NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

10-nen-buri Ni Saikai Shita Kusogaki Wa Seijun Bishoujo Jk Volume 1 Interlude V

Kenangan Bersama "Bocah Nakal" Part 5 


Bocah Nakal dan Festival Musim Panas

1

"Ini, terima kasih, ya."

Bersamaan dengan uang kembalian, aku menyerahkan es serut stroberi susu kental manis.

"Kakak, terima kasiiiih."

Seorang gadis kecil yang sepertinya masih TK tersenyum padaku. Senyuman yang jernih dan tanpa dosa. Aku jadi bernostalgia, teringat masa-masa saat Miya masih seusia itu.

Aroma harum yang menggugah selera menguar dari berbagai arah. Gelak tawa anak-anak yang polos dan obrolan murahan orang mabuk terdengar bersahutan.

Ini adalah festival musim panas komunitas warga yang diselenggarakan di taman luas dekat rumah.

Kedai-kedai kecil berjejer di bawah tenda putih, persis seperti yang sering kulihat di festival olahraga. Beberapa pedagang dari luar juga ikut membuka kedai, sehingga suasananya cukup meriah untuk ukuran festival tingkat lingkungan.

juga membuka kedai di sini, dan penjualan kami lumayan bagus.

"Oooi, Yuu-nii."

Terdengar suara Miya.

Astaga, mereka datang juga.

Saat aku menoleh ke arah datangnya suara, tiga bocah nakal sedang berjalan menghampiriku.

"Oh, kalian datang, ya."

Tumben sekali... tidak, karena ini festival musim panas, wajar saja kalau mereka bertiga datang mengenakan yukata.

"Araa, lucunya kalian."

Mata ibuku berbinar-binar.

Miya mengenakan yukata hitam bermotif kembang api yang sangat cocok untuk musim panas.

Yukata yang dipakai Mahiru berwarna putih polos dan tampak sederhana. Namun, kulit kecokelatannya yang mengintip dari balik lengan yukata memberikan kesan yang menawan. Jika diperhatikan lebih saksama, ada sulaman kupu-kupu emas yang menghiasi obinya.

Sementara itu, Asaka mengenakan yukata biru muda bermotif bunga morning glory yang terlihat sangat sejuk.

"Kalian kelihatan adem banget, ya."

"Baju Yuu-nii sama sekali tidak berubah. Dasar orang yang tidak paham estetika."

Mahiru berkomentar dengan lagak sok tahu.

"Bicara begitu, apa kamu paham arti kata estetika?"

"Tapi sebenarnya ini tidak terlalu sejuk, lho," sela Miya.

"Begitukah?"

"Rasanya sedikit pengap di dalam sini, ya."

Asaka ikut membenarkan.

"Hee. Aku sih tidak pernah memakai yukata. Sudahlah, mending kalian minum sesuatu saja untuk bantu melariskan daganganku."

Ketiga bocah nakal itu memesan kafe late dan es serut, lalu berpindah ke area makan yang telah disediakan.

"Yuu, kamu istirahat saja dulu. Temani mereka berkeliling."

"Oh, oke."

Saat aku menghampiri mereka bertiga, Asaka langsung menggenggam tanganku. Aku pun membalas genggaman telapak tangannya yang mungil itu. Mungkin karena baru saja makan es serut, tangannya terasa sedikit dingin.

"Oh, Yuu-nii datang."

"Mahiru, jangan menyilangkan kaki saat memakai yukata. Bagian depanmu jadi terbuka, tuh."

"Habisnya susah bergerak, sih."

"Berapa lama lagi kembang apinya mulai?"

Tanya Miya.

Daya tarik utama dari festival ini adalah pertunjukan kembang api yang dimulai pada pukul tujuh malam. Ada rumor yang mengatakan bahwa hampir seluruh anggaran panitia festival dihabiskan untuk acara penutup ini.

"Uhm, sekarang baru jam satu siang, jadi masih lama banget."

"Eeeeh~"

"Untuk sekarang, ayo kita keliling dan main dulu."

"Ooo~"

Kami berkeliling mengitari kedai-kedai, dan terutama untuk membeli makanan. Karena ini festival komunitas warga, banyak wajah yang kukenali di sini.

Tidak ada pedagang licik dengan permainan menembak yang sasarannya mustahil dijatuhkan, atau undian yang tidak ada hadiah utamanya. Itulah kelebihan festival lokal semacam ini. Meski skalanya kecil, mau bagaimana lagi.

Dulu saat aku masih kecil, entah sudah berapa banyak uangku yang diperas gara-gara terpancing nafsu berjudi.

"Ah, choco bananaaa."

Miya berlari kegirangan.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa choco banana adalah makanan wajib saat festival. Pisang-pisang yang dilapisi cokelat warna-warni tampak berjejer tegak di atas meja kedai.

Tapi tetap saja, dua ratus lima puluh yen untuk satu tusuk itu mahal juga, ya. Seingatku waktu aku masih kecil harganya cuma dua ratus yen.

"Miya, Asaka, aku punya ide bagus. Kalau kita jilat-jilat cokelat di luarnya dulu baru makan pisangnya, kita bisa menikmati kelezatannya dua kali lipat."

Sambil berkata demikian, Mahiru mulai menjulurkan lidah kecilnya dan menjilati pisang tersebut.

"Berhenti makan dengan cara seperti itu!"

◇

"Ayo kita main pancing balon yo-yo."

Ucap Mahiru sambil menggulung lengan bajunya.

Ini juga permainan yang sangat bernostalgia.

"Aaah, putus lagi."

Miya dan Mahiru terus-menerus gagal memancingnya.

"Yuu-nii, coba dong."

Mau bagaimana lagi, saatnya memperlihatkan kekuatan orang dewasa pada mereka.

"Sini, pinjam."

Dalam permainan seperti ini, hal yang paling penting adalah menjaga agar tali kertasnya tidak basah.

"―Eh?"

"Payah~!"

"Zako-nii! (Kakak cupu!)"

Tidak mungkin. Jangan-jangan paman ini sudah memotong sedikit tali kertasnya... Tidak, ini tali yang normal.

"Biar aku saja yang coba."

"Asaka juga mau main? Dengar, bagian ini terbuat dari kertas, jadi hati-hati jangan sampai basah, ya."

"Iya."

"..."

Dengan santainya, dia terus mengangkat balon yo-yo berturut-turut layaknya sedang membalikkan takoyaki.

"Asaka, apa kamu berniat membuat kedai ini bangkrut?"

◇

Sebuah rumah hantu yang dikelola oleh pihak luar didirikan di dekat pintu masuk festival.

Sesuai dugaan dari pengelola profesional, tempat itu didesain dengan sangat niat.

"...Bagaimana?"

Saat aku menoleh ke arah mereka bertiga, semuanya kompak memalingkan wajah.

"Oke, ayo kita masuk."

"Uwaaah, hentikaan~"

"Lepaskan, dasar mesuuuum."

"Kyaaa~"

"Hei bodoh, jangan teriak pakai kata-kata yang bisa memicu salah paham begitu. Lagian, kenapa? Kalian takut, ya? Hahaha."

"A-aku tidak takut, kok," balas Miya.

"Baguslah kalau begitu."

Kami pun mengantre dan menunggu giliran.

Akhirnya tiba giliran kami.

"Satu orang dewasa dan tiga anak-anak, ya."

Setelah membayar tiket masuk, aku melangkah masuk lebih dulu.

"Sekarang!" teriak Mahiru tiba-tiba.

"Hah?"

Saat aku tersadar, bocah-bocah nakal itu sudah kabur meninggalkan barisan.

"Ah, kalian ini!"

"Kami tunggu di pintu keluar, ya!"

"Tunggu―"

"Pengunjung diharap segera masuk karena sedang ramai."

Bibi penjaga tiket langsung mendorong punggungku.

"Eh, tunggu―"

"Satu pengunjung masuk~"

"Hiaaaaaaaa."

◇

"Ah, Mama."

Mahiru berlari menghampiri salah satu kedai.

Orang yang sedang memasak yakisoba di sana adalah seorang wanita cantik berambut pendek yang sangat mirip dengan Mahiru. Usianya mungkin sekitar tiga puluh tahunan.

Oh, jadi ini ibunya Mahiru. Aku tidak akan bilang secara spesifik bagian mananya, tapi 'itu'-nya sangat besar.

"Mahiru. Ara, Miya dan Asaka juga ada di sini."

"Ah, halo."

Aku menundukkan kepala untuk memberi salam.

"Oh, kamu pasti Yuu-nii yang sering diceritakan itu, ya. Terima kasih karena selalu menjaga Mahiru. Namaku Ryuseki Asuka."

Saat dia membungkuk, aku tidak akan bilang secara spesifik bagian mananya, tapi 'itu'-nya bergoyang memantul.

"Ah, tidak, bukan apa-apa, kok."

"Mahiru itu selalu saja cerewet membicarakan soal Yuu-nii, lho."

"Mama, berisik."

Mahiru langsung bermanja-manja pada ibunya.

"Sebagai tanda terima kasih karena sudah menjaga putriku, bawalah yakisoba ini. Tidak usah bayar."

"Maaf jadi merepotkan. Terima kasih banyak."

Dengan membawa yakisoba, kami beranjak menuju area makan.

"Ngomong-ngomong Mahiru, kamu memanggil ibumu dengan sebutan 'Mama', ya?"

"Berisiiik~"

 

2

Menjelang malam, pengunjung festival semakin ramai.

"Hei, sebentar lagi mulai, tuh."

Aku memanggil para bocah nakal yang sedang sibuk bermain game di ponsel karena bosan.

Tak lama kemudian, terdengar suara desingan yang membelah angin. Suara itu disusul dengan dentuman keras saat bunga api bermekaran di langit.

"Uwaaah."

"Keren banget."

"Sangat indah."

Kembang api terus diluncurkan silih berganti, seolah menutupi seluruh langit malam. Meski melihatnya setiap tahun, aku tetap saja merasa takjub.

Seseorang menarik-narik tanganku perlahan.

"Hm?"

Saat aku menunduk, Miya mendekatkan wajahnya ke telingaku.

"Tahun depan kita nonton bareng lagi, ya."

"Itu sudah pasti, kan."

Bunga-bunga raksasa bermekaran menghiasi langit malam musim panas.

Ekor cahaya yang meledak itu perlahan memudar dan melebur ke dalam kegelapan.

 

Setara dengan Bocah Nakal

1

Musim panas yang panjang telah berakhir, dan musim berganti menuju musim gugur.

Meski begitu, bukan berarti suhu udara langsung turun begitu menginjak bulan September, dan hari-hari yang panas serta lembap sepertinya masih akan berlanjut.

"Nih, Arizuki-kun. Ngomong-ngomong, beneran nggak sih kamu sempat nyasar di mal?"

"Hah!? Bukan, itu tuh―"

"Shimomura-san yang bilang lho."

"Ah, aku juga dengar. Situasi macam apa itu sebenarnya."

"Dih, itu tuh..."

T-tidak bisa kukatakan.

Mana mungkin kubilang kalau aku dipanggil oleh bocah nakal yang usianya sepuluh tahun lebih muda...

Bocah sialan itu...

Di hari pertama sekolah setelah sekian lama, aku habis-habisan diejek dan pulang ke rumah sambil memendam sedikit rasa benci pada para bocah nakal.

Karena hanya ada upacara pembukaan sekolah, aku bisa pulang saat siang hari. Sambil menyeruput mi somen yang sudah membuatku bosan, aku mendengar suara yang tidak asing dari luar.

Begitu aku keluar ke halaman, persis seperti dugaannya, ada Miya, Mahiru, dan Asaka.

"Yo, kalian juga mulai sekolah hari ini, ya."

Ketiganya sepertinya sedang dalam perjalanan pulang, menggendong tas ransel merah sambil tampak kepanasan.

Omong-omong, mungkin ini pertama kalinya aku melihat Mahiru dan Asaka mengenakan tas ransel anak sekolah. Mereka menyematkan lencana nama di dada dan mengenakan topi sekolah berwarna kuning.

"Hmm?"

Ada satu perubahan lagi.

"Mahiru, kamu jadi putih, ya."

Kulit Mahiru yang biasanya tampak kecokelatan layaknya anak laki-laki, kini berubah putih seolah baru saja disetrika pemutih.

"Kulit matiku akhirnya mengelupas. Bagian sini sih masih agak hitam."

Sambil berkata begitu, Mahiru menarik kerah kemejanya dengan kuat, memperlihatkan tulang selangkanya yang kecil. Di sekitar area itu, kulitnya memang masih terlihat mengelupas belang-belang.

"Ugh..."

Melihat kondisi setengah-setengah seperti itu membuatku sangat ingin mengelupasnya. Pasti akan terasa sangat memuaskan kalau dikelupas sekaligus dalam sekali tarikan.

"Jangan menatapku terus begitu, mesum."

Sambil menatapku tajam dengan mata jengkel, Mahiru merapikan kembali kerah bajunya.

"Kamu sendiri yang pamer tadi..."

Lagi pula, aku sama sekali tidak tertarik pada dada yang rata begini!

Aku lebih suka yang montok berdaging!

Ingin rasanya aku berteriak sekencang mungkin, tapi mustahil mengatakannya di jalan umum begini.

"Dari pada itu, kalian kepanasan, kan? Minum sesuatu sana."

Keringat tampak membasahi kening mereka bertiga. Sisa-sisa hawa panas musim panas masih terasa begitu terik.

"Tapi kami kan baru pulang sekolah, jadi tidak punya uang."

Asaka berkata dengan nada sedih.

"Biar kutraktir."

"Serius?"

"Keren banget, Yuu-nii!"

"Asyik!"

Ketiganya langsung menempati salah satu sudut di dalam kafe. Sambil meminum jus anggur, Miya berkata.

"Ngomong-ngomong Yuu-nii, minggu depan itu ulang tahun Mahiru lho."

"Hm? Begitukah?"

"Tanggal sembilan September," ucap Mahiru dengan nada yang terdengar sedikit malu-malu.

"Hee. Terus, umur berapa? Kukuku, lima tahun?"

"Ugh, tujuh tahun, tahu!"

"Canda kali."

"Ampun deh. Aku menantikan kado darimu, lho."

"Paham."

"Yuu-nii meskipun cowok tapi seleranya lumayan bagus. Jepit rambut yang dia kasih ke aku ini juga lucu."

Miya menunjuk jepit rambut di kepalanya.

"Jepit itu... ternyata diberi oleh Yuu-nii?"

Mahiru bertanya dengan raut wajah iri.

"Iya."

"Beri aku barang bagus juga dong."

"Iya, aku tahu."

"Ulang tahunku tanggal delapan Desember! Ingat-ingat ya."

Ucap Asaka sambil menggenggam tanganku.

"Iya, iya."

"Ngomong-ngomong, ulang tahun Yuu-nii kapan?" tanya Mahiru.

"Aku? Aku lahir tanggal dua Oktober."

"Bulan depan ya."

"Fufufu, aku nantikan kado dari kalian, ya."

 

2

"Hmm."

Kira-kira mana yang bagus ya.

Toko aneka barang di mal yang kuskor bersama para bocah nakal saat liburan musim panas. Suasana toko yang bernuansa negeri dongeng ini tentu saja dipenuhi oleh para anak perempuan.

Di dalam toko yang dipenuhi oleh berbagai barang hiasan, alat tulis, serta aksesoris bertema anime anak-anak, aku adalah satu-satunya laki-laki di sana, termasuk pegawainya.

Keberadaanku benar-benar mencolok...

Mahiru kan juga anak perempuan, kupikir memberi hadiah bertema seperti ini akan lebih baik, tapi aku belum pernah melihat Mahiru mengenakan aksesoris.

Dia kan tomboi, punya selera seperti anak laki-laki, dan gaya pakaiannya juga mirip anak cowok, jadi aku sama sekali tidak bisa membayangkan dirinya berdandan dengan aksesoris berkilau.

Karena rambutnya pendek, dia pasti tidak pakai ikatan rambut. Kalau jepit rambut, nanti kembaran sama Miya. Kalau kalung atau cincin, rasanya masih terlalu cepat untuk usianya.

"Hmm."

Bikin pusing saja.

Cari di tempat lain saja ya.

Sebentar lagi aku pasti tidak akan tahan dengan tatapan orang-orang sekitar yang seolah berkata, "Ih, cowok apa itu."

"Oh."

Saat aku berniat keluar toko, pandanganku terpaku pada suatu benda.

Barang seperti ini sepertinya lumayan juga, kan?

Cocok dengan imej Mahiru yang urakan, dan kelihatan cukup modis, bukan?

Barang yang menarik perhatianku adalah sebuah gelang hitam. Hanya ada garis putih di permukaannya, tapi desain simpel seperti itu justru terkesan keren dan tidak berlebihan.

Pas banget untuk gaya pakaian Mahiru yang bergaya boyish.

Selera yang luar biasa kalau kubilang sendiri.

Begitulah, aku mengambil gelang itu dan berjalan menuju kasur pembayaran.

 

3

Lalu tibalah tanggal sembilan September. Di area teras .

"Keren banget, mantap!"

Mahiru menatap gelang di pergelangan tangan kirinya yang ramping dengan tatapan penuh pemujaan.

"Gelang itu cocok banget buat Mahiru-chan," puji Asaka.

"Aku memang pengen barang seperti ini."

Gelang itu tampak kontras dan menonjol pada pakaian kasualnya yang berupa tank top dan celana pendek. Item luar biasa yang memancarkan kesan sporty, namun di saat yang sama tetap menyuarakan sisi kekanak-kanakannya.

"Aku mengerti. Sarung tangan tanpa jari dan gelang adalah impian setiap anak kecil, kan."

Waktu kecil dulu aku juga meniru jagoan anime dengan mengenakan ransel, topi, dan sarung tangan tanpa jari, lalu melempar kapsul gacha.

"Mahiru, keren banget lho. Hei-hei, biarkan aku pakai juga."

Miya memeluk Mahiru.

"Fufu, boleh."

Gelang itu berpindah ke pergelangan tangan Miya.

"Wah, rasanya tenaga dalam diriku jadi meluap-luap."

"Kan?"

"Ulang tahunku nanti jangan lupa, ya."

Asaka menarik tanganku.

"Iya, aku ingat. Tanggal delapan Desember, kan."

"Iya!"

"Yuu-nii!"

Mahiru melompat naik ke pangkuanku yang sedang duduk bersandar santai di kursi.

Kalau dia sampai sebegitu bahagianya, membelikannya kado benar-benar tidak sia-sia.

"Terima kasih."

Dari tubuh kecil Mahiru yang memelukku, tercium aroma hangat seperti cahaya matahari.

◇

"...Haah."

Melihat ketiga gadis remaja yang bersenang-senang di kursi teras bersama putranya, Sayaka menghela napas.

"Memberi hadiah berupa gelang hitam untuk ulang tahun anak perempuan... yang benar saja."

Mengingat Mahiru terlihat sangat senang, hal itu masih bisa dimaklumi, namun Sayaka tetap merasa cemas bercampur ngeri melihat selera putranya yang masih seperti anak-anak itu.



Chapter 5 | ToC | Final Chapter

0

Post a Comment

close