggak, justru... gara-gara aku tidak pernah berusaha mengingatnya, kah.)

 

Ia tidak pernah mengingat detail tentang masa lalu. Karena setiap kali

hendak mengingatnya, ia selalu menghentikan dirinya sendiri. Padahal kenyataannya, dipastikan tidak semuanya berisi hal-hal yang menyiksa saja.

Tapi, gara-gara ia pasti bakal mengingatnya. Perpisahan dengan ibu, serta perpisahan dengan gadis itu. Agar tidak mengasosiasikan hal-hal tersebut, kenangan masa lalu disatukan lalu disegel di lubuk ingatannya.

 

Hingga tanpa disadari, yang tersisa hanyalah citra "Masa lalu" = "Hal tidak menyenangkan", dan tiap kali ia berusaha memalingkan pandangan agar tidak mengingatnya, citra tersebut menjadi semakin kuat.

 

(Sering dibilang kalau rasa amarah dan kebencian bakal memudar

seiring berjalannya waktu... tapi tidak selalu begitu, ya.)

 

Masachika yang sekarang justru mengalami kemunduran di mana ingatan konkret saat itu sudah memudar, tetapi kesan bahwa hal itu menyedihkan dan menyiksa justru tersisa dengan sangat kuat. Padahal secara spesifik hal apa yang menyedihkan dan menyiksa sudah tidak jelas lagi.

 

Bahkan saat ini pun, jika ia mencoba mengingat masa lalu, reaksi penolakan yang sangat kuat bakal terjadi.

 

Rasa ingin memalingkan pandangan begitu kuat hingga ia tidak bisa

menaruh tangannya di penutup memorinya.

 

(...Haaa, sudah ah, terserah.)

 

Memikirkan hal itu saja sudah membuat otaknya lelah, hingga Masachika menghentikan jalan pikirannya secara paksa.

Kondisi badannya saja sudah buruk, untuk apa ia malah melakukan hal yang makin merusak suasana hati.

 

Kemarin itu murni ketidaksengajaan berpapasan saja, dan ke depannya ia tidak punya rencana maupun niat untuk berhadapan dengan ibu.

 

Masa lalu itu adalah sesuatu yang sudah tidak punya nilai untuk diingat kembali. Kenangan saat menjadi Suou Masachika sama sekali tidak dibutuhkan oleh Kuze Masachika. Menasihati dirinya sendiri seperti itu... Masachika pun kembali terlelap.

 

 

Ting-tong.

 

"Uu...?"

 

Suara bel rumah yang bergema membangunkan Masachika. Dengan kepala yang masih linglung ia berpikir apakah Yuki atau Ayano yang datang, tetapi ia segera menyadari ada hal yang aneh.

 

Yuki punya kunci rumah ini. Mau yang datang Yuki ataupun Ayano, mereka bisa masuk tanpa perlu memencet bel. Lagipula... kalau tidak salah dengar, suara yang baru saja bergema bukanlah bel depan pintu rumah, melainkan suara panggilan dari pintu masuk utama (intercom) apartemen.

 

Kalaupun mereka memencet bel dengan tujuan memberi tahu kedatangan, tidak ada alasan untuk melakukan panggilan dari pintu masuk utama apartemen.

 

"Apa ada barang yang dikirimkan, ya...?"

 

Masih dengan tubuh yang lemas ia mencoba turun dari tempat tidur, tetapi sekadar berguling saja sudah membuat tenaganya menjadi nol.

 

Pemikiran untuk pura-pura tidak ada orang sempat melintas di kepalanya, tetapi di timing tersebut bel kembali bergema.

 

"Iya, iya... sebentar ya~"

 

Menganggap lebih baik ia bangun sekalian, Masachika memantapkan diri lalu turun dari tempat tidur. Sambil merengut gara-gara tiap kali melangkah kejutan bergema di kepalanya, ia membuka pintu kamar lalu melangkah menuju intercom.

 

Lalu, saat melihat sosok manusia yang terpampang di layar intercom... ia tidak percaya pada matanya sendiri.

 

"...Haah!?"

 

Rambut perak yang tidak mungkin salah dibaca. Mata berwarna biru.

 

Penampilan cantik yang luar biasa. Di sana terekam jelas gambar Alisa yang berpakaian bebas sedang berdiri di pintu masuk utama apartemen.

 

"...Eh, ha? Kenapa bisa?"

 

Masachika tidak ingat pernah memberi tahu alamat rumahnya pada Alisa. Tentu saja, ia tidak pernah mengundang Alisa ke rumahnya sekali pun.

 

Berbagai pertanyaan terus memunculkan keraguan, tetapi jika terlalu santai dibiarkan, jalurnya bakal mati gara-gara panggilan dari pintu masuk utama terputus, sehingga Masachika menekan tombol tekan dulu untuk merespons.

 

"...Alya?"

 

Ah, Kuze-kun? Kamu tidak apa-apa?

 

"Emm... jangan-jangan, kamu mendengar sesuatu dari Yuki?"

 

Iya... Yuki-san bilang, kamu tumbang terkena flu jadi dia minta aku membawakan obat...

 

"Ah, begitu... pokoknya kubuka dulu pintunya, ya."

 

Ah, iya.

 

Menekan tombol pembuka kunci, ia memastikan Alisa melangkah masuk ke dalam gedung apartemen. Setelah itu Masachika kembali ke kamarnya, lalu mengambil ponsel yang tergeletak begitu saja di atas tempat tidur.

Kemudian, begitu ponselnya menyala... saat melihat pesan dari Yuki yang terpampang di layar, ia langsung melempar ponsel itu ke tempat tidur.

 

Ohoi, ada apa nih? Ini event dirawat oleh gadis cantik berambut perak, lho? Bergembiralah.

 

Di sana, bersamaan dengan ikon wajah yang menyeringai, pesan semacam itu tertulis.

 

"Setidaknya... beri tahu dulu dari awal, dooonng~~ ugh."

 

Meraung meluapkan rasa tidak puasnya pada Yuki tanpa tenaga, Masachika ambruk menungkup ke tempat tidur. Rasanya ia ingin lemas begitu saja, tetapi setidaknya ia harus mencuci tangan dulu sebelum Alisa tiba, sehingga ia memeras sisa tenaganya untuk

melangkah menuju kamar mandi.

 

Lalu, tepat setelah selesai buang air kecil serta mencuci tangan dan berkumur, bel pintu rumah bergema, hingga ia melangkah menuju pintu masuk sambil menyandarkan tangannya ke dinding.

 

Pakaian atas dan bawahnya cuma baju tidur tipis dengan rambut yang berantakan habis tidur. Penampilan yang sama sekali tidak pantas diperlihatkan di depan orang lain, tetapi berhubung situasinya sudah sampai di tahap ini, ia memasrahkan diri. Sudah berada dalam kondisi pasrah apa pun yang terjadi.

 

"Iyaa~"

Mengenakan sandal rumah dan hendak membuka pintu rumah, tepat di saat itu ia teringat bahwa bukankah ia harus memakai masker dulu.

 

(Tidak, tapi... masker ada di sebelah mana, ya?)

 

Rasa ragu hanya berlangsung sekejap. Mempertimbangkan bahwa membuat Alisa menunggu itu tidak baik, Masachika membuka kunci pintu, lalu membuka pintunya dengan sungkan. Seketika itu juga, hawa panas membara dan suara jangkrik yang bising menerjang masuk secara bersamaan.

 

"Alya...? Anu, terima kasih, ya? Sudah repot-repot datang..."

 

Menjadikan pintu sebagai tameng, ia mengintip dengan sedikit memperlihatkan wajahnya. Jujur saja, mempertahankan posisi pintu yang serba tanggung begini juga merupakan pekerjaan berat bagi Masachika yang sekarang, tetapi ia menahannya. Namun, sepertinya hal itu agak terpancar di wajahnya, hingga Alisa mengedarkan pandangannya dengan raut agak terkejut.

 

"Iya, yah kalau soal itu sih... tidak apa-apa, tapi. Ternyata kondisi badanmu kelihatan lebih buruk dari perkiraanku, ya?"

 

"...Ah, barusan kamu berpikir 'Orang bodoh juga bisa kena flu, ya'?"

 

"Mana ada aku berpikir begitu."

 

Melihat Masachika yang masih sempat-sempatnya mencandai di kondisi seperti ini, Alisa menghela napas pendek, lalu mengarahkan pandangannya ke kantong belanjaan di tangannya.

 

"Bolehkah aku masuk sebentar?"

 

"Eh? Ah tidak, kalau sekadar minta obatnya saja sih sudah..."

 

"...Ini permintaan dari Yuki-san, lho. Dia memintaku untuk merawatmu."

 

Mendengar Alisa yang mengatakannya dengan agak merengut seolah terpaksa, Masachika spontan mengomeli Yuki di dalam hatinya.

 

(Wahai adikku... tidak masalah kalau otaktmu itu otaku, tapi jangan melibatkan orang lain sampai merepotkan begini, dong...)

 

Padahal bohong, sih.

 

(Ah, maaf. Ternyata salah tuduh.)

 

Melihat Alisa yang melirik-lirik kemari sambil mempermainkan ujung rambutnya, Masachika meminta maaf pada Yuki di dalam hati. Rupanya nama Yuki cuma dipakai oleh Alisa demi menutupi rasa malunya saja.

 

"Aah tidak, kalau minum obat lalu tidur paling juga sembuh, kok..."

 

"Kan lebih baik ada makanan yang masuk ke perut dulu, kan? Memangnya kamu punya tenaga buat masak sendiri?"

"Yah, begitulah... tapi, maaf kalau sampai menularkan flu ke kamu..."

 

"Tenang saja. Aku membawa masker, kok."

 

Sambil berkata begitu, sesuai pernyataannya, Alisa mengeluarkan masker dari kantong belanjaan lalu memakainya. Bahkan di saat seperti ini pun, sang gadis cantik nan sempurna sama sekali tidak memiliki celah. Terhadap kesiapannya yang begitu matang... Masachika merasa sangat serba salah.

 

(Tidak, ini memang benar, sih? Memang benar, tapi...)

 

Apa-apaan ini, rasa kecewa yang ganjil ini. Terasa seolah dirinya baru saja menjadi kuman penyakit yang sangat kotor, atau merasa event perawatan yang bikin berdebar-debar mendadak berubah menjadi tindakan medis murni...

 

(Pada akhirnya, event di mana gadis cantik di kelas merawat kita dengan penuh perhatian tanpa memakai masker itu murni cuma ilusi, ya! Maksudnya begitu, kah...)

 

Merasakan secara mendalam bahwa dunia dua dimensi dan realitas itu memang berbeda, pandangan Masachika menjadi jauh.




(Tl/N: Artinya ‘Aku tadi bohong.’)

 

"Lalu... gara-gara sudah terlanjur membawa banyak barang begini, aku bakal merepotkan kalau diusir di sini, lho?"

 

Sambil berkata begitu, Alisa mengangkat kantong belanjaan yang sepertinya terisi sangat padat. Tampaknya, selain obat ia juga membawakan bahan makanan dan berbagai hal lainnya. Memang benar, membuat seseorang yang membawakan barang berat di bawah terik matahari seperti ini lalu bilang "Aku tidak butuh jadi pulang sana" itu keterlaluan. Walau bagaimanapun, sekalipun itu bukan hal yang ia minta sendiri.

 

"Aah, iya... kalau begitu yah, aku bakal merepotkanmu sebentar deh..."

 

Berhubung tenaga dan daya tahannya sudah mendekati batas, Masachika menyambut Alisa masuk bersama rasa pasrah.

 

"Permisi."

 

Begitu Alisa masuk ke area Pintu Utama dan pintu berdentum tertutup, Masachika mendadak menjadi tidak tenang.

 

Suara jangkrik di luar makin menjauh, dan keheningan mendadak merayap masuk ke dalam rumah. Bersamaan dengan itu, situasi saat ini di mana ia sedang berduaan saja dengan seorang gadis di rumah menjadi tersadar secara kuat, hingga tindakan biasa seperti mengunci pintu rumah pun rasanya seolah-olah ia sedang melakukan hal yang terlarang.

"Kuze-kun."

 

"O, oh."

 

"Untuk sementara, pakai maskernya."

 

"A, siap."

 

Masachika yang tadinya sempat merasa agak melayang langsung berwajah datar begitu Alisa menyodorkan masker padanya. Gimana ya... rasanya seolah-olah ia baru saja dibilangi "Pakai maskermu, jorok banget". Tidak, Alisa pasti sama sekali tidak berpikiran begitu, sih.

 

Pokoknya, ia mengambil kesimpulan bahwa masker adalah musuh terbesar bagi event komedi romantis.

 

(Yah, kalau pakai masker kan tidak bisa ciuman juga... lagipula wajah yang tidak kelihatan separuh itu secara komedi romantis terbilang cukup fatal... tidak, belakangan ini ada juga sih karakter heroine yang menyembunyikan wajahnya secara penuh pakai topeng. Tapi masalahnya, yang itu kan imut justru karena ada efek khas komik atau anime yang membuat ekspresinya tetap kelihatan dari luar topeng, kalau ada secara nyata di dunia asli mah biasa saja kelihatan menyeramkan, tahu. Malahan kalau bicara soal menyembunyikan wajah, ketimbang masker aku pribadi lebih mendukung penutup mata yang melilitkan kain di area mata, tapi kalau Alya beneran melakukan hal itu mah rasanya bakal berbau kriminal banget dan dipastikan alur doujin tipis bakal tak terelakkan dan sangat tidak senonoh, wah memikirkan apa sih aku ini.)

Sambil memakai maskernya, otak otaku Masachika mengalami panas berlebih yang lepas kendali. Melihat sosok Masachika yang membiarkan tubuhnya bergoyang pelan dengan mata yang agak hampa, Alisa memasang wajah cemas.

 

"Kuze-kun? Kamu tidak apa-apa?"

 

"Begitu ya, dengan kata lain ada sensasi terlarang yang agak berbau kriminal. Hal itulah yang makin menaikkan pesona dari heroine bertopeng mata satu tingkat lagi."

 

"...Sepertinya kamu tidak baik-baik saja, ya."

 

"...Aku juga mikirnya begitu."

 

Sambil merasa canggung menerima pandangan Alisa yang menatapnya seperti menatap orang kasihan, Masachika membimbingnya menuju ruang keluarga sebelum ia membocorkan hal aneh lebih jauh lagi.

 

"Di sana kamar mandi, di sebelah sini toilet, lalu yang di sana dan di sana... yah jangan masuk ke sana, ya. Yang di sebelah sana itu kamarku.

Lalu, di sini ruang keluarga. Barang-barangmu ditaruh di sekitar situ saja tidak apa-apa. Emm, kalau haus di kulkas ada air dan teh gandum, lalu gelas dan semacamnya yah gunakan seadanya... Ada pertanyaan?"

 

"Begitu, ya... Kalau teringat sesuatu nanti bakal kutanyakan, jadi untuk sementara sebaiknya kamu cepat berbaring."

 

"Bakal kulakukan..."

Sekadar berdiri begini saja sudah menyiksa, jadi Masachika memanfaatkan kebaikan kata-kata Alisa untuk kembali ke kamarnya.

 

Ambruk ke atas tempat tidur, saat ia mengambil ponselnya demi menaruh benda mengganggu itu di samping bantal... ponselnya bergetar bzzz, dan pesan dari Yuki terpampang di layar.

 

Jangan mengkhayalkan Alya-san yang pakai penutup mata, deh

 

"Kamu dukun, apa."

 

Mendapat timing dan isi pesan yang seolah-olah sedang membaca jalan pikirannya membuat Masachika Spontan menyela dengan suara asli. Saat itu, ponselnya kembali bergetar dan pesan baru terpampang.

 

Bukan dukun, tahu. Ini murni rasa cinta

 

"Mengucapkannya sendiri apa tidak malu, sih."

 

Bicara sendiri ke arah ponsel apa tidak malu, sih

 

"Ini gara-gara siapa! Maksudku, kamu beneran sedang membaca pikiranku, kan!"

 

Ia langsung menyela sekuat tenaga. Namun, tenggorokannya mendadak terasa ketarik dan perih hingga membuatnya terbatuk-batuk, "Ehem, ehem!"

 

Tenggorokanmu sakit, kan? Jangan memaksakan diri, ya?

"..."

 

Maksudku, selaan "kamu dukun, apa" itu bukannya kuno banget? Di zaman sekarang tidak ada yang pakai kata dukun lagi, tahu

 

Sudah tidak ada niat untuk menyela lagi, Masachika melemparkan ponselnya ke samping bantal dengan agak kasar.

 

Pada momen tersebut, ia berpura-pura tidak melihat pesan Aduh! by Ponsel yang terpampang di layar. Padahal bukan saudara kembar, tetapi adik perempuannya ini terlalu pintar membaca jalan pikiran kakaknya.

 

(Pokoknya, nanti harus kupastikan kalau tidak ada kamera pengawas dan alat penyadap...)

 

Memantapkan niat itu diam-diam, Masachika berbaring telentang di atas tempat tidur.

 

"Kuze-kun? Bolehkah aku masuk?"

 

"Ngh? ...Aah."

 

Mengarahkan pandangannya ke dalam kamar sejenak untuk memastikan tidak ada barang mengganggu yang bakal bikin repot kalau kelihatan, baru ia bersuara.

 

(Aman, kok. Koleksi majalah dewasa di bawah tempat tidur yang sering ada di komik shounen, atau bingkai foto yang ditelungkupkan secara mencurigakan di komik shoujo, sama sekali enggak ada di rumahku.)

 

Kalau mengobrak-abrik lemari di rumah ini, mungkin bakal ditemukan sesuatu yang menunjukkan bahwa Masachika pernah berada di kediaman Suou. Namun, di tempat yang biasa terlihat mata barang semacam itu sama sekali tidak ada. Mengingat Masachika sendiri berusaha agar barang semacam itu tidak masuk ke jangkauan pandangannya, hal itu sudah sewajarnya.

 

"Permisi."

 

Alisa yang melangkah masuk ke kamar dengan sungkan memegang sebuah termos yang tidak familier di tangannya. Alisa yang tampaknya agak kebingungan menaruh pandangan matanya menyodorkan termos tersebut dengan ragu-ragu.

 

"Ini, teh hitam pakai madu. Kalau mau, minumlah?"

 

"Aah, terima kasih... Maaf ya, laci meja itu, maksudku raknya? Kalau ditarik keluar bisa jadi meja samping..."

 

Sesuai instruksi Masachika, Alisa menarik rak beroda milik meja belajar, menyisihkannya ke samping tempat tidur lalu meletakkan termos di atasnya.

 

"Kalau begitu, ehm... mau makan sesuatu? Yah, kalau kamu punya tenaga buat makan, sih."

 

"Aah, iya. Maksudku, tidak usah setegang itu, ah."

 

"Bukan berarti aku tegang, sih... Cuma, agak merasa kurang tenang saja."

 

Sesuai kata-katanya, sambil mengedarkan pandangannya dengan gelisah Alisa bergumam pelan, Soalnya tercium bau anak cowok....

 

(Jangan membocorkan hal semacam itu dengan suara pelan! Sudah dibocorkan jangan malah kelihatan malu-malu begitu!)

 

Melihat Alisa yang makin tidak tenang sambil melirik-lirik kemari dan mempermainkan ujung rambutnya membuat Masachika ikut merasa tidak tenang. Di tengah bau komedi romantis yang mendadak merebak secara intens, Alisa membuka suara dengan malu-malu.

 

"Emm, itu... kalau begitu, antara bubur atau borscht, kamu mau yang mana?"

 

"Pilihan macam apa itu."

 

Mendapat dua pilihan yang ekstrem membuat Masachika langsung menyela dengan wajah datar. Saat itu, Alisa langsung cerocos dengan raut agak kesal.

 

"Borscht itu bagus banget buat tubuh, lho? Sayurannya direbus sampai empuk jadi gampang dimakan walau tenaga lagi turun, bawang putih dan bawang bombainya bisa menaikkan daya tahan tubuh, lalu bit-nya membantu pencernaan jadi bagus buat lambung──"

"Aah, paham, paham. Jangan bicara seperti nenek-nenek di desa, dong..."

 

"..."

 

Meskipun cara bicaranya agak kurang sopan pada seorang gadis muda, Alisa langsung bungkam seolah kehabisan kata-kata. Jangan-jangan, itu memang murni saran dari neneknya yang orang Rusia.

 

"Lalu, mau yang mana?"

 

"Bagaimana, ya... kalau begitu mumpung lagi begini, borscht saja deh..."

 

"Begitu ya. Kalau begitu, yah... tolong tunggu sekitar empat jam──"

 

"Mana bisa kutunggu. Bukan, mana bisa kutungguuu."

 

Masachika merespons secara refleks pada durasi waktu yang cuma bisa dianggap sebagai candaan. Namun, Alisa sama sekali tidak berniat bercanda sehingga ia merendahkan alisnya.

 

"Tapi kan bahan borscht itu banyak... Kalau pakai panci presto sih bisa menghemat waktu, tapi itu kan menyalahi aturan..."

 

"Tidak, aku tidak tahu soal idealisme itu, sih. Kalau begitu bubur biasa saja sudah cukup, kok. Ah, bilang 'cukup' itu kurang sopan sih, tapi aku merasa tidak enak kalau sampai merepotkanmu terlalu jauh..."

Lama-kelamaan berbicara saja terasa menyiksa, hingga Masachika memelankan suaranya lalu menyandarkan tubuhnya secara lemas di tempat tidur.

 

"Aku paham. Kalau begitu, aku buatkan bubur dulu... aku pinjam dapurnya, ya."

 

"Ooh~..."

 

Sambil membalas agak pasrah, Masachika melepas kepergian Alisa.

Tepat saat membuka pintu, Alisa mengeluarkan ponselnya lalu mulai mengetik sesuatu dengan alis bertaut. Memperhatikan gerakan jemari gadis itu... tatapan Masachika mendadak kosong.

 

"...Bukan, kamu malah baru mau mencari cara membuat buburrr."

 

Alisa melangkah keluar ruangan, meninggalkan selaan lemas Masachika yang bergema di dalam kamar.

 

(Kan tinggal menanak beras pakai air atau kaldu, terus dikasih garam... kan? Di sebelah mana letak bagian yang bisa bikin salah...)

 

Masachika membatin begitu dalam hati, tapi...

 

"Begitu, ya... Bumbunya pakai garam, bukan gula, ya. Benar juga, kan ini bukan kasha."

 

Ternyata letak potensi salahnya gede banget. Sekadar informasi, kasha adalah bubur khas Rusia yang menggunakan oatmeal atau gandum kasha sebagai pengganti beras, susu sebagai pengganti kaldu, dan gula sebagai pengganti garam.

 

Keputusan mencari tahu di internet benar-benar langkah yang sangat tepat. Kalau tidak, bisa-bisa percakapan luar biasa langka ini bakal terjadi: "Uwek! Ini garam sama gulanya ketukar, kan!?" "Eh? Tidak kok?" "Eh?" "Eh?".

 

"Emm, kalau pakai nasi instan kemasan... apa bisa langsung dimasukkan ke panci begini, ya? ...Ah, harus dihangatkan di microwave dulu, toh."

 

Sambil memegang ponsel, Alisa memasukkan nasi instan kemasan yang dibelinya ke dalam microwave.

 

"Air secukupnya itu... secara spesifik berapa liter, sih..."

 

Gara-gara petunjuk yang tidak jelas, ia meluapkan rasa tidak puasnya sambil merujuk ke beberapa resep, lalu mengisikan air ke dalam panci.

 

"Ah, nasinya sudah hangat... Ah, panas! Panas banget!"

 

Ia dibuat kaget oleh panasnya wadah kemasan, lalu dibuat kaget lagi oleh uap panas yang menyembur saat membuka tutupnya. Setelah bersusah payah memegang tepi kemasan untuk membawanya ke atas panci, ia terburu-buru memiringkan wadah agar cepat terbebas dari rasa panas, yang justru membuat gumpalan nasi jatuh berdebum ke dalam air hingga mencipratkan air ke sekeliling.

 

Parahnya lagi, gara-gara memiringkan wadah ke arah tubuhnya, airnya sampai menciprat ke perutnya sendiri.

 

"..."

 

Area dapur yang kecipratan titik-titik air, serta pakaiannya yang basah sampai pada tingkat yang sulit ditutupi. Alisa menunduk menatap itu semua dengan kaku seolah membeku... sebelum akhirnya perlahan mendongak, lalu mengelap pakaian dan area dapur menggunakan kain lap.

 

"Tidak apa-apa... Pakai celemek langsung aman."

 

Ia mengeluarkan celemek dari dalam tasnya, memakainya dengan sigap, lalu melanjutkan memasak seolah tidak terjadi apa-apa. Rasanya ingin menyela di sebelah mananya yang aman, tapi secara martabat seorang Alisa, ini mungkin sudah aman. Mungkin. Prinsipnya, asal tidak ketahuan ya tidak masalah.

 

"...Seberapa banyak air yang menciprat tadi, ya?"

 

Ia kembali sedikit pusing memikirkan takaran air di panci, tetapi pada akhirnya berhasil menyesuaikan volume air hingga pas, lalu menyalakan kompor.

 

"..."

 

Ia menutup pancinya, lalu menunggu nasinya matang. Menunggu. Menunggu...

"...Apa begini saja sudah cukup, ya? Apa ada yang terlewat..."

 

Tepat saat tangannya menganggur, tanpa alasan yang jelas Alisa mendadak merasa cemas. Ia sengaja membuka tutupnya untuk mengaduk isinya, atau memeriksa resepnya berulang kali untuk memastikan tidak ada kekeliruan...

 

"Mengental itu... secara spesifik seberapa kental, sih... Kan bisa ditulis lebih jelas seperti 'airnya menyusut total' atau semacamnya."

 

Sambil terus ngedumel begitu, ia akhirnya berhasil menyelesaikan buburnya dengan satu dan lain cara.

 

"...Apa sudah pas begini, ya?"

 

Urusan takaran garam biar disesuaikan sendiri oleh yang makan, jadi ia menuangkan bubur ke atas piring, lalu menaburkan daun bawang (ia menghabiskan lima menit hanya untuk mencincangnya) sebagai sentuhan akhir. Membawa piring itu bersama sendok dan botol garam, Alisa melangkah menuju kamar Masachika.

 

(Kenapa bagian di sini agak penyok, ya...?)

 

Sambil membatin bingung melihat bagian agak penyok di bawah gagang pintu, Alisa bersuara sebelum masuk ke kamar.

 

"Kuze-kun? Aku bawakan buburnya, nih."

 

"Ooh... terima kasih."

Masachika berbaring lemas di atas tempat tidur. Suaranya agak serak, dan matanya yang terarah pada Alisa kelihatan agak sayu. Melihat sosok Masachika yang lemas tak berdaya dan tidak seperti biasanya itu, Alisa...

 

(Rasanya ingin dielus-elus...)

 

Rasa keibuannya mendadak muncul begitu saja. Lalu ia langsung memutus pemikiran yang muncul di kepalanya itu detik itu juga.

 

Menginjak-injaknya sampai remuk, memadatkannya jadi kecil, lalu melemparkannya jauh-jauh ke ruang hampa di dalam otaknya.

 

Di saat ia melakukan hal itu, Masachika perlahan mengangkat tangan kanannya lalu mengacungkan jempolnya.

 

"Terima kasih banyak atas penampilan celemeknya."

 

"...Kelihatannya kamu masih punya cukup tenaga, ya."

 

Sambil bersyukur dalam hati pada masker yang menutupi pipi dan mulutnya, Alisa mengatakannya dengan mata menyipit tajam, lalu menggerakkan kakinya yang sempat terhenti. ...Alisa sendiri tidak menyadari kalau ujung telinganya yang tidak tertutup masker sudah memerah. Walau Masachika menyadarinya dengan jelas.

 

"...Bisa makan?"

 

"Ngh... yah, begitulah."

Sambil bergerak menggeliat untuk bangun, Masachika duduk di tepi tempat tidur. Begitu bubur diletakkan di hadapannya, Masachika melepas maskernya dengan lemas, lalu mengambil sendok.

 

"...Bakal ditiupkan tidak, nih?"

 

"Mau ditiupkan?"

 

"...Gak, cuma bercanda."

 

Sambil melemparkan candaan dengan senyum tipis, Masachika bergumam pelan "Selamat makan", lalu menyuapkan bubur ke dalam mulutnya. Duduk di kursi sambil mengawasi proses tersebut, Masachika bergumam pelan setelah suapan pertama di hadapan Alisa.

 

"...Enak, lho."

 

"Begitu, ya."

 

Meskipun ada keraguan apakah bubur memang punya rasa enak atau tidak, tapi yah, berhubung tidak dibilang aneh, ia menganggapnya aman.

 

Untuk beberapa saat ia mengawasi Masachika yang sedang makan bubur, tetapi karena merasa canggung terus-terusan memperhatikan orang yang sedang makan, Alisa mengalihkan pandangannya ke dalam kamar.

 

"..."

 

Hal pertama yang dirasakan Alisa saat melihat kamar Masachika adalah kamarnya ternyata cukup rapi... atau lebih tepatnya, tidak banyak barang. Berhubung Masachika terang-terangan mengaku sebagai seorang otaku, ia mengira bakal ada rak buku besar yang dipenuhi jajaran komik dan light novel, atau meja belajar yang dipenuhi jajaran figurin... tapi barang-barang semacam itu sama sekali tidak terlihat.

 

Komik memang ada, tapi itu pun hanya beberapa jilid yang menumpuk di atas meja belajar.

 

"...Barang-barang otaku ada di kamar lain, lho."

 

"A, aah, begitu, ya."

 

Ditegur pelan seolah pikirannya dibaca membuat Alisa memalingkan wajahnya ke depan karena canggung. Lalu, demi mengalihkan topik pembicaraan, ia spontan menyuarakan hal yang membuatnya penasaran.

 

"Anu... orang tuamu ke mana?"

 

"Ayah kerja. Ibu tidak ada."

 

"Eh...?"

 

"Aah, bukannya aku menyembunyikannya, sih... rumah ini cuma keluarga ayah dan anak."

 

"A, be-, begitu... ya..."

Diutarakan tanpa beban membuat Alisa Spontan merasa goyah. Namun, Masachika melanjutkannya dengan nada lelah seolah itu bukan hal penting.

 

"Bukannya dipisahkan oleh kematian, kok? Murni bercerai. Di zaman sekarang kan bukan hal aneh."

 

"Be-, begitukah..."

 

Mungkin ada efek lemas gara-gara flu juga. Namun, melihat Masachika yang menceritakan soal ibunya sendiri dengan nada terkesan malas, Alisa mendadak merasa sedih.

 

Lalu, ia baru menyadari alasan kakek Masachika yang datang saat wawancara tiga pihak kemarin, dan merasa agak kecewa pada kelambatan pikirannya sendiri. Di saat yang sama, ia terperangah menyadari betapa sedikitnya hal yang dia ketahui tentang Masachika.

 

(Kalau dipikir-pikir... aku bahkan baru tahu hari ulang tahun Kuze-kun belum lama ini, ya...)

 

Padahal sudah lebih dari setahun duduk di sebelahnya, dirinya bahkan tidak tahu hal semacam itu. Dan fakta bahwa ia tidak menyadari ketahuannya sampai diberi tahu, membuat Alisa makin merasa kecewa pada dirinya sendiri.

 

Fakta bahwa hal itu tidak disembunyikan berarti informasi tersebut... tentu saja sudah diketahui oleh teman masa kecilnya seperti Yuki dan Ayano.

Membayangkan Yuki dan Ayano pernah merayakan ulang tahun Masachika di rumah yang sepi ini tanpa sepengetahuannya, membuat perasaan tak nyaman mengganjal di dada Alisa. Namun, kalau Yuki tidak memberitahunya hari ini, mungkin Alisa akan tetap sama sekali tidak tahu tentang keadaan keluarga Masachika. Kalau dipikir-pikir begitu, seharusnya ia berterima kasih kepada Yuki... mungkin. Meski entah kenapa, rasanya masih agak mengganjal.

 

(Lain kali, aku bakal mencoba mengobrol lebih banyak hal lagi dengan Kuze-kun.)

 

Tepat saat Alisa memantapkan niat itu diam-diam, Masachika selesai menghabiskan buburnya.

 

"Terima kasih atas makanannya... Enak, kok. Ah, teh hitam ini juga."

 

"Sama-sama... Teh hitam ini titipan dari Masha, jadi nanti bakal kusampaikan rasa terima kasihmu ke Masha."

 

"Tolong, ya."

 

"Kalau begitu... berikutnya obat, ya. Ah, sebelum itu bukannya lebih baik berganti pakaian dulu?"

 

Melihat baju tidur Masachika yang sudah kusut oleh keringat, Alisa berucap begitu, dan Masachika membalasnya dengan senyum tipis bergaya bercanda.

 

"Ohoi, event mengelap keringat lalu berganti pakaian itu baru jadi fan service kalau yang melakukan anak cewek, tahu?"

 

"Jangan bicara yang tidak-tidak, cepat berganti pakaian sana. Aku bakal ambilkan obat dan air."

 

"...Aah, siap."

 

"Perlu air hangat dan handuk?"

 

"Tidak usah, tidak apa-apa. Nanti kulap pakai baju tidur ini saja."

 

"Begitu... Ah, termometernya ada di mana, ya?"

 

"Aah, kalau itu di──"

 

Setelah mendengar lokasi penyimpanan termometer dari Masachika, Alisa membawa peralatan makan yang sudah kosong keluar dari kamar.

 

Lalu, saat mencucinya di bak cuci piring dan hendak menaruhnya di

keranjang pengering...

 

"Ah..."

 

Di sana, ia menemukan cangkir mug yang baru saja ia hadiahkan dua

hari lalu.

 

(Dipakai... ternyata.)

Fakta itu membuat dadanya terasa hangat. Tanpa sadar, ia mengambil mug tersebut sambil tersenyum-senyum sendiri... sampai sekitar sepuluh detik kemudian ia tersadar dan buru-buru mengembalikannya ke tempat semula. Ia segera mengedarkan pandangan ke sekeliling, memastikan tidak ada seorang pun yang melihatnya, lalu berdeham tanpa alasan.

 

Setelah menenangkan perasaannya, ia membawa air, obat, dan barang-barang lainnya kembali ke kamar Masachika.

 

"Boleh masuk?"

 

"...Ooh."

 

Saat masuk ke kamar, Masachika yang sudah berganti baju tidur baru sedang duduk di tepi tempat tidur menunggu. Baju tidur bekasnya tidak terlihat di mana-mana, tapi mungkin karena merasa malu kalau baju tidur yang baru saja dilepasnya kelihatan, ia menyembunyikannya di suatu tempat.

 

"Ini, obat dan plester penurun panas untuk dahi... lalu, termometer."

 

"Terima kasih."

 

Masachika menjepit termometer di ketiaknya, lalu meminum obatnya dengan air. Setelah menunggu sebentar, termometer pun berbunyi. Lalu, saat Masachika hendak mencabut termometernya... ia memamerkan senyuman menyeringai seolah baru teringat sesuatu.

 

"Tebak berapa suhunya?"

 

"Tidak usah tebak-tebakan, ah."

 

"Mmm... ya sudah deh. Sip! Tiga puluh delapan koma empat derajat!"

 

"..."

 

"Uh! Hampir! Tiga puluh delapan koma enam derajat, ternyata!"

 

"Jangan melakukan hal konyol, cepat tidur sana."

 

"Ehem, ugh... baik."

 

Rambut poninya ditarik ke atas secara paksa lalu plester penurun panas ditempelkan secara telak di dahinya, membuat Masachika ambruk begitu saja ke atas tempat tidur.

 

Sambil merapikan posisinya di atas tempat tidur dan menarik maskernya hingga ke hidung, ia melemaskan seluruh tubuhnya.

 

"...Beneran terima kasih banyak, ya. Uangnya nanti kuganti, jadi simpan saja struk pembelanjaannya."

 

"Tidak usah, segini saja tidak masalah, kok."

 

"Nggak bisa. Kalau soal uang, harus jelas."

 

"Iya, iya. Aku paham."

"Kalau begitu aku mau tidur lagi... kamu boleh pulang sekarang. Ehm, kuncinya..."

 

"Tidak usah merasa tidak enak. Aku bakal belajar di ruang keluarga, kok."

 

"Bukan, tidak perlu sampai sejauh itu..."

 

"Orang sakit tidak usah merasa tidak enak secara aneh. Nah, cepat tidur."

 

"Siaap..."

 

Lampu kamar dimatikan, dan Masachika memejamkan matanya pasrah.

 

Lalu, ia merasa langkah kaki Alisa yang tadinya dikira bakal langsung keluar kamar justru kembali mendekat.

 

(Aah, mau membawa termometer dan gelas, ya...)

 

Berseberangan dengan perkiraan Masachika, terdengar suara kursi berderit tepat di sampingnya, lalu sebuah tangan hinggap di atas dadanya, menepuk-nepuknya secara lembut dengan ritme konstan.

 

"...Alya-san?"

 

"Apa."

 

Tindakan Alisa yang seolah-olah sedang menidurkan anak kecil membuat Masachika spontan membuka matanya, "Bukan, kalau begini jujur saja rasanya malu...", tetapi... saat melihat pandangan mata Alisa yang tajam, ia menelan kembali kata-katanya.

 

"Enggak... terima kasih, ya. Buat semuanya."

 

"Tidak apa-apa... lagipula, aku kan selalu dibantu..."

 

"Bukannya justru aku yang selalu dibantu?"

 

Saat lupa membawa barang dan semacamnya, tambahnya, lalu Masachika kembali memejamkan matanya. Lalu, mungkin berkat sentuhan lembut yang menepuk dadanya, rasa kantuknya meningkat dengan sangat cepat.

 

"Hal semacam itu... jika dibandingkan dengan bantuanmu di pertarungan pemilihan, tidak ada apa-apanya... Lagipula, selain itu juga ada banyak hal..."

 

"Jangan dipikirkan... aku melakukannya murni karena aku ingin melakukannya, kok."

 

Dengan kepala yang makin linglung diserang rasa kantuk yang hebat, Masachika memotong perkataan Alisa.

 

Pembicaraan selesai sampai di sini. Mari tidur... pikir Masachika, tetapi di luar dugaan Alisa masih membocorkan sesuatu.

 

"Karena ingin? Maksudnya, bagaimana..."

 

"Hah? Apanya..."




"Kenapa kamu membantuku?"

 

"Soalnya, aku... padamu......"

 

"...Kuze-kun?"

 

"..."

 

Alisa mengatakan sesuatu. Keinginan untuk menjawab... juga tersapu oleh gelombang rasa kantuk yang begitu hebat. Begitulah Masachika kehilangan kesadarannya secara penuh... dan tepat sebelum momen itu terjadi, bisikan lembut Alisa jatuh di telinganya.

 

"Selamat tidur... Masachika-kun."

 

 

"Uu..."

 

Saat Masachika kembali membuka matanya, di luar sudah gelap gulita.

 

"Aah..."

 

Mungkin efek obat sudah bekerja, rasanya jauh mendingan ketimbang tadi siang. Indranya masih agak tumpul dan kepalanya terasa linglung, tapi itu mungkin murni karena ia tertidur terlalu lama.

 

Saat melihat jam, waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam lewat. Berarti ia sudah tertidur selama lima jam lebih. Jika menghitung waktu tidur tadi pagi, ia jelas-jelas tertidur terlalu lama.

 

(Alya... sudah pulang, kan?)

 

Sambil membatin begitu, sebelum keluar kamar Masachika mengambil ponselnya karena kebiasaan, lalu merapatkan alisnya melihat layar kunci yang menyala.

 

Di sana, dua pesan dari Yuki terpampang: Apakah pesanan Anda maid? dan Udah kutumpahkan bahan bakarnya ZE☆.

 

Dihantui firasat buruk, Masachika membuka pintu kamar... lalu sengaja memalingkan pandangan, berusaha kabur dari kenyataan.

 

Sebab, di ruang keluarga, dua orang gadis cantik sedang saling menatap dalam diam... benar-benar diam.

 

(Begitu ya, ini yang dinamakan Perang Dingin. Baru tahu kalau Jepang dan Rusia bisa terjadi Perang Dingin juga).

 

Masachika yang sedang memikirkan hal bodoh bergaya melarikan diri dari realitas mendadak ditarik kembali ke realitas secara paksa saat mereka berdua menyapanya bersamaan merespons suara pintu yang terbuka.

 

"Kuze-kun, tidak apa-apa langsung bangun?"

 

"Masachika-sama, bagaimana kondisi Anda?"

 

Satu orang adalah Alisa, dan satu orang lagi... Ayano yang rambutnya biasanya terurai rapi di sekolah kini diikat rapi memperlihatkan dahinya, dan mengenakan pakaian maid berperlengkapan lengkap (?).

 

Sebagai informasi, baju maid Ayano ini tipe yang sangat berenda dan mengembang khas Akihabara, tetapi ini murni hobi Yuki, bukan seragam pelayan keluarga Suou.

 

Seragam pelayan keluarga Suou lebih simpel dan tidak pakai hiasan kepala. Baju maid ini adalah baju pilihan sepenuh hati dari Yuki yang berhasil disetujui kakek mereka setelah Yuki berunding langsung dengan kalimat "Anak muda harusnya disuruh pakai baju yang lebih imut!", dengan syarat hanya saat tidak ada tamu yang datang.

 

(Memang imut sih... tapi tidak pas buat situasi sekarang).

 

Melihat penampilan maid Ayano setelah sekian lama membuat pandangan Masachika menjadi jauh dalam berbagai arti. Di saat itu, Ayano yang duduk di kursi berseberangan dengan Alisa berdiri dengan sigap tanpa suara, lalu merasuk ke samping Masachika lewat gerakan layaknya seorang ahli.

 

"Silakan, saya pinjamkan bahu saya".

 

Tanpa disadari Ayano sudah menempel rapat di sisi kanan Masachika.

 

Lengan kiri Ayano merangkul pinggang Masachika, dan tangan kanannya bertengger di dada Masachika.

 

"Enggak, tidak usah sampai sejauh itu, ah".

 

"Jangan memaksakan diri".

 

Masachika berusaha menarik tubuhnya seketika, tetapi lengan Ayano yang melingkar di pinggangnya makin mengencang, dan tubuh Ayano menempel erat di sisi kanannya.

 

"Tenang dulu, Ayano. Yang boleh melingkarkan lengan ke bahu maid itu cuma bos organisasi gelap yang memelihara budak, tahu?"

 

"Anda yang harus tenang. Lalu Kimishima-san, tolong menjauh".

 

"Tidak bisa, ini juga bagian dari tugas seorang maid".

 

"Kamu kan bukan maid-nya Kuze-kun, tapi maid-nya Yuki-san, kan".

 

Mendengar teguran Alisa, Ayano mematung seketika... dan memanfaatkan celah itu, Masachika berusaha menjauhkan tubuhnya pelan-pelan. Namun,

 

"...Yuki-sama memerintahkan saya untuk merawat Masachika-sama. Karena itu, ini adalah tugas seorang maid".

 

Seolah berkata "Tidak akan kulepas!", Ayano kembali menempelkan tubuhnya rapat-rapat. Alis Alisa terangkat tajam.

"Mengingat hal itu, perawatan Masachika-sama akan saya ambil alih. Berhubung sudah malam, silakan Alisa-sama pulang. Saya akan antarkan menggunakan mobil keluarga Suou".

 

(Woi, cara bicaramu! Walau mungkin tidak ada maksud lain, itu kedengarannya murni provokasi, tahu!?)

 

Bagi Ayano, ia murni bermaksud "Karena sudah malam, sisanya biarkan saya yang urus, ya?". Tapi kalau mengatakannya dengan gaya datar sambil menempel di samping Masachika, wajar saja kalau diartikan sebagai "Dia punya aku, jadi kamu sudah tidak berguna lagi. Mobil sudah kusiapkan jadi cepat pulang sana?".

 

Faktanya, Alisa menaikkan alisnya dengan tajam mendengar kata-kata Ayano, lalu menatap Ayano dengan mata yang tajam. Tapi Ayano membalas tatapan itu tanpa ekspresi sedikit pun.

 

(Loh? Beneran tidak ada maksud lain... kan?)

 

Harusnya kalau tidak ada maksud lain, dia bakal memiringkan kepalanya bingung kenapa dipelototi, kan? Loh? Ini jangan-jangan situasi rumit? Situasi rumit, kah?

 

Keraguan bergejolak di dalam diri Masachika, dan di saat yang sama pesan Yuki Udah kutumpahkan bahan bakarnya ZE☆ kembali terbayang di benaknya. Kenapa dibilang bahan bakar tapi malah bikin merinding, apakah ini efek flu atau apa.

 

"Lagipula, bukankah Alisa-sama sedang sibuk dengan persiapan untuk besok?"

 

"..."

 

Mendengar kata-kata Ayano, alis Alisa terangkat sedikit. Tapi... Masachika tidak paham apa maksudnya.

 

"Besok? Ada apa?"

 

"Tidak ada apa-apa, kok? Cuma sekolah biasa".

 

Menimpali dengan cepat, jawaban Alisa membuat Masachika merasa agak penasaran...

 

"...Kuze-kun ingin dirawat oleh siapa?"

 

Namun, pertanyaan Alisa selanjutnya langsung menerbangkan keraguan kecil itu.

 

(Pertanyaan macam apa itu!?)

 

Mendapat pertanyaan pamungkas yang dijawab bagaimana pun bakal salah, Masachika menjerit dalam hati.

 

(Kalau dibilang mana, Ayano jelas lebih terbiasa dengan hal begini dan tidak enak kalau menahan Alya terus-terusan, jadi jawabannya Ayano, tapi kan... Dia pasti tidak ingin mendengar jawaban logis seperti itu, kan...)

Ini bukan soal logika. Di saat seperti ini cewek ingin mendengar perasaan jujur tanpa logika. Masachika paham betul soal hal itu.

 

(Perasaan jujur, perasaan jujur, ya...)

 

Dengan kepala yang agak linglung entah karena demamnya kumat lagi, Masachika bertanya pada hatinya sendiri. Apa yang ia harapkan. Siapa yang ia inginkan untuk merawatnya... dan jawabannya meluncur dari mulutnya secara alami.

 

"Aku minta eksekusi harem".

(Tl/N: Kalau omong jangan blak-blakan mas Masachika, nnti mbak Alisa ngambek takutnya)

 

Sampah. Beneran cowok sampah. Cahaya di mata Alisa sirna dalam sekejap.

 

"Ah, bukan, tadi itu..."

 

"..."

 

"Baik, saya mengerti. Apakah saya perlu memanggil Yuki-sama juga?"

 

"Jangan diiyakan, woi".

 

"Kalau begitu, Alisa-sama, tolong bantu menopang bahu kiri Masachika-sama".

 

"Tidak usah, tidak usah".

"Tidak perlu malu, kok? Saya tahu kalau laki-laki ingin dikelilingi oleh banyak wanita".

 

"Bisa tidak berhenti menyudutkanku tanpa niat jahat sedikit pun!?"

 

Melihat Ayano yang menatapnya dengan mata bening yang berbeda arah dari Alisa membuat Masachika berteriak seperti menjerit. Tepat setelah itu, hela napas panjang Alisa terdengar di telinganya, membuat tubuh Masachika tersentak.

 

"...Kalau bisa berteriak sampai sejauh itu, sepertinya kamu sudah tidak apa-apa, ya".

 

"A, Alya-san?"

 

"Aku mau pulang. Ah, di dapur ada borscht, silakan dimakan untuk makan malam".

 

"Bo-, borscht? Ah, bau ini ternyata itu, ya?"

 

Masachika mengedarkan pandangannya merespons aroma familier yang merebak di ruang keluarga. Mengangguk dalam diam seolah membenarkan, Alisa merapikan barang bawaannya lalu bersiap keluar dari ruang keluarga.

 

"Ah, Ayano? Jujur saja ini agak susah buat jalan, jadi bisa lepas?"

 

"...Baik, saya paham".

Setelah Ayano mau melepaskannya, Masachika menyusul Alisa. Lalu saat menyusul di area pintu utama, ia merendahkan alisnya dan meminta maaf pada Alisa.

 

"Maaf ya, jadinya begini.. Padahal kamu sudah repot-repot datang, tapi malah jadi seperti ini... tapi, aku beneran sangat terbantu, lho. Terima kasih ya."

 

Mendengar rasa terima kasih Masachika, raut wajah Alisa melunak.

 

"Tidak apa-apa, kok. ...Aku juga cuma melakukannya karena ingin."

 

"...Ngh? 'Juga'?"

 

"...Tidak usah dipikirkan."

 

Sambil memalingkan pandangan dari Masachika yang memiringkan kepalanya sedikit, Alisa menatap ke arah Ayano yang berdiri di belakang serong Masachika.

 

"Kalau begitu, soal Kuze-kun, tolong diurus ya?"

 

"Baik, serahkan kepada saya."

 

Mengangguk pelan pada Ayano yang membungkuk hormat, Alisa kembali menatap ke arah Masachika.

 

"?"

Sorot mata Alisa itu. Pandangan mata yang seolah memancarkan tekad kuat seperti baru saja memantapkan sebuah keputusan membuat Masachika memiringkan kepalanya.

 

"Alya?"

 

"Kalau begitu Kuze-kun, sampai nanti."

 

"A, ooh... sampai nanti ya."

 

Namun, Alisa tidak membalas sapaan Masachika yang dipenuhi rasa penasaran. Ia berbalik memutar tumitnya, mendorong pintu depan hingga terbuka, lalu melangkah ke luar.

 

Masachika mengantarnya pergi dengan perasaan yang masih serba tidak jelas, tetapi suara Ayano yang melangkah maju dari belakang lalu mengunci pintu depan langsung memutus keraguan Masachika.

 

"Apakah Anda tidak apa-apa? Bagaimana jika saya tetap memapah bahu

Anda?"

 

"Enggak, tidak usah ah."

 

Melihat Masachika yang berdiri mematung dengan pandangan linglung, entah memikirkan apa Ayano kembali mengikis jarak, membuat Masachika melangkah mundur.

 

"Maksudku, tadi rasanya ada yang mengenai kakiku... Kamu memasukkan sesuatu di dalam saku, ya?"

Lalu, sambil mengelus bagian luar pahanya demi mengulur situasi, ia berbicara begitu. Seketika itu juga Ayano menghentikan gerakannya, lalu setelah memiringkan kepalanya perlahan, ia mengedipkan matanya seakan baru teringat sesuatu.

 

"Aah, itu adalah..."

 

Lalu entah memikirkan apa, ia mendadak memegang rok baju maid-nya, lalu mengangkatnya ke atas tanpa ragu sedikit pun.

 

"Tunggu, apa yang kamu laku──!?"

 

Di hadapan Masachika yang Spontan membelalakkan matanya terperangah, lutut Ayano yang terbalut socks paha berwarna putih tersingkap jelas… dan lebih ke atas lagi , bagian paha yang terekspons…?

 

"Apa-apaan itu."

 

Melihat barang yang terlilit di paha Ayano membuat wajah Masachika mendadak datar.

 

Tak heran kalau Masachika sampai bengong. Di masing-masing paha Ayano terlilit dua sabuk hitam, dan di sana terselip deretan benda berwarna perak yang sekilas tampak seperti pulpen.

 

"Ini adalah senjata."

 

"Apa-apaan itu!?"

 

Di hadapan Masachika yang berteriak diselingi jeritan, Ayano mengibaskan lengan kanannya seolah memangkas roknya dengan sigap.

 

Rok yang berkibar dengan anggun. Zettai Ryouiki memikat yang kelihatan tapi tak kelihatan.

 

Di hadapan Masachika yang spontan membelalakkan mata melihat pemandangan yang dipastikan bakal mencuri perhatian pria mana pun... tangan kanan Ayano disodorkan ke depan.

 

"Ini adalah senjata."

 

"Enggak, makanya itu apa-apaan."

 

Benda yang dijepit di antara jari-jari Ayano adalah tiga buah pensil mekanik berbadankan logam yang bagian ujungnya sangat tajam.

 

Memang sih, kalau ditusukkan ke leher dengan sekuat tenaga pasti bakal memancarkan daya bunuh yang cukup, tapi... kenapa juga ia harus menyembunyikan barang semacam itu di dalam roknya.

 

"Menurut kata Yuki-sama... yang seperti ini katanya bagus."

 

"Iya, aku sudah tahu."

 

"Katanya baju maid adalah pakaian tempur, jadi harus selalu berada

dalam kondisi siap tempur..."

 

"Begitu ya. Memangnya anak itu berniat bertarung melawan apa, sih."

Berada dalam kondisi pasrah, Masachika kembali ke ruang keluarga tanpa menyela lebih jauh lagi.

 

"Apakah Anda memiliki nafsu makan? Alisa-sama sudah menyiapkan borscht, tapi..."

 

"Aah, kalau begitu boleh deh minta porsinya?"

 

"Baik, saya mengerti. Kalau begitu mohon tunggu sebentar."

 

Duduk di kursi lalu mengukur suhu tubuhnya sambil menunggu, tidak lama kemudian aroma yang enak berhembus merebak.

 

"Maaf membuat Anda menunggu. Apakah demam Anda masih ada?"

 

"Aah... tiga puluh tujuh koma empat derajat. Yah, sudah lumayan mendingan, sih."

 

"Itu adalah hal yang sangat baik... Silakan, ini sudah saya panaskan kembali."

 

"Terima kasih."

 

Memegang sendok lalu mengintip isi piringnya, di sana tersaji sup berwarna merah pekat yang benar-benar mencerminkan borscht.

 

Mungkin demi memedulikan orang sakit, sepertinya tidak ada daging dan murni hanya sayuran saja yang direbus hingga matang.

 

"Kalau begitu... selamat makan."

 

Untuk sementara ia menyendok supnya saja lalu menyuapkannya ke dalam mulut, seketika rasa asam yang kuat merangsang lidahnya.

 

Namun tak berapa lama kemudian manisnya sayuran menyebar, memberikan sensasi seolah rasa indra pengecapnya yang tumpul gara-gara flu pulih secara cepat.

 

"Enak..."

 

Nafsu makannya langsung terangsang hebat, hingga Masachika menyendok isiannya dengan sendok selanjutnya. Setiap sayurannya direbus dengan sangat empuk, hingga meleleh hancur di dalam mulut tanpa perlu banyak dikunyah. Kubis dan bawang bombainya terasa manis, dan bit-nya pun hampir tidak terasa bau tanahnya.

 

(Waktu kecil dulu, waktu makan di rumah Kakek aku sempat tidak suka sama bau tanah itu... Kakek sih tertawa sambil bilang bau ini enak, tapi aku jelas-jelas lebih suka yang seperti ini.)

 

Asyik makan hingga lupa waktu, tanpa disadari ia sudah menghabiskan porsi yang disajikan secara bersih.

 

"Di panci masih tersisa sedikit lagi... bagaimana?"

 

"...Kalau begitu, boleh deh minta sisanya?"

 

Lalu, ia menghabiskan seluruh sisanya begitu saja. Masachika sendiri sedikit terkejut karena tidak menyangka bakal bisa makan sebanyak ini.

 

"Terima kasih atas makanannya. ...Harus berterima kasih ke Alya, nih."

 

Seingatnya, yang bersangkutan sempat bilang kalau membuatnya memakan waktu sekitar empat jam. Mengingat dia sudah meluangkan waktu dan tenaga sebanyak itu demi dirinya, Masachika murni merasa bersyukur.

 

"Huu..."

 

Selesai makan, kepala Masachika kembali terasa agak linglung. Apakah gara-gara perutnya sudah kenyang, ataukah demamnya kumat lagi...

 

"Masachika-sama, ini obatnya."

 

"Ooh, thanks."

 

Meminum obat yang diberikan Ayano, Masachika berdiri untuk tidur.

 

Menahan Ayano yang berniat memapahnya, ia melangkah ke kamarnya sendiri perlahan lalu berbaring di atas tempat tidur.

 

"Ugh, haaa~~..."

 

"Masachika-sama, bagaimana dengan mandi?"

 

"Emm~ hari ini rasanya tidak usah dulu deh..."

"Kalau begitu, setidaknya biarkan saya yang mengelap tubuh Anda."

 

"Sepertinya mandi shower sebentar saja boleh juga deh, yup."

 

Melihat Ayano yang mengepalkan tangannya dengan mata penuh semangat, Masachika langsung menarik kembali perkataannya seketika.

 

Entah kenapa, ia merasa jika memasrahkan tubuhnya pada Ayano dalam kondisi seperti ini bakal jadi sangat gawat.

 

"Kalau begitu, bagian punggungnya akan saya──"

 

"Tidak usah, tidak usah."

 

"Tidak apa-apa, kok. Saya akan memakai penutup mata dengan benar."

 

"Di sini malah flag penutup mata kerekam beneran, dong? Enggak, dibersihkan tubuhnya sambil pakai penutup mata mah cuma bikin firasat buruk saja."

 

"Kalau begitu... tanpa penutup mata."

 

"Cuma bikin firasat mesum saja, tahu."

 

"Tenang saja. Saya berjanji sebagai seorang pelayan bahwa saya tidak akan pernah melihat Masachika-sama dengan pandangan seksual."

 

"Deklarasi macam apa itu? Woi, deklarasi macam apa itu?"

"Jika saya melanggar janji ini, silakan lakukan apa pun pada tubuh saya..."

 

"Berat, berat, berat banget."

 

Setelah itu, ia berusaha setengah mati menahan Ayano yang mencoba merawatnya lewat berbagai cara, hingga saat bersiap untuk tidur Masachika merasa lemas dalam berbagai arti.

 

"Kalau begitu Masachika-sama... selamat tidur."

 

"Ooh... selamat tidur."

 

Pura-pura tidak menyadari atmosfer Ayano yang terkesan kurang puas, Masachika melambaikan tangannya pelan.

 

"Bagaimanapun juga, menemani tidur..."

 

"Bakal ketularan flu jadi tidak usah, ah."

 

"Setidaknya lagu pengantar tidur..."

 

"Tidak usah, tidak usah."

 

Ayano tak kunjung menutup pintu, seolah tatapannya berkata, “Beneran nggak apa-apa? Beneran?” Masachika menghela napas pelan, lalu menatap maid itu dengan sorot mata yang lebih tajam.

 

“Ayano.”

“! Iya, ada apa?”

 

Ayano membuka pintu dengan mata berbinar-binar, seolah hendak berkata, “Masih mau, kan? Kamu masih butuh lagu pengantar tidur, kan?” Masachika pun menegurnya dengan nada tegas.

 

“Ini perintah. Kamu juga cepat tidur di kamar Yuki.”

 

“! Baik, saya mengerti. Selamat tidur.”

 

Begitu mendengar kata “perintah”, tubuh Ayano tersentak kecil. Ia langsung menundukkan kepala dan menutup pintu.

 

“...Harusnya dari awal aku pakai cara ini...”

 

Sambil tersenyum kecut, Masachika mengambil ponselnya sebelum tidur. Di sana, ada pesan dari Yuki:

 

Pertarungan Antarperempuan Ronde 1: Ayano vs. Alya-san. Kemenangan untuk Ayano.

 

“Bukan, emang bakal ada ronde kedua, apa...”

 

 

Setelah bergumam pelan, Masachika meletakkan ponselnya lalu berguling membalikkan badan.

 

 

Ia mengira bakal sulit tidur setelah seharian tidur, tetapi ternyata rasa kantuk datang cukup cepat. Masachika pun tidak melawannya dan perlahan terlelap.

...Ya, ia telah tertidur. Membiarkan begitu saja rasa ganjil yang ia rasakan dari sikap Alisa. Tanpa memikirkan lebih dalam makna tersembunyi di balik pesan Yuki.

 

Saat Masachika akhirnya menyadarinya, semuanya sudah berakhir... semuanya sudah terlambat.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close