Final Chapter
Menyambut Datangnya Malam
1
Waktu menunjukkan pukul setengah lima sore lewat. Dua
orang yang biasa datang di waktu yang sama kini muncul.
"Halo, Yuu-nii."
"Selamat sore, Yuu-nii."
"Selamat datang."
Sudah seminggu sejak Mahiru dan gadis cantik misterius
itu mulai belajar untuk ujian di sini. Mereka selalu datang berdua, pasti
mereka sangat akrab.
Mereka duduk di meja untuk dua orang dekat dinding yang
kini menjadi tempat tetap mereka, lalu mulai belajar dengan tekun. Entah
kenapa, sesekali mereka menatap ke arahku sambil tersenyum simpul dan saling
membisikkan sesuatu.
Apa mereka sedang menilai cara kerjaku?
"Oke, saatnya istirahat. Yuu-nii, tambah lagi
dong!"
Aku membawakan pesanan tambahan mereka saat mereka sedang
beristirahat.
"Makasih."
"Terima kasih banyak."
Gadis cantik misterius itu memegang cangkirnya dengan
anggun. Sosoknya saat meminum kopi dengan elegan benar-benar terlihat cantik.
Tingkah laku dan ekspresinya memiliki pesona yang
membuatku tanpa sadar terpana. Dia pasti seorang putri dari keluarga baik-baik.
Dia sangat bertolak belakang dengan Mahiru yang bebas,
dalam artian yang baik.
Mahiru membiarkan kancing atas kemejanya terbuka lebar,
menggulung lengan bajunya, dan memamerkan kulit putihnya yang lembut. Astaga,
apa anak itu tidak punya rasa malu sama sekali?
Dia benar-benar tidak berubah sejak masih kecil.
Sebaliknya, gadis cantik misterius itu mengancingkan
blazernya dengan rapi, memancarkan aura seorang siswi teladan.
Meskipun tipe mereka berdua sangat berbeda, mereka
sama-sama gadis cantik yang menarik perhatian. Nyatanya, saat mereka berdua
datang, suasana di dalam kafe ini mendadak terasa lebih ceria.
"Ngomong-ngomong," ucapku membuka
pembicaraan.
"Kalian berdua hebat karena belajar dengan
rajin. Apa Miya juga belajar dengan benar ya?"
"Eh? E-entahlah... Mungkin dia juga belajar,
kan."
Tiba-tiba Mahiru menegakkan punggungnya, lalu menjawab
dengan canggung...
"Dari dulu anak itu kan tipe orang yang selalu panik
di saat-saat terakhir."
"B-benar, ya."
Entah kenapa, Mahiru tampak mengkhawatirkan reaksi gadis
cantik misterius itu. Sang gadis cantik hanya menatap ke arah Mahiru dengan
senyum manis yang tertahan di wajahnya.
"Bocah nakal itu, jangan-jangan dia malah keluyuran
dan bukannya belajar. Dulu dia juga sering dimarahi
karena tidak mengerjakan PR, kan. Hahaha."
"Nng, uhuk, uhuk. K-Yuu-nii, aku mau tambah
dong."
Mahiru meneguk kolanya dalam sekali tarikan napas,
sementara keringat mulai bercucuran di dahinya.
"Kamu ini, tidak apa-apa menenggak minuman
berkarbonasi sekaligus seperti itu?"
"T-titak apra-apra."
"Jelas tidak baik-baik saja, kan."
Aku mengambil gelas kosongnya lalu kembali ke dapur.
Melihat reaksi Mahiru tadi, keraguan yang mulai
tumbuh di dalam diriku kini menjadi semakin besar.
Apa dugaanku benar? Apa dia sudah tidak terlalu akrab
lagi dengan Miya?
Mahiru jarang membicarakan Miya, dan setiap kali aku
mengangkat topik tentang Miya, suasananya entah kenapa selalu menjadi canggung.
Dia datang ke sini sendirian, atau hanya bersama gadis
cantik itu... Apa sekarang dia sudah jarang bergaul dengan Miya?
Semakin bertambah dewasa, seseorang memang sering
kali menjadi renggang dengan teman masa kecilnya. Aku juga pernah mengalaminya.
Sudah bertahun-tahun aku tidak bertemu teman-teman
SMP dan SMA-ku. Bahkan, aku sudah kesulitan mengingat wajah dan nama
teman-teman masa SD-ku.
Setiap kali lingkungan berubah, pertemuan dan
perpisahan akan terus berulang. Hubungan antarmanusia pun akan
perlahan-lahan ikut berubah.
Hal itu sama sekali bukan sesuatu yang aneh. Semua orang
di dunia ini pasti pernah mengalaminya.
Tapi, entah kenapa hal semacam itu... Terutama bagi
mereka berdua yang sudah seperti saudara kandung sendiri...
—Aku tidak ingin hal itu terjadi pada mereka.
"Yuu-nii, ada apa?"
Tanya Mahiru dengan nada suara yang terdengar khawatir.
"Eh, oh, tidak, bukan apa-apa. Ini kolanya. Semangat
ya belajarnya, ujiannya tinggal seminggu lagi, kan?"
"Iya."
Mahiru membalas dengan senyuman lebar.
"Iya, kami akan berjuang."
Gadis cantik yang duduk di seberangnya juga tersenyum
manis, senyuman yang sanggup membuat jantungku berdebar kencang.
◇
Dasar Kakak Bodoh. Jangan bicara yang tidak-tidak,
dong!
Lagipula Miya kan ada tepat di depan matamu.
Benar-benar, deh.
Aku meminum kola yang baru diantarkan. Ah, tenggorokanku
sakit karena tadi menenggak kola sekaligus.
Meskipun begitu, kalau dia sampai tidak menyadarinya
sejauh ini, bukankah tingkat ketidakpekaannya sudah kelewatan?
Begitu ya, kurasa aku mulai mengerti kenapa Miya sampai
semarah itu. Jika aku berada di posisi Miya, mungkin aku akan mengamuk lebih
parah darinya.
Aku ingin kami berempat bisa segera bermain bersama
lagi.
Asaka sepertinya akan pulang pada musim panas nanti.
Kuharap masalah ini sudah selesai sebelum waktu itu tiba.
Sambil mengelus gelang kain di pergelangan tangan kiriku,
aku menghela napas panjang.
Entah apa yang akan terjadi setelah ini.
2
"Unyaa~"
Mahiru merebahkan dirinya di atas meja dengan lemas.
Pensil mekanik, penghapus, dan buku catatan seolah tertelan oleh dadanya yang
kebesaran, sebuah pemandangan yang menunjukkan kekuatan brutal.
Waktu menunjukkan tepat sebelum tengah hari. Karena hari
ini adalah hari libur terakhir sebelum ujian, aku dan Mahiru sudah belajar di
Moon Night Terrace sejak pagi.
Kami secara khusus diizinkan masuk sejak pukul setengah
delapan pagi sebelum kafe buka. Hitungannya, kami sudah belajar sekitar empat
jam diselingi waktu istirahat.
"Udah... mentok."
"Mau istirahat?"
Saat aku bertanya, Mahiru langsung mencondongkan tubuhnya
ke belakang.
"Bukan. Bukan istirahat atau semacamnya. Pokoknya
udah mentok aja."
"?"
"Mi... Kok kamu tahan sih duduk selama itu."
"Karena aku sudah terbiasa duduk diam."
Benar-benar deh, ini sebabnya orang-orang klub olahraga
selalu tidak bisa diam dan merepotkan.
"Mahiru, ada apa?"
"Sepertinya konsentrasinya sudah habis."
Saat aku menjelaskannya, wajah Yuu-nii langsung berseri.
"Hehehe, Mahiru memang tidak bisa diam sejak
dulu."
"Berisik, Kakak Bodoh."
Meski membalas, suaranya terdengar tidak bersemangat.
"Ini masih sebelum siang, kan? Baru
juga sekitar empat jam."
"Iya sih. Tapi kan empat jam itu lumayan lama,
tahu."
"Omong kosong apa yang kamu bicarakan itu. Aku
ini pernah bekerja dari jam tujuh pagi sampai jam tujuh pagi besoknya. Hahaha."
"...Itu sama sekali tidak lucu, tahu."
"Yuu, kamu istirahat saja duluan," panggil
Bibi.
"Baik."
Yuu-nii mulai melepas celemeknya. Mahiru menatapnya
sambil berdiri dari kursi.
"Aku mau jalan-jalan di sekitar sini sebentar, cari
angin."
"Boleh saja, tapi cepat kembali ya."
"Yuu-nii juga mau istirahat, kan? Ayo pergi
bareng."
Setelah mengatakan itu, Mahiru mendorong punggung Yuu-nii.
"Hah? Ya, boleh saja."
Tunggu dulu, woi.
◇
"Ngg, segarnya."
Begitu keluar, Mahiru melakukan peregangan sambil menarik
napas dalam-dalam.
"Menggerakkan badan memang cara yang paling
tepat untuk menyegarkan diri. Kalau diam terus di satu tempat, rasa
lelah yang mengganggu akan menumpuk meskipun kita tidak melakukan
apa-apa."
"Mahiru, kita harus kembali pas waktu istirahat Yuu-nii
selesai, jadi jangan pergi terlalu jauh ya."
"Iya, aku tahu kok."
Gadis cantik misterius itu menasihatinya. Sikapnya
terlihat seperti seorang teman, sekaligus seperti saudara.
Mereka berdua benar-benar sangat akrab ya.
Aku berjalan di belakang mereka sambil meminum kopi
kaleng yang kubeli dari mesin penjual otomatis. Setelah berjalan sebentar,
sirene tanda tengah hari bergema di seluruh penjuru kota.
"Ngomong-ngomong sudah siang rupanya. Kalian
mau makan di suatu tempat? Akan kutraktir."
"Memangnya boleh?"
Mahiru menoleh ke arahku dengan senyum lebar di wajahnya.
"Apa tidak apa-apa, Yuu-nii?"
Gadis cantik misterius itu mendekatkan wajahnya ke
arahku.
"Boleh kok, tentu saja boleh. Cuma segitu doang,
kan."
"Kuharap tagihannya benar-benar cuma segitu."
Gadis misterius itu berkata dengan nada khawatir.
"Jangan meremehkan dompet orang dewasa yang
sudah bekerja dong. Hahaha."
Setelah itu, kami pergi ke restoran keluarga di dekat
sana. Restoran keluarga merupakan tempat yang sempurna untuk istirahat makan
siang karena punya menu yang beragam dan suasananya nyaman.
"Satu set Yakiniku porsi nasi besar, salad set
dengan Doria keju, pesanan a la carte telur dadar dan sup babi, lalu parfait
deluxe setelah makan. Ah, mungkin parfaitnya kumakan setelah pulang saja deh.
Tolong batalkan pesanan parfaitnya. Kalian pesan apa?"
"Aku pesan soba Tsukimi dan salad tuna."
"...Tolong Paella porsi besar."
"B-baik, pesanan diterima."
Mbak pelayan itu kembali membawa catatan pesanan sambil
tersenyum pahit. Aku mengerti, aku juga merasakan hal yang sama dengannya.
"Hei, Mahiru. Apa kamu sanggup menghabiskan makanan
sebanyak itu?"
"Hmm, gampang itu sih."
"Bakal mubazir kalau disisakan lho."
"Tidak masalah kok, Yuu-nii. Kapasitas perut Mahiru
itu jauh lebih besar dari anak laki-laki."
"Eh..."
Makanan yang kami pesan telah dihidangkan. Melihat semua
pesanan itu dijejerkan sungguh sebuah pemandangan yang mencengangkan.
Pesanan Mahiru saja sudah memenuhi separuh meja.
"Kapasitas perutku saat masih SMA saja akan
kesulitan menghabiskan porsi sebanyak ini."
"Ngomong-ngomong, Yuu-nii dulu masuk klub basket
ya."
"Iya benar. Eh tunggu, apa aku pernah
menceritakannya?"
"Ah, anu, a-aku pernah mendengarnya dari Mahiru
sebelumnya."
Padahal itu bukan masalah besar, entah kenapa gadis
cantik itu tampak panik.
"Enaaak."
Daging, telur, dan nasi terus-menerus masuk ke dalam
mulut Mahiru. Dalam sekejap, set Yakiniku ludes dari atas meja, dan kini dia
mulai menyikat Doria keju.
Dulu saat kami makan bersama di pujasera, dia malah
menyerahkan nasi putihnya kepadaku dengan alasan tidak sanggup menghabiskannya.
"L-luar biasa."
"Dia bisa makan lebih banyak lagi lho sehabis
kegiatan klub. Waktu itu juga di restoran All You Can Eat
Yakiniku—"
"B-berisik ah, kalian berdua juga cepat makan
sana."
Cara makannya sangat lahap tapi sama sekali tidak
terlihat jorok, justru malah membangkitkan nafsu makan orang yang melihatnya.
Daripada terus terpesona, lebih baik aku cepat-cepat makan juga.
Meskipun begitu, Paella ini memang enak, tapi sulit
sekali dimakan.
Aku pun mulai mengupas cangkang udangnya.
"Ugh..."
Wajah gadis cantik misterius itu tampak menegang.
"Ada apa?"
"Maaf, traumaku rasanya bangkit kembali."
"Trauma? Apa maksudmu?"
Memangnya ada hal dalam hidangan Paella yang bisa
membangkitkan trauma?
"Itu lho, aku agak kurang suka dengan udang yang
masih ada cangkangnya. Rasanya seperti sedang membedah
serangga lalu memakannya... Ah, maafkan aku."
"Tidak apa-apa, lagipula aku yang bertanya."
Kami bertiga selesai makan pada waktu yang sama.
"Fuuuh, terima kasih atas makanannya."
"Yuu-nii, terima kasih makanannya."
"Sama-sama."
Dia benar-benar menghabiskan semuanya. Mahiru menguap puas sambil menatap piring-piring kosong di depannya.
"Haaah, aku jadi mengantuk kalau perutku sudah
kenyang."
Mahiru menelungkupkan badannya di atas meja.
"Hei, Mahiru. Sikapmu tidak sopan, lho."
"Biarin saja. Katanya otak akan bekerja lebih aktif
kalau kita tidur siang sebentar, kan?"
"Astaga."
"Hebat juga ya, masuk ke mana saja semua makanan itu
di perutmu yang ramping ini."
Aku mencoba menepuk-nepuk perut Mahiru.
"Eh—"
Tamparan Mahiru yang wajahnya memerah langsung melayang
ke arahku.
"Bufoh!"
Rasa sakit yang menyengat langsung menjalar di
pipiku.
"Ah, maaf, Yuu-nii."
"Tidak... Kalau yang barusan itu, Yuu-nii yang
salah."
"Yuu-nii, tidak apa-apa?"
"M-maafkan aku."
Aku kembali memperlakukan Mahiru seperti saat dia masih
anak-anak. Setelah itu, kami kembali ke kafe, dan mereka berdua lanjut belajar.
Besok adalah hari ujian tengah semester. Aku harap mereka akan berjuang sebaik mungkin.
Setelah kafe tutup hari itu, aku memberanikan diri
untuk bertanya kepada Ibuku.
"Ah, Ibu."
"Ada apa?"
Ibu yang sedang membersihkan dapur menampakkan
wajahnya.
"A-anu. Keluarga Haruyama kan sudah pindah
rumah, kan?"
"Y-ya."
"Tolong beri tahu alamatnya dong, mereka pindah ke
mana sih?"
3
"Uwaaa, akhirnya ujian selesaaai!"
Aku meregangkan tubuhku lebar-lebar.
Kain kaus poloku tertarik di bagian dada, dan perutku
sedikit terekspos... Tentu saja hal itu tidak terjadi, aku sudah memasukkan
kaus dalaman hitamku ke dalam rok dengan rapi jadi sangat aman.
Meski begitu, tetap saja membuatku kesal karena ada
beberapa anak laki-laki yang melirik ke arahku.
"Mahhi, soal terakhir kamu jawab nomor berapa?"
Teman yang duduk di depanku memutar kursinya ke arahku.
"Nomor empat kan."
"Ah, sudah kuduga begitu."
Hari ini, tepat pada siang hari di tanggal 1 Juni,
ujian tengah semester yang berlangsung selama tiga hari akhirnya selesai.
Pada saat yang sama, hari ini adalah awal dari
pergantian seragam, di mana pemakaian seragam musim panas mulai diizinkan. Para
siswa bebas memilih antara kaus polo uniseks atau kemeja lengan pendek dengan
kerah terbuka.
Selain itu, karena kegiatan klub juga mulai diizinkan
beroperasi kembali mulai hari ini, aku sudah menantikannya sejak pagi.
Tubuhku jadi terasa kaku karena hampir dua minggu ini aku
menjalani kehidupan yang penuh dengan belajar. Aku harus banyak bergerak untuk
melampiaskan semua kepenatan yang sudah menumpuk ini.
Yah, karena aku bisa belajar di dekat Yuu-nii, itu jadi
hal yang patut disyukuri.
Ngomong-ngomong, ini berarti aku juga bisa masuk ke kamar
Yuu-nii dengan bebas lagi, sepertinya cuma ada hal baik saja dari kejadian ini.
"Mahhi, kenapa kamu senyum-senyum sendiri? Sebegitu
senangnya ya ujian sudah selesai?"
"Eh? Oh, begitulah. Haha."
Walaupun begitu, pria tidak peka itu, padahal sudah
bertemu dengan Miya hampir setiap hari selama dua minggu, tapi sama sekali
tidak menunjukkan tanda-tanda kalau dia menyadarinya.
Apa sih yang salah dengannya?
Satu-satunya hal yang benar-benar berubah drastis dari
Miya hanyalah sifatnya.
Penampilannya tidak terlalu banyak berubah, dan dia juga
masih memiliki ciri khas masa kecilnya. Hanya saja, itu dilihat dari sudut
pandangku yang selalu ada di sisinya selama ini.
Bagi Yuu-nii, penampilan kami berdua seperti melompat
maju melewati waktu sepuluh tahun sekaligus.
Tapi kan, dia malah menyadari keberadaanku.
"Uumm."
"Kenapa? Ada jawaban yang bahaya ya?"
"Bukan, bukan tentang itu kok."
"Mahiru."
"Oh, Mahhi, 'pacarmu' datang lho."
Saat aku melihatnya, Miya yang mengenakan kemeja
kerah terbuka tampak melambaikan tangannya dari pintu masuk kelas.
"Kubilang dia bukan pacarku, tahu."
"Tapi kan kalian selalu berduaan. Mesra sekali
yaa."
"Astaga."
Dibandingkan pacar, kami ini lebih pantas disebut
saudara.
"Hei, lihat tuh, ada Haruyama."
"Hari ini dia juga cantik sekali ya."
"Dua orang Gadis Suci Tembok Besi sudah berkumpul,
tuh."
"Betapa berharganya pemandangan ini."
"Kulit mereka berdua putih dan sangat cantik."
Aku segera menarik Miya ke koridor, seolah melarikan diri
dari tatapan anak laki-laki.
"Ada apa, Miya."
"Habis ini, ada kegiatan klub?"
"Iya. Setelah makan siang, mulai dari jam satu. Miya
sudah mau pulang?"
"Klub Misteri juga mulai beroperasi kembali hari
ini. Yah, walaupun namanya kegiatan klub, kami hanya sekadar baca novel atau
ngobrol-ngobrol saja sih."
"Kalau begitu, mari kita makan siang bareng saja
sebelum beraktivitas."
"Iya."
◇
Di ruang Klub Misteri, ternyata sudah ada Seina di sana.
"Miya, kamu terlambat lho."
"Maaf, maaf— eh, kamu lagi nonton apa?"
Sepertinya Seina sedang menonton rekaman tak terpakai
dari film yang kami buat untuk festival budaya.
Adegan itu sudah hampir mencapai klimaksnya, adegan di
mana aku yang berdandan ala Gyaru menunjukkan sifat asliku sebagai seorang
pembunuh berantai.
"Uwaaaaaaaraaaa!!!"
Diriku di dalam layar berteriak dengan lantang.
"Jujur saja, ini gila banget, lho. Apa sih yang
membuatmu bisa berubah sejauh ini?"
"Hentikan, itu sangat memalukan tahu."
Meskipun akhirnya aku dicopot dari peran utama sebagai
penjahat, aku tetap berpartisipasi dalam film dengan beralih ke peran lain,
yaitu sebagai asisten detektif.
"Haaah, semakin kulihat, semakin aku merasa ini
sangat disayangkan. Padahal peranmu sebagai korban sudah sangat cocok. Kenapa
aktingmu saat menjadi pembunuh berantai malah terasa berlebihan begitu?"
"Ahaha."
Sejujurnya, aku tidak terlalu senang dipuji kalau peran
Gyaru itu cocok untukku.
"Aku lega karena penampilan Gyaru-ku tidak jadi
ditonton oleh seluruh siswa sekolah."
Mengenakan pakaian terbuka dan berdandan menor ala
Gyaru itu... Aku tidak bisa membayangkan kalau sampai dilihat oleh orang-orang
yang tidak kukenal.
"Padahal penampilan itu sangat cocok untukmu,
lho."
"Yang bilang penampilanku cocok itu cuma Misora dan
kamu saja, Seina."
Saat proses syuting, aku mengirimkan foto penampilanku
sebagai Gyaru kepada Misora, dan dia merespons dengan, "Kakak luar
biasa," dan "Kakak keren banget."
Karena anak-anak selalu mengatakan apa pun yang mereka
pikirkan secara blak-blakan, mereka memuji dengan sangat tulus.
Walaupun kesehariannya, dia bisa jadi berkali-kali lipat
lebih nakal dari itu.
"Nah, kalau begitu."
Aku menyeduh kopi instan di dispenser air yang tersedia
di sana, lalu duduk di kursi dekat jendela.
Karena ujian juga sudah selesai, aku bisa membaca novel
sepuasnya.
Aku mengeluarkan sebuah novel misteri dari tasku.
Ini adalah buku bunko yang sudah kubeli dan kusimpan
sebelum masa ujian dimulai.
"Oh iya, Miya. Apa kamu sudah menulis karya
barumu?"
"Fweh?"
Karya baru?
"Cerita pendek yang akan dimasukkan di majalah klub
bulan ini, lho."
"Ah."
Aku benar-benar melupakannya karena terlalu sibuk
memikirkan ujian dan Yuu-nii.
"Wajahmu itu, kamu melupakannya ya? Batas waktunya
hari Senin minggu depan, lho."
"G-gawat."
"Cerpen buatanmu itu populer lho, jadi tidak boleh
terlewatkan. Memangnya sudah dikerjakan sampai mana?"
"T-tidak apa-apa. Akan kukerjakan sekarang
juga."
"Kamu ini benar-benar tipe orang yang panik di
saat-saat terakhir ya."
Trik dan plot utamanya sudah selesai kususun, jadi aku
hanya tinggal menuliskannya saja.
Sambil membawa buku catatan ide dan kopi di tangan, aku
segera menghadap ke layar komputer.
4
"Apa di sana, ya?"
Aku sedang mengunjungi daerah perumahan yang terletak di
barat daya kota. Jaraknya tidak begitu jauh dari Moon Night Terrace.
Namun karena sudah masuk bulan Juni dan cuaca mulai
terasa gerah, aku sedikit menyesal karena tidak menyewa mobil saja.
Waktu menunjukkan pukul tiga sore lewat.
Aku melangkahkan kaki dengan mengandalkan alamat yang
kudengar dari ibu. Di dalam dadaku, rasa harap dan cemas menumpuk dalam porsi
yang sama besarnya.
Masa ujian juga sudah selesai, jadi mungkin saja aku bisa
bertemu dengan Miya.
Kira-kira dia tumbuh menjadi seperti apa, ya.
Karena dia itu bocah nakal, kemungkinan besar dia jadi
seorang gyaru atau berandalan.
Tapi dia adalah sosok yang sudah seperti adik sendiri
karena kurawat sejak bayi.
Ada harapan kalau aku mungkin bisa bertemu Miya yang
seperti itu.
Dan di saat yang sama... Mahiru selalu panik atau
bereaksi canggung setiap kali aku membahas soal Miya.
Dia juga tidak pernah sekalipun mengajak Miya saat datang
ke kafe, dan hampir tidak pernah menyinggung tentang Miya dari dirinya sendiri.
Apa sekarang mereka berdua sudah tidak akrab lagi? Aku
tidak berhak mengomentari urusan orang lain karena aku juga pernah
mengalaminya.
Namun untuk mereka yang dulu sedekat saudara kandung, hal
itu rasanya tidak mungkin terjadi... tapi kenyataannya, tidak ada yang bisa
memastikannya.
Aku tidak ingin hal itu terjadi, tapi aku juga tak
mungkin bertanya langsung pada Mahiru.
Ada rasa cemas terhadap kebenaran hubungan pertemanan
adik-adikku itu saat ini.
Kalau mereka berdua benar-benar jadi menjauh...
Membayangkannya saja membuat dadaku terasa sesak.
Aku menghentikan langkah di depan sebuah rumah.
"Di sini, ya."
Ada tulisan "Haruyama" di papan namanya. Tidak salah lagi. Ini tempatnya.
Sebuah rumah besar berlantai dua. Ada satu unit
minivan hitam yang terparkir di depannya.
Aku membulatkan tekad dan menekan bel pintu. Tak lama
kemudian, pintu masuk perlahan terbuka.
Sosok yang muncul adalah seorang wanita cantik, Haruyama
Mirai.
"Ya ampun, Yuu."
"Lama tidak berjumpa."
"Sudah lama sekali, ya. Astaga, kamu tidak berubah
sama sekali."
"Mirai-san juga. Masih tetap cantik seperti
dulu."
"Kamu tidak akan dapat apa-apa lho dengan
memujiku."
Itu bukan kebohongan. Aku dibuat tercengang melihat sosok
Mirai yang nyaris tidak berubah dari ingatanku. Apa ini yang namanya wanita
awet muda?
Perubahan akibat penuaan hampir tidak terasa darinya.
Keriput dan flek wajahnya hampir tidak ada, mungkin hanya badannya saja yang
sedikit lebih berisi.
Dia mengikat rambut cokelat panjangnya dan membiarkannya
menjuntai di bahu, berbalut kaus putih dan celana denim ketat sepanjang tiga
perempat.
"Ayo, silakan masuk."
"Permisi."
Aku dipersilakan masuk ke ruang tamu dan diminta untuk
duduk di sofa.
"Ini, silakan."
Mirai membawakan dua porsi es teh.
"Ah, tidak usah repot-repot."
"Kita kan bukan orang asing, jadi santai saja."
"Benar juga, ya."
"Kamu pulang sekitar musim semi kemarin, kan?"
"Iya, akhir bulan Maret."
"Aku sering dengar dari Sayaka-san, katanya
kehidupanmu di sana berat, ya?"
"Ya, begitulah. Sampai-sampai tidak ada waktu luang
untuk pulang kampung."
"Padahal lebih baik kalau kamu pulang lebih
cepat."
"Kupikir aku harus berjuang sedikit lagi dan sedikit
lagi, tapi waktu terus menumpuk dan tanpa terasa sepuluh tahun sudah berlalu,
hahaha."
Karena topik pembicaraan beralih ke kehidupanku di Tokyo,
aku mencoba menceritakan masalah perusahaan gelap tempatku bekerja sambil
bercanda, namun hanya dibalas dengan senyum masam.
Lagipula aku hampir tidak punya kenangan lain di Tokyo,
jadi mau bagaimana lagi.
"Sepuluh tahun, ya. Cepat sekali rasanya."
Mirai mengaduk es di gelasnya dengan sedotan hingga
berbunyi, lalu bergumam pelan.
"Selama sepuluh tahun ini, Miya selalu ingin bertemu
denganmu, lho."
"Apa Miya masih di sekolah?"
"Biasanya dia pulang sekitar jam tujuh. Tapi kadang
ada kalanya dia belum pulang sampai hampir jam sembilan."
Bocah nakal itu, dia pasti sering keluyuran...
"Mau nambah minumnya?"
"Maaf merepotkan."
Mirai berdiri sambil memegang gelas kosong di
tangannya. Pada saat itulah.
"Aku pulang~"
Terdengar suara dari arah pintu depan. Kukira itu Miya,
tapi ternyata itu suara anak kecil. Eh, anak kecil?
Sesaat kemudian, seorang gadis kecil masuk ke ruang tamu.
Rambut cokelat panjangnya diikat twin-tail rendah, dan ada rambut bodoh yang
mencuat keluar.
Matanya yang besar seperti mata kucing sedikit menyipit,
benar-benar terlihat nakal, dan bibirnya yang terkatup rapat menunjukkan
sosoknya yang keras kepala.
Dia mengenakan kaus hitam dan rok mini denim. Ada
beberapa gantungan yang menggantung di tas ransel merahnya.
S-siapa ini? Sesaat kukira dia Miya, tapi umurnya tidak
cocok.
"Misora, selamat datang."
Mirai kembali ke ruangan.
"Misora?"
"Ah benar, Yuu tidak tahu, ya. Dia putri keduaku,
Misora."
Apa katanya?
"Ugh."
Begitu melihatku, Misora langsung menyipitkan matanya
seperti sedang melotot.
Gawat, apa aku dianggap orang mencurigakan?
Pulang ke rumah dan mendapati ada paman asing sedang
bersantai, tentu wajar kalau dia berpikir begitu.
"Mama, selingkuh?"
"Bukan kok. Dia mantan tetangga kita dulu, itu
lho... dari keluarga Aritsuki—"
Aku berdiri dan memperkenalkan diriku.
"Halo, aku Aritsuki Yuu."
Umurnya sekitar sepuluh tahun, ya. Dia sangat mirip,
sampai-sampai rasanya seperti Miya dalam beberapa tahun ke depan jika dia
tumbuh dengan normal.
"Ayo, Misora juga beri salam."
Misora melempar tas punggungnya ke sofa, lalu menatap ke
arahku.
Tatapannya penuh dengan kepercayaan diri dan terasa ada
ketidaksopanan seolah meremehkan orang lain. Dia benar-benar mirip dengan Miya
semasa kecil.
Tanpa sadar, perasaan rindu menyelimuti diriku.
"Halo."
Sepasang mata pemberontak balas menatapku tajam. Apa dia
jadi waspada padaku?
Misora tiba-tiba membuang muka ke arah Mirai.
"Mama, minta camilan."
"Cuci tangan dulu sana."
"Okee."
Misora berlari kecil menuju tempat cuci tangan.
◇
Ah, kagetnya. Kenapa paman itu ada di rumahku?
Aku kembali ke ruang tamu setelah mencuci tangan. Begitu
duduk di seberangnya, paman itu langsung tersenyum kaku ke arahku.
"Kamu mirip sekali dengan Miya, ya. Kelas
berapa?"
"Kelas tiga sih."
"B-begitu ya."
"Paman sendiri umurnya berapa?"
"Pa-paman..."
"Hei, Misora, panggil dia Yuu-nii, dong. M-maaf ya,
Yuu-kun."
"Tidak, tidak apa-apa kok. Dia benar-benar mirip
dengan Miya di masa lalu."
Katanya Kakak, Kak Mahiru, dan Kak Asaka sering diajak
bermain olehnya saat mereka masih kecil, tapi itu terjadi sebelum aku lahir.
Dia sepertinya bukan orang jahat, tapi entah bagaimana,
auranya terasa redup dan kurang bersemangat. Menurut cerita Kak Mahiru, dia itu
sosok kakak yang bisa diandalkan, tapi kelihatannya tidak begitu.
Saat itu bel pintu berbunyi.
"Siapa ya... Ah, benar juga. Aku
ada rapat untuk festival musim panas."
Mama bergegas menuju pintu depan.
"Aku akan kembali sekitar satu jam lagi, jadi santai
saja ya, Yuu-kun."
"Baik."
Hampir jam empat. Kakak mungkin sebentar lagi pulang.
...Bukankah ini gawat?
Kalau tidak salah dengar dari cerita Kak Mahiru, Kakak
itu berusaha membuat paman ini sadar akan identitas aslinya. Dan yang paling penting, harus dari paman ini sendiri yang
menyadarinya.
Kalau mereka bertemu muka di keluarga Haruyama ini
sudah pasti dia akan sadar, tapi cara menyadarinya yang seperti ini sepertinya
bukan perkembangan yang diinginkan Kakak, jadi mau bagaimana lagi.
Sepertinya aku harus turun tangan membantunya. Kalau
tidak salah foto lomba cosplay waktu kelas satu... terus foto film yang
baru-baru ini juga bisa dipakai.
◇
Begitu Mirai pergi, Misora mengeluarkan ponselnya.
"Aah, Kakak pasti bakal marah nih. Kakakku itu seram
lho kalau lagi marah."
Kenapa tiba-tiba begini?
"Bantal sofa itu kan yang selalu dipakai Kakak.
Kakak itu bakal marah banget lho kalau barang miliknya dipakai orang
lain."
Pandangan Misora mengarah ke bantal sofa di bawah
pantatku. Apa ini bantal yang biasa dipakai Miya?
"Haha, aku melakukan hal yang buruk, ya."
Aku memindahkan bantal itu ke samping.
"Kakak itu kalau ngamuk seramnya bukan main, lho.
Ah, ini foto Kakakku."
Misora mengarahkan layar ponselnya padaku. Foto yang terpampang di sana membuatku tercengang.
Rambut pirang mencolok dengan eyeshadow yang
melingkari matanya dengan warna hitam. Bulu mata palsu lentik yang tajam, lensa
kontak merah, lipstik sewarna merah darah, dan telinga yang dipenuhi anting...
"Eh?"
Dia menjulurkan lidahnya lebar-lebar sambil
mengacungkan jari tengah. Dengan riasan tebal itu, sama sekali
tidak ada sisa bayangan Miya dari masa lalu.
"Nah, kalau yang ini Kakak versi akhir-akhir
ini."
Misora kembali menunjukkan foto lain. Tempatnya
sepertinya di sebuah hotel.
Pakaian terbuka yang memamerkan bahu. Rambutnya kembali
cokelat, tapi entah mungkin diwarnai sebagian, bagian kirinya terlihat memiliki
aksen mesh. Riasan matanya masih tetap tebal, dan anting di telinganya semakin
banyak. Dia menurunkan masker hitam ke dagu sambil menjilat bibirnya.
Dan tidak lupa dengan acungan jari tengah andalannya.
"B-bohong, kan."
Aku sudah menduga kalau dia mungkin berubah jadi gyaru
atau berandalan, tapi tidak kusangka sampai seburuk ini. Padahal aku sendiri
sudah meyakini kemungkinan itu, namun ketika dihadapkan langsung dengan
kenyataan, diriku tidak bisa menerimanya dengan mudah.
Rasa kejut yang dingin seolah ada es yang menusuk
jantungku langsung menembus sekujur tubuhku.
Entah mengapa aku merasa Miya telah pergi menjauh. Tidak,
bukan sekadar merasa. Apa ini berarti Miya yang kukenal sudah tidak ada...?
Kenangan masa lalu kembali muncul dan menghilang dalam
benakku. Miya yang selalu mengekor di belakangku sambil memanggil, "Yuu-nii,
Yuu-nii." Bocah nakal yang cengeng tapi sok kuat, dan selalu bertindak
semaunya itu kini tumbuh menjadi seorang gadis SMA gyaru yang nakal...
"Bukannya lebih baik paman cepat-cepat pulang
sebelum Kakak kembali?"
"A-ah. Kau benar."
Sebenarnya tidak ada keharusan bagiku untuk pulang, tapi
entah kenapa aku malah berdiri. Tidak, aku sendiri juga menyadarinya, kan?
Aku menjadi takut untuk bertemu dengan Miya yang
sekarang.
◇
Aah, aku sudah benar-benar terlambat. Waktu menunjukkan
lewat pukul lima sore.
Mengingat tenggat waktunya masih minggu depan, sebenarnya
aku tidak perlu terburu-buru menyelesaikannya. Tapi Seina itu sangat tegas
kalau soal mengecek naskah. Apa aku mampir ke Moon Night Terrace saja, ya? Hari
ini aku sudah kelelahan karena ujian dan menulis cerpen.
Aku mau melihat wajah Yuu-nii untuk menyembuhkan rasa
lelahku. Ah, tapi kalau tidak salah dia bilang hari ini dia libur.
Mungkin dia tidak ada di kafe.
Saat sedang berjalan tanpa tujuan di kota, kebetulan aku
malah menemukan Yuu-nii.
Kebetulan yang menguntungkan. Tapi rasanya langkahnya
terlihat goyah, apa dia baik-baik saja? Dari kejauhan pun dia terlihat kurang
bersemangat.
Aku berlari kecil menghampirinya dan memanggil.
"Hei, Yuu-nii."
"Ah, kamu."
Wajah Yuu-nii terlihat murung.
"Ada apa?"
"Ah, yah, hanya sedikit masalah."
Suaranya juga sedikit gemetar. Apa sesuatu yang buruk
telah terjadi padanya?
"Kalau ada masalah aku siap mendengarkan lho. Mari
kita duduk dan bicara di suatu tempat."
Kami duduk berdampingan di bangku taman terdekat.
Matahari sudah hampir tenggelam, dan tirai malam mulai menyelimuti langit.
"Jadi, ada apa sebenarnya?"
"..."
Yuu-nii tidak bergeming dengan bibir terkatup rapat.
Dia terlihat sangat terbebani, dan butuh waktu beberapa menit sebelum dia
akhirnya membuka mulut.
"Sebelumnya aku pernah menceritakan soal bocah
nakal yang dulu tinggal di sebelah rumahku, kan?"
"E-iya."
Padahal kata 'bocah nakal'-nya tidak perlu
ditambahkan segala.
"Sebenarnya, aku baru saja pergi ke rumah anak
itu."
"Eh!?"
Barusan dia bilang apa? Rumah?
Apa itu berarti rumahku? Jangan-jangan, identitasku sudah
ketahuan?
"Aku berniat menemui sosok yang sudah seperti adikku
sendiri setelah sepuluh tahun."
"Hah."
Kalau Ibu atau Misora menunjukkan fotoku, maka semuanya
akan berakhir. Tapi, melihat sikap dan cara Yuu-nii memperlakukanku saat ini,
sepertinya aku tidak perlu mengkhawatirkan hal itu.
"Lalu, kebetulan adiknya ada di sana, jadi aku
ditunjukkan fotonya."
Eh? Dia sudah melihatnya?
Jangan-jangan dia bersikap pura-pura bodoh padahal sudah
tahu semuanya? Sambil menahan keraguan yang terus berdatangan tanpa henti, aku
menunggu perkataannya selanjutnya.
"Lalu tahu tidak, ternyata anak itu sudah berubah
jadi gyaru yang luar biasa parah."
"Gya-gyaru?"
Aku jadi gyaru, bagaimana ceritanya?
"Rambutnya pirang mencolok dan pakai anting segala,
dia juga memasang mesh di rambutnya dan riasannya juga tebal sekali."
Aku tidak mengerti isi ceritanya. Sudah tujuh belas
tahun (sebentar lagi delapan belas) sejak aku lahir, tapi makhluk bernama gyaru
itu benar-benar eksistensi yang berada di luar nalarku. Tidak mungkin orang
sepertiku menjadi gyaru...
Ah, begitu rupanya. Aku mulai mengerti.
Misora pasti iseng menunjukkan fotoku saat berdandan ala
gyaru. Waktu kelas satu, di acara lomba cosplay festival budaya dan demi
mendalami peran di film Klub Misteri, aku pernah dua kali memakai riasan ala
gyaru. Mengenakan wig pirang, memakai anting palsu, serta menyematkan extension
poni yang mudah dilepas pasang.
Begitu ya, jadi ceritanya begitu... Eh tunggu, apa dia
tidak sadar kalau orang di foto itu adalah aku?! Benar-benar sangat tidak peka,
deh.
"Lalu ya, awalnya aku juga samar-samar berpikir
kalau anak itu pasti akan tumbuh jadi seperti itu. Dia benar-benar bocah nakal
yang parah, selalu bertindak tanpa pikir panjang, dan terus merepotkanku...
Tapi—"
"Tapi?"
"Ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa anak itu
benar-benar berubah jadi begitu, entah kenapa aku merasa sangat sedih. Aku
merasa dia sudah pergi ke dunia yang tak tergapai oleh tanganku. Miya yang
kukenal, kini sudah tak ada lagi."
Saat itu, sebulir air mata menetes dan mengalir di pipi Yuu-nii.
Melihat air matanya, dadaku terasa nyeri. ...Apa yang sedang kulakukan ini.
Awalnya ini hanya niat iseng semata. Aku merasa kesal
karena dia tidak menyadarinya, jadi aku cuma ingin sedikit menjahilinya.
Padahal begitu, tapi Yuu-nii sama sekali tidak sadar, dan
aku pun perlahan semakin bersikeras, sampai-sampai menyeret Mahiru dan Bibi
segala... Dan inilah hasilnya.
Aku membuat Yuu-nii merasa cemas dan khawatir tanpa
alasan, aku jadi benci pada diriku sendiri.
Mungkin, ini sudah cukup. Karena sampai sejauh ini dia
tidak sadar, mungkin ke depannya Yuu-nii tidak akan pernah menyadarinya.
Kalau aku tidak segera membuang rasa gengsi konyol ini,
aku hanya akan membuat Yuu-nii semakin menderita.
"E-eh?"
Saat aku menyadarinya, air mata rupanya telah membasahi
pipiku. Aku menyeka air mataku dengan telapak tangan.
Aneh sekali, air matanya sama sekali tidak mau berhenti.
Aku harus mengatakannya.
Aku harus cepat-cepat menyeka air mata ini dan mengatakan
bahwa aku adalah Miya.
"Haha, sepertinya aku jadi ikut menangis, ya."
"...Miya?"
"Fweh?"
◇
Kata-kata itu keluar tanpa kusadari.
Sama seperti jiwa kekanakan yang terbangkitkan kembali
saat mendengar lagu lama, seperti pemandangan kenangan yang terbayang saat
mencium aroma yang familier, hal itu datang secara tiba-tiba.
Tangisan kekanakan yang menyeka air mata dengan telapak
tangan, bukan dengan ujung jari.
Melihat tangisan yang jarang terjadi itu, aku jadi
teringat pada seorang bocah perempuan nakal.
Nakal, egois, dan keras kepala, padahal anak itu juga
cengeng. Gadis yang selalu saja mengekorku lalu memicu masalah.
Haruyama Miya.
Sosok Miya di dalam kenangan itu saling tumpang tindih
dengan gadis cantik di hadapanku tanpa terasa janggal. Tidak, tidak, apa sih
yang sedang kupikirkan ini?
Bukankah aku baru saja mengetahui kalau Miya berubah
menjadi gyaru saat di rumah keluarga Haruyama tadi?
Bocah nakal itu tidak mungkin tumbuh jadi gadis cantik
nan lugu seperti ini—
"Yuu-nii?"
Gadis itu menatap lurus ke mataku dan bergumam.
Gema panggilan yang penuh nostalgia itu menghangatkan
lubuk hatiku yang terdalam.
Mungkinkah dia benar-benar—
"Apa... kamu Miya?"
"...Akhirnya Kakak sadar juga."
Gadis cantik itu—Miya, langsung memelukku dengan wajah
yang masih berlinang air mata.
"Selamat datang kembali."
"Jadi kamu ini benar-benar Miya, kan?"
"Iya."
"Tu-tunggu sebentar, lepaskan dulu pelukanmu."
"?"
Aroma harum yang lembut menyelimuti diriku.
Meski otakku sudah mengerti kalau dia ini Miya, hanya
dengan berpelukan seperti ini saja entah kenapa membuatku merasa sedang
melakukan sesuatu yang tidak pantas.
Aku harus menenangkan perasaanku.
Dia ini Miya. Dia ini Miya. Dia ini bocah nakal itu.
Baiklah.
"Bodoh. Kenapa kamu tidak mengatakannya dari awal,
sih."
Tidak kusangka bocah nakal itu akan tumbuh menjadi gadis
cantik nan lugu seperti ini.
Miya menggembungkan pipinya, lalu membalas.
"Habisnya, waktu pertama kali kita bertemu di
stasiun, kamu sama sekali tidak mengenaliku. Padahal aku langsung sadar kalau
itu Yuu-nii."
"Tidak, itu karena..."
"Makanya, awalnya aku berniat sedikit menjahilimu
dengan tidak menyebutkan nama, tapi Yuu-nii sama sekali tidak sadar..."
Ah, begitu, ya.
Titik-titik misteri ini akhirnya saling terhubung.
Dia tahu alamat rumah orang tuaku, kenal dengan orang
tuaku, berambut cokelat, tidak takut serangga, dan sangat akrab dengan
Mahiru...
Selain itu, kalau dipikir-pikir lagi sekarang,
sebenarnya ada banyak sekali petunjuk yang sangat jelas.
Sampai-sampai aku sendiri heran kenapa aku tidak
menyadarinya.
"Aku langsung tahu, lho? Ah, itu Yuu-nii,
begitu."
"Bodoh. Jangan samakan sepuluh tahun bagi anak-anak
dengan sepuluh tahun bagi orang dewasa."
"Padahal Yuu-nii langsung mengenali Mahiru."
"Itu karena anak itu tetaplah Mahiru yang sama meski
sepuluh tahun berlalu. Aku sama sekali tidak menyangka kamu bakal jadi—"
"Jadi, apa?"
"Ti-tidak apa-apa."
Mana mungkin aku bisa mengatakannya. Aku tidak mungkin
bilang kalau aku tidak menyangka dia akan tumbuh menjadi gadis yang seanggun
ini.
Begitu ya, rupanya prasangkaku yang mengira dia pasti
telah berubah menjadi gyaru atau berandalanlah yang menghalangiku.
Kalau wajahnya diperhatikan baik-baik, bayangan bocah
nakal itu memang masih tersisa dengan jelas.
"...Hm? Kalau begitu, foto yang parah itu apa
dong?"
"Itu cuma riasan gyaru untuk cosplay saja."
"B-begitu ya."
Syukurlah.
Ternyata Miya tidak menjadi anak nakal.
Itu berarti dia juga tidak menjauh dari Mahiru, dan
hubungan mereka berdua masih sama seperti dulu.
Wah, syukurlah kalau begitu.
"Asal kamu tahu saja ya, tebak-tebakan nama orang
itu sama sekali tidak masuk akal untuk dijadikan sebuah permainan, tahu?"
"Justru premis bahwa permainan ini bisa dilakukan
itulah petunjuk terbesarnya. Agar permainan ini bisa berjalan, kamu harus tahu
nama asliku, jadi dari situ saja jawabannya sudah sangat mengerucut."
"Logika macam apa itu, berbelit-belit sekali."
"..."
"..."
S-suasananya jadi canggung.
Identitas asli dari gadis cantik misterius itu adalah
Miya.
Yah, itu tidak masalah.
Masalahnya adalah perasaan yang selama ini kupendam
terhadap gadis cantik misterius itu.
Bisa-bisanya anak ini tumbuh menjadi gadis yang sangat
manis. Diriku yang selama ini terpesona padanya jadi terlihat seperti orang
bodoh.
"Ngomong-ngomong Yuu-nii, mau bagaimana?"
"Mau bagaimana apanya?"
"Itu lho, hadiah permainannya."
"Eh?"
"Soal mengabulkan satu permintaan apa pun itu."
"Ah."
Aku benar-benar melupakannya.
"E-eh, anu, sekadar memastikan, maksud dari 'apa
pun' itu..."
"Apa pun, boleh kok."
Miya mengatakan itu dengan wajah yang memerah.
Sialan, manis sekali dia.
Mahiru juga begitu, tapi biasanya tidak ada yang mengira
kalau bocah-bocah nakal itu akan tumbuh menjadi gadis cantik, kan.
Selain merasa kesal, aku juga merasa jengkel pada diriku
sendiri yang sudah sering dibuat salah tingkah selama ini.
"Anu, kalau begitu."
"Apa?"
Miya melirik ke arahku.
"A-aku simpan dulu untuk nanti."
"Hah?"
"L-lagipula tidak ada hal yang ingin kuminta
sekarang juga. Jadi kusimpan dulu. Nah, pembicaraan ini selesai sampai di
sini."
"Kalau Yuu-nii maunya begitu ya terserah sih."
Miya memanyunkan bibirnya dengan raut wajah kecewa.
"Miya, kamu sudah besar, ya."
"...Iya. Lagipula sudah sepuluh tahun berlalu."
"Sepuluh tahun, ya."
"Kenapa selama sepuluh tahun ini kamu tidak pernah
pulang?"
"Aku juga sebenarnya ingin pulang. Aku ingin pulang
ke sini dan bertemu kalian, tapi aku benar-benar tidak punya waktu luang untuk
itu."
"Aku kesepian tahu."
"Maafkan aku, ya."
"Iya, kamu memang salah."
"Maaf."
"Karena itu,"
Miya berdiri lalu menggenggam tanganku.
"Jangan pergi ke mana-mana lagi, ya?"
"Aku tidak akan pergi, kok."
Saat aku menatap ke langit malam, bulan yang indah
tampak mengambang di sana.
5
"Eh..."
Misora merasa kebingungan.
Padahal dia sudah susah payah mengusir paman itu,
tapi Kakak dan paman itu malah pulang bersama.
Bukankah seharusnya kedua orang itu tidak boleh
bertemu di rumah ini, sebenarnya apa yang terjadi?
"Yuu-kun, makan malam di sini saja."
Mama berkata dengan senyum ramah.
"Dengan senang hati."
"Yuu-nii, sebelah sini, sini."
Kakak dan paman itu duduk berdampingan di sofa.
Lagian, Kakak juga malah memanggilnya
"Yuu-nii"!
"Misora, kamu juga kemari dan beri salam yang
benar."
"Iyaaa."
Apa-apaan ini?
Sebenarnya ada apa, sih?
Kepala Misora kini dipenuhi dengan tanda tanya.
Interlude V | ToC | Epilog




Post a Comment