Kenangan Bersama "Bocah Nakal" Part 5
Bocah Nakal dan Festival Musim Panas
1
"Ini, terima kasih, ya."
Bersamaan dengan uang kembalian, aku menyerahkan es
serut stroberi susu kental manis.
"Kakak, terima kasiiiih."
Seorang gadis kecil yang sepertinya masih TK tersenyum
padaku. Senyuman yang jernih dan tanpa dosa. Aku
jadi bernostalgia, teringat masa-masa saat Miya masih seusia itu.
Aroma harum yang menggugah selera menguar dari berbagai
arah. Gelak tawa anak-anak yang polos dan obrolan murahan orang mabuk terdengar
bersahutan.
Ini adalah festival musim panas komunitas warga yang
diselenggarakan di taman luas dekat rumah.
Kedai-kedai kecil berjejer di bawah tenda putih, persis
seperti yang sering kulihat di festival olahraga. Beberapa pedagang dari luar
juga ikut membuka kedai, sehingga suasananya cukup meriah untuk ukuran festival
tingkat lingkungan.
juga membuka kedai di sini, dan penjualan kami lumayan
bagus.
"Oooi, Yuu-nii."
Terdengar suara Miya.
Astaga, mereka datang juga.
Saat aku menoleh ke arah datangnya suara, tiga bocah
nakal sedang berjalan menghampiriku.
"Oh, kalian datang, ya."
Tumben sekali... tidak, karena ini festival musim panas,
wajar saja kalau mereka bertiga datang mengenakan yukata.
"Araa, lucunya kalian."
Mata ibuku berbinar-binar.
Miya mengenakan yukata hitam bermotif kembang api yang
sangat cocok untuk musim panas.
Yukata yang dipakai Mahiru berwarna putih polos dan
tampak sederhana. Namun, kulit kecokelatannya yang mengintip dari balik lengan
yukata memberikan kesan yang menawan. Jika diperhatikan lebih saksama, ada
sulaman kupu-kupu emas yang menghiasi obinya.
Sementara itu, Asaka mengenakan yukata biru muda bermotif
bunga morning glory yang terlihat sangat sejuk.
"Kalian kelihatan adem banget, ya."
"Baju Yuu-nii sama sekali tidak berubah. Dasar orang yang tidak paham estetika."
Mahiru berkomentar dengan lagak sok tahu.
"Bicara begitu, apa kamu paham arti kata
estetika?"
"Tapi sebenarnya ini tidak terlalu sejuk, lho,"
sela Miya.
"Begitukah?"
"Rasanya sedikit pengap di dalam sini, ya."
Asaka ikut membenarkan.
"Hee. Aku sih tidak pernah memakai yukata. Sudahlah,
mending kalian minum sesuatu saja untuk bantu melariskan daganganku."
Ketiga bocah nakal itu memesan kafe late dan es serut,
lalu berpindah ke area makan yang telah disediakan.
"Yuu, kamu istirahat saja dulu. Temani mereka
berkeliling."
"Oh, oke."
Saat aku menghampiri mereka bertiga, Asaka langsung
menggenggam tanganku. Aku pun membalas genggaman telapak tangannya yang mungil
itu. Mungkin karena baru saja makan es serut, tangannya terasa sedikit dingin.
"Oh, Yuu-nii datang."
"Mahiru, jangan menyilangkan kaki saat memakai
yukata. Bagian depanmu jadi terbuka, tuh."
"Habisnya susah bergerak, sih."
"Berapa lama lagi kembang apinya mulai?"
Tanya Miya.
Daya tarik utama dari festival ini adalah pertunjukan
kembang api yang dimulai pada pukul tujuh malam. Ada rumor yang mengatakan
bahwa hampir seluruh anggaran panitia festival dihabiskan untuk acara penutup
ini.
"Uhm, sekarang baru jam satu siang, jadi masih lama
banget."
"Eeeeh~"
"Untuk sekarang, ayo kita keliling dan main
dulu."
"Ooo~"
Kami berkeliling mengitari kedai-kedai, dan terutama
untuk membeli makanan. Karena ini festival komunitas warga, banyak wajah yang
kukenali di sini.
Tidak ada pedagang licik dengan permainan menembak yang
sasarannya mustahil dijatuhkan, atau undian yang tidak ada hadiah utamanya.
Itulah kelebihan festival lokal semacam ini. Meski skalanya kecil, mau
bagaimana lagi.
Dulu saat aku masih kecil, entah sudah berapa banyak
uangku yang diperas gara-gara terpancing nafsu berjudi.
"Ah, choco bananaaa."
Miya berlari kegirangan.
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa choco banana adalah
makanan wajib saat festival. Pisang-pisang yang dilapisi cokelat warna-warni
tampak berjejer tegak di atas meja kedai.
Tapi tetap saja, dua ratus lima puluh yen untuk satu
tusuk itu mahal juga, ya. Seingatku waktu aku masih kecil harganya cuma dua
ratus yen.
"Miya, Asaka, aku punya ide bagus. Kalau kita
jilat-jilat cokelat di luarnya dulu baru makan pisangnya, kita bisa menikmati
kelezatannya dua kali lipat."
Sambil berkata demikian, Mahiru mulai menjulurkan lidah
kecilnya dan menjilati pisang tersebut.
"Berhenti makan dengan cara seperti itu!"
◇
"Ayo kita main pancing balon yo-yo."
Ucap Mahiru sambil menggulung lengan bajunya.
Ini juga permainan yang sangat bernostalgia.
"Aaah, putus lagi."
Miya dan Mahiru terus-menerus gagal memancingnya.
"Yuu-nii, coba dong."
Mau bagaimana lagi, saatnya memperlihatkan kekuatan
orang dewasa pada mereka.
"Sini, pinjam."
Dalam permainan seperti ini, hal yang paling penting
adalah menjaga agar tali kertasnya tidak basah.
"―Eh?"
"Payah~!"
"Zako-nii! (Kakak cupu!)"
Tidak mungkin. Jangan-jangan paman ini sudah memotong
sedikit tali kertasnya... Tidak, ini tali yang normal.
"Biar aku saja yang coba."
"Asaka juga mau main? Dengar, bagian ini terbuat
dari kertas, jadi hati-hati jangan sampai basah, ya."
"Iya."
"..."
Dengan santainya, dia terus mengangkat balon yo-yo
berturut-turut layaknya sedang membalikkan takoyaki.
"Asaka, apa kamu berniat membuat kedai ini
bangkrut?"
◇
Sebuah rumah hantu yang dikelola oleh pihak luar
didirikan di dekat pintu masuk festival.
Sesuai dugaan dari pengelola profesional, tempat itu
didesain dengan sangat niat.
"...Bagaimana?"
Saat aku menoleh ke arah mereka bertiga, semuanya
kompak memalingkan wajah.
"Oke, ayo kita masuk."
"Uwaaah, hentikaan~"
"Lepaskan, dasar mesuuuum."
"Kyaaa~"
"Hei bodoh, jangan teriak pakai kata-kata yang bisa
memicu salah paham begitu. Lagian, kenapa? Kalian takut, ya? Hahaha."
"A-aku tidak takut, kok," balas Miya.
"Baguslah kalau begitu."
Kami pun mengantre dan menunggu giliran.
Akhirnya tiba giliran kami.
"Satu orang dewasa dan tiga anak-anak, ya."
Setelah membayar tiket masuk, aku melangkah masuk
lebih dulu.
"Sekarang!" teriak Mahiru tiba-tiba.
"Hah?"
Saat aku tersadar, bocah-bocah nakal itu sudah kabur
meninggalkan barisan.
"Ah, kalian ini!"
"Kami tunggu di pintu keluar, ya!"
"Tunggu―"
"Pengunjung diharap segera masuk karena sedang
ramai."
Bibi penjaga tiket langsung mendorong punggungku.
"Eh, tunggu―"
"Satu pengunjung masuk~"
"Hiaaaaaaaa."
◇
"Ah, Mama."
Mahiru berlari menghampiri salah satu kedai.
Orang yang sedang memasak yakisoba di sana adalah seorang
wanita cantik berambut pendek yang sangat mirip dengan Mahiru. Usianya mungkin
sekitar tiga puluh tahunan.
Oh, jadi ini ibunya Mahiru. Aku tidak akan bilang secara
spesifik bagian mananya, tapi 'itu'-nya sangat besar.
"Mahiru. Ara, Miya dan Asaka juga ada di sini."
"Ah, halo."
Aku menundukkan kepala untuk memberi salam.
"Oh, kamu pasti Yuu-nii yang sering diceritakan itu,
ya. Terima kasih karena selalu menjaga Mahiru. Namaku Ryuseki Asuka."
Saat dia membungkuk, aku tidak akan bilang secara
spesifik bagian mananya, tapi 'itu'-nya bergoyang memantul.
"Ah, tidak, bukan apa-apa, kok."
"Mahiru itu selalu saja cerewet membicarakan soal
Yuu-nii, lho."
"Mama, berisik."
Mahiru langsung bermanja-manja pada ibunya.
"Sebagai tanda terima kasih karena sudah menjaga
putriku, bawalah yakisoba ini. Tidak usah bayar."
"Maaf jadi merepotkan. Terima kasih banyak."
Dengan membawa yakisoba, kami beranjak menuju area makan.
"Ngomong-ngomong Mahiru, kamu memanggil ibumu dengan
sebutan 'Mama', ya?"
"Berisiiik~"
2
Menjelang malam, pengunjung festival semakin ramai.
"Hei, sebentar lagi mulai, tuh."
Aku memanggil para bocah nakal yang sedang sibuk bermain
game di ponsel karena bosan.
Tak lama kemudian, terdengar suara desingan yang membelah
angin. Suara itu disusul dengan dentuman keras saat bunga api bermekaran di
langit.
"Uwaaah."
"Keren banget."
"Sangat indah."
Kembang api terus diluncurkan silih berganti, seolah
menutupi seluruh langit malam. Meski melihatnya setiap tahun, aku tetap saja
merasa takjub.
Seseorang menarik-narik tanganku perlahan.
"Hm?"
Saat aku menunduk, Miya mendekatkan wajahnya ke
telingaku.
"Tahun depan kita nonton bareng lagi, ya."
"Itu sudah pasti, kan."
Bunga-bunga raksasa bermekaran menghiasi langit malam
musim panas.
Ekor cahaya yang meledak itu perlahan memudar dan melebur
ke dalam kegelapan.
Setara dengan Bocah Nakal
1
Musim panas yang panjang telah berakhir, dan musim
berganti menuju musim gugur.
Meski begitu, bukan berarti suhu udara langsung turun
begitu menginjak bulan September, dan hari-hari yang panas serta lembap
sepertinya masih akan berlanjut.
"Nih, Arizuki-kun. Ngomong-ngomong, beneran nggak
sih kamu sempat nyasar di mal?"
"Hah!? Bukan, itu tuh―"
"Shimomura-san yang bilang lho."
"Ah, aku juga dengar. Situasi macam apa itu
sebenarnya."
"Dih, itu tuh..."
T-tidak bisa kukatakan.
Mana mungkin kubilang kalau aku dipanggil oleh bocah
nakal yang usianya sepuluh tahun lebih muda...
Bocah sialan itu...
Di hari pertama sekolah setelah sekian lama, aku
habis-habisan diejek dan pulang ke rumah sambil memendam sedikit rasa benci
pada para bocah nakal.
Karena hanya ada upacara pembukaan sekolah, aku bisa
pulang saat siang hari. Sambil menyeruput mi somen yang sudah membuatku bosan,
aku mendengar suara yang tidak asing dari luar.
Begitu aku keluar ke halaman, persis seperti dugaannya,
ada Miya, Mahiru, dan Asaka.
"Yo, kalian juga mulai sekolah hari ini, ya."
Ketiganya sepertinya sedang dalam perjalanan pulang,
menggendong tas ransel merah sambil tampak kepanasan.
Omong-omong, mungkin ini pertama kalinya aku melihat
Mahiru dan Asaka mengenakan tas ransel anak sekolah. Mereka menyematkan lencana
nama di dada dan mengenakan topi sekolah berwarna kuning.
"Hmm?"
Ada satu perubahan lagi.
"Mahiru, kamu jadi putih, ya."
Kulit Mahiru yang biasanya tampak kecokelatan layaknya
anak laki-laki, kini berubah putih seolah baru saja disetrika pemutih.
"Kulit matiku akhirnya mengelupas. Bagian sini sih
masih agak hitam."
Sambil berkata begitu, Mahiru menarik kerah kemejanya
dengan kuat, memperlihatkan tulang selangkanya yang kecil. Di sekitar area itu, kulitnya memang masih terlihat mengelupas
belang-belang.
"Ugh..."
Melihat kondisi setengah-setengah seperti itu
membuatku sangat ingin mengelupasnya. Pasti akan terasa sangat memuaskan
kalau dikelupas sekaligus dalam sekali tarikan.
"Jangan menatapku terus begitu, mesum."
Sambil menatapku tajam dengan mata jengkel, Mahiru
merapikan kembali kerah bajunya.
"Kamu sendiri yang pamer tadi..."
Lagi pula, aku sama sekali tidak tertarik pada dada yang
rata begini!
Aku lebih suka yang montok berdaging!
Ingin rasanya aku berteriak sekencang mungkin, tapi
mustahil mengatakannya di jalan umum begini.
"Dari pada itu, kalian kepanasan, kan? Minum sesuatu
sana."
Keringat tampak membasahi kening mereka bertiga.
Sisa-sisa hawa panas musim panas masih terasa begitu terik.
"Tapi kami kan baru pulang sekolah, jadi tidak
punya uang."
Asaka berkata dengan nada sedih.
"Biar kutraktir."
"Serius?"
"Keren banget, Yuu-nii!"
"Asyik!"
Ketiganya langsung menempati salah satu sudut di
dalam kafe. Sambil meminum jus anggur, Miya berkata.
"Ngomong-ngomong Yuu-nii, minggu depan itu ulang
tahun Mahiru lho."
"Hm? Begitukah?"
"Tanggal sembilan September," ucap Mahiru
dengan nada yang terdengar sedikit malu-malu.
"Hee. Terus, umur berapa? Kukuku, lima tahun?"
"Ugh, tujuh tahun, tahu!"
"Canda kali."
"Ampun deh. Aku menantikan kado darimu, lho."
"Paham."
"Yuu-nii meskipun cowok tapi seleranya lumayan
bagus. Jepit rambut yang dia kasih ke aku ini juga lucu."
Miya menunjuk jepit rambut di kepalanya.
"Jepit itu... ternyata diberi oleh Yuu-nii?"
Mahiru bertanya dengan raut wajah iri.
"Iya."
"Beri aku barang bagus juga dong."
"Iya, aku tahu."
"Ulang tahunku tanggal delapan Desember!
Ingat-ingat ya."
Ucap Asaka sambil menggenggam tanganku.
"Iya, iya."
"Ngomong-ngomong, ulang tahun Yuu-nii
kapan?" tanya Mahiru.
"Aku? Aku lahir tanggal dua Oktober."
"Bulan depan ya."
"Fufufu, aku nantikan kado dari kalian, ya."
2
"Hmm."
Kira-kira mana yang bagus ya.
Toko aneka barang di mal yang kuskor bersama para bocah
nakal saat liburan musim panas. Suasana toko yang bernuansa negeri dongeng ini
tentu saja dipenuhi oleh para anak perempuan.
Di dalam toko yang dipenuhi oleh berbagai barang hiasan,
alat tulis, serta aksesoris bertema anime anak-anak, aku adalah satu-satunya
laki-laki di sana, termasuk pegawainya.
Keberadaanku benar-benar mencolok...
Mahiru kan juga anak perempuan, kupikir memberi hadiah
bertema seperti ini akan lebih baik, tapi aku belum pernah melihat Mahiru
mengenakan aksesoris.
Dia kan tomboi, punya selera seperti anak laki-laki, dan
gaya pakaiannya juga mirip anak cowok, jadi aku sama sekali tidak bisa
membayangkan dirinya berdandan dengan aksesoris berkilau.
Karena rambutnya pendek, dia pasti tidak pakai ikatan
rambut. Kalau jepit rambut, nanti kembaran sama Miya. Kalau kalung atau cincin,
rasanya masih terlalu cepat untuk usianya.
"Hmm."
Bikin pusing saja.
Cari di tempat lain saja ya.
Sebentar lagi aku pasti tidak akan tahan dengan tatapan
orang-orang sekitar yang seolah berkata, "Ih, cowok apa itu."
"Oh."
Saat aku berniat keluar toko, pandanganku terpaku pada
suatu benda.
Barang seperti ini sepertinya lumayan juga, kan?
Cocok dengan imej Mahiru yang urakan, dan kelihatan
cukup modis, bukan?
Barang yang menarik perhatianku adalah sebuah gelang
hitam. Hanya ada garis putih di permukaannya, tapi desain simpel seperti itu
justru terkesan keren dan tidak berlebihan.
Pas banget untuk gaya pakaian Mahiru yang bergaya
boyish.
Selera yang luar biasa kalau kubilang sendiri.
Begitulah, aku mengambil gelang itu dan berjalan
menuju kasur pembayaran.
3
Lalu tibalah tanggal sembilan September. Di area
teras .
"Keren banget, mantap!"
Mahiru menatap gelang di pergelangan tangan kirinya
yang ramping dengan tatapan penuh pemujaan.
"Gelang itu cocok banget buat Mahiru-chan,"
puji Asaka.
"Aku memang pengen barang seperti ini."
Gelang itu tampak kontras dan menonjol pada pakaian
kasualnya yang berupa tank top dan celana pendek. Item luar biasa yang
memancarkan kesan sporty, namun di saat yang sama tetap menyuarakan sisi
kekanak-kanakannya.
"Aku mengerti. Sarung tangan tanpa jari dan
gelang adalah impian setiap anak kecil, kan."
Waktu kecil dulu aku juga meniru jagoan anime dengan
mengenakan ransel, topi, dan sarung tangan tanpa jari, lalu melempar kapsul
gacha.
"Mahiru, keren banget lho. Hei-hei, biarkan aku
pakai juga."
Miya memeluk Mahiru.
"Fufu, boleh."
Gelang itu berpindah ke pergelangan tangan Miya.
"Wah, rasanya tenaga dalam diriku jadi
meluap-luap."
"Kan?"
"Ulang tahunku nanti jangan lupa, ya."
Asaka menarik tanganku.
"Iya, aku ingat. Tanggal
delapan Desember, kan."
"Iya!"
"Yuu-nii!"
Mahiru melompat naik ke pangkuanku yang sedang duduk
bersandar santai di kursi.
Kalau dia sampai sebegitu bahagianya, membelikannya
kado benar-benar tidak sia-sia.
"Terima kasih."
Dari tubuh kecil Mahiru yang memelukku, tercium aroma
hangat seperti cahaya matahari.
◇
"...Haah."
Melihat ketiga gadis remaja yang bersenang-senang di
kursi teras bersama putranya, Sayaka menghela napas.
"Memberi hadiah berupa gelang hitam untuk ulang
tahun anak perempuan... yang benar saja."
Mengingat Mahiru terlihat sangat senang, hal itu
masih bisa dimaklumi, namun Sayaka tetap merasa cemas bercampur ngeri melihat
selera putranya yang masih seperti anak-anak itu.



Post a Comment