NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

10-nen-buri Ni Saikai Shita Kusogaki Wa Seijun Bishoujo Jk Volume 1 Chapter 5

Chapter 5

Keraguan Kecil


1

Bulan April telah berakhir, berganti menjadi bulan Mei di mana musim semi terasa semakin dalam. Memasuki masa Golden Week, kota yang terkenal dengan industri pariwisatanya ini dipenuhi oleh keramaian orang. SMA juga sudah mulai libur sejak beberapa hari yang lalu.

"Baiklah, kalau begitu, mari kita mulai Rapat Strategi Membuat Yuu-nii Sadar yang Pertama. Topik pembahasannya sudah jelas, yaitu bagaimana caranya membuat Yuu-nii sadar..."

Tempat kami berkumpul adalah di kursi bagian dalam gerai McDonald's di mall Ion. Setelah meminum seteguk es kopi ukuran S, aku mulai membuka pembicaraan.

"Hadir," sahut Mahiru sambil mengangkat tangannya.

"Ya, silakan, Ryuuseki-kun."

"Daripada repot, bukankah masalah ini akan selesai dalam sekejap kalau Ketua mau mengumpulkan keberanian dan langsung memberitahukan namamu yang sebenarnya?"

"Ya, usul ditolak. Tolong pahami inti dari topik rapat kita ini."

"Iyaa, iyaa."

"Sebisa mungkin, kita harus melakukannya senatural mungkin agar dia tidak tahu kalau kita sedang berusaha keras. Sesuatu yang bisa membuat Yuu-nii sadar dengan sendirinya, tapi tetap memiliki dampak yang kuat agar dia langsung mengenali identitas kita dalam sekali lihat―"

"Tuntutanmu gila banget. Lagipula, kamu akhirnya mengakui kalau kamu itu sedang berusaha keras, kan. Nyam."

Mahiru menggigit Big M*c keduanya.

"Habisnya, aku sudah tidak peduli lagi dengan gengsi, tahu."

"Yuu-nii memang payah, ya. Padahal kalau dia mengamati wajah Miya baik-baik, sisa-sisa kemiripannya pasti masih ada... Ah, benar juga, bagaimana kalau kamu mencoba berdandan seperti gaya lamamu saja?"

"Maksudmu?"

"Kalau baju sih mungkin tidak muat lagi karena masalah ukuran. Tapi bagaimana kalau gaya belahan rambut atau aksesorismu disamakan dengan gayamu di masa lalu?"

"Hmm, hmm."

"Lihat saja, waktu SD dulu kamu sering memakai jepit rambut bentuk hati, kan?"

"Iya, itu kan hadiah ulang tahun dari Yuu-nii."

"Pakai saja itu saat menemuinya."

Jepit rambut itu, ya.

"Aku sendiri masih memakai wristband pemberian Yuu-nii sampai sekarang, kok."

Gadis yang telah melahap habis Big M*c miliknya itu lalu mengulurkan tangan kirinya untuk mengambil kentang goreng ukuran L. Di pergelangan tangannya, terpasang sebuah wristband.

Sebuah wristband hitam yang sudah terlihat usang termakan usia. Itu adalah hadiah yang diberikan Yuu-nii pada ulang tahun Mahiru yang ketujuh.

"Mahiru, kamu memang sangat menjaga barang itu, ya."

"Iya."

Saat ulang tahunku yang ketujuh, Yuu-nii memberiku sebuah jepit rambut.

Jepit itu memiliki hiasan permata berbentuk hati berwarna merah pekat yang dikelilingi lapisan gliter. Aku ingat betul betapa senangnya diriku saat itu.

Barang itu adalah harta karun yang masih kujaga dengan baik hingga sekarang. Namun, masalahnya adalah desainnya yang terlalu kekanak-kanakan.

Jepit rambut seperti itu biasanya dipakai oleh gadis kecil untuk bermain peran sebagai putri raja.

Kalau wristband sih masih mendingan, tapi kalau gadis kelas tiga SMA sepertiku berjalan-jalan di luar memakai jepit itu, orang-orang di sekitarku mungkin akan menganggapku sebagai cewek aneh...

Tidak, tidak, aku baru saja bilang kalau aku sudah tidak peduli lagi dengan gengsi, kan.

"Baiklah, aku akan melakukannya."

"Oh, semangat yaa."

Sambil berkata begitu, Mahiru mengulurkan tangannya mengambil M*cShake.

◇

Jepit rambut, oke. Belahan rambut, oke. Mode senyap di ponsel, oke. Waktunya menyerbu ke !

"Selamat dataaang, oh."

"H-halo, Yuu-san."

"Halo juga... Hm?"

Jantungku berdetak dengan ritme yang aneh.

A-apa penampilanku ini terlihat aneh, ya.

Sepanjang perjalanan ke sini, banyak orang yang melihat ke arah kepalaku dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

Saat aku coba menunjukkannya pada Seina-chan yang tidak tahu apa-apa, dia malah mendengus geli dan memberiku sebuah majalah mode sambil berkata, 'Belajar gaya dari sini sana.'

Sudah bisa ditebak, pandangan Yuu-nii juga tertuju pada jepit rambutku. Ekspresi canggung di wajahnya semakin mengipasi rasa cemas di dalam diriku.

Bagaimana ini? Jangan-jangan dia berpikir kalau aku ini cewek norak, atau cewek suram yang memaksakan diri buat tampil gaya (lol).

Seharusnya aku tidak usah melakukan ini.

"Itu―"

"I-iya."

"Cocok juga untukmu."

"Eh?"

Kata-kata yang tak terduga meluncur dari mulutnya.

"A-apa ini cocok untukku?"

"Iya, kelihatan manis, kok."

"Ehe, ehehe."

Dia bilang aku manis.

Eh, bukan begitu!

Ini bukan saatnya untuk merasa senang, kan!

Yuu-nii, apa kamu tidak merasa familier dengan jepit rambut ini? Ini kan barang yang kamu berikan padaku, lho?

"Silakan duduk di konter."

"...Muu."

Begitu aku duduk di kursi konter, paman yang biasanya pendiam itu terkejut dan sampai menatapku dua kali.

Sesaat, dia menunjukkan ekspresi seolah berkata, 'Yang benar saja anak ini'.

"Selamat... datang."

Karena aku baru saja minum kopi...

"Tolong pesan Cola Float satu."

"B-baik, segera... saya siapkan."

Punggung paman itu tampak gemetar saat dia menghilang ke balik dapur.

Memalukan sekali.

Tapi, aku jadi mengkhawatirkan selera fesyen Yuu-nii yang bilang kalau jepit rambut untuk anak SD ini cocok untukku. Padahal dia sudah sepuluh tahun tinggal di Tokyo.

Bukankah Tokyo itu tempat berkumpulnya orang-orang yang lebih modis?

"Jepit rambut itu."

"Eh?"

Yuu-nii mendekat dan menatap kepalaku lekat-lekat.

"A-ada apa?"

Oh, akhirnya dia sadar juga?

Apakah pengorbananku menahan rasa malu ini akhirnya membuahkan hasil?

Benar, kan.

Kamu pasti masih ingat, kan?

"Ngomong-ngomong, sebelumnya aku pernah cerita soal bocah nakal tetangga sebelah, kan."

"Iya."

Sebutan bocah nakal itu sama sekali tidak perlu, tahu!

"Aku baru kepikiran kalau desain jepitmu itu sama persis dengan yang kuberikan saat ulang tahun anak itu."

"O-oh, begitu, ya."

Apanya yang desainnya sama... Ini barang yang sama, tahu!

Pada akhirnya, Yuu-nii tetap tidak sadar pada hari itu. Karena dia malah menyebutkan nama konyol seperti "Hinako Mitsurugi", aku pun memberinya hadiah sentilan maut di dahinya.

◇

Si Miya, apa rencananya berjalan lancar, ya.

"Aku pulang."

"Selamat datang, Mahiru. Mandi duluan sana."

"Iya. Mama, hari ini makan apa?"

"Tonkatsu."

"Mantap."

Aku menaruh tasku di kamar, lalu melangkah menuju ruang ganti. Aku melepas seragam sekolahku hingga hanya menyisakan pakaian dalam.

Belakangan ini kurasa braku mulai terasa sempit lagi.

Payudaraku terasa berat dan membuatku sulit bergerak, menghalangi pandangan ke arah kaki, dan parahnya lagi cowok-cowok selalu curi-curi pandang ke arah dadaku.

Punya payudara besar itu sama sekali tidak ada untungnya.

Setidaknya, begitulah pikirku selama ini.

"..."

Saat menyentuh dadaku sendiri, kehangatan yang kurasakan saat memeluk Yuu-nii kembali teringat.

Apa Yuu-nii lebih suka yang ukurannya besar, ya...

"Eh?"

Begitu aku melepas pakaian dalam dan terakhir mencopot wristband ini, aku menyadari bahwa emblem hati merah yang kujahit di bagian dalamnya hampir terlepas.

"Yah, ampun."

Nanti harus kujahit ulang lagi, deh. Sambil memikirkan hal itu, aku melangkah masuk ke dalam kamar mandi.

 

ï¼’

Tanggal dua Mei.

"Eh? Jadi libur Golden Week ini kamu tidak pulang ke sini? Iya, iya... Mengerti. Kalau begitu saat liburan musim panas nanti, ya. Janji, lho? Eh, iya. Aku pasti akan membuatnya sadar sebelum waktu itu tiba... Aku akan berusaha. Iya, dah, Asaka juga semangat, ya. Iyak."

Aku memutuskan panggilan, lalu merebahkan tubuhku ke atas tempat tidur.

"Jadi dia tidak bisa pulang, ya."

Asaka bersekolah di sebuah SMA putri swasta di Prefektur Kanagawa.

Sekolah itu menerapkan sistem asrama penuh, jenis sekolah yang biasanya disebut sebagai sekolah khusus nona besar.

Karena dia baru bisa pulang ke Shizuoka saat libur panjang, aku merasa kesepian karena jarang memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya meski kami berada di prefektur bersebelahan.

Sama halnya dengan Mahiru, dia adalah sahabat yang sudah kuanggap seperti keluarga sendiri sejak kami masih duduk di bangku TK besar.

Tidak, bahkan tidak berlebihan jika menyebut kami bertiga ini sebagai saudara.

Tentu saja, aku yang paling tua karena ulang tahunku yang lebih dulu.

"Kakak."

Adik perempuanku, Misora, tiba-tiba melongokkan wajahnya dari balik pintu. Rambut kuncir dua rendahnya tampak tergerai jatuh.

"Hm, Misora, ada apa?"

"Kak Mahiru datang, tuh."

"Yo."

Mahiru muncul dari belakang Misora. Dia mengenakan pakaian kasual berupa jaket hoodie merah yang dipadukan dengan celana denim berwarna gelap.

Dan di pergelangan tangan kirinya, terpasang wristband yang biasa ia pakai.

"Kak Mahiru, ayo kita main game."

"Hmm, nanti saja, ya."

"Janji, ya."

"Sip."

"Kakak ini, cobalah mencontoh Kak Mahiru sedikit saja."

"Eh?"

"Pakai baju kedodoran seperti itu, apa Kakak tidak merasa norak?"

Aku sedang mengenakan kaus dengan kerah yang sudah melar parah dipadukan dengan celana olahraga sekolah, yang mana merupakan pakaian santai rumahanku.

"K-kan aku sedang di dalam rumah, jadi tidak masalah!"

"Ampun deh. Makanya Kakak tidak punya pacar, tahu."

"B-berisik tahu!"

Misora lalu berjalan keluar kamar. Mahiru duduk bersantai di depan meja, lalu berkata.

"Misora-chan manis banget, ya. Aku juga ingin punya adik perempuan rasanya."

"Padahal akhir-akhir ini dia bersikap sangat kurang ajar, lho. Dia terus menantangku main game sampai dia menang, atau sembarangan masuk kamarku buat baca komik dan main game. Entah sifat siapa yang dia tiru."

"Yah, anak kecil itu justru terlihat menggemaskan kalau agak nakal. Kita juga pernah melewati masa-masa seperti itu. Apa mungkin Yuu-nii juga merasakan hal yang sama seperti ini, ya."

"...Mungkin saja. Ah, benar juga, Asaka bilang dia tidak bisa pulang ke sini."

"Ah, seriusan? Padahal mumpung Yuu-nii sudah pulang ke sini."

Mahiru menjatuhkan bahunya dengan lesu.

Entah kapan kami berempat bisa benar-benar berkumpul bersama lagi. Terlepas dari itu, semua ini tidak akan bisa dimulai sebelum membuat Yuu-nii sadar terlebih dulu.

Sebelum Asaka pulang ke kampung halaman, aku pasti akan membuatnya menyadari identitas kami.

 

3

"Yuu-nii."

Miya berlari sambil mengibaskan rambut cokelatnya. Aku mengejar punggung mungilnya itu dari belakang.

"Tunggu, kubilang!"

"Ayo, cepat, cepat!"

Jarak antara kami berdua terasa seperti menyusut, namun tidak juga menyusut. Padahal Miya masih kelas satu SD dan sangat payah dalam olahraga, tapi kenapa larinya hari ini cepat sekali, ya.

"Nah, tertangkap kau."

Aku menggenggam tangan kecil Miya. Saat kulakukan itu,

"Eh?"

Sosok yang ada di hadapanku ternyata adalah seorang siswi SMA dengan garis mata yang tebal dan tatapan mata yang berbisa. Rok yang dikenakannya sangat pendek hingga isinya hampir terlihat, bagian dada kemejanya terbuka lebar, dan sebuah liontin tengkorak memancarkan cahaya misterius.

Telinganya ditindik dengan banyak anting, benar-benar memancarkan aura 'anak nakal' yang sangat kental.

"M-Miya, itukah kamu?"

"Apaan sih lo, brengsek! Jangan sok akrab manggil-manggil nama gue, ya!"

Setelah mengatakan itu dengan nada suara mengancam, Miya menatapku tajam.

"T-tidak mungkin."

Miya, Miya berubah menjadi seperti ini...

"Uwaaaaaaah! C-cuma mimpi, ya."

Aku terbangun dengan kaget. Saat menyentuh dahiku, ternyata aku sudah berkeringat dingin.

Mimpi macam apa yang baru saja kulihat ini.

"Miya."

Sedang apa anak itu sekarang, ya.

"Yuu, kamu sudah bangun? Cepat bersiap sana."

Suara Ibu terdengar memanggil dari lorong.

"A-iya. Aku sudah bangun, kok."

Aku beranjak turun dari tempat tidur dan mulai bersiap-siap.

Tanggal lima Mei.

Kuil Sengen Taisha yang terletak di pusat kota. Di sini, festival berskala besar selalu diadakan selama tiga hari berturut-turut pada bulan Mei dan November setiap tahunnya.

Festival yang diadakan pada bulan Mei adalah Yabusame Matsuri. Sesuai namanya, festival ini menampilkan pertunjukan seni memanah dari atas kuda (Yabusame) yang sungguhan.

juga membuka stan makanan di sana. Dan tentu saja, aku juga ikut diseret untuk membantu.

Nostalgia sekali rasanya.

Aku ingat saat masih kecil dulu, aku selalu menantikan dua festival tahunan ini. Deretan stan makanan yang berjejer di pekarangan kuil yang luas, serta kerumunan orang yang saling berdesakan.

Skala dan gengsinya benar-benar berbeda jauh dengan festival lingkungan biasa di musim panas.

Es serut, buah-buahan tabur gula, pisang cokelat, baby castella, sate ayam, ikan ayu bakar garam, jagung bakar, setup daging sapi, mi goreng, kura-kura, permen kapas, takoyaki...

Tak lama setelah pukul sebelas berlalu, aku mendengar suara yang tidak asing lagi.

"Yuu-nii."

Ternyata Mahiru.

"Oh, Mahiru... Eh, pakaian macam apa yang kamu pakai itu?"

Dia mengenakan blus putih dengan bagian dada yang terbuka lebar, dipadukan dengan rok mini hitam yang mengekspos paha mulusnya. Dan di pergelangan tangan kirinya, terpasang sebuah wristband berwarna hitam.

"Gaya seperti ini sudah biasa, tahu. Benar, kan?"

Mahiru menyapa gadis cantik yang berdiri di sebelahnya. Gadis itu mengenakan kemeja putih dengan bahu terbuka yang dipadukan dengan gaun kamisol berwarna biru langit. Rambut cokelat panjangnya diikat dengan gaya kuncir kuda.

Meski sudah bisa ditebak, pandangan orang-orang di sekitar―terutama para pria―langsung tertuju pada dua gadis cantik ini.

Sepertinya mereka berdua sudah berkeliling stan untuk beberapa saat, terlihat dari kantong plastik berisi makanan yang mereka tenteng.

"Yuu-nii, kami sudah beli banyak makanan. Ayo makan bareng."

"Boleh, nih?"

"Iya, dan yang ini adalah makanan ringan untuk paman dan bibi."

Gadis cantik itu menyerahkan sebuah kantong pada ayah dan ibuku.

"Wah, terima kasih banyak!"

"Terima kasih, ya."

"Kalau begitu Yuu, kamu istirahatlah duluan sana."

"Oke."

Aku pindah ke bagian belakang stan makanan, lalu duduk di atas kursi lipat. Karena harus berdiri tegak di tempat yang sama sejak pagi, kakiku terasa kaku seperti kayu.

"Fuuuh, lelahnya."

"Ini, Yuu-san."

Gadis cantik itu menyodorkan sebungkus sate ayam dalam wadah plastik padaku.

Sekadar informasi, sate ayam yang dijual di festival adalah makanan kesukaanku. Meski terkesan murahan dan junk food, porsinya sangat mengenyangkan dan aku sangat menyukainya.

"Terima kasih. Wah, enak sekali."

"Yuu-san juga akan berjaga besok, kan?"

"Soalnya festival ini kan berlangsung selama tiga hari."

Ngomong-ngomong, Yabusame Matsuri diselenggarakan pada tanggal empat, lima, dan enam.

"Oh iya, kalian mau menonton Yabusame, kan?"

Ucap Mahiru sambil menggigit doner kebab miliknya.

"Sudah sepuluh tahun sejak terakhir kali aku melihatnya. Kurasa aku akan menontonnya. Eh, aah! Mahiru! Sausmu menetes, itu!"

Entah harus disebut beruntung atau tidak, saus yang menetes itu tidak mengenai bajunya, melainkan jatuh tepat di bagian dadanya yang terbuka.

"Waduh, Yuu-nii, tolong lap dong."

"Eh? Hah?"

"Kedua tanganku kan sedang penuh. Cepatlah, nanti sausnya bisa menetes sampai ke baju, nih."

Saus berwarna merah kecokelatan itu menetes turun menyusuri belahan dada putihnya.

"Cepat dong!"

"O-oke."

Bodoh, apa yang aku deg-degan begini. Lawan bicaraku ini kan Mahiru.

Sikapnya yang bebas dan lepas seperti ini benar-benar tidak berubah sejak dulu.

Meski berpikir begitu, tanganku hanya gemetar canggung dan sama sekali tidak bisa digerakkan.

"Ah, ya ampun, biar aku saja yang lap!"

Gadis cantik yang tak tahan melihatnya itu langsung mengeluarkan tisu basah dan mengelap dada Mahiru. Bukannya aku tidak merasa sedikit menyesal, tapi setidaknya aku bisa menghela napas lega untuk saat ini.

Mereka berdua sepertinya adalah teman baik. Saat aku memandangi interaksi mereka dengan senyum tipis, aku tiba-tiba teringat akan mimpiku pagi tadi.

Miya.

Dulu, aku selalu menikmati festival musim panas maupun musim gugur bersama tiga serangkai: Miya, Mahiru, dan Asaka. Namun sekarang hanya tersisa Mahiru seorang.

Gadis cantik misterius di sebelahku ini tampaknya adalah teman baiknya, tapi bagaimana dengan Miya? Waktu sepuluh tahun yang telah berlalu terasa menekan hatiku dengan sangat berat.

◇

D-di tengah jalan ramai seperti ini, apa sih yang dipikirkan oleh cewek berdada besar ini...

Jangan-jangan dia benar-benar cewek mesum...?

Secara teknis, sulit dipercaya kalau dia sengaja menjatuhkan saus itu.

Padahal sebelumnya dia memakai jaket hoodie yang menutupi bagian belahan dadanya dengan rapat, tapi kenapa khusus hari ini dia malah memakai baju yang mengekspos banyak kulit seperti ini!

◇

Yabusame.

Sebuah seni bela diri tradisional Jepang di mana seseorang memanah target dari atas kuda yang sedang berlari.

Kabarnya, Yabusame Matsuri di kuil ini bermula saat Minamoto no Yoritomo mempersembahkan ritual Yabusame untuk berdoa memohon kejayaan militer yang abadi serta perdamaian dunia.

Sebuah jalur khusus membentang menembus area kuil yang luas dari barat ke timur, dibatasi oleh pagar kayu.

Di depan pagar itu, kerumunan penonton telah berkumpul.

"Sebentar lagi akan dimulai, ya."

Sama seperti saat di tempat karaoke tempo hari, mereka berdua kini menggenggam tanganku. Aku benar-benar berada dalam situasi bagaikan diapit oleh dua bunga cantik.

Apakah pria sepertiku benar-benar pantas mendapatkan perlakuan senikmat ini?

Sesekali aku bisa merasakan tatapan membunuh yang ditujukan padaku dari sekitar.

"Ngomong-ngomong, Mahiru."

"Hm?"

"Ternyata kamu masih menyimpan wristband itu, ya."

Di pergelangan tangan kirinya, terpasang wristband hitam yang kuberikan sebagai hadiah ulang tahunnya di masa lalu.

"Ya iyalah, itu sudah pasti."

"Nostalgia sekali. Coba sini, biarkan aku memakainya sebentar."

"Eh? T-tidak boleh."

Tumben sekali untuk ukuran Mahiru, permintaanku ditolak dalam hitungan detik.

"Memangnya kenapa?"

"...P-pokoknya tidak boleh."

"?"

Kenapa tidak boleh, ya? Aku benar-benar tidak paham jalan pikiran perempuan.

"Li-lihat, itu. Kudanya sudah datang."

Seekor kuda mulai berlari dari arah timur.

Kuda itu memelesat melintasi pandangan kami sambil membiarkan surai putihnya berkibar tertiup angin.

 

ï¼”

"Ah, ampun deh! Padahal panahnya sudah tepat mengenai sasaran, tapi kenapa tidak mau jatuh juga, sih. Aku benar-benar tidak mengerti."

"Sabar, sabar, Mei, tenanglah. Ibuku bilang permainan menembak seperti ini memang semacam penipuan. Eh? Misora, ada apa?"

"Hm, tidak, tidak ada apa-apa..."

Aku―Misora Haruyama, baru saja melihat pemandangan yang sulit dipercaya.

Saat itu aku sedang menikmati festival bersama dua orang temanku.

Namun, kulihat Kakak dan temannya, Kak Mahiru, sedang berkeliling festival bersama seorang paman-paman misterius.

Bahkan mereka berpegangan tangan...

Imajinasi buruk mulai berkecamuk di dalam kepalaku.

Eh, jangan-jangan orang itu pacarnya Kakak?

Tapi untuk ukuran pacar, usianya terlalu tua.

Kak Mahiru juga ada di sana, dan sepertinya hubungan mereka cukup dekat.

Tapi... siapa sebenarnya dia?

Seorang pria yang tidak kukenal.

Jangan-jangan ini yang sering kudengar di drama sebagai... Enko? Meski aku sendiri kurang paham apa artinya.

"Mencurigakan."

"! Benar, kan? Memang aneh kalau sasarannya tidak mau jatuh."

Meski merasakan firasat buruk yang mengganjal di hati, aku memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Karena sedang bersama teman-teman, sebaiknya aku tidak usah menyapa mereka sekarang.

Kalau dipikir-pikir lagi, tingkah Kakak memang sedikit aneh belakangan ini.

Terkadang dia tersenyum sendiri dengan wajah mesum, perbedaan suasana hatinya sangat drastis, dan bahkan dia tiba-tiba mulai membaca buku ramalan...

Padahal sebelumnya dia sering berdiam diri di rumah dan hanya membaca novel, tapi akhir-akhir ini dia malah sering pulang larut malam.

Sebagai pembaca setia majalah C*ao selama dua tahun, instingku mengatakan bahwa tidak salah lagi.

Ini pasti soal laki-laki.

◇

Sudah seminggu berlalu sejak aku melihat Kakak berkeliling festival bersama paman-paman misterius itu.

Kakak masih sering pulang terlambat, kadang dia senyum-senyum sendiri, kadang juga suasana hatinya sangat buruk. Kadang dia terlihat melamun seperti orang yang sedang banyak pikiran, tapi tiba-tiba wajahnya bisa berubah tegas seolah baru saja mendapat pencerahan.

"Mencurigakan."

"Eh? Apanya?"

Setelah makan malam, Kakak sedang menonton TV di ruang keluarga sambil meminum susu hangat. Dia terlihat santai tanpa menyadari apa yang kupikirkan.

Aku sendiri telah melewati hari-hari yang menggelisahkan. Seminggu telah berlalu, tapi karena pria yang bersamanya adalah orang yang tidak kukenal―terlebih lagi dia adalah seorang paman-paman, aku jadi kesulitan mencari cara untuk menanyakannya secara langsung.

"Apaan sih, tiba-tiba bilang mencurigakan."

"Bukan apa-apa, kok."

"Misora aneh banget."

Ada Ayah dan Ibu di ruang keluarga. Kalau aku langsung bertanya, 'Apa Kakak berpacaran dengan paman-paman?', keluargaku bisa-bisa berada dalam krisis kehancuran.

"Misora, kamu tidak mandi sekarang?"

Tanya Ibu.

"Iya, ini mau mandi."

Aku menuju kamar mandi bersama Ibu.

"Ibu."

Tanyaku pada Ibu saat kami sedang berendam di dalam bak mandi.

"Ada apa?"

"Ayah dan Ibu beda umurnya berapa tahun, sih?"

"Kenapa tiba-tiba tanya begitu?"

"Sudah, beri tahu saja."

"Hmm, Ibu umur empat puluh tahun, dan Ayah empat puluh lima tahun... Jadi beda lima tahun."

"Oh, begitu."

Lumayan jauh juga ya bedanya. Tapi baru lima tahun. Kalau segitu sih masih...

Sedangkan Kakak dan paman itu sepertinya beda umurnya sekitar sepuluh tahun.

"Kalau misalnya aku bilang mau pacaran sama cowok umur sembilan belas tahun, Ibu bakal gimana?"

"Ibu bakal lapor polisi, deh."

Ibu langsung menjawab tanpa ragu.

"Eh, kalau sama yang umur empat belas tahun?"

"Itu juga Ibu lapor polisi."

"Eeeh..."

Kalau begitu gawat dong buat Kakak. Kalau ketahuan Ibu, dia bisa dilaporkan ke polisi. Apalagi Kak Mahiru juga ada di sana.

"..."

Kak Mahiru juga ada di sana... itu berarti...

"Perselingkuhan!"

"Misora, kamu kenapa!?"

Setelah keluar dari kamar mandi, aku langsung melompat meraih telepon rumah. Situasinya sudah begini, satu-satunya cara adalah dengan bertanya langsung pada pihak yang bersangkutan.

"Ah, halo, Kak Mahiru?"

Panggilan itu akhirnya tersambung pada deringan keempat.

"Ah, Misora-chan?"

"Akhirnya diangkat juga."

"Maaf, maaf, ponselku kuatur ke mode senyap jadi aku tidak sadar ada telepon."

"Kak Mahiru, kapan kita bisa main bareng lagi?"

"Hmm, coba kulihat... kalau besok sih kegiatan klub libur."

"Kalau begitu, besok boleh aku main ke tempatmu, tidak?"

"Boleh, kok."

"Beneran? Kalau begitu sampai jumpa besok, ya."

"Iya, siap."

Kalau dipikirkan dengan kepala dingin, rasanya tidak mungkin Kak Mahiru yang cantik, keren, dan punya bentuk tubuh ideal itu meladeni paman-paman. Tidak mungkin dia berpacaran dengan paman-paman yang kelihatan payah seperti itu.

Namun kenyataannya, dia terlihat sangat akrab dengan pria itu. Sebenarnya apa yang terjadi?

Jika pria itu berhubungan dengan Kakak maupun Kak Mahiru, apakah dia itu guru di sekolah?

Tapi, mana mungkin mereka berpegangan tangan dengan seorang guru, kan.

Berarti paman itu pasti pacar salah satu dari mereka, ya.

Hal seperti ini mana mungkin bisa kutanyakan langsung pada Kakak.

Lagipula, ada kemungkinan ini adalah perselingkuhan.

Yah, sudahlah. Besok semuanya pasti akan jelas jika kutanyakan.

Keesokan harinya, hari Sabtu.

Aku berkunjung ke rumah Kak Mahiru.

"Sebenarnya, ada yang ingin kutanyakan padamu."

"Eh, ada apa sih, kok serius banget. Mau tanya cara main game, ya?"

"Kak Mahiru... kamu punya pacar, tidak?"

"Eh?"

Wajahnya memerah dengan sangat jelas.

"T-tidak, aku tidak punya, kok."

Reaksi ini pasti menyembunyikan sesuatu. Dengan membulatkan tekad, aku pun bertanya.

"Waktu festival tempo hari, Kakak dan kamu sedang bersama seorang pa... paman-paman, kan. Siapa dia?"

"Paman-paman... Ah, yah, memang sudah pantas dipanggil paman-paman, sih."

"Kamu pegangan tangan kan sama orang itu."

"...Iya."

Kak Mahiru yang biasanya selalu ceria itu tiba-tiba terlihat salah tingkah.

"Dia bukan pacarmu, kan?"

"Bu-bu-bukan, tahu."

Reaksinya lucu sekali.

"Terus, siapa orang itu?"

Sambil mengusap wristband di pergelangan tangan kirinya, Kak Mahiru menjawab,

"Ehm, dia... orang yang berharga... kurasa."

Sebuah ekspresi malu-malu yang tak pernah kubayangkan bisa kulihat dari sosok Kak Mahiru yang biasanya tegas dan garang.

Kepalaku dipenuhi dengan tanda tanya besar.

"...?"

"Apa Miya tidak pernah cerita apa-apa padamu?"

"Iya."

"Begitu, ya. Waktu itu memang Misora-chan belum lahir, sih."

Entah kenapa, pandangan mata Kak Mahiru menerawang jauh ke depan seolah mengingat masa lalu.

"Ceritanya bakal panjang kalau diceritakan, lho―"

◇

Aku berlari terburu-buru menembus kegelapan malam yang mulai turun.

Hari ini aku terlalu asyik nongkrong di . Si Yuu-nii sialan, kupikir hari ini dia akan sadar, tapi ternyata dia tetap tidak sadar juga.

Aku harus cepat pulang dan menyusun rencana selanjutnya.

"Aku pulang."

Saat kembali ke rumah, Misora lagi-lagi sedang bersantai di kamarku. Komik berserakan dengan berantakan di atas tempat tidur, dan bungkus camilan yang baru dimakan setengah ditaruh sembarangan di atas meja.

"Selamat datang."

"Duh, Misora! Kan sudah kubilang berkali-kali kalau habis baca buku itu dirapikan... Eh! Kan sudah kubilang juga jangan buka bungkus camilan secara vertikal begini kalau tidak mau langsung dihabiskan."

Ampun deh, anak nakal yang satu ini.

"Iya, iyaaa."

Misora memasang wajah yang seolah berkata 'Iya, cerewet'.

"Yah, semangat, ya."

"Eh?"

"Kakak kan orangnya kaku, tapi keras kepala."

Bicara apa sih anak ini?

"Tentang Yuu-nii, kan?"

"...! Misora, i-itu, kamu tahu dari mana?"

"Aku dengar dari Kak Mahiru, tahu. Katanya dulu Kakak itu bocah yang sangat nakal, ya. Pfft."

Misora langsung melompat turun dari tempat tidur, menepuk pundakku ringan, lalu berjalan keluar kamar.

G-gawat.

Sampai sejauh mana Misora mendengar tentang kelakuanku saat masih jadi bocah nakal dulu? Kalau dia sampai tahu cerita yang itu dan itu, wibawaku sebagai seorang kakak bisa hancur berantakan.

Dan Misora mungkin akan jadi jauh lebih kurang ajar dari sekarang...

"Tunggu dulu, Misoraaaa!"

 

5

―Di kamarku.

Mahiru datang dengan mengenakan pakaian olahraga sekolah. Sepertinya dia mampir sehabis kegiatan klub. Meski bagian lengannya kedodoran dan berlipat-lipat, bagian dadanya terlihat sangat sesak. Saat aku bertanya apa tujuannya datang kemari,

"Ini tentang Asaka―"

Mahiru memberitahuku bahwa Asaka bersekolah di Kanagawa dan baru bisa pulang saat liburan musim panas.

"Begitu rupanya, Asaka masuk SMA di Kanagawa, ya..."

Sebelumnya dia pernah cerita kalau Asaka masuk SMA dengan sistem asrama, tapi aku tidak menyangka kalau sekolahnya di luar prefektur.

Yah, Kanagawa kan prefektur tetangga, jadi sebenarnya tidak terlalu jauh juga. Beda ceritanya kalau di Kyushu atau Tohoku, itu baru terasa sangat jauh.

"Iya. Makanya kita baru bisa bertemu dengannya pas liburan musim panas nanti."

Selesai berkata demikian, Mahiru meneguk colanya dalam sekali tarikan napas hingga tersedak.

"Uhuk, uhuk."

"Kamu ini ngapain, sih. Begitu, ya. Karena dari dulu dia memang anak nona besar."

Di antara mereka bertiga, tingkat kenakalan Asaka memang tergolong paling rendah. Dia anak yang kesepian, pendiam, tapi manja.

Kira-kira seperti apa ya dia sekarang.

Katanya anak yang pendiam semasa kecil akan berubah jadi sangat aktif saat tumbuh dewasa, tapi tidak mungkin Asaka seperti itu...

Yah, kalau Miya sih sudah pasti tumbuh jadi cewek nakal yang super bandel.

"..."

Ngomong-ngomong, kenapa Mahiru selalu berinisiatif membahas Asaka, tapi tidak pernah menyebut nama Miya sama sekali, ya.

"Terus, aku juga kayaknya tidak bisa mampir ke sini untuk sementara waktu."

Mahiru merebahkan diri di atas kasur dan meregangkan kakinya.

"Eh? Kenapa?"

"Apanya yang kenapa."

Mahiru memasang wajah muram, lalu berkata,

"Bentar lagi ada ujian tengah semester. Kegiatan klub juga libur mulai minggu depan, jadi aku harus fokus belajar untuk sementara waktu."

"Ah, sudah masuk musim ujian, ya."

Dulu saat di sekolahku, ujian tengah semester diadakan pada akhir bulan Mei. Karena itu, tergantung kegiatan klubnya, biasanya kegiatan akan mulai dikurangi sejak dua minggu sebelumnya dan akhirnya diliburkan total. Para siswa memanfaatkan waktu itu untuk belajar.

"Aduh, beneran bikin pusing deh. Aku tidak bisa ke sini, dan harus belajar terus-terusan selama sekitar dua minggu, beneran menyebalkan."

"Kalau begitu, belajar saja di rumahku."

"Eh?"

"Makanan dan minuman ada sepuasnya, lagipula pelanggan di malam hari juga tidak terlalu berisik. Atau kalau kamu mau, kamu bisa belajar di kamarku ini. Dulu kamu sering mengerjakan PR di sini, kan?"

"B-boleh?"

"Tentu saja."

"Hehe, asyik."

Mahiru bangun dan duduk di pinggir tempat tidur.

"Ngomong-ngomong, apa Miya juga sekolah di SMA Kita?"

Aku mencoba memancing pembicaraan tentang Miya.

"Eh? I-iya."

"Anaknya sekarang seperti apa, sih?"

"Seperti apa... umm."

Mahiru tampak kebingungan mencari kata, lalu ekspresinya menjadi kaku. Setiap kali membahas tentang Miya, Mahiru selalu bersikap tidak wajar. Hal itu memicu rasa curigaku.

"Apa anak itu sudah punya pacar?"

"E-entahlah, kayaknya tidak punya, kok."

Mahiru memiringkan kepalanya dan menatap ke arah atas.

"Hmm, kalau kamu sendiri gimana?"

"Eh!? A-aku? Aku... aku tidak tertarik dengan cowok seumuranku..."

Begitu rupanya.

Padahal Miya dan Mahiru itu sama-sama gadis yang aktif dan pasti bisa dengan mudah mendapatkan pacar kalau mereka mau. Meski merasa sedikit terkejut, entah mengapa di sisi lain aku juga merasa lega. Inikah yang dinamakan insting kebapakan?

"K-kalau Yuu-nii sendiri gimana?"

"Gimana apanya?"

"Soal... pacar?"

Sesaat, keheningan menyelimuti seolah waktu berhenti berdetak.

"Bodoh. Aku ini terlalu sibuk, mana sempat cari pacar."

"...!"

'Umur sama dengan masa jombloku, apa kamu ada masalah dengan itu!?' seruku kesal dalam hati.

Waktu pribadiku sangat terbatas, sampai-sampai aku tidak punya waktu untuk pulang ke kampung halaman.

"Sudah kuduga."

Mahiru tersenyum jahil.

"Apa maksudmu dengan 'sudah kuduga', dasar gadis nakal."

Aku secara refleks menerjang ke arah Mahiru dan mendorongnya jatuh.

"Kyaa―"

"Ah."

Tanpa sadar, posisiku sekarang malah menindih di atas perut Mahiru.

Mahiru menatapku dengan mata yang sedikit berkaca-kaca sambil menutupi mulutnya. Poninya yang sedikit miring itu entah mengapa terlihat sangat seksi.

Hei, hei, apa-apaan aku ini. Mendorong siswi SMA yang masih aktif begini, ini benar-benar tindakan pelecehan yang pantas ditangkap polisi.

"M-maaf, kebiasaan lama."

"Tidak apa-apa."

Aku refleks memperlakukannya seperti saat dia masih kecil dulu. Aku langsung menjauh darinya.

Gadis ini bukan anak kecil lagi, dia sudah menjadi seorang wanita dewasa yang sesungguhnya.

"Apa sakit?"

"...Gaya bertanyamu mesum banget."




Sambil berkata begitu, Mahiru tertawa kecil.

"Ha? Bukan begitu maksudku. Aku cuma khawatir, tahu."

"Fufu, latihanku selama ini tidak selemah itu sampai bisa dikalahkan oleh Zako-nii (Kakak cupu)."

"Bocah ini..."

Sialan. Anak ini ternyata masih Mahiru yang dulu.

Meski merasa jengkel, di sisi lain aku merasa sedikit lega.

 

6

Belakangan ini, sebuah keraguan mulai tumbuh di dalam diriku.

Kalau dipikir-pikir, itu adalah hal yang wajar, dan aku sendiri punya banyak firasat tentang hal itu.

Itu tidak mungkin.

Aku tidak ingin hal itu terjadi.

Meski aku berharap demikian dari lubuk hatiku yang terdalam, di sudut hatiku aku tetap berpikir, 'jangan-jangan...'.

Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa itu adalah hal yang biasa terjadi, tapi tetap saja, rasanya ada sesuatu yang menyedihkan dari hal itu.

◇

A-apa katamuuu!

Aku nyaris saja menjatuhkan ayam goreng karage dari kotak bekalku.

"A-aman."

Untung saja jatuhnya tepat di atas pahaku, jadi masih aman. Sesuai dengan namanya, daging paha.

Bikin iri saja, katanya Mahiru akan belajar untuk ujian di kamar Yuu-nii. Saat dia bilang tidak bisa datang ke selama masa ujian, Yuu-nii bilang dia boleh menggunakan kamarnya.

Mahiru meminum teh kemasannya seteguk, lalu berkata,

"Makanya, aku penasaran Miya mau bagaimana. Kalau aku sih, mumpung harus belajar, mending sekalian saja di tempatnya Yuu-nii―"

"Aku juga ikut."

"Cepat banget jawabnya."

Kalau di rumah, Misora selalu menggangguku sehingga aku tidak bisa berkonsentrasi.

Makanya, aku biasanya belajar dengan giat di perpustakaan atau ruang belajar di sekolah.

Tapi, benar juga, mungkin lingkungan yang bagus untuk belajar.

Lagi pula, di sana juga ada Yuu-nii.

"Kufufu."

"Kalau begitu, mulai hari ini kita belajar di sana, ya."

Tapi...

"Hmm, kalau masuk ke kamar Yuu-nii sebagai 'gadis cantik misterius' rasanya agak gimana gitu..."

"Eh? Kamu nyebut dirimu sendiri gadis cantik?"

"Berisik."

Kalau aku masuk ke kamar Yuu-nii, aku ingin masuk sebagai Haruyama Miya, bukan sebagai orang lain.

Aku tidak ingin ada gadis yang tidak dikenal masuk ke ruangan yang penuh kenangan itu.

Ah, entah kenapa aku merasa diriku bakal jadi cewek yang merepotkan.

"Aku tidak usah ikut saja, deh."

"Kenapa begitu?"

Mahiru mengerutkan alisnya.

"Di mata Yuu-nii, aku ini belum menjadi Miya. Kalau ada gadis selain kita bertiga―aku, Mahiru, dan Asaka―yang masuk ke kamar itu dengan mudahnya, perasaanku pasti bakal mengganjal."

"...Benar juga sih, aku juga mungkin bakal tidak suka kalau ada perempuan tak dikenal masuk ke kamar Yuu-nii."

"Makanya, aku tidak usah ikut."

Ngomong-ngomong, aku jadi ingat waktu aku masih kecil, aku pernah merasa sangat syok saat melihat Yuu-nii bermain dengan gadis yang tidak kukenal.

Kalau dipikir-pikir sekarang, mungkin sejak saat itu aku memang sudah gampang cemburu, ya.

"Kalau begitu, aku temani, deh. Kalau belajarnya di dalam masih aman, kan?"

"Eh, beneran tidak apa-apa?"

"Tentu saja."

"Mahiru~ aku suka deh sifatmu yang seperti itu."

Aku langsung memeluk Mahiru. Sesuatu yang hangat dan empuk terasa menempel di lengan atasku.

Hari itu sepulang sekolah, aku mengunjungi bersama Mahiru. Kedai lumayan ramai, dan Yuu-nii juga terlihat sibuk.

"Yuu-nii, kami datang."

"Halo, Yuu-san."

"Oou, selamat datang."

Balasannya terdengar agak tidak bersemangat.

"Ada apa, Yuu-nii? Kok kelihatannya kurang semangat?"

"Ah, tidak juga, kok."

Apakah dia kelelahan karena sibuk? Atau karena kurang tidur?

"Apa Anda kurang tidur?"

"Tidak, bukan begitu juga. Aku seperti biasa, kok."

Meskipun dia bilang begitu, dia terlihat sedikit melamun dan kurang bertenaga. Apakah dia sedang masuk angin?

Kami duduk di meja untuk dua orang. Setelah memesan minuman dan camilan, kami menarik napas lega. Aku memesan kafe late, sedangkan Mahiru memesan cola.

"Fuuuh."

"Aaah, minum cola sepulang sekolah memang yang terbaik."

"Benar, ya."

Hari ini pun kami sudah berusaha keras di sekolah.

―Eh, bukan, kami kan ke sini untuk belajar.

Kami pun menggelar peralatan belajar dan langsung mulai belajar untuk ujian. Untung saja cakupan materi dan mata pelajarannya lebih sedikit daripada ujian akhir yang sebenarnya, tapi tetap saja kami tidak boleh lengah.

Sekitar satu jam kemudian, pelanggan mulai sepi.

"Uwaah, istirahat sebentar."

Mahiru meregangkan tubuhnya dengan santai, seolah-olah sedang memamerkan dadanya yang bervolume itu. Apakah kebetulan Yuu-nii lewat tepat di saat yang sama?

"Yuu-nii, kumpul sini."

Melihat Mahiru melambaikan tangan memanggilnya, Yuu-nii pun datang ke meja kami.

"Ada apa, mau nambah pesanan?"

"Mumpung pelanggannya sudah sepi, temani kami sebentar dong."

"Bukannya kalian lagi belajar, ya?"

"Lagi istirahat, istirahat. Ya, kan?"

"Mau bagaimana lagi, deh."

"Yuu-san juga sepertinya hari ini terlihat lelah, ya."

"Kurang bersemangat, tuh."

"...Masa, sih?"

"Apa Anda sedang punya masalah?"

Saat aku bertanya, Yuu-nii mengerutkan keningnya.

"Masalah, atau lebih tepatnya... kecemasan? Eh, tapi, hmm... hmmm."

"Apa perutmu sakit?" tebak Mahiru.

"...Bukan, tahu."

Ada apa, ya. Hari ini dia memang benar-benar kurang bersemangat.

Kalau sedang begini,

"Yuu-san."

"Eh, tunggu―"

Aku meraih tangan kanan Yuu-nii.

"Untuk mengisi kembali energi di saat sedang lelah, berpegangan tangan adalah cara yang paling ampuh, lho."

"T-tapi..."

Dengan wajah yang memerah, Yuu-nii membiarkan tangan kanannya gemetar.

"Pengalaman pribadiku yang bilang begitu, jadi sudah pasti benar. Ayo, coba balas genggamanku dengan benar."

Padahal waktu di tempat karaoke dan di festival kami juga berpegangan tangan, tapi dia malah baru merasa malu sekarang. Yuu-nii lumayan manis juga, ya.

Di balik konter, Bibi menatap kami sambil tersenyum-senyum menggoda.

Oh, begitu, rupanya karena ada Paman dan Bibi, ya.

Tak lama kemudian, tangannya yang tadinya gemetar canggung mulai membalas genggamanku. Beberapa detik berlalu, getarannya pun mereda, dan rasa hangat mulai menjalar di antara kulit kami yang bersentuhan.

Kehangatan yang menenangkan.

Rasanya nyaman.

"Bagaimana?"

"Ah, lumayan... juga?"

Aku merasa lega karena ekspresi wajahnya sedikit melembut.

"Ngomong-ngomong, apa yang sebenarnya Anda khawatirkan sedari tadi?"

"Eh? Umm―"

Yuu-nii menatapku dan Mahiru secara bergantian.

"Apa itu hal yang sulit untuk diucapkan?"

"Kau anggap aku orang asing sampai harus main rahasia segala?"

"Bukan begitu... ehem, ah, iya. Belakangan ini rambutku mulai menipis, aku jadi mikir jangan-jangan ini karena faktor usia. Haha."

"Paman kan rambutnya lebat, jadi kau pasti bakal baik-baik saja. Daripada membahas itu―"

Mahiru meraih tangan kiri Yuu-nii.

"Sini, tangannya kugenggam juga."

"!?"

S-si dada besar ini! Bilangnya mau menggenggam tangan, tapi diam-diam dia malah menaruh tangan Yuu-nii di atas dadanya!

Benar-benar mesum...

Ujung-ujungnya, setelah itu kami malah sama sekali tidak belajar.



Interlude IV | ToC | Interlude V

Post a Comment

Post a Comment

close